Hasil Kerjasama Antara : PUSAT PENELITIAN KELAUTAN LEMBAGA PENELITIAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG dengan

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN TENGAH
Edisi Pertama

-2002-

Pengumpulan Data dan Informasi untuk MCMA Propinsi Kalimantan Tengah
TIM PENYUSUN Pusat Penelitian Kelautan – LPPM - ITB Safwan Hadi Nining Sari Ningsih Widodo Setiyo Pranowo Hisyam Achmad M. Arief Ramadhan RM. Dikshie Fauzie Haris Sunendar Muliadi Amirul Huda Kinkin Sodikin Hafizh Ali Rinny Cempaka Mardhiatul Asparini Aditya Riadi Gusman Dessy Berlianty

 Pusat Penelitian Kelautan – LPPM – ITB
Bandung - Indonesia Edisi Pertama – Desember 2002 Cetakan Pertama – Desember 2002

Dokumen: Pengumpulan Data dan Informasi untuk MCMA Propinsi Kalimantan Tengah

Dokumen ini ditujukan untuk memberikan informasi awal mengenai pesisir dan laut di lokasi MCMA Propinsi Kalimantan Tengah. Pada saat penyusunan, terbitan ini menyajikan kajian dasar yang penting mengenai wilayah pesisir dan laut di lokasi MCMA Propinsi Kalimantan Tengah, namun informasi didalamnya mungkin telah mengalami perubahan pada saat pembacaan. Oleh karena itu, kami mohon bantuan anda untuk memberikan data terbaru, koreksi atau informasi lainnya yang berhubungan dengan Dokumen ini. Masukan dan saran dapat disampaikan kepada:
BAPPEDA Propinsi Kalimantan Tengah Jl. Diponegoro No. 60 Telp. +62-536-21715 / 21645 Fax. +62-536-22217 / 29160 Palangka Raya - 73111 Kalimantan Tengah – Indonesia

Editor Pengarah Peta Tata Letak Fotografer Sumber Foto Foto Sampul

: Nining Sari Ningsih : Tim GIS PPK-ITB, BAPPEDA Propinsi Kalimantan Tengah : Hafizh Ali : Widodo S. Pranowo, M. Arief Ramadhan : PPK-ITB, YAYORIN, Situs internet : Widodo S. Pranowo, Situs Internet, YAYORIN

Atau
Pusat Penelitian Kelautan – LPPM - ITB Gedung Labtek VI Lantai 4 Jl. Ganesha 10 Telp / Fax. +62-22-2512430 Situs internet: http://www.ppk.itb.ac.id Bandung - 40132 Jawa Barat - Indonesia

Keterangan Sampul
Foto Latar Propinsi

: Jembatan Sungai Kahayan, Kota Palangka Raya, Ibukota Kalimantan Tengah. : Penyu Hijau (http://www.strt.hacettepe.edu.tr); Pantai Ujung Pandaran di Kabupaten Kotawaringin Timur; Aktivitas di Pelabuhan Sampit; Aktivitas Nelayan di Kuala Pembuang, Kabupaten Kotawaringin Timur. : Pantai Ujung Pandaran di Kabupaten Kotawaringin Timur; Dermaga rakyat di Ujung Pandaran; Penggergajian Kayu di Pulau Kupang, Kab. Kapuas; Owa-owa (Sumber: YAYORIN).

Foto Kecil (Segi Enam)

Untuk itu kami mengucapkan terima kasih.

Foto Kecil (Kiri - Kanan)

Tim Penyusun.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

P

engelolaan wilayah pesisir secara tepadu sangat tergantung pada tersedianya informasi bio-fisik, sosial ekonomi, budaya, dan kelembagaan yang obyektif, akurat dan terbaharui. Informasi ini akan lebih mudah dimanfaatkan bila ditampilkan dalam bentuk peta-peta tematik dan teks dskripsi. Mengingat perkembangan dalam

pengelolaan wilayah pesisir dan laut Propinsi Kalimantan Tengah harus dilakukan secara optimal maka perlu disusun suatu Atlas yang dapat mengidentifikaikan potensi dan isu-isu pengelolaan yang ada di daerah tersebut. Dalam kaitan ini kegiatan pengumpulan data dan informasi untuk MCMA (Marine and Coastal Management Area) Propinsi Kalimantan Tengah ditujukan untuk memberikan informasi tentang potensi wilayah pesisir dan laut Propinsi Kalimantan Tengah yang meliputi aspek potensi bio-fisik, kondisi sosial ekonomi, budaya, dan kelembagaan serta isuisu yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan segera. Atlas ini menyajikan informasi tentang potensi dan permasalahan serta rekomendasi awal perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan laut sehingga diharapkan nantinya dapat digunakan sebagai panduan untuk melakukan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan pelestarian habitat agar tujuan pembangunan yang berkelanjutan dapat dicapai. Pengumpulan data dan informasi untuk MCMA Propinsi Kalimantan Tengah ini terlaksana atas kerjasama Pusat Penelitian Kelautan – Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Teknologi Bandung dengan Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda) Propinsi Kalimatan Tengah. Dokumen ini akan lebih bernilai guna apabila data dan informasi yang terdapat didalamnya terus diperbaharui dan disebarluaskan kepada masyarakat umum. Untuk itu Dokumen ini dilengkapi dengan CD-ROM basis data dan Sistem Informasi Geografis (SIG) Atlas Wilayah Pesisir dan Laut Kalimantan Tengah berbasis WEB agar proses pembaruan data dan informasi dapat dilakukan dengan mudah. Kami mengharapkan masukan dari pembaca demi penyempurnaan perbaikan produksi Dokumen yang berupa Pengumpulan Data dan Informasi untuk MCMA Propinsi Kalimantan Tengah ini pada waktu mendatang. Akhirnya kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya dokumen ini mulai dari proses perencanaan hingga selesainya, dan semoga dapat memberikan manfaat kepada semua pihak yang memerlukannya. Bandung, 20 Desember 2002 Pusat Penelitian Kelautan Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat Institut Teknologi Bandung

Tim Penyusun i

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

P

otensi wilayah pesisir Kalimantan Tengah sebenarnya sudah lama menjadi perhatian masyarakat setempat, kalangan akademisi, dan berbagai instansi terkait baik daerah maupun pusat, tetapi data dan informasi tersebut belumlah tersaji dalam satu kesatuan yang utuh dan interaktif agar bisa digunakan secara bersama-sama sebagai gambaran awal dalam langkah untuk mengelola kawasan pesisir Kalimantan Tengah.

Untuk itu, kami menyambut dengan baik atas terselesaikannya Dokumen Laporan tentang Pengumpulan Data dan Informasi untuk MCMA (Marine and Coastal Management Area) Propinsi Kalimantan Tengah yang merupakan hasil kerjasama antara Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah dan Pusat Penelitian Kelautan (PPK) dibawah Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Bandung (ITB). Dokumen ini bersifat interaktif karena disertai dijabarkan juga melalui Sistem Informasi Geografis (SIG), yang direncanakan dapat diakses melalui internet oleh khalayak umum. Kami sangat berharap agar dokumen ini dapat digunakan sebaik-baiknya oleh masyarakat Kalimantan Tengah, masyarakat lainnya secara luas, kalangan akademisi, dan instansi terkait untuk lebih mengetahui, mengenal, dan mengelola potensi wilayah pesisir Propinsi Kalimantan Tengah secara lestari dan berkesinambungan. Waktu yang diberikan dalam proses penyusunan dokumen dan pembangunan Sistem Informasi Geografis ini bisa dikatakan terlalu singkat, tetapi tetap bisa menyajikan data dan informasi yang banyak membantu kami dalam mendapatkan isu-isu pengelolaan pesisir Kalimantan Tengah. Dan kami sangat mengharapkan kesadaran dan koordinasi antar instansi terkait dalam memperbaharui data dan informasi wilayah pesisir Kalimantan Tengah ini agar selalu tersaji terbaru dan akurat. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan terselesaikannya dokumen ini. Mudah-mudahan dokumen ini akan memberikan manfaat bagi pembangunan wilayah pesisir pada khususnya dan pembangunan daerah propinsi Kalimantan Tengah pada umumnya. Palangka Raya, Desember 2002 Kepala Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah

J.J. KOETIN Pembina Utama Madya NIP.010056908

ii

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Penyusunan Pengumpulan Data dan Informasi untuk MCMA Propinsi Kalimantan Tengah ini dapat terselesaikan atas dukungan dan partisipasi masyarakat Kalimantan Tengah, bersama dengan tenaga ahli, Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah, dan instansi-instansi terkait lainnya. Dengan tersusunnya buku ini, kami, tim penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyelesaiannya. UCAPAN TERIMA KASIH TERUTAMA DISAMPAIKAN KEPADA :
PEMERINTAH PROPINSI KALIMANTAN TENGAH Drs. J J Koetin (Kepala Bappeda) Drs. Diarto (Kabag Ekonomi Bappeda) Drs. Daulay (Bappeda) Drs. Eteri Hirano, MT (Peminpin Proyek MCRMP) Drs. Siswohardjo (Ka.Bag. Tata Ruang Bappeda) Drs. Dirgahayu (Staf Bappeda bag Tata Ruang) Ir. Multibudhi A Gara, MSc (Balitbangda) Ir. Kampili, MSc (Balitbangda) Dr. Toekik B. Toemon, SKM (Kepada Dinas Kesehatan) Dr. Djono Koesanto, MPH (Kabag Bina Program Dinas Kesehatan) Ir. Alfred Eddy (Dinas Pertambangan) Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Tengah Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Tengah Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Tengah Balai Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi Kalimantan Tengah Dinas Perhubungan Propinsi PEMERINTAH DAERAH TINGKAT II KOTAWARINGIN BARAT Syarifuddin (Kasubdin Bina Program ,Dinas Kehutanan) Yulianus (Dinas Pariwisata) Ir. Yoab Andrian Mihing, MM (Kepala Dinas Perikanan) Suherti Redy. GT (Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Putting) Muhamad Yadi dan Juhdi (Staf Dinas Pariwisata) H. Muh. Yadi (BPS) Khairil Anwar (Kepala Dinas Pertanian) H. Said Sulaiman (Staf PPI Kumai) UNIVERSITAS PALANGKARAYA Ir. Yulius, M.Si (Dekan Fakultas Pertanian) PEMERINTAH DAERAH TINGKAT II KATINGAN Dinas Kelautan dan Perikanan Bappeda Tingkat II Katingan PEMERINTAH DAERAH TINGKAT II SERUYAN Ir. Ridwan (Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan) PEMERINTAH DAERAH TINGKAT II KAPUAS Wisnu S.Pi (Staf Dinas Perikanan) Junaedi (staf Dinas Pekerjaan Umum) Kepala Bappeda Kabupaten Kapuas LEMBAGA DAN PERUSAHAAN SWASTA Ir. Sri Hartono (Official Manager PT. CP. Prima wil. Kalteng) H. Tajuddin Noor (Biro jasa Angkutan Travel Satelit) Yayasan Orang Utan Indonesia LSM Tingang Jaya INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Rektor Institut Teknologi Bandung Kepala Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat ITB UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Ir. H. Darni Subari F, MS (Ketua Pusat Penelitian Lingkungan Hidup) Drs. Murdjani ( Kepala Lab. Kimia Air PPLH) Usman (Laboran Lab. Kimia Air PPLH) Dinas Kehutanan Kabupaten Kotawaringin Barat Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kotawaringin Barat PEMERINTAH DAERAH TINGKAT II KOTAWARINGIN TIMUR Alpisah, MT (Pimpro MCRMP Kab. Kotawaringin Timur) Masran Hadi (Staf Bappeda) Ir. Parlindungan Pakpahan (Kepala Dinas Perikanan) Abdul Gafar,S.Pi. (staf Dinas Perikanan) Bartholomeus (staf Dinas Perikanan) Suardi (staff Dinas Pertambangan) Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kotawaringin Timur Ir. F. Robert Iman, M.Si (Ketua Jurusan Perikanan) Ir. Lilia, M.Si (Sekretaris Jurusan Perikanan) Ir. Elita, MSP (Staf Pengajar Jur. Perikanan) Ir. Inga Torang, M.Si (Staf Pengajar Jur. Perikanan) Ir. Tarjono Buchar, M.Si (Kepala Laboratorium Jur. Perikanan) Linda Wulandari, S.Pi (Laboran Lab. Jur. Perikanan) Ir. Andi Hutu (Staf Jur. Perikanan) Drs. Sufridson Heno, MS (Fakultas Ekonomi) Drs. Karmen Marpaung, M.Si (Fakultas Ekonomi) Dra. Sri Wahyutami, M.Si (Ketua UPT Bid. Studi MIPA Lab. Dasar & Analitik) Adi Susanto dan Reza (Laboran Lab. Kimia Analitik)

iii 1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Hal Kata Pengantar Sambutan Ucapan Terima Kasih Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Peta Daftar Lampiran BAB 1 SEKILAS TENTANG KONDISI DAN PERMASALAHAN WILAYAH PESISIR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 Latar Belakang Sekilas Permasalahan di Wilayah Pesisir Propinsi/Kabupaten/Kota Tujuan dan Sasaran Metodologi 1.5.1 1.5.2 1.5.3 1.5.4 1.5.5 Persiapan Survei Instansi Survei Lapangan Studi Identifikasi, Analisis dan Evaluasi Penyusunan Atlas dan Sistem Informasi Geografis i ii iii iv-1 v-1 vi-1 vii viii 1-1 1-1 1-2 1-2 1-2 1-2 1-3 1-3 1-3 1-4 1-4 4.2 4.3 BAB 4 BAB 3 LETAK GEOGRAFIS DAN WILAYAH PESISIR 3.1 Wilayah Pesisir 3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.1.4 3.1.5 3.1.6 3.1.7 Kabupaten Kapuas Kabupaten Pulang Pisau Kabupaten Kotawaringin Timur Kabupaten Seruyan Kabupaten Katingan Kabupaten Sukamara Kabupaten Kotawaringin Barat 3-1 3-1 3-2 3-2 3-3 3-3 3-3 3-4 3-4 4-1 4-1 4-1 4-3 4-3 4-6 4-6 4-7 BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI 2.1 2.2 2.3 Sistem Dan Definisi Wilayah Pesisir Karakteristik Bio-Geofisik Karakteristik Sosial Ekonomi Budaya 2-1 2-1 2-3 2-4

GEOMORFOLOGI DAN GEOLOGI PESISIR 4.1 Geomorfologi 4.1.1 4.1.2 Satuan Morfologi Pola Pengaliran dan Stadia Daerah

Stratigrafi Sumberdaya Geologi 4.3.1 4.3.2 Sumberdaya Energi Sumberdaya Mineral

iv-1 1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

4.4 4.5

Bahaya Lingkungan Beraspek Geologi Isu-Isu 4.5.1 4.5.2 Sedimentasi Optimalisasi Gambut

4-8 4-8 4-8 4-9 5-1 5-1 5-1 5-2 5-3 5-5 5-7 5-7 5-9 5-9 5-9 5-10 5-10 5-11 5-12 5-14 5-15 5-15 5-18 5-20 5-21

BAB 6

EKOSISTEM PESISIR 6.1 6.2 6.3 6.4 6.5 6.6 6.7 6.8 Ekosistem Perairan Mangrove Padang Lamun Estuaria Flora dan Fauna Penggunaan dan Ancaman Habitat Utama Fungsi dan Manfaat Habitat Utama Isu-Isu

6-1 6-1 6-1 6-3 6-4 6-4 6-11 6-11 6-13 7-1 7-1 7-1 7-2 7-3 7-4 7-4 7-5 7-7 8-1 8-1 8-1 8-3 8-4 8-4 8-4 8-5

BAB 5

KONDISI OSEANOGRAFI, KUALITAS PERAIRAN, DAN IKLIM 5.1 Parameter Hidro-Oseanografi 5.1.1 5.1.2 5.1.3 5.1.4 5.1.5 5.1.6 5.1.7 5.2 Batimetri Pola Arus Laut Pasang Surut Gelombang Temperatur Laut Kecerahan Perairan Padatan Total Tersuspensi (TSS) dan Kekeruhan Perairan Salinitas Perairan Derajat Keasaman (pH) Nitrat Fosfat Oksigen Terlarut Logam Berat Kelimpahan dan Keanekaragaman Fitoplankton Kelimpahan dan Keanekaragaman Zooplankton

BAB 7

SUMBERDAYA AIR 7.1 Kondisi Air Permukaan 7.1.1 Daerah Aliran Sungai 7.1.1.1 Kondisi Fisik 7.1.1.2 Peruntukan Sungai 7.1.1.3 Degradasi dan Pencemaran 7.2 7.3 Kondisi Air Bawah Permukaan (Air Tanah) 7.2.1 Isu-Isu Degradasi dan Pencemaran

Parameter Kimia Perairan 5.2.1 5.2.2 5.2.3 5.2.4 5.2.5 5.2.6

BAB 8

KAWASAN KONSERVASI 8.1 Kawasan Konservasi Pesisir 8.1.1 8.1.2 8.1.3 8.2 8.2.1 8.2.2 Taman Nasional Tanjung Puting Taman Wisata Alam Tanjung Penghujan Suaka Margasatwa Sungai Lamandau Cagar Alam Parawen I dan II Cagar Alam Bukit Sapat Hawung

5.3

Parameter Biologi Perairan 5.3.1 5.3.2

Kawasan Konservasi Non Pesisir

5.4 5.5

Upwelling Sebagai Indikator Perikanan Tangkap Iklim dan Cuaca

iv-2 2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

8.2.3 8.2.4 8.2.5 8.3 BAB 9 Isu-Isu

Cagar Alam Bukit Tangkiling Taman Wisata Bukit Tangkiling Suaka Margasatwa Arboretum Nyaru Menteng

8-5 8-6 8-6 8-7 9-1 9-1 9-1 9-2 10-1 10-1 10-1 10-3 10-3 10-3 10-4 10-4 10-4 10-5 10-8 10-11 10-20 10-28 11-1 11-1 11-2 iv-3 3 BAB 13 BAB 12

11.3 11.4 11.5 11.6 11.7 11.8

Isu-Isu Usaha Perikanan Budidaya Pentingnya Perikanan Tangkap Sumberdaya Ikan dan Lokasinya Sentra Perikanan dan Sasarannya Teknologi Yang Digunakan Isu-Isu Perikanan Tangkap

11-3 11-4 11-4 11-5 11-5 11-6 12-1 12-1 12-1 12-3 12-4 13-1 13-1 13-1 13-2 13-2 13-3 13-3 13-3 13-4 DP-1 DS-1 DI-1 L-1

KESESUAIAN DAN ARAHAN PENGEMBANGAN LAHAN DI WILAYAH PESISIR 9.1 9.2 9.3 Penggunaan Lahan Arahan dan Kesesuaian Lahan Isu-Isu

PARIWISATA BAHARI PESISIR 12.1 12.2 12.3 12.4 Pariwisata Pariwisata Bahari Pariwisata Pesisir Isu-Isu

BAB 10

SOSIAL, EKONOMI, BUDAYA WILAYAH PESISIR 10.1 Wilayah dan Administrasi Kabupaten 10.1.1 10.1.2 10.1.3 10.1.4 10.1.5 10.1.6 10.1.7 10.2 10.3 10.4 10.5 10.6 Kabupaten Kapuas Kabupaten Pulang Pisau Kabupaten Kotawaringin Timur Kabupaten Seruyan Kabupaten Katingan Kabupaten Sukamara Kabupaten Kotawaringin Barat

ISU PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR 13.1 13.2 13.3 13.4 13.5 13.6 13.7 13.8 Kebersihan Kelembagaan Adminisrasi dan Tata Ruang Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Pendidikan, Sarana Prasarana, dan Pariwisata Sanitasi dan Kesehatan Kerusakan Pantai (Abrasi dan Sedimentasi) Pencemaran Bencana Alam

Potensi dan Penguasaan Secara Adat Sumberdaya Wilayah Pesisir Keadaan Kependudukan Aksesibilitas Sumber Penghidupan Penduduk di Wilayah Pesisir Kalimantan Tengah Struktur dan Organisasi Sosial Masyarakat Pesisir

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR SINGKATAN & AKRONIM DAFTAR ISTILAH LAMPIRAN

BAB 11

PERIKANAN DI WILAYAH PESISIR 11.1 11.2 Budidaya Perikanan Budidaya Udang

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Hal Tabel 1.1 Tabel 3.1 Tabel 4.1 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Penjabaran Sistem Informasi Geografis (SIG) Atlas Wilayah Pesisir dan Laut Kalimantan Tengah Kabupaten di Wilayah Pesisir Klasifikasi Gambut Kecepatan Arus Hasil Pengukuran di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Hasil Peramalan Air Pasang Tertinggi, Air Surut Terendah dan Tunggang Maksimum Pasang Surut di Perairan Pantai Kalimantan Tengah Kisaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang Gelombang Sea dan Swell di Kalimantan Tengah Pada Musim Timur Kisaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang Untuk Gelombang Sea dan Swell di Perairan Kalimantan Tengah pada Musim Barat Temperatur Air di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Kecerahan Air di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Kandungan Total Suspensi Terlarut (Total Suspended Solid) dan Kekeruhan di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Salinitas Air di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Derajat Keasaman (pH) Air di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Kandungan Nitrat di Beberapa Lokasi Perairan Pesisir Kalimantan Tengah Kandungan Fosfat di Beberapa Lokasi Perairan Pesisir Kalimantan Tengah 1-5 3-2 4-10 5-2 5-4 Tabel 5.15 5-6 5-7 Tabel 5.16 Tabel 5.17 Tabel 5.18 Tabel 5.19 Tabel 5.20 Tabel 5.21 5-10 Tabel 6.1 5-11 5-11 5-12 Tabel 6.2 Tabel 6.3 Tabel 6.4 Tabel 7.1 Tabel 5.14 Tabel 5.12 Tabel 5.13 Kandungan Oksigen Terlarut di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Kandungan Oksigen yang Digunakan Untuk Proses Biologis (Biological Oxygen Demand) di Beberapa Lokasi Perairan Pesisir Kalimantan Tengah Kandungan Oksigen yang Digunakan Untuk Proses Kimiawi (Chemical Oxygen Demand) di Beberapa Lokasi Perairan Pesisir Kalimantan Tengah Kandungan Logam Berat Terlarut di Beberapa Lokasi Perairan Pesisir Kalimantan Tengah Kelimpahan Fitoplankton di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi Fitoplankton di Perairan Kalimantan Tengah Nama Kelas dan Genera Fitoplankton yang Ditemukan di Perairan Pantai Kalimantan Tengah Kelimpahan Zooplankton di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi Zooplankton di Perairan Kalimantan Tengah Nama Filum dan Genera Zooplankton yang Ditemukan di Perairan Kalimantan Tengah Hutan Bakau di Kalimantan Tengah Jenis Hutan Bakau di Kalimantan Tengah Jenis Lamun yang Ditemukan di Kalimantan Tengah Fauna Laut yang Terdapat di Perairan Kalimantan Tengah Panjang, Lebar, dan Kedalaman Sungai di Kalimantan Tengah 5-13 5-13

5-14

5-14 5-15 5-16 5-16 5-18 5-19 5-19 6-1 6-2 6-3 6-10 7-2

Tabel 5.3 Tabel 5.4

Tabel 5.5 Tabel 5.6 Tabel 5.7

5-8 5-8 5-9

Tabel 5.8 Tabel 5.9 Tabel 5.10 Tabel 5.11

v-1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 7.2 Tabel 7.3 Tabel 10.1 Tabel 10.2 Tabel 10.3 Tabel 10.4 Tabel 10.5 Tabel 10.6 Tabel 10.7

Peruntukkan Sungai Untuk Transportasi Kualitas Air Sumur Pada Beberapa Tempat di Kalimantan Tengah Wilayah Administrasi Pesisir di Propinsi Kalimantan Tengah Jenis Penggunaan Lahan Wilayah Pesisir Kalimantan Tengah Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan Penduduk Desa-Desa Pesisir Kalimantan Tengah Kelompok Etnis Dominan dan Lainnya di Desa-Desa Wilayah Pesisir Kalimantan Tengah Fasilitas Listrik, Telepon, Radio, dan Televisi di Kalimantan Tengah Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan di Kalimantan Tengah Jenis dan Jumlah Perahu Nelayan di Wilayah Pesisir di Kalimantan Tengah

7-3 7-5

Tabel 10.8 Tabel 10.9

Produksi Perikanan di Kawasan Pesisir Kalimantan Tengah Tahun 2001 (Satuan dalam ton) Mata Pencaharian Utama dan Tambahan di Desa-Desa Wilayah Pesisir Kalimantan Tengah

10-24 10-26 10-27 11-1 11-5 11-5

10-2 10-7 10-9 10-10 Tabel 11.3 10-16 10-19 10-22

Tabel 10.10 Kelompok Etnis dan Jenis Pekerjaannya di Desa-Desa Wilayah Pesisir Kalimantan Tengah Tabel 11.1 Tabel 11.2 Pemanfaatan Lahan Tambak Potensi Kelompok Sumberdaya Ikan Pada Wilayah Pengelolaan Perikanan dan Penyebaran Jenis-Jenis Ikan Produksi dan Tingkat Pemanfaatan Perkelompok Sumberdaya Ikan pada Wilayah III Pengelolaan Perikanan (Pemanfaatan Dalam %)

v-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Hal Gambar 1.1 Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 3.1 Gambar 3.2 Gambar 3.3 Gambar 3.4 Gambar 4.1 Gambar 4.2 Gambar 4.3 Gambar 4.4 Gambar 4.5 Gambar 4.6 Desa Batanjung Sebagai Salah Satu Sudut Pesisir Kalimantan Tengah Batas-Batas Fisik Wilayah Pesisir Pantai Interaksi-Interaksi di Daerah Perairan Pantai (DPP) atau Pesisir Peta Wilayah Kalimantan Tengah Kantor Sementara Bupati Kabupaten Pulang Pisau Tugu di Kota Sampit, Ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur Papan Tanda Batas Antara Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau Satuan Morfologi Dataran Pantai di Sei Bakau, Kabupaten Kotawaringin Barat Daerah Cekungan di Kalimantan Stratigrafi Palangka Raya Kalimantan Tengah Stratigrafi Pangkalan Bun Kalimantan Tengah Kiri: Singkapan Kaolin di Sampit. Kanan: Singkapan Pasir Kuarsa di Kuala Pembuang Batu Kecubung (Kristal Kwarsa) Sebagai Salah Satu Bahan Galian yang Unik di Kabupaten Kotawaringin Barat Stratigrafi di Pantai Keraya Kec. Kurnai Kab. Kotawaringin Barat Peramalan Pasang Surut di Tanjung Keluang 13-30 Oktober 2002 Peramalan Pasang Surut di Teluk Sampit 13-30 Oktober 2002 1-5 2-2 2-4 3-1 3-2 3-3 3-4 4-2 4-3 4-5 4-5 4-8 4-10 Gambar 5.10 Gambar 5.11 Gambar 5.12 Gambar 6.1 Gambar 6.2 5-4 5-4 Gambar 6.3 Gambar 6.4 Gambar 6.5 vi-1 Gambar 5.6 Gambar 5.7 Gambar 5.8 Gambar 5.9 Gambar 5.4 Gambar 5.5 Gambar 5.3 Pola Sebaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang Gelombang pada Musim Timur di Perairan Kalimantan Tengah Spektrum 2D Perairan Kalimantan Tengah (3˚0’10’’ LS - 113˚28’48’’BT) pada Musim Timur Pola Sebaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang Gelombang pada Musim Barat di Perairan Kalimantan Tengah Spektrum Perairan Kalimantan Tengah (3˚0’10’’ LS 113˚28’48’’BT) pada Musim Barat Bahan-bahan Kimia Untuk Keperluan Analisa Nitrat dan Fosfat Pengambil Sampel Air Untuk Keperluan Analisa Plankton Alat Spektrofotometer untuk Menganalisa Nitrat dan Fosfat Contoh Organisme Fitoplankton yang Ditemukan di Perairan Kalimantan Tengah Mikroskop untuk Melihat Plankton Saat Proses Identifikasi dan Panghitungan Kelimpahan Contoh Organisme Zooplankton yang Ditemukan di Perairan Kalimantan Tengah Populasi Nipah di Sepanjang Sungai Kapuas Pohon Mangrove di Sungai Teras Hutan Rawa di Sepanjang Sungai Sekonyer, Kabupaten Kotawaringin Barat Bekantan di Taman Nasional Tanjung Puting Owa-Owa di Taman Nasional Tanjung Puting 5-5

5-5 5-6

5-7 5-11 5-13 5-16 5-17 5-19 5-20 6-2 6-2 6-4 6-6 6-7

Gambar 4.7 Gambar 5.1 Gambar 5.2

4-10

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Gambar 6.6 Gambar 6.7 Gambar 6.8 Gambar 6.9 Gambar 6.10 Gambar 6.11 Gambar 6.12 Gambar 6.13 Gambar 6.14 Gambar 7.1 Gambar 7.2 Gambar 7.3

Buaya Sapit Buaya Muara Duyung Penyu Hijau Kepiting Bakau Ubur-Ubur Udang Penaeus Ikan Lumpur yang Biasa Digunakan Penduduk Setempat Untuk Obat Asma Pemanfaatan Daun Nipah Sebagai Atap Rumah Aktivitas di Sungai Kahayan Kondisi Sumur Rakyat di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat Aliran Sungai Tanjung Puting yang Berwarna Coklat Kemerahan karena Struktur Tanah di Dasar dan Sekelilingnya adalah Gambut Pencemaran Limbah Rumah Tangga di Sungai Kapuas Mahasiswa dari Safier.Studentweb.org sedang Eksperimen Memfilter Air Tanah agar pH-nya Menjadi Netral di Desa Sei Sekonyer, Kab. Kotawaringin Barat Pintu Masuk ke Taman Nasional Tanjung Puting Yayasan Orang Utan Indonesia yang Bergerak dalam Kegiatan Penelitian dan Konservasi Mengenai Orang Utan dan Hutan Tropik Kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat Pintu Masuk ke Taman Wisata Alam Tanjung Penghujan Lahan Sawah Tadah Hujan Sehabis Masa Panen di Kabupaten Pulang Pisau Perkebunan Kelapa Intensif di Desa Sebamban, Kecamatam Mentaya Hilir Selatan, Kab. Kotawaringin Timur

6-8 6-9 6-9 6-9 6-10 6-10 6-10 6-12 6-13 7-3 7-5 7-6

Gambar 10.1 Gambar 10.2 Gambar 10.3 Gambar 10.4 Gambar 10.5 Gambar 10.6 Gambar 10.7

Kantor Kepala Desa Batanjung, Kabupaten Kapuas Kantor Kecamatan Kapuas Kuala yang berlokasi di Desa Lupak Dalam Angkutan Barang Melalui Sungai Kapuas Transportasi Speed Boat oleh Penduduk Setempat Kondisi Jalan di Asam Baru yang Menghubungkan Sampit dan Pangkalan Bun Kondisi Perbaikan Jalan yang Menghubungkan Desa Ujungpandaran dan Desa Sei Bakau Pelabuhan Perahu Penyeberangan yang Menghubungkan Desa Kuala Pembuang Satu dengan Kota Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan Kondisi Jalan di Kalimantan Tengah Pelabuhan Taxi Sungai (Speed Boat) di Kab. Kapuas Bangunan Sekolah Dasar di Desa Sei Sekonyer, Tanjung Harapan, Kotawaringin Barat Salah Satu Tandon Air Bersih Penduduk Desa Lupak Dalam, Kabupaten Kapuas Instalasi Sumur Pompa, Menara Penyaring Logam Berat, dan Tandon Air bersih untuk Keperluan Pabrik Es dan Masyarakat Sekitar PPI Kumai, dalam Kondisi Belum Difungsikan Sepenuhnya Proses Pembuatan Es di Pabrik Es Kompleks PPI Kumai Bahan Baku Minyak Kopra Hasil Kebun-kebun Kelapa Masyarakat di Wilayah Pesisir Udang Kupas Kering sebagai Komoditi Unggulan Masyarakat di Desa Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan Bahan Baku Terasi Sebagai Pemanfaatan Lain dari Udang-udang Kecil Yang Semula Kurang Ekonomis Tambak Tradisional Milik Masyarakat Desa Sungai Pasir (Tanjung Lumpur) Kec. Jelai Kab. Sukamara

10-2 10-3 10-12 10-13 10-14 10-14 10-15

Gambar 10.8 Gambar 10.9 Gambar 10.10 Gambar 10.11 Gambar 10.12

10-15 10-17 10-17 10-18 10-18

Gambar 7.4 Gambar 7.5

7-7 7-7

Gambar 8.1 Gambar 8.2

8-1 8-3 Gambar 10.13 Gambar 10.14 Gambar 10.15

10-18 10-21 10-21

Gambar 8.3 Gambar 8.4 Gambar 9.1 Gambar 9.2

8-3 8-7 9-2 9-2

Gambar 10.16 Gambar 11.1

10-21 11-2

vi-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Gambar 11.2 Gambar 11.3

Tambak Udang Windu (Penaeus monodon) Permanen Milik PT. Betang Tiara Seluas 40 Hektar Kanal Pengairan ke Lahan Pertambakan Baru Untuk Udang di Desai Sei Bakau, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat Ikan Laut (Pari, Sirip Hiu) Yang Biasa Ditangkap Nelayan Kepiting Rajungan Hasil Tangkapan Nelayan Dengan Menggunakan Jaring Sungkur Dermaga Nelayan di Kuala Pembuang Suasana di Pelabuhan Nelayan Jaring Apung Berbahan Monofilamen yang Digunakan Untuk Operasi Penangkapan Ikan pada Siang Hari Nelayan Sedang Memperbaiki Jaring Sungkur atau Serop (bahasa lokal setempat) yang Biasa Digunakan Untuk Menangkap Kepiting Rajungan Lempara Dasar Sebagai Alat Tangkap Tradisional Masyarakat Setempat Jalan Menuju Kompleks Wisata Bugam Raya (P.Kubu, Teluk Bogam, Keraya) Kabupaten Kotawaringin Barat Lokasi Wisata Pantai Kubu di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat Peninggalan Kerajaan PRA.KUSUMAYUDHA (Gubah Besar) yang Terletak di Kecamatan Arut Selatan, Kota Pangkalan Bun Lokasi Wisata Pantai Teluk Bogam di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat Makam Kyai Gedhe Sebagai Tokoh Penyebar Agama Islam yang Terletak di Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat Fasilitas di Kawasan Wisata Pantai Tanjung Keluang (Tanjung Penghujan) yang Kondisinya Tidak Terawat

11-2 11-3

Gambar 12.7 Gambar 12.8

Kawasan Wisata Pantai Ujungpandaran yang Kondisinya Memprihatinkan Kondisi Jalan di Desa Sei Teras Menuju Desa Cemara Labat yang Terancam Abrasi oleh Kanalkanal di Kedua Sisi Jalan Danau Gatal yang Terletak di Kecamatan Kotawaringin Lama sedang Dalam Tahap Wacana Pengembangan oleh Pemda Kotawaringin Barat Pantai Wisata Alam Tanjung Tanjung Keluang (Tanjung Penghujan) Kotawaringin Barat Pelabuhan (III) Pulang Pisau Bagan Kompromi Penetapan Batas Pesisir

12-5 12-6

Gambar 11.4 Gambar 11.5 Gambar 11.6 Gambar 11.7 Gambar 11.8

11-4 11-4 11-6 11-6 11-7

Gambar 12.9

12-6

Gambar 12.10 Gambar 13.1 Gambar A.1

12-6 13-4 L-4

Gambar 11.9

11-7

Gambar 11.10 Gambar 12.1

11-7 12-2

Gambar 12.2 Gambar 12.3

12-2 12-3

Gambar 12.4 Gambar 12.5

12-3 12-4

Gambar 12.6

12-5

vi-3

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

PETA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Propinsi di Indonesia Administrasi Kabupaten Propinsi Kalimantan Tengah Administrasi Kecamatan Propinsi Kalimantan Tengah Geomorfologi Propinsi Kalimantan Tengah Kerusakan Pantai Propinsi Kalimantan Tengah Batimetri Propinsi Kalimantan Tengah Arus Permukaan dan Potensi Upwelling Propinsi Kalimantan Tengah Kualitas Air dan Sebaran Plankton Propinsi Kalimantan Tengah Ekosistem Pesisir Propinsi Kalimantan Tengah Sumberdaya Air Pesisir Propinsi Kalimantan Tengah Kawasan Konservasi Pesisir Propinsi Kalimantan Tengah Arahan dan Kesesuaian Lahan Propinsi Kalimantan Tengah Administrasi Pesisir Propinsi Kalimantan Tengah Demografi Pesisir Propinsi Kalimantan Tengah Sebaran Etnis di Pesisir Kalimantan Tengah Sarana Transportasi Propinsi Kalimantan Tengah Administrasi Jaringan Pasar Regional dan Lokal Potensi Perikanan Propinsi Kalimantan Tengah Pariwisata Pesisir Propinsi Kalimantan Tengah Isu Pesisir Propinsi Kalimantan Tengah

Hal 3-5 3-6 3-7 4-11 4-12 5-23 5-24 5-25 6-14 7-8 8-8 9-3 10-29 10-30 10-31 10-32 10-33 11-8 12-7 13-5

vii

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Hal BAHAN PERTIMBANGAN UNTUK MENENTUKAN BATAS WILAYAH PESISIR PROPINSI KALIMANTAN TENGAH 1 Pendahuluan 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 2 Batas Pesisir Secara Fisik Batas Pesisir Secara Ekosistem Batas Pesisir Secara Geomorfologi dan Geologi Batas Pesisir Secara Administrasi dan Ekonom Batas Pesisir Secara Kepentingan Pengelolaan L-1 L-1 L-2 L-2 L-3 L-3 L-3 L-4

Kompromi Pengambilan Kebijakan Penetapan Batas Pesisir

viii

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

S

umberdaya wilayah pesisir dan laut Kalimantan Tengah sejauh ini belum dapat dikelola dengan baik karena adanya keterbatasan data dan

sumberdaya alam yang tidak terkontrol akan menimbulkan gangguan terhadap kestabilan ekosistem dan merusak lingkungan hidup sekitarnya. Berdasarkan Pola Dasar Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah maka salah satu prioritas pembangunannya adalah mengembangkan beberapa kawasan andalan di Kalimantan Tengah. Karena kawasan andalan ini memiliki pantai dan pesisir dan maka secara langsung di maupun tidak langsung ini akan pembangunan pengembangan kawasan andalan

informasi, terutama berkenaan dengan informasi-informasi yang obyektif, akurat dan terbaharui di wilayah tersebut. Oleh karena itu, salah satu kegiatan dalam Proyek Pengumpulan Data dan Informasi Untuk MCMA (Marine and Coastal Management Area) Kalimantan Tengah adalah melakukan kegiatan Penyusunan Atlas Pesisir dan Laut Kalimantan Tengah. 1.1. LATAR BELAKANG Pengelolaan wilayah pesisir dan laut yang baik membutuhkan suatu program pengelolaan yang terintegrasi. Program pengelolaan yang terintegrasi dapat dilaksanakan jika didukung oleh tersedianya informasi-informasi yang obyektif, akurat dan terbaharui. Penyediaan informasi yang obyektif, akurat dan terbaharui di wilayah pesisir dan laut Kalimantan Tengah pada saat ini dirasakan sudah sangat mendesak guna membantu penyusunan kebijakan dan perencanaan pengelolaan pesisir dan laut secara terintegrasi sehingga pengelolaannya dapat lebih efektif dan tepat sasaran. Informasi yang obyektif, akurat dan terbaharui tentang pesisir dan laut dapat diwujudkan dalam bentuk Atlas. Pelaksanaan Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan dikenal dengan terletak di alam istilah di “Otonomi Daerah”, akan yang dimana memacu titik sentral pembangunan sumberdaya kabupaten/kota, eksploitasi Eksploitasi 1-1

mempengaruhi terhadap ekosistem dan sumberdaya alam di wilayah pantai, pesisir dan lautnya. Mengingat kondisi saat ini dimana pengelolaan kawasan pesisir dan laut Kalimantan Tengah belum dapat dilaksanakan dengan baik, maka dibutuhkan suatu Atlas Pesisir dan Laut Kalimantan Tengah yang dapat memberikan informasi tentang potensi sumberdaya alam, penggunaan lahan, prospek pengembangan dan pemanfaatan berdasarkan pertimbangan rekayasa dan sains, konflik pengelolaan, kapasitas kelembagaan, program monitoring, parameter biofisik kimiawi dan sosekbud, penentuan indikator keberhasilan program dan umpan balik untuk pola pengelolaan yang berwawasan lingkungan. Selain itu, bentuk atlas yang diharapkan adalah yang disajikan secara menarik dengan memanfaatkan teknologi komputer dan sistem informasi geografis, menggunakan bahasa yang mudah dipahami sehingga dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat serta memudahkan penggunaannya bagi seluruh pihak terkait. Selain itu atlas ini merupakan suatu bentuk informasi yang terintegrasi antara beberapa aspek fisik, biologi, kimia,

kabupaten/kota

bersangkutan.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

dan sosial ekonomi yang didalamnya terdapat pula perencanaan yang melibatkan aspek rekayasa pesisir dan geodesi dalam suatu sistem informasi geografis (SIG) yang terpadu dan berbasis masyarakat. 1.2. SEKILAS PERMASALAHAN DI WILAYAH PESISIR Kawasan pesisir merupakan kawasan yang mempunyai karakteristik gabungan dari laut dan darat, sehingga fenomena alam yang terjadi sangat kompleks. Fenomena tersebut secara alamiah mempengaruhi kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat pesisir. Berbagai permasalahan akan muncul berkenaan dengan kepentingan-kepentingan masyarakat pesisir dengan masyarakat non-pesisir, pendatang, dan kebijakan pemerintahan pusat dan daerah yang terus berkembang.

Barito Selatan yang mempunyai luas 12.664 km2 dimekarkan menjadi Kabupaten Barito Timur. Secara umum tujuan dari pemekaran kabupaten tersebut adalah dalam rangka pendistribusian beban tugas dan volume penyelenggaraan pemerintahan yang bertambah karena pesatnya pertumbuhan penduduk, sehingga pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan masyarakat dapat menjadi lebih baik. 1.4. TUJUAN DAN SASARAN Tujuan Pengumpulan Data dan Informasi Untuk MCMA (Marine Coastal Management Area) Kalimantan Tengah adalah untuk menyediakan informasiinformasi yang obyektif, akurat dan terbaharui tentang sumberdaya pesisir, dimana kebutuhan akan hal tersebut saat ini dirasakan sudah sangat mendesak untuk segera dipenuhi guna menjadi bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dalam pengelolaan wilayah pesisir. Adapun sasaran Pengumpulan dan Informasi Untuk MCMA Kalimantan Tengah adalah untuk menyediakan atlas sumberdaya pesisir guna membantu pengelolaan kawasan pesisir dan laut di Kalimantan Tengah yang terintegrasi, sehingga diharapkan dalam pengelolaannya menjadi efektif dan tepat sasaran. 1.5. METODOLOGI Mengingat ke-kompleks-an faktor-faktor yang mempengaruhi potensi di wilayah pesisir, maka perlu diterapkan suatu pendekatan yang dapat menggambarkan potensi wilayah pesisir. Oleh karena itu kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi untuk Penyusunan Atlas Pesisir dan Laut di Propinsi Kalimantan Tengah disajikan dalam bentuk atlas/peta tematik untuk menyediakan informasi-informasi yang obyektif, akurat dan terbaharui dengan tujuan untuk mewujudkan penyusunan pengelolaan kawasan pesisir dan laut

1.3. PROPINSI/KABUPATEN/KOTA Propinsi Kalimantan Tengah yang mempunyai luas wilayah 153.564 km2 secara administrasi mempunyai 5 (lima) kabupaten, yaitu Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Barito Utara, dan Kabupaten Barito Selatan. Pada tahun 2002, sesuai dengan aspirasi masyarakat yang berkembang maka pemerintah Republik Indonesia melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2002 menetapkan kabupaten-kabupaten baru di Propinsi Kalimantan Tengah. Kabupaten Kotawaringin Timur yang mempunyai luas wilayah 50.700 km2, dimekarkan menjadi Kabupaten Katingan dan Kabupaten Seruyan. Kabupaten Kotawaringin Barat yang mempunyai luas wilayah 21.000 km2 dimekarkan menjadi Kabupaten Sukamara dan Kabupaten Lamandau. Kabupaten Kapuas yang mempunyai luas 38.400 km2, dimekarkan menjadi Kabupaten Gunung Mas dan Kabupaten Pulang Pisau. Kabupaten Barito Utara yang mempunyai luas 32.000 Km2 dimekarkan menjadi Kabupaten Murung Raya. Kabupaten

1-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Kalimantan Tengah yang terintegrasi. Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan pada prinsipnya dilakukan dengan 6 (enam) tahapan sebagai berikut: 1. Persiapan. 2. Survei Instansi (Studi Literatur dan Pengumpulan Data Sekunder). 3. Survey Lapangan (Pengambilan Data Lapangan Biogeofisik dan Sosial Ekonomi). 4. Studi Identifikasi, Analisis dan Evaluasi. 5. Pembuatan Atlas dan Sistem Informasi Geografis. 6. Penyusunan Laporan dan Presentasi Pembahasan Laporan.

1.5.2 Survei Instansi (Studi Literatur dan Pengumpulan Data Sekunder) Studi literatur diperlukan sebagai dasar teori dan pertimbangan akademik untuk proses analisis dalam kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi untuk Penyusunan Atlas Pesisir dan Laut di Propinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan pada pihak dan instansi terkait dengan data yang dibutuhkan. Data yang akan dikumpulkan antara lain adalah sebagai berikut :

Data hidrologi dan hidroklimatologi, angin, curah hujan, penguapan, dll.

yaitu arah dan kecepatan

Data hidro-oseanografi yaitu arah dan kecepatan arus, gelombang upwelling dan pasang surut. Data hidrotopografi yaitu batimetri pantai dan topografi pulau. Data potensi sumberdaya perikanan laut di Kalimantan Tengah dari penelitian sebelumnya. Data sosial-ekonomi penduduk.

1.5.1 Persiapan Pada tahap ini dilakukan persiapan pelaksanaan pekerjaan yang terdiri dari beberapa kegiatan sebagai berikut : 1. Konsultasi dengan dengan pihak pemberi tugas, dalam hal ini pihak Bappeda Kalimantan Tengah Bagian Proyek Pengelolaan Pesisir dan Laut dalam penentuan keluaran dari kegiatan Pengumpulan Data dan Informasi untuk Penyusunan Atlas Pesisir dan Laut di Propinsi Kalimantan Tengah. 2. Mengadakan koordinasi intern di antara staf tenaga inti, staf tenaga ahli, dan personil administrasi. 3. Mengevaluasi kembali rencana-rencana kerja yang telah disusun sebelumnya. 4. Pengurusan administrasi proyek berupa perijinan dan lain-lain. 5. Mempersiapkan perangkat lunak dan perangkat keras komputer bagi pelaksanaan pekerjaan. 6. Penyusunan rencana kerja yang dilakukan tim peneliti dan hasilnya didiskusikan dengan pihak direksi pekerjaan. 1-3

• •

1.5.3 Survei Lapangan (Pengambilan Data Lapangan BioGeofisik & Sosial Ekonomi) Survey dilakukan untuk memperoleh gambaran secara visual dan langsung mengenai kondisi biogeofisik dan sosial ekonomi wilayah kajian yang dijadikan obyek studi kasus, yaitu Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Pulang Pisau, Seruyan, Katingan, dan Sukamara. Pada kegiatan ini dilakukan pengumpulan data primer, sosialisasi dan penyempurnaan informasi baik berupa data lapangan maupun secara visualisasi (foto). Metoda pengambilan data berupa :

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

1. Pengukuran fisik sederhana untuk survei fisik (tenaga ahli bidang oseanografi dan geologi kelautan). 2. Pengambilan sampel air laut dan sedimen serta analisis laboratorium kimia untuk survei bio-ekologi (tenaga ahli bidang ekologi & biologi laut, bidang lingkungan dan bidang perikanan). 3. Wawancara dan kuisioner untuk survei sosial dan ekonomi (tenaga ahli sosiologi dan ekonomi).

Kondisi existing dan potensi sumberdaya alam di estuari, hutan pantai, pesisir dan laut. Kapasitas kelembagaan yang menangani permasalahan di pantai dan laut. Parameter oseanografi, biofisik, kimiawi, dan sosekbud daerah kajian. Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan gambaran berkaitan dari kegiatan ini yang didalamnya terkait dengan : Pemetaan dan zonasi dari informasi biologi.

Survey ini dilaksanakan pada daerah pesisir setiap kabupaten masing-masing selama 15 hari efektif. Survey diikuti oleh, team leader, ahli biologi bidang ekologi laut, ahli oseanografi dan rekayasa pantai, ahli geologi tata lingkungan dan kelautan dan 3 orang tenaga lokal. Berdasarkan hasil kegiatan ini kemudian akan disusun hasil identifikasi potensi yang ada untuk menyusun Atlas Pesisir dan Laut Kalimantan Tengah.

Pemetaan dan zonasi sumber pencemaran dan kerusakan ekosistem. Analisis ini dikaitkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Pemerintah Propinsi dan Kabupaten wilayah studi yang dituangkan dalam bentuk draft peta-peta tematik. Selain itu dalam analisis ini dilakukan pula kaji silang antara data sekunder dan data primer. Evaluasi dilakukan untuk penentuan indikator keberhasilan kegiatan dan umpan balik untuk pola pengelolaan yang berwawasan lingkungan.

1.5.4 Studi Identifikasi, Analisis dan Evaluasi Studi identifikasi dilakukan untuk : Mengidentifikasi potensi sumber daya pesisir dan permasalahan yang ada saat ini dan yang belum tereksplorasi guna pemanfaatan dan pengelolaan yang berbasis masyarakat. Identifikasi dari prospek pengembangan dan pemanfaatannya berdasarkan pertimbangan teknik, sains, ekonomi dan budaya. Identifikasi kawasan pemanfaatan (eksplorasi), pemulihan (rehabilitasi), dan perlindungan (konservasi dan preservasi). Analisis dilakukan terhadap data-data yang diperoleh baik data primer maupun sekunder yang diperlukan dalam kegiatan ini, yang termasuk didalamnya menyangkut pula : 1-4

Data-data lainnya yang dianggap penting dan terkait seperti : morfologi pantai, geologi berupa hidrogeologi dan geologi permukaan dan tataguna lahan. Masterplan Pesisir dan Laut Kalimantan Tengah. Peta kawasan Kalimantan Tengah.

