Anda di halaman 1dari 23

TEKS READING

KELUAR AIR DARI JALAN LAHIR

OLEH :

KELOMPOK 10 Intan Purnamasari Yuniarti P. Intan Purnamawati M. Najif M.

Universitas Islam Al-Azhar Mataram Fakultas Kedokteran Tahun Ajaran 2012/2013

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakattuh Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi kemudahan kepada kelompok kami untuk menyusun makalah yang berjudul keluar air dari jalan lahir . Terimakasih kepada dosen-dosen yang telah membimbing kami, dan terimakasih kepada dr.L.Maulin yang bersedia membaca, mengoreksi dan membantu kami memperbaiki penyusunan makalah yang masih kurang sempurna ini. Makalah ini kami susun untuk menunjang kegiatan belajar mengajar kita di Fakultas Kedokteran ini. Kami mengharap saran dan kritik juga dari teman-teman demi kesempurnaan penyusunan dan isi makalah ini.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakattuh

Mataram, 2 Maret 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. i Daftar Isi.. ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...1 1.2 Rumus Masalah..2 1.3 Tujuan ....2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Anatomi Gaster....3 2.2 Definisi Ulkus Peptikum........5 2.3 Etiologi Ulkus Peptikum..6 2.4 Patofisiologi ......9 2.5 Menifase Klinis11 2.6 Definisi Duodenum13 2.7 Etiologi Dan Pathogensis Ulkus Duodenum 13 Ulkus

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan16 Daftar Pustakaiii

BAB 1 PENDAHULUAN

Proses persalinan biasanya ditandai dengan keluarnya air ketuban (likuor amnii). Likuor amnii ini terdapat dalam lapisan amnion. Amnion membentuk dinding ruang amnion. Ruangan yang dilapisi oleh selaput janin (amnion dan korion) berisi air ketuban (liquor amnii). Cairan amnion diproduksi oleh sel-sel dinding amnion. Cairan amnion berwarna putih keruh, berbau amis, dan terasa manis. Reaksinya agak alkalis sampai netral dengan berat jenis 1,008. Volume cairan amnion mencapai 1000-1500 cc (99% air dan 1% glukosa, protein, garam mineral) pada akhir kehamilan. Cairan amnion terus bersirkulasi dan 1/3 volumenya tiap jam mengalir, sehingga urin ibu hamil meningkat. Pertumbuhan janin menyebabkan ruangan amnion semakin membesar, amnion dan korion menjadi lisut, tali penghubung bersama dengan yolk sac membentuk tali pusat. Bila tidak ada cairan amnion yang memadai selama hamil, janin akan mengalami hipoplasia paru bahkan kematian. Jadi amnion berfungsi untuk Fungsi amnion antara lain: Melindungi janin dari trauma atau benturan dengan benda di luar uterus, sebagai pembersih atau pelicin jalan lahir, menahan tekanan uterus, menstabilkan suhu tubuh janin agar tetap hangat, memungkinkan janin bergerak bebas, tempat perkembangan musculoskeletal, dan menjaga perkembangan dan pertumbuhan normal dari paru-paru dan traktus gastro intestinal Likuor amnii atau air ketuban pada saat hamil cukup dengan volume 1000-1500 ml, warna putih, agak keruh, serta mempunyai bau yang sangat khas, agak amis dan manis. Cairan ini dengan berat jenis 1,080, terdiri atas 98% air. Sisanya terdiri atas garam anorganik serta bahan organic dan bila diteliti benar, terdapat rambut lanugo (sama dengan rambut halus yang berasal dari bayi), sel-sel epitel, dan verniks kaseosa (sama dengan lemak yang meliputi kulit bayi). Protein ditemukan rata-rata 2,6% gram per liter, sebagian besar albumin.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Anatomi Jalan Lahir Pada setiap persalinan harus di perhatikan 3 faktor yaitu jalan lahir, janin, dan kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu. Jalan lahir dibagi atas bagian tulang terdiri atas tulang-tulang panggul dengan sendisendinya dan bagian lunak terdiri atas otot-otot, jaringan-jaringan atau ligamen-ligamen. Tulang-Tulang Panggul Tulang tulang panggul terdiri dari os koksa yang terdiri atas os ilium, os iskium, os pubis, os sakrum, dan os koksigis. Tulang-tulang ini satu dengan lainnya saling berhubungan. Didepan terdapat hubungan antara kedua os pubis kanan dan kiri, disbut simfisis. Dibelakang terdapat aaartikulasio sakro-iliaka yang menghubungkan os sakrum dengan os ilium. Di bawah terdapat artikulasio sakro-kosigea yang menghubungkan os sakrum dengan os koksigis. Di luar kehamilan artikulasio ini hanya memungkinkan pegeseraan sedikit, tetapi pada waaktu kehamilan dan persalinan dapat bergeser lebih jauh dan lebih longgar, misalnya ujung os koksigis dapat bergerak ke belakang sampai sejauh lebih kurang 2,5cm. Hal ini dapat dilakukan bila ujung koksigiss menonjol kedepan pada partus, dan pada pengeluaran kepala janin dengan cuman ujung os koksigis ini dapat ditekan kebelakang. Pada seorang wanita hamil yang bergerak terlampau cepat dari duduk langsung berdiri, sering dijumpai pegeseran yang lebar pada artikulasio sakro-iliaka. Hal demikian dapat menimbulkan rasa sakit di daerah artikulasio tersebut. Juga pada simfisis tidak jarang di jumpai simfisis atau ketika tergelincir karena longgarnya hubungan disimfisis. Hal demikian dapat menimbulkan rasa sakit atau gangguan jalan. Secara fungsional panggul tediri dari 2 bagian yang disebut pelvis mayor dan pelvis minor.

