Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Warna kulit manusia ditentukan oleh berbagai pigmen.

Yang berperan pada penentuan warna kulit adalah karoten, melanin, oksihemoglobin dan hemoglobin berbentuk reduksi, yang paling berperan adalah pigmen melanin. Melanosis adalah kelainan pada proses pembentukan pigmen melanin kulit, yaitu hipermelanosis dan hipomelanosis.1 Melasma berasal dari bahasa Yunani yang berarti warna hitam.2 Melasma adalah hypermelanosis diperoleh dari daerah terkena sinar matahari. Melasma muncul sebagai makula hiperpigmentasi simetris, yang dapat konfluen atau belang-belang. Pipi, bibir atas, dagu, dan dahi adalah lokasi yang paling umum, namun kadang-kadang melasma dapat terjadi di lokasi lain yang terkena sinar matahari.3 Melasma bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan, namun kejadian ini jarang terjadi pada laki-laki karena dianggap mempunyai keterkaitan dengan paparan sinar matahari, hormon eksternal seperti pil KB, dan perubahan hormon internal seperti terlihat pada kehamilan.4 Melasma juga dapat mengenai semua ras terutama orang yang tinggal di daerah tropis.1 Pengobatan melasma memerlukan waktu yang cukup lama, kontrol yang teratur serta kerja sama yang baik antar penderita dan dokter yang menanganinya. Pengobatan melasma dapat dilakukan dengan menghindari faktor pemicu seperti pil kontrasepsi oral atau penggunaan kosmetik serta menghindari sinar matahari dan menggunakan krim sun block.2

1.2. Tujuan Penulisan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memahami tentang melasma mulai dari definisi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis dan penatalaksanaan. Selain itu, untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

1.3. Manfaat Penulisan Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis dan pembaca khususnya yang terlibat dalam bidang medis dan masyarakat secara umum agar dapat lebih mengetahui dan memahami lebih dalam mengenai melasma.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Defenisi Melasma adalah hipermelanosis didapat yang pada umumnya simetris berupa makula yang tidak merata berwarna coklat muda sampai coklat tua, mengenai area yang terpajan sinar ultra violet dengan tempat predileksi pada pipi, dahi, daerah atas bibir, hidung dan dagu.1 2.2. Epidemiologi Melasma terutama dijumpai pada wanita, meskipun didapat pula pada pria (10%). Di Indonesia perbandingan kasus antara wanita dan pria adalah 24:1. Terutama tampak pada wanita usia subur dengan riwayat langsung terkena pajanan sinar matahari. Insidens terbanyak pada usia 30-44 tahun.1 Pada sebuah penelitian diperkirakan melasma terjadi pada 6 juta perempuan di Amerika Serikat dan 45-50 juta perempuan di seluruh dunia hidup dengan melasma, lebih dari 90% dari semua kasus adalah perempuan.4 2.3. Etiologi Etiologi Melasma sampai saat ini belum diketahui pasti. Fakor kausatif yang dianggap berperan pada patogenesis Melasma adalah :

1. Sinar Ultra Violet, spektrum sinar matahari ini merusak gugus sulfhidril di epidermis yang merupakan penghambat enzim tirosinase dengan cara mengikat ion Cu dari enzim tersebu. Sinar ultra violet menyebabkan enzim tirosinase tidak dihambat lagi sehingga memacu proses melanogenesis.

2. Hormon, misalnya estrogen, progesteron, dan MHS (Melanin Stimulating Hormon) berperan pada terjadinya Melasma.

3. Obat, obat yang ditimbun dilapisan dermis bagian atas dan secara kumulatif dapat merangsang melanogenesis.

4. Genetik, dilaporkan adanya kasus keluarga sekitar 20-70%.

5. Ras, Melasma banyak dijumpai pada golongan Hispanik dan golongan kulit berwarna gelap.

6. Kosmetika, pemakaian kosmetik yang mengandung parfum, zat pewarna atau bahan-bahan tertentu dapat menyebabkan fotosensitivitas yang dapat mengakibatkan timbulnya hiperpigmentasipada wajah, jika terpajan sinar matahari.1

