Anda di halaman 1dari 12

1. PENDAHULUAN a.

Latar Belakang Untuk memperkuat jaringan jalan provinsi, pada tahun 2010 Pemerintah Provinsi Banten melakukan perencanaan untuk membangun jembatan Cidanghinag baru dengan bentang 51 m dan lebar perkerasan 7.5 m. Jembatan tersebut terletak di samping jembatan existing pada ruas jalan Munjul Panimbang Kabupaten Pandeglang - Provinsi Banten. Perencanaan jembatan yang dilakukan oleh Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Banten menggunakan 2 pilar pada bagian tengah dengan jarak antar pilar 20 m. dan menggunakan girder baja HB 900 x 300 x 15 x 23. Perencanaan jembatan baru akan menggunakan 2 bentang yaitu 1 segmen rangka baja dengan bentang 41 meter dan 1 segmen komposit girder dengan bentang 10 meter. Penggunaan rangka baja digunakan karena strukturnya memiliki kekuatan atau usia yang tahan lama serta mudah pada pengerjaan di lapangan. Sehingga diharapkan jembatan baru ini mampu menampung volume lalu lintas kendaraan yang cukup padat. b. Tujuan Penelitian Menghitung dan merencanakan bangunan atas jembatan meliputi: 1) Merencanakan gelagar - gelagar induk 2) Perhitungan lantai kendaraan 3) Perencanaan batang-batang Struktur 4) Ikatan angin 5) Merencanakan sambungan pada profil rangka baja Menghitung dan merencanakan bangunan bawah jembatan meliputi: 1) Merencanakan Elastomer/Perletakan. 2) Merencanakan abutment. 3) Merencanakan pondasi yang sesuai dengan tanah setempat. c. Batasan Penelitian Tipe jembatan yang digunakan adalah jenis jembatan rangka Baja Analisa struktur manual dan program bantu SAP 2000 v.14

3) Pembebanan jembatan mengacu pada SNI T-02-2005 tentang Pembebanan Untuk Jembatan 4) Pembebanan gempa jembatan mengacu pada PD T-04-2004-B tentang Perencanaan Beban Gempa Untuk Jembatan 5) Analisis struktur atas jembatan mengguanakan metode LRFD

1) 2)

2. TINJAUAN PUSTAKA A. Riyadul Faizin dan Dhikie Afriyana P, UNTIRTA (2011) melakukan perencanaan jembatan rangka baja pada Jembatan Linduk Ruas Banten Lama Pontang Kabupaten Serang . Jembatan didesain dengan mengambil bentang 50 m untuk Rangka Batang. Beban-beban yang dipakai untuk merencanakan jembatan ini akan mengacu pada peraturan RSNI T-022005 dan BMS 1992. Perencanaan struktur atas jembatan megacu pada peraturan AISCLRFD. Perhitungan beban-beban yang bekerja, dianalisa dengan menggunakan program SAP 2000. Hasil perencanaan berupa Rangka Batang dengan bentang 50 m dengan tinggi rangka 6.25 m. Dimensi profil diadapt untuk gelagar melintang berupa WF 900 x 300 x 18 x 34 dan gelagar memanjang WF 500 x 300 x 11 x 18 Batang Horisontal atas WF 400 x 400 x 20 x 35, batang diagonal WF 400 x 400 x 15 x l5, batang horisontal bawah WF 400 x 400 x 20 x 35 dengan menggunakan mutu baja BJ 55. Kontruksi abutment selebar 10 m yang ditumpu pada pondasi tiang pancang. Gusti Riki Parmono, Universitas Muhammadiah Malang (2008) hasil penelitiannya struktur atas jembatan yang mempunyai kekuatan yang besar dalam mengatasi lendutan yaitu dengan menggunakan bentuk pelengkung (busur). Beban-beban yang bekerja pada lantai kendaraan akan didistribusikan ke seluruh busur rangka melalui gantungan-gantungan (hangers). Hasil analisa perancangannya, rangka baja busur dan gelagarnya menggunakan metode LRFD. Hasil analisa perencanaan, dimensi dari rangka busur yang digunakan yaitu untuk batang pelengkung atas menggunakan profil WF 400.400.30.50, batang pelengkung bawah mengunakan profil WF 400.400.50.70, batang vertikal

