Anda di halaman 1dari 14

Bisinosis Merty M. Taolin 102008196 Email : mertycute@yahoo.com Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA Semester 7 Jl. Arjuna Utara no.

6 Jakarta Barat

Abstrack
Bisinosis merupakan penyakit paru akibat kerja dengan karakterisasi penyakit saluran udara akut atau kronik yang di jumpai pada pekerja pengelolahan kapas, rami halus, dan rami. Bisinosis adalah gejala saluran napas serupa asma dalam berbagai derajat yang disebabkan oleh pajanan terhadap serat kapas. Oleh karena gejala awal bisinosis terjadi pada hari kerja pertama yang biasanya hari Senin, bisinosis disebut juga Monday morning fever atau

Monday moning chest tightness atau Monday morning asthma. Bisinosis lebih sering ditemukan pada karyawan pemintalan yang terpajan debu kapas kadar tinggi dibanding karyawan pertenunan. Kata Kunci : Monday morning sickness, serat kapas

Pendahuluan
Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja.Menurut ILO 1,1 juta kematian karena penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan 300,000 kematian adalah akibat 250 juta kecelakaan yang terjadi 160 juta peny akit akibat hubungan kerja. Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan,alat kerja , bahan , proses maupun lingkungan kerja.Paparan debu di lingkungan kerja dapat menimbulkan berbagai penyakit. Penyakit yang timbul diantaranya yang berkaitan dengan pulmonologi termasuk pneumokoniosis dan silikotuberkulosis, penyakit paru dan saluran nafas akibat debu logam keras, penyakit paru dan saluran nafas akibat debu kapas (bissinosis), asma akibat kerja dan lainnya.Pabrik tekstil yang memakai kapas ,hemp, flax sebagai bahan dasar memberi resiko menderita bisinosis.

TUJUH LANGKAH DIAGNOSIS PAK

Langkah I : Diagnosis Klinik Anamnesis1


Pada anamnesis klinik penyakit akibat hubungan kerja dokter perlu menanyakan identitas pasien terutama pekerjaan pasien.Sebelumnya 3 pertanyaan baku yang di rekomendasikan hipocrates yaitu menanyakan nama pasien , usia, dan tempat tinggal.Selain itu perlu di tanyakan apakah pekerjaan menyebabkan atau berhubungan dengan penyakit,Alasan lain di tanyakan untuk menanyakan riwayat pekerjaan pasien yang kembali bekerja, seperti apakah kembali bekerja menyababkan kambuhnya penyakit, atau kembali bekerja menyababkan kerugian dan mengganggu kesehatan teman sekerja atau masyarakat.selain itu riwayat

pekerjaan yang perlu di tanyakan seperti sudah berapa lama bekerja, riwayat pekerjaan sebelumnya, alat kerja, bahan kerja, serta proses kerjaa, sampa dengan hasil produksi, lain nya seperti apa alat pelindung diri yang dipakai,waktu bekerja sehari, apakah punya kebiasaan merokok , apakah ada pekerja lain yang mengeluh hal yang sama seperti pasien dan apakah ada keadaan lain yang memperberat penyakit pasien pada saat kembali bekerja.Beberapa pertanyaan yang membantu menegakan diagnosa bisinosis sendiri di antaranya menyangkut keluhan pasien,seperti adakah sesak napas, nyeri dada,batuk, demam, apakah membaik jika pekerja berlibur dan kambuh jika pasien kembali bekerja.

Pemeriksaan Fisik 2
Pengukuran tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi napas, dan Suhu.Pada pasein dengan bisinosis didapatkan terjadi penurunan frekuensi nafas dan peningkatan suhu, sedangkan nadi dan tekanan darah dalam batas normal kecuali ada penyakit penyerta lainnya. Didapatkan keluhan iritasi saluran napas bagian atas seperti : bersin-bersin, iritasi pada mata, hidung, stridor. Pada pasien bisinosis dengan efek kronik biasa memiliki ciri obstruksi jalan napas dan secara klinik sulit di bedakan dengan bronchitis kronis dan emfisema, maka pada saat Inspeksi terdapat retraksi inspirasi abnormal dari intercostal.

