Anda di halaman 1dari 12

Skenario2 : Leptospirosis

1.1. Latar Belakang Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikro organisme Leptospira interogans tanpa memandang bentuk spesifik serotipenya. Pada tahun 1886, Adolf Weil pertama kali melaporkan penelitiannya tentang penyakit ini. Ia menemukan bah a penyakit ini menyerang manusia dengan ge!ala demam, ikterus, pembesaran hati dan limpa, serta kerusakan gin!al.1"6 Leptospirosis sering luput dari diagnosis karena ge!ala klinis yang tidak spesifik dan sulit dilakukan konfirmasi diagnosa tanpa u!i labolatorium. Leptospirosis telah mun#ul dibeberapa negara sehingga men!adikan leptospirosis sebagai salah satu penyakit yang perlu diperhatikan. $,% 1.2. Tujuan Penulisan makalah ini bertu!uan untuk memenuhi tugas bela!ar mandiri blok 1$ serta menambah a asan. &elalui makalah ini, diharapkan agar kami mampu menambah pengetahuan dan mengerti serta memahami topik penyakit leptospirosis agar dapat dimanfaatkan saat men!adi dokter kelak.

PEMBAHASAN
1.3. Anamnesis Anamnesis mengambil peran besar dalam menentukan diagnosis. 'leh sebab itu, anamnesis harus dilakukan sebaik mungkin sehingga dapat mengambil diagnosis dengan baik pula dan mampu memberikan pertolongan bagi pasien. (esuai dengan skenario $, maka dapat diperoleh data"data anamnesis sebagai berikut) *n.+, laki"laki, berumur ,- tahun Panas tinggi menggigil se!ak , hari yang lalu se#ara terus menerus .emam disertai myalgia hebat terutama dibetis (atu hari sebelum berobat, mata pasien terlihat kuning .aerah tempat tinggal pasien mengalami ban!ir 1 minggu yang lalu

(e#ara umum, penderita leptospirosis, akan datang dengan keluhan demam menggigil, sakit kepala terutama bagian frontal, malaise, mual/muntah, kon!ungti0itis 1mata merah2, myalgia 1rasa nyeri pada otot betis, paha2, dan biasanya ge!ala tampak antara hari ke ,"3. Apabila sampai tahap ini belum diberi penanganan, maka akan timbul keluha mata kemerahan 1kon!ungti0itis2 tanpa disertai porulen. 4asa nyeri pada otot yang semakin meningkat, bila diperiksa sudah timbul antibodi dalam tubuh penderita, kemungkinan akan ter!adi meningitis. +iasanya ter!adi antara minggu kedua sampai keempat. , 1. . Pemeriksaan !isik "an Penunjang &elalui skenario $ yang diberikan, dapat kita ketahui bah a pada pasien dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penun!ang berupa pemeriksaan darah. +eberapa data pemeriksaan fisik yang didapat) Pasien lemah (uhu %3,5-6 *ekanan darah 7 1--/8- mm9g &ata #on!ungti0a anemis, s#lera ikterik, sub#on!ungti0al in!e#tion 9epar teraba $ !ari diba ah ar#us #ostae, bertepi ta!am, lunak, nyeri tekan

(edangkan pada pemeriksaan penun!ang 1labolatoriun2 didapat hasil sesuai skenario $ sebagai berikut) :adar yang diu!i (kenario $ 9b 1- g/dL Leukosit ,1-- /<L *rombosit $$-.--- /ml Albumin %,3 gr/dL >lobulin $,8 gr/dL +ilirubin total ,,5 mg/dL @reum 116 mg/dL :reatinin % mg/dL 1nilai normal diambil dari kamus kedokteran .orland2 ;ormal 1%"18g/dL ,,5"11,- = 1-3/L 15-",-- = 1-3/L %,%"5,$ g/dL 1(.ma#lagan ? 82 -,%"1,1 mg/dL $,",3mg/dL -,6"1,$ mg/dL

