Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Akal adalah potensi berharga yang diberikan Allah SWT hanya kepada manusia, anugerah tersebut diberikan Allah SWT untuk membekali manusia yang mengemban misi penting menjadi khalifah fil ardi, dengan kata lain manusia sebagai duta kecil Allah SWT. Dengan adanya akal manusia mampu melaksanakan tugas tersebut dengan baik, dan dapat menemukan kebenaran yang hakiki sebagaimana pendapat Mutazilah yang mengatakan segala pengetahuan dapat diperoleh dengan akal, dan kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam sehingga manusia sebetulnya ada wahyu atau tidak tetap wajib bersyukur kepada Allah SWT, dan manusia wajib mengetahui baik dan buruk; indah dan jelek; bahkan manusia wajib mengetahui Tuhan dengan akalnya walaupun wahyu belum turun K e d u d u k a n a k a l d a n w a h yu d a l a m I s l a m m e n e m p a t i p o s i s i y a n g s a n g a t t e r h o r m a t , m e l e b i h i agama-agama lain. karena Akal dan wahyu adalah suatu yang sangat urgen untuk manusia, dialah yang memberikan perbedaan manusia untuk mencapai derajat ketaqwaan kepada sang kholiq, akal pun harus dibina dengan ilmu-ilmu sehingga mnghasilkan budi pekrti yang sangat mulia yang menjadi dasar sumber kehidupan dan juga tujuan dari baginda rasulullah SAW. Tidak hanaya itu dengan akal juga manusia bisa menjadi ciptaan pilihan yang allah amanatkan untuk menjadi pemimpin di muka bumi ini, begitu juga dengan wahyu yang dimana wahyu adalah pemberian allah yang sangat luar biasa untuk membimbing manusia pada jalan yang lurus. Namun dalam menggunakan akal terbatas akan hal-hal bersifat tauhid, karena ketauhitan sang pencipta tak akan terukur dalam menemukan titik ahir, begitu pula dengan wahyu sang Esa, karena wahyu diberikan kepada orang-orang terpilih dan semata-mata untuk menunjukkan kebesaran Allah. Maka dalam menangani anatara wahyu dana akal harus slalu mengingat bahwa semua itu karna allah semata. Dan tidak akan terjadi jika allah tak mengijinkannya. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kemusyrikan terhadap allah karena kesombongannya.

B. Rumusan Masalah Definisi dan fungsi wahyu Akal dan peranannya Relevansi wahyu dan akal

C. Tujuan penulisan Memahami akan fungsi akal dan wahyu Memahami tentang konsep integralitas akal dan wahyu Memahami reevansi akal dan wahyu

BAB II PEMBAHASAN

A. Wahyu 1. Definisi Wahyu Wahyu berasal dari bahasa Arab al-wahy yang berarti suara, api, dan kecepatan. Di samping itu kata ini juga berarti bisikan, isyarat, tulisan, dan kitab. Alwahy selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat. Tetapi, kata ini lebih dikenal sebagai apa yang disampaikan Tuhan kepada Nabi nabi-Nya. Ada tiga cara penyampaian wahyu. Yang pertama, melalui jantung hati seseorang dalam bentuk ilham, kedua, dari belakang tabir seperti yang pernah dialami oleh Nabi Musa, dan yang ketiga, melalui utusan yang dikirim dalam bentuk malaikat seperti yang pernah di alami oleh Nabi Muhammad SAW.

2. Fungsi Wahyu Wahyu berfungsi memberi informasi bagi manusia. Yang dimaksut memberi informasi disini yaitu wahyu memberi tahu manusia, bagaimana cara berterima kasih kepada tuhan, menyempurnakan akal tentang mana yang baik dan yang buruk, serta menjelaskan perincian upah dan hukuman yang akan di terima manusia di akhirat. Sebenarnya wahyu secara tidak langsung adalah senjata yang diberikan allah kepada nabi-nabiNYA untuk melindungi diri dan pengikutnya dari ancaman orangorang yang tak menyukai keberadaanya. Dan sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan sang pencipta yaitu Allah SWT. Memang sulit saat ini membuktikan jika wahyu memiliki kekuatan, tetapi kita tidak mampu mengelak sejarah wahyu ada, oleh karna itu wahyu diyakini memiliki kekuatan karena beberapa faktor antara lain: 1) 2) 3) 4) 5) Wahyu ada karena ijin dari Allah, atau wahyu ada karena pemberian Allah. Wahyu lebih condong melalui dua mukjizat yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Membuat suatu keyakinan pada diri manusia. Untuk memberi keyakinan yang penuh pada hati tentang adanya alam ghaib. Wahyu turun melalui para ucapan nabi-nabi.

