Anda di halaman 1dari 4

Aprianingsih hal.

1
Kelas : III B
MTs. Abadiyah Cerita Pendek (cerpen)

Burung Bayan dan Delamukan.

Alkisah, sembilan puluh sembilan burung Bayan terbang menyertai seekor


ratunya, berjajar membelah angkasa raya. Mereka hendak hijrah dari tempatnya
semula di Gunung Emas mencari tempat baru di negeri yang bernama Kustam.
Telah cukup lama burung-burung itu melayang-layang terbang di angkasa, namun
negeri yang dicari belum juga ditemukan. Dalam kelelahan terbang itu mereka
melihat ada sebuah pohon yang sangat besar dan tinggi menjulang bagaikan
menembus langit. Wudi, nama pohon itu. Dan di sanalah, sembilan puluh sembilan
burung Bayan itu hinggap dan istirahat bersama ratu mereka.
Melihat kelelahan rakyatnya, sang ratu lalu berkata, “wahai saudara-
saudaraku semua, marilah kita sekarang membangun sangkar di kayu wudi ini saja.
Saya percaya kita aman di sini karena kayu ini cukup tinggi, lurus dan tanpa
cabang, hingga kita bebas dari gangguan manusia.”
Semua burung itu pun setuju dengan usulan sang ratu. Mereka memutuskan
menetap di pohon wudi itu. Dan mulailah pasukan burung itu membangun sarang.
Mereka tak begitu peduli, di negeri mana mereka kini berada. Setidaknya pohon ini
mereka yakini aman dari gangguan manusia.
Sudah cukup lama burung-burung itu menetap di pohon wudi tersebut dan
sudah pula mereka selesai membuat sangkar. Suatu sore sekitar jam 6 tiba-tiba
hinggaplah seekor burung Delamukan yang tampak terbang kelelahan dan
kemalaman lalu hinggap di pohon wudi tersebut. Burung Delamukan itu hendak
menemui ratu burung Bayan, dan meminta tolong, memohon dan membujuknya
agar diperbolehkan menginap di pohon wudi. Delamukan mengatakan ia hanya
menginap semalam saja untuk pada pagi harinya melanjutkan perjalanan.
Seekor burung Bayan yang tampak sangat baik hati lalu berucap, “hidup di
dunia ini memang tidak ada yang dicari kecuali sanak saudara. Namun demikian
janganlah membuat ki Delamukan salah paham kalau kami sedikit waspada. Anda
tahu sendiri, hidup di dunia ini paling sulit ialah yang mengabdi sang penguasa
seperti kami. Karena itu kami harus hati-hati agar tidak kena sanksi atasan kami.
Apalagi zaman ini, sikap para pejabat bikin hidup tambah ngeri. Sikap menyimpang
justru menjadi kebiasaan,” kata burung itu.
Setelah diam sebentar ia berkata lagi, “jadi pahamilah kalau setiap orang
harus bersikap teliti, hati-hati dan mewaspadai. Lebih-lebih hidup dalam sebuah
negara berdasar hukum, segala tindakan haruslah dijalankan dengah penuh kehati-
hatian dan mengerti terhadap segala aturan. Termasuk tindakan yang harus diambil
ketika ada yang menginap di sini. Misalnya kalu ia mengendari kuda, perlu diperiksa
secara cermat, jangan-jangan kuda itu dipersiapkan untuk mencuri atau merampok.
Jika ternyata terdapat suatu kejanggalan atau suatu ketidakwajaran, maka perlu
segera dilaporkan kepada aparat keamanan.”

Disadur dari
Serat Bayan Budiman
Karya Kiai Mursyidi, Umbul Gading Klaten
diterjemahkan bebas oleh :
Tahun 1929 M Cok Tosapati ‘08
Aprianingsih hal. 2
Kelas : III B
MTs. Abadiyah Cerita Pendek (cerpen)

