Anda di halaman 1dari 16

1

A. HASSAN DAN PEMIKIRAN HUKUMNYA

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Perkembangan Modern Hukum Islam

Dosen Pengasuh Prof. Dr. H. Ahmad Khairudin, M.Ag

Oleh M. THABERANIE

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PROGRAM PASCA SARJANA KONSENTRASI HUKUM BISNIS SYARIAH BANJARMASIN 2009

A. HASSAN DAN PEMIKIRAN HUKUMNYA Oleh: Muhammad Nafi, S.Pd.I

A. Pendahuluan Himpunan pengarang Islam yang berkedudukan di Jakarta pada tanggal 5 Januari 1958, menempatkan A. Hassan atau Hassan Bandung, pada posisi ke-8 sebagai pengarang Islam yang paling terkemuka, ketika himpunan ini mengadakan jajak pendapat lewat penyebaran angket untuk mencari 10 orang dari 100 orang pengarang Islam yang paling terkemuka.1 Memang bagi pemerhati arus perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, nama A. Hassan bukan lagi sesuatu yang asing. Dia termasuk salah seroang trio pembaharu Islam di Tanah Jawa, selain KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, dan Ahmad Soorkati alAnshari pendiri al-Irsyad.2 Di mata M. Natsir3, A. Hassan adalah seorang ulama besar, gudang ilmu pengetahuan, dan sumber kekuatan batin dalam menegakkan pendirian dan keimanan. Bahkan, memiliki sifat-sifat utama yang jarang dimiliki oleh ulamaulama rekan beliau yang lain. Seorang ulama yang mengajarkan dan mendidik pemuda-pemuda sanggup hidup dan berdiri di atas kaki sendiri. Pendiriannya teguh, jiwanya kuat, dan pantang mundur dalam menegakkan kebenaran agama.

Jajak pendapat ini dilakukan dari bulan November sampai akhir bulan Desember 1957. adapun kesepuluh orang yang terpilih sebagai pengarang Islam terkemuka saat itu, masing-masing sesuai dengan urutannya adalah: HAMKA, KHM Isa Anshary, H.M. Natsir, H. Tamar Djaja, KH Monawar Cholil, ZA Ahmad, HTM Hasby Ash-Shiddiqy, A. Hassan, H. Firdaus AN, dan H.Z. Arifin Abbas. Lihat Tamar Djaja, Riwayat Hidup A. Hassan. (Jakarta: Penerbit Mutiara, 1980), hal. 159-163. 2 Ibid., hal.10. 3 Ibid., hal. 9.

Posisi A. Hassan dalam arus pemikiran Islam di Indonesia pada awal abad ke-20, merupakan seorang figur yang sangat penting. Karena begitu besarnya peranan dan luasnya pengaruh A. Hassan dalam membentuk wacana pemikiran Islam di Indonesia, tentunya riwayat hidup dan kiprahnya yang telah disumbangkan patut kembali untuk dibentangkan kepada kita semua. Selain itu tulisan ini akan memaparkan secara sederhana tentang A. Hassan dan pemikiran hukumnya, yang penulis tuangkan dalam makalah yang berjudul A. HASSAN DAN PEMIKIRAN HUKUMNYA.

B. Biografi Ahmad Hassan 1. Riwayat Hidup dan Keluarga A. Hassan Sekitar 500-600 tahun yang lalu ada sekelompok penduduk Kairo yang berpengaruh, namun karena merasa kurang senang dengan rezim rajanya, akhirnya, mereka hijrah meninggalkan Mesir menuju India dengan kapal layar yang terbuat dari kayu. Setibanya di India, mereka digelar Maricar yang berarti kapal layar. Mereka bermukim di Kail Patnam4 dengan berdagang. Melihat rupa dan bentuknya kemungkinan mereka berasal dari Parsi. Di antara nenek moyangnya, selain pedagang, juga terdapat ulama pujangga. Di sinilah asal keturunan nenek moyang A. Hassan.5

4 5

Kail artinya Kairo dan Patnam artinya Kota atau Bandar; salah satu pusat kota di India. A. Latief Muchtar, Gerakan Kembali ke Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1998),

h. 228.

