Anda di halaman 1dari 8

Peningkatan Hasil Belajar Pada Materi Perkalian Aljabar Dengan Menggunakan Alat Peraga Blokar (Penelitian Tindakan pada

Siswa Kelas VII SMPN 3 Satap Balocci) Lisna Nurani ABSTRAK Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar melalui penggunaan alat peraga blokar pada siswa kelas VII SMPN 3 Satap Balocci. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 3 Satap Balocci pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013 dengan jumlah siswa 34 orang yang terdiri dari 14 orang laki-laki dan 10 orang perempuan. PTK ini dilaksanakan dalam 2 siklus yang terdiri atas masing-masing 2 pertemuan. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan tes hasil belajar, observasi, serta tanggapan siswa.kemudian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) hasil belajar siswa mengalami peningkatan, (b) terjadi peningkatan keaktifan siswa dalam pembelajaran ,(c) respon terhadap pembelajaran yang dilaksanakan positif. Kata kunci : hasil belajar, alat peraga, blokar PENDAHULUAN Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang memiliki keterkaitan dan menjadi pendukung berbagai bidang ilmu serta berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi di sisi lain, matematika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang cukup sulit bagi siswa, bahkan cukup menakutkan bagi beberapa siswa. Hal ini berdampak buruk bagi prestasi/ hasil belajar siswa. Adanya bukti dari hasil evaluasi pelajaran matematika tiap semester maupun ujian akhir masih sering di bawah standar mata pelajaran lain. Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan. Salah satu cara dalam mengatasi keadaan ini adalah bagaimana agar siswa mampu memahami pelajaran yang diberikan, siswa tidak merasa terbebani jika belajar matematika, memiliki semangat untuk belajar matematika serta menanamkan dalam diri siswa bahwa matematika bukan pelajaran yang sulit. Keberhasilan belajar matematika bukan hanya ditentukan oleh proses belajar di sekolah, melainkan juga ditunjang oleh proses belajar di rumah. Keberhasilan belajar siswa bukan hanya ditentukan oleh guru, orang tua, dan siswa sendiri, namun harus didukung oleh faktor-faktor lain yang mempengaruhi prestasi belajar matematika. Salah satu faktor yang dianggap vital keberadaannya dalam suatu proses belajar mengajar adalah metode mengajar yang digunakan. Suatu metode pengajaran sebelum diterapkan terlebih dahulu harus ditinjau keefektifan, keefisienan dan kecocokan dengan materi yang diberikan, serta keadaan siswa

yang meliputi kemampuan, kecepatan belajar, minat, waktu yang dimiliki dan keadaan sosial ekonominya. Salah satu faktor yang menyebabkan hasil belajar siswa belum memuaskan adalah faktor pembelajaran. Apabila pembelajaran menarik dan kontekstual diharapkan siswa akan termotivasi dan tertarik dengan materi pelajaran yang pada akhirnya akan meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Sebaliknya apabila pembelajaran kurang menarik maka siswa tidak akan tertarik dengan materi pelajaran. Banyak cara yang dilakukan guru agar pembelajaran yang berlangsung sangat menarik bagi siswa. Menurut Bruner ( dalam Lambas dkk, 2004: 8), jika seseorang mempelajari sesuatu pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika), pengetahuan itu perlu dipelajari tahap-tahap tertentu agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses belajar akan berlangsung secara optimal jika proses pembelajaran diawali dengan tahap enaktif (menggunakan benda-benda kongkret), dan kemudian, jika tahap belajar yang pertama ini telah dirasa cukup, siswa beralih ke kegiatan belajar tahap dua, yaitu tahap belajar dengan menggunakan modus representasi ikonik (dalam bentuk bayangan visual, gambar atau diagram), dan selanjutnya, kegiatan belajar diteruskan dengan tahap belajar dengan menggunakan simbolik (simbol-simbol abstrak). Pembelajaran yang sesuai dengan toari Bruner diatas adalah pembelajaran yang dirancang agar mengaktifkan dan mengembangkan kreatifitas anak sehingga menarik dan kontekstual yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi hasil belajar siswa. Jika seorang individu melakukan kegiatan belajar, maka terdapat tujuan dan hasil yang ingin dicapai. Hudoyo (1990 : 39) mengemukakan bahwa : Hasil belajar dan proses belajar kedua-duanya penting, di dalam belajar ini, terjadi proses berpikir. Seseorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan mental, bukan kegiatan metorik walaupun kegiatan metorik ini dapat pula bersama-sama dengan kegiatan mental tersebut, dalam mental orang itu menyusun hubungan antara bagian-bagian informasi yang telah diperoleh sebagai pengertian. Karena itu orang menjadi memahami dan menguasai hubungan tersebut sehingga orang itu dapat menampilkan pemahaman dan penguasaan bahan pelajaran yang dipelajari, inilah merupakan hasil belajar. Hasil belajar adalah istilah yang digunakan untuk mencapai tingkat keberhasilan yang dicapai seseorang setelah melakukan usaha tertentu. Ini sejalan dengan pendapat Mustaan (2005) : Hasil belajar adalah ukuran yang menyatakan beberapa jauh tujuan pengajaran telah tercapai oleh siswa dengan pengalaman yang telah diberikan dan disiapkan oleh sekolah. Hasil belajar diartikan hasil optimal yang diperoleh melalui proses belajar mengajar sehingga dapat dilakukan sebagai alat ukur maka digunakan alat ukur berupa tes hasil belajar. Penggunaan metode mengajar yang tepat merupakan suatu alternatif dalam usaha meningkatkan mutu pengajaran. Setiap guru sebaiknya mengembangkan metode mengajar yang tepat guna mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.

