Anda di halaman 1dari 7

PENGARUH JENIS PELARUT DAN METODE EKSTRAKSI DAUN JATI BELANDA ( Guazuma ulmifolia Lam.

) TERHADAP PENURUNAN BOBOT BADAN MENCIT JANTAN Susilawati 1, Moerfiah1, dan Eddy Sapto Hartanto 2 Program Studi Farmasi, FMIPA, Universitas Pakuan, 2 Balai Besar Industri Agro

ABSTRAK
Jati Belanda ( Guazuma ulmifolia Lam.) telah lama digunakan sebagai antiobesitas dan antihiperlipidemia. Untuk mendapatkan suatu material obat dengan suatu effektivas yang baik dibuat suatu ekstrak yang diperoleh dengan berbagai macam cara m etode ekstraksi dan jenis pelarut. Penelitian ini melakukan percobaan ekstraksi bahan aktif daun jati belanda dengan perlakuan metode maserasi dan refluks menggunakan jenis pelarut air, etanol 50%, dan etanol 95%. Ekstrak di uji menggunakan mencit jantan g alur DDY dengan berat badan antara 15 -25 g sebanyak 35 ekor. Hewan coba dibagi menjadi 7 kelompok yang diperlakukan sebagai berikut : kelompok I diberikan ekstrak daun jati belanda metode maserasi dengan pelarut air, kelompok II diberikan ekstrak daun jati belanda metode maserasi dengan pelarut etanol 50%, dan kelompok III diberikan ekstrak daun jati belanda metode maserasi dengan pelarut etanol 95%, kelompok IV diberikan ekstrak daun jati belanda metode refluks dengan pelarut air, kelompok V diberikan ekstrak daun jati belanda metode refluks dengan pelarut etanol 50%, dan kelompok VI diberikan ekstrak daun jati belanda metode refluks dengan pelarut etanol 95% yang masing -masing kelompok diberikan ekstrak sebanyak 1,4 mg/ 20 g bb/hari selama 3 minggu, sedang kan kelompok VII sebagai kontrol hanya diberi air suling selama 3 minggu. Pada minggu 0, 1, 2, dan ke 3 setelah perlakuan ditimbang bobot badan dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Data yang dihasilkan dianalisa dengan menggunakan program software SAS ( Statistical Analyze System ) pola Faktorial 2x3 untuk perlakuan yang masing -masing diulang sebanyak 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun jati belanda ( Guazuma ulmifolia Lam.) mempengaruhi penurunan bobot badan pada mencit jantan dan perbedaan penurunannya mempunyai pengaruh yang tidak nyata. Kata Kunci : Daun Jati Belanda; pelarut; ekstraksi; bobot badan

PENDAHULUAN Sejak dahulu di Indonesia telah ada ilmu pengobatan asli atau pengobatan tradisional dengan menggunakan bahan-bahan baku alami, salah satunya dari tanaman. Penelitian terhadap tanaman di Indonesia menunjukkan banyak tanaman memiliki khasiat sebagai obat diantaranya adalah tanaman Jati belanda yang merupakan salah satu tanaman obat yang sejak dahulu digunakan sebagai baha n ramuan untuk mengobati penyakit yang diderita masyarakat. Secara empirik jati belanda oleh sebagian masyarakat digunakan untuk menurunkan bobot badan.

Menjadi langsing adalah idaman hampir semua perempuan. Ini tidak lepas dari pandangan sistem masyarakat patriarkal bahwa perempuan cantik identik langsing. Alasan lain yang menyebabkan orang ingin menurunkan bobot badan adalah kebugaran dan kesehatan. Adanya perubahan metabolisme tubuh tak jarang menyebabkan naiknya bobot badan dan bila tidak dikendalikan d apat menyebabkan obesitas. Obesitas adalah kelebihan bobot badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Berbagai

