Anda di halaman 1dari 6

DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, A. 1993. Kamus Kimia Organik. DEPDIKBUD. Jakarta. Dwi Susilaningsih, Theresia Umi Harwati, Khairul Anam, dan Yopi. 2008. Preparasi Substrat Limbah Biomasa Kekayuan Tropika Untuk Produksi Biohidrogen. Research Centre for Biotechnology, Indonesian Institute of Sciences, Cibinong Bogor. Vol. 12, No. 1. Fessenden, Ralp J dan Fessenden, Joan S. 1986. Kimia Organik, Jilid I. Erlangga. Jakarta. Ketja D. G., 2004,Sintesis Alkohol Dari Senyawa Aldehida Keton dan Ester, Jurnal Sintesis Alkohol, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA UNSTRAT Manado. Vol. 10, No. 3. Louis F Fieser & Mary. 1964. Pengantar Kimia Organik I. Diwantara. Bandung. Petrucci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan. Erlangga. Jakarta. Praptiwi, Puspa Dewi dan Mindarti Harapini. 2000. Nilai peroksida dan Aktivitas Anti Radikal Bebas Diphenyl Picril Hydrazil Hydrate (DPPH) Pa da Ekstrak Metanol Knema Laurina. Bidang Botani, Puslit Biologi - LIPI, Bogor dan Pusat Penelitian Kimia LIPI, Serpong. Vol. 17. Suwarso Priyono Wahyudi, Tony Sukri, dan Hendra Wijaya, 2002, Reaksi Penataan Ulang Sigmatropik Hidrogen (1,3) Secara Termal dan Reaksi Penataan Ulang Prototropik (1,3) Yang Dikatalis Oleh Katalis Transfer Fase (PTC), (18)-Crown Ether-6: Semi Sintesis Vanili Dari EuGenol, Makara Sains, Vol.6.No.1. Aldehid dan keton merupakan dua dari sekian banyak kelompok senyawa organik yang mengandung gugus karbonil. Suatu keton menghasilkan dua gugus alkil yang terikat pada karbon karbonilnya. Gugus lain dalam suatu aldehid dapat berupa alkil, aril atau H. Aldehid dan keton lazim terdapat dalam system mahluk hidup. Banyak aldehid dan keton mempunyai bau khas, yang membedakannya umumnya aldehid berbau merangsang dan keton berbau harum (Fessenden, 1986). Aldehid merupakan senyawa organik yang mengandung gugus CO; namanya diturunkan dari asam yang terbentuk bila senyawa dioksidan lebih lanjut. Aldehid diperoleh pada pengoksidasian sebagian alkohol primer. Misalnya etil alkohol bila dioksidan menjadi asetaldehide yang bila dioksidan lagi akan menjadi asam asetat. Sedangkan keton senyawa dengan gugus karboksil terikat pada dua radikal hidrokarbon; keton yang paling sederhana adalah aseton. Aseton (dimetilketon) CH3COOH3 merupakan zat cair tanpa warna yang mudah terbakar mempunyai baud an rasa yang khas, digunakan sebagai pelarut dalam industri dan dalam laboratorium (Amiruddin, 1993). Aldehid dan keton mengandung gugus karbonil C = O. Jika dua gugus ini menempel pada gugus karbonil adalah gugus karbon, maka senyawa itu dinamakan keton. Jika salah satu dari kedua gugus tersebut adalah hidrogen, maka senyawa tersebut adalah golongan aldehid. Oksida parsial dari alkohol menghasilkan aldehid. Oksidasi alkohol sekunder menghaslkan keton. Oksidasi bertahap dari etanol menjadi asetaldehida kemudian menjadi asam asetat yang diilustrasi dengan model molekul (Petrucci, 1987). Walaupun reaksi adisi umum untuk aldehida, hanya sejumlah terbatas dari keton yang dapat membentuk hasil bisulfit dalam jumlah yang berarti. Aldehida yang lebih tinggi berlaku hampir sama, tergantung dari ukuran gugusan yang melekat, karena semua zat-zat ini mempunyai lebih kesamaan gugus formil, -CHO. Aseton bereaksi lebih lambat dan kurang luas, tetapi perubahannya tetap melampaui dari keadaan yang dapat diamati dari pencaran yang lebih tinggi. Dalam deret keton, yang mempunyai satu gugusan metil, reaksi berkurang (Louis, 1964). Lignin dapat dihidrolisa menggunakan nitrobensen atau kombinasi etanol dan asam hidroklorat yang menghasilkan senyawa vanilin, siringaldehid, p-hydroksibenzaldehid, alfa-etoksipropioguaiakon, guaiasilaton, vaniloil metil keton atau hidroksibenzoil metil keton. Pada hasil penelitian ini hidrolisa secara kimiawi menghasilkan kenaikan monosakarida sampai 88% kandungan gula, tetapi proses ini merupakan kontrol positif dan diharapkan tidak diterapkan secara luas karena menggunakan zat toksik asam sulfat pekat dan encer (Susilaningsih, 2008).