Matematika pada dasarnya mempelajari simbol-simbol serta hubungan dan arti simbol, yang kesemuanya bersifat abstrak. Banyak siswa gagal belajar matematika hanya karena tidak dapat memahami konsep-konsep matematika. Maka untuk memahaminya diperlukan upaya kreatif dalam memikirkan, menganalisa, dan mengaplikasikan dalam berbagai situasi nyata. Untuk itu diperlukan alat peraga sebagai alat bantu yang tepat agar mendapat tingkat pemahaman yang lebih baik. Alat peraga dalam mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Unsur metode dan alat merupakan unsur yang tidak dapat dilepaskan dari unsur lain yang berfungsi sebagai cara atau teknik untuk menghantarkan bahan pelajaran agar dapat mencapai tujuan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran matematika, penggunaan alat peraga memegang peranan yang besar untuk menanamkan konsep kepada siswa. Sehingga dalam proses belajar mengajar, alat peraga sangat membantu guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Blokar adalah istilah untuk blok aljabar. Blok Aljabar merupakan suatu alat peraga. Alat peraga ini merupakan model geometri yang digunakan untuk mengkonkritkan pengertian variabel dan konstanta dalam aljabar yang merupakan konsep abstrak. Merupakan model geometri karena alat ini berupa blok yang berbentuk bangun geometri, yaitu: persegi dan persegipanjang, dan penggunaan alat ini juga mengacu pada prinsip-prinsip yang ada dalam geometri, yaitu konsep panjang, lebar dan luas. Alat peraga blok aljabar terdiri dari 3 jenis blok, yaitu: 1. blok satuan, berupa persegi dengan panjang sisinya satu satuan panjang atau dengan 1 cm x 1 cm. Pada blok satuan ini ada dua jenis , yaitu yang berwarna menunjukkan positif satu (1) dan tidak berwarna (putih) menunjukkan negative satu (-1). 2. blok x, berupa persegi panjang dengan ukuran 2 cm x 1 cm. Pada blok ini juga menggunakan dua jenis yaitu yang berwarna menunjukkan positif x (x) dan tidak berwarna (putih) menunjukkan negative x (-x). 3. blok x2, berupa persegi dengan panjang sisi 2 cm. Pada blok ini juga menggunakan dua jenis warna, yaitu berwarna menunjukkan positif x2 (x2) dan tidak berwarna (putih) menunjukkan negative x2 (-x2). Pengalaman peneliti dalam mengajar Matematika konsep Operasi hitung pada bentuk Aljabar sub pokok bahasan perkalian bentuk aljabar di SMP selama ini hasilnya belum baik. Disamping itu keaktifan siswa dalam belajar di kelas masih belum nampak. Dalam mengerjakan tugas siswa belum mandiri dan masih tergantung pada teman lain. Keberanian siswa untuk bertanya masih belum nampak.. Siswa yang pandai tidak mau membantu yang lemah, bahkan cendrung individualis. Dalam kerja kelompok tidak berjalan dengan baik. Siswa yang pandai lebih mendominasi dalam kegiatan. Pemahaman konsep operasi pada bentuk Aljabar sub pokok bahasan perkalian bentuk Aljabar yang diperagakan oleh guru belum memberi pemahaman yang cukup pada siswa dan masih mengalami kesulitan, sehingga siswa perlu dan mengalaminya sendiri.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti mencoba mengadakan penelitian tindakan kelas dalam sub pokok bahasan tersebut dengan cara melakukan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga blokar. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 3 Satap Balocci dapat ditingkatkan dengan menggunakan alat peraga Blokar Manfaat yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah bagi siswa, Untuk menumbuhkan semangat belajar siswa dalam matematika sehingga hasil belajarnya dapat meningkat. Bagi guru, Untuk menumbuhkan kreatifitas guru dalam mengajar sehingga siswa menyukai matematika. Bagi sekolah, Sebagai masukan dalam rangka mengefektifkan pengembangan bagi guru agar dapat lebih profesional dalam melaksanakan proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 3 Satap Balocci. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII tahun pelajaran 2012-2013 yang terdiri dari 34 siswa. Faktor yang diselidiki adalah faktor input, proses dan output. Penelitian tindakan ini dilaksanakan selama 2 (dua) siklus. Setiap siklus melalui tahap : perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi) dan refleksi. Kedua siklus ini merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan, artinya pelaksanaan siklus II merupakan lanjutan dan perbaikan berdasarkan refleksi dari siklus I. Prosedur pelaksanaan penelitian mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut : Perencanaan : (a). merencanakan pembelajaran yang akan dilaksanakan, (b). Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk setiap pertemuan, (c). Membuat pedoman observasi untuk melihat bagaimana kondisi siswa pada saat proses belajar mengajar di kelas berlangsung, (d). Menyiapkan contoh alat peraga yang akan di gunakan kemudian meminta siswa membuat sendiri alat peraga secara berkelompok, (e). Mengembangkan format evaluasi Pelaksanaan Tindakan : (a). melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP , (b). mengamati aktifitas siswa dalam proses pembelajaran untuk mengetahui partisipasi aktif siswa selama pemberian tindakan, (c). tiap pertemuan guru mencatat semua kejadian yang dianggap penting baik mengenai kegiatan siswa dalam kerja kelompok maupun tanggapan yang diberikan siswa, (d). pada akhir pembelajaran siswa menuliskan partisipasinya selama proses pembelajaran melalui lembar partisipasi yang di siapkan. Observasi : mendokumentasikan pengaruh tindakan yang diberikan selama pembelajaran berupa pengamatan terhadap kondisi selama pelaksanaan tindakan berlangsung

Refleksi : hasil yang diperoleh dari tahap observasi di kumpulkan dan di analisis. Dari analisis tersebut peneliti dapat melihat dan merefleksi apakah tindakan yang dilakukan dapat meningkatkan hasil belajar. Hal hal yang sudah baik dipertahankan dan yang dianggap kurang diperbaiki. Hasil refleksi dan analisis data pada tahap ini selanjutnya dipergunakan untuk merencanakan tindakan pada tahap berikutnya. Jenis data yang diperoleh terdiri atas dua, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes belajar pada akhir setiap siklus, sedangkan data kualitatif diperoleh dari hasil observasi dan tanggapan siswa. Analisis data penelitian dilakukan dalam dua macam yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif diberlakukan pada data hasil observasi dan tanggapan siswa sedangkan analisis kuantitatif diberlakukan pada data tes hasil belajar pada masing-masing siklus. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Semangat siswa untuk mengikuti pelajaran pada awal siklus I masih kurang. Terlihat dari jumlah siswa yang memperhatikan penjelasan guru hanya berkisar 24-27 orang dari 34 orang. Mereka melakukan aktifitas lain di luar pembelajaran seperti bermain, cerita dengan temannya, jalan-jalan, dsb. Beberapa siswa menggunakan blok aljabar sebagai ajang bermain saja bukan digunakan dalam pembelajaran. Partisipasi siswa terhadap pembelajaran masih kurang utamanya keaktifan kerjasama dalam kelompoknya. Dalam menyelesaikan soal hanya dua sampai tiga orang saja yang aktif sementara yang lain melakukan aktifitas yang lain. Demikian halnya dengan siswa yang mempresentasekan hasil diskusi kelompoknya dan siswa yang mengerjakan tugas secara mandiri juga masih kurang. Pada akhir siklus I, terjadi perubahan kondisi pembelajaran. Antusias dan semangat siswa sudah mulai berubah karena mulai menyenangi pembelajaran yang diterapkan. Siswa semakin aktif dan termotifasi dalam mengikuti pelajaran. Hal tersebut dapat dilihat semakin meningkatnya persentase siswa yang memperhatikan penjelasan guru, aktif kerjasama dalam kelompok, Siswa yang membantu temannya dalam belajar dan mengerjakan latihan dengan mandiri. Selain itu jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum dipahami mengalami penurunan. Demikian halnya dengan siswa yang mempresentasekan hasil diskusi kelompoknya. Jumlah siswa yang mempresentasekan hasil diskusi kelompoknya semakin meningkat. Pada awal pertemuan hanya 1 orang yang mewakili kelompoknya akan tetapi pada pertemuan berikutnya mereka bergantian dengan teman kelompoknya mempresentasekan hasil diskusi kelompoknya. siswa berlomba lomba ingin tampil di depan mempresentasekan hasil diskusi kelompoknya. Berdasarkan hasil observasi guru yang dilakukan oleh pengamat dapat diketahui bahwa aktivitas guru yang perlu diperbaiki pada kegiatan pendahuluan adalah memperhatikan kelas secara umum. Sehingga ada beberapa siswa yang
