Anda di halaman 1dari 2

Patogensis stenosis piloris Stenosis pilorus adalah terjadinya hipertrofi otot sirkuler pylorus yang terbatas pada lingkaran

pylorus jarang berlanjut ke otot gaster yang menyebabkan obstruksi fungsional gaster. Pylorus adalah otot sphincter yang terletak di bagian kaudal lambung yang nantinya akan bergabung dengan bagian pertama usus kecil yakni duodenum. Secara normal, bagian pylorus ini berperan untuk mengatur pengeluaran kim sedikit demi sedikit ke dalam duodenum. Caranya otot pylorus yang mengarah ke lambung akan relaksasi jika tersentuh kim yang bersifat asam. Sebaliknya otot pylorus yang mengarah ke duodenum akan berkonstraksi (mengkerut) jika tersetuh kim. Jadi jika kim yang bersifat asam tiba di pylorus depan, maka pylorus akan membuka, sehingga makanan bisa lewat keluar dari gaster. Kemudian makanan asam mengenai pylorus belakang, pylorus akan menutup. Makanan tersebut dicerna sehingga keasamannya menurun. Makanan yang bersifat basa di belakang pylorus akan merangsang pylorus untuk membuka. Akibatnya, makanan melewati pylorus menuju duodenum segumpal demi segumpal agar makanan dapat tercerna efektif. Setelah 2 sampai 5 jam lambung akan kosong kembali. Nah, jika otot-otot pylorus tersebut mengalami hipertropi (peningkatan ukuran dari sel-sel otot) dan terjadi penebalan otot 2 kali lipat dari tebal normal, maka akan terjadi penyempitan kanal pylorus oleh kompresi lipatan-lipatan longitudinal dari mukosa dan pemanjangan pylorus. Akibat penyempitan tersebut, maka hanya sejumlah kecil isi lambung yang bisa masuk ke duodenum, selebihnya akan dimuntahkan. Obstruksi aperture gastric menyebabkan muntah yang nonbilious (tidak mengandung cairan empedu) karena makanan hanya tertampung dalam gaster saja dan tidak sampai ke duodenum, hal ini menyebabkan hilangnya asam lambung dan akhirnya menyebabkan hipokloremia yang menggangu kemampuan keja lambung untuk mensekresikan bikarbonat. Muntah merupakan tanda kegagalan proses pengosongan lambung yang mengakibatkan dehidrasi berat, gangguan elektrolit, gangguan keseimbangan asam bas, penurunan berat badan dan dapat berlanjut syok. Penyebab dari stenosis pylorus ini belum diketahui dengan pasti, namun faktor genetic dan pengaruh lingkungan ikut terlibat. Selain itu, faktor-faktor lain seperti faktor hormonal dan neural. Nitrit oksidasi Sintase (NOS) diduga menyebabkan stenosis pylorus karena memediasi relaksasi otot polos non kolinergik non adrenergic sepanjang usus yang menyebabkan lapisan otot sirkuler pylorus mengalami hipertropi. Kecemasan berlebihan pada ibu hamil dapat

meningkatkan aktivitas nervus vagus untuk menghasilkan hormone gastrin diduga mencetuskan terjadinya stenosis pylorus pada bayi. Ref. Kusumadewi Anny, Ahmadwirawan, Farid Nurmantu. Congenital Hypertropyc Pyloric Stenosis. The Indonesian Journal of Medical Science Volume 2. 2009