Anda di halaman 1dari 35
Selvi Leasa 102009035 C7

Selvi Leasa

102009035

C7

Anamnesis

  • Riwayat pribadi pasien Meliputi nama, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku, alamat, pendidikan.

  • Keluhan Utama

  • Bertanya tentang awitan dan gejala awal. Pasien mengeluh lemas.

  • Riwayat penyakit sekarang

  • Riwayat Penyakit Dahulu

  • Apakah sebelumnya pernah menderita penyakit ini?

  • Ditanya adakah pasien sering mengkonsumsi obat terutama golongan OAINS

  • Riwayat Penyakit Keluarga

  • Apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit yang sama?

PEMERIKSAAN FISIK

  • Status generalis

    • Keadaan umum: Tampak sakit ringan.

    • Kesadaran: Kompos mentis

    • Tanda-tanda vital: dalam batas normal.

  • Pemeriksaan fisik lain

    • Kepala ditemukan konjungtiva anemis, stomatitis angularis, atrofi papil lidah

    • Abdomen - Bisa ditemukan splenomegali pada pasien ADB yang berat, persisten dan ADB yang tidak diterapi.

    • Ekstremitas Khas ditemukan koilonikia yaitu kelainan pada kuku.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

  • 1. Screening Test

  • 1) Kadar hemoglobin

  • 2) Hematokrit

  • 3) Indeks eritrosit.

MCV

MCH

MCHC

4) Apusan Darah Tepi

  • a. Mikrositik hipokromik

  • b. Anisositosis

  • c. Poikilositosis

    • 1. Polikromasi

    • 2. Sel pensil

    • 3. Sel target (kadang-kadang)

Polikromasi Sel Pensil Sel Target

Polikromasi

Polikromasi Sel Pensil Sel Target
Polikromasi Sel Pensil Sel Target

Sel Pensil

Sel Target

2. Pemeriksaan Khusus 1) Serum Iron 2) TIBC (Total Iron Binding Capacity) 3) Saturasi Transferin 4) Feritin Serum

DIAGNOSIS

WORKING DIAGNOSIS: Anemia Defisiensi Besi DIFFERENTIAL DIAGNOSIS:

Anemia Penyakit Kronik

Anemia Sideroblastik

WD: Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang timbul

akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoetik, karena cadangan besi kosong sehingga pembentukan hemoglobin berkurang.

Anemia Defisiensi Besi ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan secara laboratorik.

Secara laboratorik yang dipakai kriteria diagnosis anemia defisiensi besi sebagai berikut :

  • Adanya riwayat perdarahan kronis atau terbukti adanya sumber perdarahan.

  • Laboratorium : Anemia hipokrom mikrosister, Fe serum rendah, TIBC tinggi.

  • Tidak terdapat Fe dalam sumsum tulang (sideroblast-)

  • Adanya respons yang baik terhadap pemberian Fe.

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS

Anemia pada penyakit Kronik

Salah satu anemia yang paling sering pada pasien yang menderita berbagai penyakit keganasan (Misalnya karsinoma, limfoma dan sarcoma) dan radang kronik (misalnya osteomielitis, pneumonia, endokarditis

bakterialis, penyakit Crohn).

Anemia ini hanya terkoreksi dengan keberhasilan pengobatan penyakit yang mendasari dan tidak berespons terhadap terapi besi walaupun kadar besi serum rendah.

  • Anemia Sideroblastik

  • Anemia sideroblastik merupakan anemia refrakter

dengan sel hipokrom dalam darah tepi dan besi sumsum tulang yang meningkat

  • Sideroblas cincin ini adalah eritroblas abnormal yang mengandung banyak granula besi yang tersebar secara acak yang tampak bila diwarnai

dengan pewarnaan besi.

Anemia sideroblastik didiagnosis bila 15% atau lebih eritroblas dalam sumsum tulang adalah sideroblas cincin,

Anemia sideroblastik didiagnosis bila 15% atau lebih eritroblas dalam sumsum tulang adalah sideroblas cincin,

Differential Diagnosis berdasarkan

Pemeriksaan Laboratorium

 

Defisiensi Besi

 

Radang kronik atau keganasan

Anemia

 

Sideroblastik

MCV

sebanding

dengan

beratnya

Normal atau sedikit

Biasanya pada jenis congenital,

MCH

anemia

 

Besi Serum

DIBT

Reseptor transferin serum

Normal atau

Normal

Feritin Serum

Normal atau

Cadangan besi sumsum tulang

Tidak ada

 

Ada

Ada

Besi eritroblas

Tidak ada

 

Tidak ada

Bentuk cincin

Elektroforesis hemoglobin

Normal

 

Normal

Normal

MANIFESTASI KLINIK

  • Gejala Umum Anemia

  • Gejala ini berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging.

  • Anemia bersifat simptomatik jika hemoglobin < 7-

8g/dL.

