Anda di halaman 1dari 17

Gaya Kognitif Dalam Pembelajaran

Salah satu karakteristik siswa adalah gaya kognitf. Gaya kognitif merupakan cara siswa yang khas dalam belajar, baik yang berkaitan dengan cara penerimaan dan pengolahan informasi, sikap terhadap informasi, mupun kebiasaan yang berhubungan dengan lingkungan belajar (James. W. Keefe, 1987:3-4). Gaya kognitif merupakan salah satu variabel kondisi belajar yang menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran (Bruce Joyce, 1992:241). Pengetahuan tentang gaya kognitif dibutuhkan untuk merancang atau memodifikasi materi pembelajaran, tujuan pembelajaran, serta metode pembelajaran. Diharapkan dengan adanya interaksi dari faktor gaya kognitif, tujuan, materi, serta metode pembelajaran, hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin. Hal ini sesuai dengan pendapat beberapa pakar yang menyatakan bahwa jenis strategi pembelajaran tertentu memerlukan gaya belajar tertentu. Beberapa batasan para ahli tentang gaya kognitif tersebut di antaranya Witkin mengemukakan bahwa gaya kognitif sebagai ciri khas siswa dalam belajar. Sedangkan Messich, mengemukakan bahwa gaya kognitif merupakan kebiasaan seseorang dalam memproses informasi. Sementara keefe mengemukakan bahwa gaya kognitif merupakan bagian dari gaya belajar yang menggambarkan kebiasaan berperilaku yang relatif tetap dalam diri seseorang dalam menerima, memikirkan, memecahkan masalah maupun dalam menyimpan informasi. Ahli lain seperti Ausburn merumuskan bahwa gaya kognitif mengacu pada proses kognitif seseorang yang berhubungan dengan pemahaman, pengetahuan, persepsi, pikiran, imajinasi, dan pemecahan masalah. Shirley dan Rita menyatakan bahwa gaya kognitif merupakan karakteristik individu dalam berfikir, merasakan, mengingat, memecahkan masalah, dan membuat keputusan. Informasi yang tersusun baik, rapi, dan sistematis lebih mudah diterima oleh individu tertentu. Individu lain lebih mudah menerima informasi yang tersusun tidak terlalu rapi dan tidak terlalu sistematis. Sebagai karakteristik perilaku, gaya kognitif berada pada lintasan kemampuan dan kepribadian serta dimanifestasikan pada beberapa aktivitas dan media. Gaya kognitif menunjukkan adanya variasi antar individu dalam pendekatannya terhadap satu tugas, tetapi variasi itu tidak menunjukkan tingkat inteligensi atau kemampuan tertentu. Sebagai karakteristik perilaku, karakteristik individu yang memiliki gaya kognitif yang sama belum tentu memiliki kemampuan yang sama. Apalagi individu yang memiliki gaya kognitif yang berbeda, kecenderungan perbedaan kemampuan yang dimiliki lebih besar. Setiap individu mempunyai gaya yang berbeda ketika memproses informasi. Todd menyatakan bahwa gaya kognitif adalah langkah individu dalam memproses informasi melalui strategi responsif atas tugas yang diterima. Pada bagian lain, Woolfolk menunjukkan bahwa

