Anda di halaman 1dari 15

PENCELUPAN KAIN CAMPURAN POLIESTER KAPAS DENGAN

ZAT WARNA DISPERSI - REAKTIF METODA 1 BATH 2 STAGE

I.

MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud :
Mewarnai kain campuran poliester-kapas (T/C) dengan zat warna dispersi
reaktif meoda exhaust 1 bath 2 stage.
Tujuan :
Mengetahui pengaruh zat pembantu terhadap hasil pencelupan kain campuran
poliestet-kapas (T/C) dengan zat warna dispersi-reaktif metoda exhaust 1 bath - 2
stage.
II.

TEORI DASAR

Serat Poliester
Serat poliester adalah serat sintetik yang terbentuk dari molekul polimer
poliester linier dengan susunan paling sedikit 85 % berat senyawa dari hidroksi
alkohol dan asam tereftalat.

Penampang melintang poliester

Penampang membujur poliester

Serat poliester pertama kali diperkenalkan pada tahun 1953. Poliester


merupakan polimer yang diperoleh dari reaksi senyawa asam dan alkohol. Calico
Printers Association dari Inggris menyempurnakan penelitian Dr. Carothers dari
Du Port dan memperoleh hak paten untuk seluruh bagian dunia kecuali Amerika

Serikat yang khusus ditangani oleh Du Pont. Serat poliester cepat sekali
memperoleh perhatian konsumen oleh karena sifat mudah penangananya (easy of
care), bersifat cuci pakai (wash and wear), tahan kusut dan awet.
Pembuatan Serat Poliester
Serat poliester dibuat secara pemintalan leleh dari dua jenis asam tereftalat.
Molekul molekulnya besar dan kaku, sukar di bengkokkan dan mudah kembali
ke bentuk semula setelah berubah bentuknya.Perbedaan utama antara kedua jenis
polimer tersebut adalah sifat tahan panas dari Dacron yang lebih dari serat kodel,
tetapi penyerapan terhadap uap air kecil. Gugus gugus kimia dalam serat dapat
bersatu atau bergabung dengan zat warna yang sangat kecil. Pencelupannya dapat
dilakukan pada suhu dibawah 100 0C dengan dibantu zat penggelembung serat. Zat
tersebut akan memudahkan zat warna masuk kedalam serat.
Sifat sifat Poliester
Serat poliester apabila dilihat dengan mikroskop kenampakannya hampir
serupa dengan serat nilon, yakni memanjang seperti silindar bulat dan bulat seperti
pada umumnya serat sintetik yang dipintal dengan cara pelelehan.Serat poliester
memilki kekuatan dan tahan gosok yang tinggi. Tetapi sifat kembali dari mulur
(tensile recovery) pada peregangan tinggi tidak sebaik nilon. Sifat ini dapat terlihat
pada percobaan berikut :

Serat

Persentase kembali dari mulur


1 % mulur

3%

5%

15%

91

76

63

40

81

88

86

77

Dacron 56
(biasa)
Nilon 200
(biasa)

Serat poliester memiliki daya ke bentuk asli yang sangat baik. Sifat ini sangat
penting untuk bahan bahan pakaian. Kekusutan pada bahan celana dari serat
poliester akan lekas menjadi rapih kembali dibandingkan serat nilon. Sifat tersebut
serupa dengan serat wol.
Daya serap serat poliester terhadap air lebih sedikit dibandingkan dengan
nilon. Oleh karena serat poliester sedikit menyerap air dan mudah kembali

kebentuk semula pada tarikan yang kecil, maka serat tersebut sangat baik untuk
bahan tekstil yang dilipat permanen dan bersifat cuci dan pakai.
Daya serap terhadap air sangat rendah antara 0,4 0,8 % pada kondisi
standar (suhu 21 0C dan kelembaban relatif 65 %).