Pelvis mayor adalah bagian pelvis yang terletak di atas linea terminalis , diesbut juga false pelvis. Bagian yang terletak dari linea terminalis disebut pelvis minor atau true pelvis. Bagian akhir ini adalah bagian yang mempunyai peranan penting dalam obstetri dan harus dapat dikenal dan dinilai sebaik-baiknya untuk dapat meramalkan dapat tidaknya bayi melewatinya. Bentuk pelvis minor ini menyerupai suatu saluran yang mempunyai sumbu melengkung kedepan (sumbu caarus) sumbu ini secara klasik adalah garis yang menghubungkan titik persekutuan antara diameter transversa dan konjugata vera dan pintu atas panggul dengan titik-titik hodge 1,2 dan 4. Samapi dekat hodge 3 sumbu iu lurus sejajar dengan sakrum, untuk seterusnya melengkung kedepan , sesuai dengan lengkungan sakrum. Hal ini penting untuk diketahui bila kelak mengakhiri persalinan dengan cunam agar upaya arah penarikan cunam itu disesuaikan dengan jalannya sumbu jalan-lahir tersebut. Bidang atas saluran normal berbentuk hampir bulat, disebut pintu atas panggul (pevis inlet). Bidang bawah saluran tidak merupakan suatu bidang seperti pintu atas panggul, akan tetapi terdiri atas dua bidang disebu pintu bawah panggul (pelvis outlet). Diantara kedua pintu terdapat ruang panggul (pelvis cavity). Ruang panggul mempunyai ukuran yang paling luas di bawah pintu atas panggul, akan tetapi menyempitt di panggul tengah untuk kemudian menjadi lebih luas lagi sedikit. Penyempitan panggul tengah ini disebabkan adanya spina iskiadika yang kadang-kadang menojol kedalam ruang panggul. Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh promontorium korpus vetebra sakral 1 line innominata (terminalis ) dan pinggir atas simfisis. Panjang jarak dari pinggir atas simfisis ke promontorium lebih kurang 11cm, dsebut konjugata vera. Jarak terjauh garis melintang pada pintu ats panggul lebih kurang 12.5-13cm, disebut diamter tranversa. Bila ditarik garis dari atikulasio sakro iliaka ketitik persekutuan antara diamteter transversa dan konjugata vera dan diteruskan dilinea innominata, ditemukan diameter disebut diameter obliqua sepanjang lebih kurang 13cm. Cara mengukur konjugata vera ialah, jari tengah dan telunjuk dimasukan kedalam vagina untuk meraba promontorium, jarak bagian bawah simfisis sampai ke promontorium dikenal sebgai konjugata diagonalis. Secra statistik di ketahui bahwa konjugata vera sama

dengan konjugata diagonalis di potong 1.5 cm. Selain kedua konjugata ini, dikenal juga konjugata obstetrika yaitu jarak bagian tengah ke promontorium. Konjugata ini paling penting, walaupun perbedaan dengan konjugata vera sedikit sekali. Dalam obstetri dikenal 4 jenis panggul yang mempunyai ciri-ciri pintu atas panggul sebagai berikut A. Jenis ginekoid yaitu panggul paling baik untuk wanita, bentuk pintu atas panggul hampir bulat. Panjang diameter anterior-posterior kira-kira sama dengan diamter trasnversa. Jenis ini ditemukan pada 45% wanita. B. Jenis android yaitu bentuk atas panggul hampir segitiga, umumnya pria mempunyai jenis seperti ini , panjang diameter anterior-posterior hampir sama dengan diameter transversa, akan tetapi yang terakhir ini jauh lebih mendekati sakrum. Dengan demikian bagian belakangnya pendek dan gepeng, sedangakan bagian depatnya menyempit ke muka. Jenis ini ditemukan pada 15% wanita. C. Jenis antropoid yaitu bentuk pintu atas panggul agak lonjong, seperti telur. Panjang diameter anterior posterior lebih besar dari pada diameter transversa. Jenis ini ditemukan pada 35% wanita. D. Jenis platipelloid yaitu jenis ginekoid yang menyempit pada arah muka belakang. Ukuran melintang jauh lebih besar dari pada ukuran muka belakang. Jenis ini ditemukan pada 5% wanita. Tidak jarang di jumpai jenis kombinasi ke empat jenis klasik ini. Disinilah tempat kegunaaan pelvimetri rontgen, untuk mengetahui jenis bentuk, dan ukuran-ukuran pelvis secara tepat. Untuk menyebut jenis pelvis kombinasi, disebutkan jenis pevis bagian belakang dahulu, kemudian bagian depan. Misalnya jenis andoid-ginekoid itu berarti jenis pelvis bagian belakang adalah jenis android dan bagian depan adalah ginekoid. Dapat dsini dikemukakan bahwa pelvimetri rontgen itu hanya dilakukan pada indikasi tertentu, misalnya adanya dugaan ketidak seimbangan antara janin dan panggul (feto pelvic disporpotion) adanya riwayat trauma atau penyakit turbokolosis pada tulang panggul, bekas sersio sesarea dan akan direncanakan partus pervaginam pada letak sungsang,presentasi muka, atau kelainan letak lain. Pembatasan pemakaian sinar rontgen berdasrkan pengaruh terhadap sel-