5

melakukan aktivitas lain diluar pembelajaran tidak terlihat oleh guru. Guru juga kurang memberikan bimbingan kepada kelompok kelompok yang membutuhkan. Pada kegiatan inti yang perlu diperbaiki adalah mengaitkan antara pembelajaran dengan realita kehidupan, lingkungan, dan pengetahuan lainnya. Pada kegiatan akhir yang perlu diperbaiki adalah pemberian tugas mandiri di rumah. Aspek umum pembelajaran yang akan dijadikan bahan kajian refleksi untuk perbaikan tindakan pada pembuatan perencanaan siklus II adalah antusiasme siswa, keterlaksanaan Rencana Pelajaran dan Kecukupan waktu pembelajaran. Hal lain yang menjadi refleksi dalam pembelajaran berdasarkan hasil observasi adalah pemilihan strategi dalam pembelajaran. Jika pada siklus I guru belum menggunakan media komputer maka pada siklus II guru akan menggunakan media komputer dalam bentuk presentase power point agar pembelajaran lebih menarik bagi siswa. Pada siklus II, jumlah siswa yang meperhatikan penjelasan guru semakin bertambah. Demikian halnya dengan keaktifan siswa kerjasama dalam kelompok, siswa yang membantu temannya dalam belajar dan mengerjakan latihan dengan mandiri jumlahnya semakin bertambah. Sedangkan jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan tentang materi yang belum dipahami mengalami penurunan. Semangat dan antusias siswa semakin bertambah karena pada akhir pembelajaran siswa menuliskan partisipasi mereka dalam pembelajaran hari itu. Mereka berlomba lomba memperoleh nilai partisipasi yang lebih baik dari pertemuan sebelumnya. Dari hasil observasi siklus II, masalah-masalah yang dihadapai pada siklus I setidaknya telah teratasi pada siklus II. Pada siklus ini selama proses belajar mengajar berlangsung cukup tertib karena perhatian siswa mengikuti pelajaran mulai meningkat .Pembelajaran lebih menarik bagi siswa karena guru menggunakan media komputer dalam memperoleh hasil perkalian bentuk aljabar. Siswa yang memperhatikan penjelasan guru semakin bertambah. Pembelajaran dengan menggunakan media komputer membuat siswa semakin berminat mengikuti pembelajaran. Guru berkeliling memantau setiap kelompok sehingga tidak ada lagi kelompok yang tidak diberikan bimbingan. Keberanian siswa dalam mempresentasekan hasil diskusi kelompoknya juga semakin meningkat. Dalam satu kelompok hampir semua anggotanya naik mempresentaskan hasil diskusinya. Aktivitas guru dalam proses mengajar dan menyajikan materi pada siklus II sudah mengalami peningkatan dari siklus I. Dari hasil observasi dapat diketahui bahwa aktivitas guru pada kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir sudah berlangsung dengan baik. Aspek umum pembelajaran juga sudah terlaksana dengan baik. siswa sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Rencana Pelajaran yang di buat juga sudah terlaksana dengan baik Berdasarkan analisis deskriptif hasil belajar matematika siswa kelas VII SMP Negeri 3 Satap Balocci , diperoleh bahwa rata-rata skor hasil belajar siswa pada Siklus I adalah 66,59 dengan jumlah siswa yang tuntas secara individual 21 orang sedangkan rata-rata skor hasil belajar siswa pada siklus II adalah 70,41 dan