Tetapi keuntungan serat

poliester sukar dikotori oleh kotoran yang larut dalam air dan juga lekas kering.
Kekurangannya poliester tidak enak dipakai, sukar dicelup dan menimbulkan
listrik statis. Serta peka terhadap panas.
Kekuatan poliester dalam keadaan basah hampir sama dengan dalam keadaan
kering. Kekuatan poliester dapat tinggi disebabkan karena proses peregangan
dingin pada waktu pemintalannya akan menyebabkan terjadinya pengkristalan
molekul dengan baik, demikian pula berat molekulnya dapat tinggi. Kekuatan
poliester berkisar 4,0 7,5 gram / denier dengan mulur 40 % - 25 %.
Kelentingannya yang baik, cepat kering dan peka terhadap panas
menyebabkan serat poliester banyak digunakan untuk tekstil rumah tangga, alas
duduk mobil atau tutup tempat tidur. Serat poliester pada umumnya tahan terhadap
asam maupun basa yang lemah tetapi kurang tahan terhadap basa kuat dan dapat
dikelantang dengan zat pengelantang kapas. Demikian pula tahan terhadap
serangga, jamur dan bakteri, sedangkan terhadap sinar matahari ketahanannya
cukup baik.
Serat Kapas
Sejak abad ke-15 sebelum masehi hingga abad ke-15 sesudah masehi, India
merupakan pusat dari industri kapas. Pada saat yang bersamaan industri kapas
mesirjuga sedang berkambang. Beberapa jenis kapas stapel panjang yang terbaiak
tumbuh dilembah sungai Nil. Di Negara Amerika serikat orang-orang India pima
telah menanamkapas sewaktu bangsa spanyol dating ke-negri tersebut.pada tahun
1796 Inggris menjadi pusat industri kapas setelah Arkwirght dan Hargreaves
menemukan alat pintal khusus (spinning frame).
Jenis Kapas
Berdasarkan panjang dan kehalusan serat, kapas yang diperdagangkan digolongkan
dalam tiga kelompok yaitu :
1. Kapas serat panjang
Termasuk dalam kelompok ini adalah serat kapas yang panjang, halus, kuat,
berkilau, dengan panjang stapel 1-1,5 inci, misalny kapas mesir dan kapas sea

island. Kapas kelompok ini biasanya dipakai untuk benang dan kain yang
sangat halus.
2. Kapas serat medium
Termasuk dalam kelompok ini adalah kapas medium yang lebih kasar dan
lebih pendek dengan panjang stapel 1,5-1 3/8 inci, misalnya kapas up land.
3. Kapas serat pendek
Terrmasuk dalam type ini adlah kapas-kapas yang pendek, kasar dan tidak
berkilau dengan panjang stapel 1 3/8 1 inci, misalanya kapas India, cina dan
sebagian kecil kapas timur tengah, eropa tenggara dan afrika selatan.
Produksi Kapas
Kapas merupakan satu serat yang paling banyak digunakan sebagau serat tekstil.
Hal-hal yang mendorong banyak dipakainya serat kapas adalah:
Penemuan mesin yang dapat menghasilkan produksi serat secara masal.
Proses merserisasi yang menghasilkan serat kapas seperti sutera.
Proses pengkeretan secara kompresi sehingga dimensi kain / pakaian dapat
stabil.
Proses penggunaan cuci dan pakai atau proses penyetrikaan awet yang akan
memperbaiki sifat kelenyingannya.
Kapas diperoleh dari tanaman semak dengan tinggi sekitar 30-120 cm. kapas
dapat dipungut dengan tangan atau mesin. Setelah dipungut serat kapas
dibersihkan(ginning), untuk memisahkan serta dari bijinya. Serat-serat kapas yang
telah dipisahkan disewbut lint, dimanpatkan menjadi bal kapas dengan berat 400
pound. Biji-biji kapas setelah proses pembersihan masih ditutupi oleh serat kapas
yang pendek dengan panjang kira-kira 3 mm, yang disebut linters. Linter dapat
dipisahkan lagi dan dipakai sebagai bahan dasar untuk pembuatan serat rayon atau
serat selulosa asetat, sedangkan biji kapasnya dapat diremuk untuk diambil
minyaknya dan ampasnya untuk makanan ternak.
Stuktur Fisika
Kapas mentah berwarna putih kecoklatan, tiap serat merupakan sebuah sel
yang sewaktu tumbuh dari bijinya berupa pipa silinder yang berongga pada

porosnya. Panjang seratnya kira-kira 1000 kali tebalnya. Potongan melintangnya


beraneka

menurut

kedewasaan

seratnya.

Serat

yang

tidak

dewasa

berkecenderungan berbentuk u dengan dinding serat yang sangat tipis, sedangkan


serat dewasa lebih berbentuk bulat dengan rongga poros yang sempit.Serat kapas
terdiri dari kutikula, dinding primer, dinding sekunder dan lubang lumen.Kwalitas
kapas bergantung pada panjang stapel, jumlah konvolusi dan kecerahan. Kapas
berstapel tingi kira-kira memiliki 300 konvolusi setiap incinya, sedangkan serat
pendek hanya memiliki kurang dari 200 puntiran. Diameter serat kapas bervariasi
dari 16-20 mikron.