sel kelamin janin yang masih amat muda itu serta ovaria ibu. Dewasa dapat digunakan MRI (magnetic resonance imaging). Pintu Bawah Panggul Seperti yang dijelaskan pintu bawah panggul tidak merupakan suatu bidang datar, tetapi tersusun atas 2 bidang datar yang masing-masing membentuk segi tiga yaitu bidang yang dibentuk oleh garis antara kedua tubera ossis iskii dengan ujung os sakrum dan segitiga lainnya yang alasnya juga garis antara tubera oasii iski dengan bagian bawah simfisis. Pinggir bawah simfisis berbentuk lengkung ke bawah dan merupakan sudut (arkus pubis) , dalam keadaan normal besarnya sudut ini lebih kurang 90% atau lebih sedikit. Bila kurang sekali dari 90%, maka kepala janin akan lebih sulit dilahirkan karena diperlukan tempat lebih banyak ke dorsal. Dalam hal ini perlu di perhatikan apakah ujung os sakrum tidak menonjol kedepan hingga kepala janin tidak dapat dilahirkan. Jarak diantara kedua tuber ossis iski (distansia tuberum) diambil dari bagian dalamnya adalah lebih kurang10,5cm. Bila lebih kecil, jarak diantara tengah-tengah distansia tuberum ke ujung sakrum (diameter sagitalis) posterior) harus cukup panjang agar bayi normal dapat dilahirkan. Ruang Panggul (Pelvic Cavity) Seperti telah dikemukakan, ruang panggul dibawah pintu atas panggul mempunyaii ukuran yang paling luas. Di panggul tengah terdapat penyempitan setinggi kedua spina iskiadika. Jarak antara kedua spina ini (distansia interspinarum) normal lebih kurang 10,5 cm. Ketika mengadakan penilaian ruang panggul hendaknya diperhatikan bentuk os sakrum, apakah seperti normal melengkung baik dari atas ke bawah dan kesamping cekung ke belakang. Dan selanjutnya bagaimanakah bentuk rongga panggul seluruhya. Dinding

samping pada panggul genekoid misalnya umumnya lurus dari atas kebawah. Dari bentuk dan ukuran berbagai bidang rongga panggul tampak rongga ini merupakan saluran yang tidak sama luasnya di antara tiap-tiap bidang. Bidang yang terluas dibentuk pada pertengahan simfisis dengan os sakral 2-3 , yang kepala janin di mungkinkan bergeser melalui pintu atas panggul masuk dalam ruang panggul. Kemungkinan kepala dapat lebih mudah masuk kedalam ruang panggul diperbesar jika ruang mulut antar sakrum dan lumbal, yang disebut iklinasi lebih besar.

Bidang Hodge Bidang-bidang hodge ini dipelajari untuk menentukan sampai dimanakah bagian terendah janin turun pada panggul dalam persalinan. 1. Bidang hodge l : bidang yang dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul

dengan bagian atas simfisis dan promontorium 2. Bidang hodge ll bawah simfisis 3. Bidang hodge lll : bidang sejajar dengan bidang-bidang hodge l dan ll terletak : bidang ini sejajar dengan hodge l terletak setinggi bagian

setinggi spina iskiadika kanan dan kiri 4. Bidang hodge lV : bidang ini sejajar dengan bidang-bidang hodge l ll dan lll

terletak setinggi os koksigis Ukuran-Ukuran Ruang Panggul Ukuran-ukuran luar ini masih dapat dipergunakan dimana pelvimetri rontgen sulit dilakukan. Dengan cara ini masih dapat ditentukan secara garis besar jenis, bentuk, dan ukuran-ukuran panggul apabila dikombinasikan dengan pemeriksaan dalam. Alat-alat yang di pakai antara lain jangkar-jangkar panggul. Yang di ukur yaitu : A. Distansia spinarum ( 24-26cm) jarak yang terpanjang antara kedua spina anterior superior, sinistra dan dekstra. B. Distansia kistarum ( 28-30cm) jarak yang terpanjang antara dua tempat yang simestris pada krista iliaka sinistra dan dekstra. Umumnya ukuran-ukuran ini tidak penting, tetapi pada ukuran ini lebih kecil 2-3cm dari angka normal, maka dapat di curigai panggul itu patologik. C. Distansia oblikus eksterna (ukuran miring luar) yaitu jarak antara iliaka posterior sinistra dan spina iliaka anterior superior dekstra dan dari sspina iliaka posterior dekstra ke spina iliaka anterior superior sinistra. Kedua ukuran ini bersilang. Jika panggul normal, maka kedua ukuran ini tidak banyak berbeda , akan tetapi jika panggul itu asimetrik (miring) maka kedua ukuran itu jelas berbeda sekali .

