Anda di halaman 1dari 6

PENYAKIT GENITOURINARIA SISTITIS I.

DEFINISI Suatu kondisi dengan karakteristik adanya radang pada ginjal yang ditandai oleh disuria dan kencing frekuensis dan tanpa gangguan sistemik yang banyak ditemukan pada wanita karena adanya perubahan akevitas seksual. Nyeri saat kencing dan sering kencing tanpa panas badan atau nyeri kandung kencing mungkin terkait dengan beberapa macam penyakit. Dari kultur ditemukan 100.000 kolonis per lapangan pandang mikroskop menunjukkan adanya infeksi bakteri, bila dibawah 1000 kolonis patogenik bakteri menunjukkan adanya gejala infeksi saluran kencing pada wanita. II. ETIOLOGI 1. Bakteri ditemukan pada 60-70% pasien dengan gejala sistitis dan yang terbanyak adalah Escherichia coli dan Staphylococcus saprophyticus dan organisme gram positif ditemukan pada sebagian kecil pasien Pada pasien wanita dengan infeksi traktus urinarius berasal dari vestibulum vaginae yang masuk melalui uretra atau aktivitas seksual mendorong masukya bakteri . 2. Bakteri non patogen antara lain Chlamedia III. GAMBARAN KLINIS 1.Gejala a. Dysuria/nyeri saat kencing, sering kecing b. Sering adanya kencing darah c. Kadang ada nyeri pinggang, tanpa nyeri kostovertebral d. Tanpa e. Sering tanpa gejala gangguan gastrointestinal f. Tanpa adanya lendir pada vagina 2.Tanda a. Tanpa demam atau suhu dibawah 37, 8 C b. Hanya ada rasa tidak enak pada perut c. Tanpa tanda-tanda pada daerah peritoneal d. Suara usus normal e. Tanpa adanya rasa tidak enak pada daerah costovertebral f. Sebagian ditemukan keluhan kencing sedikit atau kegagalan IV. LABORATORIUM 1.Urinalisis : Prosentase darah merah dan putih dan bakteri 2. Urine kultur V. DIAGNOSIS BANDING 1. Sistitis ulang Pasien mungkin merasakan gejala sistitis tetapi bila ada serangan ulang dapat dilakukan perbedaan antara relap dengan infeksi ulang. a.Relaps 1) .Kadang ditemukan infeksi dalam waktu beberapa minggu 2) Bakteri yang didapatkan dari kultur sama dengan yang didapatkan dari episode sebelumnya 3) Bakteri yang didapatkan dari kencing mungkin terbungkus antibodi yang menunjukkan adanya invasi pada parensim yang meliputi ginjal 4) Adanya pielonepritis, kelainan anatomik atau neprolitiasis mengarahkan kepada infeksi dengan pengobatan yang tidak adekuat. 5) Membutuhkan pengobatan antibiotika jangka panjang b. Reinfeksi 1) Terjadinya secara sporadik dan tidak ada hubungan dengan infeksi sebelumnya 2) Bateri yang ditemukan tidak sama dengan yang ditemukan selama infeksi sebelumnya

3) Bakteri yang ditemukan tidak terbungkus oleh antibody 4) Memberikan kesan bentuk ginjal dimana masuknya bakteri 5) Memberi respon yang baik terhadap pemberian antibiotika 2 . Pielonepritis Pasien tampak kesakitan, sakit pada saat kencing, gejala ini mungkin tertutupi oleh gejala sistemik karena adanya panas dan sakit daerah panggul 3. Vaginitis Keluhan lebih dominan pada daerah vaginal dengan adanya disuria dan sering kencing 4.Uretritis Disuria merupakan keluhan utama, adanya lendir mungkin sampai keluar nanah sering ditemukan pada wanita 5.Kelainan abdomen akut 6.Servikitis 7.Salpingitis VI. PENGOBATAN 1.Bila ditemukan relaps atau adanya pielonepritis rujuk kedokter a. Pemberian single dosis Sulfisoksasol, Sulfametoksasol atau pemberian amoksislin efektif untuk pengobatan sistitis. Pemberian obat untuk 3 hari merupakan penyebab terjadinya relaps. Pemberian 0bat 3 hari untuk pengobatan single dosis antara lain: a).Gejala paling sedikit 3 hari b).Vaginitis atau infeksi pada saluran atas c).Tanpa adanya komplikasi misalnya Diabetes Militus, batu saluran kencing, kelainan anatomic, hamil dan infeksi ulang b. Antibiotik Pemberian antibiotika dengan menggunakan obat sbb: 1). Ampisilin 500 mg tiap 6 jam 3 hari 2). Trimetoprim 80 mg dan sulfametoksasol 400mg atau dosis forte berikan dua tablet dewasa atau 1 tablet forte 2 kali sehari untuk 3 hari 3).Tetrasiklin 250 4 kali sehari untuk 10 hari 3. Infeksi saluran kencing pada kehamilan Pengobatannya : 1).ampisilin 2) cepaleksin 3).Nitrofurantoin 100 mg 4 kali sehari selama 10 hari 4).Kotrimoksasol VII. Komplikasi a. Infeksi kronik b. Pielonepritis VIII. Konsultasi dan rujukan 1. Kegagalan pengobatan dalam jangka waktu 3-4 hari 2. Sistitis ulang: a. Infeksi ulang dalam 2 mgg b. Lebih dari 3 kali episode dalam 1 tahun 3. Ditemukan dari kultur adanya bakteri patogen 4. Semua wanita dengan sistitis 5. Pasien dengan DM atau diketahui ada batu IX. Tindak lanjut Untuk pasien dengan tanpa gejala tidak perlu dilakukan kultur urine rutin sesudah pengobatan AB.

