Anda di halaman 1dari 6

Salah satu seni keagamaan (wali), yaitu Tari Baris adalah merupakan salah satu bentuk tari yang

mencerminkan nilai-nilai spiritual dan watak kepahlawanan, yang sampai saat ini masih tetap digemari dan dilestarikan oleh masyarakat Bali pada umumnya. Tari Baris adalah merupakan salah satu seni budaya yang masih hidup di Bali, dan di dalam

keterpaduan unsur-unsur seni itu, maka unsur seni tari yang paling dominan. Karena seni tari itu tdak lepas dari kehidupan masyarakat Hindu di Bali yang selalu mempunyai keterkaitan dengan pelaksanaan upacara-upacara keagamaan. Bentuk pementasan seni Tari Baris Sakral sebagai salah satu bentuk seni tradisional yang berakar kuat pada kehidupan masyarakat dan hidup secara mentradisi atau turun

temurun, dimana keberadaan Tari Baris adalah merupakan tarian yang langka, dan berfungsi sebagai tari penyelenggara upacara dewa yadnya. Fungsi pementasan seni Baris ini adalah sebagai sarana pelengkap upacara agama Hindu khususnya saat piodalan di kahyangan tiga setempat. Kemudian fungsi sebagai ayah-ayahan yang muncul dari lubuk hati masyarakatnya. Hal ini sebagai bentuk tanggungjawab kepada Ida Sanghyang Widhi. Di samping itu juga memiliki fungsi sosial dalam hubungannya kekerabatan antarkrama adat di lingkungan Penglipuran (perekat sosial). Selain itu, yang terpenting adalah fungsi estetika, yakni sebagai hiburan rohani dan spiritual. Pada umumnya tari baris tersebut kebanyakan digunakan pada saat upacara keagamaan seperti upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya,Manusa Yadnya, Rsi Yadnya. Berkaitan dengan aspek makna Pementasan seni ini memiliki makna: makna teologis dalam arti berkaitan dengan sistem pemujaan dan hakikat pemujaan baik pada leluhur maupun kepada Ida Sanghyang widhi. Makna kesuburan artinya pementasan itu memiliki dimensi untuk memohon kesuburan, kesejahteraan, kedamaian kepada Tuhan. Ini sebagai ekspresi ritualistik pada masyarakat agraris. Makna lingkungan sosial artinya secara sosiologis tari ini merupakan refleksi pemeliharaan hubungan manusia sesame manusia, lingkungan, dan Tuhan. Akhirnya pendidikan seni keagamaan ini akan memiliki makna antara kebertahanan dan perubahan seiring dengan perubahan kebudayaan manusia. Pengertian Tari Baris Jangkang Sebagai tarian upacara, sesuai dengan namanya Baris yang berasal dari kata bebaris yang dapat diartikan pasukan maka tarian ini menggambarkan ketangkasan pasukan prajurit. Tari ini merupakan tarian kelompok yang dibawakan oleh pria, umumnya ditarikan oleh 8 sampai lebih dari 40 penari dengan gerakan yang lincah cukup kokoh, lugas dan dinamis, dengan diiringi Gong Kebyar dan Gong Gede. Setiap jenis, kelompok penarinya membawa senjata, perlengkapan upacara dan kostum dengan warna yang berbeda, yang kemudian menjadi nama

dari jenis- jenis tari Baris yang ada. Tari-tarian Baris yang masih ada di Bali antara lain seperti Tabel 2.1: Tabel 2.1. Jenis Tari Baris yang Ada di Bali Baris Katekok Jago Baris Dadap Baris Pendet Baris Tamiang Baris Bedil Baris Cendekan Baris Jangkang Baris Demang Baris Mamedi Baris Gowak Baris Jojor Baris Tengklong Baris Tumbak Baris Presi Baris Bajra Baris Kupu-Kupu Baris Cina Baris Panah Baris Gayung Baris Cerekuak Baris Ketujeng Baris Omang Baris Kuning Baris Kelemet

Pada umumnya tari baris tersebut kebanyakan digunakan pada saat upacara keagamaan seperti upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya,Manusa Yadnya, Rsi Yadnya.

