Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KESEHATAN TERNAK JEMBRANA

Oleh : Nama NPM : Radiyostri : E1C011071

JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BENGKULU 2013

Kata Pengantar

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucakan kepada Allah SWT, yang karena bimbinganNyalah maka penulis bisa menyelesaikan sebuah Tulisan yang berjudul Jembrana. Saya mengucapkan terimakasih kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai tantangan dalam penyusunan tulisan ini. Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada tulisan ini. Oleh karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini. Terima kasih, dan semoga tulisan ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita semua.

Bengkulu, 14 Oktober 2013

Radiyostri

Daftar Isi
Kata Pengantari Daftar Isiii BAB I BAB II : PENDAHULUAN..1 : TINJAUAN PUSTAKA.2 2.1 Penyebab Penyakit Jembrana (JD)..5 2.2 Penyebaran Penyakit Jembrana (JD)...7 2.3 Gejala Penyakit Jembrana (JD)...9 2.4 Pencegahan Penyakit Jembrana (JD).11 BAB III : KESIMPULAN.12

DAFTAR PUSTAKA..13 LAMPIRAN....15

BAB I PENDAHULUAN Jembrana (JD) adalah penyakit menular akut pada sapi Bali yang sangat merugikan peternak, khususnya peternak sapi bali. Penyakit Jembrana (JD) ini disebabkan oleh sejenis Virus, yaitu Retrovirus, keluarga lentivirinae yang termasuk dalam famili retroviridae yang sangat cepat penularannya. Namun demikian penyakit ini hanya menyerang sapi khusus ras bali. Sejauh ini Penyakit Jembrana (JD) hanya terkenal di Indonesia dan hanya menyerang sapi bali. Penyakit jembrana (JD) sejauh ini tidak ditemui pada rumpun sapi yang lain. Sapi yang terserang berumur lebih dari 1 tahun dan yang terbanyak 4 6 tahun dan jenis kelamin tidak mempengaruhi kejadian penyakit ini. Peranan vector dalam penyebaran penyakit ini sangat besar, yaitu lewat penyakit insect born, seperti : Culicoides sp dan nyamuk. Sapi yang terserang penyakit jembrana (JD) akan menunjukkan gejala klinis antara lain : suhu berkisar antara 39C 42C. pada suhu Suhu diatas 40C dapat berlangsung selama 3 5 hari, dan kemudian akan diikuti penurunan suhu, namun pada derajat subnormal sapi akan mati, pembengkakan kelenjar limfe, sapi yang sakit dapat terjadi Diare dengan tinja atau feses lembek, profus sampai tercampur darah. Selain itu juga terjadi erosi ringan sampai nekrosis terbatas epitel selaput lendir mulut . Pada sapi betina yang sedang bunting di atas 6 bulan akan mengalami keguguran. Gejala lainnya adalah : keringat darah, perdarahan pada mata, demam, anoreksia, lesu, pernapasan dan detak nadi cepat, leucopenia disertai dengan leukositosis.

Penyakit ini tidak dapat diberantas secara kuratif, akan tetapi dapat dicegah dengan tindakan preventif dalam artian melalui pengamatan serta pengawasan secara dini antara lain melalui kegiatan Surveilance Penyakit Jembrana dan disertai dengan tindakan vaksinasi secara teratur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Dahulu JD diduga sebagai rinderpest (ADIWINATA, 1967; PRANOTO dan PUDJIASTONO, 1967), kemudian diduga disebabkan oleh rickettsia (HARDJOSWORO dan BUDIARSO, 1973; 1977; BUDIARSO dan HARDJOSWORO, 1976; 1977a,b;

