Anda di halaman 1dari 28

SISTEM INTEGUMEN

istem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi dan menginformasikan ikan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali merupakan bagian sistem organ yang terbesar. Kata integumen berasal dari bahasa latin intergum yang berarti penutu p. Sistem integumen pada seluruh mahluk hidup merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan luar tempat mahluk hidup tersebut berada. Pada sistem integumen terdapat sejumlah organ atau struktur dengan fungsi yang beraneka pada bermacam-macam jenis mahluk hidup.

Sistem Integumen Ikan

Sistem integumen pada ikan adalah kulit dan derivat integumen. Kulit merupakan lapisan penutup tubuh yang terdiri dari dua lapisan, yaitu epidermis pada lapisan terluar dan dermis pada lapisan dalam. Derivat integumen merupakan suatu struktur yang secara embryogenetik berasal dari salah satu atau kedua lapisan kulit yang sebenarnya. Sistem integumen yang berhubungan langsung dengan lingkungan tempat hidup memiliki berbagai fungsi yang sangat vital pada kehidupan ikan yaitu: 1. Pertahanan fisik Merupakan fungsi utama dari integument yaitu sebagai pertahanan pertama dari infeksi, paparan sinar ultra violet [UV] dan gesekan tubuh dengan air atau benda keras lainnya. Hal ini disebabkan karena kulit memiliki kelenjar mukosa sebagai pelindung kulit dari parasit, bakteri dan mikroorganisme merugikan lainnya serta memperkecil gesekan dengan adanya sifat mucus yang licin. Keseimbangan cairan Keseimbangan cairan dilakukan oleh integumen kelompok amphibian dan ikan memiliki sistem tersendiri dalam proses keseimbangan cairan yaitu dengan menggunakan insangnya. Thermoregulasi Thermoregulasi dilakukan oleh vertebrata dengan jalan memasukkan dan mengeluarkan panas secara bergantian melalui aliran darah pada kulit. Warna Warna yang ada pada integumen ikan digunakan sebagai alat komunikasi, tingkah laku seksual, peringatan dan penyamaran untuk mengelabui predator. Warna yang dihasilkan akan berbeda-beda yang disebabkan karena perbedaan tempat hidup dari ikan tersebut. Pada open-water fishes, warna tubuh ikan terbagi atas warna keperakan dibagian ventral dan warna iridescent biru atau hijau di bagian dorsal [countershading]. Ada tiga macam warna dominan ikan yang hidup dilautan, yaitu keperakan bagi ikan yang hidup di permukaan laut, kemerahan pada ikan yang hidup di daerah tengah perairan dan violet atau gelap pada ikan yang hidup di dasar perairan. Pergerakan Pergerakan ikan dipengaruhi pula oleh keberadaan sisik yang membantu dalam meningkatkan kemampuan berenang ikan yang menghadapi halangan kuat.

2.

3.

4.

5.

6. Respirasi Respirasi ikan tidak menggunakan kulit sebagai sarananya tetapi dilakukan oleh golongan Amphibian. Hal ini dilakukan karena kulit merupakan lapisan yang relatif tipis, selalu basah dan terdapat banyak pembuluh darah sehingga pertukaranoksigen dan karbondioksida dapat berlangsung. 7. Kelenjar kulit Pada kulit terdapat kelenjar yang memungkinkan ikan dapat mengeluarkan pheromone untuk menarik pasangannya dan sebagai alat untuk menetapkan daerah teritorial. Selain itu, kelenjar kulit juga dapat menghasilkan zat-zat racun yang berguna untuk mencari mangsa ataupun untuk pertahanan diri dari predator. 8. Keseimbangan garam [homeostatis] pada ikan dilakukan pada kulit dan insang yaitu dengan pengaturan kadar garam cairan tubuh ikan [osmoregulasi] sehingga cairan dalam tubuh akan tetap stabil sesuai dengan lingkungan dimana ikan berada. Pada ikan yang hidup di laut,kulit akan menjaga pengeluaran cairan dalam tubuh yang berlebihan sedangkan pada ikan yang hidup di perairan tawar, kulit akan mengatur agar cairan dari luar tubuh tidak terlalu banyak yang masuk ke dalam tubuh. 9. Eksresi Selain itu, kulit berperan dalam proses ekskresi hasil 2etabolism yang dilakukan oleh tubuh. 10. Indera. Organ indera Kulit memiliki sel-sel yang berfungsi sebagai reseptor dari stimulus lingkungan, misalnya panas, sakit dan sentuhan. Derivat integumen seperti barbels dan flaps memiliki sel-sel syaraf sebagai indera. Barbels berfungsi sebagai alat bantu makan dan mengandung organ-organ sensory serta sebagai alat untuk kamuflase pada ikan demikian juga flaps. Barbels ini ada yang berbentuk seperti alga. Letak dari barbels ada pada hidung, bibir, dagu, sudut mulut dengan bentuk rambut, pecut, sembulan, bulu dan lain-lain. Struktur Kulit Ikan Kulit terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan luar yang disebut epidermis dan lapisan dalam yang disebut dermis atau corium. Epidermis selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang dalam terdiri dari lapisan sel yang selalu giat mengadakan pembelahan untuk mengantikan sel-sel sebelah luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh. Lapisan ini dinamakan stratum germinativum (lapisan Malphigi). Dermis lebih tebal daripada epidermis dan tediri dari sel-sel yang susunannya lebih kompak. Lapisan ini berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik. Derivatderivat kulit juga dibentuk dari lapisan ini. Pada dermis ini terkandung pembuluh darah, saraf dan jaringan pengikat.

