Anda di halaman 1dari 55

1.arti dari trauma ? TRAUMA MAKSILOFASIAL 2.

1 Defenisi Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya.2 Trauma pada jaringan maksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari :7 1. Tulang hidung 2. Tulang arkus zigomatikus 3. Tulang mandibula 4. Tulang maksila 5. Tulang rongga mata 6. Gigi 7. Tulang alveolus 2.2 Etiologi Penyebab trauma maksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama trauma maksilobasial yang dapat membawa kematian dan kecacatan pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya terjadi pada pria dengan batas usia 2130 tahun.7,8 3 Universitas Sumatera Utara

Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72% kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile).9 Berikut ini tabel etiologi trauma maksilofasial. Tabel 1. Etiologi trauma Persentase (%) maksilofasial (Pedersen GW. Buku ajar praktis bedah mulut. Alih bahasa, Purwanto, Basoeseno, Jakarta: 1987 : 222) Penyebab Dewasa Kecelakaan lalu lintas 40-45 Penganiayaan / berkelahi 10-15 Olahraga 5-10 Jatuh 5 Lain-lain 5-10 Anak-anak Kecelakaan lalu lintas 10-15 Penganiayaan / berkelahi 5-10 Olahraga (termasuk naik sepeda) 50-65 Jatuh 5-10 2. Apa arti fraktur dan jenis-jenisnya ? Fraktur ( Patah Tulang ) Definisi Fraktur merupakan terputusnya kontinyuitas dari tulang, lempeng epifisis, atau tulang rawan sendi. Jenis Terdapat berbagai macam jenis fraktur. Untuk lebih sistematisnya, dapat dibagi berdasarkan: Lokasi Fraktur dapat terjadi di di berbagai tempat pada tulang seperti pada diafisis, metafisis, epifisis, atau intraartikuler. Jika fraktur didapatkan bersamaan dengan dislokasi sendi, maka dinamakan fraktur dislokasi. Luas Terbagi menjadi fraktur lengkap dan tidak lengkap. Fraktur tidak lengkap contohnya adalah retak. Konfigurasi Dilihat dari garis frakturnya, dapat dibagi menjadi transversal (mendatar), oblik (miring), atau spiral (berpilin). Jika terdapat lebih dari satu garis fraktur, maka dinamakan kominutif. Hubungan antar bagian yang fraktur Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubungan (undisplaced) atau terpisah jauh (displaced). Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar

Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubungan antara tulang dengan dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak terdapat hubungan antara fraktur dengan dunia luar). Komplikasi Fraktur dapat terjadi dengan disertai komplikasi, seperti gangguan saraf, otot, sendi, dll atau tanpa komplikasi Retak Spiral Kominutif Transversal Displaced Gejala Klinis Adanya fraktur dapat ditandai dengan adanya : Pembengkakan. Kecuali frakturnya terjadi jauh didalam seperti pada tulang leher atau tulang paha. Perubahan bentuk, dapat terjadi angulasi (terbentuk sudut), rotasi (terputar), atau pemendekan. Terdapat rasa nyeri yang sangat pada daerah fraktur. Pemeriksaan Tambahan Biasanya dengan tanya jawab dan pemeriksaan fisik yang cermat, diagnosis fraktur sudah dapat ditegakkan. Pemeriksaan pencitraan (seperti roentgen) dapat membantu dalam melihat jenis dari frakturnya sehingga dapat membantu dalam pemilihan terapi selanjutnya. Hal yang perlu diingat dalam pemeriksaan roentgen adalah hasilnya harus meliputi dua sendi, dua sisi, dan dua tulang (kanan dan kiri). Roentgen juga berguna untuk mengevaluasi hasil dari terapi yang diberikan. Penatalaksanaan Empat tujuan utama dari penanganan fraktur adalah : 1. Untuk menghilangkan rasa nyeri. Nyeri yang timbul pada fraktur bukan karena frakturnya sendiri, namun karena terluka jaringan disekitar tulang yang patah tersebut. Untuk mengurangi nyeri tersebut, dapat diberikan obat penghilang rasa nyeri dan juga dengan tehnik imobilisasi (tidak menggerakkan daerah yang fraktur). Tehnik imobilisasi dapat dicapai dengan cara pemasangan bidai atau gips. Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang. Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan di sekitar tulang yang patah 2. Untuk menghasilkan dan mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur. Bidai dan gips tidak dapat mempertahankan posisi dalam waktu yang lama. Untuk itu diperlukan lagi tehnik yang lebih mantap seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, atau fiksasi internal tergantung dari jenis frakturnya sendiri. Penarikan (traksi) : Menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada tempatnya. Sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama untuk patah tulang paha dan panggul. Fiksasi internal : Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam pada pecahan-pecahan tulang. Gambar. Pembidaian

Gambar. Fiksasi internal Gambar. Fiksasi eksternal 3. Agar terjadi penyatuan tulang kembali Biasanya tulang yang patah akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan sempurna dalam waktu 6 bulan. Namun terkadang terdapat gangguan dalam penyatuan tulang, sehingga dibutuhkan graft tulang. 4. Untuk mengembalikan fungsi seperti semula Imobilisasi yang lama dapat mengakibatkan mengecilnya otot dan kakunya sendi. Maka dari itu diperlukan upaya mobilisasi secepat mungkin. 3. Apa arti dari vulnus dan jenisnya ? KONSEP LUKA DAN PERAWATAN LUKA

1. Pengertian Luka adalah keadaan hilang/terputusnya kontinuitas jaringan (Mansjoer, 2000:396). Menurut InETNA, luka adalah sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu proses selular normal, luka dapat juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada kuntinuitas/kesatuan jaringan tubuh yang biasanya disertai dengan kehilangan substansi jaringan.

2. Klasifikasi Luka Luka dibedakan berdasarkan : 1) Berdasarkan penyebab a) Ekskoriasi atau luka lecet b) Vulnus scisum atau luka sayat c) Vulnus laseratum atau luka robek

d) Vulnus punctum atau luka tusuk e) Vulnus morsum atau luka karena gigitan binatang f) Vulnus combotio atau luka bakar 2) Berdasarkan ada/tidaknya kehilangan jaringan a) Ekskoriasi b) Skin avulsion c) Skin loss 3) Berdasarkan derajat kontaminasi a) Luka bersih a) Luka sayat elektif b) Steril, potensial terinfeksi c) Tidak ada kontak dengan orofaring, traktus respiratorius,traktus elimentarius, traktus genitourinarius. b) Luka bersih tercemar a) Luka sayat elektif b) Potensi terinfeksi : spillage minimal, flora normal c) Kontak dengan orofaring, respiratorius, elimentarius dan genitourinarius d) Proses penyembuhan lebih lama c) Luka tercemar a) Potensi terinfeksi: spillage dari traktus elimentarius, kandung empedu, traktus genito urinarius, urine b) Luka trauma baru : laserasi, fraktur terbuka, luka penetrasi. d) Luka kotor

a) Akibat proses pembedahan yang sangat terkontaminasi b) Perforasi visera, abses, trauma lama.

3. Tipe Penyembuhan luka Terdapat 3 macam tipe penyembuhan luka, dimana pembagian ini

dikarakteristikkan dengan jumlah jaringan yang hilang. 1) Primary Intention Healing (penyembuhan luka primer) yaitu penyembuhan yang terjadi segera setelah diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan. 2) Secondary Intention Healing (penyembuhan luka sekunder) yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan primer. Tipe ini dikarakteristikkan oleh adanya luka yang luas dan hilangnya jaringan dalam jumlah besar. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Luka jenis ini biasanya tetap terbuka. 3) Tertiary Intention Healing (penyembuhan luka tertier) yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridement. Setelah diyakini bersih, tepi luka dipertautkan (4-7 hari). Luka ini merupakan tipe penyembuhan luka yang terakhir (Mansjoer,2000:397 ; InETNA, 2004:4).

4. Fase Penyembuhan Luka Proses penyembuhan luka memiliki 3 fase yaitu fase inflamasi, proliferasi dan maturasi. Antara satu fase dengan fase yang lain merupakan suatu kesinambungan yang tidak dapat dipisahkan. 1) Fase Inflamasi

Tahap ini muncul segera setelah injuri dan dapat berlanjut sampai 5 hari. Inflamasi berfungsi untuk mengontrol perdarahan, mencegah invasi bakteri,

menghilangkan debris dari jaringan yang luka dan mempersiapkan proses penyembuhan lanjutan. 2) Fase Proliferasi Tahap ini berlangsung dari hari ke 6 sampai dengan 3 minggu. Fibroblast (sel jaringan penyambung) memiliki peran yang besar dalam fase proliferasi. 3) Fase Maturasi Tahap ini berlangsung mulai pada hari ke 21 dan dapat berlangsung sampai berbulan-bulan dan berakhir bila tanda radang sudah hilang. Dalam fase ini terdapat remodeling luka yang merupakan hasil dari peningkatan jaringan kolagen, pemecahan kolagen yang berlebih dan regresi vaskularitas luka (Mansjoer,2000:397 ; InETNA, 2004:1).

5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks dan dinamis karena merupakan suatu kegiatan bioseluler dan biokimia yang terjadi saling berkesinambungan. Proses penyembuhan luka tidak hanya terbatas pada proses regenerasi yang bersifat lokal saja pada luka, namun dipengaruhi pula oleh faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik (InETNA,2004:13).

1) Faktor Instrinsik adalah faktor dari penderita yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan meliputi : usia, status nutrisi dan hidrasi, oksigenasi dan perfusi jaringan, status imunologi, dan penyakit penyerta (hipertensi, DM, Arthereosclerosis). 2) Faktor Ekstrinsik adalah faktor yang didapat dari luar penderita yang dapat berpengaruh dalam proses penyembuhan luka, meliputi : pengobatan, radiasi, stres psikologis, infeksi, iskemia dan trauma jaringan (InETNA,2004:13).

6. Komplikasi Penyembuhan Luka Komplikasi dan penyembuhan luka timbul dalam manifestasi yang berbeda-beda. Komplikasi yang luas timbul dari pembersihan luka yang tidak adekuat, keterlambatan pembentukan jaringan granulasi, tidak adanya reepitalisasi dan juga akibat komplikasi post operatif dan adanya infeksi. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah : hematoma, nekrosis jaringan lunak, dehiscence, keloids, formasi hipertropik scar dan juga infeksi luka (InETNA,2004:6).

