Anda di halaman 1dari 45

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Tidak ada orang yang mengharapkan suatu bencana. Namun, suka tidak suka
musibah tetap datang, baik yang bersifat lokal, regional, maupun internasional.
Tidak hanya dalam hitungan tahun, bahkan juga hitungan jam. Bencana angin
kencang yang mengakibatkan robohnya rumah, tanaman, pepohonan, gardu
listrik, dan sebagainya. Bencana banjir yang menenggelamkan banyak
infrastruktur, banyak menimbulkan kerusakan dan kerugian. Bencana itu tidak
hanya menghancurkan harta benda, namun juga nyawa manusia, meninggal secara
langsung maupun tidak langsung karena terkena penyakit akibat dari sebuah
bencana. Bencana terjadi sebagian besar karena faktor manusia, sebagimana
dijelaskan dalam Al-Quran, surat Ar Ruum, ayat 41
L :!.l _ l `>,l !., ,. _., _!.l 1,.`,l _-, _ l.- l-l
`->, _
Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke
jalan yang benar).

2


Bencana merupakan peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan
dan penghidupan masyarakat masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang
meluas pada kehidupan manusia, baik dari sisi ekonomi, tatanan masyarakat
maupun lingkungan. Bencana merupakan peristiwa yang telah lama ada, bahkan
telah ada seiring pembentukan bumi itu sendiri. Namun peristiwa itu tidak banyak
menimbulkan masalah selama terjadi pada tempat yang tidak dihuni oleh manusia.
Bencana alam diraskan menjadi sumber malapetaka disaat menimpa tempat yang
banyak penduduknya. Bencana banyak menimbulkan berbagai penderitaan dan
kerugian, karena itulah muncul pengelolaan penanggulangan bencana atau yang
lebih dikenal dengan mitigasi bencana.
Menurut UU No. 24 Tahun 2007 mitigasi adalah serangkaian upaya untuk
mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan
peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Mitigasi merupakan
kewajiban berbagai pihak baik itu para ahli, pemerintah, maupun masyarakat
secara luas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia banjir adalah peristiwa terbenamnya
daratan (yang biasanya kering) karena volume air yang meningkat. Banjir dapat
terjadi karena peluapan air yang berlebihan di suatu tempat akibat hujan deras,
peluapan air sungai, atau pecahnya bendungan sungai.
Banjir merupakan permasalahan umum di berbagai wilayah Indonesia
terutama di daerah padat penduduk misalnya dikawasan perkotaan oleh karena itu
kerugian yang ditimbulkan besar baik segi materi maupun kerugian jiwa, maka
sudah selayaknya permasalahan banjir perlu mendapatkan perhatian yang serius
3


dan merupakan permsalahan kita semua. Dengan anggapan bahwa, permasalah
banjir merupakan permasalahan umum sudah semestinya dari berbagai pihak
perlu memperhatikan hal-hal yang dapat mengakibatkan banjir dan sedini
mungkin diantisipasi, untuk memperkecil kerugian yang ditimbulkan.
Kerugian akibat banjir pada umumnya relatif dan sulit didefinisikan secara
jelas, dimana terdiri dari kerugian akibat banjir langsung dan tak langsung.
Kerugian akibat banjir langsung, merupakan kerugian fisik akibat banjir yang
terjadi, berupa robohnya bangunan tempat tinggal, sekolah, industri, rusaknya
prasarana trasportasi, dan hilangnya harta benda. Sedangkan kerugian akibat
banjir tidak langsung berupa kerugian kesulitan yang timbul secara tidak langsung
diakibatkan oleh banjir, seperti komunikasi, pendidikan, kesehatan, kegiatan
bisnis terganggu, dan sebagainya
Kabupaten Tolitoli adalah salah satu Kabupaten yang barada di Provinsi
Sulawesi Tengah, yang terdiri dari 10 kecamatan. Kecamatan Baolan merupakn
salah satu dari kecamatan yang ada di Kabupaten Tolitoli, yang digunakan sebagai
sebagai pusat pemerintahan, selain itu Kecamatan Baolan juga merupakan
kecamatan yang memiliki penduduk terbanyak dan terpadat dari seluruh
kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Tolitoli.
Berdasarkan observasi pada dua kelurahan yang ada di kecamatan Baolan
yaitu Kelurahan Baru dan Kelurahan Tuweley. Diketahui bahwa dalam kurun
waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir ini, bencana banjir sering terjadi di kelurahan
ini yang hampir terjadi setiap tahunnya. Tingginya curah hujan yang terjadi antara
1500mm-3600mm pertahun dan bertepatan dengan terjadinya pasang air laut
4


merupakan faktor utama terjadinya banjir. Penimbunan kantung-kantung air (rawa
tadah hujan) untuk digunakan sebagai area permukiman, dan juga pendangkalan
sungai yang diakibatkan oleh proses sedimentasi merupakan faktor pendukung
dari terjadinya bencana banjir.
Sungai Tuweley/Ogomalane dan Anak Sungai Lembe, merupakan dua aliran
air yang sering menyebabkan banjir. Wilayah yang sering terendam oleh Anak
Sungai Lembe yaitu kelurahan Baru. Sedangkan Sungai Tuweley/Ogomalane
merendami Kelurahan Tuweley, Kelurahan Panasakan, dan Kelurahan Baru.
Pada kesempatan ini peneliti tertarik melakukan penelitian pada Kelurahan
Baru dan Kelurahan Tuweley yang dilintasi oleh aliran sungai
Tuweley/Ogomalane. Ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian di 2 (dua)
wilayah kelurahan ini dikarenakan kedua kelurahan ini memiliki jumlah penduduk
yang besar yaitu Kelurahan Baru mencapai 20.976 jiwa dan jumlah rumah tangga
yaitu 4.713 kk, sedangkan untuk Kelurahan Tuweley jumlah penduduk mencapai
10.236 jiwa dengan jumlah rumah tangga 2.334 kk. Selain itu, pada saat sungai
Tuweley/Ogomalane mengalami banjir, kedua kelurahan ini merupakan kelurahan
yang paling parah terkena dapak dari luapan banjir tersebut. Terutama pada RT I,
RW II dan RT II, RW II lingkungan 1 pada kelurahan baru, serta RT II, RW I
lingkungan 1, RT I, RW II Lingkungan 2, RT III, RW II Lingkungan 3, dan RT I,
RW I lingkungan 4 pada Kelurahan Tuweley.
Berdasarkan pemaparan di atas untuk menilai tingkat mitigasi dalam
menghadapi bencana banjir perlu dikaji lebih jauh tentang bagaimana
5


pengetahuan mitigasi bencana banjir luapan sungai Tuweley/Ogomalane di
Kelurahan Baru dan Kelurahan Tuweley, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli.
1.2 Rumusan Masalah
Bencana banjir yang terjadi tidak bisa dihindarkan, namun dampaknya dan
kerugiannya bisa diminimalisir. Mendorong peran serta masyarakat dalam
penanggulangan bencana menjadi prioritas utama. Kesiapan dalam
penanggulangan bencana merupakan hal yang utama, kesiapsiagaan bukan saja
harus disiapkan oleh pemerintah sebagai penanggung jawab penanggulangan
bencana, tetapi juga masyarakat harus ditingkatkan kapasitas kesiapsiagaannya
atau antisipasinya terutama masyarakat yang tinggal dilokasi rawan dan rentan
bencana.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka diperoleh rumusan
masalah yaitu bagaimana kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir
sebelum, saat, dan setelah terjadinya bencana banjir, guna meningkatkan
keselamatan, mengurangi atau mencegah hilangnya harta benda dan serta
mengurangi kerusakan fisik akibat bencana banjir di Kelurahan Baru dan
Kelurahan Tuweley Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli
1.3 Tujuan dan Sasaran Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat pengetahuan penduduk
terkait prosedur dan metode mitigasi bencana banjir, guna untuk meningkatkan
keselamatan, mengurangi atau mencegah hilangnya harta benda dan serta
mengurangi kerusakan fisik akibat bencana banjir di Kelurahan Baru dan
Kelurahan Tuweley Kecamatan Baolan kabupaten Tolitoli.
6