• •

1.5.5 Penyusunan Atlas & Sistem Informasi Geografis Keluaran yang diharapkan dari penyusunan laporan ini berupa Atlas Wilayah Pesisir dan Laut Kalimantan Tengah dalam suatu pemetaan melalui sistem informasi geografis (SIG) yang telah diverifikasi dengan data pengamatan lapangan dan data sekunder dari instansi terkait.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

SIG yang akan diaplikasikan untuk atlas ini berisi semua informasi atlas wilayah pesisir dan laut di daerah kajian yang disajikan dalam bentuk peta-peta digital hasil studi identifikasi, analisis dan evaluasi semua aspek yang tercakup dalam lingkup kegiatan. Keluaran SIG yang akan dihasilkan ada dua macam, yaitu SIG yang berbasis komputer PC dimana operasional untuk SIG ini menggunakan bantuan software Arcview, dan yang lainnya berupa SIG berbasis internet dimana basis operasionalnya menggunakan jaringan internet sehingga nantinya SIG ini dapat diakses oleh siapa saja dan dimana saja. Untuk jelasnya mengenai SIG ini akan diuraikan dalam bentuk Tabel 1.1 berikut ini:
Tabel 1.1 Penjabaran Sistem Informasi Geografis (SIG) Atlas Wilayah Pesisir dan Laut Kalimantan Tengah No Produk Keluaran ISI Sistem Operasional Komputer PC; dengan menggunakan bantuan software ArcView

1

CD-ROM SIG versi komputer CD-ROM SIG versi internet (web portal Bappeda Kalteng).

Kumpulan data secara utuh dan menyeluruh

2

CD-ROM ini berupa CD installer yang siap diinstallasikan ke suatu web server)

Berupa metadata yang ditampilkan hanya sebagian dan berfungsi sebagai “etalase“ atau “ruang promosi“ saja

Web server pada internet provider, Komputer PC dengan menggunakan bantuan software (map server)

Gambar 1.1 Desa Batanjung Sebagai Salah Satu Sudut Pesisir Kalimantan Tengah (Sumber: PPK-ITB, 2002)

1-5

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

I

ndonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, dengan 17.508 pulau yang membentang sepanjang 5.120 km dari Timur ke Barat sepanjang

dan ekosistem laut yang sangat dinamis dan saling mempengaruhi, serta sangat rentan terhadap aktivitas manusia di darat (limbah, penggundulan hutan mangrove, erosi, dsb) maupun di laut (tumpahan minyak, pencemaran merkuri) serta perubahan iklim global (El Niño/ENSO serta naiknya muka laut) dan bencana periodik (banjir). Topik wilayah pesisir menjadi pusat perhatian menyusul turunnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah khususnya dalam pasal 3 dan 10 tentang wilayah laut dan kewenangan daerah di wilayah laut. Menurut pasalpasal tersebut kewenangan propinsi di wilayah laut hingga sejauh 12 mil laut dari garis pantai dan sepertiganya (4 mil laut) untuk Kabupaten/Kota. Namun terdapat paradoks dalam pengelolaan wilayah pesisir yaitu (Latief dan Hadi, 2001) : • Di satu sisi terdapat sumberdaya wilayah pesisir yang melimpah dengan masyarakat lokal yang kaya kearifan tradisional dalam pengelolaan sumberdaya yang ramah lingkungan. • Di sisi lain, masyarakat pesisir tersebut justru menempati lapisan paling bawah dalam strata sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Bersamaan dengan itu, muncul pula fenomena kerusakan bio-geofisik lingkungan wilayah pesisir yang memunculkan konflik kepentingan.

khatulistiwa (suatu jarak hampir seperdelapan keliling dunia) dan 1.760 km dari Utara ke Selatan. Luas daratan mencapai 1,9 juta km2 dan luas perairan laut kurang lebih 7,9 juta km2 (Encarta, 1998; Boston, 1996). Negara Indonesia memiliki kurang lebih 80.000 km garis pantai yang merupakan garis pantai terpanjang pesisir. 2.1. SISTEM DAN DEFENISI WILAYAH PESISIR Secara sederhana wilayah darat-laut dalam konteks ruang disebut wilayah pesisir (coastal zone, lihat Gambar 2.1). Istilah pantai (beach atau shore) adalah bagian fisik dari wilayah pesisir yang umumnya berpasir, lepas pantai (off-shore) adalah bagian laut lepas, dan muka pantai (beach face) adalah bagian pantai antara titik pasang tertinggi dan titik pasang terendah dari garis pantai (shoreline). Pengelolaan wilayah pesisir merupakan kombinasi dari pengelolaan wilayah darat dan wilayah laut. Di dalam wilayah pesisir terdapat ekosistem mangrove, terumbu karang, estuari, padang lamun, sumber hayati dan nonhayati, fasilitasfasilitas seperti pelabuhan dan pemukiman dan panorama pesisir (Dahuri, dkk., 1996). Wilayah pesisir ini merupakan wilayah interaksi antara ekosistem darat 2-1 kedua di dunia, setelah Kanada. Garis pantai Indonesia merupakan parameter yang dominan dalam pembangunan ekonomi wilayah

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

perairan yang berada antara ujung paparan benua dengan kedalaman perairan sekitar 200 m sampai pantai (land shore). Daerah ini meliputi sekitar 50% dari luas wilayah Indonesia dengan total 3,1 juta km2. Verhagen (1994) mendefinisikan wilayah pesisir sebagai suatu daerah yang terletak diantara batas daratan (inland boundary) yaitu batas yang masih dipengaruhi oleh proses laut (marine process) dan batas ke arah laut (seaward boundary) yang didefinisikan sebagai batas yuridiksi suatu negara atau suatu batasan fisik, seperti batas paparan benua. The 1994 Draft revised Coastal Policy for New South Wales (Coastal Committee of NSW) mendefinisikan bahwa batas ke arah daratan adalah satu kilometer dari tanda muka air tertinggi (high water level, HWL), termasuk di dalamnya
Gambar 2.1 Batas-batas Fisik Wilayah Pesisir Pantai (Sumber : Latief dan Hadi, 2001)

adalah

tidal

flat,

danau,

laguna,

pulau-pulau

serta

daratan

yang

berhubungan dengannya untuk jarak sejauh 40 meter dari garis pantai. Dan Definisi daerah perairan pantai dari sudut bidang ilmu oseanografi pantai lebih jelas/baku (Tomascik,1997, Yanagi,1999) dibandingkan dengan definisi wilayah pesisir yang masih belum mempunyai definisi yang baku, dimana sangat bergantung pada karakteristik negara, propinsi atau kabupaten, baik dengan alasan geomorfologi maupun dengan alasan kepentingan negara atau daerah itu sendiri (Carl Lundin (World Bank), 1990; Verhagen, 1994; Coastal Committee of NSW, 1994; Sadacharan, 1994; Dahuri, dkk., 1996; Hinrichson, 1998). Ketidakbakuan ini menjadi potensi konflik jika pendefinisian ini diterapkan di wilayah pesisir pantai di Indonesia. Beberapa definisi wilayah pesisir dapat dikemukakan sebagai berikut (Latief dan Hadi, 2001): Yanagi (1999) dan Tomascik, dkk (1997) mendefinisikan daerah perairan pantai (coastal zone) dari sudut bidang ilmu oseanografi pantai adalah daerah 2-2 Hinrichson (1998) mendefinisikan batas wilayah pesisir ke arah darat adalah 150 km dari garis pantai, sedangkan Carl Lundin (World Bank, 1990) memberi definisi batas wilayah pesisir ke arah darat adalah 50 km dari garis pantai. Sadacharan (1994) mendefinisikan daerah pesisir pantai di Sri Langka sebagai daerah dengan batas ke arah darat meliputi daerah rendaman pasut dengan tinggi 60 cm atau sekitar 300 m dari garis pantai saat dari muka laut rerata (mean sea level, MSL) dan untuk daerah estuari dan sungai dengan batas sekitar 2 km ke arah darat, diukur dari garis pantai saat MSL. Selanjutnya untuk batas ke arah laut adalah 2 km dari garis pantai saat MSL. daerah ini menerus sampai perairan yuridiksi sejauh 3 mil laut ke arah laut lepas.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Keduanya sepakat bahwa ke arah laut menggunakan batas yuridiksi wilayah negara bagian atau propinsi. Dahuri, dkk (1996), mengemukakan bahwa terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan, dimana : • Batas wilayah pesisir ke arah darat adalah jarak secara arbiter dari ratarata pasang tinggi (mean high tide), yaitu meliputi bagian daratan baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut, seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin. • Batas ke arah laut adalah batas yuridiksi wilayah propinsi atau state di suatu negara, atau secara alamiah mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat, seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan karena kegiatan manusia di darat, seperti penggundulan hutan, pertanian dan pencemaran. Dari definisi-definisi di atas terlihat bahwa definisi daerah wilayah pantai (coastal zone) sangat tergantung pada kondisi fisik dan alami suatu daerah. Standarisasi dari definisi dearah wilayah pantai ini masih perlu didiskusikan mengingat kompleksitas perairan wilayah Indonesia. 2.2. KARAKTERISTIK BIO-GEOFISIK Zona pesisir mempunyai arti penting bagi kebidupan di laut dan mendukung sebagian besar sumberdaya hayati laut di dunia, karenanya lebih penting dari pada di laut bebas. Lahan basah, laguna, padang lamun, terumbu karang dan teluk-teluk dangkal merupakan daerah pertumbuhan atau tempat mencari makan bagi kebanyakan jenis-jenis fauna pesisir dan banyak spesies oseanis. Zona ini memiliki keragaman hayati tertinggi dari pada di bagian laut manapun. 2-3

Indonesia mempunyai daerah bakau terluas di dunia, hampir 4 juta hektar. Tanaman bakau di Indonesia, terdiri dari 90 jenis (umumnya tidak berkaitan), dimana 40 jenis diantaranya berbentuk pohon (Soemodihardjo, 1987 dalam Sloan,1993). Terdapat kurang lebih 3,8 juta ha hutan bakau, lahan basah dan sistem pasang surut lainnya di Indonesia (Sloan, 1993). Habitat ini terdapat di sepanjang pantai yang terlindung dengan gerakan ombak yang minimal, cenderung terkonsentrasi di Irian Jaya, Sumatera dan Kalimantan. Terdapat dua belas jenis lamun di Indonesia dan padang lamun terdapat diseluruh zona pesisir Indonesia (Sloan, 1993). Padang lamun merupakan sumberdaya yang sangat penting dan produktif yang menyuburkan laut dan menjadi tempat berteduh dan menyediakan makanan bagi jenis-jenis ikan dan kerang-kerangan penting dan bemilai tinggi. Sistem terumbu karang terdapat di sepanjang garis pantai daerah tropis yang dangkal, pada perairan yang hangat, jernih dan bersih. Terumbu karang merupakan ekosistem yang paling produktif di dunia. Terumbu karang berfungsi sebagai pelindung alami, mencegah erosi pantai, menghambat hantaman gelombang besar dan memberikan kesempatan bagi bakau untuk berkembang. Menurut studi yang dilakukan oleh LIPI diperkirakan, bahwa di Indonesia tinggal 7% terumbu karang yang masih asli, 24% kondisi baik, 29% dalam keadaan sedang dan 40% dalam kondisi rusak atau sama sekali mati (Illa Djamal,1998). Sementara itu, secara fisik terdapat berbagai interaksi multidimensi di wilayah pesisir dengan proses-proses yang saling bergantung sehingga wilayah pesisir harus ditinjau sebagai suatu sistem. Gambar 2.2 memperlihatkan suatu sistem wilayah pesisir yang kompleks dimana terjadi interaksi antara parameterparameter darat, perairan dangkal, perairan laut dalam, atmosfer serta

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

aktivitas bawah laut, dimana masing-masing parameter merupakan suatu subsistem yang juga mempunyai proses masing-masing.

ditimbulkan oleh gaya tarik bulan dan matahari. Angin yang berhembus di permukaan laut juga dapat menimbulkan gelombang laut atau yang dikenal sebagai ombak. Parameter fisis darat seperti sedimen serta keberadaan aliran sungai juga berpengaruh terhadap karakteristik wilayah pesisir. Pertemuan aliran air dari sungai dan dari laut di muara sungai menimbulkan sistem aliran estuari dan merupakan suatu eskosistem tersendiri. Daerah pantai yang terendam mempunyai tipe ekosistem berupa: pantai berbatu, pantai berlempung, hutan mangrove, salt marshes, hutan rawa berair tawar, rawa gambut, pantai berpasir, terumbu karang, serta dasar laut yang ditumbuhi rumput laut dan alga. Sedangkan daerah pantai yang tak terendam, mempunyai ekosistem berupa sandy backshore dan pantai berbatu tanpa deposit pasir. Wilayah pesisir juga dapat memperoleh dampak polusi akibat aktivitas manusia dimana polutan akan menyebar ke laut lepas dengan proses dispersi dan adveksi. Beberapa substansi mengendap ke dasar laut dan sebagian lainnya dilarikan keluar ke perairan laut lepas. 2.3. KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI BUDAYA Dari sekitar 202 juta penduduk Indonesia lebih dari 40 juta orang (19,8%) hidup dalam jarak 3 km dari laut, kira-kira 140 juta orang (69,3%) hidup dalam jarak 20 km dari laut. Saat ini daerah pesisir Indonesia menghadapi berbagai tingkat tekanan lingkungan yang makin besar akibat pertumbuhan perkotaan, pencemaran industri, limbah kota, pariwisata, pengembangan sumberdaya budidaya pantai, perkapalan dan kegiatan manusia lainnya. Seluruh tingkat pemerintahan dan seluruh lapisan masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk mengupayakan agar semua kegiatan pengembangan dan konservasi pesisir dan laut dapat dikendalikan melalui perencanaan yang cermat. (DPPLH, 1998). 2-4

Gambar 2.2

Interaksi-Interaksi di Daerah Perairan Pantai (DPP) atau Pesisir (sumber : Latief dan Hadi, 2001)

Interaksi ini menyebabkan perubahan temporal dan spasial dari dinamika laut yang kemudian memotori proses adveksi dan dispersi dari substansi kimia dan biomassa. Parameter fisis atmosfer yaitu angin, temperatur, tekanan udara serta curah hujan sangat penting dalam proses interaksi laut-atmosfer. Interaksi tersebut berupa proses pertukaran panas (heat exchange), pertukaran garam (salt exchange), dan pertukaran momentum (pembentukan arus dan gelombang). Selanjutnya parameter oseanografi yang sangat penting adalah temperatur dan salinitas, yang berkaitan dengan densitas dimana distribusi densitas ini merupakan salah satu pembangkit arus laut. Pembangkit arus lain yang dominan adalah angin dan pasang surut laut. Pasang surut laut itu sendiri

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

3.1

WILAYAH PESISIR

Kawasan pesisir dan laut Propinsi Kalimantan Tengah yang menjadi lokasi studi, secara geografis terletak pada 2˚ 30’ sampai 3˚ 40’ Lintang Selatan (LS) dan 110˚ 45’ sampai dengan 114˚ 45’ Bujur Timur (BT). Sebelum muncul Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2000, secara administratif Kalimantan Tengah terdiri atas 5 (lima) kabupaten yaitu : 1. Kabupaten Kapuas. 2. Kabupaten Kotawaringin Barat. 3. Kabupaten Kotawaringin Timur. 4. Kabupaten Barito Utara. 5. Kabupaten Barito Selatan. Sekarang setelah munculnya Undang-Undang tersebut maka jumlah

kabupaten di Kalimantan Tengah mengalami pemekaran menjadi sebanyak 13 (tiga belas) kabupaten yang meliputi : 1. Kab. Kotawaringin Barat. 2. Kab. Katingan. 3. Kab. Seruyan. 4. Kab. Kotawaringin Timur. 5. Kab. Sukamara. 6. Kab. Kapuas.
Gambar 3.1. Peta Wilayah Kalimantan Tengah (Sumber: ATLAS Indonesia dan Dunia, Achmad Chaldun)

8. Kab. Lamandau. 9. Kab. Gunung Mas. 10. Kab. Murung Raya. 11. Kab. Barito Timur. 12. Kab. Barito Utara. 13. Kab. Barito Selatan.

7. Kab. Pulang Pisau.

3-1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Kabupaten-kabupaten yang terletak didaerah pesisir diperlihatkan pada Tabel 3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Kabupaten di wilayah pesisir No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama Kabupaten Kapuas Pulang Pisau Kotawaringin Timur Seruyan Katingan Sukamara Kotawaringin Barat Ibu Kota Kuala Kapuas Pulang Pisau Sampit Kuala Pembuang Kasongan Sukamara Pangkalan Bun

3.1.2 Kabupaten Pulang Pisau Kabupaten Pulang Pisau mempunyai luas wilayah sebesar 8997 km 2. Kabupaten Pulang Pisau mempunyai batas wilayah sebagai berikut : • • • • Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kapuas dan Kotamadya Palangka Raya. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kabupaten Kapuas. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kabupaten Katingan. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa. 4. Kec. Maliku. 5. Kec. Pandih Batu. 6. Kec. Kahayan Kuala.

Kabupaten Pulang Pisau terdiri atas kecamatan : 1. Kec. Banama Tingang. 2. Kec. Kahayan Tengah. 3. Kec. Kahayan Hilir.

3.1.1 Kabupaten Kapuas Kabupaten Kapuas mempunyai luas wilayah sebesar 18.599 km2 . Kabupaten Kapuas mempunyai batas wilayah sebagai berikut : • • • • Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Gunung Mas dan Kabupaten Murung Raya. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Barito Utara, Kabupaten Barito Selatan, dan Propinsi Kalimantan Kalimantan Selatan. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pulang Pisau dan Kotamadya Palangka Raya. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa. 7. Kec. Basarang. 8. Kec. Mantangai. 9. Kec. Timpah. 10. Kec. Kapuas Tengah. 11. Kec. Kapuas Kuala. 12. Kec. Kapuas Hulu. 3-2 Kabupaten Kapuas terdiri atas kecamatan : 1. Kec. Selat. 2. Kec. Kapuas Hilir. 3. Kec. Kapuas Timur. 4. Kec. Pulau Petak. 5. Kec. Kapuas Murung. 6. Kec. Kapuas Barat.

Gambar 3.2. Kantor Sementara Bupati Kabupaten Pulang Pisau (Sumber: PPK-ITB, 2002)

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

3.1.3 Kabupaten Kotawaringin Timur Kabupaten • • • • Kotawaringin Timur mempunyai luas sebesar 16.796 km2.

3.1.4 Kabupaten Seruyan Kabupaten Seruyan mempunyai luas sebesar 16.404 km2. Kabupaten Seruyan mempunyai batas wilayah sebagai berikut : • • • • Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Nangapinoh, Propinsi Kalimantan Barat. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Katingan dan Kabupaten Kotawaringin Timur. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lamandau dan Kabupaten Kotawaringin Barat. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa. Kabupaten Seruyan terdiri atas kecamatan : 1. Kecamatan Seruyan Hulu. 2. Kecamatan Seruyan Tengah. 3. Kecamatan Hanau. 4. Kecamatan Danau Sembuluh. 5. Kecamatan Seruyan Hilir. 3.1.5 Kabupaten Katingan Kabupaten Katingan mempunyai luas wilayah sebesar 17.500 km2. Kabupaten Katingan mempunyai batas wilayah sebagai berikut : • • • • Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Sintang Propinsi Kalimantan Barat. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Gunung Mas, Kotamadya Palangka Raya, dan Kabupaten Pulang Pisau. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Seruyan dan Kabupaten Kotawaringin Timur. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa.

Kabupaten Kotawaringin Timur mempunyai batas wilayah sebagai berikut : Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Katingan. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Katingan. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Seruyan. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa. 6. Kec. Baamang. 7. Kec. Cempaga. 8. Kec. Parenggean. 9. Kec. Mentaya Hulu. 10. Kec. Antang Kalang.

Kabupaten Kotawaringin Timur terdiri atas kecamatan : 1. Kec. Mentaya Hilir Selatan. 2. Kec. Palau Hanaut. 3. Kec. Mentawa Baru Ketapan. 4. Kec. Mentaya Hilir Utara. 5. Kec. Kota Besi.

Gambar 3.3 Tugu di Kota Sampit, Ibukota Kab. Kotawaringin Timur (Sumber: PPK-ITB, 2002)

3-3

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Kabupaten Katingan terdiri atas kecamatan : 1. Kec. Katingan Hulu. 2. Kec. Marikit. 3. Kec. Sanaman Mantikel. 4. Kec. Katingan Tengah. 5. Kec. Pulau Malan. 6. Kec. Tewang Sangalan Garing. 3.1.6 Kabupaten Sukamara Kabupaten Sukamara mempunyai luas wilayah sebesar 3827 km2. Kabupaten Sukamara mempunyai batas wilayah sebagai berikut : • • • • Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Lamandau. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kotawaringin Barat. Sebelah barat berbatasan denganKabupaten Ketapang, Propinsi Kalimantan Barat. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa. 1. Kecamatan Balairiam. 2. Kecamatan Sukamara. 3. Kecamatan Jelai. 3.1.7 Kabupaten Kotawaringin Barat Kabupaten Kotawaringin Barat mempunyai luas wilayah sebesar 10.759 km2. Kabupaten Kotawaringin Barat mempunyai batas wilayah sebagai berikut : • • Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Lamandau. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Seruyan. Kabupaten Sukamara terdiri atas kecamatan : 7. Kec. Katingan Hilir. 8. Kec. Tasik Pawayan. 9. Kec. Kamipang. 10. Kec. Mendawai. 11. Kec. Katingan Kuala.

• •

Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lamandau dan Kabupaten Sukamara. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa.

Kabupaten Kotawaringin Barat terdiri atas kecamatan : 1. Kecamatan Kotawaringin Lama. 2. Kecamatan Arut Selatan. 3. Kecamatan Kumai. 4. Kecamatan Arut Utara.

Gambar 3.4 Papan Tanda Batas Antara Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau (Sumber: PPK-ITB, 2002)

3-4

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

4.1 GEOMORFOLOGI 4.1.1 Satuan Morfologi Morfologi daerah pesisir Propinsi Kalimantan Tengah berdasarkan pengamatan pada kemiringan lereng dan beda tinggi serta batuan penyusunnya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) satuan morfologi yaitu: a. Satuan perbukitan bergelombang lemah. b. Satuan dataran. a. Satuan perbukitan bergelombang lemah. Satuan perbukitan bergelombang lemah mencakup 10% luas daerah pesisir yaitu melampar meliputi wilayah pedalaman Kalimantan Tengah. Secara umum satuan morfologi ini memiliki kemiringan lereng lebih kurang (5-10)% dan beda tinggi berkisar (5-25) meter. Disusun oleh seri batuan yang terdiri dari konglomerat, batupasir yang berselingan dengan batulempung. Sebagai contoh dari satuan morfologi perbukitan bergelombang lemah adalah morfologi di daerah Pangkalanbun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Erwinta, dkk., 1994). b.Satuan dataran. Satuan dataran mencakup 80% luas daerah pesisir yaitu melampar meliputi wilayah pantai, sepanjang sungai utama dan rawa Kalimantan Tengah. Berdasarkan kemiringan, pelamparan dan batuan penyusunnya, maka satuan dataran dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) satuan dataran, yaitu : 4-1

b.1 Satuan dataran pantai b.2 Satuan dataran rawa b.3 Satuan dataran sungai Pertumbuhan satuan dataran ini dikontrol oleh pasang-surut, endapan delta dan gosong sungai atau sedimentasi sungai oleh karena adanya sungai-sungai besar yang mengalir di daerah Kalimantan Tengah. b.1 Satuan dataran pantai Satuan dataran pantai mencakup daerah lebih kurang 25% luas daerah pesisir Kalimantan Tengah, melampar di bagian selatan berbatasan dengan Laut Jawa. Pada umumnya satuan dataran pantai memiliki kemiringan lereng relatif datar berkisar 2,5 - 3,5 %. Kelandaian pantai tersebut dimungkinkan oleh proses resedimentasi material berukuran lempung hingga pasir kasar yang berasal dari sungai yang bermuara di daerah pantai dan material lain yang berasal dari dasar laut, misalnya koral dan cangkang. Kemiringan pantai yang relatif lebih besar dijumpai di bagian barat terutama di pantai Tanjung Puting. Semakin ke arah timur kemiringan pantai ini mengecil. Berdasarkan Peta Fisik Dasar Wilayah Laut dan Pesisir Propinsi Kalimantan Tengah (Archiegama, 2001) dinyatakan bahwa pelamparan satuan dataran pantai yang disusun oleh material yang berasal dari dasar laut berupa pasir, batu, koral dan lumpur masing-masing dapat diuraikan sebagai berikut : a. Pasir, persebarannya banyak terdapat di luar muara Sungai Lamandau Teluk Kotawaringin, Tanjung Penghujan, sepanjang pantai

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

di Kabupaten Kotawaringin Timur, Tanjung Sau Kecamatan Kahayan Kuala Kabupaten Pulang Pisau. b. Pasir Batu, terdapat di sekitar Sungai Bakau dan di luar Kabupaten Kapuas. c. Koral Batu, persebarannya terdapat di Tanjung Bakau Teluk Kumai. d. Lumpur, persebarannya merata di sekitar Tanjung Puting, pantai di Kabupaten Seruyan, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Kapuas. b.2 Satuan dataran rawa Satuan dataran rawa mencakup daerah seluas lebih kurang 45% luas daerah pesisir Kalimantan Tengah, melampar di bagian barat yaitu di muara Sungai Jelai, Sungai Bila, Sungai Kumai dan Teluk Kotawaringin Kabupaten Kotawaringin Barat, muara Sungai Pembuang, Sungai Sampit sampai Teluk Sampit dan Sungai Sebangan beserta anak-anak sungainya hingga Sungai Kahayan. Adapun kemiringan lereng yang terukur di satuan dataran rawa lebih kurang (1-2,5)%. Pada musim kemarau akan tersingkap jelas bahwa seri batuan penyusun satuan dataran rawa terdiri dari gambut, lanau, lempung dan lumpur. Gambut berwarna coklat hitam, tidak kompak dan kadang dijumpai sisa-sisa tumbuhan. Lanau, lempung dan lumpur berwarna putih kecoklatan dan mengandung sisa-sisa organik darat, biasanya ditumbuhi nipah. b.3. Satuan dataran sungai Satuan dataran sungai mencakup daerah seluas lebih kurang 20% luas daerah pesisir Kalimantan Tengah. Pelamparan satuan morfologi ini biasanya di sepanjang kelokan dalam sungai-sungai utama, sehingga seri batuan penyusunnya adalah material hasil endapan sungai yang berupa kerakal, kerikil, pasir lanau, lempung dan lumpur yang mengandung sisa organik darat. 4-2

Kerakal, kerikil dan pasir umumnya tidak kompak terdiri dari komponen batuan, yaitu batupasir, kwarsa dan batubara. Lanau, lempung dan lumpur dijumpai di daerah muara sungai, bercampur dengan sisa tumbuhan halus dan di beberapa tempat dijumpai garis kelurusan yang hampir sejajar dengan alur sungai. Hal ini merupakan penunjuk adanya pengaruh kegiatan sungai pada waktu banjir dalam pembentukan satuan dataran sungai, seperti yang dijumpai di Kotawaringin, Pangkalanbun dan dataran sungai sepanjang muara Sungai Mendawai. Adapun kemiringan lereng pembentuk relief pada satuan morfologi ini lebih kurang 3,5 hingga 5 %.

Gambar 4.1 Satuan Morfologi Dataran Pantai di Sei Bakau, Kab. Kotawaringin Barat (Sumber: PPK-ITB, 2002).

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

4.1.2 Pola Pengaliran dan Stadia Daerah Sungai di Kalimantan Tengah pada umumnya mengalir ke arah selatan dan bermuara di Laut Jawa sebagai sungai permanen yaitu jenis sungai yang selalu berair sepanjang musim dengan debit air yang tidak terlalu mencolok berbeda antara waktu musim kemarau dengan musim penghujan. Sungai-sungai utama, misalnya Sungai Jelai, Sungai Arut, Sungai Kumai, Sungai Mendawai, Sungai Pembuang dan Sungai Kahayan pada umumnya telah mengalami “meandering” dan mempunyai bentuk penampang lembahnya menyerupai huruf “U” dan melalui satuan dataran yang luas. Hal ini menunjukkan bahwa erosi horisontal lebih kuat daripada vertikal. Rangkaian sungai utama dengan cabang dan anak sungai secara keseluruhan membentuk pola pengaliran menulang daun (dendritic). Memperhatikan bentuk pola pengaliran tersebut maka stadia erosi daerah Kalimantan Tengah termasuk dalam golongan stadia dewasa. 4.2 STRATIGRAFI Berdasarkan pada pembagian daerah cekungan di Kalimantan oleh BATANAlcomin (1972-1973, lihat Hermanto, dkk., 1994), maka daerah Kalimantan Tengah sebagian besar termasuk dalam Cekungan Barito dan sebagian yang lain yaitu bagian barat merupakan bagian timur Paparan Sunda. Gambar 4.2. Daerah Cekungan di Kalimantan (BATAN-Alcomin, 1972-1973 lihat Hermanto, dkk., 1994) Batuan kwarsit dalam keadaan segar berwarna coklat kekuningan dan setelah mengalami oksidasi akan berubah warnanya menjadi kemerahan. Berdasarkan kesamaan ciri batuan di lembar Tewah (Sumintadipura, 1976 dalam Nila, dkk., 1995), maka batuan kwarsit diperkirakan berumur Trias. Batuan Gunungapi terdiri dari breksi volkanik yang berasosiasi dengan basal dan tuff. Breksi volkanik berwarna abu-abu kehijauan dan sangat kompak Menurut Nila, dkk (1995) dinyatakan bahwa batuan penyusun Cekungan Barito secara stratigrafis pembentukannya dimulai pada Zaman Trias yang ditandai dengan pembentukan batuan kwarsit dan batuan gunungapi. dengan fragmen terdiri dari andesit, basal dan rijang serta kaya akan bijih besi dan limonit. Sedangkan basal berwarna coklat kemerahan dan pejal. Adapun tuff berwarna abu-abu kemerahan sebagai abu gunungapi.

4-3

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Lebih lanjut oleh Nila, dkk (1995) dinyatakan bahwa pada Zaman Kapur di Cekungan Barito terjadi pengangkatan yang diikuti dengan intrusi batuan granit, yang diduga merupakan bagian dari Pegunungan Schwaner. Pengangkatan berikutnya terjadi pada Kala Eosen atau Oligosen yang disertai dengan intrusi basal.

beberapa

tempat

dijumpai

struktur

sedimen

silang-siur.

Sedangkan

batulempung dijumpai sebagai sisipan dengan ketebalan bervariasi lebih kurang (20-60) cm, berwarna abu-abu, kurang kompak, bersifat karbonatan dan di beberapa tempat dijumpai mengandung sisipan lignit

Aluvium sebagai seri batuan termuda di Cekungan Barito tersusun oleh Batuan Granit sebagai batuan plutonik tersebut di atas dijumpai di lapangan berwarna putih kehitaman yang disebabkan oleh adanya kandungan mineral hornblenda dan biotit. Sedangkan mineral penyusun utama granit tersebut terdiri dari Orthoklas, kwarsa dan plagioklas. gambut, pasir lepas, lempung dan lempung kaolinan. Gambut yang dijumpai berwarna coklat kehitaman yang diinterpretasikan sebagai endapan rawa. Pasir lepas berwarna kekuningan dengan ukuran butir kasar sampai halus, tidak berlapis dan diinterpretasikan sebagai endapan sungai. Sedangkan lempung berwarna kelabu kecoklatan yang mengandung sisa tumbuhan dan lempung Batuan Basal diduga mengintrusi batuan granit pada Kala Kapur Atas. Batuan tersebut dijumpai di lapangan dalam keadaan segar berwarna abu-abu kehijauan dan dibeberapa tempat diketemukan adanya gejala mineralisasi, yang ditandai dengan adanya kandungan klorit dan mineral lempung. Lebih lanjut dinyatakan pula bahwa Cekungan Barito sejak Kala Trias merupakan daratan yang akan mengalami penurunan pada Kala Miosen Tengah sampai Plio-Plistosen, yang dalam hal ini akan membentuk Formasi Dahor dalam lingkungan paralik dan diakhiri dengan pembentukan endapan aluvial. Dengan demikian stratigrafi daerah Cekungan Barito dapat diilustrasikan sebagaimana dengan stratigrafi pada Gambar 4.3 (Nila, dkk., 1995). Adapun seri batuan penyusun stratigrafi daerah penelitian yang termasuk bagian timur Paparan Sunda, yaitu meliputi daerah Kuala Jelai, Pangkalanbun, Pembuang hingga Sembuluh menurut Hermanto, dkk (1994) pembentukannya dimulai pada Kala Trias. kaolinan yang berwarna putih diinterpretasikan sebagai endapan pasangsurut.

Formasi Dahor merupakan seri batuan yang berselingan dengan batupasir dan

terdiri dari konglomerat yang diperkirakan

Lebih lanjut dinyatakan bahwa pada Kala Trias daerah tersebut mengalami pengangkatan yang disertai dengan kegiatan gunungapi yang menghasilkan Formasi Kuayan. Namun demikian menurut Emmichoven (1939) dalam Hermanto, dkk (1994) dinyatakan bahwa orogenesa yang terkuat terjadi pada Kapur Atas yang disertai dengan intrusi pluton dari Kompleks Granit Mandahan.

batulempung

mempunyai ketebalan mencapai 300 meter. Konglomerat yang dijumpai berwarna coklat kehitaman, agak padat dengan komponen terdiri dari kwarsit dan basal sebagai fragmen, sedangkan matriknya berukuran pasir. Batupasir berwarna kekuningan hingga abu-abu, berbutir kasar sampai sedang dan di 4-4

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Masa Zaman Kwarter

Kala Holosen Plistosen Pliosen

Satuan Batuan Aluvium

Selama Kala Eosen-Oligosen di daerah Paparan Sunda bagian timur ini tidak terjadi pengendapan karena secara fisiografi merupakan dataran. Pada Kala Miosen Tengah-Plio-Plistosen terjadi penurunan yang diikuti dengan pengendapan batuan sebagai Formasi Dahor. Setelah Plio-Plistosen hingga sekarang daerah tersebut stabil yang ditandai dengan pembentukan

Kenozoikum

Tersier

Miosen Oligosen Eosen Paleosen Kapur Jura Trias

Formasi Dahor

endapan rawa dan aluvium. Dengan demikian stratigrafi daerah penelitian yang termasuk dalam Paparan Sunda bagian timur dapat diilustrasikan sebagaimana stratigrafi pada Gambar 4.4 (Hermanto, dkk., 1994)

Mesozoikum

Basal

Masa

Zaman Kwarter

Kala Holosen Plisfosen Pliosen Akhir Miosen

Satuan Batuan Aluvium Endapan Rawa Formasi Dahor

Kwarsit Perm

Bat.Gunung Api Granit

Gambar 4.3. Stratigrafi Palangkaraya Kalimantan Tengah (Nila, dkk., 1995)

Kenozoikum

Tersier

Tengah Awal

Seri batuan penyusun Formasi Kuayan terdiri dari breksi volkanik, lava, dasit, riolit, andesit dan tuff yang secara umum dijumpai di daerah penelitian telah mengalami pelapukan lanjut. Singkapan seri batuan ini dijumpai di daerah Mesozoikum Rantaupulut, Senkilau, Sukamandang dan di hulu-hulu Sungai Bila, Sungai Lamandau dan Sungai Pembuang. Kompleks Granit Mandahan terdiri dari granit, granit biotit dan diorit. Satuan batuan ini mengintrusi batuan gunungapi yang lebih tua yaitu Formasi Kuayan pada waktu pengangkatan yang terjadi pada Kapur Atas.

Oligosen Eosen Paleosen Jura Trias Formasi Kuagan Granit Maudahaus Kapur

Gambar 4.4. Stratigrafi Pangkalan Bun Kalimantan Tengah (Hermanto, dkk., 1994)

4-5

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Pada penelitian terhadap endapan aluvium yang dilakukan oleh Erwinta, dkk (1996) di daerah Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Kotawaringin Barat dinyatakan bahwa endapan aluvium yang dijumpai di Kabupaten Kapuas umumnya terdiri dari endapan lempung yang berwarna abu-abu dan coklat kekuningan. Endapan tersebut menutup lapisan pasir berbutir sedang sampai halus dengan sisipan lapisan lempung dan lempung pasiran. Adapun aluvium yang dijumpai di daerah Kabupaten Kotawaringin Barat berupa endapan pantai dan sungai yang disusun oleh pasir lepas yang berwarna kekuningkuningan, abu-abu dan pasir lempungan yang berwarna putih keabu-abuan yang mempunyai butir sedang sampai kasar. Bentuk butir meruncing sampai membulat tanggung yang terdiri dari butiran kwarsa dan sedikit lempung. Endapan pasir ini mempunyai sifat fisik gembur dan porous sehingga merupakan tempat akumulasi air tanah, Sedangkan endapan aluvium yang dijumpai di daerah Kasongan menurut Manik, dkk (2000) terdiri dari lanaulempung, lanau-lempung kaolinan, pasir halus sedang dan gambut. 4.3 SUMBERDAYA GEOLOGI Indonesia merupakan negara yang karena sejarah geologi pembentukannya sangat kaya akan sumberdaya mineral. Secara garis besar dapat dibedakan antara mineral energi, misalnya minyak dan gas bumi serta batubara dan mineral non-energi, misalnya emas, perak, tembaga, timah dan sebagainya.

atas batuan dasar serta struktur geologi yang tidak komplek, maka sangat dimungkinkan dijumpainya jebakan sumberdaya energi fosil yaitu sebagai minyak bumi. Sedangkan sumberdaya energi fosil lain yang mempunyai harapan atau dapat dikembangkan adalah batubara dan gambut. a. Batubara Batubara di pesisir Kalimantan Tengah dijumpai di Kabupaten Kotawaringin Timur yaitu pada dua lokasi yaitu anak sungai Cempaga Kecamatan Cempaga Mulia dan sekitar sungai Mentaya Kecamatan Kuala Kuayan. Pada kedua lokasi tersebut besarnya cadangan dan jenis batubaranya masih belum diketahui. b. Gambut Cadangan endapan gambut dijumpai hampir di setiap kabupaten di wilayah Kalimantan Tengah, yaitu di Sukamara Kabupaten Sukamara, daerah Kahayan Kabupaten Pulang Pisau dan di daerah Palangkaraya serta Kabupaten Kapuas. Secara umum gambut telah dimanfaatkan oleh masyarakat, namun hanya sebatas sebagai tanah pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan pemukiman. Padahal gambut dapat dikelola lebih lanjut menjadi bahan baku sumber energi yang dapat digunakan di bidang industri ataupun bahan bakar rumah tangga pengganti kayu bakar. Penelitian gambut di daerah Kahayan yang dilakukan oleh Alfried, dkk (2000) menunjukkan bahwa dalam cadangan 99,4991 ha terdapat 378.293,764 ton gambut kering dengan kalori yang dihasilkan lebih kurang (4450-4880) kal/gr. Dengan demikian untuk mencapai tujuan sebagai energi pengganti, maka penyebaran dan besar cadangan serta jenis gambut yang dijumpai di Kalimantan Tengah perlu dilakukan penelitian lebih lanjut.

4.3.1 Sumberdaya Energi Sumberdaya energi yang dikaji berdasarkan aspek geologi adalah energi yang berasal dari fosil, mineral dan panasbumi atau geothermal. Pada penelitian yang dilakukan di daerah pesisir Kalimantan Tengah sejauh ini belum ada data mengenai potensi sumberdaya energi yang dimaksudkan di atas. Namun demikian mengingat ketebalan batuan sedimen yang dijumpai di 4-6

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

4.3.2 Sumberdaya Mineral Bahan galian di Kalimantan Tengah dijumpai di berbagai tempat. Bahan galian tersebut terdiri dari metal dan non metal yang terdapat sebagai endapan primer dan endapan sekunder. Berdasarkan pada penyebaran batuan penyusunnya bahan galian yang dapat ditemui adalah bijih besi, emas, perak, tembaga, timah hitam, seng, intan, mika, bentonit, kaolin, pasir kuarsa, batugamping, batuan beku dan bahan galian lainnya. Penyebaran bahan galian tersebut umumnya tersebar di bagian utara dari wilayah Kalimantan Tengah. Bahan galian yang dapat ditemui di daerah pesisir Kalimantan Tengah berupa : a. Emas Emas di Kalimantan Tengah dijumpai sebagai endapan primer yang tersebar di beberapa kabupaten, terutama di daerah sepanjang aliran sungai. Sedangkan emas sekunder dijumpai sebagai hasil endapan pada tepi-tepi sungai, terutama di bagian dalam kelokan sungai. Endapan tersebut dijumpai tersebar hampir pada seluruh kabupaten di Kalimantan Tengah dan di beberapa tempat telah ditambang oleh penduduk secara tradisional, seperti yang dijumpai di sepanjang Sungai Kahayan antara desa Kuala Kurun dengan desa Bawan, sepanjang Sungai Ringin, Sungai Pandurian, Sungai Punti dan Sungai Sirat. Pada umumnya penambangan yang dilakukan tanpa izin ini mengambil endapan aluvial pada tubuh aliran sungai maupun tebing sungai. b. Kaolin Endapan kaolin ditemukan di sekitar Teluk Sampit, daerah Rambon, daerah Tanah Putih, daerah Sitirung, daerah Target, sekitar daerah Parit dan pada hulu Sungai Cempaga yaitu di sekitar daerah Pundu. Sedangkan endapan kaolin di Kabupaten Kotawaringin Barat dijumpai 4-7

di sekitar Sungai Kumai, di pinggir pantai antara Sungai Kumai dengan Sungai Kotawaringin dan dijumpai pula pada pinggir pantai sekitar Sungai Damar dan Sungai Teluk. Endapan-endapan kaolin terebut merupakan hasil sedimentasi. Pada Kabupaten Kapuas endapan kaolin dijumpai di sekitar Sungai Mangkutup, Sungai Binjak dan sekitar Sungai Kapuas. c. Pasir kwarsa Pasir kwarsa merupakan bahan galian yang paling luas penyebarannya di Kalimantan Tengah. Pasir kwarsa yang dijumpai di sekitar Danau Sembuluh berdasarkan penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Mineral Bandung dan porselin. d. Kristal Kwarsa Kristal kwarsa ditemukan di Danau Kelimpatahan dan Danau Asam di Kabupaten Kotawaringin Barat. Diperkirakan berasal dari penyusun seri batuan Gunungapi Kerabat. Memiliki warna bervariasi dari ungu muda hingga biru tua sehingga oleh penduduk setempat ditambang untuk diolah secara sederhana menjadi batu permata dengan nama dagang batu kecubung. Kadang-kadang kristal kwarsa dijumpai di lapangan berasosiasi dengan mineral sefalerit yang berwarna coklat jernih sampai coklat dan dapat diolah sebagai batu permata dengan nama dagang batu kecubung teh. (1983) mempunyai kadar SiO2 mencapai 99,8% sehingga dapat digunakan sebagai bahan baku gelas

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

penambangan bahan galian golongan C, yang lebih disebabkan oleh karena dalam melakukan penambangan tidak memperhatikan kestabilan lereng yang terbentuk. Jenis bencana lainnya adalah erosi lateral abrasi yang disebabkan oleh kondisi pasang surut dan banjir di sepanjang sungai, misalnya yang sering terjadi di sungai Katingan (Manik, dkk., 2000). 4.5 ISU-ISU Permasalahan geologi di daerah pesisir Kalimantan Tengah yang dapat diinventarisasi dan selalu menarik untuk dijadikan bahan pembahasan adalah : 1. Sedimentasi. 2. Optimalisasi gambut. 4.5.1 Sedimentasi
Gambar 4.5 Kiri: Singkapan Kaolin di Sampit. Kanan: Singkapan Pasir Kwarsa di Kuala Pembuang (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Laju sedimentasi yang cukup tinggi ditunjukkan dengan munculnya gosonggosong di muara sungai utama, misalnya di muara Sungai Jelai, Sungai Sampit, Sungai Kumai, Sungai Pembuang dan Sungai Kahayan. Menurut keterangan yang diperoleh dari penduduk setempat dinyatakan bahwa gosong tersebut semakin berkembang luasnya dari waktu ke waktu. Kenyataan kecepatan laju sedimentasi tersebut didukung oleh keterangan dari para operator pelayaran besar yang menyusuri sungai tersebut misalnya PT. PELNI dan PT. Dharma Raya Samudera yang menyatakan bahwa alur pelayaran semakin sempit sehingga penetapan rambu pelayaran tidak selalu dapat diikuti. Sebagai contoh adalah pelayaran dari Kuala Jelai hingga Sukamara di Sungai Jelai, dari Tanjung Puting hingga Kumai di Sungai Kumai dan pelayaran dari Kuala Pembuang hingga Sampit di Sungai Sampit memerlukan waktu tempuh yang sangat panjang karena harus memperhatikan pasang-surut dan mengikuti alur berdasarkan navigasi alam.

4.4 BAHAYA LINGKUNGAN BERASPEK GEOLOGI Bencana alam yang terdapat di propinsi Kalimantan Tengah pada umumnya adalah banjir periodik yang terjadi pada musim penghujan dikarenakan meningkatnya debit air sungai. Banjir yang melanda daerah terbuka yang disusun oleh tanah laterit, yaitu pelapukan dari andesit, basal dan tras akan mudah tererosi yang pada gilirannya mengakibatkan pendangkalan di aliran sungai, terutama di bagian hilir. Hal serupa terjadi juga di daerah yang disusun oleh satuan batupasir, batupasir lempungan dan batulempung bersisipan serpih, misalnya di daerah Kabupaten Kotawaringin Timur (Fadjar, dkk., 1983) yang pada akhirnya akan mempercepat pendangkalan di Teluk Sampit. Bencana alam berupa tanah longsor kecil kemungkinan terjadi, karena daerah ini pada umumnya mempunyai kemiringan lereng dan kemiringan perlapisan batuan yang kecil. Tanah longsor dalam skala kecil terjadi di tempat 4-8

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Berdasarkan

pengamatan

lapangan,

maka

material

sedimen

sebagai

c. Pembukaan Hutan Pembukaan hutan yang dimaksud adalah perubahan fungsi hutan setelah habis Hak Pengusahaan Hutan untuk kepentingan pembuatan areal hutan tanaman industri. Perubahan fungsi hutan tersebut diawali dengan “land clearing” yang akan menciptakan kondisi tanah menjadi terbuka. Kondisi akan menjadi berubah karena adanya pemotongan bukit dan pengurugan lembah, artinya dalam kondisi ini sangat dimungkinkan berlangsungnya erosi

penyebab laju sedimentasi yang tinggi diduga berasal dari : a. Penambangan Emas Tanpa Ijin b. Penambangan Bahan Galian Golongan C c. Pembukaan Hutan

a. Penambangan Emas Tanpa Ijin Lokasi penambangan biasanya berada di daerah hulu sungai. Usaha ini merupakan usaha penambangan yang menggunakan cara tradisional, yaitu dengan menyemprot atau menggali susunan batuan di dasar dan di tebing sungai. Cara ini akan menghasilkan material lepas atau sedimen yang seketika akan terbawa oleh aliran sungai, sehingga pada gilirannya akan menimbulkan sedimentasi di daerah hilir. b. Penambangan Bahan Galian Golongan C Bahan galian golongan C yang dimaksud adalah laterit dan kaolin. Tanah laterit digunakan sebagai bahan pengerasan jalan dan urugan bangunan, yang sifat dasarnya akan cepat berubah menjadi lempung atau larut sewaktu terkena air. Pada lokasi penambangan akan terjadi erosi yang di dalam hal ini terlihat dengan dijumpainya alur atau galur erosi yang cukup dalam, yaitu berkisar dari 5cm hingga 50 cm (Fadjar, dkk., 1983). Hal yang serupa terjadi pula di lokasi penambangan kaolin. Kedua penambangan bahan galian tersebut menjadi sumber sedimen potensial bagi pendangkalan di daerah pesisir Kalimantan Tengah oleh karena sistem penambangan terbuka yang dilakukan tanpa mendapat pengarahan dari instansi yang berwenang.

permukaan yang intensif. Sehingga merupakan sumber sedimen yang potensial bagi percepatan laju sedimentasi di daerah pesisir Kalimantan Tengah. 4.5.2 Optimalisasi Gambut Gambut sebagai anggota seri batuan penyusun terbesar di daerah pesisir Kalimantan Tengah perlu dikembangkan pemanfaatnya. Hal ini mengingat bahwa pemanfaatan gambut tidak hanya sebatas sebagai tanah pertanian atau bahkan sebagai tempat tinggal seperti yang terjadi pada waktu kini, tetapi gambut dapat juga merupakan sumberdaya energi yang potensial pengganti minyak bumi. Hal ini berarti bahwa di daerah pesisir Kalimantan Tengah yang umumnya disusun oleh seri batuan yang mengandung gambut perlu dilakukan pemetaan gambut, yang menyangkut ketebalan, pembentukan, kandungan unsur hara dan tingkat kematangannya seperti diperlihatkan dalam Tabel 4.1, sehingga dapat pula ditentukan peruntukan lahan yang mengandung gambut.

4-9

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 4.1. Klasifikasi Gambut ( Alfred, dkk., 2000)
Dasar Ketebalan Nama 1. Gambut dangkal 50 – 100 cm 2. Gambut sedang 100 – 200 cm 3. Gambut dalam 200 – 300 cm 4. Gambut sangat dalam > 300 cm Pengaruh air pada saat pembentukan 1. Gambut pedalaman, terbentuk dibawah pengaruh air hujan atau luapan air sungai (air tanah). Dikenal lagi menjadi Topogenous dan Ombrogenous. Topogenous, gambut beasiasi dengan lempung. Ombrogenous, gambut berasiasi dengan tanggul sungai dicirikan oleh adanya lempung, lanau, dan pasir. 2. Gambut pantai, terbentuk dibawah pengaruh luapan pasang surut air laut. Kandungan unsur hara 1. Gambut Eutropik, kesuburan tinggi. 2. Gambut Mesotropik, kesuburan sedang. 3. Gambut Oligotropik, Kesuburan rendah. Tingkat Kematangan 1. Gambut Fibrik, sangat sarang, kandungan serat 2/3 volume, bobot isi < 0,075 gr/cc 2. Gambut Hemik, tingkat dekomposisi belum sempurna, kandungan serat 1/3 – 2/3 volume, bobot isi antara 0m075 – 0,195 gr/cc. 3. Gambut Saprik, terkomposisi sempurna (matang), kandungan serat < 1/3 volume, bobot isi > 0,195 gr/cc

Gambar 4.6 Batu Kecubung (Kristal Kwarsa) Sebagai Salah Satu Bahan Galian yang Unik di Kabupaten Kotawaringin Barat (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 4.7 Stratigrafi di Pantai Keraya Kec. Kumai Kab. Kotawaringin Barat (Sumber: Dinas Pariwisata Kab. Kotawaringin Barat, 2002)

4-10

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

5.1 PARAMETER HIDRO-OSEANOGRAFI Parameter hidro-oseanografi penting untuk diketahui karena merupakan dinamika penggerak transport massa di perairan, dimana massa tersebut bisa merupakan organisme laut, bahan polutan, ataupun sedimentasi hasil masukan dari sungai. Perairan Kalimantan Tengah terdiri dari perairan pantai dan laut. Secara umum perairan pantainya dipengaruhi oleh sungai-sungai besar yang bermuara di sepanjang pantai, sedangkan perairan lautnya merupakan bagian dari Laut Jawa. Laut Jawa berada di jalur sirkulasi arus yang diakibatkan monsun (musim barat, musim peralihan barat menuju timur, musim timur, musim peralihan timur menuju barat) yang dimulai dari Laut Cina, Laut Jawa, Laut Flores, dan Laut Banda. Sedangkan besarnya transpor massa air yang bergerak di Laut Jawa pada musim barat berkisar 4 – 4,5 juta m3/detik menuju ke arah timur, pada musim peralihan barat menuju timur sekitar 0,5 juta m3/detik menuju ke arah timur, pada musim timur sekitar 3 juta menuju ke arah barat (Wyrtki, 1961). m3/detik menuju ke arah barat, m3/detik sedangkan pada musim peralihan timur menuju barat sekitar 5 juta

dangkal dengan kedalaman rata-rata kurang dari 30 m. Kedalaman yang lebih dari 30 m hanya ditemui di bagian barat dari wilayah laut Kalimantan Tengah, yaitu pada jarak sekitar 75 km ke arah laut dari Kabupaten Kotawaringin Barat atau pada lintang 3o45’ LS. Sedangkan ke arah timur wilayah perairan, kedalaman ini berkurang pada garis lintang yang sama. Di pantai Kecamatan Jelai dan Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat, kedalaman perairan relatif bertambah secara linier ke arah laut dengan kemiringan pantai sekitar 0,05%. Sedangkan perubahan kedalaman pantai yang besar terdapat di pantai Tanjung Puting, dimana kedalaman berubah secara cepat ke arah selatan. Kemiringan pantai Tanjung Puting ini berkisar 0,14 %.