Penampang membujur kapas

Penampang melintang kapas

Struktur Kimia
Analisa serat kapas menunjukan bahwa serat kapas terutama tersusun dari
selulosa. Selusosa merupakan polimer linier yang tersusun dari kondensasi
molekul-molekul glukosa.

Derajat polimerisasi selulosa pada kapas 2.000- 10.000 dengan berat molekul
1.580.000. Hasil analisa pada serat kapas menunjukanbahwa serat kapas terdiri dari
:
Selulosa

: 94,0%

Protein

: 1,3%

Pektat

: 1,2%

Lilin

: 0,6%

Abu

: 1,2%

Pigmen dan zat lain

: 1,7

Sifat Fisika
Warna kapas tidak betul-batul putih, niasanya sedikit krem. Warna kapas
akan lebih tua setelah penyimpanan selama2-5 tahun.
Kekuatan serat kapas terutama dipengaruhi oleh kadar sellulosa dalam serat,
panjang rantai dan orientasinya. Kekuatan serat kapas salamkeadan basah lebih
tinggi dibandingkan dalam keadan kering.
Mulur serat kapas termasuk tinggi diantara serat selulosa alam, yaitu kirakira dua kali mulur rami. Mulur serat kapas berkisar antara 4-17 % dengan rata-rata
7% yang tergantung dari jenisnya. MR kapas pada kondisi standar 7-8,5 %.
Sedangkan berat jenis serat kapas yaitu 1.5-1,56.
Sifat Kimia
Beberapa zat pengoksidasi dan penghidrolisa akan merusak kapas sehingga
kekuatanya menjadi turun. Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksi
selulosa, biasanya terjadi pada pengelantanganyang erlebihan, penyinaran dalam
keadaan lembab atau pemanasan yang lama pada suhu diatas 140 oC.
Asam akan merusak kapas dan membentuk hidroselulosa. Alkali yang pekat
akan menyababkan penggelembungan yang besar pada serat seperti pada proses
merserisasi, yang menyebabkan serat menjadi lebih mengkilap dan kekuatannya
menjadi lebih tinngi.
Pelarut yang biasa digunakan adalah kuproamonium hidroksida dan
kuproatelina diamina. Kapas mudah diserang oleh jamur dan bakteri, terutama
pada keadan lembab dan suhu hangat.Kapas memiliki beberapa sifat istimewa
misalmya mudah dicuci, enak dipakai dan murah, sehingga kapas lebih unggul
disbanding serat lainnya.

Kain campuran poliester kapas


Tujuan pencampuran
Tujuan utama dari pencampuran serat poliester dan kapas adalah untuk
mendapatkan kain yang mutunya lebih baik dibandingkan dengan kain yang
terbuat dari masing masing seratnya. Faktor yang merupakan suatu keuntungan
dalam pencampuran antar serat poliester dan kapas adalah sifat buruk dari poliester
merupakan sifat yang baik dari serat kapas, begitu pula sebaliknya. Sehingga dari
pencampuran kedua jenis serat ini, sifat sifat yang kurang dari salah satu jenis
serat dapat diimbangi dengan sifat sifat yang baik dari serat lain. Hal tersebut
dapat dilihat dari tabel berikut.
Sifat sifat

Poliester

Kapas

Sifat mekanik

BA

Kemampuan menyerap air

BA

Kemampuan untuk dicelup

Sifat estetika

Abrasi basah

Abrasi kering

CB

Tahan kusut

Daya menahan lipatan

Tahan listrik statis

Tahan piling

Keterangan :
A
B
C

= Baik
= Sedang
= Buruk
Dari tabel tersebut terlihat bahwa masing masing serat tidak memiliki

semua sifat yang sempurna untuk bahan tekstil. Meskipun telah diupayakan suatu
perubahan fisik pada serat tersebut, namun sifat kimia masing masing serat tidak
berubah sehingga karakteristik pencelupannya bergantung pada masing masing
serat.