Gambar 2.1 Tari Baris Jangkang Tari Baris Jangkang adalah sebuah tarian yang yang dipentaskan oleh sekelompok pria dewasa yang ada di Desa Pelilit, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Tari Baris Jangkang sangat jauh berbeda, dengan tarian-tarian sakral lainnya. Dimana tarian ini memiliki nilai kesakralan dan unsur magis yang sangat tinggi. Secara keseluruhan, tarian ini melambangkan tentara kuno dari daerah-daerah terpencil di Bali. Para penari bergerak seperti tentara dalam koreografi yang militer di alam. Pada satu titik, mereka memanfaatkan tombak untuk membentuk sebuah garis pertahanan; di lain, para penari bertindak bersama-sama sebagai sebuah kekuatan ofensif. Ada juga saat-saat mereka membentuk dua kelompok dan mulai menyerang satu sama lain. Gerakan mereka dan gerak tubuh yang sederhana, mendasar

dan langsung. Tarian ini di pentaskan ketika ada wabah penyakit di desa, masyarakat percaya bahwa hal itu dapat menangkis setiap wabah atau kekuatan-kekuatan jahat di desa. Lakon dari baris Jangkang yaitu Goak maling taluh, Buyung masugi. Sejarah Tari Jangkang Bali rupanya sejak dulu dikawal oleh para prajurit yang tangguh dan gagah berani. Bali Utara dijaga oleh pasukan yang siap siaga menyambut serangan musuh dengan presi atau tamiang. Bali Selatan dipertahankan oleh para prajurit bersenjata tombak. Bali Timur dibela matimatian oleh pasukan rakyat dengan senjata gada. Bali Barat dikawal oleh para prajurit membawa pecut. Bali Tengah dijaga oleh pasukan tangkas membawa sanjata panah. Bahkan Pulau Nusa Penida juga ditakuti musuh karena memiliki pasukan bersenjata tombak panjang. Para prajurit patriotik tanah Bali itu masih eksis hingga kini. Para prajurit Bali masa lalu itu kini bermetamorfose menjadi puspa warna tari baris yang dipersembahkan dalam ritual keagamaan. Sebuah upacara ngaben besar di Singaraja lazim disertai dengan penampilan tari Baris Presi. Ketika piodalan penting di pura-pura besar di Denpasar selalu diikuti oleh penyajian tari Baris Gede. Ritual bayar kaul di kalangan masyarakat Nusa Penida, Klungkung, akan terasa mantap bila disertai dengan suguhan tari Baris Jangkang. Di bawah ini akan diulas sedikit mengenai sejarah Tari Baris Jangkang hasil wawancara dengan narasumber I Made Monjong S.Pd ketua baris jangkang di Pelilit. Pada jaman kerajaan Klungkung ada seseorang yang berasal dari Dusun Pelilit Nusa Penida yang di anggap sakti bernama (I Jero Kulit) kesaktiannya terbukti membuat tirta dengan memanah batu. Sebagai pasukan kerajaan Klungkung tugasnya adalah memberi makan babi. Tempat makanan babi itu berupa besi yang berbentuk gong. Suatu hari Jero Kulit mencoba memukul tempat makanan babi (gong) ternyata mengeluarkan suara dasyat. Saat itu pula Jero Kulit ingin memiliki gong tersebut, tapi dia minta izin dulu sama raja. Dan raja pun tidak percaya. Pada suatu hari anak raja sakit dan Jero Kulit membunyikan gong tersebut dan saat itu pula anak raja bangun dan kembali sehat. Jero Kulit meminta gong itu dibawa ke Pelilit, raja pun mengijinkan asal si Jero Kulit membuat taritarian. Si Jero Kulit pun pulang. Pada suatu hari gong dibawa ke kebun (jurang rumput) di wilayah Pelilit. Pada saat itu kelian banjar mengetok kentongan karena di datangi musuh dari Desa Tanglad dan Desa Watas di suruh datang ke bale banjar dan mempersiapkan senjata. Tempa perangnya di perbatasan jurang kumut, perang pun segera di mulai Jero Kulit membunyikan gong tadi karena dasyatnya musuh melihat tanaman ilalang bergerak seperti senjata dan musuh berlari dengan jengkang-jengkang maka Jero Kulit membentuk tari jangkang. Setelah berbentuk tari berubah menjadi kempul.