Burung Delamukan diam saja, karena itu Bayan tersebut meneruskan


ocehannya, “misalnya sekarang ini, anda wahai Delamukan, jika hendak menginap
di sini, siapa yang menyuruhmu, apa maumu sendiri, apa karena memenuhi tugas
negara? Jika melihat barang bawaanmu yang banyak itu, maka engkau perlu
menunjukkan surat keterangan atas barang-barang bawaanmu itu?”
Burung Delamukan menjawab: “Kepergianku ini merupakan keperluan
pribadi. Saya pergi dari Caruban sesudah bekerja di sana tanpa hasil. Di sana, saya
bekerja pada perusahaan kereta api dengan harapan dapat meraih keuntungan.
Tapi ternyata pekerjaan itu justru membuat saya lebih sengsara. Karena itu saya
pergi dari sana. Saya tahu, tidak ada yang menanggungku di sini sebab di sini saya
tidak memiliki teman. Karena itu, saya memohon kepada Saudara Ketua agar
hendaknya bisa membantu kesulitan saya ini memberi ijin untuk menginap
semalam saja. Hari sudah malam tidak mungkin saya melanjutkan perjalanan.”
Burung Bayan itu lalu berkata perlahan: “Saya tidak bisa memberi jawaban
atas permohonanmu itu ki Delamukan sebelum melaporkan kepada pimpinan kami
di sini.” Bayan lalu melaporkan masalah itu kepada Ratu yang tinggal di pucuk
pohon wudi.
Mendengar laporan itu Ratu Bayan segera berkata: “Jika Delamukan itu
menginap di sini, tampaknya hanya akan membawa masalah saja. Delamukan itu
biasanya suka membuang hajat di cabang-cabang. Kotoran dari makanannya yang
beragam di antaranya buah pohon beringin hingga petai cina, sangat mudah
menempel di cabang-cabang sehingga akan mengotori tempat kita. Karena itu
sebaiknya Delamukan itu kau usir saja. Jika perlu dengan kekerasan.” Kata Sang
Ratu menegaskan kepada anak buahnya.
Sesudah sang ratu memutuskan, tetua Bayan-lah yang menemui Delamukan
dan berucap: “Hai Delamukan! Sebaiknya anda segera meninggalkan tempat ini,
karena Sang Ratu tidak berkenan jika anda menginap di sini. Carilah kayu yang lain
saja!” kata tetua Bayan tersebut.
Delamukan lalu meminta belas kasihan dengan memelas. Hingga lama,
Delamukan belum putus asa. Ia terus memohon belas kasihan kepada tetua Bayan.
Ia berkata, “Apakah rombongan Bayan tidak mempunyai rasa welas asih, padahal
dirinya tidak mungkin bisa melanjutkan perjalanan saat itu karena waktu telah
cukup malam. Begitukah kepribadian burung Bayan?” kata burung Delamukan.
Mendengar Delamukan mempertanyakan kepribadian burung Bayan, tetua
Bayan itu menjadi marah lalu bersama burung-burung Bayan lainnya segera
mengusir secara kasar burung Delamukan, sehingga Delamukan jatuh ke bawah.
Para burung Bayan mengira bahwa Delamukan itu telah pergi. Namun Delamukan
ternyata masih berada di bawah pohon dan menangis tersedu-sedu. Delamukan lalu
mengadukan nasibnya kepada Yang Maha Mengerti, meminta keadilan atas
makhluk yang berlaku aniaya dan dzalim terhadap sesama, bukankah semua alam
ini milik Tuhan mengapa terhadap sesama makhluk tidak mau saling menolong?

Disadur dari
Serat Bayan Budiman
Karya Kiai Mursyidi, Umbul Gading Klaten
diterjemahkan bebas oleh :
Tahun 1929 M Cok Tosapati ‘08
Aprianingsih hal. 3
Kelas : III B
MTs. Abadiyah Cerita Pendek (cerpen)

Begitulah Delamukan mengeluhkan nasibnya. Ia tidak bersalah, tetapi kenapa


burung-burung Bayan tega memukulinya?
Tangis kesedihan burung Delamukan itu ternyata didengar Sang Maha
Pencipta, Maha Mendengar dan Maha Welas Asih. Tidak lama kemudian seekor
kelelawar pun terbang melayang-layang melintas di atas pohon wudi. Si kelelawar
sedang membawa buah pohon beringin, seperti biasa ia lakukan setiap malam.
Tiba-tiba buah pohon beringin itu lalu dijatuhkan ke bawah di bawah pohon wudi.
Beberapa lama kemudian, buah beringin itu pun tumbuh menjalar melingkari si
pohon wudi hingga mencapai puncak pohon. Sedang akar-akar pohon beringin itu
menjulur ke bawah hingga menyentuh ke tanah.
Suatu saat muncullah tukang pikat burung, namanya Ki Mesakat. Sudah
cukup lama Ki Mesakat ini mencari pohon yang menjadi tempat tinggal para
burung. Dan, ketemulah pohon wudi yang telah ditinggali burung Bayan
serombongan tersebut. Ki Mesakat itupun gembira lalu segera memanjat pohon
wudi, ketika semua burung Bayan pergi sedang mencari makan. Sekitar jam
setengah empat sore, semua cabang pohon wudi itu sudah dilumuri perekat dan Ki
Mesakatpun turun dari pohon menunggu hasil kerjanya memikat burung.
Sambil menunggu kembalinya burung Bayan, Ki Mesakat itupun pergi
mencari dan mengumpulkan rumput ialalang. Setelah itu ia akan kembali ke pohon
wudi, nanti ketika hari sudah menjelang malam. Satu jam kemudian, rombongan
burung Bayan meulai berdatangan dari kepergiannya seharian mencai makan.
Tanpa curiga burung-burung Bayan itupun hinggap di pohon wudi yang sudah
dilumuri perekat. Bayan-bayan itu pun terperangkap oleh perekat yang dilumurkan
Ki Mesakat. Kaki burung Bayan terikat erat di cabang-cabang pohon wudi oleh
perekat tersebuit tanpa bisa bergerak. Tanpa kecuali, tak seekor burung Bayan yang
bebas dari perekat Ki Mesakat tersebut.
Ramailah burung Bayan berteriak-teriak mengaduh dan terkejut serta
mrengek meminta pertolongan kepada para burung yang melintas di sekitar pohon
wudi. Burung Bayan itu tak bisa bergerak sedikitpun dan tak ada pula yang
menolongnya. Sang Ratu lalu berkata: “inilah keadilan Tuhan, kita telah tertimpa
mara bahaya. Hati-hatilah dan sayapmu supaya di rapatkan ke tubuh agar tidak
terkena perekat, mari kita bersabar dan terimalah hukuman Tuhan ini, karena
hukuman ini adalah akibat ulah kita sendiri. Kita selama ini telah salah, karena
terlalu percaya kepada kebesaran pohon wudi, tetapi kita lupa pada kekuasaan
Tuhan. Marilah kita sekarang sama-sama bertaubat membaca istighfar meminta
ampunan pada Allah SWT.”
Sang Ratu juga memerintahkan anak buahnya agar nanti ketika Ki Mesakat
itu datang, supaya Bayan berpura-pura mati. Nanti pasti akan dibuang semua
burung-burung yang sudah mati karena tidak ada gunanya. Siapa saja yang nanti
dibuang duluan, hendaknya jangan segera bangkit sebelum semuanya selesai di
buang dan jatuh ke tanah. Semuanya harap berhati-hati! Begitu pesan-pesan
penting Sang Ratu kepada seluruh rakyatnya para burung Bayan.

