Anda di halaman 1dari 1

Pengobatan Penatalaksanaan konvensional adalah dengan drainase terbuka secara operasi dan antibiotic spectrum luas.

Penatalaksanaan saat ini adalah dengan menggunakan drainase perkutaneus abses intraabdominal dengan tuntunan ultrasound atau tomografi computer. Terapi antimikroba merupakan tambahan dari drainase perkutaneus maupun surgical. Terapi antibiotic saja tidak dianjurkan, meskipun telah dilaporkan berhasil dalam beberapa kasus. Hal ini dapat menjadi jalan satu-satunya pada pasien yang terlalu sakit untuk menjalani prosedur invasive atau pada pasien dengan abses multiple yang tidak setuju dilakukan drainase terbuka secara operasi maupun secara perkutaneus. Sampai kultur tersedia, pilihan agen antimikroba sebaiknya ditujukan pada pathogen yang paling sering terlibat. Regimen menggunakan golongan beta-laktam/beta-laktamase inhibitor, carbapenem atau sefalosporin generasi kedua merupakan terapi empiris yang paling baik untuk bakteri enteric bacilli dan anaerob. Metronidazol atau klindamycin sebaiknya ditambahkan untuk membunuh bakteri Bacteroides fragilis, bila antibiotik yang lain tidak berefek pada bakteri anaerob. Jika dalam waktu 48-72 jam belum ada perbaikan klinis dan laboratoris, maka antibiotic yang digunakan diganti dengan antibiotika yang sesuai dengan hasil kultur sensitifitas aspirat abses hati. Abses amebic sebaiknya diobati dengan metronidazol, di mana hal ini berhasil dalam 90% kasus. Metronidazol efektif pada fase intestinal maupun hepatik. Dosis 750 mg 3x/hari selama 7-10 hari direkomendasikan. Pasien yang tidak berespon terhadap metronidazole sebaiknya diberi chloroquin saja atau kombinasi dengan emetin atau dehydroemetine. Antifungal sistemik sebaiknya dimulai bila curiga terjadi abses fungal dan setelah abses didrainase secara perkutaneus atau surgical. Terapi awal untuk abses fungal biasanya amphotericin B. Komplikasi Saat diagnosis ditegakkan, hal yang menggambarkan keadaan penyakit yang berat seperti septikemia/ bakteremia dengan mortalitas 85%, rupture abses hati disertai peritonitis generalisata dengan mortalitas 6-7%, kelainan plueropulmonal, gagal hati, kelainanan di dalam rongga abses, empiema, fistula hepatobronkial, ruptur kedalam perikard atau retroperitoneum. Prognosis Mortalitas Abses hati piogenik ang diobati dengan antibiotic yang sesuai dengan bacterial penyebab dan dilakukan drainase adalah 10-16%. Prognosis yang buruk apabila terjadi keterlambatan diagnosis dan pengobatan, jika hasil kultur darah yang memperlihatkan bacterial penyebab multiple, tidak dilakukan drainase terhadap abses, adanya ikterus, hipoalbuminemia, efusi pleural atau adanya penyakit lain.