menggunakan profil WF 400.400.15.15 dan batang diagonal menggunakan profil WF 400.200.7.11. Sedangkan untuk gelagar memanjang menggunakan profil WF 400.200.8.13 dan untuk gelagar melintang profil WF 900.300.18.34. 3. METODOLOGI PENELITIAN a. Pengumpulan Data Seluruh data/informasi perencanaan jembatan berdasarkan data-data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Propinsi Banten. Adapun datadata yang diperoleh tersebut di antaranya: 1) Data Laporan Topografi Dari gambar layout direncanakan jembatan mempunyai bentang 51 m. Pada bangunan bawah jembatan terdiri atas dua buah kepala jembatan (abutment) yang berada pada sisi-sisi jembatan serta satu buah pilar. 2) Data Laporan Penyelidikan tanah Bebarapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penyelidikan tanah adalah: a) Dari hasil uji bor mesin didapatkan tanah keras pada kedalaman 40 meter, hal ini ditunjukkan dengan hasil pengujian Nspt yang melebihi nilai 60. b) Nilai kadar air rata-rata menunjukkan angka 34,85% c) Indeks plastisitas sebagai hasil dari pengujian batas atterberg mendapatkan nilai 12,12 d) Berat jenis tanah pada lokasi jembatan adalah 2,67 e) Berat isi tanah sebesar 17,15 kN f) Berdasarkan perhitungan dari pengujian direct shear tanah didapatkan angka kohesi (c) sebesar 0 sedangkan sudut geser yang terbentuk sebesar 13,604 (Dinas bina marga dan tata ruang Provinsi Banten,laporan analisa geoteknik,2010) b. Metode Penyusunan Gambar Existing Jembatan Berupa gambar Proyek Jembatan yang terdiri dari potongan memanjang, potongan melintang, layout jembatan. Gambar existing jembatan yang dikerjakan oleh Tim Ahli dari

Perencana/Konsultan yang telah disetujui oleh Pemilik Proyek. Gambar kontruksi ini berupa gambar jembatan dengan panjang bentang adalah 51 m dengan lebar jembatan 8 meter. Gambar modifikasi Jembatan Berupa gambar (Preliminary Desain) yang akan dijadikan sebagai acuan dalam membuat gambar rencana kontruksi jembatan atau berupa gambar hasil. Modifikasi dari gambar existing kontruksi jembatan. Perencanaan Awal a) Penentuan Letak Lantai Kendaraan LK = 0.00 m Direncanakan Jembatan dengan lantai kendaraan diatas b) Penentuan Jenis Jembatan Tinggi ruang bebas (H1) : 5,1 m Direncanakan Jembatan tertutup Data-data asli: a) b) c) d) e) f) g) Nama jembatan : Cidanghiang Lokasi Jembatan : Ruas Jalan Munjul Panimbang Kab. Pandeglang Banten Tipe Bangunan Atas : Pelat beton bertulang Lebar Jembatan : 1 + 7 meter Tipe Pilar : Dinding Beton Bertulang Tipe Pondasi : Pondasi tiang pancang Jumlah bentang : 3 Bentang

Data-data Modifikasi: Jenis jembatan L1 (Jembatan Rangka Baja) a) Panjang Jembatan : 41 meter b) Lebar Jembatan : 9 meter ( 1 + 7 + 1 meter) c) Tinggi ruang bebas :5,1 m Jenis jembatan L2 (Jembatan Girder Komposit) a) Panjang Jembatan : 10 meter b) Lebar Jembatan : 9 meter ( 1 + 7 + 1 meter)