D. Distansia intertrokanterika yaitu jarak antara kedua trokanter mayor. E. Konjugata eksterna (boudeloque) 18cm jarak antara bagian atas simfisis ke prosessus spinosus lumbal 5 F. Distansia tuberum ( 10,5 cm) yaitu jarak antara tuber iskii kanan dan kiri. Untuk mengukurnya dipakai os cander. Angka yang ditunjuk jangkar harus ditambah

1,5cm karena daya jaringan subkutis antara tulang dan ujung jangkar, yang menghalangi pengukuran secara tepat. Bila jarak ini kurang dari normal, dengan sendirinya arkus pubis lebih kecil dari90 derajat. Kelainan-kelainan panggul yang mencolok dengan ukuran-ukuran luar dapat lebih ditegaskan, akan tetapi untuk kelainan-kelainan yang ringan diperlukan pelvimetri rontgen. Seperti yang telah dikemukakan, pemakaian pelvimetri rontgen ini mempunyai pengaruh tidak baik terhadap janin. Jadi hendaknya pemakaiannya dibatasi pada hal-hal dengan indikasi anatra lain adanya keganjilan ringan antara kepala janin dan panggul (minor cephalopelvic disporpotion). Akan tetapi dapat pula disini dikemukakan bahwa meskipun pelvimetri rontgen menyatakan adanya keganjilan antara kepala dan panggul, janin masih dapat lahir spontan. Oleh karena kekuatan yang ada pada ibu dan daya maulage (daya berubah bentuk) kepala janin kedua hal ini sukar diukur, ikut menentukan sekali pada tiap persalinan. Dewasa ini pemakaian MRI (magnetic resonance imaging) dalam anatomi maternal mulai dipakai dan ternyata lebih bermanfaat dan lebih aman dari pada rontgen yang jelas menimbulkan pengaruh tidak baik untuk ibu maupun pada janinnya. Pula MRI dalam beberapa lebih menguntungkan dari pada pemakaian USG yang kadang-kadang tidak dapat mencapainya. Umpama plasenta previa yang letak dibelakang. Dianjurkan meskipun pengaruh buruk dari MRI tersebut (genetik atau ongkologik) belum diketahui maka pemakaiannya dalam trimester pertama, sewaktu organogenesis sedang berlangsung dengan hebatnya seyogianya tidak dilakukan indikasi pemakaian MRI dalam anatomi maternal antara lain plasenta previa pelvimetri solusio plasenta, penyakit trofoblas, kelainan letak janin, adanya tumor pelvic.

Bagian Lunak Jalan Lahir Pada kala pengeluaran (kala ll) ikut membentuk jalan lahir segmen bawah uterus serviks uteri dan vagina. Pada akhir kehamilan 38 minggu serviks lebih pendek dari pada waktu kehamilan 16 minggu. Seperti telah dikemukakan, ismus uteri pada kehamilan 16 minggu menjadi bagian uterus tempat janin berkembang. Umunya serviks tersebut menjadi matang bila teraba sebagai bibir dan ini terjadi pada kehamilan 34 minggu. Pada primigravida hal ini ditemukan bila hampir aterm kanalis servikalis sendiri terbuka untuk satu jari. Disamping uterus dan vagina, otot-otot, jaringan-jaringan ikat, dan ligamen-ligamen yang berfungsi menyongkong alat-alat urogenitalis perlu diketahui oleh karena semuanya mempengaruhi jalan lahir dan lahirnya kepala atau bokong pada partus. Otot-otot yang menahan dasar panggul dibagian luar adalah musculus sfingter ani eksternus, musculus bulbkarvenosus yang melingkar vagina dan musculus perinei transversus superfisialis. Dibagian tengah ditemukan otot-otot yang melingkari uretra (musculus sfingter uretrrae) otot-otot yang melingkari vagina bagian tengah dan anus antara lain, musculus iliokosigeus , musculus iskiokoksigeus , musculus perinei transversus profundus dan musculus koksigeus. Lebih kedalam lagi ditemukan otot-otot dalam yang paling kuat disebut diafragma pelvis, terutama musculus levator yang berfungsi menahan dasar panggul. Letak musculus levator ini adalah sedemikian rupa sehingga bagian depan musculus ini berbentuk segitiga disebut trigonum progenitalis (hiatus genitalis). Didalam trigonum ini berada uretra, vagina dan rectum. Dalam diafragma pelvis berjalan nervus pudendus yang masuk ke rongga panggul melalui kanalis alcock, terletak antara spina iskiadika dan tuber iskii. Pada persalinan sering dilakukan pudendus block anaethesia , sehingga rasa sakit dapat dihilangkan pada ekstraksi cunam, ekstrasi vacum, penjahitan ruptura perinei, dan sebagainya. Arteria dan vena yang berjalan dalam rongga panggul adalah cabang bawah dari arteria dan vena uterina serta cabang-cabang arteria dan vena hemoroidalis superior.

2.2 Cairan Amnion atau Likuor Amnii Fisiologi Cairan Amnion Amnion manusia pertama kali dapat diidentifikasi pada sekitar hari ke-7 atau ke-8 perkembangan mudigah. Pada awalnya sebuah vesikel kecil yaitu amnion, berkembang menjadi sebuah kantung kecil yang menutupi permukaan dorsal mudigah. Karena semakin membesar, amnion secara bertahap menekan mudigah yang sedang tumbuh, yang mengalami prolaps ke dalam rongga amnion.

Cairan amnion pada keadaan normal berwarna putih agak keruh karena adanya campuran partikel solid yang terkandung di dalamnya yang berasal dari lanugo, sel epitel, dan material sebasea. Volume cairan amnion pada keadaan aterm adalah sekitar 800 ml, atau antara 400 ml -1500 ml dalam keadaan normal. Pada kehamilan 10 minggu rata-rata volume adalah 30 ml, dan kehamilan 20 minggu 300 ml, 30 minggu 600 ml. Pada kehamilan 30 minggu, cairan amnion lebih mendominasi dibandingkan dengan janin sendiri. Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki peran tersendiri pada setiap usia kehamilan. Pada kehamilan awal, cairan amnion sebagian besar diproduksi oleh sekresi epitel selaput amnion. Dengan bertambahnya usia kehamilan, produksi cairan amnion didominasi oleh kulit janin dengan cara difusi membran. Pada kehamilan 20 minggu, saat kulit janin mulai kehilangan permeabilitas, ginjal janin mengambil alih peran tersebut dalam memproduksi cairan amnion. Pada kehamilan aterm, sekitar 500 ml per hari cairan amnion di sekresikan dari urin janin dan 200 ml berasal dari cairan trakea. Pada penelitian dengan menggunakan radioisotop, terjadi pertukaran sekitar 500 ml per jam antara plasma ibu dan cairan amnion. Pada kondisi dimana terdapat gangguan pada ginjal janin, seperti agenesis ginjal, akan menyebabkan oligohidramnion dan jika terdapat gangguan menelan pada janin, seperti atresia esophagus, atau anensefali, akan menyebabkan polihidramnion.