Pemeriksaan Penunjang Uji fungsi Paru Pemeriksaan spirometri merupakan pemeriksaan terhadap fungsi ventilasi dengan menggunakan alat spriometer yang mengukur arus udara dalam satuan isi dan waktu.Spirometri mencatat nilai ekspirasi lebih umum digunakan.Spirometer dapat digunakan untuk berbagai macam uji tetapi yang paling bermanfaat di lapangan adalah volume ekspirasi paksa 1 detik (VEPI) dan kapasitas vital palsa (KVP), Dengan spirometri ini, dapat diketahui uji fungsi paru dasar yang meliputi Vital Capacity (VC), Force Vital Capacity (FVC) dan Forced Expiratory Volume in One Second (FEV1). Vital Capacity adalah jumlah udara maksimal yang dapat diekspirasi sesudah inspirasi maksimal sedang Force Vital Capacity adalah pengukuran kapuritas vital yang di dapat pada ekspirasi dengan dilakukan secepat dan sekuat mungkin. Forced Expiratory Volume One Second adalah volume udara yang dapat diekspirasi dalam waktu satu detik selama tindakan FVC kedua pembacaan tersebut dapat dibuat dari usaha ekspirasi yang sama. Pembacaan akhir pada kedua hal tersebut adalah rata-rata tiga tarikan napas yang di dahului oleh dua tarikan napas latihan. Pada tes fungsi paru, tes dibagi dalam dua kategori yaitu tes yang berhubungan dengan fungsi ventilasi paru-paru dan dinding dada serta tes yang berhubungan dengan pertukaran gas. Pemeriksaan dengan spirometri ini adalah tes yang berhubungan dengan fungsi ventilasi paru-paru dan dinding dada. Hasil dari tes fungsi paru ini tidak dapat untuk mendiagnosa suatu penyakit paru-paru tapi hanya memberikan gambaran gangguan fungsi paru yang dapat dibedakan atas kelainan ventilasi obstruktif dan restriktif. Kelainan obstruktif adalah setiap keadaan hambatan aliran udara karena adanya sumbatan atau penyempitan saluran nafas.Sedangkan gangguan restriktif adalah gangguan pada paru yang menyebabkan kekakuan paru sehingga membatasi pengembangan paru-paru. Pada kasus bisinosis pemeriksaan dilakukan pada hari pertama bekerja, dilakukan sebelum dan sesudah pajanan selama 6 jam, dapat menghasilkan penurunan FEV I. Gambaran

penurunan FEV I yang bermakna (10% atau lebih) , derajat perbaikan penyumbatan jalan napas dapat dikaji dengan tes FEV I sebelum giliran tugas dilakukan setelah dua hari tidak terpajan. (Faisal Y.Pemeriksaan faal paru .pulmonologi klinik,Jakarta FK UI)

Pemeriksaan Tempat kerja Bila memungkinkan akan jauh lebih baik jika dilakukan survey pada tempat kerja, yang perlu di nilai adalah tentang pabrik ( bahan baku, proses produksi ,dan hasil produksi),aspek fisik , kimia, mekanik, ergonomic, biologi, psikososial, data tenaga kerja( menunjukan jumlah populasi yang terpajan), pelayanan kesehatan yang tersedia, serta fasilitas pendukung lain nya.

Working diagnosis Penyakit paru akibat paparan debu kapas (Bisinosis) Penyakit paru akibat kerja ialah penyakit atau kerusakan paru yang terjadi akibat debu/asap/ gas/ bahan yang berbahaya oleh pekerja di tempat kerja mereka. Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. Debu kapas atau serat kapas ini banyak dijumpai pada pabrik pemintalan kapas, pabrik tekstil, perusahaan dan pergudangan kapas serta pabrik atau bekerja lain yang menggunakan kapas atau tekstil; seperti tempat pembuatan kasur, pembuatan jok kursi dan lain sebagainya. Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun. Tanda-tanda awal penyakit bisinosis ini berupa sesak napas, terasa berat pada dada, terutama pada hari Senin (yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). Secara psikis setiap hari Senin bekerja yang menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada serta sesak nafas. Reaksi alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran pernapasan juga merupakan gejala awal bisinosis. Pada bisinosis yang sudah lanjut atau berat, penyakit tersebut biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin juga disertai dengan

