Anda di halaman 1dari 3

Fraktur Tulang Orbita Fraktur tulang maksila sangat erat hubungannya dengan timbulnya fraktur orbita terutama penderita

yang menaiki kendaraan bermotor. Akhir-akhir ini fraktur tulang orbita dan fraktur maksila sangat sering terjadi akibat ketidakhati-hatian di dalam mengendarai kendaraan. Penggunaan sabuk pengaman, kecepatan kendaraan yang sesuai, tidak meminum alkohol atau obat yang mengganggu kesadaran sangat penting untuk dihindarkan.

Definisi dan Etiologi Fraktur dinding orbital adalah terputusnya kontinuitas antara jaringan-jaringan pada dinding orbital dengan atau tanpa penglibatan tulang-tulang di daerah sekitarnya. Faktor penyebab bervariasi. Kecelakaan lalu lintas merupakan faktor etiologi yang dominan yang bertanggungjawab menyebabkan terjadinya fraktur dinding inferior orbital. Faktor lain fraktur dinding inferior orbital adalah akibat perkelahian. Selain itu, bisa juga diakibatkan karena senjata yang tumpul atau tajam. Faktor etiologi lain yang mengakibatkan fraktur dinding inferior orbital adalah kecelakaan pekerjaan, contohnya jatuh dari tempat yang tinggi atau alat yang jatuh ke kepala, atau kecelakaan ketika berolahraga terutamanya olahraga seperti tinju, kriket, hoki serta sepak bola, tembakan serta gigitan hewan. Terdapat dua teori yang dapat menjelaskan terjadinya fraktur dinding inferior orbital, atau fraktur blow-out. Teori yang predominan mengatakan bahwa fraktur ini disebabkan kenaikan tekanan intraorbital yang terjadi secara mendadak apabila suatu objek yang lebih besar dari diameter orbital rim memukul bola mata. Fraktur ini disebut fraktur pure blow out.Fraktur pure blow-out biasanya terjadi apabila suatu objek tumpul yang lebih besar dari diameter orbital rim seperti tinju, siku, bola baseball, bola tenis, atau bola hoki. Isi orbital akan terkompresi ke posterior, mengarah ke arah apeks orbita. Oleh karena bagian posterior orbita tidak bisa mengakomodasi peningkatan volume jaringan ini, tulang orbital akan patah di titik yang paling lemah yaitu pada dinding inferiornya. Jika daya terjadi dari objek yang lebih kecil dari diameter orbital rim, bola mata akan ruptur atau isi orbital mengalami kerusakan, tanpa terjadinya fraktur. Teori yang kedua menyatakan bahwa suatu objek yang mengenai orbita dengan keras akan mengakibatkan daya yang menekan pada inferior orbital rim dan seterusnya akan merusak dinding inferior orbital. Teori ini juga menjelaskan bagaimana fraktur blow-in terjadi. Derajat peningkatan tekanan orbital kemudiannya yang menentukan jaringan orbital didorong ke dalam orbita atau ke sinus maksila.

Gejala Fraktur Orbita Fraktur orbita ini memberikan gejala-gejala : 1. Enoftalmos. Gejala enoftalmos biasanya tidak dijumpai pada pada awal kejadian, karena adanya edema retroorbital atau perdarahan, bahkan kadang dijumpai proptosis ringan. Enophthalmus bisa terjadi pada hari ke 10 saat hilangnya edema. Tanda yang mendukung