Gambar Struktur Kulit Ikan Sel kelenjar yang berbentuk piala dan terletak didalam epidermis, mengeluarkan suatu zat (semacam glycoprotein) yang dinamakan mucin. Apabila mucin ini bersentuhan dengan air maka akan berubah menjadi lendir. Kegiatan sel kelenjar tersebut akan menentukan ketebalan lendir yang menutupi kulit. Umumnya ikan yang tidak bersisik memiliki lendir yang lebih tebal dibandingkan dengan ikan yang bersisik. Hal ini merupakan suatu keadaan pengganti ketiadaan sisiknya. Ketebalan sisik yang menyelimuti tubuh ikan tidak selalu sama dari waktu kewaktu. Pada keadaan yang genting, seperti bila melepaskan diri dari bahaya, sel kelenjar akan lebih giat lagi untuk mengeluarkan lendir sehingga lapisan lendir menjadi lebih tebal daripada keadaan normal. Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ikan dapat berenang lebih cepat, berperan dalam proses osmoregulasi sebagai lapisan semipermiabel yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit, mencegah infeksi dan menutup luka. Pada beberapa ikan, lendir berguna untuk menghindarkan diri dari kekeringan. Ikan paru-paru (Protopterus) di Afrika mengadakan tidur musim panas (summer destivation) pada musim kemarau dengan cara membuat lubang pada dasar sungai yang berlumpur. Apabila dasar sungai menjadi kering selama musim kemarau, ia akan tetap tinggal didalam lumpur yang dibuatnya dan tubuhnya dibungkus dengan lendir agar kulitnya selalu tetap basah. Bila musim penghujan tiba dan sungai pun kembali berair kembali maka ia akan keluar dari lubangnya. Beberapa ikan menggunakan lendir untuk membuat sarangnya dalam rangka melindungi telur yang telah dibuahi dari gangguan luar, misalnya ikan sepat siam (Trichogaster pectoralis), sepat rawa (Trichogaster trichopterus) dan lain-lain.

Sisik

Gambar 26. Tipe Sisik Ikan

Sisik sering diistilahkan sebagai rangka dermis karena sisik dibuat dari lapisan dermis. Pada beberapa ikan sisiknya berubah menjadi keras karena bahan yang dikandungnya, sehingga sisik tersebut menjadi semacam rangka luar. Ikan yang bersisik keras terutama ditemukan pada ikan-ikan yang masih primitif. Sedangkan pada ikan modern kekerasan sisiknya sudah tereduksi menjadi sangat fleksibel. Disamping ikan-ikan yang bersisik, juga banyak terdapat ikan yang sama sekali tidak bersisik, misalnya ikan-ikan yang termaksud kedalam subordo Siluroidea (Ikan jambal Pangasius pangasius, lele Clarias batrachus, dan belut sawah Fluta alba). Sebagai suatu kompensasi, sebagaimana yang telah dikemukakan, mereka mempunyai lendir yang lebih tebal sehingga badannya menjadi lebih licin. Berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung didalamnya, sisik ikan dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu cosmoid, placoid, ganoid, cycloid, dan ctenoid. Sisik Cosmoid Sisik cosmoid hanya terdapat pada ikan fosil dan ikan primitif. Sisik ini terdiri dari beberapa lapisan, berturut-turut dari luar adalah vitrodentine yang dilapisi oleh semacam enamel, kemudian cosmine yang merupakan lapisan yang kuat, dan noncellular, terakhir isopedine yang materialnya terdiri dari substansi tulang. Pada lapisan isopedine terdapat pembuluh-pembuluh kecil. Yang menarik perhatian dari sisik ini adalah pertumbuhan sisik ini hanya pada bagian bawah, sedangkan pada bagian atas tidak terdapat sel-sel hidup yang menutup permukaan. Ikan yang memiliki sisik tipe cosmoid ini misalnya Latimeria chalumnae.

Gambar 27. Ikan Coelacanth, Latemeria chalumnae Sisik Placoid Sisik ini hanya terdapat pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes). Bentuk sisik tersebut hampir seperti duri bunga mawar dengan dasar yang bulat atau bujur sangkar. Bagian yang menonjol seperti duri keluar dari epidermis. Susunannya hampir seperti gigi manusia. Pulp (bagian yang lunak) berisikan pembuluh darah dan saraf yang berasal dari dermis. Sisik placoid sering disebut juga dermal denticle.

Gambar 28. Sisik Ikan Hiu ( Sisik Placoid)

Sisik Ganoid Sisik ini terdiri dari beberapa lapisan, lapisan terluar dinamakan ganoine yang materialnya terdiri dari garam-garaman organik. Dibawahnya terdapat lapisan seperti cosmine, dan lapisan paling dalam adalah isopedine. Berbeda dengan sisik cosmoid, sisik ganoid tumbuh dari atas dan bawah. Ikan yang memiliki sisik tipe ganoid ini antara lain Polypterus, Lapisostidae, Acipenceridae, dan Polyodontidae.

Gambar 29. Ikan Polypterus (Sisik Ganoid) Sisik Cycloid dan Ctenoid Sisik ini terdapat pada golongan ikan Teleostei, dimana masing-masing terdapat pada golongan ikan bejari-jari sirip lemah (Malacopterygii) dan golongan ikan berjari-jari sirip keras (Acanthopterygii). Dibandingkan dengan ketiga sisik terdahulu, kedua sisik ini kepipihannya sudah tereduksi menjadi sangat tipis, fleksibel, transparant, dan tidak mengandung dentine maupun enamel. Pertumbuhan sisik ini terjadi pada bagian atas maupun bawah.

Gambar 30. Sisik Cycloid

Gambar 31. Ikan Salmon (Sisik Cycloid)

Gambar 32. Sisik Ctenoid Bagian sisik yang menempel pada bagian tubuh hanya sebagian, kira-kira separuhnya. Penempelannya secara tetanam kedalam sebuah kantong kecil didalam dermis dengan susunan seperti genting. Sisik yang terlihat adalah bagian belakang (posterior) dengan warna lebih gelap daripada bagian depannya (anterior), karena bagian belakangnya mengandung butir-butir pigmen (chromatophore). Bagian anterior (yang tertanam dalam tubuh) transparan dan tidak bewarna. Susunan sisik yang seperti genting tersebut akan mengurangi gesekan dengan air sehingga ikan dapat berenang lebih cepat. Bagian-bagian sisik cycloid pada dasarnya sama dengan sisik stenoid, kecuali bagian posterior sisik stenoid dilengkapi dengan ctenii (semacam gerigi kecil). Fokus merupakan titik awal perkembangan sisik dan biasanya berkedudukan di tengah-tengah sisik. Di daerah empat musim, sisik dapat digunakan untuk menentukan umur ikan. Circulus selalu bertambah selama ikan hidup. Pada musim dingin pertumbuhan ikan sangat lambat dan jarak antara circulus satu dengan yang lainnya menjadi sempit sekali, kadang malah tampak seperti berhimpitan. Circulus yang berhimpitan ini dinamakan annulus yang terjadi setahu sekali. Annulus ini digunakan untuk menentukan umur ikan. Bagian yang jelas untuk menentukan umur ikan ialah pada bagian anteriornya.

