Anda di halaman 1dari 34

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENINGKATAN APRESIASI SENI TARI NUSANTARA (TARI SAMAN) MELALUI PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL BERBANTUAN MEDIA REKAMAN VIDEO PADA SISWA KELAS VIII-2 SEMESTER 2 SMP NGURAH RAI KEROBOKAN TAHUN PELAJARAN 2012/2013

MGMP GURU SENI BUDAYA KABUPATEN BADUNG

BAB I PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang Masalah

Seni tari merupakan salah satu unsur kebudayaan bangsa Indonesia yang sangat diperhatikan oleh seluruh bangsa kita. Hal ini telah ditegaskan dalam UUD.1945 pasal 32, yang rumusannya sebagai berikut : (1) kebudayaan banngsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai sebuah usaha budi rakyat Indonesia seluruhnya. (2) kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncakpuncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai kebudayaan bangsa. (3) Usaha kebudayaan harus menuju kearah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. Muatan seni budaya sebagaimana yang diamanatkan dalam Peraturan PemerintahRepublik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan tidak hanya terdapat dalam satu mata pelajaran karena budaya itu sendiri meliputi segala aspek kehidupan. Dalam mata pelajaran Seni Budaya, aspek budaya tidak dibahas secara tersendiri tetapi terintegrasi dengan seni. Karena itu, mata pelajaran Seni Budaya pada dasarnya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya.

Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan diberikan di sekolah karena keunikan,kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berekspresi/berkreasi dan berapresiasi melalui pendekatan: belajar dengan seni, belajar melalui seni dan belajar tentang seni. Peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain. Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk. Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multikecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual spasial, musikal, linguistik, logik matematik, naturalis serta kecerdasan adversitas, kecerdasan kreativitas, kecerdasan spiritual dan moral, dan kecerdasan emosional. Bidang seni rupa, musik, tari, dan teater memiliki kekhasan tersendiri sesuai dengan kaidah keilmuan masing-masing. Dalam pendidikan seni budaya, aktivitas berkesenian harus menampung kekhasan tersebut yang tertuang dalam pemberian pengalaman mengembangkan konsepsi, apresiasi, dan kreasi. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam. (BSNP /Permendiknas 22/ 2006) Pendidikan seni tari tidak dipelajari secara sungguh-sungguh oleh sebagian besar siswa, dengan berbagai alasan, seperti materi ujian nasional hanya beberapa mata pelajaran saja, dan tidak termasuk pendidikan seni. Pembelajaran seni tari di SMP cenderung menggunakan model konvensional yaitu guru memberikan contoh ragam tari dengan demonstrasi, kemudian siswa diminta untuk menirukan, sehingga harapan menjadikan siswa yang memiliki kompetensi untuk menuju pengembangan yang kreatif belum tampak. Langkah-Iangkah tersebut kiranya masih perlu diperkuat dengan strategi pembelajaran yang lebih tepat dan efektif, inovatif, agar siswa dapat memahami konsep dan pentingnya seni budaya, dapat nampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya, berkreativitas melalui seni budaya serta mampu menampilkan peran serta dalam seni budaya dalam tingkat lokal, regional, maupun global. Dengan demikian akan lebih baik apabila lebih banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan pengalaman berapresiasi seni melalui rekaman video, sehingga pembelajaran seni tari yang diisyaratkan dalam kurikulum dapat tercapai.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis mengangkat permasalahan dengan judul Peningkatan Apresiasi Seni Tari Nusantara (Tari Saman) Melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Media Rekaman Video Pada Siswa Kelas VIII-2 Semester 2 Smp Ngurah Rai Kerobokan Tahun Pelajaran 2012/2013 1. Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah, dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut. 1. Strategi pembelajaran seni tari cenderung bersifat tradisional dan berpusat pada guru, kurang mengembangkan atau memberdayakan kreativitas siswa. 1. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Apakah penerapan model Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Media Rekaman Video Pada Siswa Kelas VIII-2 Semester 2 Smp Ngurah Rai Kerobokan Tahun Pelajaran 2012/2013? 2. Tujuan Umum

4.

Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui Apakah penerapan model Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Media Rekaman Video Pada Siswa Kelas VIII-2 Semester 2 Smp Ngurah Rai Kerobokan Tahun Pelajaran 2012/2013 dapat meningkatkan apresiasi seni . 1. Tujuan Khusus Secara khusus penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan apresiasi seni tari melalui penerapan model Pendekatan Pembelajaran Kontekstual Berbantuan Media Rekaman Video Pada Siswa Kelas VIII-2 Semester 2 Smp Ngurah Rai Kerobokan Tahun Pelajaran 2012/2013.

5. Manfaat Penelitian
1. Bagi guru : 1. Dapat meningkatkan pengembangan model pembelajaran dikelas terutama pendekatakan pembelajaran kontekstual berbantuan media rekaman video. 2. Dapat menerapkan model pembelajaran yang tepat dikelas, mengingat karakteristik siswa yang bermacam-macam. 3. Bagi Siswa :

1. Dapat meningkatkan apresiasi seni yang optimal pada mata pelajaran seni tari. 2. Dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam belajar seni tari 3. Bagi Sekolah : 4. Dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam pengembangan program sekolah. 5. dapat digunakan sebagai referensi atau bahan kajian dalam menambah ilmu pengetahuan dibidang pendidikan. BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS 1. Landasan Teori 2.1 Apresiasi

Pengertian apresiasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penilaian baik; penghargaan; misalnya terhadap karya-karya sastra ataupun karya seni. Apresiasi berasal dari bahasa Inggris, appreciation yang berarti penghargaan yang positif. Sedangkan pengertian apresiasi adalah kegiatan mengenali, menilai, dan menghargai bobot seni atau nilai seni. Biasanya apresiasi berupa hal yang positif tetapi juga bisa yang negatif. Sasaran utama dalam kegiatan apresiasi adalah nilai suatu karya seni. Secara umum kritik berarti mengamati, membandingkan, dan mempertimbangkan. Tetapi dalam memberikan apresiasi, tidak boleh mendasarkan pada suatu ikatan teman atau pemaksaan. Pemberian apresiasi harus dengan setulus hati dan menurut penilaian aspek umum. http://hilman2008.wordpress.com/2009/06/19/apresiasi/ Pengertian apresiasi secara umum adalah suatu penghargaan atau penilaian terhadap suatu karya tertentu. Biasanya apresiasi berupa hal yang positif tetapi juga bisa yang negatif. Apresiasi dibagi menjadi tiga, yakni kritik, pujian, dan saran. Sementara itu, orang yang ahli dalam bidang apresiasi secara umum adalah seorang kolektor atau pencinta suatu seni pada umumnya. Tetapi dalam memberikan apresiasi, tidak boleh mendasarkan pada suatu ikatan teman atau pemaksaan. Pemberian apresiasi harus dengan setulus hati dan menurut penilaian aspek umum. http://id.answers.yahoo.com/question/index. Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa apresiasi positif dapat diberikan kepada seseorang, atau beberapa individu atau sebuah kelompok yang melakukan karya positif dengan suatu hal yang positif juga, atau sebaliknya. Apresiasi dapat dimaknai secara aktif dan pasif. Apresiasi aktif yakni kegiatan apresiasi dengan melibatkan peserta dalam kegiatan tertentu. Misalnya, seorang ikut menari, atau juga dapat ditempuh denganmemberi tanggapan atau kritikan terhadap karya yang diamati. Apresiasi pasif

dapat dilakukan ketika seseorang menyaksikan pertunjukan tanpa ada tindakan untuk mengkritik atau menilai pertunjukan tersebut. Dalam penelitian ini yang akan dicoba untuk diterapkan adalah apresiasi seni secara aktif. Adapun caranya adalah dalam pembelajaran Seni Tari, selain pembelajaran secara demonstrasi juga akan disajikan rekaman video tentang tari-tarian Nusantara. Langkah- langkah dalam apresiasi dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. peserta didik mengamati tarian melalui rekaman vidio. 2. peserta didik berdiskusi tentang tarian yang di amati 3. peserta didik melakukan gerakan tari sesuai dengan tayangan vidio Ketika pengalaman seperti ini dilakukan berulang-ulang maka diharapkan daya apresiasi siswa terhadap seni tari semakin meningkat. Dengan meningkatnya daya apresiasi siswa terhadap seni tari diharapkan dapat meningkatkan pembelajaran seni tari dikelas. 2.2 Apresiasi Seni Pengertian apresiasi Seni adalah menikmati, menghayati dan merasakan suatu objek atau karya seni lebih tepat lagi dengan mencermati karya seni dengan mengerti dan peka terhadap segi-segi estetiknya, sehingga mampu menikmati dan memaknai karya-karya tersebut dengan semestinya. http://fathiiyahzulfahnea.blogspot.com/2010/08/pengertian-apresiasi-seni.html Apresiai seni berarti kegiatan mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik sehingga mampu menikmati dan manilai karya tersebut secara semestinya. Dalam mengapresiai, seorang penghayat sedang mencari pengalam estetis. Sehingga motivasi yang muncul adalah motivasi pengalaman estetis. Dari pengertian di atas dapat disimpilkan bahwa apresiasi seni adalah menikmati, menghayati, merasakan dan mencermati karya seni sehingga menyadari sepenuhnyaseluk beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap gejala estetis dan artistik. 2.3 Pengertian Seni Menurut Ki Hajar Dewantara seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaan dan sifat indah, sehingga menggerakan jiwa perasaan manusia Menururt Prof. Drs. Suwaji bastomi seni adalah aktivitas batin dengan pengalaman estetika yang menyatakan dalam bentuk agung yang mempunyai daya membangkitkan rasa takjub dan haru.

