Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR CRURIS DAN FRAKTUR FEMUR

DI SUSUN OLEH : 1. Ertinda Devyta Sari 2. Hasnan Pradana Al Hakim 3. Nur Kolis Al Rosid 4. Riski Fitriani 5. Robby Argo Wenang Saputro P 27220011 171 P 27220011 179 P 27220011 P 27220011 196 P 27220011

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN SURAKARTA JURUSAN KEPERAWATAN 2013

FRAKTUR

A. DEFINISI Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (smeltzer S.C & Bare B.G,2001). Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000 : 347). Sedangkan menurut Linda Juall C. dalam buku Nursing Care Plans dan Dokumentation menyebutkan bahwa fraktur adalah rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap oleh tulang. Cruris adalah tungkai bawah dari lutut sampai kaki ( Kamus Saku Kedokteran Dorland ). Fraktur Cruris adalah fraktur yang terjadi pada tungkai bawah. Fraktur femur adalah terputusnya kontiunitas batang femur yang bisa terjadi akibat truma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian). Patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan penderita jatuh dalam syok (FKUI dalam Jitowiyono, 2010 : 15). B. ETIOLOGI Menurut Sachdeva dalam Jitowiyono dkk (2010: 16), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga yaitu : 1. Cedera traumatik Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh : a). Cedera langsung berarti pukulan/kekerasan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan ditempat itu. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit diatasnya. b). Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur klavikula. c). Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat. 2. Fraktur patologik Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor dapat mengakibatkan fraktur, dapat juga terjadi pada berbagai keadaan berikut :

a) Tumor tulang (jinak atau ganas), pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali dan progresif. b) Infeksi seperti osteomielitis, dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit nyeri. c) Rakhitis, suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh difisiensi vitamin D yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah. 3. Secara spontan Disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya pada penyakit polio dan orang yang bertugas di kemiliteran (Jitowiyono dkk, 2010:16).

C. Klasifikasi Fraktur dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu : a. Berdasarkan sifat fraktur (jika yang ditimbulkan) Fraktur tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi. Pada fraktur tertutup ada klasifikasi yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu : o Tingkat 0 : fraktur biasa dengan sedikit tanpa cidera jaringan lunak sekitarnya. o Tingkat 1 : fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan. o Tingkat 2 : fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan. o Tingkat 3 : cidera berat dengan kerusakan jarinan lunak yang nyata dan ancaman sindroma kompartement. Fraktur terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit. Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat : o Derajat I :

luka kurang dari 1 cm kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk. fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan Kontaminasi ringan.

o Derajat II Laserasi lebih dari 1 cm Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse Fraktur komuniti sedang.

o Derajat III Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler sertakontaminasi derajat tinggi b. Berdasarkan komplit atau ketidak komplitan fraktur Fraktur komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. Fraktur inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti: o Hair line fraktur o Buckle atau Torus fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya. o Green Stick Fraktur, mengenai korteks dengan angulasi korteks lainnya yang dapat terjadi pada tulang panjang. c. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma,. Fraktur transversal, fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi juga. Fraktur spiral, fraktur yang arah garis patahnya bentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi. Fraktur kompresi, fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang menggendong tulang kea rah permukaan lain. Fraktur avulasi, fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.

d. Berdsarkan jumlah garis patah Fraktur komunitif, fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan. Fraktur segmental, fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak saling berhubungan. Fraktur multiple, fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama. e. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang. Fraktur Undiplaced (tidak bergeser) : garis patah lengkap tetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum masih utuh. Fraktur Displaced (bergeser) : terjadi pergeseran fragmen tulang. o Dislokasi ad longitudinal cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping) o Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentk sudut) o Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh. f. Berdasarkan posisi fraktur Sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian : 1/3 proksimal 1/3 medial 1/3 distal

g. Fraktur kelelahan : fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang h. Fraktur patologis : fraktur yang diakibatkan karena patologis tulang.