emphysemaPaparan debu kapas dapat menimbulkan obtruksi saluran napas atau bisinosis.Patogenesis bisinosis belum sepenuhnya jelas, ada bukti bahwa suatu zat toksik yang melepaskan histmamin mungkin bertanggung jawab atas gejala khas bisinosis, yaitu sesak napas pada hari pertama setelah liburan akhir minggu.Secara luas di yakini bahwa kerja pelepasan histamine ini di sebabkan oleh senyawa molekuler kecil yang larut air dan stabil panas yang berasal dari bulu tanaman kapas.disamping pelepasan histamine paparan terhadap debu kapas juga menyebabkan iritasi saluran napas bagian atas dan bronkus , dimana setelah paparan yang lama perlahan-lahan berlanjut menjadi penyakit paru obtruktif kronik.Mungkin

juga terdapat lebih dari satu tipe reaksi manusia terhadap debu ini,Inhalasi endotoksin bakteri gram negative telah terbukti dapat menyebabkan gejala menyerupai bisinosis Gejala bisinosis di bagi dalam 4 derajat , yaitu : Derajat 0 Derajat Tidak ada gejala Kadang-kadang dada tertekan pada hari pertama kerja Derajat 1 Dada tertekan atau sesak napas tiap hari pertama minggu kerja Derajat 2 Rasa berat didada dan sukar bernafas tidak hanya pada hari pertama tapi pada hari lain minggu kerja Derajat 3 Gejala seperti derajat 2 ditambah toleransi terhadap aktivitas secara menetap dan

pengurungan kapasitas ventilasi

Langkah II : Pajanan yang dialami Penyakit akibat Kerja dapat disebabkan oleh faktor kondisi lingkungan dan manusia. Faktorfaktor bahaya yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja antara lain adalah : Faktor fisik, misalnya: penerangan, suara, radiasi, suhu, kelembaban dan tekanan udara, ventilasi. Faktor kimia, misalnya : gas, uap, debu, kabut, asap, awan, cairan, abu terbang dan benda padat. Faktor biologi, misalnya : virus dan bakteri baik dari golongan tumbuhan atau hewan. Faktor ergonomi atau fisiologis, misalnya : konstruksi mesin, sikap dan cara kerja. Dan Faktor mental - psikologis, misalnya : suasana kerja, hubungan diantara pekerja dan pengusaha

Pajanan yang di alami pada kasus bisinosis terutama berupa factor kimia organic yakni debu kapas yang berperan sebagai etiologi dari penyakit tersebut Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang melayang di udara Suspended Particulate Matter / SPM) dengan ukuran 1 mikron sampai dengan 500 mikron. Debu industri yang terdapat di udara dibagi menjadi 2, yaitu : Deposite particulate matter yaitu partikel debu yang hanya sementara di udara. Partikel ini akan segera mengendap karena daya tarik bumi. Suspended particulate matter adalah debu yang tetap berada di udara dan tidak mudah mengendap. Debu kapas merupakan salah satu debu yang berasal dari makhluk hidup atau di sebut debu organic, nilai ambang batas untuk debu kapas menurut WHO ; 0,2 mg/m3 untuk pemintalan dan 0,75 mg/m3. Sedangkan penelitian ukuran tersebut dapat mencapai target organ sebagai berikut : 1. Partikel diameter > 5,0 mikron terkumpul di hidung dan tenggorokan., ini dapat menimbulkan efek berupa iritasi yang ditandai dengan gejala faringitis. 2. Partikel diameter 0,5 5,0 mikron terkumpul di paru paru hingga alveoli, ini dapat menimbulkan efek berupa bronchitis, alergi, atau asma 3. Partikel diameter < 0,5 mikron terkumpul di alveoli dan dapat terabsorbsi ke dalam darah.

