Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas kecamatan Koja tahun 2013 ditemukan bahwa ISPA di Puskesmas Kecamatan Koja menempati urutan nomor 1 dari 10 penyakit terbanyak di daerah tersebut. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pemukiman penduduk sangat berdekatan dengan pabrik kosmetik, makanan, textile, serta banyak yang letaknya berhadapan dengan jalan raya sehingga tingginya polusi udara daerah tersebut yang merupakan salah satu penyebab gangguan saluran pernapasan. Penyakit ISPA adalah merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tersering pada anak-anak di negara-negara yang sedang berkembang. Berdasarkan laporan WHO tahun 2003 didapatkan bahwa dari 15 juta perkiraan kematian pada anak berusia di bawah 5 tahun terdapat 4 juta (26,67%) kematian yang diakibatkan oleh penyakit ISPA setiap tahunnya. Sebanyak dua pertiga kematian tersebut adalah bayi (khusus bayi muda). 3 ISPA juga merupakan satu dari 3 penyakit penyebab kematian bayi selain komplikasi perinatal, dan diare (Depkes, 1995). ISPA hingga saat ini masih mencatat sebagai masalah kesehatan utama pada anak dinegara berkembang. Episode penyakit batuk pilek di Indonesia diperkirakan terjadi tiga sampai enam kali pertahun. ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di sarana pelayanan kesehatan yaitu sebanyak 40-60 % kunjungan berobat di Puskesmas dan 15-30 % kunjungan berobat dirawat jalan dan rawat inap di rumah sakit (Depkes RI, 2009). Data yang diperoleh dari profil kesehatan DKI Jakarta tahun 2007 ditemukan kejadian ISPA/Pneumonia di Jakarta timur dengan jumlah penderita 3004, 488 diantaranya adalah balita namun yang ditangani hanya 419 balita (86%). (Profil Kesehatan DKI Jakarta, 2007). Lebih dari dua dasawarsa ini penyakit ISPA selalu menduduki peringkat pertama dari 10 penyakit terbanyak di Indonesia. Salah satu penyebab terjadinya ISPA adalah rendahnya kualitas udara baik didalam maupun diluar rumah baik secara biologis fisik maupun kimia (Kementrian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, 2007).

ISPA merupakan salah satu penyebab dari tiga penyakit yang sering melanda di Jakarta, cuaca yang tidak menentu seperti kadang hujan, panas yang menyebabkan suhu lingkungan tidak stabil (Dinkes DKI, 2012). Data yang diperoleh dari Puskesmas Kecamatan Koja Jakarta utara ISPA menjadi urutan pertama dalam 10 penyakit tertinggi yang kebanyakan diderita oleh balita yang berusia 1-4 tahun yaitu sebanyak 7.797 (33,7%) anak pada tahun 2011. (Laporan tahunan Puskesmas kecamatan Koja,2011) Dinegara maju diperkirakan angka kematian pertahun karena pencemaran udara dalam ruang rumah sebesar 67% dipedesaan dan 23% diperkotaan, sedangkan dinegara berkembang angka kematian terkait pencemaran udara dalam ruang rumah daerah perkotaan sebesar 9 % dan didaerah pedesaan sebesar 1 % dari total kematian (WHO, 2000). Ada banyak factor yang mempengaruhi kejadian penyakit ISPA baik secara langsung maupun tidak langsung. Sutrisna (1993) faktor resiko yang menyebabkan ISPA pada balita adalah sosio-ekonomi (pendapatan, perumahan, pendidikan orang tua), status gizi, tingkat pengetahuan ibu dan faktor lingkungan (kualitas udara). Depkes (2002) menyebutkan bahwa faktor penyebab ISPA pada balita adalah Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR), status gizi buruk, imunisasi yang tidak lengkap, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik (Daulay, 1992). Anak berumur dibawah 2 tahun mempunyai risiko terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) lebih besar dari pada anak diatas 2 tahun sampai 5 tahun, keadaan ini karena pada anak di bawah umur 2 tahun imunitasnya belum sempurna dan lumen saluran nafasnya relatif sempit (Rizandi, 2006). Berdasarkan penelitian tahun 2010 yang dilakukan oleh Nuryanto diperoleh hasil bahwa Proporsi balita yang menderita ISPA sebanyak 56%, Faktor yang berhubungan dengan penyakit ISPA pada balita adalah status gizi balita, status imunisasi, kepadatan tempat tinggal, keadaan ventilasi rumah, status merokok orang tua, tingkat pendidikan orang tua, tingkat pengetahuan ibu, dan sosial ekonomi keluarga kemudian pada peneliti lain tahun 2007 oleh bagian peneliti USU didapatkan hasil Proporsi balita yang menderita ISPA terbesar pada balita yang berumur 259bulan yaitu sebesar 80%, berjenis kelamin perempuan sebesar 85,3%, status gizi tidak baik sebesar 89,1%, berat badan lahir rendah (<2.500 gram) sebesar 92,9%, balita yang tidak ASI eksklusif sebesar 84,2%, dan balita yang imunisasinya tidak lengkap sebesar 90,3%.

Gejala awal yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian diikuti dengan napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat terjadi kesukaran bernapas, tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun dan meninggal bila segera tidak diobati. Usia Balita adalah kelompok yang paling rentan dengan infeksi saluran pernapasan. Kenyataannya bahwa angka morbiditas dan mortalitas akibat ISPA, masih tinggi pada balita di Negara berkembang (Imran, 1990). Dari uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di Puskesmas tersebut, dikarenakan keadaan lingkungan disekitar Puskesmas tersebut yang masyarakatnya sangat rentan mengalami penyakit pernapasan, karena daerah tersebut berdekatan dengan sumber polutan, sehingga peneliti memilih judul mengenai Faktor-faktor yang berhubungan dengan Riwayat Infeksi saluran pernapasan akut(ISPA) pada balita (12-59 bulan) di Puskesmas Kecamatan Koja Jakarta Utara Tahun 2012.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut : Apakah ada hubungan antara factor lingkungan, karakteristik individu balita dan

karakterisktik individu ibu dengan riwayat ISPA pada (12-59 bulan) di Puskesmas Kecamatan Koja Tahun 2013 khususnya yang berkunjung ke poli MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit).