D. Manifestasi Klinis Deformitas Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahankeseimbangan dan contur terjadi seperti : o Rotasi pemendekan tulang o Penekanan tulang Bengkak

Edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur Echumosis dari Perdarahan Subculaneous. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur. Tenderness/keempukan. Nyeri, mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakanstruktur di daerah yang berdekatan. Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan)8. Pergerakan abnormal. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah. Krepitasi

E. Patofisiologi Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan. Tapi bila ada tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Peradangan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medulla tulang. Jaringan tulang segera berdekatan kebagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya.

F. Pathway
Kondisi patologis Osteoporosis Fraktur Trauma langsung/ tidak langsung

Terputusnya kontuinitas Jaringan Saraf Rusak Perubahan permeabilitas kapiler

Psikologi Perubahan peran


Gangguan body image

Intoleransi aktivitas Bedrest Defisit perawatan diri Penekanan jaringan tertentu

Takut cemas Kurang informasi


Kurang pengetahuan

Lumpuh/ Parestesia oedem/bengkak Lokal/hematoma


Gangguan mobilitas fisik

Nyeri

Resti perubahan perfusi jaringan perifer

Resti gangguan integritas kulit

(Markam, Soemarno, 1992; Sabiston, 1995; Mansjoer 2000)

G. Pemeriksaan Penunjang a. Foto Rontgen Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung Mengetahui tempat dan type fraktur Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses penyembuhansecara periodic. b. Skor tulang tomography, skor C1, Mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi kerusakan jaringanlunak. c. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler.

d. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau menrurun ( perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh padatrauma multiple). Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma. e. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi multiple atau cedera.

H. Komplikasi a. Sindrom Kompartemen Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruangan tertutup di otot yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat sehingga menyebabkan keusakan otot. b. Trombo Embolic Complication Terjadi pada individu yang mobil dalam waktu yang lama. c. Infeksi Paling sering menyertai fraktur terbuka dan dapat di sebabakan melalui logam bidai. d. Mal Union Suatu keadaan di mana tulang yang patah telah embuh dalam posisi yang tidak seharusnya. e. Osteomyelitis Infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum atau korteks tulang dapat terbuka, luka tembus atau selama operasi. f. Cedera Vaskuler atau Saraf Kedua organ ini dapat cedera akibat ujung patahan tulang yang tajam. g. Delayed Union Non Union Sambungan tulang yang terlambat dan tulang patah yang tidak menyambung kembali.

I. Penatalaksanaan Fraktur biasanya menyertai trauma, untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas ( airway ), proses pernapasan ( breathing ) dan sirkulasi apakah terjadi syok atau tidak. a. Intervensi Terapeutik

Penatalaksanaan kadaruratan meliputi : Pembebatan fraktur di atas dan di bawah sisi cenderung sebelum memindahkan pasien. Pembebatan / pembidaian mencegah luka dan nyeri yang lebih jauh dan mengurangi komplikasi. Memberikan kompres dingin, untuk menekan perdarahan, edema dan nyeri. Meninggikan tungkai untuk menurunkan edema dan nyeri. Kontrol perdarahan dan memberikan penggantian cairan untuk mencegah syok. Fiksasi eksternal untuk menstabilkan fraktur komplek dan terbuka. Pemasangan traksi untuk tulang panjang. Traksi kulit : Kekuatan di berikan pada kulit dengan busa karet Traksi skelet : Kekuatan yang di berikan pada tulang skelet secara langsung dengan menggunakan kawat pen. b. Intervensi Farmakologis. Anestesi local, analgetik narkotik, relaksan otot, atau di berikanuntuk membantu pasien selama prosedur reduksi tertutup. Imobilisasi di lakukan dengan jangka waktu yang berbeda beda. Fisioterapi untuk mempertahankan otot yang luka bila tidak dipakai dapat mengecil secara cepat. Setelah fraktur sembuh,mobilisasi sendi dapat dimulai sampai ekstremitas betul betul telah kembali normal. Fungsi penyangga badan ( weight bearing) diperbolehkan setelah terbentuk cukup callus

