Anda di halaman 1dari 84

1999olehCenter for International Forestry Research

DicetakolehSMKGrafikaMardiYuana, Bogor
Fotografi
Kumbang Pentatomidae olehPaul Zborowski
Perkebunanbambu oleh ChristianCossalter
Seorang biarawandi suatuhutankeramat, India olehPaul S. Sochaczewski
Anggrekhitam oleh Plinio Sist
Para penulis ingin menyatakan penghargaan kepada Herlina Hartanto, Herry
Purnomo, Daju Pradnja Resosudarmo, Rahayu Koesnadi, Agus Salim,
Abdurrahman Syebubakar, Meilinda Wan dan Yurdi Yasmi yang melakukan
pengecekan kualitas terjemahan seri perangkat ini, dan juga kepada Meiske D.
Tapilatu dan Dwiati Novita Rini yang melakukan pengecekan selama proses
persiapanpencetakan.
ISBN: 979-8764-41-2
Diterbitkanoleh
Center for International Forestry Research(CIFOR)
Alamat: POBox 6596JKPWB, Jakarta 10065, Indonesia
Telepon:+62-251-622622Fax:+62-251-622100
E-mail: cifor@cgiar.org
WWW: http://www.cgiar.org/cifor
Dengandukungandana dari
The EuropeanCommission
AnggaranB7-6021yang berkaitandengan HutanTropis
Brusel, Belgia
Deutsche Gesellschaft fr Technische Zusammenarbeit (GTZ) GmbH
Eschborn, Jerman
UnitedStatesAgency for International Development (USAID)
WashingtonD.C.,Amerika Serikat
Pencetakanedisi bahasa Indonesiaini sebagianbesar didanai oleh
kantor FordFoundationdi Indonesia.
Phyllostachys pubescense
Coelogyne pendurata

PANDUAN UNTUK MENEPAPKAN
ANALlSlS MULTlKPlTEPlA DALAM
MENlLAl KPlTEPlA DAN lNDlKATOP
9
PEPANCKAT KPlTEPlA DAN lNDlKATOP
Gu||ermo A. MenJoza Jan Ph| Macoun
Bersama
Rav Prabhu, DoJJy SukaJr
Herry Purnomo, Her|na Hartanto
Alih bahasa
Ani Kartikasari dan Rita Maharani
Seri Perangkat K&I
Perangkat Kcl No. 1 Panduan untuk Pengembangan, Pengujian dan Pemilihan
Kriteria dan lndikator untuk Pengelolaan Hutan lestari
rc||u, n., C|jer, C.l.. Jcn DuJ|e,, n.G.
Perangkat Kcl No. 2 Acuan Oenerik Kriteria dan lndikator CllR
T|m Kc Cn
Perangkat Kcl No. 3 Perangkat Modifikasi dan Adaptasi Kriteria dan lndikator
(CD-RM)
rc||u, n., Hc|:|, M., urnm, H., n|zc|, -., Su|cJr|,
D., Tc,|r, l. Jcn csm|, .
Perangkat Kcl No. 1 Sistem Basis Data Kriteria dan lndikator CllR
McDuc||, C., s|cJ|, .n., Scn:s, ., Cr|ess, M. Jcn
urnm, H. (eJ.)
Perangkat Kcl No. 5 Panduan Penilaian Dasar Kesejahteraan Manusia
C|jer, C.l.., rc||es|,, M.-., D|cu, C., l:ue, ., Gun:er,
M., Hcrue||, l., McDuc||, C., rr, |.M., rr, n.,
rc||u, n., Sc||m, -., ScrJn, M.-., Tc|||cnuc, ., T|cn|,
-.M., \cJ|e,, n.., \e|je|, l. Jcn \||en|er, l.
Perangkat Kcl No. 6 Panduan Pendamping Penilaian Dasar Kesejahteraan
Manusia
C|jer, C.l.., rc||es|,, M.-., D|cu, C., l:ue, ., Gun:er,
M., Hcrue||, l., McDuc||, C., rr, |.M., rr, n.,
rc||u, n., Sc||m, -., ScrJn, M.-., Tc|||cnuc, ., T|cn|,
-.M., \cJ|e,, n.., \e|je|, l. Jcn \||en|er, l.
Perangkat Kcl No. 7 Panduan Cara Pemberian Skor dan Analisis untuk Menilai
Kesejahteraan Manusia
Sc||m, -. Jcn C|jer, C.l.., Jencn McDuc||, C.
Perangkat Kcl No. o Siapa vang Perlu Diperhitungkan' Menilai Kesejahteraan
Manusia dalam Pengelolaan Hutan lestari
C|jer, C.l.., rc||u, n., Gun:er, M., McDuc||, C., rr,
|.M. Jcn rr, n.
Perangkat Kcl No. 9 Panduan untuk Menerapkan Analisis Multikriteria dalam
Menilai Kriteria dan lndikator
MenJzc, G.-., Jcn Mccun, . Jencn rc||u, n., Su|cJr|,
D., urnm, Jcn Hcr:cn:, H.
Perangkat Kcl No. 1O Metodologi untuk Menilai lndikator lkologis dalam
Pengelolaan Hutan lestari (Dalam Persiapan)
,).6)4 151
1. latar Belakang ................................................................................ 1
1.1 Pengguna Sasaran .................................................................... 1
1.2 Struktur Panduan .................................................................... 2
1.3 Kegunaan Panduan.................................................................. 1
2. Konsep-konsep vang Diterapkan: Kcl dan AMK......................... 7
2.1 1injauan Kerangka Konsep untuk Kriteria dan lndikator
(Kcl) ......................................................................................... 7
2.1.1 Memahami Prinsip, Kriteria dan lndikator .................. 7
2.1.2 Hierarki Kcl ................................................................. 9
2.2 Pengantar untuk Analisis Multikriteria .................................. 1O
2.2.1 Penetapan Peringkat dan Penetapan Nilai ................... 12
2.2.2 Proses Hierarki Analitik (PHA) dan Perbandingan
Berpasangan .................................................................. 13
2.3 Mengapa menggunakan AMK dalam Penilaian Kcl ............ 11
3. Menerapkan AMK dalam Penilaian Kcl ...................................... 19
3.1 Pengantar untuk Pendekatan T-Jun dan ::m-u ......... 19
3.2 Hal-hal vang Berkaitan dengan Pengorganisasian ................. 22
3.2.1 1im Pakar ...................................................................... 22
3.2.2 Panduan untuk Mengumpulkan Data .......................... 21
3.2.2.1 Pemungutan Suara .......................................... 21
3.2.2.2 Pengumpulan Data dan Analisis .................... 25
3.2.3 Memilih Metode Analisis vang Sesuai ......................... 26
3.3 Perincian Prosedur ................................................................... 29
3.3.1 Penveleksian Set Kcl: langkah Pertama ..................... 29
3.3.1.1 Penetapan Peringkat ........................................ 29
3.3.1.2 Penetapan Nilai ............................................... 33
3.3.1.3 Penghitungan Bobot Relatif ............................ 35
EEE
3.3.2 Pemberian Skor: langkah Kedua.................................. 3o
3.3.3 Penilaian Unit Pengelolaan Hutan: langkah Ketiga ... 39
1. Penerapan PHA vang lebih Spesifik: Perbandingan Berpasangan ... 11
1.1 Perbandingan Berpasangan ..................................................... 11
1.1.1 Mengumpulkan Data .................................................... 12
1.1.2 Menghitung Bobot Relatif ............................................ 11
1.2 Menghitung lndeks Ketidak-konsistenan (l.K.) ..................... 1o
1.3 Meningkatkan Konsistensi Penilaian (bagi tiap pakar) .......... 5O
5. Pendekatan ::m-L dan Pengelolaan Hutan ............................ 55
5.1 Studi Kasus: Kalimantan 1engah ............................................ 56
6. Daftar Pustaka dan Bacaan lebih lanjut ...................................... 61
7. Aneks .............................................................................................. 63
7.1 Olosari ...................................................................................... 63
7.2 lembar Pengumpulan Sampel Data........................................ 65
7.3 Pola Oenerik Kriteria dan lndikator CllR .......................... 6o
Daftar Oambar
Oambar 1: Hierarki Struktur Kcl ...................................................... 9
Oambar 2: Contoh Hubungan lnformasi dalam Hierarki Kcl ......... 1O
Oambar 3: Aplikasi 1eknik AMK dalam Seleksi dan Pemberian Skor
Kcl ...................................................................................... 2o
Daftar 1abel
1abel 1: Penetapan Peringkat dan Penetapan Nilai Kriteria vang
Relevan dengan Prinsip 2 ..................................................... 35
1abel 2: Jumlah Nilai untuk 1iap Kriteria ......................................... 36
EL
1abel 3: Hasil Penghitungan Bobot Relatif untuk 1eknik Penetapan
Peringkat dan Penetapan Nilai ............................................. 36
1abel 1: Penghitungan Bobot Oabungan untuk 1iap Kriteria .......... 37
1abel 5: Penghitungan Skor Akhir untuk Kriteria K. 2.1 ................. 1O
1abel 6: Bobot Relatif Dihitung Menggunakan Perbandingan
Berpasangan untuk lmpat Pakar ......................................... 16
L
1
1.1 PNCCUNA SASARAN
Panduan ini ditulis untuk pengguna vang memerlukan panduan vang jelas
dan mudah diikuti untuk menerapkan Analisis Multikriteria (AMK) di
lapangan. latar belakang matematika memang diperlukan, tapi bukan
merupakan svarat vang mutlak untuk dapat menerapkan teknik-teknik vang
akan dijelaskan dalam panduan ini.
Kami mengharapkan panduan ini akan berguna untuk mereka vang akan
menggunakan AMK sebagai perangkat pengambilan keputusan untuk
penilaian, evaluasi dan seleksi Kriteria dan lndikator (Kcl). Para pengguna
dapat meliputi:
em|cc ser:|j||cs| vang menilai pengelolaan HPH untuk kepentingan
sertifikasi,
ec|c: emer|n:c| vang merancang kebijakan-kebijakan kehutanan dan
sektor lain vang terkait untuk pengelolaan vang lebih lestari,
em|cc Jnr vang mengevaluasi kelestarian berbagai kegiatan vang
dilakukan oleh berbagai provek pengelolaan sumber dava alam,
ene||c |u:cn vang ingin meningkatkan kelestarian pengelolaannva pada
tingkat pengelolaan hutan,
ene||c r,e| vang merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi
provek-provek konservasi.
1
Latar Belakang
2
LATAP BELAKANC
1.2 STRUKTUR PANDUAN
Panduan ini dapat dibaca secara berurutan atau tidak berurutan. lnformasi di
dalamnva disusun agar dari bagian pertama pembaca diperkenalkan pada
konsep-konsep umum vang terkait sebelum mempelajari penerapan AMK
secara spesifik. Kami berharap penggunaan panduan ini dapat disesuaikan
dengan pengetahuan dan latar belakang informasi vang dimiliki oleh
pembaca. Untuk membantu pembaca dalam menemukan informasi vang
berhubungan, sinopsis singkat untuk tiap bagian disajikan di bawah ini.
Bab 2 meninjau kerangka konsep Kcl dan memperkenalkan latar belakang
teori AMK, terutama Proses Hierarki Analitik (PHA). Metode-metode
spesifik AMK dan landasan bagi penggunaan AMK bersama Kcl juga
dicantumkan.
Bab 3 merinci bagaimana AMK dapat diterapkan pada Kcl dalam konteks
Sertifikasi Hutan. 1ermasuk di dalamnva subbagian berikut:
c| 3.1 menjelaskan mengenai perbedaan antara pendekatan T-Jun dan
::m-u untuk menveleksi dan mengevaluasi Kcl dengan AMK. Untuk
kepentingan panduan ini Sertifikasi Hutan dianggap sebagai pendekatan
top-down.
c| 3.2 menjelaskan bahwa karena AMK merupakan suatu alat pengambilan
keputusan, maka harus melibatkan partisipasi aktif para pengambil
keputusan. Agar dapat menjadi suatu alat vang berguna, AMK perlu
dipaparkan dengan jelas kepada para pembuat keputusan, dan diadaptasikan
agar sesuai dengan kebutuhan khususnva. Bagian ini juga menjelaskan
beberapa masalah vang harus dipertimbangkan pada saat bekerja dengan
kelompok vang berbeda, dan memberikan beberapa saran umum untuk
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
3
menvusun proses berdasarkan pengalaman vang diperoleh dengan menguji
metode ini di lapangan.
c| 3.3 menjelaskan keseluruhan proses untuk memasukkan AMK ke dalam
analisis Kcl (sebagai suatu alat pengambilan keputusan) dengan meng-
gunakan perangkat sederhana vaitu Penetapan peringkat dan Penetapan nilai.
Analisis untuk Penetapan peringkat dan Penetapan nilai diperkenalkan
langkah demi langkah, menurut cara buku resep. lokus penggunaan teknik-
teknik ini adalah untuk meringkas set Kcl vang umum, sehingga teknik-
teknik ini mencerminkan kondisi-kondisi dalam suatu contoh Unit
Pengelolaan Hutan (UPH)
1
.
Bab 4 menjelaskan cara menggunakan teknik Perbandingan Berpasangan
dan lndeks Ketidak-konsistenan (l.K.) untuk meningkatkan kepekaan
analisis dan membantu memudahkan proses pengambilan keputusan. Bagian
ini akan menjelaskan langkah-langkahnva secara rinci, meliputi cara
penerapan teknik-teknik analisis ini dalam beberapa contoh vang digunakan
pada Bab 3.3.
Bab 5 membahas cara-cara menggunakan AMK dalam suatu situasi analisis
bottom-up. Penelitian di lapangan untuk melihat keefektifan penggunaan
khusus AMK ini masih terus berjalan, sehingga sulit memberikan rumus
vang efektif untuk melaksanakan bentuk analisis ini di lapangan. Walaupun
demikian, teori vang mendukung pendekatan bottom-up mungkin berguna
untuk situasi penelitian tertentu. Untuk alasan ini penjelasan mengenai
pendekatan bottom-up dimasukkan ke dalam panduan ini.
1
Suatu UPH ditentukan sebagai suatu wilavah daratan vang sebagian besar mencakup hutan
dengan batas vang jelas, dikelola untuk serangkaian tujuan vang jelas dan mengikuti suatu
rencana pengelolaan jangka panjang (Prabhu dkk. 1996).
4
LATAP BELAKANC
Aneks. Aneks terdiri dari:
1. Olosari
2. lembar Pengumpulan Sampel Data
3. Pola Oenerik Kriteria dan lndikator CllR untuk Pengelolaan Hutan
lestari
1.3 KCUNAAN PANDUAN
Hutan di seluruh dunia telah sangat banvak berkurang sehinggga mencapai
tingkat vang mengkhawatirkan. Sebagai reaksi atas tekanan vang hebat
terhadap sumber dava hutan,
banvak sekali usaha dilaku-
kan untuk mencari cara
menentukan dan menilai
kelestarian hutan vang dapat
digunakan di seluruh dunia.
Suatu konsep vang telah di-
kembangkan untuk meman-
du pengelola hutan vang
masih tersisa adalah Pengelo-
laan Hutan lestari (lihat
kotak).
Intisari
lnformasi vang berkaitan dengan struktur Panduan ini dapat ditemukan dalam
Kotak lntisari pada bagian vang relevan.
Pengelolaan Hutan Lestari (PHL)
Untuk keperluan panduan ini, kami
menggunakan definisi vang diusulkan oleh
Prabhu dkk. (199o):
Satu rangkaian sasaran kegiatan dan hasil-
hasil vang konsisten dengan usaha
mempertahankan atau meningkatkan
integritas ekologi hutan dan memberikan
sumbangan bagi kesejahteraan manusia,
baik untuk sekarang maupun untuk masa
depan.
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
5
Agar dapat melaksanakan Pengelolaan Hutan lestari dengan sukses maka
diperlukan pengembangan pengukur vang bersifat spesifik untuk lokasi
tertentu dan dapat diuji di lapangan sehingga mencerminkan kondisi hutan.
Sampai sekarang Cen:er jr n:ernc:|nc| res:r, nesecrc| (CllR) telah
berperan serta dalam suatu program kerjasama riset untuk mengembangkan
dan menguji Kriteria dan lndikator (Kcl) lebih lanjut. Kcl adalah perangkat
vang dapat digunakan untuk mengumpulkan dan mengkoordinir informasi
sedemikian rupa sehingga berguna dalam membuat konsep, mengevaluasi,
melaksanakan dan mengkomunikasikan Pengelolaan Hutan lestari.
Penelitian lain mengenai Kcl juga telah dilakukan oleh beberapa organisasi
vang berbeda, misalnva: :|e res: S:eucrJs|| Cunc|| (lSC, 1991), SGS
res:r, (1991), Sc|en:|j|c Cer:|j|cc:|n S,s:ems (SCS, 1991), dan :|e Tren|s
unJc:|n (1997).
Salah satu tujuan proses ini adalah menghasilkan satu set Prinsip, Kriteria,
lndikator dan Pengukur
2
vang diakui secara internasional, vang setelah
diadaptasikan dengan kondisi lokal diharapkan dapat digunakan oleh siapa
saja vang juga ingin melakukan evaluasi kinerja dan/atau kelestarian berbagai
operasi kehutanan.
