Anda di halaman 1dari 46

MENGGAIRAHKAN PERJALANAN HALAQOH DAN USROH

Kiat Menghilangkan Kejenuhan dan Meningkatkan Produktivitas Halaqoh, Usroh, Mentoring, Talim, serta Pengajian Kelompok

Satria Hadi Lubis

Untuk semua muslim yang ingin meningkatkan nilai ibadahnya kepada Allah Untuk semua aktivis yang ingin menyumbangkan potensinya bagi perjuangan umat Untuk semua ikhwah yang ingin mendermakan waktunya bagi dawah yang muntijah Untuk semua murobbi/naqib yang ingin membaktikan dirinya bagi lahirnya generasi unggulan Untuk mereka, kupersembahkan buku ini

PRAKATA

Segala puji bagi Allah, Ilah yang wajib dan berhak untuk disembah. Di tangan-Nyalah terletak segala daya dan upaya. Tidak ada kekuatan selain kekuatan-Nya. Salam dan sholawat kepada pemimpin dan teladan umat umat manusia, Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabatnya yang mulia. Juga kepada orang-orang shalih dan para mujahid yang selalu setia memperjuangkan risalah-Nya. Buku ini adalah rangkaian berikutnya dari serial Manajemen Halaqah. Serial yang membahas tentang bagaimana cara mengelola pengajian dalam kelompok kecil. Buku-buku sebelumnya berjudul 77 Problematika Aktual Halaqah jilid I dan II, serta Menjadi Murobbi Sukses. Setelah ini, Insya Allah akan terbit buku selanjutnya dalam serial Manajamen Halaqah, antara lain tentang Murobbi Skills dan Manajemen Terapan untuk Pengelolaan Halaqah. Yang dibahas dalam buku ini adalah cara mewujudkan halaqah/usroh yang sukses (Usroh Muntijah). Bagaimana agar halaqah/usroh dapat berjalan secara dinamis dan meningkat produktivitasnya. Bagaimana agar halaqoh/usroh dapat berjalan dengan menggairahkan dan tidak terjebak dalam kejemuan. Sebab suasana jemu dapat berdampak pada tidak antusiasnya peserta dan murobbi (orang yang memimpin halaqah/usroh) untuk mengikuti halaqah/usroh. Ujung-ujungnya akan berdampak pada ketiadaan soliditas dan produktivitas halaqah/usroh. Hal ini tentu saja mengurangi makna dari keberadaan halaqah/usroh itu sendiri, yakni sebagai sarana pembentukan pribadipribadi muslim yang tangguh. Seperti diketahui, saat ini Anda dapat menjumpai fenomana maraknya halaqah/usroh di mana-mana. Baik itu di kampus, sekolah, kantor, masjid, maupun di rumah-rumah penduduk. Ini bukan hanya fenomena yang terjadi Indonesia, tapi juga di negara-negara Islam lainnya. Fenomena maraknya halaqah (di beberapa kalangan disebut juga dengan usroh, mentoring, talim, tarbiyah, pengajian kelompok, dan lain-lain), merupakan fenomena yang wajar. Seiring dengan makin banyaknya orang yang kembali kepada Islam. Halaqah/usroh diyakini oleh mereka yang mengikutinya sebagai sarana yang efektif untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara rutin dan konsisten. Dahulu, halaqah/usroh lebih banyak berjalan secara diam-diam, bahkan rahasia. Namun saat ini, bersamaan dengan datangnya era keterbukaan informasi, halaqah/usroh menjadi sesuatu yang inklusif dan terbuka. Semua orang Islam bisa mempelajari dan mengikutinya, tanpa ada amniyah (rahasia informasi) yang banyak seperti dulu lagi. Walau begitu, ciri khas halaqah/usroh tetap dipertahankan, yaitu peserta yang dikelompokkan menurut tingkat pemahamannya (terhadap Islam), jumlah peserta yang dibatasi, tetap, dan tidak berganti-ganti, yang dipimpin oleh seorang murobbi, berlangsung rutin, dan dengan materi terpadu. Pentingnya halaqah/usroh meningkatkan produktivitasnya dan berjalan secara dinamis serta menggairahkan tak perlu dipertanyakan lagi. Sebab secara fitrah, manusia memang tidak suka berjalan di tempat dan berada dalam suasana monoton dan menjemukan. Mereka tak akan betah berlama-lama dalam suasana seperti itu. Padahal di halaqah/usroh kita dituntut untuk betah berlama-lama. Hal ini terkait dengan tujuan halaqah/usroh sebagai sarana pembelajaran Islam seumur hidup dalam rangka

membentuk muslim paripurna. Disinilah letaknya urgensi mengapa halaqah/usroh perlu senantiasa meningkatkan produktivitasnya dan meningkatkan suasana yang menggairahkan. Kehadiran buku ini akan menjadi lebih penting artinya bagi Anda yang telah mengikuti halaqah/usroh. Karena Anda sendiri dapat langsung merasakan betapa tidak enaknya berada dalam suasana halaqah/usroh yang menjemukan dan tidak produktif. Apalagi bagi Anda yang telah lama mengikuti halaqah/usroh (mungkin di atas lima atau sepuluh tahun), maka semakin lebih terasa lagi kebutuhan akan pentingnya suasana halaqah/usroh yang menggairahkan dan produktif. Buku ini mencoba menawarkan kepada Anda kiat meningkatkan produktivitas dan mengatasi suasana jemu dan monoton dalam halaqah/usroh. Saya sebagai penulis tentu tidak mengklaim apa yang ditawarkan dalam buku ini sebagai satu-satunya solusi meningkatkan produktivitas dan mengatasi rasa jenuh dalam halaqah/usroh. Mungkin masih banyak cara lain untuk menghasilkan halaqah/usroh yang muntijah (sukses). Bahkan buku ini barangkali tidak dibutuhkan bagi halaqah/usroh tertentu yang telah berlangsung dinamis dan produktif. Namun bagi Anda yang ingin mengetahui bagaimana cara meningkatkan produktivitas dan mengatasi rasa jenuh dalam halaqah/usroh, maka buku ini tepat bagi Anda. Mungkin setelah membaca buku ini, Anda terinspirasi untuk melakukan tindakan tertentu dalam rangka mewujudkan halaqah/usroh yang muntijah. Beberapa kiat pada buku ini mungkin dapat Anda terapkan sesuai dengan situasi yang ada pada halaqah/usroh Anda. Yang jelas, saya berharap mudah-mudahan buku ini tidak membuat Anda percuma untuk membacanya sampai selesai! Agar Anda dapat dengan enak membaca dan memahaminya, maka buku ini disusun dalam gaya bahasa yang tidak terlalu ilmiah dan menghindari pembahasan teoritis yang bertele-tele. Juga dilengkapi dengan lampiran berupa contoh aktivitas yang bisa menghindari halaqah/usroh Anda dari suasana monoton yang membosankan. Saya sangat senang jika setelah membaca buku ini, Anda berkenan meluangkan waktu untuk memberikan umpan balik bagi perbaikan isi buku ini. Umpan balik Anda begitu penting artinya, sehingga saya merasa perlu mencantumkan Formulir Umpan Balik pada akhir buku ini. Anda bisa mengirimkan formulir uman balik tersebut melalui faks ke Lembaga Pelatihan Manajemen Syariah LP2U (021) 53678452 atau email ke satriahl@mail.com. Jika pembaca ingin berkonsultasi atau mengikuti pelatihan yang khusus membahas apa yang disampaikan pada buku ini, silakan hubungi kami di Lembaga Pelatihan Manajemen Syariah LP2U Jl. Anggrek Nelimurni Blok B No. 12 Slipi Jakarta Barat, Telp. (021) 5494719, (021)53678452, Faks. (021)53678452, atau email: lp2u_center@lycos.com. Akhirnya, ucapan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT atas selesainya penulisan buku ini. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Kingkin Anida, isteri dan kekasih yang selalu memberikan dukungan dan masukan yang berharga. Juga kepada anak-anakku, Syahid, Faris, Sajjad, Fauzan, Sania, dan Farsya yang celotehnya menjadi musik yang mengiringi penulisan buku ini. Tak lupa juga kepada Bang Tizar orang yang memperkenalkan penulis pada dunia halaqah-- dan rekan-rekan lainnya yang tak dapat saya sebutkan satu persatu.

Ya Allah, yaa rob kami, jadikan apa yang aku lakukan ini sebagai penebus dosadosaku dan menjadi pemberat timbangan amal sholihku di yaumil akhir. Amiin ya Allah

(Satria Hadi Lubis)

DAFTAR ISI

Prakata Urgensi Halaqah/Usroh Halaqoh/Usroh Muntijah (Sukses) Halaqah/Usroh Dinamis Halaqah/Usroh Produktif (5 hal) Keseimbangan Dinamisasi dan Produktivitas Halaqah/Usroh (5 hal) Rumus Meningkatkan Dinamisasi Halaqah/Usroh (5 hal) Rumus Meningkatkan Produktivitas Halaqah/Usroh (5 hal) Kesimpulan dan Tindak Lanjut (5 hal) Lampiran : Contoh-Contoh Kegiatan Mendinamiskan Halaqah/Usroh (7)

URGENSI HALAQAH/USROH ==Perkataan syech dawah==

Halaqah atau usroh adalah sebuah istilah yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan atau pengajaran Islam (tarbiyah Islamiyah). Istilah halaqah (lingkaran) biasanya digunakan untuk menggambarkan sekelompok kecil muslim yang secara rutin mengkaji ajaran Islam. Jumlah peserta dalam kelompok kecil tersebut berkisar antara 3-12 orang. Mereka mengkaji Islam dengan manhaj (kurikulum) tertentu. Biasanya kurikulum tersebut berasal dari murobbi yang mendapatkannya dari jamaah (organisasi) yang menaungi halaqah/usroh tersebut. Di beberapa kalangan, halaqah/usroh disebut juga dengan mentoring, talim, pengajian kelompok, tarbiyah atau sebutan lainnya. Halaqah/usroh adalah sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan mengamalkan Islam secara serius. Biasanya mereka terbentuk karena kesadaran mereka sendiri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara bersama-sama (amal jamai). Kesadaran itu muncul setelah mereka bersentuhan dan menerima dakwah dari orangorang yang telah mengikuti halaqah/usroh terlebih dahulu, baik melalui forum-forum umum, seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh, maupun karena dakwah interpersonal (dakwah fardiyah). Biasanya peserta halaqah/usroh dipimpin dan dibimbing oleh seorang murobbi (pembina). Murobbi disebut juga dengan mentor, pembina, ustdaz (guru), masul (penanggung jawab), atau naqib (pemimpin). Murobbi bekerjasama dengan peserta halaqah/usroh untuk mencapai tujuan halaqah/usroh, yaitu terbentuknya muslim yang Islami dan berkarakter dai (takwinul Islamiyah wa daiyah). Dalam mencapai tujuan tersebut, murobbi berusaha agar peserta hadir secara rutin dalam pertemuan halaqah tanpa merasa jemu dan bosan. Kehadiran peserta secara rutin penting artinya dalam menjaga kekompakkan halaqah agar tetap produktif untuk mencapai tujuannya.

Halaqah/Usroh Sebagai Wadah Pengkaderan Halaqah/usroh sekarang ini dan Insya Allah di masa datangmenjadi alternatif sistem pendidikan Islam yang cukup efektif untuk membentuk muslim berkepribadian Islami. Hal ini dapat terlihat dari hasil pendidikannya yang berhasil membentuk sekian banyak muslim yang serius mengamalkan Islam. Jumlah mereka makin lama makin banyak seiring semakin bertambahnya jumlah halaqah/usroh yang terbentuk di berbagai kalangan. Fenomena halaqah/usroh berawal dari berdirinya jamaah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 M di Mesir. Pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna --semoga Allah