A. Hassan lahir pada tahun 1887 M. di Singapura. Ayahnya bernama Ahmad Sinna Vappu Maricar yang digelari Pandit6 berasal dari India dan ibunya bernama Muznah berasal dari Palekat, Madras. Ahmad menikahi Muznah di Surabaya ketika ia berdagang di kota tersebut, kemudian menetap di Singapura. Ahmad adalah seorang pengarang dalam bahasa Tamil dan pemimpin surat kabar Nurul Islam di Singapura. Ia suka berdebat dalam masalah bahasa dan agama serta mengadakan tanya jawab dalam surat kabarnya.7 A. Hassan menikah pada tahun 1911 M. dengan Maryam peranakan Melayu-Tamil di Singapura. Dari pernikahannya ini ia dikaruniai tujuh orang putra-putri; (1) Abdul Qadir,8 (2) Jamilah, (3) Abdul Hakim, (4) Zulaikha, (5) Ahmad, (6) Muhammad Said, (7) Manshur.9 2. Pendidikan A. Hassan belajar al-Quran pada umur sekitar tujuh tahun, kemudian masuk di Sekolah Melayu. Ayahnya sangat menekankan agar Hassan mendalami bahasa Arab, Inggris, Melayu dan Tamil di samping pelajaran-pelajaran lain.10

Dalam masyarakat India, mereka yang ilmu agamanya mendalam digelar sebagai Pandit, sebagaimana halnya di kalangan masyarakat Bugis digelar sebagai Pandrita atau Ulama. 7 Syafiq A. Mughni, Hassan Bandung: Pemikir Islam Radikal, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1994), h. 11. 8 Abdul Qadir Hassan (w. 25 Agustus 1984), yang merupakan pelanjut A. Hassan, aktif menulis dalam bidang Tafsr, Hads, Ilmu Hads, dan Ushl Fiqh, di antara karya tulisnya adalah Kata Berjawab, Ilmu Mushthalah Hadits, Qms Al-Quran, Ushl Fiqh, Tafsr Ahkm, Cara Berdiri Itidal, dan masih banyak lagi yang lain. Putra Abdul Qadir Hassan, antara lain adalah Prof. Dr. Ir. Zuhal Abdul Qadir yang pernah menjabat sebagai Menteri Riset & Teknologi masa Presiden Habibie; putranya yang kedua adalah Ghzie Abdul Qadir rahimahullah. 9 Ibid. h. 12 10 Lihat tulisan Tamar Jaya, Riwayat Hidup A. Hassan, dalam A. Hassan, Tarjamah Bulughul Maram, (Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2001), h. 709; Howard M. Federspiel, Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia, diterjemahkan oleh Yudian W. Asmin dan Afandi Mochtar dengan judul Persatuan Islam: Pembaharuan Islam Indonesia Abad XX, (Cet. I; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), h. 17

Guru-gurunya antara lain adalah H. Ahmad di Bukittiung dan Muhammad Thaib di Minto Road. Walaupun kedua gurunya ini bukanlah seorang alim besar namun untuk ukuran daerahnya keduanya cukup disegani dan dihormati. Kepada Muhammad Thaib, Hassan belajar nahwu dan sharaf, namun kira-kira empat bulan kemudian, ia merasa tidak memiliki kemajuan, karena hanya menghafal saja tanpa dimengerti, semangat belajarnya pun menurun. Dalam keadaan seperti itu, untunglah gurunya naik haji. Akhirnya, A. Hassan beralih belajar bahasa Arab kepada Said Abdullah al-Musawi sekitar kurang lebih tiga tahun. Selain itu, A. Hassan belajar kepada Syeikh Hassan al-Malabary dan Syeikh Ibrahim al-Hind. Semuanya ditempuh hingga kira-kira tahun 1910 M., ketika ia berumur 23 tahun. Walaupun pada masa ini A. Hassan belum memiliki pengetahuan yang luas tentang tafsr, fiqh, farid, manthiq, dan ilmu-ilmu lainnya, namun dengan ilmu alat yang ia miliki itulah yang kemudian mengantarkannya memperdalam pengetahuan dan pemahaman terhadap agama secara otodidak.11 Sekitar tahun 1912 M-1913 M, Hassan bekerja sebagai dewan redaksi Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Singapore Press, dalam surat kabar ini, Hassan banyak menulis tentang masalah agama seputar nasehat-nasehat, anjuran berbuat baik dan mencegah kejahatan yang kebanyakannya dalam bentuk syair. Ia pernah menulis, mengecam qadhi yang memeriksa perkara dalam ruang sidang dengan mengumpulkan tempat duduk antara pria dan wanita (ikhtilth). Bahkan pernah dalam salah satu pidatonya mengecam kemunduran ummat Islam, sehingga karena sebab itu ia tidak diperkenankan menyampaikan pidato lagi.

