Anda di halaman 1dari 16

PROSES PERTUMBUHAN MANDIBULA

MAKALAH Oleh:

Heryuliani Purwanti Fitria Sari

160421110005 160421110007

Pembimbing : Dr. Endah Mardiati, drg., Sp.Ort (K) Isnaniah Malik, drg., Sp.Ort (K)

PROGRAM STUDI SPESIALIS ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2012

BAB I PENDAHULUAN

Mandibula terdiri dari 2 tulang yang simetris yang berfusi pada midline di area simfisis. Mandibula merupakan tulang kraniofasial yang sangat penting karena terlibat dalam fungsi-fungsi vital antara lain: pengunyahan, pemeliharaan jalan udara, berbicara dan ekspresi wajah. Mandibula adalah tulang pipih berbentuk U dengan mekanisme pertumbuhan melalui proses osifikasi endokondral dan aposisi periosteal (osifikasi intramembembranous) dan padanya melekat otot-otot dan gigi. Menurut Profitt dan Fields (2007), pertumbuhan mandibula ada 2 macam: 1) Pola pertama, bagian poterior mandibula dan basis kranium tetap, sementara dagu bergerak ke bawah dan depan 2) Pola ke dua, dagu dan korpus mandibula hanya berubah sedikit sementara pertumbuhan sebagian besar terjadi pada tepi posterior ramus, koronoid, dan kondilus mandibula (Yhow M S., 2010). Setelah umur 2-4 tahun, korpus mandibula bertambah panjang terutama dalam arah posterior bersama dengan terjadinya resorpsi sepanjang ramus yang membesar. Pertumbuhan mandibula biasanya didahului dengan pertumbuhan cartilago Meckel. Pada embrio manusia cartilago Meckel akan berkembang ke bentuk sempurna pada minggu ke-6. Cartilago Meckel pada tahap perkembangan ini berhubungan erat terhadap n. Mandibularis, saraf arcus pharyngeus prismus, cabang-cabangnya akan berfungsi sebagai pendukung skeletal. Riwayat perkembangan selanjutnya dari cartilago Meckel umumnya berhubungan dengan perkembangan corpus mandibula. Pada mandibula terdapat 3 daerah pembentukan cartilago sekunder yang utama. Yang pertama dan terbesar adalah cartilago condylaris berperan penting pada pertumbuhan mandibula. Cartilago ini muncul pertama

kali pada minggu ke-12. Pada tahap ini terlihat berupa potongan cartilago pada aspek superior dan lateral tulang pada proc. Condylaris. Dagu bergerak ke bawah dan depan hanya sebagai akibat pertumbuhan kondilus dan tepi posterior ramus mandibula. Korpus mandibula bertambah panjang melalui aposisi tepi posteriornya, sementara ramus bertambah tinggi melalui osifikasi endokondral pada kondilus dan remodeling tulang. Selain tumbuh ke bawah dan ke depan, mandibula juga tumbuh ke
1

lateral melaui aposisi permukaan lateral korpus, ramus dan alveolaris mandibula. Untuk mengimbangi aposisi lateral, terjadi resorpsi pada permukaan lingualnya.

BAB II PROSES PERTUMBUHAN MANDIBULA

2.1 Perkembangan Masa Prenatal


Kartilago dan tulang mandibula dibentuk dari sel embrio neural crest yang berasal dari otak bagian tengah dan belakang dari neural folds. Sel-sel ini bermigrasi ke ventral untuk membentuk tonjolan mandibula (dan maksila) pada wajah, dimana mereka berdiferensiasi menjadi tulang dan jaringan ikat.

Struktur pertama yang dibuat pada regio rahang bawah yaitu cabang nervus mandibula dari nervus trigeminus yang mengawali kondensasi ektomesenkim membentuk lengkung faring (mandibula) pertama. Adanya nervus ini diduga sebagai syarat terjadinya induksi osteogenesis oleh produksi faktor neurotropik. Mandibula dihasilkan dari osifikasi membran osteogenik yang dibentuk dari kondensasi ektomesenkim pada pembentukan hari

ke 36-38. Ektomesenkim mandibula ini harus berinteraksi pertama kali dengan epitelium lengkung mandibula sebelum osifikasi primer terjadi; tulang hasil osifikasi intramembran terletak lateral dari kartilago Meckels dari lengkung pertama faringeal (mandibula). Pusat osifikasi untuk untuk masing-masing bagian mandibula naik pada minggu ke 6 post konsepsi (mandibula dan klavikula merupakan tulang pertama yang mengalami osifikasi) pada regio bifurkasi pada nervus dan arteri alveolaris inferior menuju ke cabang mentalis dan insisif. Membran yang mengalami osifikasi berada pada lateral kartilago Meckels dan berdampingan dengan bundel neurovaskular. Dari pusat primer dibawah dan di sekitar nervus alveolaris inferior dan cabang insisif, osifikasi menyebar ke atas untuk membentuk cekungan untuk pembentukan gigi. Penyebaran osifikasi intramembran ke arah dorsal dan ventral membentuk korpus dan ramus mandibula. Kartilago Meckels dikelilingi oleh tulang. Osifikasi berhenti ke arah dorsal yang akan menjadi lingula mandibula, dimana kartilago Meckels berlanjut menjadi telinga bagian tengah. Keberadaan bundel neurovaskular memastikan bentuk foramen mandibula dan kanalis mandibularis serta foramen mentalis.