PIELONEPHRITIS AKUT I. Definisi Pielonephritis adalah penyakit infeksi yang mengenai system kolekting dan jaringan parenkim ginjal II. Etiologi Penyebab infeksi adalah golongan Escherichia colli

Bakteri

terutama

gram negatif dan tersering adalah

III. Gejala klinik A. Gejala 1. Paling sering nyeri panggul 2. Kadang kadang menggigil, kedinginan 3. Kadang kadang mual atau mutah atau keduanya 4. Dysuria, kencing sering (frequency), nyeri panas /nyeri (urgency). 5. Tidak ditemukan lendir atau cairan pada vagina dan urethra. B. Tanda 1. Selalu disertai dengan demam suhu 38,5 C 2. Nyeri tekan pada perkusi diatas daerah sudut costovertebra 3. Pemeriksaan abodominal tidak ditemukan kelainan kecuali pada penekanan / palpasi pada daerah panggul 4. Pasien pada umumnya merasakan seluruh badanya sakit / sangat sakit IV. Laboratorium (dengan menggunakan spesimen kencing yang steril) 1. Hasil urinalisia didapatkan adanya sel darah putih, sel cast putih, proteinuria dan sel darah merah 2. Kultur urin didapatkan hitung jumlah koloni lebih 100.000 bakteri patogen. V. Diagnosis banding A. Sistitis B. Prostatitis C. Beberapa penyakit lain yang menyerang panggul VI. Pengobatan A. Antibiotika Amoksilin 500 mg 3 kali sehari untuk 10 hari B. Pasien dimonitoring secara terus menerus . Jika ada masalah terkait dengan muntah-muntah berikan medikasi bila diperlukan. C. Antibiotika mungkin perlu diganti berdasarkan response klinik dan berdasarkan hasil tes sensitivity terhadap organisme. VII. Komplikasi Pieloneprhritis kronis VIII. Konsultasi dan rujukan A. Sakit berat atau keracunan : B. Pasien dengan Diabetes Militus C. Pasien dengan tingkat debil atau D. Kultur positif pada pemeriksaan lanjutan IX. Tindak lanjut 1. Pasien harus sering dikontak dengan telepon dalam 24 jam kemudian setiap hari atau setiap hari sampai tidak tanpa gejala. 2. Ulangi pemeriksaan laboratorium 1 minggu sesudah pengobatan. 3. Pemeriksaan ulang kedua sekitar 6 bulan bila diinginkan.