11

Syafiq A. Mughni, op. cit., h. 13.

Pada tahun 1921 M., A. Hassan berangkat ke Surabaya (Jawa Timur) untuk berdagang dan mengurus toko milik Abdul Lathif pamannya, namun sebelum A. Hassan berangkat, pamannya berpesan agar sesampainya nanti di Surabaya ia tidak bergaul dengan seseorang yang bernama Faqih Hasyim 12 karena dianggap sesat dan berfaham Wahhabi.13 Berawal dari pertemuannya dengan Abdul Wahhab Hasbullah14 yang kemudian mengajukan pertanyaan kepadanya mengenai hukum membaca ushalliy15 sebelum takbirat al-ihrm. Sesuai dengan pengetahuannya ketika itu, A. Hassan menjawab bahwa hukumnya sunnah. Ketika ditanyakan lagi mengenai alasan hukumnya, ia menjawab bahwa soal alasannya dengan mudah dapat diperoleh dari kitab manapun juga. Namun dari pertemuan ini, ia heran, mengapa soal semudah itu yang dipertanyakan kepadanya. Setelah menceritakan perbedaan-perbedaan antara Kaum Tua dan Kaum Muda, Abdul Wahhab Hasbullah meminta agar A. Hassan memberikan alasan sunnatnya membaca ushalliy dari al-Quran dan Hadis, karena menurut Kaum Muda, agama hanyalah apa yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya. A. Hassan kemudian berjanji akan memeriksa dan menyelidiki masalah itu. Tetapi sesuatu yang berkembang menjadi keyakinan dihatinya bahwa agama hanyalah apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Keesokan harinya A. Hassan mulai memeriksa kitab Shahh alBukhriy dan Shahh Muslim, dan mencari ayat-ayat al-Quran mengenai alasan

12 13

Faqih Hasyim adalah salah seorang murid Dr. H. Abdul Karim Amrullah. Syafiq, op.cit., h. 14-15. 14 Salah seorang tokoh pendiri NU, wafat Tahun 1971. 15 Ushalliy adalah niat untuk setiapkali shalat yang dilafazhkan sebelum takbirat alihrm.

sunnatnya ushalliy namun ia tidak menemukannya, pendiriannya membenarkan Kaum Muda akhirnya bertambah tebal.16 Maksud awalnya hendak berdagang kemudian berubah, bahkan kemudian A. Hassan bergaul rapat dengan Faqih Hasyim salah seorang pentolan Kaum Muda di Surabaya itu. Pada tahun 1924 M., A. Hassan berangkat ke Bandung untuk mempelajari pertenunan, di sinilah ia berkenalan dengan tokoh pendiri organisasi PERSIS (Persatuan Islam), yang kemudian A. Hassan diangkat menjadi guru Persatuan Islam.17 3. Karya-karya Ilmiyah A. Hassan adalah salah seorang tokoh pemikir yang produktif menuliskan ide-idenya baik di majalah-majalah maupun dalam bentuk buku. Karya-karya tulisnya, antara lain: a. Dalam bidang Al-Quran dan Tafsir: Tafsir Al-Furqn, Tafsir AlHidyah, Tafsir Surah Ysn, dan Kitab Tajwd. b. Dalam bidang Hadis, Fiqh, dan Ushl Fiqh: Soal Jawab: Tentang Berbagai Masalah Agama, Risalah Kudung, Pengajaran Shalat, Risalah Al-Ftihah, Risalah Haji, Risalah Zakt, Risalah Rib, Risalah Ijm, Risalah Qiys, Risalah Madzhab, Risalah Taqld, AlJawhir, Al-Burhn, Risalah Jumat, Hafalan, Tarjamah Bulg alMarm, Muqaddimah Ilmu Hadis dan Ushl Fiqh, Ringkasan Islam, dan Al-Faraidh.

