Anda di halaman 1dari 15

Kronologi Kasus Pembunuhan Holly Angela

Jakarta - Kasus pembunuhan Holly Angela atau Niken Hayu Winanti (37) perlahan menjadi terang benderang dengan fakta-fakta yang mengejutkan. Pembunuhan itu telah direncanakan dan diduga melibatkan orang penting. Berikut kronologi pembunuhan Holly seperti yang dikumpulkan dari penyidikan polisi. Agustus 2013 Pembunuhan itu sudah direncanakan 2 bulan sebelum akhirnya Holly dieksekusi. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto mengatakan, untuk menyusun strategi pembunuhan ini, para pelaku menyewa satu unit di lantai 6BE tower Ebony atau beberapa lantai di bawah Holly yang tinggal di lantai 9 tepatnya di unit 9AT. "Mereka menyewa kamar di lantai 6 sejak Agustus 2013 lalu," kata Rikwanto di Jakarta, Kamis (10/10/2013). Kamar tersebut disewa atas Elriski Yudhistira (34), pria yang ditemukan tewas di pelataran taman tower Ebony. Kamar tersebut disewa untuk 6 bulan ke depan hingga Januari 2014 dengan harga Rp 22 juta. Sepanjang bulan Agustus ini, pelaku pembunuhan melakukan perencanaan hingga pengintaian kepada korban. September 2013 Sepanjang September pelaku masih mengintai korban hingga akhir September 2013 diputuskan melakukan eksekusi. 30 September 2013 Sebelum pukul 21.30 WIB Pada Senin malam ini, pelaku yang belakangan diketahui 4 orang itu rupanya menyamar menjadi anak band, membawa hard case yang berisi 2 gitar dan masuk ke kamar Holly, unit 09 AT Tower Ebony. Hard case ukuran besar berwarna hitam itu akan digunakan untuk menyimpan mayat Holly. Mereka juga telah menyiapkan kopi bubuk untuk menyamarkan bau anyir.

Rupanya, mereka sudah membawa kunci duplikat unit apartemen Holly yang masih dicari tahu dari mana mendapatkan aslinya. Mereka saat itu menunggu kedatangan Holly. Pukul 21.30 WIB Holly baru saja pulang dari rumah ibu angkatnya di Cibubur. Sambil berkomunikasi lewat telepon dengan ibu angkatnya itu, Holly berjalan menapaki lorong menuju ke unitnya. Holly tidak tahu jika di dalam unitnya itu sudah ada beberapa 'tamu tak diundang' yang sudah menantinya. Holly lalu dianiaya oleh 4 pria begitu masuk ke unitnya. Keempat pelaku menarik tangan Holly, membekap mulutnya lalu memukuli menggunakan besi. Holly yang saat memasuki kamar sedang berkomunikasi dengan ibu angkatnya itu, berteriak minta tolong kepada ibu angkatnya karena diserang Elriski dan temannya. Teriakan Holly itu didengar melalui telepon genggam oleh ibu angkatnya dan kemudian Holly tidak bisa dihubungi lagi. Ibu angkat Holly yang cemas dengan teriakan Holly itu langsung menelepon ke pengelola apartemen dan adik angkat Holly untuk segera menolongnya.

Menjelang pukul 00.00 WIB Pelaku lalu kabur melalui loteng, turun ke apartemen unit unit 08AS, pelaku kemudian mencoba melarikan diri dari situ. Ia kemudian memecahkan kaca pintu balkon unit 08AS. Setelah berhasil memecahkan kaca pintu balkon, pelaku berdiam diri sesaat di unit itu. Pelaku lalu mencuci tangannya yang berlumuran darah Holly di wastafel yang terletak di dekat pintu balkon. Mereka lalu menyampirkan handuk untuk turun di unit 09AS. Adik angkat Holly membuka paksa pintu unit apartemen Holly. Dan menemukan Holly sudah dalam keadaan terikat dan kepala belakang mengeluarkan darah. Pukul 00.00 WIB Seorang pria terjatuh dari tower ini. Pria itu diketahui bernama Elriski Yudhistira, yang belakangan diketahui menjadi salah satu dari 4 pembunuh Holly. Elriski diduga terjatuh dari tower Ebony saat kabur melalui balkon.