PANIMBANG

MUNJUL

PANIMBANG
14.00 13.00 12.00 11.00 10.00 9.00 8.00 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 Muka Air Normal Elevasi Jalan Eksisting + 12.100

MUNJUL
14.00 13.00 12.00 11.00 10.00 9.00 8.00 7.00 6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00

Data lantai jembatan Tebal slab lantai jembatan Tebal lapis overlay aspal Tebal genangan air hujan Jarak antar girder Lebar jalur lalu lintas Lebar trotoar Lebar total jembatan Panjang bentang jembatan Data foamed steel deck Tinggi profil lebar efektif profil

20

10

10

20

Gambar Tampak Samping Rencana Jembatan

ts = 0.2 m ta = 0.05 m th = 0.05 m s = 1.6 m b1 = 7 m b2 = 1 m b=9m L1 =10 m L2 = 41 m hr = 0.05 m wr = 0.16 m sr = 0.32 m tc = 0.15 m

Base Metal Thickness-BMT Unit Area Inertia moment Section Modulus mm2/mm mm4/mm mm3/mm kg/m
2

0.7 889.69 409687.5 15156.25 7.38

1 1269.7 526563 19479.2 10.34

1.2 1524 701979 25958 12.33

Gambar Potongan Melintang Bentang L1 (Rangka Baja)


9.92 0.26 1.00 0.15 7.00 0.15 1.00

Mass

Tabel Data Propertis Foamed Steel Deck Data bahan struktur Beton k -350 fc = 29.5 MPa Berat isi c = 24 kN/m3 Modulus elastisitas Ec = 25332.085 MPa Angka poisson = 0.2 Modulus geser G = 12666.042 Koefisien muai beton = 0.00001 Tulangan BJ 37 fy = 240 MPa Modulus elastisitas Es = 200000 MPa
JENIS BEBAN M tumpuan 2.511 0.588 8.507 0.656 M lapangan 1.506 0.353 5.200 0.401 Mu tumpuan 3.264 1.177 15.313 0.656 20.410 Mu lapangan 1.958 0.706 9.360 0.401 12.426

Sandaran Trotoar Perkerasan Lentur Slab Lantai Girder Diafragma

2.10

1.60

1.60

1.60

1.60

1.60

Gambar Potongan Melintang Bentang L2 (Girder Komposit) 4. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Perencanaan Plat Lantai Kendaraan


tc hr

Berat Sendiri Beban Mati Tambahan Beban Truk T Beban Angin Mu total

1.3 2 1.8 1

wr

sr

1.60

Tabel kombinasi Pembebanan pada Lantai Jembatan Perencanaan deck baja Dignakan deck baja dengan ketebalan 1 mm dengan data sebagai berikut : tinggi profil hr = 50 mm Lebar efektif profil Sr = 320 mm

Gambar Lantai Jembatan

Wx = 10.34 kg/m2 As = 1269.7 mm2 dx = 150 mm tebal selimut d = 30 mm Diameter baut baut = 14 mm Momen ultimit Mu = 20.410 kNm Menentukan tinggi efektif slab Berat profil Luas profil
( ) ( )

Syarat Rn < R max

(oke)

Rasio tulangan minimum rasio tulangan perlu


[ ]

Menghitung rasio tulangan


( ( ) )

Karena perlu <

min maka = 0.00359

Maka luas tulangan yang diperlukan adalah

( (

) )

Tulangan yang digunakan adalah D14 , maka jarak tulangan yang diperlukan adalah

karena min < < max maka digunakan = 0.0053

yang

Maka dipasang tulangan 14 300 mm

Persyaratan As < As rencana (604.433 mm2 < 1269.7 mm2) oke Dek baja bisa digunakan pada lantai jembatan Perencanaan tulangan lentur positif Momen ultimit rencana Mu = 12.426 kNm Tebal pelat lantai kendaraan, dx = 150 mm Tebal selimut beton , d = 30 mm d = 150 - 30 = 120 mm Modulus elastisitas baja , Es = 200000 MPa 1 = 0.85
( ( ) ( ) ( ( ) ) )