Schema of the origins of the mandible. The center of ossification is lateral to Meckels cartilage at the bifurcation of the inferior alveolar nerve

Kedua lengkung faringeal pertama yang merupakan inti dari kartilago Meckels saling bertemu di arah ventral. Lengkung ini menyimpang ke arah dorsal dan berakhir pada kavitas timpani pada masing-masing telinga, yang berasal dari kantung faringeal, dan diikuti oleh proses pembentukkan petrous portion dari tulang temporal. Kartilago Meckels bagian dorsal mengalami osifikasi untuk membentuk dasar dari dua auditory ossicles (malleus dan incus). Ossicles ke tiga (stapes) berasal dari kartilago dari lengkung faringeal ketiga (kartilago Reicherts).

Kartilago Meckels yang kekurangan enzim fosfatase ditemukan pada saat osifikasi kartilago, sehingga menghalangi proses osifikasi; hampir seluruh kartilago Meckels hilang pada minggu ke 24 post konsepsi. Bagian-bagiannya berubah menjadi ligamen sphenomandibular dan anterior malleolar. Bagian akhir ventral (dari foramen mentalis

berjalan ke arah ventral dari simfisis) membentuk tulang endokondral yang tergabung menjadi dagu pada mandibula. Kartilago Meckels bagian dorsal hingga foramen mentalis mengalami resorpsi pada permukaan lateral bersamaan dengan terbentuknya trabekula tulang intramembranous ke arah lateral teresobsi menjadi kartilago. Kartilago dari foramen mentalis ke lingula tidak terhubung kepada osifikasi mandibula. Initial woven bone dibentuk sepanjang kartilago Meckels yang akan segera digantikan oleh tulang lamella, dan sistem havers yang sudah ada pada bulan ke 5 post konsepsi. Remodeling terjadi lebih awal dari pada yang terjadi pada tulang lainnya. Kartilago aksesori sekunder muncul antara minggu ke 10 dan 14 post konsepsi untuk membentuk kepala kondilus, bagian dari prosesus koronoideus dan mental protuberance (gbr 12-1). Penampilan dari kartilago sekunder mandibula ini memisahkan diri dari faringeal primer (Meckels)dan kartilago kondrokranial. Kartilago sekunder dari prosesus koronoideus terbentuk diantara otot temporalis. Kartilago aksesori koronoid menjadi terhubung dengan tulang intramembran dari ramus dan hilang sebelum lahir. Pada regio mental, pada masingmasing sisi simfisis, 1 atau 2 kartilago kecil muncul dan mengalami osifikasi pada bulan ke 7 post konsepsi untuk membentuk mental ossicles pada jaringan fibrous dari simfisis. Ossicles menjadi terhubung ke tulang intramembranous ketika simfisis menti diubah dari syndesmosis menjadi synostosis selama periode posnatal pertama.
5

Kartilago sekunder pada kondilus muncul pada minggu ke 10 post konsepsi dengan tampilan bentuk kerucut pada ramal region. Kartilago kondilus merupakan awal dari kondilus itu sendiri. Sel-sel kartilago berdiferensiasi dari pusatnya, dan kartilago kepala kondilus bertambah besar oleh karena pertumbuhan interstitial dan aposisi. Pada minggu ke 14, hasil pertama dari adanya tulang endokondral muncul pada regio kondilus. Kartilago kondilus merupakan pusat pertumbuhan yang sangat penting untuk ramus dan korpus mandibula. Pertumbuhan yang alami ini primer (sumber utama dari morfogenesis) atau sekunder ( kompensasi stimulasi fungsional) masih kontroversial., akan tetapi bukti dari eksperimen yang ada mengindikasikan kebutuhan untuk stimulus untuk pertumbuhan yang normal. Pada pertengahan masa fetus, banyak kartilago dengan bentuk kerucut digantikan oleh tulang, yang mana pada masa dewasa tidak akan berubah, yang bertindak sebagai kartilago pertumbuhan dan artikular. Perubahan posisi dan bentuk mandibula berhubungan dengan arah dan jumlah dari pertumbuhan kondilus. Angka pertumbuhan kondilus meningkat pada saat pubertas, puncaknya antara 12,5 tahun dan 14 tahun, dan normalnya berhenti pada usia 20 tahun.