Pukul 01.10 WIB Jasad Elriski dibawa ke RSCM sedangkan Holly meninggal dunia saat dibawa ke RS Tria Dipa. Jasad Holly lalu dibawa ke RSCM sebelum dimakamkan ke Semarang.

Sumber : http://news.detik.com/read/2013/10/11/150835/2384726/10/kronologi-pembunuhan-holly-angela.html

Cerita Lengkap dan Kronologis Pembunuhan Sadis Holy Angela di Kalibata City
Pembunuhan terhadap Holly Angela Ayu Winanti (37) di unit 09AT tower Ebony Apartemen Kalibata City, Jaksel, Senin 30 September lalu, direncanakan dengan matang oleh para pelaku. Para eksekutor yang berjumlah empat orang ini dipimpin oleh S. Dari empat orang itu dua di antaranya sudah tertangkap yakni S dan AL yang ditangkap di Karawang dan Depok. Sementara satu orang lainnya yang tidak disebutkan identitasnya, masih buron. Elriski yang tewas dari lantai 6 itu, dia juga eksekutornya. Polisi kini juga tengah mengincar sosok lain yang diduga terlibat dalam pembunuhan ini. Salah satu tersangka, S, mengaku pernah beberapa kali menjadi sopir seorang pria berinisial G yang diduga salah satu auditor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berangkat dari kesaksian S, polisi pun melayangkan surat panggilan pemeriksaan untuk G yang juga diduga sebagai suami siri Holly.

Gatot Supiartono resmi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Holly Angela Ayu (37) di Apartemen Kalibata City. Gatot dijerat dua pasal tentang pembunuhan dengan ancaman hukumat mati. Gatot dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana jo Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dan Pasal 55 KUHP tentang ikut serta. Auditor utama BPK itu kini ditahan di Mapolda Metro Jaya.

Motifnya pun terungkap. Holly diketahui kerap menuntut dan meminta sesuatu pada Gatot. Bahkan, Holly juga sering menuntut Gatot agar menceraikan istri sahnya.

Perencanaan Pembunuhan sadis itu sudah direncanakan beberapa bulan sebelumnya. Pada Agustus 2013, mereka menyewa satu unit di lantai 06BE tower Ebony Apartemen Kalibata City, untuk mengintai aktivitas Holly. Di kamar tersebut, para pelaku sudah mempersiapkan peti khusus untuk mengangkut jasar Holly. Peti berupa hardcase untuk peralatan musik itu berukuran 100x50x50 cm, warna hitam.

Para komplotan pembunuh Holly Angela menyamar sebagai musisi. Mereka sengaja menyewa kamar di lantai 6 apartemen itu untuk mengintai sang korban hingga hari eksekusi tiba. Dengan berpura-pura sebagai musisi, El Riski Yudhistiran (tewas), L, S dan R (DPO/buron), bisa leluasa memindahkan kotak gitar yang akan digunakan untuk menyimpan jenazah Holly. Peti berukuran 100x50x50 cm berisi jenazah itu rencananya bakal dibuang ke laut. Kotak itu untuk membuang jasad korban ke laut,

Kelompok penjahat itu menyiapkan dua buah gitar listrik. Gitar ini sedianya disiapkan sebagai kamuflase untuk menutupi mayat Holly di dalam hardcase itu nantinya disimpan di atas mayat Holly. Mereka juga menyiapkan kopi bubuk, tali tambang dan plastik.

Keempatnya juga telah menyiapkan bubuk kopi seberat 1.750 gram untuk ditaburkan ke jasad Holly agar bau busuk mayat tak tercium. Holly yang ditemukan dalam kondisi kritis di Kamar E 09 AT Tower Ebony, Kalibata City, sempat dibawa ke rumah sakit pada 30 September yang lalu. Namun sayang, nyawanya tidak tertolong.

Para pelaku masuk kamar Holy menggunakan kunci palsu yang telah dipersiapkan. Masih belum diketahui bagaimana kunci palsu tersebut dapat dibuat. Saat menunggu beberapa lama kemudian Holy masuk dan dilakukan penyekapan dan pembunuhan tersebut.