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan riwayat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita (12-59 bulan) di Puskesmas Kecamatan Koja Jakarta Utara Tahun 2013. khususnya yang berkunjung ke poli MTBS (Manajemen Terpadu Balita Sakit). 2. Tujuan Khusus i. Diketahuinya gambaran variabel ISPA, Karakteristik individu (jenis kelamin, umur, status imunisasi, status suplementasi vitamin A, status ASI Ekslusif dan berat badan lahir) dan faktor lingkungan (proses pengolahan sampah rumah tangga, ventilasi udara,

kebiasaan keluarga merokok dalam rumah dan penggunaan obat nyamuk) di Puskesmas Kecamatan Koja Jakarta Utara Tahun 2013. ii. Diketahuinya hubungan antara karakteristik individu (jenis kelamin, umur, status imunisasi, stastus suplementasi vitamin A, dan berat badan lahir), karakteristik ibu(pendidikan, pengetahuan, dan pekerjaan ) dan faktor lingkungan (proses pengolahan sampah rumah tangga, ventilasi udara, kebiasaan keluarga merokok dalam rumah dan penggunaan obat nyamuk), dengan Riwayat ISPA pada Balita (12-59) bulan ) di Puskesmas Kecamatan Koja Tahun 2013.

D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi : 1. Bagi Masyarakat Dari hasil penelitian ini, masyarakat dapat mengetahui faktor mana yang paling dominan risikonya terhadap gejala ISPA, juga faktor-faktor lain yang berhubungan dengannya. Dengan demikian, penulis berharap kesadaran masyarakat akan muncul sehingga mau dan mampu secara aktif ikut serta dalam upaya pencegahan ISPA, seperti kesadaran kebersihan akan lingkungan dengan cara melakukan gotong royong secara rutin, bagi perokok untuk tidak merokok ditempat umum, dan bagi ibu-ibu yang memiliki balita sebaiknya rutin mengikuti posyandu dan pemberian suplementasi kapsul vitamin A dan Imunisasi sebagai upaya pencegahan, agar anaknya dapat terpantau oleh tenaga kesehatan secara efektif. 2. Peneliti Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk melakukan penelitian lebih lanjut dalam menemukan faktor-faktor lain yang berhibungan dengan kejadian ISPA pada balita terutama untuk melakukan penelitian dengan desain penelitian yang lainnya, dengan demikian diharapkan dapat segera ditemukan faktor-faktor yang paling dominan dalam mengakibatkan timbulnya ISPA pada balita di Puskesmas kecamatan Koja

3. Bagi Ahli kesehatan Masyarakat

Mendapatkan masukan dan informasi tentang pengembangan ilmu pengetahuan secara umum serta pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita.

4. Puskesmas Kecamatan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para tenaga kesehatan khususnya tenaga kesehatan pada Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan di bidang kesehatan khususnya penanganan pada pasien dengan ISPA ringan agar tidak berlanjut kepada ISPA yang lebih berat.

5. Dinas Kesehatan Jakarta Pemerintah daerah dapat menjadikan penelitian ini sebagai salah satu sumber kajian dalam menyusun program penanggulangan ISPA pada balita dan program-program lain yang mendukung keberhasilan program tersebut. Pemerintah juga dapat menjadikan hasil penelitian ini untuk melihat potensi social dengan bentuk kerjasama yang baik merupakan salah satu trategi untuk menjadikan masyarakat sehat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA ) Infeksi Saluran Pernafasan Akut sering disingkat dengan ISPA, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut: i. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. ii. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract). iii. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. 2. Etiologi Infeksi Saluran Pernapasan Akut ( ISPA ) Etiologi ISPA ada lebih dari 200 jenis bakteri, virus, riketsia. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus Streptococus, Stafilococus, Pneumococus, Hemofillus, Bordetella dan Corinebacterium. Virus penyebabnya antara lain glongan Miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lainlain. Virus golongan ini merupakan virus yang yang menyebar di udara bebas yang akan masuk dan menempel pada saluran pernapasan bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung sehingga menyebabkan ISPA (Depkes RI 2002). Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi menjadi beberapa tahap. Tahap pertama yaitu tahap prepatogenesis dimana pada tahap ini kondisi dan agen sebagai penyebab ISPA sudah ada namun belum menunjukan reaksi apapun, kemudian tahap inkubasi dimana agen merusak epitel dan mukosa tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi

dan daya tahan tubuh rendah. Tahap dini penyakit ini dimana munculnya gejala seperti demam dan batuk. Tahap terakhir adalah tahap lanjut penyakit yang dibagi menjadi tahap sembuh sempurna dengan atelektasis (pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara akibat pernapasan yang sangat dangkal) menjadi kronis dan meninggal akibat pneumonia (imran, 1990). Secara umum perjalanan penyakit ISPA yaitu agen penyakit bakteri dan virus di udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernapasan bagian atas (tenggorokan dan hidung) kemudian terjadi peradangan yang disertai dengan pembengkakan pada jaringan tertentu sehingga berwarna kemerahan. Infeksi dapat menyebar ke paru-paru dan menyebabkan sesak atau pernapasan terhambat, oksigen yang dihirup berkurang, anak menjadi kejang, bahkan bila tindakan tidak segera ditolong bisa menyebabkan kematian (Depkes RI 2002). 3. Klasifikasi ISPA Kebanyakan anak yang mengalami batuk atau kesulitan bernapas dapat dinilai adanya pneumonia. Tanda-tanda yang digunakan untuk menentukan adanya pneumonia dan untuk menentukan berat atau ringannya pneumonia. Akan tetapi, anak yang mempunyai tanda klinis yang pasti adanya penyakit sangat berat (yaitu stridor saat tenang, kurang gizi berat, rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit untuk bangun, atau kejang) memerlukan penanganan khusus (WHO 2002). Menurut Depkes RI (2004) Klasifikasi ISPA yaitu : i. ISPA berat di tandai oleh adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu inspirasi. ii. ISPA sedang bila frekuensi pernapasan menjadi cepat. Umur kurang dari 1 tahun : 50 kali permenit atau lebih Umur 1 sampai 4 tahun iii. : 40 kali permenit atau lebih.

ISPA ringan di tandai dengan batuk pilek tanpa napas cepat, tanpa tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Khusus untuk bayi di bawah 2 bulan hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan (tidak dikenal klasifikasi ISPA sedang). Batasan berat untuk bayi kurang dari 2 bulan ialah bila frekuensai napas cepat (60 kali permenit atau lebih) atau adanya tarikan dinding dada yang kuat.