Langkah III : Hubungan pajanan dengan Penyakit Dengan menarik nafas, udara yang mengandung debu masuk ke dalam paru-paru. Secara umum terdapat tiga factor yang berpengaruh pada inhalasi bahan pencemar kedalam paru, yaitu factor komponen fisik, kimiawi dan host. Aspek fisik adalah bahan yang diinhalasi sedangkan aspek kimiawi yang berpengaruh antara lain adalah kecenderungan untuk bereaksi dengan jaringan sekitarnya, keasaman atau tingkat alkalisitas yang dapat merusak silia dan sistem enzim. Bahan tersebut, dapat menimbulakan fibrosis di paru dan bersifat antigen yang masuk keparu, factor host penting diperhitungkan sistem pertahanan paru baik anatomis maupun fisiologis. Silia yang aktif dapat membersihkan debu yang menempel dan asap rokok jelas mempengaruhi daya pertahanan paru.

Lamanya paparan dan kerentanan individu yang terpapar perlu diperhatikan. Partikel debu yang dapat dihirup oleh pernafasan manusia mempunyai ukuran 0,1 mikron sampai 10 mikron. Pada hidung dan tenggorokan bagian bawah ada cilia yang berfungsi menahan benda-benda asing seperti debu dengan ukuran 5 10 mikron yang kemudian dikeluarkan bersama secret waktu nafas. Partikel-partikel debu yang berdiameter lebih dari 15 mikron tersaring keluar pada saluran nafas bagian atas. Partikel 5-15 mikron tertangkap pada mukosa saluran yang lebih rendah dan kembali disapu ke laring oleh kerja mukosiliar, selanjutnya akan ditelan. Bila partikel ini mengiritasi saluran nafas, atau melepaskan zat-zat yang merangsang respon imun, dapat timbul penyakit pernafasan misalnya bronchitis. Partikel 0.5-5 mikron melewati system mukosiliar dan masuk ke saluran nafas terminal serta alveoli. Dari sana debu ini akan dikumpulkan oleh sel-sel scavenger (makrofag) dan dihantar kembali ke system limfatik atau system mukosiliar. Partikel berdiameter kurang dari 0.5 mikron kemungkinan tetap mengambang dalam udara dan tidak di retensi. Partikel-partikel panjang atau serta yang berdiameter kurang dari 3 mikron dengan panjang sampai 100 mikron dapat mencapai saluran nafas terminal, namun tidak dibersihkan oleh makrofag, akan tetapi partikelini mungkin pula ditelan oleh lebih dari satu makrofag dan dibungkus dengan protein sehingga terbentuk abses. Secara ringkas dapat dikatakan reaksi yang timbul akibat debu yang terinhalasi pada paru tergantung pada sifat alamiah kimia dari debu, ukuran debu, distribusi dari debu yang terinhalasi, kadar partikel debu, lamanya paparan, kerentanan individu dan pembersihan partikel debu.

Disamping itu debu kapas juga dapat menimbulkan reaksi alergi sebagaimana debu yang lain seperti serpihan kayu, tenun, wol dan kapur. Hal ini merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I dimana debu kapur yang menempel pada permukaan mukosa saluran nafas disertai dengan media reaksi immunoglobulin E (lgE) akan mengikat sel mukosa yang dapat berakibat sel mukosa akan melepaskan bahan vasoaktif termasuk histamine. Reaksi alergi ini menyebabkan terjadinya bronkhostriksi, meningkatnya sekresi mucus, dan meningkatnya permeabilitas kapiler sebagai akibat dari rekasi histamine

Langkah IV : Pajanan Cukup Besar ? Kadar partikel debu yang rendah dalam udara inhalasi , dapat di bersihkan secara komplit , namun semakin tinggi kadarnya maka semakin banyak I dalam mengalami deposisi dalam paru.Untuk debu kapas standar menurut WHO yang di perbolehkan 0,2 /m3.Angka-angka prevalensi Bisinosis antara 20-50% telah dilaporkan pada ruang penyisiran (cadroom) kapas dengan kadar debu respirasi antara 0,35 mg/m3, dan 0,60 mg/m3 .Prevalensi kurang dari 10% di temukan pada ruang dengan kadar debu respirasi kurang dari 0,1 mg/m3.Penurunan FEV I pertahun lebih besar didapatkan diantara para pekerja tekstil dengan riwayat paparan dbu yang lama , bila di banddingkan dengam subjek yang tidak terpapar.Perokok juga lebih rentan terhadap bisinosis dan mungkin mengalami bentuk lanjut dari penyakit ini.