Kondisi batimetri perairan laut di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Seruyan relatif lebih dangkal dari kondisi batimetri di wilayah perairan Kabupaten Kotawaringin Barat. Kondisi batimetri yang paling dalam hanya terdapat di sekitar 70 km ke arah luar muara sungai Sampit dengan kedalaman sekitar 25 meter.

5.1.1 Batimetri Berdasarkan Peta Fisik Dasar Wilayah Laut dan Pesisir Kalimantan Tengah yang dikeluarkan oleh Archiegama tahun 2001, diperoleh bahwa perairan laut Propinsi Kalimantan Tengah secara umum memiliki kondisi batimetri yang relatif 5-1

Kondisi batimetri di wilayah perairan pantai Kecamatan Kahayan Kuala Kabupaten Pulang Pisau adalah sangat dangkal. Kondisi batimetrinya pada jarak sekitar 50 km ke arah laut, kedalamannya hanya sekitar 10 m. Akan tetapi di daerah Pantai Tanjung Tawas atau di luar muara Sungai Kahayan dan

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

muara Sungai Kapuas Murung, kedalaman laut sudah mencapai sekitar 22 m pada jarak sekitar 30 km di luar daerah di atas.

Perairan Indonesia mempunyai pola arus permukaan yang sangat dipengaruhi oleh monsun barat daya (Oktober – Maret) dan monsun tenggara (April – September). Pengaruh kedua monsun ini jelas terlihat di Pantai Kalimantan Tengah yang tepatnya berada di bagian selatan dari daratan Pulau

5.1.2 Pola Arus Laut Berdasarkan survei dan pengukuran arus di beberapa wilayah perairan sungai, estuari, yang dilakukan pada 14 – 25 Oktober 2002, diperoleh bahwa arus yang terjadi dominan disebabkan oleh pasang surut dan angin. Hasil pengukuran dapat dilihat pada Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Kecepatan Arus Hasil Pengukuran di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah (PPK-ITB,2002) No. 1. Nama Lokasi Perairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Lupak dalam (Sungai Kapuas) (03o16’56,3‘’ LS & 114o08’33,2‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Percabangan S. Kumai & S. Sekonyer (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) Catatan: Pengukuran yang dilakukan pada 4 stasiun adalah saat air mengalami surut, kecuali pengukuran yang dilakukan di Percabangan Sungai Kumai dan S. Sekonyer adalah pada saat air pasang. Kecepatan Arus (m/detik) 0,783 Arah Arus Menuju ke arah laut Menuju ke arah laut menuju ke arah laut Menuju ke arah laut Masuk dari arah laut

Kalimantan. Untuk mendapatkan gambaran umum pola arus di perairan laut Kalimantan Tengah, dilakukan simulasi model hidrodinamika tiga dimensi. Hasil simulasi memperlihatkan pola pergerakan arus rata-rata bulanan yang dibangkitkan oleh angin. Perubahan arah arus yang dibangkitkan pasang surut terjadi lebih cepat karena periode pasang surut yang lebih pendek (harian) dibandingkan dengan periode angin (musiman). Dengan demikian untuk mengetahui pola arus rata-rata bulanan di perairan Kalimantan Tengah, gaya pembangkit arus yang ditinjau (sebagai input model) hanya angin. Arus rata-rata bulanan yang dihasilkan model memperlihatkan arah arus dominan yang terjadi pada bulan tersebut. Simulasi pola arus di perairan laut Kalimantan Tengah yang mewakili empat musim yang berbeda, dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Musim Barat Musim ini terjadi pada bulan Desember sampai dengan bulan Februari. Pada saat ini angin bertiup dari Barat ke Timur. Pola arus musim ini diwakili oleh simulasi arus bulan Februari. Pergerakan arus di daerah sekitar pantai jelas mengarah ke Timur akibat angin Barat, dan arus bergerak ke arah barat menuju Laut Flores dan sebagian membelok ke arah Selat Makasar, lihat Peta Arus Permukaan dan Potensi Upwelling Bulan Februari. Kecepatan arus pada bulan ini berkisar antara 0,02 – 3,0 m/detik.

2.

0,203

3.

0,613

4.

0,407

5.

0,847

5-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

2. Musim Peralihan I Musim ini terjadi pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei. Pada musim ini mulai terjadi peralihan arah angin yang bergerak dari Timur ke Barat. Pola arus di musim ini diwakili oleh simulasi arus di bulan Mei. Arah arus menuju ke Barat walaupun nilainya masih kecil. Kondisi ini diakibatkan oleh kekuatan angin yang relatif masih lemah, lihat Peta Arus Permukaan dan Potensi Upwelling Bulan Mei. Kecepatan arus pada bulan ini berkisar antara 0,01 – 2,6 m/detik. 3. Musim Timur Musim ini terjadi dari bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Kondisi angin bertiup dari Timur ke Barat. Pada laporan ini pola arus hasil simulasi pada musim timur diwakili oleh pola arus pada bulan Agustus. Hasil simulasi model memperlihatkan bahwa kecepatan arus permukaan di sekitar pantai lebih kuat dibandingkan arus yang terjadi pada bulan Mei dengan arah dari Timur ke Barat, lihat Peta Arus Permukaan dan Potensi Upwelling Bulan Agustus. Kecepatan arus pada bulan ini berkisar antara 0,01 – 2,0 m/detik. 4. Musim Peralihan II Musim ini terjadi pada bulan September sampai dengan bulan November. Kondisi angin mulai membelok ke arah Timur atau mulai terjadi peralihan dari musim timur ke musim barat. Dengan demikian arus permukaan di sekitar pantai yang pada awalnya bergerak ke Barat mulai melemah dan kemudian akan membelok ke arah Timur. Proses perubahan ini akan diikuti oleh pergerakan massa air, lihat Peta Arus Permukaan dan Potensi Upwelling Bulan November. Kecepatan arus permukaan pada bulan ini berkisar antara 0,01 – 1 m/detik. Perubahan pola arus akibat perubahan musim di sepanjang Pantai Selatan Kalimantan Tengah tersebut jelas terlihat pada daerah di sekitar pantai. 5-3

Kemungkinan pola arus akibat perubahan musiman ini secara umum dari tahun ke tahun adalah tidak berubah, hanya variasi besar kecepatan arusnya saja yang berbeda. 5.1.3 Pasang Surut Berdasarkan hasil peramalan pasang surut terhadap beberapa stasiun lokasi di perairan pantai Kalimantan Tengah, dapat diinformasikan variasi tunggang pasut. Hasil studi menunjukkan tunggang pasut berkisar antara 47,35 cm di Tanjung Keluang (Tanjung Penghujan), hingga 321,54 cm di Teluk Sampit. Secara umum tunggang pasut terendah di perairan pantai bagian barat dan semakin tinggi ke arah timur (lihat Tabel 5.2).

Perairan Kalimantan Tengah secara umum mempunyai tipe pasang surut (pasut) campuran cenderung diurnal (mixed tide prevailing diurnal). Pola kemunculan pasang surut tipe ini adalah dalam 1 hari bisa terjadi 1 kali saat air pasang dan 1 kali saat air surut, tetapi bisa juga terjadi 2 kali saat air pasang dan 2 kali saat air surut dengan ketinggian antar puncak yang jauh berbeda (lihat Gambar 5.1 dan 5.2). Perbedaan elevasi muka laut akibat pasang surut mampu menggerakan arus, dimana arus pasut yang sangat umum terjadi di perairan Asia Tenggara yang berkedalaman 25 - 100 meter rata-rata kecepatannya 18,7 cm/detik untuk tipe pasut semidiurnal, dan 11,6 cm/detik untuk tipe pasut diurnal (Wyrtki, 1961).

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 5.2 Hasil Peramalan Air Pasang Tertinggi, Air Surut Terendah dan Tunggang Maksimum Pasang Surut di Perairan Pantai Kalimantan Tengah (PPK-ITB,2002)
No. 1. Stasiun Tanjung Keluang (03º29’30“ LS & 110º40’00“ BT) PPI Kuala Pembuang (03º24’27,9“ LS & 112º33’33“ BT) Tanjung Buaya (03º29’05“ LS & 112º30’49“ BT) Teluk Kotawaringin (03º00’30“ LS & 111º22’20“ BT) Pantai Sei Bakau (02º59’19,3“ LS & 111º35’31,4“ BT) Pantai Kubu (02º59’00“ LS & 110º45’00“ BT) Percabangan S. Kumai & S. Sekonyer (02º46’26,8“ LS & 111º42’50,9“ BT) Pelabuhan Ujungpandaran (03º09’17,58“ LS & 113º00’33,6“ BT) Teluk Sampit (03º00’10“ LS & 113º28’48“ BT) Teluk Sebangau (03º01’24“ LS & 113º30’30“ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (02º45’52“ LS & 114º15’1,8“ BT) Gosong Rining (03º02’24“ LS & 114º01’17“ BT) Batanjung (03º21’19,1“ LS & 114º14’59,1“ BT) Air Pasang Tertinggi (cm) +27,81 Air Surut Terendah (cm) -19,54 Tunggang Maksimum (cm) 47,35
elevasi (cm) 30

Peramalan Pasang Surut di Tanjung Keluang (13 - 30 Oktober 2002)

20

10

2.

+98,90

-67,76

166,66

0

3.

+97,60

-66,49

164,09

-10

-20

4.

+60,26

-33,42

93,68
-30 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420 waktu (jam ke-)

5.

+69,78

-39,27

109,05

6. 7.

+76,53 +75,15

-43,60 -42,64

120,13 117,79

Gambar 5.1 Peramalan Pasang Surut di Tanjung Keluang 13 – 30 Oktober 2002 (PPK-ITB,2002)

8.

+188,79

-132,53

321,32
Peramalan Pasang Surut di Teluk Sampit (13 - 30 Oktober 2002) 200

9. 10.

+188,92 +188,91

-132,62 -132,62

321,54 321,53

150

100 elevasi (cm)

11.

+113,66

-103,9

217,56

50

12.

+117,44

-98,87

216,31

0

-50

13.

+113,67

-103,90

217,57
-100

Catatan: Air pasang terendah dan surut terendah dihitung dari Mean Sea Level (MSL).

-150
0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 200 220 240 260 280 300 320 340 360 380 400 420

waktu (jam ke-)

Gambar 5.2 Peramalan Pasang Surut di Teluk Sampit 13 – 30 Oktober 2002 (PPK-ITB,2002)

5-4

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

5.1.4 Gelombang Pengaruh monsun (musim barat dan timur) terhadap kondisi gelombang dengan jelas terlihat di perairan Kalimantan Tengah. Berdasarkan sumbernya, gelombang dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu gelombang swell (gelombang rambat yang telah keluar dari daerah pembangkitnya, yaitu: angin) dan sea (gelombang yang berada pada daerah pembangkitnya, yaitu: angin). Pola umum penjalaran gelombang pada kedua musim tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. Musim Timur Pola umum arah penjalaran gelombang laut di perairan Kalimantan Tengah mengikuti kecenderungan angin musim yang berlaku, yaitu angin musim timur. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa gelombang bergerak bersesuaian dengan pergerakan angin musim timur, yaitu dari timur menuju barat dengan kecenderungan untuk bergerak dalam arah tegak lurus pantai ketika gelombang mendekati pantai, dengan tinggi gelombang perairan dalam terletak pada kisaran 0.75 – 1 m. Gambar sebaran tinggi gelombang signifikan dan arah penjalarannya ditunjukkan pada Gambar 5.3.

Hasil simulasi spektrum gelombang pada lokasi / koordinat (3°0’10” LS 113°28’48” BT) yang mewakili perairan Kalimantan Tengah, mendukung pola umum karakteristik tinggi gelombang dan arah penjalarannya seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Spektrum dua dimensi (2D) Gelombang di perairan Kalimantan Tengah memberikan informasi tinggi gelombang signifikan musim timur sebesar 0,74 m, dengan arah rata-rata datang gelombang sebesar 311° (relatif terhadap utara). Bentuk Spektrum densitas energi gelombang di perairan Kalimantan Tengah diperlihatkan pada Gambar 5.4.

Gambar 5.4. Spektrum 2D Perairan Kalimantan Tengah (3°0’10” LS - 113°28’48” BT) pada Musim Timur (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Tinjauan lebih lanjut dari spektrum 2D, memberikan informasi perihal signifikansi gelombang sea maupun gelombang swell terhadap pembentukan gelombang total yang terjadi pada masing-masing perairan kajian. Di perairan
Gambar 5.3 Pola Sebaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang Gelombang pada Musim Timur di Perairan Kalimantan Tengah (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Kalimantan Tengah, kontribusi gelombang swell cukup signifikan sehingga menyamai kontribusi gelombang sea. Informasi besar tinggi gelombang dan 5-5

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

arah datang, untuk gelombang sea dan swell diberikan pada Tabel 5.3 berikut ini:

Tabel 5.3 Kisaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang untuk Gelombang Sea dan Swell di Kalimantan Tengah pada Musim Timur (Sumber: PPK-ITB, 2002) Gelombang Swell Hs(m) (Tinggi Gelombang) 0.51 θ (°) (Arah Gelombang) 326 Gelombang Sea Hs(m) (Tinggi Gelombang) 0.55 θ (°) (Arah Gelombang) 300 Gambar 5.5 Pola Sebaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang Gelombang pada Musim Barat di Perairan Kalimantan Tengah (Sumber: PPK-ITB, 2002)

2. Musim Barat Secara umum, karakteristik gelombang perairan dalam di perairan Kalimantan Tengah menguat bersesuaian dengan angin musim barat yang cenderung bertiup lebih kencang dibandingkan dengan musim timur. Tinggi gelombang signifikan di perairan Kalimantan Tengah berkisar diantara 0,75 – 2 m, dengan arah penjalaran dari barat ke timur. Gambar sebaran tinggi gelombang signifikan dan arah penjalarannya di perairan Kalimantan Tengah ditunjukkan oleh Gambar 5.5. Seperti halnya pada musim timur, hasil simulasi spektrum gelombang pada musim barat untuk lokasi / koordinat yang mewakili perairan Kalimantan Tengah mendukung pola umum karakteristik tinggi gelombang dan arah penjalarannya. Spektrum 2D Gelombang di perairan Kalimantan tengah memberikan informasi tinggi gelombang signifikan musim barat sebesar 1,11 meter, dengan arah rata-rata datang gelombang sebesar 81° (relatif terhadap utara). Bentuk Spektrum densitas energi gelombang di perairan Kalimantan Tengah diperlihatkan pada Gambar 5.6.

5-6

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

5.1.5 Temperatur Laut Berdasarkan hasil observasi (Oktober, 2002), dan penelitian yang pernah dilakukan oleh Denie (2000), temperatur air di perairan Kalimantan Tengah berkisar 25,1 – 33 ºC (lihat Tabel 5.5). Sedangkan menurut Wyrtki (1961) temperatur perairan Kalimantan Tengah dan Laut Jawa hanya berkisar 25 – 31 ºC. Jika mengacu kepada SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 tentang baku mutu air yang direkomendasikan untuk kegiatan budidaya dan konservasi laut, maka perairan Kalimantan Tengah mempunyai kisaran temperatur yang cukup baik. Kondisi kisaran temperatur tersebut akan mendukung kehidupan organisme air, dimana temperatur optimum untuk
Gambar 5.6 Spektrum Perairan Kalimantan Tengah (3°0’10” LS - 113°28’48” BT) pada Musim Barat (Sumber: PPK, 2000)

fotosistesis tumbuhan air adalah berkisar 25 – 35 ºC (Sheridan dan Ulik, 1976 dalam Denie, 2000).

Pada musim barat peran gelombang swell dan sea cukup berimbang kontribusinya membentuk gelombang perairan dalam di perairan Kalimantan Tengah. Informasi besar tinggi gelombang dan arah datang, untuk gelombang sea dan swell pada musim barat diperlihatkan pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4 Kisaran Tinggi Gelombang dan Arah Datang untuk Gelombang Sea dan Swell di Perairan Kalimantan Tengah pada Musim Barat (Sumber: PPK-ITB, 2002) Gelombang Swell Hs(m) (Tinggi Gelombang) 0.73 θ (°) (Arah Gelombang) 51 Gelombang Sea Hs(m) (Tinggi Gelombang) 0.84 θ (°) (Arah Gelombang) 100

5.1.6 Kecerahan Perairan Berdasarkan hasil observasi (Oktober, 2002), dan penelitian yang pernah dilakukan oleh Denie (2000), kecerahan di perairan Kalimantan Tengah berkisar 40 – 150 centimeter (lihat Tabel 5.6). Jika mengacu kepada SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 tentang baku mutu air yang direkomendasikan untuk kegiatan budidaya dan konservasi laut, maka perairan Kalimantan Tengah mempunyai kisaran kecerahan perairan yang cukup jauh dari yang telah direkomendasikan. Tetapi kondisi kisaran kecerahan perairan tersebut masih cukup mendukung kehidupan organisme ikan, dimana kecerahan perairan rata-rata yang optimum dibutuhkan ikan adalah 45 centimeter (Anonim, 1993 dalam Denie, 2000).

5-7

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 5.5 Temperatur air di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Temperatur Air (ºC) 1. 2. Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Lupak dalam (Sungai Kapuas) (03o16’56,3‘’ LS & 114o08’33,2‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT) Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) 30,1 29,5 Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Denie (2000) Hasil Observasi (Oktober 2002) 1. 2. No.

Tabel 5.6 Kecerahan air di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Nama Lokasi Perairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Lupak dalam (Sungai Kapuas) (03o16’56,3‘’ LS & 114o08’33,2‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 6. Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT) 47,5 – 65,5 Kecerahan Perairan (centimeter) 50 40 Sumber Data Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Denie (2000)

No.

Nama Lokasi Perairan & Koordinat

Sumber Data

3. 4.

29,6 28,5

3. 4.

50 50

5. 6. 7.

25,1 28 - 33 31,2

5.

150

7.

Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT)

100

Hasil Observasi (Oktober 2002)

Catatan: Baku mutu temperatur air untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota laut berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 adalah alami.

Catatan: Baku mutu kecerahan perairan untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota laut berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 adalah 300 - 1000 centimeter.

5-8

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

5.1.7 Padatan Total Tersuspensi (TSS) dan Kekeruhan Perairan Berdasarkan pengukuran TSS dan Kekeruhan di beberapa lokasi perairan Kalimantan Tengah, diketahui bahwa kandungannya di sungai dan pantai berturut-turut berkisar 0,132 – 1,42 mg/l, dan 0 – 227 NTU atau Nephelometric Turbidity Units (lihat Tabel 5.7).

Secara umum data-data diatas menunjukkan bahwa kondisi perairan Kalimantan Tengah mempunyai kandungan material tersuspensi yang belum melebihi ambang batas yang telah direkomendasikan. Tetapi debit sungaisungai yang bermuara ke perairan Kalimantan Tengah adalah besar sehingga kondisi kekeruhan air tetap menjadi tinggi. Sehingga secara ideal perairan tersebut memang kurang baik untuk kegiatan mandi, berenang, budidaya, dan konservasi biota. Tetapi secara fenomena lapangan, belum dijumpai halhal yang merugikan kesehatan masyarakat sebagai efek dari kondisi tersebut.

Tabel 5.7. Kandungan Total Suspensi Terlarut (Total Suspended Solid) dan Kekeruhan di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah No. 1. 2. 3. 4. Nama Lokasi Perairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 5. Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) Catatan: Baku mutu kandungan TSS perairan berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep02/MENKLH/1988 adalah < 30 mg/l untuk kegiatan mandi dan renang, < 80 mg/l untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota Baku mutu Kekeruhan perairan berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep02/MENKLH/1988 adalah < 23 NTU untuk kegiatan mandi dan renang, < 30 NTU untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota 0,132 140 TSS (mg/l) 0,178 1,42 0,266 0,174 Kekeruhan (NTU) 130 227 110 0

5.2 PARAMETER KIMIA PERAIRAN Parameter kimia air penting untuk diketahui karena merupakan komponen penting dalam habitat bagi organisme, media budidaya, dan berhubungan dengan aktivitas manusia di sekitarnya. 5.2.1 Salinitas Perairan Berdasarkan pengukuran salinitas di beberapa lokasi perairan pesisir

Kalimantan Tengah, diketahui bahwa salintas sungai dan pantai berkisar 0 – 0,31 ‰ (lihat Tabel 5.8). Hal ini dimungkinkan oleh surutnya kondisi air pada saat pengukuran dilakukan, dimana debit air sungai (tawar) lebih kuat menuju ke arah laut.

5-9

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 5.8 Salinitas air di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah No. 1. 2. 3. 4. Nama Lokasi Perairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 5. Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) Catatan: Baku mutu salinitas air untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota laut berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 adalah ± 10 % alami. 0,31 Salinitas Air (‰) 0,09 0,00 0,22 0,19 Sumber Data Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002)

mengacu kepada SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 tentang baku mutu air yang direkomendasikan untuk kegiatan budidaya dan konservasi, dan baku mutu yang direkomendasikan untuk budidaya pertambakan oleh BBAP Jepara, perairan Kalimantan Tengah mempunyai kisaran derajat keasaman yang cukup baik, kecuali jika sudah memasuki wilayah perairan Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan ke arah hulu).

5.2.3 Nitrat Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Denie (2000) kandungan nitrat di perairan pantai Kubu rata-rata berkisar 3,29 – 3,47 mg/l. Kisaran tersebut menunjukkan bahwa tingkat kesuburan perairan Pantai Kubu adalah sedang (Wardoyo, 1974). Berdasarkan pengukuran kandungan nitrat dan penelitian sebelumnya di beberapa lokasi perairan Kalimantan Tengah, diketahui bahwa kandungan nitrat sungai dan pantai berkisar 0,03 – 3,47 mg/l (lihat Tabel 5.10). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesuburan perairan tersebut adalah bervariasi dari kondisi yang kurang subur hingga menengah (Wardoyo, 1974).

Kondisi perairan laut Kalimantan Tengah yang merupakan bagian dari Laut Jawa mempunyai salinitas rata-rata bulanan sebesar 32,5 ‰, dengan kisaran tahunan 31,4 – 33,8 ‰. Salinitas pada musim barat (Desember - Februari) berkisar 31,8 – 32,6 ‰, pada musim peralihan barat menuju timur (Maret - Mei) berkisar 31,4 – 31,7 ‰, pada musim timur (Juni - Agustus) berkisar 31,9 – 33,3 ‰, sedangkan pada musim peralihan timur menuju barat (September November) berkisar 33,3 – 33,8 ‰ (Wyrtki, 1961). 5.2.2 Derajat Keasaman (pH) Berdasarkan hasil observasi (Oktober, 2002), dan penelitian yang pernah dilakukan oleh Denie (2000), derajat keasaman (pH) air di perairan Kalimantan Tengah berkisar 6,71 – 8,0 (lihat Tabel 5.9), kecuali hasil pengukuran di Pelabuhan Pulang Pisau yang menunjukan harga pH air sebesar 5,5. Jika

Kandungan nitrat dan fosfat terlarut di perairan ini sangat dibutuhkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhan. Dan menurut Soeseno (1974) kandungan nitrat minimum yang mampu mendukung pertumbuhan fitoplankton tersebut adalah sebesar 4 mg/l. Kisaran kandungan nitrat di perairan Kalimantan Tengah juga bisa dipertimbangkan untuk kegiatan budidaya pertambakan.

5-10

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 5.9 Derajat Keasaman (pH) air di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah Derajat Keasaman (pH) Air 1. 2. Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Lupak dalam (Sungai Kapuas) (03o16’56,3‘’ LS & 114o08’33,2‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 6. 7. Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT) Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) 8 Hasil Observasi (Oktober 2002) 6,71 – 6,99 8 5,5 Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002)

Tabel 5.10 Kandungan Nitrat di Beberapa Lokasi Perairan Peisisir Kalimantan Tengah
No. 1. 2. 3. Nama Lokasi Perairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 5. Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT) 6. Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) 1,247 Hasil Observasi (Oktober 2002) 3,29 – 3,47 Nitrat (NO3) (mg/l) 1,446 0,03 1,095 0,979 Sumber Data Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Denie (2000)

No.

Nama Lokasi Perairan & Koordinat

Sumber Data

3. 4.

7,5 8

4.

5.

7,5

Hasil Observasi (Oktober 2002) Denie (2000)

Catatan: Baku mutu kandungan nitrat terlarut untuk kegiatan budidaya tambak berdasarkan penelitian Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara adalah < 200 mg/l.

Catatan:
Baku mutu derajat keasaman (pH) air untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota laut berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 adalah 6 – 9. Baku mutu derajat keasaman (pH) air untuk kegiatan budidaya tambak berdasarkan penelitian Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara adalah 7,5 – 8,9.

5.2.4 Fosfat Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Denie (2000) kandungan fosfat di perairan pantai Kubu rata-rata berkisar 0,343 – 0,835 mg/l. Kisaran tersebut menunjukkan bahwa tingkat kesuburan perairan Pantai Kubu adalah tinggi, berdasarkan parameter kimia kandungan fosfat (Joshimura dalam Supangat, dkk., 2001).

Gambar 5.7 Bahan-bahan Kimia Untuk Keperluan Analisa Nitrat dan Fosfat (Sumber: Supangat, dkk., 2001)

Berdasarkan pengukuran kandungan fosfat dan penelitian sebelumnya di beberapa lokasi perairan pesisir Kalimantan Tengah, diketahui bahwa kandungan nitrat sungai dan pantai berkisar 0,031 – 0,835 mg/l (lihat Tabel 5-11

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

5.11). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesuburan perairan tersebut adalah bervariasi dari kondisi yang kurang subur hingga tinggi (Joshimura dalam Supangat, dkk., 2001).

5.2.5 Oksigen Terlarut Berdasarkan hasil observasi (Oktober, 2002), dan penelitian yang pernah dilakukan oleh Denie (2000), kandungan oksigen terlarut (dissolved oxygen atau DO) di perairan Kalimantan Tengah berkisar 5,10 – 7,20 mg/l (lihat Tabel 5.12). Jika mengacu kepada SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 tentang baku mutu air yang direkomendasikan untuk kegiatan budidaya dan konservasi, dan baku mutu yang direkomendasikan untuk budidaya pertambakan oleh BBAP Jepara, perairan Kalimantan Tengah mempunyai kisaran kandungan oksigen yang cukup baik. Tetapi jika kisaran kandungan oksigen terlarut tersebut dikaitkan dengan kondisi kesuburan perairan, maka perairan pantai Kalimantan tengah adalah kurang produktif (Banarjea, 1967 dalam Basmi, 1988). Hal ini terjadi kemungkinan karena kandungan karbondioksida (CO2) yang terlarut dalam air adalah cukup tinggi sehingga menyebabkan terjadinya proses dekomposisi intensif, dan kurangnya jumlah populasi fitoplankton yang mengkonsumsi gas CO2 terlarut tersebut (Torang, 1996 dalam Denie, 2000). Kurang produktifnya perairan pesisir (kandungan oksigen terlarut yang sedikit) selain disebabkan tingginya kadar CO2, secara lebih nyata diakibatkan oleh tingginya kandungan BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand). Berdasarkan pengukuran kandungan oksigen yang digunakan untuk proses biologis (BOD) dan kimiawi (COD) di beberapa lokasi perairan Kalimantan Tengah, diketahui bahwa kandungan BOD dan COD sungai dan pantai berturut-turut berkisar 2,50 – 13,90 mg/l (lihat Tabel 5.3 dan Tabel 5.4). Secara umum kandungan BOD dan COD tersebut masih jauh dari ambang batas yang ditetapkan untuk kegiatan mandi, berenang, budidaya perairan, dan konservasi biota. Tingginya kandungan BOD di perairan tersebut bisa dimaklumi karena hampir semua wilayah DAS (Daerah Aliran Sungai) adalah daerah pemukiman 5-12

Tabel 5.11 Kandungan Fosfat di Beberapa Lokasi Perairan Pesisir kalimantan Tengah No. 1. 2. 3. 4. Nama Lokasi Perairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 5. Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT) 6. Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) Catatan: Baku mutu kandungan fosfat terlarut untuk kegiatan budidaya tambak berdasarkan penelitian Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara adalah < 0,2 mg/l. 0,047 Hasil Observasi (Oktober 2002) 0,343 – 0,835 Fosfat (PO4) (mg/l) 0,031 0,278 0,049 0,039 Sumber Data Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Denie (2000)

Kandungan nitrat dan fosfat terlarut di perairan ini sangat dibutuhkan oleh fitoplankton untuk pertumbuhan. Dan menurut Soeseno (1974) kandungan fosfat minimum yang mampu mendukung pertumbuhan fitoplankton tersebut adalah sebesar 1 mg/l. Kisaran kandungan fosfat di perairan Kalimantan Tengah juga bisa dipertimbangkan untuk kegiatan budidaya pertambakan.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

penduduk yang menghasilkan limbah rumah tangga, dan beberapa lokasi ke arah hulu dijadikan area budidaya keramba apung yang juga menghasilkan limbah organik. Sedangkan tingginya COD dimungkinkan karena wilayah sungai dan rawa yang ada merupakan tanah gambut, dan di beberapa tanah di sekitar hulu dan jeram sungai mengandung mineral. Dimana areal bermineral tersebut digunakan untuk kegiatan tambang emas tradisional yang mencemari air sungai.

Tabel 5.12 Kandungan Oksigen Terlarut di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah
Kandungan Oksigen Terlarut (mg/l) (03o21’19,1‘’ 5,64 5,76 5,14 5,80 6,94

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Nama Lokasi Perairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) LS & 114o14’59,1‘’ BT)

Sumber Data Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Denie (2000)

Gambar 5.8 Pengambilan Sampel Air Untuk Keperluan Analisa Plankton (Sumber: PPK-ITB, 2002). Tabel 5.13 Kandungan Oksigen yang Digunakan untuk Proses Biologis (Biological Oxygen Demand) di Beberapa Lokasi Perairan Pesisir Kalimantan Tengah No. 1. 2. Nama Lokasi Peairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 5. Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) Catatan: Baku mutu kandungan BOD perairan berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep02/MENKLH/1988 adalah < 40 mg/l untuk kegiatan mandi dan renang, < 45 mg/l untuk kegiatan budidaya, < 80 untuk konservasi biota. 2.50 BOD (mg/l) 13,90 10,81 Sumber Data Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002)

Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Lupak dalam (Sungai Kapuas) (03o16’56,3‘’ LS & 114o08’33,2‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT)

6.

Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT)

5,10 – 7,20

3.

4,90

7.

Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) Catatan:

6,99

Hasil Observasi (Oktober 2002)

4.

8,50

Baku mutu kandungan oksigen terlarut untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 adalah > 4 mg/l. Baku mutu kandungan oksigen terlarut untuk kegiatan budidaya tambak berdasarkan penelitian Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara adalah 4 – 8 mg/l.

5-13

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 5.14 Kandungan Oksigen yang Digunakan untuk Proses Kimiawi (Chemical Oxygen Demand) di Beberapa Lokasi Perairan Pesisir Kalimantan Tengah No 1. Nama Lokasi Perairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 5. Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) Catatan: Baku mutu kandungan COD perairan berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep02/MENKLH/1988 adalah< 40 mg/l untuk kegiatan mandi dan renang, < 80 mg/l untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota 47,61 COD (mg/l) 47,17 Sumber Data Hasil Observasi (Oktober 2002) 41,57 Hasil Observasi (Oktober 2002) 49,36 Hasil Observasi (Oktober 2002) 47,61 Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002)

Tabel 5.15. Kandungan Logam Berat Terlarut di Beberapa Lokasi Perairan Pesisir Kalimantan Tengah (Sumber: Hasil Observasi, 2002) No. 1. 2. Nama Lokasi Perairan & Koordinat Batanjung (Muara Sungai Kapuas) (03o21’19,1‘’ LS & 114o14’59,1‘’ BT) Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 5. Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) Catatan: Baku mutu kandungan logam berat di perairan berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 : untuk kegiatan mandi dan renang: Pb < 0,050; Cu < 1,000. untuk kegiatan budidaya: Pb < 0,060; Cu < 0,010. untuk konservasi biota: Pb < 0,075; Cu < 0,060. Baku mutu kandungan logam berat untuk sumber air berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 : untuk keperluan air minum langsung tanpa pengolahan: Fe < 1,000; Mn < 0,500; Pb < 0,100; Cu < 1,000. untuk bahan baku untuk diolah sebagai air minum: Fe < 5,000; Mn < 0,500; Pb < 0,100; Cu < 1,000. untuk keperluan pertanian, industri dan listrik tenaga air: Fe < 2,000; Pb < 0,200; Cu < 1,000. 0,006 0,840 0,650 0,041 Mn (mg/l) 0,000 0,007 Fe (mg/l) 0,460 1,725 Pb (mg/l) 0,173 0,024 Cu (mg/l) 0,025 0,009

2.

3.

3.

0,041

0,917

0,691

0,041

4.

4.

0,011

1,564

0,931

0,063

5.2.6 Logam berat Keberadaan logam berat di perairan sangat penting untuk diperhatikan, sebab peningkatan konsentrasi logam berat dalam air laut akan diikuti oleh peningkatan logam berat dalam tubuh ikan dan organisme lainnya, dan apabila organisme tersebut dikonsumsi oleh manusia maka akan membahayakan kesehatan. Secara lebih detail hal ini dilihat dari nilai kisaran kandungan beberapa logam berat di perairan.

5-14

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Secara umum sebenarnya perairan Kalimantan Tengah jika dilihat kandungan timbal (Pb) dan tembaga (Cu) – nya adalah kurang baik kondisinya untuk kegiatan mandi, berenang, dan budidaya perikanan. Tetapi untuk kegiatan konservasi biota perairan masih bisa dipertimbangkan. Sejauh ini masih belum terdeteksi adanya penyakit-penyakit tertentu efek dari akumulasi kandungan logam berat (biomagnifikasi) pada biota, dan penduduk setempat. Sedangkan air di beberapa lokasi sungai (S. Kapuas, S. Kumai, S. Kahayan, dan S. Seruyan) secara umum untuk keperluan sumber air minum dan rumah tangga perlu dipertimbangkan untuk diolah terlebih dahulu karena kadar logam Besi (Fe) terlarut yang cukup tinggi, ditambah lagi kadar logam-logam lain (Mangan (Mn), Timbal (Pb), Tembaga (Cu) yang menambah kekomplekan unsur kimia air. 5.3 PARAMETER BIOLOGI PERAIRAN Parameter biologi perairan penting untuk diketahui karena berhubungan dengan produktivitas primer yang mendukung aktivitas bagi organisme laut di alam, dan kegiatan budidaya di daerah pesisir.

Kisaran indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi fitoplankton di perairan Kalimantan Tengah berturut-turut adalah 0,878 – 3,205, 0,264 – 0,894, 0,130 – 0,734 (lihat Tabel 5.17). Indeks-indeks tersebut mengindikasikan bahwa perairan pantai Kalimantan Tengah secara umum mempunyai keanekaragaman spesies fitoplankton bervariasi dari rendah ke arah cukup tinggi (indeks keanekaragaman hingga mendekati 3,32), hal ini dibuktikan dengan tidak adanya dominansi suatu spesies tertentu (0 < indeks dominansi < 1). Adapun macam genera atau spesies fitoplankton yang ditemukan di perairan Kalimantan Tengah dapat dilihat pada Tabel 5.18.

Tabel 5.16 Kelimpahan Fitoplankton di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah No. 1. Nama Lokasi Perairan & Koordinat Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) 4. 5. Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT) Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) Catatan: Baku mutu kelimpahan fitoplankton untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota laut berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 adalah tidak blooming. Kelimpahan algae dikategorikan Blooming jika melebihi 15.000.000 individu/liter (Wetlands, 2000). 442 - 905 752 - 217 Hasil Observasi (Oktober 2002) 54 - 144 Kelimpahan Fitoplankton (individu/liter) 11940 - 13980 Sumber Data Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Noor (2000)

2.

472 - 507

3.

5.3.1 KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON Berdasarkan hasil observasi (Oktober, 2002), dan penelitian yang pernah dilakukan oleh Noor (2000), kelimpahan fitoplankton di perairan Kalimantan Tengah berkisar 54 hingga 13980 individu/liter (lihat Tabel 5.16). Jika mengacu kepada SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 tentang baku mutu air yang direkomendasikan untuk kegiatan budidaya dan konservasi laut, maka perairan Kalimantan Tengah mempunyai kisaran kelimpahan fitoplankton yang sangat jauh dari kategori blooming. Kisaran tersebut lebih cenderung mengindikasikan perairan yang tingkat kesuburannya rendah atau miskin (Anonim dalam Wahyono, 2000). 5-15

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 5.17 Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi Fitoplankton di Perairan Kalimantan Tengah (Sumber: Noor, 2000; dan Hasil Observasi, 2002) INDEKS NO 1 STASIUN Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT) Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT) KEANEKARAGAMAN 0,689 – 1,300 KESERAGAMAN DOMINANSI 0,543 - 0,804

Tabel 5.18 Nama Kelas dan Genera Fitoplankton yang ditemukan di Perairan Pantai Kalimantan Tengah (Sumber: Noor, 2000; dan Hasil Observasi, 2002) NO. 1. Chlorophyceae KELAS Ceratium Closteriopsis Coscinodiscus Cosmarium sp. Crucigenia tetrapodia Dactyloccocus Docidium undulatun GENERA / SPESIES Acanthosphaera

2

0,878 - 1,227

0,264 – 0,322

0,697– 0,734

3

2,464 – 3,205

0,821 – 0,894

0,130– 0,224

Hydrodiction sp Gloeocystis gigas Microspora sp. Mougetia Nephrocytium lunatum Oocystis sp. Pachyladon sp. Planktosphaerium gelatinosa Planktosphaerium sp. Rhizocolonium Scenedesmus quadricauda Schroderia Sorastrum sp. Sphaeroplea Spyrogyra Ulothrix Ulvella involvens Uronema elongatum Volvox

4

1,038

-

0,479

5

1,422 – 1,927

0,374 – 0,608

0,250– 0,601

Gambar 5.9 Alat Spektrofotometer Untuk Menganalisa Nitrat dan Fosfat (Sumber: Supangat, dkk., 2001)

5-16

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

4. 2. Bacillariophyceae Amphipleura dellucida Asterionella formosa Biddulphia sp. Biddulphia laevis Brebissonia boeckii Ceratoneis sp. Chaetoceros sp. Coscinodiscus ocolus iridis Coscinodiscus lacustris Coscinosira sp. Cyclotella sp. Cymbella sp. Frustulia sp. Gyrosigma sp. Hydrosera triquetra Navicula petersenii Neidium Opephora sp. Planktoniella sol Scoliopleura sp. Stephanodiscus sp. Tabelaria Thalassiottrix nitzshioides 3. Cyanophyta Holopedium sp. Microsystis Holopedium irregulare Microsystis flosaqua Oscilatoria sp. Oscilatoria limosa Oscilatoria princips Spirulina sp. 5.

Protozoa Diatomae

Chenosphaera compacta Phacus sp. Amphiprora Bacteriastrum sp. Liemphora sp. Nitzachia sp. Surirella sp. Thallassiothtix sp.

Menurut Noor (2000) populasi fitoplankton di perairan Pantai Kubu pola penyebarannya bersifat mengelompok, hal ini ditandai dengan perbedaan jumlah kelimpahan masing-masing genera pada lapisan perairan bagian permukaan, tengah, dan mendekati dasar laut. Penyebaran tersebut dipengaruhi oleh pola arus dan gelombang yang terjadi di perairan pantai Kubu yang masih merupakan wilayah estuari Sungai Kumai, dimana dinamika antar lapisan air di estuari tersebut sangat nyata.

Gambar 5.10 Contoh Organisme Fitoplankton yang Ditemukan di perairan Kalimantan Tengah. Searah Jarum Jam dimulai Dari Kiri Atas: Microspora quadratamoena, Sphaeroplea sp., Volvox, Tabellaria fenestrata (Sumber: Dari Berbagai Sumber, 2002)

5-17

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

5.3.2 Kelimpahan dan Keanekaragaman Zooplankton Berdasarkan hasil observasi (Oktober, 2002), dan penelitian yang pernah dilakukan oleh Wahyono (2000), kelimpahan zooplankton di perairan Kalimantan Tengah berkisar 2 hingga 166 individu/liter (lihat Tabel 5.19). Jika mengacu kepada SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 tentang baku mutu air yang direkomendasikan untuk kegiatan budidaya dan konservasi laut, maka perairan Kalimantan Tengah mempunyai kisaran kelimpahan zooplankton yang sangat jauh dari kondisi blooming.

atau mengelompok (Soegianto, 1994 dalam Wahyono, 2000). Walaupun zooplankton mempunyai kemampuan berenang, penyebaran zooplankton seperti hal-nya dengan penyebaran fitoplankton adalah dipengaruhi oleh pola arus dan gelombang yang terjadi di perairan Pantai Kubu yang masih merupakan wilayah estuari Sungai Kumai, dimana dinamika antar lapisan air di estuari tersebut sangat nyata.

Tabel 5.19 Kelimpahan Zooplankton di Beberapa Lokasi Perairan Kalimantan Tengah

Kisaran indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi zooplankton di perairan Kalimantan Tengah berturut-turut adalah 0,041 – 2,287, 0,919, dan 0,232 – 0,9999 (lihat Tabel 5.20). Indeks-indeks 0,857 – tersebut

No. 1.

Nama Lokasi Perairan & Koordinat Pelabuhan Pulang Pisau (Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT) Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT)

Kelimpahan Zooplankton (individu/liter) 2-4

Sumber Data Hasil Observasi (Oktober 2002) HasilObservasi (Oktober 2002) Hasil Observasi (Oktober 2002) Noor (2000) Hasil Observasi (Oktober 2002)

mengindikasikan bahwa perairan pantai Kalimantan Tengah secara umum mempunyai keanekaragaman spesies zooplankton yang rendah (indeks keanekaragaman < 3,32), hal ini dibuktikan dengan adanya dominansi suatu spesies tertentu (indeks dominansi mendekati 1). Adapun macam filum dan genera zooplankton yang ditemukan di perairan Kalimanatan Tengah dapat dilihat pada Tabel 5.21.

2.

18 - 42

3. 4. 5.

14 92 - 166 16 - 22

Menurut Wahyono (2000) populasi zooplankton di perairan Pantai Kubu pola penyebarannya bersifat mengelompok, hal ini ditandai dengan nilai indeks Morisita hasil perhitungan terhadap sampel penelitian yang dilakukan adalah berkisar 1,190 – 2,081 atau lebih besar dari satu. Secara fenomena alam pengelompokan tersebut ditandai oleh perbedaan jumlah kelimpahan masing-masing genera pada lapisan perairan bagian permukaan, tengah, dan mendekati dasar laut. Di perairan secara alami jarang terjadi pola penyebaran yang seragam, yang umum adalah pola penyebaran yang acak

Catatan: Baku mutu kelimpahan zooplankton untuk kegiatan budidaya dan konservasi biota laut berdasarkan SK Menteri KLH No. Kep-02/MENKLH/1988 adalah tidak blooming.

5-18

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 5.20 Indeks Keanekaragaman, Keseragaman, dan Dominansi Zooplankton di Perairan Kalimantan Tengah (Sumber: Wahyono, 2000; dan Hasil Observasi, 2002) INDEKS NO. STASIUN KEANEKARAGAMAN 0.041 KESERAGAMAN DOMINANSI 0,9999

Tabel 5.21 Nama Filum dan Genera Zooplankton yang ditemukan di Perairan Kalimantan Tengah (Sumber: Wahyono, 2000; dan Hasil Observasi, 2002) NO. 1. FILUM Arthropoda Camtocercus Cheoborus Chironomus Diaptomus Elliptera Eurycercus 2. Copepoda Cyclops Laophontidae Mesocyclops Microseteilla gracilis FILUM / GENERA

1

Pelabuhan Pulang Pisau(Sungai Kahayan) (02o45’52,0‘’ LS & 114o15’1,8‘’ BT) Kuala Pembuang (Muara Sungai Seruyan) (03o24’27,9‘’ LS & 112o33’33,0‘’ BT) Sungai Kumai (02o46’26,8‘’ LS & 111o42’50,9‘’ BT) Pantai Kubu (2o51’28,2‘’ LS & 111o42’04,4‘’ BT) Pantai Sei Bakau (02o59’19,3‘’ LS & 111o35’31,4‘’ BT)

2.

1,359 – 2,287

0,857 – 0,885

0,232– 0,421

3.

1,457

0,919

0,389 3. 4. Nematoda Rotatoria

Nauplii Trapocyclops Tylenchus Brachionus Keratella Ploesoma Rotaria 5. 6. Rotifera Protozoa Hexarthra graziliensis Polyanthra vulgaris Colpoda Cyttarocylis conica Euchalanis Euplotes Tokophrya Urostyla 7. Ciliata Nauplius sp.

4.

1,205 – 1,925

-

0,9994–0,9999

5.

0,918 - 2,036

0,877 – 0,918

0,279– 0,555

Gambar 5.11 Mikroskop Untuk Melihat Plankton Saat Proses Identifikasi dan Penghitungan Kelimpahan (Sumber: Supangat, dkk., 2001)

5-19

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

vertikal (upward velocity). Hasil simulasi model dari pola pergerakan daerah upwelling di perairan Kalimantan Tengah dapat diuraikan, sebagai berikut: Bulan Februari (Musim Barat), Bulan Mei (Musim Peralihan I), Bulan Agustus (Musim Timur), Bulan November (Musim Peralihan II).

1. Februari Hasil model memperlihatkan bahwa di daerah penelitian (perairan Pantai Selatan Kalimantan Tengah), terlihat adanya beberapa daerah upwelling. Daerah upwelling dengan intensitas yang cukup signifikan terlihat berada di Tanjung Siamok dan Tanjung Buaya, yang memanjang ke arah selatan (ke Laut Jawa), lihat Peta Arus Permukaan dan Potensi Upwelling Bulan Februari. 2. Mei Pada bulan Mei, daerah upwelling berpindah ke barat, di selatan
Gambar 5.12 Contoh Organisme Zooplankton yang Ditemukan di Perairan Kalimantan Tengah. Berturut-turut dari Baris 1 (dari Kiri ke Kanan) Dilanjutkan Baris Berikutnya: Brachionus sp., Cheuborus sp., Colpoda sp., Diaptomus sp., Euplotes sp., Eurycercus sp., Keratella sp., Ploesoma sp., Rotaria sp., Tokophrya mollis, Urostyla sp. (Sumber: Dari Berbagai Sumber, 2002)

Teluk Kotawaringin dan Teluk Kumai dengan intensitas yang lemah. Tetapi di antara Teluk Sampit dan Teluk Sebangan terlihat intensitas upwelling yang kuat, lihat Peta Arus Permukaan dan Potensi Upwelling Bulan Mei. 3. Agustus Dari hasil model terlihat bahwa intensitas daerah upwelling di perairan sekitar selatan Teluk Kotawaringin dan Teluk Kumai semakin menguat. Di beberapa daerah lain juga terjadi upwelling, yaitu antara Teluk Sampit dan Teluk Sebangau, juga di bagian barat dan timur Tanjung Putting, akan tetapi intensitasnya tidak begitu kuat, lihat Peta Arus Permukaan dan Potensi Upwelling Bulan Agustus. 4. November Bulan ini adalah bulan peralihan musim dari monsun tenggara ke monsun barat laut. Pada bulan ini angin Timur melemah dan diganti 5-20

5.4 UPWELLING SEBAGAI INDIKATOR PERIKANAN TANGKAP Upwelling adalah gerakan massa air secara vertikal dari lapisan dalam (50 – 200 meter) ke permukaan akibat adanya divergensi (kekosongan massa) di permukaan. Daerah upwelling merupakan daerah yang subur karena gerakan massa air dari lapisan dalam banyak membawa zat-zat hara yang diperlukan untuk pertumbuhan fitoplankton yang pada gilirannya merupakan makanan zooplankton. Oleh karena itu daerah upwelling merupakan daerah yang kaya potensi perikanan tangkap. Penentuan daerah upwelling di perairan pantai Kalimantan Tengah dilakukan melalui simulasi model matematis hidrodinamika tiga dimensi. Pola upwelling dalam hal ini ditunjukkan oleh kecepatan arus

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

dengan mulai menguatnya angin Barat, yang mengakibatkan transpor massa air kembali bergerak menuju pantai. Proses ini akan mengurangi intensitas upwelling, sebagaimana terlihat dalam model, yaitu intensitas upwelling yang lemah hampir di seluruh perairan Kalimantan Tengah, lihat Peta Arus Permukaan dan Potensi Upwelling Bulan November. Dari hasil model tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa upwelling dengan intensitas kuat di perairan pantai Kalimantan Tengah terjadi pada musim timur, yang dimulai pada bulan Mei dan kembali melemah pada bulan November. Pola ini secara umum tidak berubah dari tahun ke tahun, perubahan terjadi pada besarnya kekuatan (magnitudo) upwelling.

