Anda di halaman 1dari 12

MIMISAN(EPISTAKSIS) Pendahuluan Epistaksis atau perdarahan hidung seringkali dapat menjadi berat, berubah menjadi kasusgawat darurat dan

memerlukan tindakan segera. Epistaksis biasanya terjadi tibatiba. Perdarahan mungkin banyak, bisa juga sedikit. Penderita selalu ketakutan sehingga merasa perlu memanggil dokter.Sebagian besar darah keluar atau dimuntahkan kembali.

Anatomi vasculer Suplai darah cavum nasi berasal dari sistem karotis; arteri karotis eksterna dan karotis interna. Arteri karotis eksterna memberikan suplai darah terbanyak pada cavum nasi melalui !. Arteri sphenopalatina, cabang terminal arteri maksilaris yang berjalan melalui "oramen sphenopalatina yang memperdarahi septum tiga perempat posterior dan dinding lateral hidung. #. Arteri palatina desenden memberikan cabang arteri palatina mayor, yang berjalan melalui kanalis incisivus palatum durum dan menyuplai bagian in"eroanterior septum nasi. Sistem karotis interna melalui arteri o"talmika mempercabangkan arteri ethmoid anterior dan posterior yang men darahi septum dan dinding lateral superior

Definisi Epistaksis Epistaksis adalah keluarnya darah dari hidung yang penyebabnya bisa lokal atau sistemik. Perdarahan bisa ringan sampai serius dan bila tidak segera ditolong dapat berakibat "atal. Sumber perdarahan biasanya berasal dari bagian depan atau bagian belakang hidung.

!. #.

Epistaksis ringan biasanya berasal dari bagian anterior hidung, umumnya mudah diatasi dan dapat berhenti sendiri. Epistaksis berat berasal dari bagian posterior hidung yang dapat menimbulkan syok dan anemia serta dapat menyebabkan terjadinya iskemia serebri, insu"isiensi koroner dan in"ark miokard yang kalau tidak cepat ditolong dapat berakhir dengan kematian. Pemberian in"us dan trans"usi darah serta pemasangan tampon atau tindakan lainnya harus cepat dilakukan. $isamping itu epistaksis juga dapat merupakan tanda adanya pertumbuhan suatu tumor baik ganas maupun jinak. %ni juga memerlukan penatalaksanaan yang rinci dan terarah untuk menegakkan diagnosis dan menentukan modalitas pengobatan yang terbaik.

Etiolo i

&eberapa penyebab epistaksis dapat digolongkan menjadi etiologi lokal dan sistemik. Etiologi local !. #. 'rauma lokal misalnya setelah membuang ingus dengan keras, mengorek hidung, "raktur hidung atau trauma maksilo"asia lainnya. 'umor, baik tumor hidung maupun sinus yang jinak dan yang ganas. 'ersering adalah tumor pembuluh darah seperti angio"ibroma dengan ciri perdarahan yang hebat dan karsinoma naso"aring dengan ciri perdarahan berulang ringan bercampur lendir atau ingus. (. %diopatik yang merupakan )*+ kasus epistaksis, biasanya ringan dan berulang pada anak dan remaja. ,etiga diatas ini merupakan penyebab lokal tersering. Eiologi lainnya yaitu

iritasi gas atau -at kimia yang merangsang ataupun udara panas pada mukosa hidung; ,eadaan lingkungan yang sangat dingin

'inggal di daerah yang tinggi atau perubahan tekanan atmos"ir yang tiba tiba Pemakaian semprot hidung steroid jangka lama &enda asing atau rinolit dengan keluhan epistaksi ringan unilateral clsertai %ngus berbau busuk.