16 17

Syafiq, op.cit., h. 16 Howard M. Federspiel, op. cit., h. 24.

c. Dalam bidang Akhlaq: Hai Cucuku, Hai Putraku, Hai Putriku, Kesopanan Tinggi Secara Islam. d. Dalam bidang Kristologi: Ketuhanan Yesus, Dosa-dosa Yesus, Bibel Lawan Bibel, Benarkah Isa Disalib?, Isa dan Agamanya. e. Dalam bidang Aqidah, Pemikiran Islam, dan Umum: Islam dan Kebangsaan, Pemerintahan Cara Islam, Adakah Tuhan?,

Membudakkan Pengertian Islam, What is Islam?, ABC Politik, Merebut Kekuasaan, Risalah Ahmadiyah, Topeng Dajjl, Al-Tauhid, Al-Iman, Hikmat dan Kilat, An-Nubuwwah, Al-Aqid, al-

Munzharah, Surat-surat Islam dari Endeh, Is Muhammad a True Prophet? f. Dalam bidang Sejarah: Al-Mukhtr, Sejarah Isr Mirj, g. Dalam bidang Bahasa dan Kata Hikmat: Kamus Rampaian, Kamus Persamaan, Syair, First Step Before Learning English, Al-Hikam, Special Dictionary, Al-Nahwu, Kitab Tashrf, Kamus Al-Bayn, dan lain-lain.18 Dari karya-karya ilmiyah yang telah diwariskan A. Hassan tersebut, dapat dilihat betapa luas ilmu yang ia geluti, yang secara umum Endang Saifuddin Ansari dalam makalah seminar tentang pemikiran A. Hassan di Singapura Tahun 1979 M. mengelompokkan secara garis besarnya sebagai berikut: 1. Mengenai Muhammad Rasulullah saw.; 2. Mengenai Sumber Norma dan Nilai Islam: al-Quran dan al-Sunnah;
Lebih lanjut lihat catatan Howard M. Federspiel, Syafiq A. Mughni, dan Dadan Wildan mengenai buku-buku karya A. Hassan.
18

3. Mengenai Aqidah; 4. Mengenai Syariah: ibadah dan muamalah; 5. Mengenai Akhlak; 6. Mengenai Studi Islam (Dirsat Islamiyyah): Ilmu Tauhid dan Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh dan Ushl Fiqh, Ilmu Akhlak, Ilmu Tasawwuf, dan lain sebagainya. 7. Mengenai pelbagai soal hidup lainnya, seperti: politik, ekonomi, sosial, kesenian, ilmu pengetahuan, filsafat, bahasa, perbandingan agama, dan lain sebagainya.19

C. Pemikiran Hukum Seorang tokoh pemikir, seperti halnya A. Hassan, pasti memiliki latar belakang yang mempengaruhi corak berfikirnya, baik itu keluarga, pendidikan, pergaulan serta setting sosial yang melingkupi sehingga membentuk karakter berfikirnya. Pada abad kedelapan belas, penolakan terhadap taklid dan perhatian terhadap studi Hadis sedang berkembang, yang dipelopori oleh Syah Waliyyullah al-Dahlawiy di India dan Muhammad al-Syawkniy di Yaman. Maka, pada abad kesembilan belas muncullah gerakan Ahli-Hadis di India, yang dalam masalahmasalah hukum, Ahli Hadis mengkombinasikan penolakan terhadap taklid dalam tradisi pemikiran al-Dahlawiy dan al-Syawkniy dengan tekstualitas pemahaman yang merupakan gagasan pemikiran Zhahiriy. Seperti orang Zhahiriy, Ahli Hadis
Endang Saifuddin Ansari, A. Hassan: Wajah dan Wijhah Seorang Mujtahid, dalam Abdul Rahman Haji Abdullah, Gerakan Islah di Perlis: Sejarah dan Pemikiran, (Kuala Lumpur: Penerbitan Pena, 1989), h. 131.
19