Penetapan satu set Kcl untuk kondisi lokal merupakan sebuah proses vang
kompleks. leh karena itu, proses pengambilan keputusan vang digunakan
untuk memilih atau memodifikasi Kcl harus dapat mengatasi berbagai
variabel, konsisten dan transparan. Proses pengambilan keputusan vang
memenuhi berbagai persvaratan ini adalah Analisis Multikriteria (AMK).
2
Definisi Prinsip, Kriteria, lndikator dan Pengukur dapat dilihat pada Bab 2.1.1.
7
2.1 TIN]AUAN KRANCKA KONSP UNTUK KRITRIA
DAN INDIKATOR
Panduan ini disiapkan bersamaan dengan cnJucn un:u| enem|cncn,
enu|cn Jcn em||||cn Kr|:er|c Jcn nJ||c:r un:u| ene||ccn Hu:cn es:cr|
(Prabhu dkk., 199o). Untuk kepentingan para pengguna panduan ini, vang
tidak terbiasa dengan Pedoman tersebut, maka suatu tinjauan singkat
mengenai kerangka konsep Kcl diterangkan pada bagian selanjutnva.
1injauan ini diringkas dari Prabhu dkk. (199o). Para pembaca disarankan
merujuk pada dokumen asli untuk mendapatkan uraian lengkap mengenai
kerangka tersebut.
2.1.1 MlMAHAMl PRlNSlP, KRl1lRlA, DAN lNDlKA1R
Dalam bagian ini, kami mendefinisikan tiga perangkat utama vang merupakan
komponen-komponen penting dari kerangka Kcl, vaitu: Prinsip, Kriteria
dan lndikator. Sebagai tambahan, kami juga menentukan definisi konsep
Pengukur.
Beberapa definisi berikut digunakan untuk elemen tersebut di atas:
Prnsp: Suatu kebenaran atau hukum pokok sebagai dasar suatu pertim-
bangan atau tindakan. Prinsip-prinsip dalam konteks pengelolaan hutan les-
tari diperlakukan sebagai kerangka primer untuk mengelola hutan secara
lestari. Prinsip-prinsip tersebut memberikan landasan pemikiran bagi Krite-
ria, lndikator dan Pengukur. Beberapa contoh dari Prinsip tersebut adalah:
2
Konsep-Konsep yang
Diterapkan: K&I dan AMK
KONSEP-KONSEP
S
Agar Pengelolaan Hutan lestari dapat berlangsung, maka integritas
ekosistem harus dipelihara atau ditingkatkan, atau
Agar Pengelolaan Hutan lestari dapat berlangsung, maka kesejahteraan
manusia harus dapat dijamin.
Krtera: Suatu prinsip atau patokan untuk menilai suatu hal. leh
karenanva suatu Kriteria dapat dilihat sebagai prinsip tingkat dua vang
menambah arti dan cara kerja dalam suatu prinsip tanpa membuatnva sebagai
suatu pengukur kinerja secara langsung. Kriteria merupakan titik lanjutan
di mana informasi vang diberikan oleh lndikator dapat digabungkan dan di
mana suatu penilaian vang dapat dipahami menjadi lebih tajam. Prinsip-
prinsip membentuk titik akhir integrasi. Beberapa contoh dari Kriteria vang
diterapkan dalam Prinsip pertama, vang diberikan di atas, adalah:
Agar integritas ekosistem dipelihara atau ditingkatkan, beberapa fungsi
utama dan proses-proses ekosistem hutan harus dipertahankan, atau
Agar integritas ekosistem dipelihara atau ditingkatkan, beberapa proses
vang melestarikan atau meningkatkan variasi genetis harus dipertahankan.
lnJkator: Suatu variabel atau komponen ekosistem atau sistem pengelolaan
hutan apa saja vang digunakan untuk memperkirakan status Kriteria tertentu.
lndikator membawa suatu pesan tunggal vang berarti. Pesan tunggal ini
disebut informasi, vang mewakili suatu agregat dari satu atau lebih elemen
data vang memiliki hubungan tertentu vang tetap. Contoh lndikator bila
diterapkan pada Kriteria di atas adalah:
Untuk memastikan bahwa berbagai proses vang melestarikan atau
meningkatkan variasi genetis dipertahankan, kita dapat mempelajari
perubahan vang terarah pada frekuensi c||e|e atau genotipe.
9
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
Pengukur: Data atau informasi vang meningkatkan spesifitas atau kemudahan
penilaian suatu lndikator. Pengukur memberikan perincian khusus vang
menunjukkan atau mencerminkan suatu kondisi vang diinginkan dari suatu
lndikator. Pada tahap keempat spesifisitas, Pengukur memberikan perincian
spesifik vang akan menunjukkan atau mencerminkan kondisi vang diinginkan
dari suatu lndikator. Pengukur memberi tambahan arti dan ketelitian pada
suatu lndikator. Pengukur dapat juga dianggap sebagai subindikator. Contoh
Pengukur bila diterapkan pada lndikator di atas:
Perubahan vang terarah pada frekuensi allele atau frekuensi genotipe
dapat ditentukan melalui pengukuran jumlah allele dalam populasi
secara berkala.
2.1.2 HllRARKl Kcl
Definisi dari tiga perangkat utama, termasuk Pengukur seperti vang digam-
barkan di atas memungkinkan untuk menvusun kerangka konsep Kcl.
Prabhu dkk. (199o) menggambarkan Hierarki Kcl ini menurut cara berikut:
Oambar 1. Hierarki Struktur K&I
Ukuran KeIestarian
Prinsip
Kriteria
Indikator
Pengukur
Kebijakan Sosial Ekologi Produksi
KONSEP-KONSEP
10
Oambar 2. Contoh Hubungan Informasi dalam Hierarki K&I
2.2 PNCANTAR UNTUK ANALISIS MULTIKRITRIA
DlllNlSl
Analisis Multikriteria adalah perangkat pengambilan keputusan vang dikem-
bangkan untuk masalah-masalah kompleks multikriteria vang mencakup
aspek kualitatif dan atau kuantitatif dalam proses pengambilan keputusan.
Prinsip
Kriteria
Indikator
Pengukur
Agar Pe ng elo la an Hu tan
Le st ari be rlan gs un g,
mak a i nte gri tas ek os is-
te m har us dip el iha ra dan
di ting ka tka n .
Agar in teg rita s e ko sis tem
di pe liha ra ata u
di ting ka tka n, be be rap a
fu ng si u ta ma da n p ro ses -
pr os es ek osi ste m hut an
ha ru s d ipe rta ha nka n.
Untuk memastikan agar
berbagai proses yang
melestarikan atau
meningkatkan variasi genetis
dipertahankan, kita dapat
mempelajari perubahan yang
terarah pada frekuensi allele
dan genotipe
Agar in teg rita s e ko sis tem
di pe liha ra ata u diti ngk at -
ka n, be be rap a p ro ses ya ng
mele sta rik an ata u me nin g-
ka tka n var ias i g en etis
ha ru s d ipe rta ha nka n.
Peru ba ha n y an g te ra rah
pa da fr eku en si alle le
at au ge no tipe d ap at
di ten tuk an mela lui
pe ng uk ura n jumla h
al lele d ala m pop ul asi
se ca ra be rka la.
.
11
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
MlNOAPA AlA1 UN1UK PlNOAMBllAN KlPU1USAN DlPlR-
lUKAN'
Dalam suatu situasi vang melibatkan berbagai kriteria, kerancuan mungkin
akan terjadi jika suatu proses pengambilan keputusan vang logis dan terstruk-
tur dengan baik tidak diikuti. Perhatikan contoh sederhana berikut ini:
Dua orang yang kehausan mencoba menentukan apakah akan
membeli sekaleng Cola atau sebotol ]us ]eruk
Dua kriteria vang digunakan untuk mengambil keputusan ini
adalah ||c,c dan mcnjcc: |c| |ese|c:cn dari masing-masing
minuman.
rang pertama khawatir karena uang vang mereka miliki hanva
sedikit dan ingin membeli Cola karena lebih murah.
rang kedua lebih memperhatikan hidup sehat dan umur panjang
sehingga bersedia membavar Jus Jeruk vang lebih mahal tapi lebih
menvehatkan.
Untuk mendapatkan suatu pilihan vang lebih disukai pada situasi ini,
kepentingan relatif tiap kriteria (misalnva: biava dan manfaat bagi kesehatan)
terhadap keputusan vang telah dibuat harus dievaluasi dan dimasukkan ke
dalam proses pengambilan keputusan. Jadi apabila biava dianggap relatif lebih
penting daripada manfaat bagi kesehatan, sekaleng Cola akan menjadi pilihan
vang paling diinginkan. 1entunva kompleks dan sulit sekali untuk mencapai
kesepakatan atas tingkat kepentingan relatif pada Kriteria vang berbeda.
AMK adalah suatu perangkat vang dapat membantu mengevaluasi tingkat
kepentingan relatif seluruh Kriteria vang terkait dan menggambarkan tingkat
kepentingannva dalam proses pengambilan keputusan akhir.
KONSEP-KONSEP
12
Kesulitan lain dalam pengambilan keputusan adalah untuk mencapai
kesepakatan bersama dalam suatu tim vang terdiri dari berbagai disiplin ilmu.
Dengan menggunakan AMK, para anggota tidak perlu sepakat mengenai
tingkat kepentingan relatif dari Kriteria atau mengenai penetapan peringkat
alternatifnva. 1iap anggota tim menvatakan pendapat pribadinva, dan
memberi sumbangan masing-masing dalam rangka tercapainva kesimpulan
vang disepakati bersama.
Intisari
2.2.1 dan 2.2.2 berisi tinjauan singkat mengenai teknik vang
digunakan dalam AMK, Penetapan Peringkat, Penetapan Nilai,
Perbandingan Berpasangan. Semua teknik ini dijelaskan secara
terinci dalam bagian berikutnva.
Dalam menetapkan teknik-teknik ini istilah vang digunakan adalah
elemen keputusan. lstilah ini merupakan suatu acuan umum pada
berbagai elemen vang berbeda dan perlu dianalisis untuk membuat
keputusan vang kompleks. Dalam konteks analisis Kcl, elemen-
elemen ini dapat berupa beberapa Prinsip, Kriteria atau lndikator.
2.2.1 PlNl1APAN PlRlNOKA1 DAN PlNl1APAN NllAl
Dua metodologi AMK vang paling sederhana dan dapat digunakan dalam
suatu Penilaian Kcl adalah Penetapan Peringkat dan Penetapan Nilai.
Penetapan perngkat (Ranking) adalah pemberian suatu peringkat bagi tiap
elemen keputusan vang menggambarkan derajat kepentingan relatif elemen
tersebut terhadap keputusan vang dibuat. llemen-elemen keputusan
kemudian disusun berdasarkan peringkatnva (pertama, kedua, dst.).
13
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
Penetapan n|a (Rating) mirip dengan penetapan peringkat, hanva elemen-
elemen keputusan diberi skor antara O dan 1OO. Seluruh skor elemen vang
dibandingkan jumlahnva harus mencapai 1OO. Dengan demikian, apabila
suatu elemen diberi skor tinggi, berarti elemen lainnva harus diberi skor lebih
rendah.
2.2.2 PRSlS HllRARKl ANAll1lK (PHA) DAN PlRBANDlNOAN
BlRPASANOAN
Proses Hierarki Analitik (PHA) membantu pengambilan keputusan dengan
menvusun komponen penting dari suatu masalah ke dalam suatu struktur
hierarki vang menverupai sebuah silsilah keluarga. Dalam konteks penilaian
Kcl, metode PHA merupakan suatu perangkat pengambilan keputusan vang
berguna karena sesuai dengan Hierarki Prinsip, Kriteria, lndikator dan
Pengukur vang sudah ada (Bab 2.1.2).
Metode PHA memilah rangkaian keputusan vang kompleks menjadi satu
seri perbandingan sederhana vang disebut Perbandingan Berpasangan, antara
beberapa elemen Hierarki keputusan. Dengan membuat sintesis hasil
perbandingan, PHA dapat membantu Anda untuk memperoleh keputusan
terbaik dan memberikan alasan vang jelas untuk pilihan vang Anda buat.
Untuk informasi lebih lanjut tentang metode PHA, rujukan lain vang dapat
dibaca adalah Mendoza (1997a, b), Saatv (1995), Oolden dkk. (19o9) dan
Vargas dan zahedi (1993).
er|cnJ|ncn ercscncn secara singkat adalah cara menvaring Kcl vang
kompleks untuk pemecahan masalah menjadi satu seri penilaian satu banding
satu mengenai kepentingan relatif tiap lndikator terhadap Kriteria vang
KONSEP-KONSEP
14
diuraikan. Kemudian tiap lndikator dalam suatu Kriteria dibandingkan dengan
tiap lndikator lainnva dalam Kriteria itu untuk menilai tingkat kepentingan
relatifnva.
2.3 MNCAPA MNCCUNAKAN AMK
DALAM PNILAIAN K&I !
Beberapa tantangan dalam penggunaan Kcl untuk menilai kelestarian suatu
kawasan hutan:
1. Kcl vang digunakan harus mencakup beragam barang dan jasa vang
disediakan oleh hutan.
2. lnformasi vang digunakan untuk menilai kelestarian sifatnva kualitatif
dan kuantitatif.
3. Penilaian kelestarian harus melibatkan partisipasi berbagai kelompok
pengguna hutan, s:c|e||Jer dan para pakar.
1. Pengambilan keputusan harus didasarkan atas kesepakatan bersama
antara beberapa kelompok pengguna hutan vang mungkin sulit dicapai.
5. Analisis harus bersifat interaktif dan penilaian sebaiknva diberitahukan.
Catatan yang lebih terinci mengenai beberapa tantangan ini akan disaji-
kan pada kotak berikut.
Mengingat kompleksnva proses penetapan keputusan, pengguna mungkin
berpikir bahwa tantangan untuk mencapai suatu keputusan vang obvektif
tidak dapat dicapai dengan menggunakan prosedur cJ |c. Beberapa bahava
vang berhubungan dengan penggunaan prosedur ad hoc dalam tipe proses
pengambilan keputusan ini adalah:
15
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
Makin tingginva risiko atau kemungkinan menghasilkan keputusan vang
salah.
Suatu prosedur ad hoc dapat memperburuk suatu keputusan vang salah
karena tidak adanva :rcc| recrJ vang dapat membantu dalam memberi
penjelasan mengenai alasan vang masuk akal dan logis di balik keputusan
tersebut.
Kurangnva transparansi pada proses pengambilan keputusan vang dapat
menghalangi adopsi Kcl, atau lebih buruk lagi, hasil penilaian Kcl tidak
diterima oleh masvarakat.
Analisis Multikriteria menvediakan alat vang sesuai untuk mengatasi
beberapa tantangan vang dihadapi dalam penilaian Kcl, ciri-ciri spesifik
AMK vang berguna diuraikan di bawah ini.
1. Kemampuan untuk menampung beragam kriteria dalam analisis.
2. AMK dapat menggunakan data campuran dan analisisnva tidak
memerlukan banvak data. Metode ini memungkinkan penggabungan
baik informasi kualitatif maupun kuantitatif.
3. AMK memungkinkan keterlibatan langsung berbagai pakar, kelompok
pengelola hutan dan stakeholder.
1. Analisis bersifat transparan bagi para peserta.
5. AMK mencakup mekanisme umpan balik vang berkenaan dengan
konsistensi dari penilaian vang dibuat.
Beberapa cara penerapan spesifik AMK dalam penilaian Kcl adalah:
Sebagai satu cara untuk memudahkan pengambilan keputusan oleh tiap
individu/peserta vang berkaitan dengan tingkat kepentingan tiap Kriteria/
lndikator.
KONSEP-KONSEP
16
Sebagai satu cara untuk menilai tingkat kepentingan relatif dari tiap kriteria/
indikator dalam upava memilih satu set vang dianggap paling penting.
Sebagai satu cara untuk mengumpulkan semua hasil evaluasi vang dibuat
oleh para peserta, pakar untuk mencapai suatu konsensus atau evaluasi
bersama untuk semua Kriteria/lndikator.
Akhirnva, dalam banvak situasi pengambilan keputusan, kemampuan untuk
berkomunikasi dan menerangkan keputusan-keputusan dan bagaimana
keputusan-keputusan tersebut dicapai, sama pentingnva dengan keputusan-
keputusan itu sendiri. Kemampuan AMK untuk memisahkan elemen
keputusan dan menelaah kembali proses pengambilan keputusan, mem-
buatnva ideal untuk menvampaikan dasar tiap keputusan. Suatu perangkat
seperti ini diperlukan untuk mencapai keputusan bersama vang mudah
disampaikan dan beralasan, berkenaan dengan penilaian Kcl.
17
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
Isu-isu dalam Penilaian K&I
1. K c ,cn J|unc|cn |crus mencc|u |erccm |crcn Jcn csc ,cn J|seJ|c|cn
|e| |u:cn.
Hutan harus dikelola dengan cara vang dapat menampung dimensi-dimensi
Sosial-lkonomi, Biologi, lkologi, lisik dan lingkungan dan setiap ekosistem.
Pada hakikatnva ada kompleksitas di dalam sistem hutan sehingga tiap sistem
pengukur harus dapat mengatasi kenvataan vang kompleks dan multidimensi
ini.