Menurut H. Enslikopedia Indonesia seni adalah penciptaan segala hal atau benda yang karena keindahannya orang senang melihatnya atau mendengarnya. http://ufikmuckraker.wordpress.com/2012/03/28/10-pengertian-seni-menurut-pendapat-paraahli/ Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian seni adalah aktivitas batin yang timbul dari perasaan yang indah sehingga menghasilkan ciptaan yang indan dan orang senang melihat dan menikmatinya. 2.4 Seni Tari Seni tari merupakan salah satu bidang seni yang secara langsung menggunakan tubuh manusia sebagai media, yang merupakan ungkapan nilai keindahan dan nilai keluhuran lewat gerak dan sikap tubuh dengan penghayatan seni. Keberadaan seni tari nusantara yang diwariskan hingga sekarang secara sederhana dapat dikatakan selalu seiring dengan perkembangan masyarakat pendukungnya. Menyadari agar seni tari tetap eksis maka pemerintah dan praktisi seni memasukkan ide-ide baru untuk tetap dapat melestarikan budaya bangsa. Maka disusunlah kurikulum untuk SMP yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).. KTSP merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengembangan potensi peserta didik di sekolah yang bersangkutan di masa sekarang dan dimasa yang akan datang dengan mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional dan tuntutan global dengan semangat MBS (Manajemen Berbasis sekolah). Pengembangan KTSP merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK) yang merupakan kurikulum operasional, disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing sekolah. Untuk membatasi apa yang disebut dengan tari maka lahirlah bermacam-macam definisi tari. Definisi tersebut disusun oleh beberapa tokoh seni tari atau bidang seni lain yang dalam hidupnya banyak berkecimpung dalam bidang seni tari. Wisnoe Wardhana (9160:3) dalam bukunya pengajaran tari menyatakan bahwa tari adalah ekspresi estetis dalam gerak dengan media tubuh manusia. Soedarsono (1990:27) dalam bukunya djawa dan Bali dua pusat pengembangan drama tari di Indonesia menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerak ritmis yang indah. Secara khusus seni tari Bali adalah seni yang mengungkapkan ekspresi gerak tubuh melalui agem, tandang, tanngkep dan tanngkis serta dijiwai oleh unsur-unsur seni budaya daerah sehingga menimbulkan ekspresi gerak yang khusus (depdikbud, 1994:10) Seorang ahli jiwa, mengatakan bahwa tari adalah pernyataan gaya instigtif otot tentang suatu perasaan atau dengan kata lain tari adalah kerja rasa manusia yang penyalurannya melewati otototot ( Crawky dalam Wisnoe wardhana, 1990:33). McNeil dixon seorang penari mengatakan bahwa tari adalah dialek jiwa. Dengan kata lain tari adalah nilai-nilai kejiwaan yang tampak dalam gaya gerak (McNeil Dixon dalam Wisnoe Wardhana, 1990:33).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan tari secara konseptual adalah ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan melalui gerak ritmis yang indah yaitu agem, tandang, tangkep dan tangkis. Faktor-faktor yang esensial untuk dimiliki atau dikuasai oleh seorang penari sebagai persyaratannya adalah: pertama, kemampuan peragaan, dan kedua adalah tentang kemampuan atau penguasaan kejiwaan. 2.5 Pendekatan Kontekstual

Kontekstual merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. pendekatan kontektual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Komponen pembelajaran Kontekstual meliputi: Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan. Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas. Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan. Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.

Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik. Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya. Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa. http://bandono.web.id/2008/03/07/menyusun-model-pembelajaran 2.6 Media RekamanVidio Media video merupakan media yang akrab di sekitar siswa dan guru. Media video biasa disebut audio visual, artinya media ini merupakan gabungan antara suara dan gambar. Sesuai dengan sifatnya, media audio visual memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan media lainnya. Secara fisik Video/VCD pembelajaran merupakan program pembelajaran yang dikemas dalam kaset video atau VCD dan disajikan dengan menggunakan peralatan VCD player atau TV monitor serta LCD proyektor Media audio visual dapat membuat konsep yang abstrak menjadi lebih kongkrit, dapat menampilkan gerak yang dipercepat atau diperlambat sehingga lebih mudah diamati, dapat menampilkan detail suatu benda atau proses, serta membuat penyajian pembelajaran lebih menarik, sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan dalam pengembangannya mengaplikasikan prinsip-prinsip pembelajaran sehingga program tersebut memungkinkan peserta didik mencerna materi pelajaran secara lebih mudah dan menarik. . (http://blog.video-sebagaimedia-pembelajaran/mrdetail/12052)

B. Hipotesis Tindakan

Dalam penelitian ini penerapan model Pendekatan Pembelajaran Kontekstual

Berbantuan Media Rekaman Video dapat meningkatkan apresiasi seni tari siswa BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Setting Penelitian
a. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di SMP Ngurah Rai Kerobokan. Dengan melakukan penelitian di sekolah sendiri akan didapat dua keuntungan yaitu tidak perlu meninggalkan tugas mengajar selama mengadakan penelitian dan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran sendiri sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh siswa yang diajarkan. b.Waktu Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian ini adalah semester 2 tahun pelajaran 2012/2013 yang dimulai bulan Februari 2013. Subjek penelitian pada saat itu tidak mengalami banyak hambatan dalam belajar serta materi pembelajaran apresiasi terhadap seni tari memang muncul pada semester 2 di kelas VIII.

3.2 Subyek Penelitian Dalam Penelitian Tindakan Kelas yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VIII/2 yang terdiri dari 40 siswa dengan komposisi perempuan 21 siswa dan laki-laki 19 siswa.

3.3 Sumber Data


Untuk mendapatkan data dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah seluruh siswa kelas VIII/2, guru-guru dan kepala sekolah

3.4 Teknik dan Alat Pengumpulan Data


a. Teknik Pengumpulan data Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data hasil belajar seni tari yang diperoleh dari tes hasil belajar dan pengamatan yang diperoleh pada akhir tindakan.

b. Alat Pengumpulan data Sebagai alat pengukur dalam Penelitian Tindakan Kelas ini berupa tes unjuk kerja yang merupakan hasil dari pengamatan rekaman vidio seni tari Nusantara. 3.5 Validasi Data Untuk meyakinkan bahwa data penelitian layak untuk pengujian hipotesis, perlu dilakukan pengontrolan validitas. Pengontrolan ini dilaksanakan agar hasil penelitian yang diperoleh dapat mencerminkan hasil perlakuan yang diberikan dan dapat digeneralisasi ke populasi yang ada. Pengontrolan validitas internal dari suatu rancangan penelitian sangat dibutuhkan agar hasil penelitian yang diperoleh benar-benar merupakan akibat dari perlakuan yang diberikan.

3.6 Analisis data


Hasil yang diperoleh berdasarkan tes yang dilakukan pada siklus I di bandingkan dengan haasil siklus II. Kalau siklus I hasilnya kurang, maka akan dilanjutkan dengan siklus II sampai ada perubahan. 3.7 Indikator Kinerja Capaian yang diharapkan dalam penelitian ini adalah capaian target sesuai KKM = 75.

3.8 Prosedur Penelitian


1. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus. 2. Langkah-langkah dalam siklus terdiri dari: 1. Perencanaan (Planning): Membuat perencanaan tentang pembelajaran apresiasi seni. Menyiapkan perangkat Vidio, perangkat pembelajaran( Silabus, RPP sesuai dengan SK, KD seni tari) , bahan ajar, menciptakan skenario pembelajaran ,meyiapkan tempat belajaran (aula), Siswa membentuk kelompok yang dibagi menjadi beberapa kelompok masing-masing terdiri dari 5 orang. Kelima orang siswa mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda. 1. Pelaksanaan (acting): Pada saat proses pembelajaran berlangsung (1) guru mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan tari saman; (2) masing-masing kelompok mengamati tarian yang ditayangkan melalui Video; (3) kemudian siswa melakukan gerak tari tersebut secara kelompok tahap demi tahap, (4) Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil pengamatannya berupa gerak tari 3. Observasi

Guru melakukan pengamatan kondisi kelompok, aktivitas kelompok, kreativitas, inovasi, kerjasama. 1. Refleksi (reflecting) Merefleksikan tindakan yang telah dilakukan, yang didasari atas perencanaan, pengamatan, observasi, bila tidak sesuai dengan indikator kinerja (75) maka perlu dilakukan siklus berikutnya.