merahmatinya sangat prihatin dengan kondisi umat Islam saat itu yang jauh dari nilai-nilai Islam. Beliau berusaha keras mengembalikan umat kepada agamanya. Dari pengamatannya yang mendalam tentang kondisi umat Islam, beliau sampai pada satu kesimpulan bahwa jauhnya umat dari Islam disebabkan mereka tidak terdidik secara Islami. Lalu beliau mengenalkan sistem pendidikan alternatif yang harus dilakukan oleh anggota jamaahnya. Sistem itu disebut dengan sistem usroh. Anggota jamaahnya dibagi dalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan tingkat pemahamannya terhadap Islam. Dengan dibimbing oleh seorang naqib, para anggota Ikhwanul Mulimin saat itu secara serius mempelajari Islam yang berorientasi pada pengamalan Islam. Hasilnya, jamaah Ikhwanul Muslimin saat itu dikenal oleh kawan dan lawannya sebagai jamaah yang anggotanya sangat konsisten menegakkan Islam di dalam diri dan di masyarakat. Sepeninggal Hasan Al Banna, sistem usroh dilanjutkan oleh para pengikutnya. Sistem ini akhirnya menyebar dengan berbagai modifikasinya ke berbagai gerakan Islam lainnya. Kini, fenomena halaqah/usroh menjadi umum dijumpai di lingkungan kaum muslimin di mana pun mereka berada. Walau mungkin dengan nama yang berbedabeda. Penyebaran halaqah/usroh yang pesat tak bisa dilepaskan dari keberhasilannya dalam mendidik pesertanya menjadi mukmin yang bertaqwa kepada Allah SWT. Saat ini halaqah/usroh menjadi sebuah alternatif pendidikan keislaman yang masif dan merakyat. Tanpa melihat latar belakang pendidikan, ekonomi, sosial atau budaya calon pesertanya. Bahkan tanpa melihat apakah seseorang yang ingin mengikuti halaqah tersebut memiliki latar belakang pendidikan agama Islam atau tidak. Halaqah/usroh telah menjadi sebuah wadah pendidikan Islam (tarbiyah Islamiyah) yang semakin inklusif saat ini. Keberhasilan halaqah/usroh dalam mendidik pesertanya menjadikan berbagai organisasi (jamaah) Islam mengandalkan halaqah/usroh dalam mendidik para anggota atau calon anggotanya. Halaqah/usroh difungsikan oleh berbagai jamaah sebagai tempat untuk membentuk kader jamaah yang militan dalam memperjuangkan Islam. Biasanya perkembangan kualitas dan kuantitas halaqah/usroh pada sebuah jamaah akan berpengaruh secara signifikan dengan tingkat soliditas dan produktivitas jamaah tersebut. Bahkan bertahan atau tidaknya eksistensi jamaah juga dipengaruhi oleh berkembang atau tidaknya sistem halaqah/usroh dalam jamaah tersebut. Jamaah yang solid dan produktif biasanya adalah jamaah yang sistem halaqah/usrohnya berjalan dengan baik. Sebaliknya, jamaah yang tingkat soliditas dan produktivitasnya rendah disebabkan karena sistem halaqah/usrohnya tidak berjalan dengan baik, atau malah tidak ada sama sekali. Karena itu, halaqah/usroh berfungsi sebagai wadah pengkaderan yang efektif untuk keberlangsungan sebuah jamaah (organisasi) Islam. Keberadaan halaqah/usroh bukan hanya penting untuk keberlangsungan jamaah, tapi juga penting untuk keberadaan umat Islam itu sendiri. Dengan terbentuknya kader-kader Islami melalui sistem pendidikan halaqah/usroh, maka di dalam tubuh umat akan lahir orang-orang yang senantiasa berdakwah kepada kebenaran. Jika jumlah mereka semakin banyak seiring dengan merebaknya sistem halaqah/usroh,

maka umat Islam akan menjadi sebenar-benarnya umat. Bukan lagi sekedar bernama umat Islam tapi esensinya jauh dari nilai-nilai Islam seperti yang kita saksikan saat ini. Dengan merebaknya sistem pendidikan halaqah/usroh, proses pembentukan umat yang Islami (takwinul ummah) akan mengalami akselarasi, sehingga --Insya Allah-umat yang benar-benar Islami akan menjadi kenyataan dalam waktu yang lebih cepat. Hal ini akan berdampak pada kehidupan manusia secara menyeluruh yang lebih berpihak kepada nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Merebaknya halaqah/usroh juga bermanfaat bagi pengembangan pribadi (self development) para pesertanya. Halaqah/usroh yang berlangsung secara rutin dengan peserta yang tetap biasanya berlangsung dengan semangat kebersamaan (ukhuwah Islamiyah). Dengan nuansa semacam itu, peserta belajar bukan hanya tentang nilainilai Islam, tapi juga belajar untuk bekerjasama, saling memimpin dan dipimpin, belajar disiplin terhadap aturan yang mereka buat bersama, belajar berdiskusi dan menyampaikan ide, belajar mengambil keputusan dan juga belajar berkomunikasi. Semua itu sangat penting bagi kematangan pribadi seseorang untuk mencapai tujuan hidupnya, yakni sukses di dunia dan akhirat. Umat Islam akan mengalami kerugian yang besar jika sistem halaqah/usroh tidak berkembang dan punah. Hal ini karena halaqah/usroh merupakan sarana efektif untuk melahirkan kader-kader Islam yang tangguh dan siap berkorban memperjuangkan Islam. Bahkan, mungkin dapat disebut, jika sistem halaqah/usroh tumpul dan mandul, maka umat akan mengalami situasi lost generation (kehilangan generasi pelanjut) yang berkarakter Islami. Pentingnya mempertahankan sistem halaqoh/usroh dalam mencetak kader-kader Islam yang tangguh sudah teruji dalam perjalanan panjang kehadiran halaqoh/usroh di berbagai negara. Apalagi sampai saat ini para mufakir (pemikir) dawah juga belum dapat menemukan sistem alternatif lain yang sama efektifnya dalam mencetak kader Islam yang tangguh seperti yang telah dihasilkan oleh halaqoh/usroh. Bahkan yang terjadi sebaliknya, kini semakin banyak para mufakir, dai dan ulama yang mendukung tarbiyah melalui sistem halaqah/usroh. Sebagian dari mereka bahkan menulis buku yang menganalisa kehandalam sistem halaqoh/usroh dalam mencetak kader-kader Islam. Termasuk menganalisanya dari sisi syari, sejarah dan sunnah rasul. Beberapa diantaranya adalah buku yang berjudul... Cukuplah sudah alasan tentang pentingnya mempertahankan keberadaan halaqoh/usroh dalam tubuh umat Islam di masa kini dan di masa mendatang. Kehandalan halaqoh/usroh sebagai sistem tarbiyah yang paling efektif tak perlu diragukan lagi, sehingga sudah selayaknya setiap muslim dan para dai mendukung penyebaran halaqoh/usroh ke seluruh penjuru dunia, jika mereka memang benarbenar ingin melihat agama Allah ini menang dan dimuliakan oleh seluruh manusia. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang

benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orangorang musyrik benci (QS. As Shaff : 9). ==Bagan urgensi halaqah/usroh==

HALAQOH/USROH MUNTIJAH ==Perkataan syech dakwah==

Peran halaqah/usroh yang begitu penting bagi keberlangsungan umat membuat halaqah/usroh perlu dijaga eksistensinya sampai kapanpun. Tak ada kata selesai untuk menjaga eksistensi halaqah/usroh, walaupun telah berdiri daulah atau khilafah Islamiyah. Salah seorang ulama dakwah, Musthafa Masyhur, pernah berkata: eksistensi halaqah/usroh (tarbiyah Islamiyah) tak boleh berakhir, walau kita telah berhasil menegakkan daulah Islamiyah. Kesibukan para aktivis Islam dalam menyelesaikan berbagai agenda permasalahn umat juga tak boleh menyurutkan perhatian mereka untuk menjaga keberadaan halaqah/usroh. Bahkan jika aktivis Islam berhasil memasyarakatkan halaqah/usroh, boleh jadi permasalahan umat dapat diselesaikan secara lebih cepat dan tepat. Berbagai masalah yang sekarang ini menimpa umat sesungguhnya lebih banyak disebabkan karena kebodohan umat Islam itu sendiri terhadap ajaran agamanya. Muhammad Abduh pernah berkata: (Kecemerlangan) Islam ditutupi oleh (kebodohan) umatnya. Karena itu, salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi kebodohan umat adalah dengan memasyarakatkan halaqah dan menghalaqohkan masyarakat, sehingga umat terdidik secara Islami. Umat yang terdidik secara Islami akan mampu mengatasi berbagai masalah yang muncul dengan solusi yang lebih tepat. Solusi yang datangnya dari Allah SWT. Permasalahan umat yang tak kunjung selesai saat ini disebabkan mereka tidak mau dan tidak mampu menyelesaikan masalah tersebut sesuai dengan petunjuk Allah SWT.

Mewujudkan Halaqoh/Usroh Muntijah Untuk menjadikan halaqoh/usroh sebagai wadah tarbiyah yang efektif, maka para aktivis dan dai harus berupaya agar halaqoh/usroh berjalan dengan sukses (muntijah). Tanpa ada keinginan untuk mensukseskan perjalanan halaqoh/usroh maka tak mungkin halaqoh/usroh bisa menjadi wadah efektif untuk mencetak kader yang akan menjadi anasirut taghir (pelopor perubahan) umat. Halaqoh/usroh bisa jadi hanya sekedar rutinitas tanpa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembangunan umat. Hanya halaqoh/usroh yang selalu berorientasi pada kesuksesan yang berperan secara signigfikan dalam pembangunan umat. Oleh karena itu, tugas dai dan para aktivis adalah memperbanyak jumlah halaqoh/usroh yang berorientasi kepada kesuksesan (muntijah). Kemudian mempertahankan sebisa mungkin agar berjalannya halaqoh/usroh, khususnya yang berada di bawah tanggung jawabnya, selalu berada dalam orientasi kesuksesan. Bukan hanya sekedar berjalan

dengan rutinitas yang monoton tanpa mengetahui atau tanpa pengevalusaian apakah halaqoh/usroh tersebut berjalan dengan orientasi kesuksesan atau tidak. Jika halaqoh/usroh tidak lagi berjalan dengan orientasi kesuksesan (muntijah), maka masa depan halaqah/usroh akan suram karena tidak lagi mampu menghasilkan kader Islam yang tangguh dan berkualitas seperti para pendahulunya, yaitu para muasis (pendiri) dawah yang membangun sistem halaqah/usroh itu sendiri. Kualitas para kader Islam di masa depan tak bisa lagi dibanggakan karena tidak lagi memiliki keistimewaan sebagai kader Islam yang tangguh (mujahid). Inilah yang harus dikhawatirkan jika sekiranya halaqoh/usroh hanya sekedar berjalan tanpa memiliki orientasi pada kesuksesan. Lalu apa yang disebut dengan halaqoh/usroh yang muntijah itu? Apa kriteria dari sebuah halaqoh/usroh yang muntijah? Halaqoh/usroh muntijah adalah halaqoh/usroh yang memenuhi dua kriteria berikut : 1. Tercapainya dinamisasi halaqoh/usroh, sehingga jalannya halaqah/usroh berlangsung dengan menggairahkan dan tidak menjemukan. 2. Tercapainya produktivitas halaqoh/usroh, sehingga tujuan halaqah/usroh dapat terwujud sesuai dengan harapan.

Berbagai Tipe Halaqoh/Usroh Dalam kenyatannya, tidak semua halaqoh/usroh muntijah. Bahkan ada halaqoh/usroh yang sangat rendah orientasinya pada kesuksesan (muntijah). Jika halaqoh/usroh diklasifikasikan berdasarkan faktor dinamisasi dan produktivitas (sebagai kriteria halaqoh/usroh yang muntijah), paling tidak ada lima tipe halaqoh/usroh yang bisa diamati, yaitu : 1. Halaqoh/usroh sukses (muntijah) 2. Halaqoh/usroh paguyuban 3. Halaqoh/usroh jenuh 4. Halaqoh/usroh sedang 5. Halaqoh/usroh rendah Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat pada bagan di bawah ini : ==Grafik tipe-tipe usroh== Tipe muntijah adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya tinggi dan faktor produktivitasnya tinggi. Inilah halaqoh/usroh yang prestasinya paling baik. Halaqoh/usroh yang menjadi idaman setiap murobbi/naqib dan peserta halaqoh/usroh. Sedang tipe paguyuban adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya tinggi, namun pada saat bersamaan faktor produktivitasnya rendah. Tipe jenuh adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya rendah, akan tetapi pada saat bersamaan faktor produktivitasnya tinggi. Tipe sedang adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya

sedang dan pada saat yang bersamaan produktivitasnya juga sedang. Sedang tipe rendah adalah halaqoh/usroh yang faktor dinamisasinya rendah dan pada saat bersamaan faktor produktivitasnya juga rendah. Inilah halaqoh/usroh yang orientasinya kepada kesuksean paling rendah. Halaqoh/usroh yang paling tidak diidamkan oleh setiap murobbi/naqib dan peserta halaqoh/usroh. Mengapa dinamisasi dan produktivitas menjadi faktor yang penting dalam mengukur halaqoh/usroh yang muntijah? Sebab kesuksesan sebuah halaqoh harus dilihat dari dua paradigma, yaitu proses dan hasil. Kita tidak bisa mengukur kesuksesan suatu sistem hanya dengan melihat satu paradigma saja, proses atau hasil. Apalagi jika sistem tersebut adalah sistem sosial. Sistem tempat berkumpulnya orang-orang untuk mencapai sesuatu. Dalam sistem sosial seperti halaqoh/usroh, keberhasilan tidak dapat diukur dari hasilnya saja. Sebab hal itu berpotensi besar untuk mengabaikan proses yang manusiawi dalam mencapai tujuan. Padahal manusia dalam halaqoh/usroh adalah sumber daya yang paling penting, sehingga proses dalam mencapai tujuan harus diperhatikan demi menghargai nilai-nilai dan kebutuhan manusia itu sendiri. Keberhasilan juga tidak dapat diukur dari sisi proses saja, tanpa melihat hasilnya. Tanpa ada hasil yang sesuai dengan perencanaan, percuma kita berbicara tentang keberhasilan (muntijah). Jadi keberhasilan perlu diukur dari dua sisi: seperti apa proses yang terjadi dan sejauh mana tujuan telah tercapai. Dalam dunia manajemen, hal ini disebut dengan management by objective (pengelolaan berdasarkan tujuan) dan management by process (pengelolaan berdasarkan proses). Kedua-duanya penting dalam mengukur keberhasilan sebuah sistem sosial seperti halaqoh/usroh. Dinamisasi adalah proses yang bergerak secara berubah-ubah, sehingga menumbuhkan semangat dan menghilangkan kejenuhan untuk menghasilkan sesuatu. Produktivitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu. Jadi berbicara tentang dinamisasi berarti berbicara dalam tataran proses. Sedang berbicara tentang produktivitas berarti berbicara dalam tataran tujuan/hasil. Kedua-duanya penting dijadikan indikator untuk mengukur kesuksesan sebuah halaqoh/usroh. Pada bab berikutnya kita akan membahas secara lebih rinci tentang apa yang dimaksud dinamisasi dan produktivitas dalam halaqoh/usroh.

