Anda di halaman 1dari 14

Analisis Karakteristik Akustik Pada Ruang Peribadatan Masjid : Studi Kasus Masjid Al Amin

Disusun sebagai Ujian Akhir Semester Genap 2012/2013 Mata Kuliah Pengantar Akustik

Nama : Adityo Mursitantyo NIM : 1108255003

Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana 2013

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masjid ialah tempat ibadah utama bagi umat muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Hampir seluruh kegiatan ibadah umat muslim berpusat di masjid. Dimulai dari kegiatan ibadah rutin seperti sholat wajib dan sunnah hingga kegiatan pengajian dan ceramah agama serta pendidikan untuk anak-anak & remaja (madrasah). Oleh karena masjid merupakan tempat yang vital bagi umat muslim dalam melaksanakan ibadah baik itu yang bersifat masal maupun individual, sudah sepatutnya pembangunan dan perancangan masjid dapat memberikan kenyamanan bagi para jamaah dalam melaksanakan peribadatan. Masjid yang baik dari segi perancangan diharapkan dapat membantu ummat dalam melaksanakan ibadah dengan khusyuk dan khidmat. Masjid yang baik tidak harus selalu mewah namun setidaknya dapat memberikan kenyamanan dari sisi termal, pencahayaan maupun akustik. Makalah singkat ini membahas tentang aspek akustik dari suatu masjid. Aspek akustik mencakup berbagai hal tentang kondisi tata suara yang terkait dengan masjid, mulai dari bentuk geometri ruang, pemilihan bahan bangunan, hingga pemilihan lokasi masjid dan orientasi bangunan yang tepat agar tidak terganggu bising dari luar yang dapat mengganggu jamaah yang sedang beribadah. Dengan memperhatikan aspek di atas, maka dalam makalah singkat ini akan dipaparkan analisa aspek akustik pada bangunan masjid. Dalam hal ini, dipilih masjid Al Amin yang terletak di Jalan Raya Tuban, Kompi Senapan A Yonif 900, Tuban, Kuta, Kab. Badung. Masjid ini terletak di antara perbatasan desa Tuban dan desa Kuta. Masjid Al Amin didirikan didalam Komplek Angkatan Darat yaitu Kompi Senapan A Yonif 900/Raider.

1.2

Permasalahan Fokus utama studi ini ialah pada ruang utama dari masjid. Ruang utama

dari masjid dalam hal ini ialah ruang yang digunakan sebagai tempat dilangsungkannya sholat berjamaah, khotbah Jumat serta kajian-kajian & ceramah agama. Beberapa aspek yang menjadi permasalahan ialah : 1. 2. 3. 1.3 Bentuk geometri ruang utama. Pemilihan bahan bangunan. Kriteria ruang peribadatan masjid yang baik.

Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini yakni : 1. Untuk mengetahui aspek geometri ruang, pemilihan bahan bangunan dan kelayakan ruang peribadatan masjid dianggap baik menurut segi akustik. 2. Untuk meningkatkan kualitas akustik ruangan paa ruang utama masjid.

1.4

Metodologi Penelitian Metode yang digunakan dalam studi ini ialah : 1. 2. Studi pustaka. Pengamatan dan penilaian langsung secara subjektif.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Waktu dan Tempat Pengamatan Analisis dan penilaian secara subjektif dilakukan pada hari Senin, tanggal

10 Juni 2013 pukul 15.20 - 16.00 bertempat di masjid Al Amin, Jalan Raya Tuban, Kompi Senapan A Yonif 900, Tuban, Kuta, Kab. Badung Suasana masjid ditunjukkan oleh gambar 1 berikut.

Gambar 1

2.2

Analisis dan Penilaian Subjektif Berdasarkan pengamatan dan pendengaran subjektif penulis, ruang utama

masjid Al Amin memiliki aspek akustik yang kurang baik. Hal ini diindikasikan oleh suara bising kendaraan lewat yang terdengar saat ibadah Ashar. Bising ini dikarenakan letak masjid yang kurang strategis, dimana sebelah utara masjid berbatasan langsung dengan jalan Kediri dekat pertigaan lampu merah depan

Polres Kuta. Denah masjid ditunjukkan oleh gambar 2 berikut.

