Anda di halaman 1dari 6

Pengeluaran Setelah Perolehan Setelah asset tetap diperoleh dan digunakan,maka sewaktu-wakatu akan timbul biaya seiring dengan

penggunaan suatu asset tetap baik yang jumlah nominalnya kecil maupun yang jumlahnya signifikan.permasalahan pokok yan muncul terkait timbulnya biaya selama masa kepemilikan asset adalah apakah biaya yang timbul diberlakukan sebagai beban atau dikapitalisasi dan pembebananay dilakukan secara alokasi melalui depresiasi. Untuk mengetahui perlakuan pada sector public nampaknya perlu terlebih dahulu mengetahui perlakuan pada sektor komersil. Akuntansi sektor komersil pada umumnya memperlakukan biaya yang akan menambah masa manfaat masa depan untuk dikapitalisasi, sedangkan biaya yang timbul hanya untuk memelihara kemampuam asset agar dapat beroperasi normal agar segera dibebankan. Lebih spesifik lagi Donald . !iesso menyebutkan persyaratan dimana jika salah satunya terpenuhi maka biaya dapat dikapitalisasi dapat dikapitalisasi, persyaratan tersbut sebgai berikut " #. $asa manfaat asset harus bertambah %. !uantitas unit yang dihasilkan oleh asset tersebut harus bertambah &. !ualitas unit yang dihasilkan oleh asset tersebut harus bertambah '(ka melihat persyaratan-persyaratan tersebut maka pada intinya jika biaya yang dikeluarkan menambah potensi manfaat asset di masa yang akan datang maka biaya tersebut harus di kapitalisasi. )leh karenanya kapitalisasi biaya selama masa kepemilikan sebenarnya kembali kepada pemaknaan terminology asset , dalam hal ini digunakan deinisi *AS+ karena sangat diterima umum, yaitu Probable future economic benefits obtained or controlled by aparticular entity as a result of past transactions or events..Ketika probable future economic benefit bertambah maka biaya dikapitalisasi, ketika probable future economic benefit tidak bertambah maka biaya tidak dikapitalisasi dan langsung dibebankan. Alur pemikiran akuntansi komersil dalam rangka kapitalisasi biaya selama kepemilika asset nampaknya cukup sesuai dengan yang diterapkan pada sektor public. $enurut (,SAS Assets are resources controlled by an entity as a result of past events and from which future economic benefits or service potential are expected to flow to the entity. -erdapat penekanan future economic benefit di masa yang akan datang yang akan dinikmati pemerintah pada definisi tersebut . aka by definition setiap biaya yang dapat diidentifikasikan akan member tambahan manfaat ekonomis di masa yang akan datang akan diakui sebagai asset .dikapitalisasi/ Lebih lanjut untuk pada (,SAS #0 yang mengatur akuntansi asset tetap pada paragraph #1 disebutkan sebagai berikut " !he cost of an item of property, plant and e"uipment shall be recogni#ed as an asset if, and only if$

