Anda di halaman 1dari 43

SNI Sistem Pangan Organik (SNI-01-6729-2002)

a.k.seta

Kenapa perlu SNI?


Adanya banyak mahzab pertanian organik di masyarakat perlu acuan tunggal yang berlaku nasional namun diakui internasional. Sebagai pedoman (minimal) untuk sertifikasi dan pelabelan.

a.k.seta

Definisi Pertanian Organik

sistem manajemen produksi holistik yang meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agro-ekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah.

a.k.seta

Pangan Organik?
bukan product claim, namun process claim !!
pelabelan pengolahan produksi

pemasaran

Shipping? Placing? dll.

Sertifikasi dll.

Benih/ bibit? Lahan? Kesuburan tanah? Hama, penyakit, gulma?

Ingredients? Packaging? dll.

a.k.seta

PEDOMAN SISTEM PRODUKSI TANAMAN ORGANIK

a.k.seta

A
Benih/ Bibit
Prinsip: Benih/ bibit yang digunakan harus sesuai dengan agro-ekosistem yang ada, tahan terhadap hama dan penyakit, dan berasal dari produk pertanian organik.

a.k.seta

1. Benih/ bibit yang digunakan untuk produksi pertanian organik tidak boleh berasal dari produk rekayasa genetika (genetically modified organisms = GMO).

2. Benih/ bibit yang digunakan untuk produksi pertanian organik harus berasal dari produk pertanian organik.
3. Jika benih/bibit organik tidak tersedia maka:

a) Pada tahap awal dapat digunakan benih atau bibit yang tidak dikenai perlakuan dengan bahan-bahan yang dilarang digunakan untuk produksi pertanian organik;
b) Jika tidak ada, bisa digunakan benih atau bibit yang diberi perlakuan dengan bahan-bahan yang direkomendasikan penggunaannya untuk produksi pertanian organik.
a.k.seta

Produksi bibit / pembenihan


DISARANKAN
Media: Tanah bebas kontaminasi, palm peat, & serbuk gergaji organik. Irigasi air alami Legum inokulan Mycorhizal inokulan Fumigasi: Sterilisasi uap

DIBATASI

DILARANG

o Media: Pasir sungai, Media: Sistem gambut dan tanah hidroponik o Foliar feeding Disiram dengan air dicampur pupuk o Kalium permanganat kimia o Seng oksida Fumigasi menggunakan methyl bromide Penggunaan bahan GMO

a.k.seta

Lahan

1. Lahan yang digunakan untuk produksi pertanian organik harus bebas dari bahan kimia sintetis (pupuk dan pestisida).
2. Jika lahan yang akan digunakan untuk produksi pertanian organik berasal dari lahan yang sebelumnya digunakan untuk produksi pertanian non-organik, maka lahan tersebut harus dilakukan konversi dengan ketentuan sebagai berikut:
Prinsip: Masa konversi harus cukup lama hingga terbentuk kesuburan tanah untuk menunjang sistem pengengolaan pertanian organik.

a.k.seta

a) Untuk tanaman semusim diperlukan masa konversi minimal 2 (dua) tahun sedangkan untuk tanaman tahunan diperlukan masa konversi minimal 3 (tiga) tahun. Bergantung pada situasi dan kondisi yang ada, masa konversi bisa diperpanjang atau diperpendek namun masa konversinya tidak boleh kurang dari 12 bulan; b) Lahan yang telah dikonversi atau yang sedang dikonversi ke produksi organik tidak boleh dirubah bolak-balik antara organik dan konvensional. c) Jika dalam suatu hamparan, konversi lahan tidak dilakukan pada saat yang bersamaan, maka perlu ada pemisahan yang tegas antara lahan organik dan non-organik untuk menghindari kontaminasi dari lahan non-organik ke lahan organik.
a.k.seta

Konversi Dilakukan Secara Gradual


Musim Tanam Uraian I Pupuk organik (kg/ha) 2.100 1998 II 2.100 III 1.950 1999 IV 1.800 V 1.800 2000 VI 1.800 VII 1.800 2001 VIII 1.500

Pupuk kimia (kg/ha)


Biaya produksi (000Rp.)

195
5.169

150
5.165

105
5.207

60
5.091

0
5.269

0
5.248

0
5.080

0
5.230

PENDAPATAN : GKP (kg/ha) Pendapatan (000Rp.) 5.460 7.581 5.700 8.122 5.850 8.244 6.000 7.810 6.150 8.005 6.150 8.005 6.150 8.005 7.089 11.073

KEUNTUNGAN (000 Rp)

2.412

2.956

3.037

2.718

2.736

2.757

2.925

5.842

Sumber: Studi teknik konversi lahan padi organik di Kec. Gondang, Kab. Sragen.