2.3 Fungsi Cairan Amnion

Cairan amnion merupakan komponen penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin selama kehamilan. Pada awal embryogenesis, amnion merupakan perpanjangan dari matriks ekstraseluler dan di sana terjadi difusi dua arah antara janin dan cairan amnion. Pada usia kehamilan 8 minggu, terbentuk uretra dan ginjal janin mulai memproduksi urin. Selanjutnya janin mulai bisa menelan. Eksresi dari urin, sistem pernafasan, sistem digestivus, tali pusat dan permukaan plasenta menjadi sumber dari cairan amnion. Telah diketahui bahwa cairan amnion berfungsi sebagai kantong pelindung di sekitar janin yang memberikan ruang bagi janin untuk bergerak, tumbuh meratakan tekanan uterus pada partus, dan mencegah trauma mekanik dan trauma termal. Cairan amnion juga berperan dalam sistem imun bawaan karena memiliki peptid antimikrobial terhadap beberapa jenis bakteri dan fungi patogen tertentu. Cairan amnion adalah 98% air dan elektrolit, protein , peptide, hormon, karbohidrat, dan lipid. Pada beberapa penelitian, komponen-komponen cairan amnion ditemukan memiliki fungsi sebagai biomarker potensial bagi abnormalitas-abnormalitas dalam kehamilan. Beberapa tahun belakangan, sejumlah protein dan peptide pada cairan amnion diketahui sebagai faktor pertumbuhan atau sitokin, dimana kadarnya akan berubah-ubah sesuai dengan usia kehamilan. Cairan amnion juga diduga memiliki potensi dalam pengembangan medikasi stem cell . Likuor amnii makin banyak menarik perhatian untuk pembuatan diagnosis mengenai kelainan atau keadaan janin, misalnya jenis kelamin janin, golongan darah ABO, janin dalam Rhesus isoimunisasi, apakah janin cukup bulan, adanya macam-macam kelainan genetic, dan lain-lain. Obstetric modern menginginkan deteksi kelainan pada kehamilan sedini mungkin. Untuk membuat diagnosa umumnya dipakai sel-sel yang terdapat didalam likuor amnii dengan melakukan amniosentesis. Amniosentesis dewasa ini lebih sering dilaksanakan melalui perut (transabdominal), umumnya pada kehamilan ke 14-16. Bila amniosentesis dilakukan lebih dini, maka resiko terjadinya abortus akan lebih tinggi. Dengan ultrasonografiditentukan sebelumnya letak plasenta, untuk menghindarkan plasenta ditembus. Fungsi melalui plasenta dapat menimbulkan perdarahan dan pencemaran likuor amnii oleh darah. Bila ini terjadi, maka likuor amnii itu tidak dapat dipakai untuk

mengadakan analisis kimiawi dan sitogenetika. Amniosentesis ini bukan tidak berbahaya, ia dapat menimbulkan trauma pada janin, plasenta, percampuran darah antara janin dan ibu dengan kemungkinan sensitisasi dan abortus, meskipun komplikasi ini jarang terjadi. Maka dari itu, amniosentesis hendaknya hanya dikerjakan bila ada indikasi yang tepat. Likuor amnii sendiri tanpa sel-sel merupakan suatu bahan untuk penyelidikan lebih lanjut, misalnya dalam pemeriksaan adrenogenital syndrome, tay-sacks disease, methyl malonic academia dan sebagainya. Disamping banyaknya lipid dan polipeptid di dalamnya, ditemukan pula enzim-enzim yang terdapat di cellular prganelles. Mengingat banyaknya hal-hal tersebut diatas yang dapat diselidiki di dalam likuor amnii secara biokimiawi, maka jelas bahwa hanya pusat penyelidikan tertentu saja yang dapat mengerjakan hal tersebut.

2.4 Volume Cairan Amnion

Volume cairan amnion pada setiap minggu usia kehamilan bervariasi, secara umum volume bertambah 10 ml per minggu pada minggu ke-8 usia kehamilan dan meningkat menjadi 60 ml per minggu pada usia kehamilan 21 minggu, yang kemudian akan menurun secara bertahap sampai volume yang tetap setelah usia kehamilan 33 minggu. Normal volume cairan amnion bertambah dari 50 ml pada saat usia kehamilan 12 minggu sampai 400 ml pada pertengahan gestasi dan 1000 1500 ml pada saat aterm. Pada kehamilan postterm jumlah cairan amnion hanya 100 sampai 200 ml atau kurang. Brace dan Wolf menganalisa semua pengukuran yang dipublikasikan pada 12 penelitian dengan 705 pengukuran cairan amnion secara individual. Variasi terbesar terdapat pada usia kehamilan 32-33 minggu. Pada saat ini, batas normalnya adalah 400-2100 ml.