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN a. Identitas Klien b. Keluhan utama Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. c. Riwayat penyakit sekarang d. Riwayat penyakit dahulu e. Riwayat penyakit keluarga f. Pola-pola fungsi kesehatan menurut gordon Persepsi kesehatan pemeliharanaan kesehatan :

Persepsi kesehatan pasien tentang kesehatan umum dan bagaimana mengatur kesehatan (menurut Klien) Pola Nutrisi Pola masukan makanan dan cairan, pada pasien paska pembedahan ada kemungkinan dijumpai penurunan masukan karena mual, muntah akibat efek anestesi dan penambahan masukan melalui jalur parenteral. Pola Eliminasi Pola dan fungsi eksresi (usu, kandung kemih dan kulit), pada bagian paska pembedahan dapat dijumpai penggunaan kateter dan penurunan frekuensi BAB akibat penurunan motilitas usus sebagai efek anestesi. Pola Kognitif dan Persepsi Keadekuatan alat sensori dan kemampuan fungsional kognitif, penurunan fungsi mungkin dijumpai karena efek anestesi dan kurangnya pemahaman dn pemberian informasi atau sumber-sumber informasi. Pola Kognitif dan Persepsi Pola latihan, aktivitas, memanfaatkan waktu luang dan rekreasi. Pada pasien paska pembedahan orif femur 1/3 distal sinistra didapatkan data penurunan fungsi ini akibat nyeri luka operasi dan pembatasan aktivitas sebagai terapi imonilisasi. Istirahat dan Tidur Pola tidur dan periode, relaksasi selama 24 jam dan juga kualitas dan kuantitas serta bantuan tidur. Pola peran dan hubungan Persepsi pasien tentang peran yang utama dan tanggung jawab dalam situasi kehidupan sekarang. Pola Konsep Diri persepsi diri Sikap individu mengenai dirinya, persepsi diri mengenai citra tubuh. Pola Koping-penanganan masalah Pola koping umum dan efektif pada toleransi terhada[ stress sistem pendukung dan kemampuan yang dirasakan untuk mengendalikan dan mengubah situasi. Pola Seksualitas reproduksi

Kepuasan atau ketidakpuasan yang dirasakan pasien dalam hal seksualitas. Pola Nilai dan Keyakinan

2. Diagnose Keperawatan Diagnosa keperawaan yang ditegakkan pada pasien fraktur (Marilyn E. Doenges) a. Nyeri berhubungan dnegan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, edema, cidera pada jaringan lunak, alat traksi / immobilisasi, stress dan anestessi. b. Resiko tinggi disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dnegan penurunan / interupsi thrombus. c. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan degan tak adekuatnya pertahanan primer (kerusakan kulit, trauma jaringa, terpapar pada lingkungan) prosedur invasive, traksi tulang. d. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromoskuler (nyeri/ketidaknyamanan). e. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan kehialngan integritas tulang. f. Aktual / resiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit/jaringan berhubungan dengan cidera tusuk (Fraktur terbuka, bedah perbaikan, pemasangan traksi pen/kawat / sekrup) eprubahan sensasi, perubahan sirkulasi, akumulasi ekskresi / sekret, immobilitas fisik.

3.

Intervensi Keperawatan a. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, edema, cidera pada jaringan lunak, alat traksi / immobilisasi, stress dan anestesi. Tujuan : menyatakan nyeri tulang Kriteria hasil : menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam aktivitas dnegan tepat dan emnunjukkan penggunaan ketrampilan. Relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual. Intervensi : 1) Pertahankan immobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi. 2) Dukung an tinggikan ekstremitas yang terkena.

