Anda di halaman 1dari 3

SEDIAAN SEMISOLID KRIM Aplikasi nanoteknologi sangat luas sekali termasuk aplikasi dalam bidang kesehatan dan farmasi

yang mencakup penghantaran obat, implant medis, serta dalam bidang kosmetik (Soebandrio, 2007). Di kosmetik contoh aplikasi nanoteknologi adalah penggunaan tabir surya berbasis nanopartikel TiO2 dan ZnO (Merkle, 2007). TiO2 dan ZnO merupakan perlindungan kulit secara fisik yang bekerja dengan cara memantulkan kembali sinar yang mengenai kulit (Tranggono & Latifah, 2007).Produk nanopartikel untuk kosmetik dan produk anti penuaan memiliki daya absorpsi yang cepat, penetrasi dan distribusi lebih baik, dan memiliki tampilan sediaan yang lebih baik (Merkle, 2007). Menurut Sherman, yang tercantum dalam buku Harrys Cosmeticology enam faktor yang mempengaruhi sifat reologi dan konsistensi dari suatu emulsi, diantaranya adalah viskositas dari fase terdispersi (fase dalam), viskositas dari fase kontinu (fase luar), volume konsentrasi dari fase terdispersi, sifat dari pengemulsi (emulgator) dan antramuka, pengaruh elektroviskos, dan distribusi ukuran partikel dari globul globul.

Uji Permeasi Dalam sediaan krim, zat aktif harus mampu melewati kulit terutama lapisan tanduk (Stratum corneum) yang merupakan lapisan penghalang utama. Sehingga untuk membantu zat aktif melewati stratum corneum maka ditambahkan senyawa atau zat peningkat penetrasi (Harry, 1973). Enhancer adalah senyawa yang digunakan untuk meningkatkan permeabilitas stratum korneum dengan cara berinteraksi dengan komponen stratum korneum yaitu protein atau lipid agar dapat digunakan untuk tujuan pengobatan sistemik melalui kulit (Williams and Barry, 2004). Adapun syarat-syarat zat peningkat penetrasi antara lain yaitu tidak mempunyai efek farmakologi, tidak meyebabkan iritasi alergi atau toksik, dapat bercampur secara fisika dan kimia dengan banyak zat, dan dapat dibuat dalam berbagai sediaan (Agoes, 1993). Metode in vitro terdiri dari uji permeasi yang menggunakan uji difusi, dilakukan dengan menggunakan Franz-like diffusion cell. Keuntungan menggunakan sel difusi adalah kondisi penelitian dapat terkontrol sehingga didapat data yang lebih presisi. Selain itu, metode in vitro dapat memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan dalam percobaan (Hadyanti, 2008). Penelitian mengenai difusi pada membran kulit berfungsi untuk mengetahui bagaimana fluks obat melintasi kulit apakah obat terikat pada stratum korneum atau membentuk depot dalam lemak subkutan. Data ini penting untuk mengetahui kemampuan sediaan yang diberikan secara topikal sepertil gel natrium diklofenak untuk menembus barrier kulit. Untuk menguji difusi pada membran kulit dapat digunakan suatu membran buatan yang menyerupai sifat kulit seperti selulosa asetat, karet silikon, isopropil miristat atau membran cangkang telur. Dalam suatu penelitian digunakan membran yang dibacam dengan cairan Spangler. Dalam penelitian ini digunakan membran yang dibacam dengan cairan Spangler yang terdiri dari minyak kelapa 15%, asam oleat 15%, vaselin putih 15%, kolesterol 5%, asam stearat 5%, skualen 5%, parafin cair 10%, asam palmitat 10% dan

minyak zaitun 20%. Komponen dalam cairan Spangler ini menyerupai kondisi kulit manusia. Meskipun memiliki sifat menyerupai kulit tetapi bahan-bahan tersebut tidak memiliki sifat sekompleks kulit sebenarnya. Agar dapat diabsorpsi melalui kulit, mula-mula obat harus terdisolusi dalam pembawa lalu berdifusi dari pembawa ke permukaan kulit. Untuk melewati kulit, obat dapat melalui rute transepidermal atau transfolikular (Astuti K.W, dkk, 2012). Pada rute transepidermal obat akan mengalami partisi ke stratum korneum kemudian berdifusi melalui matriks lipid-protein pada stratum korneum. Pada rute transfolikular obat akan mengalami partisi ke sebum lalu berdifusi melalui lipid dalam pori sebaseus. Setelah melalui salah satu rute tersebut maka obat akan berpartisi ke epidermis aktif lalu berdifusi melalui massa selular pada epidermis. Setelah itu akan berdifusi melalui massa berserabut dari dermis bagian atas dan terjadi penetrasi terhadap pembuluh kapiler dan mengalami pengenceran sistemik (Astuti K.W, dkk, 2012). Kinetika transdermal mengikuti hukum Ficks tentang difusi yakni Js = (Km . D . Cs) / E, dengan Js adalah fluks kesetimbangan dari zat terlarut, Km adalah koefisien distribusi obat antara pembawa dengan stratum korneum, Cs adalah perbedaan konsentrasi zat terlarut yang melintasi membran, E adalah ketebalan stratum korneum dan D adalah koefisien difusi ratarata membran untuk zat terlarut di dalam stratum korneum (Astuti K.W, dkk, 2012). Dengan demikian jumlah obat yang diabsorpsi per unit area dalam satuan waktu bergantung pada kelarutan obat dan karakteristik distribusi, perbedaan konsentrasi obat yang melintasi membran, sifat pembawa yang digunakan dan ketebalan stratum korneum. Suatu zat harus terlarut terlebih dahulu dalam medium pembawanya untuk dapat berdifusi dengan baik. Dengan jumlah zat aktif terlarut lebih banyak maka zat yang dapat berdifusipun semakin banyak (Astuti K.W, dkk, 2012).

Daftar Pustaka

Agoes G, Darijanto S.T. 1993. Teknologi Farmasi Likuida Dan Semi Solida. Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati ITB.Bandung. Astuti K. W, dkk. 2012. Difusi Natrium Diklofenak dalam Gel Methocel 400 pada Berbagai pH. JURNAL KIMIA 6 (1), JANUARI 2012 : 17-22. Hadyanti, 2008, Pengaruh Tretionin Terhadap Penetrasi Kafein dan Aminofilin sebagai Antiselulit dalam Sediaan Krim, Gel, dan Salep secara In Vitro, Depok: Universitas Indonesia. Harry, R.G. 1973. Harrys Cosmeticology. The Principles and Practise of Modern Cosmetics. 6th ed. Vol. 1. Chemical Publising CO.,Inc., New York; pp. 1-6,306-320. Merkle, H.P. 2007. Nanotechnology State of The Art In Healthcare and Pharmaceuticals. [diambil dari Simposium Nanoteknologi 23 Juni 2007]. Soebandrio, A. 2007. Nanotechnology State of The Art In Healthcare and Pharmaceuticals. [diambil dari Simposium Nanoteknologi 23 Juni 2007]. Tranggono, R.I & F, Latifah. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hal.76, 78-83, 111-114. Williams, A.C. and Barry, B.W, 2004. Penetrat-ion Enhancers, Advanced Drug Delivery Reviews, 56 (2004), 603 618.