didalam gaya kognitif terdapat suatu cara yang berbeda untuk melihat, mengenal, dan mengorganisasi informasi. Setiap individu akan memilih cara yang disukai dalam memproses dan mengorganisasi sebagai respon terhadap stimulasi lingkungannya. Ada individu yang cepat merespon dan ada pula yang lambat. Cara-cara merespon ini juga berkaitan dengan sikap dan kualitas personal (Anita E. Woolfolk, 1993:128). Selanjutnya menurut Woolfolk bahwa gaya kognitif seseorang dapat memperlihatkan variasi individu dalam hal perhatian, penerimaan informasi, mengingat, dan berfikir yang muncul atau berbeda diantara kognisi dan kepribadian. Gaya kognitif merupakan pola yang terbentuk dengan cara mereka memproses informasi, cenderung stabil meskipun belum tentu tidak dapat berubah. Pada umumnya gaya kognitif dicapai dan terpola dalam waktu yang lama sebagai suatu kontinum. Blacman dan Goldstein, juga Kominski sebagaimana diutarakan Woolfolk menjelaskan bahwa banyak variasi gaya kognitif yang banyak diminati para pendidik, dan mereka membedakan gaya kognitif berdasarkan dimensi, yakni (a) perbedaan aspek psikologis, yang terdiri dari field independence (FI) dan field dependence (FD), (b) waktu pemahaman konsep, yang terdiri dari gaya impulsive dan gaya reflecive. Selanjutnya Keefe agak berbeda pandangannya dengan Woolfolk tentang dimensi yang kognitif. Menurut Keefe, gaya kogntif dapat dipilih dalam dua kelompok yaitu gaya dalam menerima informasi (Reception style) dan gaya dalam pembentukan konsep dan retensi (Concept Formation and retention style). Gaya dalam menerima informasi lebih berkaitan dengan resepsi dan analisis data, sedangkan dalam gaya pembentukan konsep dan retensi mengacu pada perumusan hipotesis, pemecahan masalah, dan proses ingatan. Keefe juga menambahkan, bahwa gaya kognitif merupakan bagian dari gaya belajar, dan gaya belajar berhubungan (namun berbeda) dengan kemampuan intelektual terdapat perbedaan antara kemampuan (ablity) dan gaya (style) kemampuan mengacu pada isi kognisi yang menyatakan macam informasi apa yang telah diproses, dengan langkah bagaimana, dan dalam bentuk apa. Sedangkan gaya lebih mengacu pada proses kognisi yang menyatakan bahwa isi informasi tersebut diproses. Kedudukan gaya kognitif dalam proses pembelajaran tidak dapat diabaikan. Hal ini sesuai dengan pandangan Reigeluth bahwa dalam variabel pengajaran, gaya kognitif merupakan salah satu karakteristik siswa yang masuk dalam variabel kondisi pembelajaran, disamping karakteristik siswa lainnya seperti motivasi, sikap, bakat, minat, kemampuan berfikir, dan lain-lain. Sebagai salah satu karakteristik siswa, kedudukan gaya kognitif dalam proses pembelajaran penting diperhatikan guru atau perancang pembelajaran, sebab rancangan pembelajaran yang diusung dengan mempertimbangkan gaya kognitif berarti menyajikan materi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan potensi yang dimiliki siswa. Dengan rancangan seperti ini, suasana belajar akan tercipta dengan baik karena pembelajaran tidak terkesan mengintervensi hak siswa. Selain itu, pembelajaran disesuaikan dengan proses kognitif atau perkembangan kognitif siswa.

L.B. Resnick and A. Collins (1996:121) mengemukakan bahwa penumbuhan dan pengaktifan proses kognitif sangat erat hubungannya dengan karateristik proses kognitif siswa. Dengan demikian, meningkatkan proses kognitif dalam diri siswa, diperlukan perhatian terhadap karakteristik setiap individu siswa. Dalam rancangan pembelajaran pengorganisasian model elaborasi dan pengorganisasian buku teks, sebelum rancangan disusun hal yang dilakukan guru terlebih dahulu adalah mengadakan pengetesan terhadap karakteristik siswa yang diarahkan pada pengetesan tentang gaya kognitif. Dengan pengetesan gaya kognitif tersebut, guru atau perancang pembelajaran dapat mengetahui tentang gaya kognitif siswa tersebut sebagaimana diuraikan diatas. Teori tentang pemrosesan informasi banyak membahas macam dan peran ingatan, diantaranya peran ingatan sesaat (Short-term memory) dan ingatan angka panjang (Long-term memory). Informasi dalam ingatan sesaat lebih cepat dilupakan dibandingkan dengan informasi yang dapat terolah dan terbentuk menjadi bagian dalam ingatan jangka panjang. Informasi yang masuk dalam memori jangka panjang akan menjadi pengetahuan seseorang serta meningkatkan kemampuan kognitif seseorang. Kajian tentang hubungan pemrosesan informasi dengan penyampaian pembelajaran melalui penyajian visualisasi serta benda-benda geometri dan atau benda-benda spasial dalam meningkatkan kemampuan kognitif, banyak dilakukan para pakar antara lain Solso, Rainis, dan Susan. Hasil penelitian mereka menyimpulkan bahwa terjadi perbedaan varians tentang kemampuan kognitif untuk memahami bentuk-bentuk giomerti atau spasial. Selanjutnya, begaimana peran gaya kognitif dalam proses pembelajaran? Mengacu dari pandangan para pakar tentang dimensi gaya kognitif diatas menurut Woolfolk bahwa implementasinya dalam pembelajaran sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Seseorang siswa yang memiliki gaya kognitif field dependence (FD), global perseptual merasakan beban yang berat sukar memproses, mudah mempersepsi apabila informasi di manipulasi sesuai dengan konteksnya. Seorang yang memiliki diverensiasi psikologis field independence (FI), artikulasi akan mempersepsi secara analitis. Ia akan dapat memisahkan stimuli dalam konteksnya, tetapi persepsinyalemah ketika terjadi perubahan konteks. Namun, diferensi psikologis dapat diperbaiki melalui situasi yang bervariasi. Individu pada kategori FI biasanya menggunakan faktor-faktor internal sebagai arahan dalam mengolah informasi. Orang yang FI mengerjakan tugas secara tidak berurutan dan merasa efisien bekerja sendiri. Gaya kognitif memiliki nilai adaptif yang bervariasi dari budayanya dan situasi sosial. Dalam situasi sosial orang yang FD umumnya lebih tertarik mengamati kerangka situasi sosial, memahami wajah/cinta orang lain tertarik pada proses pesan-pesan verbal dengan social conteint, lebih besar memperhitungkan kondisi sosial eksternal sebagai feeling dan bersikap. Pada situasi sosial tertentu orang FD cenderung lebih bersikap baik, antara lain bisa bersifat hangat, mudah bergaul, ramah, responsif, selalu ingin tahu lebih banyak, jika di bandingkan dengan orang FI. Orang yang FI, dalam situasi sosial sebaiknya merasa ada tekanan dari luar