3. Tanaman yang tumbuh secara alami (wild grown) dapat dianggap sebagai produk organik apabila: .
a) Areal tersebut jelas lokasinya sehingga bisa dilakukan inspeksi atau sertifikasi;

b) Areal tersebut tidak pernah mendapatkan atau terkontaminasi dengan bahan-bahan yang dilarang digunakan untuk pertanian organik selama tiga tahun terakhir; c) Pemanenannya tidak mengganggu stabilitas habitat alami (tetap menjaga spesies yang ada).

a.k.seta

C
Manajemen Kesuburan Tanah
Prinsip: Peningkatan atau penjagaan kesuburan dan aktivitas biologi tanah dilakukan terutama dengan mengembalikan bahan organik dari tanaman dan binatang.

a.k.seta

1. Kesuburan dan aktivitas biologis tanah harus dijaga atau ditingkatkan, dengan cara: a) Ditanami dengan tanaman legum, atau yang punya perakaran dalam melalui program rotasi tahunan yang sesuai; b) Mencampur bahan organik dalam tanah, baik dikompos atau tidak, sesuai aturan yang ditetapkan. Hasil samping dari usahatani ternak, seperti kotoran, dapat digunakan asalkan mereka berasal dari sistem produksi yang sesuai dengan pedoman ini;
a.k.seta

c) Untuk pengaktifan kompos, micro-organisme atau bahan-bahan yang berbasis tanaman yang tepat dapat digunakan; d) Bahan biodinamik, dari stone meal, kotoran hewan atau tanaman dapat digunakan untuk penyubur tanah. 2. Bahan-bahan yang diijinkan digunakan untuk penyubur tanah dan soil conditioner telah ditentukan.

a.k.seta

Bahan penyubur tanah


A. DISARANKAN
Penggunaan legume Kompos hasil pertanian organik Manure hasil pertanian organik Penggunaan inokulan rhizobium dan mycorrhizae dengan media organik

B. DIBATASI
Dasar: Jika penggunaan bahan yang disarankan tidak ada/mencukupi kebutuhan; Terbatas dosis penggunaannya dan dihentikan jika sudah cukup tujuannya; Diperlukan uji laboratorium dan lapang; Dampak lingkungan menjadi perhatian utama.
a.k.seta

penyubur tanah B. DIBATASI


Bahan: Batuan alam; Peat (gambut) Kompos selain dari non-pertanian organik Manure dari non-pertanian organik Produk perikanan/kelautan: Seaweed Fish by product Produk hewan: Bone meal Meat/blood meal Urine Basig slag dan coal dust Trace elements Hasil samping industri gula.
a.k.seta

penyubur tanah C. DILARANG


Pupuk & Bahan Kimia Sintetis: Superfosfat Urea Amonium sulfat Kalium klorida (KCl) Kalium nitrat Kalsium nitrat Pupuk & bahan kimia sintetis lainnya EDTA chelate Synthetic rooting agent Plant growth regulator dan hormon Biakan mikroba yang menggunakan media kimia sintetis Semua bahan yang berasal dari GMO.
a.k.seta

Pre-treated

Soil amendment
LT mixture : a mixed organic compd. Bacillus sp. shrimp & crab shell (40%), castor bean pomace (40%), seaweed powder (10%), soybean powder (5%) molasses (5%). (for control of root rot & citrus nematodes)
(Dr. Tsay )

1 year after

3 years after

D
Pengendalian Hama, Penyakit, dan Gulma
Prinsip: Pertanian organik mengedepankan cara biologis, mekanis dan kultural dalam pengendalian hama, penyakit dan gulma.

a.k.seta

1. Hama, penyakit, dan gulma harus dikendalikan dengan salah satu atau kombinasi dari cara-cara berikut:
a) Pemilihan spesies dan varietas yang sesuai ;

b) Program rotasi yang tepat ;


c) Pengolahan tanah secara mekanis ; d) Proteksi dengan menggunakan musuh alami melalui pemberian habitat yang cocok, seperti misalnya sarang dan tempat menetas, zona bufer ekologi yang menjaga vegetasi alami sebagai rumah bagi predator hama.

a.k.seta

e) Flame weeding.