3) Evaluasi keluhan nyeri 4) Dorong menggunakan teknik menejemen stress contoh : Relaksasi progresif, latihan nafas dalam. 5) Berikan obat sebelum perawatan aktivits. b. Resiko tinggi disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan / interupsi aliran drah, cidera vaskuler langsung, edema berlebihan, pembentukan thrombus. Tujuan : memeprtahankan perfusi jaringan Kriteria hasil : perfusi jaringan dapat dieprtahankan, dibuktikan oleh terabanya nadi, kulit kering / hangat, sensasi normal, sensori biasa, tanda vital stabil dan keluaran urine adekuat untuk situasi. Intervensi : 1) Lakukan pengajian neuromuskuler 2) Pertahankan peninggian ekstremitas yang cedera kecuali indikasi. 3) Kaji keseluruhan panjang eekstremitas yang cedera untuk pembengkakan / pembentukan edema. 4) Kaji tanda eskemia ekstremitas tiba-tiba. 5) Dorong pasien untuk latihan jari /sendi distal cedera secara rutin. c. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tak adekuatnya pertahanan primer (keruskan kulit, trauma, jaringa, terpapar pada lingkungan / prosedur invasif, traksi tulang. Tujuan : mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. Kriteria hasil : bebas drainase parulen atau eritem dan demam. Intervensi : 1) Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan kontinuitas. 2) Instruksikan pasien untuk tidak menyentuh isis insersi. 3) Kaji tonus otot, refleks endon dalam dan kemampuan berbicara. 4) Selidiki nyeri tiba-tiba / keterbatasan gerakan dengan edema lokal / eritema keekstremitas cedera. 5) Awasi pemeriksaan laboratorium : hitung darah lengkap, LED, kultur dan sensivitas luka /seram / tulang.

d. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengahn kerusakan neuromuskler ( nyeri / ketidaknyamanan, terapi restriktif / immonilsasi tungkai). Tujuan : meningkatkan / mempertahankan mobilitas pada tingkat yang paling tinggi yang mungkin. Kriteria hasil : memprtahankan posisi fungsional, meningkatnya kekuatan / fungsi yang sakit dan menunjukkan teknis yang memampukan melakukan aktivitas. Intervensi : 1) Kaji derajat immobilitas yang dihasilkan cedera / pengobatan. 2) Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik / rekreasi. 3) Tinggikan eketremitas yang sakit. 4) Jelaskan pantangan dan keterbatasan dalam aktivitas. 5) Bantu / dorong perawatan diri / kebersihan. e. Resiko tinggi terhadap trauma tambahan berhubungan dengan kehilangan integritas tulang. Tujuan : memeprtahankan stabilitas dan posisi fraktur. Kriteria hasil : menunjukkan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilisasi pada sisi fraktur dan menunjukkan pembentukan kalus / mulai penyatuan fraktur dengan tepat. Intervensi : 1) Pertahankan tirah baring . ekstremitas sesuai indikasi. 2) Letakkan papan dibawah tempat tidur. 3) Sokong fraktur dengan bantal. 4) Evaluasi pembebat ekstremitas terhadap resolusi edema. 5) Kaji ulang foto Rontgen. f. Aktual / resiko tinggi terhadap kerusakan integrutas kulit / jaringan berhubungan dengan cedera tusuk (fraktur terbuka, bedah perbaikan, permasalahan, pemasangan traksi pen / kawat / sekrup) perubahan sensasi, perubahan sirkulasi, akumulasi ekskresi, immobilisasi fisik. Tujuan : ketidaknyamanan hilang

Kriteria hasil : menyatakan ketidaknyamanan hilang menunjukkan perilaku / teknik untuk mencegah keruakan kulit / memudahkan penyembuhan luka dan mencapai penyembuhan luka sesuai waktu / penyembuhan lesi terjadi. Intervensi : 1) Masae kulit dan penonjolan tulang. 2) Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan. 3) Ubah posisi dengan sering.

DAFTAR PUSTAKA Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta. Brunner dan Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 3. EGC : Jakarta Sachdeva, 2010. Jitowiyono FKUI : Jakarta http://www.scribd.com/doc/86545197/makalah-askep-fraktur http://www.scribd.com/doc/29797264/ASKEP-FRAKTUR

Anda mungkin juga menyukai