HARTANINGSIH et al., 1985) dan selanjutnya secara lebih spesifik diduga disebabkan oleh Ehrlichia sp. (RESSANG et al., 1985). RAMACHANDRAN (1981) dan TEUSCHER et al. (1981) menduga JD disebabkan oleh virus, yang saat itu belum mampu diidentifikasi. Dugaan tersebut didasarkan oleh karena agen penyakit Jembrana memiliki ukuran antara 100-200 nanometer. Dalam perkembangan penelitian selanjutnya, DHARMA et al. (1985) berpendapat bahwa berdasarkan pada perubahan histopatologi, diduga JD disebabkan oleh herpesvirus yang bersifat onkogenik dan selanjutnya mereka mengusulkan agar JD dimasukkan kedalam kelompok malignant catarrhal fever komplek. Akhirnya,berdasarkan hasil pengamatan terhadap sifatsifat biologi dan morfologi dari agen penyebab JD ditetapkan disebabkan oleh virus dari keluarga retrovirus / Lentivirus (WILCOX et al., 1992), dapat bersifat perakut, akut atau subakut dan hanya bersifat fatal pada sapi Bali. Penyakit jembrana merupakan penyakit viral pada sapi, biasa ditemukan pada sapi bali, ditandai dengan berbagai gejala seperti depresi, anoreksia, demam, perdarahan ekstensif di bawah kulit dan kebengkakan kelenjar limfe terutama limfoglandula prefemoralis dan preskapularis serta adanya diare berdarah ditemukan juga pada banyak kasus penyakit yang disertai perdarahan kulit sehingga penyakit ini juga disebut sebagai penyakit keringat darah. Secara serologis virus ini bereksi silang terhadap antigen virus Bovine Immunodeficiency Virus (BIV), namun diketahui bahwa virus yang disebut terakhir ini umumnya bereaksi lambat dan secara klinis jarang ditemukan. (Akoso, 1996) Penyakit Jembrana merupakan penyakit viral yang bersifat akut dan kadang fatal pada sapi Bali. Selain diprovinsi Bali, kasus JD dilaporkan telah terjadi dibeberapa daerah di Indonesia seperti : Lampung, Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur (Hartaningsih , 2005).

Penelitian menetapkan bahwa patogenitas yang bertanggung jawab untuk penyakit Jembrana adalah satu retrovirus sapi (satu lentivirus). Ini ditetapkan dari pengamatan bahwa ada reaksi silang antara virus penyakit Jembrana (JDV) dan bovine imunodefisiensi virus (BIV). Dua protein, p26 protein dari Jembrana dan 26K protein kapsid dari BIV, bereaksi silang pada suatu pengujian Blot Western. Informasi mengenai penelitian ini ditransfer ke para rekan kerja Indonesia pada Unit penyelidikan penyakit sapi Bali di Denpasar. Para peneliti sekarang harus mengembangkan satu test untuk mendeteksi virus pada sapi untuk tujuan belajar bagaimana penyebaran penyakit. Sapi yang memerlukan perawatan juga perlu untuk dikenali. Famili Retroviridae dikelompokkan kedalam tujuh genus, hanya dua darinya, yaitu Lentivirus dan Spumavirus. Sifat Retrovirus: retrovirus merupakan salah satu golongan virus yang terdiri dari satu benang tunggal RNA (bukannya DNA). Setelah menginfeksi sel, virus tersebut akan membentuk replika DNA dari RNA-nya dengan menggunakan enzim reverse transcriptase (Anonim, 2004). Virion retrovirus membulat, berdiameter 80-130 nm, dan mempunyai struktur 3 lapis yang unik. Lapisan tengah merupakan kompleks genom-nukleoprotein, yang meliputi sekitar 30 molekul transkriptase balik dan mempunyai kesimetrian helix. Struktur ini terbungkus oleh kapsid iksahedra, yang selanjutnya dikelilingi oleh amplop asal membran sel inang dan dari sini mencuat peplomer glikoprotein. Genom Retrovirus adalah unik diantara genom virus dalam berbagai hal. Genom tersebut merupakan satu-satunya genom diploid. Genom tersebut merupakan satu-satunya RNA virus yang disintesis dan diproses oleh mesin pengolah mRNA dari sel inang. Genom tersebut merupakan satu-satunya genom yang berkaitan dengan tRNA khusus yang berfungsi mempersiapkan replikasi. Beberapa Retrovirus menyebabkan tumor ganas, terutama leukemia dan sarkoma. Virus dari genus Lentivirus menyebabkan penyakit saraf dimielinasi yang lambat, arthritis, penyakit lesu kronis yang umum atau AIDS. Lentivirus barbeda dengan retrovirus lainnya dalam struktur rinci genomnya, yang mengandung beberapa daerah pengatur yang tidak dijumpai pada retrovirus lain dan dalam morfogenesis dan morfologi virionnya. Membran plasmanya sangat menebal pada tempat penguncupan dan nukleokapsid dalam virion dewasa