Sasaran penelitian yaitu kawasan dan masyarakat yang berada di daerah
rawan bencana di wilayah Kelurahan Baru dan Kelurahan Tuwely Kecamatan
Baolan Kabupaten Tolitoli. meliputi 2 RT, 1 RW di Kelurahan Baru dan 4 RT, 4
RW di Kelurahan Tuweley.
1.4 Kegunaan Penelitian atau Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Keilmuan
Memberikan sumbangsih pengetahuan pendidikan mitigasi bencana banjir
pada tingakat SMA mata pelajaran Geografi materi hidrosfer dan pengaruhnya
terhadap kehidupan, dan pada tingkat Perguruan Tinggi khususnya Pendidikan
Geografi UNTAD pada mata kuliah Geografi Bencana. Serta menambah
pengetahuan pendidikan mitigasi bencana banjir pada masyarakat tempat
dilaksanakannya penelitian.
1.4.2 Manfaat Praktis
1) Bagi peneliti, dapat menambah pengetahuan dan pemahaman mengenai
mitigasi bencana banjir.
2) Bagi pemerintah, terutama instansi yang terkait, dapat menjadi bahan
referensi untuk membantu menentukan kebijakan, meningkatkan pengetahuan,
dan kewaspadaan bencana banjir.
1.5 Batasan Istilah
1) Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik
oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga
7


mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis. (Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2007 );
2) Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa
bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah
longsor. (Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 );
3) Banjir merupakan suatu keluaran (output) dari hujan (input) yang mengalami
proses dalam sistem lahan yang berupa luapan air yang berlebih (Raharjo,
P.D. 2009, dalam Arifin, Yayu Indriati & Muh. Kasim. 2012);
4) Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana,
baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana (Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2007). Dalam penelitian ini yang dimaksut dengan mitigasi bencana
adalah tindakan yang dilakukan oleh masyarakat sebelum, saat, dan setelah
terjadi bencana banjir;
5) Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat
oleh suatu kebudayaan yang meraka anggap sama (Kamus Besar Bahasa
Indonesia). Dalam penelitian ini yang dimaksut masyarakat adalah masyarakat
Kelurahan Baru dan Kelurahan Tuweley;
6) Pengetahuan adalah sebagai fakta atau kondisi dari mengetahui sesuatu
dengan derajat pemahaman tertentu melalui pengalaman, asosiasi, atau
hubungan (Mohanty, et. al, 2006 ; dalam Asih Dwi Hayu Pangesti, 2012 :
8


29). Dalam penelitian ini yang dimaksut dengan pengetahuan adalah
pengetahuan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir;
7) Kesiapsiagaan adalah Kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang
tepat guna dan berdaya guna. (Peraturan Kepala Badan Nasional
Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pedoman
Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana). Dalam penelitian ini yang
dimaksut dengan kesiapsiagaan adalah serangkaian yang dilakukan untuk
mengatasi bencana banjir.



9


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Tresa Juranzy, 2011. Karakteristik Sosial Budaya Masyarakat dalam
Kaitannya dengan Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana di Daerah Rawan
Bencana (Studi Kasus: Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota
Bogor). Skripsi, bogor ; Institut Pertanian Bogor.

Beberapa tahun terakhir di Indonesia sering terjadi bencana dan
meninggalkan dampak bagi orang-orang yang mengalaminya. Bencana yang
sering melanda Indonesia adalah banjir, gempa, tsunami, tanah longsor dan
gunung meletus. Dampak yang diakibatkan dapat berupa dampak fisik maupun
non fisik. Oleh karena itu perlu diadakan kegiatan penanggulangan bencana yang
berfungsi untuk mengurangi dampak yang diakibatkan oleh bencana. Kegiatan
penanggulangan bencana terdiri atas kesiapsiagaan, mitigasi, peringatan dini,
tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi. Akan tetapi, untuk dapat
mengurangi risiko terjadinya bencana, maka perlu dilakukan peningkatan
kesiapsiagaan dan mitigasi. Setiap masyarakat memiliki karakteristik sosial
budaya tertentu yang berhubungan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi terhadap
bencana. Karakteristik sosial budaya ini berbeda antara suatu masyarakat dengan
masyarakat lainnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji karakteristik sosial budaya
masyarakat, kesiapsiagaan dan mitigasi, serta hubungan keduanya berkaitan
dengan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana di Kelurahan
Katulampa. Kelurahan Katulampa merupakan daerah yang dialiri sungai besar,
10


yaitu Ciliwung. Daerah ini sangat rentan untuk mengalami banjir dan sudah
pernah mengalami banjir dalam satu tahun terakhir. Penelitian ini menggunakan
data kuantitatif yang didapatkan melalui survei dan data kualitatif yang
didapatkan melalui wawancara mendalam dengan menggunakan panduan
pertanyaan. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
primer didapatkan dari hasil kuesioner dan wawancara mendalam, sedangkan data
sekunder didapatkan dari buku, jurnal, hasil penelitian, monografi kelurahan dan
Ciliwung.
Karakteristik sosial budaya yang dikaji dalam penelitian ini adalah stratifikasi
sosial, kelembagaan, kohesi sosial, kearifan lokal dan pengetahuan dan sikap yang
berkembang di dalam masyarakat. Upaya pencegahan bencana yang dapat
dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya bencana adalah dengan
kesiapsiagaan dan mitigasi. Kesiapsiagaan dan mitigasi ini diduga berhubungan
dengan karakteristik sosial budaya masyarakat, sehingga dapat dilihat sejauh
mana kesiapan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Katulampa memiliki
karakteristik sosial yang terdiri atas kelembagaan, stratifikasi sosial, kohesi sosial,
kearifan lokal dan pengetahuan dan sikap. Akan tetapi karakteristik sosial budaya
ini tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi,
sehingga masyarakat masih belum memiliki kesiapan yang matang dalam
menghadapi kemungkinan terjadinya banjir.

11


2.1.2 Imam Bashori, 2013. Peran Guru Terhadap Kesiapsiagaan Sekolah dalam
Menghadapi Bencana Banjir di Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres Kota
Surakarta. Skripsi, Surakarta; Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kemampuan guru dalam
mengkaji potensi bencana dan kesiapan sekolah dalam menghadapi bencana.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang didukung data kualitatif
dengan menggunakan guru yang mengajar di daerah rawan bencana sebagai
populasi. Penggalian data dilakukan dengan observasi, kuesioner dan wawancara.
Teknik analisis data menggunakan metode deskriptif kuantitatif, yang sebelumnya
dilakukan uji prasyarat analisis yang menggunakan metode Kolmogorov Smirnov
untuk uji normalitas dan metode Levene Test untuk uji homogenitas. Hasil
penelitian ini menyimpulkan bahwa 1) Secara umum kemampuan guru dalam
menghadapi bencana yang diukur melalui pengetahuan dan tindakan guru
terhadap bencana sudah cukup baik hal ini ditunjukkan dengan rata-rata nilai
tentang pengetahuan dasar kebencanaan sebesar 7,5, kemampuan mengkaji
potensi bencana sebesar 7,2 dan sikap dalam menghadapi bencana sebesar 7,1, 2)
Kesiapsiagaan sekolah ditinjau dari indikator kebijakan, rencana kesiapsiagaan
sekolah dan mobilitas sumberdaya maka didapatkan, Kebijakan sekolah tentang
kebencanaan belum diterapkan secara utuh, rencana kesiapsiagaan yang disusun
hanya sebatas pengalaman bencana masa lalu tanpa dilakukan identifikasi ulang
kemungkinan bencana yang akan terjadi dimasa yang akan datang sehingga
penanggulangan bencana hanya bersifat reaksional dan spontanitas, Mobilitas
sumberdaya yang telah dilakukan oleh sekolah baru berkaitan kerjasama
12


penanggulangan bencana dengan pihak luar sekolah sedangkan untuk mobilitas
sumberdaya dalam internal sekolah masih belum terlaksanakan.
Tabel 1. Persamaan dan perbedaa penelitian terdahulu
Komponen Tresa Juranzy Imam Bashori Sudirman
Judul
Skripsi/Makalah/
Tesis