Holly dibunuh oleh dua eksekutor, Elriski Yudhistira dan Rusky. Wanita berusia 37 tahun itu dipukul menggunakan besi sepanjang 50 cm. Holly tewas di lokasi. Sementara Elriski yang berusaha kabur, terjatuh dari lantai 9 hingga tewas. Rusky bisa kabur dan saat ini masih buron.

Tapi saat dilakukan pembunuhan ternyata Holy sedang menelpon. Saat terjadi pergumulan HPNya terlepas tetapi madih aktif. Saudaranya yang melakukan komunikasi telepon tersebut curiga dan mendengar suara-suara yang janggal dan mencurigakan. Langsung saja dia menghubungi satpam apartemen, Dengan sigap satpam apartemen mendobrak pintu kamar Holly. Mendengar dobarakan pintu tersebut para pelaku terbirit-birit melarikan diri. Saat melarikan diri satu pelaku terjatuh pelaku lainnya berhasil keluar ke kamar bahwah apartemen

Holly. Seteleh berdiam diri menunggu suasana aman dalam beberapa jam akhirnya dia keluar dari persembunyiannya.

Barang Bukti Sehelai handuk disita polisi dari unit tetangga Holly Angela Ayu (37) di 09AS tower Ebony Apartemen Kalibata City, Kamis (10/10) sore tadi. Handuk tersebut digunakan salah seorang eksekutor, teman Elriski Yudhistira (34), yang ditemukan tewas di pelataran apartemen tersebut, untuk kabur. Handuk bermerek ellese itu berwarna hijau-putih-merah, berukuran panjang sekitar 90 cm dan lebar sekitar 30 cm. Handuk itu digunakan pemilik unit 09AS sebagai kain lap. Handuk itu dijemur di luar, di balkon unit 09 AS. Setelah mendengar saksi-saksi yang mencoba mendobrak pintu kamar Holly, Elriski dan temannya panik dan mencoba melarikan diri. Teman Elriski yang belum disebutkan identitasnya itu mencoba keluar lebih dahulu dengan cara merayap ke balkon unit 09AS yang berjarak sekitar setengah meter, dari balkon unit yang ditempati Holly. Setelah berhasil masuk ke balkon unit 09AS, pelaku ini diam dulu di situ, menunggu sampai situasi reda. Setelah beberapa menit kemudian, teman Elriski ini kemudian mencoba keluar dari unit 09AS itu. Dia melihat handuk tersebut yang tengah dijemur di unit tersebut, kemudian mengikatkan handuk itu ke besi pegangan yang berada di dinding balkon. Kemudian dia loncat pakai handuk itu ke kamar 08AS yang ada di bawah 09AS dan bersembunyi di situ. Pelaku itu berhasil lolos. Sementara Elriski yang mencoba menyusul temannya, beberapa saat setelah temannya masuk ke balkon unit 09AS, terjatuh.

Elriski Sang Eksekutor Peristiwa jatuhnya Elriski Yudhistira (34) dari apartemen Kalibata City, terjawab sudah. Pria asal Lampung Utara, yang sebelumnya mayatnya tidak diketahui identitasnya itu adalah salah satu dari komplotan para pelaku yang membunuh Holly Angela Ayu di unit 09AT tower Ebony Apartemen Kalibata City, 30 September lalu. Elriski adalah salah satu dari dua orang yang bertugas mengeksekusi Holly di kamarnya. Teman Elriski yang juga bertugas mengeksekusi

Holly saat itu, berhasil melarikan diri. Elriski, tidak berhasil melewati balkon tersebut, sehingga terpeleset dan terjatuh ke pelataran taman Apartemen Kalibata City.

Nyawanya pun tidak dapat terselamatkan setelah tubuhnya terbentur keras ke tembok-tembok taman dari ketinggian sekitar 18 meter apartemen tersebut. Elriski adalah eksekutor yang melakukan pembunuhan terhadap Holly. Elriski bersama temannya yang masih buron itu masuk ke kamar Holly dengan menggunakan kunci duplikat.