(eksternal pressure), dan menanggapi situasi secara dingin, ada jarak, tidak sensitif. Selain gaya kognitif FD dan FI yang banyak dikaji dalam melihat karakteristik siswa, gaya kognitif lain yang tidak kalah pentingnya adala dimensi gaya kognitif spesial (GR) dan gaya kognitif analitis (GA). Dimensi gaya kognitif GR berkaitan dengan pembentukan imajinasi tentang objek luar dalam pikiran, sedangkan dimensi gaya kognitif GA berhubungan dengan kemampuan seseorang dalam menganalisis secara kritis dalam memecahkan masalah. Selanjutnya menurut Salomon sebagaimana yang dikutip Keefe bahwa dimensi GR dapat diperkuat atau ditumbuhkan melalui strategi pembelajaran yang menggunakan sajian gambar. Sajian pembelajaran seperti ini dalam pembelajaran matematika banyak ditemukan terutama pada unit geometri. Kaitannya dalam strategi pengorganisasian pembelajaran model elaborasi yang dikaji dalam penelitian ini adalah dengan penyajian kerangka isi, mengelaborasi serta memberikan sintesis setiap pembelajaran, mendorong siswa untuk mengembangkan pikirannya dalam melahirkan imajinasi dan menggambarkan materi pelajaran yang dipelajarinya. Sedangkan dalam strategi pengorganisasian pembelajaran buku teks yang dicirikan oleh kejelasan topik, rangkuman, prasyarat materi, penataan isi, dukungan tabel dan gambar serta penonjolan hal-hal yang esensial, mendorong siswa agar dapat mengembangkan imajinasi untuk memahami tentang objek yang dipelajari. Berdasarkan urian tentang gaya kognitif tersebut, dapat diketahui bahwa gaya kognitif dapat dipandang sebagai satu variabel dalam pembelajaran. Dalam hal ini, kedudukannya merupakan variabel karakteristik siswa, dan keberadaannya bersifat internal. Artinya gaya kognitif merupakan kapabilitas seseorang yang berkembang seiring dengan perkembangan kecerdasannya. Bagi siswa, gaya kognitif tersebut sifatnya given dan dapat berpengaruh pada hasil belajar mereka. Dalam hal ini, siswa yang memiliki gaya kognitif tertentu memerlukan strategi pembelajaran tertentu pula untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Penelitian lain sebagaimana dilakukan oleh Degeng dan Sukaryana yang melibatkan tiga variabel, yakni strategi pembelajaran model elaborasi sebagai variabel bebas. Gaya kognitif dan motivasi berprestasi merupakan variabel moderat atau variabel atribut, sedangkan variabel kriterium adalah hasil belajar dan retensi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa (1) mahasiswa yang memiliki gaya kognitif FI lebih unggul dari FD dalam memperoleh belajar. Hal yang sama berlaku pula pada retensi belajar, (2) mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi lebih unggul perolehan pelajar dan retensi belajar daripada mahasiswa yang memiliki motivasi berprestasi rendah, dan (3) strategi pembelajaran model elaborasi tuntas lebih baik jika dibandingkan dengan strategi pembelajaran konvensional dalam perolehan belajar dan retensi, dan (4) terdapat interasi antara ketiga variabel yang diteliti. Bagaimana dalam konteks penelitian ini? Sebagaiaimana telah diungkapkan diatas, bahwa strategi pengorganisasian pembelajaran yang dikaji adalah strategi pengorganisasian pembelajaran elaborasi dan pengorganisasian buku teks, sedangkan gaya kognitif yang dilibatkan adalah Gaya Kognitif Spasial Tinggi (GKST) dan Gaya Kognitif Spasial Rendah (GKSR).