4. Cara Penularan ISPA Penularan bibit penyakit ISPA dapat terjadi dari penderita ISPA dan carrier yang disebut juga reservoir bibit penyakit yang ditularkan kepada orang lain melalui kontak langsung atau melalui benda-benda yang telah tercemar bibit penyakit termasuk udara. Penularan melalui udara di maksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak dengan penderita maupun dengan benda yang terkontaminasi dan tidak jarang penyakit yang sebagian ilmu besar penularannya adalah karena menghisap udara yang mengandung penyebab atau mikroorganisme tempat kuman berada (reservoir) (Depkes RI, 2000). ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, cipratan bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. (Depkes RI 2000). 5. Masalah ISPA di Indonesia Di Indonesia, kasus ISPA menempati urutan pertama dalam jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan terbanyak. Hal ini menunjukkan angka kesakitan akibat ISPA masih tinggi. Angka kematian balita akibat pneumonia juga masih tinggi, yaitu lebih kurang 5 per 1000 balita. Pemerintah telah merencanakan untuk menurunkan hingga 3 per 1000 balita pada 2010. Akan tetapi, keberhasilan bergantung pada banyaknya faktor risiko, terutama yang berhubungan dengan strategi baku penatalaksanaan kasus, imunisasi, dan modifikasi factor resiko. Secara nasional angka cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita hingga saat ini masih belum mencapai target seperti tampak pada grafik berikut ini (ditjen PPPL, kemenkes RI 2011) : Rata-rata cakupan penemuan ISPA (Pneumonia) pada balita tahun 2010 sebesar 23% yang berarti masih jauh dari target tahun 2010 yaitu sebesar 60% (Kemenkes RI, 2011)

6. Penanggulangan dan Pencegahan ISPA Menurut Depkes RI (2002) pencegahan penyakit ISPA ialah suatu upaya kita untuk mencegah terjadinya suatu penyakit ISPA diantaranya adalah : a. Pencegahan ISPA 1. Pencegahan terhadap dropflet infection Batuk memakai sapu tangan atau tissue Hawa kamar harus cukup segar Bila perlu perawatan memakai masker Berludah jangan sembarang

2. Pencegahan terhadap infectie melalui debu Usahakan lingkungan rumah jangan terlalu banyak debu Bila akan memberihkan debu dilantai, hendaknya disiram dulu (dipercik dengan air) supaya debu tidak melayang Alat alat tenu harus tetap bersih Alat alat tidur, kasur, bantal bantal harus sering dijemur

b. Penanggulangan ISPA: Penanggulangan ISPA yaitu: Pemberian anti piretik seperti paracetamol, untuk menurunkan suhu tubuh Pemberian anti biotik untuk membunuh kuman seperti: benzil penisilin, kotrimokasol, klorampenicol, gentamisin, streptomisin dan klikasilin. Pemeberian obat batuk atau pelega tenggorokan Penanganan cairan dengan seksama Pemeberian ASI adalah yang terbaik Membersihkan hidung dengan menggunakan sapu tangan/tissue yang bersih (depkes RI. 2010)

7. Derajat Kesehatan Derajat kesehatan suatu masyarakat dipengaruhi oleh beberapa komponen, komponen tersebut harus baik agar derajat kesehatan masyarakat juga baik. H.L Blum membagi empat komponen herediter, pelayan kesehatan , gaya hidup dan lingkungan.

H.L Blum menjabarkan teori tersebut melalui bagan berikut : Bagan derajat kesehatan (H.L Blum)

Keturuna

Pelayanan Kesehatan

Derajat
Lingkungan

Kesehatan

Perilaku

Keempat komponen tersebut disamping berpengaruh langsung terhadap kesehehatan juga saling mempengaruhi satu dengan yang lainya. Statusnmya kesehatan akan tercapai secara optimal pula, salah satu faktor saja berada dalam keadaan yang terganggu atau tidak optimal maka status kesehatan akan tergeser kearah dibawah optimal.

8. Faktor-Faktor yang berhubungan dengan ISPA Secara umum terdapat 3 (tiga) faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan, faktor individu anak, serta faktor perilaku (Depkes RI 2007).

A. Faktor lingkungan 1. Pencemaran udara dalam rumah a. Kebiasaan meroko keluarga didalam rumah Dampak roko tidak hanya mngancam siperokok tetapi juga orang disekitarnya atau perokok pasif (detik health. 2011). Berdasarkan laporan Badan Lingkungan Hidup Amerika (EPA/ Envirotmental Protection Agency) mencatat tidak kurang dari 300 ribu anak berusia 1 5 tahun menderita infeksi saluran pernafasan karena turut menghisap asap rokok yang dihembuskan orang disekitarnya terutama ayah dan ibunya (Ramli, 2011) Populasi yang sangat rentan terhadap asap roko adalah anak anak, karena merea menghirup udara lebih sering dari pada orang dewasa. Oragan anak kecil masih lemah sehingga rentan terhadap gangguan dan masalah dapat berkembang sehingga jika terkena dampak buruk maka perkembangann organ tidak sesuai dengan semestinya (depkes RI, 2008) b. Penggunaan obat nyamuk Obat nyamuk mengandung bahan aktif yang termasuk bahan organofosfat. Bahan aktif ini adalah dichlocovynil dimethil phosfat (DDVP), prospoxur (karbamat), dan diethylotuamide, yang merupakan jenis insektisida pembunuh serangga. Resiko terbesar terdapat pada obat nyamuk bakar karena secara langsung mengeluarkan asap yang dapat terhirup. Sementara obat nyamuk semprot berbentuk cair memiliki konsentrasi yang berbeda karena cairan yang dikeluarkan akan diuabah menjadi gas. Artinya, dosis lebih kecil. Sementara obat nyamuk elektrik lebih kecil lagi karena bekerja dengan cara mengeluarkan asap , tetapi dengan daya elektrik. Dengan demikian makin kecil dosis bahan zat aktif, makin kecil pua bayu yang ditimbulkan. Sekaligus, makin minim pula kemumgkinan

mangganggu kseshatan manusia yang ada disekitarnyta, ada beberapa cara yang aman untuk penggunaan oabat nyamuk bakar, anatara lain 1. Ruangan harus ada ventilasi sehingga sirkulasi udara cukup