2. njrmcs| ,cn J|unc|cn un:u| men||c| |e|es:cr|cn s|jc:n,c |uc||:c:|j mcuun
|ucn:|:c:|j.
Data |ucn:|:c:|j adalah data keras vang dapat dikumpulkan dan disintesis.
Secara umum data keras sulit diperoleh dalam suatu situasi penilaian dan hanva
dapat dimasukkan sebagai suatu variabel perwakilan atau dalam beberapa
cara kualitatif. Sebaliknva data kualitatif terutama untuk bagian vang bersifat
konseptual. Contohnva faktor-faktor sosial dan lingkungan. Metode penilaian
vang digunakan harus dapat menampung data kualitatif dan kuantitatif.
3. en||c|cn |e|es:cr|cn |crus me|||c:|cn cr:|s|cs| |er|cc| |e|m| enunc |u:cn,
stakeholder Jcn crc c|cr.
Metode vang digunakan untuk menilai kelestarian sebaiknva sangat transparan
bagi semua peserta dan stakeholder.
1. encm|||cn |eu:uscn |crus J|Jcscr|cn c:cs |esec|c:cn |erscmc cn:crc |e|ercc
|e|m| enunc |u:cn ,cn mun||n su||: J|ccc|.
Sementara ada kesepakatan umum mengenai pentingnva mengukur
kelestarian, tetapi hampir tidak ada kesepakatan dalam hal:
1) Bagaimana cara mengukur kelestarian.
2) Apa vang seharusnva tercakup dalam penilaian.
5. -nc||s|s |crus |ers|jc: |n:erc|:|j Jcn en||c|cn se|c||n,c J||er|:c|u|cn.
Analisis sebaiknva dapat mengubah informasi menjadi wawasan vang berguna
bagi peserta untuk mencapai beberapa pilihan/evaluasi vang lebih mudah
disampaikan.
19
3.1 PNCANTAR UNTUK PNDKATAN TOP-DOWN DAN
BOTTOM-UP
Ada dua pendekatan vang berbeda dalam penggunaan AMK vang tercakup
dalam panduan ini, vaitu pendekatan top-down dan bottom-up. 1ujuan
proses top-down adalah untuk memastikan informasi konseptual vang benar
dapat disimpan, tujuan proses bottom-up adalah untuk memastikan bahwa
informasi, terutama vang berawal dari lapangan, tidak hilang (Prabhu dkk.
1996). Pilihan terhadap satu pendekatan dan tidak pada pendekatan lain,
pada akhirnva akan bergantung pada sasaran penilaian dan beberapa kondisi
lokasi vang dibicarakan.
3
Menerapkan AMK
Dalam Penilaian K&I
Intisari
Contoh-contoh vang digunakan dalam panduan ini menggambarkan perbedaan
metode AMK vang menggunakan pendekatan top-down vang diambil dari suatu
percobaan sertifikasi hutan di Kalimantan 1engah.
Model top-down memungkinkan dilakukannva pendekatan buku resep seperti
dalam panduan ini. Menggunakan suatu tim pakar vang sudah terbiasa dengan
konsep dasar Kcl dan menggunakan Pola Oenerik sehingga pendekatan top-
down secara teoritis akan berhadapan dengan variabel vang lebih sedikit. Dengan
demikian model ini merupakan suatu model vang lebih baik bagi gava penvajian
buku resep.
lnformasi mengenai pendekatan bottom-up disajikan dalam Bab 5. lnformasinva
disajikan sebagai panduan untuk melaksanakan pendekatan bottom-up atau
kombinasi kedua pendekatan, tetapi pembahasannva tidak menggunakan gava
panduan buku resep. Sebaliknva metode-metode, dan masalah-masalah vang
ditemukan selama uji lapangan oleh CllR dengan pendekatan ucs|-bottom-
up juga disajikan dalam panduan ini.
MENEPAPKAN AMK
20
Walaupun Panduan ini mengulas kedua pendekatan ini secara terpisah, tidak
berarti keduanva saling terpisah. Dalam banvak situasi, kombinasi kedua
pendekatan ini akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan vang lebih baik.
Pembahasan tentang pendekatan kombinasi ini terdapat dalam Bab 5.
Pendekatan Top-down: Misalnya, Sertifikasi Hutan
Pendekatan top-down paling sesuai digunakan dalam penilaian kinerja suatu
Unit Pengelolaan Hutan, satu penerapan spesifiknva adalah Sertifikasi
Hutan. Berikut ini adalah beberapa kekhususan suatu pendekatan penilaian
top-down.
Dalam pendekatan ini suatu set Kcl (Pola Oenerik CllR) vang dibuat
sebelumnva digunakan sebagai perangkat awal dan sebagai dasar untuk
menghasilkan perangkat akhir Kcl.
1im Penilai terdiri dari para profesional atau pakar vang mewakili berbagai
disiplin ilmu vang ada dalam set Kcl.
lokus tim adalah:
1. mengadaptasi dan memodifikasi set awal Kcl pada situasi lokal, dan
2. memperkirakan tingkat kepentingan relatif tiap elemen dalam set Kcl
berkenaan dengan Kriteria vang dipilih. Beberapa Kriteria antara
lain kemampuan untuk diaudit, kemampuan untuk diterapkan dan
keefektifan biava.
Secara umum pendekatan top down dapat digunakan baik sebelum maupun
sesudah bekerja di lapangan. Pendekatan tersebut dapat digunakan
sebelumnva untuk mempersingkat Kcl vang akan dievaluasi di lapangan,
dan juga dapat digunakan sesudahnva sebagai cara untuk melakukan
penilaian berdasarkan data vang dikumpulkan. Kotak teks pada halaman
selanjutnva berisi sinopsis mengenai cara menggunakan pendekatan top-
21
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
down dalam penilaian Kcl. Mungkin sangat berguna untuk mengacu kembali
pada langkah-langkah ini sebagai suatu kerangka saat Anda bekerja dengan
panduan ini.
Pendekatan Bottom-up: Misalnya, Pengelolaan Hutan
Pendekatan sengaja disusun dengan cara vang memungkinkan keterlibatan
langsung dan partisipasi aktif berbagai stakeholder dalam Unit Pengelolaan
Hutan. Dalam panduan ini kita melihat pendekatan bottom-up dari konteks
Pengelolaan Hutan, berbeda dengan Sertifikasi Hutan.
Skenario Pengelolaan Hutan
Pendekatan 1op-down
langkah 1 1entukan suatu set awal Kcl (misalnva, Pola Oenerik CllR).
langkah 2 1im Pakar mempelajari perangkat awal. Memodifikasi perangkat
tersebut bila diperlukan.
langkah 3 1im memberikan penilaian individual bagi tiap Prinsip. Penilaian
individual dikumpulkan dengan menggunakan lormulir Respon 1A.
langkah 1 1im memberikan penilaian individual bagi Kriteria pada tiap Prinsip.
Penilaian individual dikumpulkan dengan menggunakan lormulir
Respon 1B.
langkah 5 Berdasarkan hasil vang diperoleh dari langkah 3 dan 1, buat prioritas
Prinsip dan Kriteria menurut Bobot Relatifnva.
langkah 6 Apabila memungkinkan, hilangkan Prinsip-prinsip dan Kriteria vang
bobotnva jauh lebih rendah daripada vang lainnva.
langkah 7 Dari Prinsip dan Kriteria lainnva vang dinilai penting, periksa lndikator
pada tiap Kriteria. Penilaian individual dikumpulkan dengan
menggunakan lormulir Respon 2A dan 2B.
langkah o Hitung Bobot Relatif tiap lndikator. Prioritaskan lndikator-indikator
menurut Bobot Relatifnva. Hilangkan lndikator-indikator vang
dianggap kurang penting.
langkah 9 Perlihatkan daftar terakhir kepada 1im. Jika 1im puas, Daftar Akhir
Kcl dalam ditetapkan. Jika 1im tidak puas, maka proses dapat
diulang dari langkah kedua.
MENEPAPKAN AMK
22
Pendekatan bottom-up tidak mudah dijelaskan dengan gava buku resep seperti
pendekatan top-down. Metode-metode penggunaan AMK dengan pendekatan
ini juga belum sepenuhnva teruji di lapangan. Walaupun demikian, pendekatan
bottom-up untuk pengambilan keputusan vang melibatkan para stakeholder
lokal sangat penting dalam proses mana pun vang bertujuan mendapatkan
suatu dampak vang lestari pada pengelolaan jangka panjang suatu UPH.
3.2 HAL-HAL YANC BRKAITAN DNCAN
PNCORCANISASIAN
AMK sangat mengandalkan masukan dari para pakar dan stakeholder.
Masukan-masukan ini dikumpulkan dan disintesis untuk memperoleh satu
keputusan atau pilihan kolektif, berkaitan dengan seleksi satu set Kcl vang
bobotnva telah dinilai. Beberapa pertanvaan vang relevan adalah:
1im vang bagaimana vang ingin Anda pilih'
Bagaimana Anda akan menvusun proses pemungutan suara untuk
memperoleh informasi vang relevan dari para pakar'
Bagaimana Anda mengumpulkan dan menganalisis informasi vang Anda
peroleh'
Metodologi AMK vang bagaimana vang sesuai dengan sasaran analisis'
3.2.1 1lM PAKAR
Relevansi dan kekuatan AMK pada akhirnva bergantung pada pengetahuan
dan pengalaman 1im Pakar vang terbentuk. 1im pakar perlu memahami
hierarki Kcl, dan memiliki pengetahuan luas vang relevan dengan UPH vang
bersangkutan.
23
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
Pola Oenerik Kcl CllR terbagi dalam enam Prinsip umum vang berada di
bawah empat kategori umum, vaitu: Sosial, Kebijakan, lntegritas lkologi dan
Produksi (lihat Aneks 7.1 untuk informasi lebih lanjut). Kami menvarankan
1im Pakar paling sedikit terdiri dari enam pakar/anggota tim vang mewakili
keahlian dalam tiap Prinsip. Keahlian ini dapat diperoleh melalui berbagai
kombinasi pakar vang berbeda. Sebagai panduan, satu contoh 1im Pakar
diberikan di bawah ini.
Sebaiknva diusahakan untuk merekrut tenaga pakar terbaik vang ada, baik
vang berlatar belakang ilmu vang terkait maupun dengan lokasi vang
bersangkutan. Sedapat mungkin pastikan keragaman jender. Perspektif lain
juga perlu disertakan dalam tim (misalnva para akademisi, konsultan, lSM,
aparat pemerintah). 1im sebaiknva tidak terdiri dari sebuah kelompok orang
dalam, vang terlalu akrab satu sama lain dan memiliki pandangan vang
sangat seragam. Situasi ini akan mengurangi keragaman wawasan dan
kualitas diskusinva. Oabungan pakar Nasional dan lnternasional akan mem-
bantu memunculkan perspektif berbeda dalam proses vang berlangsung.
Contoh suatu Tim Lokal
Konteks: Sertifikasi Hutan pada sebuah HPH di Kalimantan Tengah
1. |muucn Ss|c| vang mengkhususkan diri pada Kehutanan Sosial dan
Pembangunan Masvarakat.
2. |muucn l|nm| Sum|er Dc,c dengan keahlian ekonomi dan produksi hutan.
3. |muucn l|||s vang mengetahui benar masalah ekologi hutan
Dipterocarpace di Kalimantan.
1. |muucn ene||ccn Hu:cn dengan pengetahuan kebijakan hutan dan sejarah
pengelolaan hutan di lndonesia.
5. |muucn ene||ccn Hu:cn dengan keahlian di hutan-hutan Asia 1enggara.
6. en||c| rjes|nc| dengan gelar pendidikan tinggi di bidang ilmu kehutanan,
telah berpengalaman luas dalam sertifikasi.
MENEPAPKAN AMK
24
3.2.2 PANDUAN UN1UK MlNOUMPUlKAN DA1A
Agar dapat melaksanakan suatu analisis AMK dengan berhasil, struktur proses
pemungutan suara vang digunakan oleh 1im Pakar, dan cara mengum-pulkan
serta menganalisis data perlu dipertimbangkan dengan seksama.
3.2.2.1 Pemungutan Suara
Sebelum pemungutan suara dilakukan, perlu disediakan forum J|s|us| :er|u|c.
Selama diskusi tersebut, para anggota tim sebaiknva menahan diri untuk
bisa mengungkapkan dengan jelas bagaimana cara mereka dalam menetapkan
skor, peringkat atau nilai untuk tiap elemen dalam hierarki Kcl. Cara ini
akan membantu menjamin kebebasan penilaian tiap anggota dari pengaruh
anggota tim lain vang lebih vokal.
Walaupun diskusi dilakukan secara terbuka, pemungutan suara sebaiknva
dilakukan secara individual. Pemungutan suara dilakukan dengan mengisi
lormulir Respon untuk tiap pendekatan AMK, tahap dan tingkat analisis,
serta elemen keputusan dalam hierarki Kcl. lormulir contoh ada dalam
Bab 3 dan Aneks 2.
Pada umumnva, paling baik bila kelompok berdiskusi dan melakukan
pemungutan suara untuk satu Prinsip, Kriteria atau lndikator secara
berurutan. Contohnva, apabila menghadapi Kriteria 1 untuk Prinsip 2
kelompok akan,
1. mendiskusikan tingkat kepentingannva secara bersama,
2. memungut suara secara individual dengan menggunakan lormulir
Respon.
25
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
Setelah pemungutan suara, diskusi dilanjutkan ke Kriteria 2 untuk Prinsip 2.
Komunikasi lintas disiplin vang efektif sangat diperlukan agar diskusi pra-
pemungutan suara berhasil dengan baik. lmpat sikap vang penting dalam
meningkatkan komunikasi adalah:
bersedia berkompromi secara wajar untuk memenuhi kepentingan para
anggota tim lainnva,
minat vang sungguh-sungguh dalam mempelajari bidang disiplin lainnva,
rasa hormat vang tulus terhadap para anggota tim Anda dan penghargaan
terhadap keahliannva, dan
kesepakatan vang memadai di antara para anggota tim mengenai sasaran.
3.2.2.2 Pengumpu|an Data Jan Ana|ss
Beberapa contoh vang digunakan dalam Panduan ini menggunakan set data
vang jumlahnva sedikit untuk kepentingan ilustratif. Dalam konteks suatu
proses AMK vang sesungguhnva, set data vang digunakan akan lebih besar
dan sulit dianalisis secara manual.
Kami menvarankan agar sebelum memulai analisis, siapkan lembar lsian
lxcel vang berisi seluruh butir data vang ingin Anda kumpulkan. Contoh
pada Bab 3.3 dapat dilihat untuk memberikan informasi mengenai judul
dan label untuk tabel vang sesuai dengan analisis vang Anda pilih.
Sejumlah program komputer juga telah dikembangkan untuk membantu
mengumpulkan dan menganalisis hasil-hasil AMK vang berbeda. Di bawah
ini diberikan dua contoh, vaitu:
MENEPAPKAN AMK
26
ClMA1
ClMA1 adalah perangkat komputer CllR vang dikembangkan untuk
memodifikasi dan mengadaptasi Kcl agar sesuai dengan situasi lokal.
Pada saat ini ClMA1 belum memiliki perangkat pendukung untuk
pengambilan keputusan, tetapi menvediakan informasi mengenai AMK.
lnformasi lebih lanjut dapat dilihat pada Kotak Peralatan CllR.
Aplikasi Perangkat lunak lainnva
l\er: C||ce nc. telah mengembangkan perangkat lunak komputer
sebagai pendukung pengambilan keputusan. lnformasi lebih lanjut untuk
produk-produk lainnva dapat ditemukan dalam \e| s|:e berikut:
www.expertchoice.com
3.2.3 MlMlllH Ml1Dl ANAllSlS YANO SlSUAl
Menetapkan Lrutan Ana|ss
Sebelum tim pakar memulai analisisnva, akan lebih bermanfaat bila
memikirkan dahulu urutan analisis, dengan urutan seperti apa Prinsip,
Kriteria dan lndikator akan diuji.
Dalam skenario 1op-down seperti vang digunakan dalam pengujian untuk
sertifikasi, 1im Pakar dapat memulai analisis pada tingkat Prinsip vang lebih
konseptual, karena mereka memiliki pengetahuan mengenai hierarki Kcl.
Namun demikian, tidak terlalu penting untuk memulai dari hierarki paling
atas.
Pada beberapa situasi mungkin akan lebih berguna untuk memulai analisis
pada tingkat Kriteria, atau bahkan lndikator. 1ingkat vang lebih rendah ini
27
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
tidak terlalu bersifat konseptual dan lebih didasarkan pada pengukuran-
pengukuran dan observasi-observasi vang konkrit. Dengan menganalisis
Kriteria dan lndikator terlebih dahulu, 1im Pakar dapat membangun dasar
pengetahuan vang akan membantu mereka untuk menganalisis tingkat
Prinsip dengan lebih baik. Hal ini terutama berkaitan dengan situasi penilaian
dengan pendekatan Bottom-up di mana tim pakar terdiri dari berbagai macam
latar belakang pengalaman dan pendidikan (lihat Bab 5).
Urutan dalam menerapkan metodologi AMK vang berbeda juga perlu
dipertimbangkan.