Karakteristik
Sosial Budaya
Masyarakat
Dalam Kaitannya
dengan
Kesiapsiagaan
dan Mitigasi
Bencana di
Daerah Rawan
Bencana (Studi
Kasus: Kelurahan
Katulampa,
Kecamatan Bogor
Timur, Kota
Bogor) 2011
Peran guru
tarhadap
kesiapsiagaan
dalam
menghadapi
bencana banjir di
kelurahan Sewu
kecamatan Jebres
kota Surakarta
tahun 2013.



Pengetahuan
mitigasi bencana
banjir lauapan
sungai
Tuweley/Ogomalane
di kelurahan Baru
dan kelurahan
Tuweley,
kecamatan Baolan,
kabupaten Tolitoli
Populasi (N)



43 566
Sampel (n) 30 43 171
Teknik
Pengambilan
Sampel
convenience
sampling

-
Simple Random
Sampling
Metode
Pengumpulan
Data
Wawancara dan
kuisioner
Studi
Kepustakaan,
Observasi,
Kuisioner dan
wawancara
Observasi,
Wawancara,
Kuisioner dan
Dokumentasi
Hasil
Penelitian
karakteristik sosial
budaya
masyarakat di
Kelurahan
Katulampa,
khususnya yang
berkaitan dengan
Mengetahui
kemampuan guru
dalam
menghadapi
bencana yang
terdapat
pada lingkungan
mengetahui
pengetahuan
masyarakat terhadap
mitigasi bencana
sebelum, saat, dan
setelah bencana
13


masalah bencana
dan lingkungan
hidup.
hubungan
karakteristik sosial
budaya
masyarakat
Kelurahan
Katulampa dengan
upaya
kesiapsiagaan dan
mitigasi bencana.
kesiapan
masyarakat
Kelurahan
Katulampa dalam
menghadapi
bencana.

sekolah. Dan
mengetahui
kesiapsiagaan
sekolah dalam
menghadapi
bencana.
banjir, guna untuk
meningkatkan
keselamata,
mengurangi atau
mencegah
hilangnnya harta
bendan dan serta
mengurangi
kerusakan fisik
akibat bencana
banjir

2.2 Lanadasan Teori
2.2.1 Pengertian Bencana
Definisi bencana dalam buku Disaster Management A Disaster Managers
Handbook (Carter, 1991, dalam Kodoatie, Robert J. & Roestam Sjarief, 2010:53)
adalah suatu kejadian, alam atau buatan manusia, tiba-tiba atau progresive, yang
menimbulkan dampak yang dahsyat (hebat) sehingga komunitas (masyarakat)
yang terkena atau terpengaruh harus merespon dengan tindakan-tindakan luar
biasa. Pengetian ini lebih diperjelas lagi dalam Undang-Undang No. 24 tahun
2007 tentang Penanggulangan Bencana, bencana adalah peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam
14


maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
2.2.2 Penyebab Bencana
Kodoatie, Robert J. & Roestam Sjarief (2010:68) membagi penyebab
bencana menjadi dua, yaitu alam dan manusia. Secara alami bencana akan selalu
terjadi di permukaan bumi, misalnya tsunami, gempa bumi, gunung meletus,
kekeringan, banjir, longsor dan lain sebagainya. Sedangkan bencana yang
diakibatkan oleh aktivitas manusia adalah segala aktifitas manusia yang merusak
atau menggangu keseimbangan alam sehingga alam mencari keseimbanganya
dangan wujud berupa perubahan yang sangat cepat atau kontras sehingga
menimbulkan ancaman kepada manusia.
Bencana dapat disebabkan menjadi tiga yaitu faktor alam, non alam dan
manusia sehingga diperlukan penanganan yang berbeda dari setiap bencana
tersebut. Penanganan bencana yang tepat dapat mengurangi kerugian atau korban
yang ditimbulkan, sehingga diperlukannya pendidikan kebencanaan diajarkan
sejak dini kepada siswa dengan tujuan suatu saat jika terjadi bencana masyarakat
dapat memberi respon yang cepat dan tepat.
Di Indonesia, banyak daerah yang rentan atau memiliki ancaman bencana
yang cukup besar. Ancaman bencana merupakan kemungkinan suatu kejadian
dapat menimbulkan bencana. Ancaman bencana ini menimbulkan kerawanan di
daerah-daerah yang ancaman bencananya besar. Rawan bencana merupakan suatu
keadaan geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya,
politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu
15


yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan
mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk dari bahaya tertentu
(UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana).
2.2.3 Bencana Banjir
Krishna S. Pribadi dalam Bashori, Imam (2013:15) mendefinisikan Banjir
adalah suatu kejadian saat air menggenangi daerah yang biasanya tidak digenangi
air dalam selang waktu tertentu. Banjir umumnya terjadi pada saat aliran air
melebihi volume air yang dapat ditampung dalam sungai, danau, rawa, drainase
maupun saluran air lainnya pada selang waktu tertentu. Masyarakat yang tinggal
disekitar sungai atau daerah pantai yang landai merupakan masyarakat yang
paling berisiko terhadap ancaman banjir. Semakin dekat tempat tinggal kita
dengan sumber banjir, semakin besar risiko kita terkena banjir.
Banyak faktor menjadi penyebab terjadinya banjir. Namun secara umum
Kodoatie, Robert J. & Sugiyanto (2002:78-79) membagi penyebab terjadinya
banjir dalam 2 kategori yaitu banjir yang disebabkan oleh sebab-sebab alami dan
banjir yang disebabkan oleh tindakan manusia. Yang termasuk sebab-sebab alami
diantaranya adalah:
1) Curah hujan
Indonesia mempunya iklim tropis sehingga sepanjang tahun mempunyai dua
musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pada musim penghujan, curah
hujan yang tinggi akan mengakibatkan banjir di sungai dan bilama melebihi
tebing sungai maka akan timbul banjir atau genangan.

