Anda di halaman 1dari 7

Diagnosis ISPA Diagnosis etiologi pnemonia pada balita sulit untuk ditegakkan karena dahak biasanya sukar diperoleh.

Sedangkan prosedur pemeriksaan imunologi belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan adanya bakteri sebagai penyebab pnemonia, hanya biakan spesimen fungsi atau aspirasi paru serta pemeriksaan spesimen darah yang dapat diandalkan untuk membantu menegakkan diagnosis etiologi pnemonia. Pemeriksaan cara ini sangat efektif untuk mendapatkan dan menentukan jenis bakteri penyebab pnemonia pada balita, namun disisi lain dianggap prosedur yang berbahaya dan bertentangan dengan etika (terutama jika semata untuk tujuan penelitian). Dengan pertimbangan tersebut, diagnosa bakteri penyebab pnemonia bagi balita di Indonesia mendasarkan pada hasil penelitian asing (melalui publikasi W !), bah"a Streptococcus Pneumonia dan Haemophylus influenzae merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada penelitian etiologi di negara berkembang. Di negara maju pnemonia pada balita disebabkan oleh #irus. Diagnosis pnemonia pada balita didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur. Penentuan nafas cepat dilakukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan dengan menggunkan sound timer. $atas nafas cepat adalah % a. Pada anak usia kurang & bulan frekuensi pernafasan sebanyak '( kali permenit atau lebih. b. Pada anak usia & bulan ) *+ tahun frekuensi pernafasan sebanyak ,( kali per menit atau lebih. c. Pada anak usia + tahun ) *, tahun frekuensi pernafasan sebanyak -( kali per menit atau lebih. Diagnosis pneumonia berat untuk kelompok umur kurang & bulan ditandai dengan adanya nafas cepat, yaitu frekuensi pernafasan sebanyak '( kali per menit atau lebih, atau adanya penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah ba"ah ke dalam. .ujukan penderita pnemonia berat dilakukan dengan gejala batuk atau kesukaran bernafas yang disertai adanya gejala tidak sadar dan tidak dapat minum. Pada klasifikasi bukan pneumonia maka diagnosisnya adalah batuk pilek biasa (common cold), faringitis, tonsilitis, otitis atau penyakit non)pnemonia lainnya. Faktor Yang Mempengaruhi Penyakit ISPA a. Agent

Infeksi dapat berupa flu biasa hingga radang paru)paru. /ejadiannya bisa secara akut atau kronis, yang paling sering adalah rinitis simpleks, faringitis, tonsilitis, dan sinusitis. .initis simpleks atau yang lebih dikenal sebagai selesma0common cold0kori1a0flu0pilek, merupakan penyakit #irus yang paling sering terjadi pada manusia. Penyebabnya adalah #irus 2y3o#irus, 4o3sackie, dan 5cho. $erdasarkan hasil penelitian Isbagio (&((6), mendapatkan bah"a bakteri Streptococcus pneumonie adalah bakteri yang menyebabkan sebagian besar kematian - juta balita setiap tahun di negara berkembang. Isbagio ini mengutip penelitian W ! dan 78I459 tahun +::', di Pakistan didapatkan bah"a :,; S.pneumococcus kehilangan sensiti#itas paling sedikit pada satu antibiotika, hampir ,(; dari bakteri yang diperiksa resisten terhadap kotrimoksasol yang merupakan pilihan untuk mengobati infeksi pernafasan akut. Demikian pula di <rab Saudi dan Spanyol '(; S.pneumonie ditemukan resisten terhadap antibiotika. $erdasarkan hasil penelitian Parhusip (&((-), yang meneliti spektrum dari +(+ penderita infeksi saluran pernafasan bagian ba"ah di $P- 2edan didapatkan bah"a semua penderita terlihat hasil biakan positif, pada dua penderita dijumpai tumbuh dua galur bakteri sedangkan yang lainnya hanya tumbuh satu galur. $akteri gram positif dijumpai sebanyak ,galur (,&,-;) dan bakteri gram negatif -: galur (-=,';). Dari hasil biakan terlihat bah"a yang terbanyak adalah bakteri Streptococcus #iridans 6> galur sebesar 6',>:;, diikuti oleh 5nterobacter aerogens +: galur sebesar +>,-,;, Pseudomonas aureginosa +' galur sebesar +,,,6;, /lebsiella sp +- galur sebesar +6,,:;, Stapilococcus aureus +6 galur sebesar +&,'&;, Pneumococcus & galur sebesar +,:-;, dan Sreptococcus pneumonie + galur sebesar (,:=;. b. Manusia b.1. Umur $erdasarkan hasil penelitian Daulay (+:::) di 2edan, anak berusia diba"ah & tahun mempunyai risiko mendapat ISP< +,- kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang lebih tua. /eadaan ini terjadi karena anak di ba"ah usia & tahun imunitasnya belum sempurna dan lumen saluran nafasnya masih sempit. $erdasarkan hasil penelitian 2aya di .S aji 2edan (&((-), didapatkan bah"a proporsi balita penderita pneumonia yang ra"at inap dari tahun +::> sampai tahun &((& terbesar pada kelompok umur & bulan ) *, tahun adalah :+,+;. Demikian juga penelitian 2aafdi di .S <d#ent 2edan tahun &((', didapatkan bah"a proporsi balita penderita