Peran Murobbi/Naqib dalam Mewujudkan Halaqoh/Usroh Muntijah Murobi/naqib memiliki peran sentral dalam mensukseskan halaqoh/usroh. Perannya jauh lebih penting dan dominan daripada peserta halaqoh/usroh. Boleh dikatakan muntijah atau tidaknya sebuah halaqoh/usroh ada di tangan murobbi/naqib. Hal ini disebabkan murobbi/naqib adalah pemimpin halaqoh/usroh. Ia yang memotivasi, mengarahkan dan membimbing dan mengendalikan perjalanan halaqoh/usroh. Peran peserta dalam mensukseskan halaqoh/usroh lebih sebagai faktor sekunder dan pendukung. Walau peserta memiliki kemauan dan kemampuan yang tinggi untuk mensuksesakn halaqoh/usroh, tapi jika murobbi/naqib tidak memiliki kemamuan dan kemampuan yang

sama maka halaqoh/usroh sangat kecil kemungkinannya halaqoh/usroh tersebut menjadi sukses (muntijah). Dalam kenyataannya, tidak semua murobbi/naqib memiliki orientasi yang kuat untuk mensukseskan halaqoh/usrohnya. Tidak semua murobbi/naqib secara serius melakukan dinamisasi dan produktivas halaqoh/usroh. Hal ini mungkin disebabkan beberapa faktor : 1. Terjebak dengan rutinitas Perjalanan halaqoh/usroh yang lama dan tidak pernah mengenal kata selesai karena berlangsung seumur hidup dapat membuat seorang murobbi/naqib terjebak dengan rutinitas. Penyelenggaraan halaqoh/usroh menjadi sekadar kewajiban atau kebiasaan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun, sehingga makna dan tujuan halaqoh/usroh menjadi absurd (tidak jelas). Tidak seperti ketika pertama kali menjadi murobbi/naqib dimana makna dan tujuan halaqoh/usroh disadarinya dengan baik. 2. Sibuk dengan aktivitas dawah ammah yang lebih gegap gempita Mengelola halaqoh/usroh seperti mengelola sebuah dunia yang sepi. Disana tidak ada publikasi, ketenaran dan keuntungan materi. Yang ada hanya keikhlasan untuk mengelola peserta yang jumlahnya terbatas dan tetap. Sedang dakwah ammah adalah dawah yang gegap gempita. Disana banyak godaan berupa ketenaran, kedudukan dan keuntungan materi. Mungkin saja seorang murobbi/naqib yang dahulunya tidak sibuk dengan dawah ammah, namun setelah sibuk dengan dawah ammah menjadi tergoda untuk lebih memperhatikan dawah ammah daripada mengelola halaqoh/usroh secara serius. Kehadiran dan keterlibatannya dalam halaqoh/usroh hanya bersifat sambil lalu tanpa persiapan dan pengelolaan yang matang. 3. Kesibukan dengan urusan duniawi Kesibukan dengan urusan duniawi (seperti bisnis, bekerja, dan berkarir) bisa menjadi salah satu faktor yang membuat murobbi/naqib tidak sempat lagi memperhatikan perkembangan kualitas halaqoh/usroh yang ditanganinya. Hadir ke halaqoh/usroh tanpa persiapan, datang ke halaqoh/usroh dalam kondisi lelah, tidak sempat lagi membuat program yang kontinyu di dalam halaqoh/usroh adalah contoh dari murobbi/naqib yang terlalu sibuk mengejar urusan duniawi. 4. Terpesona dengan jumlah (kuantitas) Perhatian yang serius terhadap halaqoh/usroh bisa jadi berkurang karena terpesona dengan jumlah. Baik jumlah peserta yang ditanganinya maupun jumlah kader yang ada di dalam jamaahnya. Jumlah yang banyak bisa melenakan orang terhadap pentingnya aspek kualitas. Hal ini sudah banyak contohnya. Para sahabat Rasulullah saw pernah terpesona dengan jumlah mereka yang banyak dalam perang Hunain, sehingga lalai dalam kualitas dan strategi perang. Hingga akhirnya Allah SWT memberi pelajaran kepada mereka dengan kekalahan yang menyakitkan. 5. Merasa bahwa halaqoh/usrohnya tidak ada masalah Orientasi terhadap kesuksesan halaqoh/usroh bisa jadi berkurang karena murobbi/naqib kurang peka terhadap masalah. Ada orang yang sensitif terhadap masalah dan ada pula

yang tidak sensitif terhadap masalah. Hal ini disebabkan cara pandang yang berbeda dalam melihat masalah. Dalam kenyataanya, ada murobbi/naqib yang menganggap dinamisasi dan produktivitas halaqoh/usroh sebagai masalah yang tidak penting. Mereka menganggap selama peserta halaqoh/usroh masih hadir dengan rutin, maka tidak ada masalah yang serius dalam halaqoh/usrohnya. Padahal jika dilihat dari sisi dinamisasi dan produktivitas, halaqoh/usroh tersebut sebetulnya berjalan di tempat atau lambat dari yang semestinya dicapai. 6. Kurangnya motivasi dan pengingatan dari struktur dan/atau ikhwah di sekelilingnya Orientasi yang rendah terhadap kesuksesan halaqoh/usroh mungkin bisa disebabkan kurangnya motivasi dan pengingatan dari struktur dawah terdekat dan/atau ikhwah di sekelilingnya. Kesibukan dengan aktivitas dawah yang lain atau dengan prioritas dawah musiman bisa membuat para murobbi/naqib lalai memperhatikan perkembangan halaqoh/usrohnya. Halaqoh/usroh menjadi program yang asal berjalan, tanpa sempat lagi dievaluasi sampai sejauh mana kualitas dari halaqoh/usrioh tersebut. 7. Terlena dengan nostalgia masa lalu Ketidakseriuasan dalam mengelola halaqoh/usroh bisa jadi karena terlena dengan pengalaman masa lalu. Murobbi/naqib merujuk kepada pengalaman masa lalu ketika ia dibina secara konvensional, sehingga ia enggan untuk melakukan inovasi untuk mendinamiskan halaqoh/usrohnya. Ia juga enggan bersusah payah mengejar produktivitas karena merasa dahulu dibina tanpa target yang rumit. Ia menggunakan pengalaman masa lalunya untuk membina halaqoh/usroh di saat sekarang. Padahal tantangan zaman selalu berubah. Dahulu mungkin ia bisa berhasil dibina karena tantangan eksternal tidak sekompleks zaman sekarang. Saat ini halaqoh/usroh menghadapi pesaing yang tangguh dari kelompok kecil lain. Kaum sekuler dan sosialis membuat kelompok-kelompok kecil yang dikelola secara inovatif dan profesional. Begitu pula harokah -harokah Islam yang lain. Oleh karena itu, jika murobbi/naqib tidak serius mengelola halaqoh/usroh secara inovatif dan profesional, bisa jadi konsumen dawah akan direbut oleh kelompok atau harokah lain.

Tes Usroh Muntijah Apakah Anda ingin mengetahui seperti apa tipe halaqoh/usroh yang Anda tangani atau yang Anda menjadi peserta di dalamnya? Di bawah ini ada tes sederhana untuk mengetahui tipe halaqah/usroh Anda. Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan Ya (Y) atau Tidak (T) sesuai dengan apa yang Anda anggap paling sesuai dengan kondisi halaqoh/usroh Anda. Jawablah secara jujur dan spontan menurut pendapat pribadi Anda, bukan menurut pendapat orang lain. 1. Sebagian anggota usroh tidak memahami tujuan usroh 2. Sebagian besar anggota merasakan manisnya/indahnya ukhuwah dalam usroh

3. 4. 5. 6.

Tidak sering melakukan variasi acara dalam pertemuan usroh Usroh berjalan monoton dan tanpa arah Ada figuritas terhadap orang tertentu dalam usroh Sebagian besar anggota telah mencapai muwashofat dan sepertinya sudah memenuhi syarat untuk naik jenjang 7. Ada konflik berkepanjangan di antara sebagian anggota usroh 8. Usroh tidak memiliki program kerja 9. Sebagian anggota usroh kurang bersemangat untuk mencapai tujuan usroh 10. Sebagian besar anggota merasa usroh membantu pengembangan potensinya 11. Sebagian besar program usroh yang direncanakan tidak berjalan 12. Sebagian besar peserta usroh hadir ke usroh sekedar untuk menunaikan kewajiban 13. Sebagian besar anggota memiliki tugas struktural dalam dakwah 14. Rata-rata kehadiran anggota di bawah 50% dari jumlah peserta seharusnya 15. Sebagian besar anggota telah memiliki binaan 16.Naqib kurang memberikan keteladanan, terutama dalam kehadiran 17.Naqib jarang memberikan arahan dan tidak mampu bersikap tegas 18.Usroh sering berjalan tanpa agenda yang jelas 19. Ada beberapa peserta yang sering tidak hadir dalam usroh 20.Semakin besar anggota merasa usrohnya solid dan kompak Kunci Jawaban Jenuh: 3. 9. . 12. 16. .. 19 Paguyuban : 1. 5. 11. 18. 20 Rendah: 4. 7. 8. 14. 17. Tinggi: 2. 6. 10. 13.

15.

HALAQOH/USROH DINAMIS ==Perkataan syeh dakwah==

Seperti yang telah disebutkan di muka, salah satu sendi halaqoh/usroh yang muntijah (sukses) adalah halaqoh/usroh yang dinamis. Yaitu halaqoh/usroh yang selalu berproses dan bergerak secara tidak monoton (berubah-ubah), sehingga menumbuhkan kegairahan dan menghilangkan kejenuhan. Hal ini bukan merupakan hal yang mudah, karena sistem halaqah/usroh berjalan seumur hidup. Artinya, halaqah/usroh berlangsung rutin dan tak pernah selesai untuk diikuti. Tidak mengenal kata lulus, kecuali jika peserta sendiri yang menginginkan keluar dari halaqah/usroh (dan itu berarti keluar juga dari jamaah yang diikutinya). Halaqah/usroh dirancang untuk diikuti seumur hidup (madal hayah) oleh pesertanya. Hal ini karena tidak ada kata berhenti untuk mempelajari Islam. Selama nafas masih ada, mempelajari Islam tetap perlu dilakukan. Nabi bersabda: Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai ke liang lahat (HR). Yang berubah hanya penempatan pesertanya yang disesuaikan dengan pemahaman dan pengamalannya terhadap Islam. Mungkin saja peserta mendapatkan murobbi yang berbeda-beda. Tempat halaqah/usroh yang berubah-ubah. Bahkan nama perkumpulannya juga berubah (misalnya menjadi mentoring, usroh, talim, atau tarbiyah). Apa pun namanya, tapi hakekatnya tetap sama. Yakni sistem pendidikan (tarbiyah) yang berlangsung seumur hidup. Jika halaqah/usroh berlangsung sesaat, misalnya hanya setahun atau dua tahun, mungkin menciptakan suasana dinamis dan tidak jemu menjadi mudah untuk dilakukan. Namun jika halaqah/usroh berlangsung seumur hidup, maka kecenderungan peserta untuk jenuh mengikuti halaqah/usroh menjadi tinggi. Hal ini wajar, karena suasana rutinitas yang berlangsung lama secara psikologis memang berpotensi untuk membuat jenuh. Lalu bagaimana upaya yang perlu dilakukan agar halaqah/usroh tidak berlangsung jenuh? Alias senantiasa menggairahkan para pesertanya? Apakah dengan cara menjadikan halaqah/usroh tidak berlangsung seumur hidup, tapi hanya berlangsung sebentar, misalnya setahun atau dua tahun saja? Jawabannya, tentu tidak dengan cara merubah waktu halaqah/usroh menjadi sebentar. Sebab jika hanya sebentar, bukan saja kita tidak menjalankan anjuran Rasul supaya menuntut ilmu seumur hidup, tapi juga mustahil jika waktu pendidikannya hanya sebentar bisa merubah orang menjadi Islami. Yang perlu dilakukan agar suasana halaqah/usroh yang berlangsung lama itu tidak jenuh adalah dengan mendinamiskan perjalanan halaqoh/usroh. Yakni dengan melakukan berbagai cara kreatif yang Islami untuk merubah suasana halaqah/usroh supaya tidak menjemukan.