7. Penatalaksanaan/Perawatan Luka Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa tahap yang dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan antiseptik, pembersihan luka, penjahitan luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antiboitik dan pengangkatan jahitan. a. Evaluasi luka meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik (lokasi dan eksplorasi).

b. Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk mensucihamakan kulit. Untuk melakukan pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan atau larutan antiseptik seperti: 1) Alkohol, sifatnya bakterisida kuat dan cepat (efektif dalam 2 menit). 2) Halogen dan senyawanya a) Yodium, merupakan antiseptik yang sangat kuat, berspektrum luas dan dalam konsentrasi 2% membunuh spora dalam 2-3 jam b) Povidon Yodium (Betadine, septadine dan isodine), merupakan kompleks yodium dengan polyvinylpirrolidone yang tidak merangsang, mudah dicuci karena larut dalam air dan stabil karena tidak menguap. c) Yodoform, sudah jarang digunakan. Penggunaan biasanya untuk antiseptik borok. d) Klorhesidin (Hibiscrub, savlon, hibitane), merupakan senyawa biguanid dengan sifat bakterisid dan fungisid, tidak berwarna, mudah larut dalam air, tidak merangsang kulit dam mukosa, dan baunya tidak menusuk hidung. 3) Oksidansia a) Kalium permanganat, bersifat bakterisid dan funngisida agak lemah berdasarkan sifat oksidator. b) Perhidrol (Peroksida air, H2O2), berkhasiat untuk mengeluarkan kotoran dari dalam luka dan membunuh kuman anaerob. 4) Logam berat dan garamnya a) Merkuri klorida (sublimat), berkhasiat menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur.

b) Merkurokrom (obat merah)dalam larutan 5-10%. Sifatnya bakteriostatik lemah, mempercepat keringnya luka dengan cara merangsang timbulnya kerak (korts) 5) Asam borat, sebagai bakteriostatik lemah (konsentrasi 3%). 6) Derivat fenol a) Trinitrofenol (asam pikrat), kegunaannya sebagai antiseptik wajah dan genitalia eksterna sebelum operasi dan luka bakar. b) Heksaklorofan (pHisohex), berkhasiat untuk mencuci tangan. 2) Basa ammonium kuartener, disebut juga etakridin (rivanol), merupakan turunan aridin dan berupa serbuk berwarna kuning dam konsentrasi 0,1%. Kegunaannya sebagai antiseptik borok bernanah, kompres dan irigasi luka terinfeksi (Mansjoer, 2000:390). Dalam proses pencucian/pembersihan luka yang perlu diperhatikan adalah pemilihan cairan pencuci dan teknik pencucian luka. Penggunaan cairan pencuci yang tidak tepat akan menghambat pertumbuhan jaringan sehingga memperlama waktu rawat dan meningkatkan biaya perawatan. Pemelihan cairan dalam pencucian luka harus cairan yang efektif dan aman terhadap luka. Selain larutan antiseptik yang telah dijelaskan diatas ada cairan pencuci luka lain yang saat ini sering digunakan yaitu Normal Saline. Normal saline atau disebut juga NaCl 0,9%. Cairan ini merupakan cairan yang bersifat fisiologis, non toksik dan tidak mahal. NaCl dalam setiap liternya mempunyai komposisi natrium klorida 9,0 g dengan osmolaritas 308 mOsm/l setara dengan ion-ion Na+ 154 mEq/l dan Cl- 154 mEq/l (InETNA,2004:16 ; ISO Indonesia,2000:18).

c. Pembersihan Luka Tujuan dilakukannya pembersihan luka adalah meningkatkan, memperbaiki dan mempercepat proses penyembuhan luka; menghindari terjadinya infeksi; membuang jaringan nekrosis dan debris (InETNA, 2004:16). Beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam pembersihan luka yaitu : 3) Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk membuang jaringan mati dan benda asing. 4) Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati. 5) Berikan antiseptik 6) Bila diperlukan tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian anastesi lokal 7) Bila perlu lakukan penutupan luka (Mansjoer,2000: 398;400)

d. Penjahitan luka Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur kurang dari 8 jam boleh dijahit primer, sedangkan luka yang terkontaminasi berat dan atau tidak berbatas tegas sebaiknya dibiarkan sembuh per sekundam atau per tertiam.

e. Penutupan Luka Adalah mengupayakan kondisi lingkungan yang baik pada luka sehingga proses penyembuhan berlangsung optimal.

f. Pembalutan Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung pada penilaian kondisi luka. Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap penguapan, infeksi, mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam proses penyembuhan, sebagai fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang menyebabkan hematom.

g. Pemberian Antibiotik Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada luka terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik.

h. Pengangkatan Jahitan Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi. Waktu pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai faktor seperti, lokasi, jenis pengangkatan luka, usia, kesehatan, sikap penderita dan adanya infeksi (Mansjoer,2000:398 ; Walton, 1990:44).. Tabel 1. Waktu Pengangkatan Jahitan

No 1 Kelopak mata

Lokasi 3 hari

Waktu

2 3 4 5 6

Pipi Hidung, dahi, leher Telinga,kulit kepala Lengan, tungkai, tangan,kaki Dada, punggung, abdomen

3-5 hari 5 hari 5-7 hari 7-10+ hari 7-10+ hari

Sumber. Walton, 1990:44

DAFTAR PUSTAKA

Indonesia Enterostomal Therapy Nurse Association (InETNA) & Tim Perawatan Luka dan Stoma Rumah Sakit Dharmais. 2004,Perawatan Luka, Makalah Mandiri, Jakarta Mansjoer.Arif, dkk. Eds.2000.Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jakarta : Media Aesculapius FKUI.

Walton,Robert L. 1990. Perawatan Luka dan Penderita Perlukaan Ganda, Alih bahasa. Sonny Samsudin, Cetakan I. Jakarta : EGC.

LUKA (VULNUS) Luka (Vulnus)

Luka : adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh

Etiologi :

Mekanis / traumatis Perubahan suhu Zat kimia Ledakan Sengatan listrik Gigitan hewan

Trauma tajam menyebabkan :


Luka iris : Vulnus scisum / incisivum Luka tusuk : Vulnus ictum Luka gigitan : Vulnus morsum

Trauma tumpul menyebabkan :


Luka terbuka : Vulnus apertum Luka tertutup : Vulnus occlusum + Luka lecet : Vulnus excoriatio Luka memar : contusio + hematome

Tembakan menyebabkan : Vulnus sclepetorum Fase peyembuhan Luka


Fase Inflamasi : berlangsung mulai terjadi luka sampai hari ke 5 Terjadi akibat sel mast dalam jaringan ikat menghasilkan serotonin dan histamin yang meningkatkan permiabilitas kapiler sehingga terjadi eksudasi cairan, penumpukan sel radang disertai vasodilatasi setempat yang menyebabkan udem dan pembengkakan yang ditandai dengan warna kemerahan karena kapiler melebar (rubor), suhu hangat (kalor), rasa nyeri (dolor) dan pembengkakan (tumor).

Fase Proliferasi / Fibroplastic / Granulasi : Terjadi mulai akhir fase inflamasi sampai akhir minggu ke 3. Pada fase ini luka dipenuhi sel radang, fibroblast dan kolagen, membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan permukaan yang berbenjol halus yang disebut jaringan granulasi. Proses ini baru berhenti setelah ephitel saling menyentuh dan menutup seluruh permukaan luka.

Fase penyudahan / Pematangan.

Fase ini berlangsung berbulan bulan dan dinyatakan berakhir jika semua tanda radang telah hilang. Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri penyerapan kembali jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya grafitasi, dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru dibentuk.

Klasifikasi Penyembuhan Penyembuhan Primer (sanatio per primam intentionem)

Didapat bila luka bersih, tidak terinfeksi, dan dijahit dengan baik.

Penyembuhan sekunder (sanatio per secundam intentionem)


Didapat pada luka yang dibiarkan terbuka Luka diisi jaringan granulasi dimulai dari dasar terus naik sampai penuh Ephitel menutup jaringan granulasi mulai dari tepi Penyembuhan

Penyembuhan Primer tertunda atau Penyembuhan dengan jaringan tertunda


Luka dibiarkan terbuka Setelah beberapa hari ada granulasi baik dan tidak ada infeksi Luka dijahit Penyembuhan

Penatalaksanaan Luka Sebelum mulai :


Perhatikan keadaan umum Cari kemungkinan cedera lain

Penanganan hari pertama :


Anestesi lokal / umum Pembilasan luka (cairan garam faali) Sterilisasi luka (yodium povidum 1 %, klorheksidin %, yodium 3 %, alkohol 70 %) Luka dikelilingi dengan kain steril

Pembersihan luka ( debrideman )

Kotoran, benda asing, eksisi jaringan mati, eksisi pinggir kulit . Hemostasis baik Jahitan primer jika diharapkan penyembuhan primer Biarkan luka terbuka jika diharapkan sanatio primer tertunda Pemasangan pengalir ( drainage ) Pembalut

Amati luka pada hari kedua, ketiga atau keempat untuk mempertimbangkan : Pemasangan penjahitan kulit primer tertunda jika ternyata tidak ada infeksi dan ternyata timbul jaringan granulasi sehat di dasar luka untuk mencapai penyembuhan primer tertunda Biarkan luka terbuka jika ada infeksi atau jaringan granulasi yang tidak kelihatan baik, selanjutnya Tunggu epitelisasi permukaan luka dari pinggir ( penyembuhan sekunder . Pengertian Luka (Vulnus) adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh

Salah satu jenis luka : Vulnus Scissum

2. Etiologi a. Mekanis / traumatis b. Perubahan suhu c. Zat kimia d. Ledakan e. Sengatan listrik f. Gigitan hewan 3. Tipe Luka (Vulnus) 1). Vulnus Laceratum (Laserasi/Robek) Jenis luka ini disebabkan oleh karena benturan dengan benda tumpul, dengan ciri luka tepi luka tidak rata dan perdarahan sedikit luka dan meningkatkan resiko infeksi.