Disadur dari
Serat Bayan Budiman
Karya Kiai Mursyidi, Umbul Gading Klaten
diterjemahkan bebas oleh :
Tahun 1929 M Cok Tosapati ‘08
Aprianingsih hal. 4
Kelas : III B
MTs. Abadiyah Cerita Pendek (cerpen)

Tidak lama kemudian Ki Mesakat datang dan memeriksa hasil buruannya di


pohon wudi yang telah ia lumuri dengan prekat. Ketika melihat ke atas dan melihat
semua burung Bayan terjerat pikatnya, Ki pemikat itu lalu memanjat pohon dengan
suka cita dan membayangkan keuntungan yang akan segera diperoleh. Namun, Ki
Mesakat itu menjadi sangat terkejut ketika mendapati burung-burung itu telah mati
semua. Ki Mesakat mengambil seekor lalu diperiksa dan ternyata nampak sudah
mati lalu si burung itu segera dilemparkan ke bawah. Ki Mesakat mengira burung
Bayan itu tidak bisa lagi terbang, sehingga semunya dibuang dan dilempar ke
bawah.
Burung Byan yang dibuang pertama kali, ternyata salah dalam menghitung
berapa jumlah burung yang telah dibuang pemikat. Ketika tinggal seekor Bayan
sang ratu itu sendiri yang terjerat di puncak pohon, Ki Pemikat yang mulai lelah pun
gagal meraih Sang Ratu, dan sabitnya jatuh ke bawah. Bayan yang sudah berada di
bawah, mengira sabit itu adalah Burung Bayan yang ke seratus, lalu segeralah
burung-burung itu berterbangan semua. Para burung itu merasa dirinya telah bebas
dari balasan hukuman atas kesalahan yang mereka lakukan.
Melihat kejadian itu, Ki Mesakat meyadari dan menyesal karena Burung
Bayan itu ternyata hanya berpura-pura mati. Betapa kecewa dan menyesal Ki
Mesakat ketika telah ditipu mentah-mentah oleh para burung. Ki pemikat itu lalu
ingat, di puncak pohon wudi, ia melihat masih ada seekor burung tentu itu ratu para
Bayan, pikirnya. Mati atau hidup, ki pemikat itu bertekad membawa pulang burung
Bayan satu-satunya. Ia lalu memanjat lagi pohon itu hingga sampai ke puncak Sang
Ratu Bayan pun ditangkapnya, dan Ki Mesakat segera turun dan membersihkan kaki
Sang Bayan yang kena getah perekatnya.
Makna kisah ini ialah bahwa siapa yang mengusir sesamanya pasti akan
diusir oleh Allah sendiri. Seandainya burung Bayan itu tidak segera bertaubat, maka
mereka pasti akan menemui ajalnya. Seperti halnya manusia yang lupa dari Allah
karena sangat percaya pada kemampuan, kekuasaan dan kekayaannya, ia akan
menemui celaka di belakang hari. Karena itu semua manusia hendaknya jangan
menggantungkan diri pada sesama manusia kecuali hanya menggantungkan diri
kepada Allah SWT Yang Maha Tahu.

Disadur dari
Serat Bayan Budiman
Karya Kiai Mursyidi, Umbul Gading Klaten
diterjemahkan bebas oleh :
Tahun 1929 M Cok Tosapati ‘08