Nama Elriski belakangan muncul setelah keluarga melapor ke kepolisian dan mengakui bahwa pria yang jatuh dari apartemen, Mr X, adalah anggota keluarganya. Dari hasil pengenalan jenazah dan pencocokkan sidik jari Mr X dan sidik jari pada kartu identifikasi Polres Lampung Utara atas nama Elriski, adalah identik. Dengan hasil uji labfor itu, dipastikan, Mr X adalah Elriski. Kemudian, kepastian soal keterlibatan Elriski ini, didapat dari hasil olah TKP dan keterangan 2 tersangka yang sudah tertangkap.

Kemudian, dari keterangan tersangka S dan AL yang ditangkap di Karawang dan Depok beberapa hari lalu, menyebut bahwa Elriski terlibat dalam pembunuhan Holly itu. Namun, tekateki mengapa tidak ditemukan idenittas atau dompet yang berisi identitas pada jasad Elriski saat ditemukan tewas di pelataran apartemen, itu belum terjawab.

Kisah Asmara Holly dan Gatot sudah dekat sejak tahun 2008. Hal ini terbukti dari foto mesra keduanya yang dipasang di apartemen Holly. Tampak di dalam foto, Gatot mengenakan kaos berkerah warna putih dan Holly memakai kaos warna kuning. Keduanya terlihat mesra. Tangan kanan Holly merangkul bahu sang auditor BPK. Sebaliknya, Gatot melingkarkan tangan kirinya di pinggang sang kekasih. Di bagian bawah foto, ada tulisan Singapore 2008. Bila dilihat dari latar belakangnya, kawasan tersebut diperkirakan berada di Mount Faber, Singapura.

Gatot dan Holly menikah siri di Bandung, pada bulan April 2011. Mereka terdaftar di Pengadilan Agama. Sejumlah foto keduanya yang berpose bak pasangan pengantin. Ada juga gambar

mereka berada di pelaminan. Holly memakai ronce melati di sanggulnya dan Gatot mengenakan blangkon dan setelan pakaian adat jawa lengkap plus kalung roncean melati. Namun lewat pengacaranya, Gatot membantah foto yang dipajang kepolisian itu gambar pernikahan mereka. Meski berpenampilan layaknya pengantin, foto disebut hanya pose pura-pura. Peralatan yang dikenakan pun hanya meminjam.

Sekitar bulan September 2013, tetangga mendengar keributan di apartemen unit 09AT milik Holly. Wanita asal Semarang, Jateng, itu bertengkar dengan seorang pria. Menurut tetangga, pertengkaran sudah mulai ketika hari masih pagi. Keributan baru berhenti setelah seorang lelaki berteriak diam!. Dua hari kemudian, kegaduhan kembali terjadi. Kali ini, sekitar malam hari. Pertengkarannya lebih hebat. Bunyi piring pecah berulang kali terdengar. Juga ada suara perempuan berteriak, tapi tidak meminta tolong. Tombol darurat pun sempat ditekan. Para penghuni kemudian berteriak kita laporkan satpam saja.

Sumber

http://newindonesiaonline.wordpress.com/2013/10/12/cerita-lengkap-dan-kronolgis-

pembunuhan-sadis-holy-angelaa-di-kalibata-city.html

Psikologi Hukum Kasus Pembunuhan Holly Angela Menurut Pengamat dan Psikologi Forensik.
TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat kriminal dan psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menilai tak ada kejanggalan pada kasus pembunuhan Holly yang didahului enam bulan pengintaian. Ia menganggap enam bulan pengintaian lebih sebagai ketidaksiapan atau ketidakmampuan pembunuh Holly. "Enam bulan mengintai dulu itu cerminan kalau ekesekutor maupun mastermind-nya tak siap. Kalau mereka siap, tak butuh pengintaian lama," ujar Reza ketika dihubungi Tempo, Kamis, 17 Oktober 2013. Gatot diketahui menyewa pembunuh bayaran untuk mengeliminasi Holly. Tiga eksekutor ia sewa untuk membunuh Holly. Tiga eksekutor itu mengintai Holly selama enam bulan dengan menyewa unit kamar di apartemen yang sama dengan Holly. Padahal, Gatot yang menyewa mereka tahu betul gerak-gerik Holly karena ia adalah suami siri Holly. Sudah mengintai selama enam bulan, eksekutor masih juga gagal membunuh Holly dengan rapi. Selain lengah karena tak menyadari Holly tengah kontak dengan ibu asuhnya, mereka juga gagal memanfaatkan keunggulan jumlah mereka. Meski Holly berhasil dibunuh, aksi mereka terendus. Barang bukti berserakan di TKP. Dua eksekutor, Surya dan Abdul, berhasil ditangkap, sementara El Rizky jatuh ke lantai dasar. Reza pun menilai rencana pembunuhan Holly yang dilakukan eksekutor tak efektif dan efisien. Selain persiapannya tergolong ribet, sampai harus menyiapkan berbagai alat jerat dan kotak gitar segala, barang bukti pun bertebaran di TKP.