Tulangan susut diambil 50% tulangan pokok

Tulangan yang digunakan adalah 14 , maka jarak tulangan yang diperlukan adalah

Maka dipasang tulangan 14 300 mm

)]

Kontrol lendutan slab Tebal total slab h = 200 mm Tebal selimut d = 30 mm Tebal efektif slab beton d = h d = 170 mm Luas tulangan slab As = (2 x 512.867) + 1269.7 = 2295.433 mm2 Panjang bentang slab Lx = 5000 mm Ditinjau slab selebar b = 1600 mm Beban terpusat P = TTT = 144.643 kN Beban merata Q = PMS + PMA = 9.684

Momen inersia penampang bruto

Rasio tulangan slab lantai jembatan

Modulus keruntuhan lentur beton


Factor ketergantungan waktu untuk beban mati (jangka waktu > 5 taun) dihitung dengan menggunakan :
=2 ( ) ( )

Nilai perbandingan modulus elastisitas

Jarak garis netral terhadap sisi atas beton Momen inersia yang ditransformasikan ke beton dapat dihitung sebagai berikut
( Icr ( ( ) ( ) ( ) ) ( ) )

Lendutan jangka panjang akibat rangkak dan susut

Lendutan total pada plat jembatan memiliki syarat ( e g) 16.261 < 20.83 oke

Menghtung momen retak

14 - 300

Momen maksimum akaibat beban terpusat dan merata


( ( ) ( ) ( )
14 - 300

Inersia efektif untuk perhitungan lendutan


( *( *( ( ) ) ) ) ( ( +
Comp deck 1 mm

) )
14 - 300
0.20

1.60

Lendutan elastis akibat beban mati dan hidup dihitung dengan cara :
(
( ( )

Gambar Rencana Penulangan Plat Lantai Jembatan

(
)

Garis pengaruh batang horizontal bawah


J K L M N O P Q

batang s2
B

S1

S2

S3
5.00

S4
5.00

S5

S6

S7

S8

Gambar Batang Horizontal Bawah Garis pengaruh 1 (s1 = s8) Satu satuan di A maka RA = 40/40 = 1 Mj = 0 (2.5 x 1)-(1 x 2.5)-(6 x S1) = 0 2.5 2.5 6 S1 = 0 S1 = 0 Garis Pengaruh 2 (S2 = S7) Satu satuan di C maka RA = 35/40 = 0.88 Mk = 0 (7.5 x 0.88) (1 x 2.5) (6 x S2) = 0 6.6 2.5 6 S2 = 0 S2 = 0.68 Garis pengaruh 3 (S3 = S6) Satu satuan di D, maka Ra = 30/40 = 0.75 Ml = 0 (12.5 x 0.75) (1 x 2.5) (6 x S3) = 0 9.38 2.5 6 S3 = 0 S3 = 1.1 Garis Pengaruh 4 (S4) Satu satuan di E, maka RA = 25/40 = 0.63 Mm = 0 (17.5 x 0.63) (1 x 2.5) (6 x S4) = 0 11 - 2.5 6 S4 = 0 S4 = 1.42 Garis pengaruh 5 (S5) Satu satuan di F, maka RA = 20/40 = 0.5 Mm = 0 (17.5 x 0.5) (6 x S5) = 0 8.75 6 S5 = 0 S5 = 1.46