&aka dapat kita ketahui bah a pasien dalam skenario $ mengalami penurunan 9b dan penurunan leukosit. *rombosit, albumin, globulin masih dalam batas normal, namun bilirubin, ureum, dan kreatinin sudah meningkat. 1.#. $iagnosis Pada umumnya diagnosis a al leptospirosis sulit, karena pasien biasanya datang dengan meningitis, hepatitis, nefritis, pneumonia, influenza syndrom syok toksin, demam yang tidak diketahui asalnya dan diatetesis hemoragik, bahkan beberapa kasus datang sebagai penkreatitis. Pada anamnesis penting diketahui tentang ri ayat peker!aan pasien, apakah termasuk kelompok resiko termasuk kelompok resiko tinggi.1 >e!ala/keluhan didapat demam yang mun#ul mendadak, sakit kepala terutama dibagian frontal, nyeri otot, mata merah, mual/muntah. Pada pemeriksaan fisik di!umpai demam bradikardia, nyeri tekan otot, hepatomegali, dan lain"lain. Pada pemeriksaan labolatorium darah rutin dapat di!umpai lekositosis, normal atau seikit turun, netrofilia, dan LA. meninggi. Pada urin di!umpai proteinuria, leukosituria, dan torak. +ila organ hati terlibat, bilirubin direk meningkat tanpa peningkatan transaminase.+@;, ureum, dan kreatinin !uga bisa meninggi bila ter!adi komplikasi pada gin!al. *rombositopenia terdapat pada 5-B kasus. .iagnosa pasti dengan isolasi leptospira dari #airan tubuh dan serologi.1 Spesimen (pesimen terdiri dari darah untuk pemeriksaan mikroskopik, biakan, dan inokulasi pada marmot muda, serta serum untuk u!i aglutinasi.1"6 Pemeriksaan Mikroskopik +akteri leptospira terlalu halus untuk dapat dilihat dengan mikroskop lapangan terang, tetapi dapat dilihat !elas dengan mikroskop lapangan gelap atau mikroskop fase kontras. Pemeriksaan lapangan gelap atau sediaan darah tebal yang di arnai dengan giemsa sesekali menun!ukkan leptospira didalam darah segar berasal dari infeksi dini. Pemeriksaan lapangan gelap dari urin yang disentrifugasi dapat memberikan hasil pemeriksaan positif. %

%ultur 'rganisme dapat diisolasi dari darah atau #ss hanya pada 1- hari pertama. +akteri tersebut biasanya di!umpai di urin selama minggu ke"$ dan kadang"kadang dari spesimen biopsi berbagai !aringan. .ian!urkan untuk melakukan kultur ganda dan mengambil spesimen pada fase leptospiremia serta belum diberi antibiotik. :ultur urin diambil setelah $", minggu onset penyakit. Pada spesimen yang terkontaminasi inokulasi he an dapat digunakan. % &nokulasi He'an *eknik yang sensitif untuk isolasi leptospira meliputi inokulasi intraperitoneal pada marmot muda dengan plasma atau urin segar. .alam beberapa hari dapat ditemukan leptospira didalam #airan peritonealC setelah he an itu mati 18"1,hari2 ditemukan lesi hemoragik pada banyak organ. % Serologi .iagnosis labolatorium leptospirosis biasanya ditegakkan dengan u!i serologi. Antibodi aglutinin dengan titer yang sangat tinggi timbul se#ara lambat pada infeksi leptospira dan men#apai pun#aknya pada minggu ke 5"8 setelah infeksi. Pemeriksaan untuk mendeteksi adanya leptospira dengan #epat adalah dengan pemeriksaan Polymerase 6hain 4ea#tion 1P642, sil0er stain atau fluros#ent antibody stain, dan mikroskop lapangan gelap.% 1.(. Etiologi >enus Leptospira yang termasuk dalam ordo Spirochaeta dari famili Trepanometaceae adalah bakteri yang berbentuk benang dengan pan!ang 6"1$<m. (aat ini terdapat minimal 18- serotipe dan 18 serogroup yang sudah teridentifikasi dan hampir setengahnya terdapat di Indonesia. 6iri khas organisme ini yakni berbelit, tipis, fleksibel, dengan spiral amat halus dan lebarnya -,1"-,$ <m.