10

cenderung tekstual dalam memahami al-Quran dan Hadis, di samping itu mereka sepenuhnya menolak kewenangan ijm, kecuali ijm sahabat. Dari sisi karakternya, antara gerakan Ahli-Hadis di India dan gerakan Wahhabiy di Arab adalah sama, hanya saja dalam pertumbuhannya berjalan masing-masing.20 Keluarga A. Hassan adalah keluarga yang berasal dari India. Ayahnya, Ahmad, dikenal sebagai sarjana Tamil yang memiliki karakter keras tidak membenarkan ushalliy, tahlilan, talqin, dan lain sebagainya, sebagaimana faham Ahli-Hadis dan Wahhabiy pada umumnya. Demikian pula beberapa orang India di Singapura, seperti Thalib Rajab Ali, Abdul Rahman, Jailani, yang juga dikenal sebagai orang-orang yang berfaham Wahhabiy.21 A. Hassan adalah seorang sosok yang otodidak, karena pendidikan formal yang dilaluinya hanya di Sekolah Melayu. Walaupun demikian, ia menguasai bahasa Arab, Inggris, Tamil, dan Melayu yang dapat digunakan olehnya dalam pengembaraan intelektualnya. Pada masa itu, ia telah membaca majalah Al-Manr yang diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha di Mesir, majalah Al-Imm yang diterbitkan oleh ulama-ulama Kaum Muda di Minangkabau. Selain itu, A. Hassan telah mengkaji kitab Al-Kafaah karya Ahmad al-Syurkati, Bidyat al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd, Zd al-Mad karya Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Nayl alAwthr karya Muhammad Ali al-Syawkniy, dan Subul al-Salm karya alShanniy. Semua bacaan-bacaan itu, cukup mempengaruhi corak berfikirnya.22

Untuk mengetahui lebih jauh gerakan kebangkitan kembali studi Hadis di India pada abad XVIII dan XIX, lihat, Daniel W. Brown, Rethinking Tradition in Modern Islamic Thought, diterjemahkan oleh Jaziar Radianti dan Entin Sriani Muslim dengan judul Menyoal Relevansi Sunnah dalam Islam Modern, (Bandung: Mizan, 2000), h. 37-61. 21 Syafiq A. Mughni, loc. cit. 22 Ibid.

20

11

Pada tahun 1940 M., A. Hassan pindah ke Bangil, Jawa Timur, dan mendirikan Pesantren Persatuan Islam Bangil, ia tetap mengajar dan menulis di majalah Himyat al-Islm (

) yang diterbitkannya hingga wafat pada

10 Nopember 1958 M. dan dimakamkan di Pekuburan Segok, Bangil. Dari madrasah A. Hassan, muncul Abdul Qadir Hassan sebagai pewaris keilmuannya, dilanjutkan oleh kedua cucunya, Ghazie Abdul Qadir Hassan,23 Hud Abdullah Musa, Luthfie Abdullah Ismal,24 selain itu murid-murid Abdul Qadir yang mewarisi keilmuannya antara lain; Aliga Ramli,25 Ahmad Husnan,26 Muhammad Haqqiy,27 dan masih banyak yang lain. Pemikiran Ahmad Hasan sering dianggap dengan suatu yang agresif, ekstrem, dan puritan, karena karakter pemahaman yang literalis. Hal ini sangat jelas dalam masalah yang berkaitan dengan ibadah, khususnya ibadah mahdlah, ia

Cucu A. Hassan, Lahir Tahun 1947 dan wafat pada 2002, S1 di Universitas Islam Madinah dan S2-S3 Takhassus Hadits di Darul Hadits al-Hasaniyah University Rabat, Maroko, tulisan-tulisannya mengenai kajian Hadis masih tersebar di Majalah Al-Muslimun. Salah seorang putranya bernama Hifzhie sedang menimba ilmu di Al-Azhar University, Mesir. 24 Cucu A. Hassan, lahir pada Tahun 1949, Alumnus International Islamic Call Institute Tripoli, Libya. Ia cukup produktif dalam menuliskan hasil kajiannya terhadap Hadis, di antaranya adalah Fiqh al-Ibdt wa al-Mumalt, yang terdiri dari kurang lebih dua jilid besar. Sebagian yang lain masih tersebar di Majalah Al-Muslimun, dan ada pula yang masih berbentuk naskah. Sekarang ia masih memimpin Pesantren Persis Bangil, di antara aktifitasnya yang lain adalah mengisi kajian Hadis di Singapura, Malaysia, dan menghadiri pertemuan-pertemuan international. 25 Lahir di Sumenep (Jawa Timur) pada Tahun 1942, Alumnus Universitas Al-Imm Muhammad ibn Sad Riydh. Di antara buku yang disusun olehnya, yang telah diterbitkan adalah Sifat dan Kaifiyat Qiyamul Lail, selain itu tulisannya tersebar di majalah Al-Muslimun, khususnya dalam kajian Tafsir dan Ilmu Tafsir. 26 Ahmad Husnan, putra Imam Kurmen, lahir di Desa Wangen, Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah pada Tahun 1940, pendidikan dilaluinya pada PGAP IV Negeri Solo; PGAA Muhammadiyah Padangsidempuan Tapanuli, Sumatera Utara; dan Muallimin Muhammadiyah Payakumbuh, Sumatera Barat. Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Pesantren Persis Bangil di bawah pimpinan Abdul Qadir Hassan, lulus dari Pesantren ia melanjutkan studinya ke Fakultas Syariah Universitas Islam Madinah. Selesai di Madinah ia terus melanjutkan studinya ke Cairo, Mesir. Sekarang aktif mengajar dan menulis di Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Jawa Tengah. Di antara karya tulisnya adalah Gerakan Ingkar Sunnah dan Jawabannya, Kritik Hadis Cendekiawan Dijawab Santri, Keputusan Al-Quran Digugat, Kajian Hadis Metode Takhrj, Meluruskan Pemikiran Pakar Muslim, Ilmiah Intelektual dalam Sorotan, dan lain-lain. 27 Murid Abdul Qadir Hassan, mengajar kajian Hadis di Jakarta (Tanah Abang).