%& 't is probable that future economic benefits or service potential associated with the item will flow to the entity( and )& !he cost or fair value of the item can be measured reliably. ,rinsip tersebut tentunya semakin menegaskan biaya-biaya yang sifatnya harian .day to day servicing cost/ tidak dikapitalisasi. Adapun (,SAS menyebutkan contohcontoh day to day ser2icing cost yang harus dibebankan seperti " #/ ,enambalan permukaan berlubang pada jalan raya %/ ,enggantian kursi penumpang pada pesawat yang dimiliki pemerintah &/ ,engecetan gedung pemerintah 3al yang serupa juga diterapkan oleh ,, 0# -ahun %4#4. SA, ini memiliki kesamaan dengan akuntansi komersil dan (,SAS dalam memperlakukan biaya-biaya yang terjadi selama masa kepemilikan asset. Definisi asset menurut SA, berbunyi 5 Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan6atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan6atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya nonkeuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.5 !arena itu sama halnya pada akuntansi komersil maupun (,SAS, bahwa by definition secara umum biaya selama masa pemanfaatan asset tetap yang menambah manfaat ekonomis yang akan dirasakan suatu entitas pada periode-periode mendatang akan dikapitalisasi !apitalisasi biaya selama masa pemanfaatan aset tetap semakin dipertegas pada pernyataan paragraf 17 akuntansi asset tetap ,, 0# tahun %4#4 yang menyebutkan 8,engeluaran setelah perolehan awal suatu aset tetap yang memperpanjang masa manfaat atau yang kemungkinan besar memberi manfaat ekonomi di masa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja, harus ditambahkan pada nilai tercatat aset yang bersangkutan.5 ,ada buletin teknis nomor 47 tentang akuntansi asset tetap disebutkan bahwa ,engeluaran yang dapat memberikan anfaat lebih dari satu tahun .memperpanjang manfaat aset tersebut dari yang direncanakan semula atau peningkatan kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan kinerja disebut dengan pengeluaran modal .capital expenditure/ sedangkan pengeluaran yang memberikan manfaat kurang dari satu tahun .termasuk pengeluaran untuk mempertahankan kondisi aset tetap/ disebut dengan pengeluaran pendapatan . revenue expenditure/. ,ada SA, akrual biaya yang timbul selama masa pemanfaatan asset tetap selain memenuhi pejelasan sebagaimana paragraph 17, juga disebutkan bahwa kriteria jumlah biaya yang akan menjadi batas biaya tersebut dapat dikapitalisasi atau tidak harus dituangkan dalam sutu kebijakan akuntasi yang berlaku pada suatu entitas, (ni berarti sebelum dapat melakukan kaitalisasi terhadap biaya yang menambah kapasitas, kuliatas, masa manfaat asset tetap maka setia entitas harus menyusun kebijakan akuntansi yang khususnya mengatur batasan jumlah .tresshold/ yang mesti dipenuhi ketika akan mengkapitalisasi biaya. Dan pada ,, 0# tahun %4#4 dijelaskan lebih lanjut bahwa dikarenakan organisasi pemerintah sangat beragam dalam jumlah penggunaan asset tetap maka suatu batasan jumlah kapitalisasi tidak dapat diseragamkan untu seluruh entitas. (tu berarti keputusan

batasan ada pada masing-masing entitas untuk menetapkannya sesuai dengan kondisi keuangan, kondisi operasional, dan jumlah asset tetapnya. 9amun standar ini mengharusakan bahwa sekali batasan ditetapkan maka harus diterapkan secara konsisten dan diungkapkan pada :atatan Atas Laporan !euangan. Untuk lebih jelasnya maka dijelaskan contoh pencatatan atas transaksi timbulnya cost yang menambah manfaat ekonomis asset tetap. $isalkan pada tahun %4##, !ementerian S melakukan pemeliharaan gedung dan bangunan sebagai berikut" -anggal #4 Agustus %4## dilakukan kegiatan pemasangan keramik yang semula hanya berupa lantai tanah sejumlah ;p<44.444.444 dengan pembebanan pada akun belanja modal gedung dan bangunan. -anggal #4 September %4## dilakukan pengecatan taman gedung sejumlah ;p&44.444.444 dengan pembebanan pada akun belanja pemeliharaan. Atas transaksi tersebut biaya pemeliharaan yang dapat dikapitalisasi hanyalah biaya pemasangan keramik. +iaya pengecatan taman diakui sebagai beban tahun berjalan dan tidak perlu dikapitalisasi karena merupakan kegiatan pemeliharaan rutin yang tidak menunjukkan adanya suatu peningkatan mutu6kualitas6kapasitas atas aset yang bersangkutan. 'urnal yang dibuat oleh !ementerian S adalah sebagai berikut. Untuk belanja modal Tanggal Uraian #464=6%4## Aset -etap->edung ,iutang dari !as Umum 9egara .untuk mencatat kapotalisasi aset tetap/ +elanja $odal *untuk mencatat realisasi belan+a modal yang dimasukkan dalam ,aporan -ealisasi Anggaran/ Untuk belanja pemeliharaan Tanggal #46476%4## Uraian +eban ,emeliharaan ,iutang dari !as Umum 9egara .untuk mencatat kapotalisasi aset tetap/ +elanja ,emeliharaan *untuk mencatat realisasi belan+a modal yang dimasukkan dalam ,aporan -ealisasi Anggaran/ Debet ;p&44.444.44 4 Kredit ;p&44.444.4 44 Debet ;p<44.444.44 4 Kredit ;p<44.444.4 44

