Anda di halaman 1dari 7

PL 4002 Pengantar Rancang Kota Perencanaan Wilayah dan Kota Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut

t Teknologi Bandung

URBAN DESIGN CONCEPT : TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT (TOD) Fitri Noor Permatasari - 15409056
I. Pendahuluan Transportasi menjadi salah satu masalah yang terjadi di kota-kota besar saat ini. Kepadatan jalan, kemacetan, jarak tempuh yang lama, polusi udara dan suara, serta pemborosan energy merupakan beberapa masalah yang terjadi dari masalah transportasi. Permasalahan transportasi yang terjadi saat ini erat kaitannya dengan pola tata guna lahan, karena pola tata guna lahan berperan penting dalam menentukan kegiatan dan aktivitas pergerakan masyarakat. Aktifitas dan pergerakan masyarakat dapat ditekan dari segi pemanfaatan tata guna lahan dan aksesibilitas dalam menjangkau kegiatan tersebut. Pada kenyataannya, kemacetan dan masalah transportasi yang terjadi saat ini terjadi karena tingginya aktifitas masyarakat yang ditimbulkan dari beragamnya pemanfaatan tata guna lahan tidak diiringi dengan aksesibilitas yang baik. Sehingga jumlah pergerakan masyarakat dalam menggunakan moda transportasi, yang mayoritas adalah pengguna transportasi pribadi semakin meningkat. Hal ini yang menimbulkan kemacetan dan ketidak-efektifan antara aktifitas masyarakat dengan aksesibilitas yang tersedia. Karena keterkaitan antara pola pemanfaatan guna lahan dan pemilihan aksesibilitas moda transportasi untuk mendukung pemanfaatan guna lahan tersebut sangat erat, maka dibutuhkan suatu sistem perancangan yang mampu mengintegrasi antara pembangunan moda transportasi dengan pemanfaatan guna lahan di sekitar moda transportasi yang dapat menunjang aktifitas dan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna moda transportasi. Sistem perancangan yang mengintegrasi antara moda transportasi dengan pemanfaatan guna lahan sekitar yang dikenal dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). II. Konsep Transit Oriented Development (TOD) Salah satu konsep baru dalam rancang kota adalah konsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep Transit Oriented Development merupakan restrukturisasi konsep pembanguann kota yang fokus pada fasilitas transit, yang telah dikenal sebelumnya pada awal abad ke-20 yang berupa konsep pengembangan terpadu pada stasiun kereta api dan Bus Rapid Transit sebagai fasilitas transportasi massal untuk commuter di Amerika Serikat. Proyek tersebut yang menjadi dasar pembentukan teori Transit Oriented Development oleh Calthrope. Konsep Transit Oriented Development (TOD) diterjemahkan oleh Petrus Calthrope pada tahun 1980an. Transit Oriented Development didefinsikan sebagai konsep yang menggunakan pola ruang mixeduse (campuran) yang mendorong orang untuk tinggal berdekatan dengan layanan transit serta untuk mengurangi ketergantungan orang terhadap mengemudi (atau menjadi commuter). Konsep Transit Oriented Development di anggap sebagai salah satu konsep perancangan kota yang berkelanjutan untuk masyarakat. Konsep Transit Oriented Development dapat menjadi salah satu alternatif perancangan kota untuk pertumbuhan daerah. Perkembangan kota yang berorientasi TOD

