Anda di halaman 1dari 3

Penyebab pasti untuk smua tipe gangguan cemas masih belum diketahui.

Diduga banyak faktor yang terkait, interaksi antara factor biologis, psikologis dan sosiokultural. Faktor biologis yang diduga adalah gangguan keseimbangan neurotransmitter (zat kimia penghantar sinyal saraf) di otak. Pada gangguan cemas neurotransmitter yang berperan, menurut Dr. Agung, adalah GABA (Gamma Amino Butric Acid). Terjadi gangguan pada neuron inhibi (penghambatan) GABA di dalam otak, sehingga sel saraf terpacu terus menerus yang berakibat tampil gejala kecemasan. Teori ini menghubungkannya dengan faktor genetik, karena tidak jarang, ditemukan anggota keluarga lain dengan gangguan yang sama walaupun belum dapat dipastikan gen yang mana yang terpengaruh. Faktor resiko lain yang dapat mempengaruhi dan dapat memicu munculnya gangguan cemas diantaranya adalah stressor psikososial dari lingkungan atau bahkan juga penyakit kronik (manahun) seperti kanker, stres, faktor kepribadian yang mudah cemas, serta penyalahgunaan obat atau zat juga dapat mencetuskannya. Dr. Agung menyatakan bahwa faktor psikologis seperti pengalaman traumatic masa lalu juga dapat melatarbelakangi terjadinya gangguan cemas. Penyebab gangguan cemas multifaktorial, faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologis kecemasan akibat dari reaksi syaraf otonom yang berlebihan dan

terjadipelepasan katekholamine. Dilihat dari aspek psikoanalisis kecemasan dapat terjadi akibat impuls-impuls bawah sadar yang masuk ke alam sadar. Mekanisme

pertahanan jiwa yang tidak sepenuhnya berhasil dapat menimbulkan kecemasan yang mengambang, displacement dapat mengakibatkan reaksi fobia, undoing, reaksi formasi,dan dapat mengakibatkan gangguan obsesi kompulsif. Sedangkan ketidak-

berhasilanrepresi mengakibatkan gangguan panik. Dari pendekatan sosial, anxietas dapatdise babkan karena konflik, frustasi, krisis atau tekanan.

Pedoman diagnostik menurut PPDGJ-III 1. Terdapat gejala-gejala anxietas maupun depresi, dimana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri.Untuk anxietas, beberapa gejala otonomik harus ditemukan walaupun tidak terus-menerus, disamping rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan. 2. Bila ditemukan anxietas berat disertai depresi yang lebih ringan, harus dipertimbangkankategori gangguan anxietas lainnya atau gangguan anxietas fobik. 3. Bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas yang cukup berat untuk menegakkanmasing-masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut dikemukakan,

dan diagnosisgangguan campuran tidak dapat digunakan. Jika karena sesuatu hal hanya dapatdikemukakan satu diagnosis maka gangguan depresif harus diutamakan. 4. Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stres kehidupan yang jelas, maka harusdigunakan kategori F43.2 gangguan penyesuaian.

C.Penyebab dan Faktor RisikoPenyebab Tidak diketahui apa yang menyebabkan depresi. Seperti halnya banyak penyakit mental,ini muncul karena banyak faktor antara lain: Perbedaan biologis. Orang dengan depresi akan muncul perubahan aktifitas pada otak. Neurotransmitter. Secara alami muncul hubungan secara kimiawi padasuasana hati yang memiliki peran pada depresi. Harmon. Berubahnya keseimbangan hormon tubuh menjadi pemicu depresi.Perubahan hormon dapat dihasilkan pada tiroid yang bermasalah, menopause dan beberapa kondisi lain. Garis keturunan. Depresi muncul pada orang yang memiliki anggota keluargayang juga mengalami kondisi tersebut. Ilmuan sedang mencoba untuk menemukangen apa yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi. Kejadian hidup. Kejadian seperti kematian atau kehilangan orang yangdicintai, masalah keuangan dan stress tinggi dapat memicu depresi pada beberapaorang. Trauma masa kecil. Kejadian traumatis pada saat anakanak, bisa dapatmenyebabkan perubahan permanent pada otak yang membuat anda lebih rent andepresi. Faktor risiko Depresi secara khusus terjadi pada akhir usia 20an akan tetapi sebenarnya dapat terjadi pada semua usia.

Faktor Pencetus Stuart dan Laraia (2005) menggambarkan stresor pencetus sebagai stimulus yang

dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancaman atau tuntutan yang memerlukan energi ekstra untuk koping. Stresor pencetus dapat berasal dari sumber internal atau eksternal 1. Biologi (fisik). Gangguan fisik adalah suatu keadaan yang terganggu secara fisik oleh penyakit maupun secara fungsional berupa penurunan aktivitas sehari-hari. Stuart & Laraia (2005) mengatakan bahwa kesehatan umum individu memiliki efek nyata sebagai presipitasi

terjadinya ansietas. Apabila kesehatan individu terganggu, maka kemampuan individu untuk mengatasi ancaman berupa penyakit (gangguan fisik) akan menurun. Beberapa penelitian membuktikan bahwa klien yang mengalami gangguan fisik akan mengakibatkan ansietas. Prevalensi pasien dengan post stroke yang mengalami gangguan cemas menyeluruh adalah 6% di rumah sakit akut dan 3,5% di komunitas. Salah satu studi di Swedia mengatakan bahwa 41,2% pasien dengan cedera otak mengalami gangguan cemas menyeluruh (Kaplan, 2005). 2. Psikologi Ancaman terhadap integritas fisik dapat mengakibatkan ketidakmampuan psikologis atau penurunan aktivitas sehari-hari seseorang. Ancaman eksternal yang terkait dengan kondisi psikologis dan dapat mencetuskan terjadinya ansietas diantaranya adalah peristiwa kematian, perceraian, dilema etik, pindah kerja, perubahan dalam status kerja. Sedangkan yang termasuk ancaman internal yaitu gangguan hubungan interpersonal dirumah, ditempat kerja atau ketika menerima peran baru (istri, suami, murid dan sebagainya). 3. Sosial budaya Status ekonomi dan pekerjaan akan mempengaruhi timbulnya stres dan lebih lanjut dapat mencetuskan terjadinya ansietas (Tarwoto & Wartonah, 2003). Orang dengan status ekonomi yang kuat akan jauh lebih sukar mengalami stres dibanding mereka yang status ekonominya lemah. Hal ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi seseorang mengalami ansietas, demikian pula fungsi integrasi sosialnya menjadi terganggu yang pada akhirnya mencetuskan terjadinya ansietas.