Senyawa aldehid, keton dan ester mengalami reaksi pada gugus karbonil. Gugus karbonil bersifat polar dan memiliki orbital hibrida sp2 sehingga ketiga atom yang terikat pada atom karbon terletak pada bidang datar dengan sudut ikatan 120. Ikatan rangkap karbon-oksigen pada gugus karbon terdiri atas satu ikatan dan satu ikatan . Ikatan adalah ha sil tumpang tindih satu orbital sp2 atom karbon dengan satu orbital p atom oksigen. Sedangkan ikatan adalah hasil tumpang tindih orbital p atom karbon dengan orbital p yang lain dari oksigen. D ua orbital sp2 lainnya dari atom karbon digunakan untuk mengikat atom lain.atom oksigen gugus karbonil masih memiliki dua orbital dan terisi dua buah elektron, kedua buah elektron ini adalah orbital 2s dan 2p (Katja, 2004). Keton terlibat dalam berbagai macam reaksi organik seperti contoh adalah Adisi nukleofilik atau reaksi keton dengan nukleofil menghasilkan senyawa adisi karbonil tetrahedral. Reaksi dengan reagen Grignard menghasilkan magnesium alkoksida dan setelahnya alkohol tersier reaksi dengan alkohol, asam atau basa menghasilkan hemiketal dan air, reaksi lebih jauh menghasilkan ketal dan air. Ini adalah bagian dari reaksi pelindung karbonil. reaksi RCOR' dengan natrium amida menghasilkan pembelahan dengan pembentukan amida RCONH2 dan alkana R'H, reaksi ini dikenal sebagai reaksi Haller-Bauer (1909). Reaksi keton juga merupakan Adisi elektrofilik yaitu reaksi dengan sebuah elektrofil menghasilkan kation yang distabilisasi oleh resonansi. Reaksi enol dengan halogen menghasilkan haloketon-, misalnya yang paling umum digunakan sebagai sumber antioksidan adalah -tocopherol bermanfaat untuk mencegah atau menghambat autooksidasi dari lemak dan minyak. Reaksi pada karbon- keton dengan air berat menghasilkan keton -d berdeuterium fragmentasi pada fotokimia reaksi Norrish (Praptiwi, et al., 2006). Rendemen vanili yang dihasilkan dari oksidasi produk isomerisasi (yang masih berupa campuran reaksi). Produk oksidasi, yang berupa vanili 4, sangat mudah dikarakterisasi dengan spektrofotometer infra merah (IR), yaitu dengan mengamati munculnya pita serapan pada bilangan gelombang, () = 1670 cm-1, yang merupakan pita serapan spesifik karbonil dari gugus aldehida pada vanili yang terikat langsung pada cincin aromatik (benzena). Reaksi penataan ulang sigmatropic hidrogen (1,3) dapat dilihat sebagai proses perpindahan hidrogen atau ikatan (sigma) pada sistem allil, yang berlangsung melalui mekanisme radikal bebas (Suwarso, 2002).

Aldehid dan keton merupakan senyawa-senyawa yang mengandung salah satu dari gugus penting dalam kimia organi, yaitu gugus karbonil C=O, semua senyawa yang mengandung gugus ini disebut senyawa karbonil. (Antoni, 1992)