PELAJARAN SENI TARI MENGGUNAKAN METODE TUTOR SEBAYA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, tata krama, pergaulan, kesenian, bahasa, keindahan alam dan ketrampilan lokal yang merupakan ciri khas suatu suku bangsa. Keanekaragaman tersebut memperindah dan memperkaya nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, keanekaragaman tersebut perlu diusahakan pengembangan dan pelestariannya dengan tetap mempertahankannya melalui upaya pendidikan. Pengenalan keadaan lingkungan alam sosial dan budaya kepada peserta didik di sekolah memberikan kemungkinan besar untuk akrab dengan lingkungan dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungan serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu Kanwil Propinsi Bali bekerja terus untuk menggali potensi daerah Bali yang dijadikan identitas daerah dalam wujud muatan lokal didalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

Di dalam tahun pelajaran 2007/2008 kurikulum berbasis kompetensi untuk pelajaran muatan lokal di SMP Negeri 2 Xxx dipilih seni tari khususnya tari Bali sebagai bahan kajian pilihan yang diterapkan kepada semua siswa dari kelas VII sampai kelas IX sesuai dengan sarana dan pengajaran yang tersedia. Jumlah waktu efektifnya 2 jam pelajaran tiap minggu. Pelajaran seni tari Bali sebagai muatan lokal pilihan diberikan kepada semua siswa. Dimana muatan lokal yaitu bahan kajian dan pelajarannya ditetapkan di Daerah dan disesuaikan dengan lingkungan, sosial budaya serta kehidupan Daerah (Depdikbud, 1994:1). Di pilihnya tari Bali sebagai muatan lokal pilihan yang wajib diikuti oleh semua siswa SMP Negeri 2 Xxx dikarenakan guru yang mengajar Tari Bali ada 4 orang, sedangkan guru yang berkompeten dibidang seni yang lain tidak ada. Seni tari Bali diberikan secara klasikal yang lebih banyak praktek dibandingkan dengan teori. Karena semua siswa wajib mengikuti mata pelajaran tersebut, maka dalam satu kelas sudah tentu ada siswa yang tidak mempunyai bakat dan minat harus ikut dalam pelajaran tersebut untuk mendapat nilai raport. Mutu pendidikan khususnya pendidikan seni tari Bali, tentunya tidak bisa lepas dari tiga faktor, yaitu sekolah sebagai tempat terlaksananya pendidikan, guru sebagai pelaksana dan siswa sebagai peserta pendidikan. Ketiga faktor tersebut menjadi kurang berarti meskipun sudah disiapkan dengan baik, jika penyampaian materi pelajaran guru menggunakan metoda atau cara yang kurang tepat. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka pada setiap akhir program pembelajaran dilakukan evaluasi. Salah satu hasil evaluasi tersebut adalah prestasi belajar seni tari siswa. Namun dewasa ini prestasi belajar yang diperoleh siswa terutama dalam mata pelajaran seni tari khususnya di SMP Negeri 2 Xxx masih tergolong rendah. Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai guru di SMP Negeri 2 Xxx, ditemukan bahwa pengajaran lebih banyak di lakukan dengan metode demontrasi dan imitasi dari guru pengajar sehingga menyebabkan siswa merasa bosan dan tidak kreatif. Selama ini peneliti juga mengamati siswa kelas VIII D tahun pelajaran 2007/2008 pada waktu kelas VII, memiliki nilai rata-rata pelajaran seni tari paling rendah di bandingkan dengan kelas paralel yang lain. Disamping itu aktivitas siswanya sangat pasif, yaitu tidak ada kreativitas siswa untuk memahami materi yang diberikan. Berbagai metoda pembelajaran telah sering digunakan seperti diskusi, demonstrasi, tanya jawab dan lain-lain. Penerapan metoda pembelajaran seperti itu kemungkinan belum dapat mencapai tujuan yang diharapkan, hal ini disebabkan karena kemampuan guru, keadaan siswa dan fasilitas/sarana yang belum memadai. Terbukti jika proses belajar berlangsung sering siswa yang sudah mahir merasa jenuh dan bosan. Maka dari itu perlu ada usaha lain yang dilakukan oleh guru agar proses pembelajaran berlangsung baik dengan menerapkan tutor sebaya dalam proses pembelajaran. Implementasi tutor sebaya dalam pembelajaran seni tari Bali diharapkan memberikan situasi belajar yang lebih leluasa bagi siswa untuk berkreasi dan berkreativitas, lebih percaya diri dan menimbulkan keberanian pada siswa karena di dalam mentransfer pengetahuan didapat dari teman sendiri. Dalam situasi seperti itu akan dapat menciptakan proses belajar yang lebih baik, sehingga diharapkan meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar seni tari Bali.

1.2 Identifikasi Masalah. Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini dapat di identifikasi masalah masalah tersebut yaitu :

Kurikulum pendidikan sering berganti. Letak geografis sekolah yang berbukit. Dukungan dari orang tua siswa masih kurang. Antusias siswa mengikuti pelajaran sangat rendah. Metode mengajar masih bersumber pada guru saja. Input siswa terutama dalam bidang seni tari Bali sangat kurang. Sarana dan prasarana di sekolah belum memadai dengan mata pelajaran tari Bali. Kemampuan, minat dan bakat siswa dalam bidang seni tari Bali berbeda-beda.

Dengan teridentipikasinya masalah-masalah tersebut, maka salah satu diantaranya dipilih metoda tutor sebaya dalam proses pembelajaran. 1.3 Rumusan Masalah. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut : 1. Apakah Implementasi tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx. 2. Apakah Implementasi tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx. 3. Bagaimana respon siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx terhadap Implementasi tutor sebaya. 1.4 Tujuan Penelitian Bertolak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai sehubungan deangan tindakan yang akan diberikan adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dalam proses belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx melalui Implementasi tutor sebaya. 2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx melalui Implementasi tutor sebaya. 3. Untuk mengetahui respon siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx terhadap Implementasi tutor sebaya. 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Bagi siswa dengan proses pembelajaran yang menggunakan teman sendiri sebagai tutor akan memberikan kesempatan yang leluasa pada siswa untuk bertanya, mentransfer dan menyerap materi pelajaran sehingga dapat membantu siswa untuk menguasai tari puspawresti.

2. Bagi guru hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dan bahan pertimbangan dalam mencari metoda pembelajaran untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif dan efektif dalam proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan terutama dalam bidang seni tari Bali dengan menerapkan tutor sebaya. 3. Bagi peneliti, melalui penelitian ini peneliti memperoleh wawasan dan pengalaman dalam merancang serta menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan tutor sebaya. 4. Bagi sekolah, bila dalam PTK ini ada pengaruh yang efektip untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terutama dalam bidang pelajaran seni tari Bali, maka diharapkan agar guruguru yang lain termotivasi untuk menggunakan metode tutor sebaya dalam pembelajaran.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Beberapa teori yang digunakan sebagai landasan berpikir untuk menjawab permasalahan yang diajukan adalah: Seni tari, prestasi belajar, model pembelajaran, tutor sebaya. 2.1 Seni Tari Seni tari terdiri dari dua kata yaitu seni dan tari. Seni merupakan segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaanya dan bersifat indah. Dalam buku Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan bahwa seni yaitu : Kecakapan batin (akal) yang luar biasa yang dapat mengadakan atau menciptakan sesuatu yang luar biasa. ( Poerwadarminta, 1976:917). Sedangkan tari dinyatakan bahwa: Gerakan badan, tangan, dsb, yang berirama dan biasanya diiringi oleh bunyi-bunyian seperti musik, gambelan. (Poerwadarminta, 1976:1020). Ada beberapa pengertian seni tari dari berbagai ahli tari yaitu : pertama, seni tari adalah: Ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerak gerak ritmis yang indah. (Soedarsono, 1972:4). Kedua Seni tari adalah: Ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap. (Wardhana, 1990:8). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seni tari adalah Ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerak ritmis yang indah dari keseluruhan tubuh yang ditata dengan irama lagu pengiring sesuai dengan lambang, watak dan tema tari. Pada awalnya seni tari khususnya tari Bali merupakan tarian untuk kepentingan upacara agama hindu, tapi dalam perkembangan selanjutnya banyak berubah fungsi. Adapun fungsi tari Bali yaitu: 1. Tari Wali yaitu tari yang dilakukan di pura dan ditempat-tempat yang ada hubungannya dengan upacara keagamaan. (Artika, 1989:22). 2. Tari Bebali yaitu tari yang berfungsi sebagai pengiring upacara di pura-pura atau di luar pura. (Artika, 1989:22). 3. Tari Balih-balihan yaitu segala tari yang mempunyai unsur-unsur dan dasar seni tari yang luhur dapat dipentaskan sewaktu-waktu, baik sehubungan dengan upacara adat maupun agama. (Artika, 1989:23).