Fungsi Tari Baris Jangkang Sebelum dideskripsikan fungsi Tari Baris Jangkang, dibawah ini akan dideskripsikan fungsi umum tari Baris. Fungsi umum tari Baris adalah sebagai berikut: 1) tari baris yang berfungsi sebagai upacara Dewa Yadnya ini banyak jenisnya. Biasanya pada upacara ini, tari baris merupakan simbul widyadara, apsara sebagai pengawal Ida

Batara sesuunan turun ke dunia pada saat upacara piodalan (odalan) di pura bersangkutan dan befungsi sebagai pemendak (penyambut) kedatangan beliau. Pada upacara ini tari baris biasanya disertai tari rejang yang ditarikan oleh beberapa dara manis sebagai simbul widyadari, apsari yang memberikan keindahan suasana turunnya Ida Betara Sesuunan. 2) Tari baris yang berfungsi sebagai prasarana upacara Pitra Yadnya adalah sebagai simbul para widyadara menjemput roh (atma) orang yang meninggal untuk diajak menuju tempat yang abadi. 3) Tari baris multifungsi. Di Nusa Penida tari baris jangkang digunakan untuk bermacam macam upacara keagamaan baik itu upacara dewa yadnya maupun upacara pitra yadnya bahkan pada upacara bhuta yadnya pun penduduk di sana menggunakan tari baris tersebut. Di dalam pecaruan di lautan pun mereka menggunakan tari baris jangkang seperti yang pernah ditayangkan TVRI Studio Denpasar beberapa waktu yang lalu. Hal ini dapat kita maklumi bahwa di dataran Nusa Penida hanya terdapat satu jenis tari baris selai tari baris tunggal dan baris melampahan yang bersifat sebagai hiburan. 4) Tari baris berfungsi sebagai penolak bala, sampai saat ini hanya satu jenis tari baris yang dijumpai sebagai sarana penolak bala dan wabah penyakit, yaitu tari baris cina. Oleh karena peranannya sebagai penolak bala dan wabah penyakit, maka baris cina sering disebut ratu tuan sama seperti sebutan barong dan rangda. 5) Tari baris yang berfungsi sebagai hiburan biasanya tanpa melalui proses penyakralan. Kemungkinan hanya memohon taksu (charisma) agar tari baris tersebut laris atau banyak penanggapnya. Tari baris ini biasanya sebagai pertunjukan untuk menghibur masyarakat antara lain : baris tunggal, baris melampahan, baris masal, baris bandana manggala yudha, dan baris buduh. Fungsi Tari Baris Jangkang yang ada di Nusa Penida adalah sebagai berikut; 1) 2) 3) Menyembuhkan orang sakit Mengabulkan permintaan agar mempunyai keturunan atau bayar kaul. Melindungi Desa.

2.4 Kostum Tari Jangkang Kostum yang digunakan oleh penari Tari Baris Jangkang sangat sederhana yaitu terdiri dari tongkat seperti tombak dengan hiasan benang tridatu, kamben cepuk, kain, baju dan celana panjang putih, selendang kuning, putih, dan udeng/destar batik. Tombak memiliki makna kesiapan dalam melawan kejahatan dengan hiasan tridatu yang berarti kekuatan Tri Murti (Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa).Tombak ini seperti pada cerita sejarahnya bahwa ilalang berubah menjadi senjata tombak. Kamben cepuk merupakan kain khas tenunan yang berasal dari Nusa Penida. Kamben ini dipercaya sebagai simbul penolak bala, karena dalam motif dan warna kain yang digunakan melambangkan symbol tri murti. Selendang kuning yang digunakan melambangkan symbol Dewa Mahadewa penguasa arah mata angin barat, baju dan celana panjang putih perlambang kesucian dan juga penguasa arah mata angin timur. Udeng/destar batik melambangkan kesederhanaan dan perlambang aneka warna sebagai symbol Dewa Siwa.

