Anda di halaman 1dari 2

Kebudayaan menurut pandangan antropolog adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka

kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1980: 193-239). unsur-unsur kebudayaan universal, artinya berbagai macam unsur itu ada dan bisa didapatkan di dalam semua kebudayaan di dunia. Seni pada masa lampau selalu dihubung-hubungkan dengan tiga hal yaitu keindahan, kebaikan, dan kebenaran seni adalah berbagai cara untuk mengkomunikasikan sesuatu Seni Karawitan adalah musik tradisional Indonesia baik vokal maupun instrumental yang berlaras pelog atau selendro. Seni Karawitan dapat dibedakan menjadi dua yaitu seni karawitan vokal dan seni karawitan instrumental. Seni karawitan vokal medianya suara manusia lazim disebut tembang, sedangkan seni karawitan instrumental medianya alat bunyi-bunyian lazim disebut gamelan. Fungsi utama dari masing-masing gamelan tersebut adalah untuk mendukung kegiatan upacara agama dan upacara adat bagi masyarakat setempat. fungsi sekunder gamelan yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan hidup sekelompok masyarakat, terutama seni gamelan yang memiliki peran menopang kegiatan seni turistik. penggolongannya seni karawitan terutama gamelan Bali diklasifikasikan ke dalam tiga klasifikasi yaitu: gamelan tua, gamelan madia dan gamelan baru Kelompok gamelan tua pada umumnya tidak menggunakan kendang atau fungsi kendangnya tidak dominan diklasifikasikan ke dalam golongan tua. Termasuk dalam klasifikasi ini adalah gamelan Gambang, Caruk, Selonding, Gender Wayang, Gong Bheri, Gong Luang dan Angklung Klentangan. Kelompok gamelan madia sudah mulai menggunakan kendang sebagai pengendali dalam penyajian reportoar digolongkan ke dalam golongan madia. Termasuk dalam kategori ini adalah Gamelan Gambuh, Gong Bebonangan, Semara Pagulingan, Pelegongan, Joged Pingitan, Bebarongan, Gong Gede, Gamelan Pearjaan dan Batel. Kelompok gamelan baru adalah gamelan-gamelan yang menempatkan fungsi kendang telah berperan dominan. Sebagai tonggaknya adalah muncul sejak awal abad XX hingga sekarang. Termasuk dalam klasifikasi ini adalah Gong Kebyar, Gamelan Jegog, Kendang Mabarung, Joged Bumbung, Gamelan Salukat, Gamelan Bumbang (1982), Adi Merdangga (1984), Genta Pinara Pitu (1985), Gamelan Terompong Beruk, Bala Ganjur, Tektekan, Bumbung Gebyog, Grumbyungan, Gamelan Genggong, Gamelan Janger, Angklung Kebyar, Kembang Kirang, Gamelan Tambur, Gong Suling, Gong Samara Dahana (1992), Gong Gede Saih Pitu (2002), Gamelan Manika Santi (2006), dan Gamelan Siwa Nada (2010). Kurath dalam artikelnya Panorama of Dance Etnology secara rinci mengutarakan ada 14 fungsi tari dalam kehidupan manusia yaitu: untuk inisiasi kedewasaan, 2) percintaan, 3), 4) perkawinan, 5) pekerjaan, 6) pertanian, 7) perbintangan, 8) perburuan, 9) menirukan binatang, 10) menirukan perang, 11) penyembuhan, 12) kematian, 13) kerasukan, 14) lawakan. Seorang etnomusikolog bernama Alan P. Merriam menjelaskan ada 9 fungsi musik etnis yaitu:

Sebagai kenikmatan estetis (pencipta maupun penonton) 2) Hiburan bagi seluruh warga masyarakat 3) Komunikasi bagi warga masyarakat yang memahami musik 4) Representasi simbolis 5) Respon Fisik 6) Memperkuat komformitas norma-norma sosial 7) Pengsahan isntitusi-institusi sosial dan ritualritual keagamaan 8) Sumbangan pada pelestarian dan stabilitas kebudayaan 9) Sebagai pengikat solidaritas sosial seni sakral dan seni profan juga dapat diamati dari proses penciptaannya. Sebuah barong atau rangda yang akan disakralkan dalam proses penciptaannya memerlukan berbagai sarana upacara (sesajen) dari sejak perencanaan menentukan pohon kayu yang akan dijadikan tapel (topeng), sampai proses sakralisasi (mingetin, ngepel, napak, melaspas, pasupati dan ngerehang/mintonin). Sementara produk kemasan seni wisata tanpa melalui proses yang rumit. Bahan dasar kayu dapat dibeli di mana saja. Untuk memulai proses pengerjaan tidak memerlukan sarana upacara khusus Gong Kebyar adalah sebuah ansambel gamelan Bali yang dipekirakan muncul tahun 1915 (Mc Phee, 1966: 328) di daerah Bali Utara (Singaraja) tepatnya di desa Jagaraga (Sawan). Istilah kebyar dari kata byar-byar yaitu sinar yang datang secara tiba-tiba. Sesuai dengan namanya gamelan ini bermakna cepat, tiba-tiba dan keras. Secara fisik Gamelan Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari gamelan Gong Gede dengan pengurangan peranan dan peniadaan beberapa buah instrumennya seperti peranan Instrumen Terompong dikurangi bahkan dalam beberapa reportoar tidak digunakan sama sekali Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara rasa musikal Gender Wayang yang lincah, Gong Gede yang kokoh dan pelegongan yang melodis. Gong Kebyar pada masa awal perkembangannya adalah ikon musik Bali modern Kebyar Legong karya Pan Wandres yang dikembangkan menjadi tari Teruna Jaya oleh Gde Manik seorang penari Jauk bernama I Ketut Mario dari Tabanan berhasil menciptakan tari Kebyar Duduk tahun 1925, dan tari Oleg Tamulilingan tahun 1952. tari Margepati (Raja Hutan) yang diciptakan seniman Nyoman Kaler tahun 1942. Ia juga menciptakan tari Demang Miring, Panji Semirang. Tarian Wiranata diciptakan oleh Nyoman Ridet. Tari Nelayan oleh Ketut Merdana (Singaraja) tahun 60-an, Garuda Wisnu Kencana karya Nyoman Cerita dengan Arya Sugiartha dalam rangka Peksiminas di Bandung 1997 Gong Kebyar adalah sebuah ansambel yang berlaras pelog lima nada. Laras adalah tangga nada dalam gamelan Bali, yakni urutan nadanada dalam satu oktaf. Dalam gamelan Bali dikenal dua laras yakni laras pelog (mayor) dan laras selendro (minor). Laras pelog adalah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang terdiri dari lima nada pokok dengan interval yang tidak sama,

1)

sedangkan laras selendro adalah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang intervalnya hampir sama. gamelan laras pelog tujuh nada seperti terdapat dalam gamelan Gambang, Gong Luang, Semar Pagulingan, Pagambuhan, Semarandana, Gong Gede Saih PItu, Genta Pinara Pitu, Manika Santi, dll. Gong Kebyar terdiri dari 10 buah gangsa berbilah dengan rincian dua ugal, empat pemade, dan empat kantilan; 2 jegogan, 2 jublag, dua penyacah, satu tungguh reyong berpencon 12, satu tungguh terompong berpencon 10, sepasang kendang lanang wadon, satu tungguh kajar, satu tungguh kempli, satu tungguh kempul, satu tungguh kemong, sepasang Gong lanang-wadon, sepangkon cengceng , 1-3 buah suling, dan satu tungguh rebab. Reportoar Klasik adalah jenis reportoar yang mana pola-pola lagunya telah diikat dengan hukum-hukum atau uger-uger tertentu yang tidak boleh dilanggar. Contoh tabuh-yabuh pegongan klasik seperti tabuh Pisan Pisang Bali, Tabuh Telu Gajah Nongklang, Tabuh Telu Buaya Mangap, Tabuh Pat Semarandana, Tabuh Pat Jagul, Tabuh Pat Banda Sura, Tabuh Nem Galang Kangin, Tabuh Kutus Pelayon, dsb. Reportoar Kreasi adalah sebuah reportoar yang beranjak dari pengembangan tradisi namun telah menunjukkan adanya modifikasi, variasi, baik secara bentuk maupun isinya karya tabuh kreasi baru adalah Tabuh Purwa Pascima, Candra Metu, Kosalia Arini, Palguna Warsa, Swa Buana Paksa Karya maestro tabuh I Wayan Beratha, Paksi Angelayang karya Nyoman Astita, Wahyu Giri Suara (87), Candra Baskara (1998) Lekesan (2000), Kuda Mandara Giri (2001), Gelar Sanga (2007), Mas Kumambang (2010) karya Nyoman Windha. Demikian pula karyakarya generasi berikutnya seperti Darya, Widia, Subandi, Suandita, dll Reportoar kontemporer adalah sebuah karya yang telah mengekspresikan gagasan baru, yang tidak lagi terikat dengan aturan-aturan tradisi. Seniman yang kini masih getol berkarya kontemporer adalah Made Yudana, I Nyoman Windha, Made Subandi, Agus Teja, Dewa Alit, Arnawa, Gde Arsana, Wayan Sudiarsa (Pacet) sementara di bidang Tari yang kini masih tekun membidangi dunia kontemporer adalah Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST.,MA, Nyoman Sura,SSn.,MSn. Dr. Ketut Suteja,SST.,M.Sn. Gde Tegeh,SSn. dan Gung Rama,S.Sn.,M.Sn.