Anda di halaman 1dari 45

LUKA BAKAR

Pembimbing:
Dr. Tresnawaty Sp.B
DISUSUN OLEH
Belanny Dwi D. Budi Mulyawan M. Fauzi Assegaf

IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. W Usia : 16 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Agama : Islam Alamat : Mertasinga, Gunung Jati Tanggal pemeriksaan : 14 Maret 2013

ANAMNESIS

Keluhan Utama : Luka bakar di daerah dada, perut, tangan, dan kaki. Keluhan Tambahan : Demam Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke UGD RSUD Gunung Jati pada tanggal 8 Maret 2013 dengan keluhan adanya luka bakar di daerah dada, perut, kedua tangan, dan kedua kaki. Luka bakar didapat setelah pasien terkena ledakan kompor minyak di rumahnya pukul 08.00 dan sebagian rumah pasien terbakar. Saat peristiwa terjadi pasien mengaku baru akan memasak air, jarak antara pasien dengan kompor 25 cm. Pasien langsung lari meninggalkan dapur. Oleh bibinya pasien langsung ditutup dengan kain basah. Setelah apinya padam pasien langsung dibawa ke UGD untuk mendapatkan pertolongan medis. Kemudian pasien langsung dirawat inap sampai sekarang. Saat ini pasien mengeluh perih pada seluruh bagian luka dan pasien juga mengeluh demam.

Riwayat penyakit dahulu : Pasien belum pernah mengalami hal yang sama sebelumnya.
Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada anggota keluarga pasien yang pernah memiliki keluhan yang sama.

PEMERIKSAAN FISIK
Status generalis Keadaan umum Kesadaran Vital sign

Kepala Gigi

: Tampak sakit sedang : Compos mentis : Nadi : 80 x/menit Respirasi : 24 x/menit Suhu : 38,9 oC : Normocephal : Tidak ada kelainan

: Konjungtiva anemis -/Sklera ikterik -/ Leher : Trakea tidak deviasi Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid Thoraks : Cor : BJ I/II reguler, gallop (-), murmur (-) Pulmo : VBS +/+, ronkhi -/-, wheezing -/ Abdomen : Datar Bising Usus (+) Ekstremitas : Akral hangat Edema (-) Sianosis (-)

Mata

HASIL LAB (8-3-2013)


WBC

: 8.200/mm3 HB : 12,0 g/dl HCT : 36,8% PLT : 313.000/mm3

Status lokalis
Kepala dan leher : 0 % Thorak : 2 % Abdomen : 9 % Ekstremitas atas kanan : 9 % Ekstremitas atas kiri : 5 % Ekstremitas bawah kanan : 5 % Ekstremitas bawah kiri : 8 % Genitalia : 0 % + Total : 38 %

Luka bakar grade II

Luka bakar grade II

Luka bakar grade II

RESUME Wanita 16 tahun datang dengan keluhan adanya luka bakar di daerah dada, perut, kedua tangan, dan kedua kaki sejak 6 hari yang lalu. Luka bakar didapat setelah pasien terkena ledakan kompor minyak di rumahnya, kemudian pasien langsung dibawa ke UGD RSUD Gunung Jati untuk mendapat pertolongan medis. Pasien langsung dirawat inap sampai sekarang. Saat ini pasien mengeluh perih pada seluruh bagian luka dan pasien juga mengeluh demam. Terdapat luka bakar derajat II pada regio thoraks, abdomen, ekstremitas superior dan ekstremitas inferior yang tertutup verband.

DIAGNOSIS KERJA
Luka

bakar grade II 38% ec ledakan kompor (thermal burns)

TATALAKSANA
Resusitasi

cairan Medikamentosa : Antibiotik Analgetik Antagonis Histamin 2 Debridement luka

PROGNOSIS
Quo ad Vitam Quo ad Functionam Quo ad Sanactionam

: Bonam : Bonam : Bonam

TINJAUAN PUSTAKA
LUKA BAKAR

ANATOMI KULIT

Epidermis terbagi atas 3 lapisan : 1. Lapisan Basal atau Stratum Basale 2. Lapisan Malphigi atau Stratum Spinosum 3. Lapisan Granular atau Stratum Granulosum 4. Lapisan Tanduk atau Stratum Korneum Pada telapak tangan dan kaki terdapat lapisan tambahan diatas lapisan granular yaitu stratum lusidum.