)am*ar 1. Leptospira

:arena ukurannya yang sangat ke#il, leptospira hanya dapat dilihat dengan mikroskop medan gelap atau mikroskop elektron. +akteri leptospira berbentuk spiral dengan u!ung"u!ung seperti pengait. +entuk demikian membuat leptospira dapat bergerak sangat aktif ma!u, mundur, atau berkelok. +akteri ini peka terhadap asam. &eskipun didalam air ta ar dapat bertahan hidup sampai sekitar satu bulan, namun dalam air yang pekat, seperti air selokan, air ken#ing, atau air laut, leptospira akan #epat mati. Lingkungan yang sesuai untuk leptospira adalah daerah tropis dengan tanah lembab. +akteri ini dapat hidup sampai ,% hari pada tanah yang sesuai dan berminggu"minggu dalam air terutama air ta ar. (e#ara sederhana, genus leptospira terdiri atas dua spesies) L.interrogans yang patogen, dan L.biflexa yang non patogen. &elalui penelitian terbaru sudah ditemukan lebih dari $5- sero0ar yang tergabung dalam $% serogroup. +eberapa sero0ar L.interrogans yang dapat menginfeksi manusia diantaranya adalah) L.icterohaemorrhagiae, L.canicola, L.pomona, L.grippothyphosa, L.hebdomadis, peneliti, L.javanica, L.bataviae, yang L.celledoni, L.tarassovi, L.ballum, L.panama, L.pyrogenes, L.andamana, adalah L.automnalis, &enurut

L.shermani, L.ranarum, L.bufonis, L.copenhageni, L.australis, L.cynopteri, dan lain"lain. beberapa tersering menginfeksi manusia L.ichterohaemorrhagica dengan reser0oir tikus, L.canicola dengan reser0oir an!ing, dan L.pomona dengan reser0oir sapi dan babi.1"%,5,6

1.+. Epi"emiologi Leptospira tersebar diseluruh dunia, semua benua ke#uali benua antartika, namun banyak didaerah tropis. Leptospirosis adalah zoonosis penting dengan penyebaran luas yang mempengaruhi sedikitnya 16- spesies mamalia. *ikus, adalah reser0oir yang paling penting, alaupun mamalia liar yang lain yang sama dengan he an peliharaan dan domesti# dapat !uga memba a mikroorganisme ini. Leptospira meningkatkan hubungan simbiosis dengan hostnya dan dapat menetap pada tubulus renal selama beberapa tahun. *ransmisi leptospira dapat ter!adi melalui kontak langsung dengan urin, darah, atau !aringan dari he an yang terinfeksi atau paparan pada lingkunganC transmisi antar manusia !arang ter!adi. :arena leptospira diekresikan melalui urin dan dapat bertahan dalam air selama beberapa bulan, air adalah sarana penting dalam transmisinya. Apidemik leptospirosis dapat ter!adi melalui paparan air tergenang yang terkontaminasi oleh urin he an yang terinfeksi. Leptospirosis paling sering ter!adi di daerah tropis karena iklimnya sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan pathogen untuk bertahan hidup. Pada beberapa negara berkembang, leptospirosis tidak dianggap sebagai masalah. Pada tahun 1333, lebih dari 5--.--- kasus dilaporkan dari 6ina, dengan nilai #ase fatality ratesdari -,3 sampai 8,3B. .i +razil, lebih dari $8.--- kasus dilaporkan pada tahun yang sama.1"% &anusia tidak sering terinfeksi leptospirosis. Ada beberapa kelompok peker!aan tertentu yang memiliki resiko tinggi yaitu peker!a"peker!a di sa ah, pertanian, perkebunan, peternakan, peker!a tambang, peker!a di rumah potong he an atau orang" orang yang mengadakan perkemahan di hutan, dokter he an. (etiap indi0idu dapat terkena leptospirosis melalui paparan langsung atau kontak dengan air dan tanah yang terinfeksi. Leptospirosis !uga dapat dikenali dimana populasi tikus meningkat. Akti0itas air seperti berselan#ar, berenang, dan ski air, membuat seseorang beresiko leptospirosis. Pada tahun 1338, ke!adian luar biasa ter!adi diantara komunitas atlet. .iantara atlet tersebut, tertelan atau terhisapnya air men!adi fa#tor resiko. Penyakit ini bersifat musiman, didaerah beriklim sedang, masa pun#ak insiden di!umpai pada musim panas dan musim gugur karena temperatur adalah faktor yang mempengaruhi kelangsungan hidup leptospira, sedangkan didaerah tropis insiden tertinggi ter!adi selama musim hu!an.