Cartilage derivatives of arches in 24 wk foetus

Lateral view of the head and neck in 4 -week embryo: cartilages of the arches forming the bones of face and neck

(Lateral view of the head and neck region of an older fetus, showing derivatives of the arch cartilages participating in formation of bones of the face.)

Pada bulan ke-5 masa kehidupan fetus, semua cartilago sudah digantikan sebagian besar oleh trabekula tulang. Selama periode ini penebalan zona cartilago akan berkurang perlahan-lahan karena aktifitas proliferasi dari sel-sel fibro sellular tumbuh lebih lambat, sampai akhirnya cartilago menghilang dan tulang pengganti membentuk seluruh bagian prosesus kondilaris tersebut.

1 s t arch consists of a dorsal portion, the maxillary process, which extends forward beneath the region of the eye, and a ventral portion, the mandibular process, which contains Merckels cartilage. Maxillary process and Merckels cartilage are replaced by the maxilla and mandible respectively which develop by membranous ossification.

2.2 Perkembangan Post Natal Pada saat lahir mandibula walaupun terdeteksi dengan jelas, sangat berbeda pada berbagai aspek dari tulang dewasa. Perbedaan utamanya terletak pada sudut mandibula yang tumpul, ramus yang lebih kecil bila dibandingkan dengan korpus. Pada saat organ-organ benih gigi susu mulai berdiferensiasi, mandibula akan mulai membentuk hubungan dengan benih gigi tersebut. Keadaan ini dapat berlangsung melalui perluasan ke atas pada kedua sisi benih gigi, dari lamina lateralis dan lamina medialis mandibula, setinggi n. Incisicus dan n. Alveolaris inferior, untuk membentuk lamina alveolaris lateral dan medial.Melalui proses pertumbuhan ini gigi-gigi yang sedang berkembang akan terletak di dalam saluran tulang. Bentuk dan ukuran mandibula pada janin yang kecil menjalani transformasi selama pertumbuhan dan perkembangan. Ramus ascendens mandibula neonatal rendah

dan lebar, proses koronoideus relatif besar dan jauh di atas kondilus. Pemisahan awal dari korpus mandibula kanan dan kiri bawah di midline simfisis secara bertahap dieliminasi di antara bulan 4 dan 12 setelah kelahiran, ketika proses osifikasi mengubah

syndesmosis menjadi synostosis, menyatukan dua bagian.


9

Meskipun mandibula muncul

sebagai single

bone pada

orang

dewasa,

secara

perkembangan dan fungsional dibagi menjadi beberapa subunit rangka (Gambar12-2). Tulang basal tubuh membentuk satu unit, yang melekat ke alveolar, koronoideus , sudut , dan prosesus condylaris dan dagu. Pola pertumbuhan masing-masing sub-

unit tulang dipengaruhi oleh matriks fungsional yang bertindak pada tulang: gigi bertindak sebagai matrik fungsional untuk unit alveolar, kerja

otot temporalis mempengaruhi proses koronoideus; masseter dan otot pterygoideus medial bekerja pada sudut dan ramus mandibula; dan otot pterygoideus lateral yang memiliki pengaruh pada prosesus condylaris. Fungsi yang berkaitan dengan lidah dan otot perioral dan perluasan rongga mulut dan faring memberikan rangsangan bagi

pertumbuhan mandibula yang optimal. Dari semua tulang wajah, mandibula mengalami sebagian besar pertumbuhan postnatal dan memberikan bukti-bukti variasi yang banyak dalam hal morfologi.

Pertumbuhan

terbatas

berlangsung

di mental simfisis sampai

fusi terjadi.

lokasi utama pertumbuhan mandibula postnatal berada di kartilago condylar, yang posterior berbatasan dengan ramus, dan alveolar ridge. Daerah deposisi tulang yang luas sebagian besar memperhitungkan pada untuk peningkatan tinggi, panjang, dan lebar mandibula. Namun,

pertumbuhan inkremental dasar banyak remodelling regional pada fungsi lokal yang

melibatkan resorpsi selektif dan perpindahan elemen mandibula.

Kartilago condylar mandibula berfungsi baik sebagai (1) kartilago artikular pada sendi temporomandibular, ditandai dengan selapis permukaan fibrokartilago, dan (2)

pertumbuhan kartilago analog menjadi plat epiphysial pada tulang panjang , ditandai oleh hipertropi lapisan tulang yang lebih dalam. Pada bayi, inklinasi kondilus mandibula cenderung hampir horizontal, sehingga

pertumbuhan kondilus menyebabkan peningkatan lebih banyak pada panjang mandibula dibandingkan dengan ketinggiannya. Deposisi tulang terjadi di perbatasan posterior ramus, dimana resorpsi secara

bersamaan juga terjadi di batas anterior untuk mempertahankan proporsi ramus, yang pada dasarnya , menggerakkan ramus kebelakang dalam kaitannya dengan corpus mandibula. Deposisi dan resorpsi yang bersamaan notch, dan meluas mereposisi sampai processus secara progressif

koronoideus, melibatkan mandibular foramen mandibula ke posterior.