1.5 1 0.5 0 -0.5 0

10 15 20 25 30 35 40

batang 3
1.5 1 0.5 0 -0.5

10 15 20 25 30 35 40

batang s4
1.5 1 0.5 0 -0.5 0

10 15 20 25 30 35 40

batang s5
1.5 1 0.5 0 -0.5 0 5 10 15 20 25 30 35 40

batang s1
1.5 1 0.5 0 -0.5 0 5 10 15 20 25 30 35 40

Pembebanan Direncanakan rangka utaman menggunakan profil WF 400x400x13x21 dengan berat per meter panjang 1.68 kN/m. Beban Mati P1 akibat berat rangka horizontal atas P1 = jumlah batang x panjang batang x berat / meter P1 = 1 x 5 x 1.68 = 8.42 kN P2 akibat berat rangka horizontal bawah P2 = jumlah batang x panjang batang x berat / meter P2 = 1 x 5 x 1.68 = 8.42 kN P3 akibat rangka diagonal P3 = jumlah batang x panjang batang x berat / meter P3 = 2 x 6.5 x 1.68 = 21.89 kN P4 akibat rangka atap P4 = jumlah batang x panjang batang x berat / meter P4 = 1 x 9.3/2 x 0.54 = 2.53 kN

P5 akibat ikatan angin atas P5 = jumlah batang x panjang batang x berat / meter P5 = 1 x 6.7 x 0.33 = 2.21 kN P6 akibat ikatan angin bawah P6 = jumlah batang x panjang batang x berat / meter P6 = 1 x 10.5 x 0.33 = 3.46 kN P7 akibat balok memanjang P7 = jumlah batang x panjang batang x berat / meter P7 = 3 x 5 x 1.34 = 19.57 kN P8 akibat balok melintang P8 = jumlah batang x panjang batang x berat / meter P8 = 1 x 4.65 x 1.73 = 8.03 kN P9 akibat railing P9 = jumlah batang x panjang batang x berat / meter P9 = 2 x 5 x 0.087 = 0.87 kN P10 akibat berat trotoar P10 = Panjang x lebar x tinggi x berat / meter3 P10 = 5 x 1 x 0.15 x 24 = 18 kN P10 akibat berat lantai kendaraan P10 = Panjang x lebar x tinggi x berat / meter3 P10 = 5 x 4.65 x 0.2 x 24 = 111.60 kN P11 akibat berat aspal P10 = Panjang x lebar x tinggi x berat / meter3 P10 = 5 x 3.5 x 0.05 x 22 = 19.25 kN Besarnya beban mati yang diterima rangka utama adalah P tot = P1 + P2 + P3 + P4 + P5 + P6 + P7 + P8 + P9 + P10 + P11 P tot = 8.42 + 8.42 + 21.89 + 2.53 + 2.21 + 3.46 + 19.57 + 8.03 + 0.87 +18 + 111.60 + 19.25 = 224.24 kN Beba Hidup Beban merata
( ( ( ) ( ( ) ) ( ( ) ( ( ) ) ( ) ) ) ) ( ) )

Garis pengaruh Batang S1 Batang S2 Batang S3 Batang S4 Batang S5 Batang S6 Batang S7 Batang S8

Total koefisien 0.00 2.73 4.58 5.68 5.83 4.58 2.73 0.00

beban mati (kN) 0.00 612.93 1027.78 1274.45 1308.09 1027.78 612.93 0.00

beban hidup (kN) 0.00 2647.92 4440.10 5505.73 5651.04 4440.10 2647.92 0.00

Beban Total (kN) 0.00 3260.85 5467.89 6780.18 6959.13 5467.89 3260.85 0.00

Tabel Rakapitulasi Gaya Batang Batang tarik horizontal Beban ultimit batang tekan horizontal Pu = 6959.13 kN Batang tekan horizontal direncanakan menggunakan profil IWF 400x400x13x21 dengan tumpuan sendi sendi (k = 1) Mutu baja yang digunakan adalah BJ 55 dengan fy = 410 MPa Tegangan dasar fs = fy/1.5 = 410/1.5 = 273.33 Mpa Modulus elastisitas E = 200000 MPa Control kekuatan