Aldehid

Keton

Gugus karboni adalah gugus yang paling menentukan sifat kimia aldehid dan keton. Oleh karena itu tidak mengherankan jika sifat kimia keduaya hamper sama.(Antony, 1992) arbonil adalah suatu gugus polar, oleh karenanya aldehid dank eon memiliki titik didih yang lebih tinggi dari daripada hidrokarbon yang berat molekulnya setara. Meskipun demikian, oleh karena aldehid dan keton tidak dapat membentuk ikatan hydrogen yang kuat antara molekulmolekulnya sendiri maka mereka mempunyai titik didih yang lebih rendah dari pada alcohol yang berak molekulnya setara. (Respah, 1986) Melalui gugus karbonil, aldehid dan keton dapat membentuk ikatan hydrogen dengan molekul air. Oleh karenanya aldehid dan keton berberaat molekul rendah memiliki kelarutan yang tinggi dalam air. Aseton dan asetaldehid larut sempurna dalam air pada semua perbandingan. Sifat-sifat fisik dari beberapa senyawa aldehid dan keton dapat dilihat pada table berikut. Rumus CH2O CH3CHO C6H5CHO Nama Formaldehid Asetadehid Benzaldehid Tb (oC) -92 -125 -57 Td (oC) -21 21 178 Kelarutan dalam air Sangat larut Sedikit larut

CH3COCH CH3COCH2CH3 C6H5COCH3 (Tim dosen, 2004)

Aseton Butanon Asetofenon

-95 -86 21

56,1 79,6 202

Sangat larut Tidak larut

Aseton adalah keton yang paling penting. Ia merupakan cairan volatile (titik didih 56 oC) dan mudah terbkar. Aseton adalah pelarut yang baik untuk macam, macam senyawa organic, banyak digunakan untk vernis, lak dan plastic. Tidak seperti kebanyakan pelarut organic lain, aseton bercampur dengan air dengan segala perbandingan. Sifat ini digabungkan dengan votalitasnya, membuat aseton sering digunakan sebagai pengering alat-alat laboratorium. Alat-alat gelas laboratorium yang masih basah dibilas dengan aseton, dan lapisan aseton yang menempel kemudian menguap dengan mudah. Salah satu metode pembuatan aseton ialah melalui dehidrogenasi isopropyl alkohol dengan bantuan kawat tembaga. (Tim dosen, 2004) Nama IUPAC aldehida diturunkan dari nama rantai induk alkana dengan menggntikan akhiran a dengan al.Jika rantai karbon aldehida menigikat substiuen.penomoran rantai utama dimulai dari atom karbon karbonil. (Tim dosen, 2004) Sifat-sifat fisik aldehid dan keton, karena aldehid dan keton tidak mengandung hidrogen yang terikat pada oksigen, maka tidak dapat terjadi ikatan hidrogen seperti pada alkohol. Sebaliknya aldehid dan keton adalah polar dan dapat membentuk gaya tarik menarik elektrostatik yang relatif kuat antara molekulnya, bagian positif dari sebuah molekul akan tertarik pada bagian negatif dari yang lain. (Respah, 1986) Antony. C. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. ITB ; Bandung. Respah. Ir, 1986. Pengantar Kimia Organik. Aksara Baru ; Jakarta. Tim Dosen Kimia, 2004. Kimia Dasar II. UNHAS Makassar. Pada reaksi di atas dapat dilihat bahwa terkadang produk yang dihasilkan tidak selalu yang dapat diisolasi. Produk ini dapat mengalami reaksi eliminasi dengan melepaskan gugus OH yang telah terbentuk, kemudian atom hidrogen pada nitrogen lepas dan terbentuklah ikatan rangkap antara C dan N disertai pelepasan molekula air. Produk akhirnya sering dikenal sebagai 2,4-dinitrofenilhidrazon7 Asam, H3O+, dibutuhkan sebagai katalis untuk reaksi pertama di atas yang akan membentuk molekul air pada tahap pertama. Pada tahap kedua, molekul air yang keduadihasilkan, namun molekul air ini terprotonasi dan membentuk H3O+pada tahap ketiga,sehingga secara keseluruhan hanya dihasilkan satu molekul air. Ini adalah ciri H3O+ sebagai katalis, mempercepat laju reaksi tetapi tidak ikut terpakai habis dalam reaksi. Persamaan reaksi:

1.

a. Reaksi Tollens dengan formaldehida

+ Ag2O b. Reaksi Fehling dengan heptaldehida +2CuO + Cu2O c. Pembuatan senyawa adisi Aseton bisulfit d. Pembuatan Benzaldehid fenilhidrazon e. Pengujian Iodoform terhadap 2-pentanon + I2 + 3NaOH + 3H2O +3NaI.