Gambar 33. Circulus pada sisik ikan yang menggambarkan umur ikan

Pigmen Warna Ikan-ikan yang hidup di perairan bebas seperti tenggiri (Scomberomorus commersoni) dan lain-lain mempunyai warna tubuh yang sederhana, bertingkat dari keputih-putihan pada bagian perut, keperak-perakan pada sisi tubuh bagian bawah sampai kebiru-biruan atau kehijauhijauan pada sisi atas dan kehitam-hitaman pada bagian punggungnya. Ikan yang hidup didaerah dasar, bagian dasar perutnya bewarna pucat dan bagian punggungnya bewarna gelap. Warna tubuh yang cemerlang dan cantik biasanya dimiliki oleh ikan-ikan yang hidup di sekitar karang, misalnya ikan-ikan yang termaksud kedalam familia Apogonidae, Chaetodontidae, Achanturidae, dan sebagainya. Umumnya ikan laut yang hidup dilapisan atas bewarna keperak-perakan, dibagian tengah kemerah-merahan dan dibagian bawah ungu atau hitam. Warna ikan tersebut dikarenakan oleh schemachrome (karena konfigurasi fisik) dan biochrome (pigmen pembawa warna). Schemachrome putih terdapat pada rangka, gelembung renang sisik; biru dan ungu pada iris mata; warna-warna pelangi pada sisik, mata dan membran usus. Yang termasuk biochrome ialah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Carotenoid; berwarna kuning, merah dan corak lainnya Chromolipoid; berwarna kuning sampai coklat Indigoid; berwarna biru, merah dan hijau Melanin; kebanyakan berwarna hitam atau coklat Porphyrin atau pigmen empedu; berwarna merah, kuning, hijau, biru dan coklat Flavin; berwarna kuning tetapi sering dengan fluoresensi kehijau-hijauan Purin; berwarna putih atau keperak-perakan Pterin; berwarna putih, kuning, merah dan jingga

Sel khusus yang memberikan warna pada ikan ada dua macam yaitu: Iridocyte (leucophore dan guanophore)

Sel ini dinamakan juga sel cermin karena mengandung bahan yang dapat memantulkan warna di luar tubuh ikan. Bahan yang terkandung dalam sel cermin antara lain guanin kristal (warna keputih-putihan) sebagai hasil buangan metabolisme. Chromatophore terdapat di dalam dermis Sel ini mempunyai butir-butir pigmen yang merupakan sumber warna sesungguhnya. Butir pigmen ini dapat menyebar ke seluruh sel atau mengumpul pada suatu titik. Gerakan inilah yang menyebabkan perubahan warna pada ikan. Jika butir-butir pigmen mengumpul pada suatu titik maka warna yang dihasilkan secara keseluruhan nampak pucat. Sedangkan jika butir pigmen menyebar, maka warna akan terlihat jelas tergantung pada butir pigmen tersebut. Ummnya satu warna khas tergantung pada kombinasi chromatophore dasar yang mengandung satu warna. Chromatophore dasar ada empat jenis yaitu erythrophore (merah dan jingga), xanthophore (kuning), melanophore (hitam), dan leucophore (putih).

Organ Cahaya Cahaya yang dikeluarkan oleh jasad hidup dinamakan bioluminescens, yang umumnya bewarna biru atau biru kehijau-hijauan. Terdapat dua sumber cahaya yang dikeluarkan oleh ikan dan keduanya terdapat pada kulit, yaitu warna yang dikeluarkan oleh bakteri yang bersimbiosis dengan ikan dan cahaya yang dikeluarkan oleh ikan itu sendiri. Ikan-ikan yang dapat mengeluaran cahaya umumnya tinggal di bagian laut dalam dan hanya sedikit yang hidup diperairan dangkal. Sebagian dari padanya bergerak ke permukaan untuk ruaya makanan. Di laut dalam terletak antara 300 1000 meter dibawah permukaan laut. Sel pada kulit ikan yang dapat mengeluarkan cahaya disebut sel cahaya atau photophore (photocyt). Ini biasanya terdapat pada golongan Elasmobranchii (Sphinax, Etmopterus, Bathobathis moresbyi) dan Teleostei (Stomiatidae, Hyctophiformes, Batrachoididae). Cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri yang hidup bersimbiosis dengan ikan, misalnya terdapat pada ikan-ikan dari famili Macroridae, Gadidae, Honcentridae, Anomalopodidae, Leiognathidae, Serranidae, dan Saccopharyngidae. Di Laut Banda ikan leweri batu (Photoblepharon palpebatrus) dan leweri air (Anomalops katoptron), yang keduanya termaksud kedalam famili Anomalopodidae, mempunyai bakteri cahaya yang terletak dibawah matanya. Kedua ikan tersebut hidup di perairan dangkal. Anomalops mengeluarkan cahaya yang berkedap-kedip secara teratur yang dikendalikan oleh organ cahaya yang keluar masuk suatu kantong pigmen hitam dibawah mata. Photoblepharon menunujukan suatu cahaya yang menyala terus, tetapi dapat pula dipadamkan oleh suatu lipatan jaringan hitam yang menutupiorgan cahayanya. Bakteri yang dapat mengeluarkan cahaya terdapat didalam kantung kelenjar di epidermis. Pemantulan cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh jaringan yang berfungsi sebagai lensa. Pada bagian yang berlawanan dengan lensa banyak pigmen yang berfungsi sebagai pemantul. Ada juga kelenjar yang berisi bakteri itu dikelilingi oleh sel-sel pigmen itu seluruhnya. Pemencaran cahaya yang dikeluarkan oleh bakteri diatur oleh konstraksi pigmen yang berfungsi sebagai iris mata. Pada ikan Malacocephalus (yang hidup di laut dalam), pengeluaran cahayanya mempunyai peranan dalam pemijahan. Kekuatan cahayanya dapat menerangi sejauh 10 meter dengan panjang gelombang 410 600 mikrometer. Pada musim pemijahan, bila ikan jantan bertemu dengan ikan betina, maka si jantan akan membimbing betinanya untuk mencari tempat yang baik untuk berpijah. Cahaya yang dikeluarkan oleh ikan jantan dipakai sebagai isyarat untuk diikuti si jantan. Anglor fish(Linophyrin brevibarbis), yang terdapat didasar laut, mempunyai tentakel yang bercahaya. Diduga ikan ini mempunyai kultur bakteri yang terdapat pada kulitnya. Tentakel yang ujungnya mempunyai jaringan yang membesar itu digosokan di atas kultur bakteri tersebut,