2). Vulnus Excoriasi (Luka Lecet) Penyebab luka karena kecelakaan atau jatuh yang menyebabkan lecet pada permukaan kulit merupakan luka terbuka tetapi yang terkena hanya daerah kulit. 3). Vulnus Punctum (Luka Tusuk) Penyebab adalah benda runcing tajam atau sesuatu yang masuk ke dalam kulit, merupakan luka terbuka dari luar tampak kecil tapi didalam mungkin rusak berat, jika yang mengenai abdomen/thorax disebut vulnus penetrosum(luka tembus). 4). Vulnus Contussum (Luka Kontusio) Penyebab : benturan benda yang keras. Luka ini merupakan luka tertutup, akibat dari kerusakan pada soft tissue dan ruptur pada pembuluh darah menyebabkan nyeri dan berdarah (hematoma) bila kecil maka akan diserap oleh jaringan di sekitarya jika organ dalam terbentur dapat menyebabkan akibat yang serius 5). Vulnus Scissum/Insivum (Luka Sayat) Penyebab dari luka jenis ini adalah sayatan benda tajam atau jarum merupakan luka terbuka akibat dari terapi untuk dilakukan tindakan invasif, tepi luka tajam dan licin. 6). Vulnus Schlopetorum (Lika Tembak) Penyebabnya adalah tembakan, granat. Pada pinggiran luka tampak kehitam-hitaman, bisa tidak teratur kadang ditemukan corpus alienum. 7). Vulnus Morsum (Luka Gigitan) Penyebab adalah gigitan binatang atau manusia, kemungkinan infeksi besar bentuk luka tergantung dari bentuk gigi. 8). Vulnus Perforatum (Luka Tembus) Luka jenis ini merupakan luka tembus atau luka jebol. Penyebab oleh karena panah, tombak atau proses infeksi yang meluas hingga melewati selaput serosa/epithel organ jaringan. 9). Vulnus Amputatum (Luka Terpotong) Luka potong, pancung dengan penyebab benda tajam ukuran besar/berat, gergaji. Luka membentuk lingkaran sesuai dengan organ yang dipotong. Perdarahan hebat, resiko infeksi tinggi, terdapat gejala pathom limb. 10). Vulnus Combustion (Luka Bakar) Penyebab oleh karena thermis, radiasi, elektrik ataupun kimia Jaringan kulit rusak dengan berbagai derajat mulai dari lepuh (bula carbonisasi/hangus). Sensasi nyeri dan atau anesthesia.

VULNUS (LUKA)

A.PENGERTIAN Luka potong, pancung dengan penyebab benda tajam ukuran besar/berat, gergaji. Luka membentuk lingkaran sesuai dengan organ yang dipotong. Perdarahan hebat, resiko infeksi tinggi, terdapat gejala pathom limb.

B.ETIOLOGI 1.Mekanis / traumatis 2.Perubahan suhu 3.Zat kimia 4.Ledakan 5.Sengatan listrik 6.Gigitan hewan

C.TIPE VULNUS 1.Vulnus Laceratum (Laserasi/Robek) Jenis luka ini disebabkan oleh karena benturan dengan benda tumpul, dengan ciri luka tepi luka tidak rata dan perdarahan sedikit luka dan meningkatkan resiko infeksi. 2.Vulnus Excoriasi (Luka Lecet) Penyebab luka karena kecelakaan atau jatuh yang menyebabkan lecet pada permukaan kulit merupakan luka terbuka tetapi yang terkena hanya daerah kulit. 3.Vulnus Punctum (Luka Tusuk) Penyebab adalah benda runcing tajam atau sesuatu yang masuk ke dalam kulit, merupakan luka terbuka dari luar tampak kecil tapi didalam mungkin rusak berat, jika yang mengenai abdomen/thorax disebut vulnus penetrosum(luka tembus). 4.Vulnus Contussum (Luka Kontusio) Penyebab: benturan benda yang keras. Luka ini merupakan luka tertutup, akibat dari kerusakan pada soft tissue dan ruptur pada pembuluh darah menyebabkan nyeri dan berdarah (hematoma) bila kecil maka akan diserap oleh jaringan di sekitarya jika organ dalam terbentur dapat menyebabkan akibat yang serius. 5.Vulnus Scissum/Insivum (Luka Sayat) Penyebab dari luka jenis ini adalah sayatan benda tajam atau jarum merupakan luka terbuka akibat dari terapi untuk dilakukan tindakan invasif, tepi luka tajam dan licin. 6.Vulnus Schlopetorum (Lika Tembak) Penyebabnya adalah tembakan, granat. Pada pinggiran luka tampak kehitam-hitaman, bisa tidak teratur kadang ditemukan corpus alienum. 7.Vulnus Morsum (Luka Gigitan) Penyebab adalah gigitan binatang atau manusia, kemungkinan infeksi besar bentuk luka tergantung dari bentuk gigi.

8.Vulnus Perforatum (Luka Tembus) Luka jenis ini merupakan luka tembus atau luka jebol. Penyebab oleh karena panah, tombak atau proses infeksi yang meluas hingga melewati selaput serosa/epithel organ jaringan. 9.Vulnus Amputatum (Luka Terpotong) Luka potong, pancung dengan penyebab benda tajam ukuran besar/berat, gergaji. Luka membentuk lingkaran sesuai dengan organ yang dipotong. Perdarahan hebat, resiko infeksi tinggi, terdapat gejala pathom limb. 10.Vulnus Combustion (Luka Bakar) Penyebab oleh karena thermis, radiasi, elektrik ataupun kimia Jaringan kulit rusak dengan berbagai derajat mulai dari lepuh (bula carbonisasi/hangus). Sensasi nyeri dan atau anesthesia.

D.TANDA DAN GEJALA 1.Deformitas: Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti: rotasi pemendekan tulang, penekanan tulang. 2.Bengkak: edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam jaringan yang berdekatan dengan fraktur 3.Echumosis dari Perdarahan Subculaneous 4.Spasme otot spasme involunters dekat fraktur 5.Tenderness/keempukan 6.Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan. 7.Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan) 8.Pergerakan abnormal 9.Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah 10.Krepitasi (Black, 1993).

E.PATOFISIOLOGI Vulnus terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tubuh yang bisa disebabkan oleh traumatis/mekanis, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, dan gigitan hewan atau binatang. Vulnus yang terjadi dapat menimbulkan beberapa tanda dan gejala seperti bengkak, krepitasi, shock, nyeri, dan deformitas atau bisa juga menimbulkan kondisi yang lebih serius. Tanda dan gejala yang timbul tergantung pada penyebab dan tipe vulnus.

F.DAMPAK PADA SISTEM TUBUH 1.Kecepatan metabolisme Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal. 2.Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari anabolisme, maka akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma, hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH, sehingga terjadi peningkatan diuresis. 3.Sistem respirasi. a.Penurunan kapasitas paru Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang, maka kontraksi otot intercosta relatif kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa. b.Perubahan perfusi setempat Dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfusi setempat, jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia. c.Mekanisme batuk tidak efektif Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal. 4.Sistem Kardiovaskuler a.Peningkatan denyut nadi Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik, endokrin dan mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi. b.Penurunan cardiac reserve Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat, hal ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup. c.Orthostatik Hipotensi Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer, dimana anterior dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat, vasodilatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah, volume darah yang bersirkulasi menurun, jumlah darah ke ventrikel saat diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun, akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan. 5.Sistem Muskuloskeletal a.Penurunan kekuatan otot Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan, demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot. b.Atropi otot Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot. c.Kontraktur sendi Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak. d.Osteoporosis Terjadi penurunan metabolisme kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan organik dan

anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos. 6.Sistem Pencernaan a.Anoreksia Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan. b.Konstipasi Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon, menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang air besar. 7.Sistem perkemihan Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar, sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat menyebabkan: Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal dan tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK. 8.Sistem integumen Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia, hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah.

G.KOMPLIKASI 1.Kerusakan Arteri: Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi, CRT menurun, cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan pembedahan. 2.Kompartement Syndrom: Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. 3.Infeksi: System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. 4.Shock: Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi.

H.PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium darah

I.PENATALAKSANAAN 1.Pembedahan 2.Imunisasi tetanus

3.Immobilisasi 4.Terapi antibiotik

J.PROSES PENYEMBUHAN LUKA 1.Stadium Satu-Pembentukan Hematoma: Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar. Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 48 jam dan perdarahan berhenti sama sekali. 2.Stadium Dua-Proliferasi Seluler: Pada stadium ini terjadi proliferasi dan differensiasi sel menjadi fibro kartilago yang berasal dari periosteum,`endosteum, dan bone marrow yang telah mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam. 3.Stadium Tiga-Pembentukan Kallus: Selsel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh kegiatan osteoblast dan osteoklast mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat pada permukaan endosteal dan periosteal. 4.Stadium Empat-Konsolidasi: Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum tulang kuat untuk membawa beban yang normal. 5.Stadium Lima-Remodelling: Telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletidakkan pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya dibentuk struktur yang mirip dengan normalnya.

K.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis, fisik. Tujuan: Nyeri akut teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam dengan kriteria hasil: Pasien tidak mengeluh nyeri Pasein tidak mengeluh sesak Pernapasan 12-21x/mnt Tekanan darah 120-129/80-84mmHg Nadi 60-100x/mnt Intervensi: 1)Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi R/mengetahui kondisi pasien