Manfaat Mendinamiskan Halaqah/Usroh Perhatian terhadap berjalanannya halaqoh/usroh secara dinamis dan menggairahkan merupakan hal yang sangat urgen dilakukan, baik oleh murobbi/naqib maupun oleh peserta. Sebab pengabaian terhadap dinamisasi akan berdampak pada lambatnya pencapaian tujuan halaqoh/usroh. Hal ini seringkali tidak disadari oleh murobbi/naqib maupun peserta karena mereka merasa halaqoh/usrohnya masih berjalan dengan baik. Beberapa murobbi/naqib menjadikan indikator kehadiran peserta sebagai cara menilai baik/buruknya halaqoh/usroh. Ketika peserta masih hadir dengan lengkap (walau sesekali ada juga yang tidak hadir), murobbi/naqib sering menganggap hal itu sebagai indikasi dari masih baiknya perjalanan halaqoh/usroh mereka. Penilaian ini jelas terlalu menyederhanakan persoalan. Kehadiran peserta yang masih lengkap bukanlah indikator satu-satunya untuk menilai baik atau buruknya perjalanan suatu halaqoh/usroh. Perlu ada indikator lain yang digunakan untuk mengukur baik atau buruknya perjalanan halaqoh/usroh. Indikator lain tersebut adalah dinamisasi dan produktivitas halaqoh/usroh. Dinamisasi halaqoh/usroh akan mengukur sampai sejauh mana kepuasan aktivitas (job satisfaction) yang dialami murobbi/naqib dan peserta di dalam halaqoh/usrohnya. Kepuasan merupakan hal yang subyektif karena terkait dengan emosi (perasaan). Walau subyektif, namun kepuasaan bukan berarti harus diabaikan dalam mengukur keberhasilan halaqoh/usroh. Paradigma kepuasan sebagai indikator dalam mengukur keberhasilan pengelolaan SDM (Sumber Daya Manusia) sudah menjadi hal yang umum di dunia organisasi dan manajemen. Halaqoh/usroh sebagai sebuah sistem pengelolaan SDM juga perlu memperhatikan masalah kepuasan ini. Kepuasaan beraktivitas (job satisfaction) sebenarnya merupakan kata lain dari terwujudnya nikmat ukhuwah (nimatul ukhuwah). Bukankah Allah SWT menghendaki agar kita selalu beraktivitas dalam suasana ukhuwah yang nikmat? ..dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu. Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara (QS. 3 : 103). Nikmatnya ukhuwah Islamiyah dalam halaqoh/usroh tak mungkin terwujud tanpa perhatian terhadap dinamisasi halaqoh/usroh. Tidak cukup hanya sekedar memberikan taujih (arahan) saja tentang ukhuwah untuk mewujudkan nikmat ukhuwah, akan tetapi perlu dipraktekkan di dalam halaqoh/usroh itu sendiri dengan cara mendinamiskan perjalanan halaqoh/usroh. Jadi, sudah saatnya murobbi/naqib dan peserta untuk memperhatikan dinamisasi yang terjadi dalam halaqoh/usrohnya. Mereka tidak bisa lagi menyepelekan masalah ini jika ingin halaqoh/usrohnya muntijah (sukses). Ada beberapa manfaat yang akan diperoleh jika halaqoh/usroh berjalan dinamis, antara lain : 1. Kehadiran yang rutin Halaqoh yang berjalan dinamis akan membuat murobbi/naqib dan peserta hadir dengan rutin. Mereka tidak lagi membuat seribu satu alasan untuk tidak hadir dalam

halaqoh/usroh. Bahkan mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk hadir di halaqoh/usroh walau berbagai kendala menghadang kehadiran mereka. Hal ini karena halaqoh/usroh telah menjadi tempat yang menyenangkan dan menggairahkan bagi mereka. Mereka sudah merasa betah dengan halaqoh/usroh. Bagi mereka halaqoh/usroh merupakan tempat idaman, sehingga jadwal pertemuan halaqoh/usroh menjadi saat-saat yang dirindukan. Alangkah indahnya jika perasaan rindu dan betah ini sudah menjadi karakter dalam diri murobbi/naqib dan peserta. Allah SWT menghendaki agar kita sabar dan betah berlama-lama berkumpul dalam lingkungan dai, seperti yang terjadi di dalam halaqoh/usroh : Dan bersabarlah bersama dai yang menyeru Tuhannya.(QS. ). 2. Semangat yang tinggi Murobbi/naqib dan peserta bukan hanya hadir secara rutin jika halaqoh berjalan dinamis, akan tetapi mereka hadir dengan semangat yang tinggi. Semangat ini membuat mereka hadir dengan seutuhnya (hati, pikiran dan fisik), tidak hanya hadir fisiknya saja tetapi hati dan pikirannya terbang entah kemana. Utuhnya kehadiran membuat mereka menyimak seluruh agenda acara di dalam halaqoh/usroh. Hal ini mempercepat penambahan wawasan dan interaksi antar peserta, sehingga tujuan halaqoh/usroh dapat tercapai dengan cepat pula. Allah memerintahkan agar kita mengobarkan semangat yang tinggi dalam berperang (dan juga dalam berbagai aktivitas), termasuk di dalam aktivitas halaqoh/usroh : Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mumin itu untuk berperang. (QS. 8 : 65). 4. Tanggung jawab yang besar Semangat yang tinggi membuat munculnya tanggung jawab yang besar dalam melaksanakan tugas-tugas halaqoh/usroh. Sebab biasanya di dalam semangat ada keinginan untuk melakukan tanggung jawab. Dengan berjalannya tugas-tugas halaqoh/usroh, maka pemahaman dan pengalaman peserta meningkat lebih cepat, sehingga tujuan halaqoh/usroh juga dapat tercapai lebih cepat. ..(Tulis ayat tentang tanggung jawab). 5. Mempercepat pencapaian tujuan Halaqoh/usroh yang berjalan dinamis dan menggairahkan akan mempercepat pencapaian tujuan halaqoh/usroh. Hal ini karena tugas dan program yang dibuat untuk mencapai tujuan halaqoh/usroh dilaksanakan dengan semangat yang tinggi dan tanggung jawab besar. Tidak ada tugas dan program yang terbengkalai, sehingga tugas dan program selanjutnya bisa dibuat dan akhirnya tujuan halaqoh/usroh dapat dicapai lebih cepat. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamab-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar (QS. 35 : 32). 6. Meningkatkan kreativitas Halaqoh/usroh yang berjalan dinamis dan menggairahkan tentu muncul dari kreativitas murobbi/naqib dan peserta untuk selalu memunculkan ide baru demi

kemajuan halaqoh/usroh. Ruang kreativitas terbuka lebar dalam halaqoh/usroh yang dinamis. Murobbi/naqib dan peserta tidak terjebak dengan suasana monoton atau dengan pakem-pakem tertentu dalam menjalankan halaqoh/usroh. Mereka tidak lagi terjebak dengan pengalaman masa lalu. Mereka berani menampilkan ide-ide dan caracara baru yang tidak bertentangan dengan syari untuk membuat halaqoh/usroh berjalan secara dinamis. Yang penting bagi mereka adalah bagaimana agar tujuan halaqoh/usroh dapat tercapai melalui proses yang menggairahkan dan tidak menjemukan. 7. Menghindarkan kekeringan hati (maksiat) Halaqoh/usroh yang menjemukan akan menurunkan kegairahan untuk menambah wawasan dan ibadah. Hati menjadi keras. Suasana ruhiyah menjadi hilang. Iman menjadi turun, sehingga keinginan berbuat maksiat menjadi meningkat. Sebaliknya, halaqoh/usroh yang berjalan dinamis akan menghilangkan kejenuhan. Kegairahan untuk menambah wawasan dan meningkatkan ibadah akan muncul, sehingga hati akan tetap terpelihara. Iman menjadi meningkat, sehingga terhindar dari keinginan untuk berbuat maksiat. Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik (QS. 57 : 16). 8. Memperkecil munculnya konflik/masalah Salah satu sebab munculnya konflik/masalah adalah hati yang kering dari iman dan ukhuwah. Namun jika halaqoh/usroh berjalan secara dinamis, maka hati menjadi bergairah untuk meningkatkan iman dan ukhuwah. Hal ini akan berdampak pada keinginan untuk saling menghargai dan menghindari terjadinya masalah/konflik satu sama lain. Sesungguhnya orang-orang mumin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS. 49 : 10). 9. Merasakan manisnya ukhuwah Akhirnya, manisnya ukhuwah (khulwatul ukhuwah) akan didapatkan oleh mereka yang halaqoh/usrohnya berjalan dinamis. Ukhuwah tak lagi sekedar basa-basi tanpa implementasi. Mereka mendapatkan apa yang selama ini dirindukan setiap muslim, yakni manisnya ukhuwah. Hal ini merupakan buah dari upaya tak kenal henti yang mereka lakukan untuk mendinamiskan halaqoh/usroh. Mendinamiskan halaqoh/usroh berarti menyegarkan suasana, menjinakkan hati dan menumbuhkan kehangatan dan kegairahan untuk berukhuwah antar sesama peserta halaqoh/usroh.

Sebab-Sebab Munculnya Kejenuhan Dalam Halaqoh/Usroh

Namun perjalanan mewujudkan halaqoh/usroh yang dinamis tidaklah mudah. Butuh perjuangan untuk mewujudkannya. Tidak semua halaqoh/usroh memahami urgensi mewujudkan halaqoh/usroh yang dinamis dan menggairahkan. Jika tidak ada kesungguh-sungguhan untuk mewujudkan halaqoh/usroh yang dinamis, maka perlahan tapi pasti halaqoh/usroh akan berubah menjadi menjemukan. Yang sebab-sebabnya antara lain : 1. Suasana yang monoton Suasana yang monoton merupakan salah satu sebab dari munculnya kejenuhan dalam halaqoh/usroh. Ini merupakan hal yang wajar. Sebab manusia pada dasarnya menginginkan suasana yang berubah-ubah (dinamis). Tidak terperangkap dalam satu cara atau gaya. Ketika hjalaqoh/usroh berlangsung dengan cara atau suasana yang tidak berubah-ubah maka peserta besar kemungkinan akan merasa jemu dengan pertemuan halaqoh/usroh. 2. Ketiadaan keteladanan Murobbi/naqib merupakan teladan bagi peserta. Peserta menjadi teladan bagi peserta lainnya. Ketika murobbi/naqib dan peserta tidak bisa memberikan keteladanan, maka halaqoh berubah menjadi menjemukan. Contohnya hilangnya keteladanan adalah ketika murobbi/naqib mewajibkan peserta untuk hadir rutin, tapi ia sendiri jarang hadir dengan berbagai alasan. Atau ketika ia meminta peserta untuk bersikap menghargai pendapat orang lain, tapi ia sendiri tak bisa mengharagai pendapat orang lain. Semakin hilangnya sikap dan perilaku yang bisa diteladani, maka semakin potensial halaqoh/usroh terjerumus pada suasana yang membosankan. Hal ini wajar karena ketiadaan keteladanan membuat hilangnya kepercayaan dan nilai lebih suatu kelompok. Hal ini tentu berdampak pada suasana yang tidak nyaman dan membosankan. 3. Kurangnya upaya untuk saling memotivasi/mengingatkan Suasana yang menjemukan bisa juga disebabkan murobbi/naqib dan peserta tidak saling mengingatkan atau memotivasi satu sama lain. Mereka mungkin terjebak pada rutinitas halaqoh/usroh yang dianggap bukan masalah. Jika pun di antara mereka ada yang mengingatkan tentang pentingnya mendinamiskan halaqoh/usroh tapi tidak ditanggapi serius oleh yang lain. Atau bisa juga pengingatan itu dilakukan, tapi tidak dilakukan secara rutin sehingga upaya untuk mendinamiskan halaqoh/usroh hanya bersifat temporer dan tidak berkesinambungan. 4. Konflik berkepanjangan Kejemuan dalam halaqoh/usroh bisa juga disebabkan seringnya terjadi konflik di antara peserta. Konflik itu muncul karena berbagai sebab. Bisa karena perbedaan cara pandang, sifat/karakter atau karena perbedaan kebutuhan. Konflik yang berkepanjangan dalam halaqoh/usroh biasanya bersifat laten. Tidak muncul secara vulgar, sehingga jika kurang jeli murobbi/naqib atau peserta tidak mengetahui adanya konflik tersebut. Konflik yang tidak terselesaikan dalam halaqoh/usroh dapat berdampak pada suasana yang menjemukan dalam halaqoh/usroh.

Selain sebab-sebab yang bersifat eksternal tersebut, ada juga sebab-sebab yang datangnya dari diri pribadi orang yang mengalami kejemuan (internal). Sebab-sebab itu antara lain : 1. Kurangnya keikhlasan Salah satu sebab internal dari munculnya perasaan jemu adalah kurangnya keikhlasan. Hal ini karena ikhlas terkait dengan motivasi. Ikhlas merupakan motivasi yang tertinggi sehingga jika seseorang telah ikhlas, kecil kemungkinan ia dihinggapi perasaan bosan. Bahkan walau yang kita lakukan itu monoton tapi jika ikhlas mengerjakannya, maka rasa bosan tak akan mudah menghinggapi kita. Namun jika keikhlasan berkurang, seseorang akan mudah tertimpa penyakit jenuh. 2. Maksiat Sebab internal lain dari munculnya perasaan jenuh adalah seringnya seseorang melakukan kemaksiatan. Semakin banyak kemaksiatan yang dilakukan seseorang, semakin mudah ia tertimpa penyakit jenuh. Sebaliknya, semakin bersih seseorang dari kemaksiatan, semakin sulit ia tertimpa penyakit jenuh. Itulah sebabnya Nabi Muhammad saw tidak pernah jemu melakukan qiyamul lail setiap malam. Hal ini juga berlaku untuk halaqoh/usroh. Jika peserta halaqoh/usroh banyak melakukan kemaksiatan (kecil atau besar), maka kecenderungan untuk munculnya suasana jemu akan lebih besar dibandingkan jika peserta menjaga dirinya dari kemaksiatan. 3. Kurangnya pemahaman Kejemuan juga bisa muncul dari kurangnya pemahaman tentang pentingnya suatu pekerjaan. Orang yang cepat bosan melakukan suatau pekerjaan biasanya disebabkan ia kurang memahami manfaat dari pekerjaan tersebut. Misalnya, peserta yang menyadari pentingnya halaqoh/usroh dalam membentuk kejayaan umat tentu akan lebih sulit tertimpa penyakit jemu daripada peserta yang mengikuti halaqoh/usroh karena ikut-ikutan tanpa mengetahui urgensi dari halaqoh/usroh itu sendiri.