sehingga bakteri yang bercahaya terbawa oleh tentakel untuk menarik perhatian mangsanya. Jadi fungsi organ cahaya pada ikan ialah sebagai tanda pengenal individu ikan sejenis untuk memikat mangsa, menerangi lingkungan sejenis, mengejutkan musuh, dan melarikan diri, sebagai penyesuaian ketidak adaan sinar di laut dalam dan diduga sebagai ciri ikan beracun Kelenjar Beracun Kelenjar beracun merupakan derivat kulit yang merupakan modifikasi kelenjar yang mengeluarkan lendir. Kelenjar beracun ini bukan saja dipergunakan untuk pertahanan diri saja, tetapi juga untuk menyerang dan mencari makan. Studi tentang racun ikan ini dinamakan ichthyotoxisme, yang meliputi ichthyosarcotoxisme (mempelajari berbagai macam keracunan akibat memakan ikan beracun) dan ichthyoacanthotoxisme (mempelajari sengatan ikan berbisa). Jadi ichthyotoxisme tidak terbatas mempelajari yang dikeluarkan oleh kulit saja, melainkan racun yang berasal dari organorgan lain dan gejala keracunan dengan segala aspek-aspeknya. Ikan-ikan yang sistem integumennya mengandung kelenjar beracun antara lain ikan-ikan yang hidup disekitar karang, ikan lele dan sebangsanya (Siluroidea), dan golongan Elasmobranchii (Dasyatidae, Chimaeridae, Myliobathidae). Beberapa jenis ikan buntal (Tetraodontidae) juga terkenal beracun, tetapi racunnya bukan berasal dari sistem integumennya, melainkan dari kelenjar empedu. Ikan lepu ayam ( Pterois volitans dan Pterois russelli ) mempunyai alat beracun yang terdiri dari 13 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur dan 2 jari-jari keras sirip perut. Jari-jari kerasnya berbentuk panjang, lurus, ramping dan indah warnanya. Pada bagian sisi kiri kanan jari-jari keras tersebut terdapat celah yang terbuka sehingga membentuk saluran. Jarijari keras ini dilapisi oleh selaput integumen. Pada ikan lepu angin (Scorpaena guttata) alat beracunnya terdiri dari12 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur dan 2 jarijari keras sirip perut. Ikan lepu tembaga, Synanceja horrida, mempunyai racun yang dapat mematikan manusia. Racunnya ini terdapat pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 3 jari-jari keras sirip dubur dan 2 jari-jari keras sirip perut. Ikan lepu tembaga yang paling ditakuti oleh para nelayan. Badannya berbintil-bintil dengan warna kecoklatan (Gambar 7). Ikan lepu tembaga tinggal di dasar perairan yang dangkal berpasir atau berkarang, dan di daerah yang terdapat vegetasi umpamanya samo-samo (Enhalus acoroides ) ( Burhanudin et al.,---). Gerakannya lamban dan pada siang hari hanya berdiam diri dalam waktu yang lama. Permukaan tubuhnya yang mempunyai warna yang mirip benar dengan dasar perairan dan bentuknya yang mirip batu menjadikan ikan ini sukar dilihat. Kadang-kadang kulitnya ditutupi pasir atau bahan lainnya. Dibandingkan dengan lepu ayam dan lepu angin, ikan lepu tembaga mempunyai jari-jari keras beracun yang lebih pendek dan kukuh. Ikan baronang (Siganus) mempunyai kelenjar beracun yang terdapat pada 13 jari-jari keras sirip punggung, 4 jari-jari keras sirip perut dan 7 jari-jari keras sirip dubur. Kantung kelenjar pada Siluroidea umumnya terdapat pada dasar jari-jari keras sirip punggung dan dada, yang dilengkapi gerigi yang membengkok ke dalam. Bila kantung kelenjar tertekan oleh jari-jari siripnya akan mengeluarkan cairan yang beracun melalui sebuah alur yang terdapat pada jari-jari keras tersebut dan diteruskan ke dalam luka. Beberapa anggota Siluroidea misalnya: sembilang (Plotosus canius), lele (Clarias batrachus). Kelenjar beracun ikan pari (Dasyatis) terdapat pada duri di ekornya. Duri ini tersusun dari bahan yang disebut vasodentino. Sepanjang kedua sisi duri tersebut terdapat gerigi yang bongkok ke belakang. Duri tersebut ditandai oleh adanya sejumlah alur yang dangkal sepanjang duri. Sepanjang tepi alur, pada bagian bawah duri, didapatkan satu celah yang dalam. Jika diamati

dengan teliti maka pada celah ini akan tampak berisikan suatu jalur berupa jaringan kelabu, spongy, lembut meluas sepanjang celah. Racun dihasilkan oleh jaringan ini, meskipun jumlahnya lebih sedikit dari pada yang dihasilkan oleh bagian lain dari selaput integumen dan bagian khusus tertentu kulit pada ekor yang terletak didekat duri. Celah ini berfungsi melindungi jaringan kelenjar. Mengingat adanya racun pada duri ikan pari, maka para nelayan akan membuang duri tersebut segera setelah ikan tertangkap untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Gambar 34. Bagian Tubuh dan Ekor Ikan Pari

Lapisan epidermis pada ikan selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-sel yang berbentuk piala yang terdapat di seluruh permukaan tubuhnya. Epidermis merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan dan sistem somatis, mempunyai sejarah evolusi yang kompleks. Integumen sekalian hewan merupakan lapisan protektif yang menjaga lalulintas air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya secara bebas. Epidermis tidak dilengkapi dengan pembuluh-pembuluh darah, keperluan metabolisme diperoleh secara difusi, karena itu kecenderungan dari sel-sel yang paling di luar untuk menjadi mati dan lepas sangat besar sekali. Epidermis bagian dalam terdapat lapisan sel yang disebut stratum germinativum (lapisan malphigi). Lapisan ini sangat giat dalam melakukan pembelahan untuk menggantikan sel-sel bagian luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh. Dermis yang didalamnya terkandung pembuluh darah, saraf dan jaringan pengikat memiliki struktur yang lebih tebal dan sel-sel yang susunannya lebih kompak dari pada epidermis. Derivatderivat kulit juga juga dibentuk dalam lapisan ini. Lapisan dermisi berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik, dan derivat-derivat kulit lainnya. Asal mula terbentuknya dermis ini belum banyak diketahui; diperkirakan bahwa jaringan ikat di bawah epidermis dulunya berubah, terutama sekali menjadi tulang pada hewan nenek moyang vertebrata, seperti yang terlihat pada fosil-fosil Ostracodermi yang mempunyai prisai-prisai tulang pada kulitnya, yang pertumbuhannya sangat baik. Lendir

Umumnya ikan yang tidak bersisik memproduksi lendir yang lebih banyak dan tebal dibanding dengan ikan yang bersisik. Ketebalan lendir yang meliputi kulit ikan dipengaruhi oleh kegiatan sel kelenjar yang berbentuk piala yang terletak di dalam epidermis. Kelenjar ini akan memproduksi lendir lebih banyak pada saat tertentu, misalnya pada saat ikan berusaha melepaskan diri dari bahaya/ genting dibanding pada saat atau keadaan normal. Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ia dapat berenang dengan lebih cepat, mencegah infeksi dan menutup luka, berperan dalam osmoregulasi sebagai lapisan semipermiable yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit. Pada beberapa ikan tertentu menggunakan lendir sebagai alat perlindungan pada saat terjadi kekeringan, misalnya ikan paruparu (Protopterus)yang menanamkan diri pada lumpur selama musim panas dengan membungkus tubuhnya dengan lendir hingga musim penghujan tiba. Beberapa ikan yang menggunakan lendirnya untuk melindungi telur dari gangguan luar, misalnya anggota dari genus Trichogaster.