Beban Terpusat
(

Sambungan batang horizontal bawah Batang horizontal atas IWF 400x400x13x21 tw = 21 mm Pelat rangka utama tw = 20 mm Diameter baut d = 25 mm Diameter lubang dL = d + (2x1.5 mm) d = 28 mm Mutu baja yang digunakan BJ 55 fy = 410 MPa Tegangan tarik putus fu = 550 MPa Mutu baut Tegangan leleh baja fy = 585 MPa Tegangan tarik putus fu = 825 MPa Luas penampang Ab = 491 mm2 Gaya aksial ultimit Pu = 6959.13 kN Periksa kekuatan plat tertipis Luas kotor Ag = p x tp = 400 x 20 = 8000 mm2

Luas netto An = (P (m x dl)) x tp An = (400 (4 x 28)) x 20= 5760 mm2 An max =0.85 x Ag = 0.85 x 8000 = 6800 mm2 Luas efektif Ae = 5760 mm2 Tn = x fy x Ag = 0.9 x 585 x 8000 = 4212 kN Pn = x fu x Ae = 0.75 x 825 x 5760 = 3564 kN Kekuatan 1 baut rl baut tanpa ulir factor reduksi jumlah baris tebal pelat kuat geser

Cek keruntuhan geser balok


( ( ( ( ( ( ( ( )) )) )) ))

0.6 x fu x Anv = 0.6 x 550 x 18720 = 6177.6 kN Fu x Ant = 550 x 4320 = 2376 kN
(( ) ) ( )) (

rl = 0.5 f = 0.75 m=4 tp = 20 mm

Pn > Vu (7093.2 kN > 6959.13 kN) OKE

kuat tumpu

diambil Rn terkecil antara kuat geser dan kuat tumpu, maka didapat jumlah baut yang dibutuhkan

Gambar detail sambungan pelat rangka bawah

baut yang digunakan n = 28 baut syarat penentuan jarak baut 3 db < S < 15 tp 1.5 db < S1 < 4 tp + 100 atau 200 mm 1.23 db < S2 < 12 tp atau 150 mm Jarak antar as baut (S) Minimal 3 db = 3 x 25 = 75 mm Maksimal 15 tp = 15 x 20 = 300 mm Diambil S = 100 mm Jarak as baut ke tepi plat (S1) Minimal 1.5 db = 1.5 x 25 = 37.5 mm Maksimal 4 tp + 100 = (4 x 20) + 100 = 180 mm Diambil S = 50 mm
50 50 100 100

Perencanaan Abutment Stabilitas guling arah X

P Mx
A

Gambar stabilitas guling arah X Pondasi tiang pancang tidak diperhitungkan dalam analisis stabilitas guling, sehingga angka aman (SF) diambil > 2.2 dan letak titik guling berada di titik A (ujung pondasi). Momen penahan guling dapat dihitung dengan rumus :

Gambar rencana perletakan baut

MPX = P x ( BX / 2 ) x (1 + k) SF = MPX / MX > 2.2 k = persen kelebihan beban yang diijinkan (%) Mx = momen penyebab guling arah X SF angka aman terhadap guling Untuk beban kombinasi 1 Bx / 2 = 5 / 2 = 2.5 m P = 8904.877 kN Mx = 1076.663 kNm k=0% MPX = P x ( BX / 2 ) x (1 + k) MPX= 8904.877 x 2.5 x (1 + 0) = 22262.19 kNm SF = MPX / MX = 22262.19 / 1076.663 = 20.677 > 2.2 OKE Stabilitas guling arah Y

SF = MPY / MY = 61572.7 / 436.44 = 141.078 > 2.2 OKE Stabilitas geser arah X

Tx

P H
A

Gambar stabilitas geser arah X Sudut geser = 13.6 Kohesi c = 0 kPa Ukuran pile cap Bx = 5 m By = 11 m Gaya penahan geser
(