Berdasarkan pengalaman uji lapangan, Penetapan peringkat dan
Penetapan nilai paling baik digunakan sebagai perangkat penvaring awal
karena cara ini dengan cepat mengeluarkan elemen-elemen Kcl vang
tidak cukup penting.
Sebaliknva, Perbandingan berpasangan paling baik digunakan sebagai
saringan halus vang dapat digunakan pada tahap lebih lanjut untuk
menentukan elemen-elemen Kcl mana vang paling tidak penting dan
dapat direkomendasikan untuk dihapus. Cara ini juga dapat digunakan
untuk menentukan bobot relatif suatu indikator dengan lebih akurat.
Intisari
Oambar 3 melukiskan beberapa cara metode Penetapan peringkat, Penetapan nilai
dan Perbandingan berpasangan vang dapat disesuaikan dengan analisis Kcl. Akan
sangat berguna untuk mengacu ulang bagan ini saat Anda mempelajari bagian-
bagian selanjutnva.
MENEPAPKAN AMK
2S
Oambar 3. Aplikasi Teknik AMK dalam Seleksi dan
Pemberian Skor K&I
Set awal K&I
Proses Penetapan Peri ngkat
dan Penetapan Nil ai
Filter
umum
Perbandingan Berpasangan
Indeks
Ketidak-k ons istenan
Hilangkan K&I yang di hi langkan
(ni lai rel atifnya rendah)
Berikan
Informasikan kepada pakar
Berik an
Set K&I y ang diberi bobot
+ + = Bobot relati f Bobot s kor untuk UPH Skor
Eval uasi k inerja K&I
yang dipil ih
Jika lebih dari ambang 10%
Keterangan:
Proses Hasi l
Lacak s umber
keti dak-konsi stenan
Berikan
Filter
selanjutnya
29
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
3.3 PRINCIAN PROSDUR
Ada tiga langkah umum dalam penilaian Kcl. AMK dapat diterapkan secara
spesifik sebagai suatu alat pengambilan keputusan dalam langkah 1 dan 3.
1) ldentifikasi dan seleksi beberapa Kriteria dan lndikator.
2) Pemberian skor untuk beberapa lndikator berdasarkan set vang dipilih.
3) Penilaian UPH dalam hal ini seluruh penilaian kinerja pada semua tingkat
hierarki Kcl.
Bagian ini menjelaskan tiga langkah tersebut menurut cara buku resep.
3.3.1 PlNYlllKSlAN Sl1 Kcl: lANOKAH PlR1AMA
Dua teknik sederhana di mana AMK digunakan untuk mengidentifikasi dan
menveleksi Kcl vang relevan adalah Penetapan peringkat dan Penetapan
nilai. Pada bagian ini akan dijelaskan definisi kedua teknik ini dan disediakan
beberapa contoh mengenai cara penggunaannva.
3.3.1.1 ene:ccn er|n|c:
1erdapat dua cara vang berbeda untuk menetapkan peringkat bagi satu set
elemen pengambilan keputusan, vaitu Peringkat Reguler dan Peringkat
rdinal.
Intisari
Pada beberapa contoh berikut ini beberapa singkatan akan digunakan untuk
merujuk pada beberapa Kriteria dan lndikator. Misalnva,
K. 2.1 ~ Kriteria (pada Prinsip 2). (Kriteria 1)
l. 2.1.1 ~ lndikator (pada Prinsip 2). (Kriteria 1). (lndikator 1)
MENEPAPKAN AMK
30
1. Perngkat Regu|er
Definisi: Peringkat Reguler memberikan suatu
peringkat kepada tiap elemen vang relevan
dalam proses pengambilan keputusan menurut
tingkat kepentingannva. Peringkat ditetapkan
menurut 9 titik skala berikut ini.
Prinsip Kebijakan 1:
Kebijakan, perencanaan
dan kerangka kelemba-
gaan mendukung penge-
lolaaan hutan lestari.
Kriteria:
K. 1.1 Dana untuk pe-
ngelolaan hutan
selalu tersedia
dan dalam jumlah
vang memadai.
K. 1.2 Ada kebijakan
ekonomi vang
bersifat pence-
gahan.
K. 1.3 Kebijakan nonke-
hutanan tidak
mengganggu pe-
ngelolaan hutan.
K. 1.1 Ada daerah pe-
nvangga vang ber-
fungsi dengan
baik.
K. 1.5 Ada kerangka
kerja legal vang
melindungi akses
terhadap hutan
dan sumber dava
hutan.
K. 1.6 Ada reinvestasi
modal untuk ber-
bagai pilihan ke-
giatan pemanfa-
atan hutan.
Contoh: Pertimbangkan Prnsp Kebjakan, vang
terdiri dari 6 Kriteria (K. 1.1 sampai K. 1.6). 1im
Pakar diminta untuk menilai tingkat kepentingan
relatif tiap Kriteria terhadap Prnsp Kebjakan
pada khususnva, dan terhadap seluruh kelestarian
hutan pada umumnva. Dalam penggunaan
peringkat reguler seorang pakar mungkin bereaksi
sebagai berikut:
1
i
n
g
k
a
t
K
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n
R
e
n
d
a
h
K
u
r
a
n
g

P
e
n
t
i
n
g
1
i
n
g
k
a
t
K
e
p
e
n
t
i
n
g
a
n
S
e
d
a
n
g
l
e
b
i
h

P
e
n
t
i
n
g
S
a
n
g
a
t

P
e
n
t
i
n
g
1 3 5 7 9
31
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
2. Perngkat OrJna|
Definisi: Peringkat rdinal adalah suatu teknik di mana tiap pakar diminta
untuk menvusun daftar elemen keputusan menurut tingkat kepentingannva.
1idak seperti peringkat reguler di mana elemen keputusan vang berbeda
dapat memperoleh peringkat vang sama, peringkat ordinal mengharuskan
para pakar untuk menempatkan elemen-elemen dalam suatu hierarki tingkat
kepentingan, tiap elemen dianggap relatif sangat atau kurang penting
terhadap elemen-elemen lain vang terlibat.
Contoh: Dengan menggunakan Prnsp Kebjakan vang sama dengan vang
telah diuraikan di atas, seorang pakar membuat urutan Kriteria sebagai berikut:
Paling Penting K. 1.1
K. 1.2
K. 1.3
K. 1.5
K. 1.1
Paling 1idak Penting K. 1.6
Perhatikan bahwa pada kasus ini
pakar menentukan Kriteria 1.2 lebih
penting daripada Kriteria 1.3. Dengan
menggunakan metode Peringkat
Reguler, kedua kriteria tersebut
mendapatkan peringkat yang sama.
Kriteria Peringkat Keterangan
K. 1.1 6 1ingkat Kepentingan Sedang
K. 1.2 5 1ingkat Kepentingan Sedang
K. 1.3 5 1ingkat Kepentingan Sedang
K. 1.1 3 Kurang Penting
K. 1.5 1 1ingkat Kepentingan Rendah sampai Sedang
K. 1.6 2 1ingkat Kepentingan Rendah sampai Sedang
MENEPAPKAN AMK
32
Saat mempertimbangkan tipe Penetapan peringkat mana vang akan digunakan,
penggunaan daftar kelebihan dan kelemahan berikut mungkin berguna:
Peringkat Reguler:
Ke|e|||cn 1. Memungkinkan terjadinva seri.
2. Pengambil keputusan dapat menetukan secara spesifik
kualitas tingkat kepentingan (nilai 1-9).
Ke|emc|cn 1. 1idak cukup membedakan. Pengambil keputusan mungkin
lebih memilih untuk memberikan penilaian vang sama.
Peringkat Ordinal:
Ke|e|||cn 1. Sederhana, tidak ada keraguan dalam membuat urutan
tingkat kepentingan.
2. Membedakan derajat kepentingan dengan jelas.
Ke|emc|cn 1. 1idak ada seri. Di dalam daftar tidak akan ditemukan
dua elemen dengan tingkat kepentingan vang sama.
Pengambil keputusan diharuskan untuk mengurutkan
elemen-elemen keputusan saat mereka beranggapan
kelompok elemen keputusan tersebut mempunvai derajat
kepentingan vang hampir sama.
2. 1idak ada kualitas tingkat kepentingan (nilai1-9).
Peringkat Ordinal mungkin lebih sesuai untuk merampingkan satu set
awal. Misalnya, apabila pengambil keputusan mencoba memilih 50 elemen
dari satu set awal yang terdiri dari 200 elemen.
33
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
3.3.1.2 ene:ccn |||c|
Definisi: Penetapan nilai merupakan suatu teknik
di mana tiap pakar diminta untuk mem-berikan
penetapan nilai bagi tiap elemen kepu-tusan, atau
nilai persentase, antara O dan 1OO. Jika
dijumlahkan, nilai untuk semua elemen vang
dibandingkan harus mencapai angka 1OO.
Contoh: Dengan menggunakan Prinsip Kebi-
jakan vang sama dengan vang digunakan pada
contoh di atas, seorang pakar mungkin akan
memberikan penetapan nilai berikut ini pada
Kriteria.
Kelebihan teknik Penetapan nilai adalah teknik ini menvediakan pengukuran
tingkat kepentingan rdinal dan Kardinal untuk tiap lndikator (lihat kotak).
Sedangkan Penetapan peringkat hanva menvediakan pengukuran
kepentingan rdinal.
Agar dapat memberikan tingkat kepentingan Kardinal vang akurat untuk tiap
indikator, 1im Pakar harus memiliki akses terhadap sejumlah besar informasi
vang relevan. Hal ini tidak selalu tersedia selama suatu penilaian Kcl.
Kriteria Penetapan nilai
K. 1.1 25
K. 1.2 2O
K. 1.3 2O
K. 1.1 12
K. 1.5 15
K. 1.6 o
1otal 1OO
Tingkat Kepentingan Ordinal:
Merujuk pada urutan tingkat kepentingan dari elemen vang terlibat. Misalnva,
mana vang pertama, kedua, dst.
Tingkat Kepentingan Kardinal:
Merujuk pada besarnva perbedaan kepentingan dua elemen. Misalnva, satu elemen
mungkin tiga kali lebih penting daripada vang lainnva.
MENEPAPKAN AMK
34
Prinsip 2
Kriteria
Peringkat Nilai
Bobot/Prioritas Relatif
(Diisi oleh Analis)
Keterangan
Peringkat
(Prioritas)
Nilai
(Prioritas)
Keseluruhan
(Prioritas)
K. 1.1
K. 1.2
K. 1.3
1otal~1OO
Prinsip 1
Kriteria
Peringkat Nilai
Bobot/Prioritas Relatif
(Diisi oleh Analis)
Keterangan
Peringkat
(Prioritas)
Nilai
(Prioritas)
Keseluruhan
(Prioritas)
K. 1.1
K. 1.2
K. 1.3
K. 1.1
K. 1.5
K. 1.6
1otal~1OO
Iormulir Contoh untuk Pengumpulan Data Penetapan Peringkat dan
Penetapan Nilai dari Tim Pakar
Iormulir Respon 1B
(Silakan merujuk pada Pola Oenerik CllR untuk lnformasi 1erinci Mengenai
Kriteria dan lndikator)
Deskripsi: lormulir Respon 1B dirancang untuk analisis 1ingkat 2 pada 1ahap 1.
1ingkat 2 menjelaskan respon dari para responden mengenai pendapat mereka tentang
tingkat kepentingan relatif tiap Kriteria terhadap Prinsip, pada khususnva, dan
kelestarian hutan secara keseluruhan, pada umumnva.
Kegunaan Iormulir: lormulir 1B berguna untuk memperkirakan tingkat kepentingan
atau bobot tiap kriteria dari tiap Prinsip.
Pengkodean Kriteria: K.i.j, i adalah nomor indeks Prinsip, j adalah nomor indeks
Kriteria.
35
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
3.3.1.3 en||:uncn ||: re|c:|j
Setelah para pakar dalam tim memberikan suatu peringkat dan nilai pada tiap
elemen keputusan, respon mereka perlu dianalisis. Tujuan analisis ini adalah
menghitung bobot atau kepentingan relatif setiap elemen keputusan
berdasarkan sintesis dari beberapa respon berbeda vang diberikan.
Langkah 1: Setelah 1im Pakar mengisi formulir, data dapat dimasukkan ke
dalam lembar isian atau tabel seperti 1abel 1. 1abel ini berisi data lapangan
dari suatu tim pakar vang diminta untuk membuat Peringkat (menggunakan
Peringkat Reguler) dan menetapkan nilai keempat Kriteria vang relevan
dengan Prinsip 2 (Pemeliharaan lntegritas lkosistem) |c Gener|| Kc
Cn.
1abel 1. Peringkat dan Nilai Kriteria yang Relevan dengan Prinsip 2
Langkah 2: Baik pada Penetapan peringkat maupun nilai, jumlahkan nilai
vang diberikan para pakar untuk tiap Kriteria. Hasilnva adalah bobot total
untuk tiap Kriteria dengan kedua teknik vang berbeda. Hitunglah nilai total
Peringkat dan Nilai dari semua pakar.
Kriteria Pakar 1 Pakar 2 Pakar 3
Peringkat
K. 2.1 5 2O 5 2O o 2O
K. 2.2 o 1O 7 35 o 3O
K. 2.3 6 3O 6 3O 7 25
K. 2.1 1 1O 1 15 6 15
Peringkat Peringkat Nilai Nilai Nilai
MENEPAPKAN AMK
36
1abel 2. ]umlah Nilai untuk Tiap Kriteria
Langkah 3: Agar dapat menggabungkan hasil teknik Penetapan peringkat
dan Penetapan nilai pada langkah 2, bobot relatif tiap Kriteria perlu dihitung
untuk kedua teknik.
Bobot relatif tiap Kriteria dapat dihitung untuk tiap teknik dengan cara membagi
bobot sebenarnva dengan bobot total sebenarnva dan kemudian dikalikan 1OO.
1abel 3. Hasil Penghitungan Bobot Relatif untuk Teknik Penetapan
Peringkat dan Penetapan Nilai
Kriteria
Jumlah Peringkat Jumlah Nilai
Perhitungan Peringkat Perhitungan Nilai
K. 2.1 55o 1o 2O2O2O 6O
K. 2.2 o7o 23 1O353O 1O5
K. 2.3 667 19 3O3O25 o5
K. 2.1 116 11 1O1515 1O
1otal 74 290
Kriteria
Perhitungan Peringkat Perhitungan Nilai
Bobot Relatif Bobot Relatif
K. 2.1 1o/71x1OO 21 6O/29Ox1OO 21
K. 2.2 23/71x1OO 31 1O5/29Ox1OO 36
K. 2.3 19/71x1OO 26 o5/29Ox1OO 29
K. 2.1 11/71x1OO 19 1O/29Ox1OO 11
1otal 100 100
37
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
Setelah bobot relatif dari Peringkat dan Nilai dihitung, maka keduanva dapat
dibandingkan. Pada kasus ini kedua teknik memperlihatkan hasil vang sama.
Langkah 4: Untuk menghitung bobot gabungan akhir bagi tiap Kriteria, bobot
relatif hasil penghitungan Peringkat maupun Nilai dapat diambil rata-ratanva.
1abel 1. Penghitungan Bobot Cabungan untuk Tiap Kriteria
Perhitungan Bobot Oabungan dari tiap Kriteria menunjukkan bahwa Kriteria
Bobot Oabungan
K. 2.1 (2121)/2 22
K. 2.2 (3136)/2 31
K. 2.3 (2629)/2 2o
K. 2.1 (1911)/2 16
1otal 1OO
Kriteria Perhitungan
K. 2.1, K.2.2 dan K. 2.3 dianggap relatif lebih penting daripada Kriteria K. 2.1.
Karena itu, mungkin akan sangat berguna untuk memeriksa kembali Kriteria
K.2.1 untuk menentukan apakah kriteria tersebut dapat dihilangkan dari
pertimbangan lebih lanjut dalam analisis.
Setelah melakukan penilaian bagi tiap Kriteria, maka Indikator pun dapat
dinilai. Penilaian ini dilakukan dengan membuat Peringkat atau Nilai
untuk Indikator menurut tingkat kepentingan relatifnya terhadap Kriteria
di mana Indikator tersebut berada.
MENEPAPKAN AMK
3S
3.3.2 PlMBlRlAN SKR: lANOKAH KlDUA
Sistem pemberian skor vang dapat mencerminkan kondisi sebuah UPH vang
sedang dinilai merupakan kunci bagi semua sistem evaluasi. Metode AMK
dapat digunakan untuk mengawali pemberian skor untuk mempersingkat set
Kcl vang dievaluasi. Penvingkatan ini untuk memastikan agar waktu dan
dana digunakan untuk menilai Kcl vang relevan saja.
Sementara proses pemberian skor untuk set Kcl vang berbeda berada di luar
jangkauan panduan ini, di bawah ini disarankan suatu sistem pemberian skor
vang dinamis dan informatif vang sesuai dengan AMK.
Skor Deskripsi Umum
* 1idak mungkin memberi skor pada waktu penilaian, mungkin karena
kurangnva informasi atau tidak tersedianva sampel lapangan. Pemberian
skor ditunda sampai saat berikutnva.
O 1idak dapat diterapkan untuk Kriteria atau lndikator.