Tahap-Tahap Kejenuhan Dalam Halaqoh/Usroh Kita juga perlu mengetahui bahwa kejenuhan di dalam halaqoh/usroh tidak berlangsung secara tiba-tiba. Ada proses yang panjang sehingga suasana jenuh betulbetul terjadi dalam halaqoh/usroh. Tahapan-tahapan terjadinya kejenuhan dalam halaqoh/usroh sebagai berikut : 1. Monoton Suasana yang monoton adalah tahap awal dari kejenuhan yang terjadi dalam halaqoh/usroh. Monoton ditandai dengan suasana yang itu-itu saja. Tidak banyak berubah, baik dalam metode, waktu, tempat, suasana, materi, dan lain-lain. 2. Eliminasi makna Jika suasana monoton tidak segera diperbaiki, murobbi/naqib dan peserta mulai merasa bahwa halaqoh/usroh tidak lagi memberi nilai tambah pada dirinya. Terjadi

eliminasi (kemerosotan) makna halaqoh/usroh. Murobbi/naqib atau peserta tidak lagi merasakan manfaat dari kehadirannya di halaqoh/usroh. Mereka mulai membandingbandingkan kehadirannya di halaqoh/usroh dengan kehadirannya di tempat lain yang mungkin dianggapnya lebih memberi manfata daripada kehadiran di halaqoh/usroh. 3. Penghindaran Jika makna halaqoh sudah merosot, maka tahap berikutnya adalah munculnya keinginan untuk menghindari diri dari pertemuan halaqoh/usroh. Hal ini ditandai dengan sering tidak hadir atau hadir tapi terlambat dalam halaqoh/usroh. Mungkin murobbi/naqib atau peserta yang jemu tadi menyampaikan seribu satu alasan yang kelihatannya syari dan logis untuk membenarkan ketidakhadiran atau keterlambatannya dalam halaqoh/usroh. Namun alasan yang sebenarnya adalah karena ia sudah jemu dengan halaqoh/usroh. 4. Ketidaknyamanan Tahapan berikutnya adalah munculnya perasaan tidak nyaman untuk berada di halaqoh/usroh. Kehadirannya di halaqoh/usroh semata-mata hanya untuk memenuhi kewajiban (terpaksa). Tidak ada lagi perasaan nyaman dan rindu dengan halaqoh/usroh. Nikmatnya ukhuwah menjadi semakin jauh untuk terealisir. 5. Apatis Tahap puncak dari kejemuan dalam halaqoh/usroh adalah munculnya sifat apatis (masa bodo) terhadap apa yang terjadi. Ia tak lagi peduli dengan tugas atau program halaqoh/usroh. Jika pun ia melaksanakan tugas atau program halaqoh/usroh, maka tugas atau program itu dikerjakannya dengan perasaan terpaksa dan ogah-ogahan. Bahkan ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dari tugas atau program halaqoh/usroh. Ia mulai banyak absen dalam pertemuan halaqoh/usroh. Jika pun hadir, biasanya terlambat dan lebih banyak bersikap pasif serta tidak mau terlibat banyak dalam halaqoh/usroh. Ia hanya peduli dengan apa-pa yang terkait erat dengan kepentingan pribadinya. Tidak ada lagi idealita untuk memikirkan orang lain atau memperjuangkan Islam. Jika tahap apatis ini dibiarkan, maka ada dua hal yang akan terjadi. Pertama, kebanyakan peserta akan keluar atau pindah dari halaqoh/usroh tersebut. Kedua, kebanyakan peserta tetap bertahan dalam halaqoh/usroh tapi perkembangannya sangat lambat. Bahkan boleh dikatakan mereka berjalan di tempat. Sebab tidak ada kemajuan yang berarti dalam diri mereka. ===(ada bagan)==

Macam-Macam Kejenuhan Dalam Halaqoh/Usroh Ada beberapa macam kejenuhan yang mungkin terjadi dalam halaqoh/usroh. Macammacan kejenuhan tersebut antara lain :

1. Kejenuhan berdasarkan jumlah peserta a. Kejenuhan induvidual, yaitu kejenuhan yang terjadi pada satu atau lebih peserta halaqoh/usroh. Kejenuhan ini terjadi pada minoritas dari jumlah seluruh peserta halaqoh/usroh. b. Kejenuhan komunal, yaitu kejenuhan yang terjadi pada sebagian besar (mayoritas) peserta halaqoh/usroh. Kejenuhan komunal lebih sulit diatasi daripada kejenuhan induvidual. 2. Kejenuhan berdasarkan waktu : a. Kejenuhan temporer, yaitu kejenuhan di dalam halaqoh/usroh yang terjadi hanya pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, suasana membosankan yang berlangsung ketika murobbi/naqib tidak hadir karena sedang menempuh ujian kuliah. Namun setelah murobbi/naqib hadir kembali, suasana membosankan itu hilang. b. Kejenuhan permanen, yaitu kejenuhan yang terjadi ketika halaqoh/usroh merasakan kejenuhan dalam waktu yang lama. Kejenuhan permanen lebih sulit diatasi daripada kejenuhan temporer. 3. Kejenuhan berdasarkan peran : a. Kejenuhan peserta, yaitu kejenuhan yang terjadi pada diri peserta halaqoh/usroh. b. Kejenuhan murobbi/naqib, yaitu kejenuhan yang terjadi pada diri murobbi/naqib. Kejenuhan murobbi/naqib lebih sulit diatasi daripada kejenuhan peserta. 4. Kejenuhan berdasarkan objek : a. Kejenuhan sistem belajar, yaitu kejenuhan yang diakibatkan oleh tidak pernah berubahnya sistem belajar. Misalnya, sistem belajar yang dilakukan hanya berupa gaya lesehan di dalam ruangan. Padahal semestinya bisa berubah-ubah dalam bentuk sistem klas, belajar di ruang terbuka, metode majelis talim di mesjid, dan lain-lain. b. Kejenuhan metode penyampaian, yaitu kejenuhan yang diakibatkan karena penyampaian materi/madah yang monoton (hanya dengan satu metode bejajar saja). Misalnya, hanya dengan menggunakan metode ceramah, tidak berubah dengan menggunakan metode-metode lainnya seperti diskusi, seminar, games, studi kasus, simulasi, bedah buku, dan lain-lain. c. Kejenuhan media/alat belajar, yaitu kejenuhan yang diakibatkan penggunaan sarana belajar yang monoton. Misalnya, hanya menggunakan lembaran foto copy, padahal sebenarnya bisa menggunakan sarana belajar lain, seperti papan tulis, OHP (Over head Projector), LCD, lembar peraga, alat demo/simulasi, dan lain-lain. d. Kejenuhan materi/madah, yaitu kejenuhan yang diakibatkan oleh isi materi yang monoton. Walau materi berbeda-beda, tapi penjabaran, ilustrasi, dalil, atau contoh diberikan secara monoton dan berulang-ulang.

e. Kejenuhan agenda acara, yaitu kejenuhan yang diakibatkan oleh monotonnya susunan dan jenis agenda acara dalam setiap pertemuan halaqoh/usroh. f. Kejenuhan waktu pertemuan, yaitu kejenuhan yang diakibatkan tidak pernah berubahnya waktu pertemuan. Misalnya, waktu pertemuan selalu dilakukan setiap malam jumat. g. Kejenuhan tempat pertemuan, yaitu kejenuhan yang diakibatkan tidak pernah berubahnya tempat pertemuan. Misalnya, tempat peremuan selalu dilakukan di rumah murobbi/naqib. h. Kejenuhan komposisi peserta, yaitu kejenuhan yang diakibatkan oleh tidak pernah berubahnya komposisi peserta. Peserta yang mengikuti suatu halaqoh/usroh tidak pernah berubah selama bertahun-tahun. Tidak ada yang dimutasikan dan tidak ada peserta pindahan dari halaqoh/usroh lainnya. Tidak semua kejenuhan tersebut ada di dalam halaqoh/usroh. Sebaiknya setiap halaqoh/usroh perlu berupaya agar berbagai macam kejenuhan tersebut tidak terjadi dalam halaqoh/usrohnya. Sebab biasanya semakin banyak macam kejenuhan yang ada di dalam halaqoh/usroh, semakin tinggi tingkat kejenuhan yang terjadi dan semakin besar upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi kejenuhan tersebut.

Dampak Kejenuhan Halaqoh/Usroh Murobbi/naqib dan peserta perlu berupaya mengatasi berbagai kejenuhan yang terjadi dalam halaqoh/usroh. Sebab jika tidak segera diatasi, tingkat kejenuhan yang tadinya kecil akan berubah menjadi besar dan merambat pada berbagai kejenuhan lainnya. Persis seperti penyakit pada tubuh yang apabila tidak segera diobati akan menjalar pada bagian tubuh lainnya. Kejenuhan yang terjadi dalam halaqoh/usroh akan berdampak negatif bagi: - Peserta halaqoh/usroh berupa : 1. Kehadiran yang tidak rutin Peserta yang jenuh akan sering tidak hadir dalam halaqoh/usroh. Ia sepertinya mempunyai jadwal tersendiri untuk hadir di halaqoh/usroh. Misalnya, dua pekan hadir, pekan ketiga tidak hadir; atau pekan ini hadir, pekan depan tidak hadir. Biasanya ia tidak pernah minta izin lebih dahulu mengapa tidak hadir dalam halaqoh/usroh. Ia baru menyampaikan alasan kalau ditanya. Alasan yang diajukannya juga singkat dan meragukan urgensinya. Namun lama kelamaan orang yang jenuh semakin pandai membuat alasan, sehingga semakin lama alasannya semakin nampak logis dan syari. Ia semakin terbiasa untuk tidak hadir secara rutin dalam halaqoh/usroh tanpa merasa bersalah. 2. Kedisiplinan yang menurun Peserta yang jenuh juga akan menurun tingkat disiplinnya. Indikasi yang jelas adalah seringnya ia terlambat menghadiri halaqoh/usroh. Walau tidak semua keterlambatan

disebabkan oleh rasa jenuh, tapi jika keterlambatan itu menjadi suatu kebiasaan cenderung disebabkan karena kejenuhan yang terjadi pada diri peserta tersebut. Kedisiplinan yang menurun juga tampak pada pelaksanaan tugas. Sering absen atau mengabaikan tugas-tugas yang membutuhkan kehadirannya di luar waktu halaqoh/usroh. Sering mengantuk dan lupa dengan apa yang semestinya dibawa dalam pertemuan halaqoh/usroh juga merupakan indikasi dari kejenuhan yang melanda diri peserta. 3. Keterlibatan yang minim Peserta yang jenuh juga akan minim keterlibatannya dalam halaqoh/usroh. Ketika hadir tidak begitu banyak terlibat dalam diskusi atau pengambilan keputusan. Lebih banyak menjadi pendengar pasif saja. Ketika diberikan tugas juga banyak menolak atau meminta peserta lain yang mengerjakannya. Kejenuhan pada halaqoh/usroh juga bisa berdampak pada keterlibatan yang minim dalam acara-acara dakwah di luar halaqoh/usroh, baik yang diselenggarakan oleh halaqoh/usroh itu sendiri maupun oleh jamaah. 4. Ketidakpuasan yang meningkat Kejenuhan juga berdampak pada kegairahan yang menurun untuk hadir dan terlibat dalam kegiatan halaqoh/usroh. Semangat dan motivasi untuk mengikuti kegiatan halaqoh/usroh menjadi berkurang, sehingga berdampak pada perasaan tidak nyaman dan tidak puas dengan pertemuan-pertemuan halaqoh/usroh. Ketidakpuasan pada acara halaqoh/usroh dapat berdampak pada keinginan untuk mencari pelarian pertemuan lain yang lebih memuaskan dirinya. Disinilah mungkin seorang peserta akan lebih suka hadir di acara-acara lain dibandingkan acara halaqoh/usroh pada saat yang sama. Halaqoh/usroh tidak lagi menjadi prioritas utama dalam agenda kegiatannya. 5. Kemaksiatan yang muncul Peserta yang jenuh juga rentan dengan kemaksiatan. Orang yang jenuh akan lebih rentan mengalami penurunan iman. Dan turunnya iman akan membuat seseorang lebih rentan melakukan kemaksiatan. Misalnya, karena jenuh mungkin saja peserta mulai mencari pelarian dengan melakukan kegiatan yang batil, seperti konser musik rock, menonton film dewasa di bioskop, membaca buku yang tidak senonoh, berjalanjalan tanpa tujuan, berpacaran, dan merokok. 6. Konflik/permasalahan yang bertambah Kejenuhan juga bisa berdampak pada keringnya rasa ukhuwah di antara peserta. Hal ini berdampak lebih jauh pada rentannya peserta terhadap masalah dan konflik. Mulai ada keinginan untuk memperbesar-besar masalah yang kecil. Mulai muncul ketersinggungan karena perkataan atau perbuatan dari peserta lainnya yang tadinya tidak dipermasalahkan. Gara-gara jemu dengan halaqoh/usroh bisa saja seorang peserta marah ketika peserta lainnya menanyakan alasan ketidakhadirannya pada acara halaqoh/usroh. 7. Keterlambatan pencapaian tujuan

