Anda di halaman 1dari 10

Biomolekuler keganasan (di bidang THT)

Tujuan mempelajari imunologi kanker: 1. mengetahui hubungan antara respons imunologi penjamu dengan tumor. 2. menggunakan ilmu pengetahuan tentang respons imun terhadap tumor dalam diagnosis, profilaksis dan pengobatan. Hal-hal ang menunjukkan adan a peranan sistem imun pada kanker ditunjang oleh beberapa pengamatan sebagai berikut: Beberapa tumor tertentu dapat sembuh spontan !ari pemeriksaan otopsi didapatkan insidens keganasan tertentu ang "# kali lebih tinggi dibanding dengan kejadian dalam klinik. $ada penderita dengan defesiensi imun atau ang mendapat terapi imunosupresi, ditemukan keganasan 2## kali lebih ban ak dari pada ang diperkirkan. Biologists menemukan suatu keadaan ang indah mempesonakan aitu memungkinan membedaan sel-sel neoplasti%s dan asal dari bagian jaringan normal. !igambarkan sel tumor menempel pada endotel sel dengan mekanisme tertentu.

(Fig. 1 3 hal 375, Atlas of Immunology


I. ANTIGEN &ntigen terbentuk karena suatu sel mengalami transformasi sehingga fenotipik sel berubah dari normal (menjadi maligna), karena hilangn a komponen antigen permukaan dan timbuln a neoantigen (perubahan lain pada membrane sel) ang tidak ditemukan pada sel normal. $erubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan respons sistem imun. &dan a tumor ang tidak ban ak menimbulkan perubahan pada antigen sel, sehingga penjamu tidak memberikan respons imun ang diharapkan. !isamping itu ada pula tumor ang tidak menimbulkan respons imun sama sekali, ang disebut immunological escapae. &ntigen spesifik tumor kadang-kadang sulit untuk diketahui oleh karena antigen tersebut tidak ditemukan pada sel asaln a, tetapi dibentuk sel ang lain. Gambar s !mati tumor asso"iat!# antig!n (TAA$

$rotein ang termodifikasi ketika phosphorilasi menjadi spesifik protein aitu struktur %o'alent berubah menjadi antigen dengan determinant atau epitope baru (suatu ne( antigeni%) ang disebut neoantigen. )pitop menampilkan struktur baru terjadi selama perkembangan sel atau di neoplasia. *eoantigents disebut tumor asso%iated antigents (T&&).

(Fig. Fig.4 (hal 376, Atlas of immunology) ( Fig. 11, 12, hal 379, Atlas of immunology)
A.%!mbagian antig!n tumor s!"ara s!rologis. A#a tiga las TAA 1. &ntigen kelas +, ang han a ditemukan pada tumor itu saja dan tidak pada sel normal atau keganasan ang lain. 2. &ntigen kelas ++, ang juga ditemukan pada tumor lain. ,ekarang antigen tersebut juga ditemukan pada beberapa sel normal dan oleh karena itu antigen tersebut disebut diferensiasi autoantigen. -. &ntigen kelas +++, ang dienukan pada berbagai sel normal dan ganas tetapi jumlahn a meningkat. &ntigen kelas +++ lebih sering ditemukan dibanding dengan antigen kelas + dan kelas ++. B. $embagian antigen tumor menurut sebab: 1. &ntigen tumor ang timbul akibat bahan imia atau fisi ang karsinogen &ntigen tumor ang ditimbulkan bahan kimia, mempun ai spesifitas antigen masingmasing. .adi tumor ang timbul dari transformasi s!l tunggal m!mili i antig!n sama, sedang b!rbagai tumor ang ditimbulkan oleh bahan arsinog!n yang sama, m!m&unyai antig!n yang b!rb!#a satu dari ang lain. !emikian pula dengan tumor ang ditimbulkan bahan kimia dan fisik tidak menunjukkan reaksi silang, maka %ara-%ara ang berdasarkan respons imun dalam diagnosis dan pengobatan tumor tersebut sulit diterapkan atau tidak mungkin. 2. &ntigen tumor ang di%etuskan 'irus Tumor ang ditimbulkan 'irus onkogenik !*& (misaln a human papillo'irus)atau /*& ( retro'irus) menunjukkan r!a si silang yang luas. ,etiap 'irus tersebut 2

menunjukkan ! s&r!si antig!n yang sama ang tidak bergantung dari asal jaringan atau spesies. Bukti bah(a limfoma Burkit, karsinoma nasofaring dan leukemia sel T ditimbulkan 'irus aitu ditemukann a Tumor Associated Antigen (T&&) ang berbeda dari antigen 'irion. &ntigen tersebut biasan a shut off selama pematangan, tetapi diekspresikan kembali akibat deregulasi gen pejamu atas pengaruh 'irus onkogenik.