16


2) Pengaruh fisiografis
Fisiografis atau geografi fisik sungai seperti bentuk, fungsi dan kemiringan
daerah aliran sungai (DAS), kemiringan sungai geometrik hidrolik (bentuk
penampang seperti lembah, kedalaman, potongan memanjang, material dasar
sungai), lokasi sungai dan lain-lain.
3) Erosi dan Sedimentasi
Erosi di DAS berpengaruh terhadap pengurangan kapasitas daya tampung
sungai. Erosi menjadi problem klasik sungai-sungai di Indonesia. Besarnya
sedimentasi akan mempengaruhi kapasitas saluran sehingga timbul genangan
dan banjir di sungai. Sedimentasi juga menjadi masalah besar pada sungai-
sungai besar di Indonesia.
4) Kapasitas sungai
Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai dapat disebabkan oleh
pengendapan berasal dari erosi DAS dan erosi tebing sungai yang berlebihan
dan sedimentasi di sungai itu karena tidak adanya vegetasi penutup dan adanya
penggunaan lahan yang tidak tepat.
5) Kapasitas drainasi yang tidak memadai
Hampir semua kota-kota di Indonesia mempunyai drainasi kawasan genangan
yang tidak memadai sehingga daerah kota-kota tersebut menjadi langganan
banjir di musim hujan.



17


6) Pengaruh air pasang
Air pasang laut memperlambat aliran sungai ke laut. Pada waktu banjir
bersamaan dengan air pasang yang tinggi maka tinggi genangan atau banjir
menjadi besar karena terjadi aliran balik (backwater).
Sebab-sebab banjir karena tindakan manusia adalah :
1) Pengaruh kondisi DAS
Perubahan DAS seperti penggundulan hutan, usaha pertanian yang kurang
tepat, perluasan kota, dan perubahan tataguna lainnya dapat memperburuk
masalah banjir karena meningkatnya aliran banjir. Dari persamaan-persamaan
yang ada, perubahan tataguna lahan memberikan kontribusi yang besar
terhadap naikya kulitas dan kuantitas banjir.
2) Kawasan kumuh
Perumahan kumuh yang terdapat disepanjang bantaran sungai, dapat
merupakan penghambat aliran. Masalah kawasan kumuh dikenal sebagai
faktor penting terhadap masalah banjir daerah perkotaan.
3) Sampah
Disiplin masyarakat untuk membuang sampah pada tempat yang ditentukan
tidak baik, umumnya mereka langsung membuang sampah ke sungai. Di kota-
kota besar hal ini sangat mudah dijumpai. Pembungan sampah di alur sungai
dapat meningkatkan muka air banjir karena memperlambat aliran.



18


4) Drainasi lahan
Drainasi perkotaan dan pengembangn pertanian pada daerah bantuan banjir
akan mengurangi kemampuan bantaran dalam menampung debit air yang
tinggi.
5) Bendung dan bangunan air
Bendung adan bangunan lain seperti pilar jembatan dapat meningkatkan
elevasi muka air karena efek aliran balik (backwater)
6) Kerusakan bangunan pengendali banjir
Pemeliharaan yang kurang memadai dari bangunan pengandali banjirsehingga
menimbulkan kerusakan dan akhirnya tidak berfungsi dapat meningkatkan
kuantitas air
7) Perencanaan sistem pengendali banjir tidak tepat
Beberapa sistem pengendali banjir memang dapat mengurangi kerusakan
akibat banjir kecil sampai sedang, tetapi mungkin dapat menambah kerusakan
selama banjir-banjir besar. Sebagai contoh bangunan tanggul sungai yang
tinggi, lapisan pada tanggul pada waktu terjadi banjir yang melebihi banjir
rencana dapat menyebabkan kecepatan aliran yang sangat besar yang melalui
bobolnya tanggul sehingga menimbulkan banjir yang besar.
2.2.4 Pengelolaan bencana dan mitigasi bencana
Undang-Undang No.24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
menyatakan mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko
bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana.
19


Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tetang Penanggulangan Bencana
menyatakan bahwa peyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian
upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembanguan yang berisiko timbulanya
bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
Pengelolaan bencana didefinisikan sebagai suatu ilmu pengetahuan terapan
(aplikatif) yang mencari dengan observasi sistematis dan analisis bencana, untuk
meningkatkan tindakan-tindakan (measures) terkait dengan preventif
(pencegahan), mitigasi (pengurangan), persiapan, respon darurat dan pemulihan.
(Carter, 1991, dalam Kodoatie, Robert J. & Roestam Sjarief, 2010:61).
Tahap utama dan fungsi pengelolaan atau manajemen secara umum
termasuk dalam pengelolaan bencana, meliputi (Grigg, 1992, dalam Kodoatie,
Robert J. & Roestam Sjarief, 2010:61).
1) Perencanaan
Roses perencanaan umumnya meliputi langkah-langkah :
a) Identifikasi masalah bencana atau bisa juga identifikasi sasaran/tujuan
pengelolaan bencana yang ditargetkan. Hal ini terkait dengan visi misi
peneglolaan bencana baik nasional, provinsi, maupun kabupaten kota.
b) Pengumpulan data primer dan sekunder
c) Penentuan metode yang akan dipakai
d) Investigasi, analisis, dan kajian.
e) Penentuan solusi dengan berbagai alternatif.


20


2) Pengorganisasian (organisasi)
Organisasi yang diperlukan dalam pengelolaan bencana karena beberapa
faktor penting (Carter, 1992, dalam Robert J. Kodoatie & Roestam Sjarief,
2010:61).
a) Berbeda dengan organisasi lainnya, organisasi yang harus dapat secara
dinamis bertindak dalam semua situasi dan kondisi. Saat jauh sebelum
bencana, organisasi ini harus mampu melakukan perencanaan.
Sedangkanaan saat pra bencana dapat menyiapkan tindakan-tindakan
preventif, mitigasi dan persiapan. Saat bencana sampai pasca bencana
mampu berinteraksi secara cepat dan efetif mengatsi dampak bencana,
melakukan respon dan pemulihan.
b) Ancaman bencana sebagai pertimbangan dasar menentukan bentuk
organisasi
c) Kebijakan, visi dan misi, kerangka kerja legislatif dan finansial yang
dikaitkan dengan ancaman serta risiko bencana merupakan dasar
pembentukan organisasi secara nasional (menyeluruh) sampai ketingkat
lokal.
d) Kebutuhan oprasional, misalnya untuk bencana longsor maka pemahaman
tentang alat-alat penggalian dan pengerukan bagi staf tertentu yang sudah
dilatih.
e) Kemampuan sumber yang cukup : fasilitas, peralatan, suplai dan personil.
f) Definisi dari tugas dan fungsi dari organisasi.
g) Kerjasama sinergi dengan istansi/dians dan stakeholders yang telah ada.
21


h) Kebutuhan arah yang jelas target dan sasarannya, petunjuk dan sistem
pengelolaan yang bisa dipahami dalam persepsi yang sama oleh semua
pihak.
i) Komponen-komponen organisasi yang tersistem dan terstruktur.
j) Sifat kegiatan dan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan kompromi.
3) Kepemimpinan (directing)
Kepemimpinan khususnya dalam pengelolaan bencana mempunyai peran yang
vital karena akan mempengaruhi semua sapek dalam suatu tindakan. Faktor
lain yang membedakan dengan pengelolaan yang lain adalah bahwa
pengelolaan bencana sesuai dengan siklusnya mempunyai kondisi tahapan-
tahapan berbeda yaitu pada kondisi-kondisi normal menuju kondisi kritis dan
darurat. Penyesuaian karakter kepemimpinan yang cepat, efektif dan efisien
dan dianmis mutlak diperlukan menghadapi kondisi-kondisi yang berbeda
tersebut.
4) Pengkoordinasian (coordinating)
Situasi dan kondisi yang baik dan kondusif dapat menciptakan kerjasama yang
baik dan terpadu antar bagian. Namun, untuk menghadapi bencana, koordiansi
harus dapat terjaga terutama pada kondisi dan situasi kedaruratan saat dan
pasca bencana. Semua SDM perlu memahami dan mengerti tugas, pokok dan
fungsi dari keseluruhan dari siklus pengelolaan.
5) Pengendalian (controling)
Pengendalian ini juga berfungsi sebagai alat untuk mengetahui bagaimana
kegiatan atau bagian dari kegiatan itu bekerja. Penyimpangan atau kesalahan
22