INFEKSI GONOCOCCUS I. Pengertian Infeksi Gonococcus pada Traktus Genitourinarius, oroparing atau anorektum. Infeksi uretra mungkin muncul dengan tidak adanya gejala pada infeksi paringitis atau infeksi rectal pada orang yang biasa melakukan kontak sesual dengan orogenital. Jarang paringitis atau proktitis memberikan keluhan.. II. Penyebab 1. Neisseria Gonorrhoeae 2. Neisseria Gonorrhoeae resistensi terhadap antibiotika 3. Munculnya infeksi Chlamedia sampai 45 % dari pasien III. Gambaran Klinis 1. Laki-laki Infeksi awal pada urethra, pharing atau anorektal 1. Sering tanpa gejala 2. Uretritis, terjadi hanya beberapa hari a. Disuria b. Keluarnya lendir purulen 3. Pharingitis karena kontak orogenital 4. Infeksi anorektal: a. Daerah anorektal terasa terbakar b.Keluarnya cairan/lendir purulen c. Rasa sakit bila sedang kotoran 2. Wanita Infeksi awal mungkin pada uretra, endoservikal , pharyngeal atau anorektal a. Kadang tanpa gejala b. Uretritis (disuria, sering kencing) c. Radang salping / salpingitis (saluran telur) 1). Nyeri pada daerah kanan kiri perut bawah 2). Adanya rasa berat pada daerah adneksa 3). Adanya rasa berat pada saat dilalkukan manipulasi pada daerah servik 4). Kadang-kadang merasakan sakit pada daerah kanan atas 5). Pharingitis karena kontak orogenital 6). Infeksi anorektal IV. Pemeriksaan Laboratorium A. Kuman Gram dari cairan pada laki dan wanita B. VDRL tes C. Pemeriksaan dengan pada kasus yang tidak ditemukan kuman gram positif yang diambol dari pahring, anus, uretra atau endoserviks. D. Kultur Chlamedia V. Diagnosis Banding 1. Non gonococcus urethritis 2. Infeksi traktus urinarius 3. Gejala akut daerah abdominal karena infeksi salpingitis 4. Prostatitis non Gonococcus VI. Pencegahan 1. Konseling dengan pasien untuk menggunakan kondom dan menghindari gaya hidup yang beresiko tinggi 2. Konseling untuk cepat berobat bila didapatkan infeksi ulang atau kambuh. 3. Konseling untuk segera memberikan informasi bila ada kontak 4. Menghentikan aktivitas seksual untuk paling tidak 48 jam

VII. Pengobatan 1. Pasien dengan hasil pemeriksaan cairan didapatkan Dilococcus Gram Negatif baik intraseluler atau ekstraseluler 2. Pasien yang diketahui telah diketahui terkena Go. 3. Pasien dengan kultur positif Obat-obatan infeksi 1. Therapi utama / terpilih : Ceftriaxone 250 mg Dengan Doxycicline 100 mg dosis 2 kali sehari selama 7 hari 2. Therapi pilihan; a. Tetrasiklin 500 mg 4 kali selama 7 hari Dengan subsitusi Doxyciclin 4 kali b.Untuk pasien yang tidak tahan terhadap Terasiklin dapat diberikan Erytrominsin 500 mg 4 kali sehari selama 7 hari VIII. Komplikasi Berhubungan dengan : 1. Striktur uretra 2. Striktur rectal IX.Konsultasi dan Rujukan 1.Pharingitis 2.Proktitis 3.Akut abdominal atau Salpingitis 4.Tender 5.Demam (37,8C) 6.Artritis 7.Perluasan infeksi GO dengan luka pada kulit 8.Endokartitis 9.Pemeriksaan kultur atau terjadi retesi 10. Curiga adanya ensim Penisilinase. X. Tindak Lanjut Kultur ulang 1- 2 bulan untuk mendapatkan terjadinya kegagalan terapi infeksi. 1. Laki-laki : kultur cairan uretral 2. Wanita kultur cairan servikal dan anus

URETRITIS NON GONORE I. DEFINISI Infeksi pada uretra yang disebabkan bukan oleh Neisseria Gonorroeae II.ETIOLOGI Chlamydia merupakan penyebab lebih separo dari kasus Sedang kasussisa penyebabnya belum dapat diidentifikasi. III.GAMBARAN KLINIS A.Gejala a. Berbeda dengan GO pada infeksi ini telah timbul gejala pada 1- 2minggu b. Disuria c. Meningkatnya frekuensi kencing A. Tanda Adanya cairan dari uretra dimana tidak selalu menyerupai Gonore dan mungkin hanya pada pagi hari. Cairan menyerupai susu dan tidak purulen kondisi ini mungkin menyerupai Gonore yang tampak dari adanya disuria dan cairan purulen.

IV. Laboratorium Harus dibedakan dengan uretritis Gonore dengan beberapa perbedaan gejala klinis yang dibuktikan dengan laboratorium. V. Pengobatan A. Tetrasiklin 500 mg 4 kali sehari selama 7 hari B. Doxysiklin 0,1 gram 2 kali sehari selama 7 hari C. Bila dari kultur terdapat Neisserria gonorrhaae berikan ceftiaxone 250 mg IM. VI. KOMPLIKASI Pada umumnya tanpa komplikasi. A. Tanpa komplikasi B. Pada sebagian kecil pasien yang tidak ditemukan Gram Negatif Diplococcus pada saat dilakukan kultur ternyata positif. C. VII. Konsultasi dan rujukan: Apa bila terjadi kegagalan pengobatan dengan tetrasiklin VIII. Tindak lanjut: 1. Kunjungan ulang/kontrol apabila tidak terjadi perbaikan 2. Kunjungan ulang apabila terdapat hasil kultur positif terhadap Neisseria Gonore