1 Kondisi kinerja sangat buruk, sangat tidak baik.
2 Kondisi kinerja buruk, mungkin normal untuk wilavah tersebut, tetapi
diperlukan cukup banvak perbaikan.
3 Dapat diterima, pada atau di atas normal untuk wilavah tersebut.
1 Kondisi sangat baik, jauh di atas normal untuk wilavah tersebut, tetapi
tetap memerlukan perbaikan untuk mencapai kondisi vang terbaik.
5 Kondisi vang terbaik bagi wilavah tersebut, kondisi sangat menonjol
dibandingkan standar normal untuk wilavah tersebut.
39
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
3.3.3 PlNllAlAN UNl1 PlNOlllAAN HU1AN: lANOKAH
Kl1lOA
lni merupakan langkah terakhir dalam penilaian Kcl. Sasaran langkah ini
adalah memperkirakan kondisi UPH secara keseluruhan dan menvata-kannva
dalam sebuah nilai. Perhitungan suatu nilai atau beberapa nilai vang dapat
mencerminkan kondisi UPH tersebut memungkinkan kita untuk
membandingkannva dengan UPH lainnva. Secara umum penilaian ini adalah
penilaian vang paling mudah diterima jika dilakukan pada tingkat Kriteria
karena cukup spesifik untuk memungkinkan adanva variasi, tetapi cukup
umum sehingga memungkinkan pembandingan.
Nilai akhir tiap Kriteria dapat dihitung dengan mengambil rata-rata nilai
bobot vang diberikan pada seluruh lndikatornva. Nilai bobot ini dapat
dihitung dengan menggabungkan bobot relatif tiap lndikator (langkah
Pertama, Bab 3.3.2) dengan nilai sebenarnva vang diberikan pada tiap lndi-
kator (langkah Kedua, Bab 3.3.2). Dengan menggabungkan kedua langkah
ini diperoleh satu nilai vang mencerminkan tingkat kepentingan relatif tiap
lndikator dalam hubungannva dengan Kriteria vang dibantu pengukurannva.
Pada 1abel 5 di bawah ini, 1im Pakar telah memberikan nilai untuk semua
lndikator dalam Kriteria K. 2.1 dengan menggunakan metode Peringkat Reguler.
Bobot Relatif tiap nilai telah dihitung, dan
Bobot Relatif ini telah dirata-ratakan dengan
mengikuti urutan perhitungan vang telah
dijelaskan dalam Bab 3.3.1 Pemilihan Kcl:
langkah Pertama. Bobot Rata-rata ini telah
dikombinasikan dengan nilai vang diberikan
pada tiap lndikator untuk mendapatkan nilai
vang telah dihitung. Jumlah nilai ini
Kriteria K. 2.1
Ada bukti vang jelas
tentang hak-hak guna
lahan hutan (misalnva, hak
atas tanah, hak adat, atau
persetujuan sewa) vang
dapat diperlihatkan.
MENEPAPKAN AMK
40
merupakan skor akhir vang mencerminkan kondisi UPH dalam hubungannva
dengan Kriteria K. 2.1.
1abel 5. Penghitungan Skor Akhir untuk Kriteria K. 2.1
Kolom Bobot Rata-rata memperlihatkan sedikit keragaman di antara nilai vang
diberikan pada tiap lndikator. Sebagai hasilnva, semuc lndikator ini penting
dan harus digunakan dalam penilaian akhir UPH. Skor akhir untuk UPH
dapat dihitung dengan mengambil jumlah Skor Akhir dan membaginva dengan
1OO. Dengan demikian skor akhir untuk Kriteria K. 2.1, berdasarkan penilaian
1im Pakar, adalah (251/1OO) ~ 2,51.
lndikator
2.1
Peringkat Bobot Relatif
Bobot
Rata-rata
(b)
Skor
(s)
Skor
Akhir
(b x s)
Pakar
1
Pakar
2
Pakar
3
Pakar
3
Pakar
1
Pakar
2
l. 2.1.1 7 9 7 27 27 26 27 3 oO
l. 2.1.2 7 o 6 27 21 22 21 3 73
l. 2.1.3 6 o o 23 21 3O 26 2 51
l. 2.1.1 6 o 6 23 21 22 23 2 16
1otal 26 33 27 100 100 100 251
Ukuran kinerja 2,51 secara tidak langsung menvatakan bahwa kinerja UPH
agak rendah vang menurut patokan operasi regional dianggap baik berkenaan
dengan Kriteria K. 2.1. Dengan kata lain, bukti-bukti adanva hak-hak guna
hutan dan hak guna lahan belum dapat ditunjukkan. Menurut Pedoman
Pemberian Skor pada Bab 3.3.2, skor 3 atau lebih besar Dcc: D|:er|mc. cJc
c:cu J| c:cs nrmc| un:u| ercs| ,cn |c|| J| Jcerc| :erse|u:.
41
4.1 PRBANDINCAN BRPASANCAN
Definisi: Metode Perbandingan Berpasangan (PB) meliputi perbandingan
satu banding satu di antara tiap lndikator. 1im Pakar diminta untuk membuat
penilaian banding tingkat kepentingan relatif tiap pasang lndikator vang
berhubungan dengan Kriteria vang diukur. Penilaian ini digunakan untuk
memberikan Bobot Relatif pada lndikator-indikator. Metode ini didasarkan
pada tingkat lndikator karena pada tingkat ini beberapa Prinsip dan Kriteria
paling mudah diukur dan diamati.
Kelebihan: Metode Perbandingan Berpasangan memberikan analisis vang
jauh lebih baik bagi respon-respon vang diberikan 1im Pakar. Analisis ini
lebih baik karena:
a. Seperti Penetapan Nilai, metode Perbandingan Berpasangan mengukur
baik tingkat kepentingan ordinal maupun kardinal dari beberapa
lndikator vang berbeda.
b. Respon-respon 1im Pakar sebaiknva lebih spesifik karena mereka harus
mempertimbangkan tiap tingkat kepentingan lndikator vang berkaitan
dengan semua lndikator lain.
c. Metode Perbandingan Berpasangan dapat dianalisis untuk konsistensi.
lndeks Konsistensi dapat menunjukkan kapan terjadi ketidak-konsistenan
vang besar di antara beberapa respon dan membantu menunjukkan
dengan pasti di mana ketidak-konsistenan itu terjadi. Hal ini akan
membantu menjadikan analisis lebih andal dan lebih tepat.
4
Penerapan PHA yang Lebih
Spesifik: Perbandingan
Berpasangan
PENEPAPAN PHA
42
1.1.1 MlNOUMPUlKAN DA1A
Contoh: Untuk menghitung Bobot Relatif empat lndikator pada Kriteria
K. 2.1 vang menggunakan metode Perbandingan berpasangan, 1im Pakar
diberi lormulir Respon 2A (lihat Aneks 7.2). Dalam formulir ini mereka
diminta untuk membandingkan tiap lndikator dengan ketiga lndikator
lainnva vang relevan dengan Kriteria K. 2.1. Untuk memudahkan, mereka
diminta menggunakan skala numerik berikut ini.
Seorang pakar mungkin akan mengisi rmu||r nesn 2- sebagai berikut,
Skala Numerik untuk Penilaian Banding Beberapa Indikator
Ska|a Art/Penajsran
1 Sama Pentingnva
3 Kepentingannva Agak lebih
5 Penting Sekali
7 Sangat Penting Sekali
9 Sangat lebih Penting
l. 2.1.1 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 2.1.2
l. 2.1.1 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 2.1.3
l. 2.1.1 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 2.1.1
l. 2.1.2 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 2.1.3
l. 1.1.2 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 2.1.1
l. 1.1.3 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 2.1.1
Indikator A Kriteria K 2.1 Indikator B
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
43
Kotak yang berbayang merupakan kotak yang telah dipilih untuk
mewakili hubungan di antara ke-2 Indikator yang dibandingkan.
Dari Perbandingan Berpasangan ini kita dapat membuat sebuah matriks
perbandingan berikut:
Matriks ini merupakan suatu cara untuk menvajikan data vang dikumpulkan
dengan menggunakan rmu||r nesn 2A. Dengan menvajikan data vang
membandingkan lndikator l. 2.1.1 sampai l. 2.1.1 dalam lembar matriks,
maka penghitungan Bobot Relatif Kriteria 2.1 dapat dilakukan. Data dalam
matriks dapat dijelaskan dengan menggunakan baris pertama sebagai sebuah
contoh.
llemen pertama adalah 1 karena lndikator l. 2.1.1 dibandingkan dengan
dirinva sendiri.
llemen kedua adalah karena pakar menganggap l. 2.1.2 jauh lebih
penting (nilai 6) dibandingkan l. 2.1.1. Karena itu nilai ditempat-
kan pada persilangan |cr|s l. 2.1.1 dan ||m l. 2.1.2, dan nilai 6
(berbanding terbalik) ditempatkan pada persilangan |cr|s l. 2.1.2 dan
||m l. 2.1.1 (lihat kotak vang berbavang gelap).
llemen ketiga mempunvai nilai / karena dalam membandingkan l. 2.1.1
dengan l. 2.1.3, pakar menganggap l. 2.1.3 sedikit lebih penting
I. 2.1.1 I. 2.1.2 I. 2.1.3 I. 2.1.4
l. 2.1.1 1 / 2
I. 2.1.2 6 1 1 /
l. 2.1.3 2 1 1 3
I. 2.1.4 / 2 1 /
1
3
/
1
6
/
1
6
/
1
6
PENEPAPAN PHA
44
dibandingkan l. 2.1.1. Karena itu nilai 2 (berbanding terbalik dengan
/) ditempatkan pada persilangan |cr|s l. 2.1.3 dan ||m l. 2.1.1 (lihat
kotak vang lebih terang).
llemen keempat adalah 2 karena dalam membandingkan l. 2.1.1. dengan
l. 2.1.1, pakar menganggap l. 2.1.1 sedikit lebih penting dibandingkan l.
2.1.1. Karena itu nilai / (berbanding terbalik dengan 2) ditempatkan
pada persilangan |cr|s l. 2.1.1 dan ||m l. 2.1.1.
1.1.2 MlNOHl1UNO BB1 RllA1ll
Saatv (1995) menjelaskan empat pendekatan vang berbeda untuk menghi-
tung Bobot Relatif berdasarkan matriks Perbandingan Berpasangan. Dalam
panduan ini kami hanva akan menjelaskan satu di antara metode-metode
vang kami anggap paling berguna dalam konteks penilaian Kcl. Untuk
informasi mengenai metode lainnva dapat merujuk pada Saatv (1995).
Untuk menghitung Bobot Relatif lndikator-indikator dalam matriks seperti
pada halaman terdahulu diperlukan tiga langkah.
cn|c| 1. Hitung jumlah tiap kolom.
I. 2.1.1 I. 2.1.2 I. 2.1.3 I. 2.1.4
I. 2.1.1 1 / 2
I. 2.1.2 6 1 1 /
I. 2.1.3 2 1 1 3
I. 2.1.4 / 2 1
Total 9,5 4,2 2,9 6,5
/
1
3
/
1
6
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
45
cn|c| 2. Normalisasikan
3
elemen-elemen dalam tiap kolom dengan
membaginva dengan kolom total (vang dihitung dalam langkah
1). 1ambahkan elemen-elemen tiap baris vang dinormalisasi.
cn|c| 3. Bagi baris total pada langkah 2 dengan jumlah lndikator vang
dibandingkan. Dalam kasus ini empat lndikator dibandingkan.
Bobot Relatif l. 2.1.1: O,629/1 ~ 0,1574
Bobot Relatif l. 2.1.2: 1,3O1/1 ~ 0,3254
Bobot Relatif l. 2.1.3: 1,265/1 ~ 0,3163
Bobot Relatif l. 2.1.1: O,oO1/1 ~ 0,2010
cn|c| 4. Hitung Bobot Relatif untuk lndikator-indikator berdasarkan
masukan dari para pakar lainnva.

3
llemen-elemen perlu dinormalisasikan sehingga dapat dibandingkan dan diasimilasikan.
Intisari
Angka-angka dalam tanda kurung memperlihatkan perhitungan vang digunakan
untuk mendapatkan nilai vang disajikan dalam kotak. Misalnva, 1 dibagi (/) dengan
9,5 (kolom total) ~ O,1O5
I. 2.1.1 I. 2.1.2 I. 2.1.3 I. 2.1.4 Total
I. 2.1.1 O,1O5 O,O1O O,176 O,3Oo 0,629
(1/9,5)
I. 2.1.2 O,632 O,21O O,353 O,O77 1,301
(6/9,5)
I. 2.1.3 O,211 O,21O O,353 O,162 1,265
(2/9,5)
I. 2.1.4 O,O53 O,1oO O,11o O,151 0,S04
(O,5/9,5)
PENEPAPAN PHA
46
Skor, vang diberi bavangan, vang dihitung di atas mewakili Bobot Relatif
tiap lndikator berdasarkan Perbandingan Berpasangan dari satu pakar. Selan-
jutnva, perbandingan dari para pakar lainnva dalam tim perlu dimasukkan
ke dalam lembar matriks dan diubah menjadi suatu nilai Bobot Relatif.
Dalam Uji lapangan di Kalimantan 1engah, Bobot Relatif vang dihitung
untuk para pakar lainnva adalah:
1abel 6. Bobot Relatif Dihitung Menggunakan Perbandingan
Berpasangan untuk mpat Pakar
lndikator
Perbandingan berpasangan
Bobot Relatif
Rata-rata
(1otal/1)
Pakar
1
Pakar
2
Pakar
3
Pakar
1
l. 2.1.1 16 52 7 11 21
l. 2.1.2 33 9 11 3O 22
l. 2.1.3 32 13 51 51 3o
l. 2.1.1 2O 26 25 o 2O
Perhatikan bahwa semua skor ini telah dikalikan 100. Misalnya, skor
yang diberikan pada I. 2.1.1 oleh pakar 1 dalam perhitungan di atas
adalah 0,1574, dan dalam Tabel 6 telah dibulatkan dan dikalikan 100
untuk mendapatkan skor 16. Cara ini dilakukan agar angka-angka lebih
mudah dihitung. Selama semua angka dikalikan 100, hubungan di
antaranya tidak akan berubah.
cn|c| 5. Hitung skor akhir untuk Kriteria K. 2.1.
Seperti halnva pada pendekatan Penetapan peringkat dan Penetapan nilai,
Bobot Relatif Rata-rata vang dihitung untuk tiap lndikator dapat digabung-
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
47
Kotak ringkasan di atas menvajikan skor akhir vang dihitung untuk UPH
dan vang dibicarakan dengan menggunakan pendekatan Perbandingan berpa-
sangan, dan pendekatan Penetapan peringkat vang lebih sederhana. Dalam
kasus ini kedua skor hampir sama dan dengan demikian kelebihan utama
penggunaan Perbandingan berpasangan adalah kemudahannva untuk
menganalisis konsistensi penilaian vang dibuat oleh tiap pakar. Cara menghi-
tung lndeks Ketidak-konsistenan ini dijelaskan dalam bagian selanjutnva.
kan dengan skor vang diberikan oleh tiap lndikator untuk memunculkan
suatu skor vang bobotnva terhitung untuk tiap lndikator. Jumlah skor vang
telah dihitung untuk indikator ini memberikan sebuah skor akhir vang
bobotnva terhitung untuk Kriteria vang sedang dibicarakan (K. 2.1).
Skor Akhir Penghitungan K. 2.1
Skor akhir vang menggunakan Perbandingan Berpasangan adalah (215/1OO) ~ 2,45.
Skor akhir vang menggunakan metode Penetapan peringkat adalah 2,51.
lndikator
Bobot Relatif
Rata-rata
(b)
Skor
(s)
Skor vang
Bobotnva
1erhitung (b x s)
l. 2.1.1 21 3 63
l . 2.1.2 22 3 66
l . 2.1.3 3o 2 76
l . 2.1.1 2O 2 1O
1otal 215
PENEPAPAN PHA
4S
4.2 MNCHITUNC INDKS KTIDAK-KONSISTNAN (I.K.)
1
lndeks Ketidak-konsistenan (l.K.) adalah suatu alat pengukur untuk
mengetahui seberapa besar penilaian para pakar/partisipan konsisten secara
logis. Skenario berikut memberikan satu contoh ketidak-konsistenan suatu
penilaian.
Skenario Perbandingan Berpasangan
Keunccn : untuk memberikan satu contoh ketidak-konsistenan penilaian
S|encr| . Seorang pakar diminta mengerjakan Perbandingan Berpasangan untuk
3 indikator vang disebut a, b dan c. la menentukan bahwa lndikator
a lebih penting daripada indikator b dengan nilai 3, lndikator b lebih
penting daripada lndikator c dengan nilai 3, lndikator c dan lndikator
a sama pentingnva.
-nc||s|s . Dalam skenario ini keputusan pakar untuk memberikan indikator a
dan b pada tingkat kepentingan vang sama adalah tidak konsisten.
Berdasarkan perbandingan sebelumnva, suatu penilaian vang konsisten
secara logis akan menentukan bahwa indikator a lebih penting daripada
lndikator c dengan nilai 6. Ketidak-konsistenan ini terjadi karena
berbagai alasan, misalnva interpretasi individu terhadap indikator,
kelelahan dan sifat metodologi vang berulang-ulang.
leh karena itu dalam skenario, sangat berguna bagi analisis untuk memiliki
cara untuk mengukur konsistensi penilaian vang diberikan. Secara umum
konsistensi penilaian vang lebih tinggi secara tidak langsung menvatakan
penilaian vang lebih baik dan oleh karena itu akan menghasilkan perkiraan
bobot vang lebih dapat dipercava.