P My
A

Gambar stabilitas guling arah Y Pondasi tiang pancang tidak diperhitungkan dalam analisis stabilitas guling, sehingga angka aman (SF) diambil > 2.2 dan letak titik guling berada di titik A (ujung pondasi). Momen penahan guling dapat dihitung dengan rumus : MPX = P x ( BY / 2 ) x (1 + k) SF = MPY / MY > 2.2 k = kelebihan beban yang diijinkan (%) My = momen penyebab guling arah Y SF angka aman terhadap guling Untuk beban kombinasi 2 By / 2 = 11 / 2 = 5.5 m P = 8956.029 kN My = 436.44 kNm k=0% MPY = P x ( BY / 2 ) x (1 + k) MPY= 8956.029 x 5.5 x (1 + 25%) = 61572.7 kNm

k = persen kelebihan beban yang diijinkan Tx = gaya penyebab geser Beban kombinasi 1 k=0% Tx = 1534.498 kN P = 8904.877 kN
( (( ) ( ) ) ( ( ) ))

Penulangan Breast wall Mutu baja BJ 41 Tegangan leleh baja fy = 250 MPa Tegangan dasar fs = fy / 1.5 = 166.67 MPa Modulus elastisitas Es = 200000 MPa Kuat tekan beton fc = 29.05 MPa Modulus elastisitas Ec = 4700 fc = 25332.08 MPa Dimensi breast wall 11 x 1 m tetapi untuk perencanaan penulangan ditinjau breast wall selebar 1 x 1 m b = 1000 mm h = 1000 mm luas penampang Ag = b x h 1000 x 1000 = 1000000 mm2

Pn = Pu = Pn / (f'c x Ag) = Pu x 103 /(f'c x Ag) Mn = Mu = Mn / (f'c x Ag x h) = Mu x 106 /(f'c x Ag x h) Tabel Rekapitulasi Pu dan Mu Abutment / m
KOMBINASI kombinasi 1 kombinasi 2 kombinasi 3 kombinasi 4 kombinasi 5 Pu (kN) 652.66 676.25 652.66 681.83 431.40 Mu (kNm) 477.26 611.25 607.65 477.26 653.17 0.022 0.023 0.022 0.023 0.015 0.016 0.021 0.021 0.016 0.022

As tekan = As tarik = x As = x 10000 = 5000 mm2 Digunakan tulangan D 25

Tulangan Tekan : 2 D 25 150 As = 6541.67 mm2 Tulangan Tekan : 2 D 25 150 As = 6541.67 mm2 As total 13083.33 mm2 = 1.31 %

Jarak tulangan terhadap sisi luar beton d = 100 mm h = h 2d = 800 mm h/h = 0.8 nilai dan dimasukan kedalam diagram interaksi kolom untuk mendapatkan rasio tulangan perlu
1.000 0.900 0.800 0.700 0.600 0.500 0.400 0.300 0.200 0.100 0.000 0.000 0.100 0.200

Perencanaan Tiang Pancang Abutment Perhitungan beban ultimit diambil dari beban kombinasi 5 untuk perencanaan tiang pancang. P = 9876.515 kN Tx = 4262.331 kN Ty = 1669.306 kN Mx = 10997.74 kNm My = 6810.771 kNm Daya dukung tanah individu Direncanakan menggunakan tiang pancang bulat berongga dari PT WIKA Beton, dengan data spesifikasi : Diameter tiang pancang D = 400 mm Tebal tiang pancang d = 75 mm Momen lentur (retak) Mr = 5.5 ton m Momen lentur (batas) Mb = 8.25 ton m Gaya aksial P = 121 ton Dari laporan peyelidikan tanah Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Provinsi Banten pada bulan juli 2010 didapatkan data sondir sebaai berikut :

Gambar diagram interaks kolom


Dari diagram interaksi kolom didapat rasio tulangan perlu 1 % Luas tulangan yang diperlukan As = x b x h = 0.01 x 1000 x 1000 = 10000 mm2