Dermis Terdiri dari jaringan ikat: 1) Pars papilaris: dibagian atas, terjalin rapat 2) Pars retikularis: di lapisan bawah, terjalin lebih longgar. Terdiri dari sel-sel penunjang, kolagen, elastin dan retikulin. Pada lapisan ini didapati pula pembuluh darah, serabut saraf, rambut dan kelenjar keringat dan kelenjar sebasea.

LUKA BAKAR
DEFINISI Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh api atau oleh penyebab lain misalnya pajanan suhu tinggi dari marahari, listrik, maupun bahan kimia serta radiasi.2

ETIOLOGI Secara garis besar, penyebab terjadinya luka bakar dapat dibagi menjadi: Paparan api
Flame: Akibat kontak langsung antara jaringan dengan api terbuka, dan menyebabkan cedera langsung ke jaringan tersebut. Benda panas (kontak): Terjadi akibat kontak langsung dengan benda panas. Luka bakar yang dihasilkan terbatas pada area tubuh yang mengalami kontak. Contoh: luka bakar akibat rokok dan alat-alat seperti solder besi atau peralatan masak.

Scalds (air panas)


Terjadi akibat kontak dengan air panas. Semakin kental cairan dan semakin lama waktu kontaknya, semakin besar kerusakan yang akan ditimbulkan.

Uap panas
Terutama ditemukan di daerah industri atau akibat kecelakaan radiator mobil. Menimbulkan cedera luas akibat kapasitas panas yang tinggi dari uap serta dispersi oleh uap bertekanan tinggi. Apabila terjadi inhalasi, uap panas dapat menyebabkan cedera hingga ke saluran napas distal di paru.

Gas panas Inhalasi menyebabkan cedera thermal pada saluran nafas bagian atas dan oklusi jalan nafas akibat edema. Aliran listrik

Cedera timbul akibat aliran listrik yang lewat menembus jaringan tubuh. Umumnya luka bakar mencapai kulit bagian dalam.

Zat kimia (asam atau basa) Radiasi Sunburn sinar matahari, terapi radiasi.

KLASIFIKASI LUKA BAKAR


Derajat I Pajanan hanya merusak epidermis sehingga masih menyisakan banyak jaringan untuk dapat melakukan regenerasi. Biasanya sembuh dalam 57 hari dan dapat sembuh secara sempurna. Tampak sebagai eritema dan timbul dengan keluhan nyeri dan atau hipersensitivitas lokal. Contoh: sunburn.

Derajat II
Lesi melibatkan epidermis dan mencapai kedalaman dermis namun masih terdapat epitel vital yang bisa menjadi dasar regenerasi dan epitelisasi Dapat sembuh dalam 2-3 minggu. Gambaran berupa bula yang berisi cairan eksudat dari pembuluh darah karena perubahan permeabilitas dindingnya, disertai rasa nyeri. Apabila tidak ditangani dengan baik, dapat timbul edema dan penurunan aliran darah di jaringan, sehingga berkembang menjadi full-thickness burn atau luka bakar derajat III.

Derajat III Mengenai seluruh lapisan kulit, dari subkutis hingga mungkin organ atau jaringan yang lebih dalam (tidak tersisa jaringan epitel yang dapat menjadi dasar regenerasi sel spontan) untuk menumbuhkan kembali jaringan kulit harus dilakukan cangkok kulit. Gejala yang menyertai justru tanpa nyeri maupun bula, karena pada dasarnya seluruh jaringan kulit yang memiliki persarafan sudah tidak intak.