penyakit dapat timbul akibat kegemukan. Mengatasi masalah kegemukan sebenarnya tidak terlalu sulit, asal ditunjang dengan olahraga teratur, diet seimbang serta mencoba resep tradisional dari tumbuh -tumbuhan di sekitar kita di antaranya adalah daun jati belanda. Banyak produk jamu di Indonesia mengandung daun jati belanda yang ditujukan untuk mengurangi bobot badan. Jamu yang memakai daun jati belanda diantaranya jamu galian singset, jamu citra wanita, jamu ideal, jamu patmosari, dan lain-lain (Anonim, 2004). Tanaman jati belanda ( Guazuma ulmifolia Lam.) merupakan tumbuhan obat yang memiliki khasiat khas untuk membantu mengurangi bobot badan (pelangsing). Tanaman jati belanda banyak tumbuh secara liar di wilayah tropis lainnya seperti di Indonesia khususnya di pulau Jawa, ditanam sebagai pohon peneduh, berupa pohon atau semak. Daun jati belanda dipercaya bisa meluruhkan lemak (pelangsing) dan menurunkan kadar kolesterol dalam darah (Anonim, 2004). Beberapa hasil penelitian telah dilakukan untuk mengetahui efektivitas penggunaan jati belanda untuk pengobatan. Penelitian terdahulu menyimpulkan bahwa lendir daun jati belanda dapat menghambat pertambahan bobot badan tikus (Rahardjo, 2001). Selain itu ekstrak etanol daun jati belanda dapat pula untuk menurunkan kadar kolesterol darah kelinci (Rahardjo, 2001). Penelitian lain yang juga sudah dilakukan menunjukkan bahwa seduhan daun jati belanda yang diperiksa dengan kromatografi lapis tipis dan reaksi warna serta reaksi pengendapan menunjukkan adanya senyawa golongan triterpen/sterol, alkaloida, karotenoid, tanin dan asam fenol. Identifikasi dengan kromatografi lapis tipis menunjukkan adanya senyawa karbohidrat (Jeniwati, 1984, dalam

Depkes RI, 1989). Meskipun demikian, masih diperlukan pembuktian secara ilmiah untuk mengetahui efektivitas dari sediaan daun jati belanda, maka dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jenis pelar ut dan cara ekstraksi daun jati belanda terhadap penurunan bobot badan mencit ( Mus musculus) jantan.

BAHAN DAN METODE A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : daun jati belanda, pelarut air, etanol 50%, etanol 95%, dan hewan uji mencit jantan galur DDY berumur 2-3 bulan dengan berat badan 15-25 g sebanyak 35 ekor, serta pakan berupa pellet. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : timbangan elektronik, kandang mencit, perangkat penghancur, perangkat ekstraksi, penangas air, dispossible syringe, sonde lambung, dan rotary evaporator. B. Persiapan hewan coba Sebanyak 35 ekor hewan uji mencit (Mus musculus) jantan galur DDY berumur 2-3 bulan dengan berat badan 15-25 g diaklimatisasi selama 30 hari dalam kandangnya masing-masing. Hewan coba dikelompokkan secara acak menjadi 7 kelompok masing -masing terdiri atas 5 ekor. Masa aklimatisasi dilakukan untuk penyesuaian lingkungan dan sekaligus untuk masa penggemukan hewan coba dengan pemberian pakan yang tidak dibatasi jumlahnya. C. Pengujian Ekstrak Pemberian sampel uji berupa ekstrak daun Jati Belanda dengan beberapa metode ekstraksi (maserasi dan refluks) dan jenis pelarut (air, etanol 50%, dan etanol 95%) pada hewan coba mencit jantan yang telah digemukkan

terlebih dahulu dilakukan secara peroral dengan dosis 1,4 mg/20 g bb/hari selama 3 minggu. Sampel uji diberikan dalam 6 variasi ekstrak daun Jati Belanda, yaitu : Kelompok I : metode maserasi dengan pelarut air Kelompok II : metode maserasi dengan pelarut etanol 50% Kelompok III : metode maserasi dengan pelarut etanol 95% Kelompok IV : metode refluks dengan pelarut air Kelompok V : metode refluks dengan pelarut etanol 50% Kelompok VI : metode refluks dengan pelarut etanol 95% Kelompok VII : kontrol negatif dengan air suling Tiap kelompok perlakuan selama pangujian diberi makanan secara teratur setiap harinya dengan total jumlah pakan tiap minggunya sebesar 30 g. Pemberian dilakukan selama 3 minggu dengan setiap minggunya dilakukan penimbangan bobot badan dan jumlah pakan yang dikonsumsi. D. Rancangan Percobaan Data yang diperoleh ditabulasi dan dirata-ratakan. Dilakukan pengolahan data penurunan bobot badan dan jumlah pakan yang dikonsumsi selama 3 minggu setelah pemberian sampel uji.