jumlah siswa yang tuntas 31 orang. Ini mengidentifikasikan bahwa terjadi peningkatan rata-rata skor dan jumlah siswa yang tuntas secara individual sehingga secara kuantitatif diperoleh bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah penerapan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga blok aljabar. Pada akhir siklus guru meminta siswa memberikan tanggapan terhadap pembelajaran melalui lembar tanggapan yang sudah disiapkan. Pada umumnya siswa menyenangi pembelajaran yang diberikan. Berdasarkan lembar tanggapan yang diberikan kepada siswa menunjukkan bahwa pada umumnya siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran yang diberikan. Pembelajaran dengan menggunakan alat peraga blok aljabar membantu siswa lebih memahami pelajaran sehingga mereka dapat menyelesaikan soal yang diberikan dan merasa yakin bahwa jawaban yang diberikan adalah benar. Nilai ulangan mereka juga menjadi lebih baik. disamping itu juga dengan menggunakan alat peraga blok aljabar minat siswa untuk mengikuti pembelajaran semakin meningkat. KESIMPULAN DAN SARAN Mengacu pada hasil hasil penelitian, refleksi dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat di tarik beberapa kesimpulan penelitian sebagai berikut : (1). Penggunaan alat peraga blokar dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal tersebut dapat dilihat dari meningkatnya skor rata-rata hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II. Disamping itu juga jumlah siswa yang tuntas secara individualjuga mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II. (2). Keaktifan siswa dalam pelaksanaan tindakan juga semakin meningkat hal ini dapat dilihat bahwa siswa yang memperhatikan penjelasan guru, keaktifan dalam kelompok, menjawab pertanyaan, mempresentasekan hasil diskusi, siswa yang membantu teman dalam belajar dan mengerjakan soal latihan dengan mandiri semakin meningkat sedangkan siswa yang melakukan aktifitas lain pada saat pembelajaran semakin berkurang. (3). Penggunaan alat peraga blokar dapat menarik minat siswa untuk belajar, meningkatkan pemahaman materi dan bermakna bagi siswa. Hal ini sesuai dengan hasil refleksi siswa yang pada umumnya bersikap dan beranggapan positif terhadap pelajaran matematika Hal hal yang disarankan dalam penelitian ini sebagai berikut : (1). penggunaan alat peraga dalam pembelajaran dapat diterapkan oleh guru-guru matematika pada saat proses belajar mengajar berlangsung di dalam kelas. Sehingga siswa dapat lebih mudah mengerti dan menganggap bahwa pelajaran matematika bukan merupakan pelajaran yang menakutkan melainkan pelajaran yang bisa dibawa kesuasana bermain. (2). Guru matematika hendaknya mamilki keterampilan yang lebih baik dalam memilih strategi pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dan bosan untuk mengikuti pelajaran matematika. (3). Kepada pihak sekolah agar menyediakan sarana dan prasarana belajar yang memadai guna peningkatan kualitas dan kuantitas hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini. 1998. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta Gustiati. 2000. Efektivitas Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Alat Peraga Berupa Benda Model. Proposal Penelitian. FMIPA UNM Makassar,tidak diterbitkan Haling. 2004. Belajar dan Pembelajaran (Suatu Ringkasan). Makassar. Fakultas Ilmu Pendidikan UNM Hudoyo, Herman. 1988. Strategi Belajar mengajar Matematika. Malang : IKIP Malang. ---------------------. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. JICA. Malang Murniati. 2000. Efektivitas Penggunaan Alat Peraga Pada Pembelajaran Operasi Hitung Bilangan Bulat Siswa Kelas I SLTP Negeri 2 Maniang Pajo. Proposal Penelitian: FMIPA UNM Makassar, tidak diterbitkan. Sriwahyuni, Andi. 2005. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Realistik di Kelas V (Studi pada SDN Mallengkeri Bertingkat I Makassar). Skripsi FMIPA UNM Makassar Widyantini, Th dan Guntoro Sigit. 2010. Modul MGMP Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran Matematika di SMP. Pusat pengembangan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan Matematika (PPPPTK) Matematika. Yogyakarta