(alah satu kendala dalam menangani leptospirosis berupa kesulitan dalam melakukan diagnostik a al. (ementara dengan pemeriksaan sederhana memakai mikroskop biasa dapat dideteksi adanya gerakan leptospira dalam urin. .iagnostik pasti ditegakkan setelah ditemukan leptospira pada urin atau u!i serologi positif. @ntuk dapat berkembang biak, leptospira memerlukan lingkungan optimal serta bergantung pada suhu yang lembab, hangat, P9 air/tanah yang netral, dimana kondisi ini ditemukan sepan!ang tahun di daerah tropis.1"% 1.,. Patogenesis Leptospira masuk kedalam tubuh melalui kulit atau selaput lendir, memasuki aliran darah dan berkembang, lalu menyebar se#ara luas ke !aringan tubuh. :emudian ter!adi respon imunologi baik se#ara selular maupun humoral sehingga infeksi ini dapat ditekan dan terbentuk antibodi spesifik. Walaupun demikian beberapa organisme ini masih dapat bertahan pada beberapa daerah yang terisolasi se#ara imunologi seperti didalam gin!al, hingga bakteri bisa hidup disana dan keluar melalui urin. Leptospira dapat di!umpai dalam urin sekirat 8 hari sampai seminggu setelah infeksidan sampai berbulan"bulan, bahkan bertahun"tahun kemudian. Leptospira dapat dihilangkan dengan fagositosit dan mekanisme humoral. :uman ini dengan #epat akan lenyap dari darah setelah terbentuknya aglutinin. (etelah fase leptospiremia, ,"8 hari, mikroorganisme hanya dapat ditemukan dalam !aringan gin!al dan okuler. Leptospiruria berlangsung 1", minggu. *iga mekanisme yang terlibat dalam patogenesis leptospira adalah) in0asi bakteri langsung, faktor inflamasi non spesifik, dan reaksi imunologi.1 .alam per!alanan pada fase leptospiremia, leptospira melepaskan toksik yang bertanggung !a ab atas ter!adinya keadaan patalogis pada beberapa organ. Lesi yang mun#ul akibat kerusakan pada lapisan endotel kapiler. Pada leptospirosis terdapat perbedaan antara dera!at gangguan fungsi organ dengan kerusakan se#ara histologik. Pada leptospirosis lesi histologik yang ringan ditemukan pada gin!al dan hati pasien dengan kelainan fungsional yang nyata dari organ tersebut. Perbedaan ini menun!ukkan bah a kerusakan bukan pada struktur. Lesi inflamasi menun!ukkan adanya edema dan infiltrasi sel monosit, limfosit, dan sel plasma. (elain digin!al, leptospira bisa bertahan di

otak dan mata. +akteri ini bisa masuk ke #airan serebrospinal dan ter!adi meningitis yang sering men!adi komplikasi. 1 &asa inkubasi $"$6 hari, biasanya 8"1% hari dan rata"rata 1- hari. Leptospirosis mempunyai dua fase penyakit yang khas, yaitu) 1. Dase Leptospiremia Dase ini ditandai dengan adanya leptospira didalam darah dan #airan serebrospinal, berlangsung se#ara tiba"tiba dengan ge!ala a al sakit kepala biasanya di frontal, rasa sakit pada otot yang hebat terutama pada paha, betis, pinggang disertai nyeri tekan. &ialgia dapat diikuti dengan hipertensi kulit, demam tinggi yang disertai menggigil, !uga didapati mual dengan atau tanpa muntah disertai men#ret, bahkan pada $5B kasus disertai penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan keadaan sakit berat, bradikardi relatif. .an ikterus 5-B. Pada hari ke %", dapat di!umpai adanya kon!ungti0a suffision dan fotofobia. Pada kulit dapat di!umpai rash yang berbentuk makular, makulopapular, atau urtikaria. :adang"kadang di!umpai splenomegali, hepatomegali, serta limfadenopati. Dase ini berlangsung ,"8 hari. Eika #epat ditangani pasien akan membaik, suhu kembali normal, penyembuhan organ"organ yang terlibat dan fungsinya kembali normal %"6 minggu setelah onset. Pada keadaan sakit lebih berat, demam turun setelah 8hari diikuti oleh bebas demam selama 1"% hari, setelah itu ter!adi demam kembali. :eadaan ini disebut fase kedua atau fase imun. 1"%,5,6 $. Dase Imun 1fase leptospirurik2 Dase ini ditandai dengan peningkatan titer antibodi, dapat timbul demamyang men#apai suhu ,--6 disertai menggigil dan kelemahan umum. *erdapat reasa sakit yang menyeluruh pada leher, perut, otot"otot kaki, terutama betis. *erdapat pendarahan berupa epistaksis, ge!ala kerusakan pada gin!al dan hati, uremia, ikterik.pendarahan paling !elas terlihat pada fase ikterik, purpura, pte#hiae, epistaksis, perdarahan gusi merupakan manifestasi perdarahan yang paling sering. 6on!ungti0a in!e#tion dan #on!ungti0al suffusion dengan ikterus merupakan tanda patognomosis untuk leptospirosis. *er!adinya meningitis merupakan tanda pada fase ini. Walaupun hanya 5-B ge!ala dan tanda meningitis, tetapi pleositosis pada 66( di!umpai pada 5-"3-B pasien.