Analisis dilakukan untuk mengetah ui pengaruh ekstrak daun jati belanda dengan beberapa jenis pelarut dan cara ekstraksi terhadap daya penurunan bobot badan mencit jantan dengan uji statistik menggunakan program Software SAS (Statistical Analyze System ) metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial 2x3 untuk perlakuan yang masing-masing diulang sebanyak 5 kali, sehingga terdapat 6 kombinasi faktor perlakuan yang terdiri dari : a. Faktor perlakuan A adalah cara metode ekstraksi, yaitu : M : Maserasi dan R : Refluks b.Faktor perlakuan B adalah jenis pelarut, yaitu : a : Air, b : Etanol 50%, c : Etanol 95% HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penimbangan bobot badan hewan coba setelah masa aklimatisasi selama 30 hari (minggu 0) dan 3 minggu setelah pemberian sampel uji ditabulasi dan dirata-ratakan. Perubahan rata-rata bobot badan hewan coba selama 3 minggu dapat dilihat pada Tabel 1, sedangkan rata-rata bobot badan pada minggu ke 0, 1, 2, dan 3 dapat dilihat pada Tabel 2 dan grafik perkembangan bobot badan hewan coba dapat dilihat pada Gambar 1.

Tabel 1. Perubahan Rata-rata Bobot Badan Hewan Coba Perlakuan Bobot Awal (g) 31.9 29.44 30.48 31.54 32.28 29.32 29,82 Bobot 3 Minggu (g) 29.5 29.3 28.82 30.74 30.2 28.16 33,56 Perubahan Bobot (g) -2.58 -0.14 -1.66 -0.8 -2.08 -1.16 3,74 % Perubahan -8.09 % -0.47 % -5.45 % -2.54 % -6.44 % -3.96 % 12,54 %

I. Maserasi-Air II. Maserasi-Etanol 50% III. Maserasi-Etanol 95% IV. Refluks-Air V. Refluks-Etanol 50% VI. Refluks-Etanol 95% VII. Kontrol Ket. : - Bobot awal adalah Bobot yang diperoleh setelah 30 hari m asa penggemukan atau masa aklimatisasi. - % perubahan = (Perubahan Bobot/Bobot Awal) x 100%

Hasil pengukuran menunjukkan penurunan bobot badan terbesar dicapai pada kelompok I (maserasi air) yaitu sebesar 2,58 g atau 8,09%, dan penurunan bobot badan yang terkecil dicapai pada kelompok II (maserasi

etanol 50%) yaitu sebesar 0,14 g atau 0,47%. Sedangkan peningkatan bobot badan terjadi pada kelompok VII (kontrol negatif) yaitu sebesar 3,74 g atau 12,54%.

Tabel 2. Perubahan Rata-rata Bobot Badan Hewan Coba Tiap Perlakuan Selama 3 Minggu Perlakuan I. Maserasi-Air II.. Maserasi-Etanol 50% III. Maserasi-Etanol 95% IV. Refluks-Air V. Refluks-Etanol 50% VI. Refluks-Etanol 95% VII. Kontrol Rata-rata Bobot Badan (g) pada Minggu ke: 0 1 2 3 31,9 31,32 30,26 29,5 29,44 30,56 30,24 29,3 30,48 30,58 30,3 28,82 31,54 31,86 31,58 30,74 32,28 32,6 31,62 30,2 29,32 29,6 29,16 28,16 29,82 30,46 32,9 33,56

34 33 Bo b o t Bad an 32 31 30 29 28 27 26 25 0 1 2 3 M in g g u K e M a s e ra s i-A ir M a s e ra s i-E ta n o l 5 0 % M a s e ra s i-E ta n o l 9 5 % R e flu k s -A ir R e flu k s -E ta n o l 5 0 % R e flu k s -E ta n o l 9 5 % K o n tro l

Gambar 1. Grafik perubahan rata -rata bobot badan hewan coba tiap perlakuan selama 3 minggu