+ Ag

2. Reaksi kondensasi aseton dengan benzaldehida 3. Uji iodoform dapat digunakan untuk membedakan antara metanol dan etanol Pengujian iodoform dapat digunakan untuk membedakan antara metanol dan etanol karena uji idoform memberikan hasil yang berbeda yaitu pada etanol menghasilkan larutan dan endapan warna kuning. Hal ini membuktikan bahwa alkohol primer yang dapat diji dengan iodoform adalah etanol.

Pengujian iodoform dapat digunakan untuk isopropil alkohol dengan n-butil alkohol. Karena keduanya tidak beraksi dengan iodoform. Isopropil alkohol merupakan alkohol tersier yang tidak beraksi dengan alkohol. Sedangkan pada n-butil alkohol merupakan alkohol primer tetapi alkohol primer yang yang dapat diji dengan iodoform hanya etanol.

4.

Penggunaan yang praktis dari reaksi Tollens sapat dilakukan dengan cara menambahkan beberapa tetes pereaksi Tollens kedalam zat yang akan diuji sampai terbentuk cermin perak, apabila terjadi reaksi maka dilakukan pemanasan.

5.

Dibedakan dengan:

a.

2-pentanon dan 3-pentanon Dengan menggunakan reaksi haloform dapat membedakan 2-pentanon dan 3-pentanon. Reaksi pada 2-pentanon reaksinya lebih lama

dibandingkan 3-pentanon karena memilki kereaktifan yang rendah dan reaksi haloform dapat menunjukkan adanya metil keton b. 3-pentanon dan pentanol Dapat dibedakan dengan menggunakan cara haloform. Sebab pentanol akan menunjukkan hasil pengujian yang positif dengan reagen tersebut. c. Benzaldehida dan asetofenin Dapat dibedakan dengan menggunakan kondensasi aldol karena benzaldehid tidak bisa menjalankan reaksi aldol 6. 7. Persamaan reaksi bisulfit dengan HCl Pada percobaan ini kami hanya melakukan pengujian dengan fenilhidrazin dan didapatkan titik leleh sebagai berikut: Benzaldehid : 130 C Sikloheksanon : 80C Namun berdasarkan teori turunan dari 2,4-dinitrofenilhidrazon memiliki titik leleh lebih tinggi daripada turunan dari fenilhidrazin. 8. Peranan Natrium asetat dalampembuatan oksim adalah Untuk membebaskan basa dari garam-garamnya. AgNO3 + NaOH AgOH +

NaNO3 AgOH + NH4OH Ag2O + NH3 + 2 H2O

TUGAS SETELAH PRAKTIKUM 1. 2. 3. JAWAB 1. Reaksi-reaksi yang terjadi Reaksi aldehida dengan pereaksi schiff Reaksi aldehida dengan pereaksi fehling menghasilkan endapan merah bata dari Cu 2O. H-COONa + Cu2O + 2H+ Tuliskan reaksi-reaksi yang terjadi dari hasil percobaan ini ! Mengapa aldehid lebih mudah teroksidasi dibandingkan keton ? Mengapa aldehid lebih reaktif terhadap reaksi adisi nuleofilik dibandingkan dengan keton ?

+ Cu2+ + NaOH

Reaksi aldehida dengan pereaksi benedict H-COONa + Cu2O + 2H+

+ Cu2+ + H2O + Na+ 1.

Aldehid lebih mudah teroksidasi dibandingkan dengan keton karena keberadaan atom hidrogen yang terikat pada ikatan rangkap C=O dalam aldehid sedangkan pada keton tidak ditemukan hidrogen seperti ini.

Keberadaan atom hidrogen tersebut menjadikan aldehid sangat mudah teroksidasi. Atau dengan kata lain, aldehid adalah agen pereduksi yang kuat. Karena keton tidak memiliki atom hidrogen istimewa ini, maka keton sangat sulit dioksidasi. 1. Aldehid lebih reaktif terhadap reaksi adisi nukleofilik dibandingkan dengan keton karena salah satu tangan rantai karbon pada aldehid mengikat atom hidrogen sehingga memiliki rantai atom karbon yang pendek dibandingkan dengan keton yang kedua tangan atom karbonnya mengikat gugus alkil. Sehingga dari struktur senyawa aldehid yang memiliki rantai atom karbon yang pendek mengakibatkan aldehid mudah bereaksi dengan reaksi adisi nukleofilik karena sedikitnya penghalang pada ruang strukturnya. Semakin mudah aldehid bereaksi maka aldehid akan semakin reaktif. Sedangkan keton memiliki rantai atom karbon yang panjang sehingga mengakibatkan sulitnya keton bereaksi dengan reaksi adisi nukleofilik karena banyaknya penghalang pada ruang strukturnya. Oleh karena itu, keton bersifat tidak reaktif.