Dalam penyajian seni tari, yang harus diperhatikan adalah peraturan dan norma tari Bali yang sangat penting artinya untuk mencapai penampilan yang sempurna. Istilah yang dipergunakan untuk menjelaskan peraturan dan norma di atas adalah TRI WI yaitu: 1. Wiraga adalah seorang penari Bali harus menguasai perbendaharaan gerak tari yang berhubungan dengan postur tubuh penari dan gerak yang dipertunjukkan. 2. Wirama adalah penari harus mengerti tentang musik, melodi, ritme, dan tempo dikuasai dalam pertunjukan. 3. Wirasa adalah rasa atau perasaan yang berkaitan dengan gerak tubuh dan perasaan, yaitu kemampuan penari mengungkapkan rasa sedih, gembira, lucu, takut yang merupakan perpaduan antara mimik dan panto mimik. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seni tari Bali berguna untuk melatih, mengembangkan potensi, bakat seni dan mendorong kreativitas untuk dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari hari baik untuk diri sendiri maupun untuk lingkungan. Untuk itu seni tari Bali yang diberikan di kelas VIII semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx adalah tari puspa wresti. Tari Puspawresti berasal dari kata Puspa dan Wresti. Puspa artinya bunga, Wresti artinya persembahan. Jadi tari Puspawresti yaitu tari persembahan bunga yang ditujukan pada para tamu. Ditinjau dari segi fungsi Tari Puspawresti berguna untuk menyambut tamu yang sedang berkunjung kesuatu Daerah Tari Puspawresti lebih mudah dipelajari karena gerak-gerak dasarnya tidak rumit. Tari puspawresti disajikan secara kelompok. 2.2 Prestasi Belajar Salah satu tugas dari guru adalah mengadakan suatu proses evaluasi. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa, salah satunya adalah prestasi belajar siswa. Imformasi ini sangat berguna untuk memperjelas sasaran dalam pembelajaran. Prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes. Prestasi belajar adalah prestasi yang diperoleh disekolah dan di luar sekolah. Prestasi belajar di sekolah adalah hasil yang diperoleh anak-anak berupa nilai mata pelajaran: (Sunartana, 1997:55). Menurut Bloom (1971:7) Prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah yaitu: kognetif, afektif, dan psikomotor. Gambaran prestasi belajar siswa dapat dinyatakan dengan angka dari 0 sampai dengan 10 (Arikunto, 1998:62). Disamping itu prestasi belajar dapat dioperasikan dalam bentuk indikator- indikator berupa nilai raport, angka kelulusan dan predikat keberhasilan (Saifudin Azwar, 1996:44). Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah : kemampuan aktual yang dapat diukur setelah mengalami proses belajar praktek tentang pengetahuan dan ketrampilan tertentu, nilai-nilai yang dicapai oleh siswa sebagai hasil dari proses belajar di sekolah. Hasil yang diperoleh siswa dalam satu mata pelajaran dinyatakan dalam bentuk nilai yang disebut dengan prestasi belajar. 2.3 Model Pembelajaran Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan yang menyeluruh. Misalnya, problem-based model of instruction (model pembelajaran berdasarkan permasalahan) yang meliputi kelompok kecil, siswa bekerja sama memecahkan masalah yang telah disepakati. Model pembelajaran ini

dapat menggunakan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural, seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan, melakukan penelitian, berdiskusi, menciptakan karya seni dan melakukan presentasi. Model pembelajaran berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting dalam mengajar di kelas, praktek atau mengawasi anak-anak. Penggunaan model pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran yang lain (Wasis, 2002:1). * Bagi yang ingin mendowload MATERI PTK secara langsung, silakan BUKA DISINI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Manusia sebagai makhluk sosial sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal mereka, dengan kata lain lingkungan yang baik akan memberi dampak positif pada prilaku manusia. Tetapi sebaliknya apabila lingkungan yang kurang baik maka akan berpengaruh kurang baik pula terhadap prilaku manusianya. Berkaitan dengan hal tersebut apabila diaplikasikan dalam proses belajar mengajar di sekolah, peserta diarahkan ke suasana demokrasi agar potensi siswa dapat berkembang dengan baik. Menurut Dewey dan Thelan dalam Trianto, (2007:45) sekolah dipandang sebagai laboratorium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi. Suasana demokrasi yaitu suasana yang memungkinkan untuk tumbuhkembangnya potensi-potensi siswa yang positif dan bermanfaat bagi pembangunan bangsa, seperti halnya mengembangkan kreativitas siswa, mengembangkan kemampuan berfikir, dan mengembangkan ketrampilan berinteraksi dengan lingkungan.

Hal ini dalam pembelajaran di sekolah sangat cocok dengan pembelajaran cooperative learning, yang mana siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan untuk beberapa pertemuan mereka tetap dalam kelompoknya kemudian mereka diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat berkerjasama dengan baik. Ketrampilan-ketrampilan itu di antaranya kemampuan menyelesaikan masalah, kecakapan mengemukakan pendapat, kecakapan menyikapi pendapat temannya, dan membantu teman yang memiliki kemampuan yang kurang. Pada dasarnya Pembelajaran cooperative learning ini adalah untuk menciptakan susana belajar yang lebih hidup dan nyaman. Hidup dalam pengertian, siswa yang lebih aktif di bandingkan cuma mendengarkan penjelasan materi dari guru. Nyaman maksudnya adalah suasana belajar yang tidak kaku karena dengan metode ini sesama siswa lebih leluasa memberikan pendapat ataupun pertanyaan bahkan bisa memberikan ide di bandingkan berkomunikasi dengan gurunya.

Dari paparan di atas sangatlah jelas untuk bekerjasama perlu adanya hubungan yang baik walaupun mereka memiliki latar belakang yang berbeda Perbedaan di sini bisa karena jenis kelamin lakilaki atau perempuan, faktor kemampuan pandai atau kurang pandai, faktor lingkungan keluarga, agama, suku adat budaya dan yang lainnya. Perbedaan ini, di kelas pun ada dan ini sangat terlihat jelas antara kelompok siswa laki-laki dan kelompok siswa perempuan dan ada juga siswa yang mau berbaur dengan teman sesama jenisnya ada juga yang tidak, bahkan seperti ada diskriminasi sehingga menurut peneliti metode cooperative learning cocok untuk diterapkan agar kebersamaan lebih meningkat di dalam pembelajaran seni budaya khususnya seni tari. Menurut peneliti jika perbedaan-perbedaan ini dibiarkan maka akan terjadi pengelompokan-pengelompokan yang kurang positif dan dikhawatirkan akan lahir prilaku-prilaku yang kurang baik. Untuk itu perlu adanya pembelajaran cooperative learning. Di dalam pembelajaran ini guru hanya sebagai fasilitator saja atau memberi arahan-arahan apabila ada sesuatu yang belum dipahami oleh siswa. Guru mengupayakan agar siswa lebih kreatif dan lebih mengenal teman sekelompoknya atau teman sekelasnya. Apalagi di dalam pembelajaran seni budaya, siswa bukan hanya mempelajari bagaimana menciptakan karya seni dengan teknik dan medianya, mempelajari irama musiknya dan gerak tarinya saja, tetapi mempelajari bagaimana latar belakang terbentuknya karya seni tersebut, sehingga dalam pembelajaran seni budaya perlu adanya kerja sama yang baik untuk menuangkan pengalamanpengalaman seni atau pemahaman-pemahaman seni yang di milikinya. Bagi siswa lingkungan sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu tetapi juga tempat belajar berinteraksi dengan lingkungan terutama lingkungan sosialnya, seperti belajar bergaul dengan teman sebayanya, belajar bekerjasama, dan belajar memberi bantuan kepada temannya yang sedang kesusahan. Hal ini berarti setelah belajar seni budaya khususnya seni tari dengan menggunakan metode cooperative learning model STAD yang akan dipakai dalam penelitian ini, itu tidak hanya kebersamaan siswa saja yang meningkat tetapi harus ada perubahan sikap yang lebih baik sebagai salah satu bekal dalam hidupnya. Apabila sejak dini siswa dikenalkan dengan sikap demokrasi, memperkenalkan seni budaya mudah-mudahan di masa yang akan datang kekerasan atau diskriminasi tidak akan terjadi. Itu adalah salah satu ketertarikan peneliti mengambil topik ini dan juga menurut peneliti pembelajaran cooperative leraning di samping banyak sekali manfaatnya juga metode ini oleh peneliti dianggap lebih efektif untuk mengatasi permasalahan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah penggunaan metode cooperative learning model STAD pada pembelajaran seni tari dapat meningkatkan kebersamaan siswa di kelas VII pada SMP Negeri 2 Muerah Mulia Kabupaten Aceh Utara?.

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan siswa dengan menggunakan metode cooperative learning model STAD pada pembelajaran seni tari di kelas VII pada SMP Negeri 2 Muerah Mulia Kabupaten Aceh Utara.

D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan yang bermanfaat bagi : 1. Siswa, dengan Pembelajaran seni tari dengan menggunakan metode cooperative learning model STAD mampu menumbuhkan kebersamaan dan sikap demokratis yang tinggi, rasa tanggung jawab yang tinggi, kecerdasan dan wawasan yang luas terhadap seni budaya dan semangat belajar sehingga hasil belajar akan lebih bermanfaat. 2. Sekolah, hasil penelitian ini diharapkan mampu dijadikan sebagai dapat menjadi bahan acuan bagi sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran seni budaya.