Masjid Al Amin

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 3 menunjukkan sisi utara masjid yang berjarak kurang dari 1 m dari

pinggir jalan Kediri dan hanya berjarak 6 meter dari pertigaan lampu merah antara Jalan Kuta dan Jalan Raya Tuban. Jenis kebisingan seperti ini dikenal dengan kebisingan terputus-putus (intermitten). Adapun saran yang diberikan penulis terhadap kebisingan ini yakni dengan mengurangi bukaan/ventilasi serta kaca yang langsung mengarah jalan raya. Hal ini lebih ekonomis dibandingkan merubah letak masjid atau menambah ketingian bangunan terhadap sumber bunyi. Adapun penanaman vegetasi maupun pagar penghalang tidak dimungkinkan karena jarak yang sangat dekat dengan jalan raya. Terkait dengan penempatan loud speaker, ruang utama masjid Al Amin memiliki penempatan posisi loud speaker yang kurang baik. Loud speaker ditempatkan di pojok kanan depan posisi jamaah dan pojok kanan belakang jamaah. Adapaun loud speaker tidak diletakkan pada posisi yang cukup tinggi, hanya diletakkan pada ketinggian 1 m. Posisi ini tidak memberikan kenyamanan akustik yang baik. Hal ini dapat mengurangi kenyamanan akustik karena dapat menimbulkan efek saling melemahkan antara gelombang suara langsung yang berasal dari sumber dengan gelombang suara yang datang dari loud speaker. Pengamatan terhadap waktu dengung di masjid Al Amin yang dilakukan secara kualitatif juga memberikan hasil yang cukup baik secara

subjektif. Walaupun ruang utama memiliki dimensi volume yang cukup besar (2300 m3) munculnya dengung yang berasal dari sumber suara tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap gelombang suara utama yang ingin didengar. Hal ini dibantu oleh adanya bahan yang bersifat absorptif seperti karpet yang menjadi alas ruang utama masjid Al Amin. Keadaan yang berbeda tentunya akan didapat saat masjid dalam keadaan kosong. Waktu dengung atau reverberation time saat ruangan dalam keadaan kosong tentunya akan lebih besar dibanding saat ruangan terisi penuh. Penyebaran gelombang suara yang terdapat di ruang utama masjid AL Amin kurang baik. Pendengar kurang dapat menerima dengan cukup baik gelombang suara bila berada pada jarak yang relatif jauh dari sumber suara

(penceramah atau loud speaker). Geometri ruang utama masjid Al Amin berbentuk limas serta permukaan dinding dan atap berupa kubah yang menyebabkan penyebaran suara kurang baik disamping penggunaan loud speaker yang tidak tersebar di sisi-sisi ruangan. 2.3 Analisis dan Penilaian Studi Pustaka Pada analisis berdasarkan studi pustaka ini akan dibahas mengenai kondisi akustik ruang utama masjid yang baik berdasarkan data kuantitatif hasil pengamatan eksperimen maupun simulasi. Tujuannya yakni sebagai pembanding atau tolak ukur nilai akustik bagi kondisi akustik truang masjid yang baik. Adapan penilaian studi pustaka berasal dari penelitian dengan tajuk Penelitian Kinerja Akustik Masjid Di Indonesia yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Soegijanto pada tahun 2001, masjid yang ditinjau oleh beliau salah satunya adalah masjid Istiqamah, Bandung. Adapun aspek aspek ruang utama masjid yang baik yakni: a. Bising Latar Belakang (Background Noise) Berdasarkan penelitian yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Soegijanto pada tahun 2001, diperoleh data mengenai background noise masjid Istiqomah sebagai berikut :

Tabel 1. Data Pengukuran Backgroung Noise Masjid Istiqamah, Bandung. (Soegijanto dkk, 2001)

Prof. Soegijanto menggunakan acuan kriteria auditorium sebagai pembanding untuk menginterpretasi data yang diperoleh. Hal ini dilakukan karena belum adanya acuan yang baku mengenai standar bising latar belakang yang direkomendasikan untuk masjid. Dalam hal ini, beliau mengacu pada studi yang dilakukan oleh Beranek pada 1992 berjudul Recommended Category Classification and Suggested Noise Criteria Range for Steady Background Noise as Heard In Various Indoor Occupied Functional Activity Area. Dalam studi tersebut (Beranek 1992) disebutkan bahwa for very good listening conditions bising latar belakang tidak melebihi 38 dBA dan for good listening conditions antara 38 - 48 dBA. b. Waktu Dengung Ruangan (Reverberation Time) Hasil pengukuran yang dilakukan oleh Prof. Soegijanto dkk untuk waktu dengung saat ruang utama masjid Istiqamah dalam keadaan kosong ialah sebagai berikut :

Tabel 2. Data Pengukuran Waktu Dengung Masjid Istiqamah, Bandung. (Soegijanto dkk, 2001)