Gaya kognitif, baik GKST maupun GKSR inidapat digunakan untuk melihat seberapa kecepatan dalam memproses informasi ini tidak untuk menentukan baik atau buruk, tetapi menekankan kekuatan atau kelemahan yang nantinya akan hal yang perlu dipertimbangkan guru dalam merancang strategi pembelajaran. Atau dengan kata lain, strategi pembelajaran yang bagaimana yang cocok untuk diberikan kepada kelompok-kelompok siswa yang memiliki GKST dan strategi pembelajaran yang bagaimana yang cocok untuk kelompok siswa yang memiliki GKSR. Noel antwistle menguraikan bahwa karakteristik siswa yang memiliki gaya kognitif spasial dicirikan oleh beberapa hal antara lain (a) dalam berfikir selalu imajinatif, (b) cepat berfikir jika dihadapkan pada masalah yang abstrak, (c) saat menerima informasi, dipecahkan dengan menyertakan peran citra mental, (d) menganalisis objek yang visual, selalu melihat akibatnya, (e) tidak mudah terpengaruh oleh kritik, (f) selalu mempertimbangkan resiko, (g) memecahkan masalah dapat dilakukan dengan cepat jika disertai dengan gambar, tabel atau grafik, (h) dalam mengerjakan tugas tidak diperlukan bimbingan secara rinci, dan (i) memiliki rotasi mental yang tinggi. Kemp memberikan ciri individu yang memiliki gaya kognitif spasial cenderung (1) bercipta yang dapat menghasilkan, (2) mampu menciptakan gubahan musik, (3) mampu merancang karya seni, dan (4) mampu merekayasa suatu bangunan. Perbedaan karakteristik kedua gaya kognitif GKST dan GKSR tersebut tentunya menyebabkan perbedaan penerimaan informasi dalam proses pembelajaran. Hal ini mendorong guru untuk senantiasa melakukan strategi pembelajaran yang berbeda kepada kelompok siswa yang memiliki gaya kognitif yang berbeda. Dengan demikian, akibat perbedaan gaya kognitif serta perbedaan strategi pembelajaran juga berpengaruh pada hasil belajar.

Gaya Belajar Dalam Pembelajaran


Model belajar yang menempatkan guru tidak ubahnya seorang penceramah kerap disukai banyak siswa. Guru diharapkan bercerita panjang lebar tentang beragam teori dengan segudang ilustrasinya, sementara para siswa mendengarkan sambil menggambarkan isi ceramah itu dalam bentuk yang hanya mereka pahami sendiri. Apa pun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu untuk bisa menyerap informasi dari luar dirinya. Jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajar setiap orang itu, mungkin akan mudah bagi kita jika suatu ketika, misalnya, kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.

Sebelum kita sendiri mengajarkan pada orang lain, langkah terbaik adalah mengenali gaya belajar kita sendiri. Pertimbangan ini yang seringkali dilupakan. Dengan kata lain, kita sendiri harus merasakan pengalaman mendapatkan gaya belajar yang tepat bagi diri sendiri, sebelum menularkannya pada orang lain. Ada banyak alasan dan keuntungan yang bisa kita dapatkan apabila kita mampu memahami ragam gaya belajar, termasuk gaya kita sendiri. Ada beberapa tipe gaya belajar yang bisa kita cermati dan mungkin kita ikuti apabila memang kita merasa cocok dengan gaya itu.

1. Gaya Belajar Visual (Visual Learners) Gaya belajar seperti ini menjelaskan bahwa kita harus melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. Pertama, kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya; Kedua, memiliki kepakaan terhadap warna; ketiga, memiliki pemahaman yang cukup terhadap masalah artistik; keempat, memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung; kelima, terlalu kreatif terhadap suara; kenam, sulit mengikuti anjuran secara lisan; ketujuh, menginterpretasikan kata atau ucapan. Untuk mengatasi ragam masalah diatas, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan sehingga belajar tetap bisa dilakukan dengan memberikan hasil yang menggembirakan. Salah satunya adalah menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu bisa berupa film, slide, gambar ilustrasi, coretan-coretan, kartu bergambar, catatan dan kartu-krtu gambar berseri yang bisa digunakan untuk menjelaskan suatu informasi secara berurutan. 2. Gaya Belajar Auditory Learners Gaya belajar auditory learners adalah gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian bisa mengingat dan memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua, memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, ketiga, memiliki kesulitan menulis ataupun membaca. Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk belajar apabila kita termasuk orang yang memiliki kesulitan-kesulitan belajar seperti diatas. Pertama adalah menggunakan tape perekam sebagai alat bantu. Alat ini digunakan untuk merekam bacaan atau catatan yang dibacakan atau ceramah pengajar di depan kelas untuk kemudian didengarkan kembali. Pendekatan kedua yang bisa dilakukan adalah dengan wawancara atau terlibat dalam kelompok diskusi. Sedangkan pendekatan ketiga adalah dengan mencoba membaca informasi,

