Anda di halaman 1dari 8

5

ETIKA DAN SAINS


MAKALAH Sebagai tugas mata kuliah Filsafat Ilmu Oleh : Rifki Muhammad Fauzi 270110120069 Geologi D

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJAJARAN 2013

ETIKA DAN SAINS BAB I HASIL BACAAN


Pengertian Etika

Etika berasal dari kata Yunani ethikos, ethos yang berarti adab, kebiasaaan atau praktek. Aristoteles menganggap bahwa etika mencakup ide, karakter dan disposisi (kecondongan). Tujuan kehidupan bagi Aristoteles adalah kebahagiaan atau eudaimonia (kesejahteraan, kesentosaan). Cicero (106-43 SM) memperkenalkan kata moralis ekiuvalen dengan kata ethikos yang diungkapkan Aristoteles. Dalam bahasa Indonesia etika berarti ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlaq (moral). Etika secara terminologis adalah cabang filasafat yang mempelajari perbuatan atau tingkah laku dan nilai moral (baik dan buruk) manusia. Perbuatan yang dapat dinilai baik buruknya adalah tingkah laku, gerakan-gerakan, kata-kata, yang dilakukan dengan kesadaran. Dalam banyak pemakaian, istilah etika merupakan sinonim moral. Moral berasal dari kata latin moralis-mos, moris yang artinya adat, istiadat, kebiasaan, cara, tingkah laku atau mores yang berarti adat istiadat, kelakuan, tabiat, watak, akhlak, cara hidup. Dalam bahasa Indonesia moral berarti ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan (akhlak, kewajiban). Ada perbedaan tentang etika dan moral dalam penilaian sehari-hari. Moral atau moralis dipakai untuk perbuatan yang

sedang dinilai, sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai yang ada.

Etika Merupakan Bagian Filsafat Etika merupakan salah-satu cabang tertua dari filsafat. Hal itu bisa dinyatakan setidaknya melalui tiga sudut pandang. Tiga sudut pandang tersebut adalah sejarah, tema-tema yang dikaji dan definisi. Dari sudut pandang sejarah telah dimulai dari zaman klasik sejarah filsafat, yang selalu dipenuhi dengan pembahasan tentang etika. Setidaknya terhitung sejak masa hidup Sokrates. Sokrates dan para Kaum Shopis adalah orang-orang yang memindahkan filsafat dari kosmosentris ke antroposentris. Dan di antara tema-tema yang menjadi objek kajian adalah etika, misalnya nilai, kebebasan, suara hati, jiwa, ego, super ego dan sebagainya. Filsafat pada umumnya didefinisikan sebagai suatu tindak pemikiran yang logis, kritis, mendasar hingga ke akar-akar

permasalahan. Dalam konteks Yunani kuno, etika telah berbentuk dengan kematangan. Etika adalah ilmu yang tidak merupakan suatu ilmu empiris. Filsafat tidak membatasi diri pada gejala-gejala kongkret belaka sebagaimana sains. Filsafat memberanikan diri juga untuk melampau taraf kongkret dengan seolah-olah menanyakan dibalik gejala-gejala konkret.

Ciri khas filsafat juga tampak dalam etika yang juga tak terhenti pada hal-hal konkret, pada yang secara faktual dilakukan. Tapi ia bertanya tentang yang harus atau tidak boleh dilakukan, tentang baik atau buruk dilakukan. Dalam contoh kasus korupsi misalnya. Etika tidak akan menanyakan, bagaimana fungsinya dalam masyarakat, apakah banyak dilakukan, golongan mana yang terlibat, alasan apa saja yang menyebabkan mereka melakukan korupsi. Ini semua merupakan pertanyaan sosiologi. Dalam kasus ini, etika akan menyibukan diri dengan segi normatif dan evaluatif. Misalnya, apakah korupsi dapat dibenarkan atau tidak? Bagaimana argumen mereka yang menolak dan mendukung korupsi? Apakah argumen mereka dapat dipertanggungjawabkan? Dan tentu saja etika terlebih dulu harus menyelidiki apa yang persisnya disebut dengan korupsi. Etika bisa disebut juga sebagai filsafat praktis, karena ia membahas yang harus dilakukan. Selain itu, etika juga langsung berhubungan dengan prilaku manusia. Tetapi etika tidak merupakan filsafat praktis dalam arti menyajikan resep-resep yang siap pakai. Bidangnya tidak teknis melainkan reflektif. Etika merefleksi tema-tema yang menyangkut prilaku manusia. Tema-tema yang dianalisis seperti yang disebut di atas antara lain, hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, hak, kewajiban dan keutamaan. Pendek kata, etika