Waktu dengung dihitung berdasarkan persamaan Eyring & Norris sebagai berikut :

dimana merupakan koefisien absorpsi energi tumbukan acak pada suatu permukaan, S adalah luas permukaan ruangan dan V adalah

volume ruangan. Waktu dengung tersebut diukur pada saat ruangan kosong. Waktu dengung dari ruangan yang terisi dengan jamaah dapat dihitung dari waktu dengung ruang kosong dengan memperhitungkan besarnya absorpsi suara dari jamaah kemudian dibandingkan dengan waktu dengung yang direkomendasikan (Knudsen & Haris, 1978) untuk ruangan dengan fungsi yang sama (Prof Soegijanto dkk, 2001) (dalam hal ini ruangan yang dimaksudkan ialah speech hall). Berdasarkan perhitungan reverberation time setelah terkoreksi, diperoleh bahwa waktu dengung yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan yang direkomendasikan. Misalnya waktu dengung pada frekuensi 1000 Hz yang sudah dikoreksi untuk ruangan terisi penuh dengan jamaah ialah 1.7 detik, sedangkan yang direkomendasikan 2001). Untuk mengurangi waktu dengung ini, sebetulnya dapat dilakukan dengan menambah bahan yang bersifat absorptif terhadap suara seperti pemasangan tirai dan karpet di dinding sebagaimana halnya karpet pada lantai. Penambahan bukaan seperti pintu dan orientasi loud speaker yang diatur dengan baik juga dapat mengurangi waktu dengung pada ruang utama masjid. Hal ini dapat dipertimbangkan untuk dilakukan, karena untuk mengubah bentuk dasar dari masjid agar diperoleh kondisi akustik yang lebih optimal sulit untuk dilakukan. c. Distribusi Tingkat Tekanan Suara (SPL Distribution) Secara teoritik, tingkat distribusi tekanan suara dirumuskan dalam persamaan berikut : adalah 0.9 detik (Prof. Soegijanto dkk,

dimana SPL dinyatakan dalam dB re Pac, P ialah amplitudo tekanan efektif suara yang terukur, dan Prac amplitudo tekanan suara efektif

terukur. Dalam studi yang sama, Prof. Soegijanto

dkk juga

mengukur hasil Sound Pressure Level Distribution pada ruang utama masjid Istiqamah dan memperoleh data sebagai berikut :

Tabel 3. Data Pengukuran Distribusi SPL Masjid Istiqamah, Bandung. (Soegijanto dkk, 2001)

Beliau menjelaskan bahwa distribusi tingkat tekanan suara pada masjid Istiqamah ialah 3.6 dB sehingga dapat disimpulkan bahwa ruang utama masjid Istiqamah kurang merata. Penggunaan yang optimal dari loud speaker menjadi sangat penting. Orientasi dan penggunaan loud speaker yang berkualitas dapat membantu mengurangi masalah distribusi tingkat tekanan suara (Soegijanto dkk, 2001).

d. Geometri Bentuk Langit-Langit Masjid Pada umumnya, masjid di Indonesia memiliki tiga bentuk langitlangit yaitu kubah, tajuk, dan datar. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Icha dkk (2005) dengan judul Study on the Effects of Ceiling Shape to the Acoustics Condition of Masjid by Means of Computer Simulation, dapat ditunjukan bahwa langit-langit masjid dengan bentuk datar memiliki nilai akustik yang paling baik dibandingkan dengan bentuk lainnya. Hal ini ditunjukan dari nilainilai kuantitatif, diantaranya waktu dengung (RT) dan tingkat distribusi tekanan suara. Dalam studinya, Icha dkk menggunakan dua metode,

yaitu

pengamatan

langsung

serta

simulasi

dengan

software

CATTv7.2. Walaupun difusi gelombang suara kurang merata pada bentuk geometri ruang yang datar namun hal ini masih memberikan efek yang lebih baik dibanding bentuk lain. Pada bentuk langit-langit kubah maupun tajuk (piramida bersusun) suara kurang tersebar

dibandingkan dengan atap datar. Hal ini disebabkan oleh adanya pengkonsentrasian hasil pemantulan gelombang suara utama pada titik-titik tertentu saja dibandingkan dengan flat ceiling. Masjid Al - Amin menggunakan bentuk langit-langit tajuk. Sehingga dari segi geometri ruang, masjid ini telah memiliki bentuk yang kurang optimal. Hal ini ditunjukkan oleh gambar 4.