kemudian diringkas dalam bentuk lisan dan direkam untuk kemudian didengarkan dan dipahami. Langkah terakhir adalah dengan melakukan review secara verbal dengan teman atau pengajar. 3. Gaya Belajar Tactual Learners Dalam gaya belajar ini kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya. Pertama adalah menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya. Kedua, hanya dengan memegang kita bisa menyerap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya. Karakter ketiga adalah kita termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkan pelajaran. Keempat, kita merasa bisa belajar lebih baik apabila disertai dengan kegiatan fisik. Karakter terakhir, orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengkoordinasikan sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability). Untuk orang-orang yang memiliki karakteristik seperti diatas, pendekatan belajar yang mungkin bisa dilakukan adalah belajar berdasarkan atau melalui pengalaman dengan menggunakan berbagai model atau peraga, bekerja di laboratorium atau bermain sambil belajar. Cara lain yang juga bisa digunakan adalah secara tetap membuat jeda di tengah waktu belajar. Tak jarang, orang yang cenderung memiliki karakter tactual learner juga akan lebih mudah menyerap dan memahami informasi dengan cara menjiplak gambar atau kata untuk belajar mengucapkannya atau memahami fakta. Penggunaan komputer bagi oerang yang memiliki karakter tactual learner akan sangan membantu. Karena, dengan komputer ia bisa terlibat aktif dalam melakukan touch, sekaligus menyerap informasi dalam bentuk gambar dan tulisan. Selain itu, agar belajar menjadi efektif dan berarti, orang dengan karakter di atas disarankan untuk menguji memori ingatan dengan cara melihat langsung fakta di lapangan. BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kemampuan seseorang dalam memahami dan menyerap pelajaran sudah pasti berbeda-beda tingkatannya. Ada yang cepat, sedang, ada pula yang sangat lambat. Oleh karena itu, mereka seringkali harus menepuh cara berbeda untuk bisa memahami sebuah informasi atau pelajarang yang sama. Fenomena tersebut menjelaskan bahwa tidak semua

orang mempunyai gaya belajar yang sama. Termasuk apabila mereka bersekolah di sekolah yang sama atau bahkan duduk di kelas yang sama.
Apapun cara yang dipilih, perbedaan gaya belajar itu menunjukkan cara tercepat dan terbaik bagi setiap individu untuk bisa menyerap sebuah informasi dari luar dirinya. Jika kita bisa memahami bagaimana perbedaan gaya belajarsetiap orang itu, mungkin akan lebih mudah bagi kita jika suatu ketika misalnya, kita harus memandu seseorang untuk mendapatkan gaya belajar yang tepat dan memberikan hasil yang maksimal bagi dirinya.1 Salah satu karakteristik siswa adalah gaya kognitif. Gaya kognitif merupakan cara siswa yang khas dalam belajar, baik yang berkaitan dengan cara penerimaan dan pengolahan informasi, sikap terhadap informasi, maupun kebiasaan yang berhubungan dengan lingkungan belajar. Di sini kami akan membahas gaya kognitif dalam pembelajaran yang merupakan salah satu variabel kondisi belajar yang menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam merancang pembelajaran. Pengetahuan tentang gaya kognitif dalam pembelajaran dibutuhkan untuk merancang atau memodifikasi meteri pembelajaran, tujuan pembelajaran, serta metode pembelajaran. Diharapkan dengan adanya interaksi dari faktor gaya kognirif , tujuan, materi, serta metode pembelajaran, hasil belajar siswa dapat dicapai semaksimal mungkin.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Awal Pertumbuhan Teori-Teori Belajar Psikologi Kognitif 1. Teory Belajar Gestalst Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teory belajar Gestalt. Peletak dasar psikologi Gestalt adalah Mex Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Wertheimer (1945) menjadi seorang Gestaltis yang mula-mula menghubungkan pekerjaannya dengan proses belajar di kelas. Dari pengamatannya itu, ia
1

B. Uno, Hamzah, Dr. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. 2006. hal: 180

menyesalkan penggunaan metode menghafal di sekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian, bukan hafalan akademis. Menurut pandangan Gestalt, semua kegiatan belajar menggunakan instinght atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan terutama hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan. Menurut psikologi Gestalt, tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukum dan ganjaran. 2. Teory Belajar Cognitive-Field dari Lewin Bertolak dari penemuan Gestalt Psychology, Kurn Lewin (1892-1947)

mengembangkan suatu teori belajar cognitivefield dengan menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan, baik yang dari dalam individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan jiwa, maupun dari luar individu seperti tantangan dan permasalahan. Menurur Lewin, belajar berlangsung sebagai akibat dari perubahan dalam unsur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan yang lebih penting dari pada motivasi dari reward.2

3. Teory Belajar Cognitive Developmental dari Piaget

Dalam teorinya, Piaget memndang bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari kongkret menuju abstak. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. Apabila ahli Biologi menekankan penjelasan tentang pertumbuhan struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan lingkungan, maka Piaget tekanan penyelidikan lain. Piaget menyelidiki masalah yang sama dari segi
2

Soemanto, Wasty, M.Pd. Psikologi Pendidikan. Hal: 128-129

penyesuaian/adaptasi manusia serta meneliti perkembangan intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.3
B. Beberapa Definisi Gaya Pembelajaran Setiap individu memiliki gaya pembelajaran yang berbeda. Demikian juga,para pendidik memiliki pandangan yang berbeda tentang gaya pembelajaran yang didiskusikan.

