Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Mastitis merupakan salah satu bentuk penyakit infeksi kelenjar mammae yang disebabkan oleh mikroorganisme pada ternak perah. Infeksi dapat terjadi melalui lubang puting, luka pada kulit dan melalui peredaran darah. Susu yang baik mengandung jumlah bakteri yang sedikit, tidak mengandung spora mikroba pathogen, bersih yaitu tidak mengandung debu atau kotoran lainnya, mempunyai cita rasa. Mastitis dapat menurunkan produksi susu baik kualitas maupun kuantitas, mastitis juga dapat menurunkan produksi susu sebesar 41,62%. Mastitis disebabkan hampir 95% oleh mikroorganisme yang berasal dari spesies streptococus dan Staphylococci. Adanya infeksi yang akut menyebabkan meningkatnya jumlah sel darah putih yang merupakan jajaran pertama untuk sistem pertahanan melawan infeksi dengan cara perpindahan ke daerah yang sedang mengalami serangan bakteri, menembus dinding pembuluh darah dan menyerang bakteri untuk dihancurkan, selanjutnya sel darah putih yang mati bercampur dengan jaringan yang mati (nekrotik) menghasilkan nanah (pus). Pada umumnya sapi perah yang dipelihara peternak terserang mastitis subklinis, sehingga sering luput dari pengamatan, karena gejala yang ditimbulkan tidak dapat dilihat secara kasat mata. Apabila mikroorganisme berhasil masuk kedalam puting susu, maka mikroorganisme akan membentuk koloni dan menyebar ke lobuli dan alveoli. Mastitis sub-clinis tidak disertai gejala klinik pada ambing tetapi komponen susu berubah dengan meningkatnya jumlah sel leukosit, yang menyebabkan penurunan kadar lipase, sodium, dan klorida. Secara klinis radang ambing dapat berlangsung secara akut, subakut dan kronik. Radang dikatakan bersifat subklinis apabila gejala-gejala klinis radang tidak ditemukan saat pemeriksaan ambing. Pada proses radang yang bersifat akut, tanda-tanda radang jelas ditemukan, seperti : kebengkakan ambing, panas saat diraba, rasa sakit, warna kemerahan dan terganggunya fungsi. Air susu berubah

sifat, seperti : pecah, bercampur endapan atau jonjot fibrin, reruntuhan sel maupun gumpalan protein. Proses yang berlangsung secara subakut ditandai dengan gejala sebagaimana di atas, namun derajatnya lebih ringan, ternak masih mau makan dan suhu tubuh masih dalam batas normal. Proses berlangsung kronis apabila infeksi dalam suatu ambing berlangsung lama, dari suatu periode laktasi ke periode berikutnya. Proses kronis biasanya berakhir dengan atropi kelenjar mammae. Infeksi ini mudah sekali menular ke ternak sehat lainnya. Sebagian besar infeksi disebabkan oleh bakteri pathogen melalui lubang puting susu kemudian ke dalam ambing dan berkembang di dalamnya, sehingga menimbulkan reaksi peradangan. Penularan mastitis adalah dari seekor sapi ke sapi lain dan dari kuarter terinfeksi ke kuarter normal bisa melalui tangan pemerah, kain pembersih, mesin pemerah dan lalat. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana cara untuk mendiagnosa penyakit mastitis pada sapi Bagaimana terapi yang harus dilakukan untuk penyebuhan penyakit mastitis pada sapi Bagaimana mencegah penularan penyakit mastitis pada sapi

Daftar pustaka Aulia, Erwin S. 2008. Hubungan Antara Mastitis dengan Kandungan Kadar Garam (NaCl) pada Susu Sapi Perah. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang. Rahayu, Imbang Dwi, drh. 2008. Mastitis pada Sapi Perah. Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah. Malang.