23

12

sama sekali menolak hal yang berbau bidah. Secara garis besar pokok-pokok pikrannya adalah sebagai berikut: 1. Ijtihad harus merujuk pada Al-Quran dan Hadits yang shahih saja. Implikasinya adalah terpinggirkannya fatwa ulama, terutama karena tidak diketahui rujukan nashnya atau bertentangan dengan nash. Kalaupun ada ulama yang dijadikan rujukan itu lebih karena pendapatnya dianggap sesuai dengan nash yang dapat dipertanggungjawabkan. 2. Menentang taqlid (mengikuti pendapat tanpa mengetahui alasannya atau dalil) secara mutlak. Tetapi memperkenankan ittiba, yaitu mengikuti suatu pendapat yang jelas dalilnya dan diakui kebenarannya. 3. Kritik Hadits pada aspek redaksional (matan) dan periwayatan. Kritik yang dimaksud adalah hadits tidak boleh bertentangan dengan Al-Quran sebagai rujukan utama, tidak boleh bertentangan dengan hadits-hadits mutawatir atau hadits-hadits yang lebih tinggi derajat keshahihannya. Sedangkan kritik pada periwayatan lebih pada kritik metode penukilan hadits dan kritik rawi (Naqd al-Rijal). 4. Menolak Ijma. Menurut penelitiannya tidak ada satu pun ayat yang memerintahkan menerima ijma. Ia berpendapat hanya hukum Allah dan Rasul-Nya saja yang bisa dijadikan sumber hukum, sedangkan hukum buatan manusia, walaupun disepakati oleh semua orang tidak dapat dijadikan salah satu sumber hukum. 5. Riba Bank, menurut beliau riba bank adalah tidak bisa dikatakan haram. Dan boleh diberikan ke sekolah-sekolah atau madrasah. Bila seseorang itu uang

13

kotor, maka beliau mengharapkan untuk memberikan untuk mengurus WC Umum dari madrasah atau sekolah-sekolah Islam. Biar yang kotor dengan yang kotor. 6. Ijab Qabul dalam perdagangan, menurut beliau jual beli tanpa ijab qabul adalah sah, karena tidak ada dalil yang mengatakan bahwa tidak sah kalau tidak berijab kabul. Beliau mengemukakan bahwa sahabat-sahabat Nabi yang sebagian besarnya adalah ahli dagang tidak ada cara yang demikian. Menurut beliau ijab kabul tidak wajib juga tidak sunah dan tidak pula termasuk dari syarat-syarat jual beli. 7. Berdagang dengan orang kafir, menurut A. Hassan berjual beli ini adalah bagian dari muamalah atau keduniaan. Lantaran dalam masalah muamalah dalam agama tidak ada memberi batasan-batasan tertentu, agama hanya melarang dalam kejadian-kejadian yang tetap, yang bisa menimbulkan hal-hal yang tidak baik, seperti menipu, memberatkan orang, dan tidak menyusahkan orang. Menurut beliau jual beli dengan orang kafir atau musyrik, sama sekali tidak ada larangannya dari agama. Bahkan ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi bermuamalah dengan orang kafir (Yahudi) yaitu dengan menggadaikan baju besi beliau. 8. Gadai Sawah, menurut beliau bila pada saat perjanjian gadai syarat-syaratnya telah dipenuhi dimana pemegang gadai dan penggadai bersepakat tentang