Sistem Integumen Amphibia


Amphibia merupakan hewan dengan kelembaban kulit yang tinggi, tidak tertutupi oleh rambut dan mampu hidup di air maupun di darat. Kulit Amphibia berperan penting dalam respirasi dan proteksi. Kulit terjaga kelembabannya dengan adanya kelenjar mukosa, bahkan pada spesies yang hidup di air, mukus memberikan minyak pelumas bagi tubuh. Sebagian besar Amphibia memiliki kelenjar granular dan kelenjar mukus. Keduanya mirip dalam beberapa hal antara lain, kelenjar glanular memproduksi zat abnoxius atau racun untuk melindungi diri dari musuh. Racun yang terdapat pada Amphibia bervariasi. Kelenjar mukus dan glanuar atau kelenjar racun dikelompokkan sebagai kelenjar alveolar. Kelenjar alveolar adalah adalah kelenjar yang tidak mempunyai saluran pengeluaran, tetapi produknya dikeluarkan lewat dinding selnya sendiri secara alami, akan tetapi pada beberapa Amphibia mempunyai kelenjar alveolar tubuler, kelenjar tersebut sering ditemukan di ibu jari dan kadang pada dada. Kelenjar ini bersifat fungsional selama musim kawin karena berguna sebagai pembantu merekatkan diri kebetina selama musimkawin. Pergantian kulit pada Amphibi terjadi secara periodik. Proses ini berlangsung dibawah kontrol hormon. Lapisan luar kulit tidak hanya satu bagian, tetapi dalam fragmen meskipun tungkai biasanya utuh dan mengelupas bersamaan. Warna tubuh pada amphibi beraneka ragam. Kodok sawah kulitnya berwarna coklat dan pada punggungya terdapat warna hijau. Warna tubuh pada amphibi disebabkan oleh pigmen atau secara struktural atau juga dihasilkan dari keduanya. Pigmen pada Amphibi terletak pada kromatofora (di dalam kulit). Sel-sel pigmen ini biasanya dinamakan menurut jenis pigmen yang dikandung. Melanofora mengandung pigmen coklat, dan hitam, sedangkan lipafora mengandung pigmen merah, kuning dan orange. Amphibi juga memiliki sel-sel pigmen yang disebut guanafora, semacam iridosit pada ikan, mengandung kristal guanine yang dapat memproduksi iridesen atau efek putih terang. Umunya lipofora terletak didekat permukaan kulit, lebih kearah dalam terdapat guanofora yang paling dalam terdapat melanofora (Sukiya, 2005: 47). Warna pada beberapa Amphibi ketika ditempatkan di lingkungan gelap, menjadi tampak bercahaya, merupakan hasil dari simulasi kelenjar pineal yang menghasilkan melatonin (zat sejenis hormone) yang mampu mengurangi kuwantitas cahaya atau sinar cahaya atau sinar gelombang panjang, kemudian adanya kontak dengan hormon kromatotrofik hipofise menyebabkan terjadinya perluasan melanofora, akibatnya melanofora berkontraksi dan menghasilkan efek tubuh menjadi lebih bercahaya.

Sebagian besar Amphibi contohnya kodok dapat berubah warna kulitnya. Hal ini terjadi karena perubahan konsetrasi antara pigmen hijau dan hitam. Perubahan ini terjadi apabila ada musuh. Kulit Amfibi kaya akan kelenjar. Ada dua tipe kelenjar yaitu kelenjar mukosa dan kelenjar racun. Kelenjar mukosa menghasilkan sekret yang membuat kulit kodok licin yang melindungi diri ketika ada musuh atau bahaya lingkungan.

Sistem Integumen Reptilia

Tubuh reptil umumnya tertutupi oleh sisik-sisik yang beraneka bentuk, terkecuali anggota suku Amphisbaenidae yang tak bersisik. Sisik-sisik itu dapat berukuran amat halus, seperti halnya sisik-sisik yang menutupi tubuh cecak, atau pun berukuran besar seperti yang dapat kita amati pada tempurung kura-kura. Sisik-sisik itu berupa modifikasi lapisan kulit luar (epidermis) yang mengeras oleh zat tanduk, dan terkadang dilengkapi dengan pelat-pelat tulang di lapisan bawahnya, yang dikenal sebagai osteoderm. Beberapa bentuk sisik yang umum pada reptil adalah: cyicloid (cenderung datar membundar), granular (berbingkul-bingkul), dan berlunas (memiliki gigir memanjang di tengahnya, seperti lunas perahu). Perbedaan bentuk dan komposisi sisik-sisik ini pada berbagai bagian tubuh reptil biasa digunakan untuk mengidentifikasi spesies hewan tersebut. Integument pada Reptilia umumnya juga tidak mengandung kelenjar keringat. Lapisan terluar dari integument yang menanduk tidak mengandung sel-sel saraf dan pembuluh darah. Bagian ini mati, dan lama-lama akan mengelupas. Permukaan lapisan epidermal mengalami keratinisasi. Lapisan ini akan ikut hilang apabila hewan berganti kulit. Pada calotes (bunglon) integument mengalami modifikasi warna. Perubahan warna ini dikarenakan adanya granulea pigment dalam dermis yang terkumpul atau menyebar karena pengaruh yang bermacam-macam. Pada calotes (bunglon) perubahan ini relatif cepat, karena selalu dibawah kontrol sistem nervosum outonomicum.

Sistem Integumen Aves


Setiap aves memiliki warna-warni yang beragam, karena dalam tubuh aves terdapat butirbutir pigmen. Tubuh ditutupi kulit kuning tidak berkelenjar, kecuali ekor.