BERAT DAN LUAS LUKA BAKAR


Berat luka bakar bergantung pada dalam, luas, dan letak luka. Usia dan kesehatan pasien sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Adanya trauma inhalasi juga akan mempengaruhi berat luka bakar. Semakin luas permukaan tubuh yang terlibat, morbiditas dan mortalitasnya meningkat, dan penanganannya juga akan semakin kompleks.

Beberapa metode cepat untuk menentukan luas luka bakar, yaitu: Estimasi luas luka bakar menggunakan luas permukaan palmar pasien. Luas telapak tangan individu mewakili 1% luas permukaan tubuh. Luas luka bakar hanya dihitung pada pasien dengan derajat luka II atau III.

Rumus 9 atau rule of nine untuk orang dewasa Luas kepala dan leher, dada, punggung, pinggang dan bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. Sisanya 1% adalah daerah genitalia.

Rumus 10 untuk bayi dan rumus 10-15-20 untuk anak Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil.

Metode Lund dan Browder


Metode ini digunakan untuk estimasi besarnya luas permukaan pada anak. Apabila tidak tersedia tabel tersebut, perkiraan luas permukaan tubuh pada anak dapat menggunakan Rumus 9 dan disesuaikan dengan usia:

Pada anak di bawah usia 1 tahun: kepala 18% dan tiap tungkai 14%. Torso dan lengan persentasenya sama dengan dewasa. Untuk tiap pertambahan usia 1 tahun, tambahkan 0.5% untuk tiap tungkai dan turunkan persentasi kepala sebesar 1% hingga tercapai nilai dewasa.

PEMBAGIAN LUKA BAKAR


1. Luka bakar berat (major burn) a. Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50 tahun b. Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama c. Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki, dan perineum d. Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka bakar e. Luka bakar listrik tegangan tinggi f. Disertai trauma lainnya g. Pasien-pasien dengan resiko tinggi

2. Luka bakar sedang (moderate burn) a. Luka bakar dengan luas 15 25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 % b. Luka bakar dengan luas 10 20 % pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 % c. Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum 3. Luka bakar ringan a. Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa b. Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut c. Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum

INDIKASI RAWAT INAP PASIEN LUKA BAKAR


Menurut American Burn Association, seorang pasien diindikasikan untuk dirawat inap bila: Luka bakar derajat III > 5% Luka bakar derajat II > 10% Luka bakar derajat II atau III yang melibatkan area kritis (wajah, tangan, kaki, genitalia, perineum, kulit di atas sendi utama) risiko signifikan untuk masalah kosmetik dan kecacatan fungsi Luka bakar sirkumferensial di thoraks atau ekstremitas Luka bakar signifikan akibat bahan kimia, listrik, petir, adanya trauma mayor lainnya, atau adanya kondisi medik signifikan yang telah ada sebelumnya Adanya trauma inhalasi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan: 1. Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah 2. Urinalisis 3. Pemeriksaan keseimbangan elektrolit 4. Analisis gas darah 5. Radiologi jika ada indikasi ARDS 6. Pemeriksaan lain yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis SIRS dan MODS

PENATALAKSANAAN LUKA BAKAR

Prioritas utama: mempertahankan jalan nafas tetap paten, ventilasi yang efektif dan mendukung sirkulasi sistemik.

Intubasi endotrakea: dilakukan pada pasien yang menderita luka bakar berat atau kecurigaan adanya jejas inhalasi atau luka bakar di jalan nafas atas.

Prioritas berikutnya: mendiagnosis dan menata laksana jejas lain (trauma tumpul atau tajam) yang mengancam nyawa. Dua hal yang harus dilakukan sebelum dilakukan transfer pasien:
mempertahankan ventilasi adekuat jika diindikasikan, melepas dari eskar yang mengkonstriksi.