dapat segera diketahui dan diperbaiki. Pengendalian ini juga berfungsi untuk
menekan kerugian sekecil mungkin dan juga harus menyesuaikan dengan
perubahan situasi dan kondisi normal ke kondisi kritis dan atau darurat.
Pengendalian harus dilakukan secara tepat artinya pengendalian terutama
dalam situasi darurat jangan sampai menjadi penghambat karena proses yang
berbelit-belit namun tidak pula menggampangkan atau terlalu
menyederhanakan (hampir) semua hal sehingga bisa mengakibatkan
timbulnya penyimpangan-penyimpang.
6) Pengawasan (supervising)
Pengawasan dilakukan untuk memastikan SDM bekerja dengan benar sesuai
dengan fungsi dan kewenangan. Pengawasan juga berfungsi untuk
memastikan suatu proses sudah berjalan dengan semestinya dan keluaran yang
dihasilkan sesuai dengan tujuan, target dan sasaran. Di samping itu
pengawasan juga berfungsi untuk mengetahui suatu atau kegiatan sudah
dilakukan dengan benar.
7) Penganggaran (budgenting)
Dalam kegiatan pembangunan, penganggaran menjadi suatu bagian terpenting
untuk suksesnya maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Demikian halnya
dengan pengelolaan bencana, penganggaran juga menjadi salah satu faktor
utama suksesnya suatu proses pembanguan baik dalam situasi normal maupun
darurat mulai dari, studi, perencanaan, konstruksi, operasi dan pemeliharaan
infrastruktur kebencanaan maupun peningkatan sistem infrastruktur yang ada.
Penentuan anggaran yang terencana dan tersistem sekaligus merupakan salah
23


satu alat pengelolaan. Karena dalam penganggaran unsur biaya yang
dikeluarkan dan unsur pendapatan harus menjadi suatu kesatuan kajian yang
utuh sehingga perencanaan penganggaran sekaligus merupakan bagian yang
penting bahkan yang utama dalam pengelolaan.
8) Finansial
Awal dari proses finansial adalah proses penganggaran. Ketika tugas, pokok
dan fungsi dari tiap-tiap kegaiatan institusi sudah teridentifikasi, langkah-
langkah selanjudnya adalah perancanaan program kerja, pehitungan biaya dan
manfaat , analisis risiko dan kesuksesan program (Grigg, 1988, dalam
Kodoatie, Robert J. & Roestam Sjarief, 2010:65).
Menurut UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
penyelenggaraan penanggulangan bencana terdiri atas 3 (tiga) tahap meliputi;
prabencana, saat tanggap darurat, dan pascabencana. Walaupun setiap bencana
mempunyai karakteristik yang berbeda-beda namun pada hakikatnya pola
pengelolaan secara subtansi hampir sama oleh karena itu, dari konsep manajemen
bencana maka dapat dibuat suatu siklus pengelolaan bencana yang terpadu.
Siklus ini secara umum menggambarkan proses-proses pengelolaan bencana pada
intinya merupakan tindakan-tindakan nyata dari jauh sebelum bencana akan
terjadi, pra-bencana, saat menjelang bencana, saat bencana dan pasca bencana.
Adapun diagram siklus pengelolaan bencana adalah sebagai berikut:



24










Gambar 1. Diagram siklus pengelolaan bencana
(Carter, 1991, dalam Kodoatie, Robert J. & Roestam Sjarief, 2010:68)
2.2.5 Prosedur dan Metode Mitigasi Bencana
Penanggulangan banjir dilakukan secara bertahap, dari pencegahan sebelum
banjir (prevention), penanganan saat banjir (response/intervention), dan pemulihan
setelah banjir (recovery). 3 Tahapan tersebut berada dalam suatu siklus kegiatan
penanggulangan banjir yang berkesinambungan,
Kegiatan penanggulangan banjir mengikuti suatu siklus (life cycle), yang
dimulai dari banjir, kemudian mengkajinya sebagai masukan untuk pencegahan
(prevention) sebelum bencana banjir terjadi kembali. Pencegahan dilakukan secara
menyeluruh, berupa kegiatan fisik seperti pembangunan pengendali banjir di wilayah
A. Jauh sebelum
bencana
B. Pra
bencana
C. Saat menjelang
bencana
D. Saat
bencana
E. pasca
bencana
Persiapan&
kesiagaan
Mitigasi
(pengurangan)
Pencegahan
(priventif)
Dampak bencana
Respon/tindakan darurat
dan pertolongan
Pemulihan/recovery
Penelitian/studi
Perencanaan
pengembangan
Action plan
25


sungai (in-stream) sampai wilayah dataran banjir (off-stream), dan kegiatan non-fisik
seperti pengelolaan tata guna lahan sampai sistem peringatan dini bencana banjir.
Tabel 2. Kegiatan dalam Siklus Penanggulangan Banjir
Siklus Kegiatan
Pencegahan
( Prevention)
Upaya - upaya Struktural
- Upaya di dalam badan Sungai ( In-Stream)
- Upaya di luar badan Sungai ( Off- Stream)
Upaya - upaya Non-Struktural
- Upaya Pencegahan Banjir Jangka Panjang
- Upaya Pengelolaan Keadaan Darurat Banjir
dalam
- Jangka Pendek
Penanganan
( Intervention/
Response)
Upaya Pengelolaan Keadaan Darurat Banjir dalam
Jangka Pendek
Reaksi Cepat dan Bantuan Penanganan Darurat
Banjir
Perlawanan terhadap Banjir
Pemulihan
( Recovery)
Bantuan Segera Kebutuhan Hidup Sehari-hari
dan Perbaikan Sarana dan Prasarana
- Pembersihan dan Rekonstruksi Pasca Banjir
- Rehabilitasi dan Pemulihan Kondisi Fisik dan
Non-Fisik
Penilaian Kerusakan/Kerugian dan Asuransi
Bencana Banjir
Kajian Penyebab Terjadinya Bencana Banjir

Setelah pencegahan dilaksanakan, dirancang pula tindakan penanganan
(response/intervention) pada saat bencana banjir terjadi. Tindakan penanganan
bencana banjir, antara lain pemberitahuan dan penyebaran informasi tentang
26


prakiraan banjir (flood forecasting information and dissemination), tanggap
darurat, bantuan peralatan perlengkapan logistik penanganan banjir (flood
emergency response and assistance), dan perlawanan terhadap banjir (flood
fighting).
Pemulihan setelah banjir dilakukan sesegera mungkin, untuk mempercepat
perbaikan agar kondisi umum berjalan normal. Tindakan pemulihan, dilaksanakan
mulai dari bantuan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, perbaikan sarana-
prasarana (aftermath assistance and relief), rehabilitasi dan adaptasi kondisi fisik
dan non-fisik (flood adaptation and rehabilitation), penilaian kerugian materi dan
non-materi, asuransi bencana banjir (flood damage assessment and insurance),
dan pengkajian cepat penyebab banjir untuk masukan dalam tindakan pencegahan
(flood quick reconnaissance study).
2.2.6 Pengertian pengetahuan
(Mohanty, et. al, 2006, dalam Pangesti, Asih Dwi Hayu, 2012 : 29)
mendefinisikan pengetahuan sebagai fakta atau kondisi dari mengetahui sesuatu
dengan derajat pemahaman tertentu melalui pengalaman, asosiasi, atau hubungan.
Pengetahuan terdiri dari tiga bentuk, yaitu explicit, tacit, dan implicit. Ketiga
bentuk pengetahuan tersebut dijabarkan sebagai berikut:
1) Explicit adalah pengetahuan yang dinyatakan secara detail dalam bentuk kode
atau formal,
2) Tacit adalah pengetahuan yang dipahami, diterapkan, dan ada tanpa harus
dinyatakan secara formal. Pengetahuan ini ada dalam otak manusia, tetapi
tidak diungkapkan secara formal,
27