bergerak dibidang intelektual yang objeknya langung berkaitan dengan praktek kehidupan kita. Nilai dan norma etis dalam moralitas yang terdapat dalam agama, kebudayaan, nasionalisme, pergaulan anak muda dan lain-lain, menjadi objek kajian intelektual etika yang langsung dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengertian Sains Sains adalah suatu cara untuk mempelajari aspek -aspek tertentu dari alam secara terorganisir, sistematik dan melalui metode-metode saintifik yang terbakukan. ruang lingkup sains terbatas pada pada hal hal yang dapat dipahami oleh indera (penglihatan, sentuhan, pendengaran, rabaan dan pengecapan).

Sedangkan yang disebut metode saintifik adalah langkah - langkah yang tersusun secara sistematik untuk memperoleh suatu kesimpulan ilmiah. Metode saintifik pada dasarnya merujuk pada model penelitian yang dikembangkan oleh francis Bacon (1561-1626). Model tersebut memiliki langkah - langkah : 1. Mengidentifikasi masalah ( dari fakta yang ditemukan di lingkungan ) 2. Mengumpulkan data yang sesuai dengan permasalahan yang ditemukan 3. Memilah data yang sesuai dengan permasalahan

4. merumuskan hipotesis ( dugaan ilmiah yang menjelaskan data dan permasalahan yang ada sehingga dapat menentukan langkah penyelesaian masalah lebih lanjut) 5. Menguji hipotesis dengan mencari data yang lebih faktual ( mengadakan eksperimen) 6. Menguji keakuratan hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya agar dapat mentukan tindakan terhadap hipotesis tersebut ( mengkonfirmasi, memodifikasi, ataupun menolak hipotesis).

Metode saintifik juga sering disebut metode induktif karena dalam prosesnya, metode saintifik dimulai dari hal-hal yang bersifat spesifik ke kesimpulan yaang bersifat general.

BAB II RANGKUMAN

Etika adalah suatu batasan diri yang dapat mengontrol diri kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji (berhubungan dengan perilaku) ,tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Etika merupakan salahsatu cabang tertua dari filsafat. Hal itu bisa dinyatakan setidaknya melalui tiga sudut pandang. Tiga sudut pandang tersebut adalah sejarah, tema-tema yang dikaji dan definisi. Ciri khas filsafat juga

tampak dalam etika yang juga tak terhenti pada hal-hal konkret, pada yang secara faktual dilakukan. Etika bisa disebut juga sebagai filsafat praktis, karena ia membahas yang harus dilakukan. Selain itu, etika juga langsung berhubungan dengan prilaku manusia. Sains adalah suatu cara untuk mempelajari aspek -aspek tertentu dari alam secara terorganisir, sistematik dan melalui metode-metode saintifik yang terbakukan. ruang lingkup sains terbatas pada pada hal hal yang dapat dipahami oleh indera (penglihatan, sentuhan, pendengaran, rabaan dan pengecapan).

DAFTAR PUSTAKA

M.S. Wibowo : http://mswibowo.blogspot.com/2009/01/membumikan-filsafatmelalui-etika-dan.html Abdul Jaelani : http://qodirassasaky.blogspot.com/2012/04/etika-danilmu-pengetahuan.html http://cafe-biologi.blogspot.com/