2)Monitor derajat dan kualitas nyeri (PQRST)? R/mengetahui rasa nyeri yang dirasakan 3)Ajarkan teknik distraksi/relaksasi/napas dalam R/mengurangi rasa nyeri 4)Beri posisi nyaman R/untuk mengurangi rasa nyeri 5)Beri posisi semifowler R/memenuhi kebutuhan oksigen 6)Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien R/memenuhi kebutuhan pasien 7)Anjurkan untuk cukup istirahat R/mempercepat proses penyembuhan 8)Kolaborasi/lanjutkan pemberian analgetik; nama, dosis, waktu, cara, indikasi R/mengurangi rasa nyeri 2.Perfusi jaringan serebral/perifer tidak efektik berhubungan dengan aliran arteri terhambat. Tujuan: Perpusi jaringan serebral teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam dengan kriteria hasil: Pasien tidak mengeluh pusing Pasien tidak mengeluh sesak napas Pernapasan 12-21x/mnt Tekanan darah 120-129/80-84mmHg Nadi 60-100x/mnt CRT: <3 detik Intervensi: 1)Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi R/mengetahui kondisi pasien 2)Monitor capillary refill time R/mengetahui status keadaan pasien 3)Monitor kemampuan aktivitas pasien R/mengetahui kemampuan pasien 4)Anjurkan untuk cukup istirahat R/mempercepat pemulihan kondisi 5)Beri posisi semi fowler R/memenuhi kebutuhan oksigen 6)Bantu aktivitas pasien secara bertahap R/mengurangi beban kerja pasien 7)Cegah fleksi tungkai R/menghindari penurunan staus kesadaran pasien 8)Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien R/mencukupi kebutuhan pasien 9)Beri cukup nutrisi sesuai dengan diet R/mempercepat pemulihan kondisi 10)Kolaborasi/lanjutkan terapi oksigen R/mencukupi kebutuhan oksigen 11)Kolaborasi/lanjutkan terapi transfusi R/mempercepat pemulihan kondisi pasien 12)Kolaborasi/lanjutkan pemberian obat; nama, dosis, waktu, cara, indikasi R/mempercepat proses penyembuhan 3.Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat, prosedur invasif, pertahanan sekunder tidak adekuat. Tujuan: Pasien tidak mengalami infeksi setelah dilakuakan tindakan keperawatan selama 2x24jam dengan kriteria hasil: Daerah tusukan infus tidak ada tanda peradangan Hasil laboratorium darah normal(Leukosit, Hb) Intervensi: 1)Monitor tanda-tanda peradangan R/untuk melihat tanda-tanda peradangan 2)Monitor pemeriksaan Laboratorium darah R/untuk melihat kandungan darah 3)Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan R/untuk menghindari inos 4)Anjurkan untuk bed rest R/mempercepat pemulihan kondisi 5)Batasi pengunjung R/untuk mencegah inos 6)Rawat luka setiap hari dwengan teknik steril R/mencegah infeksi 7)Beri nutrisi tinggi zat besi, vitamin C R/untuk membantu proses penyembuhan luka 8)Kolaborasi/lanjutkan pemberian obat antibiotik ; nama, dosis, waktu, cara R/mempercepat penyembuhan 4.Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan melalui abnormal (perdarahan). Tujuan: Resiko defisit volume cairan teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24jam dengan kriteria hasil: BB dalam batas normal Tekanan darah 120-

129/80-84mmHg Nadi 60-100x/mnt C/axilaSuhu: 36-37 Finger print <3 detik BAK 35x/hari Tidak ada perdarahan Intevensi: 1)Ukur tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi R/mengetahui keadaan pasien 2)Anjurkan untuk banyak minum 2 L/hari R/memenuhi kebutuhan cairan 3)Hitung balance cairan R/mengetahui klebihan dan kekurang cairan 4)Anjurkan untuk bed rest R/mempercepat pemulihan kondisi 5)Kolaborasi/lanjutkan pemberian terapi elektrolit; nama, dosis, waktu, cara, indikasi R/mempercepat penyembuhan 6)Kolaborasi/lanjutkan program therapi transfusi R/mempercepat pemulihan kesehatan pasien DAFTAR PUSTAKA Carpenitto, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa : Monica Ester, Edisi 8, Jakarta: EGC Doengoes, Marilynn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaan Keperawatan dan masalah kolaboratif. Alih Bahasa : I Made Kanosa, Edisi III, Jakarta: EGC Hinchliff, Sue. (1996). Kamus Keperawatan. Edisi; 17. Jakarta: EGC Sudart dan Burnner, (1996). Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 8. Vol 3, Jakarta: EGC Nanda. 2005. Definisi dan klasifikasi, Jakarta: Prima Medika 4.Tulang apa saja yg membentuk wajah? Tulang wajah Kerangka wajah terdiri dari 14 tulang diam dan tulang rahang yang lebih rendah mobile (mandibula). Ini 14 tulang (tabel 3-2) membentuk bentuk dasar wajah, dan bertanggung jawab untuk menyediakan lampiran untuk otot-otot yang membuat langkah rahang dan mengontrol ekspresi wajah. Angka 3-8 dan 3-9 menunjukkan tulang-tulang wajah. Maxillae Tulang Tulang maxillae adalah tulang terbesar dari wajah dan bersama-sama membentuk rahang atas. Rahang atas (tunggal) terdiri dari tubuh dan. empat proses: zygomatic, frontal, alveolar dan palatina. Rahang atas membentuk palatum durum, lantai hidung, bagian dari orbit (rongga mata), dan soket gigi dari gigi atas. Di atas akar gigi atas dan bawah

Gambar 3-7. \ Tulang ethmoid dilihat dari atas. Tabel 3-2. \ Tulang Wajah

Gambar 3-8. \ Anterior pandang kerangka wajah.

Gambar 3-9. \ Posterior pandang kerangka wajah. lantai orbit adalah sinus maksilaris; yang terbesar dari sinus. Palatine Tulang Tulang-tulang palatina terletak di belakang maxillae (gambar 3-10). Tulang yang agak berbentuk L dan membentuk bagian posterior dari palatum keras dan lantai hidung. Anterior, mereka bergabung dengan tulang rahang atas. Zygomatic Tulang (zygoma, Malar Bone) Tulang zygomatic membentuk menonjol dari pipi dan memperpanjang dari proses zygomatic dari tulang temporal dengan proses zygomatic dari rahang atas. Tulang zygomatic membentuk "tulang pipi" dan membantu untuk membentuk sisi dan lantai dari orbit.

Gambar 3-10. \ Anterior pandangan tulang palatina. 5.fraktur apa saja yang terjadi pada mulut?

BAB II INSIDENSI FRAKTUR MAKSILOFASIAL AKIBAT KECELAKAAN LALU LINTAS PADA PENGENDARA SEPEDA MOTOR YANG DIRAWAT DI RSUP. H. ADAM MALIK MEDAN Tulang nasal, orbitozigomatikus, frontal, temporal, maksila dan mandibula merupakan tulangtulang pembentuk wajah, sehingga apabila terjadi fraktur pada daerah tersebut dapat mengakibatkan suatu kelainan pada bentuk wajah yang menyebabkan wajah tersebut tidak terlihat estetis serta terjadinya gangguan pada proses pengunyahan makanan dan gangguan fonetik. 2.1 Definisi Fraktur Maksilofasial Fraktur adalah hilang atau putusnya kontinuitas jaringan keras tubuh. Fraktur maksilofasial adalah fraktur yang terjadi pada tulang-tulang wajah yaitu tulang frontal, temporal, orbitozigomatikus, nasal, maksila dan mandibula.9 2.2 Etiologi Ada banyak faktor etiologi yang menyebabkan fraktur maksilofasial itu dapat terjadi, seperti kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja , kecelakaan akibat olah raga, kecelakaan akibat peperangan dan juga sebagai akibat dari tindakan kekerasan. Tetapi penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas.3 Universitas Sumatera Utara

Terjadinya kecelakaan lalu lintas ini biasanya sering terjadi pada pengendara sepeda motor. Hal ini dikarenakan kurangnya perhatian tentang keselamatan jiwa mereka pada saat mengendarai sepeda motor di jalan raya, seperti tidak menggunakan pelindung kepala (helm), kecepatan dan rendahnya kesadaran tentang beretika lalu lintas. Sosin, Sak dan Holmgreen (1990), dalam studi mortalitas Pusat Nasional Statistik Kesehatan data dari 1979-1986, menemukan bahwa 53% dari 28.749 pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm meninggal karena cidera kepala yang mereka alami.10 2.3 Klasifikasi Fraktur Maksilofasial Klasifikasi dari fraktur maksilofasial itu sendiri terdiri atas beberapa fraktur yakni fraktur kompleks nasal, fraktur kompleks zigomatikus - arkus zigomatikus, fraktur dento-alveolar, fraktur mandibula dan fraktur maksila yang terdiri atas fraktur le fort I, II, dan III. 11 2.3.1 Fraktur Komplek Nasal Tulang hidung sendiri kemungkinan dapat mengalami fraktur , tetapi yang lebih umum adalah bahwa fraktur fraktur itu meluas dan melibatkan proses frontal maksila serta bagian bawah dinding medial orbital. Fraktur daerah hidung biasanya menyangkut septum hidung. Kadang kadang tulang rawan septum hampir tertarik ke luar dari alurnya pada vomer dan plat tegak lurus serta plat kribriform etmoid mungkin juga terkena fraktur. Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Fraktur Kompleks Nasal terdiri dari sebuah pertemuan beberapa tulang: (1) tulang frontal, (2) tulang hidung, (3) tulang rahang atas, (4) tulang lakrimal, (5) tulang ethmoid, dan (6) tulang sphenoid ( www.emedicine.com ) ( 20 September 2010 ). Perpindahan tempat fragmen fragmen tergantung pada arah gaya fraktur. Gaya yang dikenakan sebelah lateral hidung akan mengakibatkan tulang hidung dan bagian-bagian yang ada hubungannya dengan proses frontal maksila berpindah tempat ke satu sisi.12 Dalam penelitian retrospektif Sunarto Reksoprawiro tahun 2001-2005, insidensi fraktur komplek nasal sebesar 12,66%.3 2.3.2 Fraktur Komplek Zigoma Tulang zigomatik sangat erat hubungannya dengan tulang maksila, tulang dahi serta tulang temporal, dan karena tulang tulang tersebut biasanya terlibat bila tulang zigomatik mengalami fraktur, maka lebih tepat bila injuri semacam ini disebut fraktur kompleks zigomatik. Tulang zigomatik biasanya mengalami fraktur didaerah zigoma beserta suturanya, yakni sutura zigomatikofrontal, sutura zigomakotemporal, dan sutura zigomatikomaksilar. Suatu benturan atau pukulan pada daerah inferolateral orbita Universitas Sumatera Utara

atau pada tonjolan tulang pipi merupakan etiologi umum. Arkus zigomatik dapat mengalami fraktur tanpa terjadinya perpindahan tempat dari tulang zigomatik.12 Gambar 3. Pandangan submentoverteks dari fraktur zigomatik kompleks (www.emedicine.com) (20 September 2010). Gambar 2. Pandangan frontal dari fraktur zigomatik kompleks (www.emedicine.com) (20 September 2010). Meskipun fraktur kompleks zigomatik sering disebut fraktur tripod, namun fraktur kompleks zigomatik merupakan empat fraktur yang berlainan. Keempat bagian fraktur ini adalah arkus zigomatik, tepi orbita, penopang frontozigomatik, dan penopang zigomatiko-rahang atas.13 Arkus zigomatikus bisa merupakan fraktur yang terpisah dari fraktur zigoma kompleks. Fraktur ini terjadi karena depresi atau takikan pada arkus, yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan film submentoverteks dan secara klinis berupa gangguan kosmetik pada kasus yang tidak dirawat, atau mendapat perawatan yang kurang baik.14 Insidensi fraktur komplek zigoma sendiri berbeda pada beberapa penelitian. Pada penelitian Hamad Ebrahim Al Ahmed dan kawan-kawan insidensi fraktur komplek zigoma sebesar 7,4%.15 Sedangkan hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa insidensi fraktur komplek zigoma sebesar 42% dan 7,9%.16,17 Universitas Sumatera Utara