3) Implicit adalah pengetahuan yang dinyatakan secara implisit, tetapi tidak
dinyatakan secara formal.
Pengetahuan pengelolaan risiko bencana banjir adalah suatu bentuk
pemahaman tindakan atau langkah-langkah yang diambil pada saat sebelum
terjadinya bencana banjir (pra-bencana), saat bencana banjir, dan setelah
terjadinya bencana Banjir (pasca-bencana), guna untuk menghilangi dan atau
meminimalisir kerugian harta benda maupun korban jiwa akibat dari bencana
banjir.
2.2.7 Pengetahuan masyarakat terhadap kerentanan bencana
Pengetahuan masyarakat terhadap kerentanan bencana adalah keadaan atau
sifat/perilaku manusia atau masyarakat yang menyebabkan kemampuan atau
ketidak mampuan menghadapi bahaya atau ancaman. Kerentanan ini dapat
berupa:
1) Kerentanan Fisik
Secara fisik bentuk kerentanan yang dimiliki masyarakat berupa daya tahan
menghadapi bahaya tertentu, misalnya: kekuatan bangunan rumah bagi
masyarakat yang berada di daerah rawan gempa, adanya tanggul pengaman
banjir bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai dan sebagainya.
2) Kerentanan Ekonomi
Kemampuan ekonomi suatu individu atau masyarakat sangat menentukan
tingkat kerentanan terhadap ancaman bahaya. Pada umumnya masyarakat atau
daerah yang miskin atau kurang mampu lebih rentan terhadap bahaya, karena
28


tidak mempunyai kemampuan finansial yang memadai untuk melakukan
upaya pencegahan atau mitigasi bencana.
3) Kerentanan Sosial
Kondisi sosial masyarakat juga mempengaruhi tingkat kerentanan terhadap
ancaman bahaya. Dari segi pendidikan, kekurangan pengetahuan tentang
risiko bahaya dan bencana akan mempertinggi tingkat kerentanan, demikian
pula tingkat kesehatan masyarakat yang rendah juga mengakibatkan rentan
menghadapi bahaya.
4) Kerentanan Lingkungan
Lingkungan hidup suatu masyarakat sangat mempengaruhi kerentanan.
Masyarakat yang tinggal di daerah yang kering dan sulit air akan selalu
terancam bahaya kekeringan. Penduduk yang tinggal di lereng bukit atau
pegunungan rentan terhadap ancaman bencana tanah longsor dan sebagainya.
2.3 Kerangka Pemikiran
Penelitian pengetahuan mitigasi bencana banjir lauapan sungai
Tuweley/Ogomalane di Kelurahan Baru dan Kelurahan Tuweley, Kecamatan
Baolan, Kabupaten Tolitoli, diawali dengan observasi dan wawancara dengan
Lurah kelurahan Tuweley dan Lurah Kelurahan Baru, beberapa kepala dinas dan
kepala bagian, dan ketua taruna siaga bencana (TAGANA), serta ketua RT yang
ada di Kelurahan Baru dan Tuweley, sehingga penyusun menemukan masalah
mengenai kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir akibat dari
luapan sungai Tuweley/ogomalane. Oleh karena itu, dengan melihat permasalahan
yang ada peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengetahuan
29


mitigasi bencana banjir luapan sungai Tuweley/ogomalane di Kelurahan Baru dan
Kelurahan Tuweley, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli
Berdasarkan hasil observasi awal dengan mengumpulkan data-data tentang
penduduk dari lokasi dampak terbesar bencana banjir, dapat diketahui jumlah
populasi dan disusun daftar kerangka sampel penelitian (penentuan jumlah sampel
penelitian). Selanjutnya, mencari literatur di perpustakaan dan internet untuk
dijadikan sebagai landasan teori oleh peneliti dalam melakukan penelitian.
Kemudian menentukan metode penelitian meliputi: sumber data yang terdiri dari
dua yakni data primer dan data sekunder. Setelah itu, menyiapkan instrumen atau
alat untuk pengumpalan data. Setelah mendapatkan semua data yang diteliti
kemudian dilakukan pengolahan data yakni editing, coding,dan tabulating, setelah
pengolahan data kemudian dianalisis dengan analisis deskriptif. Terakhir
membahas hasil analisis untuk memperoleh kesimpulan. Keseluruhan tahapan dan
proses penelitian sebagaimana secara skematik tercantum dalam bagan alir
penelitian.

30
























Gambar 2. Bagan Alir Penelitian

KELURAHAN BARU
DAN KELURAHAN
TUWELEY
RUMUSAN MASALAH
Mengukur kesiapan masyarakat dalam menghadapi
bencana banjir untuk meningkatkan keselamata,
mengurangi atau mencegah hilangnnya harta bendan dan
serta mengurangi kerusakan fisik akibat bencana banjir
OBSERVASI
Sungai Ogomalane/Tuweley dan anak sungai Lembe
merupa sungai yang sering menyebabkan banjir di
Kelurahan Tuweley dan Kelurah Baru.
KAJIAN PUSTAKA
METODE PENELITIAN
Survei
SUMBER DATA
DATA SEKUNDER
Data Demografi
Data jumlah kejadian banjir
Peta tematik



DATA PRIMER
Survei sampel
INSTRUMEN PENELITIAN
Kuesioner
PENGUMPULAN DATA
Observasi
Wawancara
Kuesioner
Dokumentasi

PEMBAHASAN
PENGOLAHAN DATA
Pengeditan
Pemberian Kode
Tabulasi
Penganalisaan
ANALISIS DATA
Analisis Tabel Tunggal dan
Analisis Deskriptif,

PELAPORAN
31


BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian survei. Menurut Masyhuri &
Zainuddin, (2008) ; dalam Indah, Tira Nur (2012) menyatakan bahwa: Metode
survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari
gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik
tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik, dari suatu kelompok atau suatu
daerah. Sedangkan menurut Tika, Moh. Pabundu (2005: 6) menyatakan bahwa
penelitian survei adalah suatu metode peneliltian yang bertujuan untuk
mengumpulkan sejumlah besar data berupa variabel, unit atau undividu dalam
waktu yang bersamaan.
Keuntungan penelitian survei adalah sebagai berikut :
1. Dilibatkan lebih banyak orang untuk mencapai generalisasi atau kesimpulan
yang dapat dipertanggung jawabkan;
2. Dapat menggunakan berbagai teknik pengumpulan data;
3. Sering tampil masalah-masalah yang sebelumnya tidak diketahui;
4. Dapat dibenarkan atau diwakili teori tertentu;
5. Biaya lebih rendah karena waktu lebih singkat;
Sedangkan kelemahan penelitian survei adalah sebagai berikut :
1. Penelitian tidak mendalam;
2. Pendapat populasi yang disurvai antara lain dapat mengandung unsur-unsur
emosional dan politik;
32