BAB II LANDASAN TEORITIS

A. Metode Cooperative Learning Metode cooperative learning adalah suatu cara atau strategi dalam menyampaikan pelajaran yang mana siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang setiap kelompoknya terdiri dari empat atau enam siswa secara heterogen baik dilihat dari berbagai segi kemampuan maupun dari jenis kelaminnya. Tujuan dibentuknya kelompok adalah untuk memberikan kesempatan kepada semua siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berfikir dan kegiatan belajar. Agar kegiatan belajar terlaksana dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertannyaan atau tugas yang direncanakan untuk dikerjakan bersama-sama dengan teman sekelompoknya. Selama belajar siswa tetap tinggal dalam kelompoknya untuk beberapa kali pertemuan. Mereka diajarkan ketrampilan-ketrampilan khusus agar dapat bekerja sama dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar aktif, memberikan penjelasan kepada teman sekelompoknya, membantu teman sekelompoknya yang lemah dan sebagainya. Tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan materi yang di sajikan guru, dan mereka saling membantu di antara teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan materi tersebut. Apabila ada salah satu anggota kelompok yang belum menguasai materi pelajaran maka belajar kelompok itu dikatakan belum selesai. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ruskandi (2001:28) bahwa pengertian

cooperative yaitu mengerjakan sesuatu bersama-sama dengan saling membantu satu sama lain sebagai tim. Kerjasama dalam satu tim harus kompak untuk itu dibutuhkan kerja sama yang baik antar anggota kelompoknya agar tujuan dapat tercapai. Untuk dapat belajar bekerjasama dengan baik dibutuhkan hubungan sosial yang baik sehingga akan melahirkan sikap kebersamaan di antara kelompoknya. Seperti dikemukakan Ibrahim dkk dalam Trianto (2007:44) Pembelajaran ini mempunyai efek yang berarti terhadap keragaman ras, budaya, agama, strata sosial, kemampuan, dan ketidak mampuan. Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran cooperative dapat menyatukan perbedaan latar belakang dan ini merupakan bagian dari sikap kebersamaan. Menurut Eggen dan Kauchak dalam (Trianto,2007:42) Pembelajaran cooperative merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Jadi pembelajaran ini merupakan sebuah usaha untuk meningkatakan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Di samping itu juga pembelajaran cooperative ini dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berfikir kritis. Seperti apa yang dikemukakan oleh Trianto (2007:41) Pembelajaran cooperative muncul dari konsep bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka berdiskusi dengan temannya. Ini berarti bahwa siswa akan lebih berani dan terbuka apabila berdiskusi dengan teman sekelompoknya. Tidak menutup kemungkinan dalam satu kelompok ada yang tidak paham, untuk itu guru harus selalu mengupayakan agar siswa tetap aktif. Pembelajaran yang bernaung pada teori konstruktivis ini, muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah memecahkan masalah yang sulit jika mereka saling bekerja sama dengan temannya. Sesulit apapun siswa akan merasa lebih ringan untuk mengerjakannya dibandingkan mengerjakan sendiri karena potensi atau kemampuan temannya berbeda-beda. Agar tidak jenuh atau bosan dalam metode pembelajaran, model cooperative learning mempunyai beberapa model diantaranya model STAD, jigsaw, investigasi kelompok, berfikir berpasangan, dan penomoran berfikir bersama. Adapun model-model pembelajaran cooperative learning adalah sbb: 1. Model STAD (Student Team Achievement Division) Cara belajar kelompok dimana setiap kelompokmya beranggotakan 4-5 siswa yang kemudian bekerjasama untuk menyelesaikan persoalan kelompoknya secara bersama sama. Adapun pemilihan ketua dalam kelompok itu dipilih secara demokratis oleh peserta kelompoknya sendiri. 2. Model Tim Ahli (Jigsaw)

Cara belajar dimana setiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa yang masing-masing kelompok memiliki tim ahli-tim ahli dan tim ahli dari beberapa kelompok ini berkumpul untuk membahas permasalahan yang sama dan menyamakan pemahaman kemudia mereka kembali ke kelompoknya masing-masing dan mensosialisasikan hasil bahasannya kepada teman-teman sekelompoknya. 3. Model Investigasi Kelompok Siswa dibagi dalam kelompok kecil, kelompok ini dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban, persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih. Selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan seluruh siswa sekelasnya. 4. Model Think Pair Share ( TPS ) atau berpikir berpasangan Adalah jenis pembelajaran yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa, dimana siswa diberi suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pelajaran, dan siswa didorong untuk berfikir sendiri beberapa menit kemudian guru menyuruh siswa untuk mencari pasangan dan mendiskusikannya. Selanjutnya melanjutkan dari pasangan kepasangan sampai sekitar sebagian pasangan mendapat kesempatan untuk melaporkan. (Arends,1997) disadur (Tjokrodiharjo,2003). 5. Numbered Head Together ( NHT ) atau penomoran berfikir bersama Guru membagi siswa dalam setiap kelompok terdiri dari 3-5 siswa dan kepada setiap anggota kelompok diberi penomoran 1-5 .Kem udian guru memberi pertanyaan yang bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. Siswa menyatukan pandangan terhadap jawaban pertanyaan itu dan menyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim. Kemudian guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sama mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh teman-teman sekelasnya. Adapun yang nanti akan peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah model STAD (Student Team Achievement Division) karena kerjasama dalam model ini efektif dan model ini sering digunakan peneliti dalam mengajar hanya saja bentuknya konvensional yang mana siswa dibiarkan berdiskusi sendiri tanpa bimbingan yang insentif juga terkadang diskusi itu didominasi oleh seorang siswa saja dan siswa yang lain menyerahkan sepenuhnya kepada temannya. Dalam pembelajaran cooperative learning model STAD ini siswa dibagi dalam kelompok kecil yang satu kelompoknya beranggotakan empat atau lima orang siswa. Untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru, dalam pemilihan ketua ketua kelompoknya dibentuk oleh siswanya sendiri dan setiap siswa memiliki tugas masing-masing. Peran guru sebagai fasilitator saja dan selama siswa bekerja menyelesaikan tugas guru aktif membimbing.

B. Sikap Kebersamaan Siswa Sikap adalah persepsi atau tanggapan individu dari suatu pandangan atau pendapat yang diungkapkan melalui gerak tubuh atau mimik untuk melakukan langkah atau tindakan sebagai reaksi

terhadap suatu obyek Purwanto M. Ngalim (1990:141) Sikap adalah suatu perbuatan atau tingk ah laku sebagai reaksi atau respon terhadap suatu rangsangan atau stimulus yang disertai dengan pendirian dan perasaan orang itu. Adapun kebersamaan berasal dari kata sama atau tidak berbeda yang berarti tidak berlainan halnya, rupanya dan sebagainya; sama-sama, kedua-duanya, semuanya.; bersama-sama, serta, mengikuti. Awalan ke-an adalah pembentuk kata benda abstrak dari kata keadaan, kata kerja atau kata bilangan, jadi kata kebersamaan adalah tidak ada perpedaan yang di permasalahkan dari keberadaan setiap individu. Dengan pengertian lain, setiap individu menerima kekurangan dirinya sendiri juga dapat menerima kekurangan orang lain. Jadi siswa di sini dapat berinteraksi dan bekerjasama dengan temannya, baik yang memiliki latar belakang yang sama maupun latar belakang yang berbeda. Dalam kegiatan belajar penekanan terhadap sikap termasuk kedalam kelompok afektif. Sikapsikap tersebut diklafisikasikan dalam penerimaan, respon, nilai (value), organisasi dan pemeranan (characteris). Jadi sikap kebersamaan termasuk kelompok afektif, diantaranya saling membantu, menolong, bekerjasama, menghargai, berbagi,dan mampu berinteraksi atau penyesuaian dengan lingkungan. Sikap adalah bagian dari kepribadian yang menurut Gagne dan Beliner dalam (Sumantri Mulyani dan Syaodih Nana, 2006:4.27) menyatakan bahwa Personality is the integration of all of a persons traits, abilit ies, motives as well as his or her temperament, attitudes, opinions, beliefs, emotional responses, cognitive styles, character, and moral. Kepribadian merupakan keterpaduan seluruh ciri-ciri individu, kemampuan motivasi sebagaimana ditampilkan dalam temperamen, sikap, pendapat, keyakinan, respon emosional, gaya kognitif, karakter, dan moral. Selanjutnya Nurkancana Wayan dan Sunartana (1986:276) engemukakan bahwa : Sikap yang diambil oleh seseorang didasarkan atas nilai-nilai tertentu yang didukungnya. Guru perlu mengetahui nilai-nilai tertentu yang ada pada anak, dan perlu mengetahui bagaimana sikap anak terhadap dunia sekitarnya khususnya sekolah. Apabila ada anak yang mempunyai sikap negatif terhadap sekolah, maka guru perlu mencari cara-cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif pada anak sehingga sikap negatif akan berkembang menjadi sikap positif.

Sehubungan dengan hal di atas peneliti akan mencoba menerapkan metode cooperative learning untuk menumbuhkan sikap kebersamaan dalam pembelajaran seni budaya. Kata pembelajaran menurut Gagne Briggs dan Wager (1992:3) adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar. dan kata belajar menurut Witherington (1952:1965). Belajar merupakan Change in personality, manifeshing it self as new pattern of respond which my by skill, an attitude, a habit, an ability, on under standing. Belajar merupakan perubahan kepribadian yang dimanifestasikan dalam pola-pola respon yang berupa ketrampilan sikap, kebiasaan, pengetahuan atau pemahaman. Itu berarti bahwa hasil belajar melibatkan seluruh aspek kepribadian baik aspek kognitif, afektif, maupun spikomotornya.