pneumonia terbesar pada kelompok umur & bulan ) *, tahun sebesar >&,+;, sementara kelompok umur *& bulan sebesar +=,:;. b.2. Jenis Ke amin $erdasarkan hasil penelitian /artasasmita (+::6), menunjukkan bah"a tidak terdapat perbedaan pre#alensi, insiden maupun lama ISP< pada laki)laki dibandingkan dengan perempuan. 8amun menurut beberapa penelitian kejadian ISP< lebih sering didapatkan pada anak laki)laki dibandingkan anak perempuan, terutama anak usia muda, diba"ah ' tahun. 2enurut ?len1en dan Deeny, anak laki)laki lebih rentan terhadap ISP< yang lebih berat, dibandingkan dengan anak perempuan. $erdasarkan hasil penelitian De"i, dkk di /abupaten /laten (+::'), didapatkan bah"a sebagian besar kasus terjadi pada anak laki)laki sebesar ,>,:=;, sementara untuk anak perempuan sebesar -+,(6;. b.!. Status "i#i Di banyak negara di dunia, penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama kematian terutama pada anak diba"ah usia , tahun. <kan tetapi anak)anak yang meninggal karena penyakit infeksi itu biasanya didahului oleh keadaan gi1i yang kurang memuaskan. .endahnya daya tahan tubuh akibat gi1i buruk sangat memudahkan dan mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh. Status ?i1i (PS?) anak balita dengan mengukur berat badan terhadap umur. Status gi1i diklasifikasikan menjadi -, yaitu% +) ?i1i lebih % bila @ASkor terletak B C& SD &) ?i1i $aik % bila @ASkor terletak diantara D )& SD s0d C& SD 6) ?i1i kurang % bila @ASkor terletak pada * )& SD s0d D ) 6 SD -) ?i1i $uruk % bila @ASkor terletak * )6 SD.&' b.$. %erat %a&an 'ahir $erat $adan Eahir .endah ($$E.) ditetapkan sebagai suatu berat lahir *&.,(( gram. 2enurut Fuminah (+:::), bayi dengan $$E. mempunyai angka kematian lebih tinggi dari pada bayi dengan berat D&,(( gram saat lahir selama tahun pertama kehidupannya. Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar akibat infeksi pada bayi baru lahir. b.(. Status ASI )ksk usi*