Gambar 4

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang didapatkan dari hasil analisa kualitatif subjektif akustik ruang utama Masjid Al Amin yakni : 1. Pemilihan lokasi Masjid Al Amin kurang strategis, dimana letak masjid terlalu dekat dengan jalan raya yakni ( 1 m). 2. Penempatan loud speaker pada masjid Al Amin kurang baik, dimana loud speaker diletakkan hanya pada depan dan belakang jemaah dengan penempatan yang tidak terlalu tinggi sehingga hal ini dapat menyebabkan efek saling melemahkan antara gelombang suara langsung yang berasal dari sumber dengan gelombang suara yang datang dari loud speaker. 3. Pengamatan terhadap waktu dengung di masjid Al Amin yang dilakukan secara kualitatif juga memberikan hasil yang cukup baik

secara subjektif. Hal ini dibantu oleh adanya bahan yang bersifat absorptif seperti karpet yang menjadi alas ruang utama masjid Al Amin. 4. Penyebaran gelombang suara yang terdapat di ruang utama masjid AL Amin kurang baik. Geometri ruang utama masjid Al Amin berbentuk limas serta permukaan dinding dan atap berupa kubah yang

menyebabkan penyebaran suara kurang baik disamping penggunaan loud speaker yang tidak tersebar di sisi-sisi ruangan.

Pada hasil analisa studi pustaka didapatkan kesimpulan sebagai berikut : 1. Aspek aspek ruang utama masjid yang baik yakni : a. Bising latar belakang tidak melebihi 38 dBA untuk for very good listening conditions dan for good listening conditions antara 38 - 48 dBA. b. Waktu dengung yang diperoleh dari hasil penelitian harus memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan yang direkomendasikan. Misalnya waktu dengung pada frekuensi 1000 Hz yang sudah dikoreksi untuk ruangan terisi penuh dengan jamaah ialah 0.8 detik, sedangkan

yang direkomendasikan adalah 0.9 detik. c. Distribusi tingkat tekanan suara pada masjid sebaiknya kurang dari 3.6 dB. 2. Perbandingan hasil studi pustaka pada Masjid Istiqamah tidak dapat dibandingkan pada Masjid Al Amin dikarenakan tidak adanya peralatan yang memadai untuk pengukuran lebih lanjut pada Masjid Al Amin. 3. Dari geometri keruangan, Masjid Al - Amin menggunakan bentuk langitlangit tajuk. Sehingga menyebabkan suara kurang tersebar dibandingkan dengan atap datar. Hal ini disebabkan oleh adanya pengkonsentrasian hasil pemantulan gelombang suara utama pada titik-titik tertentu. 3.2 Saran Adapun saran yang dapat penulis berikan yakni 1. Penempatan posisi masjid dekat pinggir jalan dapat ditanggulangi dengan pengurangan ventilasi/bukaan serta jendela pada sisi masjid yang berhadapan langsung dengan jalan raya. 2. Peletakkan loud speaker sebaiknya lebih merata pada sisi sisi masjid dan diletakkan minimal 2 m dari lantai agar terciptanya kenyamanan akustik. 3. Untuk mengurangi waktu dengung, dapat dilakukan penambahan bahan yang bersifat absorptif terhadap suara seperti pemasangan tirai dan karpet di dinding sebagaimana halnya karpet pada lantai. Penambahan bukaan seperti pintu dan orientasi loud speaker yang diatur dengan baik juga dapat mengurangi waktu dengung pada ruang utama masjid. 4. Sebaiknya langit-langit masjid dibuat dengan bentuk datar. Hal ini dikarenakan nilai akustik yang paling baik ada pada langit langit dibandingkan dengan bentuk lainnya. Hal ini ditunjukan dari nilai- nilai kuantitatif, diantaranya waktu dengung (RT) dan tingkat distribusi tekanan suara.

DAFTAR PUSTAKA

Soegijanto, dkk. Penelitian Kinerja Akutik Mesjid Di Indonesia . Proyek pengkajian dan Penelitian Ilmu Pengetahuan Terapan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi,Departemen Pendidikan Nasional Sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian hibah Bersaing Nomor: 024/P2IPT/Iii/2000. 2001. Icha, S.V., Soegijanto, R.M., Triyogo, A. Study on the Effects of Ceiling Shape to the Acoustics Condition of Masjid by Means of Computer Simulation. Proceedings of the 6th International Seminar on Sustainable Environment and Architecture, Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Indonesia, hal.23-27. 2005. Setyowati, Ernaning. Pengaruh Bentuk Arsitektur Masjid Terhadap Kualitas Akustik Ruang. http://ninkarch.files.wordpress.com/2008/11/04/masjid-dan-akustik/ - Akses pada 28 Maret 2010. Kinsler, Lawrence E., Frey, Austin R., Coppens, Alan B., Sanders, James V., Foundamentals of Acoustics : 4th Edition. John Wiley & Sons, Inc..2000. Humphrey, Victor F.. Foundamentals of Acoustics (lsvr6030) Lecture 9. Institute of Sound and Vibration Research, University of Southampton, England.2008.