Gambar 2.2 Kostum Penari Tari Baris Jangkang Iringan dan Instrumen Musik Tari Baris Jangkang Iringan musik yang digunakan untuk Tari Baris Jangkang ialah berupa balaganjur. Balaganjur adalah pengiring prosesi yang paling umum dikenal di Bali. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap prosesi membawa sesajen ke pura, atau melasti (mensucikan pusaka / pratima), atau upacara ngaben akan diiringi oleh barungan yang sangat dinamis dan bersemangat. Instrumen yang digunakan pada Tari Baris Jangkang di Desa Pelilit Nusa Penida yaitu kendang (lanang dan wadon), cengceng, tetawe, gong, kempul, bonang. Kendang berfungsi sebagai pemurba irama (mengatur irama gending). Tetawe berfungsi sebagai pemeganga tempo dan pada bagian tertentu memberi ilustrasi dan aksentuasi sesuai dengan pupuh kekendangan. Ceng-ceng berfungsi sebagai instrumen yang dianggap peramu atau pemersatu instrumen lainnya sekaligus juga memberi aksen berupa angsel bersama kendang. Cengceng dimainkan secara kakilitan atau cecandatan, dengan pola ritme yang bervariasi dari pukulan besik atau negteg pukulan telu dan nenem di mana masing-masing terdiri dari pukulan polos (sejalan dengan mat), sangsih (disela-sela mat), dan sanglot (di antaranya). Reyong menjadi satu-satunya kelompok instrumen pembawa melodi. Sebagaimana halnya cengceng, reyong juga dimainkan dalam Balaganjur terdiri dari Gilak yang dimainkan dalam tempo cepat atau sedang dan pelan.

Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan maka dapat disimpulkan hal-hal berikut. 1) Tari Baris Jangkang adalah sebuah tarian yang yang dipentaskan oleh sekelompok pria dewasa yang ada di Desa Pelilit, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung yang memiliki nilai kesakralan dan unsur magis yang sangat tinggi. Tarian ini melambangkan tentara kuno dari daerah-daerah terpencil di Bali. Para penari bergerak seperti tentara dalam koreografi yang militer di alam. Lakon dari baris Jangkang yaitu Goak maling taluh, Buyung masugi. 2) Nama Tari Baris Jangkang berasal dari larinya musuh (desa Watas dan Tanglad) dari Jero Kulit (desa Pelilit) dengan berlari jengkang-jengkang setelah melihat ilalang berubah

menjadi senjata seperti tombak yan kemudian dibentuk menjadi Tari Baris Jangkang karena melibatkan barisan pasukan. 3) Fungsi Tari Baris Jangkang yang ada di Nusa Penida sebagai sarana dalam upacara menyembuhkan orang sakit, mengabulkan permintaan agar mempunyai keturunan atau bayar kaul, dan melindungi desa. 4) Kostum yang digunakan oleh penari Tari Baris Jangkang sangat sederhana yaitu terdiri dari tongkat seperti tombak dengan hiasan benang tridatu, kamben cepuk, kain, baju dan celana panjang putih, selendang kuning, putih, dan udeng/destar batik. 5) Iringan musik yang digunakan untuk Tari Baris Jangkang di Desa Pelilit Nusa Penida ialah berupa balaganjur, dengan instrumen yaitu kendang (lanang dan wadon), cengceng, tetawe, gong, kempul, bonang. Dalam pembahasan tentang tari Jangkang diharapkan agar kita mampu mempelajari jenisjenis tarian yang ada di Nusantara, tidak hanya di dalam wilayah atau daerah setempat serta mampu ikut dalam pelestariannya.