Anda di halaman 1dari 12

RESUME BUKU FILSAFAT ILMU KARANGAN JUJUN SUMANTRI

By martinmanao on Desember 2, 2009

I. ILMU DAN FILSAFAT Pengetahuan dimulai denga rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa raguragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duan a. !erfilsafat did"r"ng untuk mengetahui apa ang telah kita tahu dan apa ang ita #elum tahu. !erfilsafat #erarti #erendah hati #ah$a tidak semuan a akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan ang seakan tak ter#atas ini. Demikian %uga #erfilsafat #erarti meng"reksi diri, sema&am ke#eranian untuk #erterus terang, se#erapa %auh se#enarn a ke#enaran ang di&ari telah kita %angkau. !erfilsafat tentang ilmu #erarti kita #erterus terang kepada diri kita sendiri' apakah se#enarn a ang asa a ketahui tentang ilmu( Apakah &irri-&irin a ang hakiki ang mem#edakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainn a ang #ukan ilmu( !agaimana sa a ketahui #ah$a ilmu merupakan pengetahuan ang #enar( )riteria apa ang kita pakai dalam menentukan ke#enaran se&ara ilmiah( Mengapa kita mempela%ari ilmu( Apakah kegunaann a se#enarn a( Demikian %uga #erfilsafat #erarti #erendah hati menge*aluasi segenap pengetahuan ang telah kita ketahui' Apakah ilmu telah men&akup segenap pengetahuan ang se "g an a sa a ketahui dalam kehidupan ini( Di#atas manakah ilmu mulai dan di #atas manakah dia #erhenti( )emanakah sa a harus #erpaling di #atas ketidaktahuan ini( Apakah kele#ihan dan kegunaan ilmu( Apakah Filsafat( Ada tiga karakteristik #erpikir filsafat ang pertama adalah sifat men eluruh. +ang kedua adalah sifat mendasar. +ang ketiga adalah sifat spekulatif. !idang Telaah Filsafat Selaras dengan dasarn a ang spekulatif, maka dia menelaah segala masalah ang mungkin dapat dipikirkan "leh manusia. Sesuai dengan fungsin a men%a$a# se#agai pi"nir dia mempermasalahkan hal-hal ang p"k"k' ter%a$a# masalah ang satu, diapun mulai meram#ah pertan aan lain. ,a#ang-,a#ang Filsafat ,a#ang-&a#ang filsafat antara lain' -pistem"l"gi . filsafat pengetahuan /. 0. -tika . fisalfat m"ral /. 1. -stetika . Filsafat seni /. 2. Metafisika. 3.P"litik . filsafat

pemerintahan /. 4 Filsafat Agama. 5. Filsafat ilmu 6. Filsafat pendidikan. 7 Filsafat 8ukum. 9:. Filsafat se%arah. 99. Filsafat matematika. Filsafat Ilmu Filsafat ilmu merupakan #agian dari epistem"l"g . filsafat pengetahuan / ang se&ara spesifik mengka%i hakikat ilmu . pengetahuan ilmiah /. Filsafat ilmu merupakan telaah s&ara filsafat ang ingin men%a$a# #e#erapa pertan aan mengenai hakikat ilmu seperti' ;# ek apa ang ditelaah ilmu( !agaimana u%ud ang hakiki dari "# ek terse#ut( !agaimana hu#ungan antara "# ek tadi dengan da a tangkap manusia .seperti #erpikir, merasa dan mengindera ang mem#uahkan pengetahuan( Pertan aanpertan aan ini merupakan landasan "nt"l"gism II. DASA<-DASA< P-N=-TA8UAN 0. Penalaran Penalaran merupakan suatu pr"ses #erpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan ang #erupa pengetahuan. Se#agai kegiatan #erpikir, penalaran mempun ai irri-&iri tertentu aitu' pertama, adan a suatu p"la #erpikir ang se&ara luas dapat dise#ut l"gika. Atau dapat %uga dikatakan penalaran merupakan suatu pr"ses #erpikir l"gis. ,iri ang kedua adalah pr"ses #erpikirn a #ersifat analitik. Perasaan adalah suatu penarikan kesimpulan ang tidak #erdasarkan penalaran. Intuisi adalah suatu kegiatan #erpikir ang n"nanalitik ang tidak mendasarkan diri pada p"la pikir tertentu. 