Epidemiologi Penelitian tentang prevalensi Bisinosis di lakukan pada karyawan pabrik tekstil di berbagai Negara antara 1-88% dan pada umumnya bergantung pada kadar debu lingkungan kerja dan lama nya paparan.Prevalensi bisinosis tidak selalu berkorelasi positif antara timbulnya gangguan saluran pernapasan dengaan tinggi nya debu lingkungan kerja.Menurut Rylander tidak selalu di temukan hubungan antara bisinosis dengan obstruksi akut bahkan obtruksi akuit sering di temukan tanpa adanya bisinosis,sedangkan peneliti di Surabaya Purwannto

(1996) menemukan adanya hubungan bermakna antra obstruksi akut dengan lama paparan.Murlinhar di Bombay melaporkan adanya korelasi positif antara lama bekerja dengan derajat penurunan fungsi paru dan peningkatan prevalensi bisinosis. Dan beberapa peneliti di Beijing mendapatkan rata-rata timbulnya kelainan fungsi paru didapatkan setelah bekerja lebih dari 5 tahun.Penelitian tentang kadar debu dengan prevalensi bisinosis dan

penurunan fungsi paru dilaporkan Jiang dkk(1995) di Cina dimana kadar debu kapas antara 3,04- 12,32 mg/m3 didapatkan perasaan dada tertekan di awal kerja sebesar 9%.Penurunan VEPI sebesar 21,8%, batuk disertai dahak 18,2 %, dan bronchitis kronik sebesar 10,9 %, serta bisinosis didapatkan sebesar 1,7 %.Di Indonesia penyakit ini belum dilaporkan secara spesifik bukan karna tidak ada tetapi penyakit paru masih didominasi oleh penyakit infekssi spesifik maupun nonspesifik, dan kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan tentang gejala dan perjalanan penyakit menyerupai penyakit yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.

Cara kerja , Proses kerja , lingkungan kerja Untuk membuat kain, dimulai dari bahan baku yang paling dasar yaitu kapas. Dari kapas proses selanjutnya untuk membuat kain kaos disebut proses pemintalan atau didalam industri tekstil biasa disebut dengan proses spinning. Proses spinning yakni proses mengolah kapas atau polyester menjadi benang. Setelah proses pemintalan atau spinning, maka hasilnya adalah benang. Benang hasil pemintalan ini akan masuk ke proses berikutnya yang disebut soft winder. Soft winder adalah proses penggulungan benang hasil dari pemintalan. Benang yang telah digulung melalui proses soft winder, akan masuk ke proses pencelupan benang. Tujuannya adalah untuk memberi warna pada benang sebelum ditenun menjadi kain. Jadi warna dari kain itu berasal dari proses pencelupan benang ini. Setelah proses pencelupan benang selesai kemudian benang dikeringkan. Proses selanjutnya setelah pencelupan atau pewarnaan pada benang adalah proses weaving. Weaving biasa disebut juga proses penenunan, yaitu proses mengolah benang menjadi kain. Sebelum masuk ke proses penenunan atau weaving, benang perlu dipersiapkan terlebih dahulu. Proses ini, mempersiapkan benang hingga terbentuk anyaman benang yang siap masuk ke mesin tenun. Setelah itu baru masuk ke proses dalam proses weaving atau penenunan. Setelah proses penenunan selesai maka hasilnya adalah lembaran-lembaran kain. Kain-kain dari hasil mesin tenun ini kemudian masuk ke proses pemeriksaan atau disebut Shiage. Di proses ini kain akan dicek dan ditentukan gradenya. Bila dari pemeriksaan ditemukan kecacatan maka kain dikirim ke bagian perbaikan. Di proses ini juga dilakukan proses klasifikasi kain sesuai dengan jenisnya.