terlihat sebagai silinder padat, seringkali dengan penumpukan materi pekat elektron pada satu ujungnya. Sifat lentivirus: dari banyak sifatnya termasuk stuktur virion dan siklus replikasi, lentivirus mirip dengan retrovirus lain, tetapi terdapat perbedaan yang penting. Nukleokapsid virionnya berbentuk silinder dan bukan ikosahedra. Genomnya lebih besar daripada genom retrovirus, sekitar 10kb, dan sebagai tambahan atas gen gag, pol dan env, terdapat enam gen kecil non stuktur yang tidak dijumpai pada retrovirus lain, yang mengatur berbagai kejadian dalam siklus respirasi. Gen pol dan env terpisah pada lentivirus mempunyai kesamaan satu sama lainnya tetapi tidak dengan retrovirus lain. Virus imunodefisiensi sapi diisolasi dari leukosit darah perifer pada 1972. genomnya sudah dipetakan danmirip dengan enom lentivirus lain. Virus ini dapat ditumbuhkan dalam biakan sel lapis tunggal dari berbagai jaringan embrio sapi, menghasilkan perubahan pada sel yang dicirikan oleh pembentukan sinsitium. Bila virus ditularkan kepada pedet melalui inokulasi intra vena segera terjadi leukopenia yang diikuti dalam waktu 15-20 hari oleh limfositosis yang menetap. Virus tetap hidup dalam sapi yang terinfeksi secara alami selama paling tidak 12 bulan. Tetapi belum diketahiu prevalensi infeksi maupunpengaruh ekonominya. (Fenner, 1993)

2.1 Penyebab Penyakit Jembrana (JD) Penyakit Jembrana dapat menyerang semua umur sapi Bali baik jantan maupun betina, dan hewan bunting lebih peka dari yang tidak bunting dan pada hewan bunting dapat mengakibatkan keguguran yang dapat mencapai 49% dan dapat terjadi pada semua stadium kebuntingan (PUTRA et al., 1981b). Pada saat terjadi wabah tingkat morbiditas dapat mencapai 65% dengan tingkat mortalitas sekitar 15% dan tingkat kematian penderita (case fatality rate) bisa mencapai 30% (PUTRA dan SULISTYANA, 1997; PUTRA, 2001). Lebih dari 90% kematian terjadi pada minggu pertama sejak munculnya gejala klinis (PUTRA et al., 1981a), dan hewan yang sembuh dari JD akan menjadi karier. Hewan karier ini diduga akan bertindak sebagai sumber penularan berikutnya yang terjadi secara intermiten tergantung pada stres. Karena penularan penyakit Jembrana di

lapangan dapat ditularkan secara mekanis melalui serangga pengisap darah maka tingkat insiden JD berkaitan dengan kedekatan hewan, makin banyak jumlah hewan dalam satu kandang maka tingkat infeksi juga semakin tinggi (PUTRA et al., 2003a,b; PUTRA dan SULISTYANA, 1997). Tingkat insiden JD juga dipengaruhi oleh peningkatan populasi serangga pengisap darah yang umumnya meningkat secara drastis pada saat musim hujan. Penyebab penyakit Jembrana adalah virus dari keluarga Retroviridae, sub-keluarga Lentivirinae. Penelitian yang telah banyak dikembangkan mendapatkan hasil bahwa virus yang menyebabkan penyakit Jembrana atau Jembrana Disease ini adalah virus baru dari grup Lentiviridae. Penemuan tentang virus penyebab jembrana ini menarik perhatian dunia dikarenakan virus penyebab penyakit ini satu kelompok dengan virus HIV penyebab AIDS pada manusia, yaitu virus dari keluarga Retroviridae, sub-keluarga Lentivirinae. Penularan penyakit Jembrana ini terjadi secara mekanis dapat terjadi melalui gigitan lalat, misalnya Tabanus rubidus atau dengan perantara jarum suntik. Ada banyak bukti yang menunjang bahwa virus jembrana merupakan virus yang menyebabkan imunodefisiensi pada khususnya sapi bali.
2.2 Penyebaran Penyakit Jembrana (JD)