Struktur Bulu

Bulu (feather) adalah ciri khas kelas aves yang tidak dimiliki oleh vertebrata lain. Hampir seluruh tubuh aves ditutupi oleh bulu, yang secara filogenetik berasal dari epidermal tubuh yang pada reptile serupa dengan sisik. Secara embriologis bulu aves bermula dari papil dermal yang selanjutnya mencuat menutupi epidermis. Dasar bulu itu melekuk ke dalam pada tepinya sehingga terbentuk folikulus yang merupakan lubang bulu pada kulit. Selaput epidermis sebelah luar dari kuncup bulu menanduk

dan membentuk bungkus yang halus, sedang epidermis membentuk lapisan penyusun rusuk bulu. Sentral kuncup bulu mempunyai bagian epidermis yang lunak dan mengandung pembuluh darah sebagai pembawa zat-zat makanan dan proses pengeringan pada perkembangan selanjutnya. Berdasarkan susunan anatomis bulu dibagi menjadi: Filoplumae (hair feathers), bulu yang tumbuh di seluruh tubuh tetapi jaraknya satu dengan yang lai agak jarang. Bulu-bulu kecil mirip rambut tersebar di seluruh tubuh. Ujungnya bercabang-cabang pendek dan halus. Jika diamati dengan seksama akan tampak terdiri dari shaft yang ramping dan beberapa barbulae di puncak.

Plumulae (down feathers), bulu-bulu bawah. Berbentuk berbentuk hampir sama dengan
filoplumae dengan perbedaan detail.

Plumae (contour feathers), bulu-bulu penutup sebelah luar termasuk sayap dan ekor. Barbulae, ujung dan sisi bawah tiap barbulae memiliki filamen kecil disebut barbicels yang berfungsi membantu menahan barbula yang saling bersambungan.

Gambar 35. Anatomi bulu Unggas

Susunan Plumae terdiri dari: Shaft (tangkai), yaitu poros utama bulu. Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu. Rachis, yaitu lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak berongga di dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan. Vexillum, yaitu bendera yang tersusun atas barbae yang merupakan cabang-cabang lateral dari rachis. Menurut Letaknya Bulu dibedakan menjadi:

1.

Remiges, bulu yang tumbuh pada sayap dan mempunyai vexillum asymetris, berfungsi
untuk terbang. Berdasarkan letak terbagi menjadi tiga, yaitu: asymetris).

Remiges primer (tumbuh di digiti dan metacarpal), Remiges sekunder (tumbuh di ulna). Remiges tertier (tumbuh di bagian humerus)

2. Rectrices, bulu yang tumbuh di bagian ekor dan berfungsi sebagai kemudi (vexillum 3. Tetrices, bulu menutupi badan 4. Paraptenum, bulu yang tumbuh di daerah bahu (antara badan dan sayap) 5. Alula sive ala spuria, bulu kecil yang melekat pada jari ke dua.

Gambar 36. Letak Bulu Unggas Molting 1. Molting post natal, lepasnya bulu pertama pada burung yang menetas 2. Molting post juvenil, pergantian bulu pada masa burung sudah mengalami pertumbuhan maksimal 3. Molting post nuptial, pergantian bulu pada waktu burung mendekati masa breeding dan akan terjadi setiap tahun Lubang pada pangkal calamus disebut umbilicus inferior, sedangkan lubang pada ujung calamus disebut umbilicus superior. Bulu burung pada saat menetas disebut neossoptile, sedangkan setelah dewasa disebut teleoptile.

Gambar 37. Keseluruhan Penutup Tubuh Aves

Gambar 38. Bulu Sayap Unggas Fungsi bulu 1. Dapat mencegah hilangnya panas tubuh dengan menggoyang-goyangkan bulu mereka dalam cuaca dingin. 2. Sementara, saat cuaca panas, burung mempertahankan kesejukan tubuh dengan melicinkan bulu-bulu mereka. 3. Penutup tubuh. 4. Bulu di bagian bawah dan bulu yang terletak di sepanjang sayap dan ekor memiliki bentuk yang berbeda. Bulu-bulu ekor yang besar digunakan untuk mengemudi dan mengerem. 5. Untuk memperindah tubuh. 6. Plumae berfungsi agar dapat terbang. 7. Plamulae berfungsi Sebagai isolator. 8. Filoplumae Berfungsi sebagai sensor. 9. Mengangkat tubuh burung di udara. 10. Menahan panas sehingga tubuh burung dapat menjaga panas tubuhnya. 11. Untuk melindungi kulit dari serangga. 12. Untuk menghangatkan telur pada saat mengerami.

Sistem Integumen Mamalia

Mamalia memliki integumen yang terdiri dari tiga lapisan: paling luar adalah epidermis, yang tengah adalah dermis, dan paling dalam adalah hipodermis. Epidermis biasanya terdiri atas

tiga puluh lapis sel yang berfungsi menjadi lapisan tahan air. Sel-sel terluar dari lapisan epidermis ini sering terkelupas; epidermis bagian paling dalam sering membelah dan sel anakannya terdorong ke atas (ke arah luar). Bagian tengah, dermis, memiliki ketebalan lima belas hingga empat puluh kali dibanding epidermis. Dermis terdiri dari berbagai komponen seperti pembuluh darah dan kelenjar. Hipodermis tersusun atas jaringan adiposa dan berfungsi untuk menyimpan lemak, penahan benturan, dan insulasi. Ketebalan lapisan ini bervariasi pada setiap spesies.

Gambar 39. Struktur Kulit Mamalia Epidermis

Gambar 40. Epidermis

a. Stratum korneum / Lapisan tanduk Terdiri dari beberapa lapis sel gepeng yang mati dan tidak berinti Protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk).

b. Stratum Lusidum Lapisan sel gepeng tanpa inti protoplasma berubah menjadi protein (eleidin) Biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.

c. Stratum granulosum / Lapisan Granular Merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng Sitoplasma berbutir kasar yang terdiri atas keratohialin dan terdapat inti diantaranya Mukosa tidak mempunyai lapisan ini

d. Stratum spinosum / lapisan Malphigi Lapisan epidermis yang paling tebal. Terdiri dari sel polygonal, besarnya berbeda-beda karena ada proses mitosis Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen dan inti terletak ditengah terdapat jembatan antarsel (intecelluler bridges) yg tdd: protoplasma dan tonofibril Perlekatan antar jembatan membentuk nodulus Bizzozero Terdapat juga sel langerhans yang berperan dalam respon respon antigen kutaneus. Seperti ditunjukan dibawah.