2.3.3 Fraktur Dentoalveolar Injuri dento-alveolar terdiri dari fraktur, subluksasi atau terlepasnya gigi-gigi (avulsi), dengan atau tanpa adanya hubungan dengan fraktur yang terjadi di alveolus, dan mungkin terjadi sebagai suatu kesatuan klinis atau bergabung dengan setiap bentuk fraktur lainnya. Salah satu fraktur yang umum terjadi bersamaan dengan terjadinya injuri wajah adalah kerusakan pada mahkota gigi, yang menimbulkan fraktur dengan atau tanpa terbukanya saluran pulpa. Gambar 4. A. Infraksi Mahkota, B. Fraktur mahkota terbatas pada enamel dan dentin ( fraktur mahkota sederhana ), C.Fraktur mahkota langsung melibatkan pulpa (fraktur mahkota terkomplikasi), D. Fraktur akar sederhana, E. Fraktur mahkota-akar terkomplikasi, F.Fraktur akar Horizontal ( www.emedicine.com ) ( 19 September 2010 ). Injuri fasial sering menekan jaringan lunak bibir atas pada gigi insisor,sehingga menyebabkan laserasi kasar pada bagian dalam bibir atas dan kadang-kadang terjadi luka setebal bibir. Sering kali injuri semacam ini menghantam satu gigi atau lebih, Universitas Sumatera Utara

sehingga pecahan mahkota gigi atau bahkan seluruh gigi yang terkena injuri tersebut tertanam di dalam bibir atas. Pada seorang pasien yang tidak sadarkan diri pecahan gigi yang terkena fraktur atau gigi yang terlepas sama sekali mungkin tertelan pada saat terjadi kecelakaan, sehingga sebaiknya jika terdapat gigi atau pecahan gigi yang hilang setelah terjadinya injuri fasial agar selalu membuat radiograf dada pasien, terutama jika terjadi kehilangan kesadaran pada saat terjadinya kecelakaan.12,20 Fraktur pada alveolus dapat terjadi dengan atau tanpa adanya hubungan dengan injuri pada gigigigi. Fraktur tuberositas maksilar dan fraktur dasar antrum relatif merupakan komplikasi yang umum terjadi pada ilmu eksodonti. Gambar 5. Cedera tulang alveolar. A. Fraktur dinding tunggal dari alveolus, B. Fraktur dari prosesus alveolar ( www.emedicine.com ) ( 19 September 2010 ). Insidensi fraktur dentoalveolar sendiri juga berbeda persentasenya, pada beberapa penelitian, dimana masing-masing penelitian sebelumnya menunjukkan persentase sebesar 5,4%, dan 49.0%.5,18 Universitas Sumatera Utara

2.3.4 Fraktur Maksila Klasifikasi fraktur maksilofasial yang keempat adalah fraktur maksila, yang mana fraktur ini terbagi atas tiga jenis fraktur, yakni ; fraktur Le Fort I, Le Fort II, Le Fort III. Dari beberapa hasil penelitian sebelumnya, insidensi dari fraktur maksila ini masing-masing sebesar 9,2% dan 29,85%.3,19 2.3.4.1 Fraktur Le Fort I Fraktur Le Fort I dapat terjadi sebagai suatu kesatuan tunggal atau bergabung dengan fraktur fraktur Le Fort II dan III. Pada Fraktur Le Fort I, garis frakturnya dalam jenis fraktur transverses rahang atas melalui lubang piriform di atas alveolar ridge, di atas lantai sinus maksilaris, dan meluas ke posterior yang melibatkan pterygoid plate. Fraktur ini memungkinkan maksila dan palatum durum bergerak secara terpisah dari bagian atas wajah sebagai sebuah blok yang terpisah tunggal. Fraktur Le Fort I ini sering disebut sebagai fraktur transmaksilari.12-15 2.3.4.2 Fraktur Le Fort II Fraktur Le Fort II lebih jarang terjadi, dan mungkin secara klinis mirip dengan fraktur hidung. Bila fraktur horizontal biasanya berkaitan dengan tipisnya dinding sinus, fraktur piramidal melibatkan sutura-sutura. Sutura zigomatimaksilaris dan nasofrontalis merupakan sutura yang sering terkena. Seperti pada fraktur Le Fort I, bergeraknya lengkung rahang atas, bias merupakan suatu keluhan atau ditemukan saat pemeriksaan. Derajat gerakan sering Universitas Sumatera Utara

tidak lebih besar dibanding fraktur Le Fort I, seperti juga gangguan oklusinya tidak separah pada Le Fort I.12-15 2.3.4.3 Fraktur Le Fort III Fraktur craniofacial disjunction, merupakan cedera yang parah. Bagian tengah wajah benarbenar terpisah dari tempat perlekatannya yakni basis kranii. Fraktur ini biasanya disertai dengan cedera kranioserebral, yang mana bagian yang terkena trauma dan besarnya tekanan dari trauma yang bisa mengakibatkan pemisahan tersebut, cukup kuat untuk mengakibatkan trauma intrakranial. 12-15 Gambar 6. Fraktur Le Fort I , Le Fort II, Le Fort III ( www.emedicine.com ) ( 20 September 2010 ). 2.3.5 FrakturMandibula Fraktur mandibula merupakan akibat yang ditimbulkan dari trauma kecepatan tinggi dan trauma kecepatan rendah. Fraktur mandibula dapat terjadi akibat kegiatan olahraga, jatuh, kecelakaan sepeda bermotor, dan trauma interpersonal. Di instalasi Universitas Sumatera Utara

gawat darurat yang terletak di kota-kota besar, setiap harinya fraktur mandibula merupakan kejadian yang sering terlihat. Pasien kadang-kadang datang pada pagi hari setelah cedera terjadi, dan menyadari bahwa adanya rasa sakit dan maloklusi. Pasien dengan fraktur mandibula sering mengalami sakit sewaktu mengunyah, dan gejala lainnya termasuk mati rasa dari divisi ketiga dari saraf trigeminal. Mobilitas segmen mandibula merupakan kunci penemuan diagnostik fisik dalam menentukan apakah si pasien mengalami fraktur mandibula atau tidak. Namun, mobilitas ini bisa bervariasi dengan lokasi fraktur. Fraktur dapat terjadi pada bagian anterior mandibula ( simpisis dan parasimpisis ), angulus mandibula, atau di ramus atau daerah kondilar mandibula. Gambar 7. Fraktur Mandibula( www.emedicine.com ) ( 19 September 2010 ). Kebanyakan fraktur simfisis, badan mandibula dan angulus mandibula merupakan fraktur terbuka yang akan menggambarkan mobilitas sewaktu dipalpasi. Namun, fraktur mandibula yang sering terjadi disini adalah fraktur kondilus yang biasanya tidak terbuka dan hanya dapat hadir sebagai maloklusi dengan rasa sakit.13,14 Dalam beberapa penelitian sebelumnya, dikatakan bahwa fraktur mandibula Universitas Sumatera Utara

merupakan fraktur terbanyak yang terjadi akibat kecelakaan lalu lintas pada pengendara sepeda motor, dengan masing-masing persentase sebesar 51% dan 72,8%.5,19 2.4 Pemeriksaaan Klinis Pemeriksaan klinis dari masing-masing fraktur maksilofasial dapat dilakukan dalam dua pemeriksaan, yakni pemeriksaan ekstra oral dan intra oral. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan radiografis yang dapat membantu dalam menegakkan diagnosa dari fraktur maksilofasial. 2.4.1 Fraktur Komplek Nasal Pemeriksaan klinis pada fraktur kompleks nasal dilakukan dalam dua pemeriksaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral, pemeriksaan dilakukan visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya deformitas pada tulang hidung, laserasi, epistaksis, bentuk garis hidung yang tidak normal. Sedangkan secara palpasi dapat terlihat adanya luka robek pada daerah frontal hidung, edema, hematom, dan tulang hidung yang bergerak dan remuk. Pada pemeriksaan intra oral, pemeriksaan dilakukan secara visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya deformitas yang berlanjut, deviasi pada tulang hidung, ekhimosis dan laserasi. Sedangkan secara palpasi terdapat bunyi yang khas pada tulang hidung. 12-14,16,25 Universitas Sumatera Utara

Selanjutnya pemeriksaan fraktur nasal kompleks dilakukan dengan foto rontgen dengan proyeksi Water, CT Scan, Helical CT dan pemeriksaan foto roentgen dengan proyeksi dari atas hidung. 12,14,17,38 2.4.2 Fraktur Komplek Zigoma Pemeriksaan klinis pada fraktur kompleks zigoma dilakukan dalam dua pemeriksaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral, pemeriksaan dilakukan dengan visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya kehitaman pada sekeliling mata, mata juling, ekhimosis, proptosis, pembengkakan kelopak mata, perdarahan subkonjungtiva, asimetris pupil, hilangnya tonjolan prominen pada daerah zigomatikus. Sedangkan secara palpasi terdapat edema dan kelunakan pada tulang pipi. Pada pemeriksaan intra oral, pemeriksaan dilakukan secara visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya ekimosis pada sulkus bukal atas di daerah penyangga zigomatik, kemungkinan penyumbatan oklusi didaerah molar pada sisi yang terkena injuri. Sedangkan secara palpasi terdapat kelunakan pada sulkus bukal atas di daerah penyangga zigomatik, anestesia gusi atas. 12-16,25 Pemeriksaan fraktur komplek zigomatikus dilakukan dengan foto rontgen submentoverteks, proyeksi waters dan CT scan.1,12,38 2.4.3 Fraktur Dentoalveolar Pemeriksaan klinis pada fraktur dentoalveolar dilakukan dalam dua pemeriksaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral, pemeriksaan Universitas Sumatera Utara

dilakukan dengan visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya laserasi, edema dan ekimosisi pada daerah bibir. Sedangkan secara palpasi terdapat pecahan gigi pada jaringan bibir. Pada pemeriksaan intra oral, pemeriksaan dilakukan secara visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya laserasi pada permukaan lidah dan sulkus labial, avulsi dan subluksasi. Sedangkan secara palpasi terdapat deformitas tulang, krepitus. 12,14,20,25 Pemeriksaan fraktur dentoalveolar dilakukan dengan radiograf intra-oral dan panoramik.21 2.4.4 Fraktur Maksila Fraktur maksila terbagi atas fraktur Le Fort I, Le Fort II dan Le Fort III, dimana pemeriksaan klinis pada masing-masing fraktur Le Fort tersebut berbeda. 2.4.4.1 Le Fort I Pemeriksaan klinis pada fraktur Le Fort I dilakukan dalam dua pemeriksaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral, pemeriksaan dilakukan dengan visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya edema pada bibir atas dan ekimosis. Sedangkan secara palpasi terdapat bergeraknya lengkung rahang atas. Pada pemeriksaan intra oral, pemeriksaan dilakukan secara visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya open bite anterior. Sedangkan secara palpasi terdapat rasa nyeri.12-14 Selanjutnya pemeriksaan fraktur Le Fort I dilakukan dengan foto rontgen dengan proyeksi wajah anterolateral.14 Universitas Sumatera Utara