Walhasil, bukannya menghilangkan jejak dari jerat hukum, eksekutor dan otak pembunuhan malah gali kubur sendiri. "Coba, mereka butuh enam bulan untuk memantau gerak-gerik. Mereka butuh tiga orang untuk bunuh Holly yang hanya satu orang biasa, tanpa penjagaan, tinggal di apartemen biasa, dan masih gagal pula. Mereka tak terlatih," ujar Reza. Reza juga mengaku yakin Gatot tidak dijebak atau di-antasari-kan dalam kasus pembunuhan Holly. Ia berkata, kalau ada orang yang ingin membunuh Holly dan mengganggap dia berbahaya, maka pasti orang yang sangat dekat dengan Holly adalah otaknya--yang tak lain adalah Gatot Reza juga menambahkan, pembunuh bayaran kerap disewa untuk mengakhiri hubungan atau relasi gelap. Dengan adanya faktor pembunuh bayaran pada kasus Holly, jelas ada masalah antara Holly dengan Gatot yang memicu rentetan rencana pembunuhan yang berakhir berantakan. "Kecenderungan kita itu berpikir yang terlalu ribet untuk sebuah kasus pembunuhan. Sebenarnya kasus ini sederhana saja saya rasa, yakni karena ada faktor masalah pribadi," ujar Reza mengakhiri.
Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2013/10/17/064522409/Pengamat-Tak-Ada-Kejanggalan-

di-Kasus-Holly.html

Analisa Pembunuhan Holly Angela


Rabu, 2 Oktober 2013 21:26 WIB

Jakarta, Wartakotalive.com Polisi menduga pembunuh Holly Angela Hayu Winanti (37) adalah Mr X -- pria tanpa identitas yang tewas setelah melompat dari kamar apartemen yang dihuni Holly, Tower Ebony, Lantai 9, Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan. Diduga, Mr X menganiaya Holly sebelum menemui ajal. Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel, mengatakan jika pembunuhan itu memang kasus murder-suicide (kasus pembunuhan, dimana pelakunya kemudian memutuskan untuk bunuh diri), maka motif pelaku sangat kecil karena cemburu. "Sebab dalam statistik, motif murder-suicide adalah karena hubungan lelaki dan perempuan atau di antaranya kecemburuan, sangat rendah," kata Reza kepada Wartakotalive.com, Rabu (2/10/2013). Menurut Reza, dalam kasus murder-suicide, yang dominan, konteks atau motifnya justru lebih dari sebatas relasi lelaki dan perempuan. "Yaitu karena beban hidup si pembunuh yang bunuh diri atau dalam hal ini si Mr X, sangat berat. Bisa saja tersangkut masalah hukum, maupun masalah keuangan atau masalah berat lain," kata Reza. Reza menuturkan dalam kasus ini, jika Mr X adalah pelakunya, maka motif pembunuhan dikarenakan beban hidup atau masalahnya yang berat, kemudian ia menjadi marah. "Sehingga Mr X yang sedang menghadapi masalah berat, menjadi sangat agresif dan membabi buta. Lalu bunuh diri adalah cara menghindari bertambahnya masalah atau menghindari rasa penyesalan dan atau menghindari proses hukum. Ini mirip kondisi tipikal di balik KDRT. Dimana pasangan dan anak adalah sansak hidup paling empuk atas problem yang menumpuk," tuturnya. Reza berpendapat, antara Mr X dan Holly memiliki hubungan asmara. "Kalau bukan suami, tapi punya hubungan asmara. Berarti selingkuhan," kata Reza. Dengan ini, Reza ingin menjelaskan bahwa asmara dan sejenisnya bukan motif tersering di balik kasus-kasus murder-suicide. "Jadi murder-suicide lebih sering terjadi pada pelaku dimana

amarahnya terpicu sementara sebelummnya tersangkut masalah berat seperti kasus hukum, kehilangan pekerjaan dan masalah berat lainnya," tutur Reza. Yang pasti, kata Reza, akar masalahnya dalam murder-suicide bukan pada pasangan atau korban. "Akar masalahnya tidak berada pada si pasangan. Tapi pada kontek atau situasi yg meluas, yakni dengan adanya masalah hidup yang berat," kata Reza.