Oncogenic i!us Fig. 9 (hal 376, Atlas of immunology)


-. &ntigen onkofetal Ban ak tumor mengekspresikan dirin a melalui &!rmu aannya atau &ro#u nya ang dilepas kedalam darah dan ditemukan dalam kadar rendah sekali ang tidak ada pada jaringan0orang normal. $roduk tersebut dapat ditunjukkan dengan antisera spesifik ang dibuat dalam he(an ang allogeneic atau xenogeneic. 1ontoh antigen onkofetal tersebut adalah carcinoembryonic antigen (1)&) ang ditemukan dalam serum penderita dengan kanker saluran %erna. Terutama kanker %olon. &ntigen 1)& dapat dilepas kedalam sirkulasi dan ditemukan dalam serum penderita dengan berbagai neoplasma. 2adar 1)& meningkat (diatas 2,3 mg0ml) ditemukan dalam sirkulasi penderita dengan kanker kolon, kanker pankreas, berbagai jenis kanker paru, kanker pa u dara dan lambung. 1)& telah pula ditemukan dalam darah penderita non-neoplastik seperti emfisema, kolitis ul%eratif, pankreatitis, peminum alkohol dan perokok. &ntigen onkofetal lainn a ialah alphafetoprotein (&4$) ang ditemukan dengan kadar tinggi dalam serum fetus normal, eriblastoma testis dan hepatoma. -. &ntigen tumor spontan Tumor spontan adalah tumor ang timbul dengan sebab ang belum diketahui. ,ampai sekarang antigen permukaan pada keban akan tumor spontan han a dapat ditemukan dengan bantuan serum allogeneic atau xenogeneic. !engan adan a teknik %anggih, antibodi telah dapat ditemukan pada beberapa tumor antara lain melanoma.

II. 'E(%)N( I*+N TE',A-A% T+*)' )fektor imun humoral dan seluler ang dapat menghan%urkan sel tumor in 'itro (lihat Tabel). $ada umumn a, destruksi sel tumor melalui mekanisme tersebut lebih efisien bila sel tumor ada dalam suspensi. !estruksi tumor sulit dibuktikan pada tumor ang padat. Tabel . )fektor sistem imun humoral dan seluler pada destruksi tumor &. 5ekanisme humoral 1. 6isis oleh antibodi dan komplemen 2. 7psonosasi melalui antibodi dan komplemen -. Hilangn a adesi oleh antibodi B. 5ekanisme seluler 1. !estruksi oleh sel T% 2. &!11 -. !estruksi oleh makrofag ang diaktifkan ". !estruksi oleh sel *2 &. $eranan antibodi pada imunitas tumor 5eskipun pada tumor, imunitas seluler lebih ban ak berperan dibanding imunitas humoral, tetapi tubuh membentuk juga antibodi terhadap antigen tumor. &ntibodi tersebut tern ata dapat menghan%urkan sel tumor se%ara langsung atau dengan bantuan komplemen, atau melalui sel efektor &!11 ang memiliki reseptor 4% misaln a sel *2 dan makrofag (opsonisasi) atau dengan jalan men%egah adhesi sel tumor. &ntibodi diduga lebih berperan terhadap sel ang bebas (leukemi, metastase tumor) dibanding terhadap tumor ang padat. 5ungkin dengan membentuk kompleks imun dan dengan demikian men%egah sititoksisitas sel T. A-.. (antibo#y/#!&!n#!nt "!ll/m!#iat!# "ytoto0i"ity$

"

Tumor-spe%ifi% +g8 antibodies mempun ai efek terhadap tumor setelah bekerja bersama dengan sel sistem immune, dengan sel T, sel *2, termasuk sel large granular l mpho% te, neutrofil, ma%rophage. 5elalui 4% reseptor regions dari antigen sel target, menghan%urkan sel target. berikatan dengan 4ab

(Fig. 19, hal 3"2, Atlas of immunology)