berpotensi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mengurangi biaya transportasi rumah tangga sedangkan untuk wilayah dengan pola ruang mixed-use dapat mengurangi sampak lingkungan dan memberikan alternatif untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Definisi Konsep TOD Transit Oriented Development merupakan suatu prinsip pengembangan kota/kawasan dengan mempertimbangkan orientasi dari fasilitas transit, dengan adanya batasan area yaitu maksimal 2000 kaki dari sekitar fasilitas transit merupakan kawasan yang terjangkau untuk kenyamanan akses dalam mencapai fasilitas transportasi tersebut. Kawasan tersebut dapat berupa mixed-use (campuran), yang dapat membuka peluang dan potensi pengembangan area campuran seperti hunian, komersial, ruang public, retail, dan lain-lain. Dengan adanya kawasan tersebut selain mempermudah masyarakat dalam mencapai fasilitas transit juga memberikan kenyamanan pada masyarakat. Seiring perkembangan waktu, teori Transit Oriented Development terus berkembang. Terdapat dua tipa Transit Oriented Development menurut Calthrope (1993), yaitu sebagai berikut : 1. Urban Transit Oriented Development, yaitu suatu urban transit dengan kawasan mixed-use yang meliputi segala aktifitas urban seperti hunian, kantor, perdagangan, komersil, ruang terbuka hijau, dan lainnya yang dikemas dalam bentuk suatu kawasan dengan pusat pengembangan yang merupakan bagian dari fasilitas transit public, yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi akses pencapaian masyarakat urban trhadap fasilitas transit 2. Neighborhood Transit Oriented Development, tipe TOD ini merupakan pengembangan yang dibangun sepanjang alur antar transit station maupun sepanjang alur pencapaian transit station denan memanfaatkan waktu masyarakat dalam mencapai transit station sebagai kawasan strategis. Kawasan strategis ini juga berbentuk kawasan mixed-use (campuran). Dalam konsep Transit Oriented Development, dua bagian yang terpenting dalam perancangan kota dengan konsep ini adalah fasilitas transportasi massal yang akan menjadi fasilitas transit dan kawasan mixed-use (campuran) yang menjadi sarana pendukung fasilitas transit tersebut. Untuk perancangan area transit, yang berupa kawasan tersebut menggunakan prinsip-prinsip rail oriented planning yang menjadi pertimbangan dalam perancangan tersebut, diantaranya adalah : 1. Higher Density : Area tersebut harus memiliki kepadatan yang tinggi 2. Mixed-Use : Area tersebut harus memiliki pola ruang campuran, yang dapat terdiri dari komersial, kantor, ruang terbuka, fasilitas sosial dan lain-lain 3. Mixture of Housing Types : Area tersebut memiliki tipe rumah yang campuran (berbagai macam tipe) 4. Pedestrian Friendly Design : Area tersebut memiliki jalur pejalan kaki yang mudah digunakan oleh masyarakat 5. Half Mile Radius : Area transit ini tidak memiliki jarak yang jauh dengan fasilitas transit Konsep Transit Oriented Development merupakan suatu konsep yang terintegrasi yaitu pengembangan kawasan maupun pengembangan tempat transit. Pengembangan yang terintegrasi ini diharapkan dapat meningkatkan penggunaan fasilitas transportasi massal yang lebih efektif dan efisien dimana masyarakat tidak terikat dalam menggunakan satu moda transportasi maupun kawasan khusus saja, tetapi juga memahami bagaimana system transportasi antar moda dapat terpadu dan tersinergi dengan baik serta mampu member

kemudahan dan melayani kebutuhan masyarakat dalam melakukan aktifitas dari satu tempat ke tempat lain dengan lebih efisisen termasuk keuntungan dari peningkatan nilai guna lahan di sekitarnya. Komponen-komponen dalam pengembangan TOD Komponen-komponen yang terdapat dalam pengembangan konsep Transit Oriented Development adalah : 1. Terdapat jaringan sirkulasi (jalan) 2. Bus Rapid Transit dan tempat pemberhentiannya (halte) 3. Fasilitas pejalan kaki dan pesepeda untuk menghemat pergerakan kendaraan bermotor 4. Fasilitas umum seperti taman, sekolah, perpustakaan, dan lain-lain 5. Areal parkir Sedangkan untuk ciri-ciri konsep Transit Oriented Development adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Pengembangaannya terintegrai dengan lingkungan sekitarnya Menyediakan fasilitas dan jasa yang mampu melayani wilayah yang lebih besar Kombinasi dari kawasan umum, rekreasi, dan komersoal Orientasi pada pedestrian dan pesepeda untuk membatasi pergerakan kendaraan bermotor Ramah Lingkungan

Perancangan kawasan dalam konsep TOD memiliki jarak maksimal 2000 kaki dari suatu perhentian transit dengan pusatnya yaitu area komersil inti. Penentuan jarak maksimal 2000 kaki dimaksudkan untuk merepresentasikan suatu jarak jalan kaki yang nyaman ( 10 menit) untuk sebagian orang. Kawasan area transit TOD dikonsepkan menjadi beberapa fungsi lahan, sesuai dengan pola pengembangannya yaitu mixed-use sebagai area pengembangan dan pendukung fasilitas transit. Di bawah ini merupakan penggambaran bagian-bagian dari konsep Transit Oriented Development :