*anda"tanda meningeal dapat menetap beberapa minggu tetapi biasanya hilang setelah 1"$ hari. Pada fase ini leptospira dapat ditemukan pada urin. 1"%,5,6 Leptospirosis dilihat dari sisi berat tidaknya ge!ala, dapat dibedakan men!adi) Leptospirosis anikterik +entuk leptospirosis yang ini lebih umum dan lebih ringan. (ebagian besar berupa subklinis. Pada fase pertama, hampir tidak pernah ter!adi kematian. .apat ter!adi fase ke $, namun dapat !uga tidak. *er!adinya nyeri kepala pada fase imun merupakan permulaan meningitis klinik. .an meningitis ini pula yang sering salah didioagnosa sebagai kelainan akibat 0irus. % Leptospirosis ikterik 1(indrom Weil2 (ering dikenal dengan sindrom eil, merupakan bentuk leptospirosis berat yang pada mulanya dikatakan akibat Leptospira icterohaemorrhagiae. *etapi ternayat dapat terlihat pada setiap serotipe Leprospira. Penyakit ini ditandai dengan gangguan fungsi gin!al dan fungsi hati, pendarahan, kolaps 0askular, penurunan kesadaran berat, dan adanya mortalitas tinggi. % 1.-. Pengo*atan Pengobatan suportif dengan obser0asi ketat untuk mendeteksi dan mengatasi keadaan dehidrsi, hipotensi, perdarahan, dan gagal gin!al sangat penting pada leptospirosis. >angguan fungsi gin!al umumnya dengan spontan akan membaik seiring membaiknya keadaan pasien. ;amun pada beberapa pasien membutuhkan tindakan hemodialisa temporer. Pemberian antibiotik harus dimulai se#epat mungkin, biasanya pemberian dalam , hari setelah onset #ukup efektif. Adapun beberapa antibiotik yang dapat digunakan dapat dilihat melalui tabel berikut) 1 *abel.$. Pengobatan pada leptospirosis1 Indikasi Leptospirosis ringan Leptospirosis sedang /berat 4egimen doksisiklin Ampisilin Amoksisilin Penisilin > .osis $ = 1-- mg , = 5--"85- mg , = 5-- mg 1,5!uta unit / 6!am 1i.02

:emoprofilaksis

Ampisilin Amoksisilin .oksisiklin

1 gr / 6!am 1i.02 1gr / 6!am 1i.02 $-- mg/minggu

Pada kasus ringan masih diberikan melalui oral, sedangkan dalam kasus berat diberikan melalui intra0ena. (ampai saat ini, penisilin masih merupakan antibiotik pilihan utama. Perlu diingat bah a antibiotika bermanfaat !ika masih berada dalam darah 1fase leptospiremia2. *indakan suportif diberikan sesuai dengan keparahan penyakit dan komplikasi yang timbul. :eseimbangan #airan, elektrolit, dan asam basa diatur sebagaimana pada penanggulangan gagal gin!al se#ara umum. :alau ter!adi uremia berat, sebaiknya dilakukan dialisis. 1 1.1.. %omplikasi

:omplikasi Leptospirosis antara lain) ,,6 &eningitis ) gangguan neurologi terbanyak sebagai komlikasi Pada hati ) kekuningan yang ter!adi pada hari ke , dan ke 6 Pada gin!al ) gagal gin!al yang dapat menyebabkan kematian. Pada !antung ) berdebar tidak teratur, !antung membengkak dan gagal !antung yang dapat mengikabatkan kematian mendadak. Pada paru"paru ) batuk darah, nyeri dada, sesak nafas. Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernafasan, saluran pen#ernaan, gin!al, saluran genitalia, dan mata 1kon!ungti0a2. Pada kehamilan ) keguguran, prematur, bayi lahir #a#at dan lahir mati. 1.11. Pen/ega0an