Berdasarkan grafik, terlihat bahwa terjadi penurunan yang tajam dicapai pada kombinasi perlakuan maserasi -air, dimana dari minggu pertama sudah terlihat adanya penurunan dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya yang pada minggu pertama mengalami peningkatan bobot badan dan penurunannya baru terjadi pada minggu kedua. Perbedaan penurunan bobot badan ini dipengaruhi oleh besarnya kandungan zat aktif yang dapat menurunkan bobot badan yang

terlarut pada masing-masing ektrak yang diberikan. Lain halnya dengan kontrol negatif yang terlihat naik bobot badannya secara tajam yang terjadi baik dari minggu pertama sampai minggu ketiga. Hal ini disebabkan karena kontrol negatif tidak mendapatkan ekstrak yang mengandung zat yang dapat menurunkan bobot badan melainkan hanya air suling sehingga bobot badannya mengalami perkembangan.

Untuk mengetahui pengaruh jenis pelarut dan metode ekstraksi ekstrak daun jati belanda terhadap perbedaan penurunan bobot badan mencit jantan maka dilakukan uji statistik menggunakan program Software SAS ( Statistical Analyze System ) metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial 2x3 yang dapat dilihat pada lampiran. Dari hasil analisis ini menunjukkan bahwa perbedaan penurunan antar 6 kelompok perlakuan tidak ada pengaruh beda nyata. Berdasarkan output program software SAS terlihat bahwa faktor metode (maserasi dan refluks), faktor pelarut (air,

etanol 50%, dan etanol 95%) dan interaksinya berpengaruh secara tidak nyata terhadap perbedaan penurunan bobot badan mencit jantan (p>0,05). Kemudian untuk menilai kemungkinan perubahan pola konsum si pakan akibat pemberian ekstrak daun jati belanda dengan metode ekstraksi dan pelarut yang berbeda, rata -rata konsumsi pakan per minggu dihitung untuk masing masing kelompok yang dapat dilihat pada tabel 3 dan grafik perkembangan konsumsi pakan dapat dil ihat pada Gambar 2.

Tabel 3. Perubahan rata-rata berat pakan yang dikonsumsi hewan coba tiap perlakuan selama 3 minggu Perlakuan I. Maserasi-Air II. Maserasi-Etanol 50% III. Maserasi-Etanol 95% IV. Refluks-Air V. Refluks-Etanol 50% VI. Refluks-Etanol 95% VII. Kontrol Rata-rata Konsumsi Pakan (g) Minggu ke: 1 2 3 29.32 29.92 25.74 30.08 29.3 27.19 29.91 30.14 29.54 30.13 30.09 30.08 30.06 30.04 28.41 30.2 30.06 28.46 30,02 30,08 30,05

31 Ju m lah P akan 30 29 28 27 26 25 24 23 1 2 M in g g u K e 3 M a s e ra s i-A ir M a s e ra s i-E t a n o l 5 0 % M a s e ra s i-E t a n o l 9 5 % R e flu k s -A ir R e flu k s -E t a n o l 5 0 % R e flu k s -E t a n o l 9 5 % K o n t ro l

Gambar 2. Grafik perubahan rata -rata berat pakan yang dikonsumsi hewan coba tiap perlakuan selama 3 minggu

Berdasarkan grafik, terlihat bahwa terjadi penurunan yang tajam pada kombinasi perlakuan maserasi -air yang terlihat jelas dari minggu kedua sampai minggu ketiga. Sedangkan yang terlihat stabil terjadi pada kombinasi perlakuan refluks-air dan kontrol negatif baik dari minggu pertama sampai minggu ketiga. Untuk mengetahui pengaruh jenis pelarut dan metode ekstraksi ekstrak daun jati belanda terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi hewan coba maka dilakukan juga uji statistiknya. Diantara kel ompok mencit yang mendapat perlakuan yaitu kelompok I, II, III, IV, V, dan VI ternyata interaksi antar variabel penurunan bobot badan dan rata-rata jumlah konsumsi pakan perminggu adalah lemah dan tidak ada signifikansi (>0,05). Berdasarkan output program software SAS metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial 2x3 terlihat bahwa faktor metode ekstraksi (maserasi dan refluks) dan faktor pelarut (air, etanol 50%, dan etanol 95%) serta interaksinya tidak berpengaruh secara nyata terhadap jumlah pakan y ang dikonsumsi, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian perlakuan dengan ekstrak daun jati belanda pada beberapa metode dan jenis pelarutnya masing masing menimbulkan perbedaan rata -rata konsumsi pakan secara tidak nyata (p>0,05). Pada hasil uji lanjut Duncan dilihat dari interaksinya diketahui bahwa pemberian ekstrak pada kelompok I (maserasi-air) memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi bila dibandingkan dengan kelompok III (maserasi-etanol 95%) dan kelompok IV (refluks-air). Diduga terjadinya mekanisme suatu bahan dapat menurunkan bobot badan yang ditelusuri berdasarkan sifat kandungan kimia yang ditemukan dalam jati belanda dan dikaitkan dengan mekanisme penurunan berat badan dikarenakan adanya zat samak atau tanin yang bersifat astringent. Zat ini diketahui mengendapkan protein mukus yang