2. Diletakkan dibawah tempat tidur karena targetnya adalah nyamuk bukan manusia 3. Diletakan searagh dengan aliran udara segingga tidak mnggagu pernafasan 4. Letakkan obat nyamuk bakar dengan arak paling dekat 1,5 meter dari manusia 5. Bila memilikoi gangguan asma, maka sebaiknya gunakan obat nyamuk bakar pada sire hari sebelum masuk kamar. Dan keluarkan ketika akan tidur sehingga tidak mengganggu pernafasan Gangguan pada organ tubuh bisa rejadi jika pemakaian obat nyamuyk tidak terkontrol seghingga dipakai dalam dosis yang berlebihan (Ditjen Pengendalian Bersumber nBinatan( Dit P2B2), 2011) c. Proses pengolahan sampah rumah tangga Dalam jangka waktu yang pendek, kelihatanya pembakaran sampah di pekarangan rumah setiap hari lebih praktis dan lebih hemat dari pada harus menjalankan proses daur ulang yang panjang. Tapi dalam jangka waktu yang panjang, cara cara seperti ini sebenarnya lebih meerugikan individu yang besangkutan, komunitas, dan lingkungan secara

keseleruhan. Polusi yang kelihatannya sedikit ini lama lama akan menjadi bukit. Polusi ini perlahan lahan akan membuat sebagian orang seharusnya hodup sehat menjadi sakit, antara alain sakit gangguan pernafasan (asma, paru paru dll) Pembakaran samah rumah tangga pada kondisi pembakaran dan suhu yang rendah dapat menimbulkan gas racun dioksin dan furan. Dioksin bersifat ada terus menerus atau persistent dan terakumulasi secara biologi (bioacumulated), dab tersebar di dalam lingkungan dalam konsentrasi yang rendah. Tingkat konsentrasinya rendah, sampai parts per trilion ( satu per 10 pangkat 12), terakumulasi sepanjang kehidupan dan ada teus menerus,

walaupun tidak ada penambhan lagi kedalam lingkungan, hal ini dapat meningkatkan resiko terkena kangker dan efek lainya terhadap binatan dan manusia (suamiku, 2011)

2. Keadaan ventilasi udara dirumah Terdapat vebntilasi yang baik seingga terjadi pertukaran udara dalam ruangan, tersedia lubang udara yang cukup dan dibersihkan secara berkala. Ventilasi mempunyai banyak fungsi, fungsi pertama adalah menjaga agar aliran udara didalam ruangan tersebut tetap segar, fungsi kedua adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri bakteri terutama bakteri pathogen, karena disitu selalu menjadi aliran udara yang terus menerus. Fungsi lainya adalah menjaga agar ruangan tetap didalam kelembaban yang optimun ukuran ventilasi udara yang memenuhi standar kesehatan adalah minimal 10% luas lantai ruang (Depkes RI, 2004) B. Karakteristik Ibu 1. Pendidikan ibu Menurut nonoatmodjo (2003) tingkat oendididkan sangat berpengaruh terhadap pengetahuan khususnya dalam pembentukan perilaku, semakin tinggi tingkat kecerdasan seseorang tentang suatu hal dan semakin matangf pertimbangan seseorang untuk mengambil sebuah keputusan Pendidikan merupakan upaya nyata untuk memfasilitasi individu dalam mencapai kemandirian serta kematangan mentalnya sehingga dapat survive didala kompentesni kehidupan atau usaha sadar dan terencana secara aktif untuk mengembangkan diri (UU normor , 20 tahub 2003). Penyerapan informasi yang beragam dan berbeda dipengaruhi oleh tingakt pendidikan. Pendidikan akan berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan manusia baik pikiran, perasaan maupun sikapnya, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula kemampuan dasar yang dimiliki seseorang, khususnya dalam melakukan perawatan terhadap balitanya dan kondisi lingkungan ruamhnya ( tingkat pendidikan dapat mendasari sikap ibi dalam menyerap dan mengubah sisten informasi)

2. Pengetahuan ibu Pengetahuan merupakan suatu wawasan yang akan menyebabkan perubahan seseorang dala bersikap dan bertindak dalam mengatasi permasalahan yang timbul dalam kehidupan, pengetahuan yang baik dan benar akan membimbing seseorang untuk merubah perilaku baru kearah yang lebih baik. Ibu dengan pengetahuan rendah mempunyai resiko sebasar 4.9 kali untuk mnegatasi ISPA tidak tepat ketika bayi dan balitanya sakit dibandingkan dengan ibu dengan pengetahuan yang tepap (sutrisna, 1993) 3) status bekerja ibu Ibu yang bekerja diluar rumah hanya mempercayakan pengasuhan anaknya kepada pengasuh, dimana pengasuh tersebut kadang kurang memperhatikan asupan makanan anaknya yang berdampak kepada kesehatan balita tersebut sehingga balita tersebut mudah terserang penyakit, meskipun si ibu sudah menyiapkan makanan yang sehat namun itu tidak menjamin anaknya akan memakan makanan yang sudah disiapaan si ibu yang bekerja tersebut (Ayu, 2008) Sedangkan pada ibu yang tidak bekerja lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengasuh anaknya, dengan demikian anaknya dapat terpantau dengan baik jika ibu memiliki pengetahuan yang baik perihal mengasuh anak maka asupan makan dan pola asuhnya akan baik yang berdampak baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anaknya (Ayu, 2008) 3) kepadatan hunian rumah Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan menteri kesehatan nomor 829/MENKES/SKVII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah, satu orang minimal menempati luas rumah 8m. dengan criteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas. Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan factor polusi dalam rumah yang telah ada.

c. factor individu balita 1) umur Sejumlah studi yang besar menunjukan bahwa insiden penyakit pernapasan oleh virus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6-12 bulan (Elisabeth BH, 2003). Anak umur 2 tahun mempunyai risiko terserang infeksi saluran pernapan akut lebih besar daripada anak diatas 2 tahun sampai 5 tahun, keadaan ini karena pada anak dibawah umur 2 tahun imunitasnya belum sempurna dan lumen saluran saluran pernapasannya relative sempit (Rizandi, 2006). 2) jenis kelamin Berdasarkan pada Pedoman Kerja Jangka Menengah Nasional Penanggulangan Pneumonia Balita Tahun 2005-2009, anak laki-laki memiliki risiko lebih tinggi daripada anak perempuan untuk terkena ISPA. Jenis kelamin dianggap dapat mempengaruhi tingkat keparahan suatu penyakit ataupun kekbalan tubuh balita dalam menghadapi penyakit infeksi. Penelitian yang telah dilakukan di Buenos Aires, Argentina menunjukan bahwa pemberian ASI lebih memberikan perlindungan kepada bayi perempuan daripada bayi laki-laki dan pemberian susu formula pada bayi perempuan dapat meningkatkan kejadian ISPA pada bayi tersebut (Polack, 2008) Penyakit ISPA dapat terjadi pada setiap orang dengan tidak memandang suku, ras, agama, umur, jenis kelamin dan status social. Namun insiden ISPA pada anak balita berdasarkan jenis kelamin disebutkan bahwa insiden ISPA pada anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan (Anom, 2006) 3) berat badan lahir Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada msa balita. Bayi dengan berat badna lahir rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian

yang lebih besar dibandingkan dnegan berat badan lahir normal, terutama pada bulanbulan pertama kelahiran karena pembentukan zat kekbalan tubuh kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi, terutama pneumonia dan sakit saluran pernapsan lainnya (Depkes, 2002). 4) status gizi Status gizi menjadi indicator ketiga dalam menentukan derajat kesehatan anak. Status gizi yang baik dpat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan anak untuk mencapai kematangan yang optimal. Gizi yang cukup juga dapat memperbaiki ketahanan tubuh sehingga diahrapkan tubuh akan bebas dari segala penyakit. Status gizi ini dapat membantu untuk mendeteksi lebih dini risiko terjadinya masalah kesehatan. Pemantauan status gizi dapat digunakan sebagai bentuk antisipasi dalam merencanakan perbaikan status kesehatan anak (Aziz, 2002) 5) vitamin A Vitamin A sebagai slah satu factor yang dapat menurunkan kejadian ISPA, vitamin A mengatur system kekebalan tubuh (imunitas). System kekbalan membantu mencegah atau melawan infeksi dengan cara membuat sel darah putih yang dapat mengahancurkan berbagai bakteri dan virus berbahaya. Vitamin A dapat membantu limfosit (salah satu tipe sel arah putih) untuk berfungsi lebih efektif dalam melawan infkesi (Astawan.M, 2003) Pemberian suplementasi vitamin A pada anak balita sangat berperan untuk masa pertumbuhan, daya tahan tubuh dan kesehatan terutama pad apenglihatan. Vitamin A esensial untuk kesehatan dan kelangsungan hidup karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Kekurangan Vitamin A (KVA) dapat menyebabkan fungsi kekbalan tubuh menurun, sehingga mudah terserang infeksi. Lapisan sel yang menutupi trakea dan paru-paru mengalami keratinisasi, tidak mengeluarkan lender, sehingga mudah dimasuki mikroorganisme atau virus, dan menybabkan infeksi saluran pernapasan.

Berbagai penelitian menunjukan bahwa suplai vitamin A dapat menurunkan 23% angka kematian akibat ISPA. Perbedaan kematian antara anak yang kekurangan dengan anak yang tidak kekurangan vitamin A kurang lebih sebesar 30% (Almatseir, 2006 6) status imunisasi Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. Sebagian besar kematia ISPA berasal dari jensi ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, campak, makan peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk mengurangi factor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan imunisasi lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat. Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak an pertusis (DPT). Dengan imunisasi campak yang efektif sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat dicegah dengan imunisasi (DPT) 6% kematian pneumonia dapat dicegah (Wahab,2000). Jenis, manfaat dan jadwal imunisasi dasar pada balita (Rezeki dkk, 2011) antara lain: A. BCG Vaksin BCG diberikan sebelum berumur 3 bulan, namun untuk mencapaui cakupan yang lebih luas, Kementrian Kesehatan mengajukan vaksin BCG pada umur antara 012 bulan. Vaksin BCG disuntuka didaerah lengan kana atas sesuai anjuram WHO, karena lebih mudah dilakukan. Vaksinasi BCG dapat mencegah tuberculosis berat di otak, paru dan organ tubuh lain. B. Hepatitis B Vaksin hepatitis B (Hep B) pertama kali diberikan setelah lahir, karena vaksi n Hep B merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif untuk memutuskan rantai

penularan dari ibu kepada bayinya segera setelah lahir. Hep B 2 diberikan setelah satu bulan setelah imunisasi Hep B 1 yaitu pada saat bayi berumur 1 bulan. Imunisasi Hep B 3 diberikan pada umur 3-6 bulan. Vaksin Hep B dapat mencegah radang hati dan kangker virus hepatitis B. C. Polio Terdapat 2 jenis vaksin polio yang berisi virus polio-1,2 dan 3. OVP (oral polio vaccine), berisi vaksin hidup dilemahkan, diteteskan dimulut IPV (inactivated polio vaccine), berisi vaksin in-aktif, disuntikkan. Polio-0 diberikan pada saat bayi lahir sesuai pedoman Kemenkes sebagai tambahan untuk mendapatkan cakupan imunisasi yang tinggi. Mengingat OPV berisi virus polio hidup maka diberikan pada saat bayi meninggalkan rumah sakit/rumah tidak mecemari bayi lain karena virus polio vaksin dapat ditularkan melalui tinja. Untuk imunisasi dasar (polio-2,3,4) dinerikan pada umur 2,4 dan 6 bulan, interval antara dua imunisasi tidak kurang dari 4 minggu. Vaksin polio dapat mencegah kelumpuhan akibat virus polio. A. DPT Imunisasi DPT diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DPT tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan jarak 4-8 minggu. DPT-1 diberikan pada umur 2 bulan, DPT -2 umur 4 bulan dan DPT-3 pada umur 6 bulan. Vaksin DPT dapat mencegah penyakit difteri, pertusis dan tetanus. B. Campak Vaksin campak disuntikkan pada umur 9 bulan. Dari hasil studi Badan Penelitian dan Pengembangan dan Dirjen PPM & PL Kementrian Kesehatan di 4 provinsi, 18,6%32,6% anak sekolah mempunyai kadar campak dibawah batas perlindungan, sehingga dijumpai kasus campak pada usia sekolah. Vaksin campak dapat mencegah penyakit campak berat yang dapat menyerang paru, otak dan pencernaan.

7) ASI Ekslusif ASI Ekslusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan tanpa tambahan cairan apapun atau makanan lainnya (WHO,2009). Menurut Depkes RI 2005, ASI Ekslusif adalah pemberian hanya ASI saja tanpa makanan dan minuman lain. ASI Ekslusif dianjurkan sampai 6 bulan pertama kehidupan (Depkes RI,2005) ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui , ASI merupakan makanan yang disiapkan untuk bayi mulai masa kehamilan payudara sudah mengalami perubahan untuk memproduksi ASI. Makanan-makanan yang diramu menggunakan teknologi modern tidak bisa menandingi keunggulan ASI karena ASI mempunyai gizi yang tinggi dibandingkan dengan makanan buatan manusia ataupun susu yang bersal dari hewan sapi, kambing atau kerbau. ASI Ekslusiif diberikan kepada bayi dengan alsan Karenna didalam ASI mengandung banyak manfaat dan kelebihan, antara lain menurunkan resiko penyakit infeksi misalnya diare, ISPA, infeksi telinga. Disamping itu ASI juga bisa mencegah penyakit non infeksi misalnya alergi, obesitas, kurang gizi, asma dan eksem. ASI juga dapat meningkatkan kecerdasan anak (Utami, 2000) 2) Faktor perilaku Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA dikeluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan yang lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu ataupun beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya. Peran aktif keluarga masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau keluarga. Hal ini perlu medapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini sering meyerang balita, sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar

dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit. Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada system pelayanan kesehatan agar penyakit anak balitanya tidak menjadi lebih berat. Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting, sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang/baik akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat (Imran, 1990) 9) Balita Balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu tahun (anak usia dibawah lima tahun) (WHO 2000). Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia, pertumbuhan dan perkembangan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya (Aziz, 2009). 10. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Manajemen Terpadu Balita Sakit adalah suatu manajemen untuk balita sakit yang datang di pelayanan kesehatan, dilaksanakan secara terpadu, baik mengenai beberapa klasifikasi penyakit, status gizi, staus imunisasi maupun penanganan balita sakit tersebeut dan konseling yang diberikan. MTBS merupakan manajemen anak sakit untuk 2 kelompok usia yaitu kelompok usia 7 hari sampai 2 bulan dan kelompok usia 2 bulan sampai 5 tahun. Protocol MTBS dikemas dalam satu buku bagan. Bagan tersebut dimaksudkan untuk mempermudah petugas kesehatan mengikuti setiap langkah untuk memeriksa balita sakit. Petugas kesehatan akan mudah mengikuti langkah-langkah yang ada dalam bagan tersebut. Setiap langkah dengan maksud tertentu tertulis dalam bagan tersebut dengan bentuk tanda khusus dalam kotak, baris dengan warna dasar tertentu dan tulisan dengan huruf cetak biasa dan cetak teb.

Upaya pemerintah dalam menekan angka kematian akibat pneumonia diantaranya melalui penemuan kasus pneumonia balita sedini mungkin di pelayanan kesehatan dasar, penatalaksanaan dan rujukan. Adanya keterpaduan dengan lintas program melalui pendekatan MTBS di puskesmas serta penyediaan obat dan peralatan puskesmas perawatan dan di daerah terpencil (Depkes RI, 2007)

B. Kerangka Teori Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di adopsi dari teori factor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan H.L Blum 1981 dan faktor-faktor yang mempengaruhi ISPA Depkes RI, 2007 Gambar.3 Kerangka Teori Faktor Penunjang Karakteristik individu balita: Umur Jenis Kelamin Berat badan lahir Status imunisasi Status gizi ASI Ekslusif Vitamin A Faktor Penguat Faktor pelayanan kesehatan : UKM

Karakteristik keluarga balita: - status bekerja ibu - pendidikan ibu - Sosio ekonomi - Pengetahuan ibu Perilaku : Praktik penanggulangan ISPA Etiologi : Parasit Bakteri Virus ISPA pada anak usia 0-5 tahun

Faktor Pemungkin Lingkungan : Ventilasi rumah Pencemaran udara dalam rumah Kepadatan hunian

C. Kerangka Konsep

Gambar.4 Kerangka Konsep Variabel Independent Variabel Dependent

Faktor lingkungan : Pencemaran udara dalam rumah Kebiasaan merokok keluarga di dalam rumah Penggunaan obat nyamuk Proses pengolahan sampah rumah tangga

RIWAYAT ISPA PADA BALITA

Keadaaan ventilasi udara dirumah Karakteristik individu balita : Umur Jenis Kelamin Berat badan lahir Suplementasi vitamin A Status imunisasi ASI ekslkusif

Karakteristik ibu balita : Pendidikan ibu Pengetahuan ibu Status bekerja ibu

D. Hipotesis Hipotesis ini menyatukan bahwa adanya suatu hubungan, pengaruh dan perbedaan antara dua atau lebih variable (Nursalam, 2009) 1. Ada hubungan factor lingkungan pencemaran udara dalam rumah (kebiasaan merokok keluarga dalam rumah, penggunaan obat nyamuk, dan proses pengolahan sampah rumah tangga) dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Kecamatan Koja pada Tahun 2012. 2. Ada hubungan ventilasi udara dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Kecamatan Koja pada Tahun 2012. 3. Ada hubungan karakteristik individu balita (umur, jenis kelamin, berat badan lahir, suplementasi vitamin A, ASI Eksklusif dan status imunisasi) dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesma Kecamatan Koja pada Tahun 2012. 4. Ada hubungan karakteristik orang tua (ibu) (pendidikan, pengetahuan, dan pekerjaan) dengan kejadian ISPA pada balita di Puskesmas Kecamatan Koja pada Tahun 2012.

BAB III Metedologi penelitian A. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Kecamatan Koja Jakarta Utara pada tahun 2013. Penelitian ini membahas bagaimana faktor-faktor yang berhubungan dengan Riwayat infeksi saluran pernapasan akut pada balita (12-59) di Puskesmas Kecamatan Koja. Penelitian ini menggunakan studi kuantitatif dengan pengumpulan data primer dan data sekunder.

B. Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah cross ssectional yang mempelajari kejadian ISPA pada balita denga karakteristik balita (umur, jenis kelamin, berat badan lahir, suplementasi kapsul vitamin A, dan status imunisasi), karakteristik orang tua (ibu) (pendidikan, pengetahuan dan pekerjaan) dan faktor lingkungan : pencemaran udara dalam rumah (kebiasaan merokok keluarga dalam rumah, penggunaan obat nyamuk dan proses pengolahan sampah rumah tangga) dan ventilasi udara. Dengan teknik sampling Accidental sampling dimana penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang kebetulan/Accidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data.