Pen#egahan leptospirosis khususnya didaerah tropis sangat sulit. +anyaknya hospes perantara dan !enis serotipe sulit untuk dihapuskan. Pen#egahan pada manusia !uga sulit karena tidak memungkinkan menghilangkan reser0oir infeksi yang besar pada he an.1,$ Pen#egahan penyakit dilakukan dengan men#egah kontak dengan air yang se#ara potensial terkontaminasi dan dengan mengurangi kontaminasi melalui pengendalian rodensia. Perlu dilakukan sanitasi lingkungan terutama didaerah peternakan, pemotongan he an, atau di kolam renag. :ampanye rumah antitikus !uga perlu dilakukan. +agi para

peker!a yang ra an terkontaminasi bakteri, harus diperlengkapi dengan sepatu bot, sarung tangan, masker, dan ba!u pelindung. Imunisasi bagi orang yang sering berhubungan dengan he an penular !uga perlu dilakukan.1,% Penyuluhan tentang higiene pribadi serta penularan penyakit akan membantu dalam pen#egahan. :e aspadaan petugas kesehatan dapat ditingkatkan dalam situasi pas#aban!ir, mengisolasi he an sakit, daerah sebagai upaya pen#egahan penyebaran penyakit.% (e#ara nyata, beberapa hal yang dapat kita lakukan dan an!urkan pada masyarakat, antara lain) 1. Fang peker!aannya menyangkut binatang) *utupilah luka dan le#et dengan balut kedap air. Pakailah pakaian pelindung misalnya sarung tangan, pelindung atau perisai mata, !ubah kain dan sepatu bila menangani binatang yang mungkin terkena, terutama !ika ada kemungkinan menyentuh air seninya. Pakailah sarung tangan !ika menangani ari"ari he an, !aninnya yang mati di dalam maupun digugurkan atau dagingnya. &andilah sesudah beker!a dan #u#ilah serta keringkan tangan sesudah menangani apa pun yang mungkin terkena. Eangan makan atau merokok sambil menangani binatang yang mungkin terkena. 6u#i dan keringkan tangan sebelum makan atau merokok. Ikutilah an!uran dokter he an kalau memberi 0aksin kepada he an.%,, $. @ntuk yang lain) 9indarkanlah berenang di dalam air yang mungkin di#emari dengan air seni binatang. *utupilah luka dan le#et dengan balut kedap air terutama sebelum bersentuhan dengan tanah, lumpur atau air yang mungkin di#emari air ken#ing binatang. Pakailah sepatu bila keluar terutama !ika tanahnya basah atau berlumpur. Pakailah sarung tangan bila berkebun%,, &embiasakan diri dengan Perilaku 9idup +ersih dan (ehat 1P9+(2 isata 1perlindungan dari urin he an2, 0aksinasi he an piaraan, serta mengkontrol 0ektor. :e aspadaan perlu ditingkatkan

&enyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus. &en#u#ui tangan dengan sabun sebelum makan. &en#u#ui tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah beker!a di sa ah/ kebun/sampah/tanah/selokan dan tempat"tempat yang ter#emar lainnya. &elindungi peker!a yang berisiko tinggi terhadap leptospirosis 1petugas kebersihan, petani, petugas pemotong he an, dan lain"lain2 dengan menggunakan sepatu bot dan sarung tangan. &en!aga kebersihan lingkungan &embersihkan tempat"tempat air dan kolam renang. &enghindari adanya tikus di dalam rumah/gedung. &enghindari pen#emaran oleh tikus. &elakukan desinfeksi terhadap tempat"tempat tertentu yang ter#emar oleh tikus &eningkatkan penangkapan tikus. 1.12. Prognosis

(e#ara umum, apabila kasus ditangani dengan baik dan dengan pemberian pera atan sesuai yang dian!urkan memiliki prognosis baik. Eika tak ada ikterus, penyakit !arang fatal. Pada kasus dengan ikterus, angka kematian 5B pada umur diba ah %- tahun dan meningkat pada usia lan!ut 1%-",-B2. :ematian sering ter!adi akibat !audisme, dengan komplikasi gagal gin!al akut dan kegagalan pernafasan akut.1,,,6

PEN1T1P
1.13. %esimpulan *uan + yang mengalami panas tinggi menggigil se!ak , hari yang lalu se#ara terus menerus disertai myalgia pada betis dan ikterus menderita leptospirosis, fase leptospiremia. +akteri leptospira masuk kedalam tubuh saat ban!ir ter!adi. +ila ditangani dengan #epat dan tepat, prognosis baik.