Menurut Dunn (1980), gaya pembelajaran adalah cara seseorang pelajar memproses serta mempertahankan informasi baru. Gaya pembelajaran tergantung ke fitur biologi dan perkembangan kepribadian seseorang dan ia dipengaruhi oleh lingkungan, emosi, pengaruh sosial serta perasaan individu. Akibatnya, sesuatu pengajaran dapat efektif bagi seorang mahasiswa namun tidak efektif bagi siswa yang lain karena gaya pembelajaran mereka berbeda. Renzulli and Smith (1978) mendefinisikan gaya pembelajaran sebagai satu bidang strategi pengajaran yang mana siswa mencoba menuntut pembelajaran. Mereka berpendapat bahwa siswa dapat belajar dengan lebih efektif jika pengajaran guru sejalan dengan gaya pembelajaran pelajar. Dengan ini, penyesuaian dalam pengajaran perlu dilakukan untuk melayani gaya pembelajaran pelajar.

Kolb (1985) dapat menggambarkan empat model pembelajaran yang dasar hasil dari kombinasi pengalaman siswa dan kebutuhan lingkungan. Ia berpendapat bahwa dalam proses pembelajaran, semua siswa yang efektif perlu mampu segi pengalaman beton (concrete experience), pengamatan reflektif (Reflective jenis), konseptualisasi abstrak (abstract conceptualization) dan eksperimentasi aktif (active experimentation). Keefe (1987) berpendapat bahwa gaya pembelajaran mencakup tiga aspek, yaitu kognitif, afektif dan kejiwaan. Gaya kognitif melibatkan pememprosesan informasi, gaya afektif melibatkan reaksi yang berdasarkan motivasi sedangkan gaya kejiwaan bersifat tabiat yang berhubungan dengan unsur-unsur seks, kesehatan dan lingkungan. Ia mendefinisikan pembelajaran sebagai satu proses internal dan berpendapat bahwa pembelajaran hanya berlaku apabila ada perubahan tabiat baik secara permanen atau sementara bagi seseorang individu.

Soemanto, Wasty, M.Pd. Psikologi Pendidikan. Hal: 130

Satu tim bertugas yang dianjurkan oleh National Association of Secondary School Principals dan terdiri dari pakar teori dalam bidang gaya pembelajaran telah mendefinisikan gaya pembelajaran sebagai satu komposit faktor-faktor bersifat kognitif, afektif dan psikologi yang berfungsi sebagai petanda-petanda stabil pada cara mana seorang pelajar membuat persepsi, berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan pembelajarannya. Berdasarkan Tim ini, gaya pembelajaran juga mencakup gaya kognitif yaitu cara intrinsic pengolahan informasi yang mewakili modus membuat persepsi, pemikiran, pemecahan masalah dan cara mengingat kembali seseorang individu itu (Griggs, S.A., 1991).4

C. Teori Belajar Kognitif

Ahli psikologi berpendapat bahwa prinsip teori tingkah laku hanya memberikan bagian dari pertanyaan tentang bagaimana kita belajar. Contoh, bagian tingkah laku yang paling baik kita ingat ialah kejadian-kejadian yang praktis dan sering kontradiksi dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin kita mempunyai seorang teman yang mempunyai telepon dan setiap kita ingin menelpon, kita akan melihat nomor telepon teman kita. Walaupun kita sering memutar nomor teleponnya dan menikmati percakapan dengan dia, kita tidak belajar nomor telepon teman kita. Kita mungkin mengingat sesuatu yang lucu atau mengingat suatu percakapan yang hanya terjadi sekali dan tidak dipraktikkan.jadi, belajar tidak hanya mempraktikkan dan mendapat hadiah, tetapi lebih dari itu.

http://apps.emoe.gov.my/ipba/rdipba/cd1/article97.pdf (12 Mei 2010)

Ahli-ahli teori kognitif berpendapat bahwa belajar adalah hasil dari usaha kita untuk dapat mengerti dunia. Untuk melakukan ini, kita menggunakan semua alat mental kita. Caranya, kita berpikir tentang situasi, sama baiknya kita berpikir tentang kepercayaan, harapan, dan perasaan kita yang akan mempengaruhi bagaimana dan apa yang akan kita pelajari. Dua siswa mungkin akan ada dalam kelas yang sama, tetapi belajar dua pelajaran yang berbeda. Apa yang dipelajari setiap siswa tergantung pada apa yang diketahui dari masing-masing siswa dan bagaimana informasi baru diproses. Tetapi, walaupun banyak perspektif belajar kognitif, hanya ada dua kategori penting, yaitu pertama information processing approach (pendekatan proses informasi) yang mempercayakan terutama komputer sebagai model untuk belajar dan untuk ingatan manusia.5 D. Implikasi Teori Kognitif Dalam Pendidikan

Ada sejumlah cara untuk menggunakan model belajar kognitif dalam kelas. Petama, kita akan melihat strategi mengajar pada umumnya, terutama yang menyangkut rencana pelajaran. Kemudian, kita akan memusatkan perhatian untuk membantu siswa dalam mengingat informasi baru.

a. Strategi Mengajar

Guru-guru dapat membantu siswa untuk menaruh perhian pada pelajaran. Ini penting untuk mengidentifikasi apa yang penting, sulit, atau sesuatu yang belum dikenal, membangkitkan kembali informasi yang telah dipelajari, dan memahami metode baru dengan menghubungkan materi itu dengan informasi yang telah ada dalam ingatan jangka panjang.
1. Memusatkan Perhatian Banyak faktor yang mempengaruhi perhatian siswa. Dalam permulaan pelajaran, guru dapat membuat kontak mata atau berbuat sesuatu yang mengejutkan siswa dengan maksud untuk menarik perhatian siswa. Siswa akan belajar lebih banyak karena guru dalam menyampaikan mata pelajaran sangat menarik dan mengasyikkan.