<ir Susu Ibu (<SI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi kaya akan faktor antibodi untuk mela"an infeksi)infeksi bakteri dan #irus, terutama selama minggu pertama (-)' hari) payudara akan menghasilkan kolostrum, yaitu <SI a"al mengandung 1at kekebalan (Imunoglobulin, Eiso1im, Eaktoperin, bifidus factor dan sel)sel leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari infeksi. $ayi (()+& bulan) memerlukan jenis makanan <SI, susu formula, dan makanan padat. Pada enam bulan pertama, bayi lebih baik hanya mendapatkan <SI saja (<SI 5ksklusif) tanpa diberikan susu formula. 7sia lebih dari enam bulan baru diberikan makanan pendamping <SI atau susu formula, kecuali pada beberapa kasus tertentu ketika anak tidak bisa mendapatkan <SI, seperti ibu dengan komplikasi postnatal. b.+. Status Imunisasi Imunisasi adalah suatu upaya untuk melindungi seseorang terhadap penyakit menular tertentu agar kebal dan terhindar dari penyakit infeksi tertentu. Pentingnya imunisasi didasarkan pada pemikiran bah"a pencegahan penyakit merupakan upaya terpenting dalam pemeliharaan kesehatan anak. Imunisasi bermanfaat untuk mencegah beberapa jenis penyakit seperti, P!EI! (lumpuh layu), F$4 (batuk berdarah), difteri, li#er (hati), tetanus, pertusis. $ahkan imunisasi juga dapat mencegah kematian dari akibat penyakit)penyakit tersebut. Gad"al pemberian imunisasi sesuai dengan yang ada dalam /artu 2enuju Sehat (/2S) yaitu $4? % ()++ bulan, DPF 63 % &)++ bulan, Polio -3 % ()++ bulan, 4ampak +3 % :)++ bulan, epatitis $ 63 % ()++ bulan. Selang "aktu pemberian imunisasi yang lebih dari +3 adalah - minggu. ,.'ingkungan -.1. Suhu .uangan Salah satu syarat fisiologis rumah sehat adalah memiliki suhu optimum +>)6(H4. al ini berarti, jika suhu ruangan rumah diba"ah +>H4 atau diatas 6(H4 keadaan rumah tersebut tidak memenuhi syarat. Suhu ruangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan menjadi faktor risiko terjadinya ISP< pada balita sebesar - kali. -.2. /enti asi Ientilasi rumah mempunyai banyak fungsi. 9ungsi pertama adalah menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. al ini berarti keseimbangan !& yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga. /urangnya #entilasi akan

menyebabkan kurangnya !& di dalam rumah yang berarti kadar 4!& yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi meningkat. Sirkulasi udara dalam rumah akan baik dan mendapatkan suhu yang optimum harus mempunyai #entilasi minimal +(; dari luas lantai. -.!. Penggunaan Anti 0yamuk Penggunaan <nti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena menghasilkan asap dan bau tidak sedap. <danya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru) paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan. 2.1. Pen-egahan Penyakit ISPA Penyelenggaraan Program P& ISP< dititikberatkan pada penemuan dan pengobatan penderita sedini mungkin dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat terutama kader, dengan dukungan pelayanan kesehatan dan rujukan secara terpadu di sarana kesehatan yang terkait. 2.1.1. Pen-egahan 2ingkat Pertama 3Primary Prevention4 Inter#ensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat dianggap sebagai strategi untuk mengurangi kesakitan (insiden) pneumonia. Fermasuk disini ialah % a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal)hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISP<. /egiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISP<, penyuluhan <SI 5ksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gi1i seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan kesehatan lingkungan rumah, penyuluhan bahaya rokok b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka kesakitan (insiden) pneumonia c. 7saha di bidang gi1i yaitu untuk mengurangi malnutrisi, defisiensi #itamin < d. Program /I< yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir rendah e. Program Penyehatan Eingkungan Pemukiman (PEP) yang menangani masalah polusi di dalam maupun di luar rumah 2.1.2. Pen-egahan 2ingkat Ke&ua 3Secondary Prevention4