f) Musuh alami termasuk pelepasan predator dan parasit. g) Cara-cara biodinamik dengan stone meal, kotoran hewan atau tanaman. h) Mulsa dan pemangkasan. i) Penggembalaan ternak. j) Pengendalian mekanis seperti perangkap, pemisah, sinar dan suara. k) Sterilisasi dengan uap jika rotasi tidak dapat dilakukan.
a.k.seta

2. Jika serangan hama, penyakit dan gulma sangat berat dan tidakan yang dilakukan dengan cara-cara tersebut di atas dianggap kurang memadai, maka perlu dilakukan dengan cara-cara lain yang diperkenankan dalam produksi pertanian organik (lihat Tabel 2 tentang Bahan-Bahan Yang Diijinkan Digunakan Untuk Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Dalam Sistem Produksi Pertanian Organik).

a.k.seta

Bahan pengendali hama & penyakit


A. DISARANKAN
Di Di lahan: Perangkap mekanis Plant-based repellent Pestisida nabati Propolis Potassium soap gudang & selama pengangkutan: Pembatas fisik (physical barrier) Suara (termasuk ultra sound) Pencahayaan (termasuk ultra violet) Perangkap (termasuk pheromone) Pengendalian suhu Pengendalian udara (penggunaan CO2) Bahan-bahan diatomaceous earth.
a.k.seta

Bahan pengendali hama & penyakit


B. DIBATASI
Bacillus turingiensis Pengendalian biologis (ada historical release) Pheromones (in traps) Pyrethrum Nimba Rotenone Bordeaux Sulfur (alam) Kalium permanganat (untuk seed dressing)

C. DILARANG
Semua pestisida sintetik Semua yang berasal dari GMO
a.k.seta

Protected facilities, net & vinyl house Use of tunnel covered with plastic sheets to protect plants from water-borne pathogens

Use of net house (pore size, 28 mesh) to protect papaya trees from papaya ringspot virus

Fruit bagging
Bagging fruit against pests (diseases, insects, birds, snails, etc) and for production high quality and non-polluted fruits

Grape fruit bagging

Bagging mango fruit in early stage to prevent anthracnose

Physical control

Temperature & steam


Hot water treatment: Dip mango fruit in 60 for 20 sec, reduce mango fruit anthracnose transferred to private Co. for commercial use.

CK

60/20 sec

(1). Antagonistic microorganisms


i. Microorganisms used in Taiwan

Bacillus cerus & B. subtilis :


root knot nematodes, powdery mildew

Pseudomonas spp. Streptomycin spp.

Trichoderma & Glocladium spp.:


Pythium & Rhizoctonia root rot

Trichoderma

Control of melon root and stem rot with Trichoderma virens at early stage CK

Yellow sticky cards


Monitoring population of leaf miners, aphids, thrips and whiteflies Practically controlling Liriomyza flies & whiteflies in vinyl house (vegetables & gerbera)

PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN PASCA PANEN PRODUK PANGAN ORGANIK

a.k.seta

A. Pedoman Umum:
1. Integritas produk pangan organik harus tetap dijaga selama proses pasca panen dengan menggunakan cara-cara yang tepat dan hati-hati untuk menjaga kemurnian produk pangan organik; 2. Penggunaan beberapa bahan aditif dan alat bantu pengolahan diijinkan asal sesuai dengan yang tertera dalam Tabel 3 dan 4; 3. Penggunaan radiasi ion (ionizing radiation) untuk pengendalian hama, pengawetan makanan, penghilangan patogen atau sanitasi, tidak boleh dilakukan pada produk pangan oganik.

a.k.seta

B. Pengendalian Hama:
1. Pengendalian hama harus dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: Tindakan pencegahan, seperti penghilangan habitat (sarang hama), harus menjadi cara utama dalam pengelolaan hama;

Jika tindakan pencegahan tersebut dianggap tidak cukup, pilihan pertama pengendalian hama adalah dengan menggunakan cara mekanis/fisik dan biologis;
Jika penggunaan cara mekanis/fisik atau biologis dianggap tidak cukup, maka penggunaan pestisida yang diijinkan dalam sistem produksi pertanian organik dapat dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati untuk menghindari kontaminasi.
a.k.seta

... Pengendalian Hama:

2.