Sifat sifat Bahan Campuran Poliester Kapas

Bahan bahan yang terbuat dari serat poliester merupakan bahan yang
memiliki sifat sifat yang baik seperti kekuatan tinggi, daya tahan abrasi yang
baik, sifat cuci pakai yang baik, dan lipatan yang lama.Sifat sifat yang baik dari
serat poliester tersebut akan lebih baik lagi jika dicampur dengan serat selulosa
pada kondisi tertentu. Serat selulosa yang dicampur dengan serat poliester ini
akanmemberikan bahan campuran dengan sifat yang baik, diantaranya : Rasa yang
nyaman dalam pemakaian.
Daya Elektrostatik
Bahan yang terdiri dari 100 % serat poliester dapat menimbulkan daya
elektrostatik. Daya ini menyebabkan bahan melekat pada tubuh, sehingga
memberikan rasa yang kurang nyaman pada pemakai. Dalam pencampuran serat
poliester dan kapas, jumlah serat sampai 35 % dari campurannya, dapat
menghilangkan daya elektrostatik dari serat poliester sampai tingkat minimal.
Kekuatan Tarik
Jumlah yang kecil dari serat poliester dalam pencampurannya tidak akan
memberikan perbaikan pada kekuatan tarik kapas dan bahkan akan melemahkan
bahan tersebut. Untuk mendapatkan kain campuran serat poliester dan

kapas

dengan kekuatan baik, paling sedikit dibutuhkan 60 % serat poliester dalam


larutan.
Daya Tahan Abrasi
Daya tahan abrasi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan
keawetan. Bahan yang terdiri dari 100 % serat poliester memiliki daya tahan abrasi
yang baik sekali. Jumlah 30 40 % serat kapas dalam campuran masih
memberikan daya tahan abrasi yang cukup baik.
Daya Tahan Kusut
Jumlah serat kapas tidak melebihi 35 % dalam kain campuran poliester
kapas, masih memberikan daya tahan kusut yang baik.

Zat Warna Dispersi

Zat warna dispersi adalah zat warna yang kelarutannya dalam air hanya sedikit
dan merupakan larutan dispersi . Zat warna tersebut digunakan untuk mewarnai
serat-serat tekstil yang hidrofob.
Menurut bentuk kimiawinya zat warna dispersi merupakan senyawa azo atau
antrakinon dengan berat molekul yang kecil dan tidak mengandung gugus pelarut
Zat warna dispersi memiliki ikatan antara serat dengan zat warna ada dua
mungkin ikatan fisika atau mungkin ikatan hydrogen.
Zat Warna Reaktif
Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat mengadakan reaksi dengan
serat, sehingga zat warna tersebut merupakan bagian dari serat. Oleh karena itu
hasil celupan zat warna reaktif mempunyai ketahanan luntur yang baik. Demikian
juga karena berat molekul zat warna reaktif kecil, maka kilapnya akan lebih baik
dari pada zat warna direk.
Menurut reaksi yang terjadi, zat warna reaktif dapat dibagi menjadi dua
golongan :
Golongan 1 : adalah za warna reaktif yang mengadakan reaksi substitusi dengan
serat dan membentuk ikatan psedo ester ; misalnya : zat warna
Procion, cibaron , Drimaren dan Levafik.
Golongan 2 : Adalah zat warna reaktif yang dapat mengadakan reaksi adisi dengan
serat dan membentuk ikatan eter ; misalnya : Zat warna Remasol,
Remalan dan primazin.
Menurut cara pemakainya, zat warna reaktif dibagi menjadi :
1. Pemakaian secara dingin, yaitu untuk zat warna reaktif yang mempunyai
keraktifan yang tinggi
2. Pemakaian secara panas, yaitu zat warna reaktif yang mempunyai kereaktifan
rendah..
Pencelupan Serat Campuran Poliester dan Kapas
Pada serat poliester tidak mempunyai daya serap terhadap zat warna
reaktif, sedangkan serat selulosa tidak tercelup oleh zat warna dispersi .
Sehingga pada pencelupan ini digunakan dua zat warna yang mana
nantinya zat warna yang digunakan akan mewarnai serat-serat. Serat poliester
tidak dapat dicelup dengan zat warna reaktif, karena serat poliester tidak dapat

ditembus oleh molekul-molekul zat warna yang berukuran besar. Sedangkan serat
selulosa tidak dapat dicelup oleh oleh zat warna dispersi, tapi zat warna dispersi
masih dapat memberikan noda pada serat selulosa.
III. ALAT dan BAHAN
Alat :

Bahan :