Etiologi sistemik !. .ipertensi dan penyakit kardiovaskuler lainnya seperti arteriosklerosis. .ipertensi yang disertai atau tanpa arteriosklerosis rnerupakan penyebab epistaksis tersering pada usia /0-10 lahun, perdarahan biasanya hebat berulang dan mempunyai prognosis yang kurang baik, #. (. ,elainan perdarahan misalnya leukemia, hemo"ilia, trombositopenia dll. %n"eksi, misalnya demam berdarah disertai trornbositopenia, morbili, demam ti"oid dll. 'ermasuk etiologi sistemik lain A. &. 2ebih jarang terjadi adalah gangguan keseimbangan hormon misalnya pada kehamilan, menarke dan menopause kelainan kongenital misalnya hereditary hemorrhagic 'elangieclasis atau penyakit 3endj-4sler-5eber; 6. Peninggian tekanan vena seperti pada ern"isema, bronkitis, pertusis, pneumonia, tumor leher dan penyakit jantung $. pada pasien dengan pengobatan antikoagjlansia.

Sum!er perdarahan Sumber perdarahan berasal dari bagian anterior atau posterior rongga hidung.

Epistaksis anterior

&erasal dari pleksus ,iesselbach atau a.etmoidalis anterior. Perdarahan biasanya ringan, mudah diatasi dan dapat berhenti sendiri. Pada saat pemeriksaan dengan lampu kepala, periksalah pleksus ,iesselbach yang berada di septum bagian anterior yang merupakan area terpenting pada epistaksis. la merupakan anastomosis cabang a.etmoidalis anterior, a.s"enopaltina, a. palatina asendens dan a.labialis superior. 'erutama pada anak pleksus ini di dalam mukosa terletak lebih super"isial, mudah pecan dan menjadi penyebab hampir semua epistaksis pada anak.

Epistaksis posterior umumnya berat sehingga sumber perdarahan seringkali sulit dicari. 7mumnya berasal dari a.s"enopalatina dan a.etmoidalis posterior. Sebagian besar darah mengalir ke rongga mulut dan memerlukan pemasangan tampon posterior untuk mengatasi perdarahan. Sering terjadi pada penderita usia lanjut dengan hipertensi.

Patofisiolo i 3ongga hidung kita kaya dengan pembuluh darah. Pada rongga bagian depan, tepatnya pada sekat yang membagi rongga hidung kita menjadi dua, terdapat anyaman pembuluh darah yang disebut pleksus ,iesselbach. Pada rongga bagian belakang juga terdapat banyak cabang-cabang dari pembuluh darah yang cukup besar antara lain dari arteri sphenopalatina. 3ongga hidung mendapat aliran darah dari cabang arteri maksilaris 8maksila9rahang atas: interna yaitu arteri palatina 8palatina9langit-langit: mayor dan arteri s"enopalatina. &agian depan hidung mendapat perdarahan dari arteri "asialis 8"asial9muka:. &agian depan septum terdapat anastomosis 8gabungan: dari cabang-cabang arteri s"enopalatina, arteri etmoid anterior, arteri labialis superior dan arteri palatina mayor yang disebut sebagai pleksus kiesselbach 8little;s area:. <ika pembuluh darah tersebut luka atau rusak, darah akan mengalir keluar melalui dua jalan, yaitu lewat depan melalui lubang hidung, dan lewat belakang masuk ke tenggorokan. Epistaksis dibagi menjadi # yaitu anterior 8depan: dan posterior 8belakang:. ,asus epistaksis anterior terutama berasal dari bagian depan hidung dengan asal perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach. Epistaksis posterior umumnya berasal dari rongga hidung posterior melalui cabang a.s"enopalatina. Epistaksis anterior menunjukkan gejala klinik yang jelas berupa perdarahan dari lubang hidung. Epistaksis posterior seringkali menunjukkan gejala yang tidak terlalu jelas seperti mual, muntah darah, batuk darah, anemia dan biasanya epistaksis posterior melibatkan pembuluh darah besar sehingga perdarahan lebih hebat jarang berhenti spontan.