Wabah pertama terjadi tahun 1964 1967 dikabupaten Jembrana, Gianyar, Klungkung, Badung, Tabanan, dan Buleleng adalah wabah terbesar. Daerah yang pernah melaporkan adanya wabah akan menjadi daerah enzootic yang mengalami kasus sporadik sepanjang tahun. Penyakit Jembrana ini pernah mewabah di di Sumatera Barat pada tahun 1992 di desa Timpeh Kab. Sijunjung yang sekarang sudah termasuk ke Kab. Dharmasraya. Sejak itu secara serologis Jembrana telah menyebar di beberapa Kabupaten di Sumatera Barat. Pada tahun 1999 penyakit ini muncul di desa Transad Kec. Pancung Soal Kabupaten Pesisir Selatan. Upaya Penanggulangan penyakit Jembrana (JD) ini pernah dilakukan vaksinasi pada tahun 2000, 2003 dan 2004, vaksin yang digunakan adalah vaksin virus Jembrana yang berasal dari plasma dan lympa yang dinaktfikan dengan Triton X 100 yang merupakan produksi BPPV VI Denpasar Bali.

Pada Tahun 2005 Dinas Peternakan Propinsi Sumatera Barat sudah pernah melalukan Surveilance Penyakit Jembrana di beberapa Kabupaten, meliputi : Kab. Sijunjung, Kab. Pasaman, Kab. Agam dan Kab. Pesisir Selatan. Dari hasil diagnosa BPPV Regional V Bali ternyata dari 500 sampel yang diperiksa ternyata positif secara serologis sebanyak 120 sampel, yaitu di Kab. Sijunjung (27 ekor), Kab. Pasaman (24 ekor), Kab. Agam (28 ekor) dan Kab. Pesisir Selatan (41 ekor). Namun sejak tahun 2005 sampai 2008 belum pernah lagi dilakukan surveilance penyakit tersebut, sehingga tidak diketahui lagi secara pasti insidensi serta penyebaran penyakit tersebut akhir-akhir ini di daerah Sumatera Barat. Kemudian berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan surveillance penyakit jembrana yang dilakukan oleh Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat tahun 2009 ini ternyata dari 500 sampel yang diambil dari 5 (lima) kabupaten di Sumatera Barat, yaitu : Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Sijunjung, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Agam dan Kabupaten Pasaman Barat, ternyata 172 sampel diantaranya dinyatakan positif secara serologis berdasarkan hasil diagnosa Balai Besar Veteriner Regional V Denpasar, Bali. Sampel yang dinyatakan positif serologis dari Kabupaten Dharmasraya adalah sebanyak 57 sampel dari 100 sampel dan keseluruhannya berasal dari Desa Pinang Makmur, Kecamatan Timpeh. Sampel yang dinyatakan positif serologis dari Kabupaten Sijunjung adalah sebanyak 9 sampel dari 50 sampel dan sample yang positif tersebut berasal dari Kecamatan Kamang Baru, yaitu Nagari Kunangan Parik Rantang (3 sampel), Nagari Sei Betung (3 sampel) dan Nagari Maloro (3 sampel). Sampel yang dinyatakan positif serologis dari Kabupaten Pesisir Selatan adalah sebanyak 43 sampel dari 150 sampel dan sample yang positif berasal dari Desa Tanjung Beringin, Kecamatan Lunang Silaut (13 sampel), Kecamatan Padang Laban, yaitu Nagari Padang Sirih (8 sampel) dan Nagari Koto Ampalu (3 sampel) dan Kecamatan Lengayang/Sutera, yaitu Nagari Koto Raya (2 sampel), Nagari Seberang Tarok (1 sampel), Nagari Sikabu (2 sampel), Nagari Pasir Nan Panjang (6 sampel), Nagari Koto Raya (4 sampel) dan Nagari Tanjung Gadang (4 sampel). Sampel yang dinyatakan positif serologis dari Kabupaten Agam adalah sebanyak 46 sampel dari 100 sampel dimana keseluruhan sample yang positif tersebut berasal dari Nagari Tiku Utara Kecamatan Tanjung Mutiara, yaitu Jorong Cacang Randah (17 sampel), Jorong Cacang Tinggi (5 sampel), Jorong Bukit Malintang (1 sampel), Jorong Aia Duku (20 sampel) dan Jorong Kubu Anau (3 sampel). Sedangkan Sampel yang dinyatakan positif serologis dari Kabupaten Pasaman Barat adalah sebanyak 17 sampel dari 100 sampel dan sample yang positif

