Anda di halaman 1dari 5

BUNGA (INTEREST) OKTOBER 9, 2011 BY FERDIANRIKUDO 1 Bunga adalah imbal jasa ataspinjaman uang.

Imbal jasa ini merupakan suatu kompensasi kepadapemberi pinjaman atas manfaat kedepan dari uang pinjaman tersebutapabila diinvestasikan. Jumlah pinjaman tersbut disebut pokokutang(principal). Persentase dari pokok utang yangdibayarkan sebagai imbal jasa ( bunga ) dalam suatu periodetertentu disebut suku bunga

Definisi interest menurut Samuel G. Kling, dalam The Legal Encylopedia for Home and Business, 1960, 246 (IBI,36), Interest is compensation for the use of money which due. Menurut Oxford English Dictionary, 1989, 109 (IBI, 37) mendefinisikan, Interest is money paid for the use of money lent (the principal), or for forbearance of a debt, according to a fixed ratio (rafe per cent). Usury didefinisikan dalam Oxford English Dictionary, 1989,365 (IBI,37) adalah The fact or practice of lending money at interest, especially in later use, the practice of charging, taking or contracting to receive, exessive or illegal rate of interest for money on loan. Menurut Cardinal de Lugo (1593-1623), mendefinisikan, Usury is gain immediately arising as an obligation from a loan of mutuum if gain doesn not arise from mutuum but from purchase and sale, however unjust, it is not usury, and likewese if it is not paid as an obligation due but from goodwill, gratitude, or friendship, it is not usury.

Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa interest dan usury merupakan dua konsep yang serupa, yaitu keuntungan yang diharapkan oleh pemberi pinjaman atas peminjaman uang atau barang (mutuum), yang sebenarnya barang atau uang tersebut apabila tidak ada unsur tenaga kerja tidak akan menghasilkan apa-apa. Faktor-faktor utama yang memengaruhi besar kecilnya penetapan suku bunga adalah sebagai berikut : 1. kebutuhan dana

2. persaingan 3. kebijakan pemerintah 4. target laba yang diinginkan 5. jangka waktu 6. kualitas jaminan 7. reputasi perusahaan 8. produk yang kompetitif 9. hubungan baik

10. jaminan pihak ketiga Secara umum ada 2 metode dalam perhitungan bunga yaitu efektif dan flat. Namun dalam praktek sehari-hari ada modifikasi dari metode efektif yang disebut dengan metode anuitas. Sistem Bunga Efektif Sistem bunga efektif adalah kebalikan dari sistem bunga flat, yaitu porsi bunga dihitung berdasarkan pokok hutang tersisa. Sehingga porsi bunga dan pokok dalam angsuran setiap bulan akan berbeda, meski besaran angsuran per bulannya tetap sama. Sistem bunga efektif ini biasanya diterapkan untuk pinjaman jangka panjang semisal KPR atau kredit investasi. Dalam sistem bunga efektif ini, porsi bunga di masa-masa awal kredit akan sangat besar di salam angsuran perbulannya, sehingga pokok hutang akan sangat sedikit berkurang. Jika kita hendak melakukan pelunasan awal maka jumlah pokok hutang akan masih sangat besar meski kita merasa telah membayar angsuran yang jika ditotal jumlahnya cukup besar. Jika dibandingkan kedua sistem bunga itu, maka masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan sistem bunga flat adalah jika kita hendak melakukan pelunasan awal, maka porsi pokok hutang yang berkurang cukup sebanding dengan jumlah uang yang telah kita angsur. Namun kelemahannya, bunga itu cukup besar karena dihitung dari pokok hutang awal. Sistem bunga efektif akan lebih berguna untuk pinjaman jangka panjang yang tidak buru-buru dilunasi di tengah jalan, karena jika kita membandingkan nominal bunga yang kita bayarkan, jauh lebih kecil dari sistem bunga flat. Rumus : Bunga per Bulan = SA x I/12 * SA : Saldo Akhir Periode * I : Suku bunga per tahun Perhitungan Bunga Bank Efektif : Bunga bulan pertama = Rp 12.000.00012%/12 = Rp 120.000 Angsuran pokok tiap bulan = Rp 12.000.000/12 = Rp 1.000.000 Sistem Bunga Flat Bunga Flat adalah sistem perhitungan suku bunga yang besarannya mengacu pada pokok hutang awal. Biasanya diterapkan untuk kredit barang konsumsi seperti handphone, home appliances, mobil atau kredit tanpa agunan (KTA). Dengan menggunakan sistem bunga flat ini maka porsi bunga dan pokok dalam angsuran bulanan akan tetap sama. Misalnya besarnya angsuran adalah satu juta rupiah dengan komposisi porsi pokok 750 ribu dan bunga 250 ribu. Maka, sejak angsuran pertama hingga terakhir porsinya akan tetap sama.