Hama harus dihindari dengan praktek manufaktur yang baik (good manufacturing practice). Tindakan pengendalian hama dalam tempat penyimpanan atau kontainer untuk pengangkutan produk pangan organik dapat dilakukan dengan pemisah fisik atau perlakuan yang lain seperti penggunaan suara (sound), ultrasound, pencahayaan, pencahayaan dengan ultraviolet, perangkap, pengendalian suhu, pengendalian udara (dengan karbon dioksida, oksigen, nitrogen), dan dengan menggunakan diatomeous earth. Penggunaan pestisida yang tidak tercantum dalam Bahan Yang Diijinkan Digunakan Untuk Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman (lihat dokumen Pedoman Sistem Produksi Pertanian Organik) untuk kegiatan pasca panen dan karantina tidak diijinkan.

3.

a.k.seta

C. Pemrosesan dan Manufaktur:


Metode pemrosesan bahan pangan organik harus dilakukan secara: 1. Mekanis/fisik, atau; 2. Biologis (seperti fermentasi dan pengasapan), serta

3. Meminimalkan penggunaan bahan-bahan aditif dan ingredient non-pertanian sebagaimana diuraikan dalam Tabel 3 dan 4.

a.k.seta

D. Pengemasan:
Bahan kemasan sebaiknya dipilih dari bahan yang :

1. Dapat diuraikan oleh mikroorganisme (biodegradable materials);


2. Bahan hasil daur-ulang (recycled materials); 3. Bahan yang dapat didaur-ulang (recyclable materials); 4. Tidak terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia yang penggunaannya dilarang dalam sistem pertanian organik.

a.k.seta

E. Penyimpanan & Pengangkutan:


1. Integritas produk pangan organik harus dipelihara selama penyimpanan dan pengangkutan, serta ditangani dengan menggunakan tindakan pencegahan sebagai berikut: Produk pangan organik harus dilindungi setiap saat agar tidak tercampur dengan produk pangan non-organik; dan Produk pangan organik harus dilindungi setiap saat agar tidak tersentuh bahan-bahan yang tidak diijinkan untuk digunakan dalam sistem produksi pertanian organik dan penanganannya.

a.k.seta

Penyimpanan dan Pengangkutan :

2. Penyimpanan produk pangan organik dalam jumlah besar harus dipisahkan dari penyimpanan produk pangan non-organik dan harus diberi label secara jelas untuk menghindari pencampuran; 3. Tempat penyimpanan dan kontainer untuk pengangkutan produk pangan organik harus dibersihkan dulu dengan menggunakan metode dan bahan yang diijinkan digunakan untuk sistem produksi pertanian organik. Jika tempat penyimpanan atau kontainer yang akan digunakan tidak hanya digunakan untuk produk pangan oganik, maka harus dilakukan tindakan pengamanan agar produk pangan organik tidak terkontaminasi.
a.k.seta

F. Perdagangan:
1. Produk organik, baik segar maupun olahan, yang diimpor dari negara lain dapat dipasarkan hanya jika otoritas kompeten di negara pengekspor telah mengeluarkan sertifikat inspeksi yang menyatakan bahwa seluruh produk yang dicantumkan dalam sertifikat diperoleh dengan cara-cara yang sesuai dengan sistem produksi, preparasi, pemasaran dan inspeksi yang disyaratkan; 2. Sertifikat sebagaimana yang dinyatakan dalam butir (1) di atas harus disertakan dengan barang yang dikirim ke penerimanya (importir). Importir harus menyimpan sertifikat transaksi tersebut paling sedikit 2 (dua) tahun untuk keperluan inspeksi / audit.
a.k.seta

... Perdagangan:

3. Keaslian produk impor tersebut harus dijaga hingga ke konsumen. Jika impor produk organik tidak sesuai dengan regulasi pangan organik yang telah dikeluarkan karena adanya perlakuan yang ditetapkan oleh suatu negara untuk tujuan karantina yang tidak sesuai dengan regulasi pangan organik, maka produk tersebut kehilangan status organiknya;

a.k.seta

... Perdagangan:

4.

Negara pengimpor dapat: Meminta informasi detil, termasuk laporan yang dibuat oleh lembaga/ahli independen, tentang tatacara yang diterapkan oleh negara pengekspor dalam hal sistem produksi organik untuk memutuskan bahwa sistem yang dianut benar-benar sesuai dengan yang berlaku di negara pengimpor; Bersama-sama dengan negara pengekspor melakukan kunjungan lapang (site visit) untuk memeriksa tatacara tentang produksi, preparasi, serta inspeksi dan sertifikasi yang diterapkan di negra pengekspor; Meminta produk yang diimpor dilabel sesuai dengan peraturan pelabelan produk organik yang berlaku di negara pengimpor.
a.k.seta

terima kasih
a.k.seta