2.5 Pengukuran Cairan Amnion

Terdapat 3 cara yang sering dipakai untuk mengetahui jumlah cairan amnion, dengan teknik single pocket ,dengan memakai Indeks Cairan Amnion (ICA), dan secara subjektif pemeriksa.

Pemeriksaan dengan metode single pocket pertama kali diperkenalkan oleh Manning dan Platt pada tahun 1981 sebagai bagian dari pemeriksaan biofisik, dimana 2cm dianggap sebagai batas minimal dan 8 cm dianggap sebagai polihidramnion. Metode single pocket telah dibandingkan dengan AFI menggunakan amniosintesis sebagai gold standar. Tiga penelitian telah menunjukkan bahwa metode pengukuran cairan ketuban dengan teknik Indeks Cairan Amnion (ICA) memiliki korelasi yang lemah dengan volume amnion sebenarnya (R2 dari 0.55, 0.30 dan 0.24) dan dua dari tiga penelitian ini menunjukkan bahwa teknik single pocket memiliki kemampuan yang lebih baik. Kelebihan cairan amnion seperti polihidramnion, tidak mempengaruhi fetus secara langsung, namun dapat mengakibatkan kelahiran prematur. Secara garis besar, kekurangan cairan amnion dapat berefek negatif terhadap perkembangan paru-paru dan tungkai janin, dimana keduanya memerlukan cairan amnion untuk berkembang.

2.6 Distribusi Cairan Amnion

1. Urin Janin Sumber utama cairan amnion adalah urin janin. Ginjal janin mulai memproduksi urin sebelum akhir trimester pertama, dan terus berproduksi sampai kehamilan aterm. Wladimirof dan Campbell mengukur volume produksi urin janin secara 3 dimensi setiap 15 menit sekali, dan melaporkan bahwa produksi urin janin adalah sekitar 230 ml / hari sampai usia kehamilan 36 minggu, yang akan meningkat sampai 655 ml/hari pada kehamilan aterm. Rabinowitz dan kawan-kawan, dengan menggunakan teknik yang sama dengan yang dilakukan Wladimirof dan Campbell, namun dengan cara setiap 2 sampai 5 menit, dan menemukan volume produksi urin janin sebesar 1224 ml/hari. Pada tabel menunjukkan ratarata volume produksi urin per hari yang didapatkan dari beberapa penelitian. Jadi, produksi urin janin rata-rata adalah sekitar 1000-1200 ml/ hari pada kehamilan aterm.

2. Cairan Paru Cairan paru janin memiliki peran yang penting dalam pembentukan cairan amnion. Pada penelitian, didapatkan bahwa paru-paru janin memproduksi cairan sampai sekitar 400 ml/hari, dimana 50% dari produksi tersebut ditelan kembali dan 50% lagi dikeluarkan

melalui mulut. Meskipun pengukuran secara langsung manusia tidak pernah dilakukan, namun data ini memiliki nilai yang representratif bagi manusia. Pada kehamilan normal, janin bernafas dengan gerakan inspirasi dan ekspirasi, atau gerakan masuk dan keluar melalui trakea, paru-paru dan mulut. Jadi jelas bahwa paru-paru janin juga berperan dalam pembentukan cairan amnion.

3. Gerakan menelan Pada manusia, janin menelan pada awal usia kehamilan. proses menelan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya usia kehamilan. Banyak teknik berbeda yang dicoba untuk mengukur rata-rata volume cairan amnion yang ditelan dengan menggunakan hewan, namun pada manusia, pengukuran yang tepat sangat sulit untuk dilakukan. Pritchard meneliti proses menelan pada janin dengan menginjeksi kromium aktif pada kompartemen amniotik, dan menemukan rata-rata menelan janin adalah 72 sampai 262 ml/kg/hari. Abramovich menginjeksi emas koloidal pada kompartemen amniotik dan menemukan bahwa volume menelan janin meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Penelitian seperti ini tidak dapat lagi dilakukan pada masa sekarang ini karena faktor etik, namun dari penelitian di atas jelas bahwa kemampuan janin menelan tidak menghilangkan seluruh volume cairan amnion dari produksi urin dan paru-paru janin, karena itu, harus ada mekanisme serupa dalam mengurangi volume cairan amnion.

2.7 Kandungan Cairan Amnion Pada awal kehamilan, cairan amnion adalah suatu ultrafiltrat plasma ibu. Pada awal trimester kedua, cairan ini terdiri dari cairan ekstrasel yang berdifusi melalui kulit janin sehingga mencerminkan komposisi plasma janin. Namun setelah 20 minggu, kornifikasi kulit janin menghambat difusi ini dan cairan amnion terutama terdiri dari urin janin. Urin janin mengandung lebih banyak urea, kreatinin, dan asam urat dibandingkan plasma. Selain itu juga mengandung sel janin yang mengalami deskuamasi, verniks, lanugo dan berbagai sekresi. Karena zat-zat ini bersifat hipotonik, maka seiring bertambahnya usia gestasi, osmolalitas cairan amnion berkurang. Cairan paru memberi kontribusi kecil terhadap volume amnion secara keseluruhan dan cairan yang tersaring melalui plasenta berperan