melapisi bagian dalam usus. Lapisan ini sukar ditembus zat hingga terjadi hambatan penyerapan makanan, dengan demikian zat yang terserap berkurang dan mungkin akibatnya adalah orang tidak menjadi gemuk (Dzulkarnain dkk, 1996). Selain itu juga diduga adanya zat yang bersifat melicinkan (lubricating) karena bahan pelicin ini maka makanan tidak sempat diserap. Bahan ini biasanya bersifat lendir, kemungkinan lendir daun jati belanda dalam usus mengembang hingga tidak memberikan rasa lapar (Hernayani dkk, 1983). Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun jati belanda dengan metode maserasi dan pelarut air yang kemungkinan kandungan lendirnya cukup banyak terlarut dibanding kelompok lain menunjukkan penurunan yang lebih besar. Hal ini dikarenakan sifat lendir dan tanin yang mudah larut dalam air (Depkes RI, 1986), dan juga karena prinsip dari cara kerja maserasi itu sendiri yang digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari yaitu dengan perendaman disertai pengadukan (Depkes RI, 1986) yang menyebabkan ikut tersarinya lendir dan tanin pada daun jati belanda lebih banyak.

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa : - Pemberian ekstrak daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lam.) mempengaruhi penurunan bobot badan pada mencit jantan. - Ekstrak daun jati belanda dengan beberapa metode ekstraksi dan jenis pelarut menimbulkan perbedaan penurunan bobot badan secara tidak nyata. - Ekstrak daun jati belanda dengan beberapa metode ekstraksi dan jenis pelarut mempengaruhi rata -rata penurunan konsumsi pakan secara tidak nyata.

Penurunan bobot badan terbesar dicapai pada kelompok I (maserasi air) yaitu sebesar 2,58 g atau 8,09%, dan penurunan bobot badan yang terkecil dicapai pada kelompok II (maserasi etanol 50%) yaitu sebesar 0,14 g atau 0,47%.

Hernayani, R., M. Syafei, Z. Arifin. Pengaruh Jati Belanda yang digoreng terhadap Penurunan Berat Badan Tikus. Proc Kong XI Konferensi Ilmiah ISFI. 1983 : 189 196. Mattjik, A. A dan Sumertajaya, I. M. 2002. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan Minitab. IPB Press. Bogor : 101-112. Pramono, S., S. Nurwati, Sugiyanto. 2000. Pengaruh Lendir Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.). Dalam Warta Tumbuhan Obat Indonesia. Jakarta : 6 (2) : 14-15. Rahardjo, S. S. 2001. Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) terhadap Aktivitas Enzim Lipase Serum Rattus norvegicus. Badan Litbang Kesehatan, Jakarta. Wiramihardja, K. K.. 2004. Obesitas dan Penanggulangannya. Penerbit Granada. Bandung.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2004. Jati Belanda untuk Kurangi Berat Badan. Dalam Majalah Herba, Edisi Juli. Jakart a : 46-48.

Depkes RI. 1978. Materia medika Indonesia, Edisi II. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta : 42-47.
Depkes RI. 1986. Sediaan Galenik. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta. Dzulkarnain, B., dan L. Widowa ti. 1996. Dukungan Ilmiah Penggunaan Ramuan Untuk Obesitas. Dalam Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta. 3 : 49-54.