2.4. Klasifikasi

Terdapat beberapa jenis melasma di tinjau dari gambaran klinis, pemeriksaan hispatologik, dan pemeriksaan dengan sinar wood. Melasma dapat di bedakan berdasarkangambaran klinis , pemeriksaan hispatologik, dan pemeriksaan dengan sinar wood. 1. Berdasarkan gambaran klinis : a. Bentuk sentro-fasial meliputi daerah dahi, hidung, pipi bagian medial, bawahhidung, serta dagu. (63%). b. Bentuk malar meliputi hidung dan pipi bagian lateral (21%). c. Bentuk mandibular meliputi daerah mandibula (16%)

2. Berdasarkan pemeriksaan dengan sinar wood : a. Tipe epidermal , melasma tampak lebih jelas dengan sinar wood dibandingkan dengan sinar biasa. b. Tipe dermal , dengan sinar wood tak tampak warna kontras di banding dengansinar biasa. c. Tipe campuran, tampak beberapa lokasi lebih jelas sedang lainnya tidak jelas. d. Tipe sukar, dinilai karena warna kulit yang gelap, dengan sinar wood lesimenjadi tidak jelas, sedangkan dengan sinar biasa jelas terlihat jelas.Perbedaan tipe-tipe in sangat berarti pada pemberian terapi, tipe dermal lebih sulit di obati dibanding tipe epidermal.

3. Berdasarkan pemeriksaan histopatologis : a. Melasma, tipe epidermal, umumnya berwarna coklat , melanin terutamaterdapat pada lapisan basal dan suprabasal , kadang-kadang di seluruh stratumkorneum dan stratum spinosum. b. Melasma tipe dermal, berwarna coklat kebiruan, terdapat makrofagbermelanin di sekitar pembuluh darah di dermis bagian atas dan bawah, padadermis bagian atsa terdapat fokus-fokus infiltrat.1

2.5. Patogenesis

Masih banyak yang belum diketahui. Banyak factor yang menyangkut proses ini, antara lain: a. Peningkatan produksi melanosom karena hormone maupun karena sinar ultraviolet. Kenaikan melanosom ini juga dapat disebabkan karena bahan farmakologik seperti perak dan psoralen. b. Penghambatan dalam Malphigian cell turnover, keadaan ini dapat terjadi karena obat sitostatik.1

2.6. Diagnosis

a. Pemeriksaan histopatologik Terdapat 2 tipe hipermelanosis : Tipe epidermal : Melanin terutama terdapat di lapisan basal dan supra basal kadang di sseluruh stratum spinosum sampai stratum korneum Tipe dermal Terdapat makrofag bermelanin di sekitar pembuluh darah dalam dermis bagian atas dan bawah. b. Pemeriksaan mikroskop electron Gambaran ultrastruktur melanosit dalam lapisan basal member kesan aktivitas melanosit meningkat. c. Sinar wood Tipe epidermal : warna lesi tampak lebih kontras Tipe dermal : warna lesi tidak bertambah kontras
5

Tipe campuran : lesi ada yang bertambah kontras ada yang tidak Tipe tidak jelas : jelas dengan sinar biasa1

2.7. Diagnosa banding 3 -

Addison diseases Drug induced sensitivity Lupus erythematosus, discoid Mastocytosis

2.8. Penatalaksanaan Pengobatan melasma memerlukan waktu yang cukup lama, kontrol yang teratur serta kerja sama yang baik antara penderita dan dokter yang menanganinya. Kebanyakan penderita berobat untuk alasan kosmetik. Pengobatan dan perawatan kulit harus dilakukan secara teratur dan sempurna karena melasma bersifat kronis residif. Pengobatan yang sempurna adalah pengobatan yang kausal, maka penting dicari etiologinya.1 1. Pengobatan Topikal a. Hidrokinon Hidrokuinon (HQ), juga dikenal sebagai dihydroxybenzene, adalah

hydroxyphenolic senyawa yang secara struktural mirip dengan prekursor melanin. Menghambat konversi Dopa untuk melanin oleh inhibisi enzim, tirosinase. HQ tidak hanya mempengaruhi pembentukan, melanisasi, dan degradasi melanosom, tetapi juga mempengaruhi struktur membran melanosit dan akhirnya menyebabkan nekrosis seluruh melanosit.5 Dengan konsentrasi 2-5 %. Krim tersebut dipakai pada malam hari disertai pemakaian tabirsurya pada siang hari. Umumnya terdapat perbaikan dalam 6-8 minggu dan dilanjutkan sampai 6 bulan.Efek samping adalah dermatitis kontak iritan atau alergik. Setelah penghentian hidrokinon sering terjadi kekambuhan. 1