1) Pegaduk

1) Kain campuran poliester-kapas

2) Mesin Padder

2) ZW Dispersi

3) Mesin Stenter

3) ZW Reaktif

4) Gelas ukur 100 ml

4) Asam asetat

5) Pipet volume 10 ml

5) Carrier

6) Timbangan

6) Na2CO3

7) Gelas piala 500 ml

7) Pendispersi

8) Tabung rapid

8) NaCl

9) Mesin HT/HP

9) Sabun

IV. LANGKAH KERJA


1. Menimbang kain contoh uji
2. Menghitung keperluan zat-zat yang akan digunakan.
3. Masukkan air, zat warna dispersi, zat pendispersi, asam asetat, carrier, dan
kain contoh uji ke dalam tabung rapid.
4. Tutup tabung rapid dengan rapat kemudian masukkan ke dalam mesin
HT/HP. Atur suhu 1000C selama 45 menit.
5. Turunkan suhu kemudian buang air larutan.
6. Masukkan air, zat warna reaktif, dan alkali.
7. Setelah 10 menit masukkan NaCl.
8. Tutup tabung rapid dan masukkan ke dalam mesin HT/HP. Atur suhu 600C
selama 45 menit.
9. Turunkan suhu kemudian buang air larutan.
10. Siapkan gelas piala 500 ml, masukkan air, Na2S2O4, dan NaOH.
11. Masukkan kain 1 dan 3 hasil pencelupan ke dalam gelas piala, atur suhu
700C selama 15 menit.

12. Sedangkan untuk kain 2 dan 4 hasil pencelupan dimasukkan ke dalam gelas
piala yang sudah berisi air, teepol, dan Na2CO3, atur suhu 700C selama 15
menit.
13. Setelah kain 1 dan 3 dilakukan cuci reduksi, lakukan perlakuan yang sama
(cuci sabun) seperti kain 2 dan 4 pada kain 1 dan 3.
14. Setelah dicuci sabun, semua kain satu demi satu dipadding dengan
menggunakan mesin padder.
15. Kemudian dikeringkan dengan mesin stenter.
16. Lakukan evaluasi tahan gosok dan pencucian, amati hasilnya dengan
menggunakan alat ukur grey scale dan staining scale.
V.

DIAGRAM ALIR
Persiapan alat dan bahan

Pencelupan

Cuci R/C

Cuci sabun

Padding

Drying 100 OC

Evaluasi

Temperatur(oC)

VI. SKEMA PROSES

Zat warna dispersi


Asam asetat
Zat pendispersi
Carrier

100oC
Cuci Reduksi
90oC

70oC
NaOH
Na2S2O4

60oC

10

15

45

15

VII. RESEP
Resep pencelupan :
R / No
Air
(ml)
ZW Dispersi (%)
ZW Reaktif (%)
Pendispersi
(cc/l)
Carrier
(cc/l)

1
1:20
2
1
1

2
110,8
11
5,54
0,110

1:20
2
1
1

3
111,2
11,2
5,56
0,111

1:20
2
1
1
2

1,11
0,222
4

10
2

NaCl
Na2CO3

(g/l)
(g/l)

10
2

1,10
0,221
6

Resep R/C :
Na2S2O4

(g/l)

NaOH

(cc/l)

0,443
2
0,221
6

10
2

4
117,4
11,7
5,87
0,117
0,234
8
1,17
0,234
8

1:20 113,8
2
11,3
1
5,69
1
0,113
2
0,2276

0,469
6
0,234
8

10
2

1,13
0,2276

Resep cuci sabun :


NaOH

(cc/l)

Teepol

(cc/l)

0,221
6
0,110

2
1

0,222
4
0,111

2
1

0,234
8
0,117

0,2276

0,113

Catatan : -

ZW Dispersi yang digunakan : Foron Yellow RD 4GRL

ZW Reaktif yang digunakan : Evercion Navy Blue H - ER

VIII. FUNGSI ZAT


Zat warna Reaktif

: Untuk mewarnai bahan/serat selulosa

Zat warna Dispersi : Untuk mewarnai bahan/serat poliester


Pendispersi

: Untuk mendispersikan zat warna menjadi molekul

molekul kecil sehingga dapat tersebar secara merata dalam larutan celup.
NaCl

: Untuk mempercepat penyerapan zat warna reaktif

ke dalam serat bahan.


Asam asetat
Na2CO3

: Untuk mengatur pH larutan.


: Pada pencelupan akan membantu proses fiksasi zat warna

reaktif dengan selulosa, sedangkan pada pencucian akan membantu


kelarutan sabun dan mengurangi tingkat kesadahan larutan.