Keliling tiang pancang Total Friction pada kedalaman -30 m TF = 1663 kg/cm2 Qonus Resistance rata rata 8 D diatas ujung tiang

rata rata perlawanan konus setebal 4 D dibawah tiang pancang

point bearing capacity qc = x (qcu + qcb) = 57.756 kg/cm2

Gambar grafik sondir P all = 57737 x 9.81 / 1000 = 566.40 kN Menentukan jumlah tiang pancang Direncanakan menggunakan tiang pancang kelompok 18 buah dengan pemasangan 3 lajur 6 baris dengan kedalaman pancang 30 m Kontrol tiang pancang kelompok Berdasarkan efisiensi kelompok tiang pancang Persamaan Converse Labarre akibat pemasangan secara grup Jarak antar tiang pancang s = 1.8 m Jumlah tiang pancang dalam baris x n=3 Jumlah tiang pancang dalam baris y m=6
( ( ) ) ( ( ) )

Gambar grafik sondir Perhitungan daya dukung tanah menggunakan rumus boegemenn
Luas tiang pancang

( (

)(

) )

)(

P 1 tiang dalam kelompok = E x P all =0.996 x 566.40 = 564.341 kN Kontrol jumlah tiang pancang kelompok

n = P / P all = 9876.515 / 564.341 = 17.5 < 18 Oke 18 x P all > Pu 10158.14 > 9876.515 Oke

Gambar 110 rencana denah tiang pancang abutment


2 D25 - 200 D25 - 400

D16 - 100 D25 - 150 D25 - 200 D25 - 300 D25 - 400

1 D25 - 300 (sisi dalam)

1 D16 - 100 2D25 - 150

D25 - 400 (sisi luar) 2D25 - 150

D16 - 100 2D25 - 150 2D25 - 150

D16 - 150 2D25 - 100 D25 - 100

D25 - 100 2D25 - 100 D16 - 150

Gambar Penulangan Abutment 5. KESIMPULAN


a. Dimensi melintang lantai kendaraan lengkap dengan trotoar adalah 9 m untuk jalan 2 lajur 2 arah. Lantai kendaraan berupa pelat beton dengan tebal 200 mm. b. Dimensi profil untuk gelagar melintang berupa WF 800 x 350 x 16 x 28 dan gelagar memanjang yaitu WF

600 x 190 x 13 x 25 dengan menggunakan mutu baja BJ 55. c. Struktur utama Rangka batang baja dengan profil untuk Batang Horisontal atas WF 400 x 400 x 13 x 21. profil batang diagonal WF 400 x 400 x 13 x 21 dengan mutau baja BJ 41, dan batang horisontal bawah WF 400 x 400 x 13 x 21 dengan mutu baja BJ 55. d. Struktur sekunder berupa ikatan angin atas dengan dimensi profil yaitu L 150 x 150 x 15 (diagonal), ikatan angin bawah menggunakan profil L 150 x 150 x 15 (diagonal), sedangkan untuk dimensi portal akhir berupa profil WF 250 x 125 x 10 x 19 dengan mutu baja BJ 41 e. Perletakan yang digunakan adalah perletakan jenis TRB 2 dengan dimensi 480 x 300 x 101 mm f. Konstruksi abutment berupa dinding beton setebal 1 m selebar 11 m dengan tinggi 7.15 m yang ditumpu pondasi tiang pancang beton kelompok dengan diameter 0.4 m kedalaman 30 m sebanyak 18 buah. 6. DAFTAR PUSTAKA Setiawan, Agus. 2008. Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD. Erlangga: Jakarta. A. Riyadul Faizin, Dhikie Afriyana P. 2011. Perencanaan Jembatan Linduk Ruas Banten Lama Pontang Bentang 50 m Dengan Tipe Rangka Baja . Cilegon : UNTIRTA Standard Nasional Indonesia. 2005. Perencanaan Struktur Baja untuk Jembatan. RSNI T-03-2005: Departemen PU Dirjen Bina Marga. Standard Nasional Indonesia. 2008. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Jembatan . SNI 2833 : 2008: Departemen PU Dirjen Bina Marga. Standard Nasional Indonesia. Standard Pembebanan untuk Jembatan. RSNI T02-2005: Departemen PU Dirjen Bina Marga.

D25 - 150 (sisi dalam)

D25 - 200 (sisi luar)