3. Tidak ada jaminan bahwa angket bisa dijawab responden yang dijadikan
sampel;
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah administrasi dua kelurahan yaitu Kelurahan
Baru dan Kelurahan Tuweley, Kecamatan Baolan, Kabupaten Tolitoli. Luas
wilayah Kelurahan Baru adalah 7 km
2
(700 ha) sedangkan Kelurahan Tuweley
adalah 28 km
2
(2.800 ha). Secara astronomis kelurahan Baru dan Kelurahan
Tuweley terletak pada :
Tabel 3. Letak astronomis lokasi penelitian
Letak Astronomis Kelurahan Baru Letak Astronomis Kelurahan
Tuweley
1
o
02 44 1
o
01 42 LU dan
120
o
48 33 120
o
50 04BT
1
o
04 27 1
o
01 30 LU dan
120
o
49 26 121
o
03 14BT

Secara administratif kelurahan Baru dan Kelurahan Tuweley terletak pada :
Tabel 4. Letak administratis lokasi penelitian
Arah Kelurahan Baru Kelurahan Tuweley
Utara

Timur
Selatan

Barat
Kelurahan Panasakan

Kelurahan Tuweley
Kelurahan Nalu dan Desa
Dadakitan
Laut Sulawesi
Kelurahan Panasakan Dan
Kecamatan Galang
Kabupaten Buol
Kelurahan Baru Dan Desa
Dadakitan
Kelurahan Baru
33


Gambar 3. Peta Lokasi Penelitian
34


3.2.2 Waktu Pelaksanaan Penelitian
Penelitian direncanakan berlangsung dari bulan Agustus 2013 sampai
dengan Desember 2013 (bersesuaian dengan Semester Ganjil Tahun Akademik
2013/2014). Penelitian yang dilakukan terdiri dari 10 tahapan berdasarkan jenis
aktivitasnya. Adapun tahapan penelitian sebagai berikut:
1) Pengumpulan bahan, observasi, dan penyusunan proposal;
2) Konsultasi dan perbaikan proposal;
3) Ujian proposal;
4) Perbaikan proposal;
5) Pengurusan surat izin penelitian dan SK pembimbing;
6) Penelitian lapangan (pengumpulan data primer dan sekunder);
7) Pengolahan data;
8) Analisis data;
9) Seminar hasil;
10) Penyusunan Laporan (skripsi);
11) Ujian skripsi;
12) Perbaikan skripsi;
Alokasi waktu berdasarkan jenis aktivitas penelitian sebagaimana tersebut
dalam jadwal rencana penelitian (Lampiran 3).
3.3 Jenis dan Sumber Data
3.3.1 Jenis Data
Dalam penelitian ini jenis data yang digunakan adalah data primer dan data
sekunder. Data primer adalah data yang diambil dari sumber pertama (responden).
35


Data primer berupa hasil pengisian kuesioner. Data sekunder adalah data yang
dikumpulkan dari instansi yang terkait. Data sekunder dalam penelitian ini berupa
dokumentasi data penduduk 2012 dan dokumentasi data kejadian bencana banjir
dari tahun 2010-2012. Adapun jenis data yang dimaksud seperti data jumlah
penduduk dirinci per RT yang akan diteliti, data curah hujan Kabupaten Tolitoli
tahun 2008-2012, peta risiko bencana banjir Kabupaten Tolitoli, Kecamatan
Baolan dalam angka 2012 dan data Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten Tolitoli tahun 2012-2032.
3.3.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah penduduk (responden) Kelurahan
Baru dan Kelurahan Tuweley, Kantor Kelurahan, Kantor Badan Penanggulangan
Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Tolitoli, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi
Sulawesi Tengah, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Kabupaten Tolitoli, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA)
Kabupaten Tolitoli. Jenis dan sumber data dalam penelitian sebagaimana
tercantum dalam tabel.
Tabel 5. Jabaran Variabel, Jenis dan Sumber Data Penelitian

No Variabel Instrumen Jenis Data Sumber Data
1 Pengetahuan mitigasi
bencana banjir luapan
sungai
tuweley/ogomalane
Kuesioner Data Primer
Penduduk
(Responden)
2 Data demografi
Data kejadian banjir
Data curah hujan
Peta risiko bencana
banjir
RTRW kabupaten
Dokumentasi
Data
Sekunder
Kantor kelurahan,
BPBD, BPS,
BMKG, dan
BAPPEDA
36


3.4 Populasi dan Sampel
3.4.1 Populasi
Moh. Pabundu Tika (2005:24) menyatakan bahwa Populasi adalah
himpunan individu atau objek yang banyaknya terbatas atau tudak terbatas.
Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga (KK) yang
bertempat tinggal (berdomisili) di RT I RW II dan RT II RW II lingkungan 1
pada kelurahan baru, serta RT II RW I lingkungan 1, RT I RW II Lingkungan 2,
RT III RW II Lingkungan 3, dan RT I RW I lingkungan 4 pada kelurahan
Tuweley yang berjumlah 566 KK sebagaimana tersebut dalam Tabel
Tabel 6. Jumlah Populasi yang Akan Diteliti
No Nama RT Jumlah
Kepala Keluarga
1 RT I RW II Ling. 1 Kel. Baru 36
2 RT II RW II Ling. 1 Kel. Baru 92
3 RT II RW I Ling. 1 Kel. Tuweley 81
4 RT I RW II Ling. 2 Kel. Tuweley 200
5 RT III RW II Ling. 3 Kel. Tuweley 68
6 RT I RW I Ling. 4 Kel. Tuweley 89
Jumlah 566 KK
Sumber data : observasi lapangan (2013).
3.4.2 Sampel
Moh. Pabundu Tika (2005:24) menyatakan bahwa sampel adalah sebagian
dari objek atau invidu-individu yang mewakili dari suatu populasi. Pengambilan
sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan metode sampel purposif
(judgement sampling), dan yang menjadi sampel dalam penelitian adalah Kepala
Keluarga (KK) yang keseluruhan berjumlah 171 KK atau 30,21% dari 566 KK.
Penarikan sampel secara judgement sampling yaitu sampel yang dipilih secara
37


cermat dengan mengambil orang atau objek penelitian yang selektif dan
mempunyai ciri-ciri yang spesifik. Sampel yang diambil mempunyai ciri yang
khusus dari populasi sehingga dapat dianggap cukup representatif. Dalam
penelitian ini, peneliti mengambil sampel yaitu kepala rumah tangga yang pada
saat terjadi bencana banjir rumah yang mereka tempati terendam oleh banjir.
3.5 Teknik Pengambilan Sampel
Jumlah sampel penelitian ditentukan dengan Dixon dan B. Leach (Moh.
Pabundu tika 2005:24)
(


di mana:
n = Jumlah sampel
Z = Tingakat kepercayaan (confidence level) dinyatakan dalam persen
V = Variabilitas (dalam persen) dihitung dengan rumus :
()
p = persentase karakteristik sampel yang dianggap benar.
C = Batas kepercayaan (confidence limit) dalam persen
Untuk menghitung jumlah sampel yang sebenarnya, langkah berikut adalah
membuat koreksi dengan rumus


di mana:
n = Jumlah sampel yang telah dikoreksi (dibetulkan)
38


n = jumlah sampel yang dihitung berdasarkan rumus (1)
V = Jumlah Populasi
Berdasarkan pendapat di atas, maka jumlah sampel yang diambil yaitu :
()
()
()



(


()