Pola curah hujan di Indonesia ditentukan oleh dua angin musim. Angin musim tenggara atau musim kering (Mei – Oktober) dan angin musim barat laut atau musim basah (November – April). Dari Mei sampai Oktober matahari melintasi Indocina dan Cina bagian selatan, dan suatu sabuk dengan tekanan rendah berkembang di atas daratan Asia yang panas. Angin yang membawa hujan bertiup ke arah utara dari daerah yang bertekanan tinggi di atas Australia dan Samudera India. Angin ini menyerap kelembaban sambil melintasi lautan yang luas. Ketika mencapai pulau-pulau di Kawasan Sunda Besar dan daratan Asia, angin naik ke atas karena harus melintasi jajaran bukit dan gunung. Sambil naik udara menjadi lebih dingin dan kelembabannya turun menjadi titik-titik hujan. Hujan musim yang sangat lebat jatuh di atas India dan Cina bagian selatan dan curah hujan rendah jatuh di di pulau-pulau Dangkalan Sunda, termasuk Kalimantan (MacKinnon, dkk., 2000).

5.5 IKLIM DAN CUACA Kondisi iklim di wilayah pesisir Kalimantan Tengah tidaklah lepas dari pengaruh iklim Laut Jawa yang mempunyai laju presipitasi (curah hujan) sebesar 159 cm/tahun dan laju evaporasi (penguapan) sebesar 111 cm/tahun. Kemudian total kapasitas radiasi sinar matahari yang efektif menyinari Laut Jawa adalah 258 cal/cm2/hari, dan energi yang digunakan untuk evaporasi sebesar 181 cal/cm2/hari (Wyrtki, 1961). Kalimantan terletak di khatulistiwa dan memiliki iklim tropis dengan suhu relatif konstan sepanjang tahun, yaitu antara 25˚ - 35˚ C di dataran rendah. Tipe vegetasinya tidak hanya ditentukan oleh jumlah curah hujan tahunan tetapi juga oleh distribusi curah hujan sepanjang tahun. Dataran rendah di sepanjang garis khatulistiwa yang mendapatkan curah hujan minimum 60 mm setiap bulan dapat mendukung hutan yang selalu hijau (Holdridge, 1967 dalam MacKinnon, dkk., 2000). Semua bagian Kalimantan terletak pada daerah yang basah sepanjang tahun.

Dari Oktober sampai Maret matahari melintas bagian selatan garis khatulistiwa. Asia tengah sangat dingin dan daerah yang panas bertekanan rendah sekarang berada di bagian selatan Benua Australia. Angin musim bertiup dari daerah yang bertekanan tinggi di atas Samudera India. Udara dingin ini bertemu di tempat udara panas, dan pada musim ini hujan yang lebat terjadi di atas seluruh Dangkalan Sunda, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Pulai Irian (MacKinnon, dkk., 2000). Kalimantan hanya memiliki sedikit bulan basah dengan curah hujan kurang dari 200 mm. Angin musim barat laut (November – April) pada umumnya lebih basah daripada angin musim tenggara, tetapi beberapa daerah pesisir menunjukkan pola curah hujan bimodal. Kalimantan dapat dibagi menjadi lima zona agroklimat. Sebagian besar daerah perbukitan yang tinggi menerima curah hujan 2000-4000 mm setiap tahun. Sebagian besar daerah wilayah Kalimantan masuk ke dalam kawasan paling basah (Oldeman, dkk., 1980 dalam MacKinnon, dkk., 2000). Tidak seperti Sumatera, di Kalimantan tidak 5-21

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

ada gunung-gunung di daerah pesisir yang mempengaruhi curah hujan, walaupun beberapa gunung yang pendek mempengaruhi curah hujan lokal, terutama di Kalimantan bagian timur. Kalimantan Tengah dan Barat adalah kawasan paling basah, sementara bagian-bagian di pesisir timur jauh lebih kering. Angin musim barat laut mencapai Kalimantan Barat pada bulan AgustusSeptember dan kemudian musim hujan berlangsung sampai bulan Mei; curah hujan sangat tinggi terutama pada bulan November dan yang kedua pada bulan April. Dari bulan Juni sampai Agustus, iklim relatif lebih kering tetapi tidak ada bulan yang curah hujannya kurang dari 100 mm. Di Kalimantan Tengah dan Selatan, curah hujan umumnya tinggi di daerah utara daripada di daerah pesisir. Hal ini terjadi karena pengaruh angin musim tenggara jauh lebih besar daripada yang terjadi di Kalimantan Barat. Bulan kering terjadi dari bulan Juli sampai September terutama di daerah-daerah bayang-bayang hujan di bagian barat pegunungan Meratus, misalnya di Martapura. Namun musim kemarau di sini masih tidak sekering di Jawa dan Nusa Tenggara (MacKinnon, dkk., 2000). Kalimantan Tengah adalah termasuk daerah yang tidak jauh lebih kering dibandingkan daerah-daerah pesisir di Kalimantan Timur dan bagian timur Sabah. Hal ini terjadi karena pengaruh angin musim barat laut jauh lebih lemah karena hampir semua hujan jatuh di pegunungan bagian tengah dari Kalimantan. Bahkan selama musim penghujan, curah hujan relatif lebih rendah dan sering kurang dari 200 mm/bulan. Tidak ada musim kemarau yang khusus karena angin musim tenggara yang melintasi laut terbuka, juga membawa hujan ke daerah ini (MacKinnon, dkk., 2000).

Walaupun pola iklim Kalimantan secara umum bercirikan curah hujan yang tinggi, periode kemarau yang pendek sepanjang tahun berperanan penting dalam kehidupan tumbuhan dan mempengaruhi pola pembungaan dan pembuahan pada tumbuhan. Hanya kadang-kadang saja musim kemarau berlangsung agak lama. Pada tahun 1982-1983 di Kalimantan terjadi musim kemarau yang berkepanjangan, yang terjadi lagi pada tahun 1987 dan 1990. Musim kemarau yang panjang ini terjadi secara berkala dalam sejarah Kalimantan, dan mungkin berkaitan dengan osilasi El-Niño di bumi bagian selatan (Leighton dan Wirawan, 1986 dalam MacKinnon, dkk., 2000). Keadaan pada musim kemarau dapat berdampak berat pada vegetasi alami. Musim kemarau panjang yang terjadi tahun 1982-1983 menyebabkan kematian semua tumbuhan berkayu di beberapa tempat, khususnya hutan-hutan pegunungan atas yang tanahnya dangkal, dan lima tahun kemudian masih banyak yang belum pulih kembali. Pada waktu kebakaran yang terjadi pada tahun 1982-1983, api dan kemarau panjang menghanguskan 3,6 juta hektar hutan di Kalimantan Timur dan hampir 1 juta hektar hutan di Sabah. Namun musim kemarau yang berkepanjangan juga berperan penting dalam membentuk ekosistem hutan di Kalimantan, karena kondisi kering merangsang terjadinya pembungaan massal dan pembuahan pada jenis-jenis Dipterocarpaceae (MacKinnon, dkk., 2000).

5-22

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

6.1 EKOSISTEM PERAIRAN Ekosisitem pesisir Kalimantan Tengah secara umum terdapat di daerah estuaria, perairan pantai dan laut dangkal, serta hutan rawa. Dimana ekosistem perairannya terdiri atas ekosistem mangrove, dan padang lamun. Kondisi perairannya yang mempunyai tingkat kekeruhan cukup tinggi mengakibatkan ekosistem terumbu karang tidak dapat hidup di wilayah ini. Akan tetapi untuk ekosistem mangrove (bakau dan nipah) dan hutan rawa sangat subur dan berfungsi sebagai habitat yang baik bagi beberapa fauna khas di wilayah ini. 6.2 MANGROVE Hutan mangrove adalah nama kolektif untuk vegetasi pohon yang menempati pantai berlumpur di dalam wilayah pasang surut, dari tingkat air pasang tertinggi sampai tingkat air surut terendah. Ekosistem mangrove dapat dibedakan dalam tiga tipe utama, bentuk pantai/delta, bentuk muara sungai/laguna, dan bentuk pulau. Ketiga tipe tersebut terwakili di Kalimantan secara umum, terutama di Kalimantan Tengah.

akan udang-udangan yang besar dan moluska, juga merupakan tempat yang penting untuk memijah dan pembibitan bagi udang dan banyak jenis ikan pelagis bernilai komersial penting. Dilihat dari sebarannya, hutan mangrove wilayah pesisir dan laut Kalimantan Tengah terdapat di Kabupaten Kapuas, di Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kabupaten Kotawaringin Barat. Luas hutan mangrove yang ada di Propinsi Kalimantan Tengah diperkirakan seluas kurang lebih 346.540 ha tersebar di sepanjang pantainya (Sumber: diolah dari berbagai sumber). Sedangkan data pada tahun 2000, memperlihatkan adanya tekanan terhadap hutan mangrove (lihat Tabel 6.1). Kawasan tersebut tersebut ada yang dikelola oleh pemilik HPH (Hak pengguna Hutan), dan oleh masyarakat pesisir guna pembukaan tambak. Tetapi pada umumnya pembukaan tambak dilakukan pada hutan mangrove di bagian darat yang telah hilang fungsinya sebagai pelindung pantai dari aberasi (baca lebih lanjut di Sub-bab 6.7 Fungsi dan Manfaat Habitat Utama, bagian Flora, alinea ke-7).

Tabel 6.1 Hutan Bakau di Kalimantan Tengah (Sumber: MacKinnon, dkk., 2000)

Ada tiga tipe akar yang biasa dijumpai pada hutan Mangrove yaitu akar lutut, akar nafas, dan akar tunjang. Jenis hutan mangrove (bakau) yang ditemukan di kesisir Kalimantan Tengah dapat dilihat pada Tabel 6.2. Secara tidak langsung atau tidak langsung, hutan mangrove melindungi dan menyediakan makanan bagi berbagai komunitas binatang, termasuk burung-burung pantai dan banyak organisme laut. Hutan mangrove mempunyai fauna yang kaya 6-1
(ha)

Hutan Bakau dan Nipah Luas Asal Sisa (ha) Dilindungi (ha)

Hutan Bakau saja Diusulkan (ha) Sisa (ha) HPH (ha)

950.000

750.000

1.000

170.000

266.800

143.000

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 6.2 Jenis Hutan Bakau di Kalimantan Tengah (Sumber: MacKinnon, dkk., 2000)
Suku Jenis Khusus di Hutan Mangrove Avicenniaceae Avicennia alba A.marina A.officinalis. Cmbretaceae Lumnitzera littorea L.racemosa Euphorbiaceae Flacourtiaceae Meliaceae Excoecaria agallocha Scolopia macrophylla Xylocarpus grantum X.moluccensis Myrsinaceae Mystaceae Palmae Rhizophoraceae Aegiceras corniculatum Osbornia octodonta Nypa fruticans Bruguiera cylindrica B.gymnorrhiza B.sexangula Ceriops decandra C.tagal Rhizopora apiculata R.mucronata R.stylosa Rubiaceae Rutaceae Sonnerataceae Scyphiphora hydrophyllacea Paramignya angulata Sonneratia alba S.caseolaris S.ovata Sterculiaceae Heritiera littoralis Jenis Bukan Khusus Hutan Mangrove Apocynaceae Lecythidaceae Cerbera manghas Barringtonia acutangula B.racemosa Malvaceae Thespesia populnea Hibiscus tiliaceus Palmae Tiliaceae Oncosperma tigillarium Brownlowia argentata Jenis

Gambar 6.1 Populasi Nipah di Sepanjang Sungai Kapuas (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 6.2 Pohon Mangrove di Sungai Teras (Sumber: PPK-ITB, 2002)

6-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

6.3 PADANG LAMUN Istilah rumput laut dalam bahasa Indonesia mengacu secara kolektif baik kepada tumbuhan laut yang berbunga (lamun) yang hidup di bawah permukaan air, maupun kepada ganggang bentos makroskopik (rumput laut). Tetapi secara ekologis, padang lamun disebut sebagai ilalang laut (sea grass), sedangkan rumput laut disebut sebagai ganggang atau alga laut (Sea weeds). Padang lamun didominasi oleh lamun, walaupun di antara tumbuhan ini dapat pula ditemukan ganggang laut, termasuk ganggang hijau (green algae). Lamun tumbuh pada substrat mendapat penyinaran cukup baik. Produktivitas padang lamun cukup tinggi, sebagai contoh produktivitas bersih lamun Thalassodendron ciliatum di lepas pantai Sulawesi adalah 16,4 ton/ha (Whitten, dkk., 1987), angka ini lebih tinggi daripada produktivitas kebanyakan hutan dataran rendah lainnya. Rumput laut dan ganggang yang hidup sebagai epifit pada lamun merupakan persediaan senggutan bagi duyung, penyu, jenis-jenis ikan tertentu, dan beberapa jenis landak laut yang mempunyai bakter-bakteri pencerna selulosa. Hanya 5% lamun dikonsumsi secara langsung, sisanya memasuki rantai makanan di lepas pantai sebagai bahan yang mengalami penguraian, yang menjadi makanan binatangbinatang pemakan detritus (MacKinnon, dkk., 2000). Banyak ikan dan invertebrata pada stadium dewasa dan muda menghabiskan sebagian waktu dari daur hidupnya di padang lamun, untuk mencari makan atau berlindung. Jenis-jenis komersial dan jenis-jenis yang dimakan penduduk mencakup ikan baronang, ikan biji nangka emas, dan belanak, invertebrata yang dapat dimakan misalnya kepiting, udang, kerang, dan teripang. Beberapa di antara ganggang laut yang umum terdapat di padang lamun juga dapat dimakan. Padang lamun juga merupakan tempat penangkapan 6-3 berpasir di perairan dangkal yang

ikan yang populer di Indonesia karena biasanya terdapat di pantai yang dangkal, dan kadang-kadang mudah dicapai (MacKinnon, dkk., 2000). Padang lamun juga memiliki berberapa fungsi lainnya, termasuk pemantapan cadangan pasir lepas pantai dan pengangkutan pasir karbonat secara teratur ke dalam sistem pantai yang dinamis di dekat pantai. Padang ini juga merupakan sumber ganggang laut yang mempunyai nilai komersial dan menguntungkan, terutama untuk budidaya ganggang laut. Sebagai ekosistem di perairan dangkal yang mendapat penyinaran cukup baik, ekosistem ini sangat rawan terhadap kerusakan akibat peningkatan sedimentasi, pengerukan, dan pencemaran panas dan bahan kimia, serta eksploitasi yang berlebihan. Padang lamun potensial tersebar di sepanjang perairan pantai Kalimantan Tengah.
Tabel 6.3 Jenis Lamun Yang Ditemukan di Kalimantan Tengah (Sumber: MacKinnon, dkk., 2000) Suku Jenis Potamogetonaceae Halodule uninervis H.pinifolia Cymodocea rotundata Hydrocharitaceae Enhalus acoroides Thalassia hemprichii Helophila ovalis H.decipiens H.spnulosa H.beccarii

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

6.4 ESTUARIA Estuaria adalah daerah litoral yang agak tertutup (teluk) di pantai, tempat sungai bermuara dan air tawar dari sungai bercampur dengan air asin dari laut, biasanya berkaitan dengan pertemuan perairan sungai dengan air laut. Produktivitas alami estuaria dan lautan dangkal sekitar pantai di Kalimantan menunjang perikanan pantai yang sangat kaya. Sungai-sungai besar di Kalimantan secara terus menerus membawa endapan, mineral, dan zat-zat hara ke dalam estuaria, memperbaharui bahan-bahan yang hilang untuk memelihara produktivitas yang tinggi. Produktivitas estuaria lebih dari dua kali yang didapatkan kebanyakan ekosistem darat dan dua puluh kali lebih besar daripada di samudera terbuka (Knox dan Miyabara, 1984). Produktivitas tinggi ini menjadikan zona pesisir sebagai sumber zat hara untuk perikanan komersial yang kaya di Kalimantan, baik di dekat pantai maupun jauh ke laut. Muara sungai merupakan sebagian dari daerah-daerah penangkapan ikan yang paling berharga di Indonesia selain sebagai tempat pembibitan yang penting untuk larva dan anak-anak ikan bersirip serta kerang-kerangan. 6.5 FLORA DAN FAUNA Dengan posisi geografis dan tipe topografi, daerah estuaria dan hutan rawa di pesisir Kalimantan Tengah memiliki berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang hidup subur. Berbagai jenis vegetasi komersial dan buah-buahan, merupakan kekayaan alam yang memiliki daya tarik sendiri khususnya bagi wisatawan. Jenis vegetasi tersebut antara lain: kayu lanan, ulin, meranti, ramin, gaharu buaya, blangiran durian, rambutan, cempedak, dan sebagainya (sumber: diolah dari berbagai sumber). Sedangkan berbagai jenis margasatwa (fauna) yang hidup di kawasan tersebut (terutama di Kabupaten Kotawaringin Barat) diantaranya adalah Orangutan, Owa-Owa Klasi, Banteng, Rusa, Kijang, Beruang Madu, berbagai

jenis Ular, Burung Beo, Cocak Rowo, Bekantan, Buaya, dan sebagainya (sumber: diolah dari berbagai sumber). FLORA Beberapa tipe vegetasi dapat dikenal, tapi pada umumnya membaur dengan tipe lainnya, sehingga sulit untuk dengan cepat menentukan tipe-tipe vegetasi. • Hutan Dipterocarpus Tanah Kering Tipe hutan ini merupakan tipe yang paling umum di Taman Nasional Tanjung Puting dan mencakup 40% - 50% dari keseluruhan kawasan. Tajuk pohon dapat mencapai ketinggian 30 – 40 meter. Pohon-pohon berukuran besar jarang dijumpai namun regenerasi terdapat di hampir seluruh area. Jenis pohon yang terdapat antara lain : Shorea spp, Myristica, Castanapsis, Lithonopsis, Xylopta, Campnosperma, dan Koompassia. Ulin (Eusideroxylon zwargen) terdapat di pinggir tipe hutan ini, dan di beberapa tempat terutama di bagian timur taman nasional.

Gambar 6.3 Hutan Rawa di Sepanjang Sungai Sekonyer, Kab. Kotawaringin Barat (Sumber: PPK-ITB, 2002)

6-4

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Hutan Rawa Campuran Perifer Kurang lebih 20% dari kawasan Taman Nasional Tanjung Puting diklasifikasikan sebagai hutan rawa campuran perifer. Pada tipe hutan ini terdapat banyak sekali jenis pohon dan merupakan hutan rawa yang paling kaya di daerah tropika, Terdapat 2 sub-tipe yang dominan dari hutan rawa ini. Yang dibedakan dengan terdapat/tidak terdapatnya ramin (Gonystylus bancanus). FAUNA

hutan ini menutup 5-10% kawasannya. Jenis-jenis pohon yang terdapat pada tipe ini antara lain : Dacrydium, Eugenia, Lithocarpus conocarpus, Castanopsis, Hopea, Schima¸dan Melaleuca. Pada umumnya keliling batang pohon ini tidak lebih dari 2 meter dan tajuk tidak lebih dari 20 meter.

Orangutan (Pongo pygmaeus) merupakan satwa yang unik dan khas yang • Rawa Gambut Tanah gambut dataran rendah menunjang kehadiran formasi hutan yang khas dengan flora yang agak terbatas. Rawa gambut ramin hampir terdapat di seluruh pinggiran kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, dan sebagian besar sudah rusak karena ditebang pohon raminnya. Di samping pohon ramin, rawa gambut ini dicirikan dengan kehadiran Dyera, Tetramerista, Palaquium, Campnosperma, Gauna, Mesua, Dactylocladus, dan Alstonia. Hutan rawa gambut merupakan habitat yang penting bagi bekantan. Bekantan dapat ditemukan dengan mudah di Taman Nasional Tanjung Puting, bahkan di kawasan hutan rawa yang sudah di balak. • Hutan Rawa Transisional Salah satu tipe hutan rawa yang penting yang dicirikan oleh tumbuhnya Castanopsis, Casuarina sumatrana, Schima, Tetramerista, Durio acutifolius, Eugenia, dan jenis merant yang disebut Damar Batu. Disamping itu juga terdapat banyak rotan, pandan, dan liana. • Hutan Kerangas Suatu tipe hutan dengan pohon-pohon yang berukuran pole (pancang) yang tumbuh diatas pasir putih. Di Taman Nasional Tanjung Puting, tipe 6-5 hidup hanya di pulau Kalimantan dan pulau Sumatera. Perbedaan antara Orangutan Kalimantan dan Sumatera dapat dilihat dari warna dan ukuran bulunya. Orangutan Kalimantan berwarna merah kehitaman dan bulunya kurang lebat, sedangkan Orangutan Sumatera mempunyai bulu agak merah dan bulunya agak lebat dan panjang. Keberadaan Orangutan Kalimantan di Taman Nasional Tanjung Puting sangat menonjol dan mendapat perlakuan khusus. Populasinya sekarang diperkirakan sekitar 2000 ekor, hidup di dalam kawasan hutan. Meskipun Orangutan sering berkeliaran di hutan sekunder atau lapangan terbuka, kesinambungan hidupnya sangat erat terkait dengan keberadaan hutan hujan tropis primer. Di Taman Nasional Tanjung Puting, orangutan memanfaatkan lebih dari 400 jenis makanan, kurang lebih 200 jenis adalah buah-buahan. Meskipun populasi Orangutan yang berkembang biak menempati areal yang kecil, secara individu orangutan menempati home range yang luas. Betina-betina dewasa mendiami hutan hujan tropis seluas 5-6 km secara tumpang tindih atau mungkin lebih lus lagi. Oleh karena itu, gugusan-gugusan hutan hujan tropis yang utuh (tidak terganggu) sangat penting bagi kelangsungan hidup Orangutan. Disamping itu, Orangutan adalah satwa yang cukup besar dan lamban, sehingga rapuh terhadap predasi manusia. Oleh karena itu perlindungan yang ketat merupakan hal yang sangat vital bagi mereka.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Beruk (Macca nemestriana) Monyet yang berukuran cukup besar ini jarang dijumpai di Taman Nasional Tanjung Puting. Mereka hidup dalam kelompok atau gerombolan dengan jumlah individu berkisar 10-30 ekor per kelompok, serta mendiami home range yang sangat luas yang mungkin lebih dari 50 km luasnya. Di areal atau kawasan yang berbatasan dengan tanah pertanian, beruk dapat menjadi hama yang sangat ganas dan merugikan. Meskipun monyet ini kadangkadang berkeliaran meninggalkan hutan hujan primer, areal hutan yang luas sangat penting bagi kelangsungan hidup mereka untuk jangka panjang. Penyu Hijau (Chelonia mydas) Penyu hijau diketahui bersarang di propinsi Kalimantan Tengah. Meskipun penyu adalah hewan yang dilindungi pemerintah Indonesia, tetap terdapat perdagangan penyu dan telur penyu yang memiliki penyu, baik untuk konsumsi dalam negeri dan luar negeri. Penyu hijau diketahui bersarang di sekitar wilayah Kumai. Bekantan (Nasalis larvatus) Bekantan yang juga disebut kera Belanda merupakan primata endemik Kalimantan, hidup atau dapat dijumpai hanya di pulau Kalimantan serta Pulau Laut yang letaknya sangat dekat dengan Pulau Kalimantan. Di Taman Nasional Tanjung Puting, bekantan hidup terbatas pada habitat rawa gambut dan hutan tanah kering di tepian. Pada siang hari, bekantan mencari makan sampai sejauh 1,5 km dari sungai, namun sore hari mereka berada pada beragam pepohonan di tepi sungai dan bermalam disitu sampai pagi hari. Bekantan biasanya hidup berkelompok-kelompok terdiri atas 2-23 ekor per kelompok yang setiap kelompok memiliki seekor jantan yang nampak dari ciri khasnya yaitu berbadan serta berhidung besar. Diperkirakan kawasan Taman Nasional Tanjung Puting didiami 1000 – 2000 ekor bekantan. Bekantan adalah 6-6

primata pemakan dedaunan dan buah-buahan, memakan daun-daun muda dan biji buah-buahan yang belum masak dalam porsi yang sangat banyak. Meskipun saat ini bekantan masih banyak tersebar dan mudah dijumpai di Kalimantan, jenis ini sangat tergantung pada lahan basah yang berhutan, yang terancam keberadaannya, terutama yang berada di luar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting.

Gambar 6.4 Bekantan di Taman Nasional Tanjung Puting (Sumber: Yayorin, 2002).

Kelasi atau Lutung Merah (Presbytis rubicunda) Seperti halnya bekantan, Kelasi juga endemik di pulau Kalimantan. Bersamasama dengan bekantan pula, Kelasi adalah salah satu lutung yang penyebarannya mencakup seluruh pulau. Meskipun demikian, tidak seperti bekantan, Kelasi mendiami daerah pedalaman dan kelompok-kelompoknya agak mendominasi hutan Dipterocarpus tanah kering dan habitat rawa

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

gambut. Jumlah anggota kelompok Kelasi bervariasi dari 3 sampai 10 ekor dan dengan luas home range dari 35 sampai 99 hektar. Makanan mereka sangat bervariasi terdiri atas buah-buahan serta daun-daunan. Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Habitat dari kera ekor panjang (monyet) di Taman Nasional Tanjung Puting terbatas pada hutan rawa gambut dan hutan hujan kering yang berada ditepian atau sepanjang sungai-sungai besar serta hutan nipah-bakau sepanjang pantai. Di habitat hutan rawa gambut dan hutan tanah kering mereka makan buah-buahan, sedangkan di daerah pantai mereka memakan juga kepiting atau ketam dan binatang pantai yang kecil lainnya. Satwa yang mudah beradaptasi ini hidup secara bergerombol dengan pasukan monyet jantan dan betina berjumlah sekitar 12-30 ekor per kelompok. Lutung (Presbytis cristata) Lutung kadang-kadang terlihat di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, di sekitar Tanjung Harapan dan Pondok Tanggui. Jenis primata ini merupakan jenis yang hidup di dekat/sepanjang sungai dan hutan sekunder. Meskipun lutung ada di Tanjung Puting, namun mereka jarang dapat dijumpai. Owa-Owa (Hylobates muellery) Sub jenis Owa-owa Kalimantan hidup di Taman Nasional Tanjung Puting. Secara keseluruhan, sifat adaptasi dari kerabat Owa-owa adalah sangat khas dan hampir sama sekali tidak menyerupai sifat adaptasi monyet atau kera lainnya. Dimanapun Owa-owa dijumpai, mereka secara eksklusif arboreal, mempunyai teritori di tempat yang tinggi, serta hidup dalam kelompokkelompok keluarga yang kecil terdiri atas jantan dewasa, betina dewasa, dan anak-anak yang masih bergantung pada induknya. Kepadatan populasi Owaowa di dalam hutan hujan tropis adalah rendah dengan rata-rata luas daerah 6-7

teritori 45 hektar dan variasi jumlah anggota kelompok berkisar antara 2-4 individu per-kelompok. Di samping sifat-sifatnya yang khas yaitu pemakan buah-buahan, arboreal, memiliki daerah teritori serta hidup terbatas pada hutan primer, Owa-owa juga sangat rapuh terhadap rusaknya habitat terutama karena tidak mungkin meninggalkan areal tempat tinggal/habitatnya sampai areal tersebut benar-benar rusak.

Gambar 6.5 Owa-owa di Taman Nasional Tanjung Puting (Sumber: Yayorin, 2002)

Burung Sindanglawe (Ciconia stormil) Burung Sindanglawe termasuk jenis burung yang paling penting di Taman Nasioanal Tanjung Puting, termasuk salah satu dari 20 jenis burung bangau yang paling langka di dunia serta dimasukkan dalam kategori terancam punah oleh IUCN. Dikenal sebagai burung soliter di hutan primer dan rawarawa. Sindanglawe sering terlihat sendirian maupun berkelompok, di tepian

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

sungai-sungai yang banyak terdapat di dalam kawasan. Dibanding dengan kawasan konservasi lainnya di Indonesia yang terdapat jenis burung ini, Taman Nasional Tanjung Puting termasuk yang memiliki densitas paling besar. Sifat ekologis jenis burung ini sangat mirip dengan bangau hitam yang sering memadati hutan-hutan primer di Eurasia dan daerah jelajah jenis ini sympatric dengan wooly-necked stork yang tampaknya lebih berafiliasi dengan daerahdaerah terbuka. Tidak banyak diketahui mengenai makanan Sindanglawe ini, namun dikatakan bahwa katak dan cacing termasuk dalam daftar menunya. Di luar Kalimantan dan Sumatera, jenis burung ini diketahui ada di Malaysia dan Thailand. Estimasi terakhir dari jumlah populasi jenis burung ini di Indonesia menunjukkan angka 300. Burung Rangkong (Buceros sp) Jenis burung Rangkong termasuk dalam satwa yang dilindungi, yang bentuknya sangat khas, dengan bentuk kepala yang kelihatan membawa mahkota. Di pulau Kalimantan Burung Rangkong ini disebut juga dengan Enggang yang keberadaannya sedikit diistimewakan oleh penduduk pedalaman Kalimantan (Suku Dayak) yaitu melalui acara-acara adat yang tidak sedikit menggunakan burung Rangkong tersebut. Burung Rangkong sering terlihat hinggap di pohon-pohon yang tinggi di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting dan kebanyakan jenis burung ini berpasang-pasangan. Burung Raja Udang Paruh Bangau (Pelargopsis capensis) Jenis burung Raja Udang Paruh Bangau juga merupakan jenis burung yang dilindungi yang keberadaannya sudah jarang dijumpai di luar pulau Kalimantan. Di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting burung Raja Udang ini seringkali terlihat pada siang hari dan sore hari melintasi Sungai Sekonyer dan terkadang terlihat seakan berlomba dengan klotok yang melewati Sungai Sekonyer, dan biasanya hanya terbang sendirian untuk mencari makan. 6-8

Buaya Sapit (Tomistoma schlegelli) Dari berbagai jenis reptil yang hidup disungai-sungai di dalam kawasan Taman Nasional Tanjung Puting beberapa diantaranya adalah jenis Buaya Sapit dan Buaya Muara. Buaya Sapit ini sering terlihat di danau dekat camp Leakey sepanjang sungai Sekonyer Simpang Kanan untuk menghangatkan diri ataupun menunggu mangsanya. Di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting warna dari kulit Buaya Sapit ini hitam seperti warna sungainya dan mempunyai moncong kepala agak panjang.

Gambar 6.6 Buaya Sapit (Sumber: http:// www.sommerlad.de/kroko-pic/ ralfi05.jpg)

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Buaya Muara (Crocodylus porosus) Seperti halnya Buaya Sapit, di Taman Nasional Tanjung Puting juga ada jenis Buaya Muara. Jenis buaya muara ini mempunyai kulit hitam dan di atas kepala sampai ekornya berwarna kekuning-kuningan serta kepala lebih pendek dari Buaya Sapit.

Gambar 6.8 Duyung (http://www.zogold.net/herveybay/ art/dugong.jpg)

Gambar 6.7 Buaya Muara (Sumber: http://www.flmnh.ufl.edu/natsci/herpetology/ actplan/cporo.htm)

Duyung (Dugong dugong) Duyung adalah mamalia laut pemakan tumbuhan. Duyung diketahui berhabitat di seluruh pesisir Kalimatan Tengah (Atlas Sumberdaya Kelautan Bakosurtanal, 1998; MacKinnon, dkk., 2000).
Gambar 6.9 Penyu Hijau (http://www.strt.hacettepe.edu.tr/images/ biyolojisi/celonia.jpg)

6-9

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Ikan dan Udang Species Ikan, Udang, Kepiting, dan Cumi yang biasa ditemukan di perairan Kalimantan Tengah disajikan pada Tabel 6.4.
Tabel 6.4 Fauna Laut Yang Terdapat di Perairan Kalimantan Tengah (Sumber: diolah dari berbagai sumber) NO. FAUNA NAMA LOKAL NAMA LATIN 1. Ikan (pisces) Tongkol Katsuwonus pelamis Puput Putih Bandeng Bawal Hitam Pari Kakap Layaran Belanak Udang Putih Udang Windu Rajungan Cumi Penyu Hijau Ubur-ubur Tunus abause Albula vulves Formito pipay Tlygam pepae Evinephalus paurina Isthopanus sp Pugi chepalus Penaeus indicus Penaeus monodon Portunus velagius Loligo vulgaris Chelonia mydas Jelly fish

2. 3. 4. 5. 6.

Udang (Crustacea) Kepiting Cumi (Chepalopoda) Penyu Ubur-ubur

Gambar 6.11 Ubur-Ubur (http://www.artzine-journal.com/3rd_Issue/ Images/)

Gambar 6.10 Kepiting Bakau (http://www.brisbane-stories.powerup.com.au/ .../mudcr_4.htm) Gambar 6.12 Udang Penaeus (http://www.inh.co.jp/~penaeusj/ monodon.html)

6-10

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

6.6 PENGGUNAAN DAN ANCAMAN HABITAT UTAMA Pemanfaatan sumber daya kelautan masih sangat kecil dibanding dengan potensi yang tersedia. Pemanfaatan potensi yang sudah berjalan adalah penangkapan ikan dari alam. Usaha budidaya seperti tambak masih dalam tahap permulaan dalam skala kecil. Sedangkan budidaya lainnya seperti budidaya rumput laut belum dikenal masyarakat. Dilihat dari potensi, hasil penelitian UNLAM tahun 1985, menyimpulkan potensipotensi pengembangan budidaya air payau (tambak) di Kabupaten Kotawaringin Timur seluas 16.056 ha. Di Kabupaten Kapuas dan Kotawaringin Barat potensi tanah untuk pengembangan budidaya perikanan di pesisir ke arah laut juga sangat potensial.

ideal untuk tiang dan tiang pancang yang digunakan sebagai bahan bangunan di pemukiman-pemukiman di daerah pesisir. Sejak tahun 1960-an hutan bakau di Indonesia semakin banyak dimanfaatkan sebagai sumber kayu cacah dan pulp. Sebagian besar hutan bakau di Kalimantan sekarang ini mengalami penebangan komersial untuk kayu cacah, tetapi di beberapa daerah pohon-pohon juga ditebang untuk pembuatan pulp. Banyak masyarakat pesisir di Kalimantan mengambil hasil-hasil hutan bakau untuk keperluan rumah tangga dan dijual ke pasar setempat. Hasil-hasil komersial dan tradisional dari hutan bakau berkisar dari bahan bangunan, kayu bakar, bahan untuk penangkapan ikan, atap dari nipah, arang, obatobatan, sampai ikan, kembang gula, dan madu.

6.7 FUNGSI DAN MANFAAT HABITAT UTAMA Flora Hutan bakau sering dianggap sebagai lahan liar yang kecil nilainya atau sama sekali tidak bernilai, sampai hutan itu dikembangkan, yaitu dikonversikan untuk kegunaan lain. Pendekatan ini tidak melihat nilai-nilai alam yang dimiliki oleh ekosistem hutan bakau. Memang hutan bakau dan muara sungai barangkali merupakan dua ekosistem pesisir yang paling berharga di Kalimantan, dilihat dari segi keuntungan yang diberikan kepada masyarakat. Kepentingan hutan bakau sebagai sumber daya terletak pada hasil-hasil yang dapat diperoleh (baik secara tradisional dan komersial), dan dari jasa yang diberikan cumacuma oleh hutan bakau seperti perlindungan pantai dan pengendalian erosi. Hutan bakau menyediakan bermacam-macam kayu bangunan dengan berbagai mutu. Sebagai kayu bangunan, kayu yang berasal dari hutan bakau sering bermutu rendah, tetapi bayur laut, terungtung, dan miri menghasilkan kayu bermutu tinggi. Tengar dan bogen menghasilkan kayu yang sangat awet,

Bila nilai hasil hutan bakau yang dapat dipasarkan dapat dinyatakan dalam rupiah, nilai jasa cuma-cuma yang diberikan hutan bakau lebih sulit diukur jumlahnya dan sering terabaikan. Detritus yang berasal dari ekosistem hutan bakau merupakan pangkal rantai makanan, dan banyak perikanan pantai dan dekat pantai yang tergantung pada detritus. Sumber daya hutan bakau hanya dapat diperbarui bila proses-proses ekologi yang menentukan ekosistem dapat dipertahankan. Kesehatan dan regenerasi alami hutan bakau bergantung pada tiga faktor utama: ketersediaan air tawar dan air asin dalam jumlah dan keseimbangan yang cukup; pasokan hara yang cukup; dan substrat yang mantap. Modifikasi salah satu atau lebih faktor kritis ini dapat merusak atau meniadakan kemampuan sumber daya ini untuk dapat diperbarui. Hutan bakau dapat dikelola untuk mempertahankan produktivitas alaminya atau dapat pula dikonversi ke dalam bentuk-bentuk tata guna lahan lainnya 6-11

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

seperti budidaya perairan, pertanian, produksi garam, rencana-rencana pembangunan. Dari sudut pandang ekologi, untuk menentukan berbagai pilihan cara pengelolaan, semua rencana untuk mengubah sumber daya hutan bakau harus memperhatikan nilai jangka panjang.Daerah hutan bakau pada umumnya tidak sesuai untuk pertanian. Namun beberapa hutan bakau telah dibuka untuk budidaya tanaman pertanian di sekitar daerah pemukiman, di tepi pantai atau oleh transmigran yang bermukim di lahan rawa daerah pasang surut untuk memperluas lahan garapannya. Budidaya perikanan mungkin dapat memberikan keuntungan yang lebih besar daripada pertanian. Budidaya perikanan dapat menyediakan sumber protein murah untuk konsumsi dalam negeri, kesempatan kerja untuk penduduk yang sedang berkembang dan merupakan penghasil devisa yang penting yang diperoleh dari penjualan komoditas ekspor. Fauna Di sebagian besar pesisir Kalimantan, sungai-sungai besar mengalir ke laut yang dangkal di Dangkalan Sunda, yang perairannya terlalu berlumpur atau terlalu tawar untuk pertumbuhan binatang karang, sehingga tidak terdapat karang, atau karang yang ada tidak berkembang dengan baik. Padahal terumbu karang sebenarnya mampu menambah kontribusi untuk daerah penangkapan ikan dan hasil laut lainnya, serta berpotensi untuk pariwisata. Pemanfaatan fauna pesisir yang penting bagi masyarakat pesisir Kalimantan Tengah adalah potensi perikanan (biota), yaitu perikanan tangkap laut dan estuaria, baik yang bernilai ekonomis lokal dan regional maupun yang hanya dimanfaatkan secara terbatas. Pemanfaatan terbatas biota air contohnya adalah ikan lumpur atau Boleopthalmus boddarti (ukuran panjang sekitar 13 cm, diameter sekitar 2,5 cm) yang bisa digunakan oleh masyarakat setempat

(seperti di Desa Ujung Pandaran, Kab. Kotawaringin Timur) untuk pengobatan asma secara tradisional (lihat Gambar 6.13). Populasi buaya juga bisa mendapatkan tekanan oleh manusia, yaitu diburu untuk diambil kulitnya sebagai bahan kerajinan komersial tinggi, dan tangkurnya sebagai aprodhisiak (obat kuat). Sedangkan fauna khas penghuni hutan rawa pesisir seperti orang utan, bekantan, burung rangkong, dan sebagainya merupakan daya tarik untuk wisatawan.

Gambar 6.13 Ikan Lumpur yang Biasa Digunakan Penduduk Setempat Untuk Obat Asma (Sumber: PPK-ITB, 2002)

6-12

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

6.8 ISU-ISU Terjadinya deforestasi di daerah hulu dan sekitar daerah aliran sungai (DAS) bisa mengakibatkan banjir sungai yang membawa debit air dan lumpur yang besar menyebabkan punahnya beberapa jenis flora dan fauna, kerusakan hutan mangrove dan kerusakan ekosistem estuaria dan delta. Tetapi bisa juga hasil sedimentasi yang terjadi daerah teluk atau perairan dangkal yang terlindung gelombang akan menambah luas substrat tumbuhnya hutan mangrove (bakau). Terjadinya abrasi dan sedimentasi di beberapa lokasi pantai Kalimantan Tengah juga mempengaruhi ekosistem pesisir. Secara khusus abrasi pantai terjadi di Sungai Bakau dan Pantai Kubu di Kabupaten Kotawaringin Barat, kemudian di Pantai Ujung Pandaran di Kabupaten Kotawaringin Timur, dan di Kuala Jelai di Kabupaten Seruyan. Sedimentasi secara khusus terjadi di Dermaga Rakyat Ujung Pandaran hingga Lampuyang (Teluk Sampit), kemudian sedimentasi juga terjadi di Teluk Sebangau, Tanjung Malatayur, Daerah Kiapak (Kabupaten Pulang Pisau), Daerah Cemara Labat, dan Daerah Pelampai (Kabupaten Kapuas). Dimana berdasarkan hasil observasi (PPK-ITB,2002) di sekitar Dermaga Rakyat Ujung Pandaran ada. hingga Lampuyang (Teluk Sampit), sedimentasi tersebut
Gambar 6.14. Pemanfaatan Daun Nipah Sebagai Atap Rumah (Sumber: PPK-ITB, 2002)

mengakibatkan pendangkalan dan menambah luasan hutan mangrove yang

6-13

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

A

ir beserta sumber-sumbernya merupakan salah satu kekayaan alam yang mutlak dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa, baik secara langsung

7.1.1 Daerah Aliran Sungai Propinsi Kalimantan Tengah memiliki banyak aliran sungai. Sungai-sungai utama di samping sungai-sungai kecil adalah Sungai Jelai, Sungai Arut, Sungai Lamandau, Sungai Kumai, Sungai Seruyan, Sungai Mentaya, Sungai Katingan, Sungai Sebangau, Sungai Kahayan, Sungai Kapuas dan Sungai Barito. Semua aliran sungai tersebut membentang dari utara ke selatan dan bermuara di Laut Jawa. Dalam pengelolaannya, sungai-sungai ini kemudian dijadikan sebagai DAS-DAS utama di Kalimantan Tengah. Daerah Aliran Sungai (DAS) didefinisikan sebagai suatu hamparan

maupun tidak langsung sehingga di samping dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat secara adil dan merata, maka pemanfaatannya harus ditujukan kepada kepentingan dan kesejahteraan rakyat agar kebutuhan masyarakat akan air dimaksud tercukupi. Oleh karena itu haruslah dilindungi dan dijaga kelestariannya. Kondisi sumberdaya air di pesisir Kalimantan Tengah sangat dipengaruhi oleh 3 (tiga) aspek utama dalam suatu siklus hidrologi yaitu faktor air hujan (hidrometeorologi), air permukaan dan air tanah (hidrogeologi). Ketiga aspek ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen, dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada satu titik (outlet). Oleh karena itu, pengelolaan DAS merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan yang pada dasarnya merupakan usaha-usaha penggunaan sumberdaya alam di suatu DAS secara rasional untuk mencapai tujuan produksi pertanian yang optimum dalam waktu yang tidak terbatas (lestari), disertai dengan upaya untuk menekan kerusakan seminimum mungkin sehingga distribusi aliran merata sepanjang tahun (Marwah,2001). DAS merupakan ekosistem, dimana unsur organisme dan lingkungan biofisik serta unsur kimia berinteraksi secara dinamis dan di dalamnya terdapat 7-1

7.1 KONDISI AIR PERMUKAAN Air permukaan adalah semua air yang ditemukan di permukaan tanah, seperti air sungai, air rawa, tambak, danau dan lain-lain. Di Propinsi Kalimantan Tengah, sumberdaya air permukaan terutama adalah sungai dan rawa. Secara umum kondisi fisik air sungai berwarna coklat. Terdapat juga sungaisungai yang airnya berwarna coklat bercampur hitam, kaya akan zat hara dan endapan akibat campuran anak sungainya dengan gambut. Debit air pada musim penghujan sangat besar hingga sering menimbulkan banjir, sedangkan pada musim kemarau berkurang terutama pada sungai-sungai kecil.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

keseimbangan inflow dan outflow dari material dan energi. Ekosistem DAS, terutama DAS bagian hulu merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan bagian DAS.
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Tabel 7.1 Panjang, Lebar, dan Kedalaman Sungai di Kalimantan Tengah (Sumber: Kalimantan Tengah Dalam Angka 2000)
Nama Sungai Sungai Jelai Sungai Arut Sungai Lamandau Sungai Kumai Sungai Seruyan Sungai Mentaya Sungai Katingan Sungai Sebangau Sungai Kahayan Sungai Kapuas Sungai Barito Panjang Sungai (km) 200 250 300 175 350 400 650 200 600 600 900 Lebar Ratarata (m) 100 100 200 300 300 400 300 100 500 500 650 Kedalaman Rata-rata (m) 5 4 6 6 5 6 6 5 7 6 8 1.139.800 403.200 2.793.500 1.669.500 1.704.300 596.700 1.787.400 1.681.920 4.282.280 Luas DAS (ha) 321.300

Perlindungan ini antara lain dari segi fungsi tata air,

oleh karenanya

perencanaan DAS hulu seringkali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu DAS, bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi. Aktivitas perubahan tataguna lahan dan atau pembuatan bangunan konservasi yang dilaksanakan di daerah hulu dapat memberikan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit air dan transport sedimen serta material terlarut lainnya atau non-point pollution. Adanya bentuk keterkaitan daerah hulu – hilir seperti tersebut di atas maka kondisi suatu DAS dapat digunakan sebagai satuan unit perencanaan sumberdaya alam termasuk pembangunan pertanian berkelanjutan. Pentingnya posisi DAS sebagai unit perencanaan yang utuh merupakan konsekuensi logis untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan sumberdaya hutan, tanah, dan air. Dalam dekade terakhir ini permintaan akan sumberdaya tersebut meningkat sangat tajam yang pada kondisi tertentu menimbulkan dampak negatif bagi pembangunan pertanian berkelanjutan. Meningkatnya kebutuhan terutama dalam konteks kepentingan pemenuhan kebutuhan penduduk yang sangat besar, sangat berdampak kepada pola tekanan terhadap sumberdaya hutan, tanah, dan air yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain (Marwah, 2001). Karakeristik sungai-sungai di Kalimantan Tengah disajikan pada Tabel 7.1.

7.1.1.1 Kondisi Fisik Sungai Kotawaringin merupakan pertemuan dua sungai yang cukup besar yaitu sungai Arut dan sungai Lamandau, yang membuat anak-anak sungai lebih dari 130 buah. Daerah alirannya di Kabupaten Kotawaringin Barat. Debit air sewaktu-waktu dapat melebihi daya tampung dan sering menimbulkan banjir. Daerah Aliran Sungai (DAS) Jelai sebagian berada di Kalimantan Barat. Anak Sungai Jelai yang terdapat di daerah ini lebih dari 40 buah sungai, dan Sungai Kumai mempunyai anak sungai sekitar 30 buah. Panjang perairan pantai di tiga wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat, Sukamara dan Lamandau sebesar 231 km, cukup luas untuk pengembangan Perikanan Laut.

7-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Sungai Seruyan terletak di Kabupaten Seruyan dengan luas Daerah Aliran Sungai sekitar 11.625,00 km2. Debit air normal sekitar 436,80 m3/detik. Perkiraan persediaan air 13.774,930 x 106 m3/tahun.
1 2 No

Tabel 7.2 Peruntukkan Sungai Untuk Transportasi (Sumber: Kalimantan Tengah Dalam Angka 2000)
Nama Sungai Sungai Jelai Sungai Arut Sungai Lamandau Sungai Kumai Sungai Seruyan Sungai Mentaya Sungai Katingan Sungai Sebangau Sungai Kahayan Sungai Kapuas Sungai Barito Dapat Dilayari (km) 150 190 250 100 300 270 520 150 500 420 700 Kobar Kobar/Kotim Kobar Kobar Kotim Kotim Kotim Kotim Kps.P.Raya Kapuas Barut/Sel Lokasi

Sungai Mentaya merupakan salah satu urat nadi vital Kotawaringin Timur, terutama Sampit. Sebab, semua kebutuhan bahan pokok pedalaman Kalimantan Tengah harus dipasok dari Sampit melalui sungai itu. Setelah itu, baru kemudian didistribusikan ke kota Palangkaraya dengan jalan darat atau lewat sungai ke daerah pedalaman. Luas DAS Mentaya sekitar 13.283,00 km2 dengan debit normal rata-rata sekitar 521,40 m3/detik. Perkiraan persediaan air 16.430,260 x 106 m3/tahun.

3 4 5 6 7 8 9 10 11

Sungai Katingan memiliki luas DAS sekitar 21.576,00 km2 dengan panjang sekitar 650 km. Lebar rata-rata 50 m. Debit normal sekitar 984,93 m3/detik dan perkiraan persediaan air 31.070,750 x 106 ton (Profil Sub Dinas Pengairan Dinas PU Kab. Kotim, 2002).

7.1.1.2 Peruntukkan Sungai Sungai merupakan sumberdaya alam yang dipergunakan untuk berbagai

keperluan antara lain sebagai bahan baku air minum, pertanian, perikanan dan usaha perkotaan. Di Propinsi Kalimantan Tengah, sungai memiliki peran yang sangat penting dalam roda pertumbuhan ekonomi masyarakat. Sebagian besar kegiatan ekonomi masyarakat terletak di sepanjang aliran sungai tersebut misalnya usaha pertanian, perikanan, pemukiman dan pusatpusat perkotaan. Hingga saat ini sungai masih merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain (lihat Tabel 7.2). 7-3
Gambar 7.1 Aktivitas di Sungai Kahayan (Sumber: PPK ITB, 2002)

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

7.1.1.3 Degradasi dan Pencemaran Pencemaran air adalah suatu masalah kronis yang makin lama semakin parah. Lemahnya kepedulian masyarakat akan lingkungannya merupakan faktor utama terjadinya kerusakan lingkungan yang semakin tak terkendali. Secara umum masalah yang dialami oleh sungai-sungai di Propinsi Kalimantan Tengah adalah terjadinya pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan erosi. Di samping itu pencemaran sungai oleh limbah mercuri juga merupakan masalah yang sangat memprihatinkan dewasa ini. Adanya kegiatan pembabatan hutan serta perubahan pemanfaatan hutan di hulu dan di hilir mengakibatkan merosotnya kualitas air di sungai. Menyusutnya pasokan air pada beberapa sungai besar di Kalimantan Tengah menjadi fenomena yang mengerikan. Beberapa sungai di Kalimantan Tengah mengalami pendangkalan akibat semakin minimnya debit air pada saat kemarau serta ditambah lagi dengan erosi dan sedimentasi. Penghancuran hutan alam serta perubahan tata guna lahan hutan seperti pengalihan fungsi hutan menjadi daerah perkebunan atau daerah aktifitas ilegal logging atau penebangan liar adalah faktor dominan yang menyebabkan terjadinya krisis air hingga bencana banjir serta tanah longsor. Erosi dan sedimentasi terjadi akibat berkurangnya hutan di daerah hulu badan sungai karena pembukaan hutan. Masalah krisis air juga diakibatkan oleh maraknya aktifitas pertambangan, baik skala kecil maupun skala besar, yang telah mengakibatkan pembukaan hutan, perubahan morfologi sungai, dan penurunan kualitas lingkungan hidup dan sungai akibat pencemaran oleh bahan-bahan kimia. Maraknya pertambangan skala kecil seperti penambangan emas tanpa izin oleh masyarakat merupakan salah satu penyebab utama pencemaran sungai 7-4

meningkat. Menurut catatan dari BPLHD Propinsi Kalimantan Tengah bahwa kondisi pencemaran di Sungai Kahayan sudah mencapai batas ambang aman yang akan mengancam kehidupan masyarakat (Kompas, 6 maret 2001).

