Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Dasar Teori A. Pengertian dan Morfologi Serangga Serangga merupakan makhluk hidup yang menguasai bumi. Kurang lbih satu juta spesies yang telah dideskripsi (dikenal dalam ilmu pengetahuan), dan diperkirakan masih ada 10 juta spesies serangga yang belum dideskripsi. Keanekaragaman yang tinggidalam sifat-sifat morfologi, fisiologi dan perilaku dalam adaptasinya, dan demikian banyak jenis serangga yang terdapat di muka bumi, banyak menyebabkan kajian ilmu pengetahuan, baik yang murni maupun terapan, menggunakan serangga sebagai model (Hala, 2007). Serangga adalah kelompok utama dari hewan beruas (arthropoda) yang bertungkai enam (tiga pasang), karena itulah mereka disebut Hexapoda (dari bahasa yunani yang berarti berkaki enam). Serangga termasu kedalam kelas insecta(subfilum uniramia) yang dibagi menjadi 29 ordo (Djuhanda, 1980). Insecta atau serangga merupakan anggota dari ordo arthropoda yang sangat banyak anggota spesiesnya. Serangga merupakan hewan beruas dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi. Fosil-fosilnya dapat dirunut hingga ke masa fosil raksasa primitif telah ditemukan (Jasin, 1992). Banyak anggota insekta yang dapat ditemukan disekitar kita misalnya lalat, kupukupu, kecoak, jangkrik, semut, nyamuk dan belalang. Anggota insekta sangat beragam, tetapi memiliki ciri khusus,yaitu kakinya berjumlah enam buah,sehingga disebut juga hexapoda ( hexa = enam, podos = kaki ). Diperkirakan jumlah insecta lebih dari 900.000 jenis yang terbagi dalam 25 ordo. Hal ini menunjukkan bahwa banyak sekali variasi dalam kelas insecta baik bentuk maupun sifat dan kebiasaannya (Soedarto, 2008). Kelas insekta dikenal sebagai hama tanaman, namun ada yang bertindak sebagai musuh alami hama serta sebagai serangga penyerbuk. Secara umum morfologi anggota kelas insekta adalah : Tubuh terdiri atas ruas-ruas (segmen) dan terbagi kedalam tiga daerah yaitu caput, thoraks, dan abdomen Kaki berjumlah tiga pasang pada thoraks Antene satu pasang (Levine, 1990). 1

Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object

Habitat serangga adalah di daratan dan air tawar. Tubuhnya di bedakan dengan jelas antara kepala, dada dan perut. Pada kepala terdapat satu pasang mata faset (mata majemuk) dan mata tunggal (oselus). Dan terdapat sepasang antena sebagai alat peraba dan mulut. Mulut seranga berkembang menjadi beberapa tipe sesuai dengan cara makanya yaitu tipe mulut penguyah, penghisap, penusuk dan penjilat pada mulut terdapat rahang belakang (mandibula), rahang depan (maksila), bibir atas (labrum) dan bibir bawah (labium). Bagian dada terdiri dari atas tiga ruang yaitu protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Pada setiap rusa terdapat sepasang kaki yang berusa. Umunya mempunyai sayap yang terletak pada segmen dada kedua (mesotorak) dan tiga (metatorak) (Jasin, 1992).
Berdasarkan sayap, tipe mulut, menjadi dua subkelas yaitu : perut dan metamorfosisnya serangga di bedakan

a. Apterigota, tubuh apterigota berukuran kecil sekitar 0,5 cm dan memiliki antena panjang. Umumnya berkembang secara ametabola. Apterigota di bagi menjadi beberapa ordo antara lain : Archyptera atau Isoptera.memiliki ciri yaitu metemorfosis yang tidak sempurna, menpunyai satu pasang sayap tipis, mulutnya bertipe mengigit, contonya Reticulitermis atau Helanithermis (Rayap). Hemiptera ada yang mempunyai dua pasang sayap dan ada juga yang tidak memlliki sayap, tipe mulut menusuk atau menghisap,

metamorphosis tida sempurna, contonya cimex lectularis (kutu busuk). Homoptera mempunyai dua pasang sayap (sayap depan dengan sayap belakang) yang sama bentuknya tipe mulutnya menusuk atau menghisap, tipe metamorphosis yang tida sempurna, contohnya Nephotetik apicalis (Wereng hijau). Orthoptera memiliki satu pasang sayap lurus, tipe mulitnya mengigit hewan jantan dapat menghasilkan bunyi dengan menggesekan tungkai belakang dengan ujung sayap depan untuk menarik betina dan mengusir sainganya, contohnya : Gryllus bimaculatus (jangkrik). Odonata mempunyai dua pasang sayap tipe mulut menguyah, bersifat kernivora, metamorfosis tidak sempurna, pada kepala terdapat mata

Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object

majemuk yang besar dan antenna yang pendek contohnya : Aeshna sp (capung) (Jasin, 1992).. b. Pterigota, merupakan kelompok insecta yang sayapnya yang berasal dari tonjolan luar dinding tubuh yang disebut eksopterigota. berdasarkan ciri sayap dan alat mulutnya di bedakan menjadi sebagai berikut : Neuropteran mempunyai dua pasang sayap tipis yang urat urat nya berbentuk seperti jala dan tipe mengigit contohnya Myrmeleon frontalis(undur-undur). Lipodeptera mempunyai dua pasang sayap yang dilapisi sisik halus, metamorphosis sempurna, terdapat dua macam pupa yaitu pupa muni (pupa terlihat dari luar) dan pupa kokon (pupa terlindung kokon) dan di bedakan menjadi ordo Lepidoptera di bagi menjadi dua subordo yaitu : Rhapalocera dan Hetercera (Jasin, 1992). B. Cimex sp (Kutu Busuk) Cimex adalah ser angga yang termasuk dalam Ordo Hemiptera, kelas Insecta. kecil, kecoklatan, dikatakan serangga pemakan darah hewan. Meskipun bed bug (Cimex) umumnya (Cimex lectularius) lebih suka makan pada manusia, juga akan menggigit hewan berdarah panas lainnya, termasuk anjing, kucing, burung dan hewan pengerat (Potter, 2012). Bed bugs dewasa panjangnya sekitar 3/16 " dan coklat kemerahan, dengan berbentuk oval, tubuh pipih. Mereka kadang-kadang disalahartikan sebagai kutu, kecoa, kumbang karpet atau serangga rumah tangga lainnya. Bed bugs yang belum dewasa (peri) menyerupai yang dewasanya, tetapi lebih kecil dan lebih ringan. Bed bugs tidak bisa terbang, dan mereka tidak melompat seperti kutu lakukan tetapi mereka bisa merangkak cepat di lantai, dinding, langit-langit dan permukaan lainnya. Betina dewasa bertelur di tempat-tempat terpencil, mengeluarkan 1, 2 atau lebih telur per hari, berpotensi ratusan selama hidup mereka. Telurnya kecil (seukuran debu), keputihan dan sulit untuk dilihat tanpa perbesaran, terutama pada permukaan berwarna terang. Ketika pertama kali diletakkan, telur yang lengket, menyebabkan mereka untuk menempel di permukaan. Pada suhu kamar, tempat bed bug telur menetas dalam waktu sekitar seminggu. Anakan yang baru muncul adalah jerami berwarna dan tidak lebih besar dari kepala peniti (Potter, 2012). Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object 3

Sebagai bed bugs tumbuh mereka meranggas, mereka berganti kulit lima kali sebelum mencapai tingkat kematangan. Makan darah diperlukan antara setiap meranggas berturut-turut. Betina dewasa juga harus memberi makan untuk bertelur. Di bawah kondisi yang menguntungkan (70-80 F), bug dapat matang sepenuhnya dalam waktu satu bulan, menghasilkan beberapa generasi per tahun. Suhu dingin atau akses terbatas pada darah memperpanjang waktu pengembangan (Potter, 2012). Bed bugs aktif terutama di malam hari. Pada siang hari, mereka lebih memilih untuk bersembunyi dekat dengan tempat orang tidur. Tubuh mereka diratakan memungkinkan mereka untuk masuk ke dalam celah-celah kecil - terutama yang berkaitan dengan kasur, kotak mata air, bingkai tempat tidur dan sandaran kepala. Bed bugs tidak memiliki sarang seperti semut atau lebah, tetapi cenderung berkumpul di tempat-tempat persembunyian kebiasaan. Secara karakteristik, daerah ini ditandai dengan bercak gelap dan pewarnaan, yang merupakan kotoran kering dari bug. Juga hadir akan menetas dan un-menetas telur, kulit gudang tannish jatuh tempo nimfa, dan bug sendiri. Tanda lain yang mungkin adalah noda berkarat atau kemerahan di seprai atau kasur dari hancur membesar bed bugs. Meskipun sering dinyatakan bahwa tempat tidur bug memiliki tanda "kereta" bau, bau jarang terlihat kecuali dalam infestasi yang ekstrim dan tidak boleh diandalkan untuk deteksi (Potter, 2012). Tiga tahapan siklus hidup kutu busuk yaitu telur, nimpa dan dewasa. Metamorfosis tidak sempurna. Kutu busuk bertelur 1-5 butir sehari selama 2-10 bulan sampai seluruhnya diletakkan +200 telur.Telur berwarna putih dengan panjang 1 mm, Telur disimpan selama 2bulan per kelompok terdiri dari 10 hingga 50 telur. Telur-telur ini diletakkan pada kasur retak-retak pada tempat tidur, perabot, dinding dan langit langit rumah dll. Dalam waktu 3-14 hari pada suhu 23C, telur akan menetas menjadi nimfa. Nimfa pertama akan berganti kulit menjadi nimfa ke-2, 3, demikian seterusnya sampai nimfa kemudian berganti kulit lagi menjadi instar terakhir. Banyaknya pergantian kulit berbeda-beda tergantung jenis, makanan dan suhu. Nimpa terlihat seperti yang dewasa tetapi lebih kecil. Dari telur menetas kutu busuk kecil yang kemudian tumbuh menjadi kutu busuk dewasa, sambil mengalami beberapa kali penukaran kulit (Dalil, 2009). Perkembangan sempurna dari telur menjadi dewasa membutuhkan waktu 5 bulan bahkan lebih, tergantung padatemperatur dan ketersediaannya makanan. Setiap kali akan mengalami penukaran kulit kutu busuk itu harus menghisap darah dulu. Kutu busuk Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object 4

dewasa bisa hidup selama 6 bulan- 1 tahun. Kutu busuk betina tahan hidup tanpa makan darah selama 1 tahun dan juga terhadap suhu rendah (0C) untuk waktu yang lama (Sembel, 2009). C. Bahan-Bahan yang Digunakan dalam Pembuatan Preparat Zat warna yang dapat digunakan dalam membuat preparat ini antara lain hematoxilin, eosin, dan methylen blue. Pewarna hematoxilin dengan pelarut aquades sangat baik digunakan untuk mewarnai inti yang akan berwarna biru. Pewarna eosin dengan pelarut alcohol 70% sangat baik untuk mewarnai sitoplasma dengan warna merah, sedangkan methylen blue digunakan pada preparat sementara dengan cara meneteskan langsung ke jaringan kemudian diamati di bawah mikroskop yang mana methylen blue akan mewarnai butir-butir pada mast cell yang mewarnai dengan warna biru. Metode rentang juga dapat digunakan untuk tujuan sitologi dan histology serta juga dapat digunakan untuk tujuan sitokimiawi seperti penelitian phosphatase dan hyaluroidase (Handari, 1983).

1.2 Tujuan Mengawetkan hewan-hewan menggunakan pottasium hydroxide

Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object

BAB II METODE KERJA 2.1. Alat dan Bahan Alat Mikroskop Fungsi Bahan Fungsi Penghacur dan melunturkan pigmen Insect Bahan pengamatan

Mengamati objek yang Larutan KOH 10 % ukurannya (mikron). kecil

Object glass

Tempat menyimpan spesimen yang akan diamati.

Cover glass

Menutup spesimen penelitian.

Aquades

Sebagai desinfektan

Pipet tetes

Meneteskan air kultur dan vaseline pada object glass.

Vaseline

Membuat batasan untuk menyimpan air kultur pada object glass

Pembakar Bunsen

Alat pemanasan

Alkohol 70%

Pembersih (penghancur pigmen)

Kawat Kassa

Metarakan proses pemanasan

Alkohol 95 %

Membersihkan dan mengawetkan

Penjepit

Sebagai alat penjepit

Alkohol 100 %

Pembersih preparat & penetral

Kaki tiga + Kassa

Penyangga objek yang dipanaskan.

Xylol

Pembersih

Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object

Gelas Arloji

penyimpanan objek atau Canada spesimen Balsam/Entelan

Perekat spesimen pada object glass (mounting).

2.2. Cara Kerja a. Pembuatan Awetan Insect Dimasukkan kedalam Larutan KOH 10 % (30 menit) Dicuci dengan air Diurut sampai bagian dalam keluar Hasil

b. Pengawetan spesies (whole mounting) Insect Hasil Dimasukkan kedalam gelas arloji (berisi alkohol 70 %) Ditaruh pada object glass Atur spesimen (luruskan kaik, antena, dan sayap) Tetesi alkohol 95 % Tetesi alkohol 95 % (setelah 1 jam) Tetesi alkohol absolut (100 %) 5-10 menit Tetesi dengan xylol 2- menit Tetesi canada belsam Tutup dengan cover glass Beri label

Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil Pengamatan Gamnar Pengamatan Caput (Kepala) Gambar literature

Sumber : Pribadi Thorax (Dada)

Sumber : Pribadi Abdomen (Perut)

Sumber : Pribadi

Sumber : photoresearch.beethomas.com

Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object

Keteranngan Gambar : 1. Caput 2. Fronts 3. Mata 4. Antena 5. Thorax 6. Kaki 7. Tibia 8. Spirakel 9. Abdomen 10. Ekor

3.2 Pembahasan Pada praktikum kali ini kami membuat awetan (whole mount) dan mengamati preparat awetan dari hewan yaitu kutu busuk (Cimex sp). Sebelum melakukan pengamatan, kami membuat terlebih dahulu preparat awetannya. Hal yang pertama kami lakukan adalah kami memasukan kutu busuk (Cimex sp) pada larutan KOH 10% yang berada pada tabung reaksi, fungsi larutan KOH 10 % yang digunakan adalah agar dapat melarutkan / melepaskan pigmen dalam tubuh spesimen tersebut sehingga dapat lebih mudah diamati bagian-bagian dalamnya, kemudian dipanaskan hingga larutan menjadi warna coklat (pigmen yang luntur dari badan kutu busuk). Setelah itu, cairan yang terdapat pada badan kutu busuk harus dikeluarkan tanpa merusak badannya, agar terlihat bagian dalam dari kutu busuk tersebut. Kemudian kami meletakan spesimen pada kaca objek yang telah diberi alkohol 70% selama 10 menit, kemudian alkohol 95% selama 10 menit sebanyak 2 kali. Fungsi dari alkohol 70 % dan alkohol 95 % adalah sebagai pembersih untuk spesimen. Setelah itu diberi alkohol 100% (absolute) selama 10 menit untuk mengawetkan dan membersihkan perparat spesimen. Selanjutnya tetesi dengan xylol untuk menghilangkan zat-zat yang tertinggal pada kutu busuk. Setelah dibersihkan, beri Canada balsam dan tutup dengan cover glass tanpa menekannya dengan memiringkan cover dlass sebelumnya dan kemudian tempelkan pada sisa object glass yang lain, simpan 7 hari, setelah itu preparat bias diamati.

Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object

Setelah dilakukan pengamatan, pada kutu busuk ini terdapat dua buah antena yang berfungsi sebagai alat pendeteksi juga membantu pengelihatannya agar dapat mengenali hal hal disekitarnya, antena ini pun juga berguna untuk mendeteksi kulit tempat adanya pembuluh darah pada calon mangsa (Cimex memakan darah pada makhluk hidup lain). Kutu busuk ini termasuk hewan berbuku dan memiliki 3 pasang kaki, bagian tubuhnya pun terbagi kedalam kepala (caput), dada (thorax), dan perut (abdomen), hal-hal tersebut merupakan ciri-ciri dari hewan jenis arthropoda (hewan berbuku-buku), Cimex memiliki bentuk yang lonjong ran rata pada bagian dorsalnya. Pada pengamatan yang lainnya tidak teramati spesimen tersebut memiliki sayap, hal ini karena saat peletakan spesimen sayapnya masih terhalang oleh pigmen sehingga penggambarannya agak kabur. Pada bagian tengah tubuhnya terdapat corong hawa, yaitu alat untuk bernapas dan sebagai alat penunjang selain trakea dan stigma. Menurut literatur, Cimex sp termasuk hewan yang nokturnal (aktif pada malam hari), tinggal pada kasur, sofa, dan tempat yang sering terdapat makhluk hidup. Memiliki Panjang 4-5 mm danlebar 1,5-3 mm. Lonjong dan rata dari bagian punggung hingga permukaan bawah, kaki tumbuh dengan baik, tapi tidak memiliki sayap. Komponen mulut diadaptasi untuk menusuk dan menghisap. Kakinya berbentuk ramping dan ujungnya bercakar (Sembel, 2009). Kutu busuk betina ukurannya lebih besar daripada kutu jantan, tetapi keduanya dapat jalan dengan cepat. Kepalanya mempunyai sepasang antena yang panjang, mata majemuk yang menonjol di lateral, dan alat mulut yang khas sebagai probosis yang dapat dilipat ke belakang di bawah kepala dan toraks bila tidak digunakan. Labrumnya kecil dan tidak dapat digerakkan.Labium membentuk suatu tabung yang terdiri atas 4 ruas, dan mengandung stilet maksila dan mandibula yang berguna untuk menusuk dan mengisap (Sembel, 2009). Abdomennya terdiri atas 9 ruas yang jelas. Dewasa memiliki sesapasang kelenjar bau di ventral toraks dan yang muda mempunyai kelenjar serupa dibagian dorsal abdomen. Kutu busuk memiliki tubuh yang datar dengan bentuk oval tanpa sayap (vestigial). Seluruh tubuhnya tertutup oleh rambut-rambut kasar (seta) dan beberapa rambut halus. Tibia kaki panjang mempunyai 3 ruas. Warnaya berkilau coklat kemerahan tetapi bila cimex telah menghisap darah maka warnanya akan menjadi cuklat tua dan bagian tubuhnya akan membengkak/ gembung. Dapat berpindah dari 3m-6m (Sembel, 2009). Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object 10

BAB IV KESIMPULAN

Dari hasil-hasil pengamatan yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penggunaan larutan KOH 10 % dalam percobaan ini berfungsi sebagai bahan untuk pelarut pigmen spesies yang akan diamati, sehingga pada saat pengamatan melalui mikroskop bagian-bagian dalam dari spesimen tersebut dapat teramati karena terlihat transparan. Jenis serangga yang diamati adalah Cimex sp yang memiliki pigmen yang banyak dan berwarna kecoklatan, sehingga dengan penggunaan KOH dapat membantu pengamatan tersebut. Cimex sp merupakan insecta berjenis arthropoda (hewan beruas) yang bagian-bagian tubuhnya dibagi menjadi caput (kepala), thorax (dada) dan abdomen (perut). Hewan ini memiliki 3 pasang kaki, 1 pasang antena, dan badannya beruas-ruas.

Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object

11

DAFTAR PUSTAKA
Dalil, Syaiful Fahmi. 2009. Infeksi Menular Seksual. Balai Penerbit FKUI.Waluyo Jakarta. Djuhanda, Tatang. 1980. Kehidupan dalam Setetes Air. ITB: Bandung. Handari, Suntoro. 1983. Metode Pewarnaan. Bhatara Karya Aksara : Jakarta. Hala, Yusminah. 2007. Dasar Biologi Umum II. Alauddin Press: Makassar. Levine, N. D. 1990. Parasitologi Veteriner. Terjemahan gatut Ashadi. UGM Press: Surabaya Jasin, M. 1992. Zoologi Invertebrata. Sinar Wijaya : Surabaya. Potter, Michael F. 2012. Bed Bugs (http://www.ca.uky.edu/entomology/entfacts/ef636.asp) [diakses pada 16- 042013, 13.40). Sembel, Dantje T. 2009. Entomologi Kedokteran. Penerbit, Andi : Yogyakarta.. Soedarto,2008. Parasitologi Klinik. Airlangga University Press : Surabaya. :

Whole Mount of Potassium Hydroxide Macerated Object

12