Sumber : http://esci-ksp.org/wp/wp-content/uploads/2012/05/TOD-in-Seoul.pdf

Dari gambar di atas, dapat diketahui bahwa kawasan pengembangan TODini dibagi menjadi beberapa area, yaitu : 1. Daerah Komersil Inti Daerah komersil inti ini dikhususkan untuk area perniagaan sebagai pusat di setiap TOD. Hal ini menjadi penting karena pemanfaatan area perniagaan dapat memungkinkan sebagian besar penduduk dapat menuju area perniagaan dengan berjalan kaki atau bersepeda untuk memenuhi kebutuhan dasar nya. Hal ini dapat mengurangi mobilitas penduduk dengan menggunakan transportasi pribadi. Area komersial inti juga menyediakan tempat tujuan yang membuat penggunaan fasilitas transit transportasi massal menjadi menarik, sehingga nantinya masyarakat dapat lebih memilih menggunakan fasilitas transit jika dikombinasikan dengan peluang pengembangan retail, jasa, perkantoran ,mall, dan lain-lain. 2. Daerah Pemukiman Daerah pemukiman pada TOD mencakup perumahan yang berada pada jarak jalan kaki yang nyaman dari daerah komersial inti dan perhentian transit. Kebutuhan pemukiman yang padat harus diiringi dengan pembangunan suatu campuran hunian sementara seperti kondominium, apartemen, wisma, atau hotel. Sasaran pemukiman ini adalah untuk commuter yang sering menggunakan fasilitas transit dalam melakukan aktifitas. 3. Penggunaan Publik Penggunaan public diperlukan untuk melayani penduduk dan pekerja di TOD dan daerah sekitarnya. Fasilitas public seperti tempat parkir, zona hijau, gedung public, dan pelayanan public yang dibangun untuk mengisi kebutuhan tersebut. 4. Area Sekunder Setiap TOD memiliki area sekunder yang terletak tidak jauh dengan area komersil inti. Untuk itu, jaringan jalan area sekunder harus tersedia jalan langsung multiple serta koneksi sepeda ke tepat perhentian transit dan area komersil inti, dengan tingkat minimal penyebrangan. Area sekunder dapat dialihfungsikan sebagai fasilitas umum, sekolah umum, parkir masyarakat yang luas, dan lain-lain. Tahapan Penerapan Konsep Transit Oriented Devekopment Dalam penerapan konsep TOD, dibutuhkan tahapan-tahapan untuk memastikan adr konsep TOD dapat diimplementasikan dengan baik. Tahapan ini berlaku secara umum, nantinya dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kota. Tahapan penerapan konsep TOD diantaranya adalah : 1. Tahap pertama : Memperkuat investasi public dalam angkutan umum (transportasi massal) dan memastikan bahwa pengembangan angkutan umum akan terpusat pada stasiun 2. Tahap kedua : Memahami bahwa area stasiun merupakan daerah khusus dan kawasan yang berada di sekitar stasiun dapat mengembangkan pembangunan tradisonal 3. Tahap ketiga : Memberikan kesempatan untuk mempromosikan dan memasarkan TOD sebagai salah satu bagian dalam strategi manajemen pertumbuhan. 4. Tahap ke-empat : Melakukan re-zoning pada daerah-daerah di sekitar area staiun agar dapat tersimpulkan dengan menggunakan moda angkutan umum 5. Tahap kelima : Fokus pada investasi instansi public dan peluang pembangunan di daerah sekitar stasiun 6. Tahap ke-enam : Membangun broad-based core untuk mendukung TOD 7. Tahap ketujuh : Menyiapkan kerangka kerja mandiri untuk mempromosikan TOD hingga perencanaan selesai sebagai dasar untuk pengendalian serta pengawasan rencana tersebut

Manfaat Pengembangan Konsep Transit Oriented Development Saat ini, pengembangan konsep TOD sedang terkenal di kota-kota besar di dunia. Konsep TOD ini dianggap sebagai salah satu konsep perancangan kota yang sesuai dan dapat menjawab permasalahan kota saat ini, yaitu transportasi. Konsep TOD harus didukung karena memberikan manfaat untuk kota dan masyarakat kota sendiri. Manfaat TOD diantaranya adalah : 1. Mengurangi kemacetan lalu lintas dan konsumsi energy 2. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup 3. Mengurangi kebutuhan parkir 4. Mengurangi kebutuhan investasi untuk jalan, jembatan, dan area parkir 5. Meningkatkan image yang baik dari suatu kota 6. Mengurangi stress para commuter 7. Meningkatkan kelayakan pasar dari suatu lokasi 8. Penggunaan sumber daya lahan yang sesuai dan tepat guna III. Studi Kasus Penerapan Konsep Transit Oriented Development Saat ini, pengembangan penerapan konsep Transit Oriented Development telah maju dan menjadi trend di kota-kota besar khususnya kota baru yang besar seperti Tokyo di Jepang, Seoul di Korea, Hongkong , dan Singapura. Penerapan konsep-konsep pengembangan ini memanfaatkan jalur kereta api kota. Untuk di Indonesia sendiri, konsep TOD sedang banyak diperbincangkan untuk diterapkan di Indonesia. Namun dalam kenyataannya, belum ada daerah di Indonesia yang sudah melakukan konsep TOD. Baru ada perencanaan kawasan TOD di Jakarta yang terintegrasi dengan pembangunan MRT di Jakarta. Oleh karena itu, contoh kasus yang diambil merupakan kasus-kasus TOD dari luar negeri. Berikut di bawah ini adalah contoh penerapan konsep Transit Oriented pada salah satu kota besar di luar negeri yang sudah berjalan, yaitu : Penerapan TOD di Kota Seoul, Korea Selatan Kota Seoul merupakan salah satu kota besar dan tersibuk di dunia. Kota ini juga ,merupakan kota metropolitan yang menjadi tujuan masyarakat Korea Selatan dalam melakukan aktifitas sehari-hari, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bersekolah, dan bekerja. Sebagai salah satu kota yang memiliki aktifitas ekonomi tinggi, maka pergerakan masyarakat juga tinggi di kota ini. Sebagai salah satu kota yang memiliki pertumbuhan ekonomi tercepat, pemasukan internal kota tersebut juga semakin meningkat. Pemasukan kota yang tinggi berdampak pada naiknya tingkat kesejahteraan masyarakat Korea Selatan yang menimbulkan adanya peningkatan jumlah kepemilikan kendaraan pribadi di kota Seoul. Untuk mengantisipasi ledakan kendaraan bermotor di kota Seoul, maka pada tanggal 1 Juli 2004 diadakan perbaikan transportasi massal, yaitu bus yaitu dengan menambah rute bus dan membuat bus untuk jalan kecil (pedesaan). Hal ini dimaksudkan untuk mendorong masyarakat menggunakan transportasi massal dan mengurangi kemacetan yang terjadi di jalan raya.