7.2 KONDISI AIR BAWAH PERMUKAAN (AIR TANAH) Air tanah (groundwater) adalah bagian dari air yang ada di bawah permukaan tanah (sub-surface water), yakni hanya berada di zona jenuh (zone of saturation). Penyebaran vertikal air bawah permukaan dapat dibagi menjadi zona tak-jenuh (zone of aeration) dan jenuh. Zona tak-jenuh terdiri dari ruang antara yang sebagian terisi oleh air dan sebagian terisi oleh udara, sementara ruang antara pada zona jenuh seluruhnya terisi oleh air (Sooetrisno, 1999) Sumberdaya air tanah dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu: • • Air tanah bebas Air tanah tertekan

Air tanah bebas, adalah air yang tersimpan dalam suatu lapisan pembawa air tanpa lapisan kedap air di lapisan atasnya. Lapisan pembawa air ialah pasir, pasir kerikilan, pasir lanauan dan pasir lempungan. Air dari jenis akuifer ini dapat ditemukan pada sumur gali/penduduk dengan kedalaman rata-rata kurang dari 15 meter. Kapasitas air tanah bebas tergantung pada air hujan sehingga keberadaannya sangat berkurang pada musim kemarau. Kualitas air tanah bebas secara umum cukup baik murah persyaratan sebagai air minum (Erwinta, dkk., 1994). Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh tim penyelidikan dan pemetaan hidrogeologi di Kabupaten Kotawaringin Barat pada tahun 1994, terhadap tatanan air tanah bebas memiliki kondisi yang

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

cukup baik. Secara umum kualitas air tanah bebas di beberapa tempat di pesisir Kalimantan Tengah disajikan pada Tabel 7.3.
Tabel 7.3 Kualitas Air Sumur Pada Beberapa Tempat di Kalimantan Tengah (Sumber: Erwinta, dkk., 1994; Taruna, dkk., 1995, Erwinta, dkk., 1996) No 1 Tempat PangkalanBun Kab. KotaWaringin Barat 2 Sampit, Kotawaringin Timur 3 Kuala Kapuas, Kab. Kapuas
1,08 27 23 - 29 0,07 – 1,60 7 1,04 – 3,22 27,7 – 30,7 1,4– 5,6 0,0 – 1,1 4,6 – 6,9

Kualitas air tanah bebas di daerah dataran terutama daerah dataran pantai sangat bervariasi tergantung dari jaraknya dari garis pantai. Di daerah di sekitar garis pantai air umumnya terasa payau hingga asin sehingga penggunaannya terbatas. Air tanah bebas di daerah perbukitan mutu airtanah cukup baik dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari hanya

Turbidity (mg/l)
0,0 – 0,3

Temperatur (oC)
27 - 31

D.O (mg/l)
0,1– 7,8

Konduktifitas (ms/cm)
0,00 – 0,4

pH
5,2 – 6,8

kendalanya muka airtanah setempat cukup dalam. Berdasarkan peta geologi lembar Pangkalan Bun skala 1:250.000 terbitan P3G Bandung 1991. Pada bagian bawah disusun oleh formasi Kuayan yang terdiri dari breksi Gunung Api, lava dasistik, riolit, andesit dan tufa. Formasi ini berumur pra tersier. Di bagian atasnya ditutupi oleh formasi Dahor yang terdiri dari konglomerat dan perselingan batu pasir, batu lempung dengan sisipan lignit. Selanjutnya di atas formasi Dahor diendapkan endapan rawa yang terdiri dari gambut, lempung dan lanau bersisipan pasir. Dilihat dari sifat batuan penyusunnya maka di daerah ini batuannya cukup baik sebagai aquifer. Dari peta hidrologi Kalimantan Tengah skala 1:2.500.000 Geologi Tata lingkungan 1983 terlihat bahwa litologi yang ada di daerah Pangkalan Bun dan sekitarnya terdiri dari pasir lepas atau setengah padu (kerikil, pasir, lanau, lempung) di mana potensinya sedang sampai tinggi. Dari kedua peta tersebut dapat disimpulkan bahwa secara umum keadaan air tanah di Pangkalan Bun dan sekitarnya cukup baik dan potensial (Erwinta, dkk., 1994).

7.2.1 Degradasi dan Pencemaran Air tanah sejak terbentuk di daerah imbuh dan mengalir ke daerah luahnya,
Gambar 7.2 Kondisi Sumur Rakyat di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Sumber: PPK ITB, 2002)

melalui ruang antara dari batuan penyusun akuifer. Dalam perjalanan tersebut airtanah melarutkan mineral batuan serta dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Oleh sebab itu, mutu airtanah dari satu tempat ke tempat lain 7-5

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

sangat beragam tergantung pada jenis batuan, di mana air tanah tersebut meresap, mengalir, dan berakumulasi, serta kondisi lingkungan. Mutu air tanah dinyatakan menurut sifat fisik, kandungan unsur kimia, ataupun bakteriologi. Persyaratan mutu air tanah telah dibakukan berdasarkan penggunaannya, seperti mutu air untuk air minum, air irigasi, maupun industri. Beberapa unsur utama (major constituents) kandungan air tanah - 1,0 hingga 1000 mg/l - adalah sodium, kalsium, magnesium, bikarbonat, sulfat, dan khlorida. Kandungan khlorida yang tinggi merupakan indikasi adanya pencemaran bersumber dari air limbah atau intrusi air laut. Sementara kandungan nitrat sebagai unsur sekunder (secondary constituents) - 0,01 hingga 10 mg/l - bersumber dari limbah manusia (anthropogenous), tanaman, maupun pupuk buatan (Soetrisno, 1999). Sejauh ini kondisi pencemaran kondisi air bawah tanah secara umum di Propinsi Kalimantan Tengah belum ditemukan. Meskipun kondisi airnya terasa payau, namun kualitas air tanah tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan air sungai. Diketahui bahwa DAS Kahayan mengandung merkuri 0,007 – 0,014 mg/l, DAS Barito mengandung mercuri sekitar 0,006 mg/l . Kisaran angka tersebut telah melebihi angka toleransi kandungan merkuri yang diizinkan oleh MenKLH RI yaitu sebesar 0,001 mg/l (Kompas, 6 Maret 2002).
Gambar 7.3 Aliran Sungai Tanjung Puting yang Berwarna Coklat Kemerahan Karena Struktur Tanah di Dasar dan Sekelilingnya Adalah Gambut (Sumber: PPK-ITB, 2002)

7-6

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

7.3 Isu-isu 1. Cepatnya proses pendangkalan sungai-sungai di Kalimantan Tengah merupakan masalah yang rumit untuk ditangani. Eksploitasi hutan secara besar-besaran di hulu dapat mengakibatkan erosi dan banjir. Hal ini cukup memberi konstribusi terhadap pendangkalan sungai. 2. Pencemaran limbah merkuri semakin tidak terkendali. Terdapatnya kegiatan penambangan di daerah hulu merupakan penyebab utama tercemarnya sungai di daerah Kalimantan Tengah. 3. Pencemaran badan sungai oleh limbah rumah tangga juga menambah turunnya kualitas air sungai di daerah Kalimantan Tengah.

Gambar 7.4 Pencemaran Limbah Rumah Tangga di Sungai Kapuas (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 7. 5 Mahasiswa dari Safier.Studentweb.org Sedang Eksperimen Mem-filter Air Tanah Agar pH-nya Menjadi Netral di Desa Sei Sekonyer, Kab. Kotawaringin Barat (Sumber: PPK-ITB, 2002)

7-7

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Propinsi Kalimantan Tengah memliki 2 (dua) taman nasional yaitu Taman Nasional Tanjung Puting, dan Taman Nasional Bukit Baka – Bukit Raya. Selain itu terdapat kawasan cagar alam dengan total luasannya mencapai 514.261 ha, yang terbagi menjadi 6 kawasan cagar alam, yaitu : 1. Cagar alam Prarawen I dan II di Kabupaten Barito Utara seluas 6000 ha. 2. Cagar alam Bukit Tangkiling di kotamadya Palangka Raya seluas 2061 ha. 3. Cagar alam Bukit Sapat Hawung di Kabupaten Barito Utara seluas 239.000 ha. 4. Cagar alam Marang Tangkiling seluas 5000 ha. 5. Cagar alam Bukit Bakitap seluas 261.000 ha di Kabupaten Barito Utara. 6. Cagar alam air terjun Malau Besar di Kabupaten Barito Utara seluas 1200 ha. Suaka margasatwa di Kalimantan Tengah total luasannya lebih dari 10000 ha, yang terbagi menjadi Suaka margasatwa Sungai Lamandau, dan Arboretum Nyaru Menteng. Tiga Taman wisata alam terdapat di propinsi Kalimantan Tengah yaitu Taman Wisata Bukit Tangkiling 533 ha, Taman Wisata Air Terjun Poran seluas 6400 ha, Taman Wisata Tanjung Keluang seluas 2000 ha.

8.1 KAWASAN KONSERVASI PESISIR 8.1.1 Taman Nasional Tanjung Puting Taman Nasional Tanjung Puting berada di dalam dua wilayah administrasi pemerintahan, yaitu Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan, dengan total luas kawasannya 415.040 ha. Secara administratif pemerintahan, kawasan Taman Nasional Tanjung Puting terletak di dalam wilayah daerah tingkat II Kabupaten Kotawaringin Barat dan daerah tingkat II Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Gambar 8.1 Pintu Masuk Ke Taman Nasional Tanjung Puting (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Menurut letak geografis kawasan Taman Nasional Tanjung Puting terletak antara 111˚50’ - 112˚15’ BT, dan 2˚35’ - 2˚20’ LS, dengan luas 415.040 ha. 8-1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Kawasannya mencakup sebagian besar semenanjung aluvial yang berawarawa diantara Teluk Kumai sampai Sungai Seruyan dan dibatasi oleh Sungai Sekonyer, batas buatan yang berjarak antara 5 – 10 km dari Sungai Seruyan di bagian timur serta dengan batas sebagai berikut :

anak sungai telah terbentuk karena terjadinya luapan air sungai pada waktu musim hujan. Tanjung Puting, seperti halnya kebanyakan daerah rawa-rawa dataran pantai Kalimantan, secara relatif berumur geologis muda dan daerah berawa-rawa datar yang meluas ke pedalaman sekitar 5 – 20 km dari pantai, mungkin hanya

• • • •

Sebelah Utara berbatasan dengan perkebunan PT Wana Sawit Subur Lestari. Sebelah Selatan berbatasan dengan laut Jawa. Sebelah Timur berbatasan dengan PT Bina Smaktha. Sebelah Barat berbatasan dengan Teluk Kumai.

berumur beberapa ratus sampai beberapa ribu tahun saja. Sebagian besar sedimen tanah/lumpur adalah aluvial muda. Pada umumnya tanah di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting adalah kurang subur, tercuci berat, serta kurang berkembang. Semua tanah bersifat sangat asam dengan kisaran pH antara 3,8 – 5,0. Tanah-tanah sekitar anakanak sungai dicirikan oleh suatu lapisan “top-soil” yang berwarna abu-abu kecoklatan serta suatu lapisan “sub-soil” yang lengket yang juga berwarna abu-abu kecoklatan. Daerah pedalaman (daerah hulu), tanahnya memiliki kandungan unsur organik yang lebih tinggi dan formasi gambut tersebar luas di banyak tempat dengan ketebalan sampai 2 meter. Kawasan taman nasional ini memiliki tujuh daerah aliran sungai (DAS) yaitu Sekonyer, Buluh Kecil, Buluh Besar, Pembuang, Perlu, dan DAS Segintung. Selain itu di dalam kawasan terdapat banyak anak sungai-anak sungai yang airnya berwarna hitam. Aliran sungai-sungai ini pelan dan di beberapa tempat terpengaruh oleh adanya pasang surut. Banjir sering terjadi dan beberapa danau sering terbentuk di daerah hulu sungai pada musim hujan, dan 60% kawasan taman nasional tergenang air paling tidak selama 4 bulan setiap tahunnya. Pengelolaan Taman Nasional Tanjung Puting pada saat ini dilakukan oleh Balai Taman Nasional Tanjung Puting, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Balai Taman 8-2

Berdasarkan klasifikasi tipe iklim Schmidt and Ferguson Taman Nasional Tanjung Puting termasuk iklim tipe A (dari bulan ke bulan beriklim basah atau Humid) dengan Q=0-14% (intensitas bulan kering yang sedikit), dimana kelembaban udara di musim hujan bervariasi antara 55%-98%, sedangkan curah hujan ratarata 2400 mm dengan hujan rata-rata 100 hari. Maka kawasan Taman Nasional Tanjung Puting juga dikatakan memiliki iklim ekuatorial (tropis) karena suhu udara dan curah hujan-nya yang tinggi. Pengaruh angin barat daya sangat kecil pada sebagian besar waktu, namun kadang-kadang juga sangat dirasakan. Suhu udara maksimum bervariasi dari 31˚C - 33˚C dan suhu minimum bervariasi dari 18˚C - 21˚C, dimana suhu yang lebih dingin terjadi bersamaan dengan musim kemarau. Meskipun demikian, iklim di Taman Nasional Tanjung Puting tidak dapat dikatakan Monsun (Monsoon). Secara umum, topografi Taman Nasional Tanjung Puting adalah datar sampai bergelombang dengan ketinggian 0 sampai 11 meter dari permukaan laut. Di bagian utara terdapat beberapa punggung pegunungan yang rendah dan bergelombang serta umumnya mengarah ke selatan, akan tetapi disebelah selatan dari Sungai Sekonyer tidak terdapat pegunungan atau bukit. Anak-

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Nasional Tanjung Puting mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan kawasan Taman Nasional dalam konservasi sumber daya hayati dan ekosistemnya, berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan pengelolaan yang dilakukan secara umum bertujuan untuk : • • • Perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Gambar 8.3 Kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting di Pangkalan Bun, Kab. Kotawaringin Barat (Sumber: PPK-ITB, 2002)

8.1.2 Taman Wisata Alam Tanjung Penghujan Kawasan yang dulunya dikenal sebagai Taman Wisata Tanjung Keluang ini berada di 111˚45’’-111˚42’ BT dan 3˚42’-3˚55’ LS, sedangkan untuk administrasi pemerintahan berada di Desa Kubu, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, Propinsi Kalimantan Tengah. Gambar 8.2 Yayasan Orang Utan Indonesia yang Bergerak dalam Kegiatan Penelitian dan Konservasi Mengenai Orang Utan, dan Hutan Tropik (Sumber: PPK-ITB, 2002) Kawasan Taman Wisata Alam Tanjung Penghujan yang terbentuk oleh hamparan pasir putih bersih dengan laut yang tenang, serta adanya tumbuhan cemara khas pantai merupakan panorama yang indah. Keindahan panorama alam pasir yang ditunjang oleh keberadaan jenis flora dan fauna yang khas. Vegetasi yang menonjol di kawasan Taman Nasional Alam Tanjung Penghujan adalah Cemara Laut (Casuarina sp) dan Bakau (Rhizophora sp). Sedangkan 8-3

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

satwa liar yang dapat dijumpai didalam kawasan ini antara lain : Musang Air (Cycnogale sp), Burung Elang (Henicopersis novaeguineae), dan Burung Raja Udang (Anhinga sp). Taman Wisata Alam Tanjung Penghujan dapat ditempuh dari Palangka Raya ke Pankalan Bun sekitar 12 jam, sedangkan dari Pangkalan Bun ke lokasi sekitar 30 menit. 8.1.3 Suaka Margasatwa Sungai Lamandau Kawasan ini terletak diantara 111˚11’8,48’’ - 111˚30’13,04’’ BT dan 2˚33’24,2’’2˚53’42,53’’ LS. Sedangkan secara administrasi pemerintahan Suaka Margasatwa Sungai Lamandau ini berada di Wilayah Kelurahan Mendawai, Desa Babual Baboti, Desa Tanjung Putri, Desai Natai Sedawak, Desa Karta Mulya, Desa Tempayung, Desa Saka Bulin, Desa Kinjil, Kecamatan Arut Selatan, Kecamatan Kotawaringin Lama, dan Kabupaten Sukamara, Propinsi Kalimantan Tengah. Kawasan hutan Suaka Margasatwa Sungai Lamandau ini merupakan tipe dari ekosistem hutan rawa air tawar dan tipe hutan dataran rendah. Vegetasi yang mendominasi terdiri dari Ramin (Gonystilus bancanus), Meranti (Shorea sp), Jejambu (Eugenia sp), Cemara (Cassuarina sp), Ulin (Eusideroxylon zwageri), Kempas (Koopasia malaccensis), dan berbagai jenis tumbuhan yang merupakan makanan Orangutan seperti Ketiau, Bakunyit, Bentan Merang, dan Banitan. Sedangkan satwa yang berada didalam kawasan Suaka Margasatwa Sungai Lamandau adalah : Orangutan (Pongo pygmaeus), Bekantan (Nsalis larvatus), Owa-owa (Hylobates muellri), Rusa (Cervus sp), Kancil (Tragulus javanicus), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Burung Raja Udang (Anhinga sp), Burung Rangkong (Buceros sp), Burung Cucak rowo (Pygnonotus zeylanicus). 8-4

Untuk menuju suaka margasatwa ini harus menempuh perjalanan selama 12 jam dengan bus dari Palangka Raya ke Pangkalan Bun, dari Pangkalan Bun ke lokasi sekitar 60 menit dengan speed boat. Obyek yang paling menarik di dalam kawasan ini adalah menyusuri sungai dengan kendaraan air sambil menikmati pemandangan alam dan berbagai satwa primata di kanan kiri sungai, disamping itu dapat dilihat berbagai macam burung migran di Danau Burung pada bulan Juli-September. 8.2 KAWASAN KONSERVASI NON PESISIR 8.2.1 Cagar Alam Parawen I Dan II Kawasan cagar alam Parawen I dan II terletak antara 114˚44’ - 114˚50’ BT sampai dengan 0˚37’ - 1˚02’ LS sedangkan untuk administrasi pemerintahan termasuk kedalam wilayah Desa Lemo I dan II dan Desa Pendreh, Kecamatan Teweh Tengah, Kabupaten Barito Utara, Propinsi Kalimantan Tengah. Cagar Alam Pararawen I dan II merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan tropika pegunungan yang didominasi oleh tegakan bersuku Dipterocapaceae, tetapi terdapat juga jenis lain seperti Geronggang (Cratoxylon arborescens), Tembesu (Fagreac sororea), Biawan (Edersia spectabilis), Pelawan (Tristina Obovata), Laban (Vitex pubescens), Ulin (Eusideroxylon zwegeri), Madang Batu (Letsi sp). Sedangkan jenis-jenis satwa yang terpenting adalah Owa-owa (Hylobates muelleri), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Rusa (Cervus sp), Kancil (Tragulus javanicus), Kijang (Muntiacus muntjak), Bangkui (Presbytis rubicunda). Kawasan Cagar Alam Pararawen I dan II dapat ditempuh melalui jalur udara Palangka Rayua – Muara Teweh kurang lebih 45 menit dilanjutkan dengan kendaraan air kurang lebih 30 menit, dan melalui darat kurang lebih 20 menit.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Fasilitas yang terdapat di Cagar Alam Pararawen I dan II adalah pondok kerja di Desa Pararawen dan pos jaga di Desa Pendreh, sedangkan jalan setapak dalam kawasan sepanjang kurang lebih 10 km dan menara pengawas. Diluar kawasan terdapat kantor Sub Seksi Wilayah Barito Utara berjarak kurang lebih 20 km dan untuk penginapan terdekat berjarak kurang lebih 20 km dari Muara Teweh. 8.2.2 Cagar Alam Bukit Sapat Hawung Kawasan Cagar Alam Bukit Sapat Hawung terletak antara 114˚0’ - 115˚02’ BT sampai dengan 0˚25’-0˚50’ LS, sedangkan secara administrasi pemerintahan Cagar Alam Bukti Sapat Hawung berada di wilayah Desa Karamu, Desa Tumbang Jojang, Desa Tumbang Pupus, Desa Tumbang Tujang, Desa Takajung, dan Desa Tumbang Mulut, Kabupaten Barito Utara, Kecamatan Sumber Barito, Propinsi Kalimantan Tengah. Kawasan hutan Cagar Alam Sapat Hawung termasuk tipe ekosistem hutan hujan tropika pegunungan laut. Topografi kawasan Cagar Alam Sapat Hawung bervariasi dari agak curam, curam, dan sangat curam yang terdiri atas pegunungan yang berbatu-batu dengan ketinggian antara 500 meter – 1500 meter dari permukaan laut. Menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson Cagar Alam Bukit Sapat Hawung termasuk dalam iklim tipe A, dengan suhu udara rata-rata berkisar antara 26,4˚ C - 27˚ C, sedangkan kelembaban antara 84,6% - 85,5%. Kawasan Cagar Alam Sapat Hawung ditumbuhi oleh jenis tumbuhan Meranti (Shorea sp), Bangkirai (Shorea spp), Agathis (Agathis borneensis), Tengkawang (Shorea spp), Keruing (Dipterocarpus sp), Nyatoh (Callophyllum pulcherriumj wall), Kempas (Koompassia malacensis maing), Ulin (Eusideroxylon zwageri), 8-5

dan kawasan ini dihuni oleh beberapa jenis anggrek hutan famili Orchidceac. Sedangkan jenis satwa yang terpenting di kawasan ini adalah Owa-owa (Hylobates Muelleri), Beruang Madu (Helarctos Malayanus), Macan Dahan (Neofelis neulosa), Rusa (Cervus sp), Kancil (Tragulus javanicus), Kijang (Muntiacus muntjak), Biawak Kalimantan (Varanus bornensis), Burung Rangkong (Buceros sp). Untuk mencapai kawasan Cagar Alam ini dari Palangka Raya dapat ditempuh dengan menggunakan udara dan darat menuju Muara Teweh, dari Muara Teweh selanjutnya menuju ke Puruk Cahu dengan waktu 4 jam. Dari Puruk Cahu ke lokasi menggunakan kendaraan air seperti klotok atau speed boat dengan jarak tempuh 85 km. Fasilitas yang terdapat di sekitar Cagar alam ini adalah penginapan yang tersedia di Teluk Jolo yang dapat ditempuh dengan speed boat kurang lebih 200 km melalui sungai. 8.2.3 Cagar Alam Bukit Tangkiling Kawasan ini terletak diantara 113˚0’ - 113˚02’ BT sampai 1˚45’ - 2˚00’ LS, sedangkan secara administrasi pemerintahan berada di wilayah Desa Tangkiling dan Desa Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Kotamadya Palangka Raya, Propinsi Kalimantan Tengah. Sebagian besar Cagar Alam Bukit Tangkiling termasuk tipe ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah/hutan rawa. Di dalamnya terdapat berbagai jenis tumbuhan hutan hujan tropika dataran rendah, seperti Pelawan (Tristania obovata), Meranti (Shorea sp), Tengkawang (Shorea sp), Geronggang (Cratoxylon arborescens), dan lain-lain.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Sedangkan satwa yang berada di kawasan Cagar Alam Bukit Tangkiling adalah Rusa (Cervus sp), Buaya Sapit (Tomistoma schlenegelli), Burung Tekukur (Streptillia chinensis), Cucak rowo (Pycnonotus zeylanicus), dan lain-lain. Jarak tempuh ke Cagar Alam Bukit Tangkiling tidak jauh dari Ibukota Propinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya yaitu dapat ditempuh dalam waktu 30 menit.

sebelah timur jalan raya Tjilik Riwut km 28 dari kota Palangka Raya menuju Sampit. Secara administratif pemerintahan, kawasan ini berada pada Kelurahan Tumbang Tahai, Kecamatan Bukit Batu, Kota Palangka Raya. Arboretum Nyaru Menteng termasuk dalam tipe hutan tropika dataran rendah, dengan kondisi tanah berawa dan bergambut. Jenis tanah terdiri dari alluvial, organosol, pasir kuarsa, dengan drainase tergenang.

8.2.4 Taman Wisata Bukit Tangkiling Kawasan Taman Wisata Bukit Tangkiling tidak berbeda jauh dengan Cagar Alam Bukit Tangkiling dikarenakan kedua kawasan itu saling berbatasan. Taman Wisata Bukit Tangkiling berada diantara 113˚0’-113˚02 BT sampai 1˚45’2˚00’ KS, sedangkan secara administrasi pemerintahan Taman Wisata Bukit Tangkiling berada di wilayah Desa Tangkiling dan Desa Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Kotamadya Palangka Raya, Propinsi Kalimantan Tengah. Sebagian besar taman wisata ini termasuk dalam ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah/hutan rawa. Didalamnya terdapat berbagai jenis tumbuhan hutan hujan tropika dataran rendah seperti Pelawan (Tristania obovata), Meranti (Shorea sp), Tengkawang (Shorea sp), Geronggang (Cratoxylon arborescens), dan lain-lain. Sedangkan untuk satwa di kawasan ini terdapat : Buaya Sapit (Tomistoma schlenegelli), Burung Tekukur (Streptillia chinensis), Burung Cucak Rowo (Pycnonotus zeylanicus), dan lain-lain.

Jenis tumbuh-tumbuhan yang teridentifikasi adalah : Ramin (Gonistylus bancanus), Meranti Rawa (Shorea sp), Mahang (Macaranga maingayi), Geronggang tergolong (Cratoxylon di sp), arborescens), Kempas (Koompas adalah malacensis), Terentang Bintangur Rengas (Gluta rengas), Balangeran (Shorea balangeran). Pohon yang langka Arboretum Mentibu Nyaru Menteng (Camnospermum (Dactylocladus stenostachys),

(Callophyllum sp), Jelutung (Dyera costaluta), Agathis (Agathis borneensis), Bangkirai (Hopea sp), Gelam Tikus (Melaleuca lecadndron), Jambu-jambuan (Eugenia sp), dan Tumih (Combretocarpus rotundotus). Disamping jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh secara alami, di kawasan ini telah ditanam pula jenis-jenis yang berasal dari luar kawasan yaitu Alau (Dacridium sp), Galam (Eucalyptus sp), Nangka (Arthocarpus heterophylus), Jambu Mente (Anacardium occidentate), Rambutan (Nephelium lappaceum), Saga (Adenathera microsperma), Akasia (Acacia auliculiformis), Sungkai (Peronema canescens), Cempedak (Arthocarpus cempedak), Durian (Durio zibethinus), dan Cemara (Casuarina sp). Sedangkan jenis satwa yang dapat dijumpai antara lain Kera Ekor Panjang (Macaca sp), Biawak (Varanus sp), Burung Cucak Rowo (Pycnonotus zeylanicus), dan sesekali dijumpai Orangutan liar (Pongo Pygmaeus), dan Owaowa (Hylobates muellerii). 8-6

8.2.5 Suaka Margasatwa Arboretum Nyaru Menteng Arboretum Nyaru Menteng adalah kawasan pelestarian plasma nutfah ekosistem hutan rawa di Propinsi Kalimantan Tengah. Nama Nyaru Menteng berasal dari bahasa Dayak yang berarti gagah berani. Kawasan ini terletak di

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

8.3 ISU-ISU Taman Nasional Tanjung Puting merupakan taman nasional dengan ekosistem yang khas, merupakan taman nasional ini. Pembinaan tentang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang warisan dunia yang perlu dilestarikan, dan saat ini kerusakan ekosistem terjadi penebangan ilegal yang dapat menyebabkan

bermukim didalam kawasan konservasi kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat, karena dikhawatirkan akan menimbulkan konflik. Konflik tersebut berupa perambahan areal konservasi oleh masyarakat setempat. Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah dalam rencana tata ruang wilayahnya tahun 2000, telah menyiapkan zonasi untuk : cagar alam, hutan lindung, taman nasional, taman wisata, konservasi ekosistem air hitam, konservasi flora fauna, konservasi hidrologi, konservasi gambut tebal, konservasi mangrove, suaka margasatwa, dan perlindungan pelestarian hutan. Dimana yang menjadi titik fokus zona konservasi mangrove adalah di pesisir Kab. Pulang Pisau, dan Kab. Kapuas.

Gambar 8.4 Pintu Masuk ke Taman Wisata Alam Tanjung Penghujan (Sumber: PPK-ITB, 2002)

8-7

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

9.1 PENGGUNAAN LAHAN Perkebunan, pengembangan perkembunan terutama kelapa cukup potensial untuk dikembangkan, kondisi ini dapat dilihat dimana tanaman kelapa ini sudah dikembangkan oleh masyarakat di pesisir pantai hampir di semua Kabupaten, Sukamara, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Pulang Pisau, dan Kapuas. Daerah pesisir pantai yang cocok dan potensial untuk dikembangkan tanaman kelapa adalah daerah yang tanahnya alluvial berlumpur (sedikit berpasir). Potensi kebun kelapa di wilayah pesisir pantai kurang lebih 33.214 ha dengan produksi kurang lebih 31.585 ton/tahun, dimana dalam hal ini areal perkebunan kelapa termasuk ke dalam hutan produksi. Pertanian Tanaman Pangan, pada wilayah pesisir juga cocok untuk 9.2 ARAHAN DAN KESESUAIAN LAHAN Pemerintah Propinsi Kalimantan Tengah di dalam rencana tata ruang wilayahnya (tahun 2000) telah menyusun zonasi sebagai arahan dalam pengembangan lahan. Arahan tersebut terbagi menjadi zonasi kawasan lindung dan kawasan budidaya. Zonasi kawasan lindung terdiri dari: cagar alam, hutan lindung, taman nasional, taman wisata, konservasi (ekosistem air hitam, flora fauna, hidrologi, gambut tebal, mangrove), suaka margasatwa, perlindungan pelestarian hutan. Sedangkan zonasi kawasan budidaya meliputi: Hutan (produksi, pendidikan dan penelitian, produksi terbatas, tanaman industri), dan kawasan (handil rakyat, pengembangan produkasi, permukiman dan penggunaan lainnya, transmigrasi), lihat Peta Kesesuaian & Arahan Pengembangan Lahan Propinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan arahan tersebut kemudian dilihat kesesuain dengan pengembangan padi dan palawija, ini dapat dilihat di wilayah pesisir Kabupaten Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Pulang Pisau, dan Kapuas. Potensi yang ada adalah seluas 25.990 ha dengan produksi 54.682 ton/tahun. Kehutanan, di wilayah pesisir pantai Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan terdapat Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Selain hutan TNTP terdapat pula hutan mangrove/hutan payau. Hutan mangrove ini mempunyai peranan penting baik sebagai suatu sumber daya maupun sebagai sumber ekosistem yang khas di wilayah pesisir, dan merupakan ekosistem spesifik yang sangat besar peran dan fungsinya dalam melindungi dan menunjang kelestarian sumber daya lainnya di wilayah pesisir pantai dan perairan laut. 9-1 Kabupaten Katingan Sekitar 21% lahan di wilayah pengembangannya sesuai untuk dikembangkan sebagai lahan perkebunan (Kecamatan Katingan Hilir hingga Kecamatan Katingan Hulu), dan sekitar 7% lahan dapat juga digunakan sebagai lahan pengembangan yang dilakukan oleh kabupaten-kabupaten yang ada. Adapun disini diambil contoh tinjauan terhadap 3 kabupaten di wilayah pesisir Kalimantan Tengah.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

basah dan lahan kering (Kecamatan Katingan Hilir, Tewang Sanggalang Garing, dan Pulau Manan). Kabupaten Kotawaringin Timur Lebih sesuai untuk dikembangkan bagi kegiatan non pertanian (pemukiman, industri maupun perdagangan). Hanya sekitar 2% lahan yang sesuai untuk pengembangan perkebunan (Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, dan Baamang) maupun pertanian lahan basah dan lahan kering (Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Baamang).

yaitu seluas 5% dari luas lahan yang berpotensi dikembangkan. Sementara wilayah pengembangan lainnya dapat dikembangkan menjadi pemukiman, industri, perdagangan, dan lain-lain.

Gambar 9.2 Perkebunan Kelapa Intensif di Desa Sebamban, Kec. Mentaya Hilir Selatan, Kab. Kotawaringin Timur (Sumber: PPK-ITB, 2002)

9.3 ISU-ISU Terjadinya deforestasi mengakibatkan menurunnya kualitas lahan untuk ditanami. Lahan yang sangat datar menyebabkan adanya daerah-daerah yang tergenang secara periodik maupun selalu tergenang. Sebagian areal
Gambar 9.1. Lahan Sawah Tadah Hujan Sehabis Masa Panen di Kabupaten Pulang Pisau (Sumber: PPK-ITB, 2002).

pesisir pantai sangat cocok dikembangkan sebagai areal perkebunan, khususnya kelapa. Perkebunan kelapa yang ada hanya dikembangkan oleh rakyat, umur kelapa umumnya sudah tua (diatas 30 tahun), jarak tanam beragam dan pemeliharaan tidak teratur. Ada kecenderungan untuk membuka hutan bakau/mangrove untuk areal pertambakan, hutan bakau ini sangat peka terhadap pencemaran. 9-2

Kabupaten Seruyan Sebesar 30% dari luas lahan yang berpotensi untuk dikembangkan cocok untuk kegiatan perkebunan. Diantara lahan yang sesuai untuk perkebunan tersebut terdapat juga lahan yang sesuai dengan pertanian basah dan lahan kering,

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

10.1 WILAYAH DAN ADMINISTRASI KABUPATEN Propinsi Kalimantan Tengah mencakup wilayah seluas 153.828 km2 dengan luas wilayah pesisir sebesar 100.403 km2 atau sebesar 65,27 % dari total wilayah propinsi. Wilayah pesisir ini terdiri dari atas 4.863 km2 wilayah darat dan 95.540 km2 lautan. Panjang pantai wilayah pesisir ini mencapai 737 km (MacKinnon, dkk., 2000). Sebelum diterbitkannya UU No. 5 Tahun 2002 Tentang Pembentukan Kabupaten Baru di Propinsi Kalteng, wilayah pesisir ini terbagi tiga menjadi wilayah administrasi kabupaten, yaitu: Kabupaten Kapuas, Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kotawaringin Barat. Namun, sejak diterbitkannya UU tersebut, wilayah pesisir sepanjang 737 km tersebut, dipilahpilah menjadi tujuh wilayah administrasi kabupaten, yaitu: Kabupaten Kapuas, yang merupakan kabupaten induk; Kabupaten Pulang Pisau yang merupakan pemekaran dari kabupaten Kapuas. Kabupaten Kotawaringin Timur yang merupakan kabupaten induk, dipecah ke dalam tiga kabupaten, yaitu: Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Seruyan dan Kabupaten Katingan. Terakhir, Kabupaten Kotawaringin Barat yang dipecah menjadi dua, yaitu Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Sukamara. Batas wilayah administrasi masing-masing kabupaten di daratan ditandai oleh Daerah Aliran Sungai (DAS) atau aliran sugai tertentu. Sedang di daerah pesisir, batas wilayah administrasi ini, meskipun mudah ditandai batas ini tidak mempengaruhi pembagian wilayah secara sosial, khususnya ditentukan oleh

jaringan

aktivitas

pemasaran

hasil

produksi

dan

pemasaran

produk

sumberdaya lokal dan atau pemasaran produk luar ke wilayah pesisir. Berdasarkan pola jaringan pemasaran tersebut, wilayah Propinsi Kalteng ini, pada dasarnya terbelah ke dalam tiga kutub pusat pasar dengan jaringannya dari pusat tersebut ke wilayah sekitar dan pedalaman, yaitu pusat pemasaran Kuala Kapuas, Sampit dan Pangkalan Bun/Kumai. Ketiga pusat tersebut merupakan batas-batas sosial yang menyatukan seluruh wilayah pesisir ke dalam tiga kutub pengelompokan yang membelah administrasi secara horisontal. Artinya aktivitas sosial ekonomi penduduk wilayah pesisir ini, tidak terbatasi oleh batas-batas administrasi desanya, kecamatannya dan bahkan kabupatennya. Tetapi membentuk jaringan dari dan ke pusat dan sub pusat ke tiga kutub tersebut secara berjenjang.

Secara administratif seluruh wilayah pesisir mencakup 30 desa yang terbagi ke dalam 9 kecamatan, seperti disajikan dalam Tabel 10.1.

10.1.1 Kabupaten Kapuas Kabupaten Kapuas terletak di daerah khatulistiwa, yaitu antara 0˚8’48’’ sampai dengan 3˚23’00’’ Lintang Selatan (LS) dan 113˚2’36’’ Bujur Timur (BT). Luas Kabupaten Kapuas adalah 34.800 km2 atau 22,63% dari luas Propinsi Kalimantan Tengah yang terbagi atas dua kawasan besar yaitu kawasan pasang surut (bagian selatan) yang merupakan potensi pertanian tanaman 10-1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

pangan dan kawasan non pasang surut (umumnya dibagian utara) yang merupakan potensi lahan pertanian perkebunan. Bila dirinci luas wilayah tersebut terdiri atas: • • • • Kawasan hutan belantara Kawasan pemukiman Sungai, Danau, dan Rawa Daerah pertanian : 2.780.183 ha. : 3.553 ha. : 584.280 ha. : 132.264 ha.
3 2 No 1

Tabel 10.1 Wilayah Administrasi Pesisir di Propinsi Kalimantan Tengah (Sumber: diolah dari Kabupaten dan Kecamatan Dalam Angka, 2001) Kabupaten Kapuas Kecamatan Kapuas Kuala Desa 1. Cemara Labat 2. Pelampay 3. Betanjung 1. Kiapak 2. Cemantan 3. Sei Rungan 4. Paduran Sebangau 1. Lempuyang 2. Ujung Pandaran 1. Bapinang Hilir Laut 1. Kuala Pembuang II 2. Sei Bakau 1. Pegatan Hilir 1. Kuala Jelai 2. Pulau Nibung 3. Sei Cabang Barat 4. Sungai Damar 5. Sei Pasir 6. Sungai Raja 7. Sei Baru 8. Sungai Tabuk 9. Sungai Bundung 1. Sei Cabang Timur 2. Teluk Pulai 3. Kubu 4. Sungai Bakau 5. Teluk Bogam 6. Keraya 7. Sungai Bedaun 1. Tanjung Putri

Pulang Pisau

-

Kahayan Kuala

Kecamatan yang langsung berada di wilayah pesisir adalah Kecamatan Kapuas Kuala. Kecamatan Kapuas Kuala mempunyai luas 427 10 desa/kelurahan, yaitu : 1. Batanjung. 2. Cemara Labat. 3. Palampai. 4. Sei Teras. 5. Lupak Dalam. 6. Tamban Baru Selatan. 7. Tamban Baru. 8. Tamban Baru Tenggara. 9. Bandar Raya. 10. Warna Sari. km2 terdiri atas

Kotawaringin Timur Seruyan

a. Mentaya Hilir Selatan b. Pulau Hanaut - Seruyan Hilir

4

5 6

Katingan Sukamara

-

Katingan Kuala Jelai

7

Kotawaringin Barat

-

Kumai

-

Arut Selatan

Gambar 10.1 Kantor Kepala Desa Batanjung, Kabupaten Kapuas (Sumber: PPK-ITB, 2002)

10-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

10.1.3 KABUPATEN KOTAWARINGIN TIMUR Kecamatan yang terletak di wilayah pesisir adalah Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Kecamatan Pulau Hanaut. Kecamatan Mentaya Hilir Selatan mempunyai luas wilayah sebesar 928 km2 , terdiri atas kelurahan/desa : 1. Ujung Pandaran. 2. Lampuyang. 3. Basawang. 4. Parebok. 5. Sebamban. 6. Samuda Besar. 7. Samuda Kecil 8. Samuda Kota 9. Basirin Hilir 10. Jaya Kelapa 11. Basirin Hulu 12. Jaya Karet

Kecamatan Pulau Hanaut mempunyai luas wilayah sebesar 619 km2, terdiri atas kelurahan/desa : 1. Satiruk. 2. Bapinang Hilir Laut.
Gambar 10.2 Kantor Kecamatan Kapuas Kuala yang berlokasi di Desa Lupak Dalam (Sumber: PPK-ITB, 2002).

4. Bapinang Hulu. 5. Makarti Jaya. 6. Rawa Sari.

3. Bapinang Hilir.

10.1.2 Kabupaten Pulang Pisau Kecamatan yang berada di wilayah pesisir adalah kecamatan Kahayan Kuala. Kecamatan Kahayan Kuala mempunyai luas wilayah sebesar 4956 km2. Kecamatan Kahayan Kuala terdiri atas Desa/Kelurahan : 1. Cemantan. 2. Papuyu II Sei Pudak. 3. Kiapak. 4. Papuyu II Sei Barunai 5. Papuyu I Sei Pasanan 6. Sei Rungun 7. Bahaur Hilir. 8. Bahaur Tengah. 9. Bahaur Hulu. 10. Sebangau. 11. Sebangau Permai.

10.1.4 KABUPATEN SERUYAN Kecamatan yang berada diwilayah pesisir adalah kecamatan Seruyan Hilir. Kecamatan Seruyan Hilir mempunyai luas wilayah sebesar 6087 km2 dengan ibu kota Kuala Pembuang. Kecamatan Seruyan Hilir terdiri atas kelurahan/ desa : 1. Sungai Perlu. 2. Kuala Pembuang II. 3. Sungai Bakau. 4. Pematang Panjang. 5. Kuala Pembuang I. 6. Pematang Limau. 10-3 9. Jahitan. 10. Baung. 11. Kartika Bhakti. 12. Halimung Jaya. 13. Bangun Harja. 14. Mekar Indah.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

7. Tanjung Rangas. 8. Muara Dua. 10.1.5 KABUPATEN KATINGAN

15. Tanggul Harapan.

10.1.7 KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT Kecamatan yang berada di wilayah pesisir adalah kecamatan Arut Selatan dan Kumai. Kecamatan Arut Selatan mempunyai luas wilayah 2400 km2, terdiri atas kelurahan/desa : 1. Tanjung Putri. 2. Kumpai Batu Bawah. 3. Kumpai Batu Atas. 4. Pasir Panjang. 5. Mendawai. 6. Mendawai Seberang. 7. Raja. 8. Sidorejo. 9. Madurejo. 10. Baru 11. Raja Seberang 12. Rangda 13. Sulung Kenambui 14. Runtu 15. Umpang 16. Natai Raya 17. Medang Sari

Kecamatan yang terletak diwilayah pesisir adalah kecamatan Katingan Kuala dan Mendawai. Kecamatan Katingan Kuala mempunyai luas wilayah 1440 km2, terdiri atas kelurahan/desa : 1. Pegatan Hilir. 2. Pegatan Hulu. 3. Kampung Keramat. 4. Kampung Tengah. 5. Kampung Baru. 6. Setia Mulia 7. Bangun Jaya 8. Jaya Makmur 9. Subur Indah 10. Singgam Raya

Kecamatan Mendawai mempunyai luas wilayah 1826 km2, terdiri atas kelurahan/desa : 1. Teluk Sebulu. 2. Mendawai. 3. Mekar Tani. 4. Kampung Melayu. 10.1.6 KABUPATEN SUKAMARA Kecamatan yang terletak di wilayah pesisir adalah kecamatan Jelai. Kecamatan Jelai mempunyai luas wilayah sebesar 1566 km2, terdiri atas kelurahan/desa : 1. Kuala Jelai. 2. Pulau Nibung. 3. Sungai Baru. 4. Sungai Bundung. 5. Sungai Raja. 10-4 6. Sungai Damar. 7. Sungai Labuk. 8. Sungai Cabang Barat. 9. Sungai Pasir. 5. Tewang Kampung. 6. Perigi. 7. Tumbang Bulan. Kecamatan Kumai mempunyai luas wilayah sebesar 4456 km2, terdiri atas kelurahan/desa : 1. Sungai Cabang. 2. Teluk Pulai. 3. Sungai Sekonyer. 4. Kubu. 5. Sungai Bakau. 6. Teluk Bogam. 7. Keraya. 8. Sebuai. 9. Sengai Kapitan. 10. Kumai Hilir. 11. Batu Belaman. 12. Sungai Tendang. 13. Candi. 17. Amin Jaya. 18. Karang Mulya. 19. Arga Mulya. 20. Marga Mulya. 21. Kebon Agung. 22. Sidomulyo. 23. Pangkalan Tiga. 24. Pandu Sanjaya. 25. Makarti Jaya. 26. Lada Mandala Jaya. 27. Pangkalan Banteng. 28. Sumber Agung. 29. Purbasari.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

14. Kumai Hulu. 15. Sungai Bedaun. 16. Mulya Jadi.

30. Sungai Rangit Jaya. 31. Bumi Harjo.

merusak tersebut, adalah pertama karena masih relatif rendahnya permintaan pasar terhadap berbagai jenis ikan. Kedua, kesadaran penduduk untuk tidak menggunakan cara penangkapan tersebut, karena merusak ‘rumah’ (habitat) ikannya, sehingga akhirnya akan merugikan mereka sendiri. Ketiga, adanya pembatasan wilayah adat, telah membantu penduduk setempat untuk mengelola wilayah sumberdaya penghidupan mereka. Di wilayah ‘daratan’, jenis sumberdaya wilayah pesisir terdiri atas berbagai macam, yaitu lahan daratan, persawahan rawa pasang surut, rawa, tambak, danau di tengah rawa, sungai, dan hutan bakau. Luas dari masing-masing potensi sumberdaya disajikan pada Tabel 10.2. Lahan daratan yang berupa lahan kering di wilayah pesisir pada umumnya dijadikan kebun pohon kelapa. Hampir di setiap desa-desa pesisir terlihat kebun-kebun kelapa yang cukup luas. Tabel 10.2 menunjukkan bahwa sumberdaya utama di wilayah pesisir adalah laut, sungai, hutan bakau, dan rawa. Artinya di seluruh wilayah pesisir di propinsi Kalimantan Tengah, akan selalu dijumpai ketiga jenis sumberdaya tersebut. Sumberdaya lain yang juga ditemukan di seluruh wilayah pesisir adalah tanah darat, baik berupa kebun atau pekarangan rumah, sawah pasang surut, dan hutan. Tiga jenis sumberdaya pesisir, yaitu sungai, laut dan hutan bakau, pada umumnya merupakan sumberdaya milik bersama (common property). Artinya, semua orang dapat mengeksploitasi sumberdaya di mana saja dan kapan saja. Akan tetapi, terhadap sumberdaya bersama tersebut, penduduk menerapkan tata aturan adat tentang siapa yang boleh mengusahakan dan siapa yang tidak dibenarkan untuk mengeksploitasinya. Tata aturan adat yang berlaku umum di seluruh wilayah pesisir adalah hak untuk mengeksploitasi, tetapi tidak menguasai apalagi memiliki. Secara adat hak untuk mengeksploitasi diutamakan bagi warga desa/kampung. Warga 10-5

10.2 POTENSI DAN PENGUASAAN SECARA ADAT SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR Potensi sumberdaya wilayah pesisir secara garis besar dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu sumberdaya pesisir ‘daratan’ dan sumberdaya lautan, namun pada umumnya penduduk setempat atau desa/kampung, membatasi wilayah laut desa/kampungnya secara adat, yaitu: dengan memperhitungkan jangkauan kemampuan perahu motor tempel 12 pk (satuan tenaga kuda/horse power), kurang lebih 12 mil dari pantai. Pembatasan/pembentukan wilayah adat ini, menentukan hak penduduk lokal untuk melakukan eksploitasi sumberdaya ikan di dalamnya; dan sekaligus ‘membatasi’ orang luar (bukan penduduk desanya) untuk mengeksploitasi sumberdaya ikan di wilayah itu. Namun demikian, di kalangan penduduk yang letak pemukimannya berhimpit dengan wilayah kampung/desa tetangga, pembatasan tersebut tidak terlalu dipersoalkan oleh warga masyarakat keduabelah kampung/desa yang bersebelahan. dalamnya. Sumberdaya utama di lautan adalah ikan laut yang hidup bebas di lautan dan ikan yang hidup di karang. Di wilayah pesisir Propinsi Kalimantan Tengah sepanjang 737 km, terdapat komunitas-komunitas udang dan ikan di berbagai lokasi, seperti disajikan pada Peta Potensi Perikanan. Meskipun pengambilan berbagai jenis ikan dilakukan dengan teknik tradisional, yaitu menangkap dengan alat khusus, sejenis sungkur dan atau jaring kantong. Hingga kini penduduk tidak menggunakan alat peledak untuk menangkap berbagai jenis ikan. Faktor yang mempengaruhi tidak dipergunakannya teknologi yang Pembatasan wilayah tangkapan secara adat tersebut, sekaligus membatasi teknologi di dalam mengeksploitasi sumberdaya di

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

desa/kampung lain, meskipun tidak dilarang secara tegas; namun, secara adat mereka dianggap kurang pantas untuk mengeksploitasi sumberdaya bersama tersebut di luar area/wilayah kampung/desanya. Untuk mengendalikan eksploitasi sumberdaya laut secara berlebihan, baik oleh warga desa/kampung sendiri atau pun orang luar, selain pembatasan adat tersebut di atas; umumnya penduduk menerapkan pembatasan jenis peralatan untuk penangkapan ikan di wilayah perairan adat atau perairan laut sejauh 12 mil dari pantai. Pada masa lampau, pelanggaran atas ketentuan adat, biasanya diselesaikan dengan pengusiran. Namun, pada saat ini, sejak reformasi, pelanggaran terhadap ketentuan adat, dapat menimbulkan ketegangan yang memuncak pada perselisihan fisik. Akhir-akhir ini, penerapan ketentuan adat tersebut, diberlakukan secara ketat terhadap orang luar desa. Terkecuali mereka yang memililiki ikatan hubungan kekerabatan dengan salah seorang warga desa/kampung tetangganya. Meskipun demikian, yang bersangkutan biasanya memohon ijin kepada pamong desa atau tokoh masyarakat melalui anggota kerabatnya itu. Berbeda dengan sumberdaya bersama, hak penguasaan dan pemilikan sumberdaya lahan, hutan dan rawa yang terdapat di sekitar desa/kampung, di wilayah pesisir relatif lebih jelas. Artinya individu secara tegas dibenarkan untuk menguasai atau memiliki sumberdaya tertentu, baik yang didapatkan dari peninggalan nenek moyang/leluhurnya atau mengusahakan/membuka sendiri di wilayah-wilayah hutan dan rawa yang belum dikuasai oleh orang lain secara adat. Secara umum terdapat dua jenis penguasaan dan pemilikan secara adat, yaitu pertama hak adat bagi warga desa/kampung, seperti halnya berlaku pada sumberdaya bersama disebutkan di atas. Maksudnya, hanya warga

desa/kampung sekitar yang memperoleh hak untuk menguasai dan atau memiliki sumberdaya yang terdapat di sekitar desa/kampungnya. Warga desa/kampung lain tidak dibenarkan untuk memiliki, kecuali yang bersangkutan mempunyai hubungan kerabat dengan salah seorang warga desa/kampung setempat, atau karena yang bersangkutan mendapatkannya melalui warisan atau membeli dari warga desa/kampung tersebut. Seorang anggota kerabat yang dihubungkan karena ikatan perkawinan, hanya memiliki hak untuk menguasai, tetapi tidak memiliki. Namun demikian, penguasaan sumberdaya tersebut dapat diwariskan pada anak-anaknya. Karena hak seorang anak dari keluarga perkawinan perempuan lokal dengan laki-laki luar desa/kampung, secara adat juga diperhitungkan melalui garis keluarga ibunya. Di seluruh wilayah pesisir, penduduk kurang memperhatikan berapa luas penguasaan atau pemilikan sumberdayanya. Umumnya mereka menguasai luas sumberdaya tertentu, sesuai dengan kebutuhan subsistennya atau kemampuan tenaga kerja yang dimilikinya. Peluang untuk melakukan perluasan penguasaan sumberdaya, sejalan dengan kebutuhan subsisten, relatif masih terbuka. Hal ini karena kepadatan penduduk relatif masih rendah, serta kurang berkembangnya ekonomi pasar di wilayah ini. Sehingga upayaupaya oleh individu untuk memperluas pemilikannya, relatif tidak menimbulkan ketidakpuasaan dari anggota masyarakat yang lain.