Akibat yang paling fatal dari kejemuan yang melanda peserta adalah tidak tercapainya tujuan pembinaan pada diri peserta tersebut. Perkembangan peserta menjadi lambat, bahkan mungkin menurun. Tujuan pembinaan yang semestinya sudah dicapai tak pernah tercapai. Mungkin ia juga menyadari perkembangan dirinya yang lambat, sehingga muncul perasaan rendah diri karena merasa tertinggal dengan teman-teman seangkatannya. Mungkin juga ia merasa stres dan frustasi karena merasa tidak ada perubahan yang signifikan pada dirinya. Perasaan ini bisa berdampak pada keinginan untuk mengundurkan diri dari halaqoh/usroh dan dakwah. Jika kejenuhan tersebut terjadi pada diri seorang murobbi/naqib, maka selain berbagai dampak di atas, murobbi/naqib dapat juga mengalami berbagai dampak negatif kejenuhan seperti berikut : 1. Enggan melakukan persiapan Karena jenuh, murobbi/naqib menjadi malas melakukan persiapan yang diperlukan sebelum menghadiri halaqoh/usroh. Ia enggan melakukan persiapan materi yang akan disampaikan. Enggan untuk mempersiapkan berbagai hal yang diperlukan untuk membuat halaqoh/usroh berjalan lancar dan menggairahkan. Ia juga enggan malkukan persiapan mental (ruhiyah) dan fisik. Hal ini berdampak pada penampilannya yang tidak prima dalam halaqoh/usroh. Peserta akhirnya tidak mendapatkan sesuatu yang berharga dan banyak manfaatnya dari kehadiran murobbi/naqib dalam pertemuan halaqoh/usroh. Pepatah mengatakan: Barangsiapa yang tidak memiliki kelebihan, ia tidak bisa memberikan apa-apa. 2. Penyampaian yang kurang berisi Kejemuan yang melanda murobbi/naqib dapat berdampak pada kurangnya pengaruh (atsar) yang disampaikan murobbi/naqib kepada peserta. Hal ini karena kejemuan berdampak pada keringnya hati. Hati yang kering menyebabkan pembicaraan menjadi kurang berisi, sehingga apa yang disampaikan murobbi/naqib kurang memiliki pengaruh terhadap perubahan sikap dan perilaku peserta. 3. Pencapaian tujuan yang terlupakan Kejemuan yang melanda murobbi/naqib juga berdampak pada pencapaian tujuan halaqoh/usroh. Murobbi/naqib tidak lagi begitu peduli mau kemana halaqoh/usroh yang dipimpinnya berjalan. Yang penting baginya sekedar menjalankan halaqoh/usroh sebagai kewajiban. Bukan lagi peduli apakah tujuan halaqoh/usroh tercapai atau tidak. Apalagi peduli apakah tujuan halaqoh/usroh bisa dicapai dengan lebih cepat atau tidak. Semua itu sudah terlupakan, karena murobbi/naqib sudah jemu sehiangga tak lagi memiliki semangat untuk mengelola halaqoh/usroh. Jika kejenuhan yang melanda halaqoh/usroh tidak segera di atasi, maka halaqoh/usroh yang muntijah (sukses) menjadi sekedar impian belaka. Yang tidah pernah dicapai sampai kapan pun. Begitu banyaknya dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari kejenuhan dalam halaqoh/usroh semestinya menjadikan setiap murobbi/naqib dan peserta

halaqoh/usroh sadar betapa pentingnya mendinamiskan perjalanan halaqoh/usroh. Jika murobbi/naqib dan peserta menyepelekan hal ini maka kualitas pembinaan akan terus menurun, sehingga pembinaan melalui halaqoh/usroh tidak lagi mampu melahirkan kader-kader dakwah yang tangguh. Hal ini tentu tak bisa terus dibiarkan, jika kita masih memiliki komitmen untuk membangun kejayaan Islam.

Ciri-Ciri Halaqah/Usroh yang Dinamis Setelah kita mengetahui begitu banyaknya dampak negatif yang muncul dari halaqoh/usroh yang tidak dinamis (menjemukan), lalu bagaimana caranya menilai sebuah halaqoh/usroh dinamis atau tidak? Apa cirri-ciri sebuah halaqoh/uisroh yang dinamis? Tidak mudah memang mendeteksi sebuah halaqoh/usroh dinamis atau tidak. Dibutuhkan pengamatan yang mendalam dan waktu yang lama untuk mengidentifikasikan kedinamisan sebuah halaqoh/usroh. Sebenarnya yang paling tepat menilai dinamisasi sebuah halaqoh/usroh adalah mereka yang berada di dalamnya. Orang luar mungkin hanya bisa mengira-ngira kualitas kedinamisan sebuah halaqoh/usroh. Namun di bawah ini, ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur kedinamisan sebuah halaqoh/usroh. Kriteria tersebut antara lain : 1. Suasana yang inovatif Halaqoh/usroh yang dinamis ditandai oleh perubahan-perubahan yang sering terjadi di dalam perjalanan halaqoh/usroh itu sendiri. Perubahan ini bukan berarti halaqoh/usroh terus menerus bongkar pasang peserta, tetapi karena ada kreativitas dari murobbi/naqib dan peserta untuk melakukan berbagai cara/ide baru demi membuat pertemuan halaqoh/usroh berlangsung menggairahkan dan menarik. Mereka melakukan inovasi berbagai hal. Misalnya, dalam sistem belajar, metode penyampaian, alat/media belajar, tempat pertemuan, waktu pertemuan, pembahasan madah/materi, agenda acara, dan lain-lain. Pokoknya murobbi/naqib dan peserta tidak terjebak dengan pakem tertentu dalam menjalankan halaqoh/usroh. Mereka gemar melakukan inovasi agar pertemuan halaqoh/usroh berlangsung dalam suasana yang membosankan dan monoton. 2. Komentar-komentar kerinduan Munculnya komentar-komentar kerinduan, baik secara implisit maupun eksplisit bisa jaga dijadikan indikator kedinamisan sebuah halaqoh/usroh. Komentar yang bersifat implisit contohnya, menanyakan kapan lagi bertemu atau mengapa halaqoh/usroh tidak dilakukan lebih sering lagi. Komentar eksplisit bisa berupa perkataan, saya sudah kangen dengan halaqoh atau komentar-komentar yang semacam itu. Komentar tersebut tidak mesti disampaikan kepada murobbi/naqib, tapi mungkin saja disampaikan kepada sesama peserta halaqoh/usroh. 3. Ingin berlama-lama

Indikator berikutnya dari halaqoh/usroh yang dinamis biasanya muncul dari keinginan untuk berlama-lama dalam halaqoh/usroh. Walau waktu pertemuan halaqoh/usroh telah ditetapkan hanya berlangsung selama 2 jam misalnya, tapi peserta tidak begitu kaku dengan pembatasan jam tersebut. Murobbi/naqib dan peserta sering hadir lebih awal dan pulang lebih lambat dari jam yang telah ditentukan. Mereka masih ingin berlama-lama bercengkrama dan membahas berbagai program atau persoalan dawah yang ada. Peserta tidak sering melakukan interupsi untuk mengingatkan waktu halaqoh/usroh sudah habis. Mereka terlalu asyik dengan pertemuan halaqoh/usroh, sehingga tidak terlalu kaku dengan pembatasan waktu. 4. Kehadiran yang rutin Indikator yang paling nyata dari kedinamisan halaqoh/usroh dapat dilihat dari kehadiran peserta yang rutin. Tidak ada peserta yang hobi untuk datang terlambat atau sering tidak hadir. Kalau pun ada peserta yang tidak hadir biasanya jumlahnya sedikit (hanya 1-2 orang). Itu pun bukan pada orang yang sama setiap pekannya. Mereka tidak hadir atau terlambat semata-mata karena ada halangan syari bukan karena alasan yang dibuat-dibuat sehingga kelihatannya logis dan syari. Peserta tidak berupaya untuk mencari-cari alasan agar tidak hadir dalam halaqoh/usroh. Semakin banyak ciri-ciri di atas ada dalam sebuah halaqoh/usroh maka berarti semakin dinamis halaqoh/usroh tersebut. Sebaliknya, jika ciri-ciri tersebut semakin tidak ada, bahkan yang ada malah kondisi sebaliknya, yaitu : 1. 2. 3. 4. Adanya kondisi yang monoton; tidak ada komentar-komentar kerinduan; tidak ada keinginan untuk berlama-lama; dan kehadiran yang tidak rutin

maka hal ini menunjukkan halaqoh/usroh berada dalam kondisi jenuh, sehingga perlu ada upaya segera untuk mengatasinya. Jika tidak, maka nasib halaqoh/usroh tersebut akan semakin parah. Cita-cita untuk menjadi halaqoh/usroh yang muntijah (sukses) hanya akan menjadi utopi.

Test Dinamisasi Halaqoh/Usroh Di bawah ini ada test sederhana untuk mengukur sejauh mana dinamisasi yang ada di dalam halaqoh/usroh Anda. ..

HALAQOH/USROH PRODUKTIF ==Perkataan syech dawah==

Halaqoh yang muntijah tidak akan terwujud tanpa tercapainya produktivitas. Produktivitas merupakan indikator yang penting untuk mengukur keberhasilan halaqoh/usroh. Tanpa produktivitas, halaqoh/usroh akan kehilangan esensinya sebagai wadah pengkaderan yang mumpuni. Halaqoh/usroh yang tidak produktif pada hakekatnya telah berubah fungsi menjadi tempat berkumpul biasa, seperti paguyuban belaka. Ia tak lagi memiliki keistimewaan sebagai marokiz taghir (wadah perubahan) bagi umat dan bangsa. Produktivitas berbeda dengan dinamika. Jika dinamisasi terjadi dalam tataran proses, produktivitas terjadi dalam tataran tujuan (output). Ketika kita berbicara tentang produktivitas, kita berbicara tentang sejauh mana tujuan yang telah direncakan dapat tercapai. Semakin banyak tujuan yang kita dapatkan, maka semakin produktivitas kita. Sebaliknya, semakin sedikit atau tidak teralisirnya tujuan yang kita harapkan, maka semakin tidak produktif kita. Dua hal tersebut --produktivitas dan dinamisasisama-sama penting dalam mengukur keberhasilan halaqoh/usroh. Halaqoh yang dinamis tak ada artinya tanpa produktivitas. Sebaliknya, halaqoh yang produktif tak ada artinya tanpa dinamisasi. Produktivitas dan dinamisasi sama pentingnya karena halaqoh/usroh adalah kumpulan manusia yang membutuhkan kedua hal tersebut (produktivitas dan dinamisasi). Produktivitas memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai tujuan. Keinginan untuk lebih baik dari sebelumnya. Barangkali tidak ada manusia di dunia ini yang tak ingin maju. Semua manusia menginginkan kemajuan. Sedang dinamisasi memenuhi kebutuhan manusia untuk menikmati apa yang tengah dialaminya. Tidak ada manusia yang ingin apa yang dialaminya berlangsung secara membosankan atau mengecewakan. Manusia ingin merasa nyaman dan bergairah ketika melakukan sesuatu. Dinamisasi memenuhi kebutuhan rasa nyaman dan bergairah kita ketika melakukan sesuatu. Dinamisasi memenuhi kebutuhan kita akan ukhuwah (rasa persaudaraan) jika kita melakukan sesuatu bersama orang lain. Dinamisasi menjawab kebutuhan kita akan soliditas dan harmonisasi ketika bekerjasama dengan orang lain. Halaqoh/usroh membutuhan produktivitas dan dinamisasi tersebut. Sebab halaqoh/usroh adalah kumpulan manusia yang ingin maju (produtif) dan ingin merasakan nikmatnya ukhuwah (dinamisasi). Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam (QS. 3 : 102). Ayat ini berbicara tentang produktivitas. Setiap orang perlu bergerak maju; dari iman, takwa, sebenarnya-benarnya taqwa sampai kepada Islamiyatul hayah (mengislamisasi kehidupan). Namun Allah SWT menyambung ayat tersebut dengan ayat lain tentang pentingnya ukhuwah (dinamisasi) dalam mencapai tujuan (produktivitas). Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali

(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nimat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nimat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamtkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk (QS. 3 : 103). Jadi, dari dua ayat tersebut dapat diambil ibroh bahwa pencapaian produktivitas harus diiringi dengan pencapaian dinamisasi. Keduanya sama-sama penting bagi setiap induvidu dan kelompok. Oleh karena itu jika kita ingin mengukur kesuksesan sebuah halaqoh/usroh, kita tak bisa lepas dari dua indikator : sampai sejauh mana produktivitas halaqoh/usroh tercapai dan sampai sejauh mana dinamisasi halaqoh/usroh tercapai. Tanpa mengukur kedua hal tersebut, kita tak dapat mengukur kesuksesan (muntijah) sebuah halaqoh/usroh.