2.4.4.2 Le Fort II Pemeriksaan klinis pada fraktur Le Fort II dilakukan dalam dua pemeriksaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral, pemeriksaan dilakukan dengan visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat pupil cenderung sama tinggi, ekimosis, dan edema periorbital. Sedangkan secara palpasi terdapat tulang hidung bergerak bersama dengan wajah tengah, mati rasa pada daerah kulit yang dipersarafi oleh nervus infraorbitalis. Pada pemeriksaan intra oral, pemeriksaan dilakukan secara visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi dapat terlihat adanya gangguan oklusi tetapi tidak separah jika dibandingkan dengan fraktur Le Fort I. Sedangkan secara palpasi terdapat bergeraknya lengkung rahang atas. 12-14 Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pemeriksaan dengan foto rontgen proyeksi wajah anterolateral, foto wajah polos dan CT scan.13-14 2.4.4.3 Le Fort III Pemeriksaan klinis pada fraktur Le Fort III dilakukan secara ekstra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral, pemeriksaan dilakukan dengan visualisasi. Secara visualisasi dapat terlihat pembengkakan pada daerah kelopak mata, ekimosis periorbital bilateral. Usaha untuk melakukan tes mobilitas pada maksila akan mengakibatkan pergeseran seluruh bagian atas wajah.14 Pemeriksaan selanjutnya dilakukan dengan pemeriksaan dengan foto rontgen proyeksi wajah anterolateral, foto wajah polos dan CT scan.13-14 Universitas Sumatera Utara

2.4.5 Fraktur Mandibula Pemeriksaan klinis pada fraktur mandibula dilakukan dalam dua pemeriksaan yakni secara ekstra oral dan intra oral. Pada pemeriksaan ekstra oral, pemeriksaan dilakukan dengan visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi terlihat adanya hematoma, pembengkakan pada bagian yang mengalami fraktur, perdarahan pada rongga mulut. Sedangkan secara palpasi terdapat step deformity. Pada pemeriksaan intra oral, pemeriksaan dilakukan secara visualisasi dan palpasi. Secara visualisasi terlihat adanya gigi yang satu sama lain, gangguan oklusi yang ringan hingga berat, terputusnya kontinuitas dataran oklusal pada bagian yang mengalami fraktur. Sedangkan secara palpasi terdapat nyeri tekan, rasa tidak enak pada garis fraktur serta pergeseran.1214,16,25 Pada fraktur mandibula dilakukan pemeriksaan foto roentgen proyeksi oklusal dan periapikal, panoramik tomografi ( panorex ) dan helical CT.13-14 Gambar 8. Fraktur nasal akibat kecelakaan kendaraan bermotor (www.emedicine.com) (19 September 2010). Universitas Sumatera Utara

Gambar 9. Pemeriksaan dengan proyeksi waters dari fraktur kompleks zigomatik yang (www.emedicine.com) (19 September 2010) Gambar 10. Fraktur Dentoalveolar ( www.emedicine.com ) (17 September 2010). Universitas Sumatera Utara

Gambar 11. CT koronal menunjukkan fraktur Le Fort I (kanan) dan Le Fort II (kiri) (www.emedicine.com) (17 September 2010). Gambar 12. Tampilan Waters menunjukkan fraktur Le Fort III (panah). Perdarahan terjadi di kedua antra (www.emedicine.com) ( 17 September 2010). Gambar 13. Radiografi Panoramik menunjukkan fraktur sudut kiri yang meluas dan mencabut gigi molar 3. Gambar ini juga menunjukkan fraktur simphisis kanan. ( www.emedicine.com ) ( 17 September 2010 ). Universitas Sumatera Utara

2.5 Perawatan Perawatan pada masing-masing fraktur maksilofasial itu berbeda satu sama lain. Oleh sebab itu perawatannya akan dibahas satu per satu pada masing-masing fraktur maksilofasial. Tetapi sebelum perawatan defenitif dilakukan, maka hal yang pertama sekali dilakukan adalah penanganan kegawatdaruratan yakni berupa pertolongan pertama (bantuan hidup dasar) yang dikenal dengan singkatan ABC. Apabila terdapat perdarahan aktif pada pasien, maka hal yang harus dilakukan adalah hentikanlah dulu perdarahannya. Bila pasien mengeluh nyeri maka dapat diberi analgetik untuk membantu menghilangkan rasa nyeri.31-33 Setelah penanganan kegawatdaruratan tersebut dilaksanakan, maka perawatan defenitif dapat dilakukan. 2.5.1 Fraktur Komplek Nasal Pada fraktur komplek nasal, ada 2 cara perawatan yang dilakukan yakni reduksi dan fiksasi. Fraktur kompleks hidung dapat direduksi dibawah analgesia lokal, tetapi anestesia umum dengan pipa endotrakeal lewat mulut yang memadai lebih diminati karena mungkin terjadi perdarahan banyak. Kadang kadang bila fraktur tidak begitu parah maka pemasangan splin setelah reduksi tidak perlu. Pada beberapa kasus, pendawaian langsung antar tulang pada pertemuan dahi-hidung akan bermanfaat.12,17,23 2.5.2 Fraktur Komplek Zigoma Perbaikan fraktur komplek zigoma sering dilakukan secara elektif. Fraktur arkus yang terisolasi bisa diangkat melalui pendekatan Gillies klasik. Universitas Sumatera Utara

Adapun langkah-langkah teknik Gillies yang meliputi : a. Membuat sayatan dibelakang garis rambut temporal, b. Mengidentifikasi fasia temporalis, c. Menempatkan elevator di bawah fasia mendekati lengkungan dari aspek dalam yakni dengan menggeser elevator di bidang dalam untuk fasia, cedera pada cabang frontal dari syaraf wajah harus dihindari. Sehingga arkus dapat kembali ke posisi anatomis yang lebih normal. Bila hanya arkus zigoma saja yang terkena fraktur, fragmen fragmen harus direduksi melalui suatu pendekatan memnurut Gillies. Fiksasi tidak perlu dilakukan karena fasia temporalis yang melekat sepanjang bagian atas lengkung akan melakukan imobilisasi fragmen-fragmen secara efektif.13,22-23 Gambar 14. Pendekatan Gillies untuk mengurangi fraktur arkus zigomatikus, A. Insisi temporal melalui fasia subkutan dan fasia superfisial dibawah fasia temporal bagian dalam, B. Reduksi fraktur dengan elevator (www.emedicine.com) (20 September 2010). 2.5.3 Fraktur Dento-alveolar Universitas Sumatera Utara Scribd Upload a Document Search Documents Explore

Sign Up | Log In

g. Complete fraktur Suatu fraktur dimana tulang tidak patah seluruhnya secara lengkap menjadi duabagian atau lebih. Sering terjadi pada orang dewasa.h. Incomplete fraktur Suatu fraktur dimana tulang tidak patah sama sekali, hanya rusak saja. Disinicontinuitas tulang tidak terganggu seluruhnyai. Greenstick fraktur suatu incomplete fraktur terdiri dari tulang-tulang yang calsificasinya belumsempurna. Sering terjadi pada anak-anak. j. Depressed fraktur Suatu fraktur dimana bagian tulang yang frakturnya menekan atau masuk kedalam rongga.k. Impacted fraktur suatu fraktur dimana fragmen yang satu terdorong masuk ke dalam fragmentulang yang lainnya. Ini sering terjadi pada tulang zygomaticus. Tanda dan gejala 1. NyeriRasa nyeri yang hebat dapat dirasakan saaat pasien mencoba menggerakkanrahang untuk berbicara, mengunyah atau menelan.2. Perdarahan dari rongga mulut.3. MaloklusiKeadaan dimana rahang tak dapat dikatupkan, mulut seperti keadaan sebelumtrauma.4. TrismusKetidakmampuan membuka mulut lebih dari 35 mm, batas terendah nilai normaladalah 40 mm.5. Pergerakan Abnormal.a. Ketidakmampuan membuka rahang membuat dugaan pergesekan padaprosesus koronoid dalam arkus zygomatikcus.b. Ketidakmampuan menutup rahang menandakan fraktur pada prosessusalveolar, angulus, ramus dari simfisis.6. Krepitasi tulangKrepitasi

tulang tulang adalah bunyi berciut yang terdengar jika tepian-tepianfraktur bergesakan saat berlangsungnya gerakan mengunyah, bicara, ataumenelan.7. Mati rasa pada bibir dan pipiPatognomonis untuk fraktur distal dari foramen mandibula.8. Oedem daerah fraktur dan wajah tidak simetris. Diagnosis Diagnosis fraktur dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dari riwayat kejadian,pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan radiologis.I. AnamnesisPada anamnesis keluhan subyektif berkaitan dengan fraktur dicurigai dari adanyanyeri, pembengkakan oklusi abnormal, mati rasa pada distribusi saraf mentalis,pembengkakan, memar, perdarahan dari soket gigi, gigi yang fraktur atau tunggal,trismus, ketidakmampuan mengunyah. Selain itu keluhan biasanya disertai riwayattrauma seperti kecelakaan lalu lintas, kekerasan, terjatuh, kecelakaan olah ragaataupun riwayat penyakit patologis.