B. Akal 1. Definisi Akal Kata akal sudah menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab al-Aql (), yang dalam bentuk kata benda. Al-Quran hanya membawa bentuk kata kerjanya aqaluuh ( )dalam 1 ayat, taqiluun ( )24 ayat, naqil ( )1 ayat, yaqiluha ( )1 ayat dan yaqiluun ( )22 ayat, kata-kata itu datang dalam arti faham dan mengerti. Maka dapat diambil arti bahwa akal adalah peralatan manusia yang memiliki fungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuanya sangat luas. Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana pun kata aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Sedangkan Muhammad Abduh berpendapat bahwa akal adalah: sutu daya yang hanya dimiliki manusia dan oleh karena itu dialah yang memperbedakan manusia dari mahluk lain. Akal dalam istilah mempunyai makna yang bermacam-macam dan banyak digunakan dalam kalimat majemuk, dibawah ini macam-macam akal, antara lain: 1. Akal instink: Akal manusia di awal penciptaannya, yakni akal ini masih bersifat potensi dalam berpikir dan berargumen; 2. Akal teoritis: Akal yang memiliki kemampuan untuk mengetahui sesuatu yang ada dan tiada (berkaitan dengan ilmu ontology), serta dalam hal tindakan dan etika mengetahui mana perbuatan yang mesti dikerjakannya dan mana yang tak pantas dilakukannya (berhubungan dengan ilmu fiqih dan akhlak). 3. Akal praktis: Kemampuan jiwa manusia dalam bertindak, beramal dan beretika sesuai dengan ilmu dan pengetahuan teoritis yang telah dicerapnya . 4. Akal dalam istilah teologi bermakna proposisi-proposisi yang dikenal dan niscaya diterima oleh semua orang karena logis dan riil. 5. Juga akal dalam istilah teologi bermakna proposisi-proposisi yang pasti dalam membentuk premis-premis argumen dimana meliputi proposisi badihi (jelas, gamblang) dan teoritis. 6. Akal substansi: sesuatu yang non materi dimana memiliki zat dan perbuatan. Tentu yang kita maksudkan dalam pembahasan agama dan akal disini adalah akal yang berfungsi dalam argumentasi dan burhan dimana didasarkan atas proposisiproposisi yang pasti dan jelas, sehingga nantinya dapat diketahui bahwa pengetahuan-

pengetahuan yang bersifat pasti dan filosofis (argumentasi filsafat) tidak memiliki kontradiksi dengan doktrin-doktrin suci agama.

2. Fungsi Akal Akal banyak memiliki fungsi dalam kehidupan, antara lain: 1. 2. 3. Sebagai tolak ukur akan kebenaran dan kebatilan. Sebagai alat untuk menemukan solusi ketika permasalahan datang. Sebagai alat untuk mencerna berbagai hal dan cara tingkah laku yang benar. Dan masih banyak lagi fungsi akal, karena hakikat dari akal adalah sebagai mesin penggerak dalam tubuh yang mengatur dalam berbagai hal yang akan dilakukan setiap manusia yang akan meninjau baik, buruk dan akibatnya dari hal yang akan dikerjakan tersebut. Dan Akal adalah jalan untuk memperoleh iman sejati, iman tidaklah sempurna kalau tidak didasarkan akal iman harus berdasar pada keyakinan, bukan pada pendapat dan akalah yang menjadi sumber keyakinan pada tuhan. Dalam Al-Quran kata yang digunakan untuk menggambarkan kegiatan berfikir tidak hanya aqala, tetapi juga nadzara, tadabbara, tafakkara, faqiha, tazakkara, dan fahima. Akal terbagi menjadi dua bagian : a. Akal praktis (Aamilah) yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indera pengingat yang ada pada jiwa binatang. b. Akal teoritis (Aalimah) yang menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan Malaikat.