;p<44.444.444

;p&44.444.444

,encatatan di +endahara Umum 9egara Tanggal Uraian Debet Kredit

#464=6%4##

+elanja $odal !as Umum 9egara *untuk mencatat realisasi belan+a modal yang dimasukkan dalam ,aporan -ealisasi Anggaran/ Uraian +elanja ,emeliharaan !as Umum 9egara *untuk mencatat realisasi belan+a pemeliharaan l yang dimasukkan dalam ,aporan -ealisasi Anggaran/

;p<44.444.44 4

;p<44.444.4 44

Tanggal #46476%4##

Debet ;p&44.444.44 4

Kredit ;p&44.444.4 44

Revaluasi Asset Tetap Akuntansi sektor komersil yang fokus pada pengukuran laba memiliki konsep penambahan modal .capital/ atau yang lebih dikenal sebagai capital maintanance. !onsep capital maintenance menjelaskan bahwa laba akan nyata dirasakan oleh perusahaan ketika modal awal perusahaan dapat di reco2er terlebih dahulu, kemudian setelah menghasilkan nilai lebih maka kelebihannya itulah yang disebut sebagai laba. Sederhananya bahwa ketika net asset saat ini melebihi net asset periode sebelumnya maka laba .tambahan ekonomis/ sudah dihasilkan oleh perusahaan. !etika menghadapi situasi dimana asset perusahaan mengalami kenaikan nilai berdasarkan harga pasar dibandingkan dengan nilai bukunya, maka perlu dilakukan penilaian ulang pada asset tersebut. 3al ini dimaksudkan agar tercermin nilai yang sesungguhnya dari asset tersebut dan kemudian juga mencerminkan net asset sesungguhnya pada neraca perusahaan sehingga pemilik perusahaan dapat menggunakan informasi yang dianggap sangat rele2an untuk mengambil keputusan. ,ada sector public re2alusi tetap dilakukan. 3al ini tampak pada pernyataan paragraph (,SAS. (,SAS yang dikenal mengadopsi (*;S dengan berbagai penyesuaian agar sesuai untuk diterapkan pada sector publik, mengadopsi pula kemungkinan dilakukannya re2aluasi Asset. 3al ini terlihat dari pernyataan paragraf 11 (,SAS no #0 yang berbunyi 8 setelah mengakui sebuah asset yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal, harus .shall be/ di nyatakan pada jumlah yang dire2aluasi menjadi nila wajarnya pada tanggal re2aluasi dikurang akumulasi depresiasi atau akumulasi impairment sebeumnya. ;e2aluasi sebaiknya dilakukan secara regular dan memadai untuk meyakinkan bahwa nilai buku tidak berbeda secara material dari nilai wajar asset pada tanggal pelaporan.5 $elalui paragraf pernyataan tentang re2aluasi tersebut dapat diketahui bahwa moti2asi dilakukannya re2aluasi asset adalah untuk meyakinkan pengguna laporan keuangan bahwa nilai yang disajikan mencerminkan atau tidak berbeda secara material dengan nilai wajarnya, jika kemudian akan berpengaruh pada penambahan net asset maka hal tersebut bukan menjadi moti2asi utama. Untuk