membentuk sisanya. 98% cairan amnion adalah air dan sisanya adalah elektrolit, protein, peptid, karbohidrat, lipid, dan hormon. Terdapat sekitar 38 komponen biokimia dalam cairan amnion, di antaranya adalah protein total, albumin, globulin, alkalin aminotransferase, aspartat aminotransferase, alkalin fosfatase, -transpeptidase, kolinesterase, kreatinin kinase, isoenzim keratin kinase, dehidrogenase laktat, dehidrogenase hidroksibutirat, amilase, glukosa, kolesterol, trigliserida, High Density Lipoprotein (HDL), low-density lipoprotein (LDL), very-low-density lipoprotein (VLDL), apoprotein A1 dan B, lipoprotein, bilirubin total, bilirubin direk, bilirubin indirek, sodium, potassium, klorid, kalsium, fosfat, magnesium, bikarbonat, urea, kreatinin, anion gap , urea, dan osmolalitas. Faktor pertumbuhan epidermis (epidermal growth factor, EGF) dan factor pertumbuhan mirip EGF, misalnya transforming growth factor-, terdapat di cairan amnion. Ingesti cairan amnion ke dalam paru dan saluran cerna mungkin meningkatkan pertumbuhan dan diferensiasi jaringan-jaringan ini melalui gerakan inspirasi dan menelan cairan amnion.1-7 Beberapa penanda (tumor marker) juga terdapat di cairan amnion termasuk fetoprotein (AFP), antigen karsinoembrionik (CEA), feritin, antigen kanker 125 (CA-125), dan 199 (CA-199).

1. Alfa Feto Protein (AFP) Merupakan suatu glikoprotein yang disintesa yolksac janin pada awal kehamilan Konsentrasinya dalam cairan amnion meningkat sampai kehamilan 13 minggu dan kemudian akan berkurang. Jika kadar AFP ini meningkat dan diiringi dengan peningkatan kadar asetil kolin esterase menunjukan adanya kelainan jaringan syaraf seperti neural tube defect atau defek janin lainnya. Jika peningkatan kadar AFP tidak diiringi dengan peningkatan kadar asetilkolinesterase menunjukan adanya kemungkinan etiologi lain atau adanya kontaminasi dari darah janin.

2. Lesitin Sfingomielin Lesitin ( dipalmitoyl phosphatidycholine) merupakan suatu unsur yang penting dalam formasi dan stabilisasi dari lapisan surfaktan yang mempertahankan alveolar dari kolaps dan respiratori distress, sebelum minggu ke 34 kadar lesitin dan sfingomielin dalam cairan amnion sama konsentrasinya. Setelah minggu ke 34 konsentrasi lesitin terhadap sfingomielin relatif meningkat . Jika konsentrasi lesitin dalam cairan amnion lebih dari dua kali kadar sfingomielin ( L/S Ratio ), menunjukan resiko terjadinya gawat nafas pada janin sangat rendah. Tetapi jika perbandingan kadar lesitin sfingomielin kecil dari dua resiko terjadinya gawat nafas pada janin meningkat. Karena lesitin dan sfingomielin juga ditemukan pada darah dan mekonium, kontaminasi oleh kedua substansi tersebut dapat membiaskan hasil. Selama kehamilan sejumlah agen bioaktif bertumpuk di cairan amnion, kompartemen cairan amnion merupakan suatu tempat penyimpanan yang luar biasa yang khususnya bermanfaat dalam kehamilan dan persalinan. Banyaknya agen bioaktif yang terakumulasi dalam cairan amnion selama kehamilan merupakan suatu hal yang tipikal dari inflamasi jaringan. Suatu hal yang unik dari agen agen bioaktif ini adalah bersifat uterotonik seperti PGE2 , PGF2 , PAF dan endothelin-1, produkproduk ini dapat dilihat pada vagina dan cairan amnion setelah proses persalinan dimulai. Agen-agen inflamasi ini penting peranannya dalam proses dilatasi servik.

3. Sitokin Makrofag terdapat dalam cairan amnion dalam jumlah yang kecil sebelum proses persalinan, sebenarnya leukosit tidak dapat melakukan penetrasi normal melalui membran janin baik secara in vivo atau in vitro, tetapi dengan adanya inflamasi dari desidua pada partus preterm, leukosit ibu akan diambil menuju cairan amnion, fenomena juga pada partus yang aterm, aktivasi leukosit diakselerasi oleh inflamasi dan memungkinkan melewati membran janin.

4. Interleukin -1 Interleukin -1 merupakan sitokin primer, yang diproduksi secara cepat sebagai respon dari infeksi dan perubahan imunologi dan Interleukin -1 akan merangsang sitokin lain dan mediator inflamasi lainnya. Interleukin -1 secara normal tidak terdeteksi sebelum proses persalinan, Interleukin 1 baru akan muncul pada cairan amnion pada persalinan yang preterm atau sebagai reaksi dari infeksi pada cairan amnion. Pada kehamilan aterm, seperti prostaglandin, Interleukin -1 diproduksi pada desidua setelah induksi persalinan atau dilatasi servik, yang kemudian akan didistribusikan pada cairan amnion dan vagina. Sitokin lainnya yang terdapat dalam cairan amnion adalah Interleukin -6 atau Interleukin 8.