Wuryani, Esti. Psikologi Pendidikan. 2006. hal: 148-150

2. Mengidentifikasi Apa yang Penting, Sulit, dan Tidak Biasa Siwa sering memperhatikan dan belajar keras, tetapi mereka memusatkan pada metode yang salah. Mereka mungkin menghabiskan waktu belajar mereka dengan halhal jyang tidak penting dan kehilangan pokok-pokok yang penting. Mereka mungkin berkonsentrasi pada materi yang telah mereka ketahui dan menghindari mengerjakan tugas-tugas yang sulit atau kurang dikenal. Beberapa siswa ada yang lebih baik dari yang lain dalam mempertimbangkan pelajaran mana yang penting setelah mereka betul-betul mengerti ide yang disampaikan guru. 3. Belajar Dapat Dipertinggi Jika Guru Membantu Siswa Mearasa Betapa Pentingnya Informasi Baru Satu strategi untuk melakukan ini adalah membuat tujuan pelajaran sejelas mungkin. Jika siswa-siswa tahu apa yang diharapkan dari mereka untuk melakukan sesuatu dengan informasi, mereka akan lebih dapat memusatkan perhatian pada hal-hal yang penting. Dalam penyampaian pelajaran lisan, guru dapat memperjelas persamaan dan perbedaan ide-ide yang disampaikan dan memberikan contoh yang berbeda dari konsep-konsep yang diajarkan. Jika suatu ide baru membuat siswa bingung, guru harus memberikan contoh dengan perbedaan yang ada. Bagian pelajaran yang sulit harus diberikan ekstra perhatian. 4. Membantu Siswa Mengingat Kembali Informasi Yang Telah Dipelajari Sebelumnya Ahli-ahli teori kognitif berpendapat bahwa belajar adalah suatu integrasi atau gabungan antara informasi baru dan struktur kognitif yag ada. Sebelum integrasi dibuat, siswa harus dapat mengingat kembali informasi yang telah mereka ketahui. Belajar sebelumnya mungkin dalam bentuk konsep, definisi, dan hukum-hukum. Ketika siswa harus menguasai informasi baru, konsep, definisi, dan hukum-hukum ini sudah harus dikuasai. Strategi untuk membantu siswa mengingat kembali pelajaran yang sudah diberikan dapat berupa meninjau kembali secara singkat pelajaran yang sudah diberikan, atau mendiskusikan kata-kata kunci dalam pelajaran kosakata. 5. Membantu Siswa Memahami Dan Menggabungkan Informasi

Mungkin satu-satunya metode terbaik untuk membantu siswa memahami pelajaran dan mengombinasikan informasi yang telah ada denga informasi baru adalah membuat pelajaran sedapat mungkin bermakna (meaningfuul). Pelajaran yang berarti itu sendiri artinya bukan suatu perubahan, dan pelajaran itu selalu berhungan dengan informasi atau konsep siswa yang telah ada. Pelajaran yang berarti disampaikan dalam perbendaharaan kata yang dapat dimengerti oleh siswa. Istilah baru dijelaskan melalui penggunaan kata dan ide-ide yang sudah dikenal. Pelajaran yang berarti umumnya teorganisasi dengan baik dan dengan jelas menghubungkan diantara unsur-unsur pelajaran yang berbeda. Akhirnya, pelajaran yang bermakna membuat

wajarpenggunaan informasi-informasi yang sudah ada untuk membantu siswa mengerti informasi baru dengan memberikan contoh atau analogi.6 b. Strategi Untuk Membantu Siswa Mengingat Lindsay dan Norman (987) menyampaikan tiga aturan umum untuk memperbaiki ingatan. Pertama, menghafal memerlukan usaha; ini sering tidaj mudah. Kedua, materi yang harus dihafal atau diingat seharusnya berhubungan dengan hal-hal lain. Menguraikan dengan kata-kata sendiri dan menggambarkan dalam khayalan mungkin dapat membantu. Ketiga, menghafal atau mengingat memerlukan organisasi. Materi dapat dibagi dalam kelopok atau bagian-bagian kecil dan kemudian diletakkan kembali bersama-sama dalam pola yang berarti. Siswa seharusnya juga mencari struktur dalam materi itu sendiri dan gunakan bantuan mnemonic (suatu metode untuk mengingat yang menekankan atau membentuk stuktur bagi hal-hal atau benda-benda yang perlu diingat sehingga mempermudah mengingat kembali) jika diperlukan. Diantara beberapa sistem mnemonic yang berguna adalah Peg-Type Mnemonic, Chain-Type Method, The Keyword Method, dan Chunkin. 1. Peg-Type Mnemonic Metode Peg-Type mengharuskan kita mengingat daftar tempat atau kata-kata yang sudah terstandar. Kemudian kapan saja kita belajar suatu daftar item-item, kita dapat menggabungkan dengan informasi-informasi item-item ini dengan peg yang telah ada dalam ingtan anda.