Pemeriksaan

Pemeriksaan meliputi pemeriksaan anamnesis,keadaan umum, dan pemeriksaan "isik hidung. Anamnesis Pada anamnesis perlu ditanyakan

apakah perdarahan ini baru perlama kali atau sebelumnya sudah pernah kapan terakhir lerjadinya. jumlah perdarahan Perlu lebih detail karena pasien biasanya dalam keadaan panik dan cenderung mengatakan bahwa darah yang keluar adalah banyak. 'anyakan apakah darah yang keluar kira-kira satu sendok alau satu cangkir Sisi mana yang berdarah jjga perlu dilanyakan,

Apakah satu sisi yang sama atau keduanya; Apakah ada trauma, in"eksi sinus, operas hidung atau sinus apakah ada hipertensi keadaan mudah berdarah Apakah ada penyakit paru kronik, penyakit kardiovaskuler, arteriosklerosis; apakah sering makan obat-obatan seperti aspirinn atau produk antikoagjlansia

Pemeriksaan keadaan umum"

'anda vital harus dimonitor. Segeralah pasang in"us jika ada penurunan tanda vital, adanya riwayat perdarahan pro"us, baru mengalami sakit berat misalnya serangan jantung, stroke atau pada orang tua. Pemeriksaan hidun " Pemeriksaan yang diperlukan berupa !. 3inoskopi anterior Pemeriksaan harus dilakukan dengan cara teratur dari anterior ke posterior. =estibulum,mukosa hidung dan septum nasi, dindng lateral hidung dan konkha in"erior harus diperiksa dengan cermat #. 3inoskopi posterior Pemeriksaan naso"aring dengan rinoskopi posterior penting pada pasien dengan epistaksis dan secret hidung kronik untuk menyingkirkan neoplasma (. Pengukuran tekanan darah 'ekana darah perlu diukur untuk menyingkirkan diagnosis hipertensi, karena hipertensi dapat menyebabkan epistaksis yang hebat dan sering berulang >. 3ontgen sinus 3ontgen sinus penting mengenali neoplasma atau in"eksi *. Skrinning terhadap koagulopati 'es-tes yang tepat termasuk waktu protombin serum,waktu tromboplastin parsial, jumlah platlet dan waktu perdarahan /. 3iwayat penyakit

3iwayat penyakit yang teliti dapat mengungkapkan setiap masalah kesehatan yang mendasari epistaksis

Komplikasi Komplikasi yang dapat timbul :


sinusitis septal hematom (bekuan darah pada sekat hidung) deformitas (kelainan bentuk) hidung aspirasi (masuknya cairan ke saluran napas bawah) kerusakan jaringan hidung infeksi

Penatalaksanaan ( prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis Penaganan awal !. #. Siapkan alat dan bahan ,eadaan umum penderita presyok@syok anemis ?enghentikan perdarahan ?encegah komplikasi ?encegah berulang nya epistaksis

(. berusaha menentukan sumber perdarahan

&eberapa cara untuk menghentikan perdarahan A. &. 6. $. E. C. ?etode trotter 'ampon e"edrin !+ atau adrenalin !@!00.000 ,austik 8PE3A, A%'3AS A'A7 '3%6.243 A6E'%6 A6%$: 'ampon anterior 'ampon bellocB 7saha paling akhir ligasi arteri

'ampon &elloBue

Perdarahan posterior yang berat biasanya baru dapat diatasi setelah dipasang tampon posterior atau tampon &elloBue. 'ampon ini dibuat dari kasa dan berukuran (D#D# cm dan mempunyai ( buah benang, # buah pada satu sisi dan sebuah lagi pada sisi lain. 'ampon ini harus memenuhi koana. 6ara memasangnya adalah sebagai berikut

$imasukkan kateter terlebih dahulu ke lubang hidung, gunanya untuk menarik tampon &elloBue ke koana. 7jung kateter yang tampak di oro"aring ditarik keluar rongga mulut dengan pinset dan diikat pada # benang yang terdapat pada ! sisi tampon, kateter kemudian ditarik meluar melalui rongga hidung, tampon akan tertarik ke dalam rongga mulut dan dengan ujung jari telunjuk tampon didorong masuk ke koana.