II. Pemeriksaan Klinisa. Pemeriksaan klinis pasien secara umumUmumnya trauma maksilofasial dapat diketahui keberadaannya padapemeriksaan awal (primary survey) atau pemeriksaan sekunder (secondarysurvey). Pemeriksaan saluran napas merupakan suatu hal penting karenatrauma dapat saja menyebabkan gangguan jalan napas. Penyumbatan dapatdisebabkan oleh terjatuhnya lidah kearah belakang, dapat pula oleh tertutupnyasaluran napas akibat adanya lendir, darah, muntahan, dan benda asing.b. Pemeriksaan local fraktur 1. Pemeriksaan klinis ekstraoralTampak diatas tempat terjadinya fraktur biasanya terjadi ekimosis danpembengkakan. Seringpula terjadi laserasi jaringan lunak dan bisa terlihat jelas deformasi dari kontur mandibula yang bertulang. Jika terjadiperpindahan tempat dari fragmen-fragmen itu pasien tidak bisa menutupgeligi anterior, dan mulut menggantung kendur dan terbuka. Pasien seringkelihatan menyangga rahang bawah dengan tangan. Dapat pula air ludahbercampur darah menetes dari sudut mulut pasien.Palpasi lembut dengan ujung-ujung jari dilakukan terhadap daerah kondiluspada kedua sisi, kemudian diteruskan kesepanjang perbatasan bawahmandibula. Bagianbagian melunak harus ditemukan pada daerah-daerahfraktur, demikian pula terjadinya perubahan kontur dan krepitasi tulang. Jikafraktur mengenai saraf mandibula maka bibir bawah akan mengalami matirasa.2. Pemeriksaan klinis intraoralSetiap serpihan gigi yang patah harus dikeluarkan. Dari dalam mulut. Sulkusbukal diperiksa adanya ekimosis dan kemudian sulkus lingual. Hematomadidalam sulkus lingual akibat trauma rahang bawah hampir selalupatognomonik fraktur mandibula.Dengan hati-hati dilakukan palpasi pada daerah dicurigai farktur ibu jari sertatelunjuk ditempatkan di kedua sisi dan ditekan untuk menunjukkan mobilitasyang tidak wajar pada daerah fraktur.III. Pemeriksaan RadiologisEvaluasi radiografis dibutuhkan untuk mempertegas bukti dan memberikan datayang lebih akurat. Penatalaksanaan A. Perawatan PendahuluanPada penderita cedera wajah terlebih dahulu harus diperhatikan pernapasan,peredaran darah umum dan kesadaran. Jika terdapat patah tulang dengan atautanpa perdarahan, jalan napas bagian atas mudah tersumbat akibat dislokasi,udem, atau perdarahan. Dalam hal ini selalu harus diingat bahaya aspirasi darahatau isi alir balik lambung (regurgitasi). Disamping itu lidah mudah menutup faringpada penderita yang pingsan.B. Perawatan defenitif Prinsip umum perawatan fraktur maksilofasial secara esensial tidaklah berbedadari

perawatan fraktur-fraktur manapun saja di badan. Fragmen direduksi kedalam suatu posisi yang baik dan kemudian dilakukan immobilisasi sampai waktutertentu sehingga terbentuk penyatuan tulang.

C. Perawatan Lanjut Adapun hal-hal yang harus diperhatikan pada pasien setelah dilakukan fiksasiyaitu :1. Pengawasan umumPasien yang telah mengalami trauma dan dirawat rumah sakit harus diperiksasecara hati-hati, fiksasi harus dicek agar dapat melihat jangan sampai alatfiksasi lepas dan fraktur diperiksa untuk memastikan akan diperolehnyakemajuan memuaskan.2. Postur Pasien akan merasa lebih nyaman jika berada dalam posisi duduk dengandagu kearah depan dengan syarat tidak ada kontraindikasi terhadap postur ini.Pasien keadaan koma atau kesadaran menurun paling baik ditidurkan padabagian sisinya sehingga air ludah dan darah dapat dikeluarkan melalui mulut.3. Pencegahan InfeksiUntuk pencegahan infeksi sebaiknya pasien diberikan antibiotic. Jikapenyembuhan berjalan baik antibiotic dapat diberikan 5 hari sesudah dilakukanimobilisasi.4. Kesehatan mulutKesehatan mulut yang dilakukan secara efektif merupakan hal penting dalammencegah infeksi. Pasien yang sadar hendaknya diberikan pencuci mulutsetiap kali sesudah makan. Dan bagi pasien dengan imobilisasi carapengawatan dapat menjaga fiksasi tetap bersih dengan menggunakan sikatgigi.5. pemberian makananPada pasien yang dengan imobilisasi intermaksillaris diberikan diet yangdihaluskan. Rata-rata pasien kehilangan berat badan 15 20 pon jika dilakukanfiksasi maksillaris selama 4 6 minggu. Sedangkan dengan fiksasi plat dapatdiberikan diet normal. Penyembuhan fraktur Faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan fraktur:1. Pada fraktur terbuka faktor infeksi memegang peranan penting dalampenyembuhan fraktur 2. Vaskularisasi3. Umur dan keadaan umum penderitaWaktu penyembuhan kira-kira 5-9 minggu. Komplikasi Adapun komplikasi yang dapat terjadi yaitu:1. Komplikasi yang timbul selama perawatan- Infeksi- Kerusakan saraf - Gigi yang berpindah tempat- Komplikasi pada daerah gingival dan periodontal- Reaksi terhadap obat2. Komplikasi lanjut- Malunion- Union yang tertunda- nonunion

Fraktur mandibula a. Fraktur dento-alveolar Fraktur dento-alveolar terdiri dari afusi, subluksasi atau fraktur gigi denganmaupun tanpa disertai fraktur alveolar. Fraktur ini dapat saja ditemukan sebagaisatu-satunya fraktur yang terjadi pada mandibula, dapat pula berkombinasi atauberhubungan dengan fraktur dibagian lain pada mandibula.b. Fraktur KondilusFraktur condilus dapat terjadi secara intracapsul, tetapi lebih sering terjadi secaraekstracapsul, dengan atau tanpa dislokasi kepala kondilus. Fraktur pada daerahini biasanya gagal terdeteksi melalui pemeriksaan sederhana.c. Fraktur processus koronoidFraktur processus koronoid jarang terjadi, dan biasanya ditemukan saaatdilakukannya operasi kista besar. Fraktur ini sulit terdiagnosis secara pasti padapemeriksaan klinis.d. Fraktur ramusOtot pterygiomasseter menghasilkan efek splinting yang kuat sehingga fraktur pada daerah ramus jarang terjadi.e.

Fraktur angulusDaerah ini umumnya mengalami karena tulang pada daerah ini lebih tipis jikadibandingkan dengan tulang pada daerah korpus. Relative tingginya insidenimpaksi molar ke tiga menyebabkan daerah ini menjadi lemah.f. Fraktur korpusKeberadaan gigi kaninus pada kasus fraktur korpus menyebabkan daerah inimenjadi lemah. Tidak bererupsinya gigi molar ke tiga juga berhubungan dengankejadian fraktur ini.g. Fraktur simfisis dan parasimfisisFraktur pada daerah simfisis dan parasimfisis jarang terjadi. Ketebalan mandibulapada daerah ini menjamin bahwa fraktur pada daerah simfisis dan para simfisishanyalah berupa keretakan halus. Keadaan ini akan menghilang jika posisi tulangtetap stabil dan oklusi tidak terganggu. Fraktur maksila a. Fraktur dentoalveolar Fraktur yang meliputi gigi & procc. alveolarisb. Fraktur Le Fort I Garis Fraktur berjalan dari sepanjang maksila bagian bawah sampai denganbawah rongga hidung. Disebut juga dengan fraktur guerin. Kerusakan yangmungkin :a. Prosesus arteroralisb. Bagian dari sinus maksilarisc. Palatum durumd. Bagian bawah lamina pterigoid- c. Fraktur Le Fort II Garis fraktur melalui tulang hidung dan diteruskan ke tulang lakrimalis, dasar orbita, pinggir infraorbita dan menyeberang ke bagian atas dari sinus maksilaris juga kea rah lamina pterogoid sampai ke fossa pterigo palatine. Disebut jugafraktur pyramid. Fraktur ini dapat merusak system lakrimalis, karena sangatmudah digerakkan maka disebut juga fraktur ini sebagai floating maxilla (maksilayang melayang)

d.

Fraktur Le Fort III Garis Fraktur melalui sutura nasofrontal diteruskan sepanjang ethmoid junctionmelalui fissure orbitalis superior melintang kea rah dinding lateral ke orbita, suturazigomatikum frontal dan sutura temporo-zigomatikum. Disebut juga sebagacranio-facial disjunction. Merupakan fraktur yang memisahkan secara lengkapsutura tulang dan tulang cranial.Komplikasi yang mungkin terjadi pada fraktur ini

: keluarnya cairan otak melaluiatap ethmoid dan lamina cribiformis.e. Fraktur zygomatikum kompleksOs zygomatic tidak berdiri sendiri, tapi bertemu dengan: os maksila, os temporal,dan os frontal. Sehingga jarang terjadi fraktur hanya pada os zygomatic saja.Fraktur dapat terjadi pada zygomatic arch tanpa disertai zygomatic

complexfrakture.f. Fraktur nasal kompleksFraktur pada tulang nasal tidak disertai fraktur tulang-tulang lain disekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA - Maria, Luciana K.D., Penuntun Kuliah Ilmu Penyakit Gigi-Mulut, Bagianpenyakit gigi-mulut fakultas kedokteran Universitas Kristen Maranatha,Bandung.- Elidasari Monika. Pramono Coen., Penatalaksanaan Fraktur Bilateral Pada Angulus Mandibula, Dalam Majalah PABMI, Persatuan Ahli Bedah MulutIndonesia, Bandung, 2004, 241-245.- Pederson Gordon., Bedah Mulut, Alih Bahasa Purwanto, EGC, Jakarta, 1990,236-248- Tawfilis Adel., Facial Trauma, Mandibular Fractures, Available fromhttp://www.emedicine.com/plastic/topic227.htmBarrera Jose, Mandibular Body Fractures, Available Fromhttp://www.emedicine.com/ent/topic415htm- Soule William., Mandible Fractures, Available fromhttp://www.emedicine.com/radio/topic423.htm.- Manson Paul, John Cameron., Terapi Bedah Mutakhir Jilid Dua, Alih BahasaWidjaya Kusuma, Edisi Empat, Binarupa Aksara, Jakarta, 1997, 471, 482-484.- Archer Harry., Oral And Maxillofacial Surgery, 5 th Edition, W.B SaundersCompany, Philadelphia,1978, 1045-1052.- Banks Peter, Fraktur Pada Mandibula Menurut Killey, Alih Bahasa Wahyono,Edisi Ketiga, Gajah Mada University Press, 1992, 1-79

Leave a Comment You must be logged in to leave a comment. Submit Characters: 400 referat gimul Download or Print 629 Reads

Uploaded by Yohanes Piyix Follow Download

TIP Press Ctrl-F to quickly search anywhere in the document.