Lulus dari proses pemeriksaan atau Shiage. Kain akan masuk ke proses pemolesan terhadap warna, penampilan dan pegangan (handling) disebut dengan proses Dyeing. Proses ini merupakan proses terakhir dari proses produksi, mulai dari pengolahan bahan baku kapas atau polyester hingga menjadi kain. Sebelum kain dikirim ke pasaran ada proses terakhir yaitu proses penggulungan dan pengepakan kain sesuai dengan pesanan dari pelanggan. Sampai tahap ini selesailah proses produksi kain di pabrik. Kemudian kain akan dipasarkan ke pelanggan-pelanggan atau distributor dan pusatpusat grosir kain. Dari pusat-pusat grosir inilah bisanya industri garmen mendapatkan supply bahan baku kain. Industri-industri garmen ini meliputi industri konveksi, sablon atau percetakan hingga ke level industri rumah tangga. Sampai di level konveksi atau industri garment, kain-kain tersebut dipotong sesuai pola. Setelah dipotong kain kaos kemudian dijahit, dan dikemas sampai menjadi produk akhir seperti t-shirt.

Alat Pelindung Diri Perlindungan tenaga kerja melalui usaha-usaha teknik pengamanann tempat,peralatan , dan lingkungan kerja adalah sangat perlu diutamakan.Namun kadang keadaan bahaya masih belum dapat di kendalikan sepenuhnyam sehingga diperlukan alat pelindung diri (personal protektif devices) alat demikian harus memenuhi persyaratan : Enak dan nyaman di pakai Tidak mengganggu kerja Memberi perlindungan efektif terhadap jenis bahaya Pada kasus bisinosis salah satu APD yang utama adalah APD untuk alat pernapasan yakni respirator atau masker khusus.APD seperti masker filter berguna jika secara teratur di

periksa filtrasi udara efektif dan sempurna.sayangnya pemakaian masker seringkali tidak mengenakan , khususnya di daerah yang beriklim panas.

Langkah V Faktor Individu Status kesehatan fisik dari masing-masing individu, mempengaruhi berat-ringannya penyakit bisisnosis ini. Pada penderita bisinosis yang mempunyai riwayat atopi atau alergi, kebiasaan olahraga yang jarang bahkan tidak penah atau riwayat penyakit dalam keluarga

yang lain, dapat menimbulkan gejala yang lebih berat serta memperburuk keadaan bisinosis yang dialami. Kerentanan masing-masing individu juga mempengaruhi cepat-lambat munculnya bisinosis ini. Demikian juga dengan higene perorangan sangat penting dalam timbulnya penyakit ini. Higene perorangan yang baik, meminimalisasikan adanya pajanan yang dapat masuk kedalam tubuh seseorang. Semakin meningkatnya umur maka lebih rentan terhadap suatu penyakit.Kerentanan individu Hal ini sulit di perkirakan karena individu yang berbeda dengan paparan yang sama akan menimbulkan bahwa peranan saraf otonom cukup penting dalam respon terhadap iritan.Gangguan keseimbangan antara rangsangan vagus dan simpatolitik tampaknya mempengaruhi sensitivitas seseorang terhadap rangsang

debu.Diperkirakan juga dalam paparan terhadap debu dapat merusak epithelium saluran napas, sensitasi reseptor sensoris sehingga dapat meningkatkan reflex bronkokonstriksi.

Langkah VI Faktor lain di Luar individu Selain dari pada kualitas dan kuantitas paparan dalam pekerjaan, bisisnosis juga dapat ditimbulkan dari faktor lain diluar pekerjaan seperti kebiasaan, pekerjaan dirumah ataupun pekerjaan sambilan. Kebiasaan yang buruk seperti merokok, juga lebih rentan terhadap bisinosis oleh karena zat yang terkandung di dalam nya dapat merusak system pertahanan alamin dalam tubuh kita, sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, selain itu rokok juga dapat memperberat kondisi pasien terhadap penyakit, bahkan dengan merokok seseorang lebih mungkin mengalami bentuk lanjut dari pada penyakit itu sendiri dapat dan bahkan mempercepat timbulnya komplikasi yang lebih berat. Pekerjaan dirumah ataupun pekerjaan sambilan yang berkaitan dengan adanya paparan debu, juga dapat menjadi salah satu faktor munculnya penyakit bisinosis.

ada kelainan yang ada di selaput lendir akan menimbulkan gejala berupa penyumbatan.sedangkan enfisema adalah jenis penyakit paru obstruktif yang melibatkan kerusakan pada kantung udara (alveoli) di paru, sehingga membuat pasien sulit bernapas/sesak napas.