tersebut berasal dari Jorong Transkoto Jaya, Kecamatan Sungai Aur (1 sampel) dan Jorong Mahakarya, Kecamatan Luhak Nan Duo (15 sampel), yaitu Kampung 1 (1 sampel), kampung 2 (5 sampel), kampung 4 (4 sampel), kampung 5 (5 sampel) dan Nagari Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pesisir (1 sampel). Dengan demikian masih sangat perlu dilakukan surveilance penyakit jembrana kembali pada tahun tahun berikutnya. Cara penularan sampai sekarang belum diketahui dengan pasti, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa penyemprotan dengan pestisida dapat mencegah perluasan wabah yang berarti bahwa vektor mempunyai peranan dalam penularan penyakit. Penularan penyakit Jembrana ini terjadi secara mekanis dapat terjadi melalui gigitan lalat, misalnya Tabanus rubidus atau dengan perantara jarum suntik. Data yang sampai sekarang ada, menunjukkan angka sakit yang rendah (lebih kurang 1%) dan angka mati kasus (case fatality rate) 10-13%. Angka ini bisa meningkat mencapai 40% pada daerah yang baru pertama kali terkena wabah/ dan pada wabah di daerah yang sangat padat populasinya. Sapi yang menderita penyakit Jembrana boleh dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi. Bangkai sapi yang terserang penyakit Jembrana harus dimusnakan dengan dikubur atau dibakar. Kandang dan lingkungannya harus didesinfeksi secara teliti.

2.3 Gejala Penyakit Jembrana (JD) Gejala Klinis, diantaranya : Hewan yang terserang penyakit ini menunjukkan kenaikan suhu badan yang tinggi, berkisar 40-42C, disertai kelesuan dan kehilangan nafsu makan. Tanda-tanda ini disusul dengan pengeluaran ingus berlebihan, lakrimasi, hipersalivasi. Pada awal pengeluaran ingus bersifat encer dan bening, akan tetapi lambat laun ingus itu berubah menjadi kental seperti cairan mukos. Gejala selanjutnya ialah pembengkakan dan pembesaran kelenjar limfe superfisial yang pertama-tama membengkak ialah kelenjar limfe preskapularis, lalu kelenjar limfe ini bersifat bilateral dan ukuran besarnya dapat sebesar tinju orang dewasa, sehingga perubahan ini mudah sekali dilihat dari jarak jauh. Di samping itu hewan yang menderita menunjukkan perdarahan dan erosi di bagian selaput lender di sekitar lubang hidung, bagian dorsal lidah dan rongga mulut. Pada yang akhir ini biasanya lesi ditemukan di selaput lender bagian dalam pipi, bibir atas dan

bawah dan gusi rahang atas atau bawah. Jaringan yang mati ini mudah dikelupas dan meninggalkan luka yang merah dasarnya bergranulasi. Perdarahan-perdarahan yang berbentuk linear sekali-sekali ditemukan pada mukosa bagian bawah pangkal lidah. Perdarahan ini dengan mudah dilihat bila lidah ditarik keluar. Perdarahan ini hanya bisa dilihat saat hewan masih hidup, saat mati tidak lagi. Salah satu gejala yang paling mencolok adalah berkeringat darah. Keadaan ini biasanya terlihat saat setelah demam dan berlangsung 2-3 hari lamanya. Saat tubuh bersuhu 41C maka akan mengalami gejala seperti ini. Gejala ini terutama ditemukan di daerah panggul, punggung, tungkai, perut, dan skrotum. Keringat ini encer seperti air dan berwarna merah darah bilamana masih segar dan menetes dari permukaan kulit melalui sepanjang bulu rambut. Bila keringat ini menjadi kering, maka ia tertinggal menempel pada batang rambut sebagai kerak berbintil-bintil dan tidak melepas bila diusap dengan tangan. Bulu hewan menjadi kasar, kurang mengkilat dan berdiri. Ritme laju pernapasan dan denyut nadinya menjadi lebih cepat. Biasanya saat demam akan muncul konstipasi dan setelah suhu kembali normal akan terjadi mencret yang hilang timbul. Saat konstipasi, bentuk feses padat dank eras disertai bekuan darah. Bila mencret maka feses berbentuk cair, berbau tajam tidak enak, dan biasanya juga disertai bekuan darah atau darah segar dan biasanya disertai juga oleh prolapses recti. Gejala lain yang sering terlihat ialah perdarahan pada selaput lendir alat kelamin. Kemerahan dan perdarahan juga dapat ditemukan pada selaput lendir mata. Kaki yang pincang kelihatan sedikit membengkak karena edema dan hiperemi di daerah zona koronaria. Bila bengkak yang disentuh dan ditekan, maka hewan itu menunjukkan kesakitan. Sapi betina bunting yang menderita penyakit ini sering mengalami keguguran, terutama pada trisemester awal atau pada usia 4 bulan kebuntingan. Hewan yang terserang penyakit ini biasanya berumur lebih dari 1 tahun. Penyakit jembrana ini bukan lagi suatu penyakit yang menyebabkan kematian tapi kadang-kadang dapat sembuh secara spontan. Sedangkan menurut Tribunlampung.co.id gejala klinis pada penyakit Jembrana, dapat dilihat dari tanda-tanda sapi yang mengalami depresi, nafsu makan menurun, diikuti dengan diare encer

