Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PASAK

Sari Wahdaniyah Wongso 20060340081

PRODI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN dan ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2012

LAPORAN KASUS Pemeriksaan Subyektif Pasien datang dengan keluhan gigi depan rahang atas berlubang. Saat SMP pasien merasakan sakit, tetapi sekarang sudah tidak sakit lagi Pemeriksaan objektif: Gigi 11 : Terdapat kavitas pada bagian incisal kedalaman pulpa sondasi: (-) perkusi: (-) palpasi: (-) CE : (-)

Ro.Foto : Terdapat area radiolusen di bagian incisal Dx : Nekrosis Pulpa Rencana perawatan: - PSA dan kontrol - Restorasi gigi dengan pasak dan mahkota jaket Pada tanggal 28 maret 2012 telah dilakukan obturasi ulang dan tanggal 5 april 2012 sudah dilakukan kontrol perawatana PSA, tidak ada keluhan dari pasien. Pemeriksaan Objektif : Perkusi : Palpasi : Dx : Gigi non vital pasca perawatan saluran akar

LANDASAN TEORI Pasak berfungsi sebagai retensi inti & didesain untuk meminimalkan terjadinya fraktur akar dari tekanan fungsional Pasak: Memberikan proteksi maksimum pada akar. Retensi dalam akar. Retensi maksimum untuk inti dan mahkota. Proteksi maksimum pada margin mahkota yang ditutup semen. Radiopak. Biokompatibel.

4 faktor yang mempengaruhi retensi pasak: 1. Panjang Pasak Ketentuan panjang pasak A=B

(B) Panjang pasak = (A) panjang mahkota klinis B=D

(B) Panjang pasak = 2/3 (D) panjang akar C menyisakan gutta perca sepanjang 4 mm ( 3-5 mm) dari apikal

2. Diameter Pasak Lebar pasak paling tidak 1/3 diameter akar >1/3 dinding saluran akar menjadi tipis <1/3 pasak dapat patah terhadap tekanan pengunyahan

Diameter pasak yg terlalu kecil dapat menyebabkan : Pasak kehilangan retentif Mudah patah terhadap kekuatan pengunyahan

3. Keruncingan Pasak Keuntungan : Pasak bersisi sejajar : akan lebih retentif daripada pasak meruncing memberikan tekanan yang lebih besar daripada pasak bersisi sejajar Kekurangan : Pasak bersisi sejajar berpotensi memecah akar. 4. Konfigurasi Permukaan Pasak Konfigurasi permukaan pasak, dikategorikan: a. Bentuk geometrinya sejajar & meruncing. b. Konfigurasi permukaannya: 1. Rata (smooth) bersifat pasif. 2. Bergerigi (serrated) lebih retentif dari pasak rata. 3. Bergalur (threaded) bersifat aktif & paling retentif. PASAK TUANG Indikasi : 1. Sisa gigi (mahkota) 1/3 arah servikal 2. Diameter saluran akar besar > 1/3 diameter akar 3. mahkota gigi pasca PSA yg sudah rusak dan tidak dpt direstorasi hanya dgn mahkota jaket atau inlei

4. sebagai abutment GTC dan gigi GTS 5. koreksi gigi malposisi (sudah dirawat PSA) Kontraindikasi : 1. close bite 2. kesehatan umum tidak baik 3. gigi berakar pendek (lebih pendek dari panjang mahkota dan tipis 4. Pasien dg bad habit Kerugian : Pemasangan pasak tidak bisa dlm 1x kunjungan

Keuntungan : Dpt memperbaiki/koreksi posisi gigi yg ekstrim (pd gigi yg sdh dilakukan PSA) Syarat Pemasangan Pasak : gigi sudah dilakukan PSA dengan hermetis dentin saluran akar masih cukup tebal tidak ada peradangan periapikal jaringan periodontal sehat, tidak ada resorpsi horizontal maupun vertical gigi tidak goyah jaringan akar msh kuat, padat, keras, dinding saluran akar cukup tebal posisi gigi memungkinkan peletakan inti dan mahkota tiruan, pd saat oklusi posisi gigi antagonis hrs menyediakan tempat bagi inti/core dan ketebalan mahkota cukup

PENATALAKSANAAN A. Preparasi Saluran Akar 1. Guta perca diambil menggunakan gates gliden drill sesuaikan dengan panjang kerja kemudian sisakan gutta perca 5 mm, dilanjutkan dengan peeso reamer. Pastikan letak rubber stop sehingga pengurangan gutta perca tidak over. Gutta perca diambil, dilanjutkan preparasi saluran pasak, sesuai dengan panjang pasak. 2. Pembuatan kontra bevel di sekeliling preparasi dowel menggunakan bur berbentuk nyala api untuk ketepatan dowel mencegah patahnya gigi dan mengarahkan kekuatan ke lateral. 3. Panjang preparasi pasak 2/3 panjang saluran sesuai ketentuan panjang pasak. Untuk saluran akar yg kecil digunakan gates gliden drill.

4. Bentuk preparasi saluran akar disesuaikan dengan morfologi akar. Insisivus berbentuk triangular dengan puncaknya ke arah lingual 5. Bentuk preparasi tidak boleh bulat karena akan mengakibatkan rotasi pada pasak. Maka dibuat key way dengan cara menggunakan bur fisur ujung datar (pengurangan sedalam 0,5-1 mm, lebar 0.8 - 1 mm dan panjang 4 mm dari orifis (berbentuk box) dilakukan pembuatan bentuk boks pada bagian dalam dinding saluran akar. Fungsi pembuatan key way untuk untuk mencegah rotasi pada pasak (berputarnya pasak) terhadap tekanan pengunyahan. 6. Pembuatan bevel dengan bur fisur ujung meruncing atau bentuk terpedo Fungsi bevel : sebagai resistensi agar gigi tidak pecah terhadap tekanan pengunyahan

B.

Preparasi Mahkota ( untuk pembuatan mahkota jaket) 1. Mahkota gigi dipotong menggunakan wheel stone kecil paling tidak 1/3 servikal (tergantung kasus) 2. Pembentukan bagian proksimal ( 6 ) dengan bur fisur ujung meruncing 3. Preparai bagian insisal dengan pembentukan bevel 45 selebar 2 mm 4. Permukaan bagian labial dikurangi 1,25 mm dengan bur fisur ujung datar,

pembuatan pundak 90 pada gingivo labial (masuk ke sulcus 1 mm) 5. Pengurangan bagian palatinal 1 mm mengikuti anatomi gigi. Pada serviko lingual dibuat bentuk chamfer dengan bur fisur ujung membulat. 6. Bila dinding singulum sangat pendek maka bagian lingual dibuat pundak. 7. Penghilangan jaringan gigi yang tidak didukung oleh dentin dan daerah undercut 8. Setelah selesai preparasi maka dilakukan pencetakan dengan exaflex dan putty kemudian diisi glastone, dikirim ke Lab. 9. Pemasangan pasak, pencocokan warna gigi untuk mahkota jaket dan pencetakan mahkota dengan glastone.