Sumber: http://wartakota.tribunnews.com/2013/10/02/analisa-pembunuhan-holly-angela.html

Pembunuhan Holly Tinggalkan Banyak Jejak


JAKARTA, KOMPAS.com Kriminolog Universitas Indonesia Erlangga Masdiana mengatakan, pembunuhan Holly jelas kejahatan yang dilakukan secara tidak profesional. "Pelaku salah satunya adalah sopir seseorang yang diduga punya hubungan personal dengan Holly. Pelaku lebih dari satu orang yang menyebabkan banyak saksi meskipun itu saksi pelaku. Kemudian, kematian Holly juga tidak cepat, banyak unsur penganiayaan. Dugaannya, pelaku tidak tahu cara cepat membunuh korban," kata Erlangga, di Jakarta, Rabu (16/10/2013). Hal senada diungkapkan psikolog forensik Reza Indragiri Amriel. "Sejak awal, saya menduga, kasus ini adalah penganiayaan yang menjadi collateral damage. Namun, begitu ada info pelaku yang tertangkap menyiapkan peti mati, saya berpendapat ini adalah pembunuhan berencana dengan menggunakan pembunuh bayaran," kata Reza. Akan tetapi, menurut Reza, pembunuhan tersebut tidak efektif dan efisien. Misi pembunuhan yang bertujuan menghindari hukum ternyata justru menebarkan banyak bukti yang bisa menjerat pelaku. Barang bukti yang dikumpulkan polisi, di antaranya batang besi penuh darah, jejak kaki, dan handuk yang dibiarkan tergelantung di pagar besi, sampai fakta bahwa pembunuh menyewa tempat di menara yang sama dengan Holly, menunjukkan cara kerja yang tidak profesional. Terlebih dugaan bahwa salah satu dari empat pembunuh, yaitu Elrisky Yudhistira (34), terjatuh dan tewas saat mencoba melarikan diri dari unit apartemen Holly. Menurut Reza, dalam kasus-kasus yang menggunakan pembunuh bayaran, motif terbanyak yang ditemukan adalah untuk mengakhiri relasi. Relasi yang dimaksud bisa saja sebuah skandal yang terancam terbongkar, kehamilan di luar nikah, dan

banyak lagi. Erlangga juga menyinggung adanya faktor kecemburuan yang terselip dalam relasi intens antardua manusia. "Faktor kecemburuan jelas mungkin terjadi. Apakah pasangan mendua atau lainnya. Di sisi lain, kemungkinan korban adalah orang yang banyak tahu tentang pelaku atau otak pembunuhan terencana. Informasi yang dimilikinya itu bisa amat berbahaya bagi korban," kata Erlangga. Berdasarkan analisis Reza dan Erlangga, kasus kematian Holly diyakini hanya terkait konflik antara korban dan pelaku atau otak pembunuhan terencana. Reza malah tegas mengatakan kasus Holly sama sekali tidak menyangkut isu besar, seperti terkait kasus korupsi simulator SIM yang melibatkan mantan pejabat di Mabes Polri. Atau terkait dugaan G, yang diduga suami Holly dan dituding sebagai otak kematian Holly, merupakan auditor BPK yang menangani kasus simulator SIM tersebut. Erlangga menduga ketidakprofesionalan pelaku, termasuk otak perencana pembunuhan, tidak terkait dengan latar belakang G yang berpendidikan dan memiliki jabatan penting. Menurut dia, rencana pembunuhan Holly dilatarbelakangi kepanikan sehingga pelaku tak berpikir jernih.
Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2013/10/17/0813332/Pembunuhan.Holly.Tinggalkan.Banya k.Jejak.html