1
lndeks Ketidak-konsistenan umumnva disebut sebagai lndeks Konsistensi, karenanva
disingkat l.K. Walaupun demikian, dalam konteks panduan ini, apabila istilah l.K. digunakan
maka merujuk kepada pengukuran ketidak-konsistenan.
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
49
lndeks Ketidakkonsistenan memberikan satu cara untuk mengukur konsis-
tensi penilaian suatu 1im Pakar pada saat mereka menggunakan metode
Perbandingan Berpasangan. Pengukuran ini akan menvediakan informasi
mengenai konsistensi vang berkenaan dengan tingkat kepentingan ordinal
maupun kardinal dari dua elemen vang dibandingkan. Secara umum,
toleransi indeks konsistensi sebesar 1O' ditentukan dalam perbandingan
vang melibatkan tidak lebih dari 9 elemen. Karena jarang terjadi ada lebih
dari 9 lndikator dalam suatu Kriteria, tingkat toleransi ini adalah vang paling
dapat diterapkan pada analisis Kcl. 1ingkat ketidak-konsistenan vang lebih
tinggi barangkali dapat ditoleransi untuk perbandingan vang melibatkan lebih
dari 9 elemen.
Dengan menggunakan set lndikator dalam Kriteria K. 2.1 kita dapat menghi-
tung lndeks Ketidak-konsistenan sebagai berikut:
cn|c| 1. Kalikan kolom total dari tiap lndikator (lihat Bab 1.1.2 en||-
:uncn |: ne|c:|j. langkah 1) dengan bobot relatif terhitung
dari tiap lndikator (lihat Bab 1.1.2 Pen||:uncn |: re|c:|j.
langkah 3), dan tambahkan hasilnva.
Dengan menggunakan lndikator-indikator untuk Kriteria K. 2.1, hasilnva
akan menjadi,
(9,5 x O,1571) (1,17 x O,3251) (2,o3 x O,3163) (6,5O x O,2O1O) ~ 5,054
cn|c| 2. Kurangkan jumlah elemen (lndikator-indikator vang dibanding-
kan) pada hasil langkah 1.
5,O51 - 1 ~ 1,054
PENEPAPAN PHA
50
cn|c| 3. Bagi hasil langkah 2 dengan jumlah lndikator dikurangi satu.
1,O51 / (1 - 1) 0,35
Karena itu lndeks Konsistensi untuk matriks ini adalah O,35 atau 35'. Karena
angka ini di atas toleransi lndeks Konsistensi 1O', secara tidak lang-sung
menvatakan derajat ketidak-konsistenan vang tinggi antara penilaian pakar
vang memberikan respon. Dalam konteks analisis, respon-respon ini mungkin
tidak memberikan suatu perkiraan bobot relatif lndikator vang sangat dapat
dipercava.
4.3 MNINCKATKAN KONSISTNSI PNILAIAN
(BACI TIAP PAKAR)
Sementara bagi analisis sangat penting untuk dapat mengukur derajat
ketidak-konsistenan vang berhubungan dengan penilaian individu dalam 1im
Pakar, pengukuran ini sendiri tidak akan membantu memperbaiki konsistensi
penilaian-penilaian ini. Salah satu kelebihan metode Perbandingan
berpasangan adalah bahwa metode ini memungkinkan untuk mengetahui
dengan pasti keputusan vang memberikan andil pada ketidak-konsistenan
dalam penilaian vang dibuat oleh tiap pakar. Dengan informasi mengenai
hal-hal spesifik ketidak-konsistenan, 1im Pakar memiliki perangkat untuk
melakukan evaluasi kembali kumpulan respon vang pertama dibuat, dan
memodifikasinva supava menjadi lebih konsisten.
Untuk lndikator dalam Kriteria K. 2.1., matriks perbandingan vang mewakili
respon-respon pakar 1 seperti berikut ini (untuk penjelasan lebih terinci
mengenai cara penghitungan Bobot Relatif lihat en||:uncn |: ne|c:|j):
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
51
I. 2.1.1 I. 2.1.2 I. 2.1.3 I. 2.1.4 Bobot Relatif
I. 2.1.1 1 / 2 0,1574
I. 2.1.2 6 1 1 / 0,3254
I. 2.1.3 2 1 1 3 0,3163
I. 2.1.4 / 2 1 0,2010
lndeks Konsistensi vang dihitung dalam Bagian terdahulu untuk matriks ini
35'. langkah selanjutnva adalah mencoba dan menentukan dengan pasti
sumber ketidak-konsistenan vang tinggi ini. Agar dapat melakukannva,
konsistensi tiap perbandingan vang dibuat perlu dihitung. Dalam matriks di
atas ini berarti tiap nilai vang diberi bavangan sebaiknva dianalisis. Hanva
sebagian matriks vang perlu dianalisis karena nilai-nilai dalam sebagian
bidang vang berbavang adalah nilai kebalikan dari sebagian vang tidak
berbavang. Dengan kata lain, nilai-nilai pada sebagian bidang vang berbavang
mewakili perbandingan vang sama, hanva dengan cara vang berlawanan.
Untuk setiap perbandingan suatu nilai vang mencerminkan ketidak-
konsistenan penilaian dapat dihitung dengan mengalikan nilai vang diberikan
dengan rasio bobot relatif (b1/b2) dua lndikator vang dibandingkan.
Misalnva, nilai vang diberikan berkaitan dengan l. 2.1.1 dan l. 2.1.2 adalah
1/6. Untuk menghitung suatu nilai ketidak-konsistenan bagi perbandingan
ini, 1/6 harus dikalikan dengan rasio bobot relatif l. 2.1.1 (O,1571) dan
l. 2.1.2 (O,3251). Perhitungannva menjadi,
x (O,1571 / O,3251) ~ 0,0S
Dengan menggunakan perhitungan ini, matriks berikut dapat disusun.
Bidang vang berbavang menunjukkan cara penghitungan tiap nilai ketidak-
konsistenan.
/
1
3
/
1
6
/
1
6 .
/
1
6
/
1
6
PENEPAPAN PHA
52
Perbandingan dengan nilai terhitung terendah adalah yang paling tidak
konsisten.
encjs|rcn. Dalam matriks di atas perbandingan dengan nilai terhitung teren-
dah adalah perbandingan antara l. 2.1.1 dan l. 2.1.2 (O,Oo). Karena itu me-
rupakan perbandingan vang paling tidak konsisten vang dibuat oleh c|cr 1.
Untuk memperbaiki konsistensi penilaian vang dibuat oleh pakar ini, Perban-
dingan Berpasangan dari l. 2.1.1 dan l. 2.1.2 sebaiknva diubah menjadi rasio
Bobot Relatif (b
1
/b
2
). lngat bahwa berarti c|cr 1 vang menilai l. 2.1.2
enam kali lebih penting daripada l. 2.1.1. Dalam kasus ini rasio Bobot Relatif
(b1/b2) adalah (O,157/O,325). Agar dapat menafsirkan rasio ini secara ber-
manfaat, rasio tersebut perlu diubah menjadi format 1/x. Di mana,
O,325 O,157 ~ 2,07
rasio O,157/O,325 kurang lebih dinvatakan sama dengan /. Karena itu
untuk mengurangi ketidak-konsistenan penilaian c|cr 1, nilai perlu
digeser lebih dekat ke nilai /. Dengan kata lain, l. 2.1.2 sebaiknva dinilai
sebagai vang lebih penting daripada l. 2.1.1 dengan nilai 2, bukan 6.
I. 2.1.1 I. 2.1.2 I. 2.1.3 I. 2.1.4
I. 2.1.1 1 0,0S O.25 1.57
1/6(O,157/O,325) /(O,157/O,316) 2(O,157/O,2O1)
I. 2.1.2 1 1,O3 O,o1
1(O,325/O,316) /(O,325/O,2O1)
I. 2.1.3 1 1,72
3(O,316/O,2O1)
I. 2.1.4 1
/
1
6
/
1
6
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
53
Perubahan nilai ini akan mengubah Bobot Relatif lndikator dan lndeks Ketidak-
konsistenan c|cr 1 akan menjadi O,3o . Proses ini dapat diulang sampai l.K.
berada dalam tingkat toleransi 1O'. Sasarannva bukan untuk menghilangkan
ketidak-konsistenan secara total, tetapi untuk membuatnva berada dalam batas
toleransi.
Kriteria K 2.1
l. 2.1.1 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 2.1.2
lndika-
tor A
lndika-
tor B
Kriteria K. 2.1
55
Pendekatan Bottom-up pada seleksi Kcl berbeda dari pendekatan 1op-
down dalam hal-hal berikut ini:
Pendekatan Bottom-up dapat digunakan untuk memilih suatu set Kcl
tanpa harus memanfaatkan Pola Oenerik. Dalam kasus ini set Kcl vang
dipilih berasal dari ide dan rekomendasi 1im Seleksi.
Dilihat dari perspektif sertifikasi hutan, fokus vang diberikan dalam
penilaian Kcl sangat sedikit. Sebaliknva, perhatian diberikan pada peni-
laian Kcl sebagai perangkat pengelolaan dalam konteks Pengelolaan
Hutan lestari secara umum.
Pendekatan sengaja disusun dengan cara vang memungkinkan keter-
libatan langsung dan partisipasi aktif berbagai stakeholder dalam Unit
Pengelolaan Hutan.
Suatu penerapan teoritis pendekatan Bottom-up diuraikan dalam kotak di
bawah ini.
5
Pendekatan Bottom-up dan
Pengelolaan Hutan
Skenario Pengelolaan Hutan
Pendekatan Bottom-Up
langkah 1 Adakan sesi curah pendapat. 1iap anggota 1im berhak untuk
memberi saran tentang daftar Kcl vang tepat.
langkah 2 Sebuah daftar lengkap berisi semua Kcl vang disarankan disusun.
langkah 3 1iap Anggota 1im diminta mengambil sebuah angka (n) Kriteria
atau lndikator tertentu dari daftar. Angka ini dapat bervariasi
tergantung pada sumber dava atau keragaman dalam UPH vang
bersangkutan.
PENDEKATAN BOTTOM-UP
56
5.1. STUDI KASUS: KALIMANTAN TNCAH
Agar dapat menjelaskan penerapan pendekatan Bottom-up, sebuah studi kasus
vang dikerjakan di Kalimantan 1engah (Mendoza dan Prabhu. 199ob) diuraikan
di bawah ini. Studi ini bukan merupakan pendekatan Bottom-up vang murni
menurut Pola Oenerik CllR vang digunakan sebagai panduan. 1im Penilai
bebas menambah/menghilangkan atau menciptakan Kcl, tetapi mereka tidak
memulai dari awal. Sasaran mereka adalah menciptakan suatu set Kcl
vang sesuai sebagai satu panduan bagi Pengelolaan Hutan dalam UPH vang
sedang diteliti. Dalam beberapa hal, ini merupakan satu contoh vang baik dari
pendekatan kombinasi vang menggabungkan aspek-aspek pendekatan 1op-
down dan Bottom-up. Walaupun demikian, dalam bagian ini Studi Kasus
Intisari
lnformasi dalam pendekatan Bottom-up disajikan pada bagian ini dalam satu
format studi kasus. Butir kunci vang tercakup dalam studi ini diuraikan dalam
suatu kotak teks pada akhir Bagian ini.
langkah 1 Anggota 1im diminta membuat peringkat bagi Kriteria atau lndikator
dalam daftar mereka menurut derajat tingkat kepentingan vang
dirasakan (misalnva 1,2, . n).
langkah 5 Dari daftar peringkat vang disusun oleh tiap anggota 1im dalam
langkah 1, tentukan bobot relatif tiap Kriteria dan lndikator.
langkah 6 Prioritaskan dan pilih Kcl berdasarkan bobot relatifnva. Kcl vang
secara nvata telah dinilai lebih rendah dapat disingkirkan.
langkah 7 Jika daftar tersebut memuaskan seluruh anggota 1im dan dapat
diterima maka kemudian diidentifikasi. Jika tidak, proses dapat
diulang dengan menambah (n), atau dengan mempertimbangkan
Kcl lainnva dari daftar lengkap vang semula dimasukkan.
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
57
digunakan untuk menjelaskan
kelebihan dan kesulitan
penggunaan AMK dalam situasi
Bottom-up.
Penilaian Kcl dilaksanakan
dalam suatu UPH vang luasnva
kira-kira 125.OOO hektar dan
mulai beroperasi pada tahun
1973. laporan tahunan perusa-
haan pada tahun 1997 memper-
lihatkan hasil sekitar 91.oOO meter kubik 2.2OO hektar wilavah HPH. Semua
hasil kavu dikirimkan ke pabrik pemrosesan kavu, terutama pabrik kavu lapis.
Ada lima desa dan kawasan pemukiman, serta tiga daerah trans-migrasi vang
berlokasi dalam wilavah HPH.
Sebuah 1im Penilai, vang cukup mewakili berbagai stakeholder dalam UPH,
telah dibentuk. Proses penentuan stakeholder dan pelibatannva dalam proses
pengambilan keputusan, merupakan tugas vang kompleks dan sulit. Referensi
lebih lanjut dalam identifikasi stakeholder dicantumkan pada akhir Bagian
ini.
Mengetahui adanva kesenjangan keahlian, latar belakang pendidikan dan
kemampuan teknik dari anggota tim, maka perlu dilakukan diskusi dan
presentasi mengenai Kcl dan AMK sebelum pemungutan suara dilakukan.
Setengah hari disisihkan untuk diskusi/presentasi ini, prosedur di bawah
inilah vang digunakan:
Kcl Oenerik diterjemahkan ke dalam bahasa daerah.
Diskusi, pertanvaan dan interaksi dilakukan dalam bahasa daerah.
Tim Penilai yang Dibentuk
1 orang pegawai, staf UPH penuh
waktu
2 orang penduduk desa berasal dari
2 desa di dalam program kehutanan
masvarakat UPH
1 orang dosen
1 orang pegawai pemerintah
1 orang ilmuwan sosial
1 orang pegawai CllR vang
tinggal di lokasi
PENDEKATAN BOTTOM-UP
5S
lormulir respon disiapkan dan diterjemahkan terlebih dahulu.
Penjelasan dokumen secara singkat menerangkan Kcl, pada umumnva,
dan AMK, pada khususnva, juga disiapkan dan diterjemahkan terlebih
dahulu.
lnstruksi umum dalam pengisian formulir dijelaskan sepenuhnva.
PRSlS PlMUNOU1AN SUARA
Untuk memudahkan proses pemungutan suara, 1O orang anggota tim dibagi
menjadi dua subkelompok. Kelompok 1 terdiri dari anggota-anggota vang
mempunvai keahlian vang berhubungan dengan Prinsip Kebijakan dan Sosial,
Kelompok 2 terdiri dari anggota-anggota vang mempunvai keahlian vang
berhubungan dengan Prinsip lkologi dan Produksi.
Sebelum pemungutan suara dimulai, fasilitator AMK memberi penjelasan
tentang:
llemen Kcl (sebagai contoh Prinsip, Kriteria, lndikator) vang dievaluasi.
Hubungan hierarki antara elemen vang dievaluasi.
Peran teknik-teknik AMK.
1ipe masukan vang diperlukan dari para anggota tim tergantung teknik
AMK vang digunakan.
lnstruksi untuk mengisi formulir respon.
Kronologi analisis vang dijalankan sebagai berikut:
1. Analisis tingkat Kriteria dilakukan lebih dulu. Dalam cara ini, para ang-
gota tim diperkenalkan pada analisis vang tingkat perinciannva cukup
dalam dan luas sehingga mudah dipahami para anggota tim.
2. Analisis tingkat lndikator mengikuti penilaian Kriteria. Pada tahap ini
tampaknva tiap anggota tim telah memperoleh suatu pengertian vang
PANDUAN MENEPAPKAN AMK, SEPl NO. 9
59
lebih baik tentang proses dan Kcl. lebih penting lagi, ini merupakan
tingkat di mana para anggota tim mungkin merasa paling nvaman karena
lndikator tidak terlalu konseptual dan lebih terinci dibandingkan Prinsip
dan Kriteria.
3. Penilaian pada tingkat Prinsip dilakukan setelah analisis tingkat Kriteria
dan lndikator. Dengan menganalisis tingkat Prinsip terakhir, maka para
anggota tim diharapkan akan sangat mengetahui proses Kcl dan AMK,
dan akan lebih siap melakukan penilaian vang lebih luas dan dibutuhkan
pada tingkat Prinsip. Pada tingkat ini, tim tidak dibagi dalam
subkelompok.
Seperti dalam pendekatan 1op-down, pemungutan suara disusun sedemikian
rupa sehingga tiap Kriteria atau lndikator didiskusikan dalam sebuah
kelompok, tetapi setiap orang memilih secara individual. Setiap subkelompok
juga memilih salah satu anggota untuk memudahkan diskusi.