PENCEGAHAN Penyakit akibat faktor pekerjaan bisa dihindarkan asal saja tenaga kerja mempunyai kemauan dan itikad yang baik untuk mencegahnya. Disini tenaga kerja mempunyai peranan yang penting dalam menghindarkan penyakit akibat kerja. Untuk penyakit akibat kerja yang disebabkan golongan debu, upaya pengendaliannya dapat dilakukan : a.Substitusi yaitu mengganti bahan yang memiliki bahaya dengan bahan yang kurang berbahaya atau tidak berbahaya sama sekali. b. Ventilasi umum yaitu mengalirkan udara ke ruang kerja agar kadar debu yang ada dalam ruangan kerja menjadi lebih rendah dari kadar nilai ambang mbatas (NAB). c.Isolasi yaitu menutup proses, bahan atau alat kerja yang merupakan sumber debu agar tidak tersebar ke ruangan lain. d. Memodifikasi proses yaitu mengubah proses atau cara kerja sedemikian rupa agar hamburan debu yang dihasilkan berkurang. e.Mengadakan pemantauan terhadap lingkungan kerja yaitu pemantauan terhadap lingkungan kerja agar dapat diketahui apakah kadar debu yang dihasilkan sudah melampaui nilai ambang batas yang diperkenankan f. Alat pelindung diri yaitu upaya perlindungan terhadap tenaga kerja agar terlindungi dari resiko bahaya yang dihadapi. Misalnya masker, sarung tangan, kaca mata dan pakaian pelindung. g. Penyuluhan tentang kesehatan dan keselamatan kerja secara intensif agar tenaga kerja tetap waspada dalam melaksanakan pekerjaannya

Prognosis
Bisinosis ringan atau dini kemungkinan masih reversible sedangkan penyakit yang berat dan kronis tidak .Pasien dengan gejala khas dan menunjukan penurunan FEVI 10% lebih harus

dipindahka ke tempat yang tidak terpajan.Pasien dengan penyumbatan jalan napas sedang dan berat (FEV <60%) harus tidak terpajan.

Kesimpulan
Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-paru. Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun. Tanda-tanda awal penyakit bisinosis ini berupa sesak napas, terasa berat pada dada, terutama pada hari Senin (yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). Secara psikis setiap hari Senin bekerja yang menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada serta sesak nafas. Reaksi alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran pernapasan juga merupakan gejala awal bisinosis. Pada bisinosis yang sudah lanjut atau berat, penyakit tersebut biasanya juga diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin juga disertai dengan emphysema. Pengobatan yang terpenting adalah menghilangkan sumber pemaparan dari bahan penyebab, untuk meringankan gejala. Bissinosis bisa dicegah dengan promosi kesehatan, pemakaian alat pelindung diri dan cara mengurangi kadar debu di dalam pabrik pengolahan tekstil melalui perbaikan mesin atau sirkulasi udara,

DAFTAR PUSTAKA 1. Jeyaratnam J, Koh david.Bisinosis . Dalam : Praktik kedokteran kerja.Jakarta : EGC.2010.h 85-7 2. Bickley L.S. Pemeriksaan Torak dan Paru. Dalam: Buku Saku Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan Bates Edisi ke-5.Jakarta : EGC. 2008. h 110 3. PK Sumamur. Higiene Perusahaan dan kesehatan kerja.Jakarta : PT.Gunung agung.2002.h 133 4. PK Sumamur. Peralatan perlindungan diri. Dalam : Keselamatan kerja & Pencegahan kecelakaan. Jakarta : PT Gunung agung.2001.h 296 5. Djojodibroto D. Bisinosis.Dalam Resirologi (respiratory medicine) Jakarta : EGC . 2007.h 201-2 6. Diagnosis okupasi penyakit akibat kerja. Diunduh dari http: //www. scribd. com/ doc/ 40525712/. pada 24 oktober 2011. 7. Yang lain nya pdf