39


Dalam penelitian ini yang dijadikan sampel adalah Kepala Keluarga (KK)
yang ada di pada RT I RW II dan RT II RW II lingkungan 1 pada kelurahan baru,
serta RT II RW I lingkungan 1, RT I RW II Lingkungan 2, RT III RW II
Lingkungan 3, dan RT I RW I lingkungan 4 pada kelurahan tuweley. Untuk
mempermudah dalam pengambilan sampel maka dihitung dari dari jumlah KK
(populasi) penduduk sebanyak 566 KK. Sehingga dari hasil perhitungan dengan
menggunakan formulasi di atas diperoleh sampel sebanyak 171 KK atau 30,21%.
Untuk lebih jelasnya, jumlah responden yang ditetapkan dalam penelitian dapat
dilihat pada Tabel
Tabel 7. Jumlah Populasi dan Sampel
No Nama RT Populasi Sampel
1 RT I RW II Ling. 1 Kel. Baru 36 11
2 RT II RW II Ling. 1 Kel. Baru 92 28
3 RT II RW I Ling. 1 Kel. Tuweley 81 24
4 RT I RW II Ling. 2 Kel. Tuweley 200 60
5 RT III RW II Ling. 3 Kel. Tuweley 68 21
6 RT I RW I Ling. 4 Kel. Tuweley 89 27
Jumlah 566 KK 171 KK
Sumber data : observasi lapangan (2013)
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
3.6.1 Obervasi
Menurut Moh. Pabundu tika (2005:45) Observasi adalah cara dan teknik
pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara
40


sistematis terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian.
Observasi dapat dibagi dua, yaitu observasi langsung dan observasi tidak
langsung.
Observasi langsung adalah observasi yang dilakukan terhadap objek di
tempat kejadian atau tempat langsungnya peristiwa sehingga observer berada
bersama objek yang diteliti. Artinya, dalam observasi langsung, peneliti
mengadakan observasi turut ambil bagian bersama objek yang di observasi.
Observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat
berlangsungnya peristiwa yang akan diselidiki atau objek yang diteliti.
Pengamatan seperti ini dapat dilakukan melalui film, slide, foto, pencatatan suatu
alat perekam atau recorder.
Metode observasi merupakan cara yang sangat baik untuk mengamati
perilaku penduduk seperti misalnya: perilaku dalam lingkungan atau ruang, waktu
dan keadaan tertentu. Namun demikian metode ini ada pula kelemahannya yaitu
tidak dapat mengungkapkan hal-hal yang sangat pribadi, dan juga perbuata-
perbuatan di masa lampau.
3.6.2 Wawancara
Menurut Prof. Dr. S. Nasution, M.A. dalam Moh. Pabundu Tika (2005:45)
Wawancara (interview) adalah suatu bentuk komunikasi verbal. Jadi, semacam
percakapan yang bertujuan mencari informasi. Wawancara merupakan metode
pengumpulan data dengan cara tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis
dan berdasarkan pada tuajuan penelitian.

41


3.6.3 Kuesioner
Menurut Dr. Hadari Nawawi dalam Moh. Pabundu Tika (2005:54).
Kuesioner adalah suatu usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan
sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis oleh responden.
Pengisian angket atau kuesioner dapat menyangkut diri responden sendiri, orang
lain, atau objek lain yang dialaminya.
3.6.4 Dokumentasi
Dokumentasi yaitu suatu tehnik pengumpulan data yang dilakukan melalui
pencatatan dokumen-dokumen penting yang berkaitan dengan aspek penelitian.
Maksud dari dokumentasi ini adalah memberikan penguatan pada data primer
sehingga data yang ada benar-benar akurat
3.7 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan suatu alat pengumpulan data atau
informasi, tujuan dari adanya intsrumen ini yaitu untuk memberi kemudahan
kepada peneliti dalam melakukan penelitian. Instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah daftar pertanyaan atau kuesioner.
3.8 Analisis Data
Teknik analisis data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah
analisis deskriptif. Analisis ini digunakan untuk memberikan gambaran tentang
pengetahuan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir di Kelurahan Baru
dan Kelurahan Tuweley akibat luapan sungai Tuweley/Ogomalane di Kecamatan
Baolan, Kabupaten Tolitoli.
42


Adapun tahapan pengolahan data yang dilakukan pada analisis deskriptif ini
sebagai berikut:
a) Pengeditan (Editing) adalah penelitian kembali data yang telah dikumpulkan
dengan menilai apakah data yang telah dikumpulkan tersebut cukup baik
atau relevan untuk diproses atau diolah lebih lanjut;
b) Pemberian Kode (Coding) adalah usaha pengklasifikasin jawaban dari para
responden menurut macamnya;
c) Tabulasi adalah proses penyusunan dan analisis data dalam bentuk tabel.
Dengan memasukkan data dalam tabel, akan memudahkan kita untuk
melakukan analisis;
d) Penganalisaan (Analyzing) adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa
untuk mengetahui peristiwa yang sebenarnya.


43


DAFTAR PUSTAKA
AL Quran dan Terjemahannya, 1990. Departemen Agama Republik Indonesia,
Jakarta.
Anonimus, 1993. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 63/Prt/1993
Tentang Garis Sempadan Sungai, Daerah Manfaat Sungai, Daerah
Penguasaan Sungai Dan Bekas Sungai. Jakarta: Sekretariat Negara RI.
_______, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Tiga. Jakarta: Balai
Pustaka.
, 2003. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 131 Tahun 2003
Tentang Pedoman Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi di
Daerah. Jakarta: Sekretariat Negara RI.
, 2007. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang
Penanggulangan Bencana. Jakarta: Sekretariat Negara RI.
, 2008. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana
Penanggulangan Bencana. Jakarta: Sekretariat Negara RI.
Arifin, Yayu Indriati dan Muh. Kasim. 2012. Pemetaan Zonasi Banjir Kota
Gorontalo untuk Mitigasi Bencana. Laporan penelitian pengembangan
program studi, Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan IPA Universitas
Negeri Gorontalo.
Bashori Imam. 2013. Peran Guru Terhadap Kesiapsiagaan Sekolah dalam
Menghadapi Bencana Banjir di Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres Kota
Surakarta. Skripsi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
http://www.bnpb.go.id/page/read/5/definisi-dan-jenis-bencana. Diakses 19
september 2013 pukul 07.00 WITA.
https://www.google.com/search?q=PP+tentang+penanggulangan+bencana+banjir
&ie=utf-8&oe=utf-8&aq=t&rls=org.mozilla:id:official&client=firefox-a.
Diakses 10 Oktober 2013 pukul 08.00 WITA.
Indah, Tira Nur 2012. Makalah Metode Penelitian Survai.
http://tiranurindah.blogspot.com/2012/03/makalah-metode-penelitian-
survai.html. (17 september 2013). Pukul 23.00 WITA.
44


Jurenzy, Theresa. 2011. Karakteristik Sosial Budaya Masyarakat dalam
Kaitannya Dengan Kesiapsiagaan dan Mitigasi bencan Di Daerah Rawan
Bencana. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Kodoatie, Robert J. dan Roestam Sjarief, 2010. Tata Ruang Air. Yogyakarta : C.V
Andi Offset (penerbit ANDI).
Kodoatie, Robert J. dan Sugiyanto, 2002. Banjir Beberapa penyebab dan Metode
Pengendaliannya dalam Perspektif Lingkungan. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Pangesti, Asih Dwi Hayu. 2012. Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Aplikasi
Kesiapan Bencana Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia Tahun 2012. Skripsi, Fakultas ilmu keperawatan
program studi sarjana Universitas Indonesia.
Prastowo Andi, 2012. Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan
Penelitian. Yogjakarta : Ar Ruzz Media.
Ramadhan, Achmad, et. al, 2013. Panduan Tugas Akhir (skripsi) & Artikel
Penelitian. Palu.
Tika, Moh. Pabundu. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta : PT Bumi
Aksara.
Wardiatmoko, K. 2006. Geografi Untuk SMA Kelas X. Jakarta : Erlangga.









45