adanya enophthalmus adalah sulkus superior yang dalam dan fissure palpebra menyempit. Pada enophthalmus yang tidak diterapi dengan pembedahan, dapat berkembang dalam 6 bulan menjadi degenerasi orbital post traumatic dan fibrosis. 2. Exoftalmos 3. Diplopia. Diplopia bisa disebabkan oleh salah satu mekanisme dibawah ini: a. Perdarahan dan edema jaringan lemak orbita menyebabkan septum yang menghubungkan antara m. rectus inferior dan m. oblique ke periorbita mejadi sangat erat sehingga sebabkan restriksi pergerakan bola mata. Biasanya didapatkan perbedaan tekanan intraokuli. Pada kasus ini, pergerakan bola mata membaik seiring dengan hilangnya perdarahan dan edema. b. Terjepitnya muskulus rectus inferior atau muskulus oblique inferior secara mekanis diantara patahan tulang atau oleh jaringan ikat dan lemak. Diplopia biasanya terjadi pada pandangan ke atas dan pandangan ke bawah yang disebut dengan double diplopia. Diplopia biasanya bisa membaik jika disebabkan jepitan oleh jaringan ikat dan lemak dibandingkan dengan jepitan oleh patahan tulang. c. Trauma langsung pada otot extraokuli. Serat otot biasanya mengalami regerasi dan berfungsi normal kembali dalam 2 bulan. d. Terdorongnya bola mata ke arah vertikal Ketiga kelainan bentuk mata tersebut harus diperiksa dengan teliti dan dilakukan rekonstruksi dari tulang yang fraktur. Hal ini biasanya dikerjakan oleh dokter spesialis mata. 4. Asimetri pada muka Kelainan ini tidak lazim terdapat pada penderita blowout fracture dari dasar orbita. Kelainan ini sangat spesifik, terdapat pada fraktur yang meliputi pinggir orbita inferioi atau fraktur yang menyebabkan dislokasi zigoma 5. Gangguan saraf sensoris Hipestesia dan anastesia dari saraf sensoris nervus infraorbitalis berhubungan erat dengan fraktur yang terdapat pada dasar orbita. Bila pada fraktur timbul kelainan ini, sanagt mungkin sudah mengenai kanalis infra orbitalis. Selanjutnya gangguan fungsi nervus infra orbita sangat mungkin disebabkan oleh timbulnya kerusakan pada tima orbita. Bila timbul anastesia untuk waktu yang lama harus dilakukan eksplorasi dan dekompresi nervus infra orbitalis. Anastesi syaraf infraorbita yang dapat mengenai palpebra inferior, pipi, tepi hidung, bibir atas, gigi dan gusi atas. Tanda tersebut khas pada blow out fracture dasar orbita karena blow out fracture biasanya dimulai dari tepi canalis infraorbitalis dan memanjang ke arah nasal.

Klasifikasi Fraktur Orbita Secara umum, fraktur orbital dibagi menjadi dua kategori yang luas. Yang pertama merupakan fraktur yang relatif melibatkan bagian eksternal dan melibatkan orbital rim serta tulang-

tulang yang berdekatan, sebagai contoh fraktur pada nasoethmoid (nasoorbital) dan fraktur malar. Yang kedua adalah fraktur yang melibatkan tulang secara internal di dalam kavitas orbital. Fraktur ini terjadi tanpa (atau sedikit) keterlibatan orbital rim. Fraktur seperti ini biasanya disebut fraktur blowout atau blow-in. Istilah blow-out ini digunakan oleh Converse dan Smith (1950) untuk menggambarkan fraktur pada dinding inferior orbital yang mengarah ke bawah dan memasuki sinus maksilaris. Sebaliknya, blow-in merupakan fraktur yang mengarah ke atas, memasuki orbita. Tanpa keterlibatan orbital rim, fraktur ini dipanggil pure blow-out. Jika orbital rim terlibat, maka ianya dikenali sebagai impure blow-out. Dalam kasus ini, lemak orbital dan otot masuk ke dalam sinus maksilaris, menghasilkan enophthalmus. Jika otot rektus inferior dan oblique inferior juga terlibat dalam hal ini, pergerakan bola mata akan menjadi terbatas.

Daftar Pustaka : 1. Cohen, Adam J. 2006. Facial Trauma, Orbital Floor Fracture (blowout). Available at: http://www.emedicine.com/plastic/topic485.htm. Accessed on : 25 June 2013 2.

Munir M, Widiarni D, Trimartani. Trauma Muka dan Leher. In: Soepardi EA, Iskandar N. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher ed 6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008. p. 205-6