Pendekatan Penetapan peringkat dan Penetapan nilai digunakan sebagai pe-
rangkat penvaringan awal. 1eknik ini memungkinkan cara vang cepat untuk
menvaring elemen-elemen Kcl vang tidak cukup penting. Perbandingan
Berpasangan digunakan sebagai saringan halus untuk menentukan lebih
lanjut di mana elemen-elemen Kcl kurang penting dan mungkin dianjurkan
untuk dihapus. 1im tampaknva paling senang dengan Perbandingan
Berpasangan, terutama karena banvaknva penilaian satu banding satu vang
perlu dibuat. lni mungkin disebabkan karena Perbandingan Berpasangan
dilakukan pada akhir penilaian di mana tim lelah dan kurang dapat
memusatkan perhatian.
PENDEKATAN BOTTOM-UP
60
Butir-butir Kunci
Sejumlah butir kunci dapat diekstrapolasi kemungkinannva dari pengalaman-
pengalaman di Kalimantan 1engah dan diterapkan pada pendekatan Bottom-up
atau Kombinasi untuk penilaian Kc l.
1. Membentuk satu 1im Seleksi dengan gambaran vang sesuai dari stakeholder
vang berbeda sangat diperlukan dalam UPH. Sifat dasar 1im Seleksi akan
sangat mempengaruhi kemampuan penerapan dan penerimaan umum suatu
keputusan vang telah dibuat.
2. Waktu vang cukup harus disediakan untuk persiapan. lni mungkin termasuk
menerjemahkan semua dokumen vang relevan ke dalam bahasa daerah, juga
pelaksanaan diskusi dan lokakarva agar 1im Seleksi terbiasa dengan Kcl dan
AMK.
3. 1ehnik-teknik AMK vang digunakan harus relevan dengan sasaran analisis.
1. Waktu vang cukup harus disediakan untuk proses. ldealnva perlu disediakan
waktu bagi 1im Seleksi untuk beristirahat di antara proses analisis Penetapan
peringkat/Penetapan nilai dan Perbandingan berpasangan.
5. Dengan adanva seorang fasilitator dalam tiap subkelompok akan membantu
memastikan semua anggota tim terlibat dalam proses diskusi.
Rujukan untuk Identifikasi Stakeholder
Borrini-leverabend, O. (ed.). 1997. Bevond lences: Seeking Social Sustainabilitv
in Conservation, Volume 1 and 2. lUCN, Oland, Switzerland.
Colfer, C. J.P., Brocklesbv, M.A., Diaw, C., ltuge, P., Onter, M., Harwell, l.,
McDougall, C., Porro, N.M., Porro, R., Prabhu, R., Salim, A., Sardjono, M.A.,
1chikangwa, B., 1iani, A.M., Wadlev, R.l., Woelfel, J. dan Wollenberg, l.
1999. 1he Bag (Basic Assessment Ouide for Human well-Being). Criteria c
lndicators 1oolbox Series No. 5. CllR, Bogor, lndonesia.
61
lorest Stewardship Council (lSC). 1991. lorestrv Stewardship Principles and Criteria
for Natural lorest Management. axaca, Mexico.
Oolden, B., P. Harker dan l. Wasil. 19o9. 1he Analvtic hierarchv Process:
Applications and Studies. Springer Verlag, the Netherlands.
lnternational 1imber 1rade rganization (l11). 1992. Critria for the measurement
of sustainable tropical forest management, Yokohama, Japan.
landres, P.B. 1992. lcological indicators: Panacea or liabilitv' Dc|cm. McKenzie, D.H.,
Hvatt, D.l. dan McDonald, J.l. (ed.) lcological lndicators, Volume 2, hal.
1295-1319. llsevier Applied Science, london.
Mendoza, O.A. 1997a. lntroduction to the Analvtic Hierarchv Process: 1heorv and
Application to Natural Resources Management. Proceedings: Joint Annual
Meeting of the American Congress on Surveving and Mapping (ACSM),
American Association of Photogrammetrv and Remote Sensing (ASPRS),
and Resources 1echnologv lnstitute (R1l). April 5-1O. Seattle, WA.
Mendoza, O.A. 1997b. A OlS-based Multicriteria approaches to land suitabilitv
assessment and allocation. Proceedings: Seventh lnternational Svmposium
on Svstems Analvsis in lorest Resources. Mav 2o -31. 1raverse Citv Michigan.
Mendoza, O.A. dan R. Prabhu. 199oa. Multiple Criteria Decision Making Approaches
to Assessing lorest Sustainabilitv Using Criteria and lndikators: A Case Studv
- Part l. CllR, Bogor, lndonesia.
6
Daftar Pustaka dan Bacaan
Lebih Lanjut
DAFTAP PUSTAKA
62
Mendoza, O.A. dan R. Prabhu. 199ob. Multiple Criteria Analvsis for Assessing Crite-
ria and lndikators in Sustainable lorest Management: A Case Studv on Partici-
patorv Decision Making - Part ll. CllR, Bogor, lndonesia.
xford Dictionarv of Current lnglish. 19o7. xford Universitv Press, New York.
Prabhu, R., C.J.P. Colfer, P. Venkateswarlu, l.C. 1an, R. Soekmadi, dan l. Wollenberg.
1996. 1esting Criteria and lndikators for the sustainable management of forests.
Phase l. linal Report. CllR Special Publication. CllR, Bogor, lndonesia.
Prabhu, R., C.J.P. Colfer, dan R.O. Dudlev. 1999. Ouidelines for Developing, 1esting
and Selecting Criteria and lndikators for Sustainable lorest Management.
Criteria and lndicators 1oolbox Series No. 1. CllR, Bogor, lndonesia.
Saatv, 1. 1995. Decision making for leaders: 1he Analvtic Hierarchv Process in a
complex world. RWS Publications, Pittsburgh, PA.
Scientific Certification Svstems (SCS). 1991. 1he lorest Conservation Program:
Programme Description and perations Manual. SCS, California.
SOS lorestrv. 1991. Assessors Handbook, Policv Document and Procedures Manual.
SOS lorestrv, xford, UK.
1ropenbos loundation. 1997. Hierarchical lramework for the formulation of
sustainable forest management standards. 1ropenbos, 1he Netherlands.
Vargas, l. dan l. zahedi. 1993. Special lssue. Analvtic Hierarchv Process and its
applications. Mathematical and Computer Modeling. Vol 17.
63
7.1 CLOSARI
7
Aneks
lemen Keputusan
lstilah ini merupakan suatu referensi
umum untuk elemen-elemen berbeda
vang perlu dianalisis agar dapat
membuat keputusan vang kompleks.
Indikator
Suatu indikator dapat berupa suatu
peubah atau komponen ekosistem
hutan atau sistem pengelolaan vang
digunakan untuk menvimpulkan ciri-
ciri kelestarian suatu sumber dava dan
pemanfaatannva (landres 1992, Prabhu
dkk. 1996).
Indeks Ketidak-konsistenan (I.K.)
Pengukuran konsistensi penilaian suatu
1im Pakar pada saat mereka
menggunakan metode Perbandingan
berpasangan. l.K. dapat memberikan
informasi mengenai konsistensi dalam
hal tingkat kepentingan ordinal dan
kardinal dari dua elemen vang
dibandingkan.
Analisis Multikriteria (AMK)
Suatu perangkat pengambilan
keputusan vang dikembangkan untuk
masalah-masalah multikriteria vang
kompleks dan mungkin meliputi aspek
kualitatif dan kuantitatif dari masalah
dalam proses pengambilan keputusan.
Kriteria
Kriteria merupakan suatu titik tengah di
mana informasi vang disediakan dari
indikator dapat diintegrasikan dan cara
penilaian vang dapat ditafsirkan menjadi
semakin jelas (Prabhu dkk. 1999).
Pembobotan
Suatu nilai vang mencerminkan tingkat
kepentingan relatif suatu elemen
keputusan (misalnva lndikator) dengan
mempertimbangkan elemen keputusan
lainnva.
ANEKS
64
Tingkat Kepentingan Ordinal
lstilah ini berhubungan dengan urutan
tingkat kepentingan dari daftar elemen
vang terlibat. Sebagai contoh, mana
vang datang pertama, kedua, dst.
Stakeholder
Pihak-pihak perorangan atau kelompok vang
memiliki kepentingan terhadap hutan.
Tingkat Kepentingan Kardinal
lstilah ini berhubungan dengan
perbedaan vang besar di antara tingkat
kepentingan dua elemen. Sebagai
contoh, satu elemen mungkin tiga kali
lebih penting daripada vang lainnva.
Proses Hierarki Analitik (PHA)
Metode PHA mengurangi keputusan-
keputusan kompleks menjadi satu
rangkaian perbandingan sederhana,
vang disebut Perbandingan berpasangan,
di antara elemen-elemen hierarki
keputusan. Dengan mensintesis hasil
perbandingan ini, PHA dapat
membantu mencapai keputusan terbaik
dan memberikan alasan vang jelas bagi
pilihan vang Anda buat.
Unit Pengelolaan Hutan (UPH)
Suatu lahan vang memiliki batas-batas
vang jelas, terutama tertutup oleh
hutan, dan dikelola sesuai dengan
sasaran vang jelas dan sesuai dengan
suatu rencana pengelolaan jangka
panjang.
Prinsip
Adalah suatu kebenaran atau aturan
mendasar vang digunakan sebagai
landasan berpikir atau bertindak (\jrJ
D|c:|ncr, j Curren: ln||s| 19o7,
Prabhu dkk. 1999).
Pengukur (verifier)
Data atau informasi vang lebih spesifik
sehingga meningkatkan kemudahan
untuk melakukan penilaian terhadap
indikator (Prabhu dkk. 1996).
Perbandingan berpasangan
Membuat perbandingan satu banding
satu di antara tiap elemen keputusan
(misalnva, lndikator).
Pengelolaan Hutan Lestari
Cara-cara pengelolaan hutan dengan
tetap mempertahankan atau bahkan
meningkatkan berbagai fungsi ekologis
hutan dan kesejahteraan manusia.
Penetapan Peringkat
1iap elemen keputusan diberi peringkat
vang mencerminkan derajat
kepentingan relatif vang dapat dilihat
terhadap keputusan vang dibuat.
llemen keputusan kemudian dapat
diurutkan menurut peringkatnva
(pertama, kedua, dst).
Penetapan Nilai
llemen-elemen keputusan diberi skor
antara O dan 1OO. Skor untuk semua
elemen vang dibandingkan harus
mencapai 1OO.
65
PANDUAN MENEPAPKAN ANALlSlS, SEPl NO. 9
7.2 LMBAR PNCUMPULAN SAMPL DATA
Iormulir Respon 1A
(Silakan merujuk pada Pola Oenerik CllR untuk lnformasi 1erinci mengenai Prinsip)
Des|r|s|. lormulir Respon 1A dirancang untuk Analisis 1ingkat 1 pada
1ahap1. 1ahap1 bertujuan menghasilkan suatu daftar prioritas Kriteria
berdasarkan |c Gener|| Kc Cn. Dari analisis 1ingkat 1 diperoleh
respon dari responden berdasarkan tingkat kepentingan vang mereka pahami
mengenai keenam Prinsip.
Keunccn rmu||r. Kegunaan lormulir lA adalah untuk memperkirakan
tingkat kepentingan relatif atau bobot tiap Prinsip dalam keseluruhan
penilaian kelestarian hutan.
Prinsip Peringkat Nilai
Bobot/Prioritas Relatif
(Diisi oleh Analis)
Keterang-
an
Peringkat
(Prioritas)
Nilai
(Prioritas)
Keseluruhan
(Prioritas)
Prinsip 1
Prinsip 2
Prinsip 3
Prinsip 1
Prinsip 5
Prinsip 6
1otal ~ 1OO
ANEKS
66
Iormulir Respon 1B
(Silakan merujuk pada Pola Oenerik CllR untuk lnformasi 1erinci mengenai
Kriteria dan lndikator)
Des|r|s|. lormulir Respon 1B dirancang untuk Analisis 1ingkat 2 pada
1ahap 1. Pada 1ingkat 2 diperoleh respon dari para responden tentang
pendapat mereka mengenai tingkat kepentingan relatif tiap Kriteria terhadap
Prinsip, pada khususnva, dan kelestarian hutan keseluruhan, pada umumnva.
Keunccn rmu||r: Kegunaan lormulir 1B adalah untuk memperkirakan
tingkat kepentingan relatif atau bobot tiap kriteria dalam tiap Prinsip.
enen:ucn KJe Jcr| Kr|:er|c. K. i.j, i menunjukkan angka indeks Prinsip,
j menunjukkan angka indeks Kriteria
Nilai
Nilai
(Prioritas)
K. 1.1
K. 1.2
K. 1.3
K. 1.1
K. 1.5
K. 1.6
Prinsip 1
Kriteria
Peringkat
Bobot/Prioritas Relatif
(Diisi oleh Analis)
Keterang-
an
Peringkat
(Prioritas)
Keseluruhan
(Prioritas)
1otal ~ 1OO
67
PANDUAN MENEPAPKAN ANALlSlS, SEPl NO. 9
Iormulir Respon 2A: Perbandingan Berpasangan
(Silakan merujuk pada Pola Oenerik Kcl CllR untuk lnformasi 1erinci
mengenai Kriteria dan lndikator)
Des|r|s|. lormulir Respon 2A dirancang untuk Analisis 1ahap 2. 1ahap 2
bertujuan menghasilkan suatu daftar prioritas lndikator untuk tiap Kriteria.
Keunccn rmu||r. Kegunaan formulir adalah untuk memperkirakan tingkat
kepentingan relatif atau bobot tiap lndikator dalam Kriteria dengan menggu-
nakan metode Perbandingan Berpasangan.
Nilai
Nilai
(Prioritas)
K. 2.1
K. 2.2
K. 2.3
Prinsip 2
Kriteria
Peringkat
Bobot/Prioritas Relatif
(Diisi oleh Analis)
Keterang-
an
Peringkat
(Prioritas)
Keseluruhan
(Prioritas)
1otal ~ 1OO
Indikator A Kriteria K. 1.1 Indikator B
l. 1.1.1 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.2
l. 1.1.1 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.3
l. 1.1.1 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.1
l. 1.1.1 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.5
l. 1.1.2 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.3
l. 1.1.2 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.1
l. 1.1.2 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.5
l. 1.1.3 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.1
l. 1.1.3 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.5
l. 1.1.1 9 o 7 6 5 1 3 2 1 2 3 1 5 6 7 o 9 l. 1.1.5
ANEKS
6S
7.3 POLA CNRIK KRITRIA DAN INDIKATOR CIIOR*
(1anpa Pengukur/Verifier)
* Dikutip dari Seri No. 2 Perangkat Kriteria c lndikator CllR.
1 KEBIJAKAN, PERENCANAAN DAN KERANGKA KELEMBA-
GAAN MENDUKUNG PENGELOLAAN HUTAN LESTARI
1.1 Dana untuk pengelolaan hutan selalu tersedia dan dalam jumlah
yang memadai
1.1.1 Kebijakan dan perencanaan didasarkan atas informasi yang akurat dan
terkini
1.1.2 Ada cara-cara yang efektif dalam koordinasi antarlembaga dalam hal
tata guna lahan dan pengelolaan lahan
1.1.3 Adanya kawasan hutan permanen yang merupakan basis pengelolaan
hutan lestari, yang mencakup hutan lindung dan hutan produksi, dan
dilindungi oleh undang-undang
1.1.4 Ada rencana tata guna lahan regional, yang menggambarkan berbagai
macam peruntukan lahan hutan, yang memperhatikan nilai-nilai berbagai
faktor seperti jumlah penduduk, pertanian, konservasi, lingkungan dan
budaya
1.1.5 Lembaga-lembaga yang bertanggung jawab untuk pengelolaan hutan
dan penelitian mendapat dana dan tenaga yang memadai
1.2 Ada kebijakan ekonomi yang bersifat pencegahan
1.2.1 Ada dana cadangan untuk mengatasi kerusakan yang mungkin terjadi
(performance bond)
DSKRIPSI P K I
69
PANDUAN MENEPAPKAN ANALlSlS, SEPl NO. 9
1.2.2 Berbagai langkah untuk mencegah korupsi sudah dilaksanakan
1.3 Kebijakan nonkehutanan tidak mengganggu pengelolaan hutan
1.3.1 Tidak ada insentif sektor pertanian untuk melakukan perluasan produksi
1.3.2 Tidak ada pengendalian harga untuk produksi pangan dalam negeri
1.3.3 Tidak ada pengendalian harga untuk minyak bahan bakar
1.3.4 Tidak ada kebijakan pemukiman yang mengganggu
1.3.5 Tidak ada gangguan dari nilai tukar mata uang yang telalu tinggi atau terlalu
rendah
1.4 Ada daerah penyangga yang berfungsi dengan baik
1.4.1 Tingkat konflik tata batas dalam unit pengelolaan hutan unit (UPH) rendah
1.4.2 Masyarakat lokal menghormati tata batas UPH
1.4.3 Pengelola hutan (seperti HPH, Perusahaan kayu) menunjukkan berbagai
upaya untuk melindungi tata batas UPH
1.5 Hukum dan perundang-undangan menjamin akses terhadap hutan
dan sumber daya hutan
1.5.1 Keamanan kepemilikan yang jelas dan didokumentasikan dengan baik
1.5.2 Ada kebijakan untuk tidak mengambil alih tata guna lahan yang ada
1.5.3 Ada hak untuk memungut hasil hutan nonkayu (HHNK) (misalnya, kayu
bakar)
1.5.4 Kebijakan hak kepemilikan lahan tidak mendiskriminasikan hak
atas hutan
1.5.5 Kebijakan penetapan harga kayu bulat/ekspor kayu bulat efisien
ANEKS
70
1.5.6 Sistem alokasi lahan pengusahaan hutan berlangsung transparan
1.6 Ada reinvestasi modal untuk berbagai pilihan kegiatan pemanfaatan hutan
1.6.1 Tidak ada pelarian modal secara besar-besaran (mendorong tebang dan
lari)
2 PEMELIHARAAN INTEGRITAS EKOSISTEM
2.1 Proses-proses yang menjaga keanekaragaman hayati di dalam hutan
yang dikelola (UPH) dilindungi
2.1.1 Pola-pola lansekap tetap dipertahankan
2.1.2 Perubahan keragaman habitat akibat intervensi manusia tetap dipertahan-kan
di dalam batas kritisnya seperti ditetapkan oleh variasi alami dan/atau tujuan
konservasi
2.1.3 Struktur relung (guilds) komunitas tertentu tidak menunjukkan perubahan
yang berarti, khususnya yang mewakili komunitas tertentu seperti kelom-
pok penyerbuk dan penyebar biji
2.1.4 Tingkat kekayaan/keragaman kelompok-kelompok tertentu tidak menunjukkan
perubahan yang penting
2.1.5 Ukuran populasi dan struktur demografi jenis-jenis tertentu tidak menun-
jukkan perubahan yang berarti, dan berbagai tahap dalam siklus kehidup-an
secara demografis dan ekologis tetap terwakili
2.1.6 Status pembusukan dan daur hara tidak menunjukkan perubahan yang berarti
2.1.7 Tidak ada perubahan penting dalam hal kualitas dan kuantitas air dalam
daerah resapan air
2.2 Berbagai fungsi ekosistem tetap dipelihara
2.2.1 Rantai makanan dan ekosistem tidak terkontaminasi oleh bahan kimia
71
PANDUAN MENEPAPKAN ANALlSlS, SEPl NO. 9
2.2.2 Tempat-tempat yang rentan secara ekologis dilindungi, seperti daerah
penyangga yang berada di sepanjang aliran sungai
2.2.3 Tempat-tempat yang mewakili berbagai lokasi yang nilai ekologisnya penting
dilindungi atau dikelola secara tepat
2.2.4 Jenis hidupan yang langka atau terancam punah dilindungi
2.2.5 Erosi dan bentuk-bentuk kemerosotan lahan lainnya dipertahankan sekecil
mungkin
2.3 Konservasi berbagai proses untuk mempertahankan variasi genetis
2.3.1 Berbagai tingkat keragaman genetis tetap dipertahankan dalam batas-batas
kritisnya
2.3.2 Tidak ada perubahan arah frekuensi genotip
2.3.3 Tidak ada perubahan dalam aliran/migrasi gen
2.3.4 Tidak ada perubahan dalam sistem perkawinan
3 PENGELOLAAN HUTAN MENJAGA ATAU MENINGKATKAN
AKSES ANTARGENERASI TERHADAP SUMBER DAYA DAN
BERBAGAI MANFAAT EKONOMI SECARA ADIL
3.1 Pihak pengelola lokal dapat secara efektif mengendalikan pemeliha-
raan dan akses terhadap sumber daya
3.1.1 Kepemilikan dan hak pemanfaatan sumber daya (dalam satu generasi atau
antargenerasi) jelas dan mengakui klaim yang sudah ada
3.1.2 Berbagai aturan dan norma dalam penggunaan sumber daya dipantau dan
ditegakkan pelaksanaannya
3.1.3 Cara-cara untuk mengatasi konflik berfungsi baik tanpa
menggunakan kekerasan
ANEKS
72
3.1.4 Akses terhadap sumber daya dianggap adil oleh masyarakat lokal
3.1.5 Masyarakat lokal merasakan keamanan aksesnya terhadap sumber daya
3.2 Para pengelola hutan memperoleh manfaat ekonomi yang cukup dari
hasil-hasil hutan yang diambilnya
3.2.1 Mekanisme distribusi manfaat dianggap adil oleh masyarakat lokal
3.2.2 Adanya kesempatan bagi masyarakat lokal dan masyarakat yang meng-
gantungkan hidupnya pada hutan untuk memperoleh pekerjaan dari perusahaan-
perusahaan kehutanan
3.2.3 Upah dan tunjangan lainnya sesuai dengan standar nasional dan/atau ILO
3.2.4 Ganti rugi terhadap kerusakan diberikan secara adil
3.2.5 Berbagai hasil hutan digunakan secara optimal dan adil
3.3 Masyarakat mengaitkan masa depan mereka dan anak-anak mere-ka
dengan pengelolaan sumber daya hutan
3.3.1 Masyarakat menanamkan modal di lingkungannya (misalnya, waktu, tenaga,
uang)
3.3.2 Tingkat migrasi keluar rendah
3.3.3 Masyarakat menyadari pentingnya keseimbangan antara jumlah pendu-duk
dengan pemanfaatan sumber daya alam
3.3.4 Anak-anak mendapatkan pendidikan (formal dan informal) tentang pengelolaan
sumber daya alam
3.3.5 Perusakan sumber daya alam oleh masyarakat lokal jarang terjadi
3.3.6 Masyarakat memelihara hubungan batin dengan lahan hutan
73
PANDUAN MENEPAPKAN ANALlSlS, SEPl NO. 9
4 STAKEHOLDER YANG RELEVAN MEMILIKI HAK DAN
KEMAMPUAN YANG DIAKUI UNTUK MENGELOLA HUTAN
SECARA BERSAMA DAN ADIL
4.1 Adanya berbagai mekanisme yang efektif untuk melakukan komu-
nikasi dua arah antara para stakeholder dalam kaitannya dengan
pengelolaan hutan
4.1.1 > 50% dari pegawai Departemen Kehutanan dan Perkebunan dan karya-
wan HPH dapat berbicara dalam satu atau beberapa bahasa lokal, atau >
50% wanita lokal dapat menggunakan bahasa yang digunakan oleh HPH
dalam berinteraksi
4.1.2 Para stakeholder lokal bertemu dengan frekuensi yang cukup, keragaman
lokal cukup terwakili, dan dengan kualitas interaksi yang cukup
4.1.3 Kontribusi masing-masing stakeholder saling dihormati dan dihargai
secara wajar
4.2 Para stakeholder memiliki pengetahuan yang lengkap tentang peng-
gunaan sumber daya hutan (termasuk pengetahuan tentang kelom-
pok-kelompok pengguna hutan dan peranan jender), dan juga penge-
tahuan tentang rencana pengelolaan hutan sebelum rencana tersebut
dilaksanakan
4.2.1 Adanya rencana/peta-peta yang menunjukkan pengintegrasian
berbagai penggunaan hutan oleh berbagai stakeholder yang berbeda
4.2.2 Rencana yang diperbarui, studi-studi dasar dan peta dapat diperoleh
dengan mudah, yang menunjukkan rincian kawasan seperti penebangan
hutan dan pembangunan jalan, disertai kerangka waktunya
4.2.3 Studi-studi dasar tentang sistem masyarakat lokal juga tersedia dan diacu
4.2.4 Pegawai pengelola hutan mengakui adanya berbagai kepentingan
dan hak stakeholder lainnya
ANEKS
74
4.2.5 Pengelolaan HHNK mencerminkan kepentingan dan hak-hak stakeholder
lokal
4.3 Ada kesepakatan tentang hak-hak dan berbagai kewajiban stake-holder
yang relevan
4.3.1 Tingkat konflik yang ada dapat diterima oleh para stakeholder
5 KESEHATAN HUTAN, PARA PENGGUNA HUTAN DAN BUDA-
YANYA DAPAT DITERIMA OLEH SEMUA STAKEHOLDER
5.1 Ada keseimbangan yang cukup baik antara berbagai kegiatan manu-
sia dan kondisi lingkungannya
5.1.1 Berbagai kondisi lingkungan yang dipengaruhi oleh kegiatan manusia tetap
dalam keadaan stabil atau membaik
5.1.2 Migrasi masuk dan/atau pertambahan penduduk secara alami selaras dengan
pemeliharaan hutan
5.2 Ada pengakuan terhadap hubungan antara kesehatan masyarakat
dengan pengelolaan hutan
5.2.1 Pihak pengelola hutan bekerjasama dengan petugas kesehatan masyarakat
dalam mengatasi berbagai penyakit yang berkaitan dengan pengelolaan hutan
5.2.2 Status gizi masyarakat lokal cukup baik (misalnya, tingkat pertumbuhan
tinggi dan berat badan anak-anak sesuai dengan standar internasional, tingkat
kematian bayi dan balita rendah)
5.2.3 Para pegawai yang bekerja di bidang kehutanan memperhatikan persya-ratan-
persyaratan dan keamanan kerja sesuai dengan standar ILO dan bertanggung
jawab atas risiko kesehatan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka
75
PANDUAN MENEPAPKAN ANALlSlS, SEPl NO. 9
5. 3 Ada pengakuan terhadap pentingnya keterkaitan antara
pemeli-haraan hutan dengan kebudayaan
5.3.1 Para pengelola hutan dapat menjelaskan keterkaitan antara budaya
masya-rakat dengan hutan lokal
5.3.2 Rencana-rencana pengelolaan hutan mencerminkan perhatian
terhadap isu-isu yang terkait dengan kebudayaan
5.3.3 Tidak ada tanda-tanda tentang adanya perpecahan budaya
6 HASIL DAN KUALITAS BARANG DAN JASA DARI HUTAN
BERSIFAT LESTARI
6.1 Unit Pengelolaan Hutan dilaksanaan berdasarkan kepemilikan lahan
yang sah, dengan mengakui hak-hak adat (tradisional), atau dengan
perjanjian sewa-menyewa yang jelas
6.1.1 Ada dokumen bukti-bukti kesepakatan dengan masyarakat lokal tentang
tempat-tempat di mana pihak pengelola hutan dapat melakukan
kegiatannya
6.1.2 Ada informasi tentang identitas, lokasi dan populasi masyarakat indijenus
dan masyarakat tradisional yang hidup di sekitar kawasan hutan yang
dikelola atau masyarakat yang mengklaim kawasan hutan yang dikelola
6.1.3 Ada berbagai bukti atau pernyataan dari perwakilan organisasi-organisasi
masyarakat indijenus atau masyarakat tradisional yang menetapkan luas
wilayah pengelolaan masing-masing, disertai dengan peta-petanya
6. 2 Sasaran pengelolaan diuraikan secara jelas dan
didokumentasikan dengan baik
6.2.1 Sasaran diuraikan dengan jelas, khususnya dalam hal berbagai fungsi
hutan, dengan memperhatikan aspek-aspek distribusi ruangnya
ANEKS
76
6. 3 Rencana pengelolaan hutan bersifat komprehensif
6.3.1 Tersedianya rencana pengelolaan hutan yang komprehensif
6.3.2 Pengelolaan melibatkan berbagai stakeholder yang tepat dan
mempertim-bangkan berbagai fungsi hutan, seperti produksi kayu,
HHNK, ekologi dan kesejahteraan masyarakat lokal
6.3.3 Aturan pengambilan hasil berdasarkan luas hutan atau volume hasil
disebutkan dengan jelas
6.3.4 Sistem silvikultur yang tepat dengan tipe hutan dan hasil hutan yang
diproduksi disebutkan dengan jelas
6.3.5 Sistem pemanenan dan peralatannya ditetapkan sesuai dengan kondisi
hutan untuk mengurangi dampak/pengaruh
6.3.6 Rencana pengelolaan secara berkala diserahkan untuk direvisi
6.4 Implementasi rencana pengelolaan berlangsung efektif
6.4.1 Unit-unit hutan dibuat zonasinya untuk berbagai tujuan pengelolaan
6.4.2 Tata batas ditandai di lapangan
6.4.3 Hasil inventarisasi seluruh pemanfaatan hutan dan hasil-hasil hutannya
tersedia
6.4.4 Para karyawan mendapat pelatihan yang memadai untuk melaksanakan
pengelolaan
6.4.5 Infrastruktur disiapkan sebelum pemanenan dan dilakukan sesuai aturan-
aturan pemanenan
6.4.6 Kerusakan terhadap tegakan sisa rendah
77
PANDUAN MENEPAPKAN ANALlSlS, SEPl NO. 9
6.4.7 Rehabilitasi lahan dan hutan yang terkena dampak dilakukan sesuai
dengan aturan-aturan yang ditetapkan
6.4.8 Tidak ada dampak di luar lokasi seperti dampak kualitas/kuantitas air
di daerah hilir, dampak terhadap infrastruktur dsb.
6.4.9 Berbagai sistem untuk produksi dan transformasi hasil hutan berlangsung
efisien
6.5 Sistem pemantauan dan sistem audit terhadap pengelolaan sesuai
dengan perencanaan
6.5.1 Petak-petak untuk inventarisasi hutan secara kontinu tetap ada dan
dihitung secara teratur
6.5.2 Semua dokumentasi dan catatan tentang pengelolaan hutan dan berbagai
kegiatan yang terkait dengan pengurusan hutan disimpan dalam kondisi
baik sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pemantauan
6.5.3 Petak kerja dalam keadaan terlindung (misalnya, dari kebakaran, peram-
bahan hutan dan pemanfaatan kembali sebelum waktunya)
6.5.4 Penandaan pohon-pohon sebagai sumber biji dan pohon potensial untuk
pertumbuhan berikutnya dilakukan
6.5.5 Hasil-hasil yang berasal dari pemantauan dan penelitian, dan juga
ber-bagai informasi ilmiah dan teknis, dimasukkan ke dalam
implementasi dan revisi rencana pengelolaan
6. 6 Keberadaan dan distribusi keuntungan ekonomis
dilakukan secara adil
6.6.1 Perkiraan rent capture pemerintah
6.6.2 Perkiraan rent capture operator kehutanan
6.6.3 Perkiraan rent capture masyarakat lokal di hutan
ANEKS
7S
CA1A1AN:
P ~ PRlNSlP K ~ KRl1lRlA l ~ lNDlKA1R
SistemCGIAR
CIFOR
CIFOR
The Consultative Group on International Agricultural Research (CGIAR)
adalah suatu asosiasi informal yang terdiri dari 41 organisasi donor dari sektor
publik dan swasta yang mendukung jaringan enam belas lembaga penelitian
internasional di bidang pertanian, di mana CIFORmerupakan anggota terbaru.
Asosiasi ini didirikan pada tahun 1971. Pusat-pusat CGIAR merupakan bagian
sistem penelitian global di bidang pertanian yang berusaha menerapkan
kemampuan ilmiah internasional untuk menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapi olehmasyarakatmiskindi dunia.
adalah bagian sistem CGIAR dengan tugas khusus untuk menanggapi
kepedulian global tentang dampak kerusakan dan kehilangan hutan terhadap
kondisi sosial, lingkungan dan ekonomi masyarakat. CIFOR beroperasi melalui
berbagai kemitraan yang sangat terdesentralisasi dengan lembaga-lembaga
dan/atau individu terpenting di seluruh negara industri dan negara yang sedang
berkembang. Sifat dan jangka waktu kemitraan ini ditentukan oleh masalah-
masalah penelitian khusus yang dihadapi. Agenda penelitian ini terus-menerus
dikaji dan selalu mengalami perubahan ketika para mitra menemukan berbagai
masalahdanpeluang baru.
Analisis Multikriteria adalah perangkat pengambilan keputusan yang
dikembangkan untuk masalah-masalah kompleks. Dalam situasi
pengambilan keputusan yang melibatkan banyak kriteria, kerancuan
mungkin akan terjadi jika suatu proses pengambilan keputusan yang
logis dan terstruktur dengan baik tidak diikuti. Kesulitan lain yang
dihadapi dalam pengambilan keputusan seperti ini adalah bagaimana
mencapai kesepakatan bersama dalam suatu tim yang terdiri dari
berbagai disiplin ilmu. Dengan menggunakan AMK, para anggota tidak
harus sepakat mengenai tingkat kepentingan relatif suatu Kriteria atau
mengenai penetapan peringkat alternatifnya. Tiap anggota tim
menyatakan pendapat pribadinya, dan memberi sumbangan masing-
masing dalamrangka tercapainya kesimpulan yang disepakati bersama.
Panduan ini ditulis untuk pengguna yangmemerlukan panduan yang jelas
dan mudah diikuti untuk menerapkan Analisis Multikriteria (AMK) di
lapangan. Informasi yang disajikan dalam panduan ini pertama
memperkenalkan pengguna dengan konsep-konsep umum yang
digunakan sebelummembahas aplikasi Analisis Multikriteria secara lebih
spesifik. Panduan ini menyajikan kajian tentang kerangka konseptual K&I
dan memperkenalkan landasan teori AMK, serta berbagai metode
seperti penetapan nilai, penetapan peringkat, dan perbandingan
berpasangan dalam Proses Hierarki Analitik (PHA). Panduan ini juga
menyajikan suatu contoh bagaimana menerapkan AMK dalam menilai
K&I dalamkonteks sertifikasi hutan, dari perspektif maupun

top-down
bottom-up .