berdarah. Gejala lainnya, seperti erosi pada selaput lendir mulut dan gusi, serta keluarnya air liur berlebihan. Selain itu, keringat berdarah pada punggung, perut, dan kaki yang terjadi akibat gigitan serangga pengisap darah, juga dapat dijadikan acuan. 2.4 Pencegahan Penyakit Jembrana (JD) Sampai saat ini belum diketahui adanya kemoterapetika yang dapat membunuh virus jembrana. Biasanya infeksi ikutan oleh kuman selalu terjadi, pengobatan ditujukan terhadap infeksi sekunder tersebut dengan menggunakan antibiotika berspektrum luas. Selain pemberian robonsia dan cairan elektrolit perlu dipertimbangkan. Pengendalian saat ini digunakan vaksin jembrana, yang dipersiapkan dari plasma hewan yang diinfeksi secara buatan. Vaksin yang sekarang beredar di pasaran adalah vaksin yang diproduksi oleh BCDIU Denpasar. Selama ini pencegahan dilakukan dengan vaksin dari Crude vaccine berasal dari organ limfa sapi Bali terserang akut penyakit Jembrana Crude vacinne mempunyai daya imunogenitas rendah, tidak stabil, mahal, dan keberadaannya terbatas atau inbalance antara volume vaksin dengan jumlah populasi sapi Bali. Pengembangan vaksin Jembrana oleh karenanya dirasa perlu untuk meningkatkan mutu dan kualitas vaksin Jembrana Guna memenuhi keperluan ini pendekatan dengan teknologi DNA rekombinan utamanya pada protein rekombinan adalah terobosan yang tepat untuk penyediaan vaksin Jembrana berbasis molekuler. Sebagai bahan vaksin rekombinan digunakan potongan gen yang berasal dari genom virus Jembrana. Diketahui bahwa Genom JDV berupa RNA untai tunggal yang terdiri atas 7.732 nukleotida. Di dalam genom JDV terdapat salah satu gen, yaitu tat yang merupakan asesoris kecil dan Genom JDV terletak antara pol dan env. Selain itu terdapat pula gen env yang dapat menyandi protein rekombinan JSU dan JTM. Sementara ini telah di kloning protein Jtat dengan Sistem pET yang mempunyai fusi protein berukuran 6 histidin. Ukuran fusi-protein yang sangat kecil ini menjadikan protein rekombinan Jtat yang dihasilkan mempunyai efikasi tinggi. Sistem ekspresi melalui E. coli BL-21 saat ini sedang diuji dalam skala laboratorium (200 ml kultur). Keberhasilan kloning JTat sebagai vaksin rekombinan Jembrana ini akan mendorong untuk perakitan clone dari sumber gen env (JSU dan JTM) sebagai bahan vaksin rekombinan Jembrana lainnya.

Pengobatan dan pengendalian dapat ditolong dengan penyuntikan antibiotik yang berdaya kerja luas. Untuk pencegahan penyakit ini dapat dilakukan penyemprotan vektor dan pemberian vaksinasi. Sapi yang menderita penyakit Jembarana boleh dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi. Bangkai sapi yang terserang penyakit Jembrana harus dimusnakan dengan dikubur atau dibakar. Kandang dan lingkungannya harus didesinfeksi secara teliti.