e. Stratum basale Terdiri dari sel sel kuboid yang tegak lurus terhadap dermis. Tersusun sebagai tiang pagar atau palisade. Lapisan terbawah dari epidermis. Mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif Terdapat melanosit (clear cell) yaitu sel dendritik yang yang membentuk melanin melindungi kulit dari sinar matahari. Dengan sitoplasma yang basofilik dan inti gelap, mengandung butir pigmen (melanosomes)

Setiap kulit yang mati banyak mengandung keratin yaitu protein fibrous insoluble yang membentuk barier terluar kulit yang berfungsi: 1. Mengusir mikroorganisme patogen. 2. Mencegah kehilangan cairan yang berlebihan dari tubuh. 3. Unsur utama yang mengeraskan rambut dan kuku. Setiap kulit yang mati akan terganti tiap 3- 4 minggu. Epidermis akan bertambah tebal jika bagian tersebut sering digunakan. Persambungan antara epidermis dan dermis di sebut rete ridge

yang berfungsi sebagai tempat pertukaran nutrisi yang essensial. Dan terdapat kerutan yang disebut fingers prints. Dermis Merupakan lapisan dibawah epidermis.Terdiri dari jaringan ikat yang terdiri dari 2 lapisan: (1) Pars papilare Bagian yang menonjol ke epidermis Berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah

(2) Pars retikulare Bagian yang menonjol ke subkutan terdiri atas: serabut-serabut penunjang (kolagen, elastin, retikulin), matiks (cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat serta fibroblas) terdiri dari sel fibroblast yang memproduksi kolagen dan retikularis yang terdapat banyak p. darah , limfe, akar rambut, kelenjar keringat dan k. sebaseus.

Hipodermis (sub-kutan) Terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. pada lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening

Sel lemak sel lemak dipisahkan oleh trabekula yang fibrosa Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel liposit yang menghasilkan banyak lemak. Disebut juga panikulus adiposa yang berfungsi sebagai cadangan makanan Berfungsi juga sebagai bantalan antara kulit dan setruktur internal seperti otot dan tulang. Sebagai mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas.Sebagai bantalan terhadap trauma. Tempat penumpukan energi.

Vaskularisasi dikulit diatur oleh 2 pleksus: Pleksus superfisialis Pleksus profunda

Kelenjar Kulit 1. Kelenjar keringat (glandula sudorifera) Terdapat di lapisan dermis. Diklasifikasikan menjadi 2 kategori: a. Kelenjar Ekrin,

Terdapat disemua kulit. Melepaskan keringat sebgai reaksi penngkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh Kecepatan sekresi keringat dikendalkan oleh saraf simpatik. Pengeluaran keringat pada tangan, kaki, aksila, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap setress, nyeri dll. b. Kelenjar Apokrin Terdapat di aksil, anus, skrotum, labia mayora, dan bermuara pada folkel rambut. Kelenjar ininaktif pada masa pubertas pada wanita akan membesar dan berkurang pada sklus haid. Kelenjar Apokrin memproduksi keringat yang keruh seperti susu yang diuraikan oleh bajkteri menghasilkan bau khas pada aksila. Pada telinga bagian luar terdapat kelenjar apokrin khusus yang disebut K. seruminosa yang menghasilkan serumen(wax). 2. Kelenjar Sebasea Berfungsi mengontrol sekresi minyak ke dalam ruang antara folikel rambut dan batang rambut yang akan melumasi rambut sehingga menjadi halus lentur dan lunak.

Derivatif Kulit Mamalia Kuku

Gambar 41. Anatomi Kuku Manusia Mamalia berkuku termasuk dalam kelas Ungulata. Ungulata terbagi atas dua ordo yaitu Artiodactyla dan Perissodactyla. Kuku adalah bagian terminal lapisan tanduk yang menebal. Bagian kuku terdiri dari: Matriks kuku: merupakan pembentuk jaringan kuku yang baru

Dinding kuku (nail wall): merupakan lipatan-lipatan kulit yang menutupi bagian pinggir dan atas Dasar kuku (nail bed): merupakan bagian kulit yang ditutupi kuku Alur kuku (nail grove): merupakan celah antar dinding dan dasar kuku Akar kuku (nail root): merupakan bagian proksimal kuku Lempeng kuku (nail plate): merupakan bagian tengah kuku yang dikelilingi dinding kuku Lunula: merupakan bagian lempeng kuku yang berwarna putih didekat akar kuku berbentuk bulan sabit, sering tertutup oleh kulit Eponikium (kutikula): merupakan dinding kuku bagian proksima, kulit arinya menutupi bagian permukaan lempeng kuku Hiponikium: merupakan dasar kuku, kulit ari dibawah kuku yang bebas (free edge) menebal

Pertumbuhan rata- rata 1 mm / minggu. Pembaruan total kuku jari tangan: 170 hari dan kuku kaki: 12- 18 bulan.

Rambut Terdapat di seluruh kulit kecuali telapak tangan kaki dan bagian dorsal dari falang distal jari tangan, kaki, penis, labia minora dan bibir. Dua jenis rambut: a. Rambut terminal (dapat panjang dan pendek.) b. Rambut velus (pendek, halus dan lembut). Rambut terdiri dari akar (sel tanpa keratin) dan batang (terdiri sel keratin). Bagian dermis yang masuk dalam kandung rambut disebut papil. Bagian atau susunan dari Rambut terdiri dari beberapa bagian diantaranya. Rambut, Batang rambut dan Akar Rambut. Berikut penjelasan singkat bagian dari rambut: 1. Ujung

Ujung Rambut. Berbentuk runcing terdapat pada rambut yang baru tumbuh & belum pernah dipotong. 2. Batang Rambut. Bagian rambut yang berada diluar kulit, berupa benang-benang halus terdiri dari keratin / sel-sel tanduk. 3. Akar Rambut. Bagian rambut yang berada di dalam kulit dan tertahan di dalam folikel/ kantong rambut. Akar rambut adalah bagian rambut yang tertanam / berada didalam kulit jangat. Akar rambut tertanam miring dalam lapisan dalam. Bagian-bagian dari akar rambut ialah: Folikel rambut / kantong rambut. Adalah suatau saluran yang menyerupai kantong dan melindungi tunas rambut serta tertanam didalam dermis(lapisan dalam kulit). Umbi rambut. Adalah bagian bawah folikel / kantong rambut yang punya mulut seperti corong memanjang keatas dari lapisan dermis dan berakhir pada lapisan epidermis. Gunanya untuk menghisap / menyerap udara serta penimbunan kotoran dan sebum. Papil Rambut. Adalah tempat membuat sel-sel tunas rambut dan tempat membuat sel-sel pigmen melanin (Zat warna pada rambut).