11

Prosesus alveolaris berkembang sebagai palung pelindung dalam responnya terhadap benih gigi dan menjadi sumperimposed pada tulang basal mandibula. Hal ini menambah ketinggian dan ketebalan korpus mandibula dan terutama berguna untuk penempatan gigi molar ketiga. Tulang alveolar gagal terbentuk jika gigi tidak ada dan mengalami resorbsi yang dikarenakan oleh ekstraksi gigi. Dagu dibentuk pada bagian dari ossicles mental dari kartilago aksesori dan

ujung ventral kartilago Meckel, sangat kurang berkembang pada bayi, yang terbentuk sebagai sub-unit yang independen pada mandibula, dipengaruhi oleh oleh faktor seksual dan faktor genetik yang spesifik.. perbedaan jenis kelamin pada daerah symphyseal mandibula tidak signifikan hingga terbentuk karakteristik seksual sekunder. Dengan demikian, dagu menjadi signifikan hanya pada masa remaja, dari perkembangan tonjolan mental dan tuberkel.

Sedangkan dagu yang kecil ditemukan pada orang dewasa pada kedua jenis kelamin, dagu yang sangat besar memiliki karakteristik maskulin. "Unit" kerangka dagu muncul sebagai ekspresi dari kekuatan fungsional yang diberikan oleh otot-otot pterygoideus lateral, dalam menarik mandibula ke depan, secara tidak langsung menekan daerah

symphyseal mental. Bone buttressing untuk menahan tekanan otot, yang lebih kuat pada pria, terlihat dalam dagu laki-laki lebih menonjol. Dagu yang menonjol adalah keunikan manusia,tidak ada pada primata lain. Selama hidup janin, ukuran relatif dari rahang atas dan rahang bawah bervariasi. Awalnya, mandibula yang jauh lebih besar dari rahang atas, yang kemudian terlihar bahwa

pertumbuhan maksila lebih besar; sekitar 8 minggu pasca konsepsi, pertumbuhan maksila overlap dengan mandibula. Pertumbuhan yang lebih besar pada mandibula menghasilkan ukuran yang hampir sama antara rahang atas dan rahang bawah pada minggu ke 11. Pertumbuhan mandibula lebih lambat dari perumbuhan maksila antara minggu ke 13 dan 20 karena adanya peralihan dari kartilago Meckel ke kartilago sekunder kondilus sebagai penentu utama pertumbuhan pada mandibula. Saat lahir, mandibula cenderung lebih retrognati daripada maksila walaupun kedua rahang dapat saja berukuran sama. Kondisi retrognati ini biasanya terkoreksi dengan sendirinya pada awal kehidupan postnatal oleh pertumbuhan mandibula yang sangat cepat dan perpindahan ke arah depan untuk mencapai hubungan maksilomandibula kelas I Angle. Pertumbuhan mandibula yang tidak adekuat akan menghasilkan hubungaan kelas II Angle (retrognati), dan pertumbuhan mandibula yang sangat berlebih menghasilkan hubungan kelas III (prognati). Mandibula dapat tumbuh lebih panjang dibandingkan maksila.

13

BAB III KESIMPULAN

Pertumbuhan kepala kondilus terjadi dalam arah atas dan belakang. Pertumbuhan mandibula yaitu pergeseran ke arah bawah dan ke depan, sebagai contoh dari translasi primer.

Resorpsi tulang pada batas anterior dan deposisi pada batas posterior kedua ramus menyebabkan pertumbuhan anteroposterior pada ramus dan badan mandibula, sehingga meningkatkan panjang posterior badan mandibula

Remodeling mandibula menyebabkan badan mandibula memanjang ke arah posterior akibat resorpsi dan remodeling pada batas anterior ramus

Pergeseran primer mandibula menyebabkan mandibula bergeser ke anterior. Bagian posterior ramus dan kondilus tumbuh ke arah posterior (ke atas dan belakang).

DAFTAR PUSTAKA

Profitt, W.R. 2007. Contemporary Orthodontics 4th Edition. Mosby Inc. Missouri Sperber, G.H. 2001. Craniofacial Development. BC Decker Inc. England http://lydiasartika.wordpress.com/2011/05/23/tumbuh-kembang-okf/ [diakses 8 April 2012] http://www.scribd.com/doc/61575470/pertumbuhan-dan-pekembangan-kraniofasial [diakses 8 April 2012] http://www.nature.com/nrg/journal/v12/n3/fig_tab/nrg2933_F1.html [diakses 8 April 2012]

15