BAB III KESIMPULAN Berdasarkan sejarah epidemiologi penyakit, gejala klinis, dan pemeriksaaan laboratorium maka diketahui sapi Bali terinfeksi virus Jembrana dan BVD. Kasus JD yang terjadi tidak ganas karena di Petung sudah pernah terinfesi penyakit. Kasus BVD yang terjadi tidak secara klinis muncul akan tetapi bias berbahaya ketika kondisi turun dan bias menjadi klinis. Penyakit JD yang terjadi juga bersifat akut maka kejadian dari lapangan adalah penyakit yang sudah bercampur. Penyakit JD merupakan penyakit yang berakibat kematian bagi sapi Bali yang bersifat immunosupresif akan membuka peluang terjadinya penyakit lain seperti BVD, sehingga berakibat lebih buruk bagi ternak. Pencegahan yang paling efektif adalah dengan vaksinasi secara rutin.

DAFTAR PUSTAKA ADIWINATA T. 1967 Some informative notes on a rinderpest-like disease on the island of Bali. OIE-FAO Conference on epizootics in Asia. AKOSO, B.T. dan SIREGAR, H.M.G. 1984. Penyidikan wabah brucellosis di Provinsi Sulawesi Utara. Laporan Tahunan Hasil Penyidikan Penyakit Hewan di Indonesia Periode tahun 1982-1983, Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan, Jakarta, hlm. 51 70. ANONIMUS. 2000. Hasil Survey Serologik Brucellosis di Kabupaten Pesisir Selatan. Laporan Hasil Surveillance Brucellosis, Parasit Darah dan Mineral di Sumatera Barat, Riau dan Jambi Tahun Anggaran 1999/ 2000. BPPV Regional II Bukit Tinggi. DHARMA D. N., DARMADI P., SUDANA I. G. dan SANTHYA K. 1985. Komunikasi Singkat: Studi perbandingan penyakit Jembrana dan malignant catarrhal fever pada sapi Bali. Annual Report on Animal Disease Investigation in Indonesia During the Period of 1983 1984,. Directorate of Animal Health, Directorate General of Livestock Service, Jakarta Indonesia. pp. 77 81. HARDJOSWORO S. and BUDIARSO I. T. 1977. Jembrana disease of Bali breed cattle. Hemera Zoa 69: 69 70 (Abstract). HARTANINGSIH N., SOEHARSONO S., SANTHIA K., DHARMA D. N., SUDANA G. and TJUPUANA I. N. 1985. Jembrana disease in Bali cattle. In Veterinary Viral Diseases: Their significance in South East Asia and Western Pacific. Academic Press, Sydney, pp. 529 531. PRANOTO R. A. and PUDJIASTONO. 1967. An outbreak of highly infectious disease in cattle and buffaloes on the island of Bali. Folia Veterinariae Elveka 1: 10 53. PUTRA A. A. G. 2003. Peranan hewan karier penyakit Jembrana dalam penularan penyakit di lapangan. Buletin Veteriner XV (63): 27 33.

RAMACHANDRAN S. (1981) FAO-UNDP Final Report, BPPV VI Denpasar. RESSANG A. A., BUDIARSO I. T. and SOEHARSONO S. 1985. Jembrana disease. Its similarity to bovine ehrlichiosis. Workshop on Diseases Caused by Leucocytic Rickettsiae of Man and Animals. July 1985, University of Illinois, Urbana Champaign, Illinois. SULISTIYANA K. dan PUTRA A. A. G. (1992) Usaha transmisi penyakit Jembrana melalui Boophilus microplus. Seminar Parasitologi Nasional VII dan Kongres P4I. 23 25 Agustus 1993 Denpasar Bali. TEUSCHER E., RAMACHANDRAN S. and HARDING H. P. 1981. Observations on the pathology of Jembrana disease in Bali cattle. Zentralblatt fur Veterinarmedizine Reiche A. 28: 608 622. WILCOX G. E., KERTAYADNYA G., HARTANINGSIH N., DHARMA D. M. N., SOEHARSONO S. and ROBERTSON T. 1992. Evidence for viral aetiology of Jembrana disease in Bali cattle. Veterinary Microbiology 33: 367 374. Sumber Internet : http://lampung.tribunnews.com/2012/05/02/ini-dia-gejala-klinis-penyakit-jembrana-html. Di akses pada Senin 14 Oktober 2013 pukul 13.00 WIB. Bengkulu. http://blog.ub.ac.id/adhikarp/2012/10/21/penyakit-jembrana/ Di akses pada Senin 14 Oktober 2013 pukul 13.00 WIB. Bengkulu.

LAMPIRAN Gambar ternak yang terkena penyakit Jembrana :