Akal praktis memutuskan perhatian kepada alam materi, menangkap kekhususan. Akal teorotis sebaliknya bersifat metafisis, mencurahkan perhatian kepada dunia materi dan menangkap keumuman (kulliat universals). Akal praktis memutuskan perhatian kepada alam materi, menangkap kekhususan. Akal teorotis sebaliknya bersifat metafisis, mencurahkan perhatian kepada dunia materi Akal dan teoritis menangkap mempunysi keumuman empat derajat (kulliat antara universals). lain :

a. Akal Materil (Al-aqli al-hayulani), yang merupakan potensi belaka, yaitu akal yang kesanggupannya untuk menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah ada dalam alam materi.akal ini belum keluar, jadi harus dicari dan diciptakan. b. Akal bakat (al-aqli bil malakah), yaitu akal yang kesanggupannya berfikir secara murni abstrak telah mulai kelihatan. Ia telah dapat menangkap pengertian dan kaidah umum. Akal ini sudah tercipta tinggal manusianya yang mengembangkan. c. Akal aktuil (al-aqlli bil al-fili) yaitu akal yang telah dan lebih mudah dan lebih

banyak dapat menangkap pengertian dan kaidah dimaksud. Akal aktuil ini merupakan gudang bagi arti-arti abstrak itu, yang dapt dikeluarkan setiap kali dikehendaki. d. Akal perolehan (Al-aqli al-mustafad), yaitu akal yang didalamnya arti-arti abstrak tersebut selamanya sedia untuk dikeluarkan dengan mudah sekali. Akal ini adalah milik para Nabi dan rasul Allah.

C. Relevansi Wahyu dan Akal Kedudukan antara wahyu dalam islam sama-sama penting. Karena islam tak akan terlihat sempurna jika tak ada wahyu maupun akal. Dan kedua hal ini sangat berpengaruh dalam segala hal dalam islam. Dapat dilihat dalam hukum islam, antar wahyu dan akal ibarat penyeimbang. Andai ketika hukum islam berbicara yang identik dengan wahyu, maka akal akan segerah menerima dan mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut sesuai akan suatu tindakan yang terkena hukum tersebut.karena sesungguhnya akal dan wahyu itu memiliki kesamaan yang diberikan Allah namun kalau wahyu hanya orang-orang tertentu yang mendapatkanya tanpa seorangpun yang mengetahu, dan akal adalah hadiah terindah bagi setiap manusia yang diberikan Allah. Dalam Islam, akal memiliki posisi yang sangat mulia. Meski demikian bukan berartiakal diberi kebebasan tanpa batas dalam memahami agama. Islam memiliki aturan untuk menempatkan akal sebagaimana mestinya. Bagaimanapun, akal yang sehat akan selalucocok dengan syariat islam dalam permasalahan apapun. Dan W a h yu b a i k b e r u p a A l - q u r a n d a n H a d i t s b e r s u m b e r d a r i A l l a h S W T , p r i b a d i N a b i Muhammad SAW yang menyampaikan wahyu ini, memainkan peranan yang sangat penting dalam turunnya wahyu. Wahyu mmerupakan perintah yang berlaku umum atas seluruh umat manusia, tanpamengenal ruang dan waktu, baik perintah itu disampaikan dalam bentuk umum ataukhusus. A p a ya n g d i b a w a o l e h w a h yu t i d a k a d a y a n g b e r t e n t a n g a n d e n g a n a k a l , b a h k a n i a sejalan dengan prinsip-prinsip akal. Wahyu itu merupakan satu kesatuan yang lengkap, tidak terpisah pisah.W a h yu i t u m e n e g a k k a n h u k u m m e n u r u t k a t e g o r i p e r b u a t a n m a n u s i a . b a i k p e r i n t a h maupun larangan. S e s u n g g u h n ya w a h yu y a n g b e r u p a a l - q u r a n d a n a s - s u n n a h t u r u n s e c a r a b e r a n g s u r - angsur dalam rentang waktu yang cukup panjang Namun tidak selalu mendukung antara wahyu dan akal, karena seiring perkembangan zaman akal yang semestinya mempercayai wahyu adalah sebuah anugrah dari Allah terhadap orang yang terpilih, terkadang mempertanyakan keaslian