Aldehid dan keton bereaksi dengan alkohol membentuk masing-masing heniasetal dan hemiketal. Karena monosakarida mempunyai baik, gugus aldehid atau keton ditambah gugus alkohol, maka pembentukan hemiasetal atau hemiketal dapat terjadi didalam untuk menghasilkan suatu struktur cincin atau lingkaran karena adanya tegangan sudut ikatan struktur cincin beranggotakan 5 dan 6 lebih menguntungkan bagi gula (Sulaiman, 1995). Senyawa aldehid, keton dan ester mengalami reaksi pada gugus karbonil. Gugus karbonil bersifat polar dan memiliki orbital hibrida sp 2 sehingga ketiga atom yang terikat pada atom karbon terletak pada bidang datar dengan sudut ikatan 120. Ikatan rangkap karbon-oksigen pada gugus karbon terdiri atas satu ikatan dan satu ikatan . Ikatan adalah hasil tumpang tindih satu orbital sp2 atom karbon dengan satu orbital p atom oksigen. Sedangkan ikatan adalah hasil tumpang tindih orbital p atom karbon dengan orbital p yang lain dari oksigen. Dua or bital sp2 lainnya dari atom karbon digunakan untuk mengikat atom lain.atom oksigen gugus karbonil masih memiliki dua orbital dan terisi dua buah elektron, kedua buah elektron ini adalah orbital 2s dan 2p (Katja, 2004). Minyak atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil) biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Salah satu contoh minyak atsiri adalah minyak melati. Kandungan minyak atsiri dalam bunga melati merupakan komoditi yang dapat dikategorikan komoditi eksklusif. Karena dalam 1 liter absolut bunga melati dapat mencapai harga 30.000.000 rupiah. Namun, untuk memperoleh bahan baku minyak melati sangatlah mahal. Akibatnya, banyak produsen yang melakukan pemalsuan minyak atsiri khususnya minyak melati dengan menambahkan berbagai macam bahan kimia sebagai campuran untuk memperoleh minyak melati campuran (Wahyu, 2011). Konsumsi alkohol terus menerus dapat mengakibatkan penyakit alkoholik, yang dapat diketahui lebih awal dengan penentuan biomarkerbiomarker dari alkohol. Salah satu biomarker alkohol adalah enzim. Enzim yang digunakan untuk mengoksidasi etanol adalah aldehid dehidrogenase (ALDH). Bila ALDH tidak cukup tersedia maka asetaldehid yang bersifat toksik sebagai hasil oksidasi etanol tidak dapat mengalami metabolisme yang sempurna. Alkohol (etanol) yang diminum dapat mengalami reaksi oksidasi menjadi asetaldehid oleh enzim alcohol dehidrogenase (ADH) dan selanjutnya dioksidasi lagi menjadi asam asetat oleh aldehid dehidrogenase (ALDH). Akumulasi asetaldehid dapat menyebabkan berbagai penyakit hati (Suaniti, et al., 2011). DAFTAR PUSTAKA Fessenden, Ralp J dan Fessenden, Joan S., 1986, Kimia Organik Jilid I, Erlangga, Jakarta. Katja, D.G., 2004, Sintesis Alkohol Dari Senyawa Aldehida, Keton dan Ester, Jurusan Kimia, FMIPA UNSRAT, Manado. Kurniawan, Wahyu , 2011, Deteksi Adanya Pemalsuan Minyak Melati Dengan Menguji Putaran Optik Menggunakan Polimeter WXG-4, FakultasTehnik Universitas Ponegoro, Semarang. Suaniti, N.M . A.A., Gede Sudewa Djelantik, I Ketut Suastika, dan I Nyoman Mantik Astawa, 2011, Aldehid Dehidrogenase Dalam Tikus Wistar Sebagai Biomarker Awal Konsumsi Alkohol Secara Akut, Jurusan Kimia FMIPA UNUD, Kampus Bukit Jimbara, Bandung. Sulaiman, A.H., 1995, Kimia Anorganik, USU Press: Medan