B. $eranan seluler pada imunitas tumor ,istem imun ang non-spesifik dapat langsung menghan%urkan sel tumor tanpa sensitisasi sebelumn a. )fektor sistem imun tersebut adalah T%, fagosit mononuklier, polimorf, sel *2. ,el *2 terdiri dari sel-sel ang heterogen, tetapi keban akan adalah limfosit bergranul besar. Tidak seluruh permukaan. &kti'itas sel T melibatkan sel Th, Ts dan T%. ,el Th penting pada pengerahan dan akti'tas makrofag dan sel *2. 6imfokin-limfokin ang penting adalah : 5+4, 5&4, 145, 6T, T4, +4* dan T*4 ang dapat membunuh sel tumor. ,el T ang dirangsang antigen tumor melepas limfokin seperti: +4* ang mengaktifkan efek lisis sel *2 6imfotoksin (6T) ang dapat langsung menghan%urkan sel tumor Bahan kemotaktik (145) Migration Inhibition Factor (5+4) Macrophage activating Factor )(5&4) sel *2 mempun ai petanda

9ang semuan a mengarahkan dan mengaktifkan makrofag. 5akrofag mempun ai efek sitotoksik dan men%egah multiplikasi sel tumor. 6imfokin lain seperti +6-2 mengaktifkan respons spesifik sel B dan sel T lain. %!ranan limfo in #alam &!nghan"uran tumor

(gam#a! 113, hal 224, $mmunologi, %a!nen)


2eterangan gambar: ,el T ang dirangsang antigen tumor melepaskan limfokin seperti: 1. interferon (+4*) mengaktifkan efek lisis sel *2 2. 6imfotoksin (6T) ang dapat langsung mengha%urkan sel tumor -. Bahan kemotaktik (145)

". 5igration +nhibition 4a%tor (5+4) 3. 5a%rophage &%ti'ating 4a%tor (5&4) 9ang semuan a mengerahkan dan mengaktifkan makrofag. 5akrofag mempun ai efek sitotoksik dan men%egah multipel sel tumor. *a"ro&hag!s 5a%rophages adalah sel fagosit mononuklear ang berasal dari monosit didalam darah. ,el monosit berubah menjadi makrofag setelah migrasi ke jaringan. ,el makrofag mempun ai akti'itas imunitas nonspesifik dalam pertahanan s stem imun. &kti'itas fagosit karena memproduksi l :osomes efekti'e. ang mempun ai kemampuan mi%robi%idal untuk menghan%urkan mi%robes. ,elain itu, akti'itas tumori%idal juga

(Fig. 13 #an 11 hal. 372, Atlas of immunology$


(!l natural ill!r (N3$ ,el *2 termasuk imun nonspesifik menghan%urkan sel ang terinfeksi 'irus tertentu. ,el *2 dan sel killer (2) termasuk golongan antibod -dependent %ell-mediated % toto;i%it (&!11) men ebakan lisis sel melalui ikatan dengan antibod .

(Fig. 15, 14, hal 356, Atlas of immunologi$


.ytoto0i" T lym&ho"yt!s (.T7$ ,el 1T6 adalah sel limfosit T ang telah diaktifkan, 1!< = mengenal antigen dan sel T dengan re%eptorn a. /eseptor sel T dan 1!< = mengikat sel ang terinfeksi 'iruses atau ang telah menjadi neoplasma, dengan perantaraan molekul 5H1 %lass +, selanjutn a sel target dihan%urkan

(Fig. 17, 15 hal 351, Atlas of immunology$ *!nga&a an !r #a&at lu&ut #ari &!nga8asan sist!m imun

>

2anker dapat luput dari penga(asan sistem imun tubuh bila timbul faktor-faktor ang menunjuang peetumbuhan tumor lebih berat dibanding dengan faktor-faktor ang menekan tumor.

&am#a! 111, hal 229, immunologi , %a!nen Tumor &a#a &!n#!rita su&r!si sist!m imun
Tumor lebih sering terjadi pada orang dengan supresi sistem dibanding orang normal. 2eban akan keganasan jenis limfoprolif(erati'e. $re'alensi tumor pada penderita ang mendapat radiasi adalah 1## kali lebih besar dibanding orang normal. Berbagai faktor ang supresif terhadap tumor baik ang spesifik maupun non spesifik.