14

bolehnya menggunakan sawah atau kebon tersebut maka boleh pemegang gadai menggunakan dan mengolah sawah tersebut.28

D. Penutup Tujuh Belas tahun lamanya ia tinggal di Bandung, menegakkan pemahamannya dan berjuang dengan segala kesungguhan hati hingga

kepindahannya ke Bangil pada tahun 1941 bersama percetakannya untuk bekal hidup sebagaimana ia lakukan di Bandung untuk terus menulis buku mencetak dan menerbitkannya sendiri. Di Bangil, ia mendirikan pesantren PERSIS di samping pesantren putri yang sampai kini dihuni oleh para santri dari berbagai tanah air. Pesantren tersebut dipimpin oleh putra sulungnya Abdul Qadir Hassan. Solidaritas sosial yang sangat tinggi dari sosok ulama ahli debat dan teguh pendirian ini menjadi kharisma tersendiri bagi orang-orang yang mengenalnya. Dia sangat memuliakan tamu dan pintunya selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang mengunjunginya dengan sambutan yang hangat dan akrab dari tuan rumah. Akhirnya ulama yang hati-hati dalam agama, kritikus ulung dan memiliki semboyan hidup Tidak ada penghidupan yang lebih baik dari hidup mengikuti tuntunan agama dan berbuat baik kepada siapapun sekadar bisa dan penuh keikhlasan. (Tamar Jaya, 1957). Ia berpulang ke rahmatullah pada tanggal 10 November 1958. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya.

A. Hassan, Soal-Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama. (Bandung: CV Diponegoro, 1972), hal.1191-1198.

28

15

A. Hassan sebagai salah satu trio pembaharu pada awal abad ke-20 di tanah jawa, telah memainkan peran yang sangat strategis dalam membentuk arus pemikiran Islam di Indonesia, baik lewat organisasi PERSIS, maupun lewat tulisan-tulisannya yang banyak sekali ibarat batang padi yang mencuat ke atas di atas sawah Priyangan yang subur. Dia benar-benar seorang reformis, meskipun dia bukan alumni pendidikan Timur Tengah. Adapun usaha pertama/hasil pemikiran hukumnya adalah mendobrak pemikiran yang sudah mapan, dengan merobohkan tembok taqlid. Baginya pintu ijtihad tidak pernah tertutup dan umat Islam harus melakukannya setiap saat. Kebebasan untuk memahami ajaran agama tanpa terikat oleh suatu mazhab. Ajakan untuk kembali kepada Alquran dan Sunah mewarnai semua pemikirannya baik yang bersifat fikih maupun akidah.

16

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Rahman Haji Abdullah, Gerakan Islah di Persis: Sejarah dan Pemikiran, Kuala Lumpur, Penerbitan Pena, 1989. Affandi, Bisri, Syaikh Ahmad Syurkati: Pembaharu & Pemurni Islam di Indonesia, Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 1999. Djaja, Tamar, Riwayat Hidup A. Hassan, dalam A. Hassan, Tarjamah Bulughul Maram, Bandung, CV. Penerbit Diponegoro, 2001. Djaja, Tamar, Riwayat Hidup A. Hassan.Jakarta, Penerbit Mutiara, 1980. Federspiel, Howard M., Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia, diterjemahkan oleh Yudian W. Asmin dan Afandi Mochtar dengan judul Persatuan Islam: Pembaharuan Islam Indonesia Abad XX, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1996. Hasan. A., Soal-Jawab Tentang Berbagai Masalah Agama. (Bandung: CV Diponegoro, 1972 Muchtar, A. Latief, Gerakan Kembali ke Islam, Bandung, Remaja Rosdakarya, 1998. Mughni, Syafiq A., Hassan Bandung: Pemikir Islam Radikal, Surabaya, PT. Bina Ilmu, 1994. Radianti, Jaziar dan Entin Sriani Muslim, Menyoal Relevansi Sunnah dalam Islam Modern, Bandung, Mizan, 2000. Yusuf, M. Yunan, et. al., Ensiklopedi Muhammadiyah, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2005.