5. Prostaglandin Prostaglandin terutama PGE2 juga PGF2 di dapatkan pada cairan amnion pada semua tahap persalinan . Sebelum proses persalinan dimulai prostanoid dalam cairan amnion dihasilkan dari ekskresi urine janin dan mungkin juga oleh kulit , paru-paru dan tali pusat. Seiring dengan pertumbuhan janin , kadar prostaglandin dalam cairan amnion meningkat secara bertahap. Walaupun demikian tidak ada pertambahan kadar prostaglandin yang dapat dihubungkan atau diinterprestasikan sebagai pertanda pre partus. Faktanya jumlah total kadar prostaglandin dalam cairan amnion pada saat kehamilan cukup bulan sebelum persalinan dimulai sangat kecil (sekitar 1g) , karena waktu paruh prostaglandin dalam cairan amnion sangat lama yaitu 6 12 jam jumlah dari prostaglandin yang memasuki cairan amnion sangat kecil. Hubungan antara peningkatan kadar prostaglandin dalam cairan amnion dan inisiasi dari persalinan menjadi suatu tanda tanya selama lebih 30 tahun terakhir.

2.8 Proses Pecahnya Air Ketuban Sebagaimana kita ketahui, janin dilindungi oleh selaput ketuban yang berisi cairan amnion. Selama fase aktif, selaput itu akan pecah akibat adanya kontraksi. Akibatnya cairan amnion akan keluar, mengalir atau memancar. Tidak mungkin memperkirakan kapan selaput ketuban pecah. Selaput akan pecah ketika fase aktif saat kontraksi begitu kuat; sekitar 10% ketuban pecah sebelum fase aktif. Sangat jarang terjadi bayi lahir dalam keadaan selaput ketuban yang masih utuh. Kadangkala, saat proses persalinan berlangsung dokter melakukan pemecahan selaput dengan sengaja untuk mengetahui kesejahteraan janin dengan melihat warna air ketuban atau merangsang kontraksi yang dirasa kurang. Prosedur ini tidak sakit. Dokter atau bidan akan menggunakan alat panjang dengan ujung yang runcing. Selaput dipecahkan melalui liang vagina. Keluar air dari kemaluan kemungkinan menandakan selaput ketuban telah pecah. Cairan ini nengalir melalui vagina dan tidak bisa ditahan. Perhatikan dan bedakan dengan air kencing (urine). Untuk membedakannya dapat diketahui dari bentuk dan warnanya. Biasanya urine berwarna kekuning-kuningan dan bening, sedangkan air ketuban agak keruh dan bercampur dengan lanugo, (rambut halus janin) dan mengandung vernik kaseosa (lemak pada kulit janin). Air ketuban juga dibedakan dengan urine dari baunya, urine berbau pesing, sedangkan ketuban tidak pesing. Ketuban pecah bisa terjadi pada fase persalinan telah dimulai (telah ada kontraksi yang teratur dan pembukaan mulut rahim), namun bisa juga terjadi sebelum fase persalinan dimulai, yang disebut dengan ketuban pecah dini. Setelah ketuban pecah, maka terjadi hubungan antara janin dan dunia luar sehingga ada resiko terjadi infeksi. Apabila kehamilan telah cukup bulan maka persalinan harus segera dimulai, namun apabila kehamilan belum cukup bulan maka dokter akan memberikan anti biotik untuk mencegah infeksi dan menyuntikan obat untuk merangsang pematang paru janin. Tindakan persalinan akan

dipelihara dahulu (konservatip) atau langsung dilakukan induksi persalinan akan disesuaikan dengan usia kehamilan, keadaan ibu dan janin. Ketuban pecah merupakan keadaan darurat ketika anda harus segera datang ke dokter, karena penundaan akan mengakibatkan terjadinya infeksi, air ketuban habis, atau keluarnya tali pusat (prolaps tali pusat) yang kesemuanya akan mengakibatkan meningkatnya angka kematian dan kesakitan ibu dan bayi.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Cairan amnion diproduksi oleh janin maupun ibu, dan keduanya memiliki peran tersendiri pada setiap usia kehamilan. Cairan amnion merupakan komponen penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin selama kehamilan. Telah diketahui bahwa cairan amnion berfungsi sebagai kantong pelindung di sekitar janin yang memberikan ruang bagi janin untuk bergerak, tumbuh meratakan tekanan uterus pada partus, dan mencegah trauma mekanik dan trauma termal. Volume cairan amnion pada setiap minggu usia kehamilan bervariasi, secara umum volume bertambah 10 ml per minggu pada minggu ke 8 usia kehamilan dan meningkat menjadi 60 ml per minggu pada usia kehamilan 21 minggu, yang kemudian akan menurun secara bertahap sampai volume yang tetap setelah usia kehamilan 33 minggu. Normal volume cairan amnion bertambah dari 50 ml pada saat usia kehamilan 12 minggu sampai 400 ml pada pertengahan gestasi dan 1000 1500 ml pada saat aterm. Terdapat 3 cara yang sering dipakai untuk mengetahui jumlah cairan amnion, dengan tehnik single pocket , dengan memakai Indeks Cairan Amnion (ICA), dan secara subjektif pemeriksa. Sumber utama cairan amnion adalah urin janin. Ginjal janin mulai memproduksi urin sebelum akhir trimester pertama, dan terus berproduksi sampai kehamilan aterm. Cairan paru janin memiliki peran yang penting dalam pembentukan cairan amnion.

DAFTAR PUSTAKA

Ralph, C Benson, dll. 2009. Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Penerbit EGC Wiknjosastro, Hanifa, dll. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Penerbit Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo Fachrudin, Emir. 2009. Fisiologi dan Patologi Cairan Amnion. http://www.emirfakhrudin.com/2009/11/fisiologi-dan-patologi-cairan-amnion_11.html. 2/28/2013

http://bidanku.com/index.php?/mendeteksi-pecah-ketuban-sebelum-persalinan

Beri Nilai