Selanjutnya dipasang tampon anterior dan kedua benang yang keluar dari lubang hidung diikatkan @ di"iksasi sehingga tampon &elloBue tadi akan ter"iksasi dengan

baik di koana. &enang yang satu lagi akan tetap berada di rongga mulut dan di"iksasi pada pipi dengan plaster, guna benang ini adalah untuk menarik tampon keluar melalui rongga mulut setelah #-( hari. Pasien dengan &elloBue tampon harus dirawat.Sebagai pengganti tampon &elloBue dapat dipakai kateter Coley dengan balon. &alonnya diletakkan di naso"aring dan dikembangkan dengan air.

Pada setiap pemasangan tampon, harus selalu diberi antibiotik untuk mencegah terjadinya otitis media dan sinusitis. <ika pasien gelisah obat penenang atau terapi suporti" dapat diberikan. 4bat hemotatik juga dapat diberikan meskipun man"aatnya masih diragukan.

2igasi Arteri

2igasi arteri dilakukan pada epistaksis berat dan berulang yang tidak dapat diatasi dengan pemasangan tampon. <enis arteri yang diligasi tergantung sumber perdarahan. <ika berasal dari bagian belakang rongga hidung, biasanya dari a.s"enopalatina yang merupakan cabang a.maksilaris, dilakukan ligasi a.maksilaris di "ossa pterigomaksila 8di belakang dinding belakang sinus maksila: melalui pendekatan 6aldwel-2uc. <ika tidak berhasil dilakukan ligasi a.karotis eksterna di daerah leher. <ika perdarahan berasal dari bagian atas rongga hidung biasanya dari a.etmoidalis anterior atau posterior, ligasi dilakukan pada arteri arteri ini melalui insisi kulit di daerah medial orbita. Embolisasi

Embolisasi pembuluh darah juga dapat dilakukan dengan panduan arteriogra"i dengan memasukkan gel sponge atau lainnya, namun terdapat risiko terjadi emboli otak.

Mence ah mimisan <angan mengorek hidung, terutama bila kuku panjang <angan terlalu keras bila sisih 8mengeluarkan lendir dari hidung: ?enggunakan humidi"ier dalam ruangan selama winter ?enggunakan semprot hidung berisi saline 8over the counter: sebelum tidur 4leskan =aseline@petroleum jelly dekat lubang hidung sebelum tidur ?enghindari trauma pada wajah ?enggunakan masker bila bekerja di laboratorium untuk menghindari menghirup -at--at kimia secara langsung .indari asap rokok karena asap dapat mengeringkan dan mengiritasi mukosa <ika menderita alergi berikan obat antialergi untuk mengurangi gatal pada hidung Stop pemakaian aspirin karena akan memudahkan terjadinya mimisan dan membuat mimisan berkepanjangan

Kesimpulan &ermacam-macam cara mengatasi epistaksis tergantung dari asal perdarahan dan berat ringannya perdarahan telah dikemukakan. Aamun dalam penatalaksanaannya, pertu pula dicari "aktor penyebab sistemik jika dicurigai keberadaannya melalui berbagai pemeriksaan termasuk konsultasi ke ahli penyakit dalam. Pasien@orang tua pasien biasanya dalam keadaan panik sehingga terapi suporti" juga penting untuk dilaksanakan. <ika penyebabnya suatu tumor, diagnosis dini merupakan suatu tindakan yang

harus dilaksanakan agar perluasan tumor dapat dihindarkan, namun tindakan ini dapat berbahaya jika tumor tersebut merupakan tumor pembuluh darah. 7mumnya semua tindakan harus dilaksanakan dengan cermat, cepat dan tepat dengan memikirkan semua kemungkinan penyebab epistaksis.

Kepustakaan 3oland A<, ?c3ae 3$3 dan ?c.6obe A5. ,ey topics in 4tolaryngology, &ios Scienti"ic Publisher 2imited, !EE*. &alenger <<, Snow <r<&. 4torhinolaryngology, .ead and Aeck Surgery, !*th Ed.5illiam F 5ilkins, &altimore, !EE/.