Carrier

: Menggelembungkan serat poliester dan membawa

molekul-molekul zat warna dispersi untuk masuk ke dalam serat.


Teepol

: Untuk meratakan dan mempercepat proses

pembasahan.
Na2S2O4 dan NaOH : Untuk menghilangkan sisa-sisa zat warna yang
menempel dipermukaan dan tidak berfiksasi dengan serat, agar tahan
luntur zat warna menjadi baik.
IX.

HASIL EVALUASI
Tahan gosok
Staining Scale
kering
Basah
4/5
4
4/5
4/5
4/5
4/5
4/5
4

Grey Scale
kering
4/5
4/5
4/5
4/5

basah
4/5
4/5
4/5
4/5

Tahan pencucian
Staining Scale
Kapas
4
4
4
4

X.

poliester
4/5
4/5
4/5
4/5

Grey Scale
kain contoh uji
4
4
4
4

CONTOH SAMPEL
Resep 1

Resep 2

Resep 3

Resep 4

Sample kain polyester kapas dicelup ZW Dispersi Foron Yellow RD 4GRL


dan ZW Reaktif Evercion Navy Blue H - ER

XI.

DISKUSI
Pada pencelupan kain T/C dengan zat wrna dispersi reaktif, pemilihan
zat warna terbatas karena adanya peluang terjadinya :
-

Ikatan kovalen antara zat warna reaktif dan zat warna dispersi jenis tertentu
(amina primer, fenol).

Interaksi zat warna raktif dengan zat pendispersi.

Kestabilan sistem dispersi larutan pad akibat ph alkali, hal ini


mengakibatkan color yield turun sehingga zat warna dispersi yang dipilih
harus yang tahan alkali agar tidak terhidrolisis.

Zat warna dispersi lebih banyak menyerap karena adanya gugus kloro pada
zat warna dalam fasa larutan.

Perbandingan hasil :
Pada resep 1 dan 2 dengan variasi resep tanpa carrier menghasilkan kain
dengan warna kontras. Sedangkan pada resep 3 dan 4 dengan menggunakan
variasi resep carrier menghasilkan kain dengan warna pastel. Selain itu sangat
terlihat efek garis dengan warna kuning yang dihasilkan dari zat warna dispersi,
ini berarti warna kuning yang dimiliki merupakan serat poliester yang hanya
dapat menyerap zat warna dispersi karena serat poliester tidak dapat ditembus
oleh molekul-molekul zat warna yang berukuran besar. Akan tetapi pada zat
warna dispersi masih dapat memberikan noda pada serat selulosa dan juga zat
warna dispersi lebih banyak menyerap karena adanya gugus kloro pada zat
warna dalam fasa larutan sehingga warna yang dihasilkan kehijauan. Warna
kehijauan ini didapat dari serat selulosa dengan perpaduan warna kuning pada
zat warna dispersi dan biru pada zat warna reaktif panas.
Pada resep 2 dan 4 dengan tanpa dicuci R/C menghasilkan kain dengan
warna hijau, berbeda dengan resep 1 dan 3 yang menggunakan variasi resep cuci
R/C menghasilkan kain dengan warna hijau kekuningan. Ini berarti warna biru
dari zat warna reaktif tidak terfiksasi sempurna pada serat, sehingga pada saat
pencucian R/C zat warna reaktif banyak hilang karena pengaruh zat pereduksi
seperti Na2S2O4 dan NaOH.

XII. KESIMPULAN
- Pencelupan kain campuran polyester kapas dengan variasi resep tanpa
carrier menghasilkan warna kontras pada kain, seperti pada kain sampel 1 dan
2.
- Pencelupan kain campuran polyester kapas dengan variasi resep
menggunakan carrier menghasilkan warna pastel pada kain, seperti pada kain
sampel 3 dan 4.
- Pencucian R/C menghasilkan kain dengan warna hijau kekuningan, seperti
pada sampel no 1 dan 3.
- Tanpa pencucian R/C menghasilkan kain dengan warna hijau, seperti pada
sempel 2 dan 4.
XIII. DAFTAR PUSTAKA
2.

Djufri Rasyid dkk, Teknologi Pengelantangan Pencelupan dan Pencapan,


Institut Teknologi Tekstil Bandung 1976.

3.

Soepriyono dkk, Serat-serat Tekstil, Institut Teknologi Tekstil Bandung,


1974.