menjamin 2aliditas nilai wajar asset yang akan dire2aluasi, (,SAS mengharuskan re2aluasi dilakukan oleh jasa appraisal. Lebih lanjut terdapat % hal yang menarik terkait dengan re2aluasi asset menurut (,SAS yang dijelaskan sebagai berikut " #. (,SAS menyatakan bahwa re2aluasi asset dapat dilakukan setiap kali terdapat perubahan nilai wajar yang signifikan atas suatu asset. !etika terjadi maka harus sedapat mungkin dire2aluasi agar tujuan nilai buku tidak berbeda jauh dengan nilai wajar dapat dicapai. 3al ini tentu saja membuat kebijakan penilain kembali atau re2aluasi asset dapat dilakukan sesering mungkin ketika terjadi perubahan. 9amun tentunya realita dilapangan nampaknya akuntan pemerintah tentu saja harus mempertimbangkan hal terkait pertimbangan biaya dan manfaat ketika dilakukan re2aluasi. %. Selisih lebih atau selisih kurang nilai buku terhadap nlai wajar asset yang dire2aluasi akan dimasukkan sebagai surplus atau defisit pada Statement of

Financial Performance. Hal ini menjadi menarik adalah bahkan pada akuntansi sektor komersil, selisih lebih tidak akan langsung diakui sebagai gain or loss, pada laporan laba rugi karena belum terealisasi tetapi diakui sebagai comprehensive income. Tetapi pada IPSAS justru selisih tersebut langsung diakui karena langsung mempengaruhi surplus or defisit pada Statement of Financial Performance.

,raktik yang diterapkan di (ndonesia ternyata cukup berbeda. ,adahal jika mengingat-ingat sejarah penyusunan SA,, SA, menggunakan (,SAS sebagai salah satu sumbernya. ,ada paragraph ?7 akuntansi asset tetap ,, 0# tahun %4#%4 yang mengatur tentang re2aluasi asset menyebutkan 8Penilaian kembali atau revaluasi aset tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena .tandar Akuntansi Pemerintahan menganut penilaian aset berdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah yang berlaku secara nasional. 'ika pernyataan tersebut dimaknai maka sepertinya SA, membatasi penerapan dilakukannya re2aluasi akti2a tetap dimana pada (,SAS re2aluasi dapat dilakukan sesering mungkin ketika harga wajar sudah berbeda material dengan nilai buku asset. !alaupun diberlakukan maka harus terlebih dahulu diterbitkan ketentuan pemerintah yang mendasari re2aluasi dan ketika diterapkan maka akan berlaku secara nasional. 3al ini tentunya memakan waktu sehingga re2aluasi asset pada pemerintahan (ndonesia masih mungkin dilakukan namun dengan intensitas yang jarang sekali. !etika misalkan pemerintah memutuskan untuk melakukan re2aluasi asset secara nasional dan mengeluarkan ketentuan yang mendasarinya maka perlakuaan akuntansi SA, mungkin akan sama dengan perlakuan akuntansi (,SAS. Seperti yang kita tahu re2aluasi asset tetap pastinya akan menimbulkan nilai wajar sebagai nilai baru bagi asset yang kemudian dibandingkan dengan nilai bukunya akan menghasilkan selisih lebih ataupun selisih kurang. Selisih lebih ataupun selisih kurang sebagaimana diaparkan pada paragraph <4 akuntansi asset tetap SA, 0#

%4#4 disebutkan bahwa selisih antara nilai re2aluasi dengan nilai asset tetap dibukukan dalam akun ekuitas. 9amun demikian yang masih menyisakan pertanyaan adalah apakah selisih tersebut langsung disesuaikan pada akun ekuitas tanpa terlebih dahulu melakukan pencatatan akun surplus deficit pada laporan operasional atau selisih tersebut diakui terlebih dahulu pada laporan operasional yang pada akhirnya akan mempengaruhi akun ekuitas. 9ampaknya untuk mengetahui jawabannya harus menunggu !SA, mengeluarkan buletin teknis terkait re2aluasi akti2a tetap ketika pemerintah memutuskan melakukan re2aluasi asset.