Pengertian Produktivitas Halaqoh/Usroh Produktivitas adalah banyaknya hasil (tujuan) yang dicapai oleh seseorang/sekelompok orang. Produktivitas dapat dilihat dari dua sisi : kuantitas dan kualitas. Halaqoh/usroh yang produktif berarti halaqoh/usroh yang berhasil mencapai kuantitas dan kualitas dari sasaran yang direncanakan. Semakin banyak dan berkualitas sasaran-sasaran yang dicapai oleh sebuah halaqoh/usroh berarti semakin produktif halaqoh/usroh tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit dan tidak berkualitas sasaran-sasaran yang dicapai oleh sebuah halaqoh/usroh berarti semakin tidak produktif halaqoh/usroh tersebut. Halaqoh/usroh telah mempunyai tujuan yang pasti. Para pakar dawah telah merumuskan apa saja sasaran yang mesti dicapai oleh halaqoh/usroh. Sasaran-sasaran tersebut adalah : 1. Tercapainya muwashofat (sifat-sifat) tertentu Produktivitas halaqoh/usroh diukur dari sejauh mana peserta mencapai muwashofat yang ditetapkan. Sebagai wadah pengkaderan, halaqoh/usroh memiliki ukuran tentang karakter seperti apa yang perlu diwujudkan bagi orang-orang yang dibinanya. Karakter yang perlu diwujudkan itulah yang disebut dengan muwashofat (sifat-sifat). Halaqoh/usroh memiliki berbagai jenjang yang di setiap jenjangnya mempunyai muwashofat yang berbeda-beda. (lihat pada lampiran). Tugas murobbi/naqib adalah membimbing peserta untuk mencapai muwashofat yang telah ditetapkan sesuai dengan jenjangnya. Murobbi/naqib yang berhasil membina peserta mencapai muwashofat berarti berhasil mewujudkan halaqoh/usroh yang produktif. Sebaliknya, murobbi/naqib yang tidak berhasil membina peserta untuk mencapai muwashofat yang telah ditetapkan berarti gagal mewujudkan halaqoh/usroh yang produktif. 2. Tercapainya pembentukan murobbi-murobbi baru Sebagai wadah pengkaderan, produktivitas halaqoh/usroh diukur dari sejauh mana peserta berhasil menjadi murobbi-murobbi baru. Halaqoh/usroh tidak bisa memisahkan diri dari sasaran pembentukan murobbi-murobbi baru. Alasannya, ada dua. Pertama,

karena tidak ada lembaga lain yang dapat melahirkan murobbi kecuali halaqoh/usroh. Kedua, karena halaqoh/usroh tidak akan menyebar ke banyak kalangan jika tidak lahir murobbi-murobbi baru yang akan menyebarkan pembinaan melalui halaqoh/usroh. Hal ini mengharuskan murobbi/naqib untuk mampu mencetak peserta agar mau dan mampu menjadi murobbi-murobbi baru. Tidak ada alasan bagi peserta untuk tidak mau menjadi murobbi baru. Kaidah fiqih mengatakan : Jika untuk mewujudkan sesuatu yang wajib dibutuhkan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib. Membentuk umat (takwinul ummah) yang Islami adalah wajib, karena itu cara mewujudkannya juga menjadi wajib. Cara yang efektif untuk mewujudkan takwinul ummah adalah mentarbiyah umat melalui halaqoh/usroh. Hal ini menyebabkan menjadi murobbi menjadi wajib. Karena tidak mungkin halaqoh/usroh itu ada jika tidak ada murobbi-murobbi baru. Allah SWT juga memerintahkan kita menjadi pribadi Robbani yang cirinya adalah selalu mengajarkan Al Kitab dan tetap mempelajarinya (QS. 3 : 79). Tidak boleh seorang muslim hanya mau menjadi pelajar (madu), tanpa mau menjadi pengajar (dai). Peserta halaqoh/usroh tidak cukup hanya sekedar menjadi dai biasa, tapi dai yang mampu mengelola halaqoh/usroh (murobbi). Sebab hanya murobbi yang berpeluang besar untuk merubah orang menjadi berkepribadian Islami (syakhsiyyah Islamiyah). Jika hanya mengandalkan forum-forum dawah ammah, seperti tabligh, ceramah, baca buku, seminar, dan lain-lain, dawah hanya memiliki peluang kecil untuk merubah orang berkepribadian Islami. Hal ini sudah dibuktikan oleh perjalanan panjang dawah di segenap tempat dan zaman. Jadi, produktivitas halaqoh/usroh juga diukur dari seberapa banyak peserta di dalam halaqoh/usroh tersebut mampu menjadi murobbi-murobbi baru. Seberapa banyak peserta yang memiliki binaan (peserta) baru sebagai wujud estafeta dawah. Semakin banyak peserta yang berhasil menjadi murobbi-murobbi baru, maka semakin produktif halaqoh/usroh tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit peserta yang berhasil menjadi murobbi-murobbi baru, maka semakin tidak produktif halaqoh/usroh tersebut. 3. Tercapainya pengembangan potensi Halaqoh/usroh yang produktif juga diukur dari sejauh mana peserta berhasil mengembangkan potensinya. Potensi adalah kelebihan/keunggulan terpendam yang dimiliki seseorang. Potensi ada dua macam, yaitu potensi umum dan khusus. Potensi umum adalah potensi yang dimiliki semua orang. Misalnya, potensi kreativitas, komunikasi, dan kepemimpinan. Hampir semua orang memiliki potensi tersebut. Sedang potensi khusus adalah bakat. Yakni, kelebihan/keunggulan unik yang tidak dimiliki semua orang, seperti kemampuan komputer, bisnis, menulis, matematika, kedokteran, kimia, fisika, dan lain-lain. Tugas murobbi/naqib adalah membantu peserta untuk menemukan dan mengembangkan potensinya, baik potensi umum maupun khusus. Tugas ini tidak mudah dan membutuhkan ketekunan tersendiri. Realita di lapangan menunjukkan tidak sedikit murobbi/naqib yang mengabaikan tugas ini. Mereka menganggap sasaran yang ketiga ini bukanlah termasuk sasaran halaqoh/usroh. Padahal Imam Syahid Hasan Al Banna pernah berkata: ..

Pengabaian terhadap sasaran ini akan berdampak pada lambatnya perkembangan potensi peserta. Hal ini akan berdampak lebih jauh pada penataan (tanzhim) jamaah. Peserta sebagai SDM bagi jamaah jadi tidak maksimal memberikan kontribusi potensinya kepada jamaah. Jamaah kehilangan potensinya untuk bergerak lebih cepat dan profesional dalam menghadapi perubahan lingkungan yang semakin cepat saat ini. Hal ini terjadi karena halaqoh/usroh sebagai batu bata jamaah mengabaikan perannya yang strategis sebagai wadah pengembangan potensi pesertanya. Peserta lebih banyak dibiarkan sendiri untuk mengembangkan potensinya secara induvidual dan sporadis, tanpa bimbingan dan penataan. Oleh karena itu, halaqoh/usroh yang produktif adalah halaqoh/usroh yang membantu pengembangan potensi pesertanya. Semakin banyak peserta yang berkembang sesuai dengan potensinya, maka semakin produktif halaqoh/usroh tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit peserta yang berkembang sesuai dengan potensinya bahkan peserta tidak tahu potensinya apa-- maka semakin tidak produktif halaqoh/usroh tersebut. Tiga sasaran inilah yang perlu dituju untuk mencapai produktivitas sebuah halaqoh/usroh. Ketiga-tiganya sama pentingnya dan sama prioritasnya untuk dijadikan tujuan. Tidak boleh murobbi/naqib dan peserta memprioritaskan yang satu dan mengabaikan yang lainnya sebagai sasaran. Pengabaian terhadap salah satu dari ketiga sasaran itu akan mengurangi nilai keberadaan halaqoh/usroh itu sendiri. Halaqoh/usroh akan semakin jauh dari idealitanya untuk menjadi halaqoh/usroh yang muntijah. ==ada bagan==

Manfaat Halaqah/Usroh yang Produktif Produktivitasnya sebuah halaqoh/usroh tentu akan memberikan manfaat yang banyak, baik bagi murobbi/naqib, peserta maupun bagi jamaah dan umat. Bagi murobbi/naqib, halaqoh/usroh yang produktif akan membuat munculnya perasaan berhasil. Perasaan ini amat dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dalam membina. Murobbi/naqib yang merasa berhasil membawa halaqoh/usrohnya menuju sasaran akan lebih percaya diri untuk membawa peserta menuju sasaran yang lebih besar lagi. Hal ini tentu saja akan menguntungkan bagi peserta karena ia dipimpin oleh murobbi/naqib yang bukan saja paham tentang pentingnya produktivitas halaqoh/usroh, tapi juga percaya diri dan optimis untuk membimbing peserta melangkah maju menuju sasaran yang lebih besar lagi. Namun jika halaqoh/usroh dipimpin oleh murobbi/naqib yang mengabaikan produktivitas, maka suasana halaqoh/usroh menjadi tanpa arah. Mungkin banyak kegiatannya, tapi kegiatan tersebut tidak terfokus pada pencapaian sasaran, sehingga peserta dan murobbi/naqib tidak merasakan adanya kemajuan. Tidak ada rasa berhasil dalam halaqoh/usroh. Perasaan ini akan berpengaruh kepada rasa percaya diri untuk mencapai sasaran berikutnya. Murobbi/naqib dan peserta akhirnya pasrah dan pesimis dengan keberhasilan perjalanan halaqoh/usroh. Hal ini tentu akan berdampak pada kualitas halaqoh/usroh sendiri yang kurang berhasil dalam membentuk kader-kader Islam yang tangguh.

Bagi jamaah dan umat, halaqoh/usroh yang produktif akan memberi dampak pada akselerasi peningkatan kualitas jamaah dan umat. Jamaah akan memiliki kader -kader yang berkualitas dan paham tentang misinya sebagai anggota jamaah. Mereka tidak lagi bersikap menunggu untuk melaksanakan program yang dibutuhkan jamaah dan umat. Mereka proaktif dan progresif terhadap masalah umat karena sudah terbiasa bersikap produktif di dalam hahalqoh/usroh. Watak mereka untuk maju dan produktif akan sangat bermanfaat bagi pembangunan umat pada umumnya. Umat akan memiliki para pelopor (anashirut taghir) yang tangguh untuk membawa umat keluar dari keterpurukannya. Masa depan Islam akan cerah karena umat telah memiliki kader-kader yang produktif dan haus dengan kemajuan menuju ridho Allah SWT.

Sebab-Sebab Tidak Produktivitasnya Halaqoh/Usroh Permasalahannya adalah mengapa ada halaqoh/usroh yang tidak produktif? Apa sebab dari tidak produktivitasnya sebuah halaqoh/usroh? Sebab-sebabnya ada dua; sebab internal dan eksternal. Beberapa sebab internal adalah : 1. Tidak memahami tujuan Murobbi/naqib dan peserta yang tidak memahami tujuan halaqoh/usroh tidak mungkin dituntut untuk produktif. Bagaimana bisa produktif kalau tujuan halaqoh/usroh belum dipahami secara baik? Halaqoh/usroh tersebut menjadi asal jalan tanpa arah yang jelas mau kemana. Jadi, tidak mengetahui tujuan halaqoh/usroh secara jelas akan membuat sebuah halaqoh/usroh menjadi tidak produktif. 2. Terlena dengan proses Sebab yang kedua dari tidak produktifitasnya halaqoh adalah terlena dengan proses. Mungkin murobbi/naqib dan peserta terlalu berorientasi pada hubungan (human oriented), sehingga kelompok sangat memperhatikan harmonisasi dan kekompakan. Namun karena terlalu menikmati proses yang nyaman dalam hubungan antar personil halaqoh/usroh, sehingga terlena dan lupa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Mungkin mereka asyik dengan berbagai kegiatan dan program, tetapi lupa mengkritisi apakah kegiatan atau program tersebut sesuai atau tidak dengan pencapaian tujuan. Akhirnya, halaqoh/usroh menjadi tidak produktif karena murobbi/naqib dan peserta terlena dengan nikmatnya persaudaraan dan pergaulan di antara mereka. 3. Kurangnya semangat bersaing Kurangnya semangat bersaing bisa menjadi sebab tidak produktivitasnya halaqoh/usroh. Hilangnya etos bersaing membuat suatu kelompok merasa dalam kondisi baik, sehingga tidak perlu meningkatkan produktivitasnya. Sebaliknya, tumbuhnya semangat bersaing membuat suatu kelompok bersemangat untuk meningkatkan produktivitas. Sebab mereka paham kalau kalah bersaing nasib mereka akan tergilas oleh pesaingnya. Halaqoh/usroh perlu memiliki semangat bersaing, sehingga mereka terpacu untuk meningkatkan produktivitas. Pesaing mereka secara internal adalah halaqoh/usroh lainnya. Sedang secara eksternal adalah kelompok-kelompok kajian yang dibuat oleh