10-6

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 10.2 Jenis Penggunaan Lahan Wilayah Pesisir Kalimantan Tengah (Sumber: Diolah dari Berbagai Sumber)
Penggunaan Lahan Sawah Lahan Kering Pekarangan Lainnya Hutan Jumlah 42.700,0 495.600,0 Kecamatan / Luas Lahan (ha) Kapuas Kuala 15.729,0 12.459,0 303,0 14.209,0 Kahayan Kuala 106.643,0 111.170,0 2.903,0 274.884,0 76.974,1 92.800,0 Mentaya Hilir Selatan 3.829,4 11.065,0 931,5 Pulau Hanaut 3.940,0 938,0 1.475,0 12.164,0 43.383,0 61.900,0 73.414,8 608.700,0 Seruyan Hilir 1.067,0 7.092,5 Katingan Kuala 2.943,0 2.924,0 399,0 10.000,0 21.827,0 144.000,0 160.000,0 425,0 Jelai 606,0 483,0 Kumai 84,8 15.155,5 3.553,0 140.875,0 68.460,5 445.600,0 240.000,0 Arut Selatan 18,4

No

1 2 3 4 5

10-7

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

10.3 KEADAAN KEPENDUDUKAN Jumlah penduduk di sepanjang wilayah pesisir adalah 48.066 jiwa tersebar tidak merata di 30 desa, seperti disajikan pada Tabel 10.3. Pada tabel tersebut terlihat bahwa jumlah penduduk terbesar terdapat di Desa Pegatan Hilir, kemudian menyusul Desa Batanjung. Besar atau kecilnya jumlah penduduk di masing-masing desa wilayah pesisir, tampaknya dipengaruhi oleh aksesibilitas desa tersebut dengan sub-pusat atau pusat perdagangan. Melalui pusat-pusat ini lah penduduk lokal berhubungan dengan dunia luar. Namun demikian, keterbukaannnya dengan dunia luar, tidak menjamin atau menyebabkan meningkatnya kondisi kehidupan mereka. Karena aktivitas perdagangan dengan pengusaha luar cenderung berlangsung secara tidak seimbang, seperti akan diuraikan di bagian lain. Kepadatan penduduk di desa-desa di wilayah pesisir relatif masih rendah (Tabel 10.3.). Rendahnya tingkat kepadatan penduduk, terbatasnya teknologi dan modal, dan keterisolasian mereka dengan ekonomi atau livelihood menyebabkan mereka masih dalam keadaan bergelut dengan pemenuhan kebutuhan sendiri (subsisten). Dilihat dari kelompok etnisnya, penduduk di sepanjang daerah pesisir terdiri atas berbagai macam kelompok etnis yang mendiami perkampungan secara mengelompok, tetapi tidak seluruhnya dari satu kelompok etnis tertentu saja. Pada umumnya di suatu kampung terdapat kelompok etnis dominan dengan kelompok etnis lain yang hidup berbaur dalam satu wilayah pemukiman. Gambaran umum kelompok etnis dominan di desa-desa sepanjang wilayah pesisir, seperti disajikan pada Tabel 10.4.

Pada umumnya kelompok-kelompok etnis Banjar, Bugis, Jawa, Madura, Sunda yang menetap di wilayah ini telah bermukim kurang lebih sejak tiga generasi yang lalu, Ini artinya sebagian besar penduduk kampung merupakan kelompok penduduk yang lahir dan dibesarkan di kampung tersebut. Sebagai individu yang lahir dan dibesarkan di kampung tersebut, pada umumnya mereka merasa atau menganggap dirinya sebagai penduduk ‘asli’ setempat. Bahasa sehari-hari yang dipergunakan dalam pergaulan antar etnis mempergunakan bahasa Banjar. Pada umumnya kelompok etnis minoritas mampu menguasai bahasa dari kelompok etnis dominan. Sebaliknya, kelompok etnis dominan kurang menguasai bahasa dari kelompok etnis lain, kecuali bahasa Banjar. Peristiwa kerusuhan antar etnis yang pernah terjadi di Kalimantan Tengah membuat penduduk etnis Madura keluar (migrasi) dari daerah pesisir. Hal ini terjadi terutama di kecamatan Kapuas Kuala dan Kahayan Kuala. Sedangkan di daerah pesisir lainnya tidak terjadi migrasi etnis tersebut, karena penduduk lokal di daerah itu relatif membaur dengan baik. Di Kabupaten Kotawaringin Timur, suku Dayak Ngaju tersebar didaerah yang cukup luas, sehingga sebagian besar mudah mengadakan kontak dengan dunia luar. Mereka yang berdiam di tepi pantai atau muara sungai akan lebih banyak menerima pengaruh budaya luar dibanding yang tinggal di hulu sungai. Kelompok kebudayaan di sebelah hilir yang banyak menerima pengaruh dari luar. Di daerah ini juga didiami oleh suku daerah lain dengan perbandingan yang tidak jauh berbeda dengan banyaknya suka Dayak Ngaju sendiri, misalnya suku Banjar, Jawa, Madura, Sunda, Batak, dan lain-lain.

10-8

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 10.3 Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Kepadatan PendudukDesa-Desa Pesisir Kalimantan Tengah (Sumber: Diolah Dari Kabupaten dan Kecamatan Dalam Angka Tahun 2001)
Kabupaten Kecamatan Desa Jml. Penduduk (Jiwa) 3.643 1.849 560 Sub.Total : 1.Cemantan 2.Pulang Pisau Kahayan Kuala 2.Kiapak 3.Sei Rungun 4.P.Sebangau Sub.Total : 3.Kotawaringin Timur Mentaya Hilir Selatan Pulau Hanaut 1.Ujung Pandaran 2.Lampuyang 3.Bapinang Hilir Laut Sub.Total : 1.Kuala Pembuang II 4. Seruyan Seruyan Hilir 2.Sei Bakau Sub.Total : 5. Katingan Katingan Kuala Sub.Total : 1.Kuala Jelai 2.Pulau Nibung 3.Sungai Baru 4.Sungai Bundung 6. Sukamara Jelai 5.Sungai Raja 6.Sungai Damar 7.Sungai Tabuk 8.Sungai Cabang Barat 9.Sungai Pasir Sub.Total : 1.Sei Cabang Timur 2.Teluk Pulai 3.Kubu 7. Kotawaringin Barat Kumai 4.Sungai Bakau 5.Teluk Bogam 6.Keraya 7.Sungai Bedaun Arut Selatan 1. Tanjung Putri Sub.Total : TOTAL : 1.Pegatan Hilir 525 8.065 4.795 4.795 2.612 842 175 137 197 737 617 1.741 1.410 4.702 756 598 1.912 1.013 738 663 732 1.552 7.964 48.066 92 2.144 1.540 1.540 645 199 31 31 45 142 130 354 285 956 155 96 381 251 187 112 303 530 1.860 12.096 6 5 3 3 5 4 6 4 3 5 5 5 5 5 5 6 5 4 4 6 3 3 4 4 133,0 221,0 337,0 337,0 34,0 230,0 237,0 269,0 26,0 96,0 323,0 98,0 287,0 1.600,0 333,0 478,0 122,0 111,0 82,0 78,0 403,0 19,0 1.293,0 7.972 4 36 14 14 77 4 1 1 8 8 2 18 5 3 2 1 16 9 9 9 2 82 6 6 6.052 869 617 1.180 5.980 8.646 802 2.216 4.824 7.842 7.540 Jumlah KK 962 489 162 1.613 216 162 273 1.503 2.154 184 447 1.198 1.829 2.052 Rata-Rata Jumlah Anggota RT 4 4 3 4 4 4 4 4 4 4 5 4 5 4 Luas wilayah (km2) 87,5 50,0 27,5 165,0 352,0 84,0 127,0 3.124,5 3.687,5 282,0 79,0 307,0 668,0 88.0 Kepadatan Penduduk (Jiwa/km2) 42 37 20 37 2 7 9 2 2 3 28 16 12 86

1.Batanjung 1. Kapuas Kapuas Kuala 2.Cemara Labat 3.Palampai

10-9

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 10.4. Kelompok Etnis Dominan dan Lainnya Di Desa-Desa Wilayah Pesisir Kalimantan Tengah (Sumber: Diolah Dari Kabupaten dan Kecamatan Dalam Angka Tahun 2001, Observasi Dan Wawancara)
Kabupaten 1. Kapuas 2.Pulang Pisau Kecamatan Kapuas Kuala Desa -Batanjung -Cemara Labat -Palampai -Cemantan -Kiapak -Sei Rungun -Ujung Pandaran -Lampuyang - Bapinang Hilir Laut -Kuala Pembuang II -Sei Bakau -Pegatan Hilir -Kuala Jelai -Pulau Nibung -Sungai Baru -Sungai Bundung -Sungai Raja -Sungai Damar -Sungai Tabuk -Sungai Cabang Barat -Sungai Pasir -Sei Cabang Timur -Teluk Pulai -Kubu -Sungai Bakau -Teluk Bogam -Keraya - Banjar -Banjar - Mendawai - Mendawai - Mendawai - Mendawai - Mendawai - Mendawai - Mendawai - Mendawai - Mendawai - Mendawai - Bugis - Mendawai - Mendawai - Bugis - Bugis - Bugis, Jawa, Madura - Bugis, Jawa. -Bugis, Banjar, Jawa, Madura -Bugis, Banjar, Jawa, Madura -Bugis, Banjar, Jawa, Madura -Bugis, Banjar, Jawa, Madura -Bugis, Banjar, Jawa, Madura -Bugis, Banjar, Jawa, Madura -Bugis, Banjar, Jawa, Madura -Bugis, Banjar, Jawa, Madura -Bugis, Banjar, Jawa, Madura - Bugis, Madura, Jawa - Mendawai, Banjar, Jawa -Banjar, Bugis, Madura, Jawa - Bugis, Banjar, Sunda - Mendawai, Banjar, Jawa - Mendawai, Banjar, Madura Etnis Dominan - Banjar - Banjar - Banjar - Banjar - Banjar - Banjar - Banjar - Banjar - Banjar - Banjar Lainnya - Jawa, Dayak, Bugis - Jawa, Sunda - Jawa, Sunda -Bugis, Jawa, Dayak -Bugis, Jawa, Dayak -Bugis, Jawa, Dayak - Bugis, Madura, Jawa - Bugis, Madura, Jawa - Jawa dan Bugis - Madura, Mendawai, Jawa, Bugis

Kahayan Kuala Mentaya Hilir Selatan

3.Kotawaringin Timur Pulau Hanaut 4. Seruyan 5. Katingan Seruyan Hilir Katingan kuala

6. Sukamara

Jelai

Kumai

7. Kotawaringin Barat

Arut Selatan

-Tanjung Putri

- Mendawai

-Bugis, Banjar, Madura, Jawa

10-10

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

10.4 AKSESIBILITAS Daerah pesisir pada umumnya dapat dijangkau dengan transportasi laut, sungai, dan darat. Sarana perhubungan yang menghubungkan antar desa di wilayah pesisir paling banyak menggunakan transportasi sungai dan laut. Selanjutnya sarana perhubungan yang menghubungkan daerah pesisir ke kota-kota kecamatan dan kabupaten dapat menggunakan transportasi sungai/laut dan transportasi darat (khususnya penduduk di pesisir Kecamatan Kumai, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Kecamatan Seruyan Hilir).
Perhubungan Laut

Propinsi Kalimantan Tengah memiliki 10 (sepuluh) pelabuhan utama yang semuanya dikategorikan sebagai pelabuhan sungai yaitu Pelabuhan Kereng Bengkirai, Sampit, Pulang Pisau, Kuala Kapuas, Pangkalan Bun, Kumai, Sukamara, Samuda, Kuala Pembuang, dan Pagatan Mendawai. Sebagian besar, barang yang dibongkar untuk pelayaran luar negeri berlangsung di Pelabuhan Pulang Pisau. Demikian juga untuk bongkar barang pelayaran dalam negeri sekitar 28% (193.777 ton) berlangsung di Pelabuhan Pulang Pisau. Kemudian diikuti oleh pelabuhan Sampit (175.803 ton atau 26%), Pelabuhan Kumai dan Pangkalan Bun masing-masing sekitar 18%. Untuk pelayaran rakyat, urutan volume barang yang dibongkar berada di Pelabuhan Kumai (40%), diikuti dengan pelabuhan Samuda (18%) dan Pelabuhan Sukamara (16%). Pemuatan barang pelayaran luar negeri sebagian besar berlangsung di Pelabuhan Pangkalan Bun (sekitar 71% atau 273.317 ton), kemudian diikuti oleh Pelabuhan Sampit (sekitar 19% atau 72.661 ton). Untuk pelayaran dalam negeri sekitar 39% berlangsung di Pelabuhan Sampit, kemudian diikuti Pelabuhan Pegatan Mendawai (13%) dan Pelabuhan Kuala Pembuang (13%). Untuk pelayaran rakyat, sekitar 48% barang dimuat melalui Pelabuhan Kumai, kemudian diikuti oleh Pelabuhan Palangka Raya (23%) dan Pelabuhan Pegatan Mendawai (15%). Dengan demikian terlihat peranan pelabuhan yang ada di Propinsi Kalimantan Tengah adalah sebagai berikut : 1. Pelabuhan Pangkalan Bun mempunyai peranan penting sebagai pelabuhan ekspor untuk produk-produk hasil kehutanan di Propinsi Kalimantan Tengah. 2. Pelabuhan Kumai merupakan pelabuhan yang penting untuk kegiatan bongkar muat barang bagi pelayaran rakyat. 3. Pelabuhan Sampit mempunyai peranan penting untuk bongkar muat barang untuk pelayaran dalam negeri. Sedangkan untuk pelayaran luar negeri, peranannya masih dibawah Pelabuhan Pulang Pisau dan Pelabuhan Pangkalan Bun. 10-11

Di seluruh wilayah pesisir di Propinsi Kalimantan Tengah perhubungan laut merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan desa-desa pesisir di daerah ini. Pada umumnya jalur perhubungan laut menghubungkan desadesa pesisir antar kecamatan, antar kabupaten dan antar daerah pesisir dengan kota-kota di luar Propinsi Kalteng, seperti ke Pontianak, Banjarmasin dan Pulau Jawa (Semarang dan Surabaya). Jalur perhubungan laut dipusatkan di pelabuhan-pelabuhan sungai. Pelabuhan-pelabuhan tersebut juga merupakan pusat perekonomian bagi daerah-daerah di sekitarnya. Sehingga jika penduduk pesisir akan bepergian ke luar daerah harus menuju pelabuhan tersebut dahulu. Alat transportasi yang digunakan pada perhubungan laut ini pada umumnya adalah perahu kelotok milik pribadi, sedangkan angkutan umum yang ada adalah speedboat, longboat dan kapal-kapal penumpang yang beroperasi secara reguler. Umumnya pelabuhan-pelabuhan lokal berada jauh ke dalam sungai yang ada di daerah ini. Jarak antara daerah pesisir dengan pelabuhanpelabuhan rata-rata 50 – 150 km.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

4. Pelabuhan Samuda mempunyai peranan yang cukup penting untuk jenis pelayaran rakyat, namun baru terbatas pada pemasukan barang. Konstruksi dermaga Pangkalan Bun terbuat dari kayu dengan kondisi baik. Sedangkan dermaga Kumai terbuat dari Beton dengan kondisi baik. Untuk dermaga Pangkalan Bun perlu diupayakan peningkatan jenis konstruksi pelabuhan untuk melayani kegiatan bongkar-muat barang bagi pelayaran ekspor. Konstruksi dermaga Samuda terbuat dari kayu dengan kondisi kurang baik. Sedangkan dermaga Sampit terbuat dari beton dengan kondisi baik. Untuk dermaga Samuda perlu dilakukan upaya perbaikan/rehabilitasi barang bagi secepatnya mungkin untuk melayani kegiatan bongkar

Perhubungan laut dan sungai merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan kota-kota besar sampai desa-desa di seluruh wilayah pesisir Propinsi Kalimantan Tengah. Pada umumnya pelabuhan-pelabuhan di propinsi ini berada di sungai-sungai besar. Pelabuhan-pelabuhan tersebut juga merupakan pusat perekonomian bagi daerah-daerah di sekitarnya. Perhubungan Sungai Pelabuhan air Kabupaten Kapuas berada di Kota Kuala Kapuas. Untuk menuju daerah pesisir digunakan angkutan sungai yang disebut taksi air dengan kapasitas penumpang antara 20 – 50 orang. Selain itu, juga terdapat speedboat dan kelotok yang mampu mengangkut penumpang sebanyak 15 orang. Jalur perhubungan sungai merupakan lalu lintas utama bagi penduduk di wilayah pesisir untuk berhubungan dengan desa-desa tetangga, baik untuk perhubungan lokal dan regional seperti antar desa dan kecamatan. Bagi penduduk di daerah pesisir yang akan melakukan perjalanan antar kabupaten, atau ke kota-kota besar lainnya di luar propinsi Kalimantan Tengah, terlebih dahulu penduduk harus menuju ke pelabuhan-pelabuhan yang terdapat di kota Kabupaten. Oleh karena pelabuhan kapal-kapal penumpang hanya ada di dalam sungai. Arti penting pelabuhan-pelabuhan tersebut adalah merupakan pusat

pelayaran rakyat.

perekonomian regional bagi daerah-daerah sekitarnya. Pasar di kota-kota kabupaten ini menyediakan berbagai macam keperluan rumah tangga. Jenisjenis barang yang dijual daerah ini mulai kebutuhan sembako, alat-alat rumah tangga, alat-alat elektronik, meubel, toko emas, rumah makan, dan penginapan. Di pelabuhan terdapat pula biro-biro perjalanan laut dan darat.
Gambar 10.3 Angkutan Barang Melalui Sungai Kapuas (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Fasilitas penginapan di daerah ini berupa losmen dan hotel.

10-12

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

penduduk di daerah ini dengan ‘taksi’. Angkutan umum tersebut biasanya beroperasi antara jam 07.00 sampai dengan jam 15.00 WIB. Selanjutnya penduduk wilayah pesisir yang ingin bepergian ke daerah perkotaan, harus menggunakan transportasi laut dan sungai. Kemudian untuk menuju kota-kota seperti Palangka Raya, Sampit, Kuala Kapuas, dan Pangkalan Bun mempergunakan angkutan umum Bus. Jalan darat di Kabupaten Kotawaringin Timur sudah dapat mencapai desadesa pesisir walaupun kondisi jalan masih berupa aspal kasar dan tanah keras. Di daerah ini dilakukan pembangunan jalan, karena daerah ini diproyeksikan sebagai kawasan pariwisata pantai. Untuk mencapai daerah ini terdapat angkutan umum taksi dari kota Sampit. Sampai bulan September 1999, panjang jalan di Propinsi Kalimantan Tengah,
Gambar 10.4 Transportasi Speed Boat oleh Penduduk Setempat (Sumber: PPK-ITB, 2002)

menurut statusnya, mencapai 554.323,68 km yang terdiri atas : Jalan nasional Jalan propinsi Jalan Kabupaten : 1.737,570 km (0,30%). : : 523,510 km (0,09%). 551,971 km (99,61%).

Perhubungan Darat Akses perhubungan darat di wilayah pesisir yang menghubungkan desa-desa pesisir, hanya terdapat di Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Seruyan Hilir Kabupaten Kotawaringin Timur. Di wilayah ini jalan darat relatif sudah cukup baik. Jalan darat di daerah tersebut merupakan jalan penghubung antar desa-desa pesisir. Sedangkan di wilayah pesisir lainnya jalan darat belum dibangun. Di beberapa tempat seperti Kecamatan Kapuas Kuala dan Kecamatan Jelai sudah ada jalan darat berupa jalan tanah dan bergelombang, tetapi hanya bisa dilalui oleh kendaraan bermotor roda dua. Angkutan umum menuju daerah pesisir di kedua kecamatan adalah angkutan yang biasa disebut

Jalan nasional mencakup jalan lintas Kalimantan poros selatan yang menghubungkan batas Kalimantan Barat-Kudangan-Simpang Runtu-SampitPalngka Raya-Kuala Kapuas-batas Kalimantan Selatan dan Palangka RayaTumbang Talaken-Tewah-Muara Teweh-Ampah-batas Kalimantan Selatan, dan Muara Teweh-Benangin-batas Kalimantan Timur.

10-13

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Pada masa mendatang, jalan propinsi yang akan ditingkatkan statusnya menjadi jalan nasional adalah : • • • Ruas Jalan Palangka Raya-Buntok-Ampah sepanjang 251,25 Km. Ruas Sampit-Samuda-Ujung Pandaran sepanjang 87,80 Km. Ruas Pangkalan Lima-Kumai sepanjang 12,0 Km.

Pada tahun 1998, JICA bekerjaama dengan Bappenas menyusun studi perencanaan regional menyeluruh untuk Kalimantan Tengah-Barat. Studi ini mengusulkan dan sekaligus merencanakan rute jalan di kawasan tengah dan hulu untuk mengembangkan koridor pembangunan dataran tinggi dengan tujuan : untuk menghubungkan daerah aliran sungai (DAS) yang berdekatan di bagian tengah untuk meningkatakan integrasi ekonomi di dataran tinggi. Jalan-jalan tersebut akan menjadi jalan utama untuk mengangkut hasil-hasil
Gambar 10.5 Kondisi Jalan di Asam Baru yang menghubungkan Sampit dan Pangkalan Bun (Sumber: PPK-ITB, 2002)

pertanian, terutama TBS kelapa sawit dari perkebunan ke pabrik CPO. Untuk mengangkut CPO dari pabrik-pabrik CPO ke industri hilir produksi yang berlokasi di Kumai. Pembangunan adalah dari jalan-jalan Nanga tersebut diperlukan karena masih kurang Sambaberkembangnya daerah ini oleh kekuatan luar. Rute jalan yang diusulkan Bulik-Pungkut-Tumbang Sangai-Tumbang Rabambang, dan selanjutnya menuju ke Teweh – batas Kalimantan Timur. Usulan JICA dan Bappenas yang telah diadopsi oleh Pemerintahan Daerah Kalimantan Tengah untuk rencana pengembangan wilayah pada masa mendatang jelas mengubah rencana struktur jaringan jalan yang tertuang dalam RTRWP. Sebagai antisipasi terhadap kecenderungan perubahan ini maka direncanakan pembangunan jalan kabupaten yang menghubungkan Tumbang Senamang dan Tumbang Manjul dengan Tumbang Sangai. Jalan poros pada koridor pembangunan dataran tinggi membutuhkan standar jalan

Gambar 10.6 Kondisi Perbaikan Jalan yang Menghubungkan Desa Ujungpandaran dan Desa Sei Bakau (Sumber: PPK-ITB,2002)

yang tinggi karena akan digunakan oleh truk berat yang membawa hasil pertanian, termasuk CPO ke industri di Kumai. 10-14

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Gambar 10.7 Pelabuhan Perahu Penyeberangan yang menghubungkan Desa Kuala Pembuang Satu dengan Kota Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 10.8 Kondisi Jalan Di Kalimantan Tengah (Sumber: Dinas PU Propinsi Kalimantan tengah, 2002)

Jaringan Listrik dan Sarana Komunikasi Akses perhubungan darat yang sudah ada untuk menghubungkan Kota Palangka Raya dengan wilayah pesisir terutama adalah jalan-jalan yang menuju daerah desa-desa pesisir di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan Kotawaringin Timur dan desa-desa pesisir di Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat. Sedangkan untuk menuju wilayah pesisir di lima kabupaten lainnya hanya dapat dicapai dengan melalui transportasi sungai dan laut. Pada umumnya jalan darat menuju daerah pesisir hanya sampai di kota kabupaten atau kota kecamatan yang terdekat dengan daerah tersebut (lihat Gambar 10.8 dan Peta Sarana Transportasi Propinsi Kalimantan Tengah). Fasilitas jaringan listrik di daerah pesisir umumnya hanya dimiliki sebagian kecil penduduk. Sumber listrik yang dipergunakan umumnya berupa generator milik pribadi yang disambungkan ke beberapa tetangganya. Fasilitas listrik ini sudah dinikmati penduduk sejak pertengahan tahun 1980-an. Penduduk yang memiliki generator listrik, umumnya berasal dari kalangan ekonomi tergolong cukup mampu. Fasilitas listrik PLN di wilayah pesisir, hanya terdapat di Kecamatan Kumai Kabupaten Kotawaringin Barat. Fasilitas listrik mulai dinikmati penduduk daerah ini sekitar awal tahun 1990-an. Hampir sebagian besar desa-desa pesisir di kecamatan ini sudah menikmat fasilitas listrik.

10-15

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Kabupaten 1. Kapuas

2.Pulang Pisau

3.Kotawaringin Timur 4. Seruyan 5. Katingan 6. Sukamara

Tabel 10.5 Fasilitas Listrik, Telepon, Radio, dan Televisi di Kalimantan Tengah (Sumber: Diolah dari Kabupaten Dalam Angka dan Kecamatan Dalam Angka, 2001) Radio TV Kecamatan Desa Telepon (buah) (buah) 36 273 Kapuas Kuala -Batanjung 24 236 -Cemara Labat 34 164 -Palampai Kahayan Kuala -Cemantan -Kiapak -Sei Rungun Mentaya Hilir Selatan -Ujung Pandaran 21 6 -Lampuyang 39 15 Seruyan Hilir -Kuala Pembuang II 210 45 65 20 -Sei Bakau Katingan Kuala Jelai -Pegatan Hilir -Kuala Jelai -Pulau Nibung -Sungai Baru -Sungai Bundung -Sungai Raja -Sungai Damar -Sungai Tabuk -Sungai Cabang Barat -Sungai Pasir -Sei Cabang Timur -Teluk Pulai -Kubu -Sungai Bakau -Teluk Bogam -Keraya -Sungai Bedaun 320 25 -

Listrik 30% 40% 20%

30% 20% 40% 30% 50% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 30% 60% 60% 60% 40% 30%

2723

320

7. Kotawaringin Barat

Kumai

4200

520

10-16

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

kota kecamatan atau kota-kota kabupaten. Secara umum tingkat pendidikan penduduk di daerah pesisir relatif masih rendah, yaitu Sekolah Dasar dan sebagian lainnya malah tidak menamatkan Sekolah Dasar.

Gambar 10.9 Pelabuhan Taxi Sungai (Speed Boat) di Kab. Kapuas (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Adanya fasilitas listrik tersebut, membuka peluang penduduk mampu untuk memilik pesawat televisi. Pada Tabel 10.5 terlihat jumlah televisi yang dimiliki penduduk di wilayah pesisir. Sebagian besar penduduk adalah memiliki radio. Sarana komunikasi lain dengan penduduk wilayah pesisir adalah pos surat dan telepon. Fasilitas tersebut, terdapat di kota-kota kecamatan di wilayah mereka. Tabel 10.6 menunjukkan fasilitas kesehatan yang terdapat di wilayah pesisir. Pendidikan dan Kesehatan Fasilitas pendidikan di daerah-daerah pesisir di Kalimantan Tengah pada umumnya hanya Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah, seperti terlihat dalam Tabel 10.6. Penduduk daerah pesisir yang akan melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Lanjutan Pertama dan Sekolah Lanjutan Atas, harus ke kotaPada umumnya terdapat Puskesmas Pembantu di hampir setiap desa. Sedangkan Puskesmas, hanya terdapat di Desa Kuala Jelai Kecamatan Jelai Kabupaten Sukamara. Sebagian besar penduduk biasanya berobat ke dukun yang melakukan praktek pengobatan secara tradisional atau membeli obatobatan di warung. 10-17
Gambar 10.10 Bangunan Sekolah Dasar di Desa Sei Sekonyer, Tanjung Harapan, Kotawaringin Barat (Sumber: http://safier.studentenweb.org).

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Rumah sakit hanya terdapat di ibukota kabupaten, seperti di Kota Kuala Kapuas, Sampit dan Pangkalan Bun. Akan tetapi, beberapa Puskesmas di daerah pesisir menyediakan fasilitas rawat inap dengan kapasitas tempat tidur dan prasarana terbatas. Khusus penduduk di daerah Kecamatan Kapuas Kuala, jika memerlukan perawatan rumah sakit mereka cenderung pergi ke kota Banjarmasin karena fasilitasnya relatif lebih lengkap dibandingkan kota Kuala Kapuas. Salah satu kebutuhan lain yang sangat diperlukan penduduk adalah kebutuhan sarana air bersih. Pada umumnya kebutuhan air bersih penduduk relatif sulit. Sebagian besar sumur di daerah pesisir airnya payau. Untuk mendapatkan air bersih penduduk harus mengambilnya ke sebelah hulu sungai-sungai yang ada di daerahnya. Kesulitan mendapatkan air bersih terutama dirasakan pada musim kemarau. Penduduk harus ke hulu, rata-rata jarak tempuhnya mencapai 4 – 5 jam.
Gambar 10.12 Instalasi Sumur Pompa, Menara Penyaring Logam Berat, dan Tandon Air Bersih untuk Keperluan Pabrik Es dan Masyarakat Sekitar PPI Kumai, dalam Kondisi Belum Difungsikan Sepenuhnya (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 10.11 Salah Satu Tandon Air Bersih Penduduk Desa Lupak Dalam, Kab. Kapuas (Sumber: PPK-ITB, 2002).

Gambar 10.13 Proses Pembuatan Es di Pabrik Es Kompleks PPI Kumai (Sumber: PPK-ITB,2002)

10-18

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 10.6 Fasilitas Pendidikan dan Kesehatan di Kalimantan Tengah (Sumber: Diolah dari Kabupaten Dalam Angka dan Kecamatan Dalam Angka, 2001)

Kabupaten 1. Kapuas

Kecamatan Kapuas Kuala

Desa -Batanjung -Cemara Labat -Palampai -Cemantan -Kiapak -Sei Rungun -Ujung Pandaran -Lampuyang -Kuala Pembuang II -Sei Bakau

Pendidikan SD Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada SLTP Ada Ada Mibt Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Mts Ada Ada -

Kesehatan Puskesmas Ada Pustu Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada

2.Pulang Pisau

Kahayan Kuala

3.Kotawaringin Timur 4. Seruyan

Mentaya Hilir Selatan Seruyan Hilir

5. Katingan 6. Sukamara

Katingan Kuala Jelai

7. Kotawaringin Barat

Kumai

-Pegatan Hilir -Kuala Jelai -Pulau Nibung -Sungai Baru -Sungai Bundung -Sungai Raja -Sungai Damar -Sungai Tabuk -Sungai Cabang Barat -Sungai Pasir -Sei Cabang Timur -Teluk Pulai -Kubu -Sungai Bakau -Teluk Bogam -Keraya -Sungai Bedaun

10-19

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

10.5

SUMBER PENGHIDUPAN PENDUDUK DI WILAYAH PESISIR KALIMANTAN TENGAH

kentong), rempa kembong, sungkur, dll.

Aktivitas nelayan melaut biasanya di darat

Mata pencaharian utama penduduk di wilayah pesisir pada umumnya adalah nelayan laut. Kecuali di Desa Sungai Bakau Kecamatan Seruyan Hilir mata pencaharian utamanya adalah sebagai pencari kayu (membatang). Sedangkan mata pencaharian tambahannya adalah sebagai petani sawah, berkebun, kerajinan ikan asin, kerajinan terasi, kerajinan udang ebi, nelayan darat, mengumpulkan kulit kayu gembor (menggembor), menebang kayu (membatang), mengumpulkan getah jelutung, dan mendulang emas (lihat Tabel 10.9). Nelayan laut di kawasan pesisir Kalimantan Tengah dapat dikategorikan kedalam dua kategori yaitu: nelayan pesisir dan nelayan laut lepas. Pada umumnya (lihat Tabel 10.9) nelayan laut lepas dan pesisir yang ada di kawasan pesisir Kalimantan Tengah menggunakan alat-alat tangkap yang masih sederhana, jukung, dan perahu motor dengan kapasitas mesin tempel 12-20 pk. Ukuran perahu umumnya dibawah 5 GT (Gross Ton/bobot kapal) dan hanya sebagian kecil yang memiliki perahu ukuran 5 - 10 GT. Nelayan laut lepas mempunyai kemampuan melaut sejauh diatas 4 mil dari pantai. Sedangkan nelayan pesisir menangkap ikan di perairan pantai kurang dari 4 mil. Nelayan pesisir yang tidak memiliki perahu, mencari ikan dengan menggunakan jaring tarik. Kedua tipe nelayan laut tersebut memiliki perbedaan waktu beraktivitas. Nelayan pesisir umumnya bekerja dari jam 05.00 sampai dengan jam 17.00 WIB. Sedangkan nelayan laut lepas, bekerja 3-6 hari di laut lepas. Biasanya dalam satu bulan rata-rata nelayan bekerja di laut selama 20 hari. Ada berbagai jenis alat tangkap yang dipergunakan nelayan untuk menangkap ikan. Sebagian diantaranya tergolong sederhana dengan nama lokal yang tidak dipergunakan dalam statistik perikanan yang dibuat oleh Dinas Perikanan setempat. Pada umumnya para nelayan menggunakan alat tangkap dan perahu sederhana seperti: rawai, rengge, jaring kantong (rempa

pada bulan November hingga bulan Juni. Selanjutnya aktivitas dilakukan pada bulan Januari hingga Agustus.

Sumberdaya hayati dominan ditangkap nelayan adalah udang. Musim udang terutama pada bulan September hingga bulan Oktober. Musim paceklik bagi para nelayan adalah bulan Januari hingga Februari. Bulan Oktober – Desember merupakan musim ikan kembung. Tetapi tidak setiap tahun jenis ikan tersebut terdapat melimpah di perairan.

Para nelayan yang menggunakan alat tangkap Lempara Dasar, relatif tidak mengenal musim dalam melaut. Para nelayan, kapan saja dapat melaut. Meskipun saat musim angin kencang, alat ini dapat digunakan. Sebaliknya alat tangkap sungkur, pada musim angin kencang tidak dapat digunakan. Berdasarkan keterangan penduduk dan laporan hasil penelitian Lembaga Penelitian Universitas Palangkaraya, rata-rata penghasilan nelayan yang mempergunakan alat tangkap lampara adalah sebesar Rp 100.000,- sampai dengan Rp 150.000,- per hari, sedangkan dengan alat sungkur hanya mencapai penghasilan setengahnya per hari.

ada awal pengoperasian alat Lempara dasar tahun 1996, dikalangan tetua/tokoh nelayan pengguna alat Lempara dasar dan tetua nelayan pemakai rempa kantong merumuskan tentang kesepakatan wilayah pengoperasian alat Lempara dasar. Pada waktu itu disepakati bahwa pengoperasian alat Lempara dasar, yaitu daerah Sungai Patin ke arah Barat. Dibawah wilayah itu merupakan wilayah nelayan pemakai rempa kantong (trommel net). Sejak tahun 2000 kesepakatan tersebut dilanggar. Pelanggaran 10-20

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

terjadi karena di wilayah yang telah disepakati tangkapan udang mulai berkurang, sehingga mereka mulai memasuki wilayah nelayan rempa kantong. Reaksi timbul dari nelayan rempa kantong, karena kelompok operasinya dimasuki nelayan lain. Para nelayan khawatir, pada saat musim nelayan rempa kantong beroperasi, tangkapan udang mereka akan berkurang. Penggunaan teknologi dengan Lempara, jenis udang-udang kecil pun akan tereksploitasi. Dinas Perikanan dan Polisi Airud pernah memusyawarahkan mengenai persoalan ini. Tetapi, karena sulitnya pengawasan di laut pelanggaran tetap terjadi. Sehingga potensi konflik semakin berkembang. Faktor lain yang mempengaruhi berkembangnya masalah ini, adalah kedudukan tokoh nelayan yang terlibat dalam kesepakatan, tidak melaut lagi atau sudah tua. Para nelayan muda umumnya tidak memperhitungkan lagi kedudukan mantan tokoh nelayan tersebut.
Gambar 10.15 Udang Kupas Kering Sebagai Komoditi Unggulan Masyarakat di Desa Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 10.14 Bahan Baku Minyak Kopra Hasil Kebun-Kebun Kelapa Masyarakat di Wilayah Pesisir (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 10.16 Bahan Baku Terasi Yang Sebagai Pemanfaatan Lain Dari Udang-udang Kecil Yang Semula Kurang Ekonomis (Sumber: PPK-ITB, 2002)

10-21

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 10.7 Jenis dan Jumlah Perahu Nelayan di Wilayah Pesisir di Kalimantan Tengah (Sumber: Kecamatan Dalam Angka, 2001)
Kabupaten 1. Kapuas Kecamatan -Kapuas Kuala Sub.Total : 2.Pulang Pisau Kahayan Kuala Sub.Total : 1.Ujung Pandaran 3.Kotawaringin Timur Mentaya Hilir Selatan Pulau Hanaut Sub.Total : 4. Seruyan 5. Katingan 6. Sukamara *) Seruyan Hilir Sub.Total : Katingan Kuala Sub.Total : Jelai 1.Kuala Jelai 2.Pulau Nibung 3.Sungai Baru 4.Sungai Bundung 5.Sungai Raja 6.Sungai Damar 7.Sungai Tabuk 8.Sungai Cabang Barat 9.Sungai Pasir Sub.Total : Kumai 7. Kotawaringin Barat *) 1.Sei Cabang Timur 2.Teluk Pulai 3.Kubu 4.Sungai Bakau 5.Teluk Bogam 6.Keraya 7.Sungai Bedaun 1.Tanjung Putri TOTAL : Ket : *) Tidak Ada Data 1.Pegatan Hilir 1.Kuala Pembuang II 2.Sei Bakau 2.Lampuyang 1.Bapinang Hilir Laut 25 16 62 12 12 84 84 38 98 167 335 335 5 5 76 265 332 332 16 16 174 494 679 679 1.Cemantan 2.Kiapak 3. Sei Pudak 4.P.Sebangau Desa 1.Batanjung 2.Cemara Labat 3.Palampai Jukung 419 321 127 867 159 50 132 370 711 21 Kelotok 239 198 96 533 168 82 168 576 994 31 Motor Tempel 1 25 26 Kapal Motor 10 4 12 42 68 189 Jumlah 658 519 223 1,400 337 136 313 1,013 1,799 241

-

-

Arut Selatan Sub.Total :

10-22

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Kebutuhan alat menangkap ikan dan peralatan mesin, diperoleh nelayan pesisir di kota kecamatan atau kota kabupaten. Khusus penduduk Kecamatan Kapuas Kuala, membeli peralatan tersebut ke Banjarmasin atau Kuala Kapuas. Penjual lokal yang menyediakan peralatan nelayan sesuai dengan pesanan terdapat di beberapa desa pesisir. Alat tangkap jenis bahan Lempara jaringnya dibeli di Banjarmasin, sedangkan pembuatan jaring Lempara dikerjakan penduduk daerah Alu-Alu di Kalsel. Jarak dari Kapuas Kuala ke Alu-alu sekitar dua jam menggunakan kelotok. Harga alat Lempara termasuk mesin penarik sekitar Rp. 7.000.000,00 sedangkan jaring Lempara-nya saja sekitar Rp 1.250.000,00. Kebutuhan operasi nelayan seperti garam, BBM, jaring, dan sebagainya tersedia di toko-toko di desa-desa pesisir. Barang-barang tersebut diperoleh pemilik toko dari pedagang-pedagang besar asal Pulau Jawa. Biasanya pedagang asal Jawa yang datang ke Kuala Pembuang membawa barangbarang tersebut, selanjutnya ketika pulang mereka membawa hasil ikan dan udang segar atau sudah diolah menjadi ikan asin atau udang kering. Para nelayan pesisir Kalimantan Tengah berasal dari Banjarmasin, Jawa, dan Indramayu. Mereka pada umumnya nelayan yang datang ke wilayah ini hanya untuk mencari ikan dan tidak tinggal tetap di daerah ini. Para nelayan luar tersebut merupakan nelayan laut lepas. Hasil tangkapan umumnya dipasarkan di daerah asalnya, karena harganya relatif lebih tinggi dibandingkan pemasaran di wilayah Kalimantan Tengah. Sistem pemasaran hasil yang dilakukan para nelayan adalah :1) Menjual ke bandar lokal; 2) Menjual ke bandar di laut pesisir; 3) Menjual ke bandar luar di pantai. Penjualan di tengah laut biasanya dilakukan oleh para nelayan yang tidak memiliki persediaan es balok, sehingga mereka harus cepat-cepat menjualnya agar ikan masih dalam keadaan segar. Jenis tangkapan laut yang

menjadi komoditas unggulan nelayan di daerah ini adalah udang. Jenis udang yang ditangkap adalah udang indomanis, udang putih, dan udang brown. Sedangkan jenis tangkapan ikannya seperti: kembung, otek, pari, patin laut, hiu, senangin, layur, kakap, kidar, kurau, puput, pirang-pirang, belanak, bandeng, selungsungan, telang, dll. Pusat pemasaran udang di wilayah pesisir Kalimantan Tengah terdapat di Kecamatan Kumai. Di daerah ini terdapat perusahaan besar yang menampung udang dari para nelayan untuk diekspor ke luar negeri. Penduduk Desa Kubu Kecamatan Kumai dan desa Sungai Bakau Kecamatan Seruyan Hilir, saat maraknya penebangan kayu ramin pada tahun 1990-an di dalam kawasan taman nasional hampir seluruh penduduknya terlibat sebagai penebang maupun penampung. Para nelayan berhenti menangkap ikan, dan mengoperasikan perahunya untuk menarik rakit kayu. Kegiatan tersebut memberikan penghasilan lebih tinggi dibandingkan dengan menangkap ikan. Potensi perikanan tangkap di daerah pesisir Kalteng adalah dari sungai dan rawa-rawa dengan membuat kolam tradisional (Beje). Jenis ikan nelayan darat ini adalah: udang galah, gabus, kesung, patin, papuyu hitam, papuyu kuning, biawan, pentet, kepiting. Peralatan tangkap yang digunakan adalah raway, bubu, dan jaring insang. Pembuatan kolam Beje terutama dikembangkan penduduk di Kecamatan Kapuas Kuala dan Kecamatan Kahayan Kuala. Penangkapan ikan di sungai merupakan mata pencaharian sampingan bagi nelayan laut yang mempergunakan alat tradisional seperti sungkur. Penggunaan alat sungkur hanya dilakukan pada musim angin teduh. Mata pencaharian sampingan ini perlu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga para nelayan.

10-23

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Sedangkan, sistem penangkapan ikan dengan mempergunakan kolam Beje dilakukan pada musim penghujan dan dipanen pada musim kemarau. Kolam Beje di rawa-rawa ditandai batas-batas kepemilikan yang jelas. Kepemilikan diturunkan ke anak cucunya. Sistem penangkapan Beje sudah dikenal sejak dulu. Jenis ikan yang ditangkap seperti: betutu, pepuyuh, betok, gabus, aruan, sepat. Luas kolam Beje umumnya, lebar 10 depa, sedangkan panjangnya mencapai 200 meter (per orang). Sistem penangkapan kolam Beje berkurang akibat Proyek Lahan Gambut (PLG), pada tahun 1996. Proyek tersebut menyebabkan rawa-rawa menjadi kering dan lahan milik penduduk berkurang.

Pembuatan

tambak-tambak

oleh

pengusaha

dari

luar

menimbulkan

kecemburuan di antara penduduk desa. Ulah pengusaha mendatangkan pekerja dari Jawa dianggap tidak berbagi kepentingan ekonomi bersama dan membiarkan penduduk pesisir hanya menjadi penonton. Pejabat-pejabat desa wilayah pesisir mengaku wilayahnya punya potensi yang baik untuk usaha tambak, tapi mengaku tidak punya keahlian dan dana untuk memulainya. Di desa Kecamatan Kuala Pembuang terdapat lahan tambak yang sudah digarap selama 3 tahun. Sumber air laut untuk lokasi tambak diambil dengan mengandalkan pasang surut air laut. Pada saat air laut pasang pintu penutup saluran dibuka, sehingga air laut dapat masuk ke dalam tambak. Setelah air laut dianggap cukup menggenangi tambak, pintu saluran irigasi tambak ditutup kembali. Petambak di daerah ini merupakan penduduk pendatang dari Jawa yang sudah lama menetap di Kuala Pembuang. Pengusaha tambak
Jumlah 6.405,35 9.827,25 10.484,00 8.978,80 10.844,10 7.565,80 6.537,60 9.061,40 726,90 70.431,20

Tabel 10.8. Produksi Perikanan di Kawasan Pesisir Kalteng Tahun 2001 (Satuan dalam Ton) (Sumber: Kabupaten Dalam Angka, 2001)
Kabupaten 1. Kapuas 2.Pulang Pisau 3.Kotawaringin Timur 4. Seruyan 5. Katingan 6. Sukamara 7. Kotawaringin Barat Kecamatan - Kapuas Kuala - Kahayan Kuala - Pulau Hanaut - Mentaya Hilir Selatan - Seruyan Hilir - Katingan Kuala - Jelai - Kumai - Arut Selatan Jumlah : Sungai 621,07 892,07 9,8 36,2 301,9 918 44,2 0 382 3.205,24 Darat Rawa 504,31 725,14 176,60 5.662,10 234,90 98,00 34,70 7.435,75 Danau 602,09 865,71 1.116,70 Laut 4.677,88 7.344,33 10.474,20 8.942,60 9.248,90 985,70 6.258,50 8.963,40 310,20 57.205,71

di daerah ini mempunyai pengalaman menambak di Kuala Jelai Kecamatan Jelai. Pada awalnya usaha pembukaan tambak oleh para pendatang tersebut dianggap sebelah mata oleh para penduduk lokal. Namun, setelah melihat sistem tambak mampu mendatangkan hasil, penduduk lokal tertarik untuk membuat tambak di daerahnya. Pemasaran hasil tambak udang, dilakukan ke Surabaya atau Semarang.

2.584,50

Jenis mata pencaharian sampingan lain yang banyak digeluti penduduk pesisir Tambak udang/bandeng merupakan salah satu jenis teknologi yang relatif baru dikenal penduduk di wilayah pesisir Kalimantan Tengah. Sistem tambak ini baru dikenal kurang lebih 3-6 tahun. Kecamatan Jelai merupakan daerah yang pertama kali mengembangkan sistem pertambakan. Pengusaha dan buruh tambak udang, umumnya dari Jawa. adalah sektor pertanian. Baik pertanian lahan basah (sawah) maupun lahan darat, seperti penanaman sayuran dan palawija, seperti: labu, singkong, dll. Khususnya di Kecamatan Kahayan Kuala dan Kapuas Kuala sebagian penduduk sudah menanam jenis buah-buahan seperti: semangka. Sedangkan pada umumnya pertanian lahan darat di wilayah pesisir Kalimantan Tengah ditanami pohon kelapa. 10-24

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Lahan sawah di daerah ini pada umumnya hanya dapat ditanami padi satu tahun sekali. Waktu masa tanam pada bulan november-desember, dengan masa panen 5 – 6 bulan. Varietas tanaman padi yang ditanami petani adalah jenis varietas lokal. Hasil panen padi pada umumnya digunakan untuk keperluan subsisten, hanya sebagian kecil saja yang dijual. Aktivitas pertanian biasanya dilakukan pada saat musim angin kencang, yaitu waktu para nelayan tradisional pada musim ini tidak melaut. Tipe lahan sawah yang ada di daerah pesisir yaitu sawah rawa dan sawah pasang surut. Pada lahan sawah pasang surut, pengairan sangat tergantung pada air sungai yang relatif besar yaitu pada musim penghujan. Di setiap desa-desa pesisir terdapat lahan sawah, dengan luasan yang berbeda-beda di setiap desanya.

Menurut keterangan pemilik toko di daerah pesisir (Kecamatan Seruyan Hilir, Mentaya Hilir Selatan, dan Kapuas Kuala), banyaknya orang Madura yang pergi cukup berpengaruh terhadap penurunan aktivitas perdagangan yang ada di daerah tersebut. Hal ini disebabkan selama ini orang-orang Madura inilah yang banyak menjadi pedagang perantara untuk menyalurkan produksi dari dan ke pulau Jawa. Aktivitas perdagangan antar pulau pasca kerusuhan mulai diminati oleh penduduk lokal (orang Banjar) dan orang Jawa yang telah lama bermukim di Kalimantan Tengah. Di kecamatan-kecamatan pesisir lainnya, migrasi besar-besaran orang Madura ke luar Kalimantan Tengah relatif tidak terjadi. Karena penduduk lokal di daerah ini relatif tidak mempermasalahkan keberadaan orang Madura di daerahnya.

Sumber matapencaharian lainnya yang juga digeluti penduduk pesisir adalah Jenis mata pencaharian lain yang digeluti penduduk pesisir adalah pengambilan hasil hutan dan kerajinan. Pengumpulan hasil hutan musiman yang dilakukan penduduk berupa penebangan kayu dan pengumpulan kulit kayu ‘gembor’ (untuk bahan baku pabrik obat nyamuk bakar). Pengumpulan kulit kayu gembor yang dilakukan penduduk secara musiman terdapat di Kecamatan Kumai dan Kecamatan Jelai.

perdagangan. Jenis perdagangan di daerah pesisir adalah warung, toko BBM (Bahan Bakar Minyak), bandar ikan dan bandar hasil pertanian. Meskipun jumlah berbagai perdagangan tersebut di masing-masing desa relatif masih sedikit, namun peran pedagang cukup penting sebagai penyalur produksi desa dan penyedia kebutuhan warga desa. Warung-warung setempat biasanya menjual berbagai barang seperti sabun cuci, sabun mandi, obatobatan, makanan kering (snack) untuk anak kecil dan sejenisnya. Sedangkan toko BBM, selain menyediakan bahan bakar bagi kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan nelayan, juga menyediakan garam untuk pengawet ikan dan alat-alat yang dibutuhkan nelayan.