  • Gejala Khas Defisiensi Besi

  • Koilonychia: kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertical dan menjadi cekung sehingga mirip seperti sendok

  • atrofi papil lidah: permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang.

 atrofi papil lidah : permukaan lidah menjadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang.
  • Stomatitis angularis (cheilosis): bentuk radang pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan.

 Stomatitis angularis ( cheilosis) : bentuk radang pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna
  • Disfagia: nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring.

  • Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhloridia.

  • Pica: keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim, seperti tanah liat, es, lem, dan lain-lain.

  • Gejala penyakit dasar

  • Misalnya pada anemia akibat penyakit cacing tambang dijumpai dyspepsia, parotis membengkak dan kulit telapak tangan berwarna kuning seperti jerami.

  • Pada anemia karena perdarahan kronik akibat kanker kolon dijumpai gejala gangguan kebiasaan buang air besar atau gejala lain tergantung lokasi kanker tersebut.

ETIOLOGI

  • Perdarahan kronik

  • Uterus

  • Gastrointestinal, misalnya ulkus peptikum, varises esophagus, ingesti aspirin (OAINS), gatrektomi parsial, Ca lambung, sekum, kolon atau rectum, cacing tambang, angiodisplasia, colitis, hemoroid, divertikulosis, dan lain- lain.

  • Kebutuhan yang meningkat Prematuritas, Pertumbuhan, Kehamilan

  • Faktor nutrisi : akibat kurangnya jumlah besi total

dalam makanan, atau kualitas besi (bioavaibilitas) besi yang tidak baik (makanan banyak serat, rendah vitamin C, dan rendah daging).

  • Gangguan absorpsi besi : gastrektomi, tropical sprue atau kolitis kronik.

PATOGENESIS

1. Tahap petama iron depletion atau iron deficiency,

  • cadangan besi (-) atau tidak adanya cadangan besi.

  • Hemoglobin dan fungsi protein besi lainnya Normal.

  • Feritin serum sedangkan hasil pemeriksaan lain Normal

2. Tahap kedua iron deficient erythropoietin atau iron limited erytropoiesis

  • suplai besi yang tidak cukup untuk menunjang eritropoiesis.

  • hasil pemeriksaan laboratorium : nilai besi serum ↓, saturasi transferin ↓ , total iron binding capacity (TIBC)

3. Tahap ketiga iron deficiency anemia.

  • Keadaan ini terjadi bila besi yang menuju eritroid sumsum tulang tidak cukup kadar Hb

EPIDEMIOLOGI

  • Diperkirakan 30% penduduk dunia menderita anemia dan lebih dari 50% penderita ini adalah ADB terutama mengenai bayi, anak sekolah, ibu hamil dan menyusui.

  • Kelompok Yang beresiko:

  • Wanita. menstruasi, kehamilan, laktasi. >

  • Bayi dan anak-anak. Bayi terutama lahir prematur,

  • Vegeterian.

  • Sering donor darah deplesi simpanan besi.

PENCEGAHAN

  • Tindakan Pencegahan yang dilakukan berupa:

  • Pendidikan kesehatan Kesehatan lingkungan, misalnya tentang pemakaian jamban, pemakaian alas kaki sehingga dapat mencegah penyakit cacing tambang.

Penyuluhan gizi untuk mendorong konsumsi makanan yang membantu absorbsi besi.

  • Pengendalian infeksi cacing tambang dapat dilakukan dengan pengobatan massal dengan anthelmentik dan perbaikan sanitasi.

  • Suplementasi besi

  • Fortifikasi bahan makanan dengan besi, yaitu mencampurkan besi pada bahan makanan.

PENATALAKSANAAN

  • Medika mentosa

  • Terapi kausal: terapi terhadap penyebab perdarahan. Misalnya pengobatan cacing tambang, pengobatan hemoroid, pengobatan menorhagia.

  • Pemberian preparat besi untuk mengganti kekurangan besi dalam tubuh.

  • Terapi besi oral.

  • Preparat yang tersedia adalah ferrous sulphat (sulfas ferosus) merupakan preparat pilihan pertama.

  • Dosis 3 x 200 mg per hari.

  • Preparat besi oral baik diberikan pd saat lambung kosong, ES tinggi dibandingkan stlh mkan.

  • Pengobatan besi 3-6 bulan.

  • Respons terapi baik jika Hb normal setelah 4-10 minggu.

  • Pemberian besi secara parenteral Preparat yang sering dipakai adalah dekstran besi, larutan ini mengandung 50 mg besi/ml.

  • Pengobatan lain

  • Vitamin C: vitamin C diberikan 3 x 100mg per hari untuk meningkatkan absorbsi besi.

  • Transfuse darah: ADB jarang memerlukan transfuse darah.

  • Non-medika mentosa

  • Makanan gizi seimbang terutama yang mengandung kadar besi tinggi yang bersumber dari hewani ( hati, daging) dan nabati (bayam, kacang-kacangan)

KOMPLIKASI

  • sistem kardiovaskuler berupa dekompensatio cordis.

  • komplikasi dari tractus gastrointestinal berupa keluhan epigastric distress atau stomatitis.

PROGNOSIS

Dubia at bonam