Wuryani, Esti. Psikologi Pendidikan. 2006. hal: 158-162

Jika kita tahu kata-kata peg, daftar item mbaru yang dipelajari dapat dihubungkan dengan kata-kata ini melalui suatu kesan atau bayangan. Contoh, jika kita harus berhenti di kantor bank, kantor pos, dan toko makanan dalam perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. Kita membayangkan dapat melihat uang yang diisiukan ke dalam sepasang sepatu (shoes). Kemudian, kita memimpikan surat-surat tergantung seperti daun di pohon (tree). Akhirnya, kita mungkin membayangkan menabrak pintu (door) dengan kereta belanja. 2. Chain-Type Method Chain-type mnemonic berhubungan dengan item pertama untuk diingat dengan yang kedua, yang kedua dengan ketiga, yang ketiga dengan yang keempat, dan seterusnya. Contoh, dengan sistem mata rantai (linking system), setiap item pada satu daftar mata rantai pada item berikutnya melalui beberapa hubungan visual. Jika kita berhenti di kantor bank, kantor pos, dan toko makanan, kita mungkin membayangkan uang yang dimasukkan dalam surat. Kemudian, kita membayangkan surat-surat dimasukkan dalam dompet. Dalam setiap kasus, satu visual mengantarkan kita untuk proses berikutnya. 3. The Keyword Method (metode kata penting atau kata kunci) Pendekatan ini mempunyai dua tahap. Pertama, kita harus mengidentifikasi kata bahasa Indonesia yang paling disukai sebagai kata benda yang kongkret. Selanjutnya, kita hubungkan arti dalam bahasa inggris (atau bahasa asing lainnya) dengan kata-kata bahasa Indonesia yang dipilih melalui kesan atau kalimat. Contoh, kata bahasa inggris, cart (artinya kereta), suaranya seperti bahasa Indonesia kata karat. Karat menjadi kata kunci dan kita bayangkan kereta kuno itu dibersihkan karena ada bagian yang sudah berkarat. Pada umumnya, tekhnik-tekhnik yang menggunakan kesan atau bayangan lebih tepat untuk siswa-siswa SD dan SMP, karena mereka masih mempunyai kesulitan membentuk kesan atau bayangannya sendiri. 4. Chunking Mnemonic terakhir adalah chunking. Jika kita memang mengingat 6 digit 3, 5, 4, 8, 7, dan 0 kita akan mengalami kesulitan. Tetapi hal itu bisa dipermudah dengan meletakkan

dua atau tiga digit ke dalam dua atau tiga chunk. Misalnya menjadi 35, 48, 70, atau 354, 870. Dengan cara ini 2 atau 3 informasi akan kita ingat dalam waktu pendek.7

KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teory belajar Gestalt. Menurut pandangan Gestalt, semua kegiatan belajar menggunakan instinght atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan terutama hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan Teori-teori belajar kognitif mulai berkembang dari teori belajar Gestalt, teori belajar Cognitive-Field dari Lewin, dan teori belajar Cognitive Developmental dari Piaget. Tetapi, walaupun banyak perspektif belajar kognitif, hanya ada dua kategori penting, yaitu pertama information processing approach (pendekatan proses informasi) yang mempercayakan terutama komputer sebagai model untuk belajar dan untuk ingatan manusia. Ada sejumlah strategi untuk menggunakan model belajar kognitif dalam kelas. Yang pertama memusatkan perhatian pada siswa, mengidentifikasi apa yang lebih penting, sulit, dan tidak biasa, belajar dapat dipertinggi jika guru membantu siswa merasa betapa pentingnya informasi baru, membantu siswa mengingat kembali informasi yang telah dipelajari sebelumnya, membantu siswa memahami dan menggabungkan informasi. Diantara beberapa sistem mnemonci (suatu metode untuk mengingat yang menekankan atau membentuk stuktur bagi hal-hal atau benda-benda yang perlu diingat sehingga mempermudah mengingat kembali) yang berguna adalah Peg-Type Mnemonic, Chain-Type Method, The Keyword Method, dan Chunkin.

DAFTAR ISI

B. Uno, Hamzah, Dr. 2006. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Soemanto, Wasty, M.Pd. 2003. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipata Wuryani, Esti. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo
7

Wuryani, Esti. Psikologi Pendidikan. 2006. hal: 164-167

http://apps.emoe.gov.my/ipba/rdipba/cd1/article97.pdf (12 Mei 2010)

Anda mungkin juga menyukai