Pembuluh darah. Adalah saluran yang untuk merembeskan cairan yang berisi Zat makanan untuk keperluan sel-sel lapisan epidermis. Kelenjar minyak. Adalah suatu saluran yang berguna untuk memberikan kelembutan rambut. Kelenjar keringat. Adalah saluran bermuaranya sel-sel keringat. Zat warna Rambut. Adalah tempat untuk membuat warna pada rambut atau disebut sebagai sel melanin.

Batang Rambut mempunyai 3 lapisan, yaitu: Cuticula / kulit ari / selaput rambut. Adalah lapisan lapisan luar, terdiri dari sel-sel tanduk mengandung keratin yang pipih/gepeng dan bening (tembus cahaya) dan tersusun, bagian bawah menutupi bagian diatasnya. Karena cuticula bening dan tembus cahaya maka terlihatlah warna dari rambut tersebut. Susunan rambut yang saling menutupi memungkinkan hasil yang diinginkan dalam penyasakan dan memudahkan cairan (Zat cair) lebih mudah masuk dalam rambut. Cortex/Kulit rambut. Adalah bagian yang berada di tengah (antara cuticula & medulla) disusun oleh kumpulan semacam benang-benang (serabut polipeptida) sangat halus sekali (tidak dapat dilihat oleh mata hanya dengan mikroskop benda). Benang yang sangat halus disebut fibril. Fibril terbentuk oleh molekul, molekul fibril mengandung butiran pigmen melanin. Sel tanduk yang membentuk fibril mengandung suatu zat belerang/sulfur mempunyai pengaruh reaksi terhadap obat keriting/cold wave dan obat cat rambut. Medula / Sumsum rambut. Adalah berupa bagian tengah rambut yang dibentuk oleh Zat tanduk yang berwujud anyaman dengan rongga-rongga yang berisikan Udara. Penampang melintang rambut lurus berbentuk bundar / lonjong berombak menebal disatu sisi. Rambut keriting penampang melintangnya tidak menentu (kadang berbentuk ginjal). Terdiri atas 3-4 lapis sel kubus yang berisi keratohialin, badan lemak, dan rongga udara. rambut velus tidak mempunyai medula.

Gambar 42. Anatomi Rambut

Fase Pertumbuhan Rambut

Gambar 43. Fase Pertumbuhan Rambut Tiga fase pertumbuhan rambut: 1. Fase pertumbuhan (Anagen) Sel-sel matriks melalui mitosis membentuk sel-sel baru mendorong sel-sel lebih tua ke atas. Aktivitas ini lamanya 2-6 tahun 90 % dari 100.000 folikel rambut kulit kepala normal mengalami fase pertumbuhan pada satu saat.

2. Fase Peralihan (Katagen) Masa peralihan dimulai dari penebalan jaringan ikat di sekitar folikel rambut. Bagian tengah akar rambut menyempit dan bagian di bawahnya melebar dan mengalami pertandukan sehingga terbentuk gada (club). Berlangsung 2-3 minggu. 3. Fase Istirahat (Telogen). Berlangsung + 4 bulan, rambut mengalami kerontokan 50 100 lembar rambut rontok dalam tiap harinya.

Cakar Cakar dimiliki oleh Sauropsida dan mamalia. Cakar terbentuk oleh keping cakar atau unguis yang konveks, terletak dibagian dorsal dan runcing pada ujungnya. Pada bagian ventralnya terdapat sol cakar atau subunguis, bentuknya konkav dan tidak sekeras unguis. Kedua struktur ini meliputi kedua tulang ruas jari yang terujung. Baik unguis maupun sub unguis, kesebelah ujung cakar menjadi lebih tebal. Bagian basal dari cakar dibatasi oleh lipatan kulit berbentuk cincin, dengan demikian bagian basal yang lemah ini menjadi terlindung. Pada cakar buaya, bulus dan

burung, stratum germinativumnya berjalan dari pangkal sampai ujung cakar dan membuat lapisan tanduk yang baru, menyebabkan cakar menjadi bertambah panjang. Pada cakar Sauria dan Rhynchocephalia stratum germinativum nya tidak membentuk lapisan tanduk di seluruh cakar, tetapi di sini ada bagian matriks yang steril dan ada pula bagian matriks yang fertil seperti juga terdapat pada kebanyakan hewan-hewan mamalia. Hewan-hewan yang bercakar, ujung phalanges distalnya berbentuk melancip, sedangkan hean-hewan yang berkuku biasanya tumpul dan membulat

Gambar 44. Anatomi Cakar

Talapok (Hoof) Talapok adalah karakteristik dari hewan-hewan ungulata yang berjalan pada ujung jarinya. Pada jenis ini, unguis merupakan perisai tangduk yang mengelilingi ujung jari. Sub inguis menempati bagian dalam dari unguis yang bentuknya seperti huruf U atau V. Di sebelah belakang dari subunguis terdapat jaringan tanduk lain yng lebih lunak yaitu kuneus. Struktur ini menyerupai bantal-bantal kaki yang biasa terdapat pada hewan-hewan mamalia lain. Waktu berjalan, ungulata menginjakan kakinya pada ujung unguis, karena itu bagion ini menjadi cepat terkikis. Agar menghindari ini maka talapok kuda dipasang ladam yang terbuat dari besi dan dipakukan pada baian unguisnya.

Gambar 45. Talapok (Hoof) Tanduk Tanduk merupakan sepasang tonjolan yang mencuat dari kepala yang terbuat dari bahan tualang ataupun zat tanduk. Pada mamalia, tidak setua struktur tanduk dibangun dari zat tanduk atau keratin. Ada lima jenis tanduk: Tanduk Kosong (Bongihorn) Tanduk jenis ini dimiliki oleh kambing, domba, kerbau, sapi dan bison. Tanduk jenis ini dibangun oleh suatu sumbu tulang, yaitu tonjolan dari tulang frontal yang diselaputi oleh seludang tanduk yang tebal. Tanduk semacam ini umumnya dimiliki oleh pejantan. Tidak ditanggalkan dan tidak diganti selama hidupnya dan tidak bercabang.

Gambar 46. Tanduk Kosong (Bongihorn)

Tanduk Pronghorn Tanduk jenis ini menyerupai tanduk kosong tetapi bercabang dan ditanggalkan dan diganti tiap tahun. Contoh hewan yang memiliki jenis tanduk ini adalah Antilocapra americana (antelope).