Adanya potensi tumbuhan Nipah yang ada di rawa-rawa merupakan sumber bahan baku bagi pembuatan kerajinan atap rumah (mengatap). Kerajinan pembuatan atap rumah ini biasanya dilakukan oleh kaum wanita yang ada di daerah pesisir. Selain mengatap, kerajinan yang biasanya dilakukan oleh para wanita adalah pembuatan ikan asin, pembuatan udang kering (ebi), dan pembuatan terasi. Khususnya di daerah Kuala Pembuang terdapat pengrajin krupuk udang/ikan disebut juga krupuk pupuh. Jenis makanan ini sudah menjadi ciri khas makanan di Kalimantan Tengah.

Pada umumnya pedagang adalah pengusaha etnis Madura dan Banjar. Terjadinya kerusuhan antar etnis di daerah Sampit dan sekitarnya, menyebabkan orang Madura harus meninggalkan tempat tinggalnya.

10-25

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 10.9 Mata Pencaharian Utama dan Tambahan Di Desa-Desa Wilayah Pesisir Kalimantan Tengah (Sumber: Kecamatan Dalam Angka 2001 dan Hasil Observasi Lapangan 2002)
Kabupaten Kecamatan Desa 1. Batanjung 2. Cemara Labat 3. Palampai Mata Pencaharian Utama 1.Nelayan pesisir 2.Nelayan pesisir 3.Nelayan pesisir Tambahan 1. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan/Tatah. 2. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan, tambak kepiting. 3. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan. 1. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan,buruh pabrik kayu, Tambak kepiting. 2. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan, tambak kepiting. 3. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan. 1. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kolam Ikan, menebang kayu. 2. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan, Petani tambak.

1. Kapuas

Kapuas Kuala

1.Cemantan 2.Pulang Pisau Kahayan Kuala 2.Kiapak 3.Sei Rungun 1. Ujung Pandaran Mentaya Hilir Selatan 3.Kotawaringin Timur Pulau Hanaut Bapinang Hilir Laut 1.Kuala Pembuang II 4. Seruyan Seruyan Hilir 2.Sei Bakau 5. Katingan Katingan Kuala -Pegatan Hilir 1.Kuala Jelai 2.Pulau Nibung 3.Sungai Baru 4.Sungai Bundung 5.Sungai Raja 6.Sungai Damar 7.Sungai Tabuk 8.Sungai Cabang Barat 9.Sungai Pasir 1.Sei Cabang Timur 2.Teluk Pulai 3.Kubu 4.Sungai Bakau 5.Teluk Bogam 6.Keraya Tanjung Putri 2. Lampuyang

1. Nelayan pesisir 2. Nelayan pesisir 3. Nelayan pesisir 1.Nelayan pesisir dan laut lepas 2.Nelayan pesisir dan laut lepas

1. Nelayan Pesisir 1.Nelayan pesisir 2.Nelayan pesisir dan penebang kayu - Nelayan pesisir 1.Nelayan laut 2. Nelayan laut 3. Nelayan laut 4. Nelayan laut 5. Nelayan laut 6. Nelayan laut 7. Nelayan laut 8.Nelayan laut 9. Nelayan laut 1.Nelayan pesisir dan laut lepas 2. Nelayan pesisir dan laut lepas 3. Nelayan pesisir dan laut lepas 4. Nelayan pesisir dan laut lepas 5. Nelayan laut 6. Nelayan laut Nelayan Pesisir

Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kolam ikan, menebang kayu

1. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan, Tambak udang, ubur-ubur 2. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan, tambak udang, menebang kayu. - Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan, 1 s/d 9. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan, tambak udang, menebang kayu, pengumpul gembor, pengumpul jelutung.

6. Sukamara

Jelai

Kumai

1 s/d 6. Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kerajinan Ebi, Kolam Ikan, tambak udang, menebang kayu, pengumpul gembor, pengumpul jelutung.

7. Kotawaringin Barat

Arut Selatan

Petani, Nelayan Darat, Kerajinan Ikan asin, Kolam ikan, menebang kayu, pengumpul gembor

10-26

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Tabel 10.10 Kelompok Etnis dan Jenis Pekerjaannya Di Desa-Desa Wilayah Pesisir Kalimantan Tengah (Sumber: Diolah Dari Kabupaten dan Kecamatan Dalam Angka Tahun 2001 dan Observasi lapangan)
Kabupaten Kecamatan Desa -Batanjung -Cemara Labat -Palampai 1. Banjar 2. Dayak 3. Bugis 4. Jawa 5. Sunda 1. Banjar 2. Dayak 3. Bugis 4. Jawa 1. Banjar 2. Bugis 3. Jawa 4. Madura 1. Banjar 2. Bugis 3. Jawa 4. Madura 1. Banjar 2. Mendawai 3. Bugis 4. Jawa 5. Madura 1. Banjar 2. Bugis 3. Jawa 1. Mendawai 2. Bugis 3. Banjar 4. Jawa 5.Madura Etnis Jenis Pekerjaan 1. Nelayan Laut, Pedagang, Petani 2. Nelayan Darat, Petani 3. Nelayan Laut 4. Petani 5. Nelayan Laut 1. Nelayan Laut, Pedagang, Petani 2. Nelayan Darat, Petani 3. Nelayan Laut 4. Petani 1. Nelayan Laut, Pedagang, Petani 2. Nelayan Laut 3. Nelayan Laut 4. Pedagang, Petani 1. Nelayan Laut, Pedagang, Petani 2. Nelayan Laut 3. Nelayan Laut 4. Pedagang, Petani 1. Nelayan Laut, Pedagang, Petani 2. Nelayan Laut, Petani 3. Nelayan Laut 4. Petani 5. Pedagang, Petani 1. Nelayan Laut, Pedagang, Petani 2. Nelayan Laut 3. Nelayan Laut, Petani 1. Nelayan laut, Nelayan Darat, Petani. 2. Nelayan laut 3. Nelayan laut, Pedagang, Bandar Ikan 4. Petani Tambak 5. Pedagang, Petani, Bandar Ikan

1. Kapuas

Kapuas Kuala

2.Pulang Pisau Kahayan Kuala Mentaya Hilir Selatan

-Cemantan -Kiapak -Sei Rungun -Ujung Pandaran -Lampuyang

3.Kotawaringin Timur Pulau Hanaut Bapinang Hilir Laut

-Kuala Pembuang II 4. Seruyan Seruyan Hilir -Sei Bakau

-Pegatan Hilir 5. Katingan Katingan kuala -Kuala Jelai -Pulau Nibung -Sungai Baru -Sungai Bundung -Sungai Raja -Sungai Damar -Sungai Tabuk -Sungai Cabang Barat -Sungai Pasir -Sei Cabang Timur -Teluk Pulai -Kubu -Sungai Bakau -Teluk Bogam -Keraya Tanjung Putri

6. Sukamara

Jelai

Kumai 7. Kotawaringin Barat Arut Selatan

1. Mendawai 2. Bugis 3. Banjar 4. Jawa 5. Madura 6. Sunda 1. Mendawai 2. Bugis 3. Banjar 4. Jawa 5. Madura

1. Nelayan laut, Nelayan Darat, Petani. 2. Nelayan laut 3. Nelayan laut, Pedagang, Bandar Ikan 4. Petani Tambak, Nelayan Laut 5. Pedagang, Petani, Bandar Ikan 6. Nelayan Laut, Guru 1. Nelayan laut, Nelayan Darat, Petani. 2. Nelayan laut 3. Nelayan laut, Pedagang, Bandar Ikan 4. Petani Tambak, Nelayan Laut 5. Pedagang, Petani, Bandar Ikan

10-27

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

10.6 STRUKTUR DAN ORGANISASI SOSIAL MASYARAKAT PESISIR Karakteristik masyarakat di wilayah Kalimantan Tengah didominasi penduduk asli suku Melayu dan Dayak Mendawai. Sejak memeluk Islam orang Mendawai tidak lagi mengaku sebagai Dayak tapi mereka mengidentifikasikan diri sebagai Melayu. Bagi mereka, sebutan Dayak identik dengan orang hulu yang beragama Kristen atau penganut sistem kepercayaan tradisional Kaharingan. Selain suku asli, penduduk juga berasal dari berbagai daerah lain seperti Jawa, Madura dan Bugis dalam jumlah kecil dan sudah dianggap sebagai penduduk asli, karena sudah beberapa generasi tinggal di wilayah tersebut. Dominasi kehidupan sosial yang dicirikan dengan kebudayaan Mendawai terdapat di daerah Kecamatan Kumai dan Kecamatan Jelai. Sedangkan pada umumnya pengaruh kehidupan melayu Banjar sangat terlihat di wilayah pesisir Kalimantan Tengah.

dan cukup dekat dengan warga desa lainnya, maka kemungkinan besar yang bersangkutan mendapat dukungan yang besar dari warga. Sistem pemerintahan desa yang diberlakukan oleh pemerintah telah mendesak sistem pemerintahan tradisional atau adat. Sehingga, di desa-desa yang dijadikan lokasi penelitian sistem pemerintahan berdasarkan adat sudah tidak ada lagi. Namun demikian dalam kehidupan masyarakat desa selalu muncul tokoh-tokoh informal yang cukup dihormati dan sering dimintai pendapat jika dalam masyarakat muncul permasalahan. Pemimpin informal ini biasanya orang yang mempunyai wawasan cukup luas seperti guru dan para orang tua yang mempunyai banyak pengalaman, orang yang mempunyai pengetahuan dalam bidang agama dan dukun yang dianggap mempunyai kemampuan dalam pengobatan. Selain itu orang kaya juga sering muncul sebagai tokoh informal dalam masyarakat, karena dengan kekayaannya tersebut bisa memberikan lapangan kerja pada penduduk desa lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari orang-orang tersebut diatas mempunyai posisi khusus dalam masyarakat.

Sejak diberlakukannya sistem pemerintahan desa oleh pemerintah, maka jabatan kepala desa dipilih melalui pemungutan suara. Mulai tahun 1995 pemilihan kepala desa dilakukan setiap lima tahun sekali dan dapat dipilih kembali bila sudah selesai masa jabatannya. Kepala desa (Pembekal) inilah yang menjalankan roda pemerintahan di tingkat pemerintahan paling bawah. Penduduk satu desa umumnya mempunyai hubungan kerabat satu dengan yang lain. Diantara mereka sering terjadi perkawinan antar saudara, meskipun demikian tidak tertutup kemungkinan melakukan perkawinan dengan orang luar atau pendatang. Kedekatan hubungan keluarga ini juga sering menjadi latar belakang atau alasan untuk mendukung salah satu calon kepala desa. Bila seorang calon kepala desa mempunyai hubungan keluarga yang kuat 10-28 Pengelompokkan masyarakat berdasarkan teknologi penangkapan ikan terdapat pada masyarakat pesisir di daerah ini. Seperti terbentuk kelompokkelompok nelayan pemakai alat Sungkur, kelompok pemakai alat Lempara Dasar, dan kelompok petani tambak. Masing-masing kelompok biasanya mempunyai tokoh yang dituakan oleh anggotanya. Tokoh-tokoh inilah yang biasanya berhubungan jika terjadi permasalahan antar kelompok. Namun, demikian terjadinya pengelompokan tersebut tidak berpengaruh terhadap struktur sosial yang ada.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

11.1 BUDIDAYA PERIKANAN Kawasan budidaya di wilayah pesisir dan laut merupakan lokasi yang dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan produksi. Pada dasarnya kawasan budidaya ini terwujud dalam bentuk pengembangan usaha pertambakan air payau (udang dan bandeng), budidaya sungai (keramba) dan budidaya rawa (kolam). Pemanfaatan potensi wilayah pesisir dan laut untuk budidaya di Kalimantan Tengah bisa dikatakan relatif masih rendah, dan sedang dalam rencana perluasan. Khususnya di wilayah Kabupaten Kapuas dan Pulang Pisau terdapat budidaya rawa (kolam) tradisional Beje, yaitu sistem budidaya kolam yang awalnya mengandalkan saluran penjebak ikan pada saat air pasang, kemudian ikan yang terjebak tersebut bisa dipanen secara langsung, dan ada yang dipelihara dahulu hingga 3 – 4 bulan. Jenis-jenis ikan diperairan umum antara lain Jelawat (Leptobarbus sp), Tapah (Wallago sp), Kelabau (Osteochilus sp), Lais (Cryptopterus sp), Gabus (Chana sp), Seluang (Rasbora sp), Baung (Macrones sp), Tabakan (Helostoma sp), dan masih banyak lagi yang merupakan ikan alami perairan air tawar di Kalimantan Tengah. Sedangkan beberapa jenis merupakan ikan introduksi seperti ikan mas (Crypinus Carpio), Nila (Tilapia sp), Nila Merah (Oreochronis nilotilus), dan Patin (Pangasius sp). Terdapat pula jenis ikan di perairan tawar seperti arwana dan botia serta jenis non-ikan yaitu labi-labi. 11-1

Pemanfaatan lahan tambak di wilayah pesisir Kalimantan Tengah diperlihatkan pada Tabel 11.1.

Tabel 11.1 Pemanfaatan Lahan Tambak (Sumber: diolah dari berbagai sumber) No Kecamatan/Kabupaten (Status Setelah Pemekaran) 1 2 3 4 5 6 7 8. Kec. Jelai (Kab. Sukamara) Kec. Arut Selatan (Kab. Kotawaringin Barat) Kec. Kumai (Kab. Kotawaringin Barat) Kec. Seruyan Hilir (Kab. Seruyan) Kec. Mentaya Hilir Selatan (Kab. Kotawaringin Timur) Kec. Pulau Hanaut (Kab. Kotawaringin Timur) Kec. Kahayan Kuala (Kab. Kapuas) Kec. Kapuas Kuala (Kab. Pulang Pisau) Pemanfaatan (hektar) 336,5 70 293,5 36 30 70 12.430 ha (Kab. Kapuas) 21.790 ha (Kab. Kotawaringin Barat) Keterangan Potensi Lahan Tambak Sebelum Pemekaran 54.000 ha (Kab. Kotawaringin Barat)

Dari Tabel 11.1 dapat disimpulkan bahwa potensi tambak paling luas terdapat pada Kabupaten Kotawaringin Barat sebelum pemekaran. Dan secara umum tingkat pemanfaatan potensi tersebut masih sangat rendah, bahkan di

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Kabupaten Kapuas dan Kab. Pulang Pisau (status setelah pemekaran) belum dimanfaatkan sama sekali. Di Kabupaten Kotawaringin Barat, terdapat pembenihan ikan di Balai Benih Ikan/Udang/Bandeng (BBUB) untuk penyediaan benur/nener bagi petani ikan yang berkualitas pada baik dan terus-menerus, teknologi tepat sehingga guna tidak untuk perlu lagi mendatangkan dari luar daerah. Pengembangan Balai Benih Ikan (BBI) akan diarahkan rekayasa menunjang ketersediaan benih ikan. Potensi tambak di Kalimantan Tengah mencapai kurang lebih 84.000 ha. Dari potensi tersebut baru dibuka tambak 800 ha. Areal tambak tersebut sangat potensial untuk memelihara bandeng dan udang. Dari hasil penelitian kerjasama antara Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah dan PPLH Universitas Palangkaraya, dilaporkan bahwa produksi ikan di wilayah pesisir pantai 88-90% berasal dari ikan laut. Potensi perikanan pada tahun 2000 di wilayah pesisir berasal dari perairan umum dan budidaya sebesar 3834,1 ton dan dari laut sebesar 46.046,1 ton.
Gambar 11.2 Tambak Udang Windu (Penaeus monodon) Permanen Milik PT Betang Tiara Seluas 40 Hektar (Sumber: PPK-ITB, 2002)

11.2 BUDIDAYA UDANG Budidaya udang akhir-akhir ini menjadi primadona di wilayah pesisir Kalimantan Tengah. Pembukaan lahan untuk areal pertambakan udang dapat dijumpai di Kecamatan Jelai (Kabupaten Sukamara), Desa Sungai Bakau (Kab. Kotawaringin Barat), Desa Sungai Undang dan Kuala Pembuang (Kab. Seruyan). Sedangkan rencana pembukaan lahan untuk areal pertambakan udang lebih lanjut akan dilakukan di sekitar Desa Lempuyang (Kab. Kotawaringin Timur). Kegiatan budidaya udang yang tercatat cukup
Gambar 11.1 Tambak Tradisional Milik Masyarakat Desa Sungai Pasir (Tanjung Lumpur) Kec. Jelai Kab. Sukamara (Sumber: PPK ITB, 2002)

berhasil di Desa Sungai Bakau Kab. Kotawaringin Timur adalah yang dikelola oleh PT. Betang Tiara. 11-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

nelayan, menyebabkan penangkapan ikan yang dilakukan masih di sekitar pantai. Masalah yang dihadapi pada bidang usaha budidaya adalah terbatasnya penyediaan benih ikan, mahalnya harga pakan, kurangnya pengetahuan yang dimiliki petani/nelayan dan terbatasnya jaringan irigasi secara teknis. Sedangkan dibidang budidaya tambak rakyat yang mempunyai nilai ekspor masih mengalami hambatan yaitu benur masih didatangkan dari luar daerah, hal ini akibat belum adanya pembenihan. Besarnya potensi lahan budidaya tambak terhambat akibat kurangnya promosi dan informasi yang ditawarkan, sehingga minat investor untuk menanamkan modalnya masih kurang. Hambatan pada bidang prasarana perikanan antara lain masih terbatasnya jumlah saluran tambak yang berfungsi sebagai penunjang pengembangan produksi. Dengan demikian balai benih ikan yang ada perlu ditingkatkan
Gambar 11.3 Kanal Pengairan ke Lahan Pertambakan Baru Untuk Udang di Desa Sei Bakau, Kec. Kumai, Kab. Kotawaringin Barat (Sumber: PPK-ITB, 2002)

fasilitasnya

sehingga

diharapkan

dapat

berfungsi

sebagai

penyedia

pembenihan. Perikanan budidaya belum berkembang (masih rendah), ini terbukti bahwa produksi ikan sebagian besar 88-93% berasal dari tangkapan di laut. Hal-hal yang menyebabkan beum berkembangnya perikanan budidaya antara lain adalah : • • • • Modal yang digunakan oleh petani/nelayan di kawasan pesisir sangat terbatas. Keterbatasan benih yang seringkali dialami petani/nelayan dalam mengusahakan kegiatan budidaya. Relatif rendahnya kemampuan permodalan yang dimiliki nelayan dalam mengelola usaha budidaya. Relatif sedikitnya jaringan irigasi teknis sebagai penunjang usaha budidaya. 11-3

11.3 ISU-ISU USAHA PERIKANAN BUDAYA Di Kabupaten Kotawaringin Barat, sebagian besar produksi perikanan yang dihasilkan berasal dari perikanan laut yaitu sebesar 92,7%, sedangkan produksi perikanan perairan umumnya cenderung menurun sebesar 0,5% pertahun, hal ini disebabkan oleh menurunnya kualitas sumberdaya perikanan perairan umum akibat meluasnya pemukiman penduduk, pencemaran lingkungan baik rumah tangga maupun industri dan adanya penangkapan ikan dengan cara yang dapat merusak lingkungan. Selain itu masih terbatasnya sarana dan prasarana pendukung dibidang usaha perikanan, antara lain masih kurangnya sarana dan prasarana BBI (Balai Benih Ikan), kurang berfungsinya sarana dan prasarana Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan lemahnya permodalan

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

• •

Harga pakan yang cukup tinggi, sehingga biaya produksi akan terserap untuk pakan. Pembukaan lahan tambak secara besar-besaran mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove yang berfungsi sebagai penjaga garis pantai dan daerah asuhan larva, tempat memijah dan bertelur ikan dan udang.

Terjadi pendangkalan lumpur pada saluran primer dan sekunder secara cepat karena dijadikan jalur transportasi desa.

11.4 PENTINGNYA PERIKANAN TANGKAP Perikanan tangkap adalah sumber penghidupan utama bagi masyarakat wilayah pesisir Kalimantan Tengah. Sehingga perairan pantai dan laut-nya merupakan basis penting perikanan untuk konsumsi lokal, regional dan antar pulau. Dimana produksi perikanan laut sebagai tangkapan utama di Kalimantan Tengah pada tahun 2001 adalah sebesar 55.911,31 ton (Kalimantan Tengah dalam Angka 2001). Sedangkan perikanan tangkap darat di wilayah pesisir yang berfungsi sebagai tangkapan sekunder terbagi menjadi perikanan tangkap sungai, danau dan rawa. 11.5 SUMBERDAYA IKAN DAN LOKASINYA Sifat sumberdaya ikan yang senantiasa bergerak tidak mengenal batas perairan atau batas daerah, sehingga pengelolaannya perlu dikoordinasikan agar tidak menimbulkan konflik. Untuk itu sejak tahun 1944 telah dibentuk suatu Forum Koordinasi Pengelolaan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan (FKPPS) di laut melalui Keputusan Menteri Pertanian (saat itu Dirjen Perikanan dibawah Departemen Pertanian) dan ditetapkan 9 (sembilan) wilayah pengelolaan. Kalimantan Tengah termasuk FKPPS Wilayah III (wilayah pengelolaan di Laut Jawa dan Selat Sunda).
Gambar 11.5 Kepiting Rajungan Hasil Tangkapan Nelayan Dengan Menggunakan Jaring Sungkur (Sumber: PPK-ITB, 2002) Gambar 11.4 Ikan Laut (Pari, Sirip Hiu) Yang Biasa Ditangkap Nelayan (Sumber: PPK-ITB, 2002)

11-4

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Penentuan

potensi

sumberdaya

ikan

ditetapkan

berdasarkan

wilayah

Pendugaan terhadap potensi sumberdaya ikan di perairan Kalimantan Tengah dilakukan dengan menghitung rata-rata sebaran ikan per hektar dikali dengan luas laut Kalimantan Tengah kurang lebih 95.450 km2. Jenis ikan laut yang bisa tertangkap oleh nelayan di perairan laut Kalimantan Tengah dan laut jawa antara lain: ikan kembung, ikan kakap, ikan bandeng, udang, kerapu, dan kepiting. Umumnya alat tangkap yang digunakan nelayan masih relatif sederhana seperti jaring insang hanyut, jaring insang tetap, trommel net, rawai, sungkur, dan purse seine. Produksi dan tingkat pemanfaatan per kelompok sumberdaya ikan di wilayah III (perairan Kalimantan Tengah dan laut Jawa) disajikan pada Tabel 11.3.

pengelolaan dan telah dikaji oleh Komisi Pengkajian Potensi Sumber Daya Ikan Nasional. Adapun potensi kelompok sumberdaya ikan dan luas wilayah penyebarannya terdapat pada Tabel 11.2 berikut.

Tabel 11.2 Potensi Kelompok Sumberdaya Ikan Pada Wilayah Pengelolaan Perikanan dan Penyebaran Jenis-Jenis Ikan (Sumber: diolah dari berbagai sumber) No 1 2 3 4 Kelompok SDI Pelagis Besar Pelagis Kecill Demersal Udang dan Crustaceae • Penaeid • Lobster Kerang – Kerangan Ikan Karang Ikan Hias Potensi Wilayah III (10 ton/thn) 55 340 431,2 10,8 0,5 5,04 9,5 Wilayah Penyebaran Laut Jawa Laut Jawa Laut Jawa Laut Jawa Laut Jawa Laut Jawa Laut Jawa Laut Jawa Luas Wilayah (Km2) 400.000 400.000 392.000 114.000 870.000 5.042.000 129.000 129.000

5 6 7

11.6 SENTRA PERIKANAN DAN SASARANNYA Di Kabupaten Kotawaringin Barat dan kabupaten lain pada umunya, penyediaan prasarana perikanan seperti Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dengan memberikan sarana pendukung seperti kapal ikan, listrik, pabrik es, telekomunikasi, dan air bersih sangat mutlak diperlukan. Hal ini dibutuhkan untuk mendorong agrobisnis perikanan secara keseluruhan.

Tabel 11.3 Produksi dan Tingkat Pemanfaatan Perkelompok Sumberdaya Ikan pada Wilayah III Pengelolaan Perikanan, Pemanfaatan dalam % (Sumber: diolah dari berbagai sumber) No Kelompok SDI Produksi dalam 103 Ton/Thn 1 2 3 4 5 6 Ikan pelagis besar Ikan pelagis kecil Domersal Udang Penaeid Lobster Cumi-cumi 45,36 442,9 242 11,1 0,13 5,1 82,47 130,26 56,12 102,78 26 101,19 Pemanfaatan (%)

11.7 TEKNOLOGI

YANG

DIGUNAKAN

Alat tangkap yang digunakan oleh para nelayan di Kalimantan Tengah, masih sederhana seperti jaring insang hanyut, jaring insang tetap, tramel net, rawai, sungkur. Ukuran kapal yang digunakan untuk penangkapan ikan juga relatif sangat kecil hanya mencapai 5 GT dan kebanyakan nelayan ekonomi lemah menggunakan perahu tanpa motor.

11-5

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

11.8 ISU-ISU PERIKANAN TANGKAP Kawasan perikanan tangkap merupakan satuan fishing ground di perairan Laut Jawa. Usaha penangkapan ikan di perairan Laut Jawa dilakukan bukan hanya oleh nelayan dari Propinsi Kalimantan Tengah, namun juga oleh nelayan dari propinsi lain dan nelayan Asing. Hal ini berarti bahwa sebagian potensi perikanan tangkap di wilayah laut Propinsi Kalimantan Tengah tidak tercatat di daerah ini karena kecenderungan nelayan untuk menjual perolehannya dari tempat asalnya. Di Kabupaten Kotawaringin Barat sebagian besar pembangunan perikanan masih bersifat usaha skala kecil, tingkat pengetahuan dan ketrampilan yang relatif rendah, dan penguasaan teknologi dan modal yang terbatas. Tingkat
Gambar 11.6 Dermaga Nelayan di Kuala Pembuang (Sumber: PPK-ITB, 2002)

produktivitas perairan umum terus mengalami kecenderungan menurun akibat pencemaran dan penangkapan menggunakan bahan terlarang. Selain itu pengawasan yang ada masih terbatas akibat kurangnya aparat dan sarana pengawasan. Dilihat dari segi pemanfaatan sumberdaya potensi yang cukup besar khususnya berasal perairan laut, tetapi potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan akibat kecilnya armada dan peralatan yang digunakan, terbatasnya modal usaha sehingga kapal yang digunakan berukuran kecil dan daerah operasi penangkapan hanya di sekitar pantai. Kapal maupun alat tangkap nelayan-nelayan Kalimantan relatif masih sangat sederhana (kapal kapasitas 5-10 GT, dengan jaring insang hanyut, jaring insang tetap, trommel net, rawai, sungkur, dan purse seine). Kurang berfungsi kelembagaan di tingkat pedesaan untuk menampung hasil dari para petani/nelayan, menyebabkan : • Adanya transaksi ditengah laut oleh nelayan pengumpul dari luar daerah dan membawa hasilnya ke daerah lain.

Gambar 11.7 Suasana di Pelabuhan Nelayan (Sumber: PPK-ITB, 2002)

11-6

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

• • •

Relatif rendahnya kemampuan permodalan yang dimiliki nelayan dalam mengelola usaha perikanan. Relatif rendahnya kapasitas tonase armada penangkapan ikan (kapal) yaitu rata-rata dibawah 10 GT dan produktivitas alat tangkapnya. Kurangnya promosi ke pengusaha untuk menanamkan investasinya di Kalimantan Tengah.

Gambar 11.9 Nelayan Sedang Memperbaiki Jaring Sungkur atau Serop (bahasa lokal setempat) yang Biasa Digunakan Untuk Menangkap Kepiting Rajungan (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 11.8 Jaring Apung Berbahan Monofilamen yang Digunakan Untuk Operasi Penangkapan Ikan pada Siang Hari (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 11.10 Lempara Dasar Sebagai Alat Tangkap Tradisional Masyarakat Setempat (Sumber: PPK-ITB, 2002)

11-7

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

12.1 PARIWISATA Kondisi pariwisata bahari dan pesisir yang sudah terkelola dengan baik di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah, terpusat di Kabupaten Kotawaringin Barat. Karakteristik obyek wisata di Kabupaten Kotawaringin Barat, yang menjadi daya tarik adalah wisata alam, wisata pantai, wisata budaya dayak, dan Taman Nasional Tanjung Puting. Karakteristik obyek wisata bahari di Kabupaten Kotawaringin Barat, yang menjadi daya tarik adalah wisata pantai kompleks Bugam Raya (Pantai Kubu, Teluk Bogam, dan Keraya), wisata alam Taman Nasional Tanjung Putting, dan Taman wisata alam Tanjung Keluang. Karakteristik obyek wisata pantai di Kab. Kotawaringin Timur adalah pantai Ujungpandaran, dan pantai Sungai Bakau. Sedangkan Kabupaten Kapuas memiliki pantai wisata Cemara Labat. Obyek wisata alam juga terdapat di Kabupaten Lamandau (yang dulunya termasuk kedalam wilayah administrasi pemerintahan Kab. Kotawaringin Barat), yaitu obyek wisata pedalaman yang terdapat di Kecamatan Delang dan Kecamatan Lamandau. Dimana daerah obyek wisata pedalaman yang sering dikunjungi antara lain: Bakonsu, Tapin Bini, Kudangan, dan sekitarnya. Karakteristik obyek wisata pesisir di Kabupaten Kotawaringin Barat adalah obyek wisata budaya, yaitu obyek wisata budaya dayak yang terdapat di Kecamatan Kumai dan Kecamatan Arut Selatan.

12.2 PARIWISATA BAHARI Kawasan wisata bahari dimaksudkan sebagai suatu kawasan di daerah pantai/laut yang diperuntukan guna melakukan aktivitas wisata mulai dari adanya fenomena alam, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat, biota laut, serta kualitas perairan. Sampai saat ini potensi wisata bahari di Propinsi Kalimantan Tengah belum tergali dan belum termanfaatkan. Obyek wisata yang cukup potensial di kawasan pesisir dan pantai antara lain Tanjung Keluang (Tanjung Penghujan) dan Pantai Kubu di Kabupaten Kotawaringin Barat, Ujung Pandaran di Kabupaten Kotawaringin Timur dan pantai Cemara Labat di Kabupaten Kapuas. Pantai Kubu, Tanjung Keluang, dan Ujung Pandaran merupakan panorama alam pantai dengan hamparan pasir putih yang relatif panjang. Sedangkan Pantai Cemara Labat merupakan pantai pasir putih bercampur lumpur, namun panorama alamnya tetap cukup memikat. Obyek wisata bahari yang cukup potensial bagi pendapatan daerah Kab. Kotawaringin Barat yaitu Taman Wisata Alam Tanjung Keluang atau Tanjung Penghujan, Taman Nasional Tanjung Puting, Pantai Kubu, sedangkan di Kabupaten Kotawaringin Timur adalah Pantai Ujungpandaran. Sementara itu Pantai Cemara Labat di Kabupaten Kapuas saat ini sedang dalam program perencanaan pengembangan yang lebih serius.

12-1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Di Kabupaten Kotawaringin Barat, terdapat obyek wisata Taman Nasional Tanjung Puting. Keanekaragaman dan kekhasan flora dan fauna yang dimiliki Taman Nasional Tanjung Puting merupakan daya tarik wisata yang kuat bagi wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini. Taman Nasional Tanjung Puting ini terkenal karena terdapat primata yang lebih dikenal dengan sebutan Orang Utan yang saat ini merupakan satwa langka di dunia yang perlu dilindungi. Menurut data statistik Kabupaten Kotawaringin Barat, kunjungan wisatawan dalam negeri masih lebih besar daripada wisatawan manca negara. Dalam hal ini potensi wisatawan domestik maupun asing masih perlu untuk lebih ditingkatkan lagi.

Gambar 12.1 Jalan menuju Kompleks Wisata Bugam Raya (P. Kubu, Teluk Bogam, Keraya) Kab. Kotawaringin Barat (Sumber: PPK-ITB, 2002).

Pantai Kubu, Tanjung Keluang (Tanjung Penghujan), dan Ujung Pandaran merupakan panorama alam pantai dengan hamparan pasir putih yang relatif panjang. Sedangkan pantai Cemara Labat yang panjangnya kurang lebih 5 km merupakan pantai pasir putih bercampur lumpur, namun panorama alamnya tetap cukup memikat karena pantainya didominasi oleh pohon kelapa dan bakau. 12-2
Gambar 12.2 Lokasi Wisata Pantai Kubu di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (PPK-ITB, 2002)

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

12.3

PARIWISATA PESISIR

Karakteristik pariwisata pesisir Kalimantan Tengah yang berupa obyek wisata budaya banyak terpusat di Kabupaten Kotawaringin Barat. Obyek wisata budaya tersebut antara lain: Istana Kerjaan Al-Nursari dan peninggalannya, Masjid dan peninggalannya, kedua situs tersebut terletak di Kecamatan Kotawaringin Lama. Sedangkan di Makam PRA Kusumayudha Ibukota dan Kab. peninggalannya terletak Kecamatan Arut Selatan.

Kotawaringin Lama yaitu Kota Pangkalan Bun juga memiliki obyek wisata budaya yaitu perayaan hari ulang tahun (HUT) Kotawaringin Barat yang dirayakan setiap tahun, dengan cara menyelenggarakan pawai adat jalan kaki, dan lomba dayung. Di Desa Pasir Panjang Kec. Kumai juga terdapat obyek Wisata Budaya Dayak.

Gambar 12.3 Peninggalan Kerajaan PRA. KUSUMAYUDHA (Gubah Besar) yang Terletak di Kecamatan Arut Selatan, Kota Pangkalan Bun (Sumber: Dinas Pariwisata Kab. Kotawaringin Barat, 2002 ).

Gambar 12.4 Lokasi Wisata Pantai Teluk Bogam di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Sumber: Dinas Pariwisata Kotawaringin Barat, 2002)

12-3

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

12.4 ISU-ISU Kendala A. Taman Nasional Tanjung Puting Sampai sekarang obyek wisata primadona ini masih dicemari oleh ulah para perusak lingkungan sehingga menggangu kehidupan satwa primata yang menjadi maskot pariwisata Kotawaringin Barat. Alur Sungai Sekonyer yang merupakan satu-satunya prasarana transportasi ke wilayah tersebut, dicemari oleh limbah kayu dan limbah pertambangan emas rakyat. B. Obyek Wisata Pantai Prasarana jalan darat yang menghubungkan ibu kota kabupaten keseluruh obyek wisata tersebut belum keseluruhannya dilapis aspal dengan baik, khususnya yang berlokasi di obyek wisata Tanjung Penghujan (Teluk Bogam) sampai Keraya, di Kab. Kotawaringin Barat. Secara umum, instalasi listrik PLN dan sambungan air bersih PAM belum dapat melayani seluruh masyarakat sekitar obyek wisata. Kemudian, pencemaran pengelola. C. Obyek Wisata Budaya Dayak Terdapat di desa Pasir Panjang yang terletak dipinggir kota Pangkalan Bun yang berjarak hanya 7,5 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama 10 sampai 15 menit. Obyek wisata ini telah terkontaminasi budaya masyarakat perkotaan. D. Pengembangan Obyek Wisata Pengembangan obyek wisata Pantai Cemara Lebat di Kab. Kapuas mempunyai kendala yang cukup serius, yaitu: kondisi jalan yang menuju ke sana sangat sempit dan kendaraan roda empat hanya bisa menjangkau hingga Desa Sei Teras, dan sedimentasi yang cukup tinggi mencemari pantai yang berpasir putih. kawasan wisata oleh sampah yang ditinggalkan wisatawan dan aberasi pantai juga perlu menjadi perhatian pihak
Gambar 12.5. Makam Kyai Gedhe sebagai Tokoh Penyebar Agama Islam yang Terletak di Kec. Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat (Sumber: Dinas Pariwisata Kab. Kotawaringin Barat, 2002)

12-4

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Rencana

pengembangan Lama oleh

wisata

alam

Danau Kab.

Gatal

di

Kec. Barat

Kotawaringin

Pemerintah

Kotawaringin

mempunyai kendala di bidang pelebaran dan perbaikan jalan menuju ke obyek wista tersebut karena kondisi jalan yang sekarang masih berupa jalan setapak.

Gambar 12.6 Fasilitas di Kawasan Wisata Pantai Tanjung Keluang (Tanjung Penghujan) yang Kondisinya Tidak Terawat (Sumber: Dinas Pariwisata Kab. Kotawaringin Barat, 2002).

Gambar 12.7 Kawasan Wisata Pantai Ujungpandaran yang Kondisinya Memprihatinkan (Sumber: PPK-ITB, 2002).

12-5

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Gambar 12.9 Danau Gatal yang Terletak di Kec. Kotawaringin Lama Sedang dalam Tahap Wacana Pengembagan oleh Pemda Kotawaringin Barat (Sumber: Dinas Pariwisata Kab. Kotawaringi Barat, 2002 )

Gambar 12.8 Kondisi Jalan di Desa Sei Teras Menuju Desa Cemara Labat yang Terancam Aberasi oleh Kanal-kanal di Kedua Sisi Jalan (Sumber: PPK-ITB, 2002)

Gambar 12.10 Pantai Wisata Alam Tanjung Keluang (Tanjung Penghujan) (Sumber: Dinas Pariwisata Kab. Kotawaringin Barat, 2002) 12-6

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

13.1 KEBERSIHAN Secara umum masyarakat wilayah pesisir yang hidup di atas tanah rawa membuang sampah padat buangan rumah tangga ke bawah rumah-rumah panggung mereka. Hal ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk menimbun tanah rawa yang sering tergenang air. Permasalahan akan muncul pada saat musim penghujan dimana kondisi sampah yang tercampur air dan tanah rawa tersebut akan berproses secara kimiawi menimbulkan bau yang tidak sedap dan menciptakan sarang nyamuk. Ditemukan juga fenomena pembuangan limbah pasar dan limbah rumah tangga secara langsung ke sungai. Hal ini akan menambah kontribusi polutan ke badan sungai berupa kekeruhan, limbah organik, limbah anorganik, dan menyebabkan kondisi kandungan oksigen terlarut menurun

Tidak berfungsinya TPI (Tempat Pelelangan Ikan) di wilayah pesisir Kalteng memerlukan penanganan yang serius, untuk mendukung pemasaran perikanan laut dan menambah PAD daerah. Karena selama ini banyak produksi perikanan yang lari ke luar Kalimantan, tanpa melalui TPI, sehingga tidak membawa nilai tambah bagi peningkatan PAD daerah. Pengawasan dan tindakan tegas terhadap nelayan-nelayan asing yang beroperasi di laut Kalimantan Tengah harus dilakukan oleh pemda dan aparat hukum. Hal ini untuk mencegah keresahan pada nelayan lokal dan mencegah tindakan main hakim sendiri yang akan dilakukan oleh nelayan-nelayan lokal. Walaupun sekarang ini pembukaan daerah tambak masih sedikit, namun perlu pengawasan dan pengendalian oleh pihak pemerintah khususnya dinas perikanan dan kelautan. Hal ini dilakukan agar pembukaan lahan tambak tersebut secara ekologis tetap dapat

13.2 KELEMBAGAAN ADMINISTRASI DAN TATA RUANG Pemekaran beberapa kabupaten yang terjadi di wilayah pesisir memerlukan masa transisi yang cukup panjang. Hal ini dapat terjadi jika terdapat beberapa perubahan kebijakan penting yang dilakukan oleh pejabat dalam pengelolaan pesisir. Beberapa program yang sudah dilakukan perlu diperhatikan agar tidak terjadi kemandegan pelaksanaan program yang diakibatkan oleh perubahan struktur pemerintahan daerah. 13-1

menjaga

keseimbangan

lingkungan,

dan

secara

ekonomis

menguntungkan petani/pengusaha dan menambah PAD daerah. Selain itu, keterlibatan penduduk lokal dalam usaha tersebut perlu diperhatikan oleh pemerintah. Karena selama ini pelopor pembukaan tambak yang sudah ada dilakukan oleh pendatang dari Jawa.

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

13.3 PEMANFAATAN SUMBERDAYA PESISIR Pemanfaatan sumber daya pesisir yang utama adalah perikanan laut. Pada umumnya teknologi yang digunakan nelayan-nelayan lokal relatif masih sederhana. Hal ini menyebabkan daya jelajah yang bisa dilakukan oleh para nelayan hanya sampai dibawah 4 mil. Akibatnya nelayannelayan pesisir terpusat di wilayah perairan pantai. Peningkatan teknologi yang lebih modern memerlukan dana yang tidak kecil, sedangkan tingkat perekonomian para nelayan relatif masih rendah. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya oleh pemda untuk meningkatkan kemampuan teknologi para nelayan. Potensi pembukaan lahan tambak masih cukup besar di wilayah pesisir Kalimantan Tengah. Lahan tambak yang sudah ada persentasenya masih kecil dibandingkan potensi lahan yang ada. Pengembangan lahan tambak memerlukan sarana pendukung lainnya seperti: balai benih ikan, saluran air, transportasi, dan pemasaran. Program pengembangan daerah tambak yang sudah dilakukan dihadapkan pada kendala keterbatasan benih yang harus disediakan dari Jawa, jauhnya pengangkutan benih tersebut menyebabkan harga benih yang tinggi dan resiko kematian benih di perjalanan. Selain itu rendahnya pengetahuan dan pengalaman penduduk lokal dalam pengelolaan tambak memerlukan pembinaan yang intensif dari pihak pemda. Penyusutan luas lahan kolam tradisional ‘beje’ di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau yang diakibatkan oleh Proyek Lahan Gambut (PLG) cukup berpengaruh terhadap tingkat perekonomian masyarakat. Potensi kebun-kebun kelapa yang banyak terdapat di daerah pesisir belum termanfaatkan secara optimal. Pembuatan minyak kelapa yang dilakukan penduduk pada umumnya hanya untuk keperluan lokal. Kerajinan pembuatan sabut kelapa yang sudah berkembang di

beberapa daerah pesisir masih dihadapkan pada sulitnya mencari pemasaran. Peran pedagang Madura dalam perdagangan antar pulau cukup besar sehingga, peristiwa kerusuhan antar etnis yang pernah terjadi di Kalimantan Tengah cukup berpengaruh terhadap penurunan aktivitas perdagangan di daerah pesisir seperti Kabupaten Kapuas, Kabupaten Pulang Pisau dan Kotawaringin Timur.

13.4 PENDIDIKAN, SARANA PRASARANA, DAN PARIWISATA Secara umum tingkat pendidikan masyarakat pesisir masih sangat rendah, yakni Sekolah Dasar (SD). Dimana pendidikan SLTP dan SLTA harus ke kota-kota kecamatan atau kota-kota kabupaten. Jauhnya lokasi dan masih terbatasnya sarana transportasi untuk mencapai sarana pendidikan tingkat lanjutan menyebabkan masih rendahnya jumlah penduduk pesisir yang dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat tersebut. Jalan darat menuju daerah pesisir belum seluruhnya dalam kondisi yang baik. Fasilitas listrik dari PLN di wilayah pesisir hanya terdapat di Kecamatan Kumai Kab. Kotawaringin Barat. Di daerah pesisir lainnya, fasilitas listrik yang dimiliki sebagian kecil penduduk sumbernya adalah generator milik pribadi. Masih terdapat konstruksi dermaga yang terbuat dari kayu. Konstruksi kayu ini perlu ditingkatkan menjadi konstruksi beton. Tahun 2003 direncanakan oleh Dinas Perhubungan Propinsi Kalimantan Tengah, kapal penumpang perintis akan mulai beroperasi melalui Pelabuhan (III) Pulang Pisau.

13-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Pariwisata yang terdapat di daerah pesisir Kalimantan Tengah pada umumnya belum dikelola dengan baik, kecuali di daerah Taman Nasional Tanjung Puting dan Pantai Kubu. Pengembangan sarana dan prasarana pariwisata di pesisir Kalimantan Tengah perlu melibatkan penduduk setempat.

Fenomena abrasi terjadi di pantai sisi luar (yang berhadapan dengan Laut Jawa) Ujungpandaran di Kab. Kotawaringin Timur, Pantai Kubu dan Desa Sei Bakau di Kab. Kotawaringin Barat.

13.7 PENCEMARAN Akibat 13.5 SANITASI DAN KESEHATAN Permasalahan sanitasi lingkungan yang menonjol di daerah pesisir Kalimantan Tengah adalah masih sulitnya mendapatkan air bersih untuk keperluan konsumsi rumah tangga. Fasilitas kesehatan di daerah pesisir umumnya hanya sampai pada tingkat Puskesmas Pembantu. Sedangkan Puskesmas hanya terdapat di Desa Kuala Jelai, Kecamatan Jelai, Kabupaten Sukamara. Sehingga sebagian besar penduduk juga masih mendapatkan pengobatan secara tradisional. Menurut seorang peneliti Djoko Rahardjo dan Irwanto dari Fakultas Biologi, Universitas Kristen Duta Yogjakarta, Ikan Baung yang tercemar dalam kadar cukup tinggi itu, apabila dimakan manusia secara terus-menerus akan 13.6 KERUSAKAN PANTAI (ABRASI
DAN

maraknya

kegiatan

penambangan

emas

secara

tradisional

disepanjang aliran Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah, sungai tersebut tercemar bahan kimia air raksa atau merkuri (Hg) yang digunakan untuk pemurnian emas. Akumulasi logam Hg juga ditemukan pada ikan Baung (Macrones nemurus) yang banyak ditemukan di sungai itu dengan kadar berkisar dari 0,340 - 1,096 ppm. Tingginya kadar Hg ikan Baung dalam penelitian ini diduga merupakan akumulasi dari aktivitas penambangan emas yang sudah bertahun-tahun.

SEDIMENTASI)

mengakibatkan gangguan kesehatan manusia, serangan terhadap susunan saraf pusat, penderita akan terkena penyakit kehilangan kepribadian, tremor, pikun, insomnia, dan kehilangan nafsu makan (Kompas, Jumat 6 September 2002). Pernyataan tersebut memperkuat penelitian yang dilakukan Badan

Fenomena sedimentasi terjadi di Pantai Cemara Labat dan Pantai Pelampai di Kab. Kapuas, Pantai Kiapak di Kab. Pulang Pisau, Pantai Teluk Sebangau di Kab. Katingan, dan pantai sisi dalam Ujungpandaran di Kab. Kotawaringin Timur. Dimana berdasarkan hasil observasi (PPK-ITB,2002) di sekitar Dermaga Rakyat Ujung Pandaran hingga Lampuyang (Teluk Sampit), sedimentasi tersebut mengakibatkan pendangkalan dan menambah luasan hutan mangrove yang ada.

Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda) Kalimantan Tengah tahun 2001 yang menemukan hal yang sama di Sungai Kahayanyang memiliki panjang lebih kurang 600 kilometer, dengan lebar rata-rata 500 meter serta kedalaman rata-rata 7 meter dan tetap dapat dilayari baik pada musim hujan maupun kemarau. Bapedalda menemukan, ada enam jenis kegiatan yang 13-3

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

dominan disepanjang badan sungai tersebut yaitu perkebunan, permukiman, penambangan emas, perladangan, penangkapan ikan, dan penebangan hutan. Dari berbagai kegiatan itu, penambangan emas secara tradisional merupakan kegiatan yang berpotensi menyebabkan pencemaran sungai khususnya oleh merkuri. Selain di Sungai Kahayan, kegiatan penambangan tradisional banyak ditemukan di sepanjang DAS (daerah aliran sungai), yaitu yang melewati Kabupaten Barito, Kapuas, Katingan, Mentaya, Seruyan, Lamandau, dan Jelai. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Irawanto dan Djoko (Desember 2001 sampai dengan Februari 2002), ditemukan bahwa bahan pencemar logam Hg yang terkandung dalam sedimen di sungai itu berkisar antara 0,310 0,782 ppm, dan ada kecenderungan makin meningkat dari daerah hulu ke hilir. Hal ini menandakan bahwa akumulasi logam Hg akan semakin meningkat pada daerah hilir karena sifat fisik sungai yang selalu mengalir ke bagian hilir sekaligus membawa berbagai macam kontaminan dan akan terdeposit di sepanjang badan sungai yang dilaluinya (Kompas, Jumat 6 September 2002).

13.8 BENCANA ALAM Wilayah pesisir Kalimantan Tengah seperti hal-nya wilayah hutan rawa daratan Kalimantan, secara umum rawan terhadap bencana banjir pada musim penghujan (http://www.kimpraswil.go.id).
Gambar 13.1 Pelabuhan (III) Pulang Pisau (Sumber: PPK-ITB, 2002)

13-4

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Achmad, C., 2001. Atlas Indonesia dan Dunia. Penerbit PT Karya Pembina Swajaya. Surabaya. Alfred, E., Heriyanto, A., Wuryanto, Purba, M., Simanjutak, H., 2000. Laporan Penyelidikan Bahan Galian Gambut di Kabupaten Kapuas, Propinsi Kalimantan Tengah. Proyek Pengembangan Pertambangan & Energi Kalimantan Tengah T.a 1999/2000. Kanwil Deptamben Propinsi Kalimantan Tengah. Palangka Raya. 13 halaman. Archiegama, C.V., 2001. Pemetaan Wilayah Laut Propinsi Kalimantan Tengah. Skala 1:250.000. Bappeda Propinsi Kalimantan Tengah. Palangka Raya. Bakosurtanal, 1997/1998. INDONESIA Atlas Sumber Daya Nasional. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional. Basmi, J., 1988. Perkembangan Komunitas Phytoplankton Sebagai Indikasi Perubahan Tingkat Kesuburan Kualitas Perairan. Tesis. Program Studi Ilmu-ilmu Perairan. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. 62 halaman. Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Tengah, 2000. Kalimantan Tengah Dalam Angka 2000. Kantor BPS Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik Propinsi Kalimantan Tengah, 2001. Kalimantan Tengah Dalam Angka 2001. Kantor BPS Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur, 2000. Kotawaringin Timur Dalam Angka 2000. Kantor BPS Kabupaten Kotawaringin Timur Propinsi Kalimantan Tengah. Bappeda & BPS Kabupaten Kotawaringin Timur, 2001. Penduduk Kotawaringin Timur Akhir Tahun 2001. Kantor Bappeda & BPS Kabupaten Kotawaringin Timur Propinsi Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur, 2001. Kecamatan Mentaya Hilir Dalam Angka 2001. Kantor BPS Kabupaten Kotawaringin Timur Propinsi Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Barat, 2001. Kabupaten Kotawaringin Barat Dalam Angka 2001. Kantor BPS Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah. Bappeda & BPS Kabupaten Kotawaringin Barat, 2001. Penduduk Kotawaringin Barat Akhir Tahun 2001. Kantor Bappeda & BPS Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Barat, 2000. Kecamatan Jelai Dalam Angka 2000. Kantor BPS Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Barat, 2000. Kecamatan Kumai Dalam Angka 2000. Kantor BPS Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas, 2001. Kabupaten Kapuas Dalam Angka 2001. Kantor BPS Kabupaten Kapuas Propinsi Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas, 2000. Kecamatan Kapuas Kuala Dalam Angka 2000. Kantor BPS Kabupaten Kapuas Propinsi Kalimantan Tengah. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas, 2000. Kecamatan Kahayan Kuala Dalam Angka 2000. Kantor BPS Kabupaten Kapuas Propinsi Kalimantan Tengah. Balai Taman Nasional Tanjung Puting, 2001. Buku Informasi Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Kantor BTNTP Pangkalan Bun. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kotawaringin Timur, 2002. Executive Summary Revisi RTRW Wilayah Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kantor Bappeda Kab. Kotawaringin Timur. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Kalimantan Tengah, 2001. Laporan Akhir Penetapan Batas Kawasan MCRM Propinsi Kalimantan Tengah. Kantor Bappeda Prop. Kalteng. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Kalimantan Tengah, 2000. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Kalimantan Tengah. Kantor Bappeda Prop. Kalteng. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kotawaringin Timur, 2002. Konsultansi Publik Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kotawaringin Timur, Seruyan dan Katingan. Buku Panduan Seminar Sehari. Proyek Penataan dan Pengembangan Tata Ruang Bappeda Kab. Kotawaringin Timur Tahun Anggaran 2002. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kapuas, 2000. Rancangan Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu di Kabupaten Kapuas Propinsi Kalimantan Tengah. LMASLH-KT dan Bappeda Kabupaten Kapuas. Proyek Penyususnan Program Pengelolaan Wilayah Pesisir Kab. Kapuas Tahun Anggaran 2000. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Kotawaringin Barat, 2000. Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah. Kantor Bappeda Kab. Kotawaringin Barat. Boston, N., 1996. The Physical Oceanography and Meteorology of Indonesian Seas. MREP Part A1, BCEOM. Dahuri, R., Rais, J., Ginting, S.P., 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir Dan Lautan Secara Terpadu. Cetakan Pertama. PT Pradnya Paramita. Jakarta. Halaman 5 – 14. Denie, 2000. Studi Sifat Fisika dan Kimia Air di Pantai Kubu Kecamatan Kumai. Skripsi. Program Studi Manajeman Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. 50 halaman.