1. L"gika L"gika dapat di defenisikan se#agai pengka%ian untuk #erpikir se&ara sahih. L"gika ada dua aitu' l"gika induksi dan l"gika deduksi. L"gika Induksi merupakan &ara #erpikir dimana ditarik suatu kesimpulan ang #ersifat umum dari kasus ang #ersifat indi*idual. Sedangkan l"gika deduksi merupakan &ara #erpikir di mana dari pern ataan ang #ersifat umum ditarik kesimpulan ang #ersifat khusus. Penarikan kesimpulan se&ara deduktif menggunakan p"la #erpikir sil"gisme. Disusun dari dua #uah pertan aan dan se#uah kesimpulan. 2. Sum#er pengetahuan Pada dasarn a terdapat dua &ara ang p"k"k #agi manusia untuk mendapatkan pengetahuan ang #enar. +ang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasi" dan ang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. )aum rasi"nalis mengem#angkan paham apa ang kita kenal dengan rasi"nalisme sedangkan

mereka ang mendasarkan diri kepada pengalaman mengem#angkan paham ang dise#ut dengan empirisme. )aum rasi"nalis #eranggapan #ah$a pengetahuan didapatkan le$at penalaran rasi"nal ang a#strak sedangkan kaum empirisme pengetahuan manusia didapatkan le$at #ukti k"nkret. Selain rasi"nalisme dan empirisme masih terdapat &ara untuk mendapatkan pengetahuan aitu intuisi dan $ah u. Intuisi merupakan pengetahuan ang didapatkan tanpa melalui pr"ses penalaran tertentu. Suatu masalah dalam pikiran namun menemui %alan #untu, ti#a-ti#a sa%a mun&ul di #enak kita ang lengkap dengan %a$a#ann a dan kita merasa akin #ah$a itulah %a$a#ann a namun kita tidak #isa men%elaskan #agaimana &aran a kita sampai kesana. Intuisi #ersifat pers"nal dan tidak #isa diramalkan. >ah u pengetahuan ang disampaikan "leh Tuhan kepada para na#i dan rasulrasuln a. 3. )riteria )e#enaran Paham )"herensi. Sesuatu ang dianggap #enar apa#ila pern ataan dan kesimpulan k"nsisten dengan pern ataan dan kesimpulan ang terdahulu ang telah dianggap #enar. Te"ri ini dise#ut te"ri k"herensi. Atau dapat disimpulkan #ah$a te"ri k"herensi adalah suatu pern ataan dianggap #enar #ila pern ataan itu #ersifat k"heren atau k"nsisten dengan pern ataan-pern ataan se#elumn a ang dianggap #enar Paham )"resp"ndensi . !ertrand <ussell . 9650-975: / !agi penganut te"ri k"resp"ndensi, suatu pern ataan #enar adalah #enar %ika materi pengetahuan ang dikandung pern ataan itu #erk"resp"ndensi . #erhu#ungan / dengan "# ek ang ditu%u "leh pern ataan terse#ut. Paham Pragmatisme . ,harles S. Peir&e 9617-9792 /. !agi kaum pragmatisme ke#enaran adalah suatu pern ataan diukur dengan kriteria apakah pern ataan terse#ut #ersifat fungsi"nal dalam kehidupan praktis. Artin a suatu pern ataan adalah #enar, %ika pern ataan itu atau k"nsekuensi dari pern ataan itu mempun ai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. III. ;NT;L;=I ' 8A)I)AT APA +AN= DI)A?I 4. Metafisika Apakah hakikat ken ataan ini ang se#enar-#enarn a( Metafisika dapat diartikan se#agai ilmu ang men elidiki apa hakikat di#alik alam n ata ini. !idang telaah

filsafati ang dise#ut metafisika ini merupakan tempat #erpi%ak dari setiap pemikiran filsafat termasuk pemikiran ilmiah. 5. Asumsi Determinisme, pr"#a#ilistik dan pilihan #e#as merupakan permasalahan filsafati ang rumit namun menarik. Tanpa mengenal ketiga aspek ini akan sulit #agi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan #aik. Paham determinisme dikem#angkan "leh >illiam 8amilt"n . 9566-9634 / dari d"ktrin Th"mas 8"##es . 9366-9457 / ang men impulkan #ah$a pengetahuan adalah #ersifat empiris ang di&erminkan "leh @at dan gerak ang #ersifat uni*ersal. Aliran ini merupakan la$an dari fatalisme ang men atakn #ah$a segala ke%adian ditentukan "leh nasi# ang ditetapkan le#ih dahulu. 6. Peluang !erdasarkan te"ri keilmuan tidak akan pernah mendapatkan hal ang pasti mengenai suatu ke%adian. +ang ada adalah kesimpulan ang pr"#a#ilistik. 7. !e#erapa asumsi dalam ilmu Suatu permasalahan kehidupan tidak #isa dianalisis se&ara &ermat dan saksama han a "leh satu disiplin keilmuan sa%a. Dalam mengem#angkan asumsi kita harus perhatikan #e#erapa hal. Pertama, asumsi ini harus rele*an dengan #idang dan tu%uan pengka%ian disiplin keilmuan. Asumsi harus "perasi"nal dan merupakan dasar dari pengka%ian te"ritis. )edua, asumsi ini harus disimpulkan dari keadaan se#agaimana adan a #ukan #agaimana keaadaan ang seharusn a. Asumsi ang pertama adalah mendasari telaah ilmiah sedangkan asumsi ang kedua adalah asumsi ang mendasari telaah m"ral. 9:. !atas-!atas Pen%ela%ahan Ilmu Ilmu memulai pen%ela%ahan pada pengalaman manusia dan #erhenti di #atas pengalaman manusia. Ilmu mem#atasi lingkup pen%ela%ahan a pada #atas pengalaman manusia %uga dise#a#kan met"de ang dipergunakan dalam men usun ang telah teru%i ke#enaran a se&ara empiris. IA. -PIST-M;L;=I ' ,A<A M-NDAPAT)AN P-N=-TA8UAN +AN= !-NA< 99. ?arum Se%arah Pengetahuan )"nsep dasar pengetahuan $aktu dulu adalah kriteria kesamaan #ukan per#edaan. Tetapi setelah #erkem#angn a a#ad penalaran pada pertengahan a#ad ke 95 k"nsep

dasarn a #eru#ah dari kesamaan kepada per#edaan #er#agai pengetahuan ang mengaki#atkan tim#uln a spesialisasi peker%aan dan k"nsekuensin a mengu#ah struktur kemas arakatan. P"h"n pengetahuan mulai di#eda-#edakan #erdasarkan apa ang diketahuai, #agaimana &ara mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan. 90. Pengetahuan Pengetahuan pada hakikatn a merupakan segenap apa ang kita ketahui tentang suatu "# ek tertentu. Termasuk didalamn a adalah ilmu. Setiap %enis pengetahuan memiliki &iri-&iri ang spesifik mengenai apa . "nt"l"gi /, #agaimana gaimana . epistem"l"gi / dan untuk apa . aksi"l"gi /. Ilmu mempela%ari alam se#agaimana adan a dan ter#atas pada lingkup pengalaman kita. Usaha untuk mengetahui ge%ala ualam sudah dimulai se%ak dulu kala melalui mit"s. Tahap selan%utn a aitu dengan mengem#angkan pengetahuan ang mempun ai kegunaan praktis dan #erakar pada pengalaman #erdasarkan akal sehat ang didukung "leh met"de men&"#a-&"#a. Perkem#angan ini men e#a#kan tum#uhn a pengetahan ang dise#ut seni terapan. Akal sehat dan &"#a-&"#a mempun ai peranan penting dalam usaha manusia untuk menemukan pen%elasan mengenai #er#agai ge%ala alam. Perkem#angan selan%utn a adalah tum#uhn a rasi"nalisme ang se&ara kritis mempertan akan dasar-dasar pikiran ang #ersifat mit"s. Lalu #erkem#ang lagi kearah empirisme ang men atakan #ah$a pengetahuan ang #enar itu didasarkan kepada ken ataan pengalaman. 91. Met"de Ilmiah Met"de ilmiah merupakan pr"sedur dalam mendapatkan pengetahuan ang dise#ut ilmu. Met"d"l"gi merupakan suatu pengka%ian dalam mempela%ari peraturanperaturan ang terdapat dalam met"de ilmiah. Alur #erpikir ang ter&akup dalam met"de ilmiah adalah se#agai #erikut aitu' pertama, perumusan masalah, )edua, Pen usunan kerangka #erpikir dalam penga%uan hip"tesis ang merupakan argumentasi ang men%elaskan hu#ungan ang mungkin terdapat antara fakt"r ang saling mengait dan mem#entuk k"nstelasi permasalahan, ketiga. Perumusan hip"tesis ang merupakan %a$a#an sementara. )eempat, pengu%ian hip"tesis. )elima. Penarikan kesimpulan. 92. Struktur Pengetahuan Ilmiah Pengetahuan ang di pr"ses menurut met"de ilmiah merupakan pengetahuan ang memenuhi s arat-s arat keilmuan dan dapat dise#ut pengetahuan ilmiah atau ilmu. Pada hakikatn a pengetahuan ilmiah mempun ai tiga fungsi akni men%elaskan,

meren&anakan dan meng"ntr"l. Se#uah te"ri pada umumn a terdiri dari hukumhukum. 8ukum pada hakikatn a merupakan pern ataan ang men atakan hu#ungan antara dua *aria#el atau le#ih dalam suatu kaitan se#a# aki#at. Makin tinggi keumuman k"nsep maka makin tinggi te"ritis k"nsep terse#ut. Pengetahuan ilmiah dalam #entuk te"ri dan hukum harus mempun ai tingkat keumuman ang tinggi atau se&ara idealn a harus #ersifat uni*ersal. Dalam ilmu s"sial untuk meramalkan menggunakan met"de pr" eksi, pendekatan struktural, analisis kelem#agaan atau tahap-tahap perkem#angan. Penelitian ang #ertu%uan untuk menemukan pengetahuan #aru ang se#elumn a #elum pernah diketahui dinamakan penelitan murni atau penelitian dasar. Sedangkan penelitian ang #ertu%uan untuk mempergunakan pengetahuan ilmiah ang telah diketahui untuk meme&ahkan masalah kehidpan ang #ersifat praktis dinamakan penelitian terapan. 93. A. SA<ANA !-<PI)I< ILMIA8 Untuk melakukan kegiatan ilmiah se&ara #aik diperlukan sarana #erpikir. Tersedian a sarana terse#ut memungkinkan melakukan penelaahan ilmiah se&ara teratur dan &ermat. Sarana ilmiah pada dasarn a merupakan alat ang mem#antu kegiatan ilmiah dalam #er#agai langkah ang harus ditempuh. Untuk dapat melakukan kegiatan #erpikir ilmiah dengan #aik maka diperlukan sarana ang #erupa #ahasa, l"gika, matematika, statistika. 94. !ahasa !ahasa dapat di&irikan se#agai serangkaian #un i, lam#ang dimana rangkaian #un i ini mem#entuk suatu arti tertentu. <angkaian #un i ini ang kita kenal se#agai kata melam#angkan suatu "# ek tertentu. !ahasa mengalami perkem#angan "leh karena dise#a#kan pengalaman dan pemikiran manusia ang %uga #erkem#ang. Dengan #ahasa manusia dapat #erpikir se&ara teratur namun %uga dapat mengk"munikasikan apa ang sedang ia pikirkan kepada "rang lain. Tanpa #ahasa maka mustahil #isa #erpikir se&ara teratur dan dengan #ahasa kita #isa melan%utkan nilai-nilai kepada generasi #erikutn a. !er#ahasa dengan %elas adalah makna ang terkandung dalam kata-kata harus diungkapkan se&ara tersurat untuk men&egah pem#erian makna ang lain. !er#ahasa dengan %elas artin a %uga mengungkapkan pendapat atau pikiran se&ara %elas. )ar a ilmiah pada dasarn a merupakan kumpulan pern ataan ang mengemukakan inf"rmasi tentang pengetahuan maupun %alan pemikiran dalam mendapatkan pengetahuan terse#ut

95. Matematika Matematika adalah #ahasa ang melam#angkan serangkaian makna dari pern ataan ang ingin kita sampaikan. Lam#ang-lam#ang matematika #ersifat artifisial ang #aru mempun ai arti setelah se#uah makna di#erikan kepadan a. Tanpa itu matematika han a kumpulan rumus-rumus ang mati. Matematika mempun ai kele#ihan dari #ahasa *er#al karena matematika mengem#angkan #ahasa numerik ang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran se&ara kuantitatif. Dengan #ahasa *er#al han a #isa mengemukakan per ataan ang #ersifat kualitatif. Sifat kuantitatif dari matematika meningkatkan da a prediktif dan k"ntr"l dari ilmu. Ilmu mem#erikan %a$a#an ang le#ih #ersifat eksak ang memungkinkan peme&ahan masalah se&ara le#ih tepat dan &ermat. Matematika #erfungsi se#agai alat #erpikir. Matematika se&ara garis #esarn a merupakan pengetahuan ang disusun se&ara k"nsisten #erdasarkan l"gika deduktif. Ada #e#erapa aliran dalam Filsafat Matematika antara lain' Aliran L"gistik . Immanuel )ant / Aliran Intusi"nis . ?an !r"u$er / dan Aliran F"rmalis . Da*id 8il#ert /. 96. Statistika +ang men%adi dasar te"ri statistika adalah peluang. )"nsep statistika sering dikaitkan dengan distri#usi *aria#el ang ditelaah dalam suatu p"pulasi. Statistika mampu mem#erikan se&ara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan ang ditarik. +ang pada p"k"kn a didasarkan pada asas ang sederhana, akni semakin #esar &"nt"h ang diam#il maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan terse#ut. Statistika %uga mem#erikan kemampuan kepada kita untuk mengetahui apakah suatu hu#ungan kausalitas antara dua fakt"r atua le#ih #ersifat ke#etulan atau #enar-#enar terkait dalam suatu hu#ungan ang #ersifat empiris. Se#agai #agian dari perangkat met"de ilmiah maka statistika mem#antu kita untuk melakukan generalisasi dan men impulkan karakteristik suatu ke%adian se&ara le#ih pasti dan #ukan se&ara ke#etulan. AI. A)SI;L;=I ' NILAI )-=UNAAN ILMU 97. Ilmu dan M"ral Untuk apa se#enarn a ilmu itu harus dipergunakan( Dimana #atas $e$enang pen%ela%ahan keilmuan( )earah mana perkem#angan keilmuan harus diarahkan( Se%ak pertum#uhann a ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah m"ral namun dalam perpektif ang #er#eda. Se%ak ,"pernikus . 9251-9321 / menga%ukan te"ri tentang kesemestaan alam dan menemukan #ah$a #umi ang #erputar mengelilingi matahari dan #ukan se#alikn a seperti apa ang dia%arkan "leh a%aran

agama maka disinilah tim#ul interaksi antara ilmu dan m"ral . ang #ersum#e dari a%aran agama /. Para ilmuan #erusaha untuk menegakkan ilmu ang #erdasarkan penafsiran alam se#agaimana sem#" an ' ilmu ang #e#as nilai. 0:. Tanggung ?a$a# S"sial Ilmu$anB Se&ara hist"ris fungsi s"sial dari kaum ilmu$an telah lama dikenal dan diakui. <a%a ,harles II dari Inggris mendirikan the <" al S"&iet ang #ertindak selaku pena$ar #agi fanatisme di mas arakat $aktu itu. Para ilmu$an pada $aktu itu #ersuara mengenai t"leransi #eragama dan pem#akaran tukang-tukan sihir. Sikap s"sial se"rang ilmu$an adalah k"nsisten dengan pr"ses penelaahan keilmu$an ang dilakukan. Ilmu ter#e#as dari nilai. Ilmu itu sendiri netral dan para ilmu$anlah ang mem#erikan nilai. Dalam menghadapi masalah s"&ial, se"rang ilmu$an ang mempun ai latar#elakang pengetahuan ang &ukup harus menempatkan masalah terse#ut pada pr"p"rsi ang se#enarn a dan men%elaskan a lepada mas arakat dalam #ahasa ang dapat di&erna. Dengan kemampuan ang dimiliki "leh se"rang ilmu$an maka harus dapat mempengaruhi "pini mas arakat terhadap masalah-masalah ang se "gi an a mereka safari. Di#idang etika, tanggung%a$a# se"rang ilmu$an #ukan lagi mem#erikan inf"rmasi tetapi mem#erikan &"nt"h. 09. Nuklir dan Pilihan M"raln a. Se"rang ilmu$an se&ara m"ral tidak akan mem#iarkan hasil penemuan a untuk menindas #angsa lain meskipun ang menggunakan itu adalah #angsan a sendiri. -instein $aktu itu memihak Sekutu karena anggapan a #ah$a sekutu me$akili aspirasi kemanusiaan. ?ika sekutu kalah maka ang akan mun&ul adalah re@im Na@i ang tidak #erperikemanusiaan. Untuk itu se"rang ilmu$an tidak #"leh #erpaku tangan. Dia harus memilih sikap' #erpihak kepada kemanusiaan atau tetap #ungkam(. Se"rang ilmu$an tak #"leh memutar#alikan penemu$ann a #ila hip"tesisn a ang di%un%ung tinggi ang disusun diatas kerangka pemikiran ang terpengaruh preferensi m"ral tern ata han&ur #erantakan karena #ertentangan dengan fakta-fakta pengu%ian. 00.<e*"lusi =enCti&a <e*"lusi genCti&a merupakan #a#akan #aru dalam se%arah keilmuan manusia se#a# se#elum ini ilmu tidak pernah men entuh manusia se#agai "# ek penelaahan itu sendiri. Memperlakukan manusia se#agai kelin&i pen&"#aan adalah sikap ang tidak #erm"ral dan #ertentangan dengan hakikat ilmu.

AII. ILMU DAN )-!UDA+AAN 01. Manusia dan )e#uda aan )e#uda aan didefenisikan pertama kali "leh -!. Ta l"r pada tahun 9659 dimana dalam #ukun a primiti*e &ulture, ke#uda aan diartikan se#agai keseluruhan ang men&akup pengetahuan, keper&a aan, seni, m"ral, hukum, adat serta kemampuan dan ke#iasaan lain a ang diper"leh manusia se#agai angg"ta mas arakat. +ang men%adi dasar dari ke#uda aan adalah nilai. Disamping nilai ini ke#uda aan di$u%udkan dalam #entuk tata hidup ang merupakan kegiatan manusia ang men&erminkan nilai #uda a ang di kandungn a. Pada dasarn a tata hidup merupakan pen&erminan ang k"nkret dari nilai #uda a ang #ersifat a#strak' kegiatan manusia ini dapat ditangkap "leh pan&aindera sedangkan nilai #uda a han a tertangguk "leh #udi manusia. Disamping itu nilai #uda a dan tata hidup manusia dit"pang "leh sarana ke#uda aan. 02. Ilmu dan Pengem#angan )e#uda aan Nasi"nal Ilmu merupakan pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari ke#uda aan. Dalam rangka pengem#angan ke#uda aan ilmu mempun ai peranan ganda. Pertama, ilmu merupakan sum#er nilai ang mendukung terlenggaran a pengem#angan ke#uda aan nasi"nal. )edua, ilmu merupakan sum#er nilai ang mengisi pem#entukan $atak suatu #angsa. Dua dasar m"ral #agi kaum ilmu$an adalah meninggikan ke#enara dan penga#dian se&ara uni*ersal. Tu%uh nilai ilmiah ang terpan&ar dari hakikat keilmu$an akni' kritis, rasi"nal, l"gis, "# ektif, ter#uka, men%un%ung ke#enaran dan penga#dian uni*ersal. Peranan ketu%uh nilai ini adalah dalam hal #angsa mengahadapi permasalahan dalam #idang p"litik, ek"n"mi dan kemas arakatan mem#utuhkan peme&ahan permasalahan se&ara kritis, rasi"nal, l"gis dan ter#uka. Sedangkan sifat men%un%ung ke#enaran dan penga#dian uni*ersal akan merupakan akt"r ang penting dalam pem#inaan #angsa dimana sese"rang le#ih menitik#eratkan ke#enaran untuk kepentingan g"l"ngan di#andingkan kepetingan g"l"ngan. !ukan sa%a seni namun ilmu dalam hakikatn a ang murni #ersifat mempersatukan. 03. Dua P"la )e#uda aan. Ada dua p"la ke#uda aan ang ter#agi kedalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu s"sial. <ais" deDetre ang men%adi argumentasi pem#agian %urusan ini adalah asumsi ang pertama mengemukakan #ah$a manusia mempun ai #akat ang #er#eda dalam pendidikan matematika ang mengharuskan kita mengem#angakan p"la pendidikan ang #er#eda pula. Asumsi ang kedua adalah ang menganggap

#ah$a ilmu s"sial kurang memerlukan pengetahuan matematika. Asumsi kedua ini sekarang ini tidak rele*an lagi karena pengem#angan ilmu s"sial mem#utuhkan #akat-#akat matematika ang #aik untuk men%adikan a pengetahuan ang #ersifat kuantitatif. AIII. ILMU DAN !A8ASA 04. Tentang Termin"l"gi' Ilmu, Ilmu Pengetauan dan Sains Seluruh #entuk dapat dig"l"ngkan dalam kateg"ri ketahuan . kn"$ledge / di mana masing-masing #entuk dapat di &irikan "leh karakter "# ek "nt"l"gis, landasan epistem"l"gis dan landasan aksi"l"gi masing-masing. Salah satu #entuk kn"$ledge ditandai dengan' 9. ;# ek ;nt"l"gis aitu pengalaman manusia akni segenap u%ud ang dapat di%angkau le$at pan&aindra atau alat ang mem#antu kemampuan pan&aindraE 0. Landasan epistem"l"gis aitu met"de ilmiah ang #erupa ga#ungan l"gika deduktif dan l"gika induktif dengan penga%uan hip"tesis atau ang dise#ut l"gi&"-h ph"teti&"-*erifikasiE 1. Landasa aksi"l"gi' kemaslahatan manusia artina segenap u%ud ketahuan itu se&ara m"ral ditu%ukan untuk ke#aikan hidup manusia. 05. Fu" Aadis( Termin"l"gi Ilmu untuk s&ien&e dan pengetahuan untuk kn"$ledge. Se&ara defa&t" dalam kalangan dunia keilmu$an termin"l"g ilmu sudah sering dipergunakan seperti dalam met"de ilmiah dan ilmu-ilmu s"&ial atau ilmu-ilmu alam. Adapun kelemahan dari pilihan ini ialah #ah$a kita terpaksa meninggalkan kata ilmu pengetahuan dan han a menggunakan kata ilmu sa%a untuk sin"nim s&ien&e dalam #ahasa inggris. Alternatif pertama menggunakan ilmu pengetahuan untuk s&ien&e dan pengetahuan untuk kn"$ledge 06. P"litik !ahasa Nasi"nal !ahasa mempun ai dua fungsi ang pertama se#aga sarana k"munikasi dan kedua se#agai sarana #uda a ang mempersatukan kel"mp"k manusia ang mempergunakan #ahasa terse#ut. Fungsi pertama dapat dise#ut se#agai fungsi k"munikatif dan fungsi kedua se#agai fungsi k"hesif atau integratif. Pada tanggal 06 ;kt"#er 9706 #angsa Ind"nesia memilih #ahasa Ind"nesia se#agai #ahasa nasi"nal dengan alasan utama aitu fungsi k"hesif #ahasa Ind"nesia se#agai sarana ang mengintegrasikaan #er#agai suku kedalam satu #angsa akni Ind"nesia IG. P-N-LITIAN DAN P-NULISAN ILMIA8 07. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah

Langkah pertama dalam penelitian ilmiah adalah menga%ukan masalah ang #erisi' latar#elakang dari suatu masalah. )emudian melakukan identifikasi masalah, pem#atasan masalah, perumusan masalah, tu%uan penelitian dan manfaat penelitian. Langkah kedua aitu ' penga%uan 8ip"tesis. Dalam hip"tesis mengka%i mengenai te"ri-te"ri ilmiah ang dipergunakan dalam analisis, pem#ahasan mengenai penelitian-penelitian lain ang rele*an, pen usunan kerangka #erpikir dengan mempergunakan premis-premis dan men atakan se&ara tersurat p"stulat, asumsi dan prinsip ang dipergunakan, lalu merumuskan hip"tesis. Setelah melakukan perumusan hip"tesis maka langkah #erikutn a mengu%i hip"tesis se&ara empiris melalui penelitian dan kemudian hasil penelitian dapat dilap"rkan dalam kegiatan se#agai #erikut' 9. men atakan *aria#el-*aria#el ang diteliti. 0. Men atakan teknik analisa data. 1. Mendeskripsikan hasil analisis data. 2. mem#erikan penafsiran terhadap kesimpulan analisis data. 3. Men impulkan pengu%ian hip"tesis apakah dit"lak atau diterima. Langkah selan%utn a setalah kegiatan lap"ran hasil penelitian adalah <ingkasan dan )esimpulan. )esimpulan pengu%ian hip"tesis dikem#angkan men%adi kesimpulan penelitian ang ditulis dalam #a# tersendiri. )esimpulan penelitian ini merupakan sintesis dari keseluruhan aspek penelitian ang terdiri dari masalah, kerangka te"ritis, hip"tesis, met"d"l"gi penelitian dan penemuan penelitian. Seluruh lap"ran penelitian disarikan dalam se#uah ringkasan ang dise#ut a#strak. Dalam lap"ran penelitian dilampirkan daftar pustaka dan ri$a at hidup peneliti. 1:. Teknik Penulisan Ilmiah Teknik penulisan ilmiah mempun ai dua aspek akni ga a penulisan serta teknik n"tasi. Penulis ilmiah harus menggunakan #ahasa ang #aik dan #enar. )"munikasi ilmiah harus #ersifat repr"duktif artin a #ah$a sipenerima pesan mendapatkan k"pi ang #enar-#enar sama dengan pr"t"tipe ang disampaikan sipem#eri pesan. )"munikasi ilmiah harus #ersifat impers"nal dimana #er#eda dengan t"k"h dalam se#uah n"*el ang #isa #erupa aku dan dia atau d"kt"r faust. )ata ganti per"rangan hilang dan diganti uni*ersal akni ilmu$an. Pem#ahasan se&ara ilmiah mengharuskan kita #erpaling kepada pengetahuan-pengetahuan ilmiah se#agai premis dalam argumentasi kita. Pern ataan ilmiah ang kita gunakan harus men&atat #e#erapa hal akni kita identifikasi "rang mem#uat pern ataan terse#ut, media k"munikasi ilmiah dimana pern ataan terse#ut di sampaikan, lem#aga ang mener#itkan pu#likasi ilmiah terse#ut #eserta tempat d"misili dan $aktu pener#itan dilakukan.

19. Teknik N"tasi Ilmiah )alimat ang kita kutip harus dituliskan sum#ern a se&ara tersurat dalam &atatan kaki. ,atatan kaki mulai langsung dari pinggi atau dapat dimulai setelah #e#erapa ketukan tik dari pinggir asalka dilakukan se&ara k"nsisten. Nama pengarang ang %umlahn a sampai tiga "rang dituliskan lengkap sedangkan %umlah pengarang ang le#ih dari tiga "rang han a ditulis nama pertama ditam#ah kata et al. )utipan ang diam#il dari halaman tertentu dise#utkan halaman a dengan singkatan p . pagina / atau hlm. . halaman /. ?ika kutipan itu disarikan dari #e#erapa halaman maka dapat ditulis pp.9-3 atau hlm 9-3. %ika nama pengarangan a tidak ada langsung dituliskan nama #ukun a atau An"m . an"ni m"us / didepan nama #uku terse#ut. Se#uah #uku ang ada diter%emahkan harus ditulis #aik pengarang maupun penter%emah #ukut terse#ut sedangkan kumpulan karangan &ukup dise#utkan nama edit"rn a. Pengulangan kutipan dengan sum#er ang sama dilakukan dengan memakai n"tasi "p.&it . "pere &itat"' dalam kar a ang telah dikutip /, l"&. &it . l"&" &itat"' dalam tempat ang telah dikutip dan i#id . i#idem ' dalam tempat ang sama /.