b. Asam retinoat Asam retinoat 0.1% sebagai terapi tambahan atau kombinasi. Krim tersebut juga dipakai pada malam hari karena pada siang hari dapat terjadi fotogederasi. Efek samping berupa eritema, deskuamasi, dan fotosensitasi.1

c. Asam azeleat Asam azaleat adalah sembilan asam dikarboksilat karbon yang menghambat tirosinase kompetitif.5 Pengobatan dengan asam azeleat 20% selama 6 bulan memberikan hasil yang baik. Efek sampingnya rasa panas dan gatal.1

2. Pengobatan Sistemik a. Asam askorbat/vitamin C Vitamin C mempunyai efek merubah melanin bentuk oksidasi menjadi melanin bentuk reduksi yang berwarna lebih cerah dan mencegah pembentukan melanin dengan merubah DOPA kinon menjadi DOPA.1 Dosis yang diperlukan 1-2g/hari peroral tergantung pada toleransi penderita.5

b. Glutation Berpotensi menghambat pembentukan melanin dengan jalan bergabung dengan cuprum dari tirosinase.1 Dipakai secara oral dengan dosis 150mg300mg setiap hari selama 6 sampai 12 minggu.5

2.9. Prognosis Di bawah perawatan dokter kulit, banyak orang dengan melasma memiliki hasil yang baik. Ini mungkin memakan waktu beberapa bulan pengobatan untuk melihat perbaikan .Melasma dapat memudar selama beberapa bulan setelah berhenti pil KB atau HRT, atau setelah melahirkan anak. Tapi mungkin dapat kembali dengan kehamilan selanjutnya atau penggunaan obat.3

BAB 3 STATUS PENDERITA PENYAKIT KULIT

IDENTIFIKASI Nama Umur Jenis kelamin Status Bangsa/suku Agama Pekerjaan Alamat : Asem Meninta : 40 tahun : Perempuan : Menikah : Indonesia/Batak : Kristen : Penyanyi : Jl. Bungan Cole no. 28

ANAMNESIS Keluhan utama : bercak-bercak kecoklatan pada daerah wajah yang dialami 1,5 tahun ini. Keluhan tambahan :-

RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT: Bercak-bercak kecoklatan pada wajah dialami sejak 1,5 tahun ini. Tidak disertai rasa gatal, keluhan ini diawali sejak 1 tahun lalu penderita menggunakan krim pemutih dan kosmetik. Awalnya bercak muncul pada daerah bawah mata lama kelamaan mulai menyebar ke daerah pipi, alis, atas bibir. Sejak keluhan ini muncul penderita berhenti menggunakan produk tersebut dan menggantinya dengan merk lain tetapi keluhan ini tetap muncul dan bertambah luas. Riwayat pemakaian pil KB selama 2 tahun pada tahun 1990-1992. Penderita juga sering terpapar sinar matahari tanpa pelindung. Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama dijumpai.

Riwayat penyakit keluarga: kakak pertama os punya bercak coklat yg sama dengan os.

Riwayat penyakit terdahulu:-

Riwayat pemakaian obat: meong, crayolen

PEMERIKSAAN STATUS GENERALISATA: Kesadaran umum -kesadaran -gizi -suhu badan -nadi -tek.darah -pernapasan : compos mentis : baik : afebris : 68 x/i : 110/80 mmhg : 21 x/i Keadaan spesifik -kepala -leher -thoraks -absomen -genitalia -ekstremitas ::::::-

STATUS DERMATOLOGIKUS Lokasi : regio zygomatica, regio oralis, regio nasalis, regio orbitalis Ruam primer : makula hiperpigmentasi berbatas tegas dengan pinggir tidak teratur, simetris Ruanm sekunder: -