7paya penanggulangan ISP< dilakukan dengan upaya pengobatan sedini mungkin. 7paya pengobatan yang dilakukan dibedakan atas klasifikasi ISP< yaitu % a. 7ntuk kelompok umur * & bulan, pengobatannya meliputi % a.+. Pneumonia $erat% ra"at dirumah sakit, beri oksigen (jika anak mengalami sianosis sentral, tidak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada yang hebat), terapi antibiotik dengan memberikan ben1ilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin. a.& $ukan Pneumonia% terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan, nasihati ibu untuk menjaga agar bayi tetap hangat, memberi <SI secara sering, dan bersihkan sumbatan pada hidung jika sumbatan itu menggangu saat memberi makan. b. 7ntuk kelompok umur & bulan ) *, tahun, pengobatannya meliputi % b.+ Pneumonia Sangat $erat% ra"at di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan memberikan kloramfenikol secara intramuskular setiap ' jam. <pabila pada anak terjadi perbaikan (biasanya setelah 6), hari), pemberiannya diubah menjadi kloramfenikol oral, obati demam, obati mengi, pera"atan suportif, hati)hati dengan pemberian terapi cairan, nilai ulang dua kali sehari. b.& Pneumonia $erat% ra"at di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan memberikan ben1ilpenesilin secara intramuskular setiap ' jam paling sedikit selama 6 hari, obati demam, obati mengi, pera"atan suportif, hati)hati pada pemberian terapi cairan, nilai ulang setiap hari. b.6 Pneumonia% obati di rumah, terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol, ampisilin, amoksilin oral, atau suntikan penisilin prokain intramuskular per hari, nasihati ibu untuk memberikan pera"atan di rumah, obati demam, obati mengi, nilai ulang setelah & hari. b.-. $ukan Pneumonia (batuk atau pilek)% obati di rumah, terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan, terapi spesifik lain (untuk batuk dan pilek), obati demam, nasihati ibu untuk memberikan pera"atan di rumah. b.,. Pneumonia Persisten% ra"at (tetap opname), terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati kemungkinan adanya infeksi pneumokistik, pera"atan suportif, penilaian ulang. 2.1.!. Pen-egahan 2ingkat Ketiga 3Tertiary Prevention) Fingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita penderita ISP< agar tidak bertambah parah dan mengakibatkan kematian.

a. Pneumonia Sangat $erat% jika anak semakin memburuk setelah pemberian kloram fenikol selama -> jam, periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloksasilin ditambah gentamisin jika diduga suatu pneumonia stafilokokus. b. Pneumonia $erat% jika anak tidak membaik setelah pemberian ben1ilpenisilin dalam -> jam atau kondisinya memburuk setelah pemberian ben1ipenisilin kemudian periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloramfenikol. Gika anak masih menunjukkan tanda pneumonia setelah +( hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab pneumonia persistensi. c. Pneumonia% 4oba untuk melihat kembali anak setelah & hari dan periksa adanya tanda) tanda perbaikan (pernafasan lebih lambat, demam berkurang, nafsu makan membaik. 8ilai kembali dan kemudian putuskan jika anak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada atau tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu ra"at, obati sebagai pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. Gika anak tidak membaik sama sekali tetapi tidak terdapat tanda pneumonia berat atau tanda lain penyakit sangat berat, maka ganti antibiotik dan pantau secara ketat. 2.5. Penanganan Penyakit ISPA ampir seluruh kematian karena ISP< pada anak kecil disebabkan oleh ISPb<, paling sering adalah pneumonia. $ayi baru lahir dan bayi berusia satu bulan atau disebut Jbayi mudaJ yang menderita pneumonia dapat tidak mengalami batuk dan frekuensi pernfasannya secara normal sering melebihi ,( kali permenit. Infeksi bakteri pada kelompok usia ini dapat hanya menampakkan tanda klinis yang spesifik, sehingga sulit untuk membedakan pneumonia dari sepsis dan meningitis. Infeksi ini dapat cepat fatal pada bayi muda yang telah diobati dengan sebaik)baiknya di rumah sakit dengan antibiotik parenteral. 4ara yang paling efektif untuk mengurangi angka kematian karena pneumonia adalah dengan memperbaiki manajemen kasus dan memastikan adanya penyediaan antibiotik yang tepat secara teratur melalui fasilitas pera"atan tingkat pertama dokter praktik umum. Eangkah selanjutnya untuk mengurangi angka kematian karena pneumonia dapat dicapai dengan menyediakan pera"atan rujukan untuk anak yang mengalami ISPb< berat memerlukan oksigen, antibiotik lini II, serta keahlian klinis yang lebih hebat.