&am#a! 117, hal 22", $mmunologi, %a!nen


Immunoth!ra&y +munoterapi dengan dasar mekanisme immunologi% mela(an pan akit, %ontoh mema%u respons imun nonspesifik dengan B18 untuk tumor tertentu, dengan +6-206&2 %ell adopti'e immunotherapi te%hni?ue untuk mengobati tumor tertentu. 7ym&ho in! a"ti9at!# ill!r (7A3$ "!lls 6&2 adalah l mphoid %ell ang berasal dari orang normal atau penderita tumor dikultur di medium di kombinasi +6-2 akan mampu melisiskan sel tumor resisten terhadap sel *2. Tumor inlfiltrating lym&ho"t!s (TI7$ "!lls ,el limfosit ang mengisolasi tumor dengan jalan menginfiltrasi. ,el T+6 sangat efekti'e menghan%urkan sel tumor dan lebih efekti'e dari pada sel 6&2. Tumor n!"rosis fa"tor (TNF$ T*4 adalah monokine ang mempun ai efek % toto;i% dan dihasilkan oleh makrofag setelah diinduksi dengan ba%terial endoto;in. ,el-sel lain ang menghasikan TNF ang

monosite, makrofag, limfosit T dan limfosit B, sel *2, dan sel-sel lain setelah distimulasi dengan endoto;in produk dari mi%robial.

Fig. 2", 29,hal 3"9, Atlas of immunologi). 3arsinoma nasofaring (3NF$


5erupakan keganasan terban ak ang tumbuh di nasofaring. Termasuk golongan karsinoma sel s?uamous. 1. Etiologi : - terutama )pstein Barr Airus ()BA) !*& Berdasarkan histopatologi dibagi menjadi - : BH7 + , BH7 ++ dan BH7 +++. BH7 + : keratini:ing s?uamous %ell %ar%inoma, ditandai dengan adan a intra%ellular bridges dan keratin ang men olok. Tampakn a mirip dengan s?uamous sel karsinoma. 2ira-kira 23C dari semua jenis 2*4 dan insidesi 1C - 2C pada daerah endemik. BH7 ++, nonkeratini:ing s?uamous %ell %ar%inoma, ditandai dengan sel epiteliumn a matur, dan han a sedikit keratin. BH7 +++, merupakan undifferentiated %ar%inoma, tersusun dari sel dengan 'ari ing morpholog , dengan 'esi%ular nu%lei, prominent ne%leoli, dan s n% tia (fused multinu%leated giant %ell). D3C dari semua jenis 2*4 di daerah endemik. E&i#!miologi $enduduk kulit putih di *orth &meri%an dan )ropean 2*4 relati'e jarang terkena 2*4, insiden 1 per 1## ###. +nsiden di &frika, *orth &fri%an, $ol nesian meningkat antara 2 sampai " per 1## ### penduduk. ,edangkan di 1hina meningkat sampai -# per 1## ### penduduk. 5enurut analisa genetik, ada hubungan antar major histo%omtabilit lo%i H6&-&2, B1@, dan B(">, insiden meningkat 2 kali lipat risiko terkena 2*4, jadi suseptibilit gene atau genes terhadap tumorigenesis ada hubungann a dengan keadaan fisik H6& lo%i. $enelitian menunjukan ada hubungan erat antara antibodi di serum terhadap komponen epstein Barr 'irus ()BA) 4aktor lingkungan aitu dietar sangat berperan dalam patogenesis 2*4. 7rang 1hina ,elatan dan Tai(an ban ak mengkonsumsi makanan ang dia(etkan dengan garam <

(diantaran a ikan asin). /isiko terkena 2*4 ang mengkonsumsi ikan asin dapat 2 sampai - kali dibanding kontrol, dan usia makin tua resiko terkena 2*4 meningkat. /esiko lain ialah asap rokok tetapi masih diperdebatkan para ahli. 4aktor resiko lain ialah orang dengan serum antibodi titers terhadap komponen )BA ('iral %apsid antigen E A1& dan earl antigen E )&) tinggi. 2. -iagnosa a. -iagnosis s!rologi Tes serologi membantu menegakkan diagnosis untuk penderita ang primer unkno(n 'a#el 116.3. Fntuk tipe ++ dan tipe +++ ang primer tersembun i (unkno(n), tes serologi )& (immunoglobulin 8, +g8) titers positi'e sampai <>C, dan <2C positi'e A1& (+g&) titers dibanding han a 1<C dan -1C penderita dengan kanker s?uamous lain tumbuh di head and ne%k 'a#le 116.2. 'a#el 116.2 (hal 1416 (ailey) 'a#el 116.3, hal 1419, (ailey) b. metode lain : $ol merase %hain rea%tion dari jaringan fine needle aspirates of %er'i%al metastases ". diagnosis pasti dari biopsi jaringan tumor. T!ra&i /adiasi merupakan pilihan utama untuk terapi, dengan radiasi mega'olt menggunakan %obalt ># (>#1o) atau " sampi > 5e'A photons. /adiasi diberikan tiap hari 1<# -2## %8 sampai men%apai "3 ### %8 . Fntuk tumor ang re%uren dikelola dengan bra%hiterapi.

1#