wahyu tersebut. Apakah wahyu itu benar dari Allah ataukah hanya pemikiran seseorang yang beranggapan smua itu wahyu. Seperti pendapat Abu Jabbar bahwa akal tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari pada upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik lain, demikian pula akal tak mengetahui bahwa hkuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. Semua itu hanya dapat diketahui dengan perantaraan wahyu. Al-Jubbai berkata wahyulah yang menjelaskan perincian hukuman dan upah yang akan diperoleh manusia di akhira Karena Masalah akal dan wahyu dalam pemikiran kalam sering dibicarakan dalam konteks, yang manakah diantara kedua akal dan wahyu itu yang menjadi sumbr pengetahuan manusia tentang tuhan, tentang kewajiban manusia berterima kasih kepada tuhan, tentang apa yang baik dan yang buruk, serta tentang kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk. Maka para aliran islam memiliki pendapat sendiri-sendiri. Nasiruddin Thusi berkata, Baik dan buruk dalam mizan akal (husn wa qubh al-aql) secara mutlak tertegaskan, karena keduanya berkaitan erat dalam keberadaan dan keabsahan syariat. Artinya jika akal tidak dapat menetapkan kebaikan dan keburukan, maka syariat juga tak dapat ditetapkan, karena bohong misalnya jika menurut akal hal iut tidaklah buruk, maka manusia tidak bisa menilai perkataan jujur para Nabi-nabi as adalah baik. Manusia juga tak dapat mengetahui bahwa para Nabi dan Rasul as pasti tidak bohong. Jika manusia mengetahui dari syariat bahwa para nabi pasti berkata jujur dan kejujuran adalah sifat yang mulia, maka muncul masalah bahwa syariat yang belum diketahui apakah hasil dari perkataan jujur atau bohong, sehingga dipercayai kejujuran dan kebenarannya. Yang pasti jika baik dan buruk dalam pandangan akal dinafikan, maka sangat banyak hal dan masalah yang dipertanyakan keabsahan dan kebenarannya, syariat itu sendiri. Tak dapat diragukan dan dipungkiri bahwa akal memiliki kedudukan dalam wilayah agama, yang penting dalam hal ini adalah menentukan dan menjelaskan batasan batasan akal , sebab kita meyakini bahwa hampir semua kaum muslimin berupaya dan berusaha mengambil manfaat akal dalam pengajaran agama dan penjelasan keyakinan agama secara argumentatif. Misalkan kita ambil contoh filosof muslim Al-Kindi dia berupaya menerangkan kesesuaian antara akal dan wahyu. Menurut keyakinan dia, jika filsafat adalah ilmu yang mendalami hakikat-hakikat realitas sesuatu, maka mengingkari filsafat identik mengingkari hakikat sesuatu, yang pada akhirnya menyebabkan ketidaksempurnaan pengetahuan. Oleh sebab itu tidak

ada kontradiksi secara lahiriah antara wahyu dan pandangan-pandangan fisafat . maka solusinya adalah melakukan penafsiran dan tawil terhadap teks-teks suci Al-Quran. Fungsi akal, sebagai daya fikir yang ada dalam diri manusia, sehingga apa yang ada dalam dunia ini ingin diketahui dengan kenyataan. Bahkan terkadang kita selalu berfikir keras untuk sampai kepada Tuhan. Fungsi wahyu, sebagai penjabaran dari alam metafisika dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajibankewajiban manusia terhadap Tuhan. Karena kita tidak bisa menafsirkan, menjelaskan, menerjemahkan maksud dan kandungan dari wahyu tanpa adanya akal. Akalpun akan rusak tak terkendali tanpa adanya wahyu, jadi wahyu berperan untuk mengontrol akal Dalam kajian ini perlu di mengerti bahwa hubungan antara akal dan wahyu dalam koridor manusia sebagai makhluk yang diciptakan hanya untuk berpikir tentang hasil ciptaan maha kuasa bukan yang menciptakan. Jadi peran akal dalam koridor manusia sebagai alat untuk mempertimbangkan hal hal yang bersifat material bukan hal gaib yang dimana keterbatasan akal manusia untuk sampai kehalhal yang seperti itu. Tetapi hal ini juga perlu di tegaskan lagi bahwa peran fitrah akal untuk berpikir bebas tidak bisa dipungkiri untuk memikirkan hal- hal yang bersifat metafisik. Jika kita tinjau hubungan antara muatan wahyu dan proposisi akal, maka hubungan tersebut bisa dibagi menjadi tiga bagian: 1. Muatan wahyu sesuai dengan akal; 2. Muatan wahyu lebih tinggi dari akal; 3. Muatan wahyu kontradiksi dengan akal. Menurut keyakinan Mulla Sadra, wahyu hakiki dan pesan hakiki Tuhan tidak kontradiksi dengan proposisi akal (bagian ketiga). Dalam tinjauan tersebut, dia berkata, Maka kami bawakan dalil kuat yang berkaitan dengan topik ini, sehingga diketahui bahwa syariat dan akal memiliki kesesuaian sebagaimana dalam hikmahhikmah lainnya, dan mustahil syariat Tuhan yang benar dan hukum-hukum-Nya berbenturan dan bertentangan dengan makrifat-makrifat akal dan argumentasi rasional, dan binasa bagi filsafat yang teori-teorinya tak sesuai dengan kitab suci Tuhan dan sunnah Nabi-Nya.Menurut Mulla Sadra, hukum-hukum agama yang penuh dengan cahaya suci Tuhan mustahil bertentangan dan bertolak belakang dengan pengetahuan-pengetahuan universal akal, filsafat yang benar tak mungkin teori-teorinya bertentangan dengan kitab suci Tuhan dan sunnah Nabi-Nya. Dia berkeyakinan bahwa filsafat yang benar dan hakiki adalah filsafat yang memiliki korelasi dengan wahyu suci Tuhan. Secara prinsipil, para filosof yang perkataannya menyalahi agama bukanlah filosof hakiki. Dia berkata, Dan barang siapa yang