Rumus:

total Bunga = P x I x N bunga perbulan = total bunga / B besar angsuran = (P + total bunga) / B * P : Pokok kredit * I : Suku bunga per tahun * N : Jangka waktu kredit dalam satuan tahun * B : Jangka waktu kredit dalam satuan bulan Perhitungan Bunga Flat : Total Bunga = Rp 12.000.000 0,06 1 = Rp 720.000 Bunga per BUlan = Rp 720.000 : 12 = Rp 60.000 Besar Angsuran = (Rp 12.000.000+Rp 720.000 ) / 12 = Rp 1.060.000

MACAM-MACAM BUNGA Bunga Sederhana (Simple Interest) Bunga sederhana ini adalah bunga dengan kalkulasi satu kali saja. Bunga ini biasanya di bayar diakhir periode perjanjian atau kontrak. Bunga yang dibayarpun juga sesuai dengan tingkat bunga yang sesuai dengan perjanjian atau kontrak. Rumus yang dipakai adalah: di mana I adalah jumlah bunga yang dibayarkan, P adalah pokok simpanan kita,r adalah tingkat bunga menurut kontrak/perjanjian, sedangkan t adalah lamanya waktu simpanan kita. Kebanyakan investasi pada saat ini tidak lagi menggunakan sistem penghitungan bunga sederhana seperti ini. Hanya beberapa tipe obligasi saja yang masih menggunakan penghitungan bunga seperti ini. Contoh dari bunga seperti ini adalah misalnya sebuah obligasi dengan bunga % yang mempunyai harga face value $1000 dan bunga dibayarkan setiap tahun atau sebesar $125 per tahun. Setelah lima tahun total bunga yang dibayarkan adalah: I = 1000 X 0,125 X 5 = $625 Bunga Majemuk (Compound Interest) Bunga majemuk ini adalah bunga yang didapatkan dari sebuah investasi yang dibayarkan pada interval waktu yang seragam. Semua bunga yang dibayarkan adalah dihitung berdasarkan pokok simpanan ditambah dengan akumulasi bunga yang didapat sebelumnya. Ingat kembali bunga sederhana Bunga >> I = Pin Nilai uang pada akhir tahun ke-n >> Fn = P + Pin = P(1+in)

Misal Investasi modal P dengan tingkat bunga i per tahun maka pendapatan bunga pada tahun pertama adalah pi. Jadi nilai investasi pada akhir tahun pertama menjadi P + Pi = P(1+i).

Contoh: David menyimpan uang di bank sebesar Rp1.000.000.00 dan bank memberikan bunga 10%/tahun. Jika bunga tidak pernah diambil dan dianggap tidak ada biaya administrasi bank. Tentukan jumlah bunga yang diperoleh David setelah modal mengendap selama 3 tahun. Jawab: Akhir tahun pertama, bunga yang diperoleh: I = 10% x Rp1.000.000 = Rp100.000 Awal tahun ke dua, modal menjadi: P2 = Rp1.000.000 + Rp100.000 = Rp1.100.000 Akhir tahun kedua, bunga yang diperoleh: I2 = 10% x Rp1.100.000 = Rp110.000 Awal tahun ketiga, modal menjadi: P3 =Rp1.100.000 + Rp110.000 = Rp1.210.000 Akhir tahun ketiga, bunga yang diperoleh: I3 = 10% x Rp1.210.000 = Rp121.000 Jumlah bunga yang diperoleh setelah mengendap tiga tahun: = Rp100.000 + Rp110.000 + Rp121.000 = Rp331.000 Tambahan Hukum 70 (The Law of 70) = i x P3 = P2 + iP2 = i x P2 = P + iP =ixP

Hukum 70 ini sebenarnya adalah juga untuk memperkirakan doubling time, namun caranya praktis sekali dan cukup menggunakan kalkulator sayur! (Tidak perlu kalkulator saintifik yang ada natural logarithm-nya). Rumus sederhana yang kreatif ini adalah sebagai berikut (yang sebenarnya adalah modifikasi dari rumus diatas: doubling time = , dengan i adalah tingkat bunga pertahun dalam persen (bukan dalam desimal!). Ide dari Hukum 70 ini sangat sederhana, yaitu berangkat dari fakta bahwa ln(2) = 0,6913 atau dibulatkan menjadi 0,70. Lalu 0,70 ini dikalikan dengan 100% yang menghasilkan 70% tentu saja. Jadi kita coba saja dengan contoh yang sudah ada (70% dibagi dengan 6%/tahun): doubling time = = 11,66 tahun, cukup representatif untuk memperkirakan doubling timedan lebih mudah bukan? Untuk tripling time cukup mengganti angka 70 dengan angka 110, karena ln(3) = 1,0986 dan kalau dikalikan 100% maka akan dibulatkan menjadi 110%. Tapi untuk itu namanya harus diganti dari Hukum 70 (The Law of 70) menjadi Hukum 110 (The Law of 110).