C. Kriteria Penelitian Criteria penelitian dalam penelitian ini yaoitu sebagai berikut: 5. kriteria inklusi kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel (nonoatmodjo, 2010) yaitu sebagai berikut: a. Balita usia 12-59 bulan yang berkunjung ke poli MTBS puskesmas kecamatan koja b. Bersedia menjadi responden dan dapat memahami bahasa indonesia

c. Balita yang mempunyai riwayat kejadian ISPA dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu 6. Kriteria ekslusi kriteria eksklusi adalah yang sudah masuk kriteria inklusi namun dikeluarkan lagi sehingga lingkupnya di perkecil lagi agar tidak menimbulkan bias (nonoamodjo, 2010) yaitu sebagai berikut: a. Balita yang memiliki riwayat penyakit gangguan saluran pernafasan sejak lahir b. Balita yang memiliki penyakit kronis c. Balita yang menderita ispa lebih dari 2 minggu

D. Variable dan Definisi Operasional Variable 1. Variable Berdasarkan pada kerangka konsep penelitian maka penulis mengelompokkan variable menjadi dua bagian, yaitu: a. Variable mempengaruhi (independent) Variable independent dalam penelitian ini adalah karakterristik anak: jenis kelamin, umur, berat badan lahir, status suplementasi vitamin A, status imunisasi. Karakteristik ibu: penididikan, penegetahuan, dan status bkerja ibu. Serta karakteristik lingkungan: proses pengolhan sampah rumah tangga, ventilasi udara, penggunaan obat nyamuk, dan kebiasaa meroko keluarga didalam ruamh. b. Variable dipengaruhi (dependent) Variable dependent dalam penelitian ini adalah kejadian infeksi saluran pernafasan akut (ispa) pada balita. 2. Definisi Operasional Variabel Definisi operasional ini bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variable variable yang bersangkutan serta pengembangan

instrument (alat ukut) (nonoatmodjo, 2005). Untuk lebih memudahkan penulisan dalam memahami penelitian ini, maka akan dijelaskan variable-variabel yang diteliti dalam bentuk define operasional, kategori, skala ukur, dan cara ukur yang digunakan

No Variabel

Definisi Operasional

Alat ukur

Cara Ukur

Hasil ukur

Skala

Riwayat ISPA pada balita

Balita mengalami

pernah Wawancara infeksi

kuesioner 1. Ya,

bila

anak Ordinal

mengalami ISPA dalam 6 bulan terakhir 2. Tidak, bila anak tidak mengalami ISPA dalam 6 bulan terakhir

saluran pernapasan akut yang

berlangsung sampai 14 hari ( saluran pernapasan adalah

organ dari hidung sampai gelembung paru. Beserta organorgan disekitarnya : sinus, ruang telinga tengah dan selaput paru), dengan gejala batuk dan pilek

(Depkes RI, 2007) 2 Kebiasaan Terdapatnya anggota yang rokok rumah Wawancara Kuesioner 1. Ada, bila ada Ordinal anggota keluarga merokok didalam rumah 2. Tidak, tidak anggota keluarga yang Bila ada yang

merokok didalam seseorang rumah atau lebih

menghisap dalam

(Depkes, 2002)

merokok didalam rumah 3 Penggunaan obat Jenis obat nyamuk Wawancara nyamuk yang dipakai Kuesioner 1. Bakar 2. Non (semprot, bodylotion, elektrik/listrik) 3. Tidak pakai bakar Nominal

didalam rumah yang mengandung senyawa kimia dan parikular yang

dilepaskan keudara ketika digunakan

(Depkes RI, 2002) 4 Proses pengolahan sampah tangga Proses mengubah dan sampah dilakukan keluarga untuk Wawancara Kuesioner 1. Dibakar 2. Tidak dibakar (dibuang dilahan kosong, dibuang kali/sungai, ditimbun, diangkut prtugas setempat, diolah) Penghawaan Wawancara ventilasi yang Kuesioner 1. Tidak memeuhi syarat kesehatan apabila ventilasi kurang dari luas Ordinal ke Ordinal

rumah karakteristik komposisi yang anggota untuk

menghilangkan dan mengurangi bahaya atau sifat sifat

racun (Gatut et al, 2007) 5 Keadaan ventilasi udara dirumah Luas atau alamiah

permanen minimal 10% dari luas lantai (Myrnawati, 2004)

10% luas lantai

2. Memenuhi syarat kesehatan apabila luas ventilasi 10% luas lantai 6 Umur Umur individu yang Wawancara terhitung mulai saat dilahirkan berulang (Elisabeth dalam 2003) 7 Jenis kelamin Mengacu status balita seks pada Wawancara pada Kuesioner 1. Laki-laki 2. perempuan Ordinal sampai tahun BH Nursalam, Kuesioner 1. 24 bulan 2. >24 bulan Ordinal

seseorang,

terdiri dari tampilan fisik yang

membedakan antara laki-laki perempuan (Henderson, Christine, 2006) 8 Berat badan lahir Berat badan bayi Wawancara sesaat setelah lahir (Depkes RI, 2002) Keusioner 1. BBLR, jika Ordinal dan

berat badan < 2500 gram 2. Normal, berat jika badan

2500 gram 9 Suplementasi vitamin A Pemberian vitamin Wawancara A kepada anak yang Kuesioner 1. Tidak lengkap 2. lengkap Ordinal

berusia 6-59 bulan yang selain bertujuan untuk

mencegah kebutaan juga untuk

menanggulangi kekurangan vitamin A, yangdiberikan

pada bulan Februari dan Agustus

(Depkes, 2006) 10 Status imunisasi Pemberian imunisasi secara Wawancara Kuesioner 1. Tidak lengkap 2. lengkap Ordinal

lengkap kepada bayi yaitu BCG 1kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, Hepatitis B 3 kali, serta Campak 1 kali ( Depkes RI, 2002) 11 ASI eksklusif Pemberian ASI saja Wawancara tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi Kuesioner 1. Tidak, tidak bila Ordinal sesuai

dengan definisi ASI eksklusif 2. Ya, apabila

berumur 0-6 bulan (WHO,2001)

sesuai dengan definisi eksklusif ASI

12

Pendidikan ibu

Jemjang pendididkan terakhir yang

Wawancara

Kuesioner

1. Rendah (tidak Ordinal sekolah, SLTP) SD,

ditempuh oleh ibu, terdiri pendidikan (wajib tahun) pendidikan atas dasar 9 dan tinggi

2. Tinggi (SLTA, Perguruan Tinggi)

belajar

(UU No.20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional) 13 Pengetahuan ibu Tingkat pengetahuan yang diklasifikasikan berdasarkan pengetahuan tentang gejala, atau tanda penyebab, penularan, pencegahan (jurnal cara cara ISPA ibu Wawancara Kuesioner 1. Kurang, jawaban jika Ordinal yang

benar <60% 2. Sedang, jawaban jika yang

benar 60-80% 3. Baik, jawaban jika yang

benar 80%

Kes-Mas

FKM UI, 2010) 14 Status pekerjaan ibu Kegiatan menambah pencarian mencakup perekonomian keluarga. (Sarlito, untuk Wawancara mata untuk Kuesioner 1. Bekerja 2. Tidak bekerja Ordinal

Sarwono, 1996)