Gambar Penerapan Bus Transit di Seoul, Korea Selatan

Sumber : http://esci-ksp.org/wp/wp-content/uploads/2012/05/TOD-in-Seoul.pdf Dampak dari tingginya kepemilikan kendaraan pribadi tidak hanya menimbulkan kemacetan pada jalan raya, tetapi juga menimbulkan kemacetan pada jalan-jalan kolektor yang disebabkan oleh parkir onstreet. Oleh karena itu, pemerintah kota Seoul juga menginisiasi adanya green parking , yaitu dengan menambah jumlah lapangan parkir di area perumahan yang sekaligus dapat menjadi ruang terbuka hijau untuk masyarakat sekitar. Green parking Ini juga menjadi salah satu sarana pendukung Bus Transit sebagai penyedia lahan parkir untuk masyarakat yang membawa kendaraan pribadi namun ingin menggunakan bus sebagai moda transportasinya. Dengan adanya green parking dan bus transit sebagai salah satu bagian dari penerapan konsep Transit Oriented Development, penggunaan kendaraan pribadi pada masyarakat Seoul semakin berkurang dan tingginya penggunaan transportasi umum. Dengan hal ini, mobilitas kendaraan pribadi dapat semakin berkurang dan kemacetan jalan raya dapat berkurang secara signifikan.

Sumber : http://esci-ksp.org/wp/wp-content/uploads/2012/05/TOD-in-Seoul.pdf

IV. Penutup Transit Oriented Development merupakan salah satu konsep baru dalam perancangan kota. Konsep ini hadir untuk menjawab permasalahan kota khususnya dalam penggunaan moda transportasi. Konsep ini menawarkan suatu konsep kota yang terintegrasi antara fasilitas transportasi massal dengan daerah pendukung di sekitarnya yang berpola mixed-use, dimana terdapat perkantoran, pemukiman, komersil, ruang terbuka, dan fasilitas lainnya untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. Dengan mengembangkan konsep yang terintegrasi antara transportasi massal dan daerah tujuan masyarakat, mobilitas (pergerakan) kendaraan dan masyarakat dapat ditekan sekecil mungkin. Sehingga masalah-masalah transportasi yang terjadi di jalan raya dapat diminimalisasi. Sebaiknya, Indonesia mulai merealisasikan konsep kawasan TOD di Jakarta yang terintegrasi dengan transportasi massal MRT. Hal ini untuk menekan laju pergerakan commuter (penglaju) dari Bodetabek ke Jakarta setiap harinya, sehingga efektifitas penggunaan moda transportasi dapat terjadi dan akan terbentuk suatu kota yang terintegrasi dan effisien.

Referensi http://esci-ksp.org/wp/wp-content/uploads/2012/05/TOD-in-Seoul.pdf di akses pada tanggal 15 Oktober 2010. http://sutip.mine.nu/GD/Indonesian_Version/10.Transit_Oriented_Development_(TOD).pdf diakses pada tanggal 15 Oktober 2010. http://www.hubdat.web.id/downloads/rakornis/2008/bstp.pdf di akses pada tanggal 15 Oktober 2010