agamanya bukan agama yang dianut oleh para Nabi as, maka pada dasarnya dia tidak mendapatkan sedikitpun bagian dari hikmah (filsafat hakiki). Artinya, para filosof yang agamanya bukan agama para Nabi as, maka dia tidak mengambil manfaat sama sekali dari filsafat. Dari perkataan Mulla Sadra di atas, dapat disimpulkan bahwa dia berusaha - dengan pandangan-pandangan argumentatif - membela gagasan kebersesuaian akal dan wahyu, filsafat dan syariat, dan menolak adanya kontradiksi diantara keduanya. M. Abduh mengatakan bahwa Al-Quran memerintahkan kita untuk berfikir dan menggunakan akal fikiran tentang gejala-gejala alam yang ada di depan kita dan rahasia-rahasia alam yang mungkin ditembus, untuk memperoleh keyakinan tentang apa yang ditunjukan Tuhan kepada kita. Al-Quran melarang kita untuk bertaqlid, sewaktu menceritakan tentang umat-umat yang terdahulu, yang dicela karena mereka merasa cukup mengikuti nenek moyang mereka. Kami yakin, bahwa agama islam adalah agama kesatuan (Tauhid) dalam segi-segi kepercayaan, bukan agama perpecahan dalam soal-soal pokok (prinsip). Akal pikiran menjadi kawan islam yang terkuat , dan dalil naqli menjadi tiangnya yang utama. Selain itu hanya keinginan syetan atau keinginan orang-orang yang mau berkuasa. Jadi menurutnya, wahyu dalam risalah Tuhan menjadii salah satu tanda kekuasaan Tuhan, dan akal juga menjadi salah satu tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam wujud ini. Akal sebagai daya berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada Tuhan, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metamorfisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajibankewajiban manusia terhadap Tuhan. Jadi antara akal dan wahyu tidaklah bertentangan. Keduanya harus harus difungsikan secara optimal sesuai dengan kedudukanya.

BAB III PENUTUP

Kesimpulan Banyak pendapat mengenai hubungan antara akal dan wahyu. Namun, yang prlu kita ketahui akal dan wahyu saling berkaitan. Keduanya saling mempengaruhi dan berkesinambungan. Akal digunakan untuk memahami teks wahyu dan tidak untuk menentang wahyu. Akal sebagai daya fikir yang ada dari dalam diri manusia, berusaha keras unntuk sampai kepada Tuhan, dan wahyu sebagai pengontrol akal agar tidak rusak dan tak terkendali. Setiap orang berhak mengutarakan pendapatnya, namun tidak semua pendapatnya bisa diterima oleh orang lain.

10

DAFTAR PUSTAKA

1. Nasution, Harun. 2009. Teologi Islam. Jakarta: Universitas Indonesia 2. Nasution, Harun, akal dan wahyu dalam iaslam, cet. Ke-II, Jakarta: UI Press. 1986. 3. Al-Syahrastani, A-Milal Wa Al-Nihal Aliran-aliran Teologi Dalam Islam, Bandung: Mizan. 1984. 4. Muthahhari, Syahid Murtadha. Neraca Kebenaran dan Kebatilan. Bogor: Cahaya. 1984. 5. A.Qadir. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam. Pustaka Obor Indonesia:Jakarta, 2002

11