E. Populasi dan Sample 1. Populasi Penelitian Keseluruhan objek atau objek yang diteliti tersebut adalah populasi penelitian atau universe (nonoatmojo, 2005). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien balita 12- 59 bulan yang dating berkunjung ke puskesmas ciracas Jakarta timur khususnya poli MTBS November 2012 2. Sampel Penelitian Sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ini disebut sampel peneliti jumalag sampel. Perhitungan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus uji beda dua proporsi 9lameshoe, et. Al, 1997) sebagai berikut: ( ( ) ) ( )+

n = besar sample minimum = nilai distribusi normal baku ( tabel Z) pada tertentu = nilai distribusi normal baku ( tabel Z) pada tertentu (95%=1.96) = proporsi di populasi (0.75) (Ria,2011) = perkiraan proporsi di populasi (15%=0.60) ( 122 Dengan menggunakan rumusan tersebut. Maka diperoleh sampel minimal sebesar 122 responden (dapet dari mana 122....??? tolong dirinci perhitungannya) (nanti kami cari lagi dokter) F. Teknik Pengambilan Sample Dalam pengambilan sampel penelitian ini digunakan cara atau teknik-teknik tertentu, sehingga sampel tersebut sedapat mungkin mewakili populasinya. Cara ini )= perkiraan selisih proporsi yang diteliti dengan proporsi di populasi

biasanya disebut Accidental sampling dimana penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang kebetulan/incidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data. Didalam penelitian survey tehnik sampling ini sangat penting dan perlu diperhatikan masak-masak. Sebab teknik pengambilan sampel yang tidak baik akan mempengaruhi validitas hasil penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2005). Bagaimana cara menentukan sampel dengan metode apa ini harus jelas dan pati akan jadi pertanyaan di presentasi proposal dan kalian harus tahu kalau yg kalian tampilkan diatas itu teorinya tapi riilnya seperti apa?? jelaskan

G. Pengukuran dan Pegamatan variable Penelitian

1. Pembuatan kuesioner Pembuatan kuesioner dilakukan oleh peneliti sendiri, kuesioner terdiri dari 14 variabel yang akan diamati dan diambil datanya, adapun variabel-variabel yang ada yaitu : variabel Dependen yaitu kejadian ISPA pada balita dan variabel Independen terdiri dari : karakteristik anak (jenis kelamin, umur, berat badan, lahir, vitamin A, status imunisasi, status ASI) karakteristik ibu (pendidikan, pengetahuan, pekerjaan) karakteristik lingkungan (kebiasaan membuang sampah, asap dapur, ventilasi udara, kebiasaan merokok didalam rumah, penggunaan obat nyamuk) 2. Pengukuran variabel Pengukuran dalam penelitian ini merupakan jenis pengukuran kuantitatif, yaitu melakukan identifikasi besar kecilnya variasi niai. Jadi yang diukur adalah variabilitas dari suatu ciri subjek penelitian, hingga data yang didapatkan berupa data kontinu dari skala nominal, ordinal dan interval. Variabel yang diamati melalui pertanyaan dituangkan kedalam instrumen pengukuran atau kuesioner. Untuk memudahkan pengukuran dan analisis bivariat, maka penulis

mengkategorikan beberapa variabel Independen dan variabel Dependen, dengan

terlebih dahulu memberikan skor terhadap pertanyaan. Adapun variabel yang diberi skor adalah variabel pengetahuan ibu, variabel tersebut merupakan variabel dari pertanyaan komposit. Sedangkan variabel yang lainnya tidak perlu diberi skor nilai karena sudah dapat langsung dikategorikan. Pada variabel pengetahuan dikategorikan menjadi 3 kategori yaitu kurang jika jawaban yang benar kurang dari 60%, sedang jika jawaban yang benar 60-80% dan baik jika jawaban benar lebih dari atau sama dengan 80% (khomsan dkk, 2004) Buat dummy tabelnya untuk setiap variabel masukkan ke dalam lampiran (kami masih belum mengerti tentang dummy dokter, maaf sebelumnya bisa di beri contoh) H. Uji Validitas dan Uji Reabilitas Uji validitas dan reabilitas dilakukan ditempat yang berbeda dari tempat penelitian yang dilakukan pada bulan Oktober 2013.

1. Uji Validitas Validitas adalah suatu indeks yang menunjukan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang ingin diukur (Notoatmodjo, 2005). Validitas pengukuran berkaitan dengan tiga unsur (Pratiknya, 1986) yaitu :

a) Alat ukur b) Metode ukur c) Pengukur (peneliti)

Dari pengertian tersebut diketahui bahwa walaupun seorang peneliti telah memilih alat dan metode yang baku atau valid, tetapi kalau pelaksanaan pengukuran kurang tepat dan teliti maka hasilnyapun tidak akan valid (Pratiknya, 1986). Pada penelitian ini penulis menggunakan validitas isi yaitu suatu alat ukur pengukuran ditentukan sejauh mana isi alat tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep.

Teknik kolerasi yang dipakai adalah teknik kolerasi Product Moment yang rumusnya sebagai berikut (Notoatmodjo, 2005) : ( , Keputusan uji : Bila r hitung lebih besar dari r tabel Ho ditolak, artinya variabel valid. Bila r hitung lebih kecil dari r tabel Ho gagal ditolak, artinya variabel tidak valid Setelah kuesioner pengetahuan divaliditaskan menurut definisi operasional (pengertian ISPA, bagian saluran pernafasan yang terkena ISPA, gejala pada penyakit ISPA, resiko yang menyebabkan anak terkena ISPA, penyebab terjadinya ISPA, cara efektif mencegah ISPA, pencegahan penularan ISPA, gejala ISPA anak dibawah 2 bulan, tindakan yang ibu lakukan ketika anak ISPA, yang harus dihindari ketika anak demam, suhu tubuh anak ketika demam), kemudian diteliti melalui uji validitas, ternyata hanya ada 4 pertanyaan yang valid, yaitu pertanyaan 1 (0.582), pertanyaan 2 (0.430), pertanyaan 5 (0.508) dan pertanyaan 10 (0.508), dimana r hitung lebih besar dari r tabel (0.3598). Sementara untuk pertanyaan yang tidak valid, uji kuesioner hanya dilakukan satu kali tetapi telah dilakukan beberapa modifikasi pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak valid tanpa merbuah struktur variabel pada definisi operasional yang akan diteliti untuk dijadikan kuesioner pada penelitian. Pengukuran yang valid adalah pengukuran yang reliabel, tetapi sebaliknya pengukuran yang reliabel belum tentu valid, kalau ketepat ukuran tidak terpenuhi (Pratiknya, 2000) 2. Uji Realibilitas I. Pengumpulan Data J. Pengolahan Data K. Teknik Analisis Data ( ) ( ) ( ) -

) -,