Tatalaksana resusitasi luka bakar a. Tatalaksana resusitasi jalan nafas: Intubasi Krikotiroidotomi Pemberian oksigen 100% Perawatan jalan nafas Penghisapan sekret (secara berkala) Pemberian terapi inhalasi Bilasan bronkoalveolar Perawatan rehabilitatif untuk respirasi Eskarotomi pada dinding torak yang bertujuan untuk memperbaiki kompliansi paru

b. Tatalaksana resusitasi cairan Cara Evans


Luas luka bakar (%) x BB (kg) menjadi mL NaCl per 24 jam Luas luka bakar (%) x BB (kg) menjadi mL plasma per 24 jam 2.000 cc glukosa 5% per 24 jam

Separuh dari jumlah 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua. Cara Baxter
Luas luka bakar (%) x BB (kg) x 4 mL

Separuh dari jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.

c. Resusitasi nutrisi
pemberian nutrisi secara enteral sebaiknya dilakukan sejak dini dan pasien tidak perlu dipuasakan. Bila pasien tidak sadar, maka pemberian nutrisi dapat melalui naso-gastric tube (NGT). Nutrisi yang diberikan sebaiknya mengandung 10-15% protein, 50-60% karbohidrat dan 25-30% lemak. Pemberian nutrisi sejak awal ini dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya atrofi vili usus. Dengan demikian diharapkan pemberian nutrisi sejak awal dapat membantu mencegah terjadinya SIRS dan MODS.

PERAWATAN LUKA BAKAR

Untuk menghilangkan rasa nyeri dari luka bakar: morfin dalam dosis kecil secara intravena (dosis dewasa awal : 0,1-0,2 mg/kg dan maintenance 520 mg/70 kg setiap 4 jam, sedangkan dosis anakanak 0,05-0,2 mg/kg setiap 4 jam). Tetapi ada juga yang menyatakan pemberian methadone (5-10 mg dosis dewasa) setiap 8 jam merupakan terapi penghilang nyeri kronik yang bagus untuk semua pasien luka bakar dewasa. Jika pasien masih merasakan nyeri walau dengan pemberian morfin atau methadone, dapat juga diberikan benzodiazepine sebagai tambahan.

Terapi pembedahan pada luka bakar Eksisi dini tindakan pembuangan jaringan nekrosis dan debris (debridement) yang dilakukan dalam waktu kurang dari 7 hari (biasanya hari ke 5-7) pasca cedera termis Skin grafting metode penutupan luka sederhana. Tujuan dari metode ini adalah:
Menghentikan evaporate heat loss Mengupayakan agar proses penyembuhan terjadi sesuai dengan waktu Melindungi jaringan yang terbuka

harus dilakukan secepatnya setelah dilakukan eksisi pada luka bakar pasien.

KOMPLIKASI

Segera Sindrom kompartemen luka bakar sirkumferemsia; (luka bakar pada ektremitas iskemia ektremitas, luka bakar toraks hipoksia dari gagal nafas restriktif) (cegah dengan eskarotomi segera). Awal
Hiperkalemia (dari sitolisis pada luka bakar luas). Obati dengan insulin dan dektrosa. Gagal ginjal aku ( kombinasi dari hipovolemi, sepsis, toksin jaringan). Cegah dengan resusitasi dini agresif, pastikan GFR tinggi pada pemberian cairan dan diuretik, obati sepsis. Infeksi ( waspadai streptokokus ). Obati infeksi yang timbul dengan antibiotik sistemik. Ulkus akibat stres (ulkus Curling) (cegah dengan antasid, H2 blocker atau PPI)

Lanjut Kontraktur

DAFTAR PUSTAKA
1.

2.

3.

4.

5.

Ahmadsyah I, Prasetyono TOH. Luka. Dalam: Sjamsuhidajat R, de Jong W, editor. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005. h. 73-5. Reksoprodjo S dkk. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. FKUI. Heimbach DM, Holmes JH. Burns. In: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn DL, Hunter JG, Pollock RE, editors. Schwartzs principal surgery. 8th ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2007. Gerard M. Doherty, Lawrence W. Way. Current Surgical Diagnosis & Treatment, 12 Edition. Ann Arbor, Michigan, and San Francisco, California September 2005 Grace PA, Neil R Borley, at a Glance Ilmu Bedah Edisi 3, Jakarta: Erlangga, 2006.

Anda mungkin juga menyukai