C. Pembelajaran seni budaya Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa hasil dari pembelajaran adalah adanya perubahan sikap pada diri individu. Hal ini berarti dalam pembelajaran seni budaya harus ada perubahan sikap yang diharapkan pada siswa untuk dapat mengenali dan memahami makna yang terkandung di dalam seni budaya daerahnya. Di dalam pelajaran seni budaya ada empat cabang seni yang bisa dipelajari di antaranya seni tari, seni musik, seni rupa, dan seni drama. Tetapi pada kesempatan ini peneliti akan lebih menekankan kepada bagaimana pembelajaran cooperative learning mampu meningkatkan sikap kebersamaan dalam pembelajaran seni budaya khususnya dalam seni tari. John Dewey dan Herberrt Thelan dalam (Trianto,2007:45) menyatakan bahwa tingkah laku cooperative dipandang sebagai dasar demokrasi, dan sekolah dipandang sebagai labotarium untuk mengembangkan tingkah laku demokrasi. Untuk itu dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah harus mencerminkan demokrasi. Dalam kegiatan pembelajaran ini ada interaksi antara guru dan siswa yang saling berhubungan dalam pengembangan aspek prilakunya dan juga dalam mengembangkan kegiatan yang satu dengan yang lainnya, hal ini merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang aktif. Dari pendapat di atas, sekali lagi peneliti meyakini bahwa melalui pembelajaran cooperative learning dalam pembelajaran seni budaya dapat meningkatkan kebersamaan yang kuat diantara mereka. Belajar secara kelompok atau belajar bekerjasama dalam satu tim akan mempermudah dalam pencapaian tujuan baik bagi siswanya maupun gurunya sendiri. Dalam belajar tidak hanya merupakan kegiatan yang bersifat menambah ilmu pengetahuan saja tetapi di dalamnya harus ada perubahan sikap atau tingkah laku. Dengan demikian pembelajaran cooperative learning di dalamnya tersirat tentang pembelajaran nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan Na Ayudhya Art-ong Jumsai. (2009 :27) bahwa: Tujuan dari model pembelajaran nilai-nilai terpadu adalah untuk menolong siswa mencapai keunggulan manusiawi atau human excellence, bukan pada dimensi fisik dan mental tetapi juga dimensi rohani. Para murid akan mempunyai karakter yang baik dan memiliki nilai-nilai kemanusiaan yakni kebenaran, kebajikan, kedamaian, kasih sayang dan tanpa kekerasan.

Jadi melalui pembelajaran cooperative learning dalam pembelajaran seni budaya siswa belajar untuk bisa berdampingan dengan teman sebayanya baik di sekolah maupun di luar sekolah dalam melakukan kegiatan-kegiatan belajar. Beberapa pandangan yang mengemukakan pengertian belajar di antaranya Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. (Tabrani, 1994:70) dan Belajar mer upakan proses pertumbuhan yang dihasilkan oleh hubungan berkondisi antara stimulus dan respons (Surakhmad,1984:65). Dengan adanya perubahan tingkah laku yang lebih

baik ini akan mampu memberikan sumbangan pada pembangunan bangsa. Melalui pembelajaran seni budaya dapat dijadikan alat atau media untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, menjadikan manusia berbudaya dan memiliki keseimbangan akal pikiran dan perasaan. Sesuai dengan pendapat Kamaril (2001:1) dalam makalahnya mengajukan konsep, bahwa; Peran pendidikan seni yang bersifat multidimensional, multilingual, dan multicultural pada dasarnya dapat dimanfaatkan untuk pembentukan kepribadian manusia secara utuh. Sekaitan dengan kutipan di atas, kiranya pendidikan seni memiliki peran untuk nenumbuhkembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa. Seperti fisik, perseptual, daya pikir emosional, kreativitas, sosial dan etika. Dengan menggunakan metode cooperative learning, banyak sekali temuan-temuan yang mereka dapatkan baik kepribadiannya, wawasannya, latar belakangnya, atau keberaniannya yang dijadikan sebagai pembelajaran untuk bisa belajar bekerja sama, saling memahami, saling membantu untuk menjadi kelompok belajar yang terbaik. Dalam hal ini yang menjadi permasalahan adalah bagaimana caranya untuk menciptakan dan mengatur suasana yang memungkinkan siswa melakukan kegiatan-kegiatan belajar, sehingga akan lahir sikap kebersamaan, saling menghargai, saling membantu, saling menerima kekurangan diri atau orang lain dan kompak untuk membuat pagelaran tari di kelas sebagai wujud dari kerja sama yang baik dan bukan pagelaran saja pameran kelas juga bisa dilaksanakan bersama-sama dalam satu kelas dan satu waktu. Untuk itu perlu adanya persiapan dalam mengajar agar suasana belajar yang diharapkan dapat tercapai, karena tidak semua siswa berminat pada satu cabang seni yang sama. Begitu juga kemampuan siswa dalam belajar berbeda beda. Ada yang mampu belajar melalui penglihatan atau pengamatan, melalui pendengaran, membaca, ada juga mampu belajar apabila melakukan eksperimen sendiri. Dalam hal ini siswa dituntut untuk mampu berkarya tetapi tidak semua siswa mampu membuat sebuah karya seni karena kemampuan dan bakat siswa yang berbeda. Ada siswa yang mampu menari, menyanyi, main musik, berakting, membuat karya seni rupa tetapi ada juga yang hanya mampu menjadi apresiator aktif, mengemukakan pendapat dalam hal ini adalah mampu mengamati karya seni yang dituangkan baik melalui tulisan maupun lisan. Untuk itu peneliti mencoba memberi materi ini secara terpadu yang mana dalam pembelajarannya mampu menampung semua kemampuan siswa, sehingga siswa dalam belajar merasa tidak dipaksakan. Dalam penelitian ini peneliti mengambil pelajaran seni tari sebagai bahan penelitiannya karena menurut peneliti seni tari sangat kental dengan kerja sama dan hubungan sosial dalam kelompoknya sangat terlihat jelas.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian 1.

Waktu Penelitian
Tempat penulis melaksanakan penelitian ini adalah SMP Negeri 2 Muerah Mulia Kecamatan Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara. Lokasi ini dipilih sebagai tempat penelitian karena di lokasi tersebut peneliti merupakan guru pengajar mata pelajaran seni rupa di kelas VII.

2. Waktu Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2010/2011 dalam waktu 3 bulan mulai bulan April sampai Juni 2010. 3. Subjek Penelitian Dalam penelitian ini subjek yang digunakan adalah seluruh siswa kelas VII3 SMP Negeri 2 Meurah Mulia Kabupaten Aceh Utara tahun pelajaran 2010/2011, yang berjumlah 32 siswa terdiri dari 16 siswa putra dan 16 siswa putri. Mengingat populasi yang jumlahnya tidak terlalu banyak, maka dalam penelitian ini tidak mengambil sampel sebagai wakil dari populasi, namun peneliti menjadikan seluruh siswa kelas VII3 SMP Negeri 2 Meurah Mulia sebagai subjek penelitian.

B. Data Dan Sumber Data Data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil observasi, catatan lapangan, dan tes yang dilakukan terhadap siswa kelas VII3 SMP Negeri 2 Meurah Mulia berkaitan dengan pemahaman peserta didik mengenai mata pelajaran seni budaya setelah digunakan metode cooperative learning model STAS. Sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VII3 SMP Negeri 2 Muerah Mulia.

C. Prosedur Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas ada ini ada empat tahapan yang perlu diperhatikan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi seperti yang dikemukaakan Lewin, Kemmis dan Mc. Taggart dalam Zuriah Nurul (2003:73) mengemukakan penelitian tindakan dipandang sebagai suatu siklus spiral terdiri atas komponen perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti dengan siklus-siklus spiral berikutnya.

Adapun prosedur penelitian adalah sebagai berikut : 1. Perencanaan Dalam rencana tindakan peneliti menetapkan desain pembelajaran dengan menggunakan metode cooperative learning dengan model STAD. Menyusun strategi penyampaian dan pengelolaan pembelajaran yang merupakan bahan intervensi yang meliputi merancang dan menyusun bahan ajar, merancang rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan merancang evaluasi. Menyusun metode dan alat pengambil data yang terdiri dari pedoman observasi. Menyusun perencanaan teknik pengelolaan data yang didasarkan pada model analisis data kualitatif. 2. Pelaksanaan Peneliti melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan RPP sambil mengamati dan mencatat semua data yang diperlukan yang telah tertulis dalam pedoman penelitian. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengenali, mendokumentasikan semua unsur (baik proses maupun hasil) perubahan-perubahan yang terjadi baik sebagai akibat dari tindakan maupun sebagai efek sampingnya. Guru menyampaikan tujuan pelajaran yang ingin dicapai setiap kelompoknya dan memotivasi siswa untuk selalu bekerja dalam satu tim agar mampu bersaing dengan kelompok lain. Untuk siklus pertama pada pertemuan pertama dan kedua siswa dibagi dalam kelompok kecil yaitu 4-5 orang secara heterogen baik dari segi kemampuan maupun jenis kelaminnya. Setiap diakhir pertemuan siswa presentasi atau mendemonstrasikan hasil kerjasamanya. Apabila dalam siklus pertama masih belum mencapai tujuan maka peneliti akan memperbaiki kembali pada siklus-siklus berikutnya yang dibagi dalam dalam beberapa pertemuan hingga diperoleh hasil sesuai dengan yang diharapkan. 3. Pengamatan (Observing); Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan format-format pengamatan yang telah dibuat sebelumnya. Pengamatan dalam penelitian ini dilakukan oleh guru yang melaksanakan PTK untuk mengamati apa yang dilakukan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung, mencatat kebersamaan siswa dalam pembelajaran seni budaya melalui pembelajaran seni tari dan pengamatan juga dilakukan oleh guru lain yang sama-sama mengajar pelajaran seni budaya untuk mengamati apa saja yang dilakukan guru dan bagaimana proses pembelajaranmnya sesuai tidak dengan apa yang tertulis dalam RPP. 4. Refleksi (Reflecting); Kagiatan ini dikenal dengan peristiwa perenungan. Peneliti mengingat kembali kejadian-kejadian apa saja yang terjadi ketika tindakan berlangsung, dan seluruh siswa diaktifkan dalam kegiatan ini, yaitu diajak untuk mengingat kembali peristiwa atau kejadian yang telah terjadi disaat pembelajaran berlangsung pada waktu itu, dan meminta pendapat apa saja yang dirasakan pada proses berlangsungnya pembelajaran tersebut. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki siklus selanjutnya, dan

dalam kegiatan ini guru mengevaluasi apakah tindakan yang telah dilakukan itu sudah sesuai dengan perencanaan atau belum dan menganalisis temuan-temuan yang ada pada waktu itu. Keempat tahapan tersebut merupakan unsur yang membentuk sebuah siklus dan hasil dari siklus tersebut dibuat laporan sebagai kesimpulan dari hasil siklus pertama untuk dibuat siklus keduanya yang merupakan perbaikan dari hasil siklus pertama.

D. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan bentuk penelitian, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Observasi Peneliti mencatat semua informasi yang berkaitan dengan masalah yang diajukan dengan mencatat bentuk tingkah laku siswa, seperti mencatat bagaimana siswa merespon pelajaran seni budaya dengan metode cooperative learning,mencatat perkembangan sikap siswa selama pembelajaran seni budaya dilaksanakan, dan mencatat kegiatan guru. Observasi yang peneliti pilih adalah observasi berstruktur yaitu variabel tingkah laku atau sikap yang akan diteliti ditulis dalam sebuah daftar yang nanti akan diisi dengan membubuhkan tanda cek list (V) pada daftar yang telah disediakan dan mencatat frekwensi pada pedoman observasi. Adapun pedoman observasi yang digunakan adalah sebagai berikut :

Tabel 3.4 Pedoman Observasi Kebersamaan Siswa Dalam Pembelajaran Seni Tari Frekuensi No Indikator BS 1 2 3 Saling membantu dan menolong. Saling bekerjasama Saling menghargai B C K KS

4 5

Saling berbagi Berbaur dengan teman sekelompoknya. Jumlah skor Skor maksimum % Pencapaian Kriteria keberhasilan

Keterangan indikator : 1. Saling membantu atau menolong : Membantu temannya memakaikan properti tari. Membantu temannya yang belum mengusai gerak tari

2. Saling bekerjasama : Diskusi dalam pembagian tugas kelompok untuk penampilan tari. Menanggapi ide atau pertannyaan teman tentang gerak tari yang belum dikuasai dan mendiskusikannya.

3. Saling menghargai : Menghargai atau memberi pujian pada kelompok lain yang sedang mendemonstrasikan hasil latihan menari. Menanggapi atau memberi pujian pada teman sekelompoknya atas temuan-temuan gerak tari

4. Saling berbagi : Saling mengajarkan gerak tari yang belum dikuasai Memberi kesempatan pada temannya untuk mengemukakan pendapat, ide, atau mendemonstrasikan gerakan tari yang ditemukannya.

5. Berbaur dengan teman sekelompoknya : Memberi jawaban atas pertannyaan temannya. Memberi bantuan pada teman yang meminta bantuan Menanyakan kepada teman atas persoalan yang belum dimengerti tentang tari.

Keterangan : BS : Baik sekali (skor 5) B C K : Baik (skor 4) : Cukup (skor 3) : Kurang (skor 2)

KS : Kurang sekali (skor 1)

2. Catatan Lapangan Catatan lapangan adalah tulisan tentang kejadian-kejadian selama proses pembelajaran berlangsung, berguna untuk pengumpulan data dalam penelitian kualitatif.

E. Teknik Analisis Data Teknik ini merupakan bagian yang penting dalam sebuah penelitian. Hal ini dilakukan untuk menguji kebenaran informasi dan memberi gambaran yang jelas akan sebuah penelitian. Untuk mengukur sikap kebersamaan siswa dalam pembelajaran seni budaya dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif di dapatkan dari hasil observasi sedangkan kualitatif digunakan untuk mendeskripasikan hasil pengamatan dalam proses belajar mengajar. Tes yang dipakai dalam tes sikap ini menggunakan skala sikap model likert. Zuriah Nurul (2001:140) Dalam skala sikap obyek sosial berlaku sebagai obyek sikap. Skala sikap berisi pernyataan-pernyataan sikap (attitude statement). Pernyataan sikap terdiri atas dua macam yaitu pernyataan favorabel (mendukung atau memihak pada obyek sikap) dan pernyataanyang tidak favorable (tidak mendukung obyek sikap). Kriteria penskorannya : Dikatakan baik sekali Dikatakan baik =5 =4 Dikatakan cukup =3

Dikatakan kurang = 2

Dikatakan kurang sekali = 1 (Sumber : Ridwan, 2004:87-88) Kriteria Interprestasi skor

0% - 20% = Sangat lemah 21% - 40% = Lemah

41% - 60% = Cukup 61% - 80% = Kuat 81% - 100% = Sangat kuat

Adapun data kuantitatif dengan persentase digunakan untuk menjelaskan data-data kualitatif. P = Fo/N X 100 Keterangan : Fo N : Jumlah siswa : Frekuensi observer yang memilih alternative

100 : Bilangan tetap P : Persentase yang dicari

PENGGUNAAN METODE COOPERATIVE LEARNING MODEL STAD DAPAT MENINGKATKAN KEBERSAMAAN SISWA PADA PEMBELAJARAN SENI TARI DI KELAS VII PADA SMP NEGERI 2 MUERAH MULIA KABUPATEN ACEH UTARA Diposkan oleh marzuki syuhada on Senin, 17 September 2012

(Sumber : Nana Sujana, 1989 : 130-131) Label: karya ilmiah kooperatif learning, metode, metode kooperative learning, penggunaan, penggunaan metode

PELAJARAN SENI TARI MENGGUNAKAN METODE TUTOR SEBAYA BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, tata krama, pergaulan, kesenian, bahasa, keindahan alam dan ketrampilan lokal yang merupakan ciri khas suatu suku bangsa. Keanekaragaman tersebut memperindah dan memperkaya nilai-nilai kehidupan bangsa

Indonesia. Oleh karena itu, keanekaragaman tersebut perlu diusahakan pengembangan dan pelestariannya dengan tetap mempertahankannya melalui upaya pendidikan. Pengenalan keadaan lingkungan alam sosial dan budaya kepada peserta didik di sekolah memberikan kemungkinan besar untuk akrab dengan lingkungan dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungan serta dapat menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu Kanwil Propinsi Bali bekerja terus untuk menggali potensi daerah Bali yang dijadikan identitas daerah dalam wujud muatan lokal didalam pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Di dalam tahun pelajaran 2007/2008 kurikulum berbasis kompetensi untuk pelajaran muatan lokal di SMP Negeri 2 Xxx dipilih seni tari khususnya tari Bali sebagai bahan kajian pilihan yang diterapkan kepada semua siswa dari kelas VII sampai kelas IX sesuai dengan sarana dan pengajaran yang tersedia. Jumlah waktu efektifnya 2 jam pelajaran tiap minggu. Pelajaran seni tari Bali sebagai muatan lokal pilihan diberikan kepada semua siswa. Dimana muatan lokal yaitu bahan kajian dan pelajarannya ditetapkan di Daerah dan disesuaikan dengan lingkungan, sosial budaya serta kehidupan Daerah (Depdikbud, 1994:1). Di pilihnya tari Bali sebagai muatan lokal pilihan yang wajib diikuti oleh semua siswa SMP Negeri 2 Xxx dikarenakan guru yang mengajar Tari Bali ada 4 orang, sedangkan guru yang berkompeten dibidang seni yang lain tidak ada. Seni tari Bali diberikan secara klasikal yang lebih banyak praktek dibandingkan dengan teori. Karena semua siswa wajib mengikuti mata pelajaran tersebut, maka dalam satu kelas sudah tentu ada siswa yang tidak mempunyai bakat dan minat harus ikut dalam pelajaran tersebut untuk mendapat nilai raport. Mutu pendidikan khususnya pendidikan seni tari Bali, tentunya tidak bisa lepas dari tiga faktor, yaitu sekolah sebagai tempat terlaksananya pendidikan, guru sebagai pelaksana dan siswa sebagai peserta pendidikan. Ketiga faktor tersebut menjadi kurang berarti meskipun sudah disiapkan dengan baik, jika penyampaian materi pelajaran guru menggunakan metoda atau cara yang kurang tepat. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka pada setiap akhir program pembelajaran dilakukan evaluasi. Salah satu hasil evaluasi tersebut adalah prestasi belajar seni tari siswa. Namun dewasa ini prestasi belajar yang diperoleh siswa terutama dalam mata pelajaran seni tari khususnya di SMP Negeri 2 Xxx masih tergolong rendah. Berdasarkan pengalaman peneliti sebagai guru di SMP Negeri 2 Xxx, ditemukan bahwa pengajaran lebih banyak di lakukan dengan metode demontrasi dan imitasi dari guru pengajar sehingga menyebabkan siswa merasa bosan dan tidak kreatif. Selama ini peneliti juga mengamati siswa kelas VIII D tahun pelajaran 2007/2008 pada waktu kelas VII, memiliki nilai rata-rata pelajaran seni tari paling rendah di bandingkan dengan kelas paralel yang lain. Disamping itu aktivitas siswanya sangat pasif, yaitu tidak ada kreativitas siswa untuk memahami materi yang diberikan. Berbagai metoda pembelajaran telah sering digunakan seperti diskusi, demonstrasi, tanya jawab dan lain-lain. Penerapan metoda pembelajaran seperti itu kemungkinan belum dapat mencapai tujuan yang diharapkan, hal ini disebabkan karena kemampuan guru, keadaan siswa dan fasilitas/sarana yang belum memadai. Terbukti jika proses belajar berlangsung sering siswa yang sudah mahir merasa jenuh dan bosan. Maka dari itu perlu ada usaha lain yang dilakukan oleh guru agar proses pembelajaran berlangsung baik dengan menerapkan tutor sebaya dalam proses pembelajaran. Implementasi tutor sebaya dalam pembelajaran seni tari Bali diharapkan memberikan situasi belajar yang lebih leluasa bagi siswa untuk berkreasi dan berkreativitas, lebih percaya diri dan menimbulkan keberanian pada siswa karena di dalam mentransfer pengetahuan didapat dari

teman sendiri. Dalam situasi seperti itu akan dapat menciptakan proses belajar yang lebih baik, sehingga diharapkan meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar seni tari Bali.

