Anda di halaman 1dari 6

Meningkatkan Kualitas Sapi Potong Melalui Inseminasi Buatan (IB)

Oleh : Radiyostri, NPM : E1C011071 Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

ABSTRAK Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan populasi ternak sapi untuk keperluan penyediaan protein hewani dilakukan melalui penyediaan bibit ternak, dan penerapan bioteknologi reproduksi. Salah satu bioteknologi reproduksi yang telah diterima oleh masyarakat peternak dalam meningkatkan produksi ternak adalah teknologi inseminasi buatan (IB). Melalui penggunaan teknologi IB akan dapat memperbaiki mutu genetik ternak sapi dengan cara membuat semen beku yang berasal dari pejantan unggul. Keadaan seperti ini bila tidak dilakukan upaya untuk meningkatkan populasi dan produksi, maka tidak akan dapat memenuhi permintaan kebutuhan daging dan susu sapi dalam negeri. Oleh karena itu diperlukan upaya memotivasi peternak dalam pemeliharaan ternak yang lebih maju dan menguntungkan melalui pembinaan yang dapat meyakinkan. Pemeliharaan ternak bukan lagi hanya dianggap sebagai tabungan atau pekerjaan sampingan, melainkan sudah dikelola dengan baik menuju kearah yang lebih maju dangan harapan peternak dapat mengerti dan menyadari arti pentingnya produktivitas ternak. Untuk menyikapi hal tersebut, salah satu upaya untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak sapi dapat dilakukan melalui kawin suntik yang dalam bahasa ilmiahnya adalah Artificial Insemination atau Inseminasi Buatan (IB). Hal tersebut adalah sebagai salah satu upaya penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak, sehingga dapat menghasilkan keturunan/ pedet dari bibit pejantan unggul yang sekaligus dapat program swasembada daging 2014. Kata kunci : Inseminasi Buatan (IB), semen, Inseminator.

PENDAHULUAN Ternak sapi potong mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembangunan peternakan yaitu (a) sumber pangan hewani asal ternak, berupa daging dan susu, (b) sumber pendapatan masyarakat terutama petani ternak, (c) penghasil devisa yang sangat diperlukan untuk membiayai pembangunan nasional, (d) menciptakan lapangan kerja, (e) sasaran konservasi lingkungan terutama lahan melalui daur ulang pupuk kandang dan (f) pemenuhan sosial budaya masyarakat dalam ritual adat/kebudayaan. Masalah utama yang dihadapi dalam pengembangan sapi potong kecenderungan populasi yang semakin merosot, ini terutama disebabkan adalah oleh

rendahnya tingkat kelahiran dan permintaan semakin meningkat (ARMAN, 1993). Penyebab rendahnya pertambahan populasi tersebut, ada kaitannya dengan tingkat reproduksi yang juga masih rendah. Selain itu terjadi penurunan kualitas yang disebabkan terjadinya perkawinan dalam satu populasi yang terus menerus (inbreeding) dan sistem pemeliharaan yang masih tradisional (SARIUBANG et al., 1992). Demikian juga dikemukakan oleh WARWICK et al. (1983) bahwa perkawinan silang dalam (inbreeding) berlangsung terlalu lama dalam suatu populasi tertutup menyebabkan proporsi lokus genetik yang homozigot. Berbarengan dengan itu terjadi depresi persedarahan yang menyebabkan menurunnya daya tahan (vigor), kesuburan dan sifat-sifat produksi lainnya. Untuk keluar dari masalah ini pemerintah perlu upaya pelestarian yang diimbangi dengan pendekatan kuantitatif yakni peningkatan populasi dan kualitatif melalui peningkatan kualitas ternak. Berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan mutu dan produksi ternak dan salah satu diantaranya adalah penerapan teknologi IB. Tiga pokok alasan memilih teknologi IB adalah (1) cara yang murah untuk meningkatkan mutu genetik ternak, (2) cara cepat dalam transformasi dan konfigurasi genetik populasi ternak, dan (3) alternatif murah dan cepat dalam skala massal.

Inseminasi Buatan (IB) Inseminasi Buatan (IB) atau dalam istilah ilmiahnya disebut Artificial Insemination (AI) merupakan sistem perkawinan pada ternak sapi secara buatan yakni suatu cara atau teknik memasukkan sperma atau semen kedalam kelamin sapi betina sehat dengan menggunakan alat inseminasi yang dilakukan oleh manusia (Inseminator) dengan tujuan agar sapi tersebut menjadi bunting. Semen adalah mani yang beradal dari sapi pejantan unggul yang dipergunakan untuk kawin suntik atau inseminasi buatan. Inseminator Inseminator merupkan petugas yang telah dididik dan lulus dalam latihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik serta memiliki Surat Izin Melakukan Inseminasi (SIMI). Selain inseminator dari pemerintah ada juga inseminator mandiri yang berasal dari khalayak peternak atau masyarakat yang telah memperoleh pelatihan ketrampilan khusus untuk melakukan inseminasi buatan atau kawin suntik. Tujuan, Keuntungan dan Kerugian Insemiasi Buatan (IB) Menurut Wattiaux (1995) Tujuan Inseminasi Buatan : a) Memperbaiki mutu genetika ternak; b) Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya ; c) Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama; d) Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur; e) Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin. Keuntungan IB : a) b) c) d) Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan; Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik; Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding); Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama; e) Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; f) Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar; g) Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin. Kerugian IB :

a) Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan; b) Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil; c) Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama; d) Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test). Kunci Keberhasilan Program IB Kunci keberhasil program IB tergantung dari 3 unsur yaitu: 1. Kinerja inseminator Kinerja Inseminator sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan program IB dilapangan, untuk itu seorang inseminator perlu menjiwai tugas dan tanggung jawabnya yaitu; (1) melakukan identifikasi akseptor IB (sapi betina produktif) dan mengisi kartu peserta IB; (2) membuat program / rencana birahi ternak akseptor berdasarkan siklus birahi (kalender reproduksi) di wilayah kerjanya; (3) melaksanakan IB pada ternak; (4) membuat pencatatan (recording) dan laporan pelaksanaan IB dan menyampaikan kepada pimpinan Satuan Pelayanan IB melalui pemeriksaan kebuntingan (PKB) setiap bulan; (5) melaksanakan pembinaan kelompok tani ternak atau Kelompok Peternak Peserta Inseminasi Buatan (KPPIB) dan kader inseminator; (6) membentuk kegiatan pengorganisasian pelayanan IB./ Unit Pelayanan Inseminasi Buatan (ULIB) (7) berkoordinasi dengan petugas Pemeriksa Kebuntingan (PKB) dan Asisten teknis Reproduksi (ATR). 2. Kondisi Akseptor Agar program kawin suntik atau Inseminasi Buatan (IB) dapat berhasil dengan baik, kondisi Akseptor (sapi betina produktif peserta IB) perlu diperhatikan. Adapun kondisi akseptor yang baik adalah: Sehat, Fisik besar dan kuat, Ambing besar dan elastis, Puting sempurna (4 bh) dan letaknya simetris dan agak panjang. Perut besar Tulang pinggul lebar Vulpa besar, licin. Mengkilat, cembung dan tidak berbulu, Umur minimal 18 bulan Untuk sapi yang berbadan kecil seperti sapi bali, IB sebaiknya dilakukan setelah kelahiran anak pertama hasil perkawinan secara alami. Untuk sapi yang telah melahirkan, perkawinan selanjutnya dilakukan setelah 2-3 bulan kemudian. 3. Peternak Untuk mendukung terlaksananya program IB, peran para peternak sapi sangat dibutuhkan terutama dalam hal :

deteksi birahi / pengenalan terhadap tanda-tanda birahi sistim pelaporan yang tepat, terutama laporan birahi kepada inseminator perawatan akseptor dan pedet hasil IB Waktu Inseminasi Buatan (IB) yang tepat Pada umumnya, lama birahi pada sapi adalah rata-rata 18 jam dan untuk mendapatkan hasil yang baik, sebaiknya dilakukan IB pada pertengahan masa birahi. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Kesimpulan Inseminasi buatan harus berlandaskan nilai etika tertentu, karena bagaimanapun juga perkembangan dalam dunia bioteknologi tidak lepas dari tanggung jawab manusia sebagai agen moral dan subjek moral. Etika diperlukan untuk menentukan arah perkembangan bioteknologi serta perkembangannya secara teknis, sehingga tujuan yang menyimpang dan merugikan bagi kemanusiaan dapat dihindarkan. Dan yang penting perlu diterapkannya aturan resmi pemerintah dalam pelaksanaan dan penerapan bioteknologi, sehingga ada pengawasan yang intensif terhadap bahaya potensial yang mungkin timbul akibat kemajuan bioteknologi. Ucapan Terima kasih Pada kesempatan ini, saya sebagai penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Prof Ir. Urip Santoso, M.Sc, Ph. D, selaku Dosen pengajar MK Penyajian Ilmiah. Selain itu ucapan terimakasih juga ingin penulis sampaikan kepada teman-teman Jurusan Peternakan angkatan 2011 yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu-persatu, yang telah memberikan kritik dan sarannya selama penulisan karya ilmiah ini. DAFTAR PUSTAKA ARMAN, C dan R. SYAHBUDDIN. 1993. Kemungkinan Pemanfaatan Semen Cair Sebagai Pengganti Semen Beku dalam Rangka Program Inseminasi Buatan di Nusa Tenggara Barat. Peternakan Sapi Bali dan Permasalahannya. Bumi Aksara, Jakarta.

SARIUBANG, M., CHALIDIJAH, A.PRABOWO dan U. ABDUH. 1992. Hubungan Antara pertambahan bobot hidup dan ukuran lingkar dada sapi bali betina yang diberikan perlakuan pakan. Pros. Pertemuan Pengolahan dan Komunikasi Hasil Penelitian Peternakan di Sulawesi Selatan. Sub Balai Penelitian Ternak Gowa, Sulawesi Selatan. WARWICK, E. J., M. ASTUTI dan A. WARTOMO. 1983. Pemulihan Ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Wattiaux, M.A. 1995. Reproduction and Genetic Selection. University of Wisconsin, Madison, USA. The Babcock Institute