jamaah atau organisasi lainnya. Bersaing adalah etos yang perlu dimiliki oleh kader Islam sesuai dengan perintah Allah SWT, Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan (QS. 2 : 148). Hilangnya semangat bersaing akan membuat sebuah halaqoh/usroh menjadi kurang produktif karena merasa tidak ada tantangan dan ancaman yang membahayakan eksistensi keberadaan halaqoh/usroh itu sendiri. Padahal di sekitar kita saat ini sudah banyak bermunculan kelompok-kelompok kajian seperti halaqoh/usroh yang memiliki semangat tinggi untuk merekrut massa. Jika halaqoh/usroh tidak produktif, maka orang tidak akan merasakan manfaatnya mengikuti halaqoh/usroh. Mereka mungkin akan beralih mengikuti kelompok-kelompok kajian lainnya yang dibuat oleh organisasi lainnya, baik yang beraliran Islam maupun non Islam. 4. Percaya dengan takdir yang salah Ada sebagian murobbi/naqib yang percaya bahwa maju atau tidaknya seorang peserta tergantung dari kehendak Allah. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Memang segala sesuatu di dunia ini terjadi karena kehendak (takdir) Allah, tetapi manusia mempunyai ikhtiar agar takdir Allah tersebut menjadi baik untuk dirinya. Maju atau mundurnya kualitas peserta tergantung pada ikhtiar murobbi/naqib dan peserta itu sendiri untuk merubah dirinya. Seorang murobbi/naqib yang baik akan terus berusaha dengan tekun dan sabar untuk meningkatkan produktivitas peserta dan tidak buru-buru pasrah dengan berlindung pada pengertian takdir Allah yang salah. Murobbi/naqib yang cepat mengambil kesimpulan bahwa peserta yang dibinanya tidak maju karena kehendak Allah akan menyebabkan rendahnya produktivitas halaqoh/usroh. Hal ini karena mereka sudah terlebih dahulu pesimis, sehingga tidak bersemangat lagi untuk meningkatkan kualitas peserta halaqoh/usroh. Ada pun sebab-sebab eksternal dari tidak produktivitasnya sebuah halaqoh/usroh adalah : 1. Kurangnya motivasi Murobbi/naqib dan peserta tidak saling memotivasi untuk meningkatkan produktivitas halaqoh/usroh. Mereka mungkin sudah putus asa karena telah mencoba berulang kali untuk meningkatkan produktivitas tetapi selalu hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Akibatnya mereka merasa kecewa dan tidak bersemangat lagi untuk saling mengingatkan pentingnya produktivitas halaqoh/usroh. 2. Kurangnya penjelasan tentang tujuan Sebab yang kedua bisa jadi karena peserta tidak memahami apa itu tujuan halaqoh/usroh. Ketidakjelasan tersebut membuat peserta tidak termotivasi untuk produktif. Hal ini mungkin karena murobbi/naqib sendiri juga tidak tahu secara jelas apa itu tujuan halaqoh/usroh. Atau karena murobbi/naqib kurang memberikan penjelasan secara berulang-ulang dalam berbagai kesempatan, sehingga peserta melupakan tujuan halaqoh/usroh.

Tahap-Tahap Tidak Produktivitasnya Halaqoh/Usroh

Berkurangnya produktivitas halaqoh/usrtih tidak terjadi dengan seketika. Ada berbagai tahapan yang dilalui sebuah halaqoh/usroh hingga akhirnya mereka menjadi tidak produktif. Tahapan tersebut adalah : 1. Tidak jelasnya tujuan Tidak produktivitasnya biasanya berawal Tidak ada pengingatan tentang tujuan 2. Terjebak dengan tujuan palsu 3. Kebingungan Terlena dengan proses tanpa evaluasi 4. Apatis 5. Kejemuan (ada bagan) Tidak Produktivitasnya Peserta Halaqoh/Usroh Tidak Produktivitasnya Murobbi/Naqib Ciri-Ciri Halaqah/Usroh yang Produktif 1. Ciri halaqah yang tidak produktif Test Produktivitas

KESEIMBANGAN DINAMISASI DAN PRODUKTIVITAS HALAQOH/USROH =Perktaan syech dawah==

Bahaya hanya berorientasi pada dinamisasi: 1. Tidak tercapainya tujuan 2. Mengabaikan prioritas 3. Fanatisme/figuritas 4. Keberhasilan semu 5. Kalah bersaing 6. Prestasi yang tidak maksimal Kejenuhan yang terjadi dalam halaqah dapat berdampak pada ketidaksugguhan personil yang ada didalamnya untuk menyelesaikan tugas dan program. Akhirnya, tugas dan program dijalankan tanpa hasil maksimal. Tidak ada keinginan dari personil halaqah untuk memperoleh prestasi maksimal. Karena kejenuhan yang dialami, mereka cukup puas hanya dengan hasil yang minimal atau tanggung. Bahkan mungkin ketika tugas dan program tersebut tidak berjalan, tidak ada penyesalan ataua rasa bersalah yang muncul. Mereka menjadi cepat puas dan tidak mempunyai antusiame untuk meraih prestasi maksimal.

BAHAYA HANYA BERORIENTASI PADA PRODUKTIVITAS HALAQOH/USROH

Namun yang jelas, suasana halaqah/usroh yang menjemukan perlu dicegah sedini mungkin. Jika pun terjadi, hal itu perlu diupayakan agar tidak berlangsung lama dan sering. Sebab jika berlangsung lama dan sering, maka akan timbul berbagai dampak berikut : Bahaya : 1. Tidak dapat menikmati usroh 2. Gelisah dan stress 3. Lemahnya kontrol diri 4. kurang aktif dalam halaqoh 5. Mengabaikan tugas dan tanggung jawab 6. Tidak tercapainya sasaran halaqoh

1. Hilangnya antusiasme Halaqah yang menjemukan akan berdampak pada hilangnya antusiasme. Bukan hanya hilangnya antusias pada diri peserta, tapi juga murobbinya. Peserta dan murobbi akan kehilangan gairah untuk mengikuti jalannya halaqah/usroh, sehingga akhirnya agenda-agenda halaqah diselesaikan asal jalan.

Ketika personil halaqah/usroh membuat tugas dan program, maka pembuatannya tanpa keterlibatan penuh dari seluruh peserta. Ada yang aktif memberikan usulan dan ada juga yang tidak. Bahkan mungkin ada peserta yang masa bodo terhadap tugas dan program yang dibuat. Peserta dan murobbi juga enggan untuk terlibat lebih jauh dengan permasalahan yang muncul dalam halaqah/usroh. Bahkan mungkin jika ada permasalahan yang cukup berat, para personil halaqah enggan untuk membahasnya sampai tuntas. Mungkin malah persoalan tersebut dikembalikan penyelesaiannya kepada yang memiliki masalah tanpa kegairahan dari yang lain untuk membantunya. 2. Kehadiran yang tidak rutin Dampak yang paling konkrit dari kejenunahn yang melanda halaqah adalah kehadiran yang tidak rutin dari para personilnya. pesertanya. Indikasi 3. Tumpulnya kretaivitas 4. Keringnya iman 5. Soliditas dan ukhuwah tidak ada 6. Kurangnya rasa memilki 2. Pentingnya motivasi pribadi (ada bagan: ambil dari buku Burn Your Self) 3. Apalagi jika tidak berorientasi kepada keduanya, maka semakin parah

RUMUS MENINGKATKAN DINAMISASI HALAQOH/USROH ==Perkataan syech dawah==

4. Salin rumus jenuh usroh 5. Salin rumus mendinamiskan usroh 6. Kiat praktis mendinamiskan halaqah (lihat buku 77 PAH) karean sebab eksternal

RUMUS MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS HALAQOH/USROH ==Perkataan syech dawah==

Rumus meningkatkan produktivitas usroh : 1. Evaluasi 2. Kemenangan kecil 3. Tujuan

KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT ==Perkataan syech dawah== - Keseimbangan antara dinamisasi dan produktivitas = muntijah - Solusi 6 K : 1. Keseimbangan Pencapaian Tujuan 2. Keteladanan 3. Kemenangan kecil 4. Kedinamisan 5. Keaktualan 6. Keikhlasan Persiapan Sebelum usroh : 1. Menentukan target kemenangan kecil/program 2. Mempersiapkan surprise 3. Mempersiapkan taujih 4. Mempersiapkan evaluasi 5. Agenda pribadi 6. Mengembalikan keikhlasan 7. Membugarkan tubuh

Lampiran :

99 AKTIVITAS UNTUK MENDINAMISKAN DAN MENGHILANGKAN KEJENUHAN DALAM HALAQAH (USRAH)

Bab I Aktivitas Di Dalam Halaqah (Usrah) A. Aktivitas Utama 1. Ceramah 2. Simulasi 3. Diskusi kelompok 4. Seminar 5. Role Play 6. Games 7. Bedah buku (Presentasi buku secara bergiliran 8. Brainstorming (Sumbang Saran) B. Aktivitas Penunjang 9. Presentasi bidang keahlian tertentu (mis. peserta dengan latar belakang akuntan menjelaskan bagaimana cara membuat pembukuan keuangan secara praktis) Manfaat : Cara : Keterangan : 10. Pembacaan hadits (bisa juga dengan syarahnya) 11. Membaca Terjemahan Al Quran secara bergilir 12. Menterjemahkan Al Quran secara lafaz (bisa dengan menggunakan buku Terjemahan Al Quran secara Lafzhiyah) 13. Mengisi Test (mis. test kepercayaan diri, kepemimpinan, pengendalian emosi, dll) 14. Sebelum dan/atau setelah acara halaqoh melakukan sholat berjamaah 15. Membahas studi kasus tertentu 16. Evaluasi ibadah harian (yaumiah) 17. Evaluasi/laporan perkembangan binaan 18. Evaluasi/laporan kegiatan anggota 19. Mengumpulkan dan mempresentasikan kata-kata mutiara dari tokoh 20. Membacakan biografi tokoh tertentu 21. Membaca makalah/bagian buku tertentu secara bergilir 22. Presentasi kiat rekrutmen/membina 23. Presentasi materi halaqoh yang telah diberikan secara bergilir 24. Memberikan hadiah (surprise) kepada peserta atas prestasi tertentu 25. Program tukar menukar hadiah 26. Mempersaudarakan peserta halaqoh (seperti yang dilakukan Rasulullah ketika hijrah ke Madinah) 27. Evaluasi perjalanan halaqah 28. Latihan nasyid 29. Latihan drama/role play 30. Memindahkan tempat halaqoh secara insidental keluar ruangan (pekarangan rumah/taman/kebun, dll) 31. Memindahkan posisi lesehan menjadi duduk di kursi (insidental) 32. Evaluasi lahan dakwah 33. Mendiskusikan kiat bisnis

34. Mendiskusikan kiat mencari jodoh/keluarga harmonis 35. Mendiskusikan kiat berkarir di tempat kerja 36. Kultum 37. Tadabbur ayat secara bergilir 38. Menonton/mendengarkan film/ceramah tertentu 39. Renungan tentang akhirat (zikrul maut), kalau perlu dengan memindahkan tempat pertemuan ke kuburan 40. Mengundang bintang tamu (bisa ustadz berkafaah syari, ikhwah dengan keahlian tertentu, orang yang mempunyai pengalaman menarik, dsbnya) 41. Mengadakan ujian mengenai materi yang telah diberikan 42. Setoran hapalan Al Quran/Hadits 43. Latihan khotib/tabligh secara bergilir 44. Mengundang isteri/suami peserta dalam acara halaqoh tertentu (siapkan agenda acara yang sesuai) 45. Matsurot/zikir bersama 46. Membuat makalah dan membahasnya 47. Membuat aturan iqob untuk kelalaian tertentu 48. Simulasi dengan tema tertentu (memandikan jenazah, merawat bayi, memasak, memperbaiki motor, dll) 49. Membuat acara kuis/cerdas cermat 50. Membaca syair/puisi 51. Menyepakati untuk hadir di halaqoh dengan pakaian seragam (untuk memupuk semangat kebersamaan) 52. Membuka dan menutup acara secara bergilir 53. Membuat struktur organisasi halaqoh dengan periode tertentu 54. Membuat kliping tema tertentu 55. Buka puasa (ifthor) atau sahur bersama 56. Permainan curhat 57. Proyek Majalah/Buku Kecil 58. Usaha (bisnis) bersama 59. Taaruf (perkenalan) 60. Evaluasi/laporan rekrutmen 61. Membuat Yayasan (organisasi sosial) 62. Perpustakaan halaqah 63. Studi lapangan (laporan peristiwa tertentu) 64. Membuat jarkom (jaringan komunikasi) Bab II Aktivitas Di Luar Halaqah (Usrah) 65. Mabit 66. Rihlah Kecil 67. Rihlah Besar (Bersama keluarg besar) 68. Tasqif 69. Mukhoyyam 70. Outbound 71. Training

72. Muzhoharoh 73. Silaturahmi 74. Dauroh Tarkiyah 75. Dauroh Tausiah 76. Kunjungan ke Tokoh Internal/Eksternal 77. Diskusi dengan Pakar --1. cari perkataan syech dawah 2. cari dalil al quran dan haditsnya 3. cara istilah bahasa arabnya 4. buat setting/kalimat yang tidak membosankan! 5. buat tes dinamisasi halaqoh 6. buat tes produktivitas halaqoh 7. Apa yang dimaksud Dinamis ( Kejenuhan dari pengertian bahasa, Kejenuhan dari kacamata psikologis, Kejenuhan dari kacamata agama)