DP-1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Dinas PMD, Informasi, Komunikasi, dan Pariwisata Pemda Kabupaten Kapuas, 2002. Laporan Hasil Survey Rencana Tapak Kawasan Wisata Alam Desa Sigi dan Pantai Cemara Labat Kabupten Kapuas, Kalimantan Tengah. Dinas Pariwasata, Seni, dan Budaya Kabupaten Kotawaringin Barat, 2000. Pra Rencana Umum Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Tengah, 2001. Profil Kesehatan Propinsi Kalimantan Tengah. Kantor Dinas Kesehatan Prop. Kalteng. Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur, 2001. Profil Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur. Kantor Dinas Kesehatan Kab. Kotawaringin Timur Prop. Kalteng. Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat, 2001. Profil Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat. Kantor Dinas Kesehatan Kab. Kotawaringin Barat Prop. Kalteng. Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Barat, 2001. Profil Kesehatan Kabupaten Kapuas. Kantor Dinas Kesehatan Kab. Kapuas Prop. Kalteng. Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Kalimantan Tengah, 2002. Daftar Induk Jaringan Jalan Propinsi Kalimantan Tengah. Kantor Dinas PU Prop. Kalteng. Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kapuas, 2001. Daftar Induk Jaringan Jalan Kabupaten Kapuas. Kantor Dinas PU Kab. Kapuas Prop. Kalteng. Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kotawaringin Timur, 2001. Daftar Induk Jaringan Jalan Kabupaten Kotawaringin Timur. Kantor Dinas PU Kab. Kotawaringin Timur Prop. Kalteng. Dinas Perikanan dan Kelautan Pemda Kabupaten Kotawaringin Barat, 2001. Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Kotawaringin Barat Tahun Anggaran 2001, Kalimantan Tengah. Dinas Perikanan dan Kelautan Pemda Kabupaten Kotawaringin Barat, 2001. Rencana Program Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Dinas Perikanan dan Kelautan Pemda Kabupaten Kapuas, 2001. Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Kapuas Tahun Anggaran 2001, Kalimantan Tengah. Dinas Perikanan dan Kelautan Pemda Kabupaten Kotawaringin Timur, 2000. Potensi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Dinas Perikanan dan Kelautan Pemda Kabupaten Kotawaringin Timur, 2001. Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pesisir Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Laporan Interim. Encarta, 1998. Indonesia, Republic of . Microsoft Encarta 98 Encyclopedia. (c) 1993 – 1997. Microsoft Corporation. All rights reserved. Erwinta, M.J., Sihotang, DSN., Kornelis, Diagus, 1994. Laporan Pemetaan Hidrologi Skala 1 : 50000 di Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah. Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi Kalimantan Tengah. Kanwil Deptamben Propinsi Kalimantan Tengah. 56 halaman. Erwinta, MJ, Matondang, W., Sumartiani, Simanjuntak, H., 1995. Laporan Penyelidikan dan pemetaan Hidrogeologi di Kab. Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan

Tengah. Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi Kalimantan Tengah. Kanwil Deptamben Propinsi Kalimantan Tengah. 34 halaman. Erwinta, M.J., Matondang, Sumartiani, Simanjuntak, H., 1996. Laporan pemetaan Hidrogeologi 1:50.000 di Kab. Kapuas Propinsi Kalimantan Tengah. Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi Kalimantan Tengah. Kanwil Deptamben Propinsi Kalimantan Tengah. 42 halaman. Fajar, I., Ruchyadi, A., Pambrastorestu., 1983. Laporan Penyelidikan Geologi Lingkungan Daerah Transmigrasi Hanjalipan, kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah. Direktorat Geologi Tata Lingkungan, Dirjen Pertambanagn Umum, Deptamben. Bandung. 33 halaman. Hermanto, B., Bachri, S., Atmawinata, S., 1994. Peta Geologi Lembar Pangkalan Bun, Kalimantan. Peta Geologi Bersistem Skala 1: 250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung. Illa Djamal, 1998. Coral Reefs Face Major Threat from Man. Nature, Jakarta Post, April, 26. Jamaluddin, Matondang, W., Wuryanto, Simanjuntak, H., Irawan, H., 1996. Pembuatan Sumur Bor Eksplorasi Air Bawah Tanah di Desa Henda Kecamatan Kahayan Hilir Kab. Kapuas Prop. Kalteng. Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi Kalimantan Tengah. Kanwil Deptanben Propinsi Kalimantan Tengah. Keputusan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. Kep02/MENKLH/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. Buku Kumpulan Peraturan Sanksi dan Hukum Lingkungan Hidup di Indonesia. 1994. Penerbit Eko jaya, Jakarta. Hal: 301-357. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu. 40 halaman. Knox, G.A., dan Miyabara, T., 1984. Coastal Zone Resource Development and Conservation in Southeast Asia. UNESCO / East-West Center. Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Kotawaringin Barat Tahun Anggaran 2001, Pemerntah Kab. KOBAR, Dinas Perikanan dan Kelautan Pangkalan Bun Latief, H., dan Hadi, S., 2001. Status Oseanografi Pantai dan Estuari Dalam Penataan Ruang Wilayah Pesisir dan Laut di Kabupaten-Kabupaten. Pusat Penelitian Kelautan – ITB. Bandung. Manik, M., Dasril, Sudigdo., 2000. Laporan Penyelidikan geologi Teknik di Kasongan, Kabupaten Kotawaringin Timur dan Tangkiling, Kodya Palangka Raya Propinsi Kalimantan Tengah. Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi. Kanwil Deptanben Propinsi Kalimantan Tengah. MacKinnon, K., Hatta, G., Halim, Mangalik, A., 2000. Ekologi Kalimantan. Seri Ekologi Indonesia: Buku III. Penerbit Prenhallindo, Jakarta. Marwah, S., 2001. Daerah Aliran Sungai(DAS) sebagai Satuan Unit Perencanaan Pembangunan Pertanian Lahan Kering Berkelanjutan. Makalah Falsafah Sains (PPs 702) Program Pascasarjana/S3 Institut Pertanian Bogor. Dosen Penanggungjawab: Prof.Dr.Ir.Rudy C.Tarumingkeng. 16 November 2001). Munandar A., Erwinta, MJ., Rahman, Y., Jamil, 1996. Pembuatan Sumur Bor Eksplorasi Air Bawah Tanah di Desa Sebukat Kecamatan Kumai Kab. Kotawaringin Barat Prop. Kalteng. Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi Kalimantan Tengah. Kanwil Deptamben Prop.Kalteng.

DP-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Nila, E.S., Rustandi, E., Heryanto, R., 1995. Peta Geologi Lembar Palangka Raya, Kalimantan. Peta Geologi Bersistem Skala 1: 250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung. Noor, S. 2000. Kelimpahan, Komposisi Jenis dan Penyebaran Fitoplankton di Pantai Kubu, Kecamatan Kumai. Skripsi. Program Studi Manajeman Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. 51 halaman. Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Kotawaringin Timur, 1992, Executive Summary Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Daerah Tingkat II Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Profil Sub Dinas Pengairan, Dinas Pekerjaan Umum, Kabupaten Kotawaringin Timur. Tahun 2002. Propinsi Kalimantan Tengah. Sadacharan, 1994, Coastal Zone Management in Sri Lanka, Lecture Notes on the Workshop IHE-Delft, Netherland. Sloan, N., 1993. Marine and Coastal Ecosystems Management. Final report. EMDI Project, Ministry of State for Environment and Dalhousie University. Soetrisno, Jamal, B., Rusmana, E., Koesoemadinata, S., 1995. Peta Geologi Lembar KualaPembuang, Kalimantan. Peta Geologi Bersistem Skala 1: 250.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. Bandung. Soetrisno, 1999. Pengertian-pengertian dasar tentang Air Tanah. Internet http://www.geocities.com/Eureka/Gold/1577/hg_dasar.html Soeseno, S., 1974. Limnologi. Departemen Pertanian. Direktorat Perikanan, Jakarta. 145 halaman. Soegiarto, A., 1976. Pedoman Umum Pengelolaan Wilayah Pesisir. Lembaga Oseanologi Nasional. Jakarta. Sukarna, D. Data Potensi Bahan Galian Industri Propinsi Kalimantan Tengah. Direktorat Jendral Pertambangan Umum Pusat Pengembangan Teknologi Mineral, 1982. Supangat, A., Hadi, S., Nganro, N.R., Ningsih, S.N., Sugianto, D.N., Nova,S., Handiani, D.N., Pranowo, W.S., 2001. Assesment of aquatic Environment Quality for Shrimps and Fishes in Indonesia Mostly Exported to Japan. Research Final Report The Assahi Glass Foundation Overseas Research Grant 2000. Research Institute. Bandung Institute of Technology. November 2001. Taruna, Y.,Matondang, W., Bachtiar, Kornelis., 1995. Pemetaan Hidrogeologi Daerah Kotawaringin Timur Propinsi Kalimantan Tengah Skala 1: 50.000. Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi Kalimantan Tengah. Kanwil Deptamben Prop.Kalteng. Tomascik, T., 1997. Environmental Management Guidelines for Coral Reef Ecosystems. KLH/EMDI. Ministry of Population and Environment, Jakarta. Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 1999. Tentang Pemerintahan Daerah. Kantor Sekretariat Negara Republik Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia No. 05 Tahun 2002. Tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kab. Seruyan, Kab. Sukamara, Kab. Lamandau, Kab. Gunung Mas, Kab. Pulang Pisau, Kab. Murung Raya, dan Kab. Barito Timur di Provinsi Kalimantan Tengah. Kantor Sekretariat Negara Republik Indonesia. Verhagen, 1994, Coastal Zone Management, Lecture Notes on the Workshop, IHEDelft, Netherland.

Wahyono, A., 2000. Kelimpahan, Keanekaragaman, Dominansi Jenis dan Penyebaran Zooplankton di Pantai Kubu, Kalimantan Tengah. Skripsi. Program Studi Manajeman Sumberdaya Perairan, Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Palangka Raya. 58 halaman. Wardoyo, 1974. Manajemen Kualitas Air di dalam Lingkungan Perairan dan Manajemen Ekosistem Perairan Penataan Dalam Ilmu-ilmu Pertanian. Institut Pertanian Bogor. 38 halaman. Wetlands, 2000. Algae and Algal Blooms Found in NSW Wetlands. http://www.dlwc.gov.au/carh/wetlands/facts/paa/algae/index.html Whitten, J.E.J., dan Whitten, A.J., 1987. Analysis of Bark eating in Tropical squirrel. Biotropica 19(2): 107-115. Wyrtki, K., 1961. Physical Oceanography of the Southeast Asian Waters. Naga Report Volume 2: Scientific Results of marine Investigations of the South China Sea and the Gulf of Thailand 1959 – 1961. The University of California, Scripps Institution of Oceanography. La Jolla, California. 195 pages Yanagi, T., 1999, Coastal Oceanography, Ocean Sciences Research, Terra Sc Pbl, Kluwer Ac. Publ.

DP-3

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Bappeda Bapedalda Bakosurtanal Bappenas BBAP BBM BBI BKSDA BPLHD BPS BOD BT Bugam Raya CD-ROM COD CO2 CPO Cu

: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. : Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. : Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional. : Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. : Balai Budidaya Air Payau. : Bahan Bakar Minyak. : Balai Benih Ikan. : Balai konservasi Sumber Daya Alam. : Badan pengendalian Lingkungan Hidup Daerah. : Badan Pusat Statistika. : Biological Oxygen Demand (Kebutuhan Oksigen untuk proses Biologis). : Bujur Timur.

DAS Dirjen DPP DO ENSO Fe FKPPS GIS GT HUT ITB IUCN JICA

: Daerah Aliran Sungai. : Direktorat Jenderal. : Daerah Perairan Pantai. : Dissolved Oksigen (Oksigen Terlarut di dalam Air). : El Nino - Southern Oscillation. : Ferum (Besi). : Forum Koordinasi Pengelolaan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan. : Geographic Information System. : Gross Ton (Bobot bersih kapal atau perahu). : Hari Ulang Tahun. : Institut Teknologi Bandung. : International Union for Conservation of Nature. : Japan International Corporation Agency. : Kalimantan Tengah. : Kabupaten. : Kecamatan. : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat. : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. : Lintang Selatan. : Marine and Coastal Management Area.

: Pantai Kubu, Teluk Bogam, dan Pantai Keraya (Kawasan wisata pantai di Kabupaten Kotawaringin Barat). : Compact Disk – Read Only Memory. : Chemical Oxygen Demand (Kebutuhan Oksigen untuk proses Kimiawi). : Carbon Dioxide.

Kalteng Kab Kec LPPM LIPI

: Crude Palm Oil. : Cuprum (Tembaga).

LS MCMA

DS-1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

MENKLH Mn MSL NO3 PAD Pasut PAM Pb PC PELNI Pemda PLN PLG PPLH PPI PPK Pol- Airud PO4 Prop PT Puskesmas PU P3G RI

: Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup. : Mangan. : Mean Sea Level (Rata-rata Permukaan Air Laut). : Nitrate. : Pendapatan Asli Daerah. : Pasang Surut. : Perusahaan Air Minum. : Plumbum (Timbal). : Personal Computer. : Pelayaran Nasional Indonesia. : Pemerintah Daerah. : Perusahaan Listrik Negara. : Proyek Lahan Gambut. : Pusat Penelitian Lingkungan Hidup. : Pelabuhan Penangkapan Ikan. : Pusat Penelitian Kelautan. : Polisi Air dan Udara.

RS RTRW SD SIG

: Rumah sakit. : Rencana Tata Ruang Wilayah. : Sekolah Dasar. : Sistem Informasi Geografis. : Silikat Oksida. : Surat Keputusan. : Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. : Sekolah Lanjutan Tingkat Atas. : Sosial Ekonomi dan Budaya. : Tempat Pelelangan Ikan. : Taman Nasional. : Total Suspended Solid. : Undang Undang. : Universitas Lambung Mangkurat. (Banjarmasin – Kalimantan Selatan). : Universitas Palangka Raya. (Kalimantan Tengah). : Waktu Indonesia bagian Barat. : Wilayah Pantai. : Yayasan Orang Utan Indonesia. : Zona Ekonomi Eksklusif.

SiO2 SK
SLTP SLTA Sosekbud TPI TN TSS UU UNLAM UNPAR WIB WP

: Phosphate. : Propinsi.

Yayorin ZEE

: Perusahaan Terbatas. : Pusat Kesehatan Masyarakat. : Pekerjaan Umum. : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi. : Republik Indonesia.

DS-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Akrasi

: proses penumpukan pasir di daerah pantai yang diakibat oleh gerakan arus dan gelombang yang membawa pasir ke daerah tersebut. : suatu lapisan geologis yang mengandung air, dimana air tersebut dapat diambil secara ekonomis dan digunakan sebagai sumber pasokan terhadap kebutuhan sehari-hari akan air bersih. : daerah akrasi atau erosi, terletak ke arah darat dari garis air pasang normal, yang biasanya menjadi basah hanya pada waktu air pasang tinggi, suatu berm pelindung ombak (timbunan kerikil dan/atau pasir yang terbentuk karena gelombang) yang sempit atau suatu timbunan pasir, semak atau bukit pasir yang kompleks ke arah darat dari air pasang normal. : bagian fisik dari wilayah pesisir yang umumnya berpasir. : saluran / kanal buatan manusia untuk menjebak ikan pada saat air pasang naik ke darat. Beje ini juga bisa dimodifikasi menjadi kolam, ketika bagian mulut kanal ditutup, sehingga ikan yang terjebak bisa dipelihara untuk dipanen setelah 3-4 bulan kemudian. : bagian pantai yang hampir datar yang terbentuk oleh endapan material akibat aksi gelombang. : bagian tepi dari berm. : pertumbuhan plankton alga secara besar-besaran yang menyebabkan terjadinya perubahan warna pada air. Umumnya, alga biru-hijau (Cyanobacteria) yang berkembang di daerah eutrof. : gelombang pecah. : daerah gelombang pecah.

Citra

Akuifer

Backshore

: penginderaan jauh dikumpulkan oleh satelit yang mengelilingi bumi termasuk Landsat, dan SPOT yang mempunyai panjang gelombang tertentu (tampak mata biasa, inframerah, dsb), yang dapat digabungkan untuk maksud interpretasi. Tampak seperti photo tetapi tidak dapat di buat dengan metode photografi, karenanya digunakan istilah image atau imagery. Data dari citra satelit dapat diinterpretasikan secara visual atau di analisis dengan komputer dalam bentuk digital (angka). Dapat pula langsung dimasukkan dalam sistem informasi geografis. : bagian dari wilayah pesisir yang meluas dari garis pantai ke arah darat. : wilayah pesisir. : suatu garis diciptakan secara geografis untuk menentukan jarak ke batas laut wilayah suatu negara.

Coast Coastal area

Beach atau Shore Beje

Coastal baseline

Dataran Pasang : daerah pantai yang tidak ditutupi vegetasi (biasa berlumpur Surut (tidal flat) atau berpasir); daerah darat yang tergenang air surut dan aliran pasang surut; daerah yang terletak diantara air pasang tertinggi dan air surut terendah (lihat : “intertidal zone”). Deforestasi Dendritic Daya dukung : penggundulan atau penebangan hutan. : rangkaian pengaliran sungai utama beserta anak sungai yang secara keseluruhan membentuk pola seperti tulang daun. : batas banyaknya kehidupan, atau kegiatan ekonomis yang dapat didukung oleh suatu lingkungan; sering berarti jumlah tertentu individu dari sejumlah spesies yang dapat di dukung oleh suatu habitat atau dalam pengelolaan sumberdaya, berarti batas-batas yang wajar dari lampu pemukiman manusia dan/atau penggunaan sumberdaya. : gerakan vertikal massa air dari lapisan permukaan ke lapisan dalam akibat adanya penumpukan massa (konvergensi) di permukaan.

Berm Berm edge Blooming

Breaker Breaker zone

Downwelling

DI-1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Dunes

: akumulasi pasir di pinggiran pantai ke arah daratan yang terbentuk melalui proses alami dan biasanya sejajar dengan garis pantai. : suatu komunitas tumbuh-tumbuhan, bahan dan organisms lainnya serta proses yang menghubungkan mereka; suatu sistem fungsi dan interaksi yang terdiri dari organisme hidup dan lingkungannya. Konsep ini dapat diterapkan pada skala apapun, dari planet sebagai suatu ekosistem sampai ke koloni mikroba yang mikroskopis dengan sekitarnya, sistem ekologi lengkap yang berlangsung di suatu unit geografi tertentu, termasuk komunitas biologis dan lingkungan fisik, berfungsi sebagai unit ekologis di alam. : penampakan air permukaan laut yang panas, yang tidak normal di wilayah Pasifik ekuator bagian timur dan tengah. Ada juga yang mengartikan El Nino sebagai penampakan air (permukaan) laut yang panas dari waktu ke waktu di wilayah Pasifik ekuator bagian timur sepanjang Pantai Peru dan Ekuador. Fenomena El Nino kemudian berhubungan dengan fenomena Osilasi Selatan yang dikenal dengan istilah ENSO. : pemindahan tanah oleh angin, air atau tanah longsor dengan kecepatan yang lebih tinggi dari proses pembentukan tanah untuk menggantinya. Erosi tanah dapat terjadi akibat kegiatan manusia seperti pembersihan vegetasi dan penanaman pada lahan yang miring tanpa langkah konservasi tanah. : daerah muara sungai dimana terjadi percampuran air asin dari laut dengan air tawar dari sungai. : bagian pantai yang terkena pasang surut atau bagian depan pantai yang terletak antara bagian pantai atas (atau batas teratas yang terkena air pasang tinggi) dan batas air surut biasa yang biasanya terkena gelombang naik dan gelombang turun ketika air pasang dan air surut. : lereng dari foreshore. : Suatu jenis tanah yang mempunyai pH asam hasil dekomposisi tumbuhan selama ratusan tahun, jika dekomposisi terus berlangsung akan membentuk struktur batu bara. : Garis yang dibentuk oleh perpotongan garis air rendah dengan daratan pantai yang dipakai untuk menetapkan titik terluar di pantai wilayah laut.

Gelombang sea Gelombang swell Gembor

: gelombang yang terjadi di daerah pembangkitan angin. : gelombang yang telah keluar dari daerah pembangkitan angin. : nama lokal dari suatu pohon yang kulitnya diambil oleh masyarakat sebagai bahan baku pembuatan obat nyamuk bakar. Kegiatan pengambilan kulit tersebut dikenal sebagai Menggembor. : struktur lingkungan tempat hidup tumbuh-tumbuhan atau hewan, biasanya menurut tipe bentuk kehidupan utama (misalnya bakau, lamun, dsb). : ilmu pengetahuan mengenai sifat-sifat penyebaran dan sirkulasi air di atas bumi. : level muka air tinggi (pasang). : arti harfiahnya adalah masuk secara paksa, istilah ini sering digunakan tentang proses masuknya air laut kedaratan sehingga air tanah yang berada jauh dari laut terasa payau atau asin. : daerah dengan lebar yang bervariasi yang meluas dari garis air rendah hingga breaker zone. : zona transisi antara laut dan darat, sering didefinisikan sebagai zona yang terletak antara batas air pasang tinggi rata-rata dan batas air surut rata-rata. : dikenal sebagai Drift Gill Net. Jaring ini digunakan untuk mengangkap ikan di lapisan permukaan air, ditebarkan dari atas perahu menyudut terhadap arus, kemudian dibiarkan hanyut untuk beberapa saat sebelum ditarik kembali. : dikenal sebagai Set Gill Net. Jaring ini dipasang dengan menggunakan tonggak (tiang penetap) dan diberi pemberat. Jaring ini bisa digunakan untuk menangkap ikan pada lapisan permukaan, tengah, maupun dasar perairan. : setiap habitat laut yang di bangun untuk maksud memikat jenisjenis organisme laut atau meningkatkan sumberdaya laut untuk memperbaiki perikanan, biasanya terbuat dari timbunan bahanbahan seperti bekas ban mobil, pecahan-pecahan semen, bangkai kerangka kapal, badan mobil, dsb.

Ekosistem

Habitat

El Nino

Hidrologi High water level Intrusi

Erosi tanah

Inshore zone Intertidal Zone

Estuaria Foreshore

Jaring Insang Hanyut

Foreshore slope Gambut

Jaring Insang Tetap

Karang Buatan

Garis pantai

DI-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Kawasan

: suatu daerah yang memliki karakteristik fisik, biologi, social, ekonomi dan budaya yang dibentuk oleh criteria tertentu untuk mengidentifikasinya. : sawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan. : wilayah pesisir tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan criteria tertentu, seperti karakteristik fisik, biologi, social, dan ekonomi, untuk dipertahankan keberadaannya. : perahu kayu yang kurang lebih panjangnya 2 – 4 meter, dan dilengkapi dengan mesin berkekuatan kecil, yaitu 4 – 7 pk (tenaga kuda). : suatu Struktur atau sarana terdiri dari kerangka (dari bamboo, kayu, pipa peralon, atau pipa besi) berbentuk persegi, pelampung, dan jaring penahan, yang dipasang terendam di perairan. Dimana jaring penahan, adalah terbuka pada bagian atasnya, dan tertutup pada bagian bawahnya sehingga mirip dengan kolam, digunakan untuk memelihara ikan. : zat hijau daun yang sangat berperan dalam proses fotosintesis. : sekelompok makhluk hidup yang tinggal di lingkungan tertentu (misal: komunitas padang rumput). : kegiatan yang ditujukan untuk memperkecil berkurangnya tanah karena erosi. Konservasi tanah (soil conservation) dapat dicapai dengan struktur tanah, seperti tepi sungai dan pematang, atau dengan cara biologis, terutama mempertahankan suatu penutupan tanah oleh tumbuh-tumbuhan hidup atau sisa-sisa tumbuh- tumbuhan. Soil conservation juga digunakan dalam pengertian yang luas untuk menunjukkan semua kegiatan yang ditujukan untuk konservasi kesuburan tanah. : suatu garis yang menghubungkan titik-titik yang bernilai sama. Biasanya berdasarkan suatu datum horizontal, misalnya kedalaman laut rata-rata. : suatu daerah litoral agak tertutup dengan masukan air tawar yang terbatas, salinitas tinggi dan sirkulasi terbatas; laguna terdapat di belakang bukit pasir, pulau penghalang dan bentukbentuk penghalang lainnya.

Lahan basah (Wetland) Lamun

: daerah yang sering terkena banjir atau tertutup air misalnya semak air payau, rawa bakau atau lahan dengan semak-semak tawar. : sejenis ilalang laut yang hidup di dasar laut yang berpasir yang tidak begitu dalam dimana sinar matahari masih dapat menembus ke dasar hingga memungkinkan ilalang tersebut berfotosintesa. : sebuah satelit NASA (Nasional Aeronautical and Space Administration) yang mengelilingi bumi tanpa awak, yang mengirimkan citra multispektrum (kisaran 0,4 – 1,1 um) dari spektrum elektromagnet ke stasiun penerima di bumi, data digital dan/atau citra yang dihasilkan digunakan untuk identifikasi ciri-ciri bumi dan sumberdaya. Data dikumpulkan terpisah untuk panjang gelombang yang tampak dan yang tidak tampak, yang dapat digabungkan untuk interpretasi.Pada kondisi menguntungkan, resolusi tanah dapat mencapai 30 m. : alat tangkap ikan tradisional berupa Jaring yang berbentuk mengantong, bagian mulut lebar dengan sisi bawahnya dilengkapi papan pemberat sekaligus berfungsi untuk menggaruk hingga ke dasar perairan. Alat tangkap ini dulunya ditarik dengan tenaga manusia, sedangkan di beberapa desa sudah dimodifikasi ditarik dengan mesin sederhana. : perpindahan pasir dan bahan lain oleh arus litoral (sepanjang pantai) dengan arah sejajar pantai di sepanjang pantai; biasanya oleh angin. : perairan pantai yang dangkal. : dasar pantai yang datar yang merupakan batas air rendah (surut). : level muka air rendah (surut). : sekolah untuk pendidikan dasar 6 tahun yang berbasis agama Islam. : komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon (bakau dan nipah) yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut dan pantai berlumpur atau/dan berpasir. Misalnya: Bakau Api-api (Avicenia spp), Bakau Bakau (Rhizopora spp).

Kawasan Budidaya Kawasan Pesisir

Landsat

Kelotok

Keramba

Lempara dasar

Klorofil Komunitas Konservasi tanah

Litoral drift

Litoral Low tide terrace Low Water Level Madrasah Ibtidaiyah Mangrove

Kontur

Laguna

DI-3

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Mean Sea Level (MSL) Meandering Model

: permukaan laut rata-rata yang diperoleh dengan merataratakan data pasang surut selama 19 tahun. : alur pengaliran sungai yang berkelok-kelok sedemikian rupa sehingga menyerupai huruf “S”. : suatu pembuatan abstrak dari kenyataan. Model dapat meliputi kombinasi dari pernyataan logis, persamaan matematis, dan kriteria yang dapat diterapkan untuk simulasi suatu proses, prediksi suatu hasil atau membuat ciri suatu karakteristik suatu fenomena, istilah model dan analisis sering digunakan bergantian walaupun yang pertama mempunyai lingkup lebih sempit. Penyajian data realitas (misalnya model data ruang meliputi arc-node, geo-relational model, raster atau grids dan TINS). : konstruksi simulasi fisik, konseptual atau matematis dari dunia nyata. Model membantu menunjukkan hubungan antara proses (fisik, ekonomis, sosial) dan dapat digunakan untuk membuat prediksi pengaruh perubahan-perubahan dalam penggunaan sumberdaya. : Suatu pembuatan miniatur dari kenyataan dinamika yang terjadi di laut, meliputi pergerakan arus, gelombang, dan pasang surut melalui persamaan matematis dan kriteria fenomena oseanografis. Model hidrodinamika bisa dibangun secara 1 dimensi, 2 dimensi, dan 3 dimensi. : pola angin yang berhembus di atas wilayah perairan Samudera Hindia-Pasifik dan laut di sekitarnya, yang mengakibatkan iklim dan pola arus permukaan laut tertentu di kawasan tersebut. : merupakan salah satu fenomena dari Monsun, dimana pada musim ini angin berhembus di atas wilayah Indonesia dari arah timur. : daerah yang meluas dari garis pantai ke arah laut melampaui breaker zone. : lepas pantai. : suatu masa dimana menghasilkan. : sistem pemilikan penggunanya. atau lahan yang diolah lahan tidak atau dapat

Pengguna lahan Peran serta masyarakat

: semua orang mendapatkan pekerjaan secara langsung baik seluruhnya atau sebagian dari lahan misalnya petani, pengusaha hutan, pengembala, staf dari taman nasional. : atau kerlibatan warga berarti partisipasi dalam perencanaan oleh orang yang bukan perencana profesional atau pegawai negeri. Ini merupakan suatu proses dimana masyarakat seharihari ikut ambil bagian dalam mengembangkan, mengurus dan mengubah rencana komprehensif lokal dan peraturan– peraturan yang ada hubungannya.Dalam hal ini warga berpartisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan yang mempengaruhi masyarakatnya. : daerah perbatasan antara laut dan darat, dimana batas untuk darat ialah daerah dimana masih terdapat pengaruh dari laut (seperti angin, arus dsb) dan untuk laut ialah daerah batas yang masih ada pengaruh darat (seperti dari sungai). : sebuah peta yang menunjukan informasi planimetri, topologi, geologic politik dan/atau kadaster. Informasi peta dasar tersebut digambar dengan tipe informasi peta dasar dapat sederhana seperti batas-batas administrasi utama, data hidrografi utama, atau jalan utama. : informasi yang dipetakan dan disimpan dalam bentuk angka dalam suatu rangkaian koordinat (utara, timur) beserta nilai atau sifat-sifatnya (misalnya ketinggian, penggunaan sumber daya, dsb). : titik gelombang pecah paling akhir. : salah satu dari Kesatuan Polisi, dimana bertugas khusus untuk patroli kawasan air dan udara. : sistem pendukung yang biasanya dibangun untuk umum bagi suatu komunitas termasuk: jalan, listrik, air, pembuangan limbah, dsb. : alat tangkap berupa jaring kantong yang digunakan untuk menangkap ikan-ikan pelagis di lapisn permukaan perairan laut. Dimana pengoperasiannya dengan tenaga kapal mesin. : bubur kayu untuk bahan pembuatan kertas.

Pesisir

Modeling

Peta dasar

Model Hidrodinamika

Peta digitasi

Monsun (Moonson) Musim Angin Teduh Nearshore zone Offshore Paceklik Pemilikan lahan

Plunge point Polisi Airud Prasarana

Purse seine

Pulp penyewaan hak Rawai

: alat tangkap ikan berupa pancing dengan panjang tali bisa sekitar 25 – 100 meter yang terjulur dari permukaan hngga ke dasar perairan. Dimana pada bagina permukaan diikatkan

DI-4

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

pada pelampung dari drum plastik, sedangkan bagian bawah diberikan pemberat. Sepanjang tali tersebut dipasang beberapa mata kail, dengan jarak antar mata kail bisa sekitar 1 meter. Mata kail bisa diberi umpan berupa pelet khusus, atau dipasangi umpan ikan-ikan kecil yang hidup. Rempa Kantong Rempa Kembong Rengge : berasal dari bahasa lokal masyarakat pesisir Kalimantan Tengah yang berarti “Jaring Kantong”. Alat ini digunakan nelayan untuk menangkap ikan dan udang ditarik dengan kapal atau perahu. : berasal dari bahasa lokal masyarakat pesisir Kalimantan Tengah yang berarti “Jaring untuk menangkap ikan Kembung”. : jaring insang atau Gill Net. Jaring ini terdiri mempunyai 2 tipe yaitu Jaring Insang Hanyut (Drift Gill Net), dan Jaring Insang Tetap (Set Gill Net). : wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. : kadar garam yang umumnya dinyatakan dalam per mil atau perseribu ppt (part per thousand). : pantai karang yang terjal. : proses pengangkutan sedimen yang berasal dari arah hulu sungai, kemudian terjadi penumpukan di daerah muara. : berasal dari bahasa local Kalimantan yang berarti “Sungai”. : garis pantai yang merupakan batas darat dan laut.

yang mencakup suatu daerah kecil di atas suatu lembar peta misalnya 1:10.000. Storm surge : meningkatnya ketinggian laut karena naiknya air laut di pantai akibat dorongan angin pantai yang kuat seperti angin pantai yang disertai dengan topan atau badai kuat lainnya. Tekanan atmosfer yang menurun dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut tersebut. : sumberdaya lahan dan laut yang relevan dengan potensi penggunaannya, misalnya iklim, air, tanah, lepas pantai, dekat pantai dan hutan. : sumberdaya alam, sumberdaya buatan, dan jasa-jasa lingkungan yang terdapat di wilayah pesisir. Sumberdaya alam terdiri atas sumberdaya hayati dan non hayati. Sumberdaya hayati, antara lain ikan, lamun, mangrove. Sedangkan unsure non hayati terdiri dari lahan pesisir, permukaan air, sumberdaya di airnya, dan di dasar laut seperti pasir, dan mineral lain. : alat tangkap tradisional berupa jaring yang biasa digunakan untuk menangkap kepiting rajungan. : daerah diantara gelombang pecah paling luar dan batas naiknya gelombang di pantai. : pengelolaan lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia meliputi penggunaan lahan di pedesaan, perkotaan, dan penggunaan oleh industri. : bersifat tema atau judul, dalam pedoman ini sering dipakai dalam peta misalnya peta tematik yang artinya peta dengan tema atau judul tertentu misalnya peta wisata bahari, sebaliknya peta dasar umumnya menggambarkan garis pantai, batas administrasi, sungai, dan jalan tidak bersifat tema. : karang adalah jenis hewan laut berukuran kecil yang disebut polip, hidupnya menempel pada substrat seperti batu atau dasar yang keras dan berkelompok membentuk suatu koloni. Hewan ini menghasilkan deposit yang berupa kalsium karbonat (CaCO3) yang terakumulasi menjadi terumbu dan bila hewan yang berada di terumbu itu mati, maka terumbu karang tersebut tidak berkembang sehingga menjadi batukarang atau karang mati. Hewan karang hidup dari hewan renik lainnya dan tanaman renik (plankton nabati dan hewan) yang terdapat di sekitarnya.

Sumberdaya alam Sumberdaya pesisir

Ruang

Sungkur Surf zone Tata Guna Lahan Tematik

Salinitas Sea cliff Sedimentasi Sei Shoreline

Sistem Informasi : suatu kumpulan perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi dan tenaga kerja yang teratur yang dirancang Geografik (SIG) secara efesien untuk menangkap, menyimpan, memutakhirkan, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan seluruh bentuk informasi yang mengacu pada geografi. Operasi spasi tertentu yang kompleks dimungkinkan dalam SIG, yang akan sangat sulit, memakan waktu dan tidak praktis tanpa SIG. Data biasanya berasal dari peta dan nilai yang diperoleh dapat dicetak sebagai peta. Skala : perbandingan antara jarak di atas tanah dan jarak diatas peta yang mencakup suatu daerah yang luas seperti negara di atas suatu lembar peta, misalnya skala 1:1.000.000. Skala besar berarti

Terumbu karang

DI-5

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Trommel Net

: jaring ini bentuknya mirip dengan Gill Net, tetapi dimensinya lebih besar daripada Jaring Kantong. Jaring ini digunakan untuk menangkap ikan pada kedalaman sekitar 30 – 40 meter, dimana biasanya terbagi dalam 3 lapis jaring untuk kedalaman tersebut. : berkurangnya kejernihan air karena adanya partikel-partikel yang melayang; juga merupakan suatu ukuran mengenai banyaknya bahan tersuspensi di dalam air. : gerakan vertikal massa air dari lapisan dalam (50-200 m) ke permukaan akibat adanya kekosongan massa air (divergensi) di permukaan : suatu wilayah yang telah ditetapkan secara geografis sebagai tempat dimana seluruh air mengalir melalui sistem tertentu yaitu sungai, aliran air, atau badan air lainnya; watershed dibatasi oleh "pembagi watershed" (titik atau tanggul yang tinggi di atas tanah) dan termasuk bukit, lereng, dataran rendah, daerah banjir dan menerima badan air. : ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang terbatas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administrasi dan atau aspek fungsional. : zona maritim yang berdekatan dengan atau yang membentang 200 mil laut dari garis pangkal yang digunakan untuk mengukur wilayah laut. Kewenangan diberikan secara internasional oleh Konferensi PBB III tentang Hukum Laut, negara pantai mempunyai hak berdaulat untuk eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumberdaya alam di zona tersebut.

Zona pesisir (definisi resmi Amerika)

Turbiditas

: perairan pantai (termasuk lahan di dalam dan di bawahnya) dan lahan pantai di dekatnya (termasuk perairan di dalam dan di bawahnya), yang saling mempengaruhi dan letaknya berdekatan dengan garis pantai beberapa propinsi (negara bagian) pantai termasuk pulau-pulau, daerah transisi dan pasang surut, semak-semak payau, lahan basah dan pantai. : sebagai salah satu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang, untuk menetapkan batas-batas fungsional suatu peruntukan (misal: kawasan hutan lindung dan hutan produksi) sesuai dengan potensi sumberdaya, daya dukung dan proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan dalam sistem tersebut. Dikenal juga sebagai Pemintakatan.

Zonasi

Upwelling

Watershed

Wilayah

Zona Ekonomi Eksklusif

DI-6

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Lebih lanjut batas wilayah pesisir ke arah darat dan ke arah laut yang telah 1. PENDAHULUAN

P

dipraktekkan di beberapa negara dan negara bagian di dunia, adalah (Dahuri, dkk., 1996): 1. Batas wilayah pesisir ke arah darat pada umumnya adalah jarak secara arbitrer dari rata-rata pasang tinggi (mean high tide), dan batas ke arah laut umumnya secara jurisdiksi propinsi. 2. Bahwa untuk kepentingan pengelolaan, batas ke arah darat dari suatu wilayah pesisir dapat ditetapkan sebanyak 2 macam, yaitu: batas untuk wilayah perencanaan (planning zone), dan batas untuk wilayah pengaturan (regulation zone) atau pengelolaan keseharian (day-to-day management). Dimana batas-batas tersebut harus mempertimbangkan interaksi antara lingkungan, sumberdaya, dan kegiatan manusia yang ada. 3. Batas ke arah darat dari suatu wilayah pesisir dapat berubah tergantung pada isu pengelolaan. Contohnya yang dipraktekkan oleh negara bagian California, pada tahun 1972 menetapkan batas ke arah darat pesisirnya sejauh 1000 meter dari garis rata-rata pasang tinggi, kemudian pada tahun 1977 batas tersebut menjadi batas arbitrer yang bergantung pada isu pengelolaan.

ertanyaan pertama yang seringkali muncul dalam pengelolaan kawasan pesisir adalah bagaimana menentukan batas-batas wilayah pesisir

(coastal zone) suatu daerah, karena sampai sekarang belum ada definisi wilayah pesisir yang baku. Sementara ini kesepakatan para ahli pesisir seluruh dunia mendefinisikan bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Dimana suatu wilayah pesisir mempunyai 2 macam batas, yaitu: batas yang sejajar garis pantai (longshore), dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (cross-shore). Penetapan batas wilayah pesisir yang sejajar garis pantai relatif lebih mudah dilakukan daripada penetapan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai. Hal ini karena setiap negara, negara bagian, atau propinsi memiliki karakteristik lingkungan, sumberdaya alam, dan sistem pemerintahan tersendiri. Contoh penetapan batas pesisir yang sejajar garis pantai untuk Propinsi Kalimantan Tengah adalah Propinsi Kalimantan Barat untuk batas barat, Propinsi Kalimantan Selatan untuk batas timur, atau secara jurisdiksi propinsi.

L-1

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Definisi atau pengertian wilayah pesisir secara umum yang digunakan di Indonesia adalah yang dikemukaan oleh Soegiarto (1976) dalam buku Pedoman Umum Pengelolaan Wilayah Pesisir terbitan Lembaga Oseanologi Nasional LIPI Jakarta, yaitu: daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah darat wilayah pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut wilayah pesisir mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.

batas wilayah pesisir yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan adalah:

1.1 BATAS PESISIR SECARA FISIK Batas wilayah pesisir secara fisik ke arah darat untuk Propinsi Kalimantan Tengah bisa ditentukan berdasarkan pada definisi wilayah pesisir yang dikemukakan oleh Soegiarto (1976) dalam buku Pedoman Umum Pengelolaan Wilayah Pesisir terbitan Lembaga Oseanologi Nasional LIPI Jakarta. Dalam hal ini parameter oseanografi utama yang perlu dilihat adalah pasang surut (pasut), dan salinitas sebagai indikator perembesan air laut ke arah hulu sungai-sungai yang ada. Hal ini menjadi pertimbangan utama karena ada

Dari berbagai gambaran tentang penetapan batas wilayah pesisir yang ada, kami mencoba memaparkan beberapa konsep batas wilayah pesisir yang cocok diterapkan untuk wilayah Propinsi Kalimantan Tengah. Dalam hal ini permasalahan utama adalah menentukan batas di bagian darat. Sebenarnya definisi wilayah pesisir yang diterapkan di Negara Republik Indonesia sudah ada yaitu, konsep wilayah pesisir (coastal zone) yang tertulis pada Lampiran Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu yang mengacu kepada UU RI No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, yang menyebutkan bahwa batas ke arah laut pesisirnya adalah 12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu untuk kabupaten/kota, sedangkan batas administrasi kabupaten/kota digunakan pada bagian darat.

sekitar 11 sungai besar yang bermuara di perairan laut Kalimanatan Tengah, dan hampir semuanya mempunyai hulu yang jauh masuk ke arah daratan. Pengukuran detail tentang kedua parameter tersebut minimal bisa dilakukan di 5 titik stasiun pengamatan yaitu, muara, hulu, dan 3 titik diantara hulu-muara pada masing-masing sungai. Dimana minimal pengamatan selama 2 minggu, sedangkan khusus untuk salinitas sampel air yang diamati harus diambil dari bagian permukaan, tengah kolom, dan dasar sungai. Berdasarkan fenomena yang teramati tersebut kemudian secara 2 dimensi akan bisa ditarik garis delineasi batas kearah darat pesisir Kalimantan Tengah.

1.2 BATAS PESISIR SECARA EKOSISTEM Batas wilayah pesisir secara ekosistem ke arah darat untuk Propinsi Kalimantan

Mengingat keadaan daerah di suatu propinsi bervariiasi maka perlu kiranya suatu kriteria atau kebijakan khusus untuk menentukan batas wilayah pesisir di suatu daerah, dalam hal ini Propinsi Kalimantan Tengah. Beberapa konsep

Tengah bisa didasarkan kepada definisi wilayah pesisir yang tertulis sebagai kalimat pertama pada paragraf pertama bagian Sub-bab Latar Belakang Bab Pendahuluan dalam Lampiran SK Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir L-2

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

Terpadu, yang menyebutkan bahwa pesisir merupakan wilayah peralihan dan interaksi antara ekosistem darat dan laut. Untuk melihat hal ini diperlukan juga studi lebih detail mengenai zona peralihan ekosistem darat dan laut, dimana yang perlu dilihat adalah jenis vegetasi, ikan, biota air yang lain, dan fauna besar-nya. Contoh ekosistem peralihan yang bisa dilihat adalah yang terdapat di Taman Nasional Tanjung Puting dimana ketika jauh memasuki kawasannya ke arah darat, masih ditemukan hutan rawa transisional dan adanya buaya muara (Crocodylus porosis). Berdasarkan penelitian tersebutlah maka dapat dipetakan zonasi peralihan ekosistem darat dan laut yang bisa dijadikan pertimbangan batas ke arah darat pesisir Kalimantan Tengah.

bentukan sedimentasi yang bertahun-tahun dari seluruh DAS (Daerah Aliran Sungai) yang ada. 1.4 BATAS PESISIR SECARA ADMINISTRASI DAN EKONOMI Seperti yang telah dikemukanan sebelumnya, batas wilayah pesisir ke arah darat yang tercantum pada Lampiran Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu yang mengacu pada UU RI No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah, menyebutkan bahwa batas ke arah darat adalah batas administrasi kabupaten/kota. Jika hal ini diterapkan di Kalimantan Tengah maka sebagian besar wilayahnya adalah kawasan pesisir. Tetapi mengingat bahwa kegiatan perekonomian masyarakat pesisir lebih banyak terlihat di sekitar kecamatan dibandingkan di kabupaten, maka lebih tepat menggunakan batas pesisirnya adalah secara administrasi kecamatan.

1.3 BATAS PESISIR SECARA GEOMORFOLOGI

DAN GEOLOGI

Jika berbicara masalah kawasan pesisir Kalimantan Tengah secara ‘geologi sekarang’ (recent geology), maka dapat ditinjau dari sudut geomorfologi dan struktur geologinya yang akan memberikan gambaran mengenai bentuk pantai. Berdasarkan tinjauan diketahui bahwa satuan dataran mencakup 80% luas daerah pesisir yaitu melampar meliputi wilayah pantai, sepanjang sungai utama dan rawa Kalimantan Tengah (Sumber: diolah dari berbagai sumber). Berdasarkan kemiringan, pelamparan dan batuan penyusunnya, maka satuan dataran dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) satuan dataran, yaitu: satuan dataran pantai, satuan dataran rawa, satuan dataran sungai. Pertumbuhan satuan dataran ini dikontrol oleh pasang surut, endapan delta dan gosong sungai atau sedimentasi sungai oleh karena adanya sungai-sungai besar yang mengalir di daerah Kalimantan Tengah (Selengkapnya ada di BAB 4 Geomorfologi dan Geologi Pesisir). Dengan demikian maka batas ke arah darat pesisir Kalimantan Tengah dapat ditetapkan berdasarkan penarikan garis terluar (delineasi) dari daerah berstruktur tanah aluvial sebagai hasil

1.5 BATAS PESISIR SECARA KEPENTINGAN PENGELOLAAN Batas wilayah pesisir ke arah darat dapat ditetapkan berdasarkan konsep batas pesisir untuk kepentingan pengelolaan seperti yang pernah dipraktekkan di beberapa negara/negara bagian contohnya negara bagian California, yaitu tergantung pada isu pengelolaan yang ada. Jadi, konsep batas pesisir tersebut ditetapkan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan (pemanfaatan) dan pengelolaan ekosistem pesisir dan lautan beserta segenap sumberdaya yang ada didalamnya, serta tujuan dari pengelolaan itu sendiri (Dahuri, dkk., 1996). Sebagai contoh untuk wilayah Propinsi Kalimantan Tengah, penetapan batas-batas wilayah pesisir dengan tujuan untuk mengendalikan sedimentasi di daerah muara hendaknya mencakup kawasan Daerah Aliran sungai (DAS) hingga ke arah hulu, karena penanganan yang kurang tepat pada penebangan hutan dan pembukaan L-3

PENGUMPULAN DATA & INFORMASI UNTUK MCMA PROPINSI KALIMANTAN TENGAH

lahan untuk pemukiman yang kurang memperhatikan faktor lingkungan terjadi di kawasan-kawasan hutan sekitar daerah hulu dan DAS. Pemisalan tersebut bisa dilakukan karena didalam Lampiran Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu, bagian Sub-bab Isi Rencana Strategis BAB IV Rencana Strategis (Strategic Plan) menyatakan bahwa batas ke arah darat suatu pesisir bisa menggunakan batas ekologi DAS hulu jika berada dalam satu kabupaten/kota atau batas wilayah desa pantai/kecamatan tergantung pada kesepakatan daerah dan isu pengelolaan pesisir yang ditangani.

Kompromi untuk pengambilan kebijakan

• •

BATAS PESISIR
2. KOMPROMI PENGAMBILAN KEBIJAKAN PENETAPAN BATAS PESISIR Berdasarkan konsep-konsep penetapan batas ke arah darat pesisir yang ada dan pemisalan-pemisalan yang bisa dilakukan untuk wilayah pesisir Kalimantan Tengah, maka kami dari pihak PPK-ITB mengusulkan batas penetapan wilayah pesisir secara fisik untuk dijadikan pilihan utama dalam penentuan batas pesisir di bagian darat. Batas fisik tersebut berupa batas pengaruh pasang surut dan perembesan air asin ke arah hulu. Dalam pandangan kami kondisi fisik tersebut merupakan faktor dominan (utama) karena mempengaruhi kondisi ekosistem, geomorfologi, dan ekonomi masyarakat sekitar. Selain itu pengaruh fisik berperan pula pada budaya masyarakat di suatu wilayah. Batas fisik ini digunakan sebagai acuan dan dapat dimodifikasi mengikuti kepentingan pengelolaan (lihat Gambar A.1). Agar perencanaan dan pelaksanaannya mampu terintegrasi secara sektoral, tidak tumpang tindih dan timbul konflik, serta mampu memberikan standarisasi pengelolaan sangat perlu mengacu kepada Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu. Kepentingan Pengelolaan

definisi

FISIK: Pasang Surut Perembesan Air Asin ke Arah Hulu

Gambar A.1 Bagan Kompromi Penetapan Batas Pesisir (PPK-ITB, 2002)

L-4

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful