Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan bagi suatu negara merupakan hal yang penting dan sangat dibutuhkan. Untuk penyiapan tenaga kerja, sumber daya manusia yang bermutu sangat dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan dunia kerja. Sebagai salah satu lembaga pendidikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) berusaha menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai, tetapi untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah karena menyangkut berbagai pihak yang bersangkutan tidak hanya lembaga pendidikan saja akan tetapi ada kaitan erat antara lembaga pendidikan kejuruan dengan dunia kerja. Seperti yang tercantum di dalam penjelasanUndang-Undang Republik Indonesia No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 15 menyebutkan bahwa Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu, maka dapat dikatakan bahwa tujuan utama SMK adalah mempersiapkan siswanya untuk dapat siap bekerja setelah mereka menyelesaikan pendidikan di sekolah kejuruan tersebut. Kesiapan kerja merupakan seberapa jauh siswa memiliki kemauan, keinginan dan tingkat kematangan, pengalaman yang diperolehnya serta keadaan mental dan emosi sehingga nantinya memiliki kemampuan yang sesuai dengan bidangnya. SMK merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bertanggung jawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang 1 2

memiliki kemampuan, keterampilan dan keahlian sehingga lulusannya dapat mengembangkan keterampilan apabila terjun dalam dunia kerja. SMK dikategorikan sebagai sekolah yang menghasilkan lulusan siap kerja, hal ini didasarkan juga pada kurikulum yang digunakan.

Penekanan pendidikan kejuruan adalah pada lulusannya supaya dapat atau mampu bekerja pada bidang pekerjaan tertentu sesuai dengan program keahliannya. Kesiapan kerja dalam memenuhi tanggung jawab dan tugas sebagai penyedia sumber daya manusia dan tenaga kerja yang akan mengisi dunia kerja tidak sedikit kendala dan hambatan yang dihadapi SMK untuk mencapai keinginannya memenuhi kebutuhan dunia kerja tersebut. Kendala dan hambatan tidak hanya ada dari sekolah sebagai lembaga pendidikan saja akan tetapi ada pula kendala dari pihak luar dan dari pihak siswa sendiri sebagai input dari proses pendidikan kejuruan. Dari adanya kendala dan hambatan tersebut maka pada kenyataannya SMK yang bertujuan untuk mencetak tenaga kerja yang siap pakai kurang dapat memenuhi permintaan pasar tenaga kerja. Salah satu bukti lulusan SMK belum siap kerja adalah kurangnya kemampuan atau keterampilan menangani tugas yang diembankan di tempat kerja. Ini tercermin dari sedikitnya lulusan SMK yang terserap oleh dunia kerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya, tak jarang dijumpai lulusan SMK hanya menjadi buruh pabrik atau pembantu rumah tangga setelah lepas dari bangku sekolah. Dapat juga dilihat dari adanya kenyataan bahwa perusahaan atau dunia usaha atau dunia industri menyatakan bahwa lulusan SMK dipersiapkan sebagai tenaga kerja siap pakai kurang terampil dan kurang bisa memenuhi 3

kebutuhan dunia usaha pada saat lulusan tersebut terjun di dunia kerja. Menurut Made Wena di Indonesia ada kesenjangan antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat sehingga menimbulkan kritikan tajam pada dunia pendidikan yang dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat (1995: 46), selain keadaan tersebut di Indonesia ini terkenal dengan adanya banyak tenaga kerja berpendidikan tinggi tetapi belum mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut berkaitan erat dengan hasil dari proses pendidikan kejuruan untuk dapat memberikan kesiapan kerja pada lulusannya.

Kondisi ini juga terjadi di SMK YPKK 3 Sleman yang sebagian siswa lulusan SMK YPKK 3 Sleman program keahlian Akuntansi hanya bekerja sebagai buruh pabrik atau sebagai pelayan toko. Walaupun kelihatannya siswa tersebut sudah bekerja, namun pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan program keahlian yang telah dipelajari di sekolah. Hal ini menunjukkan Kesiapan Kerja siswa SMK YPKK 3 Sleman tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, selain itu peluang kerja yang terbatas mengakibatkan siswa lulusan SMK YPKK 3 Sleman khususnya siswa program keahlian Akuntansi tidak dapat menempati bidang atau jenis pekerjaan sesuai dengan program keahlian yang telah dipelajari di sekolah . Tanggung jawab utama pendidikan kejuruan tidak hanya pada sekolah karena sekolah harus menjalin kerja sama dengan pihak dunia usaha atau dunia industri karena pihak tersebut yang nantinya akan memakai lulusan SMK sebagai tenaga kerjanya. Selain sekolah memperhatikan apa yang menjadi minat siswanya dalam memilih Program Keahlian Akuntansi, faktor 4

lain yang diperhatikan sekolah untuk meningkatkan kesiapan kerja siswanya adalah motivasi berprestasi. Motivasi sangat berperan dalam rangka pencapaian kerja. Suatu pembelajaran akan berhasil apabila didasarkan motivasi berprestasi yang kuat pada diri siswa tersebut. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cenderung akan mempunyai sikap yang positif untuk berprestasi. Tujuan dari suatu proses belajar adalah mencapai prestasi setinggi-

tingginya, dorongan dari dalam diri siswa untuk mencapai prestasi yang optimal akan mondorong siswa untuk belajar lebih giat sehingga diharapkan dapat benar-benar menguasai pelajaran yang diajarkan di sekolah dalam hubungannya dengan motivasi berprestasi Elida Prayitno (1989: 39) menyatakan siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi kalau keinginan untuk

sukses benar-benar berasal dari dalam diri baik situasi yang bersaing maupun dalam bekerja sendiri. Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa dalam keadaan bekerja sendiri apalagi kondisi bersaing seorang siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi muncul dari dirinya sendiri akan bekerja secara sungguh- sungguh. Jika dikaitkan dengan kesiapan kerja, orang yang memiliki motivasi berprestasi akan menentukan sendiri target kesiapan kerja yang akan dicapainya.

Siswa kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman mempunyai motivasi berprestasi yang belum optimal. Hal tersebut dapat diketahui dengan kurangnya kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran Akuntansi Keuangan dan kurangnya keseriusan siswa saat pelajaran 5

berlangsung. Pada saat pelajaran Akuntansi Keuangan, beberapa siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, sehingga saat guru memberikan pertanyaan kepada siswa, siswa tidak dapat mampu menjawabnya dengan baik. Selain itu siswa juga kurang mandiri dalam mengerjakan tugas ataupun ulangan, siswa terkadang menyontek tugas ataupun ulangan Akuntansi Keuangan milik siswa yang lain.

Banyak faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa untuk dapat terjun di dunia kerja sehingga mereka dapat memenuhi permintaan pasar tenaga kerja. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa dapat berasal dari dalam ( intern) diri siswa dan faktor dari luar (ekstern) siswa yang masih ada kaitannya dengan siswa tersebut. Faktor lingkungan di luar diri siswa merupakan faktor ekstern, meliputi lingkungan keluarga dan status sosial. Selain faktor Motivasi Berprestasi, faktor lain yang juga sangat penting untuk menciptakan Kesiapan Kerja adalah faktor minat berasal dari diri siswa dapat meliputi berbagai macam bentuk dari minat untuk memilih Program Keahlian Akuntansi. Minat timbul karena

adanya perasaan tertarik terhadap sesuatu di mana perasaan seseorang cenderung menetap dan menghasilkan perasaan senang terhadap bidang yang ditekuninya. Agar dapat meningkatkan kompetensi di bidangnya dapat dilihat dari adanya berbagai minat terhadap pelajaran yang selanjutnya akan berkaitan dengan mutu siswa sebagai calon tenaga kerja yang memang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan dunia usaha atau dunia industri sesuai dengan lapangan kerja yang ada. Minat siswa 6

dalam memilih program keahlian dalam hal ini memilih Program Keahlian Akuntansi juga mempengaruhi siswa tersebut dalam siap tidaknya siswa bekerja.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian berkaitan dengan Minat Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi Siswa di SMK YPKK 3 Sleman sebagai salah satu sekolah kejuruan yang bertujuan untuk menyiapkan siswanya agar dapat terjun langsung ke dunia kerja. Penelitian tersebut berjudul Hubungan Antara Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi Siswa dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013.

B. Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan kesiapan kerja siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari dalam siswa maupun faktor dari luar siswa. Dari banyaknya faktor yang mempengaruhi tersebut dapat diidentifikasi beberapa permasalahannya: 1.SMK belum sepenuhnya optimal dalam menghasilkan lulusan yang siap kerja.

2.Kurangnya kesiapan siswa kelas X dalam mengikuti pelajaran Akuntansi Keuangan dan kurangnya keseriusan siswa saat pelajaran berlangsung 3.Kesiapan Kerja siswa SMK YPKK 3 Sleman tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, hal itu terlihat dari banyaknya siswa lulusan SMK YPKK 3 7

Sleman yang bekerja tidak sesuai dengan program keahlian atau kompetensi yang diperolehnya selama di bangku sekolah. 4.Minat belajar siswa masih kurang maksimal sehingga prestasi belajar akuntansi keuangan sebagian siswa kurang memuaskan. 5.Terdapat beberapa siswa yang kurang serius dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

C.Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka masalah dibatasi pada faktor dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi Kesiapan Kerja yaitu Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi Siswa dengan Kesiapan Kerja di SMK YPKK 3 Sleman kelas X Program Keahlian Akuntansi tahun ajaran 2012/2013.

D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah sebagaimana tersebut di atas, rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.Bagaimana hubungan antara Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013? 8

2.Bagaimana hubungan antara Motivasi Berprestasi Siswa dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013? 3.Bagaimana hubungan antara Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi Siswa secara bersama-sama dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013?

E.Tujuan Penelitian

1.Mengetahui hubungan antara Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013. 2.Mengetahui hubungan antara Motivasi Berprestasi Siswa dan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013. 3.Mengetahui hubungan antara Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi siswa secara bersama-sama dengan Kesiapan Kerja siswa kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013.

F.Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi mamfaat sebagai berikut : 9

1.Manfaat Teoritis Hasil Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan teori- teori dan analisis untuk untuk kepentingan penelitian di masa mendatang dan bermamfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang pendidikan akuntansi.

2.Manfaat Praktis
a.Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk pelaksanaan pendidikan yang lebih baik, apabila peneliti telah menjadi pendidik sehingga dapat berkontribusi pada dunia pendidikan. b.Bagi Pihak Sekolah Hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar bagi pengelola pendidikan SMK.
c.Bagi Universitas Negeri Yogyakarta

Hasil penelitian ini sebagai sumbangan koleksi berupa bahan pustaka dan bacaan bagi mahasiswa Pendidikan Akuntansi pada khususnya dan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta pada umumnya.
Convert Word to PDF

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Pendidikan bagi suatu negara merupakan hal yang penting dan sangat dibutuhkan. Untuk penyiapan tenaga kerja, sumber daya manusia yang bermutu sangat dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan dunia kerja. Sebagai salah satu lembaga pendidikan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) berusaha menyiapkan tenaga kerja yang siap pakai, tetapi untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah mudah karena menyangkut berbagai pihak yang bersangkutan tidak hanya lembaga pendidikan saja akan tetapi ada kaitan erat antara lembaga pendidikan kejuruan dengan dunia kerja. Seperti yang tercantum di dalam penjelasanUndang-Undang Republik Indonesia No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 15 menyebutkan bahwa Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu, maka dapat dikatakan bahwa tujuan utama SMK adalah

mempersiapkan siswanya untuk dapat siap bekerja setelah mereka menyelesaikan pendidikan di sekolah kejuruan tersebut. Kesiapan kerja merupakan seberapa jauh siswa memiliki kemauan, keinginan dan tingkat kematangan, pengalaman yang diperolehnya serta keadaan mental dan emosi sehingga nantinya memiliki kemampuan yang sesuai dengan bidangnya. SMK merupakan salah satu lembaga pendidikan yang bertanggung jawab untuk menciptakan sumber daya manusia yang 1 2

memiliki kemampuan, keterampilan dan keahlian sehingga lulusannya dapat mengembangkan keterampilan apabila terjun dalam dunia kerja. SMK dikategorikan sebagai sekolah yang menghasilkan lulusan siap kerja, hal ini didasarkan juga pada kurikulum yang digunakan. Penekanan pendidikan kejuruan adalah pada lulusannya supaya dapat atau mampu bekerja pada bidang pekerjaan tertentu sesuai dengan program keahliannya. Kesiapan kerja dalam memenuhi tanggung jawab dan tugas sebagai penyedia sumber daya manusia dan tenaga kerja yang akan mengisi dunia kerja tidak sedikit kendala dan hambatan yang dihadapi SMK untuk mencapai keinginannya memenuhi kebutuhan dunia kerja tersebut. Kendala dan hambatan tidak hanya ada dari sekolah sebagai lembaga pendidikan saja akan tetapi ada pula kendala dari pihak luar dan dari pihak siswa sendiri sebagai input dari proses pendidikan kejuruan. Dari adanya kendala dan hambatan tersebut maka pada kenyataannya SMK yang bertujuan untuk mencetak tenaga kerja yang siap pakai kurang dapat memenuhi permintaan pasar tenaga kerja. Salah satu bukti lulusan SMK belum siap kerja adalah kurangnya kemampuan atau keterampilan menangani tugas yang diembankan di tempat kerja. Ini tercermin dari sedikitnya lulusan SMK yang terserap oleh dunia kerja sesuai dengan latar belakang pendidikannya, tak jarang dijumpai lulusan SMK hanya menjadi buruh pabrik atau pembantu rumah tangga setelah lepas dari bangku sekolah. Dapat juga dilihat dari adanya kenyataan bahwa perusahaan atau dunia

usaha atau dunia industri menyatakan bahwa lulusan SMK dipersiapkan sebagai tenaga kerja siap pakai kurang terampil dan kurang bisa memenuhi 3

kebutuhan dunia usaha pada saat lulusan tersebut terjun di dunia kerja. Menurut Made Wena di Indonesia ada kesenjangan antara program pendidikan dengan kebutuhan masyarakat sehingga menimbulkan kritikan tajam pada dunia pendidikan yang dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat (1995: 46), selain keadaan tersebut di Indonesia ini terkenal dengan adanya banyak tenaga kerja berpendidikan tinggi tetapi belum mendapatkan pekerjaan. Hal tersebut berkaitan erat dengan hasil dari proses pendidikan kejuruan untuk dapat memberikan kesiapan kerja pada lulusannya. Kondisi ini juga terjadi di SMK YPKK 3 Sleman yang sebagian siswa lulusan SMK YPKK 3 Sleman program keahlian Akuntansi hanya bekerja sebagai buruh pabrik atau sebagai pelayan toko. Walaupun kelihatannya siswa tersebut sudah bekerja, namun pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan program keahlian yang telah dipelajari di sekolah. Hal ini menunjukkan Kesiapan Kerja siswa SMK YPKK 3 Sleman tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, selain itu peluang kerja yang terbatas mengakibatkan siswa lulusan SMK YPKK 3 Sleman khususnya siswa program keahlian Akuntansi tidak dapat menempati bidang atau jenis pekerjaan sesuai dengan program keahlian yang telah dipelajari di sekolah . Tanggung jawab utama pendidikan kejuruan tidak hanya pada sekolah karena sekolah harus menjalin kerja sama dengan pihak dunia usaha atau dunia industri karena pihak tersebut yang nantinya akan memakai lulusan SMK sebagai tenaga kerjanya. Selain sekolah memperhatikan apa yang menjadi minat siswanya dalam memilih Program Keahlian Akuntansi, faktor 4

lain yang diperhatikan sekolah untuk meningkatkan kesiapan kerja siswanya adalah motivasi berprestasi. Motivasi sangat berperan dalam rangka pencapaian kerja. Suatu pembelajaran akan berhasil apabila didasarkan motivasi berprestasi yang kuat pada diri siswa tersebut. Siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cenderung akan mempunyai sikap yang positif untuk berprestasi. Tujuan dari suatu proses belajar adalah mencapai prestasi setinggi-

tingginya, dorongan dari dalam diri siswa untuk mencapai prestasi yang optimal akan mondorong siswa untuk belajar lebih giat sehingga diharapkan dapat benar-benar menguasai pelajaran yang diajarkan di sekolah dalam hubungannya dengan motivasi berprestasi Elida Prayitno (1989: 39) menyatakan siswa yang memiliki motivasi berprestasi tinggi kalau keinginan untuk sukses benar-benar berasal dari dalam diri baik situasi yang bersaing maupun dalam bekerja sendiri. Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa dalam keadaan bekerja sendiri apalagi kondisi bersaing seorang siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi muncul dari dirinya sendiri akan bekerja secara sungguh- sungguh. Jika dikaitkan dengan kesiapan kerja, orang yang memiliki motivasi berprestasi akan menentukan sendiri target kesiapan kerja yang akan dicapainya.

Siswa kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman mempunyai motivasi berprestasi yang belum optimal. Hal tersebut dapat diketahui dengan kurangnya kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran Akuntansi Keuangan dan kurangnya keseriusan siswa saat pelajaran 5

berlangsung. Pada saat pelajaran Akuntansi Keuangan, beberapa siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, sehingga saat guru memberikan pertanyaan kepada siswa, siswa tidak dapat mampu menjawabnya dengan baik. Selain itu siswa juga kurang mandiri dalam mengerjakan

tugas ataupun ulangan, siswa terkadang menyontek tugas ataupun ulangan Akuntansi Keuangan milik siswa yang lain.

Banyak faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa untuk dapat terjun di dunia kerja sehingga mereka dapat memenuhi permintaan pasar tenaga kerja. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan kerja siswa dapat berasal dari dalam ( intern) diri siswa dan faktor dari luar (ekstern) siswa yang masih ada kaitannya dengan siswa tersebut. Faktor lingkungan di luar diri siswa merupakan faktor ekstern, meliputi lingkungan keluarga dan status sosial. Selain faktor Motivasi Berprestasi, faktor lain yang juga sangat penting untuk menciptakan Kesiapan Kerja adalah faktor minat berasal dari diri siswa dapat meliputi berbagai macam bentuk dari minat untuk memilih Program Keahlian Akuntansi. Minat timbul karena adanya perasaan tertarik terhadap sesuatu di mana perasaan seseorang cenderung menetap dan menghasilkan perasaan senang terhadap bidang yang ditekuninya. Agar dapat meningkatkan kompetensi di bidangnya dapat dilihat dari adanya berbagai minat terhadap pelajaran yang selanjutnya akan berkaitan dengan mutu siswa sebagai calon tenaga kerja yang memang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan dunia usaha atau dunia industri sesuai dengan lapangan kerja yang ada. Minat siswa 6

dalam memilih program keahlian dalam hal ini memilih Program Keahlian Akuntansi juga mempengaruhi siswa tersebut dalam siap tidaknya siswa bekerja.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti terdorong untuk melakukan penelitian berkaitan dengan Minat Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi Siswa di SMK YPKK 3 Sleman sebagai salah satu sekolah kejuruan yang bertujuan untuk menyiapkan siswanya agar dapat terjun langsung ke dunia kerja. Penelitian tersebut berjudul Hubungan Antara Minat

Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi Siswa dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013.

B. Identifikasi Masalah Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan kesiapan kerja siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dari dalam siswa maupun faktor dari luar siswa. Dari banyaknya faktor yang mempengaruhi tersebut dapat diidentifikasi beberapa permasalahannya: 1.SMK belum sepenuhnya optimal dalam menghasilkan lulusan yang siap kerja.

2.Kurangnya kesiapan siswa kelas X dalam mengikuti pelajaran Akuntansi Keuangan dan kurangnya keseriusan siswa saat pelajaran berlangsung 3.Kesiapan Kerja siswa SMK YPKK 3 Sleman tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, hal itu terlihat dari banyaknya siswa lulusan SMK YPKK 3 7

Sleman yang bekerja tidak sesuai dengan program keahlian atau kompetensi yang diperolehnya selama di bangku sekolah. 4.Minat belajar siswa masih kurang maksimal sehingga prestasi belajar akuntansi keuangan sebagian siswa kurang memuaskan. 5.Terdapat beberapa siswa yang kurang serius dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

C.Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka masalah dibatasi pada faktor dari dalam diri siswa yang dapat mempengaruhi Kesiapan Kerja yaitu Minat Siswa dalam Memilih Program

Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi Siswa dengan Kesiapan Kerja di SMK YPKK 3 Sleman kelas X Program Keahlian Akuntansi tahun ajaran 2012/2013.

D. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang, identifikasi masalah, dan pembatasan masalah sebagaimana tersebut di atas, rumusan masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.Bagaimana hubungan antara Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013? 8

2.Bagaimana hubungan antara Motivasi Berprestasi Siswa dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013? 3.Bagaimana hubungan antara Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi Siswa secara bersama-sama dengan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013?

E.Tujuan Penelitian

1.Mengetahui hubungan antara Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013. 2.Mengetahui hubungan antara Motivasi Berprestasi Siswa dan Kesiapan Kerja Siswa Kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013.

3.Mengetahui hubungan antara Minat Siswa dalam Memilih Program Keahlian Akuntansi dan Motivasi Berprestasi siswa secara bersama-sama dengan Kesiapan Kerja siswa kelas X Program Keahlian Akuntansi SMK YPKK 3 Sleman Tahun Ajaran 2012/2013.

F.Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi mamfaat sebagai berikut : 9

1.Manfaat Teoritis Hasil Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan teori- teori dan analisis untuk untuk kepentingan penelitian di masa mendatang dan bermamfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang pendidikan akuntansi. 2.Manfaat Praktis
a.Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk pelaksanaan pendidikan yang lebih baik, apabila peneliti telah menjadi pendidik sehingga dapat berkontribusi pada dunia pendidikan. b.Bagi Pihak Sekolah Hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar bagi pengelola pendidikan SMK.
c.Bagi Universitas Negeri Yogyakarta

Hasil penelitian ini sebagai sumbangan koleksi berupa bahan pustaka dan bacaan bagi mahasiswa Pendidikan Akuntansi pada khususnya dan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta pada umumnya.
Convert Word to PDF