TES-TES YANG DILAKUKAN Pemeriksaan laboratorik : Rutin Khusus ::-

RINGKASAN: Pasien, pr, 40 thn datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUP HAM dengan keluhan bercak-bercak kecoklatan pada daerah wajah dialami penderita sejak 1,5 tahun ini, awalnya bercak muncul pada daerah bawah mata dan lama-kelamaan mulai menyebar ke daerah pipi, alis, atas bibir. Bercak tersebut muncul perlahan, 1 tahun yang lalu penderita menggunakan krim pemutih dan kosmetik. Riwayat penderita juga sering terpapar sinar matahari tanpa pelindung. Riwayat pemakaian pil KB (+) selama 2 tahun pada tahun 1990-1992. Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama dijumpai.

DIAGNOSIS BANDING 1. Melasma tipe malar, 2. Hiperpigmentasi pasca inflamasi,


9

3. Efelid.

DIAGNOSIS SEMENTARA: Melasma tipe malar

PENATALAKSANAAN : Umum : Menghindari sinar matahari secara langsung Khusus : Krim hidrokuinon 2-4 % malam hari Krim Tretinoin 0,05%-1% malam hari Tabir surya SPF diatas 30 dipakai siang hari

PEMERIKSAAN ANJURAN: 1. 1.

Pemeriksaan dengan sinar wood Pemeriksaan histopatologik

PROGNOSIS : baik

10

11

BAB 4 DISKUSI Melasma terutama dijumpai pada wanita usia subur dengan riwayat langsung terkena pajanan sinar matahari dengan insiden terbanyak pada usia 30-40an tahun. Pada pasien berjenis kelamin perempuan dengan usia 43 tahun. Faktor-faktor yang menjadi etiologi melasma adalah perubahan hormonal pada kehamilan, penggunaan obat kontrasepsi hormonal, atau kosmetika tertentu. Pada pasien di jumpai adanya penggunaan obat kontrasepsi hormonal. Gejala klinis pada pasien adanya makula hiperpigmentasi, berbatas tegas dengan pinggir tidak teratur, simetris, multiple, plakat, dan diskret dijumpai pada pipi dan sekitar mata. Hal ini sesuai dengan teori, gejala klinis melasma umumnya simetris berupa makula yang tidak merata bewarna cokelat muda sampai cokelat tua, mengenai area yang terpajan sinar ultra violet dengan tempat predileksi pada pipi, dahi daerah atas bibir, hidung dan dagu. Penatalaksanaan pada pasien ini diberikan terapi topikal krim hidrokuinon 2-4 % malam hari, Krim Tretinoin 0,05%-1% malam hari, Tabir surya SPF diatas 30 dipakai siang hari. Hal ini sesuai dengan kepustakan yaitu untuk mengobati melasma dapat diberikan asam retinoat (vitacid) dan tabir surya sebagai pelindung terhadap sinar UV. Prognosis pada pasien ini adalah baik. Sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan bahwa di bawah perawatan dokter kulit, banyak orang dengan melasma memiliki hasil yang baik. Ini mungkin memakan waktu beberapa bulan pengobatan untuk melihat perbaikan .Melasma dapat memudar selama beberapa bulan setelah berhenti pil KB atau HRT, atau setelah melahirkan anak. Tapi mungkin dapat kembali dengan kehamilan selanjutnya atau penggunaan obat.

12

DAFTAR PUSTAKA 1. Djuanda, A. 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal (289-292). 2. British Association of Dermatologists Healthy Skin for All. 2012. Melasma. Available at: http://www.bad.org.uk/Portals/_Bad/Patient%20Information%20Leaflets%20%28PILs% 29/Melasma%20Update%20Mar%202012%20-%20lay%20review%20Mar%202012.pdf 3. Montemarano, AD. 2012. Melasma. Medscape Reference. Available at :

http://emedicine.medscape.com/article/1068640-overview#showall 4.Alai, Nili N. 2012. Melasma. MedicineNet. Available at:

http://www.medicinenet.com/melasma/article.htm 5. Bleehen S.S., Anstey A.V. Disorders of skin colour. In: Rooks Textbook of dermatology. 7th edition. Vol 1- 4. Tony B., Stephen B., Neil C., Cristopher G., eds. UK: Blackwell Publishing; 2004. p.39.8-10 and 39.40

13