2. Identifikasi Masalah.

Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini dapat di identifikasi masalah masalah tersebut yaitu :

Kurikulum pendidikan sering berganti. Letak geografis sekolah yang berbukit. Dukungan dari orang tua siswa masih kurang. Antusias siswa mengikuti pelajaran sangat rendah. Metode mengajar masih bersumber pada guru saja. In put siswa terutama dalam bidang seni tari Bali sangat kurang. Sarana dan prasarana di sekolah belum memadai dengan mata pelajaran tari Bali. Kemampuan, minat dan bakat siswa dalam bidang seni tari Bali berbeda-beda.

Dengan teridentipikasinya masalah-masalah tersebut, maka salah satu diantaranya dipilih metoda tutor sebaya dalam proses pembelajaran. 3. Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut : 1. Apakah Implementasi tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx. 2. Apakah Implementasi tutor sebaya dapat meningkatkan prestasi belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx. 3. Bagaimana respon siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx terhadap Implementasi tutor sebaya.

4. Tujuan Penelitian Bertolak dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai sehubungan deangan tindakan yang akan diberikan adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dalam proses belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx melalui Implementasi tutor sebaya. 2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar tari puspawresti pada siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx melalui Implementasi tutor sebaya.

3. Untuk mengetahui respon siswa kelas VIII D semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx terhadap Implementasi tutor sebaya.

5. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut : 1. Bagi siswa dengan proses pembelajaran yang menggunakan teman sendiri sebagai tutor akan memberikan kesempatan yang leluasa pada siswa untuk bertanya, mentransfer dan menyerap materi pelajaran sehingga dapat membantu siswa untuk menguasai tari puspawresti. 2. Bagi guru hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman dan bahan pertimbangan dalam mencari metoda pembelajaran untuk menciptakan suasana kelas yang kondusif dan efektif dalam proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan terutama dalam bidang seni tari Bali dengan menerapkan tutor sebaya. 3. Bagi peneliti, melalui penelitian ini peneliti memperoleh wawasan dan pengalaman dalam merancang serta menerapkan pembelajaran dengan memanfaatkan tutor sebaya. 4. Bagi sekolah, bila dalam PTK ini ada pengaruh yang efektip untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terutama dalam bidang pelajaran seni tari Bali, maka diharapkan agar guruguru yang lain termotivasi untuk menggunakan metode tutor sebaya dalam pembelajaran.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Beberapa teori yang digunakan sebagai landasan berpikir untuk menjawab permasalahan yang diajukan adalah: Seni tari, prestasi belajar, model pembelajaran, tutor sebaya.

1. Seni Tari Seni tari terdiri dari dua kata yaitu seni dan tari. Seni merupakan segala perbuatan manusia yang timbul dari perasaanya dan bersifat indah. Dalam buku Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan bahwa seni yaitu : Kecakapan batin (akal) yang luar biasa yang dapat mengadakan atau menciptakan sesuatu yang luar biasa. ( Poerwadarminta, 1976:917). Sedangkan tari dinyatakan bahwa: Gerakan badan, tangan, dsb, yang berirama dan biasanya diiringi oleh bunyi-bunyian seperti musik, gambelan. (Poerwadarminta, 1976:1020). Ada beberapa pengertian seni tari dari berbagai ahli tari yaitu : pertama, seni tari adalah: Ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerak gerak ritmis yang indah. (Soedarsono, 1972:4). Kedua Seni tari adalah: Ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap. (Wardhana, 1990:8). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seni tari adalah Ekspresi jiwa

manusia yang diwujudkan melalui gerak ritmis yang indah dari keseluruhan tubuh yang ditata dengan irama lagu pengiring sesuai dengan lambang, watak dan tema tari. Pada awalnya seni tari khususnya tari Bali merupakan tarian untuk kepentingan upacara agama hindu, tapi dalam perkembangan selanjutnya banyak berubah fungsi. Adapun fungsi tari Bali yaitu: 1. Tari Wali yaitu tari yang dilakukan di pura dan ditempat-tempat yang ada hubungannya dengan upacara keagamaan. (Artika, 1989:22). 2. Tari Bebali yaitu tari yang berfungsi sebagai pengiring upacara di pura-pura atau di luar pura. (Artika, 1989:22). 3. Tari Balih-balihan yaitu segala tari yang mempunyai unsur-unsur dan dasar seni tari yang luhur dapat dipentaskan sewaktu-waktu, baik sehubungan dengan upacara adat maupun agama. (Artika, 1989:23). Dalam penyajian seni tari, yang harus diperhatikan adalah peraturan dan norma tari Bali yang sangat penting artinya untuk mencapai penampilan yang sempurna. Istilah yang dipergunakan untuk menjelaskan peraturan dan norma di atas adalah TRI WI yaitu: 1. Wiraga adalah seorang penari Bali harus menguasai perbendaharaan gerak tari yang berhubungan dengan postur tubuh penari dan gerak yang dipertunjukkan. 2. Wirama adalah penari harus mengerti tentang musik, melodi, ritme, dan tempo dikuasai dalam pertunjukan. 3. Wirasa adalah rasa atau perasaan yang berkaitan dengan gerak tubuh dan perasaan, yaitu kemampuan penari mengungkapkan rasa sedih, gembira, lucu, takut yang merupakan perpaduan antara mimik dan panto mimik. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seni tari Bali berguna untuk melatih, mengembangkan potensi, bakat seni dan mendorong kreativitas untuk dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari hari baik untuk diri sendiri maupun untuk lingkungan. Untuk itu seni tari Bali yang diberikan di kelas VIII semester ganjil SMP Negeri 2 Xxx adalah tari puspa wresti. Tari Puspawresti berasal dari kata Puspa dan Wresti. Puspa artinya bunga, Wresti artinya persembahan. Jadi tari Puspawresti yaitu tari persembahan bunga yang ditujukan pada para tamu. Ditinjau dari segi fungsi Tari Puspawresti berguna untuk menyambut tamu yang sedang berkunjung kesuatu Daerah Tari Puspawresti lebih mudah dipelajari karena gerak-gerak dasarnya tidak rumit. Tari puspawresti disajikan secara kelompok.

2. Prestasi Belajar

Salah satu tugas dari guru adalah mengadakan suatu proses evaluasi. Evaluasi bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa, salah satunya adalah prestasi belajar siswa. Imformasi ini sangat berguna untuk memperjelas sasaran dalam pembelajaran. Prestasi belajar adalah suatu kemampuan aktual yang dapat diukur secara langsung dengan tes. Prestasi belajar adalah prestasi yang diperoleh disekolah dan di luar sekolah. Prestasi

belajar di sekolah adalah hasil yang diperoleh anak-anak berupa nilai mata pelajaran: (Sunartana, 1997:55). Menurut Bloom (1971:7) Prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga ranah yaitu: kognetif, afektif, dan psikomotor. Gambaran prestasi belajar siswa dapat dinyatakan dengan angka dari 0 sampai dengan 10 (Arikunto, 1998:62). Disamping itu prestasi belajar dapat dioperasikan dalam bentuk indikator- indikator berupa nilai raport, angka kelulusan dan predikat keberhasilan (Saifudin Azwar, 1996:44). Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah : kemampuan aktual yang dapat diukur setelah mengalami proses belajar praktek tentang pengetahuan dan ketrampilan tertentu, nilai-nilai yang dicapai oleh siswa sebagai hasil dari proses belajar di sekolah. Hasil yang diperoleh siswa dalam satu mata pelajaran dinyatakan dalam bentuk nilai yang disebut dengan prestasi belajar.

3. Model Pembelajaran

Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan yang menyeluruh. Misalnya, problem-based model of instruction (model pembelajaran berdasarkan permasalahan) yang meliputi kelompok kecil, siswa bekerja sama memecahkan masalah yang telah disepakati. Model pembelajaran ini dapat menggunakan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural, seperti merumuskan masalah, mengemukakan pertanyaan, melakukan penelitian, berdiskusi, menciptakan karya seni dan melakukan presentasi. Model pembelajaran berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting dalam mengajar di kelas, praktek atau mengawasi anak-anak. Penggunaan model pembelajaran tertentu memungkinkan guru dapat mencapai tujuan pembelajaran tertentu dan bukan tujuan pembelajaran yang lain (Wasis, 2002:1