3 p.

58.Phantom Abortus Inkomplet

3 p.

38.Atonia Uteri

13 p.

refrat keratitis 1 Upload a Document

Search Documents

Follow Us! scribd.com/scribd twitter.com/scribd facebook.com/scribd About Press Blog Partners Scribd 101 Web Stuff Support FAQ Developers / API Jobs Terms Copyright Privacy

Copyright 2012 Scribd Inc. Language: English

Ketika fragmen tulang dan gigi yang bergeser masih memiliki mukosa yang baik di sisi lingual, maka fragmen tulang dan gigi tersebut masih dapat dilestarikan. Pergeseran dikurangi dan mukosa yang terjadi laserasi tersebut diperbaiki jika itu diperlukan. Pengurangan dari pergeseran tersebut bertujuan untuk menstabilkan, yakni dilakukan dengan cara mengetsa pilar ke mahkota, baik pada gigi yang terlibat maupun pada gigi yang berdekatan dengan batang akrilik atau bar yang cekat ,splint komposit atau splin ortodonsi selama 4 - 6 minggu. Tetapi jika terdapat kominusi yang kotor, sebaiknya gigi dan tulang yang hancur tersebut dibuang dan dilakukan penjahitan pada mukosa yang berada diatas daerah tulang yang telah rata. 15,20-21,23 Gambar 15. Penanganan fraktur dentoalveolar. A, Gambaran intraoral dari pasien yang mengalami fraktur dentoalveolar pada bagian anterior mandibula. B, Arch bar yang dipasangkan untuk menstabilisasikan segmen tersebut. C, Oklusi yang diperoleh setelah arch bar dibuka (Baumann A, Troulis MJ, Kaban LB. Facial traumaII : dentoalveolar injuries and mandibular fractures. In: Kaban LB, Troulis MJ, Pediatric oral and maxillofacial surgery. USA: Elsevier Science, 2004 : 446). 2.5.4 Fraktur Maksila Pada fraktur Le Fort I dirawat dengan menggunakan arch bar, fiksasi maksilomandibular, dan suspensi kraniomandibular yang didapatkan dari pengawatan sirkumzigomatik. Apabila segmen fraktur mengalami impaksi, maka dilakukan Universitas Sumatera Utara

pengungkitan dengan menggunakan tang pengungkit, atau secara tidak langsung dengan menggunakan tekanan pada splint/arch bar.12,14,23 Sedangkan perawatan pada fraktur Le Fort II serupa dengan fraktur Le Fort I. Hanya perbedaannya adalah perlu dilakukan perawatan fraktur nasal dan dasar orbita juga. Fraktur nasal biasanya direduksi dengan menggunakan molding digital dan splinting.12,14,23 Selanjutnya, pada fraktur Le Fort III dirawat dengan menggunakan arch bar, fiksasi maksilomandibular, pengawatan langsung bilateral, atau pemasangan pelat pada sutura zigomatikofrontalis dan suspensi kraniomandibular pada prosessus zigomatikus ossis frontalis.12,14,23 2.5.5 Fraktur Mandibula Ada dua cara penatalaksanaan fraktur mandibula, yakni cara tertutup / konservatif dan terbuka / pembedahan. Pada teknik tertutup, reduksi fraktur dan imobilisasi mandibula dicapai dengan jalan menempatkan peralatan fiksasi maksilomandibular.14 Pada prosedur terbuka , bagian yang fraktur dibuka dengan pembedahan dan segmen direduksi dan difiksasi secara langsung dengan menggunakan kawat atau plat. Terkadang teknik terbuka dan tertutup ini tidaklah selalu dilakukan tersendiri, tetapi juga dapat dikombinasikan.14,23 Universitas Sumatera Utara

Nice BraCeLeT Pindahan

6. Fraktur Rahang
Februari 2, 2007 oleh Evy Fraktur atau patah tulang rahang adalah hilangnya kontuinitas pada rahang. Pada daerah rahang meliputi tulang rahang atas (maxilla), rahang bawah (mandibula) yang diakibatkan oleh trauma pada wajah ataupun keadaan patologis, dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar.

Tanda-tanda patah pada tulang rahang meliputi : 1. Dislokasi, berupa perubahan posisi rahang yg menyebabkan maloklusi atau tidak berkontaknya rahang bawah dan rahang atas 2. Pergerakan rahang yang abnormal, dapat terlihat bila penderita menggerakkan rahangnya atau pada saat dilakukan . 3. Rasa Sakit pada saat rahang digerakkan 4. Pembengkakan pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan lokasi daerah fraktur. 5. Krepitasi berupa suara pada saat pemeriksaan akibat pergeseran dari ujung tulang yang fraktur bila rahang digerakkan.

6. Laserasi yg terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah sekitar fraktur. 7. Discolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan 8. Disability, terjadi gangguan fungsional berupa penyempitan pembukaan mulut. 9. Hipersalivasi dan Halitosis, akibat berkurangnya pergerakan normal mandibula dapat terjadi stagnasi makanan dan hilangnya efek self cleansing karena gangguan fungsi pengunyahan. 10. Numbness, kelumpuhan dari bibir bawah, biasanya bila fraktur terjadi di bawah nervus alveolaris. Perawatan dapat dilakukan dengan reduksi terbuka berupa tindakan operasi dengan pemasangan plat dan screw untung menyambungkan tulang yang patah. Pada fraktur yang simple dapat dilakukan reduksi tertutup dengan pengikatan rahang atas dan rahang bawah, diikuti tindakan imobilisasi

Fraktur wajah
Pada daerah wajah dan rahang sering mengalami cedera/trauma. Trauma merupakan kerusakan jaringan tubuh, baik jaringan lunak (kulit, jaringan ikat, otot) maupun jaringan keras (gigi, dan tulang) akibat benturan dengan komponen atau objek lain. Adapun, trauma pada jaringan keras atau terganggunya suatu kontinuitas suatu jaringan keras karena adanya trauma disebut dengan fraktur. Fraktur yang terdapat pada daerah sepertiga tengah skeleton fasial hingga pada daerah sepertiga bawah disebut dengan fraktur maksilofasial dan tergabung dalam berbagai tingkat keterlibatan dengan jaringan-jaringan lunak yang menutupinya, selain itu juga struktur tetangga seperti mata, saluran pernafasan nasal, sinus paranasal serta lidah. Fraktur yang terjadi meliputi tulang-tulang pada 1/3 tengah wajah seperti pada tulang rahang atas (maksila) dan tulang-tulang nasal, serta tulang rahang bawah (mandibula) yang diakibatkan oleh trauma pada wajah ataupun keadaan patologis, yang dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan benar. mandibula. KLASIFIKASI FRAKTUR Fraktur secara umum dapat diklasifikasikan 1. Simple atau merupakan hasil dari luka yang terbuka pada lingkungan eksternal, apakah itu melewati mukosa, kulit atau membran periodontal. tertutup: fraktur ini bukan 2. Compound atau terbuka: luka fraktur eksternal melibatkan kulit, mukosa atau membran periodontal yang berhubungan dengan tulang yang patah. 3. Comminuted: tulang terbelat atau hancur. 4. Fraktur greenstick: fraktur pada satu sisi dan mengakibatkan kerusakan sementara sisi yang lain hanya bengkok.

5. Fraktur patologis: fraktur yang terjadi dari luka karena penyakit pada tulang sebelumnya. 6. Multipel: jenis fraktur pada dua garis fraktur pada tulang yang sama tapi tidak berhubungan antar yang satu denagn yang lainnya. 7. Impaksi: fraktur pada satu fragmen yang merupakan perjalanan ketempat lainnya. 8. Atropi: fraktur yang terjadi spontan sebagai akibat dari tulang yang atropi pada tulang edentulous. 9. Indirect: titik fraktur tidak jauh dari daerah luka. 10. Komplit atau kompleks: fraktur pada luka yang berbatasan dengan jaringan lunak atau area lainnya, bisa simple atau compound Klasifikasi fraktur Maksila (Fraktur bagian tengah wajah) I. Pada tahun 1901, Rene Le Fort berdasarkan penelitiannya, mengklasifikasikan fraktur maksila berdasarkan tingkatan luka (injury), yaitu : Le Fort I Le Fort II Le Fort III II. Cedera Pada Tengah Wajah Fraktur Dentoalveolar Fraktur alveolar, fraktur pada alveolus dapat terjadi dengan atau tanpa adanya hubungan dengan injuri pada gigi-gigi Fraktur tuberositas maksila dan fraktur dasar antrum. Klasifikasi Ellis :6 a) Kelas 1 : fraktur yang melibatkan enamel b) Kelas II : fraktur email dan dentin c) Kelas III : fraktur yang melibatkan pulpa d) Kelas IV : fraktur akar

Fraktur kompleks zygomaticum Tulang zigomatik biasanya mengalami fraktur di daerah sutura zigomatikofrontal,sutura zigomatikotemporal, dan sutura zigomatikotemporal. Fraktur komplek zigomatik terjadi sebagai fraktur yang berdiri sendiri atau bergabung dengan-dengan fraktur-fraktur sepertiga tengah pusat skeleton fasial. Fraktur Maksila Fraktur bagian tengah wajah utamanya diderita oleh remaja. Penyebab utama dari luka (injury) ini adalah kecelakaan kendraan bermotor, yang diikuti oleh penyerangan (perkelahian). Fraktur Le Fort - Le Fort I atau tingkat terendah atau infrazygomatic atau fraktur Guerin - Le Fort II atau pyramidal atau fraktur infrazygomatic - Le Fort III atau fraktur suprazygomatic Semua fraktur ini bisa unilateral atau bilateral

Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/2280470-fraktur-wajah/#ixzz1v0etc5un